Anda di halaman 1dari 8

I.

Latar Belakang
Wind tunnel merupakan alat yang digunakan dalam penelitian aerodinamika untuk
mempelajari efek dari pergerakan udara yang melewati suatu objek. Sebuah wind tunnel
terdiri dari bagian tubular tertutup dengan objek yang diuji disimpan dibagian tengah pada
test suction. Sebuah sistem fan yang kuat digunakan untuk menggerakkan udara untuk
melewati objek pada test suction. Objek yang digunakan ini adalah untuk mengukur tekanan
yang dihasilkan oleh aliran udara yang digerakkan oleh fan tersebut, dan aliran udara harus
menggunakan asap yang diinjeksikan agar garis aliran udara disekitar objek dapat terlihat.
Kecepatan udara yang dibutuhkan didalam wind tunnel ini harus optimum khususnya
dibagian test suction, agar aliran udara dapat bergerak dengan baik didalam wind tunnel. Jika
dengan menggunakan fan yang biasa, kecepatan yang dihasilkan tidak akan maksimal. Oleh
karena itu, disini penulis ingin membuat sebuah fan yang dirancang agar dapat diatur sudut
dari sudu-sudunya, agar dapat menghasilkan kecepatan udara yang optimum dibagian test
suction pada wind tunenel.
Pemilihan bahan atau material yang digunakan untuk pembuatan fan dengan bahan
yang bagus. Agar kecepatan atau laju aliran udara yang dihasilkan oleh fan dapat bekerja
dengan maksimal, pemilihan bahan untuk pembuatan fan dengan mempertimbangkan berat
dan jenis bahan yang digunakan, pada pembuatan fan ini bahan yang digunakan adalah
alumunium selain murah aluminium pun ringan dan memiliki komposi material yang kuat.
II. Tujuan
1. Membuat fan dengan 3 buah sudu yang dapat diatur sudunya untuk mendapatkan
kecepatan udara yang optimum pada test suction wind tunnel.
2. Mengetahui laju aliran fluida dengan mengatur sudu fan.
III. Rumusan Masalah
Didalam rumusan masalah yang diangkat dalam tugas ini penulis memfokuskan dalam
pembuatan fan axial dengan menggunakan 3 buah sudu variable, yang akan diuji pada
sebuah wind tunel. Penulis merancang fan ini agar laju aliran udara yang dihasilkan oleh
fan bekerja dengan maksimal, fan ini digerakan menggunakan sebuah motor DC yang
dapat diatur putarannya dengan menggunakan potensio.

IV. Batasan Maslah
Penyusunan laporan Tugas Akhir ini dibatasi oleh beberapa aspek, yang mana pengujian
dilakukan pada beberapa sudut yang berbeda dari sudu fan yang telah dibuat, dan pengujian ini
pun akan dilakukan pada sebuah subsonic wind tunnel, dimana fluida yang melewati objek pada
test suction adalah udara.
V. Metodologi
Turbin angin axial atau fan axial Pada rotor jenis ini, arus arah angin (wind stream)
parallel atau sejajar dengan poros rotor.Blade dari rotor ini bebrbentuk airfoil, seperti bentuk
sayap pada pesawat. Putaran rotor terjadi karena adanya gaya lift pada blade yang ditimbulkan
oleh adanya aliran angin (wind flow). Dimana, profil sudu pada rotor ini berbentuk airfoil. Pada
saat angin menabrak sudu dari arah sejajar dengan poros rotor, timbul gayalift dan gaya drag.
Gaya lift ini lah yang menyebakan rotor berputar. Pada rotor jenis ini, berputarnya rotor sangat
dipengaruhi oleh arah angin karena rotor hanya akan berputar bila arah angin dari depan rotor
sejajar dengan poros. Oleh karena itu, diperlukan pengarah angin (wind vine) untuk menjamin
agar angin yang datang berasal dari depan sudu dan sejajar dengan poros rotor.
Jumlah blade pada rotor sumbu axial bervariasi, yaiu: satu blade, dua blade, tiga blade,
dan banyak blade (multi blade). Biasanya pemilihan jumlah blade disesuaikan dengan kebutuhan
dan kondisi angin yang ada ditempat akan dibangunnya turbin angin. Sudu fan yang yang dipilih
yaitu Setiap desain rotor pada turbin angin mempunyai keuntugan dan kerugian. Untuk rotor
sumbu horisontal, keuntungan dan kerugiannnya adalah sebagai berikut:
Keuntungan
1. Memiliki efisiensi yang tinggi
2. Cut-in wind speeds rendah
3. Perbandingan biaya dengan daya yang dieluarkan rendah
Kerugian
a. Kerugiannya adalah desain lebih rumit karena membutuhkan pengarah angin.



Kefisien energy
Ketika aliran udara melewati fane penghalang, aliran tersebut akan membentuk garis aliran
(streamline). Hal ini tejadi akibat kesetimbangan debit aliran massa (asas kontinuitas), yang
mengakibatkan terjadinya gaya hambat (drag) pada permukaan vane yang sejajar permukaan dan
gaya angkat (lift) tegak lurus permukaan. Persamaan kecepatan pola aliran (stream wise) pada
bilah dengan luas penampang berbeda yang dipengaruhi oleh faktor induksi aksial dan kecepatan
datang angin.
Suatu aliran udara yang bergerak melewati sebuah vane tidak dapat memberikan semua
energinya ke vane, karena sebagian energi kinetik udara disimpan untuk melepaskan aliran udara
dari fane setelah berinteraksi. Oleh karena itu sebuah rotor turbin tidah akan menyerap 100%
energi angin.
Untuk mengekspresikan energi output P dari sebuah turbin, sebuah besaran tanpa satuan
koefisien Cp diikutsertakan. Maka persamaan energi outputnya menjadi :
P =

x Cp x x A x u
3
......................................................................................(2.4)
Dimana :
P = energi output (watt)
Cp = koefisien energi
= massa jenis udara
A = Luas rotor (m
3
)
U = kecepatan angin (m/s)
2.1 Tip Speed Ratio
Tip speed ratio (TSR) untuk turbin angin adalah rasio kecepatan pada ujung bilah turbin
terhadap kecepatan angin sesungguhnya. Jika kecepatan pada ujung bilah sama dengan
kecepatan angin sesungguhnya maka rasionya adalah 1. Angka TSR ada kaitannya dengan
efisiensi turbin angin itu sendiri dimana variasinya bergantung pada jenis bilah yang digunakan.
Semakin tinggi angka TSR maka semakin tinggi pula tingkat kebisingan yang dihasilkan
sehingga diperlukan bilah yang lebih kuat agar dapat menahan gaya sentrifugal yang dihasilkan
putaran turbin
2.2 Pertimbangan Aerodinamika
Rancangan aerodinamik yang sangat baik akan meningkatkan efisiensi sudu dan efisiensi
rotor. Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa optimisasi antara biaya perancangan
aerodinamik dengan peningkatan daya yang dihasilkan harus cukup rasional.Perhitungan
efisiensi rotor kadang kala membutuhkan komputasi dengan biaya tinggi dan waktu yang
lama.Hal ini tentu tidak perlu dilakukan jika peningkatan efisiensinya tidak sebanding.Sudu yang
dirancang dengan pertimbangan aerodinamik yang sangat baik biasanya menghasilkan geometri
sudu yang kompleks.Bentuk geometri yang kompleks tentu akanmempertinggi tingkat kesulitan
dan juga biaya pembuatan.
Perancangan aerodinamik akan menyarankan modifikasi airfoil (bentuk irisan melintang
sudu) menjadi bentuk yang tidak konvensional.Bahkan pada tahap desain lanjut dapat juga
diciptakan bentuk-bentuk airfoil. Secara ideal bentuk airfoil sudu harus mempunyai efisiensi
aerodinamik yang tinggi. Efisiensi aerodinamik yang dimaksud di sini adalah perbandingan
antara gaya angkat dan gaya hambat dari airfoil.
Dalam mekanika fluida, bilangan reynold adalah rasio antara gaya inersia (vsp) terhadap
gaya viskos (/L) yang menghubungkan kedua gaya tersebut dengan suatu aliran tertentu.
Bilangan ini digunakan untuk mengindetifikasikan jenis aliran yang berbeda yaitu laminar dan
turbulen. Nama diambil dari Osborne Reynold (1884-1912). Bilangan Reynold merupakan salah
satu tak berdimensi yang paling penting dalam mekanika fluida dan digunakan, seperti halnya
dengan bilangan tak berdimensi lain untuk memberikan kriteria untuk menentukan dynamic
similitude. Jika dua pola aliran yang mirip secara geometris, mungkin pada fluida yang berbeda
dan laju alir yang berbeda pula, memiliki nilai bilangan tak berdimensi yang relevan, keduanya
disebut memiliki kemiripan dinamis.



keterangan
v
s
kecepatan fluida,
L panjang karakteristik,
viskositas absolut fluida dinamis,
viskositas kinematik fluida: = / ,
kerapatan (densitas) fluida.
Misalnya pada aliran dalam pipa, panjang karakteristik adalah diameter pipa, jika penampang
pipa bulat, atau diameter hidraulik, untuk penampang tak bulat.
1. Tipe aliran fluida
a. Aliran laminar
Aliran laminar adalah aliran fluida yang bergerak dengan kondisi lapisan-lapisan
(lanima-lanima) membentuk garis-garis alir yang tidak berpotongan satu sama lain. Hal
tersebut ditunjukan oleh percobaan Osborne Reynolds. Pada laju aliran rendah aliran
laminer tergambar sebagai filamen panjang yang mengalir sepanjang aliran. Aliran ini
memiliki Bilangan Reynolds lebih kecil dari <2300.
b. Aliran Turbulen
Aliran turbulen adalah aliran fluida yang partikel partikelnya bergerak secara acak
dan tidak stabil dengan kecepatan berfluktuasi yang saling berinteraksi. Akibat dari hal
tersebut garis alir antar partikel fluidanya saling berpotongan. Oleh Osborne Reynolds
digambarkan sebagai bentuk yang tidak stabil yang bercampur dalam waktu yang cepat
yang selanjutnya memecah dan menjadi takterlihat. Aliran turbulen mempunyai bilangan
Reynolds yang lebih besar dari >4000.
c. Aliran transisi
Aliran transisi merupakan aliran peralihan dari aliran laminar ke aliran turbulen.
Ketika kecepatan aliran itu bertambah atau viskositasnya berkurang, yang disebabkan
oleh meningkatnya temperature. Maka gangguan-gangguan akan terus teramati. Keadan
peralihan tegantung pada viskositas fluida, aliran transmisi ini nilai bilangan reynoldsnya
diantara 2300 samapai 4000.

Melakukan studi literatur
mengenai fan pada wind
ttunnel
Perancangan fan:
1. Konsep Desain.
2. Penentuan model Sudu fan berdasarkan NACA.
3. Perhitunga daya sudu fan

Simulasi Numerik pada fan

Mulai
Selesai
Sesuai
Target
tidak
Analisa dan
Kesimpulan
Pengujian Sudu fan dilakukan
pada Wind Tunnel
Perbaikan

1. Chart flow













VI. Daftar Acuan
1. Kadir, A.1995. ENERGI. Edisi kedua. Jakarta : universitas Indonesia
2. Bruce R. Munson dan Donald f. young . 2004. MEKANIKA FLUIDA edisi keempat
Jakarta : erlangga. Jl. H. Baping Raya No.100.
3. Suwidodo, 2007 MEKANIKA FLUIDA. Politeknik Negeri Bandung, teknik konversi
energy.

VII. Jadwal pelaksanaan Tugas Akhir
3.3 Rencana Pelaksanaan Tugas Akhir

Rencana
Kegiatan

(Minggu Ke)

Desember

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2
Pengajuan Proposal
Studi Literatur dan Pengamatan
Belanja bahan Tugas Akhir
Pembuatan Alat
Pengujian Alat dan Pengambilan
Data

Seminar Tugas Akhir

Pengolahan Data Hasil Pengujian

Penyusunan Laporan
Revisi Laporan
Sidang

VIII. Rencana Anggaran
Nama
Komponen
Jumlah Satuan
Harga
satuan
(Rp)
Total
(Rp)
Kabel 1 4 m 2.000 8.000
Motor 1 Unit 300.000 300.000
alumunium 1 Lembar (50x60 cm) 200.000 200.000
Potensio 1 Buah 100.000 100.000
Mur 10 Buah 300 3.000
hampelas 1 Lembar 5.000 5.000
Tukang bubut - - 200.000 200.000
Pilox 1 Buah 24.000 24.000
Besi 1 12 cm 30.000 30.000
Lain lain 50.000
JUMLAH 920.000