Anda di halaman 1dari 41

SKENARIO 3 BLOK ENDOKRIN

MENSTRUASI TIDAK TERATUR



Oleh :
Kelompok A 14

Ketua : Arlin Chyntia 1102010036
Sekretaris : Amelia Alresna 1102010017

Amanda Aziza H 1102010016
Bebby Shelby 1102010045
Deniswari Rahayu 1102010065
Dinda Putri 1102010081
Elsya Aprilia 1102010088
Irfan Kurniawan 1102010132
Julia 1102010137
Laras Wiyardhani 1102010148

Fakultas Kedokteran
Universitas Yarsi
Jakarta
2012


SKENARIO 2
Seorang wanita, 20 tahun, mahasiswi universitas yarsi, datang ke poliklinik RS dengan
keluan haid tidak teratur yaitu sejak 6 bulan yang lalu. Setiap haid 2 3 minggu. Dua hari ini,
banyak sekali (5 kali ganti pembalut sehari). Pasien mendapatkan haid yang pertama sejak
usia 12 tahun, teratur tiap bulan.
Pemeriksaan fisik sisapatkan ;
Keadaan umum : tampak pucat
Kesadaran : komposmentis
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Jantung dan paru : dalam batas normal
Pemeriksaan luar ginekologi ;
Abdomen :
Inspeksi : perut tampak mendatar
Palpasi : lemas, fundus uteri tidak teraba di atas simfisis
Auskultasi : bising usus normal
Vulva/vagina : fluksus (+)
Pemeriksaan penunjang ;
USG Ginekologi : uterus bentuk normal dan ukuran normal, ovarium kanan dan
kiri normal. Tidak tampak massa pada adneksa kanan dan kiri.
Lab darah rutin : Hb 10g/dL , Trombosit 300.000/uL , lain-lain normal.
Berdasarkan pemeriksaan di atas, Dojter menduga kelainan haid di sebabkan oleh gangguan
kesetimbangan hormonal.
Pasien juga bingung apakah keluhan ini karena haid atau istihadhah sehingga ragu dalam
melaksanakan hukum islam.


KATA-KATA SULIT
1. Fluksus
Pengaliran; khusunya suatu aliran cairan yang abnormal atau berlebihan ke suatu
bagian
2. Adneksa
Umbai-umbai atau bagian tambahan ; a. Uteri, umbai uterus
3. Istihadhah
Darah yang keluar keluar tidak pada hari haid dan nifas; dalam keadaan sakit
(darah penyakit).



















PERTANYAAN
1. Mengapa haid menjadi tidak teratur?
2. Mengapa haidnya lama sekali dan banyak ?
3. Mengapa pada saat palpasi fundus uteri tidak teraba diatas simfisis ?
4. Pada range umur berapakah sering terjadi gangguan hormonal ?
5. Apa hubungannya pemeriksaan darah rutin dengan gangguan hormonal ?
6. Apa yang membedakan haid dengan istihadhah ?
7. Kapan dikatakan istihadhah ?
8. Range waktu normal haid berlangsung ?
JAWABAN
1. Karena terdapat disfungsi sumbu hipotalamus hipofisis ovarium , adrenal, atau
tiroid.
2. Karena terjadi kelebihan esterogen relatif terhadap progesteron, sehingga terjadi
proses proliferasi tanpa proses sekretorik yang normal, yang berakibat endometrium
mengalami perubahan kistik ringan dan stroma yang relatif sedikit menyebabkan
endometrium kurang ditopang sehingga endometrium mengalami kolaps parsial,
disertai ruptur arteri spiral dan pendarahan.
3. Karena normalnya apabila ovum tidak mengalami pembuahan (hamil) maka tidak
akan terjadi pembesaran uterus, sehingga yang teraba saat palpasi adalah simfisis
pubis.
4. Saat perimenarchal (3-5 tahun setelah menarche) dan perimenopausal (40 52 tahun)
5. Untuk menegakkan diagnosis dan untuk melihat komplikasi anemia.
6. Haid adalah darah yang keluar dalam keadaan sehat, sedangkan istihadhah adalah
darah yang keluar tidak pada hari haid dan nifas atau dalam keadaan sakit (darah
penyakit).
7. Saat darah yang keluar tidak pada siklus haid dan nifas atau dalam keadaan sakit
(darah penyakit).
8. 3 8 hari



HIPOTESIS SEMENTARA
Pada kasus ini pasien mengalami gangguan hormonal dimana terjadi disfungsi pada salah
satu sumbu hipothalamus - hipofisis ovarium, yang mengakibatkan terjadinya kelebihan
esterogen relatif terhadap progesteron. Hal ini mengakibatkan proses proliferasi terjadi tanpa
dilanjutkan oleh proses sekretorik yang normal, sehingga endometrium mengalami perubahan
kistik ringan dan stroma yang relatif sedikit, yang menyebabkan endometrium kurang
ditopang sehingga endometrium mengalami kolaps parsial, disertai ruptur arteri spiral dan
pendarahan.




















SASARAN BELAJAR
LO.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Organ Reproduksi Wanita
LI 1.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopis Organ Reproduksi Wanita
LI 1.2 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mikroskopis Organ Reproduksi Wanita

LO.2 Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Reproduksi & Hormonal Wanita
LI 2.1 Memahami dan Menjelaskan Sistem Hormon
LI 2.2 Memahami dan Menjelaskan Siklus Menstruasi
LI 2.3 Memahami dan Menjelaskan Fungsi Hormon-Hormon Gonadotropik & Ovarium

LO.3 Memahami dan Menjelaskan Gangguan Menstruasi / Abnormal Uterine Bleeding
LI 3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Gangguan Menstruasi
LI 3.2 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Gangguan Menstruasi

LO.4 Memahami dan Menjelaskan Perdarahan Uterus Disfungsional / Disfungsional
Uterine Bleeding
LI 4.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Perdarahan Uterus Disfungsional
LI 4.2 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Perdarahan Uterus Disfungsional
LI 4.3 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Perdarahan Uterus Disfungsional
LI 4.4 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Perdarahan Uterus Disfungsional
LI 4.5 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinik Perdarahan Uterus Disfungsional
LI 4.6 Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Perdarahan Uterus
Disfungsional
LI 4.7 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Perdarahan Uterus
Disfungsional
LI 4.8 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Perdarahan Uterus Disfungsional
LI 4.9 Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Perdarahan Uterus Disfungsional
LI 4.10 Memahami dan Menjelaskan Prognosis Perdarahan Uterus Disfungsional

LO.5 Memahami dan Menjelaskan Batasan-Batasan Beribadah Dalam Keadaan Suci
dan Tidak suci

LO.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Organ Reproduksi Wanita
LI 1.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopis Organ Reproduksi Wanita
Organ Genitalia Interna
1. Vagina
Vagina (dari bahasa Latin yang makna literalnya pelindung atau selongsong) adalah
saluran berbentuk tabung yang menghubungkan uterus ke bagian luar tubuh. Vagina
merupakan organ reproduksi wanita yang sangat rentan terhadap infeksi. Hal ini disebabkan
batas antara uretra dengan anus sangat dekat. pH vagina normal yaitu 3-3,5.

Vagina terbentuk dari suatu jaringan musculo-membranosa yang menghubungkan
vulva dengan uterus. Letaknya yaitu diantara rectum dan vesica urinaria. Panjang dinding
depan vagina lebih pendek daripada dinding belakangnya. Dinding depan vagina kira-kira
sepanjang 9 cm sedangkan dinding belakangnya sepanjang 11 cm. Ruggae dapat ditemukan
di sepanjang dinding vagina terutama bagian bawah. Namun, setelah seorang wanita
melahirkan, ruggae-ruggae ini akan menghilang sehingga permukaan dinding vagina menjadi
licin.
Ada bagian dari uterus yang masuk ke dalam vagina, yaitu cervix uterus (portio).
Portio ini membagi vagina menjadi 4 bagian (fornix): fornix anterior, fornix posterior, fornix
lateral sinistra, fornix lateral dextra. Vagina merupakan saluran yang berfungsi sebagai
saluran menstruasi, coitus dan sebagai jalan lahir.



2. Uterus
Karena uterus dan vagina merupakan satu kesatuan, maka letaknya pun sama. Sama
halnya seperti vagina, uterus juga terletak diantara vesica urinaria dan rectum. Terdapat
ruangan-ruangan yang membatasi uterus dengan organ di depan dan di belakangnya yaitu:
a. Spatium rectouterina (Cavum Douglasii), yaitu suatu ruangan yang memisahkan
uterus dengan rectum. Bila terjadi perdarahan ekstraperitonial, darah akan benyak
tertampung di ruangan ini.
b. Spatium Vesicouterina, yaitu suatu ruangan yang membatasi uterus dengan vesica
urinaria.

Permukaan uterus bagian posterior hampir seluruhnya ditutupi oleh peritoneum dan untuk
bagian posterior, hanya pada bagian atas saja. Uterus terdiri dari dua bagian yaitu:
Cervix uteri: terbagi menjadi pars vaginalis (masuk ke dalam vagina) dan pars
supravaginalis
Corpus Uteri: Terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan paling luar serosa yang melekat
dengan ligamentum latum (perimetrium), lapisan muscular polos yang berada di
tengah (myometrium), dan lapisan paling dalam (endometrium). Ada bagian
menyempit yang membatasi corpus dengan cervix yaitu Isthmus.
Posisi uterus normalnya mendatar dengan flexi kearah anterior dan fundus uterus terletak di
atas vesica urinaria

3. Tuba Uterina (Salphinx)
Tuba uterine merupakan sepasang saluran muscular yang menghubungkan ovarium ke
uterus. Panjangnya sekitar 10 cm dan membuka ke ostium abdominale.Tuba uterine dibagi
menjadi 3 bagian yaitu:
a. Isthmus: Bagian tuba uterine yang terdekat dengan uterus dan merupakan bagian
yang menyempit
b. Ampulla: Bagian tuba uterina yang terletak ditengah, diantara bagian isthmus dan
infundibulum. Bagian ini merupakan bagian yang mulai melebar.
c. Infundibulum: Bangunan yang berbentuk seperti corong dan merupakan bagian
yang terdekat dengan ovarium. Infundibulum akan berlanjut menjadi fimbriae.
Permulaan tuba uterine ini terdapat di dalam uterus yang disebut dengan tuba uterine
pars uterus.

4. Ovarium
Ovarium merupakan organ penghasil sel telur pada wanita yang terletak di pelvis minor
dengan jumlah sepasang. Berbentuk bulat agak memanjang dan sedikit pipih seperti buah
almond. Terdiri dari dua lapisan yaitu korteks dan medulla dan difiksasi oleh mesoovarium
pada ligamentum latum.


Perdarahan
Perdarahan alat reproduksi wanita berasal dari A. iliaca interna cabang dari A. iliaca
communis. A. iliaca interna ini kemudian akan bercabang menjadi A. hipogastrica dan
selanjutnya akan bercabang ke organ-organ:
a. Uterus: A. hipogastrica akan bercabang ke uterus menjadi A. uterina. A. uterine ini
kemudian akan berjalan kearah ovarium (A. uterine rr. Ovaiana) dan memperdarahi
ovarium dan akan memperdarahi tuba (A. uterina rr. Tuba)
b. Vagina: A. hipogastrica juga akan berjalan kea rah vagina dan memperdarahi vagina
sebagai (A. vaginalis)


LI 1.2 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mikroskopis Organ Reproduksi Wanita
Ovarium
Ovarium dilapisi oleh satu lapis sel kuboid rendah atau gepeng yaitu epitel germinal,
yang bersambungan dengan mesotelium peritoneum viscerale. Dibawah epitel germinal
adalah jaringan ikat padat yang disebut tunia albuginea.
Ovarium memiliki korteks ditepi, dan medula ditengah, tempat ditemukannya banyak
pembuluh darah, saraf, dan pembuluh limfe. Daerah korteks mengandung banyak folikel
telur yang masing-masing terdiri dari sebuah oosit yang diselaputi oleh sel-sel folikel. Sel-sel
folikel adalah oosit beserta sel granulose yang mengelilinginya. Selain folikel, korteks
mengandung fibrosit dengan serat olagen dal retikular. Medula adalah jaringan ikat padat
tidak teratur yang bersambungan dengan lugamentum mesovarium yang menggantungkan
ovarium. Pembuluh darah besar di medula membentuk pembuluh darah yang lebih kecil yang
menyebar diseluruh korteks ovarium.


Macam-macam folikel yaitu :
a. Folikel primordial : terdiri atas oosit primer yang berinti agak ke tepiyang
dialapisi sel folikel berbentuk pipih.
b. Folikel primer : terdiri oosit primer yang dilapisi sel folikel (sel granulose)
berbentuk kubus dan terjadi pembentukan zona pelusida yaitu suatu lapisan
glikoprotein yang terdapat diantara oosit dan sel-sel granulose.
c. Folikel sekunder : terdiri oosit primer yang dilapisi sel granulose berbentuk kubus
berlapis banyak atau disebut staratum granulose.
d. Folikel tersier : terdiri dari oosit primer, volume stratum granulosanya bertambah
besar. Terdapat beberap celah antrum diantara sel-sel granulose. Dan jaringan ikat
stroma di luar stratum granulose membentuk theca intern (mengandung banyak
pembuluh darah) dan theca extern (banyak mengandungserat kolagen).
e. Folikel Graff : disebut juga folikel matang. Pada folikel ini, oosit sudah siap
diovulasikan dari ovarium. Oosit sekunder dilapisi oleh beberapa lapissel
granulose berada dalam suatu jorokan ke dalam stratum disebut cumulus ooforu.
Sel-sel granulose yang mengelilingi oosit disebut korona radiate. Antrum berisi
liquor follicul yang mengandung hormone esterogen.

Tuba Fallopii
Berdasar struktur histologi terdiri dari lapisan mukosa, lapisan otot, dan lapisan serosa.
o Lapisan mukosa : tersusun atas epitel selapis silindri dan terdapat 2 jenis sel :
Epitheliocytus ciliatus / epitel bersilia : berfungsi menciptakan arus ke arah
uterus yang menuntun oosit kedalam infundibulumtuba uterina.
Epitheluocytus tubarius angutus / epitel tidak bersilia : berfungsi sebagai sel
sekretori dengan menghasilkan bahan nutritif yang penting bagi ovum.
o Lapisan otot : berupa otot polos sirkular dalam, berfungsi untuk kontrasi peristaltik
yang menuntun ovum dan membuat fimbrae berdekatan dengan ovum untuk
menangkap ovum.
o Lapisan serosa

Uterus
Uterus manusia adalah organ berbentuk buah pir dengan dinding berotot tebal. Badan
atau korpus membentuk bagian uterus. Bagian atas uterus yang membulat dan terletak diatas
pintu masuk tuba uterina disebut fundus. Bagian bawah uterus yang lebih sempit dan terletak
dibawah korpus adalah serviks. Serviks menonjol dan bermuara ke dalam vagina.
Dinding uterus terdiri dari 3 lapisan :
1. Perimetrium : bagian luar yang dilapisi oleh serosa atau adventitia
2. Miometrium : terdapat 3 lapisan otot yang batas-batasnya kurang jelas. Tiga lapisan
otot tersebut adalah ;
Lapisan Sub vascular : serat-serat otot tersusun memanjang
Lapisan Vaskular : lapisan otot tengah tebal, serat tersusun melingkar dan serong
dengan banyak pembuluh darah.
Lapisan Supravaskular : lapisan otot luar memanjang tipis.

3. Endometrium : dilapisi oleh epitel selapis silindris yang turun kedalam lamina propia
untuk membentuk banyak kelenjar uterus. Umunya endometrium dibagi menjadi dua
lapisan fungsional, Stratum functionale di luminal, dan stratum basale di basal.
Pada wanita yang tidak hamil , stratum functionale superfisial dengan kelenjar uterus
dan pembuluh darah terlepas atau terkelupas selama menstruasi, meninggalkan
stratum basale yang utuh dengan sisa-sisa kelenjar uterus basal sebagai sumber
untuk regenerasi stratum functionale yang baru.
Arteri uterina di lugamentum latum membentuk arteri arkuata. Arteri ini menembus
dan berjalan melingkari miometrium uterus. Pembuluh darah aruata membentuk arteri
rectae (lurus) dan spiralis yang mendarahi endometrium.


Perubahan siklik uterus
1) Fase Proliferatif
Pada fase proliferatif daur haid dan dibawah pengaruh estrogen ovarium,
stratum functionale semakin tebal dan kelenjar uterus memanjang dan berjalan lurus
di permuaan. Arteri spiralis memanjang dan berkelok-kelok

2) Fase Sekretori
Fase sekretori daur haid dimulai setelah folkel matur. Perubahan di
endometrium disebaban oleh pengaruh estrogen dan progesteron yang disekresi oleh
korpus luteum fungsional. Akibatnya, stratum functionale dan stratum basale
endomentrii menjadi lebih tebal karena bertambahnya sekresi kelenjar dan edema
laina propia, epitel kelenjar uterus mengalami hipertrofi akibat adanya akumulasi
sekretorik. Kelenjar uterus juga semakin berelok-kelok, dan lumennya melebar oleh
bahan sekretorik yang aya arbohidrat. Arteri spiralis terus berjalan ke bagian atas
endometrium dan tampak jelas karena dindingnya tebal.
Selama fase sekretori, stratum functionale endomentrii ditandai oleh
perubahan epitel permukaan silindris, kelenjar uterus, dan lamina propia. Stratum
basale menunjukan perubahan minimal.

3) Fase Menstruasi
Selama fase menstruasi, endometrium di stratum functionale mengalami
degenerasi dan terlepas. Endometrium yang terlepas mengandung kepingan-kepingan
stroma yang hancur, bekuan darah, dan kelenjar uterus beserta produknya. Stratu,
basal endomentrii tetap tidak terpengaruh selama fase ini. Bagian distal arteri spiralis
mengalami nekrosis, sedangkan bagian arteri yang lebih dalam tetap utuh.

LO.2 Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Reproduksi & Hormonal Wanita
LI 2.1 Memahami dan Menjelaskan Sistem Hormon
Sistem hormon wanita, seperti pada pria, terdiri dari tiga hirarki hormon, sebagai berikut ;
1. Hormon yang dikeluarkan hipothalamus, Hormon pelepas- gonadotropin (GnRH),
yang sebelumnya juga disebut Hormon pelepas- hormon lutein.
2. Hormon hipofisis anterior, hormon perangsang folikel (FSH) dan Hormon lutein
(LH),keduanya disekresi sebagai respon terhadap pelepasan hormon GnRH dari
hipotalamus.
3. Hormon-hormon ovarium, estrogen dan progesteron, yang disekresi oleh ovarium
sebagai respons terhadap kedua hormon dari kelenjar hipofisis anterior
LI 2.2 Memahami dan Menjelaskan Siklus Menstruasi
Siklus haid dapat ditinjau dari uterus maupun ovarium. Siklus uterus berupa
pertumbuhan dan pengelupasan bagian dalam uterus - endometrium. Pada akhir fase
menstruasi endometrium mulai tumbuh kembali dan memasuki fase proliferasi. Pasca
ovulasi, pertumbuhan endometrium berhenti sesaat dan kelenjar endometrium menjadi lebih
aktif fase sekresi.

Lama siklus haid rata-rata adalah 28 hari dan terdiri dari :
1. Fase folikuler
2. Ovulasi
3. Fase luteal (pasca ovulasi)
Bila siklus menjadi panjang, fase folikuler yang akan menjadi panjang dan fase luteal akan
tetap konstan berlangsung selama 14 hari.Agar siklus haid berlangsung secara normal
diperlukan :
1. Poros hipotalamus-hipofisis-ovarium yang baik
2. Didalam ovarium terdapat folikel yang responsif
3. Fungsi uterus berlangsung secara normal
Endokrologi Siklus Menstruasi
Pengendalian maturasi folikel dan proses ovulasi dilakukan oleh poros hipotalamus-
hipofisis-ovarium. Hipotalamus mengendalikan siklus haid, namun organ ini sendiri dapat
pula dipengaruhi oleh pusat otak yang lebih tinggi, sehingga faktor kecemasan ataupun
gangguan kejiwaan lain dapat mengganggu pola haid yang normal.
Hipotalamus mempengaruhi hipofisis melalui pengeluaran GnRH-Gonadotropin
Releasing Hormon. GnRH melalui sistem sirkulasi portal menuju hipofisis anterior dan
menyebabkan gonadotrof hipofisis melakukan sintesa dan pelepasan FSH-foliclle stimulating
hormone dan LH-Luteinizing hormone. FSH akan menyebabkan proses maturasi folikel
selama fase folikuler dan LH berperan dalam proses ovulasi serta produksi progesteron oleh
corpus luteum. Aktivitas siklis dalam ovarium berlangsung melalui mekanisme umpan balik
diantara ovarium hipotalamus dan hipofisis.

Siklus Ovarium


Fase folikuler (hari ke 1 10)
Pada awal siklus, kadar FSH dan LH relatif tinggi dan hormon ini akan merangsang
pertumbuhan 10 20 folikel namun hanya 1 folikel yang dominan yang menjadi matang
dan sisanya akan mengalami atresia. Kadar FSH dan LH yang relatif tinggi dipicu oleh
penurunan kadar estrogen dan progesteron pada akhir fase sebelumnya.
Selama dan segera setelah haid, kadar estrogen relatif rendah namun dengan pertumbuhan
folikel kadarnya akan segera meningkat.


Hari Ke 10 - 14
Dengan bertambahnya ukuran folikel, terjadi akumulasi cairan diantara sel granulosa
dan menyebabkan terbentuknya anthrum, sehingga folikel primer berubah bentuk menjadi
folikel dgraaf, disini oosit menempati posisi excenteric dan dikelilingi oleh 2 3 lapisan sel
granulosa dan disebut sebagai cumulus oophorus Dengan semakin matangnya folikel, kadar
estrogen menjadi semakin bertambah (terutama dari jenis estradiol) dan mencapai puncaknya
18 jam sebelum ovulasi. Dengan semakin meningkatnya kadar estrogen, produksi FSH dan
LH menurun ( umpan balik negatif ) untuk mencegah hiperstimulasi ovarium dan maturasi
folikel lainnya.


Ovulasi Hari Ke 14
Ovulasi terjadi dengan pembesaran folikel yang cepat dan diikuti protrusi permukaan
kortek ovarium dan pecahnya folikel menyebabkan keluarnya oosit dan cumulus oophorus
yang melekat dengannya.
Pada sejumlah wanita Kadang-kadang proses ovulasi ini menimbulkan rasa sakit
sekitar fossa iliaka yang dikenal dengan nama mittelschmerz. Peningkatan kadar estradiol
pada akhir mid-cycle diperkirakan akibat LH surge dan penurunan kadar FSH akan
menyebabkan
peristiwa umpan balik positif. Sesaat sebelum ovulasi terjadi penurunan kadar estradiol
secara tiba-tiba dan peningkatan produksi progesteron.

Fase Luteal Hari 15 28
Sisa folikel yang telah ruptur berada didalam ovarium. Sel granulosa mengalami
luteinisasi dan membentuk corpus luteum. Corpus luteum merupakan sumber utama dari
hormon steroid seksual, estrogen dan progesteron yang dikeluarkan oleh ovarium pada fase
pasca ovulasi (fase luteal)


terbentuknya corpus luteum akan menyebabkan sekresi progesteron terus meningkat dan
terjadi pula kenaikan kadar estradiol berikutnya.



Selama fase luteal, kadar gonadotropin tetap rendah sampai terjadi regresi corpus
luteum pada hari ke 26 28. Bila terjadi konsepsi dan implantasi, corpus luteum tidak akan
mengalami regresi oleh karena keberadaanya dipertahankan oleh gonadotropin yang
diproduksi oleh trofoblas. Namun, bila tidak terjadi konsepsi dan implantasi, corpus luteum
akan mengalami regresi dan siklus haid akan mulai berlangsung kembali. Akibat penurunan
kadar hormon steroid, terjadi peningkatan kadar gonadotropin dan siklus haid akan
berlangsung kembali.
Siklus Endometrium
Endometrium memberikan respon secara khas terhadap progestin, androgen dan estrogen.
Inilah sebabnya mengapa endometrium dapat mengalami proses haid dan memungkinkan
terjadinya proses implantasi hasil konsepsi saat terjadi proses kehamilan
Secara fungsional, endometrium dibagi menjadi 2 zona :
1. Bagian luar ( stratum fungsionalis ) yang mengalami perubahan morfologik dan
fungsional secara siklis
2. Bagian dalam ( stratum basalis ) yang secara relatif tidak mengalami perubahan dan
berperan penting dalam proses penggantian sel endometrium yang terkelupas saat haid.
Arteri basalis berada dalam stratum basalis dan arteri spiralis khususnya terbentuk dalam
stratum fungsionalis.
Perubahan siklis endometrium secara histofisiologi dibagia menjadi 3 stadium : fase
menstruasi, fase proliferasi (estrogenik) dan fase sekresi (progestasional)














Fase Proliferasi
Selama fase folikuler, endometrium terpapar dengan sekresi estrogen. Pada akhir haid,
regenerasi endometrium berlangsung dengan cepat.
Pada stadium ini Fase Proliferasi , pola kelenjar endometrium adalah regular dan tubuler,
sejajar satu sama lain dan mengandung sedikit cairan sekresi.
Fase Sekresi
Pasca ovulasi, produksi progesteron memicu terjadi perubahan sekresi pada kelenjar
endometrium. Terlihat adanya vakuola yang berisi cairan sekresi pada epitel kelenjar.
Kelenjar endometrium menjadi semakin berliku-liku.
Fase Menstruasi
Secara normal fase luteal berlangsung selama 14 hari. Pada saat-saat akhir corpus luteum,
terjadi penurunan produksi estrogen dan progesteron. Penurunan ini diikuti dengan kontraksi
spasmodik dari arteri spiralis sehingga terjadi ischemik dan nekrosis lapisan superfisial
endometrium sehingga terjadi perdarahan. Vasospasme nampaknya merupakan akibat adanya
produksi prostaglandin lokal. Prostaglandin juga menyebabkan kontraksi uterus saat haid.
Darah haid tidak mengalami pembekuan oleh karena adanya aktivitas fibrinolitik dalam
pembuluh darah endometrium yang mencapai puncaknya saat menstruasi.
Lendir Servik
Pada wanita terdapat hubungan langsung antara traktus genitalis bagian bawah dengan
cavum peritoneal. Hubungan langsung ini memungkinkan spermatosoa mencapai ovum,
meskipun ferttilisasi umumnya terjadi di dalam tuba falopii. Hubungan langsung ini pula
yang memudahkan wanita mengalami infeksi genitalia interna. Namun keberadaan lendir
servik dapat mencegah hal itu terjadi.
a. Pada fase folikuler dini, konsistensi lendir servik kental dan impermeable ( seperti
putih telur )
b. Pada fase folikuler lanjut, meningkatnya kadar estrogen menyebabkan lendir yang
menjadi lebih encer dan relatif semipermeabel dan relatif mudah ditembus oleh
spermatozoa. Perubahan lendiri servik yang menjadi lebih encer ini disebut sebagai
spinnbarkheit
c. Pasca ovulasi, progesteron yang dihasilkan corpus luteum menetralisir efek estrogen
sehingga lendir servik menjadi kental kembali dan impermeabel.



Perubahan Siklis Lain
Meskipun maksud dari perubahan hormon ovarium secara siklis adalah ditujukan
pada traktus genitalia, namun hormon-hormon tersebut juga dapat mempengaruhi sejumalh
organ tubuh lain.
1. Suhu badan basal
Terjadi kenaikan suhu badan basal kira-kira 1
0
F 0.5
0
C pada saat ovulasi dan
kenaikan suhu tersebut dipertahankan sampai menstruasi. Ini disebabkanb oleh efek
termogenik progesteron. Bila terjadi konsepsi, kenaikan suhu badan basal ini tetap
bertahan sampai selama kehamilan.
2. Perubahan pada payudara
Kelenjar mamma sangat sensitif terhadap estrogen dan progesteron. Pembengkakan
payudara seringkali merupakan tanda pubertas sebagai respon atas kenaikan estrogen
ovarium. Estrogen dan progesteron bekerja secara sinergistik terhadap payudara dan
selama siklus haid, pembengkakan payu dara terjadi pada fase luteal dimana kadar
progesteron sedang tinggi.
3. Perubahan psikologi
Beberapa wanita mengalami perubahan mood terkait dengan siklus haid. Terjadi
instabilitas emosional pada fase luteal. Perubahan ini disebabkan oleh penurunan
progesteron. Tidak dapat dipastikan apakah perubahan mood tersebut disebabkan oleh
siklus haid atau merupakan sindroma premenstrual.

LO.3 Memahami dan Menjelaskan Gangguan Menstruasi / Abnormal Uterine Bleeding
LI 3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Gangguan Menstruasi
Pendarahan uterus abnormal atau gangguan mestruasi dapat diartikan dengan berbagai cara,
terminologi yang spesifik telah biasa digunakan untuk mengkarakterisasi pola pendarahan
tertentu. Perdarahan uterus abnormal meliputi semua kelainan haid baik dalam hal jumlah ,
selang waktu (Interval) maupun lamanya.
LI 3.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Gangguan Menstruasi
Etiologi Gangguan Mestruasi dapat berupa
1. Penyakit Uterus
Polip, Endometritis, Leiomyoma, Adenomyosis
2. Medikasi
Psycotropic drugs, Pil Kontrasepsi Kombinasi, Dilatin , Tamoxifem, Progestin
3. Gangguan Koagulasi
Von Willebrands disease, Trombositopeni, Leukimia, ITP
4. Penyakit Sistemik
Obesitas, Liver failure
5. Endokrin
Anovulasi, Hyperprolactinemia, Disfungsi thyroid, Disfungsi Andrenal,
Esterogen -producing tumor
6. Komplikasi Kehamilan
Kehamilan Ektopik
7. Patologi Serviks
Infeksi , Kanker, Polip, Hemangioma
8. Komplikasi puerperal
Endomyometritis
LI 3.3 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Gangguan Menstruasi



Terjadinya mentruasi atau haid merupakan perpaduan antara kesehatan alat genitalia
dan rangsangan hormonal yang kompleks yang berasal dari mata rantai aksis hipotalamus-
hipofisis-ovarium. Oleh karena itu, gangguan haid dapat terjadi karena kedua faktor tersebut.

Hipermenorea (menoragia)
Jadwal siklus haid tetap , tetapi kelainan terletak pada jumlah pendarahan lebih banyak dan
dapat disertai gumpalan darah dan lamanya pendarahan lebih dari 8 hari. Terjadinya
hipermenorea berkaitan dengan kelainan pada rahim, yaitu mioma uteri, polipendomentrium,
dan gangguan perlepasan endomentrium.
Hipomenorea
Siklus menstruasi (haid) tetap tetapi lama pendarahan memendek kurang dari 3 hari.
Hipomenorea dapat disebabkan kesuburan endomentrium kurang karena keadaan gizi
penderita rendah, penyakit menahun, dan gangguan hormonal.
Polimenorea
Terdapat siklus menstruasi yang memendek dari biasanya yaitu kurang dari 21 hari,
sedangkan jumlah pendarahan relatif tetap. Polimenorea merupakan gangguan hormonal dengan
umur korpus luteum memendek, sehingga siklus menstruasi pun lebih pendek.



Oligomenorea
Siklus memanjang lebih dari 35 hari, sedangkan jumlah perdarahan tetap sama.
Oligomenorea disebabkan oleh gangguan hormonal. Bila oligomenorea berkelanjutan selama
3 bulan berturut-turut disebut amenorea.
Amenorea
Amenroea adalah keadaan tidak datangnya haid selama 3 bulanbeturut-turut. Terdapat 2
bentuk amenorea, yaitu:
1. Amenorea primer: Bila tidak datang bulan sejak bayi sampai mencapai umur 18
tahun atau lebih.
2. Amenorea sekunder: Pernah mendapat haid tapi berhenti berturut-turut selama 3
bulan
Penyebab amenorea cukup yang banyak berkaitan dengan:
1. Keadaan fisiologis
a. Sebelum menarche
b. Hamil dan laktasi amenorea
c. Menopause
2. Gangguan pada aksis hipotamus hipofisis - ovarium
3. Kelainan kongenital
4. Ganggun sistem hormonal
Metroragia
Metrorargia merupakan pendarahan yang terjadi di luar haid dengan penyebab kelainan
hormonal atau kelainan organ genitalia. Penyebab dari metroragi adalah
Perdarahan bukan haid
Perdarahan bukan haid digolongan sebagai perdarahan yang tidak ada hubunganya dengan
haid dan dapat disebabkan oleh kelainan organik maupun hormonal. Bentuk perdarahan
bukan haid dapat berupa kontak berdarah, spotting diluar haid, perdarahan disfungsional.
Penyebab organik pendarahan bukan haid :
1. Vagina : varises pecah, metastase-korio karsinoma, keganasan vagina.
2. Serviks : karsinoma portio,perlukaan serviks, polipserviks
3. Rahim : polip endomentrium, karsinoma korpusuteri, submukosa mioma uteri
4. Tuba falopii : karsinoma tuba, hamil ektopik tuba.
5. Ovarium : radang ovarium, tumor ovarium
Penyebab Pendarahan disfungsional adalah pendarahan tanpa di jumpai kelainan organik alat
genetalia, tapi gangguan matarantai hormon aksis hipotalamus-hipofisis dan ovarium.
Pendarahandisfungsional mempunyai 2 bentuk, yaitu perdarahan disfungsional dengan
ovulasi (ovutatior disfunctional bleeding) dan perdarahan disfugsional tanpa ovulasi
(anovutatior disfunctional bleeding)
Ketegangan pra-haid
Keluhan pre-menstruasi terjadi sekitar beberapa hari sebelum bahkan sampai saat menstruasi
berlangsung. Gejala ini di jumpai pada wanita umur 30-45 tahun. Penyebab yang jelas tidak
diketahui tetapi terdapat dugaan bahwa ketidak seimbangan hormon esterogen dan
progesteron. Dikemukakan bahwa dominasi estrogen merupakan penyebab dengan
defisiensi fase luteal dan kekurangan produksi progesterone. Akibat dominasi esterogen
terjadi retensi air dan garam, dan edema pada beberapa tempat. Gejala kliniknya dalam
bentuk:
Gangguan emosionl - mudah tersinggung
Sukar tidur, gelisah, sakit kepala
Perut kembung, mual, sampai muntah
Payudara terasa tegang dan sakit
Pada kasus yang lebih berat sering merasa tertekan
Mastodinia
Rasa tegang dan nyeri pada payudara menjelang haid disebut matodinia atau mastalgia.
Mastalgia di sebabkan dominasi hormone esterogen, sehingga terjadi retensi air dan garam
disertai hiperemia di daerah payudara. Segera setelah menstruasi, mastalgia akan hilang
dengan sendirinya.
Pendarahan ovulasi (mittelschmer)
Dengan kesibukannya wanita jarang merasakan terjadi rasa nyeri ketika ovulasi (pelepasan
ovum) yang dapat berlangsung beberapa jam atau beberapa hari pada pertengahan siklus
menstruasi di sebut mittelschmer. Mittelschmer penting di perhatikan agar dapat menasehati
mereka yang infertilitas agar mempergunakannya untuk kehamilan. Kadang-kadang
mittelschmer di ikuti oleh perdarahan yang berasal dari proses ovulasi dengan gejala klinis
seperti hamil ektopik yang pecah.

LO.4 Memahami dan Menjelaskan Perdarahan Uterus Disfungsional / Disfungsional
Uterine Bleeding
LI 4.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Perdarahan Uterus Disfungsional
Perdarahan Uterus Disfungsional (PUD) merupakan perdarahan dari uterus yang tidak
ada hubungannya dengan sebab organik, kelainan sistemik (seperti kelainan faktor
pembekuan darah) maupun kehamilan. PUD adalah perdarahan pada endometrium dari rahim
yang tidak didalam siklus haid dan semata akibat dari gangguan fungsi endokrin pada salah
satu bagian dari sumbu hipotalamus hipofisis ovarium.
Perdarahan uterus disfungsional (dysfunctional uterine bleeding/DUB) merupakan
diagnosis yang dibuat setelah diagnosis lainnya disingkirkan (diagnosis eksklusi).
Pemeriksaan abdomen dan pelvis serta kuretase uterus yang adekuat, histeroskopi atau
setidaknya biopsi endometrium sangat penting untuk menyingkirkan penyakit organik pada
uterus. Perdarahan uterus disfungsional paling sering terjadi pada awal dan akhir masa
menstruasi, tetapi dapat terjadi pada usia manapun. Manifestasi klinis dapat berupa
perdarahan akut dan banyak, perdarahan ireguler, menoragia dan perdarahan akibat
penggunaan kontrasepsi.
Berdasarkan gejala klinis perdarahan uterus disfungsional dibedakan dalam bentuk
akut dan kronis. Sedangkan secara kausal perdarahan uterus disfungsional mempunyai dasar
ovulatorik (10%) dan anovulatorik (70%).
Perdarahan uterus disfungsional akut umumnya dihubungkan dengan keadaan
anovulatorik, tetapi perdarahan uterus disfungsional kronis dapat terjadi pula pada siklus
anovulatorik. Walaupun ada ovulasi tetapi pada perdarahan uterus disfungsional anovulatorik
ditemukan umur korpus luteum yang memendek, memanjang atau insufisiensi. Pada
perdarahan uterus disfungsional anovulatorik, akibat tidak terbentuknya korpus luteum aktif
maka kadar progesteronnya rendah dan ini menjadi dasar bagi terjadinya perdarahan

LI 4.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Perdarahan Uterus Disfungsional
Perdarahan uterus disfungsional biasanya disebabkan oleh gangguan fungsi ovarium
primer atau sekunder yang disebabkan adanya kelainan pada salah satu tempat pada sistem
sumbu hipotalamus hipofisis ovarium dan jarang akibat dari gangguan fungsi korteks
ginjal dan kelenjar tiroid. Perdarahan uterus disfungsional umumnya merupakan keadaan
anovulator tetapi dapat juga terjadi pada keadaan ovulatoir bila ada defek pada fase folikular
atau fase luteal.
Penyebab Perdarahan Uterus Abnormal Berdasaran Kelompok Usia
Kelompok Usia Penyebab
Prapubertas Pubertas prekoks (kelainan hipotalamus, hipofisis,
atau ovarium)
Remaja Siklus Anovulatorik
Usia subur Penyulit Kehamilan (abortus, penyakit trofoblastik,
kehamilan ektopik)
Perimenopause Siklus anovulatorik, pelepasan irregular endometrium,
lesi organik
Pascamenopause Lesi organik, atrofi endometrium
Buku Ajar Patologi, Robins.2004
LI 4.3 Memahami dan Menjelaskan Patogenesis Perdarahan Uterus Disfungsional
o Anovulatorik
Kegagalan Ovulasi. Siklus anovulatorik sangat sering terjadi di kedua ujung usia
subur; pada setiap disfungsi sumbu hipotalamus-hipofiisis-ovumn adrenal, atau tiroid;
pada lesi ovarium fungsional yang menghasilkan esterogen berlebihan; pada
malnutrisi, obesitas, atau peyakit berat; pada stress fisik atau emosi berat. Pada
banyak kasus penyebab kegagalan ovulasi tidak diketahui, tetapi apapun sebabnya,
hal ini menyebabkan kelebihan estrogen relatif terhadap progesteron. Oleh karena itu,
endometrium mengalami fase proliferatif yang tidak diikuti oleh fase sekretorik yang
normal. Kelenjar endometrium mungkin mengalami perubahan kistik ringan atau di
tempat lain mungkin tampak kacau dengan stroma yang relatif sedikit, yang
memerlukan progesteron untuk mempertahankannya. Endometrium yang kurang
ditopang ini mengalami kolaps secara parsial, disertai ruptur arteri spiral dan
perdarahan.

o Ovulatorik
Fase luteal tidak adekuat. Korpus luteum mungkin gagal mengalami pematangan
secara normal atau mengalami rgresi secara prematur sehingga terjadi kekurangan
relatif progesteron. Endometrium dibawah kondisi ini mengalami perlambatan
terbentuknya pase sekretorik.
LI 4.4 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinik Perdarahan Uterus Disfungsional













LI 4.5 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis, Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Perdarahan
Uterus Disfungsional
Anamnesis
Pada pasien yang mengalami perdarahan uterus disfungsional, anamnesis perlu
dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding.
Riwayat detail menstruasi :
Jumlah hari mestruasi
Jumlah pembalut yang digunakan per hari
Dampak terhadap kehidupan sehari-hari
Riwayat pendarahan pada gusi, mudah memar, dan perdarahan yang panjang akibat
luka ringan
Gejala penambahan berat badan, konstipasi, rambut rontok, kelelahan
Galaktorea
Riwayat seksual dan penggunaan kontrasepsi
Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik pertama kali dilakukan untuk menilai stabilitas keadaan hemodinamik ,
selanjutnya dilakukan pemeriksaan untuk :
o Menilai
Indeks Massa Tubuh (IMT > 27 termasuk obesitas)
Keluhan dan Gejala Masalah
Nyeri Pelvik Abortus, Kehamilan ektopik
Mual, Peningkatan frekuensi berkemih Hamil
Peningkatan berat badan, fatigue, gangguan
toleransi terhadap dingin
Hipotiroid
Penurunan berat badan, banyak keringat,
palpitasi
Hipertiroid
Riwayat konsumsi antikoagulan
Gangguan pembekuan darah
Koagulopati
Riwayat hepatitis, ikterik Penyakit hati
Hirsustisme, acne, akantosis nigricans, obesitas Sindron Ovarium Polikistik
Pendarahan pasca coitus Displasia serviks, polip, endoserviks
Galaktorea, sakit kepala, gangguan lapang
pandang
Tumor hipofisis
Tanda-tanda Hiperandrogen
Pembesaran kelenjar thyroid atau manofestasi hiper atau hypothyroid
Galaktorea
Gangguan Lapang Pandang (karena adenoma hypofisis)
Faktor resiko keganasan (obesitas, hipertensi, DM, dll)
o Menyingkirkan
Kehamilan, kehamilan ektopik, abortus, penyakit trofoblas
Servisitis, endometritis
Polip dan mioma uteri
Keganasan serviks dan uterus
Hiperplasia endometrium
Gangguan pembekuan darah
Pemeriksaan Ginekologi
Pemeriksaan ginekologi yang teliti perlu dilakukan termasuk pemeriksaan pap smear, dan
harus disingkirkan adanya mioma uteri, polip, hiperplasia endometrium, atau keganasan.








Pemeriksaan
Penunjang
Primer Sekunder Tersier
Laboratorium -Hb
-Tes kehamilan
-urin
-Darah lengkap
hemostatis (BT-CT,
lainnya sesuai
fasilitas)
-Prolaktin
-Tiroid (TSH, FT4)
-Hemostasis (PT,
aPTT,dll)
USG -USG
transabdominal
-USG transvaginal
SIS
-USG
Transabdominal
-USG transvaginal
-SIS
-Doppler
Penilaian
Endometrium
-Mikrokuret
-D&K
-Mikrokuret/ D&K
-Histeroskopi
-Endometrial
sampling
Penilaian serviks
bila ada patologi
-IVA -Pap smear -Pap smear
-Kolposkopi




Langkah diagnostik PUD


LI 4.6 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Perdarahan Uterus Disfungsional
Terapi
Tujuan terapi
o mengontrol perdarahan
o mencegah perdarahan berulang
o mencegah komplikasi
o mengembalikan kekurangan zat besi dalam tubuh
o menjaga kesuburan.
Tatalaksana awal dari perdarahan akut adalah pemulihan kondisi hemodinamik dari
ibu. Pemberian estrogen dosis tinggi adalah tatalaksana yang sering dilakukan. Regimen
estrogen tersebut efektif di dalam menghentikan episode perdarahan. Bagaimanapun juga
penyebab perdarahan harus dicari dan dihentikan. Apabila pasien memiliki kontraindikasi
untuk terapi estrogen, maka penggunaan progesteron dianjurkan.
Untuk perdarahan disfungsional yang berlangsung dalam jangka waktu lama, terapi
yang diberikan tergantung dari status ovulasi pasien, usia, risiko kesehatan, dan pilihan
kontrasepsi. Kontrasepsi oral kombinasi dapat digunakan untuk terapinya. Pasien yang
menerima terapi hormonal sebaiknya dievaluasi 3 bulan setelah terapi diberikan, dan
kemudian 6 bulan untuk reevaluasi efek yang terjadi. Terapi operasi dapat disarankan
untuk kasus yang resisten terhadap terapi obat-obatan. Secara singkat langkah-langkah
tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Perbaikan Keadaan Umum
Pada perdarahan yang banyak sering ditemukan keadaan umum yang buruk. Pada
perdarahan uterus disfungsional akut, anemia (Hb <8 g/dL) yang terjadi harus segera
diatasi dengan transfusi darah. Pada perdarahan uterus disfungsional kronis keadaan
anemia ringan seringkali dapat diatasi dengan diberikan sediaan besi, sedangkan anemia
berat membutuhkan transfusi darah
2. Penghentian Pendarahan
Hormon Steroid Seks
o Estrogen
Dipakai pada perdarahan uterus disfungsional untuk menghentikan perdarahan
karena memiliki berbagai khasiat yaitu healing effect, pembentukan mukopolisakarida
pada dinding pembuluh darah, vasokonstriksi (karena merangsang prostaglandin),
meningkatkan pembentukan thrombin dan fibrin. Dosis pemberian estrogen pada
perdarahan uterus disfungsional adalah 25 mg IV setiap 4-6 jam untuk 24 jam diikuti
dengan oral terapi yaitu 1 tablet perhari selama 5-7 hari (untuk semua produk estrogen
dengan kandungan 35 mg ethynil estradiol).
o Progestin
Berbagai jenis progestin sintetik telah dilaporkan dapat menghentikan
perdarahan. Beberapa sedian tersebut antara lain noretisteron, MPA, megestrol asetat,
dihidrogesteron dan linestrenol. Noretisteron dapat menghentikan perdarahan setelah
24-48 jam dengan dosis 20-30 mg/hari, medroksiprogesteron asetat dengan dosis 10-
20 mg/hari selama 10 hari, megestrol asetat dengan didrogesteron dengan dosis 10-20
mg/hari selama 10 hari, serta linestrenol dengan dosis 15 mg/hari selama 10 hari.
o Androgen
Merupakan pilihan lain bagi penderita yang tak cocok dengan estrogen dan
progesteron. Sediaan yang dapat dipakai antara lain adalah isoksasol (danazol) dan
metil testosteron (danazol merupakan suatu turunan 17--etinil-testosteron). Dosis
yang diberikan adalah 200 mg/hari selama 12 minggu. Perlu diingat bahwa
pemakaian jangka panjang sediaan androgen akan berakibat maskulinisasi.
Penghambat sintesis prostaglandin.
Pada peristiwa perdarahan, prostaglandin penting peranannya pada vaskularisasi
endometrium. Dalam hal ini PgE
2
dan PgF
2
meningkat secara bermakna. Dengan dasar itu,
penghambat sintesis prostaglandin atau obat anti inflamasi non steroid telah dipakai untuk
pengobatan perdarahan uterus disfungsional, terutama perdarahan uterus disfungsional
anovulatorik. Untuk itu asam mefenamat dan naproksen seringkali dipakai dosis 3 x 500
mg/hari selama 3-5 hari atau ethamsylate 500 mg 4 kali sehari terbukti mampu mengurangi
perdarahan.
Antifibrinolitik
Sistem pembekuan darah juga ikut berperan secara lokal pada perdarahan uterus
disfungsional. Peran ini tampil melalui aktivitas fibrinolitik yang diakibatkan oleh kerja
enzimatik. Proses ini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan dasar untuk mengatasi
penumpukan fibrin. Unsur utama pada system fibrinolitik itu adalah plasminogen, yang bila
diaktifkan akan mengeluarkan protease plasmin. Enzim tersebut akan menghambat aktivasi
palsminogen menjadi plasmin, sehingga proses fibrinolisis akhirnya akan terhambat pula.
Sediaan yang ada untuk keperluan ini adalah asam amino kaproat (dosis yang diberikan
adalah 4 x 1-1,5 gr/hari selama 4-7 hari)
Operatif
Jenis pengobatan ini mencakup: dilatasi dan kuretase, ablasi laser dan histerektomi.
Dilatasi dan kuretase merupakan tahap yang ringan dari jenis pengobatan operatif pada
perdarahan uterus disfungsional. Tujuan pokok dari kuretase pada perdarahan uterus
disfungsional adalah untuk diagnostik, terutama pada umur diatas 35 tahun atau
perimenopause. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya frekuensi keganasan pada usia
tersebut. Tindakan ini dapat menghentikan perdarahan karena menghilangkan daerah nekrotik
pada endometrium. Ternyata dengan cara tersebut perdarahan akut berhasil dihentikan pada
40-60% kasus. Namun demikian tindakan kuretase pada perdarahan uterus disfungsional
masih diperdebatkan, karena yang diselesaikan hanyalah masalah pada organ sasaran tanpa
menghilangkan kausa. Oleh karena itu kemungkinan kambuhnya cukup tinggi (30-40%)
sehingga acapkali diperlukan kuretase berulang. Beberapa ahli bahkan tidak menganjurkan
kuretase sebagai pilihan utama untuk menghentikan perdarahan pada perdarahan uterus
disfungsional, kecuali jika pengobatan hormonal gagal menghentikan perdarahan.
Pada ablasi endometrium dengan laser ketiga lapisan endometrium diablasikan dengan
cara vaporasi neodymium YAG laser. Endometrium akan hilang permanen, sehingga
penderita akan mengalami henti haid yang permanen pula. Cara ini dipilih untuk penderita
yang punya kontraindikasi pembedahan dan tampak cukup efektif sebagai pilihan lain dari
histerektomi, tetapi bukan sebagai pengganti histerektomi
Tindakan histerektomi pada penderita perdarahan uterus disfungsional harus
memperhatikan usia dan paritas penderita. Pada penderita muda tindakan ini merupakan
pilihan terakhir. Sebaliknya pada penderita perimenopause atau menopause, histerektomi
harus dipertimbangkan bagi semua kasus perdarahan yang menetap atau berulang. Selain itu
histerektomi juga dilakukan untuk perdarahan uterus disfungsional dengan gambaran
histologis endometrium hiperplasia atipik dan kegagalan pengobatan hormonal maupun
dilatasi dan kuretase. Histerektomi mempunyai tingkat mortalitas 6/ 10.000 operasi. Satu
penelitian menemukan bahwa histerektomi berhubungan dengan tingkat morbiditas dan
membutuhkan waktu penyembuhan yang lebih lama dibanding ablasi endometrium. Beberapa
studi sebelumnya menemukan bahwa fungsi seksual meningkat setelah histerektomi dimana
terdapat peningkatan aktifitas seksual. Histerektomi merupakan metode popular untuk
mengatasi perdarahan uterus disfungsional, terutama di negara-negara industri
3. Mengembalikan keseimbangan fungsi hormon reproduksi
Usaha ini meliputi pengembalian siklus haid abnormal menjadi normal, pengubahan siklus
anovulatorik menjadi ovulatorik atau perbaikan suasana sehingga terpenuhi persyaratan untuk
pemicuan ovulasi.
o Siklus ovulatorik
Perdarahan uterus disfungsional ovulatorik secara klinis tampil sebagai polimenorea,
oligomenorea, menoragia dan perdarahan pertengahan siklus, perdarahan bercak prahaid atau
pasca haid. Perdarahan pertengahan siklus diatasi dengan estrogen konjugasi 0,625-1,25
mg/hari atau etinilestradiol 50 mikrogram/ hari dari hari ke 10 hingga hari ke 15. Perdarahan
bercak prahaid diobati dengan progesteron (medroksi progestron asetat atau didrogestron)
dengan dosis 10 mg/hari dari hari ke 17 hingga hari ke 26. Beberapa penulis menggunakan
progesteron dan estrogen pada polimenorea dan menoragia dengan dosis yang sesuai dengan
kontrasepsi oral, mulai hari ke 5 hingga hari ke 25 siklus haid.8
o Siklus anovulatorik
Perdarahan uterus disfungsional anovulatorik mempunyai dasar kelainan kekurangan
progesteron. Oleh karena itu pengobatan untuk mengembalikan fungsi hormon reproduksi
dilakukan dengan pemberian progesteron, seperti medroksi progesterone asetat dengan dosis
10-20 mg/hari mulai hari ke 16-25 siklus haid. Dapat pula digunakan didrogesteron dengan
dosis 10-20 mg/hari dari hari 16-25 siklus haid, linestrenol dengan dosis 5-15 mg/hari selama
10 hari mulai hari hari ke 16-25 siklus haid. Pengobatan hormonal ini diberikan untuk 3
siklus haid. Jika gagal setelah pemberian 3 siklus dan ovulasi tetap tak terjadi, dilakukan
pemicuan ovulasi. Pada penderita yang tidak menginginkan anak keadaan ini diatur dengan
penambahan estrogen dosis 0,625-1,25 mg/hari atau kontrasepsi oral selama 10 hari, dari hari
ke 5 sampai hari ke 25.8
Penanganan terapi berdasarkan usia
PUD pada Usia Perimenarche
Pada usia perimenarche (rata-rata 11 tahun ) hingga memasuki usia reproduksi , berlangsung
sampai 3- 5 tahun setelah menarche dan ditandai dengan siklus yang tidak teratur baik lama
maupun jumlah darahnya.
Pada keadaan yang tidak akut dapat diberikan antiprostaglandin, antiinflamasi
nonsteroid (NSAID), atau asam traneksamat. Pemberian tablet estrogen progesteron
kombinasi, atau tablet progesterone saja maupun analog GnRH (agonis atau
antagonis) hanya bila tidak ada perbaikan.
Pada keadaan akut, dimana Hb sampai <8 gr%, maka pasien harus :
o Dirawat dan diberikan transfusi darah.
o Untuk mengurangi perdarahan diberikan sediaan :
Estrogen- progesterone kombinasi, misalnya 17 estradiol 2x2 mg, atau
Estrogen equin konjugasi 2x1.25 mg, atau
Estropipete 1x 1,25 mg dikombinasikan dengan noretisteron asetat 2x5 mg
;atau
Medroksiprogesteron asetat (MPA) 2x10 mg, atau juga dapat diberikan
normegestrol asetat 2x5 mg dan cukup diberikan selama 3 hari

Bila perdarahan akut telah berkurang atau selesai , lakukan pengaturan siklus, dengan
pemberian tablet progesterone pada hari 16-25 selama 3 bulan. MPA atau didrogesterone
(10mg/ hari) sedangnkan noretisterone 5mg/ hari.
PUD pada Usia Reproduksi
Pada usia ini dapat terjadi siklus yang berovulasi (65%) dan terdapat siklus yang tidak
berovulasi. Pada keadaan akut penanganan sama seperti PUD pada usia perimenarche .
Pada PUD dengan siklus yang berovulasi umumnya lebih ringan dan jarang hingga
akut. PUD yang terjadi paling sering berupa perdarahan bercak (spotting) pada
pertengahan siklus. Pengobatan dapat diberikan berupa :
o 17- estradiol 1x2 mg, atau estrogen equin konjugasi 1x1,25 mg, atau
estropipete 1x1,25 mg, dari hari ke 10-15 siklus haid
o Pada perdarahan bercak prahaid dapat diberikan MPA 1x10 mg, atau
didrogesteron 1x10 mg, atau Noretisteron asetat 1x5 mg; atau juga
Normegestrol asetat 1x5 mg yang diberikan mulai hari 16-25 siklus.
o Pada perdarahban bercak pascahaid dapat diberikan 17- estradiol 1x 2mg,
atau estrogen equin konjugasi 1x 1,25 mg, atau estropipete 1x 1,25 mg yang
diberikan mulai hari 2- 8 siklus haid.
PUD pada usia perimenopause
Perimenopause atau usia antara masa pramenopause dan pascamenopause, yaitu
sekitar menopause (usia 40-50 tahun). PUD ini hampir 95% terjadi siklus yang tidak
berovulasi (folikel persisten). Sehingga setiap perdarahan atau gangguan haid yang terjadi
pada usia perimenopause harus dipikirkan adanaya keganasan pada endometrium.
Pada keadaan tidak akut pasien dipersiapkan untuk dilakukan tindakan D & C
(Dilatasi dan kuretase). Perubahan pada endometrium juga dapat dilihat dengan USG. Bila
ditemukan ketebalan endometrium lebih dari 5 mm berarti telah terjadi hiperplasia
endometrium.
Jika hasil pemeriksaan patologi anatomi menggambarkan suatu hiperplasia kistikm
atau hiperplasia adenomatosa, maka pertama kali dapat dicoba pemberian progesteron seperti
MPA dengan dosis 3x10 mg / hari selama 6 bulan, atau dapat juga diberikan depo
medroksiprogesterone asetat (DPMA)
Bila ketebalan endometrium kurang dari 6 mm dapat langsung diberikan kombinasi
estrogen- progesteron, seperti estrogen equin konyugasi 1x0,3 mg , atau 17- estradiol 1x2
mg + MPA 1x10 mg yang dibekian secara berkelanjutan selama 6 bulan. Bila tidak ada
perbaikan, maka perlu dilakukan tindakan D&C . dan pengobatan selanjutnya bergantung
pada hasil patologi anatomi yang diperoleh. Namun pasien dengan faktor risiko kanker
endometrium seperti kegemukan, DM, dan hipertensi sebaiknya tetap dilakukak D&C ,
meskipun ketebalan endometrium <5 mm.

Berdasarkan banyaknya perdarahan
Jika Perdarahan Uterus Disfungsional telah ditegakkan dan perdarahannya tidak banyak serta
tidak terdapat diskrasia perdarahan, dapat dilakukan observasi tanpa melakukan intervensi
terlebih dahulu.
Apabila pasien mengalami perdarahan sedang , pasien dapat diberikan :
o Kontrasepsi Oral Estrogen dosis tinggi selama 3 minggu atau
o Regimen 3-4 pil kontrasepsi oral dosis rendah per hari selama 1 minggu
kemudian diikuti dengan penurunan ke dosis lazim sampai 3 minggu.
Apabila pasien mengalami perdarahan berat :
o Pasien perlu dirawat di rumah sakit, tirah baring.
o Diberikan suntikan estradiol valerate (10mg) dan hydroxyprogesterone
caproate (500 mg) intramuskular ; atau
o Conjugated estrogens (25 mg) intravena atau intramuskular.
o Berikan preparat besi untuk mencegah anemia
Untuk mencegah kekambuhan perlu diberikan kontrasepsi oral siklik selama 2-3
bulan atau dapat dilakukan induksi mentruasi setiap 2-3 bulan dengan 10 mg
hydroxyprogesterone acetate oral, 1-2 kali per hari selama 10 hari .
Jika pemberian terapi hormon gagal mengontrol perdarahan uterus, perlu dilakukan
evaluasi dan pemeriksaan biopsi endometrium, histeroskopi, atau dilatasi dan kuretase untuk
diagnosis lebih lanjut dan terapi.

LI 4.7 Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Perdarahan Uterus Disfungsional
Perdarahan uterus disfungsional yang lama dan berat dapat menyebabkan anemia
defisiensi besi pada 30% individu. Ketidakseimbangan hormonal yang berkelanjutan yang
mungkin menghambat ovulasi dapat menyebabkan infertilitas. Pada 1-2% individu dengan
ketidakseimbangan estrogen dan progesteron yang kronik, akan meningkatkan resiko
terjadinya kanker endometrium



LI 4.8 Memahami dan Menjelaskan Prognosis Perdarahan Uterus Disfungsional
Pada dasarnya keseimbangan hormonal akan dicapai dengan pengobatan yang tepat.
Meskipun terapi medikal digunakan pertama kali, lebih dari setengah wanita dengan
menoragia akan melakukan histerektomi dalam waktu 5 tahun di ginekologist. Beberapa
pasien yang menggunakan kontrasepsi transvaginal sebagai manajemen perdarahan uterus
disfungsional dapat mengalami 89-95% perbaikan. Jika kehamilan diinginkan, infertilitas
dapat diatasi dengan obat fertilitas. Sebaliknya, bila kehamilan tidak diinginkan dan
penatalaksanaan konserfatif tidak efektif, ablasi endometrial dapat mengurangi perdarahan
uterus yang berlebihan sampai 88%. Ablasi endometrial efektif untuk jangka pendek, dan 48
bulan setelah ablasi ,29% individu memerlukan prosedur lain.
LO.5 Memahami dan Menjelaskan Batasan-Batasan Beribadah Dalam Keadaan Suci
dan Tidak suci
DARAH WANITA
Haid : Keluar dalam keadaan sehat,
Nifas: Keluar setelah melahirkan
Istihadlah : Keluar tidak pada hari haid dan nifas; dalam keadaan sakit (darah
penyakit).
Akibat Hukum Datangnya Haid
o Seorang wanita dianggap telah balig, menjadi mukallaf, dianggap telah cukup cakap
bertindak hukum.
o Pertanda wanita tersebut tidak hamil,
o Dijadikan sebagai batas penghitungan masa iddah bagi wanita subur.
o Menjadikannya wajib mandi saat haidnya berhenti.
o Haram melakukan hubungan badan pada masa tersebut. Ulama berbeda pendapat
tentang saksi (kaffarat) yang melanggarnya (wajib dan tidak wajib).
Datang atau Berhentinya Haid Saat Waktu Shalat atau Puasa
Jika haid datang pada waktu shalat dan dia belum shalat, dia berhutang shalat.
Jika berhenti haid, maka harus segera mandi dan shalat, jika tidak, maka termasuk
mengabaikan shalat.

DALAM KEADAAN HAID DAN NIFAS DIPERBOLEHKAN
1. Berdzikir, berdoa, dll.
2. Membaca Al-Quran dan memegang mushaf Al Quran (Khilafiah).
3. Bermesraan dengan suami, sepanjang tidak coitus.
4. Melakukan berbagai aktivitas yang baik, selain yang terlarang atas wanita yang dalam
keadaan haid /nifas
ISTIHADHAH
Darah yang mengalir dari kemaluan wanita bukan pada waktunya dan keluarnya dari
urat. (An-Nawawi).
Darah segar yang di luar kebiasaan seorang wanita disebabkan urat yang terputus (Al-
Qurthubi).
Darah yang terus menerus keluar dari seorang wanita dan tidak terputus selamanya
atau terputus sehari dua hari dalam sebulan (Al-Utsaimin)
Tidak wajib, hanya mesti wudhu (Jumhur ulama).
Mandi setiap shalat = sunnah (Empat Imam Mazhab)
Perbedaan antara Darah Istihadlah dengan Darah Haid
Warna
o Haid umumnya hitam, sedangkan Istihadlah umumnya merah segar.
Kelunakan dan Kerasnya
o Haid sifatnya keras dan Istihadlah lunak.
Kekentalan
o Haid kental sedangkan Istihadlah sebaliknya.
Aroma
o Haid beraroma tidak sedap atau busuk.
Batasan Shalat bagi penderita Istihadhah
Dalam Batasan Umum:
Salat wajib dikerjakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan syarak, namun
dalam keadaan khusus, seperti tidak adanya kemampuan karena sakit dan lainnya, misalnya,
tidak mampu ditunaikan dengan berdiri, boleh dilakukan dengan berdiri sambil bersandar,
dan seterusnya sesuai dengan kadar kemampuannya.
Penggunaan Obat utk Mencegah Haid
o Niat, untuk kesempurnaan ibadah haji = mubah.
o Niat, puasa Ramadhan sebulan penuh = makruh, tetapi bagi wanita yang sulit
mengqadhanya pada hari lain = mubah.
o Selain dua alasan di atas, hukumnya tergantung pada niatnya. Bila untuk perbuatan
yang menjurus pada pelanggaran hukum agama = Haram.
FATWA MUI TENTANG PENGGUNAAN PIL PENUNDA HAID
Penggunaan pil anti haid untuk kesempurnaan ibadah haji hukumnya mubah.
Pengunaan pil anti haid dengan maksud agar dapat mencukupi puasa Ramadhan
sebulan penuh, hukumnya makruh, tetapi bagi wanita yang sukar mengqadha
puasanya pada hari lain, hukumnya mubah.
Penggunaan pil anti haid selain dua hal di atas, hukumnya tergantung pada niatnya.
Bila untuk perbuatan yang menjurus pada pelanggaran hukum agama, hukumnya
haram














DAFTAR PUSTAKA
Eroschenko, V.P. 2008. Atlas Histologi Difiore. Ed. 11. EGC: Jakarta
Guyton, A.C. 1976. Textbook of Medical Physiology. WB Saunders Company: Philadelphia.
London
Hopkins, Michael P, dkk. 2006. Abnormal Uterine Bleeding. In Glass Office Gynecology.
6th edition. Lippincott Williams & Wilkins Company
Sherwood, L., 2001. Fisiologi Manusia: dari sel ke system. Ed 2. EGC: Jakarta
Sofwan, Achmad. 2012. Sistem Reproduksi. Jakarta: Bagian Anatomi Universitas YARSI
Jakarta.
Novak ER, Jones GS, Jones HW. Abnormal Uterine Bleeding. In: Novaks Texbook of
Gynecology 14th edition. Baltimore: The Williams & Wilkins Company; 2007.
Price and Willson. 2005. Patofisiologi. 6th . Jakarta: EGC.
Zuhroni. 2010. Pandangan Islam Terhadap Masalah Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta:
Bagian Agama Universitas YARSI Jakarta.
John M Goldenring (2007-02-01). "All About Menstruation". WebMD.
http://www.webmd.com/a-to-z-guides/all-about-menstruation. Retrieved on 2009-10-05
Speroff, MD and Marc A Fritz, MD: (2004) Clinical Gynecologic Endocrinology and
Fertility, 7
th
ed. Baltimore, Williams & Wilkins, 2004