Anda di halaman 1dari 14

Makalah PBL Blok 10

Mekanisme Kerja Ginjal dalam Tubuh












Oleh:
Raymond Edwin Lubis
10.2010.142
Kelompok: B3
25 September 2011



Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Terusan Arjuna No. 6 Jakarta Barat
e-mail: epyon6@yahoo.co.id

2

Pendahuluan
Kelangsungan hidup beserta fungsinya sel secara normal bergantung pada pemeliharaan
konsentrasi garam, asam dan elektrolit lain dilingkungan cairan internal. Kelangsungan hidup sel
juga bergantung pada pengeluaran secara terus menerus zat-zat sisa metabolism toksik dan
dihasilkan oleh sel pada saat melakukan berbagai reaksi demi kelangsungan hidupnya.
1
Ginjal
merupakan organ yang berperan penting dakan mempertahankan fungsi dari homeostasis. Ginjal
mempunyai tiga proses utama yaitu filtrasi, reabsorpsi dan sekresi. Plasma yang difiltrasi melalui
dinding kapiler golmerulus ke tubulus renalis di ginjal. Dalam perjalanannya di sepanjang tuulus,
volume cairan filtrate hasil filtrasi akan mengalami perubahan pada komposisinya karena
mengalami proses reabsorpsi tubulus dan sekresi tubulus sehingga dihasilkan urin yang akan
disalurkan ke pelvis renalis. Dari pelvis renalis, urin mengalir ke dalam vesika urinaria untuk
kemudian dikeluarkan melalui proses berkemih atau miksi. Sewaktu difiltrasi, plasma
mempertahankan konstituen-konstituen yang bermanfaat bagi tubuh dan mengeliminasi bahan-
bahan yang tidak diperlukan atau berlebihan di urin. ginjal juga membantu mengatur pH dengan
cara mengontrol dan eliminasi asam dan basa urin.
Sistem kemih terdiri atas ginjal, ureter, vesika urinaria dan urethra. Ginjal berfugsi sebagai
pembentuk urin; ureter sebagai saluran yang sehingga urin masuk ke dalam vesica urinaria;
vesika urinaria sebagai tempat penampungan urin sebelum dikeluarkan melalui urethtra.

Alat- alat saluran kemih terdiri atas :
Ginjal
Ginjal terletak pada dinding posterior andomen, terutama di daerah lumbal, disebelah
kanan dan kiri tulang belakang, dibungkus oleh lapisan lemak yang tebal.
2
Letak Ginjal kiri
setinggi iga ke-11/L2-3 sedangkan ginjal kanan setinggi iga ke-12/L3-4. Ginjal berbentuk seperti
kacang dan mempunyai :
3
- Dua polus/ekstremitas : ekstremitas superior dan inferior
- Dua margo : margo medialis dan lateralis
- Dua facies : facies anterior dan posterior
Pada margo lateralis terdapat suatu pintu yag disebut hilus renalis dan merupakan tempat
masuknya pembuluh-pembuluh darah, lymphe, saraf dan ureter. Hilus renalis membuka kedalam
3

suatu ruangan yang disebut sinus renalis. Di dalamnya terdapat pembuluh-pembuluh darah, saraf,
lymph dan pelvis renis.
Ginjal dibungkus oleh :
2,3

- Capsula fibrosa
Melekat hanya pada ginjal dan hanya menyelubungi ginjal tidak membungkus anak ginjal.
Untuk mempertahankan letak ginjal
- Capsula adipose
Mengandung banyak lemak dan membungkus glandula suprarenalis.
- Fascia renalis
Terletak diluar capsula fibrosa dan terdiri atas dua lembar yaitu bagian depan fascia
prerenalis dan belakang fascia retrorenalis. Kedua lembar fascia renalis ke arah caudal tetap
terpisah sedagkan ke cranial bersatu.
Ginjal terdiri atas cortex renis dan medulla renis. Pada cortex renis terdapat pembuluh darah
dan glomerulus. Filtrat dari glomerulus kemudian disalurkan ke dalam medulla dan bermuara
pada papilla renalis, terdapat garis-garis dari medulla yaitu processus medullaris (Ferheini).
Papilla renalis sesuai ujung ginjal yang berbentuk segitiga yaitu pyramid renalis. Saluran-saluran
yang menemus apilla yitu ductuli papillares tempat berupaayakan disebut area cribosa. Papilla
renalis menojol ke dalam calyx minor, beberapa calyx minor membentuk calyx mayor, calyx
mayor akan menjadi pelvis renis kemudian menjadi ureter.
Ginjal diperdarahi oleh a. renalis cabang dari aorta abdominalis setinggi vertebra L1-2.
Arteri renalis masuk kedalam ginjal melalui hilus renalus dan bercabang-cabang mengurus
bagian depan dan belakang. Pertemuan a. renalis bagian depan dan belakang bertemu di lateral
pada garis Broedel, tempat pertemuannya dibelakang garis tengah ginjal. Cabang a. renalis
yang berjalan diantara lobus gnjal yaitu a. interlobaris. A. interlobaris pada perbatasan cortex dan
medulla bercabang menjadi a. arcuata mengelilingi cotex dan medulla sehingga disebut a.
archiformis. A. arcuata berabang menjadi a. interlobularis dan pada tepi gijal mempercabangkan
vasa afferens dan vasa efferens yang membentu anyaman rambut menjadi tubuli contorti.

4











Gambar 1: Ginjal
4

Pembuluh balik mengikuti arah artei dan berkumpul sebagai kepiler dalam v. intelobularis =
vv. stellatae (Verheyeni).
3,5

Ureter
Ureter merupakan lanjutan dari pelvis renis, panjangnya 20-30 cmberjalan dari hilus ginjal
menuju kandung kemih.
4
Berdasarkan letaknya ureter terbagi menjadi dua bagian yaitu ureter
pars abdominalis dan ureter pars pelvina. Perjalanan ureter parspelvina laki-laki berbeda dengan
perempuan, pada laki-laki ureter menyilang pintu atas panggul di depan a. illiaca communis
menuju dorsocaudal di depan a. illiaca intena sampai di daerah spina ishciadica membelok ke
depan dan medial untuk bermuara ke dalam vesica urinaria pada sudut lateral atasnya, disini
menyilang ductus deferens disebelah lateral. Pada wanita setelah sampai di spina ishciadica
menuju ventromedial dibawah lig. latum uteri dan menyilang a. uterine di sisi medial menu
ventra di sebelah lateral fornix lateralis masuk kedalam vesica urinaria. Tempat-tempat
penyempitan ureter yaitu uteropelvic junction, ureter menyilang vassa illiaca communis (flexura
marginalis), ureter masuk ke dalam vesica urinaria/ persarafan ureter oleh plexus hypogastricus
inferor T1-L2.
2,5



5

Vesica urinaria
Vesica urinaria yang kosong teletak dalam rongga panggul di belakang symphisis ossis
pubis. Dan vesica urinaria yang terisi terletak di daerah hypogastrica, pada anak-anak letaknya
diatas pintu atas panggul. Vesicaurinaria dapat menampung urin 200-400 cc. bagian-bagian
vesica urinaria yaitu apex, corpus, fundus. Trigonum vesica (Liutaudi) dibentuk oleh orificium
ureteris dan orificium urethrae internum yag berfungsi untuk mencegah aliran balik urin ke
ginjal. Dinding vesica urinaria merupakan lapisan otot yang kuat. Lapisan otot vesica urinaria
terdiri dari tiga lapis yang salng mentupi yaitu m. detrusor, m. trigonal, m. sphincter vesica.
2

Pendarahan vesica urinaria oleh Aa. vesicales superior cabang dai a. umbilicalis bagian
proximal yang memperdarah fundus dan beranastomosis dengan a. epigastrica inferior. Aa.
vesicales inferior memperdarahi bagian caudal dan lateral permukaan depan vesica urinaria dan
juga memperdarahi glandula prostat. A. vesicodeferntialis memeprdarahi 1/3 permukaan
posterior vesuca urnaria, glandula vesiculosa, ductus deferentialis, pada wanita memperdarahi
ovarium dan vagina.
2,3,5

Urethra
Urethra pria berbeda dengan urethrea pada wanita , pada urethra masculine merupakan pipa
fibromuscular dengan panjang 18-22 cm dan mempunyai fungsi menyalurkan urine dari vesica
urinaria sampai ke dunia luar dan tempat keluarnya sperma. Urethra pada pria terdiri atas empat
bagian yaitu urethra pars intramularis, urethra pars prostatica, urethra pars membranasea dan
urethra pars spongiosa.
2.3

Filtrasi dalam Pembentukan Urin
Pembentukan urin dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan melalui kapiler glomerulus
ke dalam kapsula Bowman. Seperti kebanyakan kapiler, kapiler gromelurus juga relatif
impermeable terhadap protein, sehingga cairan hasil filtrasi (disebut filtrate glomerulus) pada
dasarnya bersifat bebas protein dan tidak mengandung elemen selular, termasuk sel darah merah.
Konsentrasi isi filtrate glomerulus lainnya, termasuk sebagian besar garam dan molekul organik,
serupa dengan konsentrasinya dalam plasma. Pengecualian terhadap keadaan umum ini ialah
6

beberapa zat dengan berat molekul ringan, seperti kalsium dan asam lemak, yang tidak difiltrasi
secara bebeas karena zat tersebut sebagian terikat pada protein plasma. Hamper setengah dari
kalsium plasma dan sebagian besar asam lemak plasma terikat pada protein, dan bagian yang
terikat ini tidak difiltrasi dari kapiler glomerulus.
1
Kemampuan filtrasi seperti ini disebabkan oleh membran kapiler gromerulus yang khas dan
memiliki tiga lapisan utama, berbeda dengan membran yang lain memiliki dua lapisan. Ketiga
lapisan tersebut adalah endothelium kapiler, membran dasar dan lapisan sel epithelial (podosit)
yang mengelilingi permukaan luar membran dasar kapiler. Lapisan-lapisan ini bersama-sama
membentuk sawar filtrasi, yang walaupun terdiri dari tiga lapisan dapat menyaring air dan zat
terlarut beberapa ratus kali lebih banyak daripada membrane kapiler yang biasa. Membran
kapiler glomerulus normalnya mencegah filtrasi protein plasma, bahkan pada laju filtrasi yan
tinggi. Laju filtrasi tinggi yang melintasi membran kapiler gromerulus sebagian merupakan
akibta dari sifat khusus yang dimilikinya. Endothelium kapiler mempunyai ribuan lubang kecil
yang disebut fenestra, mirip dengan kapiler fenestra yang ditemukan di hati. Meskipun
fenestrasinya relative besar, sel endotel kaya akan muatan negatif tertentu yang menghambat
aliran protein plasma.
1
Membran dasar yang mengelilingi endotel terdiri atas jalinan serabut kolagen dan
proteoglikan yang memiliki suatu ruangan besar yang dapat menyaring sejumlah besar air dan
zat terlarut yang kecil. Membran dasar secara efektif mencegah filtrasi protein plasma, sebagian
karena muatan listrik sangat negatif yang berasal dari proteoglikan. Bagian akhir dari glomerulus
adalah lapisan sel epitel yang membatasi permukaan luar gromerulus. Sel-sel ini tidak kontinu
tetapi mempunyai tonjolan panjang seperti kaki (podosit) yang mengelilingi permukaan luar
kapiler. Tonjolan kaki ini dipisahkan oleh celah yang disebut celah pori-pori (slitpores) yang
dilalui oleh filtrat glomerulus. Sel-sel epitel, yang juga memiliki muatan negatif, merupakan
pembatas tambahan terhadap filtrasi protein plasma. Jadi, seluruh lapisan pada dinding kapiler
glomerulus merupakan sawar terhadap filtrasi protein plasma.
1
Dalam melaksanakan filtrasi glomerulus, terdapat suatu gaya yang menyebabkan plasma
darah terdorong menembus fenestrata di glomerulus. Mekanisme ini adalah suatu mekanisme
pasif yang memakai energi lokal dari tekanan hidrostatik jantung dan menggunakan prinsip-
prinsip dinamika cairan yang mendasari ultrafiltrasi melintasi kapiler lain. Terdapat tiga gaya
fisik yang terlibat dalam filtrasi glomerulus yaitu tekanan darah kapiler glomerulus, tekanan
7

osmotik koloid plasma, dan tekanan hidrostatik kapsula Bowman. Tekanan darah glomerulus
adalah tekanan cairan yang ditimbulkan oleh darah di dalam kapiler glomerulus. Tekanan ini
akhirnya bergantung pada konstriksi jantung (sumber energi yang menghasilkan filtrasi
glomerulus) dan resitensi arteriol aferen dan eferen terhadap aliran darah. Tekanan darah kapiler
glomerulus, yang diperkirakan bernilai rata-rata 55 mmHg, lebih tinggi daripada tekanan darah
kapiler di tempat lain, karena garis tengah arteriol aferen lebih besar daripada garis tengah
arteriol eferen. Perbedaan diameter arteriol ini menyebabkan darah lebih mudah masuk
glomerulus daripada keluar dari glomerulus, perbedaan ini menyebabkan tekanan atau resistensi
tersendiri untuk aliran filtrat dalam nefron. Tekanan ini terus meningkat dan tidak akan menurun
dalam keadaan normal.
1
Kedua gaya yang lain yang bekerja melintasi membran glomerulus melawan filtrasi.
Tekanan osmotik koloid plasma ditimbulkan oleh distribusi protein-protein plasma yang tidak
seimban di kedua sisi membran glomerulus. Karena tidak dapat difiltrasi, protein-protein plasma
yang tidak seimbang di kedua sisi membran glomerulus. Hal ini menyebabkan penumpukan
protein plasma dan konsentrasi air di kapsul Bowman lebih tinggi daripada konsetrasinya di
kapiler glomerulus. Timbul kecenderungan bahwa air berpindah secara osmotis mengikuti
penurunan gradien konsentrasinya dari kapsul Bowman melawan filtrasi glomerulus. Tekanan ini
kurang lebih sebesar 30 mmHg. Beberapa tekanan ini membentuk tekanan filtrasi netto, yaitu
jumlah tekanan yang saling berlawanan untuk mendorong filtrasi glomerulus yang sangat
permeabel.
1
Ada perubahan fisik dalam tubuh yang mengakibatkan GFR (Glomerulus Filtration Rate)
berubah. Misalnya suatu keadaan patologis yang dapat menyebabkan tekanan osmotik koloid
plasma dan tekanan hidrostatik kapsul Bowman tidak berada di bawah kontrol. Sebagai contoh
ada suatu penurunan konsentrasi protein plasma pada pasien luka bakar yang kehilangan
sejumlah besar cairan plasma kaya protein melalui kulit yang terbakar. Sebaliknya konsentrasi
dapat naik pada dehidrasi karena diare, GFR menurun. Bisa juga karena obstruksi saluran
kandung kemih yang mengakibatkan tekanan hidrostatik kapsul Bowman dapat meningkat secara
tidak terkontrol.
1



8

Autoregulasi GFR
Karena tekana darah arteri adalah gaya yang mendorong darah ke dalam glomerulus,
tekanan darah dalam kapiler glomerulus, GFR akan mengikuti peningkatan tekanan secara
konstan, demikian halnya dengan penurunan tekanan darah arteri. Perubahan-perubahan seperti
ini dicegah dengan mekanisme autoregulasi. Ginjal dapat mengatur kestabilan aliran darah dalam
kapiler glomerulus, jika GFR meningkat maka tekanan darah arteriol aferen akan dikurangi
dengan konstriksi arteriol aferen. Sebalikya jika GFR meningkat maka akan dilakukan
vasodilatasi arteriol aferen, agar darah lebih banyak masuk walaupun tekanannya berkurang.
Mekanisme ini bersifat intrarenal dan dibagi dua menjadi mekanisme miogenik dan mekanisme
umpan balik tubulo-glomerulus.
1
Mekanisme miogenik adalah sifat umum otot polos vaskuler. Otot polos vaskuler arteriol
berkontraksi secara inheren akibat respons terhadap peregangan yang menyertai peningkatan
tekanan dalam pembuluh. Respons ini membantu membatasi aliran darah ke glomerulus, begitu
juga jika terjadi penurunan GFR.
1
Mekanisme umpan balik tubulo-glomerulus melibatkan aparatus jukstaglomerulus, yaitu
kombinasi khusus sel-sel tubulus di vaskuler di daerah nefron tempat tubulus. Di dalam dinding
arteriol pada titik kontak dengan tubulus, sel-sel otot polos secara khusus membentuk sel
granuler, karena terdapat banyak granula sekretorik. Sel-sel tubulus khusus ini secara kolektif
disebut sebagai makula densa, sebagai pendeteksi perubahan kecepatan aliran darah. Ketika
terjadi peningkatan GFR, cairan yang difiltrasi dan mencapai tubulus distal lebih banyak
daripada normal. Sebagai respons, makula densa mengeluarkan zat kimia vasoaktif seperti
endotelin (vasokonstriksi) dan bradikinin (vasodilasator). Mekanisme ini hanya menangani
perubahan tekanan arteri sekitar 80-180 mmHg, akibat rentang yang panjang ini menyebabkan
tidak terjadinya fluktuasi GFR yang tidak sesuai. Autoregulasi ini penting karena pergeseran
GFR yang tidak disegaja mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit, cairan, dan zat-zat sisa
yang dapat membahayakan tubuh.
1

Reabsorpsi dalam Tubulus Ginjal
Bila suatu zat akan direabsorpsi, pertama zat tersebut harus ditranspor (1) melintasi
membran epitel tubulus ke dalam cairan interstitial ginjal dan kemudian (2) melalui membran
kapiler peritubulus kembali ke dalam darah. Sehingga, reabsopsi air dan zat terlarut meliputi
9

serangkaian langkah transpor. Reabsorbsi melalui epitel tubulus ke dalam cairan interstitial
meliputi transpor aktif atau pasif. Kemudia, setelah absorpsi melalui sel epitel tubulus ke dalam
cairan interstitial ini, air dan zat terlarut selanjutnya ditranspor melalui dinding kapiler ke dalam
darah dengan cara ultrafiltrasi (aliran yang besar) yang diperantarai oleh tekanan hidrostatik dan
tekanan osmotik koloid. Kapiler peritubulus bertindak sangat menyerupai bagian ujung vena dari
kebanyakan kapiler yang lain, karena terdapat kekuatan reabsorpsi akhir yang menggerakkan
cairan dan zat terlarut dari interstitium ke dalam darah.
6

Pada reabsorbsi aktif sekunder yang melalui membran tubulus, dua atau lebih zat
berinteraksi dengan suatu protein membran spesisfik (simport/molekul carrier) dan ditranspor
bersama melewati membran. Saat salah satu zat berdifusi mengikuti gradien elektrokimianya,
energi yang dilepaskan digunakan untuk menggerakkan zat lain untuk melawan gradien
elektrokimianya. Jadi transpor aktif sekunder tidak memerlukan energi langsung dari ATP, tetapi
energi dari difusi terfasilitasi secara simultan dari zat-zat lai yang ditranspor mengikuti gradien
elektrokimianya.
6

Berbeda-beda zat yang akan direabsorbsi juga mengakibatkan perbedaan transpor
maksimum secara aktif. Keterbatasan ini disebabkan oleh kejenuhan dari sistem transpor spesifik
yang dilibatkan apabila jumlah zat terlarut yang dikirim ke tubulus melebihi kapasitas protein
pengangkut enzim-enzim spesifik yang terlibat dalam proses traspor. Contohya sistem transpor
glukosa di dalam tubulus proksimal yang direabsorbsi seluruhnya disini. Oleh karena itu, pada
keadaan normal tidak ditemukan glukosa pada urin. Namun, glukosa mempunyai batas transpor
maksimum yaitu sebesar 375 mg/menit direabsobsi secara aktif.
6


Tubulus Proksimal
Reabsorbsi di tubulus proksimal memiliki kapasitas reabsorbsi yang besar dikarenakan
sifat-sifat selularnya yang khusus. Sel epitel tubulus proksimal bersifat sangat metabolik dan
mempunyai sejumlah besar mitokondria untuk mendukung proses transpor aktif yang kuat. Sel
tubulus ini juga memiliki brush border pada sisi lumen membran dan juga labirin interselular
serta kanal basalis yang luas; semuanya ini bersama-sama menghasilkan area permukaan
membran yang luas pada sisi lumen dan sisi basolateral dari epitel untuk mentranspor ion
natrium dan zat-zat lain dengan cepat. Walaupun jumlah natrium dalam cairan tubulus proksimal
menurun secara nyata, konsentrasi natrium tetap realtif konstan karena permeabilitas air di
10

tubulus proksimal sangat besar, sehingga reabsorbsi air dapat mengimbangi reabsorbsi natrium.
Zat-zat terlarut organik lain yang kurang permeabel dan tidak direabsorbsi secara aktif, seperti
kreatinin, konsentrasinya meningkat di sepanjang tubulus proksimal. Sedangkan konsentrasi total
zat terlarut, seperti yang digambarkan oleh osmolaritas, pada dasarnya tetap sama di sepanjang
tubulus proksimal karena sangat tingginya permeabilitas bagian nefron ini terhadap air.
6

Tubulus proksimal juga tempat penting untuk sekresi asam dan basa organik seperti garam
empedu, oksalat, urat, dan katekolamin. Zat-zat ini merupakan produk akhir metabolisme dan
harus dikeluarkan dari tubuh secara cepat. Senyawa lain yang disekresi secara cepat di tubulus
proksimal adalah asam para-aminohipurat (PAH). PAH disekresikan begitu cepat sehingga rata-
rata orang dapat membersihkan sekitar 90% PAH dari plasma yang mengalir melalui ginjal dan
mengeksekresikannya ke dalam urin. Karena alasan ini, kecepaan klirens PAH dapat digunakan
untuk memperkirakan laju plasma ginjal.
6


Ansa Henle
Ansa Henle terdiri dari tiga segmen fungsional yang berbeda: segmen tipis desenden,
asenden, dam segmen tebal asenden. Segmen tipis desenden dan segmen tipis asenden, sesuai
dengan namanya, mempunyai membran epitel yang tipis tanpa brush border, sedikit mitokondria,
dan aktivitas metabolik yang rendah. Bagian asenden segmen tipis sangat permeabel terhadap air
dan sedikit permeabel terhadap sebagian besar zat terlarut, termasuk ureum dan natrium. Fungsi
segmen nefron ini terutama untuk memungkinkan difusi zat-zat secara sederhana melalui
dindingnya. Sekitar 20% air yang difiltrasi akan direabsorbsi di ansa henle, dan hampir
semuanya terjadi di lengkung tipis desenden. Lengkung asenden, termasuk bagian tipis dan
bagian tebal, sebenarnya tidak permeabel terhadap air, suatu karakteristik yang penting untuk
memekatkan urin.
6

Segmen tebal ansa Henle, yang dimulai dari separuh bagian atas lengkung asenden,
memiliki sel-sel epitel yang tebal yang mempunyai aktivitas metabolik tinggi dan mampu
melakukan reabsorbsi aktif natrium, klorida, dan kalium. Sekitar 25% dari muatan ini yang
difiltrasi akan direabsorbsi di ansa Henle, kebanyakan di lengkung tebal asenden. Sejumlah besar
ion lain, seoerti kalsium, bikarbonat, dan magnesium juga direabsorbsi pada lengkung tebal
asenden ansa Henle. Segmen tipis lengkung asenden memiliki kapasitas reabsorbsi lebih rendah
daripada segmen tebal. Segmen tebal ansa Henle sesungguhnya impermeabel terhadap air. Oleh
11

karena itu, kebanyakan air yang dibawa ke segmen ini tetap tinggal dalam tubulus, walaupun
terjadi reabsorbsi zat terlarut dalam jumlah besar. Cairan tubulus pada lengkung asenden menjadi
sangat encer sewaktu cairan mengalir menuju tubulus distal.
6


Tubulus Distal
Bagian pertama dari tubulus distal membentuk bagian kompleks jukstaglomerulus yang
menimbulkan kontrol umpan balik GFR dan aliran darah dalam nefron yang sama. Bagian
tubulus distal selanjutnya sangat berkelok-kelok dan mempuyai banyak ciri reabsorbsi sama
dengan bagian tebal asenden ansa Henle. Artinya bagian tersebut mereabsorbsi sebagian besar
ion termasuk natrium, klorida, dan kalium, tetapi tidak permeabel terhadap air dan ureum.
Karena ini, segmen ini disebut segmen pengencer karena mengencerkan cairan tubulus. Kurang
lebih 5% muatan dari natrium klorida yang difiltrasi akan direabsorbsi di bagian awal tubulus
distal. Ko-transporter natrium klorida memindahkan natrium klorida dari lumen tubulus ke dalam
sel, dan pompa natrium kalium ATPase mentranspor natrium keluar dari sel melalui membran
basolateral.
6


Duktus Koligentes pars Medula
Walaupun duktus koligentes bagian medula mereabsorbsi kurang dari 10% air dan natrium
yang difiltrasi, duktus ini adalah bagian terakhir dari pemrosesan urin dan memainkan peranan
yang sangat penting dalam memekatka keluaran akhir dari urin. Sel epitel duktus koligentes
mendekati bentuk kuboid dengan permukaan yang halus dan relatif sedikit mitokondria. Ciri-ciri
khusus segmen tubulus ini adalah sebagai berikut:
6

a. Permeabilitas duktus koligentes bagian medula terhadap air dikontrol oleh kadar ADH
b. Bersifat permeabel terhadap ureum, membantu meningkatkan osmolaritas darah ginjal ini
dan turut berperan pada seluruh kemampuan ginjal untuk membentuk urin yang pekat.
c. Mampu menyekresikan ion hidrogen melawan gradien konsentrasi yang besar, seperti
yang juga terjadi di duktus koligentes pars Kortikalis. Dengan kata lain, duktus koligentes
pars Medula juga memainkan peranan kunci dalam pengaturan keseimbangan asam basa.


12

Pengendalian Hormonal Terhadap Reabsorbsi Tubulus
Aldosteron, yang disekresikan oleh sel-sel zona glomerulosa pada korteks adrenal, adalah
suatu regulator penting bagi reabsorbsi natrium dan sekresi kalium oleh tubulus ginjal. Tempat
kerja utama aldosteron adalah ada sel-sel prinsipalis di tubulus koligentes kortikalis. Mekanisme
aldosteron meningkatkan reabsorbsi natrium sementara pada saat yang sama meningkatkan
sekresi kalium adalah dengan merangsang pompa natrium-kalium ATPase pada sisi basolateral
dari membran duktus koligentes kortikalis. Aldosteron juga meningkatkan permeabilitas natrium
pada sisi luminal membran.
6

Angiotensin II merupakan hormon penahan natrium paling kuat dalam tubuh. Peningkatan
hormon ini membantu mengembalikan tekanan darah dan volume ekstrasel menjadi normal
dengan meningkatkan reabsorbso natrium dan air dari tubulus ginjal melalui tiga efek utama:
6

a. Merangsang sekresi aldosteron, yang kemudian meningkatkan reabsorbsi natrium
b. Mengkonstriksi arteriol eferen yang pada akhirnya akan mengurangi tekanan hidrostatik
kapiler peritubulus dan meningkatkan fraksi filtrasi dalam glomerulus serta
meningkatkan konsentrasi protei dan osmotik koloid dalam kapiler peritubulus
c. Mereabsorbsi natrium di tubulus proksimal, ansa Henle, tubulus distal, dan tubulus
koligentes
Hormon paratiroid meningkatkan reabsorbsi kalsium, terutama di tubulus distal dan
sebagian di ansa Henle. Hormon ini juga meghambat reabsorbsi fosfat oleh tubulus proksimal
dan merangsang reabsorbsi magnesium oleh ansa Henle.

Ekskresi Urin dan Klirens Plasma
Dari 125 ml/menit cairan yang difiltrasi di glomerulus, dalam keadaan normal hanya 1
ml/mnit yang tertinggal di tubulus dan diekskresikan sebagai urin. Hanya zat-zat sisa dan
kelebihan elektrolit yang tidak diperlukan oleh tubuh dibiarkan berada di dalam tubulus. Karena
bahan yang diekskresikan itu disingkirkan atau dibersihkan dari plasma, istilah klirens plasma
mengacu pada volume plasma yang dibersihkan dari zat tertentu setiap menitnya oleh ginjal.
6

Ginjal mampu mengekskresikan urin dengan volume dan konsentrasi yang berbeda-beda
baik untuk menahan atau mengeluarkan air, masing-masing bergantung pada apakah tubuh
13

memiliki defisit atau kelebihan air. Ginjal mampu menghasilkan urin denga rentang dari 0.3
ml/menit pada 1200 mosm/l sampai 25ml/menit pada 100 mosm/l dengan mereabsorbsi air
dalam jumlah bervariasi dari bagian distal nefron. Variasi reabsorbsi ini dimungkinkan oleh
adanya gradien osmotik vertikal yang berkisar dari 300 sampai dengan 1200 mosm/l di cairan
interstitium medula yang dibentuk oleh sistem countercurrent lengkung Henle dan daur ulang
antara tubulus pengumpul dan lengkung Henle. Gradien osmotik vertikal tempat cairan tubulus
hipotonik (100 mosm/l) terpajan sewaktu cairan mengalir melalui bagian distal nefron ini
menciptakan gaya pendorong pasif untuk reabsorbsi progresif air dari cairan tubulus, tetapi
tingkat reabsorbsi air yang sebenarnya bergantung pada jumlah vasopresin (ADH) yang
disekresikan. Vasopresin meningkatkan permeabilitas tubulus distal dan pengumpul terhadap air;
keduanya impermeabel terhadap air jika tidak terdapat vasopresin. Sekresi vasopresin meningkat
sebagai respons terhadap defisit air dan hal ini menyebabkan peningkatan reabsorbsi air. Sekresi
vasopresin dihambat jika terdapat kelebihan air, sehingga reabsorbsi air menurun. Dengan cara
ini, penyesuaian dalam merabsirbsi air yang dikontrol oleh vasopresi membantu mengkoreksi
setiap ketidakseimbangan cairan.
6

Setelah terbentuk, urin didorong oleh kontraksi peristaltik melalui ureter dari ginjal ke
kandung kemih (vesica urinaria) untuk disimpan sementara. Kandung kemih dapat menampung
250 400 ml urin sebelum reseptor regang di dindingnya memulai refleks berkemih. Refleks ini
menyebabkan pengosongan kandung kemih secara involunter dengan secara bersamaan
menyebabkan kontraksi kandung kemih yang disertai pembukaan sfingter uretra internal dan
sengaja dicegah sampai waktu yang lebih tepat dengan pengencangan secara sengaja sfingter
eksternal dan diafragma pelvis di sekitarnya.
6


Aminoasiduria dan Glukosuria
Beberapa asam amino berbagi sistem transpor yang saling menguntungkan untuk proses
reabsorbsinya, sedangkan asam amino lainnya mempunyai sistem transpor berbeda. Sangat
jarang, keadaan yang disebut aminoasiduria generalisata terjadi akibat kekurangan reabsorbsi
seluruh asam amino; kelainan yang lebih sering, defisiensi sistem pengangkut spesifik dapat
terjadi pada (1) sistinuria esensial, yaitu sejumlah besar sistein gagal direabsorbsi dan seringkali
mengalami kristalisasi dalam urin sehingga terbentuk batu ginjal; (2) glisinuria sederhana, yaitu
14

glisin gagal direabsorbsi; atau (3) asiduria beta-aminosobutirat, yang terjadi pada sekitar 5%
penduduk tapi tampaknya tidak mempunyai arti klinis yang bermakna.
6
Glukosuria, dalam keadaan ini konsentrasi glukosa darah mungkin normal, tapi mekanisme
transpor untuk reabsorbsi glukosa di tubulus akan sangat terbatas atau tidak ada. Akibatnya,
meskipun kadar glukosa darah normal, sejumlah besar glukosa masuk ke dalam urin setiap
harinya.
6

Kesimpulan
Berdasarkan daftar pustaka yang telah ditelaah untuk mengetahui mekanisme kerja ginjal
dalam memproduksi urin, ginjal memiliki unit-unit nefron yang kompleks untuk menjaga
keseimbangan cairan dan asam-basa dalam tubuh. Ketika salah satu nefron tidak berfungsi
dengan baik, maka akan ditemukan kelainan pembentukan urin yang akan diekskresikan dan
osmolaritas cairan tubuh juga akan terganggu.

Daftar Pustaka
1. Sherwood L. Fisiologi manusia. Edisi 2. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC. 2001. h.
461-72
2. Pearce E. Anatomi dan fisiologi untuk paramedic. Jakarta: Gramedia Pustaka. 2009. h.
245.
3. Inggriani K. Buku ajar anatomi: system urogentilia. Jakarta: Bag.Anatomi Fakultas
Kedokteran Ukrida. 2011. h. 32-40.
4. Netter F. Atlas of Human Anatomy. USA: Saunders Elsevier. 2011
5. Faiz O, Moffat D. At a glance anatomi. Jakarta: Erlangga. 2004. h. 45.
6. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Ed 11. Jakarta: EGC; 2008.h.345-
60, 433