Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II

TOPIK

: Amalgam

KELOMPOK

: C - 10

TANGGAL PRAKTIKUM : 26 September 2013


PEMBIMBING

: R.Helal Soekartono, drg.,M.Kes

Penyusun
1.

:
02121113307

Eggi Devina Ekaputri

4
02121113307

Fira Rahmadiyanti

5
02121113307

Arselia Siti Sabrina

6
02121113307

2.
3.
4.
Nanda Ajeng Saraswati

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2013
1. TUJUAN
Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa dapat melakukan
manipulasi bahan restorasi amalgam dengan benar menggunakan
perbandingan antara bubuk amalgam dan merkuri dengan tepat.
Mahasiswa mampu membedakan antara hasil triturasi bahan restorasi
amalgam secara manual dan mekanik. Mahasiswa mampu
melakukan aplikasi bahan restorasi amalgam dalam kavitas (cetakan
model) dengan tepat.

2. ALAT DAN BAHAN


2.1 Bahan
a. Bubuk amalgam
b. Cairan merkuri
2.2 Alat
a. Mortar dan pestle amalgam
b. Kondensor amalgam
c. Kain kasa
d. Timbangan
e. Stopwatch
f. Pinset
g. Amalgam pistol

h. Sonde
i. Amalgamator
j. Burnisher
k. Glass lab

3. CARA KERJA
3.1 Triturasi Secara Manual
a. Bubuk amalgam ditimbang menggunakan timbangan kemudian
dimasukkan dalam mortar.
b. Cairan merkuri ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam mortar
yang telah berisi bubuk amalgam. Dimana keduanya harus
memiliki perbandingan 1:1.
c. Bubuk amalgam dan cairan diaduk dengan cara menekan pestle
pada dinding mortar (pen-type grip) dengan gerakan memutar
sampai homogen selama 60 detik. Pada saat mulai pengadukan
waktu dicatat.
d. Adonan yang telah diaduk dimasukkan ke dalam kain kasa,
kelebihan merkuri dikeluarkan dengan cara memeras dalam kain
kasa, Kain kasa dijepit kuat dengan pinset kemudian kain kasa
diputar dan digerakkan ke atas, maka sisa merkuri akan keluar dari
kasa.
e. Adonan yang terdapat dalam kain kasa diambil dengan amalgam
pistol dimasukkan kedalam cetakan model. Penempatan adonan
amalgam dalam cetakan model sedikit demi sedikit sambil
dilakukan kondensasi menggunakan kondenser sampai adonan
padat. Pekerjaan ini dilakukan berulang sampai cetakan model
terisi penuh, kemudian dihaluskan menggunakan burnisher.
f. Amalgam ditunggu sampai mengeras. Waktu yang diperlukan
sampai amalgam mengeras dicatat.

3.2 Triturasi Secara Mekanik


a. Sambungkan listrik amalgamator ke sumber listrik.
b. Amalgam dan merkuri masing-masing 1 lempeng dimasukkan ke
dalam kapsul.
c. Kapsul diletakkan ditempat pengadukan pada amalgamator dengan
tepat.
d. Tentukan waktu pengadukan selama 8 detik. Kemudian tombol ON
dinyalakan.
e. Triturasi sesuai waktu yang ditentukan, selanjutnya kapsul
dikeluarkan dari amalgamator. Kapsul dibuka dan amalgam di
letakkan diatas kain kasa, kemudian diperas.
f. Adonan pada kain kasa diambil dengan amalgam pistol,
dimasukkan ke cetakan model. Penempatan adonan amalgam
dalam cetakan model, sedikit demi sedikit sambil dilakukan
kondensasi menggunakan condenser sampai adonan padat.
Pekerjaan ini dilakukan berulang-ulang sampai cetakan penuh,
kemudian dihaluskan dengan burnisher.
g. Kekerasan permukaan diamati dengan menggurat permukaan
amalgam menggunakan sonde. Polishing dilakukan minimal 24
jam setelah amalgam memngeras.

4. HASIL PRAKTIKUM
Tabel 1. Data Waktu Hasil Praktikum Menggunakan Metode
Manual.
No. Waktu yang Dibutuhkan untuk Amalgam Mengeras
1.
14 menit
2.
16 menit

Praktikum

menggunakan

metode

manual

ini

menggunakan

komposisi bubuk amalgam 0,45 gram dan cairan merkuri 0,45 gram
dengan pengadukan selama 60 detik.
Tabel 2. Data Waktu Hasil Praktikum Menggunakan Metode
Mekanik.
No.

Jenis Pengadukan

1.
2.

Waktu yang Dibutuhkan untuk


Amalgam Mengeras
10 menit
12 menit

High
Low

5. ANALISA HASIL PRAKTIKUM


Data hasil praktikum menunjukkan waktu yang dibutuhkan amalgam
untuk mengeras berbeda antara metode manual dan mekanik.
Pada percobaan pertama manipulasi metode manual dengan jumlah
bubuk amalgam dan cairan mercury sebanyak 0,51g (Rasio W/P
Standar) waktu pengerasan 14 menit. Kemudian manipulasi metode
manual dilakukan oleh mahasiswa yang berbeda dengan jumlah
bubuk amalgam dan cairan mercury sebanyak 0,52g diperoleh waktu
pengerasan 16 menit.
Pada pecobaan kedua manipulasi metode mekanik menggunakan
amalgamator ratio W/P 1:1 dengan jenis pengadukan high diperoleh
lamanya

waktu

pengerasan

10

menggunakan jenis pengadukan low

menit,

sedangkan

dengan

diperoleh lamanya waktu

pengerasan 12 menit. Dari percobaan tersebut amalgam yang


ditriturasi dengan cara manual memiliki waktu pengerasan lebih
lama daripada amalgam yang ditriturasi dengan cara mekanik.

6. PEMBAHASAN
Amalgam terdiri dari campuran dua logam atau lebih, salah satunya
adalah merkuri. Pada dasarnya, dental amalgam terdiri dari merkuri
yang dikombinasikan dengan paduan bubuk silvertin. Merkuri cair
pada suhu kamar dapat membentuk massa yang workable bila
dicampur dengan alloy sehingga cocok digunakan dalam kedokteran
gigi. (Mc Cabe, 2008)
Alloy amalgam dicampur dengan merkuri oleh dokter gigi atau
asisten. Di kedokteran gigi, prosedur pencampuran secara teknis
dikenal sebagai triturasi. Produk triturasi adalah massa mirip dengan
salah satu yang terdapat di lelehan alloy antara suhu cair dan padat.
Peralatan khusus digunakan untuk memasukan massa ke dalam
rongga, dikenal sebagai proses kondensasi (Annusavice, 2003)
Dalam istilah sederhana, reaksi untuk alloy amalgam konvensional
dapat diberikan
persamaan seimbang berikut:
Ag3Sn + Hg Ag2Hg3 + SnxHg + Ag3Sn
atau
+ Hg 1 + 2 +
Untuk high-copper alloy reaksinya adalah:
Ag3Sn + Cu + Hg Ag2Hg3 + Cu6Sn5 + Ag3Sn
atau
+ Cu + Hg 1 + Cu6Sn5 +
Semua alloy dental amalgam, termasuk jenis yang low dan highcopper, memiliki Ag3Sn sebagai komponen utama mereka, yang
bereaksi dengan merkuri untuk membentuk Ag2Hg3, fase utama
matriks set amalgam. (Craig, 2012)
Perbedaan utama antara low dan high-copper alloy amalgam ini tidak
hanya pada persentase tembaga tetapi juga efek yang memiliki

kandungan tembaga yang lebih tinggi pada campuran reaksi.


Kandungan tembaga yang lebih tinggi dalam alloy disediakan oleh
silver-copper eutectic maupun fase Cu3Sn (). Ini jumlah yang tepat
dari tembaga hasil dalam penghapusan tahap Sn7 - 8Hg (2), yang
merupakan fase yang paling lemah dan paling rentan terhadap korosi
di amalgam low-copper. Oleh karena itu, pemulihan menggunakan
amalgam yang dibuat dengan cukup tembaga cenderung memiliki
sifat fisik dan mekanik yang unggul dan periode perawatan yang
lebih lama dibandingkan restorasi dari low-copper alloy. (Craig,
2012)
Alloy amalgam dicampur dengan merkuri cair untuk membasahi
permukaan partikel sehingga terjadi reaksi antara merkuri cair dan
alloy pada rasio yang seimbang. Pencampuran ini disebut triturasi,
yang

memiliki

fungsi

ganda

mencampur

bahan-bahan

dan

menghilangkan lapisan permukaan oksida yang terbentuk pada


partikel alloy. (Craig, 2012)
Pada awalnya triturasi dilakukan secara manual dengan mortar dan
pestle. Namun, manipulasi mekanis dapat menghemat waktu dan
menstandarisasikan prosedur. Pada kenyataannya, bisa dikatakan
mustahil untuk mengerjakan triturasi manual untuk pencampuran
alloy modern yang disiapkan dengan rasio merkuri atau alloy yang
rendah. (Annusavice, 2003)
Triturasi yang dilakukan secara mekanis rasio serbuk alloy
dengan mercury lebih tepat, serta tekanan dan kecepatan triturasi
lebih teratur dibandingkan dengan cara manual. Amalgam yang
ditriturasi secara mekanis mempunyai tampilan dan struktur
homogen dibanding amalgam yang ditriturasi secara manual, ini
dikarenakan penggunaan amalgamator memungkinkan pemberian
tekanan

dan

kecepatan

yang

lebih

teratur.

Lain

halnya

dengan manual, tekanan dan kecepatan triturasi tidak teratur


sehingga menyebabkan kurangnya homogenitas amalgam.
Rasio antara serbuk alloy dan mercury yang tepat serta penambahan
kecepatan triturasi akan memperpendek setting time amalgam.
Penggunaan

amalgamator

menjamin

ketepatan

rasio

antara

serbuk alloy dan mercury sehingga akan memperpendek setting time.


Dengan demikian setting time amalgam menggunakan amalgamator
lebih

cepat

dari

pada setting

time amalgam

menggunakan

metode manual.

Tujuan triturasi adalah untuk memberikan manipulasi yang tepat dari


merkuri dan alloy. Partikel alloy dilapisi dengan oksida, yang sulit
untuk diembus merkuri. Lapisan ini harus digosok dalam beberapa
cara sehingga permukaan yang bersih dari alloy dapat kontak dengan
air raksa. Lapisan oksida akan dihilangkan oleh abrasi ketika triturasi
alloy dan merkuri. (Annusavice, 2003)
Alloy dan merkuri yang dimasukkan ke dalam kapsul, atau jika
kapsul sekali pakai yang digunakan kapsul mungkin memerlukan
aktivasi. Ketika kapsul yang telah diletakkan dalam mesin dan
dihidupkan,

lengan

amalgamator

mengocok

kapsul

dengan

kecepatan tinggi, triturasi dicapai dengan timer otomatis untuk


mengontrol lama manipulasi, dan amalgamator paling modern
memiliki dua atau lebih kecepatan. Kecepatan multiple amalgamator
menyediakan fleksibilitas yang lebih besar agar amalgamator dapat
digunakan untuk pencampuran bahan lainnya, seperti semen resin
dan komposit. Beberapa alloy dan preproporsi kapsul sistem jenis
tertentu memiliki rekomendasi spesifik untuk kecepatan triturasi.
(Annusavice, 2003)

Campuran amalgam tidak boleh disentuh dengan tangan kosong


karena campuran alloy baru mengandung merkuri bebas. Juga,
kelembaban pada permukaan kulit adalah sumber kontaminasi dari
amalgam. Meskipun dokter atau asisten diharapkan memakai sarung
tangan, kontak kulit dengan rnerkuri tidak perlu dikhawatirkan.
Bertahap alloy harus dibawa dan dimasukkan ke dalam rongga yang
disiapkan dengan menggunakan instrumen kecil atau pembawa
amalgam yang dirancang untuk tujuan itu. (Annusavice, 2003)
Setelah amalgam dimasukkan ke dalam rongga persiapan harus
segera

dikondensasi

dengan

tekanan

yang

cukup

untuk

menghilangkan udara dan menyaring kelebihan material. Titik


kondensor didorong ke dalam massa amalgam hand pressure.
Kondensasi biasanya dimulai di pusat, dan kemudian titik kondensor
melangkah sedikit demi sedikit ke arah dinding rongga. Persyaratan
kekuatan tergantung pada bentuk partikel alloy. (Annusavice, 2003)
Setelah kondensasi permukaan harus terlihat mengkilap. Hal ini
menunjukkan bahwa ada cukup merkuri pada permukaan untuk
menyebar ke tambahan berikutnya sehingga setiap ditambahkan
dapat berikatan dengan yang sebelumnya. Jika ini tidak dilakukan
dan kelipatannya tidak berikatan, restorasi akan berlapis-lapis.
Restorasi dapat menjadi ketika matriks dilepaska. Ini berarti
campuran restorasi tidak homogen dan akan menderita korosi parah.
(Annusavice, 2003)
Prosedur dan prinsip-prinsip kondensasi mekanis yang sama
kondensasi manual, termasuk alat yang digunakan. Satu-satunya
perbedaan adalah bahwa kondensasi mekanis amalgam dilakukan
oleh perangkat otomatis. Berbagai mekanisme bekerja untuk
instrumen ini.(Annusavice, 2003)

Apabila alat tersebut berefek pada getaran, energi yang dibutuhkan


lebih sedikit daripada kondensasi. Hasil klinis yang sama dapat
dicapai dengan menggunakan kondensasi manual atau kondensasi
mekanis. Metode yang dipilih biasanya didasarkan pada preferensi
dokter gigi. (Annusavice, 2003)
Salah satu faktor yang paling penting di kondensasi adalah amalgam
bertahap dibawa ke dalam rongga. Semakin besar restorasi, semakin
sulit untuk mengurangi void dan mengisi bagian dinding rongga.
Namun jika restorasi besar akan mempercepat pengerjaan, dan untuk
meningkatkan waktu yang tersedia untuk kondensasi. Secara umum,
relatif kecil kelipatan amalgam harus digunakan sepanjang prosedur
kondensasi untuk mengurangi pembentukan batal dan untuk
mendapatkan maksimum adaptasi rongga. Demikian juga, cukup
kondensasi tekanan harus digunakan untuk memaksa partikel alloy
memadat, mengurangi void, dan bekerja pada merkuri ke permukaan
untuk mencapai ikatan.(Annusavice, 2003)

7. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah kami lakukan didapatkan
bahwa amalgam yang di triturasi secara mekanik lebih cepat
mengeras dari pada amalgam yang di triturasi secara manual. Hal
tersebut dapat terjadi dikarenakan homogenitas adonan yang
berbeda. Amalgam yang ditriturasi secara mekanik terlihat lebih
homogen sehingga memudahkan alloy bereaksi lebih cepat dan
mengeras. Hal tersebut juga dapat terlihat pada permukaan amalgam
yang ditriturasi secara mekanik lebih halus dari pada amalgam yang
ditriturasi secara manual.

8. DAFTAR PUSTAKA

1. Annusavice, KJ. 2003. Phillips Science of Dental Materials. 11th


Ed. Pennsylvania: Saunders Company.
2. Craig RG, Powers JM. 2012. RestorativeDental Materials. 13th ed.
St Louis : Mosby.
3. Mc Cabe, J.F. 2008. Applied Dental Materials. 9th Ed. UK:
Blackwell Publishing.