Anda di halaman 1dari 14

Laporan Praktikum Hari/Tanggal: Sabtu/13 Oktober 2012

Pertanian Organik Dosen : Dr. Ir Muhadiono


Asisten : Setyo Andi Nugroho




PEMBUATAN KOMPOS SEMI AEROBIK DENGAN BANTUAN
STARTER EM4




Disusun Oleh :
Senjayani
J3M110015


TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN
PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kompos adalah humus yang sengaja dibuat oleh manusia. Kompos
merupakan bahan organik yang sengaja dilapukkan, berasal dari dedaunan,
rerumputan termasuk dari alang-alang, dedak padi dan sekam, batang jagung, sulur
dan ranting tumbuhan serta kotoran hewan termasuk manusia ( ALTI , Air Limbah
Tinja ). Jika bahan-bahan ini sudah hancur atau terdekomposisi, sisa yang tertinggal
dan memerlukan pelapukan lanjutan, umumnya disebut sebagai humus atau sebagai
kompos yang selanjutnya disebut sebagai pupuk organik bagi tanaman dalam
kegiatan pertanian organik. Bahan kompos diperoleh dari sisa panen, limbah dapur
atau sisa buang industri yang dilapukkan dan dimanfaatkan oleh pertanian tidak
mengandung bahan B3.
Pengomposan adalah praktek lama dalam pembuatan pupuk organik.
Pengomposan dikerjakan oleh mikroorganisme melalui proses biologis, secara
terpisah atau bersama-sama menguraikan bahan organik menjadi humus. Proses yang
terjadi adalah dekomposisi yaitu menghancurkan ikatan organik molekul besar
mnjadi molekul yang lebih kecil, mengeluarkan ikatan CO
2
dan H
2
O . humus
merupakan sisa bahan organik terdekomposisi, berat volume lebih rendah dari bahan
dasarnya, bersifat stabil, kemudian diikuti oleh dekomposisi lanjutan yang berjalan
lambat dan merupakan pupuk organik alamiah.
Praktikum kali ini menggunakan serasah daun yang dicampur dengan sisa
buah nanas yang diaduk dan ditambahkan dengan urine dan starter. Bahan kompos
yang sudah matang dicirikan oleh warna coklat kehitaman, dipegang tidak lengket
menempel atau basah, dan tidak berbau atau tercium bau menyengat. Dalam
pembuatan kompos, serasah daun harus di cacah sekecil mungkin agar pembuatan
kompos berlangsung cepat.



1.2 Tujuan
Mengetahui manfaat kompos guna mendukung produksi tanaman
Mengenal jenis dan ragam cara pembuatan kompos
Mampu memanfaatkan sisa panen, limbah buang rumah tangga, dan industri
yang masih bermutu untuk menunjang daur ulang dalam siklus biogeokimia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kompos merupakan hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran
bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai
macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau
anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah
proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh
mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan
organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan
kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan
meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman
untuk menyerap unsur hara dari tanah. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat
membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.
Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah diantaranya merangsang
granulasi, memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan kemampuan menahan air.
Peran bahan organik terhadap sifat biologis tanah adalah meningkatkan aktivitas
mikroorganisme yang berperan pada fiksasi nitrogen dan transfer hara tertentu seperti
N, P, dan S. Peran bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan
kapasitas tukar kation sehingga mempengaruhi serapan hara oleh tanaman (Gaur,
1980)


BAB III. METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat :
a. Ember 10 L
b. Gunting
c. Sarung tangan plastik
Bahan :
a. Serasah Daun
b. Urine 100 ml
c. Dedaunan / jerami / rumput
d. Starter EM4
e. Nanas sepotong

3.2. Langkah Kerja
a. Menyediakan alat dan bahan yang dibutuhkan
b. Serasah daun dan buah-buahan busuk digunting 1-2 cm sebanyak 1 ember
c. Urine sebanyak 100 cc yang telah didiamkan selama 1 minggu ditambahkan
ke dalam ember.
d. Potongan nanas dicacah hingga halus, dan dicampurkan ke dalam campuran
serasah dan urin
e. Starter EM4 dengan perbandingan 1:10 dimasukkan dan dicampur hingga
merata.
f. Setelah semua bahan tercampur dengan rata, ember tersebut ditutup dengan
tutup yang telah disediakan, dan didiamkan selama 4 minggu.
g. Dilakukan pengamatan 1 kali tiap minggu
h. Parameter yang diamati diantaranya adalah bau, warna, tekstur, tekstur, dan
kemudian difoto.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

No. Minggu
ke-
Tekstur Warna Bau Tinggi Foto
1. 0 Kasar Coklat Wangi nanas 20 cm

2. I Kasar Coklat dan
ada bercak
putih
Berbau daun
kering
16,5 cm

3. II Kasar Coklat tua Bau apek 10,7 cm

4. III Kasar Coklat tua Tidak berbau 7,4 cm


4.2 Pembahasan
Tanah akan lebih cepat menerima sesuatu yang alami dibandingkan menerima
sesuatu yang non alami, begitupun padahalnya daun/serasah sebagai bahan
pembuatan kompos. Pemanfaatan kompos dari bahan daun serasah berfungsi untuk
mengurangi penumpukan daun-daun kering yang sudah tua, memanfaatkan sampah
berupa daun menjadi sesuatu yang lebih berguna lagi (Alif.2007)
Pada praktikum kali ini yaitu melakukan pembuatan kompos dari bahan
organic yaitu serasah. Praktikum dilakukan selama 4 minggu. Adapun pembuatan
kompos ioni menggunakan stater urin manusia. Urin manusia digunakan untuk
mem[permudah dan mempercepat proses dekomposisi. Selain itu ditambahkan
potongan buah nanas yang telah hancur sebagai nutrisi atau bahan makanan bagi
organisme didalamna yang membantu proses dekomposisi.
Pada pembuatan kompos anaerobik, penguraian bahan organik berlangsung
pada kondisi anaerobik akibat kelangkaan oksigen. Pembuatan kompos secara
anaerobik, oksigen juga masih digunakan untuk proses dekomposisi namun
sumbernya adalah senyawa kimia tidak terlarut oksigen. Jika dibandingkan dengan
proses aerobik yang melepaskan energi lebih besar ( 484-674 kcal/ mole glukose )
sementara pada kondisi anaerobik dilepaskan energi hanya sebesar 26 kcal/mole
glukose. Dalam pembentukan kompos ini menggunakan metode anaerob, dimana
dalam proses ini melibatkan bakteri-bakteri tertentu yang hanya dapat hidup dalam


kondisi kandungan O
2
yang rendah bahkan tidak ada kandungan O
2
. Oleh karena itu,
pada kompos ditambahkan buah busuk sebagai pasokan glukosa yang nantinya
dimanfaatkan oleh mikroba sebagai sumber energi serta nutirisi yang dibutuhkan
bakteri sehingga dapat membantu dalam proses pendegradasian bahan organik.
Proses pengadukan dan pengecekan yang dilakukan diharapkan bakteri yang ada
didasar kompos mendapatkan sedikit udara yang nantinya dimanfaatkan oleh bakteri
tersebut sebelum ember ditutup rapat kembali sehingga kondisi didalamnya menjadi
anaerob karena tidak ada asupan udara dari luar.
Pada umumnya bahan yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah
bahan yang dapat terurai dengan mudah seperti serasah daun dan jerami, kedua bahan
tersebut dipotong berukuran 0,5 cm agar proses pendegradasian bahan lebih cepat
oleh bantuan mikroorganisme (bakteri pengurai), apabila menggunakan bahan yang
sulit terurai seperti potongan ranting atau serbuk kayu maka hasilnya akan berbeda,
proses pengomposan akan berlangsung lebih lama. Pengamatan yang dilakukan setiap
minggu selama 4 minggu, dilakukan pengadukan setiap seminggu sekali. Parameter
yang diamati setiap minggu yaitu bau, warna, dan struktur.
Urine manusia digunakan sebagai activator. Dimana urine juga merupakan
sumber nitrogen. Urine pada manusia mengandung amoniak yang akan dinitrifikasi
oleh bakteri nitrit, sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap oleh akar
tumbuhan. Hal ini menyebabkan kandungan kompos yang dihasilkan akan
mengandung nitrogen yang baik untuk akar tumbuhan dengan kandungan yang tidak
berlebihan. Dalam proses pembuatan kompos penggunaan bahan aktivator berfungsi
untuk mempercepat proses komposting, bahan activator yang digunakan antara lain
starter yang berupa campuran kompos ddengan larutan EM-4 (effective
microorganisme 4). Effective Microorganisme 4 (EM-4) adalah kultur campuran dari
mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Sebagian besar
mengandung mikroorganisme bakteri penghasil asam laktat (Lactobacillus sp.), serta
dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik (Streptomyces sp.) dan ragi (yeast). Dalam


EM 4 ini terdapat sekitar 80 genus microorganisme fermentor. Microorganisme ini
dipilih yang dapat bekerja secara efektif dalam memfermentasikan bahan organik.
Secara global terdapat 5 golongan yang pokok yaitu Bakteri fotosintetik,
Lactobacillus sp, Streptomycetes sp, Ragi (yeast) dan Actinomycetes. Hal lain yang
perlu diperhatikan antara lain adalah proses pencacahan yang sebisa mungkin halus
sehingga mudah di dekomposisi, kelembaban dan aerasi yang mendukung kerja
mikroorganisme, maupun kadar karbon dan Nitrogen yang ideal.
Proses dekomposisi ditentukan oleh banyak faktor. Dalam hal ini terdapat 9
faktor yang mepengaruhi proses dekomposisi. Adapun faktor-faktor yang
memperngaruhi proses pengomposan antara lain:
1. Rasio C/N
Rasio karbon terhadap nitrogen ( C/N ) sangat penting untuk memasok hara
diperlukan mikroba selama dekomposisi berlangsung. Rasio C/N yang efektif untuk
proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C
sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di
antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis
protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk sintesis
protein sehingga dekomposisi berjalan lambat. Limbah cair / urine yang digunakan
memiliki rasio C/N antara 2-3, daun memiliki rasio C/N berkisar 40-60, dan buah
memiliki rasio C/N 35. Rasio C/N awal memiliki nilai optimum berkisar antara 20-
40. Rasio C/N awal pada daun kering yaitu 50-lebih besar.
2. Ukuran Partikel
Aktivitas mikroba berada diantara permukaan area dan udara. Permukaan area
yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses
dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga menentukan besarnya
ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan
dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.


3. Aerasi
Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup
oksigen(aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu
yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam
tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh posiritas dan kandungan air
bahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang
akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan
melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.
Faktor penting untuk berlangsungnya proses dekomposisi dalam timbunan
adalah stabilitas yang kontinu. Makin kasar struktur, makin rendah kelembaban relatif
bahan dasar ( pelapukan menjadi lama ) karena pada keadaan ini makin besar volume
pori udara dalam campuran bahan. Pada praktikum masih terdapatnya struktur yang
kasar karena terlalu besarnya pencacahan yang dilakukan pada serasah daun sehingga
pelapukan terjadi lama sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk
menghasilkan kompos yang bagus.
4. Porositas
Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas
dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga-
rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses
pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan
berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.
5. Kelembaban (Moisture content)
Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses
metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen.
Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut
larut di dalam air. Kelembaban 40 - 60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme
mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami
penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban


lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas
mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau
tidak sedap. Komposisi substrat berpengaruh pada kandungan air timbunan kompos.
Kelembaban yang terjadi pada pembuatan kompos kali ini tidak terlalu besar
sehingga tidak terjadinya bau busuk. Bau busuk biasa ditimbulkan karena terlalu
banyak air yang biasa ditimbulkan dari buah-buahan busuk yang digunakan dan
perbandingannya tidak sesuai dengan serasah yang digunakan. Pada praktikum ini
kami menggunakan kulit buah nenas yang dicampur dengan serasah daun sehingga
tidak menimbulkan bau busuk karena kelembabannya masih dalam kisaran optimum.
6. Temperatur/suhu
Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara
peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan
semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi.
Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur
yang berkisar antara 30 - 60
o
C menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu
yang lebih tinggi dari 60
o
C akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba
thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan
membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma.
7. pH
Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang
optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran
ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan
menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai
contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan
penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa
yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal
pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral.




8. Kandungan Hara
Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya
terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh
mikroba selama proses pengomposan.
9. Lama pengomposan
Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang
dikomposkan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa
penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan berlangsung
dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar-benar matang.

Proses dekomposisi bahan organik secara alami akan berhenti bila faktor-
faktor pembatasnya tidak tersedia atau telah dihabiskan dalam proses dekomposisi itu
sendiri. Faktor lingkungan juga mendukung proses dekomposisi dalam kondisi yang
terbatas dan bukan hanya dimafaatkan bakteri tetapi juga organism lain. Persaingan
berupa oksigen maupun bahan organic menjasi faktor kendali dalam proses
dekomposisi.
Dari pengamatan yang dilakukan selama 4 minggu ini, didapatkan data hasil
yang berbeda-beda. Dimana pada minggu 0 keadaan serasah yaitu masih dalam
keadaan yang sangat kasar, hal ini disebabkan karena proses dekomposisi yang belum
berjalan. Sedangkan warna dari kompos sendiri masih coklat sesuai dengan warna
serasah kering yang dipotong cacah. Tinggi dari tumpukan kompos sendiri yaitu 20
cm. Tinggi dari tumpukan kompos ini bisa sajaa akan turun tetapi dalam hal ini juga
tidak menutup kemugkinan bahwa tumpukan serasah juga akan naik. Naiknya
tumpukan kompos bisa dipengaruhi oleh faktor suhu, kelembaban atau faktor-faktor
yang lain. Sedangkan wanignya sendiri masih sangat tercium wangi dari aroma nanas.
Pada minggu kedua, tumpukan kompos mengalami perubahan. Dari segi
warna tumpukan kompos, kompos berwarna coklat dengan bercak-bercak putih. Dan


dari aromanya, tumpukan kompos berbau apek dengan keadaan tumpukan kompos
yang kering. Keadaan tumpukan kompos yang kering ini dipicu karena pada saat
pemercikan air, percikan air masih kurang sehingga membuat tumpukan kompos
kering. Tinggi tumpukan kompos sendiri dimana pada mingggu ke-0 kompos yang
berketinggian 20 cm menjadi menyusut jadi 16.5 cm. Penyusutan kompos ini
menandakan bahwa proses dekomposisi sudah berjalan. Sedangkan yang tidak
berubah yaitu dari tekstur tumpukan kompos itu sendiri yang masih kasar.
Di minggu ke-3 keadaan kompos mengalami perubahan yang lebih dari
minggu-minggu sebelumnya, dimana dari segi warnanya sendiri yang dari coklat
sebelumnnya menjadi coklat tua. Hal ini dipengaruhi oleh penyebaran organisme dan
fungi-fungi yang membantu prose dekomposisi. Dan kondisi dari kompos sendiri
mengalami perubahan, yang semula kering kini menjadi lebih lembab. Sedangkan
dari segi baunya sendiri, tumpukan kompos berbau apek. Bau apek ini dipicu karena
keadaan ember tempat tumpukan kompos yang tertutup, keadaan kompos yang
tertutup membuat tumpukan kompos mengalami kepengapan. Hal ini merupakan
konsekuensi atau proses dari pembuatan kompos secara anaerobik. Dari tingginya
sendiri kompos semakin menyusut dari minggu kemarin, dimana dari 16.5 cm
menjadi 10.7 cm. Proses dekomposisi pada minggu ke-3 semakin terlihat, bau dari
buah nanas dan aroma urin menjadi hilang menandakan ada aktivitas mikroorganisme
dalam tumpukan kompos.
Sedangkan pada minggu terakhir yaitu minggu keempat, keadaan tumpukan
kompos masih kasar.Serash-serasah masih belum terdekomposisi secara sempurna.
Namun dari segi ketinggian kompos, kompos menjadi ketinggian 7.4 cm. Dan tidak
tercium bau apek lagi ataupun bau urin dan nanas dalam tumpukan kompos. Tetapi
dari warna kompos sendiri masih berwarna coklat tua.
Dari hasil pengamatan setiap minggunya kompos yang dibuat masih belum
jadi sepenuhnya. Hal ini disebabkan karena tekstur, struktur dan warna dari tumpukan
kampus sendiri masih belum menyerupai tanah. Kompos yang telah jadi akan
mengeluarkan bau alkohol, struktur yang remah dan berwarna hitam seperti tanah.



Dimana kompos masih bertekstur kasar dan warna masih coklat tua, dari strukturnya
sendiri masih menyerupai serasah. Faktor yang mungkin mempengaruhi proses
dekomposisi yang belum sempurna ini yaitu dipengaruhi karena jenis daun yang
digunakan sebagai bahan kompos merupakan jenis daun yang susah untuk terurai.

BAB V
KESIMPULAN
Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan
organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan
kandungan air tanah. Pemanfaatan kompos dari bahan daun serasah berfungsi untuk
mengurangi penumpukan daun-daun kering yang sudah tua, memanfaatkan sampah
berupa daun menjadi sesuatu yang lebih berguna lagi. Pembuatan kompos terdiri dari
2 cara yaitu anaerobik dan aerobik. Anaerobik adalah pembuatan kompos dengan
menggunakan ruang tanpa oksigen sedangkan aerobic adalah sebaliknya.
Ada Sembilan faktor yang mempengaruhi proses pengomposasan yaitu rasio
C/N, ukuran partikel, aerasi, porositas, kelembaban, temperatur/suhu, pH, kandungan
hara dan lama pengomposan. Dilihat dari hasil pengamatan kompos selama empat
minggu, tumpukan kompos yang dibuat masih belum jadi sepenuhnya. Hal ini dilihat
dari tekstur tumpukan kompos itu sendiri yang masih belum hancur/ halus, begitupun
dengan baunya. Kompos yang telah jadi akan mengeluarkan bau alcohol, struktur
yang remah dan berwarna hitam seperti tanah. Lamanya proses pengomposan juga
dipengaruhi jenis serasah yang digunakan, dimana jenis serasah yang digunkan
adalah jenis serasah daun yang keras dan tebal sehingga memerlukan waktu yang
lama dalam penguraiannya.



DAFTAR PUSTAKA

Muhadiono.2010.Modul Kuliah Pertanian Organik.IPB.Bogor
Muhadiono.2010.Modul Praktikum Pertanian Organik.IPB.Bogor
Badan Litbang Pertanian. 2002. Prospek Pertanian Organikdi Indonesia.
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/1
[AOI]. Aliansi Organik Indonesia. 2009. Statistik Pertanian Organik Indonesia 2009.
AOI, Bogor.
Asparno Mardjuki, 1990, Pertanian dan Masalahnya, Andi Offset, Yogyakarta.
Djuarnani, Nan, dkk. 2006. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka.
Jakarta.