Anda di halaman 1dari 3

PERANKU BAGI INDONESIA :

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM MEMBACA



Latar Belakang
Di era globalisasi ini kemampuan berpikir kritis sangatlah krusial dalam kehidupan
sehari-hari, terutama untuk para siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang akan melanjutkan
pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Salah satu kompetensi yang harus diasah adalah
membaca karena siswa dituntut untuk terampil dalam mencari informasi dari berbagai sumber
dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Ketika mereka kuliah pun, mereka diharuskan
membaca textbooks dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu lah perbaikan dalam pengajaran
kompentensi membaca terutama dalam pelajaran bahasa Inggris adalah salah satu cara yang
efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis para siswa.
Pada tahun 2006 berdasarkan studi lima tahunan bertajuk Progress in International
Reading Literacy Study (PIRLS) yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), Indonesia
menempati posisi 36 dari 40 negara. dan masih pada tahun yang sama, berdasarkan data Badan
Pusat Statistik menunjukan bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca
sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi
(85,9%), mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%).
Enam tahun pun telah berlalu, Programmme for International Student Assessment (PISA)
di bawah Organization Economic Cooperation and Development (OECD) pada tahun 2012 lalu
mengeluarkan survei bahwa Indonesia menduduki peringkat paling bawah dari 65 negara, dalam
pemetaan kemampuan matematika, membaca dan sains. Survey yang diadakan oleh dua
organisasi yang berbeda pun menyiratkan tidak ada perubahan yang signifikan pada kemampuan
generasi muda Indonesia terutama dalam hal membaca. Dari 65 negara yang ikut dalam survei,
Indonesia yang selama ini menduduki peringkat paling bawah. Survei PISA-OECD ini dilakukan
secara kualitatif pada tahun 2012 lalu yang baru dirilis awal pekan Desember 2013. Survei ini
melibatkan responden 510 ribu pelajar berusia 15-16 tahun dari 65 negara dunia yang mewakili
populasi 28 juta siswa berusia 15-16 tahun di dunia serta 80 persen ekonomi global.
Selama tujuh tahun penulis mengajar bahasa Inggris di SMA, penulis pun melihat hal
yang sama pada siswa-siswa yang ia ajar. Mereka kurang suka membaca terutama teks yang
panjang dan rumit. Hal dikarenakan tidak terbiasa membaca sejak dini Oleh karena itulah
diperlukan terobosan untuk mengatasi permasalahan tersebut diantaranya menanamkan metode
berpikir kritis dalam membaca sehingga mereka bisa lebih jeli dalam menganalisa apa yang
tersurat dan tersirat dalam suatu bacaan.
Bermodalkan hal itu lah penulis sebagai guru bahasa Inggris di Cimahi merasa perlu untuk
mengikuti program Doctor of Education ini untuk bisa melihat dari dekat pengajaran berpikir
kritis para siswa diluar negri untuk dijadikan bahan perbandingan dengan pendidikan di
Indonesia. Hal ini tentu saja akan sangat bermanfaat bagi para guru dan terutama siswa siswi di
tanah air.
Konsep dan Usulan
Setelah penulis menempuh pendidikan Doktor bidang Pendidikan di University of Exeter,
Penulis akan mengusulkan sebuah rancangan metode pengajaran untuk kompentensi membaca
dalam pelajaran bahasa Inggris. Kemampuan serta pengalaman penelitian terhadap cara berpikir
kritis akan meningkatkan wawasan serta pengetahuan terkait bidang tersebut. Hal ini bertujuan
untuk menjawab permasalahan pendidikan khususnya untuk meningkatkan minat baca dan
kemampuan berpikir kritis dalam kompetensi membaca siswa.
Usulan yang akan penulis rancang meliputi sebagai berikut:
Pada ruang lingkup kecil yaitu di sekolah tempat mengajar yaitu SMAN 2
Cimahi, penulis ingin menerapkan metode berpikir kritis ini terhadap semua mata pelajaran
sehingga siswa-siswi SMAN 2 Cimahi memliki kemampuan berpikir kritis sebagai bekal mereka
untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Pada ruang lingkup kota Cimahi, penulis ingin
mendirikan sebuah pusat belajar untuk mengadakan pelatihan berpikir kritis bagi guru terutama
guru bahasa Inggris melalui MGMP bahasa Inggris tingkat kota. Rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan melalui MGMP adalah berupa In House Training ( IHT ) atau program lain yang
telah diperoleh di luar negeri untuk diujicobakan di tempat kerjanya masing masing. Hal ini
merupakan tanggungjawab moral dan professional bagi guru yang telah mengikuti pelatihan di
luar negeri. Selain mampu mengembangkan potensi dirinya juga diharapkan mampu
memberikan pengalaman yang amat berharga kepada guru lain.. Dimana para guru akan dilatih
untuk mengajarkan siswa cara berpikir kritis melalui kompetensi membaca di sekolah mereka
masing-masing. Disamping itu pusat belajar ini juga membuka pintu untuk para siswa yang ingin
mengetahui lebih dalam cara membaca kritis. Diharapkan dengan adanya pusat belajar yang
berfokus pada kemampuan berpikir kritis ini bisa membantu generasi muda Indonesia khususnya
di kota Cimahi untuk menjadi para pemikir kritis untuk meningkatkan kemampuan menganalisa
baik itu permasalahan maupun situasi yang dihadapi.

Anda mungkin juga menyukai