Anda di halaman 1dari 8

A.

TUJUAN
Menentukan kadar konsentrasi kafein dalam sampel.

B. DASAR TEORI
Kafeina, yang mana di alam diperoleh dalam biji kopi dan daun teh dan
ditambahkan dalam beberapa minuman ringan merupakan zat yang paling banyak
digunakan sebagai stimulant sistem saraf pusat. Kafein merupakan keluarga xanthine.
Nama lain kafein adalah 1, 3, 7-trimetilxanthina. Rumus strukturnya adalah sebagai
berikut:
(Stoker, 2010).
Kafeina merupakan stimulant dari sistem saraf pusat. Dapat ditemukan di
dalam kopi, teh, minuman bersoda, cokelat, dan buah cokelat. Kafeina meningkatkan
kewaspadaan, tetapi dapat menimbulkan ketegangan dan insomnia. Kafeina juga
digunakan untuk mengurangi rasa nyeri tertentu yang disebabkan oleh antihistamin
(Timberlake, 2005).
Titrasi merupakan penambahan secara cermat volume suatu larutan yang
mengandung zat A yang konsentrasinya diketahui, kepada larutan kedua yang
mengandung zat B yang konsentrasinya tidak diketahui, yang akan mengakibatkan
reaksi antara keduanya secara kuantitatif. Selesainya reaksi yaitu pada titik akhir,
ditandai dengan semacam perubahan fisis, misalnya warna campuran yang bereaksi.
Titik akhir dapat dideteksi dalam campuran reaksi yang tidak berwarna dengan
menambahkan zat yang disebut indikator, yang mengubah warna pada titik akhir.
Titrasi memungkinkan kimiawan menentukan jumlah zat yang ada dalam sampel
(Oxtoby, 2001).
Analisis volumetrik adalah analisis yang dilakukan dengan pengukuran
volume yang akurat. Untuk mengukur volume secara akurat, harus digunakan
peralatan gelas volumetrik. Ada tiga jenis peralatan gelas volumetrik yang penting
untuk keberhasilan analisis volumetrik. Peralatan tersebut adalah labu ukur, pipet, dan
buret. Titrasi iodometri merupakan titrasi yang menggunakan iodin sebagai
oksidatornya (Cairns, 2004).

C. ALAT DAN BAHAN
1. Pipet tetes : untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit.


2. Beaker glass : untuk tempat larutan dan dapat digunakan untuk
memanaskan larutan.


3. Pipet gondok : untuk mengambil larutan dengan volume tertentu
dengan tepat.


4. Ball pipet : sebagai pelengkap pipet gondok untuk menyedot dan
mengeluarkan larutan.




5. Erlenmeyer : tempat larutan yang akan di titrasi.




6. Timbangan digital : untuk menimbang bahan dengan cepat dan tepat.




7. Corong : membantu saat menuang larutan kedalam wadah yang
mulutnya kecil.

8. Kertas saring : pelengkap corong untuk menyaring.



9. Labu ukur : sebagai tempat untuk mengencerkan larutan.





Bahan :
1. Serbuk kafein
2. Larutan Na
2
S
2
O
3

3. Larutan H
2
SO
4

4. Larutan iod
5. Larutan kanji
6. Alkohol
7. Aquadest

D. CARA KERJA
Menimbang serbuk kafein

Memasukkan serbuk ke dalam labu ukur 100 mL

Menambahkan 25 mL larutan alkohol netral dan diaduk selama 10 menit

Menambahkan 5 mL H
2
SO
4
10% dan 20 mL larutan iod 0,1 M dan diencerkan sampai batas

Mengocok labu ukur dan membiarkannya selama 10 menit lalu menyaringnya

Mengambil 10 mL larutan dan memasukannya ke dalam erlenmeyer 125 mL

Menambahkan sedikit larutan kanji

Melakukan titrasi dengan larutan Na
2
S
2
O
3
0,1 M hingga terjadi perubahan warna

Melakukan titrasi 3 kali





E. DATA PENGAMATAN
1. Kafein
Berat Sampel (gram) Vol Na
2
S
2
O
3
0,1 M (mL) Pengamatan
0,994 1,6 Sebelum ditambahkan
larutan kanji, larutan
berwarna cokelat. Setelah
ditambahkan larutan kanji,
larutan berwarna cokelat
dan terdapat endapan.
Setelah dititrasi dengan
Na
2
S
2
O
3
, larutan berwarna
bening.
0,998 2,5
0,995 1,4

2. Perhitungan
a. Berat kertas kosong : 0,404 gram
Berat kertas kosong+kafeina : 1,404 gram
Berat kertas kosong+sisa : 0,410 gram
Berat sampel yang digunakan : 0,994 gram
b. Berat kertas kosong : 0,412 gram
Berat kertas kosong+kafeina : 1,412 gram
Berat kertas kosong+sisa : 0,414 gram
Berat sampel yang digunakan : 0,998 gram
c. Berat kertas kosong : 0,410 gram
Berat kertas kosong+kafeina : 1,410 gram
Berat kertas kosong+sisa : 0,415 gram
Berat sampel yang digunakan : 0,995 gram

Kadar kafein =


x 100%
kadar sampel 1 =

x 100% = 9,273 %
kadar sampel 2 =

x 100% = 9,234 %
kadar sampel 3 =

x 100% = 9,263 %

Rata-rata kadar =

= 9,257%
% kesalahan =


x 100 %
=

x 100 %
= 62,972%

F. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini bertujuan untuk menentukan kadar konsentrasi kafein
dalam sampel. Kafein adalah alkaloid turunan dari purin yang memiliki nama lain
1,3,7 trimetil xanthina. Kafein merupakan senyawa alkaloid xanthina berbentuk
kristal, berasa pahit, dan berfungsi sebagai obat perangsang psikoaktif dan dierutik.
Untuk menentukan konsentrasi kafeina maka dilakukan titrasi. Titrasi yang digunakan
adalah titrasi redoks iodometri. Reaksi redoks merupakan analisis titrimetri yang
didasari reaksi redoks, pada titrasi ini sampel yang akan dianalisis dititrasi dengan
indikator yang bersifat sebagai oksidator dan reduktor. Titrasi iodometri merupakan
reaksi redoks degan menggunakan larutan iodium sebagai larutan standar (oksidasi).
Dalam percobaan ini yang pertama kali dilakukan adalah menimbang sampel
kafeina. Hasil penimbangan yang didapatkan praktikan yaitu sampel pertama 0,994
gram, kedua 0,998 gram dan yang terakhir 0,995 gram. Kemudian sampel
dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan alkohol 25 mL. Penambahan alkohol
bertujuan agar kafeina dapat larut dengan baik karena kafeina dan alkohol sama-sama
bersifat polar. Sehingga dapat saling melarutkan satu sama lain. Alkohol yang
digunakan adalah alkohol netral yang mengandung 96% alkohol dan 4% air. Namun
alkohol yang digunakan sudah tidak netral lagi, karena alkohol sudah berikatan
dengan oksigen yang ada di udara karena sering dibuka tutup.
Setelah itu mengaduknya selama 10 menit agar campurannya menjadi lebih
homogen. Lalu menambahkan 5 mL asam sulfat 10%, agar larutan berada dalam
suasana asam karena pada percobaan ini, etanol yang digunakan akan bekerja lebih
optimal dalam suasana asam. Kemudian menambahkan 20 mL larutan iod. Larutan
iod ini berfungsi untuk mengadisi ikatan rangkap yang terdapat pada kafein sehingga
memudahkan dalam perhitungan kadar. Lalu mengocok larutan agar homogen dan
mendiamkan selama 10 menit agar endapan yang terdapat pada larutan dapat
mengendap sehingga zat yang tidak diinginkan dapat terpisah dari larutannya.
Kemudian disaring untuk memisahkan larutan dari residunya yang mengandung zat-
zat yang tidak diperlukan dalam analisis. Lalu menambahkan sedikit larutan kanji
yang berfungsi sebagai indikator sehingga perubahan warna pada akhir titrasi akan
mudah diamati. Menggunakan larutan kanji karena adanya penambahan iodium pada
pereaksian untuk menentukan kadar kafeina yang sensitif pada indikator kanji.
Terakhir, melakukan titrasi dengan larutan Na
2
S
2
O
3
yang bertujuan untuk mereduksi
I
2
menjadi I
-
.
Titik ekivalen pada titrasi redoks tercapai saat jumlah ekivalen oksidator sama
dengan jumlah ekivalen reduktor. Sedangkan titik akhir titrasi merupakan ketika
larutan yang dititrasi menunjukkan perubahan warna. Yang diamati kali ini adalah
titik akhir titrasi. Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali agar mendapatkan hasil yang tepat
dan akurat.

G. KESIMPULAN
Kadar kafeina yang didapat dari 3 kali titrasi yaitu 9,257 %.
Kesalahan rata-ratanya yaitu 62,972 %.
Larutan kanji berfungsi sebagai indikator.

H. PUSTAKA
Cairns, Donald, 2004, Intisari Kimia Farmasi, 2
nd
edition, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta, pp. 123, 140.
Oxtoby, 2001, Prinsip-Prinsip Kimia Modern, Penerbit Erlangga, Jakarta, pp.161,
162.
Stoker, H.S., 2010, General, Organic, and Biological Chemistry, Cengage Learning,
Philadelphia, p. 526.
Timberlake, Karen C., 2005, Basic Chemistry, Benjamin Cummings, San Fransisco,
p. 632.






Makalah Praktikum Kimia Dasar
Percobaan VI: Analisis Kafein dalam Sampel



Disusun oleh:
1. Maria Indah Rosari (FSM A-128114037)
2. Januaritha Dara N. (FSM A-128114038)
3. Mila Karmila Sri S. (FSM A-128114039)
4. Novita (FSM A-128114040)
5. Ludwina Dearesthea O. (FSM A-128114041)






Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
2012