Anda di halaman 1dari 3

STUDI LITERATUR JARINGAN SOSIAL

By :
Dr. Harnita Agusnty, S.Pi, M.Si1

Setiap komunitas terdiri atas elemen pembentuknya yang saling berhubungan satu
sama lain dan membentuk satu kesatuan utuh yang terikat melalui suatu jaringan sosial.
Jaringan sosial pada suatu masyarakat menunjukkan berbagai tipe hubungan sosial yang
terikat atas dasar identitas kekerabatan, ras, etnik, pertemanan, ketetanggaan, ataupun atas
dasar kepentingan tertentu. Menurut Boissevain (1978), jaringan sosial masyarakat adalah
struktur sosial masyarakat itu sendiri. Jaringan sosial adalah pola hubungan sosial di antara
individu, pihak, kelompok atau organisasi. Jaringan sosial memperlihatkan suatu hubungan
sosial yang sedang terjadi sehingga lebih menunjukkan proses daripada bentuk (Bee, 1974).
Warner (dalam Scott, 1991) menjelaskan bahwa, hubungan sosial yang terjadi bersifat
mantap/permanen, memperlihatkan kohesi dan integrasi bagi bertahannya suatu komunitas,
serta menunjukkan hubungan timbal balik. Dengan demikian, suatu komunitas pada dasarnya
merupakan kumpulan hubungan yang membentuk jaringan sebagai tempat interaksi antara satu
pihak dengan pihak lainnya. Selanjutnya Mitchell, (dalam Scott, 1991) juga mempersyaratkan
bahwa kekuatan jaringan dipengaruhi oleh resiprositas, intensitas, dan durabilitas hubungan
antarpihak.
Salah satu ciri khas teori jaringan adalah pemusatan perhatian pada struktur mikro
hingga makro. Artinya bahwa bagi teori jaringan, aktor dapat saja terjadi pada individu,
kelompok maupun masyarakat (Barker, 1990). Konteks ini menunjukkan bahwa hubungan
dapat saja terjadi ditingkat struktur sosial skala luas maupun tingkat yang lebih miskroskopik.
Granoveter (1985) melukiskan hubungan di tingkat mikro itu seperti tindakan yang “melekat”
dalam hubungan pribadi konkret dan dalam struktur (jaringan) itu. Hubungan ini berlandaskan
gagasan bahwa setiap aktor (individu atau kolektivitas) mempunyai akses berbeda terhadap
sumber daya yang bernilai (kekayaan, kekuasaan, informasi dan sebagainya). Akibatnya
adalah bahwa sistem yang terstruktur cenderung terstratifikasi, sehingga komponen tertentu
akan tergantung pada komponen yang lain.
Menurut Wellman (1993) bahwa perspektif jaringan yang ditulis oleh banyak ahli
dalam jurnal Social Network telah memperlihatkan pemikiran yang bersandar pada sekumpulan
prinsip yang berkaitan logis dengan pendekatan sebagai berikut : Pertama, ikatan antara aktor
biasanya adalah simetris baik dalam kadar maupun intensitasnya. Aktor saling memasok
dengan sesuatu yang berbeda dan mereka berbuat demikian dengan intesitas yang makin
besar atau makin kecil. Kedua, ikatan antara individu harus dianalisa dalam konteks struktur
jaringan lebih luas. Ketiga, terstrukturnya ikatan sosial menimbulkan berbagai jenis jaringan
non acak. Disatu pihak, jaringan adalah transitif (transitive) dengan pemisalah bahwa bila ada
ikatan antara A dan B dan C, ada kemungkinan ada ikatan tersendiri dengan A dan C.
Akibatnya adalah bahwa lebih besar kemungkinan adanya jaringan yang meliputi A, B, dan C.
Dilain pihak, ada keterbatasan tentang berapa banyak hubungan yang dapat muncul dan
seberapa kuatnya hubungan itu dapat terjadi, sehingga ada kemungkinan terbentuknya
kelompok-kelompok jaringan dengan batas tertentu, yang saling terpisah satu sama lain.
Keempat, adanya kelompok jaringan menyebabkan terciptanya hubungan silang atara
kelompok jaringan maupun antara individu. Kelima, ada ikatan asimetris antara unsur-unsur di
dalam sebuah sistem jaringan dengan akibat bahwa sumber daya yang terbatas akan

1 Staf BBAP Takalar Dept. Kelautan dan Perikanan.


terdistribusikan secara tak merata. Keenam, distribusi yang timpang dari sumber daya yang
terbatas menimbulkan baik itu kerjasama maupun kompetisi. Beberapa kelompok akan
bergabung untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas itu dengan bekerjasama atau
kemitraan, sedangkan kelompok lain secara sendiri-sendiri bersaing dan memperebutkannya.
Dengan demikan dapat diasumsikan bahwa, teori jaringan sebenarnya berkualitas dinamis
dimana perubahan struktur akan terjadi bersamaan terjadinya pergeseran pola koalisi dan
konflik.
Selanjutnya teori jaringan yang lebih intergratif dikemukakan oleh Burt (1982) melalui
pemisahan di dalam teori tindakan antara orientasi “atomistis” dan “normatif”. Orientasi
atomistis berasumsi bahwa tindakan alternatif dapat dinilai secara bebas oleh aktor tersendiri
sehingga penilaian dapat dibuat tanpa merujuk kepada aktor lain. Sedangkan perspektif
normatif ditetapkan oleh aktor tersendiri di dalam sistem yang mempunyai kepentingan saling
tergantung sebagai norma sosial yang dihasilkan oleh aktor (individu, kelompok atau
masyarakat) yang saling mensosialisasikan diri satu sama lain.
Secara sederhana, jaringan sosial sebenarnya merupakan salah satu bentuk strategi
dan tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok maupun masyarakat dalam menghadapi
lingkungan pekerjaannya yang tidak menentu atau diliputi oleh berbagai keterbatasan-
keterbatasan yang dimiliki (Rudiatin; Kusnadi, 2000). Oleh karena itu, konteks jaringan sosial
pada suatu komunitas masyarakat dapat dibedakan atas tiga bentuk, yaitu jaringan vertikal
(hirarkis), jaringan horizontal (pertemanan), dan jaringan diagonal (kakak-adik) (Wolf, 1966;
Scott, 1972). Hubungan vertikal (hirarkis) adalah hubungan dua pihak yang berlangsung
secara tidak seimbang karena satu pihak mempunyai dominasi yang lebih kuat dibanding pihak
lain, atau terjadi hubungan patron-klien. Hubungan diagonal adalah hubungan dua pihak di
mana salah satu pihak memiliki dominasi sedikit lebih tinggi dibanding pihak lainnya. Hubungan
horizontal adalah hubungan dua pihak di mana masing-masing pihak menempatkan diri secara
sejajar satu sama lainnya. Namun pada kenyataannya dalam suatu komunitas, termasuk
komunitas masyarakat pesisir (nelayan maupun pembudidaya), ke tiga bentuk jaringan ini
saling tumpang tindih dan bervariasi, serta bentuk yang satu tidak dapat secara tegas
dipisahkan dari bentuk lainnya (Rudiatin, 1997).
Sementara itu, teori jaringan dalam perspektif sosiologi ekonomi di jelaskan oleh
Granovetter bahwa, keterlekatan perilaku ekonomi dalam hubungan sosial dapat dijelaskan
melalui jaringan sosial yang terjadi dalam kehidupan ekonomi, yang dapat dilihat bagaimana
individu terkait antara satu dengan lainnya dan bagaimana ikatan afiliasi melayani baik sebagai
pelicin untuk memperoleh sesuatu yang dikerjakan maupun sebagai perekat yang memberikan
tatanan dan makna pada kehidupan sosial (Powell dan Smith, 1994).
Analisa jaringan sosial dapat diidentifikasi baik pada tingkatan antar individu maupun
pada tingkatan struktur. Pada tingkatan antar individu, jaringan sosial dilihat melalui rangkaian
hubungan yang khas di antara sejumlah orang dengan sifat tambahan, yang ciri-ciri dari
hubungan tersebut digunakan untuk menginterpretasikan tingkah laku sosial dari individu-
individu yang terlibat (Mitchell, 1969). Sementara pada tingkatan struktur memperlihatkan
bahwa, pola atau struktur hubungan sosial dapat meningkatkan dan/atau menghambat perilaku
orang untuk terlibat dalam bermacam arena dari kehidupan sosial. Oleh karena itu, tingkat ini
memberikan suatu dasar untuk memahami bagaimana perilaku individu dipengaruhi oleh
struktur sosial.
Berdasarkan literatur yang berkembang, Powell dan Smith (1994) mengajukan dua
pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami jaringan sosial, yaitu pendekatan analisis
atau abstrak dan pendekatan preskriptif atau studi kasus. Pendekatan analisis abstrak
menekankan pada : (a) pola informal dalam organisasi. Pada dasarnya area ini memiliki
kerangka pemikiran yaitu hubungan informal sebagai pusat kehidupan politik organisasi-
organisasi yang terbangun atas dasar campuran yang rumit dari otoritas, persabahatan dan
loyalitas. (b) bagaimana lingkungan di dalam organisasi dikonstruksi. Perhatian dalam konteks
ini lebih banyak tertuju pada segi-segi normatif dan budaya dari lingkungan seperti sistem
kepercayaan, hak profesi, dan sumber-sumber legitimasi yang menjembatani organisasi
dengan para anggotanya. (c) analisis kekuasaan dan otonom, area ini terdiri dari struktur sosial
sebagai suatu pola hubungan unit-unit sosial yang terkait (individu-individu sebagai aktor-aktor
yang bersama dan bekerjasama) yang dapat mempertanggungjawabkan tingkah laku mereka
yang terlibat. Posisi individu selain dapat memudahkan juga dapat menghambat tindakannya.
Sementara pendekatan preskriptif, memandang jaringan sosial sebagai pengaturan
logika atau sebagai suatu cara menggerakkan hubungan-hubungan di antara para aktor
ekonomi. Dengan demikian ia dipandang sebagai perekat yang menyatukan individu-individu
secara bersama ke dalam suatu sistem yang padu (Powell 1990). Pendekatan ini lebih bersifat
pragmatis dan berkait dengan pendekatan antar-disipliner karena lebih cenderung untuk melihat
motif yang berbeda dalam kehidupan ekonomi seperti analisis jaringan sosial dalam pasar
tenaga kerja, etika bisnis, dan organisasi dari kelompok bisnis...!!!