Anda di halaman 1dari 23

i

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


JUDUL PROGRAM
PEMANFAATAN LIMBAH AMPAS TEBU SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN
KERTAS MENGGUNAKAN MIKROORGANISME DENGAN METODE
ORGANOSOLV

Bidang Kegiatan:
PKM- GAGASAN TERTULIS

Diusulkan oleh:
ADITYA GUNADI (21030113120058 / Angkatan 2013)
RICKY KURNIAWAN (21030113130147 / Angkatan 2013)
GILANG RUHINDA PUTRA (21030113140172 / Angkatan 2013)


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

ii

HALAMAN PENGESAHAN
USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

1. Judul Kegiatan : Pemanfaatan limbah ampas tebu sebagai bahan
baku pembuatan kertas menggunakan
mikroorganisme dengan metode organosolv
2. Bidang Kegiatan : PKM- GT
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Gilang Ruhinda Putra
b. NIM : 2103011314172
c. Jurusan : Teknik Kimia
d. Universitas/ Institut : Universitas Diponegoro
e. Alamat Rumah : Klentengsari Selatan no 6, Tembalang
f. Alamat email : gpgilgrem@gmail.com
4. Anggota Pelaksana Kegiatan/ Penulis: 2 orang
5. Dosen Pendamping :
Nama Lengkap dan Gelar : Dr. Dyah Hesti Wardhani, ST, MT
NIP : 19769528 200012 2 001
Alamat Rumah dan No Telp./HP : Gg.Sahabat No. 13, Jl. Ngesrep Timur V,
Semarang

Semarang, 18 Maret 2014

Menyetujui
Pembantu Dekan III
Fakultas Teknik



Prof.Dr. Ir. Abdullah, MSc
NIP. 19551231 198303 1 014

Ketua Pelaksana Kegiatan



Gilang Ruhinda Putra
NIM. 21030113140172


Pembantu Rektor III
Bidang Kemahasiswaan



Drs.Warsito,SU
NIP. 19540202 198103 1 014
Dosen Pendamping


Dr. Dyah Hesti Wardhani, ST, MT
NIP. 19769528 200012 2 001



iii

DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
Daftar Isi iii
Ringkasan iv
PENDAHULUAN
Latar Belakang ............................................................................................. 5
Tujuan Penulisan .......................................................................................... 6
Manfaat Penulisan ........................................................................................ 6
GAGASAN .............................................................................................................. 6
Keterbatasan Bahan Baku Pembuatan Kertas .............................................. 6
Kekurangan Enceng Gondok sebagai Bahan Pengganti Kertas ................... 7
Ampas Tebu sebagai Bahan Alternatif pengganti Kertas ............................ 8
Solusi yang Ditawarkan ............................................................................... 9
Pihak Pihak Terkait Menyukseskan Program ........................................... 11
Kerangka Aksi Strategis Program Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu sebagai
Bahan Baku Alternatif Pembuatan Kertas ................................................... 12
KESIMPULAN ........................................................................................................ 12
Ampas Tebu sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Kertas 12
Pengaplikasian Pembuatan Kertas Dari Ampas Tebu 13
Realisasi Program Pemanfaatan Ampas Tebu Sebagai Bahan Alternatif
Pembuatan Kertas 14
Manfaat dan Dampak dari Program Ini 15
DAFTAR PUSTAKA 16
LAMPIRAN 17



iv

RINGKASAN
Kertas kini telah menjadi salah satu komponen penting dalam membantu
menyelesaikan pekerjaan manusia. Diperkirakan sebanyak 46 meter kubik kayu
digunakan untuk menghasilkan satu ton pulp yang dapat menghasil 1,2 ton kertas
(Detha, 2011). Melihat kebutuhan yang kertas yang kian meningkat tiap tahunnya
membuat terbatasnya bahan baku yang tersedia. Karena seiring meningkatnya
permintaan terhadap kertas maka makin maraknya penenbangan pohon untuk
memenuhi permintaan tersebut. Namun sayangnya untuk melakukan penanaman
kembali memakan waktu cukup lama dan tak jarang para pelaku penebang pohon
mengabaikan hal tersebut. Karena hal ini banyak bencana yang terjadi seperti banjir,
longsor , dan sebagainya yang mengancam stabilitas ekonomi nasional.
Dari uraian diatas kami mengajukan solusi menjadikan ampas tebu hasil
penggilingan pabrik gula sebagai bahan baku alternatif pembuatan kertas. Kami
mempunyai keinginan untuk membuat kertas dari ampas tebu. Proses dasar dalam
pembuatan kertas yaitu ampas tebu diolah menjadi pulp. Untuk membuat pulp,
penulis menggunakan metode organosolv dengan menggunakan etanol yang
kemudian diberikan mikroorganisme. Kemudian proses bleaching, disini penulis
ingin menggunakan metode biobleaching. Langkah selanjutnya, pulp dimasukkan
dalam mesin kertas hingga terbentuk lembaran. Dan pada ini, pengeringan juga
dilakukan supaya air sudah benar-benar tidak ada dalam kertas dan kemudian kertas
dicetak sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
Langkah strategis untuk mengimplementasikan gagasan ini dengan
menggandeng kerjasama dari beberapa pihak yakni Kementrian Lingkungan Hidup
RI, Kementrian Kehutanan RI, Pelaku industri kertas dan gula, serta grup riset.
Dengan terwujudnya hal ini diharapkan pula akan terjadi produksi kertas
massal yang berkelanjutan sehingga dapat perlahan-lahan menggantikan pohon
sebagai bahan baku pembuatan kertas nasional. Selain itu juga diharapkan pelaku
industri kertas dan industri gula untuk melakukan investasi guna mewujudkan
penelitian ini.



5



PENDAHULUAN

Latar Belakang
Hampir setiap hari kertas digunakan untuk membantu pekerjaan manusia. Di
Indonesia contohnya, kebutuhan kertas di negara ini diperkirakan sebesar 13 juta ton
untuk tahun 2013 (Anonim 2014). Seperti yang kita ketahui bahwa bahan baku
pembuatan kertas berasal dari serat-serat kayu dari pohon. Diperkirakan sebanyak 4,6
meter kubik kayu digunakan untuk menghasilkan satu ton pulp yang dapat menghasil
1,2 ton kertas (Detha, 2011).
Merujuk kepada kebutuhan kertas domestik di Indonesia tentunya dibutuhkan
bahan baku yang cukup banyak dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini memicu
banyaknya oknum-oknum perusahaan melakukan penebangan liar untuk meraup
keuntungan dalam memenuhi kebutuhan kertas di negara ini. Padahal seharusnya
dalam memenuhi bahan baku tersebut haruslah menggunakan sistem tebang pilih.
Dampak dari hal ini menyebabkan gundulnya hutan yang memicu terjadinya banjir
dan kerusakan ekosistem yang menyebabkan stabilitas ekonomi terganggu. Untuk
itulah diperlukan alternatif yang dalam pembuatan kertas, salah satunya dengan
ampas tebu. Ampas tebu sendiri seringkali tidak digunakan lagi sehingga dibuang
begitu saja. Padahal ampas tebu dapat diolah menjadi beberapa produk. Upaya
pemanfaatan ampas tebu ini dilakukan untuk menjawab permasalahan kebutuhan
kertas yang banyak. Ampas tebu dipilih karena mengandung selulosa yang cocok
sebagai bahan pembuatan kertas.
Pengolahan ampas tebu menjadi kertas dilakukan dengan metode organoslov,
dimana dilakukan pembuatan pulp terlebih dahulu dari ampas tebu yang ada. Adapun
pulp yang terbentuk dari ampas tebu tersebut diberi mikroorganisme sehingga
terbentuk kertas dengan kualitas sama apabila membuat kertas dari pohon yang ada.

6



Tujuan Penulisan
Tujuan dari karya tulis ini untuk menciptakan gagasan baru dalam pembuatan
kertas dengan bahan dasar ampas tebu dengan metode organosolv yang menciptakan
kertas dengan kualitas yang bagus dengan menggunakan suatu mikroorganisme,
sehingga mengurangi penggunaan pohon dalam pembuatan kertas.
Manfaat Penulisan
Karya tulis ini diharapkan memberikan manfaat antara lain
- Membantu mengurangi penggunaan pohon dalam pembuatan kertas
- Memberikan inovasi baru dalam teknik pembuatan kertas dari ampas
tebu dengan kualitas sama seperti kertas dari serat pohon
- Menciptakan inovasi baru dalam pembuatan kertas yang dapat
diproduksi secara masal
- Memberikan prospek kedepan dalam penelitian lebih lanjut

GAGASAN

Keterbatasan Bahan Baku Pembuatan Kertas
Dewasa ini kertas menjadi kebutuhan pokok untuk memenuhi kegiatan
manusia. Hal ini memicu semakin tingginya permintaan kertas untuk pemenuhan
kebutuhan di masyarakat di Indonesia khususnya. Namun sayangmya tingginya
permintaan kertas tidak diimbangi dengan banyaknya ketersediaan bahan baku
pembuatan kertas itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, bahan baku pembuatan kertas
berasal dari serat-serat kayu yang diperoleh dari pohon. Banyak oknum-oknum
perusahaan selama ini melakukan penebangan liar guna meraup untung dalam
memenuhi kebutuhan kertas nasional. Merujuk pada kondisi itu, setiap tahunnya
Indonesia kehilangan hutan sekitar 3.5 juta hektar (Zulkifli, 2013).
7



Karena semakin berkurangnya hutan di Indonesia, banyak masalah-masalah
yang harus dihadapi, misalnya saja terjadi pemanasan global, banyak terjadi banjir
dan tanah longsor. Pemerintah juga tidak dapat berbuat banyak untuk mengurangi hal
ini, sehingga apabila dibiarkan berlanjut hal ini akan mengganggu stabilitas ekonomi
nasional Indonesia.
Bagian yang diambil dari pohon sebagai bahan baku pembuatan kertas adalah
selulosanya. Selulosa merupakan bagian utama dalam jaringan. Selulosa digunakan
sebagai komponen utama dalam pembuatan kertas. Selulosa oleh Casey (1960),
didefinisikan sebagai karbohidrat yang dalam porsi besar mengandung lapisan
dinding besar sel tumbuhan. Winarno (1997) menyebutkan bahwa selulosa
merupakan serat-serat panjang yang bernama hemiselulosa, pectin, dan protein
membentuk struktur jaringan yang memperkuat dinding sel tanaman.
Lignin merupakan bagian terbesar dari selulosa. Penyerapan sinar (warna)
oleh pulp terutama berkaitan dengan komponen ligninnya. Untuk mencapai derajat
keputihan yang tinggi, lignin tersisa harus dihilangkan dari pulp, dibebaskan dari
gugus yang menyerap sinar kuat sesempurna mungkin. Lignin akan mengikat serat
selulosa yang kecil menjadi serat-serat panjang. Lignin tidak akan larut dalam larutan
asam tetapi mudah larut dalam alkali encer dan mudah diserang oleh zat-zat oksida
lainnya.

Kekurangan Enceng Gondok sebagai Bahan Pengganti Kertas
Sudah banyak sekali bahan alternatif yang diterapkan untuk menggantikan
serat-serat kayu dari pohon sebagai bahan baku pembuatan kertas. Salah satu bahan
alternatif yang pernah dicoba adalah daun tanaman enceng gondok. Ternyata tanaman
ini dapat menghasilkan kualitas kertas yang cukup baik. Hal ini dikarenakan enceng
gondok yang mempunyai selulosa yang dapat diolah menjadi kertas sama halnya
dengan pohon yang biasanya dipakai sebagai pembuat kertas. Tetapi pembuatan
kertas dengan enceng gondok ini mempunyai kelemahan, salah satunya adalah lahan
yang sempit untuk menanam enceng gondok secara massal. Tentunya alternatif ini
8



sulit diwujudkan karena harus mempertimbangkan kebutuhan kertas di Indonesia
yang sangat tinggi. Selain itu enceng gondok mempunyai kemampuan menyerap
logam berat seperti besi (Fe), merkuri (Hg), serta logam berat lainnya. Akibatnya
dibutuhkan pemisahan awal untuk memisahkan logam berat tersebut sehingga barulah
dapat diolah menjadi kertas.Tentunya hal ini memakan waktu lebih lama dalam
proses pembuatannya dan biaya produksi yang mahal. Dan apabila diinginkan kertas
dengan serat yang halus maka ketebalan kertas akan berkurang

Ampas Tebu sebagai Bahan Alternatif pengganti Kertas
Tanaman tebu (Saccharum officinarum) merupakan tanaman berjenis rumput-
rumputan yang tumbuh pada iklim tropis. Tebu sendiri merupakan tanaman
monokotil yang mempunyai struktur sejajar dan akar serabut. (Soejardi, 1985). Di
Indonesia tanaman ini dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi gula. Sari-sari yang
terdapat pada tebu diolah sedemikian rupa sehingga menghasil produk gula siap jadi.
Pada proses produksi gula dalam satu pabriknya dapat dihasilkan ampas tebu
sekitar 35 - 40% dari berat tebu yang digiling (Indriani dan Sumiarsih, 1992). Ampas
tebu sendiri sejatinya merupakan sisa hasil penggilingan tanaman tebu dalam
produksi gula. Hasil sisa ektrasi inilah yang kemudian disebut bagase (ampas tebu).
Pada kenyataannya dalam proses pembuatan gula seringkali ampas tebu hasil
pengolahan tersebut tidak dioptimalkan pemanfaatannya.
Ampas tebu sebagian besar mengandung ligno-cellulose. Panjang seratnya
antara 1,7 sampai 2 mm dengan diameter sekitar 20 mikro, sehingga ampas tebu ini
dapat memenuhi persyaratan untuk diolah menjadi papan-papan buatan. Bagase
mengandung air 48 - 52%, gula rata-rata 3,3% dan serat rata-rata 47,7%. Serat bagase
tidak dapat larut dalam air dan sebagian besar terdiri dari selulosa, pentosan dan
lignin (Husin, 2007). Untuk lebih detail mengetahui kandungan ampas tebu dapat
dilihat pada tabel 1.

9




Tabel 1. Hasil analisis serat baggasse adalah seperti dalam tabel berikut: (Anonim,
2014)
Kandungan Kadar (%)
Abu 3,82
Lignin 22,09
Selulosa 37,65
Sari 1,81
Pentosan 27,97
SiO2 3,01

Adanya kandungan selulosa pada ampas tebu dapat digunakan dalam
pembuatan kertas. Dan bila kita ketahui, ampas tebu yang dihasilkan sebanyak 39 juta
ton per tahun (Fauzi, 2005). Untuk itu, kandungan selulosa yang didapat dari ampas
tebu tentunya dapat menghasilkan kertas yang banyak. Sehingga kita dapat
mengoptimalkan pemanfaat limbah ampas tebu hasil proses produksi gula.
Solusi yang Ditawarkan
Karena tingginya permintaan masyarakat akan kebutuhan kertas dan
kurangnya bahan baku pembuatan kertas, maka diperlukan bahan baku alternatif
untuk pembuatan kertas. Dalam hal ini, penulis ingin membuat ampas tebu
(baggasse) sebagai bahan baku alternatif pembuatan kertas. Ampas tebu yang
digunakan berasal dari limbah-limbah dari pabrik produksi gula, dimana limbah hasil
produksi kebanyakan tidak digunakan atau dimanfaatkan kembali.
Proses dasar dalam pembuatan kertas yaitu ampas tebu diolah menjadi pulp.
Untuk mengolah ampas tebu menjadi pulp, digunakan proses delignifikasi, dimana itu
merupakan proses pemisahan selulosa dari senyawa pengikatnya terutama lignin. Ada
beberapa cara untuk melakukan proses delignifikasi, yaitu proses sulfit, proses sulfat,
10



proses kraft, proses organosolv, dan lain-lain. Kemudian setelah pembuatan pulp,
langkah selanjutnya adalah proses bleaching yaitu proses pemutihan. Selanjutnya,
pulp dimasukkan ke mesin kertas. Pada tahap ini, terbentuk lembaran kertas dan
kemudian kertas dicetak sesuai ukuran yang diinginkan. Selain itu, kertas juga dipress
pada mesin press guna menghilangkan sisa air yang ada, dan yang terakhir, kertas
dimasukkan dalam dryer supaya kertas benar-benar kering.
Gambar 1. Proses Dasar Pembuatan Kertas
Untuk membuat pulp, penulis menggunakan metode organosolv, yaitu proses
memisahkan serat dengan menggunakan bahan kimia organik, misalnya methanol,
etanol, aseton, asam asetat, dan lain-lain. Pada metode organosolv ini, diberikan
mikroorganisme yang dapat membuat selulosa dari ampas tebu ini dapat memiliki
karakteristik seperti selulosa pada pohon yang biasa digunakan sebagai bahan baku
pembuatan kertas supaya kertas yang dihasilkan nantinya memiliki kualitas yang
sama atau bahkan lebih baik daripada biasanya. Prinsip dari metode ini adalah
melakukan fraksionasi biomassa (ampas tebu) menjadi komponen-komponen utama
penyusunnya (selulosa, hemiselulosa, dan lignin) tanpa banyak merusak ataupun
mengubahnya, serta dapat diolah lebih lanjut menjadi produk yang dapat dipasarkan.
Dengan menggunakan proses organosolv, permasalahan lingkungan dapat teratasi
karena dalam proses organosolv ini tidak menggunakan bahan yang mengandung
11



sulfat sehingga tidak mencemari lingkungan. Selain itu, proses organosolv juga
menghasilkan hasil sampingan yang dapat mengurangi biaya produksi. Pada metode
organosolv ini, penulis menggunakan etanol sebagai bahan kimia organiknya.





Gambar 2. Proses Organosolv
Prosedur yang dilakukan dalam metode organosolv ini yaitu ampas tebu
dimasukkan ke dalam labu alas, kemudian dimasukkan juga etanol dan juga asam
asetat pekat sebagai katalis. Kemudian larutan dimasak hingga mencapai 150
o
-200
o
C.
Setelah itu, larutan hasil delignifikasi ini, dicuci guna menghilangkan sisa etanol yang
ada.
Pulp ampas tebu selanjutnya masuk ke dalam proses selanjutnya, yaitu
bleaching, yang berguna untuk memutihkan kertas. Disini penulis ingin
menggunakan proses Bio-bleaching, yaitu proses pemutihan pulp dengan
memanfaatkan enzim dari mikroorganisme. Mikoorganisme yang digunakan adalah
kelompok white-rot fungi yang diketahui mempunyai kemampuan tinggi dalam
mendegradasi lignin. Pada proses ini digunakan dua jenis enzim yang didapat dari
mikroorganisme tersebut, yaitu enzim hemiselulase (xylanase dan mannase) yang
dapat meningkatkan bleachability pulp secara tidak langsung dan enzim lignase yang
dapat mendegradasi lignin secara langsung pada pulp yang diputihkan.
Langkah selanjutnya, pulp dimasukkan dalam mesin kertas hingga terbentuk
lembaran. Dan pada ini, pengeringan juga dilakukan supaya air sudah benar-benar
12



tidak ada dalam kertas dan kemudian kertas dicetak sesuai dengan ukuran yang
diinginkan.
Pihak Pihak Terkait Menyukseskan Program
1. Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia dan Kementrian
Kehutanan Republik Indonesia
Membuat kebijakan tentang penebangan hutan agar tidak terjadi penebangan
yang berlebihan. Serta dilakukan suatu pengawasan untuk menjaga hutan
yang ada.
2. Industri Kertas
Mengembangkan mulai dari alat- alat sampai pembuatan untuk membuat
kertas dari bahan alternatif. Agar mengurangi kebutuhan kayu untuk membuat
kertas bahkan menghilangkannya.
3. Industri Gula
Bekerjasama dengan industri kertas. Dimaksudkan agar sisa ampas tebu yang
ada dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan kertas yang berkesinambungan.
4. Lembaga Penelitian
Untuk meneliti lebih lanjut tentang pemanfaatan ampas tebu sebagai bahan
alternatif pembuatan kertas sehingga sesuai dengan kualitas kertas yang
berasal dari serat pohon.
Kerangka Aksi Strategis Program Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu sebagai
Bahan Baku Alternatif Pembuatan Kertas
Dalam rangka mewujudkan penelitian ini membutuhkan estimasi waktu
sekitar 6 bulan dengan menggandeng kerjasama dari beberapa pihak yakni
Kementrian Lingkungan Hidup RI , Kementrian Kehutanan RI , Pelaku industri
kertas dan gula , serta grup riset.
Langkah pertama melakukan kerjasama dengan Menteri Lingkungan Hidup
RI beserta Menteri Kehutanan. Dengan upaya membangun komunikasi melalui
dialog-dialog yang membahas masalah terkini lingkungan dan kondisi hutan di
13



Indonesia yang semakin parah diakibatkan penebangan liar demi pemenuhan
kebutuhan kertas saat ini. Harapannya adalah terjalinnya koordinasi antara kedua
menteri guna memnyetujui program penelitian ini agar berkembang lebih lanjut dan
dapat memfasilitasi hingga dapat berlangsung dengan berkesinambungan.
Langkah kedua menjalin kerjasama dengan grup riset yang berhubungan
dalam pengembangan ampas tebu sehingga dapat menghasilkan kulaitas melebihi
kualitas kertas terbaik di negara ini.
Langkah Ketiga melakukan kerjasama bisnis dengan pelaku industri kertas
dan pelaku industri gula di Indonesia. Dalam hal ini akan dilakukan dialog dengan
mengedepankan kerjasama yang baik antara kedua bela pihak dari pelaku industri
gula dan pelaku industri kertas. Diharapkan Pelaku industri gula bersedia menjadi
pemasok bahan baku limbah ampas tebuh yang nantinya akan digunakan sebagai
bahan baku pembuatan kertas kepada pelaku industri kertas. Dengan terwujudnya hal
ini diharapkan pula akan terjadi produksi kertas massal yang berkelanjutan sehingga
dapat perlahan-lahan menggantikan pohon sebagai bahan baku pembuatan kertas
Visi Stategis
Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3
Dialog dengan Grup riset menunjuk mitra terkait
menteri lingkungan hidup melakukan riset penyediaan bahan serta
serta menteri kehutanan RI untuk program menggalang dana


Kebijakan berupa program Blueprint proses kerjasama penyediaan
pembuatan kertas dari pembuatan kertas bahan serta penggalangan
ampas tebu dari ampas tebu investor
14



nasional. Selain itu juga diharapkan pelaku industri kertas dan industri gula untuk
melakukan investasi guna mewujudkan penelitian ini.

Gambar 3. Kerangka Visi Strategis Program Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu
sebagai Bahan Baku Alternatif Pembuatan Kertas

KESIMPULAN

Ampas Tebu sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Kertas
Memanfaatkan ampas tebu merupakan solusi yang dapat mengatasi
permasalahan dalam penggunaan kayu yang berlebihan dalam pembuatan kertas.
Selain itu ampas tebu sendiri tidak terpakai serta memiliki kandungan selulosa yang
dapat digunakan untuk membuat kertas. Pembuatan kertas dengan ampas tebu
menggunakan suatu mikroorganisme yang dapat membuat karakterisik selulosa yang
sama dengan karateristik selulosa pada kertas dari pohon. Sehingga dihasilkan kertas
dengan kualitas yang sama dengan kertas dari serat pohon.
Pengaplikasian Pembuatan Kertas Dari Ampas Tebu
Proses pembuatan kertas menggunakan proses delignifikasi, dimana itu
merupakan proses pemisahan selulosa dari senyawa pengikatnya terutama lignin. Ada
beberapa cara untuk melakukan proses delignifikasi, yaitu proses sulfit, proses sulfat,
proses kraft, proses organosolv, dan lain-lain. Pembuatan pulp ampas tebu dilakukan
dengan proses organosolv serta menggunakan mikroorganisme - mikroorganisme
yang dapat membuat selulosa dari ampas tebu ini dapat memiliki karakteristik seperti
selulosa pada pohon yang biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas.
Kemudian ampas tebu dimasukkan ke dalam labu alas, selanjutnya dimasukkan juga
etanol dan juga asam asetat pekat sebagai katalis. Kemudian larutan dimasak hingga
15



mencapai 150
o
-200
o
C. Setelah itu, larutan hasil delignifikasi ini, dicuci guna
menghilangkan sisa etanol yang ada.
Kemudian setelah pembuatan pulp, langkah selanjutnya adalah proses
bleaching yaitu proses pemutihan. Proses bleaching dilakukan dengan proses Bio-
bleaching, yaitu proses pemutihan pulp dengan memanfaatkan enzim dari
mikroorganisme. Mikoorganisme yang digunakan adalah kelompok white-rot fungi
yang diketahui mempunyai kemampuan tinggi dalam mendegradasi lignin.
Selanjutnya, pulp dimasukkan ke mesin kertas. Pada tahap ini, terbentuk lembaran
kertas dan kemudian kertas dicetak sesuai ukuran yang diinginkan. Selain itu, kertas
juga dipress pada mesin press guna menghilangkan sisa air yang ada, dan yang
terakhir, kertas dimasukkan dalam dryer supaya kertas benar-benar kering.
Realisasi Program Pemanfaatan Ampas Tebu Sebagai Bahan Alternatif
Pembuatan Kertas
Strategi ini kira- kira membutuhkan waktu kurang lebih 3 tahun yang
melibatkan 4 pemangku kepentingan, diantaranya Kementrian Lingkungan Hidup
Republik Indonesia dan Kementrian Kehutanan Republik Indonesia, Industri Kertas,
Industri Gula, serta Lembaga Penelitian.
1. Pembuatan Kebijakan dan Fasilitasi
Kami akan melakukan dialog dengan Kementrian Lingkungan Hidup
Republik Indonesia dan Kementrian Kehutanan Republik Indonesia dalam
membahas pemakain ampas tebu sebagai bahan baku alternatif pembuatan
kertas, sehingga dapat menguarangi penggunaan kayu sebagai bahan
pembuatan kertas. Output dari dialog ini adalah diberikan fasilitas yang
dapat mendukung penelitian tentang pengolahan ampas tebu.
2. Pembentukan Grup Riset
Kemudian, kami akan membentuk grup riset sesuai bidang yang terdiri
dari lembaga peneliti dan perguruan tinggi. Output dari program penelitian
16



ini adalah didapatkan kualitas kertas yang bagus dari pengolahan ampas
tebu. Serta dapat diproduksi secara massal.
3. Pengadaan Bahan Baku untuk Penelitian serta Penggalangan Dana
Kami akan menunjuk supplier penyedia bahan baku yang diperlukan
dalam kegiatan penelitian ini. Untuk itulah kamu akan bekerjasama
dengan pabrik gula dalam penyediaan ampas tebu serta menggalang dana
investasi dari perusahaan tersebut. Selain itu kami juga mengadakan
diskusi dengan pelaku industri kertas guna menggalang dana yang
digunakan untuk penelitian ini.
Manfaat dan Dampak dari Program Ini
Penerapan ampas tebu sebagai bahan baku alternatif pembuatan kertas
diharapkan dapat mengatasi masalah keterbatasan serat kayu pohon sebagai bahan
baku utama pembuatan kertas selama ini. Seperti yang kita ketahui dikarenakan
langkanya bahan utama pembuatan kertas saat ini yang memicu terjadinya
penebangan pohon liar yang memicu terjadinya banjir, longsor, dan bencana lainnya
yang mengganggu stabilitas ekonomi nasional Negara kita. Diharapkan dengan
tawaran solusi ampas tebu sebagai bahan pengganti pembuatan kertas akan dapat
memenuhi kebutuhan kertas nasional sehingga perlahan-lahan kondisi hutan dan
ekonomi Indonesia akan kembali stabil dan membaik.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad Fauzi. 2005. Pemanfaatan Ampas Tebu Bagasse Untuk Bahan Baku Pulp
Dan Kertas Masih Hadapi Kendala. http://www.menlh.go.id/pemanfaatan-ampas-
tebu-bagasse-untuk-bahan-baku-pulp-dan-kertas-masih-hadapi-kendala/. Diakses
tanggal 8 Maret 2014.
Adolof, Rony. 2013. 3,5 Juta Hektar Hutan di Indonesia Rusak Tiap Tahun.
http://regional.kompas.com/read/2013/11/07/1748309/3.5.Juta.Hektar.Hutan.Indonesi
a.Rusak.Tiap.Tahun. Diakses tanggal 9 Maret 2014.
17



Anonim. 2014. Produksi Kertas Mencapai 13 Juta Ton.
http://www.kemenperin.go.id/artikel/5020/Produksi-Kertas-Bisa-Mencapai-13-Juta-
Ton. Diakses tanggal 11 Maret 2014.
Anonim. 2012. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19239/4/Chapter%
20II.pdf . Diakses tanggal 11 Maret 2014.
Lumbanbatu, Kasdim. 2008. Pembuatan dan Karakterisasi Kertas.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6084/3/08E00693.pdf.txt. Diakses
tanggal 14 Maret 2014.
Purnawan, C., Hilmiyana D, Wantini, Fatmawati. 2012. Pemanfaatan Limbah Ampas
Tebu Untuk Pembuatan Kertas Dekorasi Dengan Metode Organosolv.
http://jurnal.pasca.uns.ac.id /index.php/ekosains/article/viewFile/264/249. Diakses
tanggal 7 Maret 2014.
Tri, Hendra. 2005. Pulp and Paper. https://groups.yahoo.com/neo/groups/tk-
itnmalang/conversations/topics/968. Diakses tanggal 13 Maret 2014.
Zyo, Detha. 2011. Berapa Banyak Kayu Yang Dibutuhkan Untuk Pembuatan Kertas.
http://www.trunity.net/sawa/view/article/163773/ . Diakses tanggal 11 Maret 2014.












18









LAMPIRAN
Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota Kelompok
1. Biodata Ketua Kelompok
A. Identitas Diri
1. Nama Gilang Ruhinda
2. Jenis Kelamin Laki-laki
3. Program Studi S1 Teknik Kimia
4. NIM 21030113140172
5. Tempat dan Tanggal lahir Pekanbaru, 28 Agustus 1995
6. e-mail gpgilgrem@gmail.com
7. No. Telp/HP 082173039563

B. Riwayat Pemdidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi SD NEGERI 002
SAIL
SMP NEGERI 4
PEKANBARU
SMA NEGERI 8
PEKANBARU
Tahun masuk-
lulus
2001-2007 2007-2010 2010-2013

C. Penghargaan dalam 10 tahun terakhir
No. Jenis Penghargaan Institusi Pemberi
Penghargaan
Tempat


19








Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan program kreativitas mahasiswa-penelitian

Semarang, 13 Maret 2014
Pengusul,


Gilang Ruhinda
NIM. 21030113140
2. Biodata Anggota Kelompok
2.1.Biodata Anggota Kelompok ke-1
A. Identitas Diri
1. Nama Aditya Gunadi
2. Jenis Kelamin Laki-laki
3. Program Studi S1 Teknik Kimia
4. NIM 21030113120056
5. Tempat dan Tanggal lahir Semarang,
6. e-mail adityagunadi1507@yahoo.com
7. No. Telp/HP 085641188235
20




B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi SD PL Santo
Yusup
SMP PL
Domenico Savio
SMA Kolese
Loyola
Tahun masuk-
lulus
2001-2007 2007 - 2010 2010 -
2013
C. Penghargaan dalam 10 tahun terakhir
No. Jenis Penghargaan Institusi Pemberi
Penghargaan
Tempat
1. Juara I Kejuaraan
Bridge Junior Provinsi
Jateng
GABSI Jawa Tengah Boja
2. Juara I Unika Cup
kategori Pelajar
(Bridge)
Unika Soegijopranoto Unika Soegijopranoto
3. Juara I Sirkuit
Bridge Pelajar-
Mahasiswa Djarum
ke 2
Djarum Bridge Club SMA Kolese Loyola
4. Juara IV Kejuaraan
Nasional Bridge
Mahasiswa
GABSI Yogyakarta
5. Juara II Unika Cup
kategori Mahasiswa
(Bridge)
Unika Soegijopranoto Unika Soegijopranoto



Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan program kreativitas mahasiswa-penelitian
21



Semarang, 13 Maret 2014
Pengusul,

Aditya Gunadi
NIM. 21030113120056

2.2.Biodata Anggota Kelompok ke-2
A. Identitas Diri
1. Nama Ricky Kurniawan
2. Jenis Kelamin Laki-laki
3. Program Studi S1 Teknik Kimia
4. NIM 21030113130147
5. Tempat dan Tanggal lahir Semarang, 4 Mei 1995
6. e-mail rikrickyy@hotmail.com
7. No. Telp/HP 08170037577
B. Riwayat Pemdidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi SDN 1 Balatentara SMP Negeri 1
Balatentara
SMA Negeri 1
Kota Tangerang
Tahun masuk-
lulus
2001-2007 2007-2010 2010-2013
C. Penghargaan dalam 10 tahun terakhir
-

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan program kreativitas mahasiswa-penelitian

Semarang, 13 Maret 2014
Pengusul,

22



Ricky Kurniawan
NIM. 21030113130147
Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Pelaksana dan Pembagian Tugas
No. Nama Program
Studi
Bidang
Ilmu
Alokasi
Waktu
Uraian tugas
1 Gilang Ruhinda Teknik
Kimia
Teknik 10jam/minggu
2 Aditya Gunadi Teknik
Kimia
Teknik 10jam/minggu
3 Ricky Kurniawan Teknik
Kimia
Teknik 10jam/minggu



Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua dan pelaksana
SURAT PERNYATAAN KETUA PENELITI / PELAKSANA


Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Gilang Ruhinda Putra
NIM : 21030113140172
Program Studi : Teknik Kimia
Fakultas : Teknik

Dengan ini menyatakan bahwa usulan PKM GT saya dengan judul :
Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu Sebagai Bahan Baku Pembuatan Kertas
Menggunakan Mikroorganisme Dengan Metode Organosolv
yang diusulkan untuk tahun anggaran 2014 bersifat original dan belum pernah
dibiayai oleh lembaga atau sumber dana lain.

Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini,
maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku
dan mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas negara.
23




Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-
benarnya.

Mengetahui,
Pembantu Rektor III
Universitas Diponegoro




Drs. Warsito, SU
NIP. 19540202 198103 1 014


Yang menyatakan,




Gilang Ruhinda
NIM. 21030113140172