Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

GEOPHYSICAL WELL LOGGING


(Hydrogeologi dan Hydrothermal)

OLEH :

KELOMPOK


Mairia Ulfa Khatimmah 1204108010035
Muhammad Zaki Zulkifli 1204108010046
Ulfa Riani 1204108010062
Helsy Ulfa Handalia 1204108010064
Januardi Cokordaraka 1204108010086
Noor Misuary 1204108010094




Dosen Pembimbing : Dinni Agustina, ST,MT

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM
BANDA ACEH
2014


i

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur kami
panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah mengenai Geophysical Well Logging ini. Dalam
penyusunannya, kami memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu kami me-
nyelesaikan makalah ini. Meskipun kami berharap isi dari makalah ini bebas dari
kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih
baik. Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi pem-
baca.

Banda Aceh, 8 April 2012



penulis















ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1 Definisi Geophysical Well Logging 3
2.2 Metode Geophysical Well Logging 5
2.2.1 Metode Mekanis..........................................................................5
2.2.2 Metode Listrik.............................................................................7
2.2.3 Metode Radioaktif ...........................................................9
BAB III PENUTUP................................................................................................12
A. Kesimpulan 12
B. Saran 12
DAFTAR PUSTAKA










1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Air tanah merupakan salah satu sumber akan kebutuhan air bagi
kehidupan makhluk di muka bumi. Usaha memanfaatkan dan
mengembangkan air tanah telah dilakukan sejak jaman kuno. Dimulai
menggunakan timba yang ujungnya diikat pada bambu kemudian dilengkapi
dengan pemberat (sistem pegas), kemudian berkembang dengan
menggunakan teknologi canggih dengan cara mengebor sumur-sumur sampai
kedalaman 200 meter. Meningkatnya kebutuhan industri akan sumber energi
dan semakin berkurangnya cadangan minyak bumi yang tersedia, telah
mendorong perusahaan minyak dan gas untuk menemukan cadangan baru
ataupun mengelola sumur-sumur tua (brown pits) untuk menjaga kesetaraan
supply and demand. Well Logging (sumur bor) merupakan metode
pengukuran parameter-parameter fisika, dalam lubang bor, yang bervariasi
terhadap kedalaman sumur. Hasil analisis data log sumur dapat digunakan
untuk mengetahui karakteristik reservoar (segi porositas, saturasi air, dan
permeabiltas) yang digunakan antara lain untuk menentukan arah eksplorasi
dan produksi selanjutnya.
Penampangan sumur bor (well logging) memegang peranan penting
dalam menunjang pemboran air tanah. Dengan melaksanakan penyelidikan
penampang sumur bor ini dapat diketahui kedudukan lapisan batuan bawah
permukaan tanah pada sumur bor, terutama lapisan batuan yang diduga dapat
bertindak sebagai lapisan pembawa air atau akuifer. Dari hasil penampangan
sumur bor ini dapat disarankan pemasangan saringan (screen) secara lebih
tepat pada kedalamannya yang ideal sehingga akuifer yang disadap diperoleh
debit yang optimal. Well logging tidak digunakan secara ekstensive
dalam pencarian mineral logam untuk beberapa alasan tertentu.
St ukt ur ge ol ogi ya ng kompl eks t e r j adi di da e r a h mi ne r a l ,
dibandingkan pada formasi sedimen yang relatif seragam yang
2
berasosiasi dengan minyak, membuat peng-identifikasian dan peng-
korelasian bertambah sulit.

1.2 Tujuan
Tujuan dari Well logging adal ah unt uk mengukur s i f at - s i f at
dar i bat uan yang t i dak terganggu dan fluida yang mereka kan-
dung. Geophysical well logging ini dilakukan untuk mengetahui susunan
lapisan bawah permukaan tanah, sehingga dapat diketahui adanya lapisan
pembawa air tanah atau akuifer dengan menggunakan pendekatan Geolistrik.
























3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Geophysical Well Logging
Geophysical well logging pertama kali dikembangkan untuk industri
minyak bumi oleh Marcel dan Conrad Schlumberger pada tahun 1927. The
Schlumberger bersaudara mengembangkan alat resistivity untuk mendeteksi
perbedaan dalam porositas batupasir dari ladang minyak di Merkwiller -
Pechelbronn , di timur Perancis. Sejak 1928, ketika Sclilumberger bersaudara
pertama kali membuat alat ukur listrik diPerancis, geofisika well loging telah
menjadi standard operasi pada eksplorasi minyak. Dalam industri mineral,
Geofisika well logging sangat banyak digunakan baik untuk kegiatan ek-
splorasi dan pengendalian monitoring kelas di tambang bekerja. Dalam ek-
splorasi air tanah dan penilaian itu juga pusat penggambaran akuifer dan zona
produksi. Dalam geofisika well logging, banyak sifat fisik yang berbeda dapat
digunakan bersama-sama untuk mengkarakterisasi geologi sekitar lubang bor.
Well Logging merupakan metode pengukuran parameterparameter
fisika, dalam lubang bor, yang bervariasi terhadap kedalaman sumur. Hasil
analisis data log sumur dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik
reservoar (segi porositas, saturasi air, dan permeabiltas) yang digunakan
antara lain untuk menentukan arah eksplorasi dan produksi selanjutnya.
Korelasi dan evaluasi serta kemampuan produksi dan formasi
reservoir biasanya merupakan objek yang penting. Well logging tidak
digunakan secara ekstensive dalam pencarian mineral logam
untuk beberapa alasan tertentu. Metode geofisika sudah dipergunakan
dalam investigasi pemboran selama kurang lebih 45 t ahun, ya i t u
t ekni k el ekt r oda ya ng di gunakan pada eks pl or as i di
per mukaan. Bermacam alat dan teknik, didesain secara khusus sesuai
dengan lingkungan pemboran yang bervariasi, dan digunakan dalam
eksplorasi, mengindentifikasi formasi geologi dan formasi fluida
dan korelasi antar lubang pemboran. St ukt ur geol ogi yang kompl eks
4
t er j adi di daer ah mi ner al , dibandingkan opada formasi sedimen
yang relatif seragam yang berasosiasi dengan minyak, membuat
peng-identifikasian dan peng-korelasian bertambah sulit.
P a d a u mu mn y a , o b y e k u t a ma d a r i wel l
l oggi ng dal am per mi nyakan adal ah unt uk mengidentifikasi
potensi dan batuan reservoir dan menentukan porositas,
permeabilitas dan tempat fluida itu sekarang. Porositas adalah porsi
fraksional dan volume batuan yang ditempati oleh ruang pod-pod, seringkali
dinyatakan dalam persen. Porositas dan batuan reservoir biasanya memi l i ki
r ent ang 30% s ampai 10%, mes ki pun bat uan yang memi l i ki
por os i t as l ebi h keci l terkadang dapat menjadi resrvoir
hidrokarbon. Hasil dari porositas, luas, ketebalan, dan reservoir
yaitu dapat memberikan jumlah kandungan fluida. Porositas dapat
ditentukan dari resistivity, acoustic velocity, density dan log neutron.
Pada kebanyakan r es er voi r , r uang por i yang t er i s i ol eh
f l ui da hanya s et e ngah yang disebut sebagai kejunuhan dari
hidrokarbon. Dimana air merupakan fluida, kejenuhan air ditambah
dengan kejenuhan hidrokarbon sama dengan satu. Kejunuhan air didapatk a n
d a r i p e n g u k u r a n r e s i s t i v i t a s me n g g u n a k a n r u mu s a n
Ar c h i e . Ha s i l d a r i p e n g u k u r a n r e s i s t i v i t a s
memperlihatkan perbedaan formasi yang akan menentukan produksi
hidrokarbon. Selain porositas, sifat penting lain yaitu permeabilitas.
Satuan dari permeabilitas adalah darcy. Permeabilitas ditentukan
dengan menggunakan aturan empinis log. Identifikasi formasi dan
korelasi antar sumur bor sering dilakukan, sebagai
determinasi porositas dan penentuan permeabiitas. Formasi
tertentu akan menunjukkan kurva log dan pola distinctive yang
membuat korelasi yang mungkin tidak hanya litologi utama tapi
banyak titik pada forrnasi it u sendiri. Sesar dan ketidakselar asan
dapat ditentukan lokasinya secara pasti dengan memperhatikan
bagian yang hilang atau diduplikasikan pada satu sumur


5

dibandingkan dengan sumur lain di dekatnya. Detail-detail stratigrafi yang
sering kali dikerjakan dengan cara mengobservasi pola dan variasi sistematik
dalam bentuk log. Well logging yang paling banyak dilakukan dapat
diklasifikasikan dan peralatan logging dapat dipilih berdasarkan tipe
geologi yang dominan klastik atau karbonat. Dalam setiap grup-
grup besar ini, log yang sederhana terbentuk, untuk kesempatan tertentu
ditambahkan demi tujuan khusus. Susunan sederhana biasanya terdiri
dan electrical response curves dan log porositas.

2.2 Metode Geophysical Well Logging
2.2.1 Metode Mekanis
a. Logging caliper
Sebuah alat caliper digunakan untuk mengukur diameter
lubang bor dan bagaimana perubahan dengan kedalaman
lubang bor tersebut . Alat caliper biasanya bekerja dengan
menggunakan satu atau lebih pegas lengan, yang menempel
dinding lubang bor sebagai alat dinaikkan dari dasar lubang
bor . Gerak masuk dan keluar dari dinding lubang bor dicatat
elektrik dan dikirim ke permukaan peralatan rekaman.
Alat caliper sederhana hanya menggunakan lengan tunggal
untuk merekam diameter. Alat yang lebih canggih mungkin
memiliki empat atau lebih lengan masing-masing secara in-
dependen jarak ukur untuk dinding lubang bor. Alat-alat mul-
ti - lengan umumnya memberikan resolusi yang lebih baik
dari bentuk lubang bor dari pada alat caliper yang hanya
memiliki satu lengan (tunggal).

b. Sonic Logging
Alat Sonic bekerja dengan mengirimkan suara (gelombang
P) melalui batu-batu dari dinding lubang bor. Sebuah alat dasar
sonic umumnya terdiri dari dua modul. Satu berisi transmitter
6
dan yang lainnya mengandung dua atau lebih penerima. Dua ba-
gian yang dipisahkan oleh sebuah konektor karet untuk mengu-
rangi jumlah transmisi langsung dari energi akustik sepanjang
alat dari pemancar ke penerima.












Gambar diatas merupakan Skema diagram dari alat sonic
dengan pemancar dan dua transceiver. Dalam prakteknya, sonic
logging benar-benar mengukur "waktu penerbangan" sepanjang
jalur sinyal tercepat. Karena saat ini penerbangan tergantung pa-
da kerapatan medium, dapat digunakan untuk menghitung
kepadatan rata-rata batu di mana sinyal berlalu. Alat logging
Sonic pada awalnya dikembangkan untuk industri minyak bumi
sebagai perangkat porositas ukur, dan alat sonic memiliki
penggunaan yang serupa di regolith. Sebuah penggunaan yang
sangat penting dari alat sonic adalah untuk mengoreksi dari ke-
cepatan interval yang digunakan dalam pengolahan gelombang
seismik dan interpretasi. Hal ini menyebabkan model kecepatan
yang lebih baik untuk pengolahan seismik dan analisis.




7

2.2.2 Metode Listrik
Properti fisik dari batuan dan mineral adalah konduktivi-
tas dan potensial. Potensial dan resistivitas adalah yang
pertama digunakan dalam well logging, yang secara
umum terekam secara sixnultan seperti kurva adjacent, kom-
binasinya disebut survey elektrik.
a. Resistivitas
Jika bahan yang mengandung partikel bermuatan terikat
dikenakan perbedaan tegangan maka arus listrik akan mengalir.
Impedansi aliran ini disebut hambatan listrik dan itu adalah
fungsi dari geometri aliran arus dan resistivitas intrinsik dari ma-
teri. Beberapa bahan seperti kuarsa dan muskovit memiliki resis-
tivitas yang tinggi, sementara yang lain memiliki nilai yang
lebih moderat (misalnya: pasir) dan untuk beberapa resistivitas
rendah (misalnya: tanah liat, garam air tanah). Resistivitas dan
konduktivitas adalah material yang terbalik jumlah proporsional.
Pengukuran ini disebut sebagai resistivitas ketika pengukuran
dilakukan dengan kontak atau terfokus, penyelidikan resistivitas
dengan menyebabkan arus mengalir di bebatuan. Resistivitas
hanya bekerja jika probe downhole berada di bawah permukaan
air.

b. Konduktivitas Listrik
Konduktivitas istilah umumnya diterapkan untuk penguku-
ran yang dibuat dengan probe induksi, memanfaatkan prinsip
induksi elektromagnetik. Pengukuran ini dapat dilakukan baik di
lubang-lubang berisi cairan atau kering. Pengukuran konduktivi-
tas penting untuk kalibrasi data yang EM udara.
8
Sifat fisik yang mempengaruhi konduktivitas adalah:
porositas dan rekah
Mineralogi
Perubahan
Pori cairan pada pori-pori
Salinitas
Konektivitas pori
Pengetahuan tentang konduktivitas cairan dan diameter lubang
bor memungkinkan penerapan koreksi untuk efek lubang bor.

c. Potensial Spontan (SP)
SP adalah salah satu metode logging tertua diterapkan dan
dikembangkan oleh perusahaan Schlumberger. SP mengukur
perbedaan kecil dalam potensial (misalnya: tegangan) antara el-
ektroda bergerak downhole dan koneksi permukaan bumi. Po-
tensi ini dapat timbul dari berbagai proses elektrokimia dan el-
ektrokinetik. Metode SP telah digunakan dalam industri minyak
untuk banyak tujuan, tetapi itu adalah nilai yang terbatas dalam
lingkungan air tawar. Faktor-faktor yang menyebabkan efek SP
dalam lubang bor yang sangat kompleks tidak dipahami dengan
baik akibatnya interpretasi alat SP di regolith bisa menjadi lati-
han yang menantang.

d. Induksi Polarisasi
IP adalah teknik yang umum digunakan dalam prospeksi
permukaan mineral tetapi juga dapat digunakan dalam aplikasi
downhole. IP menggunakan loop pemancar untuk mengisi tanah
dengan arus tinggi. Dalam aplikasi lubang bor, loop primer
menginduksi arus di bebatuan di luar dinding lubang bor. Aliran
arus ini dapat mengakibatkan biaya build-up pada partikel kon-
duktif seperti bijih sulfida dan bahan karbon seperti batubara. IP


9

logging secara luas digunakan dalam eksplorasi mineral, dan
memiliki nilai tertentu dalam eksplorasi untuk disebarluaskan
sulfida target deposito tembaga porfiri tersebut.

Gambar diatas memperlihatkan bahwa IP logging dapat
digunakan untuk mendeteksi butir konduktif disebarluaskan
(dimodifikasi setelah Hallenburg, 1984). IP juga telah digunakan
dalam deteksi zona alterasi dan tren redoks dan telah berhasil
digunakan untuk menentukan peringkat batubara in-situ.

2.2.3 Metode Radioaktif
Emisi radioaktif utama kepentingan dalam geofisika logging
well adalah sinar gamma dan neutron. Produk radioaktif lainnya
seperti partikel alpha ( helium nucleii ) dan partikel beta (elektron)
dapat menembus jarak kecil tersebut melalui batuan yang mereka
tidak berguna untuk logging.
a. Sinar Gamma
Metode radioaktif paling sederhana dalam geofisika logging
well adalah sinar gamma. Alat-alat penebangan mencatat ting-
kat alami emisi sinar gamma dari batuan di sekitar lubang bor.
Yang paling sederhana dari jenis alat mencatat hanya sinyal si-
nar gamma keseluruhan. Sinyal ini dasarnya emisi sinar gam-
ma pada tingkat energi yang berbeda dari isotop radioaktif dari
10
unsur-unsur kalium ( 40K ), Thorium ( 232Th ) dan Uranium (
238U ) dan seri peluruhan masing-masing. Alat gamma alam
lebih canggih secara terpisah mencatat jumlah sinar gamma
dari tiga seri pembusukan. Dengan cara ini informasi rinci ten-
tang kimia dari bebatuan di dinding lubang bor dapat di-
peroleh. Dalam prakteknya, sensor dalam alat ini tidak secara
langsung mengukur nuklida induk 238U dan 232Th, se-
baliknya mereka merekam emisi sinar gamma dari produk
214Bi dan 208Tl. Jarak bahwa sinar gamma yang dipancarkan
dapat melakukan perjalanan melalui batuan sangat tergantung
pada kerapatan elektron medium karena melalui hamburan in-
teraksi dengan elektron yang foton sinar gamma kehilangan
energi mereka. Dalam prakteknya, sinar gamma dapat menem-
bus sebanyak 1-2 meter melalui bebatuan, meskipun ini sangat
bergantung pada tingkat energi awal dan kepadatan batuan. Ja-
rak yang lebih besar dalam batuan yang memiliki kepadatan
rendah seperti sedimen sangat berpori dan batubara.

b. Neutron Porositas
Neutron porositas menggunakan sumber neutron aktif untuk
memancarkan neutron ke dalam batuan di sekitar lubang bor.
Karena neutron bebas hampir tidak dikenal di Bumi, fluks neu-
tron selanjutnya dicatat pada detektor dalam perangkat dapat
digunakan sebagai indikator kondisi batuan sekitarnya. Neu-
tron memasuki batuan dari dinding lubang bor berada pada en-
ergi tinggi dan umumnya memiliki daya tembus besar. Pen-
gecualian adalah ketika konsentrasi signifikan hidrogen ada.
Secara umum alat neutron adalah alat yang sangat berguna un-
tuk mengukur "porositas" tapi harus diingat bahwa pengukuran
tergantung model bor. Dalam geofisika mineral logging di
lingkungan batuan keras (porositas rendah) log porositas neu-


11

tron sering digunakan di tempat log resistivitas (karena
keduanya benar-benar mengukur porositas yang berisi air). Da-
lam kasus di mana log porositas neutron menunjukkan porosi-
tas tinggi daripada log resistivitas, penyebabnya karena adanya
hidrokarbon dalam cairan, atau kurangnya permeabilitas efek-
tif (misalnya pori-pori tidak baik saling berhubungan).
























12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Well Logging merupakan metode pengukuran parameter-parameter
fisika, dalam lubang bor, yang bervariasi terhadap kedalaman sumur. Hasil
analisis data log sumur dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik
reservoar (segi porositas, saturasi air, dan permeabiltas) yang digunakan
antara lain untuk menentukan arah eksplorasi dan produksi selanjutnya. Geo-
physical logging juga menyediakan banyak kesempatan yang berbeda untuk
menyelidiki bahan yang membentuk dinding lubang bor. Masalah terbesar da-
lam menggunakan geofisika well logging adalah bahwa harus memiliki
lubang bor baik yang akan beroperasi. Ketika metode logging geofisika juga
dapat digunakan, penting untuk mengenali bahwa setiap metode memiliki
kekuatan tertentu dan kelemahan.

3.2 Saran


















DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.scribd.com/doc/64647085/Little-About-Well-Logging
2. http://rovicky.files.wordpress.com/2006/08/mencariairdengangeolistrik.pd
f
3. http://crcleme.org.au/Pubs/OPEN%20FILE%20REPORTS/OFR%20144/1
3Wells.pdf
4. http://www.jfa.physics.its.ac.id/Articles/JFA-090109_deniwu.pdf