Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Hari, tanggal : Senin, 13 Mei 2013

Teknologi Penyimpanan dan Gol/Kelompok : P2 / 3


Penggudangan Dosen : Dr. Ir. Indah Yuliasih, M.Sc
Asisten :
1. Ariska Duti Lina (F34090101)
2. Dimas Herdiyanto (F34090135)


PENENTUAN UMUR SIMPAN PRODUK AGROINDUSTRI


Oleh :
1. Nia Khairina (F34110041)
2. Jesafrada Bresman Sitepu (F34110044)
3. Fauzan Alhakim (F34110051)
4. Novry Amelia (F34110059)










DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013





I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penyimpanan merupakan salah satu proses penanganan pasca panen komoditi pertanian sebelum komoditi
tersebut mengalami proses lebih lanjut lagi. Dengan penyimpanan maka komoditi hasil pertanian akan lebih
mudah untuk pemakaian selanjutnya. Penyimpanan suatu komoditi perlu diperhatikan karakter dan
sifatnya,karena kondisi komoditi tersebut di pengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan, yaitu suhu,
kelembaban, oksigen dan cahaya. Faktor ini dapat memicu beberapa mekanisme reaksi yang menyebabkan
kerusakan bahan pangan. Kerusakan selama penyimpanan dapat menimbulkan bahaya jika dikonsumsi.
Perubahan yang terjadi selama penyimpanan meliputi perubahan fisika, kimia dan mikrobiologi. Untuk
dilakukan penentuan umur simpan untuk setiap produk. Penentuan umur simpan bertujuan untuk menangani
suatu produk dalam kondisi yang dikehendaki dan di pantau sampai produk mengalami kerusakan. Penentuan
ini dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode Extended Storage Studies (ESS) dan Accelerated Storage
Studies (ASS). ESS merupakan metode yang menetukan tanggal kadaluarsa dengan menyimpan suatu seri
produk pada kondisi normal sehari-hari. Sedangkan ASS menggunakan kondisi lingkungan yang dapat
mempercepat reaksi penurunan mutu produk pangan. Dengan demikian, adanya penentuan umur simpan ini
dapat memberi kemudahan untuk menentukan kondisi suatu produk agar dapat bertahan lama selama
penyimpanan dan proses distribusi.

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah merancang percobaan untuk pendugaan umur simpan, melaksanakan
percobaan pendugaan umur simpan, menentukan parameter kritis dan nilai kritisnya untuk pendugaan umur
simpan, menghitung laju penurunan mutu komoditi pertanian (k), menghitung konstanta laju penurunan mutu
yang tidak di pengaruhi suhu (K), melakukan pendugaan umur simpan.



II. METODOLOGI


2.1 Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah produk olahan hasil pertanian (keripik pisang dan
soun), plastik LDPE dan kertas.

2.2 Metode




















Produk olahan
hasil pertanian
Dikemas dengan kantong plastik
dan kertas, lalu disimpan pada suhu
25, 35 dan 45
o
Dilakukan analisis
proksimat dan kadar air
Disimpan dua bungkus
produk dengan kondisi
ekstrim
Diamati
Dianalisis dan
diambil nilai kritis
Dianalisis yang berkaitan
penurunan mutu setiap minggu
Hasil pendugaan
umur simpan
Dibuat plot
perubahan mutu
selama
penyimpanan
Dihitung laju perubahan
mutu dan konstanta
penurunan mutu
Ditentukan parameter
kritis
Dihitung perkiraan
umur simpan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
(terlampir)

3.2 Pembahasan
Umur simpan merupakan rentang waktu antara saat produk mulai dikemas dengan mutu produk yang
masih memenuhi syarat dikonsumsi. Dimana mutu sangat berpengaruh pada suatu produk, semakin baik mutu
suatu produk maka semakin memuaskan konsumen. Peraturan mengenai penentuan umur simpan bahan pangan
telah dikeluarkan oleh Codex Allimentarius Commission (CAC) pada tahun 1985 tentang Food Labelling
Regulation. Di Indonesia, peraturan mengenai penentuan umur simpan bahan pangan terdapat dalam UU
Pangan No. 7 tahun 1996 dan PP No. 69 tahun 1999.
Dalam menentukan umur simpan suatu bahan pangan, ada beberapa parameter yang perlu diperhitungkan.
Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk menguda umur simpan suatu produk pangan yaitu kadar air.
Kadar air dan aktivitas air sangat berpengaruh dalam menentukan masa simpan dari makanan, karena faktor-
faktor ini akan mempengaruhi sifat-sifat fisik (kekerasan dan kekeringan) dan sifat-sifat fisiko-kimia,
perubahan-perubahan kimia, kerusakan mikrobiologis dan perubahan enzimatis terutama pada makanan yang
tidak diolah (Winarno, 2004).
Selama penyimpanan, sejak terjadinya proses penyerapan uap air dari lingkungan yang menyebabkan
produk kering mengalami penurunan mutu menjadi lembab / tidak renyah (Robertson, 2010). Aktivitas air ini
juga dapat didefinisikan sebagai kelembaban relatif kesetimbangan (equilibrium relative humidity = ERH)
dibagi dengan 100 (Labuza, 1982). Aktivitas air menunjukkan sifat bahan itu sendiri, sedangkan ERH
menggambarkan sifat lingkungan disekitarnya yang berada dalam keadaan seimbang dengan bahan tersebut.
Bertambah atau berkurangnya kandungan air suatu bahan pangan pada suatu keadaan lingkungan sangat
tergantung pada ERH lingkungannya.
Parameter pengamatan yang kami lakukan pada bihun adalah kadar airnya. Pada saat dilakukan uji
proksimat kadar air, kami menggunakan metode duplo untuk setiap bihun dalam suhu yang berbeda. Jumlah
kadar air sangat menentukan umur simpan dari bihun tersebut. Semakin tinggi kadar air yang terkandung pada
bihun menunjukkan semakin memburuknya kualitas dari bihuntersebut.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan terhadap bihun yang dikemas dengan kertas, kami
mendapati bahwa kadar air tinggi pada suhu yang rendah, begitu juga sebaliknya.. Rendahnya kadar air pada
bihun yang disimpan pada suhu 45
o
C menunjukkan tingkat kualitas bihun yang baik. Selain itu, pada
penyimpanan 45
o
C didapati bihundengan kegaringan yang paling baik jika dibandingkan dengan bihun yang
disimpan pada suhu berbeda. Semakin rendah suhu yang digunakan untuk penyimpanan pada bihun, maka
kegaringan bihun tersebut akan menurun. Hal ini terjadi karena suhu yang ada tidak cukup mampu menguapkan
kadar air pada bihun .
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan terhadap bihun yang dikemas dengan plastik, kami
mendapati bihun yang dikemas dengan plastik memiliki kadar air terendah pada penyimpanan dengan suhu
45
o
C, sedangkan kadar air tertinggi terdapat pada bihun dengan suhu penyimpanan 35
o
C. Hal ini menunjukkan
penyimpanan bihun dengan pengemasan plastik baik dilakukan pada suhu penyimpanan 45
o
C karena mampu
menjaga kualitas dan kegaringan dari bihun tersebut.
Teknik pengolahan yang ada diantaranya adalah pengolahan beku, semi termal dan termal. Proses
pengolahan dengan suhu beku terhadap umur simpan yaitu akan memperpanjang umur simpan. Menurut
Hardenburg (1971), penyimpanan produk pada suhu rendah dan kelembaban yang tinggi adalah cara terbaik
untuk memperpanjang umur simpan produk pertanian. Pendinginan secara efektif dapat menghambat laju
respirasi sehingga proses pematangan dan penuaan dapat dihambat.
Menurut Yuniar (2004), dalam penelitiannya menyatakan bahwa penyimpanan mi pada suhu lemari es
dapat memperpanjang umur simpan mi basah. Begitu pun, menurut Pantastico (1986), penyimpanan dingin
merupakan cara yang paling umum dan ekonomis untuk penyimpanan jangka panjang bagi produk hortikultura.
Penyimpanan pada suhu dingin bertujuan untuk menekan kecepatan respirasi dan transpirasi sehingga proses ini
berjalan lambat dan sebagai akibatnya daya simpannya cukup panjang dengan susut bobot minimal, mutu masih
baik dan harga jual di pasaran tetap tinggi. Pendinginan akan mengurangi kelayuan karena kehilangan air,
menurunnya laju reaksi kimia dan laju pertumbuhan mikroba pada bahan yang disimpan (Pantastico 1986).
Menurut Hardenberg (1986), pendinginan mempunyai pengaruh besar terhadap atmosfer dalam kemasan.
Pada umumnya, pendinginan pada suhu optimum untuk komoditi yang disertai dengan kelembaban tinggi
adalah cara paling baik untuk memperpanjang umur simpan atau umur ketahanan komoditi. Pendinginan
mengendalikan pertumbuhan bakteri dan jamur yang menyebabkan pelapukan dan memperlambat metabolisme
komoditi itu sendiri. Selain itu, pendinginan dapat memperlambat respirasi sehingga dapat memperlambat
proses pematangan, penuaan dan pengeluaran panas.
Teknik pengolahan semi thermal merupakan cara mengolah produk menggunakan suhu di antara suhu
pada teknik pengolahan beku dan teknik pengolahan thermal. Menurut Singh (2008), pengaruh pada produk
yang diolah menggunakan teknik ini antara lain mikroba mudah tumbuh dan aktivitas enzimatis masih aktif
terjadi pada produk yang diolah. Hal ini disebabkan oleh suhu pertumbuhan mikroba dan suhu aktifitas enzim
optimal pada suhu ruang. Selain itu, teknik pengolahan juga tidak menunjukkan adanya kerusakan secara
langsung yang ditimbulkan oleh lingkungan seperti cracking, berkurangnya bobot secara signifikan dan lain-
lain.
Teknik pengolahan termal menggunakan suhu yang tinggi dalam mengolah suatu komoditi menjadi suatu
produk. Pengaruh dari pengolahan terhadap produk antara lain berkurangnya pertumbuhan mikroba dan
menurunnya aktifitas enzimatis. Hal Ini disebabkan oleh suhu yang tinggi sehingga pertumbuhan mikroba dan
aktifitas enzimatis menjadi terhambat. Selain itu, teknik pengolahan ini akan mempengaruhi kadar nutrisi pada
produk. Hal ini disebabkan temperatur tinggi yang diberikan sehingga memicu tegangan termal pada makanan
yang menyebabkan nutrisi pada produk menjadi terdegradasi. Pengaruh lain yang disebabkan oleh teknik
pengolahan ini adalah perubahan rasa, warna, dan tekstur dari komoditi yang diolah (Fellows 2010).Secara
umum dapat diketahui bahwa suhu tinggi akam mempercepat reaksi biokimia sehingga pematangan akan
berlangsung lebih cepat.
Cara mendapatkan umur simpan suatu produk bisa dilakukan dengan menggunakan metode Arrhenius.
Pada saat pengamatan, data yang diperoleh adalah kadar air dari produk. Langkah pertama yaitu memplotkan
data kadar air tersebut dengan menggunakan persamaan linier y=a+bx. Dimana y merupakana nilai parameter
mutu yang diamati, x adalah waktu penyimpanan, a adalah nilai parameter pada saat mulai disimpan (to), dan b
adalah laju perubahan parameter mutu (k).
Setelah nilai a dan b diperoleh, maka akan diperoleh nilai r
2
. Jika nilai koefisiensi determinasi (r) 0,95
atau koefisien korelasi (R
2
) 90 % dari persamaan linier untuk setiap suhu penyimpanan, maka nilai b = k (pada
persamaan Arrhenius). Jika nilai r atau R
2
tidak terpenuhi, buang data pencilan (yang tidak normal). Nilai k
yang diperoleh langkah kedua digunakan pada persamaan Arrhenius, yaitu k=k
o
.e
-Ea/RT
. Kemudian untuk
masing-masing suhu dikonversi ke dalam bentuk Kelvin. Nilai k yang diperoleh sebelumnya kemudian diln
kan. Kemudian untuk masing-masing nilai k dan nilai 1/T diplotkan sehingga akan diperoleh nilai A dan B
dengan persamaan -Ea/R = B yang mana nilai Ea akan ditemukan dan ln k
o
= A yang mana nilai k
o
akan
ditemukan.
Nilai Ea dan k
o
dimasukkan dalam persamaan Arrhenius, sehingga didapatkan persamaan laju penurunan
mutu yang dominan berubah selama penyimpanan. Dari persamaan laju penurunan mutu tersebut dapat diduga
nilai k untuk setiap suhu penyimpanan yang digunakan. Umur simpan produk ditentukan dengan persamaan At-
Ao = -k.t. Dimana At merupakan jumlah A pada waktu t, Ao adalah jumlah A awal, k adalah laju penurunan
mutu dan t adalah umur simpan hasil pendugaan.
Praktikum pendugaan umur simpan dilakukan berdasarkan 3 kondisi suhu yang berbeda, yaitu 25
o
C,
35
o
Cdan 45
o
C. Pada setiap kondisi suhu ini akan diamati kadar air sebagai bahan pertimbangan perubahan
kimia bahan. Literatur menjelaskan bahwa suhu merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perubahan mutu
makanan. Semakin tinggi suhu penyimpanan, maka laju reaksi berbagai senyawa kimia akan semakin cepat.
Oleh karena itu dalam menduga kecepatan penurunan mutu selama penyimpanan perlu memperhitungkan
faktor suhu. Perubahan kadar air ini diamati pada 9 sampel bahan yang dikemas dalam inkubator dan
memperhatikan perubahan kadar air yang terjadi pada masa pengamatan yang telah ditentukan.

Produk yang diamati pada praktikum ini adalah keripik pisang yang dikemas dengan kertas dan LDPE
dan bihun yang dikemas dengan kertas dan LDPE. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa keripik pisang yang
dikemas dengan plastik LDPE yang disimpan pada suhu 25
o
C memiliki umur simpan paling lama jika
dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Sedangkan kripik pisang yang dikemas dengan kertas yang disimpan
pada suhu 45
o
C memiliki umur simpan paling pendek. Hal ini berkaitan dengan kondisi lingkungan yang
digunakan sebagai perlakuan. Hal ini sesuai dengan literatur yaitu penyimpanan produk pada suhu rendah dan
kelembaban yang tinggi adalah cara terbaik untuk memperpanjang umur simpan produk pertanian.
Pendinginan secara efektif dapat menghambat laju respirasi sehingga proses pematangan dan penuaan dapat
dihambat (Hardenburg 1971).
Kemudian untuk produk bihun yang diamati oleh kelompok tiga dan empat. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa umur simpan terpanjang terdapat pada produk bihun yang disimpan dengan kemasan
LDPE dengan suhu 45
o
C. Sedangkan umur simpan terpendek terdapat pada produk bihun yang dikemas dengan
kertas pada suhu 45
o
C. Hasil pengamatan pada umur simpan terpanjang kurang sesuai dengan literatur yang
ada. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor kesalahan saat menghitung data,
kemungkinan terjadinya kerusakan produk sewaktu dimasukkan dalam oven dan kesalahan paralaks sewaktu
melihat naraca sehingga menghasilkan nilai yang salah.
Menurut data hasil praktikum, umur simpan keripik pisang yang dikemas dengan kertas berada pada
kondisi suhu 35
o
C dengan umur 28 hari. Pada kondisi suhu 25
o
C umur simpannya 29 hari sedangkan pada
kondisi suhu 45
o
C hanya dapat bertahan selama 27 hari. Keripik pisang yang dikemas dengan plastik LDPE
berada pada kondisi suhu 35
o
C dengan umur 30 hari. Pada kondisi suhu 25
o
C umur simpannya 42 hari
sedangkan pada kondisi suhu 45
o
C hanya dapat bertahan selama 22 hari. Bihun yang dikemas dengan kertas
berada pada kondisi suhu 35
o
C dengan umur 10 hari. Pada kondisi suhu 25
o
C umur simpannya 28 hari
sedangkan pada kondisi suhu 45
o
C hanya dapat bertahan selama 4 hari. Dan Bihun yang dikemas dengan
plastik LDPE berada pada kondisi suhu 35
o
C dengan umur 25 hari. Pada kondisi suhu 25
o
C umur simpannya 29
hari sedangkan pada kondisi suhu 45
o
C hanya dapat bertahan selama 35 hari.
Dari data tersebut terlihat, keripik pisang yang disimpan pada suhu 25
o
C memilki umur simpan yang
lebih lama dari pada disimpan pada suhu 35
o
C dan 45
o
C. Hal ini dipengaruhi oleh suhu,semakin tinggi suhu
maka semakin tinggi pula laju reaksi kimia yang terjadi pada produk. Suhu sangat mempengaruhi laju kimia
yang terjadi pada produk. Pada keripik pisang yang dikemas dengan kertas umur simpannya lebih rendah
daripada keripik pisang yang disimpan dengan plastik. Hal erat kaitannya dengan sifat bahan kemasan. Kertas
mempunyai karakteristik sifatnya yang sensitif terhadap air dan mudah dipengaruhi oleh kelembaban udara
lingkungan. Sedangkan plastik tidak sensitif terhadap air,dan tidak mudah terpengaruh oleh kelembaban udara
lingkungan. Selain itu, plastik juga memiliki karakteristik yang lebih baik dari kertas dalam hal permeabilitas.
Begitu pun dengan bihun, dari data tersebut bihun yang disimpan pada suhu 25
o
C memiliki umur simpan yang
lebih lama daripada suhu diatasnya.



IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pendugaan umur simpan berguna untuk mengetahui berapa lama suatu produk dapat disimpan.
Pendugaan umur simpan akan memberi keterangan pada produk akan tanggal kadaluarsanya. Pencantuman
informasi umur simpan menjadi sangat penting karena terkait dengan keamanan produk pangan dan untuk
memberikan jaminan mutu pada saat produk sampai ke tangan konsumen. Penentuan umur simpan produk
pangan dapat dilakukan dengan menyimpan produk pada kondisi penyimpanan yang sebenarnya.
Berdasarkan hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa suhu rendah umumnya merupakan kondisi
lingkungan yang terbaik dalam penyimpanan suatu produk. Semakin rendah suhu penyimpanan, maka umur
simpan akan semakin lama. Selain suhu, komposisi dari produk itu sendiri akan mempengaruhi mutu aroma,
tekstur, dan rasa produk sehingga akan mempengaruhi umur simpan produk tersebut.

4.2 Saran
Praktikum telah berjalan dengan lancar, mungkin sebaiknya desikator di dalam lab perlu diperbanyak.


DAFTAR PUSTAKA
Fellows P. J. Food Processing Technology Principals and Practice, Edisi Kedua. New York: CRC Press. 2000.
Hardenberg R. E. 1986. Dasar-dasar pengemasan, hal. 447-477. Dalam: E. R. B. Pantastico (Ed.). Fisiologi
Pasca Panen Penanganan dan Pemanfaatan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropika dan Subtropika.
Yogyakarta : Universitas Gajah Mada Pres.
. 1971. Effect of in-package environment on keeping quality of fruit and vegetable. Hort. Sci.
VI(3): 198-199.
Labuza, T.P. 1982. Shelf Life Dating of Foods. Food and Nutrition Press.,Inc., Westport, Connecticut
Pantastico Er. B., T. K. Chattopadhyay, dan H. Subramanyam. 1986. Penyimpanan dan operasi penyimpanan
secara komersial, hal. 495-536. Dalam: E. R. B. Pantastico (Ed.). Fisiologi Pasca Panen Penanganan
dan Pemanfaatan Buah-buahan dan Sayur-sayuran Tropika dan Subtropika. Yogyakarta : Universitas
Gajah Mada Pres.
Robertson GL .2010. Food Packaging and Shelf life: A Pratical Guide. Boca Raton, Florida: CRC Press.
Singh R. Paul , Dennis R. Heldman. 2008. Introduction to Food Engineering, Fourth Edition. Academic Press.
Stoecker W.F., and Jones, J.W., 1987, Refrigeration and Air conditioning, 2nd ed., McGraw-Hill International
Edition, Singapore
Yuniar K. 2004. Kondisi Industri Rumah Tangga Pangan serta Aplikasi Penggunaan Pewarna dan Pengawet
Pada Mie Basah. Skripsi. Bogor : Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Winarno F G. 2004. Kimia Pangan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.






LAMPIRAN

Kelompok 1
Produk : Keripik Pisang dikemas dengan kertas
suhu hari kadar air suhu 25 1/T (1/(273+suhu)
25 1 3.34 nilai a 2.969158016
0.003355705 3 3.525 nilai b 0.165922722
5 5.26 nilai r
2
0.632606927
8 desikator
pecah
ln Ko -1.0095
12 3.855 Ko 0.3644
15 3.835 Ea/RT 0.795151302
17 3.375 k 0.16453
19 7.535 t 29.35629.356
22 8.625
35 1 3.34 suhu 35 1/T (1/(273+suhu)
3 2.865 nilai a 2.82077
0.003246753
5 4.965 nilai b 0.16592
8 Desikator
pecah
nilai r
2
0.92768
12 3.465 ln Ko -1.0095
15 4.215 Ko 0.364
17 4.88 Ea/RT 0.7693
19 8.95 k 0.16453 t = 28.607
22 6.395
45 1 3.34 suhu 45 1/T (1/(273+suhu)
3 4.7 nilai a 2.94865
0.003144654
5 3.6 nilai b 0.17453
8 Desikator
pecah
nilai r
2
0.96395
12 2.675 ln Ko -1.0095
15 4.11 Ko 0.364
17 7.48 Ea/RT 0.7451
19 6.91 k 0.17297
22 7.18 t 27.924

Kelompok 2
Produk : Keripik Pisang dikemas dengan LDPE

hari suhu 25 a b r^2
1 3.6 4.0736 0.7748 0.975062
3 6.2
5
8 12.6
13 14.82
15 15.3
17 16.03
19 18.85
hari suhu 35 a b r^2
1 3.6 3.76124058 0.263373913 0.960463
3 5.2
5
8 5.9
13
15 6.79
17 8.54
19 9.13
hari suhu 45 a b r^2
1 3.6 1.052819512 1.158556098 0.962479
3 4.3
5
8 6.3
13 19.2
15 19.89
17 20.02
19 22.11
Suhu 1/T k ln k a b r^2
25 0.003355705 0.7748 -0.51030069 8.279159 -3114.56 -0.25723
35 0.003246753 0.263373913 -2.66836107
45 0.003144654 1.158556098 0.147174486
Suhu 25 35 45
ln k0= 8.279158681
k0 3940.877451
ear -3114.5554
ear/T -10.4515282 -10.1121929 -9.79419938
exp ear/T 2.89041E-05 4.05817E-05 5.57742E-05
k 0.113907391 0.159927581 0.219799239
t (dalam
hari)
42.49065787 30.26369793 22.02009443


Kelompok 3
Produk : Bihun dikemas dengan kertas
suhu hari kadar air suhu 25 1/T (1/(273+suhu)
25
1 0,067226891 nilai a
6,437133028
0.003355705
3 0,0610 nilai b
0,103629587
5 0,0547 nilai r
2

0,223176814
8 desikator pecah ln Ko
28,395
12
0,1143
Ko
2146801122242
15 0,0466 Ea/RT
-30,29180168
17 0,0880 k
0,150047754
t
28,33098061

35
1 0,067226891 suhu 35 1/T (1/(273+suhu)
3 0,0636 nilai a
9,654408266
0.003246753
5 0,0497 nilai b
-0,755026911
8 Desikator pecah nilai r
2

-0,792931513
12 0,0104 ln Ko
28,395
15 0,0470 Ko
2146801122242
17 0,0159 Ea/RT
-29,30830162
k
0,401197432
t = 10,595
45
1 0,067226891 suhu 45 1/T (1/(273+suhu)
3 0,0505 nilai a
9,654408266 0.003144654
5 0,0463 nilai b
-0,755026911
8 Desikator pecah nilai r
2

-0,792931513
12 0,0310 ln Ko
28,395
15 0,0433 Ko
2146801122242
17 0,0552 Ea/RT
-28,3866569
k
1,008377982
t
4,215681099

Kelompok 4
Produk : Bihun dikemas dengan LDPE
suhu hari kadar
air
suhu 25 ln k = ln b 1/T (1/(273+suhu)
25 1 6,72 nilai a 5,176178
-0,78712
0,003356
3 nilai b 0,455153
5 7,29 nilai r
2
0,903528
8 8,46 K
25
0,3704
10 T
25
29,62607
12 8,43
15 11,34
17 15,27
19 13,77
35 1 6,72 suhu 35 ln k = ln b 1/T (1/(273+suhu)
3 6,4 nilai a 6,873998 0,003247
5 6,56 nilai b -0,11658 -2,14914
8 5,7 nilai r
2
0,954345
10 K
35
0,178492
12 5,6 T
35
25,62303
15
17 5,23
19 4,33
45 1 6,72 Suhu45 ln k = ln b 1/T (1/(273+suhu)
3 7,8 nilai a 7,668263 -2,18746
0,003356 5 7,3 nilai b -0,1122
8 6,9 nilai r
2
0,861518
10 K
45
0,090055
12 6,85 T
45
35,23973
15 6
17 5,6
19 5,2
ln K
0
-23,4784
Ea/R 6700,608
K
0
6,36E-11