Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

BAB II PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI...................................................................................................
2.2 EPIDEMIOLOGI.......................................................................................
2.3 ETIOLOGI.................................................................................................
2.4 GEJALA KLINIS.......................................................................................
2.5 DIAGNOSIS...............................................................................................
BAB III KESIMPULAN...................................................................................
Daftar Pustaka.....................................................................................................




























GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF
Gangguan obsesif kompulsif adalah suatu contoh dari efek positif dimana penelitian
modern telah menemukan gangguan di dalam waktu singkat. Suatu obsesi adalah pikiran,
perasaan, idea atau sensasi yang mengganggu (intrusive). Suatu kompulsif adalah pikiran
atau perilaku yang disadari, dibakukan, dan rekuren, seperti menghitung, memeriksa atau
menghindari. Obsesi meningkatkan kecemasan seseorang, sedangkan melakukan kompulsi
menurunkan kecemasan seseorang. Tetapi jika seseorang memaksa melakukan suatu
kompulsi, kecemasan adalah meningkat. Seorang dengan gangguan obsesif kompulsif
biasanya menyadari irasionalitas dari obsesi dan merasakan bahwa obsesi dan kompulsi
sebagai ego-distonik. Gangguan obsesif kompulsif dapat merupakan gangguan
yang menyebabkan ketidakberdayaan, karena obsesi dapat menghabiskan waktu dan dapat
mengganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, aktivitas
social yang biasanya, atau hubungan dengan teman dan anggota keluarga.
1

Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum diperkirakan
adalah 2 sampai 3 persen. Beberapa peneliti telah memperkirakan bahwa gangguan obsesif
kompulsif ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat jalan di klinik psikiatri. Angka
tersebut menyebabkan gangguan obsesif kompulsif sebagai diagnosis psikiatri tersering yang
keempat setelah fobia, gangguan berhubungan zat, dan gangguan depresi berat.Untuk orang
dewasa laki-laki dan wanita sama mungkin terkena, tetapi untuk remaja laki-
laki lebih sering terkena gangguan obsesif kompulsif dibandingkan perempuan. Usia onset
rata -rata adalah umur 20 tahun, walaupun laki-laki memiliki onset usia yang lebih awal
(sekitar 19 tahun) dibandingkan wanita (rata-rata 22 tahun). Secara keseluruhan kira-kira dua
per tiga dari pasien memiliki onset gejala sebelum usia 25 tahun, dan kurang dari 15 persen
pasien memiliki onset gejala setelah 35 tahun. Gangguan obsesif kompulsif dapat
memiliki onset pada masa remaja atau masa kanak-kanak, pada beberapa kasus.
dapat pada usia 2 tahun.
2
Orang yang hidup sendirian lebih banyak terkenagangguan obsesif
kompulsif dibandingkan orang yang menikah, walaupun temuan tersebut kemungkinan
mencerminka kesulitan yang dimiliki pasien dengan gangguan obsesif kompulsif dalam
mempertahankan suatu hubungan. Gangguan obsesif kompulsif ditemukan lebih jarang
diantara golongan kulit hitam dibandingkan kulit putih. Pasien dengan gangguan obsesif
kompulsif umumnya dipengaruhi oleh gangguan mental lain. Prevalensi seumur hidup untuk
gangguan obsesif kompulsif adalah kira-kira 67 persen dan untuk fobia sosial kira-kira 25
persen. Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada pasien dengan gangguan obsesif
kompulsif adalah gangguan penggunaan alkohol, fobia spesifik, gangguan panic dan
gangguan makan.
2

ETIOLOGI
1. Faktor biologis
Neurotransmiter
Banyak uji coba klinis yang telah dilakukan terhadap berbagai obat mendukung
hipotesis bahwa suatu disregulasi serotonin terlibat di dalam pembentukan gejala obsesi dan
kompulsi dari gangguan. Obat serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang
mempengaruhi sistem neurotransmitter lain. Serotonin terlibat di dalam penyebab gangguan
obsesif kompulsif adalah tidak jelas. Penelitian klinis telah mengukur konsentrasi
metabolit serotonin (5-hydroxyindoleaceticacid/ 5-HIAA) di dalam cairan serebrospinalis,
dan afinitas sertai jumlah tempat ikatan trombosit pada pemberian imipramine
(yang berikatan dengan tempat ambilan kembali serotonin) dan telah melaporkan berbagai
temuan pengukuran tersebut pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Beberapa
peneliti mengatakan bahwa system neurotransmitter kolinergik dan dopaminergik pada
pasien dengan gangguan obsesif kompulsif adalah dua bidang penelitian riset untuk masa
depan.
3
Penelitian pencitraan otak. Penelitian pencitraan otak fungsional (positron
emission tomoghrapy/PET) telah menemukan peningkatan aktivitas (metabolisme dan aliran
darah) di lobus frontalis, ganglia basalis (khususnya kauda) dan singulum pada pasien
dengan gangguan obsesif kompulsif. Terapi farmakologis dan perilaku telah dilaporkan
membalikkan kelainan tersebut. Baik CT maupun MRI telah menemukan adanya
penurunan ukuran kaudata secara bilateral pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif.
Prosedur neurologis yang melibatkan singulum kadang-kadang efektif dalam pengobatan
pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Suatu penelitian MRI baru - baru ini
melaporkan peningkatan waktu relaksasi T1 di korteks frontalis, suatu temuan yang
konsisten dengan lokasi kelainan yang ditemukan pada penelitian PET.
2,3

Genetika.
Penelitian kesesuaian pada anak kembar untuk gangguanobsesif kompulsif menemukan
adanya angka kesesuaian yang lebih tinggi secara bermakna pada kembar monozigot
dibandingkan kembar dizigot. Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif
kompulsif telah menemukan bahwa 35 persen sanak saudara derajat pertama pasien
gangguan obsesif kompulsif juga menderita gangguan.
3

Data biologis lainnya.
Penelitian elektrofisiologis, penelitian EEG tidur, dan penelitian neuroendokrin
telah menyumbang data yang menyatakan adanya kesamaan antara gangguan depresi
dengan gangguanobsesif kompulsif penelitian EEG tidur telah menemukan kelainan
yangmirip dengan yang terlihat pada gangguan depresif, seperti penurunan latensi REM
(rapid eye movement). Penelitian neuroendokrin seperti nonsupresi pada dexamethason-
supression test pada kira-kira sepertiga pasien dan penurunan sekresi hormone
pertumbuhan pada infus clonidine.
3,4

2. Faktor perilaku
Menurut ahli teori belajar, obsesi adalah stimuli yang dibiasakan. Stimulus yang
relative netral menjadi disertai dengan ketakutan atau kecemasan melalui proses
pembiasaan responden dengan memasangkannya dengan peristiwa yang secara alami adalah
berbahayadan menghasilkan kecemasan. Objek dan pikiran yang sebelumnya netral menjadi
stimuli yang terbiasakan yang mampu menimbulkan kecemasan atau gangguan
4.


Kompulsi dicapai dalam cara yang berbeda. Seseorang menemukan bahwa tindakan
tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pikiran obsesional. Jadi strategi
menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsi atau ritualistic dikembangkan untuk
mengendalikan kecemasan. Karena manfaat perilaku tersebut dalam menurunkandorongan
sekunder yang menyakitkan (kecemasan), stretegi menghindar menjadi terfiksasi sebagai
pola perilaku kompulsi yang dipelajari. Teori belajar memberikan konsep yang berguna
untuk menjelaskan aspek tertentu dari fenomena obsesif- kompulsif (sebagai contoh
kemampuan gagasan untuk menimbulkan kecemasan adalah tidak selalu menakutkan bagi
dirinya sendiri dan menegakkan pola perilaku kompulsif
4.

3. Faktor psikososial
Faktor kepribadian. Gangguan obsesif kompulsif adalah berbeda dari gangguan
kepribadian obsesif - kompulsif. Sebagian besar pasien gangguan obsesif kompulsif tidak
memiliki gejala kompulsif pramorbid. Dengan demikian sifat kepribadian tersebut tidak
diperlukan atau tidak cukup untuk perkembangan gangguan obsesif kompulsif. Hanya kira-
kira15-35 persen pasien gangguan obsesif kompulsif memiliki sifat obsesional pramorbid.
5
Faktor psikodinamika. Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan
psikologis utama yang menentukan bentuk dan kualitas gejala dan sifat karakter obsesif
kompulsif; isolasi, meruntuhkan dan pembentukan reaksi.
Isolasi. Isolasi adalah mekanisme pertahanan yang melindungi seseorang dari afek
dan impuls yang mencetuskan kecemasan. Kondisi pada seseorang yang mangalami secara
sadar afek dan khayalan dari suatu gagasan yang mengandung emosi, terlepas apakah
ini berupa fantasi atau ingatan terhadap suatu peristiwa. Jika terjadi isolasi, afek dan impuls
yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari komponen ideasional dan dikeluarkan dari
kesadaran. Jika isolasi berhasil sepenuhnya, impuls dan afek yang terkait seluruhnya
terepresi, dan pasien secara sadar hanya menyadari gagasan yang tidak memiliki afek yang
berhubungan dengannya.
5,6,8
Meruntuhkan (undoing). Karena adanya ancaman terus - menerus bahwa impuls
mungkin dapat lolos dari mekanisme primer isolasi dan menjdi bebas, operasi pertahanan
sekunder adalah diperlukan untuk melawan impuls dan menenangkan kecemasan yang
mengancan keluar kekesadaran. Tindakan kompulsif menyumbangkan manifestasi
permukaan operasi defensif yang ditujukan untuk menurunkan kecemasan dan
mengendalikan impuls dasar yang belum diatasi secara memadai oleh isolasi. Operasi
pertahanan sekunder yang cukup penting adalah mekanisme meruntuhkan (undoing).
Seperti yang dinyatakan oleh katanya, meruntuhkan adalah suatu tindakan kompulsif yang
dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau meruntuhkan akibat yang secara irasional akan
dialami pasien akibat pikiran atau impuls obsesional yang menakutkan.
Pembentukan reaksi (reaction formation). Baik isolasi maupun meruntuhkan adalah
tindakan pertahanan yang terlibat erat dalam menghasilkan gejala klinis. Pembentukan
gejala menyebabkan pembentukan sifat karakter, bukannya gejala. Pembentukan reaksi
melibatkan pola perilaku yang bermanifestasi dan sikap yang secara sadar dialami yang jelas
berlawanan dengan impuls dasar.
5,8,9

Faktor psikodinamika lainnya. Pada teori psikoanalitik klasik, gangguan obsesif
kompulsif dinamakan neurosis obsesif kompulsif dan merupakan suatu regresi dari fase
perkembangan oedipal ke fase psikoseksual anal. Jika pasien dengan gangguan obsesif
kompulsif merasaterancam oleh kecemasan tentang pembalasan dendam atau kehilangan
objek cinta yang penting, mereka mundur dari posisi oedipal dan beregresike stadium
emosional yang sangat ambivalen yang berhubungan denganfase anal. Ambivalensi adalah
dihubungkan dengan menyelesaikan fusiyang halus antara dorongan seksual dan agresif yang
karakteristik dari faseoedipal. Adanya benci dan cinta secara bersama-sama kepada orang
yang sama menyebabkan pasien dilumpuhkan oleh keragu-raguan dan kebimbangan.
6

Suatu ciri yang melekat pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif adalah
derajat dimana mereka terpaku dengan agresi atau kebersihan, baik secara jelas dalam isi
gejala mereka atau dalam hubungan yang terletak dibelakangnya. dengan demikian,
psikogenesis gangguan obsesif kompulsif mungkin terletak pada gangguan dan
perkembangan pertumbuhan normal yang berhubungan dengan fase perkembangan anal-
sadistik.
9
Ambivalensi. Ambivalensi adalah akibat langsung dari perubahandalam
karakteristikkehidupan impuls. Hal ini adalah ciri yang penting pada anak normal selama fase
perkembangan anal-sadistik; yaitu anak merasakan cinta dan kebencian kepada suatu objek.
Konflik emosi yang berlawanan tersebut mungkin ditemukan pada pola perilaku melakukan-
tidak melakukan pada seorang pasien dan keragu - raguan yang melumpuhkan dalam
berhadapan dengan pilihan.
6,9

Pikiran magis. Pikiran magis adalah regresi yang mengungkapkan cara pikiran awal,
ketimbang impuls; yaitu fungsi ego dan juga fungsi id,dipengaruhi oleh regresi. Yang
melekat pada pikiran magis adalah pikiran kemahakuasaan. Orang merasa bahwa mereka
dapat menyebabkan peristiwa di dunia luar terjadi tanpa tindakan fisik yang
menyebabkannya, semata-mata hanya dengan berpikir tentang peristiwa tersebut. Perasaan
tersebut menyebabkan memiliki suatu pikiran agresif akan manakutkan bagi pasien gangguan
obsesif kompulsif.

DIAGNOSIS
Walaupun kriteria diagnosis untuk gangguan obsesif kompulsif di dalam
diagnostic and statistic manual of mental disorder edisi ketiga yang direvisi (DSM-III-R)
banyak yang dipertahankan di dalam edisi keempatnya (DSM-IV), telah dibuat modifikasi
penting di dalam definisi DSM-IV tentang obsesi dan kompulsi. DSM-IV memperkenalkan
pengamatan klinis bahwa pikiran (yaitu tindakan mental) dapat merupakan obsesi atau
kompulsi, tergantung pada apakah ia menyebabkan peningkatan kecemasan (obsesi) atau
menurunkan kecemasan (kompulsi). DSM-IV juga memperbaharui definisi obsesi untuk
menghindari istilah ego-distonik di dalam edisi ketiganya dan kata tanpa perasaan
(senseless) di dalam edisi ketiga yang direvisi, keduanya memiliki arti yang kurang jelas
dansulit untuk operasinalisasi.Kriteria diagnostic untuk gangguan obsesif kompulsif
10

A. Salah satu obsesi atau kompulsi:
10

1. Pikiran, impuls atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten yang dialami,
pada suatu saat selama gangguan, sebagai intrusive dan tidak sesuai, dan
menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas.
2. Pikiran, impuls atau bayangan-bayangan tidak semata-mata kekhawatiran yang
berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata.
3. Orang berusaha atau mengabaikan atau menekan pikiran, impuls atau bayangan-
bayangan tersebut untuk menetralkannya dengan pikiran atau tindakan lain.
4. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls atau bayangan-bayanganobsesional adalah
keluar dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dariluar seperti penyisipan pikiran).
B. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah menyadari bahwaobsesi atau
kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: ini tidak berlaku pada anak-anak.
C. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas; menghabiskan waktu; atau
secara bermakna mengganggu rutinitas normal orang, fungsi pekerjaan, atau aktivitas
atau hubungan social yang biasanya.
D. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas padanya
(misalnya preokupasi dengan makanan jika terdapat gangguan makan; menarik rambut
jika teradapat trikotilomania; permasalahan pada penampilan jika terdapat gangguan
dismorfik tubuh; preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan penggunaan zat;
preokupasi dengan menderita suatu penyakit serius jika terdapat hipokondriasis;
preokupasi dengan dorongan atau fantasi seksual jika tedapat parafilia; atau perenungan
bersalah jika terdapat gangguan depresif berat)
E. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan,
medikasi) atau kondisi medis umum. Sebutkan jika: dengan tilikan buruk: jika selama
sebagian besar waktu selama episode terakhir, orang tidak menyadari bahwa obsesi dan
kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan.

KRITERIA DIAGNOSTIK DSM V
10
Obsesif kompulsif disorder
A. Presence of obsessions, compulsions or both: obsessions are defines by (1) and (2):
1. Recurrent and persistent thoughts, urges or images that are experience at some time
during the disturbance, as intrusive and unwanted and that is most individuals cause
marked anxiety or distress.
2. The individual attempts to ignore or suppress such thoughts, urges, or images, or to
neutralize them with some other thought or action (i.e., by performing a compulsion).
Compulsions are define by (1) and (2):
1. Repetitive behaviours (e.g., hand washing, ordering, checking) or mental acts (e.g.,
praying, counting, repeating words silently) that the individual feels driven to perform
in respons to an onsession or according to rules that must be applied rigidly.
2. The behaviour or mental acts are aimed at preventing or reducing anxiety distress or
preventing some dreaded event or situation; however, these behaviours or mental acts
are not connected in a realistic way with that they are designed to neutralize or
prevent, or clearly excessive.
B. The obsessions or compulsions are time-consuming (e.g., take more than 1 hour per
day) or cause clinically significant disress or impairment in social, occupational, or
other important areas of functioning.
C. The obsessive compulsive symptoms are not attributable to the physiological affects
of a substance(e.g., a drug of abuse, a medication) or another medical condition.
D. The disturbance is not better explained by the symptoms of another mental disorder
(e.g., excessive worries, as in generalized anxiety disorder; preoccupation with
appearance, as in body dismorphic disorder; hair pulling, as in trichotillomania (hair
pulling disorder); skin picking as in excoriation (skin-picking) disorder; stereotypes as
in stereotypic movement disorder; ritualized eating behaviour as in eating disorder;
preoccupation with substance or gambling, as in substance related and additive
disorder; sexual urges or fantasies, as on paraphilic disorder; impulse as in disruptive,
impulse- control, and conduct disorder; guilty ruminations as in major depressive
disorder; thought insertion or delusional preoccupation, as in schizophrenia spectrum
and other psychotic disorder; or repetitive patterns of behaviour, as in autism
spectrum disorder)

300.3 (F42) Obsessive compulsive disorder
Specify if; with good ir fair insight; with poor insight; with absent insight/delusional
beliefs: tic- related.

BODY DYSMORPHIC DISMORPHIC
Diagnostic criteria:
A. Preoccupation with one or more perceived defects or flaws in physical appearance
that are not abservable or appear slight to other.
B. At some point during the course of the disorder, the individual has performed
repetitive behaviours (e.g., morror checking, excessive gromming, skin picking,
reassurance seeking) or mental acts (e.g., comparing his or her appearance with that of
other) in response to appearance concert.
C. The preoccupation causes clinically significant distress or impairment in social,
occupational, or other important areas of functioning.
D. The appearance preoccupation is not better explained by concerns with body fat or
weight in an individual whose symptoms meet diagnostic criteria for an eating
disorder.
300.7 (F45.22): Body Dysmorphic Disorder
Specify if: With muscle dysmorphia; With good fair insight; With poor insight; With
absent insight/ delusional beliefs.

HOARDING DISORDER
Diagnostic criteria:
A. Persistent difficulty discarding or parting with possession, regadless of their actual
value.
B. This difficulty is due to a perceived need to save the items and to distress associated
with discarding them.
C. This difficulty discarding possession results in the accumulation of possession that
congest and clutter active living area and substantiallycompromise the intend use. If
living areas are uncluttered is not only cause of the interventions of the third parties
(e.g., family members, cleaners, authorities)
D. The hoarding causes clinically significant distress or impairment in social,
occupational or other important areas of functioning (including maintaining a safe
environment for self and other)
E. The hoarding is not attributable to another medical condition condition (e.g., brain
injury, cerebrovascular disease, prader will syndrome)
F. The hoarding in not better explained by the symptoms of another mental disorder
(e.g., obsession in obsessive compulsive-compulsive disorder disorder, decreased
energy in major depressive disorder, cognitive deficits in majir neorocognitive
disorder, restrictive interest in autism spectrum disorder).
300.3 (F42) : Hoarding disorder
Specify if: with excessive acquisition; with good or fair insight; with poor insight; with
absent nsight/delusional beliefs
Manifestasi klinis
Gejala mungkin bertumpang tindih dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu.
Gangguan ini memiliki 4 pola gejala utama, yaitu obsesi terhadap kontaminasi, obsesi
keragu-raguan diikuti pengecekan yang kompulsi, pikiran obsesional yangmengganggu dan
kebutuhan terhadap simetrisitas atau ketepatan. Gejala-gejala obsesi harus mencakup hal-hal
berikut:
11,12
a) Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri
b) Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan,meskipun adalainnya
yang tidak lagidilawan oleh pasien
c) Pikiran untuk melakukan trindakan tersebut diatas bukan merupakan halyang member
kepuasan atau kesenangan
d) Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang
tidak menyenangkan.
Ada kaitan erat antara gejala obsesi, terutama pikiran obsesi, dengan depresi. Pasien dengan
obsesi kompulsi seringkali menunjukkan gejala depresi dan sebaliknya pasien gangguan
depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesi selama episode depresinya.
Gejala obsesi sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom touretteatau
gangguan mental organic, harus di anggap sebagai bagian dari kondisi tersebut.
13,14











Tabel 1. Klasifikasi Obsesi dan Kompulsi
11

Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Sebagian besar gejala muncul secara tiba-tiba, terutama setelah suatu peristiwayang
menyebabkan stress, seperti kehamilan, maslah seksual, atau kematian salahseorang sanak
saudara. Perjalanan penyakit biasanya lama dan bervariasi, beberapa berfluktuasi namunada
pula yang konstan. Prognosis buruk bila pasien mengarah pada kompulsi, berawal pada masa
anak-anak, kompulsi yang aneh, perlu perawatan dirumah sakit, gangguan depresi beratyang
menyertai, kepercayaan waham, adanya gagasan yang terlalu dipegang, danadanya gangguan
kepribadian.
8,9
Prognosis baik ditandai oleh penyesuaian social dan pekerjaan yang baik, adanya
peristiwa pencetus, dan sifat gejala episodik.

PENANGANAN
A. PsikoterapiPenanganan psikoterapi untuk gangguan Obsesif-kompulsif
umumnyadiberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Psikoterapi
suportif jelas memiliki bagiannya, khususnya untuk pasien gangguan bosesif
kompulsif yang,walaupun gejalanya memiliki berbagai derajat keparahan, adalah
mampu untuk bekerja dan membuat penyesuaian sosial.
9,10

Tujuan Psikoterapi Suportif adalah:
11

1. Menguatkan daya tahan mental yang ada
2. Mengembangkan mekanisme yang baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan
kontrol diri
3. Mengembalikan keseimbangan adaptif.
Cara- cara psikoterapi suportif antara lain sebagai berikut
3 .
1. Ventilasi atau (psiko) kataris.
2. Persuasi atau bujukan.
3. Sugesti.
4. Penjaminan kembali (reassurance0
5. Bimbingan dan penyuluhan.
6. Hipno-terapi dan narkoterapi.
7. Psikoterapi kelompok.
8. Terapi perilaku.
Ada beberapa faktor gangguan obsesif kompulsof sangat sulit untuk disembuhkan,
penderita gangguan obsesif kompulsif kesulitan mengidentifikasi kesalahan (penyuimpangan
perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai bentuk penyimpangan perilaku yang tidak
normal. Individu beranggapan bahwa ia normal-normal saja walaupun perilakunya itu
diketahui pasti sangat mengganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah dengan
perilakunya tapi bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik
saja. Faktor lain adalah kesalahan dalam penyampaian informasi mengenai kondisi yang di
alamai oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat dapat membuat individu merasa enggan
untuk mengikut terapi.
B. Psikofarmakologi

Obat-obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) bekerja terutama pada terminal
akson presinaptik dengan menghambat ambilan kembali serotonin. Penghambatan ambilan
kembali serotonin diakibatkan oleh ikatan obat (misalnya: fluoxetin) pada transporter ambilan
kembali yang spesifik, sehingga tidak ada lagi neurotransmitter serotonin yang dapat
berkaitan dengan transporter. Hal tersebut akanmenyebabkan serotonin bertahan lebih lama
di celah sinaps. Pengunaan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) terutama ditujukan
untuk memperbaiki perilaku stereotipik , perilaku melukai diri sendiri, resisten terhadap
perubahan hal-hal rutin,dan ritual obsesif dengan ansietas yang tinggi. Salah satu alasan
utama pemilihan obat-obat penghambat reuptake serotonin yang selektif adalah kemampuan
terapi. Efek samping yang dapat terjadi akibat pemberian fluexetine adalah nausea, disfunfsi
seksual, nyeri kepala, dan mulut kering. Toleransi SSRI yang relative baik disebabkan oleh
karena sifat selektivitasnya. Obat SSRI tidak banyak berinteraksi dengan reseptor
neurotransmitter lainnya. Penelitian awal dengan metode pengamatan kasus serial terhadap 8
subjek. Tindakan terapi ditujukan untuk mengatasi gejala-gejala disruptif,dan dimulai dengan
fluexetine dosis 10 mg/hari dengan pengamatan. Perbaikan palingnyata dijumpai pada
gangguan obsesif dan gejal cemas
13,14


Trisiklik (Tricyclics)
Obat jenis trisiklik berupa clomipramine (Anafranil). Trisiklik merupakan obat-obatan
lama dibandingkan SSRIs dan bekerja sama baiknya dengan SSRIs. Pemberian obat ini
dimulai dengan dosis rendah. Beberapa efek pemberian jenis obatini adalah peningkatan berat
badan, mulut kering, pusing dan perasaan mengantuk
13

Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs). Jenis obat ini adalah phenelzine (Nardil),
tranylcypromine (Parnate) danisocarboxazid (Marplan). Pemberian MAOIs harus diikuti
pantangan makanan yang berkeju atau anggur merah, penggunaan pil KB, obat penghilang
rasa sakit (seperti Advil, Motrin, Tylenol), obat alergi dan jenis suplemen. Kontradiksi dengan
MOAIs dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi
13


KESIMPULAN
Gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran seseorang
dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk
melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga menimbulkan stress dan mengganggu
fungsinya dalam kehidupan sehari-hari. Prevalensi penderita gangguan ini adalah sekitar 2-
3% dari populasi, dengan jumlah penderita perempuan lebih banyak daripada laki-laki.
Penyebab gangguan Obsesif-kompulsif antara lain dipengaruhi oleh aspek biologis,
psikologis, dan aspek sosial.
Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif, atau
kedua-duanya harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut.
Diagnosis gangguan Obsesif - kompulsif ditegakkan hanya bilatidak ada gangguan depresi
pada saat gejala Obsesif - kompulsif tersebut timbul. Bila dari keduanya tidak ada yang
menonjol, maka lebih baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada
gangguan menahun, maka prioritas diberikan pada gejalayang paling bertahan saat gejala
yang lain menghilang.
Gejala dari Obsesif - kompulsif ditandai dengan pengulangan pikiran dan tindakan
sedikitnya 4 kali untuk satu kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama1 sampai 2
minggu selanjutnya. Penanganan pasien dengan gangguan Obsesif-kompulsif dapat berupa
psikoterapi dan psikofarmakologi. Prognosis pasien gangguan Obsesif-kompulsif dapat baik
dan buruk. Prognosis buruk bila terjadi pada usia anak-anak, terdapat depresi berat serta
adanya kepercayaan waham. Sedangkan baik bila penyesuian sosial dan pekerjaan yang baik,
adanya peristiwa pencetus, dan suatu sifat gejala yang episodik.













DAFTAR PUSTAKA
1. Ko Soo Meng. Obsessive Compulsive Disorder. 2006. Available
from:www.med.nus.edu.sg/pcm/book/14.pdf.
2. Maramis WF. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: AirlanggaUniversity
Press.2009.h 312-313
3. Benjamin J, Virginia A. Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of Psychiatry.
Seventh Edition. Lippincott Williams & Wilkins Publishers.2000. p 2569-2580.
4. William M Greenberg.Obsessive Compulsive Disorder. [ updated 2011December 29;
cited 2012 July 29]. Available from :http://emedicine.medscape.com/article/1934139-
overview
5. Jerald Kay,Allan Tasman. Obsessive Compulsive Disorder.WileyEssentialOf
Psychiatry.British Library Cataloguing. 2006.
6. S. Wilhelm, G. S. Steketees.Cognitive Therapy for Obsessive Compulsive Disorder:
A Guide for Professionals 2006. Available from:www.newharbinger.com
7. D J Stein. Obsessive Compulsive Disorder. The Lancet. Vol 360. USA:Lancet
Publshing Group.2002. p 397-405.
8. Michael AJ. Obsessive Compulsive Disorder. The new england journal of medicine.
Inggris : Department of Psychiatry, Massa- chusetts GeneralHospital. 2004.
9. Sadock VA. Kaplan dan Sadock Synopsis Sciences/ Clinical. TenthEdition. New
York: Lippincott Williams dan Wilkins. 2007. p 604
10. Kaplan, Harold I MD,dkk. Gangguan Obsesif Kompulsif. Ilmupengetahuan perilaku
psikiatri klinis, Jilid 2, edisi Ketujuh, Hal 56-6811.
11. Saadi Y PSIKOLOGI ABNORMAL Obsesif Kompulsif. Madiun :Fakultas Ilmu
Pendidikan IKIP PGRI. 2010.
12. Novedica. Obsessive Compulsive Disorder. 2010.
Availablefrom:http://noel4.student.umm.ac.id/2010/09/23/obsessive-compulsive-
disorder-ocd/
13. Maslim Rusdi. Panduan Praktis Penggunaan Obat Psikotropik. EdisiKetiga. Jakarta:
PT Nuh Jaya ; 2000. P.47-51
14. Laurenc B, Keith P, Donald B, Iain B. Pharmacotherapy of Asthma. Goodman &
Gilmans Manual of Pharmacology and Therapeutics. UnitedStates of America : The
McGraw-Hills Company. 2008. p 286-295
15. Maslim Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dariPPDGJ-
III. Jakarta: PT Nuh Jaya;2001.p.76-77