Anda di halaman 1dari 16

1

TUGAS CASE REPORT


BLOK ELEKTIF

HUBUNGAN ANTARA KEBUTUHAN SPIRITUAL DAN
KETENANGAN JIWA PADA LANSIA DALAM PERAWATAN
PALIATIF


DISUSUN OLEH:
NABILA
1102010197

KELOMPOK 5 PALLI ATI VE CARE

Dosen Pengampu: dr. Riyani Wikaningrum, DMM, MSc

Dosen Tutor: dr. Taufiq Nashrullah, S.si


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
2013 / 2014
2

DAFTAR ISI

Halaman Judul.......................................................................................................i
Daftar Isi...............................................................................................................ii
Abstrak................................................................................................................iii
Pendahuluan..........................................................................................................1
Case Report...........................................................................................................2
Diskusi..................................................................................................................3
Kesimpulan.........................................................................................................10
Saran...................................................................................................................11
Ucapan Terimakasih...........................................................................................12
Daftar Pustaka.....................................................................................................13


3

ABSTRAK

Latar Belakang: aspek spiritual dalam perawatan paliatif disebutkan berhubungan dengan agama seseorang,
keimanan dan hubungan dengan tuhannya sesuai ajaran agamanya. Setiap lapisan masyarakat perlu mengetahui
bagaimana cara mengaplikasikan pemenuhan kebutuhan spiritual, termasuk lansia itu sendiri.

Presentasi Kasus: seorang wanita (70 tahun) mengalami serangan struk mendadak sebulan yang lalu. Pasien
memiliki riwayat tekanan darah yang tinggi dan penyakit jantung. Anak pertama pasien juga memiliki riwayat
penyakit yang sama. Pada saat kunjungan, kesadaran pasien komposmentis, TD 140/90 mmHg, lumpuh tubuh
sebelah kanan, dipasang kateter urin, bagian belakang tubuh pasien terdapat lecet akibat pemakaian diapers.
Pasien sudah mulai pikun namun masih bisa diajak berkomunikasi dan masih ingat waktu shalat. Pasien
memilih dirawat dirumah dengan anak-anak pasien. Dan tujuan keluarga memilih perawatan paliatif adalah
supaya ada dokter yang datang ke rumah.

Diskusi dan Simpulan: spiritual adalah kebutuhan dasar dan pencapaian tertinggi manusia dalam hidupnya
tanpa memandang suku atau asal usul. Karakteristik spiritual tidak hanya terpaku pada hubungan manusia
dengan Tuhan, namun juga dengan diri sendiri, orang lain dan alam. Kebutuhan spiritual pada lansia dikatakan
memiliki tiga poin penting yaitu mencari arti dan tujuan hidup, mencintai dan dicintai serta rasa ketertarikan,
dan memberi dan mendapatkan maaf. Dengan tujuan untuk meningkatkan spiritualitas pada lansia, maka dapat
dilakukan satu metode alternatif, yaitu Spiritual Night Care. Metode ini membiasakan lansia untuk mendengar /
membaca Al-Quran supaya bertambah dekat dengan Sang Pencipta.

Keywords: spiritual, lansia, spiritual night care, perawatan paliatif

















4

PENDAHULUAN

Menurut WHO (2002), Perawatan Paliatif adalah pendekatan yang bertujuan untuk
memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang
berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan
peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan
masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual.
Salah satu dari aspek perawatan paliatif terdapat aspek spiritual, yaitu yang berhubungan
dengan agama seseorang, keimanan dan hubungan dengan tuhannya sesuai ajaran agamanya.
Spiritual juga disebut sebagai sesuatu yang dirasakan tentang diri sendiri dan hubungan
dengan orang lain, yang dapat diwujudkan dengan sikap mengasihi orang lain, baik dan
ramah terhadap orang lain, menghormati setiap orang untuk membuat perasaan senang
seseorang. Spiritual adalah kehidupan, tidak hanya doa, mengenal dan mengakui Tuhan
(Nelson, 2002).
Cara mengaplikasikan pemenuhan kebutuhan spiritual perlu dipahami oleh semua
masyarakat, termasuk lansia, karena tidak jarang berpandangan tentang dimensi spiritual
hanya terbatas pada kegiatan ritual ibadah, atau dalam kaitan hubungan vertikal antara
manusia dengan Tuhannya. Sedangkan karakteristik spiritual itu tidak hanya menyangkut
hubungan dengan Tuhan, tetapi masih ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan, diantaranya
hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan orang lain, dan hubungan dengan alam.













5

CASE REPORT

Identitas pasien:
1. Nama : Ny. S
2. Jenis kelamin : Perempuan
3. Usia : 70 Tahun
4. Alamat : Tangerang Selatan
5. Agama : Islam
6. Pekerjaan : -
7. Tanggal Kunjungan : 15 November 2013
Seorang wanita berusia 70 tahun bernama Ny. S mengalami serangan struk sebulan yang
lalu dan segera dibawa ke RS terdekat dari rumah pasien didaerah Serang, Banten. Pasien
memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Anak pertama pasien juga
memiliki riwayat penyakit yang sama dan sempat menjalani operasi akibat pembuluh darah
dikepala pecah. Kesadaran pasien komposmentis, dipasang kateter urin, pasien tampak sakit
sedang, tekanan darah 140/90 mmHg, lumpuh pada tubuh sebelah kanan, dan pada
punggung terdapat luka lecet akibat pemakaian diapers. Sebelum dibawa ke RS, pasien juga
pernah dipijat dan menjalani terapi akupuntur, namun anak pasien memilih untuk membawa
pasien kembali ke RS.
Suami pasien masih hidup dan memiliki 10 orang anak namun hanya 6 diantaranya yang
masih hidup. Pasien memilih untuk dirawat dirumah anak pertamanya di daerah Tangerang
Selatan karena dekat dengan rumah anak-anaknya yang lain. Pasien juga masih dapat diajak
berbicara walaupun kata-kata yang keluar tidak terlalu jelas. Walaupun ingatan pasien sudah
mulai berkurang, namun pasien selalu ingat waktu untuk shalat. Pasien tayamum dan shalat
berbaring diatas kasur.
Karena keadaan fisik yang lemah, anak-anak pasien merasa tidak tega jika membawa
pasien ke RS. Selain karena perjalanan yang cukup jauh, pasien juga tidak bisa
membaringkan badannya di dalam mobil selama perjalanan menuju RS. Hal ini membuat
anak-anak pasien mencari cara supaya ada dokter yang bisa datang ke rumah. Akhirnya,
salah seorang anak pasien mendapat informasi tentang Perawatan Paliatif dan memutuskan
untuk memilih perawatan tersebut dengan harapan supaya ada dokter yang bisa datang ke
rumah untuk memeriksa pasien.





6

DISKUSI

PERAWATAN PALIATIF
Perawatan paliatif menurut Doyle (1998) adalah suatu studi dan penanganan terhadap pasien-
pasien dengan penyakit yang akitf, progresif dan lama yang prognosisnya terbatas dan fokus
perawatannya adalah pada kualitas hidup. Atau menurut WHO (2002), perawatan paliatif
adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga yang
menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa,
melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta
penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual.
Dasar perawatan paliatif adalah pendekatan holistik: pasien dirawat secara seimbang dari
sudut fisik psikologis, sosial (termasuk keluarganya) dan spiritual. Oleh karena itu pola dasar
pemikiran perawatan paliatif adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai proses normal
2. Tidak mempercepat atau menunda kematian
3. Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang mengganggu
4. Menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual
5. Mengusahakan agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya
6. Mengusahakan membantu mengatasi suasana duka cita pada keluarga (bereavement)
SPIRITUAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN LANSIA
Spiritual adalah kebutuhan dasar dan pencapaian tertinggi seorang manusia dalam
kehidupannya tanpa memandang suku atau asal-usul. Kebutuhan dasar tersebut meliputi:
kebutuhan fisiologis, keamanan dan keselamatan, cinta kasih, dihargai dan aktualitas diri.
Aktualitas diri merupakan sebuah tahapan spiritual seseorang, dimana berlimpah dengan
kreativitas, intuisi, keceriaan, sukacita, kasih sayang, kedamaian, toleransi, kerendahatian
serta memiliki tujuan hidup yang jelas (Masl 1970, dikutip dari Prijosaksono, 2003).
Spiritual adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha
Pencipta (Hamid, 1999). Spiritual juga disebut sebagai sesuatu yang dirasakan tentang diri
sendiri dan hubungan dengan orang lain, yang dapat diwujudkan dengan sikap mengasihi
orang lain, baik dan ramah terhadap orang lain, menghormati setiap orang untuk membuat
perasaan senang seseorang. Spiritual adalah kehidupan, tidak hanya doa, mengenal dan
mengakui Tuhan (Nelson, 2002).
Pada presentasi kasus diatas, walaupun Ny. S sudah mulai lupa dan sulit diajak
berkomunikasi, namun Ny. S masih ingat waktu shalat tanpa perlu diingatkan kembali oleh
anak-anaknya. Ny. S tayamum dan shalat berbaring diatas kasur. Hal ini membuktikan bahwa
pasien memiliki keyakinan yang kuat dalam hubungannya dengan Sang Pencipta.

7

Terdapat beberapa karakteristik spiritual yang meliputi:
1. Hubungan dengan diri sendiri
Merupakan kekuatan dari dalam diri seseorang yang meliputi pengetahuan diri yaitu
siapa dirinya, apa yang dapat dilakukannya dan juga sikap yang menyangkut
kepercayaan pada diri sendiri, percaya pada kehidupan atau masa depan, ketenangan
pikiran, serta keselarasan dengan diri sendiri. Kekuatan yang timbul dari diri sendiri
seseorang membantunya menyadari makna dan tujuan hidupnya, diantaranya
memandang pengalaman hidupnya sebagai pengalaman yang positif, kepuadan hidup,
optimis terhadap masa depan, dan tujuan hidup yang semakin jelas (Konzier, Erb, Blais
& Wilkinson, 1995)
Kepercayaan (Faith). Menurut Fowler dan Keen (1985) kepercayaan bersifat universal,
dimana merupakan penerimaan individu terhadap kebenaran yang tidak dapat dibuktikan
dengan pikiran yang logis. Kepercayaan dapat memberikan arti hidup dan kekuatan bagi
individu ketika mengalami kesulitan atau stress. Mempunyai kepercayaan berarti
mempunyai komitmen terhadap sesuatu atau seseorang sehingga dapat memahami
kehidupan manusia dengan wawasan yang lebih luas.
Harapan (Hope). Harapan berhubungan dengan ketidakpastian dalam hidup dan
merupakan suatu proses interpersonal yang terbina melalui hubunga saling percaya
dengan orang lain, termasuk dengan Tuhan. Harapan sangat penting bagi individu untuk
mempertahankan hidup,tanpa banyak harapan banyak orang menjadi depresi dan lebih
cenderung terkena penyakit (Grimm, 1991).
Makna atau arti dalam hidup (Meaning of Life). Perasaan mengetahui makna hidup,
yang kadang diidentikan dengan perasaan dekat dengan Tuhan, merasakan hidup sebagai
suatu pengalaman yang positif seperti membicarakan tentang situasi yang nyata,
membuat hidup lebih terarah, penuh harapan tentang masa depan, merasa mencintai dan
dicintai oleh orang lain (Puchalski, 2004).

2. Hubungan dengan orang lain
Hubugan ini terbagi atas harmonis dan tidak harmonisnya hubungan dengan orang
lain. Keadaan harmonis meliputi pembagian waktu, pengetahuan dan sumber secara
timbal balik, mengasuh anak, mengasuh orangtua dan orang yang sakit, serta meyakini
kehidupan dan kematian. Sedangkan kondisi yang tidak harmonis mencakup konflik
dengan orang lain dan resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi serta
keterbatasan asosiasi (Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 1995).
Hubungan dengan orang lain lahir dari kebutuhan akan keadilan dak kebaikan,
menghargai kelemahan dan kepekaan orang lain, rasa takut akan kesepian, keinginan
dihargai dan diperhatikan dan lain sebagainya. Dengan demikian apabila seseorang
mengalami kekurangan ataupun mengalami stress, maka orang lain dapat memberi
bantuan psikologis dan sosial (Carm & Carm, 2000).
Maaf dan Pengampunan (Forgiveness). Menyadari kemampuan untuk menggunakan
sumber dan kekuatan dalam diri sendiri seperti marah, mengingkari, rasa bersalah, malu,
bingung, meyakini bahwa Tuhan sedang menghukum serta mengembangkan arti
penderitaan dan meyakini hikmah dari suatu kejadian atau penderitaan. Dengan
8

pengampunan, seseorang individu dapat meningkatkan koping terhadap stress, cemas,
depresi dan tekanan emosional, penyakit fisik serta meningkatkan perilaku sehat dan
perasaan damai (Puchalski, 2004).
Cinta kasih dan dukungan sosial (Love and Social Support). Keinginan untuk
menjalin dan mengembangkan hubugan antar manusia yang positif melalui keyakinan,
rasa percaya dan cinta kasih. Teman dan keluarga dekat dapat memberikan bantuan dan
dukungan emosional untuk melawan banyak penyakit. Seseorang yang mempunyai
pengalaman cinta kasih dan dukungan sosial yang kuat cenderung menentang perilaku
tidak sehat dan melindungi individu dari penyakit jantung (Hart, 2002).

3. Hubungan dengan alam
Harmoni merupakan gambaran hubungan seseorang dengan alam yang meliputi
pengetahuan tentang tanaman, pohon, margasatwa, iklim dan berkomunikasi dengan
alam serta melindungi alam tersebut (Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 1995).
Rekreasi (J oy). Rekreasi merupakan kebutuhan spiritual seseorang dalam
menumbuhkan keyakinan, rahmat, rasa terima kasih, harapan dan cinta kasih. Dengan
rekreasi seseorang dapat menyelaraskan antara jasmani dan rohani sehingga timbul
perasaan kesenangan dan kepuadan dalam pemenuhan hal-hal yang dianggap penting
dalam hidup seperti menonton televisi, mendengar musik, olahraga dan lain-lain
(Puchalski, 2004)
Kedamaian (Peace). Kedamaian merupakan keadilan, rasa kasihan dan kesatuan.
Dengan kedamaian seseorang akan merasa lebih tenang dan dapat meningkatkan status
kesehatan (Hamid, 2000)

4. Hubungan dengan Tuhan
Meliputi agama maupun tidak. Keadaan ini menyangkut sembahyang dan berdoa,
keikutsertaan dalam kegiatan beribadah, perlengkapan keagamaan, serta bersatu dengan
alam (Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 1995).
Dapat disimpulkan bahwa seseorang terpenuhi kebutuhan spiritual apabila mampu
merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaannya di dunia /
kehidupan, mengembangkan arti penderitaan serta meyakini hikmah dari satu kejadian
atau penderitaan, menjalin hubungan yang positif dan dinamis, membina integritas
personal dan merasa diri berharga, merasakan kehidupan yang terarah terlihat melalui
harapan dan mengembangkan hubungan antar manusia yang positif (Hamid, 1999).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi spiritual menurut Taylor (1997) dan Craven &
Hirrnle (1996) dalam Hamid (2000), antara lain:
1. Tahap perkembangan
Spiritual berhubungan dengan kekuasaan non material, seseorang harus memiliki
beberapa kemampuan berfikir abstrak sebelum mulai mengerti spiritual dan menggali
suatu hubungan dengan yang Maha Kuasa. Hal ini bukan berarti bahwa spiritual tidak
memiliki makna bagi seseorang

9

2. Peranan keluarga penting dalam perkembangan spiritual individu
Tidak begitu banak yang diajarkan tentang Tuhan dan aga,a, tapi individu belajar tentang
Tuhan, kehidupan dan diri sendiri dari tingkah laku keluarganya. Oleh karena itu
keluarga merupakan lingkungan terdekat dan dunia pertama dimana individu mempunyai
pandangan, pengalaman terhadap dunia yang diwarnai oleh pengalaman dengan
keluarganya (Taylor, Lillis & LeMone, 1997)
3. Latar belakang etnik dan budaya
Sikap, keyakinan dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan sosial budaya. Pada
umumya seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual keluarga. Anak belajar
pentingnya menjalankan kegiatan agama, termasuk nilai moral dari hubungan keluarga
dan peran serta dalam berbagai bentuk kegiatan keagamaan
4. Pengalaman hidup sebelumnya
Pengalaman hidup baik yang positif maupun negatif dapat mempengatuhi spiritual
seseorang dan sebaliknya juga dipengaruhi oleh bagaimana seseorang mengartikan
secara spiritual pengalaman tersebut (Taylor, Lilis & LeMone, 1997). Peristiwa dalam
kehidupan seseorang dianggap sebagai suatu cobaan yang diberikan Tuhan kepada
manusia menguji imannya
5. Krisis dan perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan ke dalam spiritual seseorang. Krisis sering
dialami ketika seseorang mengalami penyakit, penderitaan, proses penuaan, kehilangan
dan bahkan kematian,, khususnya pada pasien dengan penyakit terminal atau dengan
prognosis yang buruk. Perubahan dalam kehidupan dan krisis yang dihadapi tersebut
merupakan pengalam spiritual yang bersifat fiskal dan emosional (Toth, 1992; dikutip
dari Craven & Hirnle, 1996)
6. Terpisah dari ikatan spiritual
Menderita sakit terutama yang bersifat akut seringkali membuat individu merasa
terisolasi dan kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial. Kebiasaan
hidup sehari-hari juga berubah, antara lain tidak dapat menghadiri acara resmi, mengikuti
kegiatan keagaamm atau tidak dapat berkumpul dengan keluarga atau teman dekat yang
bisa memberikan dukungan setiap saat diinginkan (Hamid, 2000)
7. Isu moral terkait dengan terapi
Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara Tuhan untuk
menunjukkan kebesaran Nya, walaupun ada juga agama yang menolak intervensi
pengobatan (Hamid, 2000)
Perkembangan Spiritual pada Lansia
Menurut Undang-undang no. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia menyatakan
bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Sementara itu
WHO mengatakan lanjut usia meliputi usia pertengahan yaitu kelompok usia 45 59 tahun
(Nugroho, 1999) dan mengidentifikasikan lanjut usia sebagai kelompok masyarakat yang
mudah terserang kemunduran fisik dan mental (Watson, 2003).
10

Berbagai istilah berkembang terkait dengan lansia, yaitu: gerontologi, geriatrik dan
keperawatan gerontik.gerontologi adalah ilmu yang mempelajari secara khusus mengenai
faktor-faktor yang menyakut lansia.
Kelompok usia pertengahan dan lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk kegiatan agama
dan berusaha untuk mengerti agama dan berusaha untuk mengerti nilai-nilai agama yang
diyakini oleh generasi muda. Perasaan kehilangan karena pensiun dan tidak aktif serta
menghadapi kematian orang lain (saudara, sahabat) menimbulkan rasa kesepian dan mawas
diri. Perkembangan filosofis agama yang lebih matang sering dapat membantu orang tua
untuk menghadapi kenyataan, berperan aktif dalam kehidupan dan merasa berharga serta
lebih dapat menerima kematian sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak atau dihindarkan
(Hamid, 2000)
Penyesuaian-Penyesuaian pada Lansia
Beberapa penyesuaian yang dihadapi para lansia sangat mempengaruhi kesehatan jiwanya,
diantanya:
1. Penyesuaian terhadap masalah kesehatan
Setelah orang memasuki lanjut usia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik
yang bersifat patologis berganda, misalnya tenaga berkurang, kulit makin keriput, gigi
mulai rontok, tulang makin rapuh dan lain-lain (Kuntjoro, 2002). Adapun perubahan fisik
yang dialami meliputi seluruh sistem tubuh yakni sistem pendengaran, penglihatan,
persarafan dan sistem tubuh lainnya (Nugroho, 1999)
2. Penyesuaian pekerjaan dan masa pensiun
Sikap kerja sangat penting bagi semua tingkat usian terutama usia lanjut karena sikap
kerja ini tidak hanya kualitas kerja yang mereka lakukan tetapi juga sikapnya terhadap
masa pensiun yang akan datang (Hurlock, 1999). Masa pensiun seringkali dianggap
sebagai suatu kondisi yang tidak menyenangkan sehingga menjelang masa tiba mereka
merasa cemas pada kehidupan yang akan dihadapinya. Oleh karena itu, sebagian lanjut
usia umumnya kurang menikmati masa tua dengan hidup santai, namun sebaliknya
mengalami masalah kejiwaan maupun fisik (Rini, 2001)
3. Penyesuaian terhadap berbagai perubahan dalam keluarga
Penyesuaian yang dihadapi lanjut usia diantaranya hubungan dengan pasangan,
perubahan perilaku, seksual dan sikap sosialnya dan status ekonomi. Khususnya aspek
sosial pada usia lanjut yang pada umumnya mengalami penurunan fungsi tubuh sering
menimbulkan keterasingan. Dari segi ekonomi, pendapatan yang diperoleh lansia akan
berkurang karena tidak memiliki pekerjaan lagi (Kuntjoro, 2002). Selain itu, lanjut usia
akan merasa sulit untuk menyesuaikan diri dengan permasalahan keuangan karena
menyadari kecilnya kesempatan untuk memecahkan masalah tersebut (Hurlock, 1999)
4. Penyesuaian terhadap hilangnya pasangan dan orang yang dicintai
Penyesuaian utama yang harus dilakukan oleh lanjut usia adalah penyesuaian yang
dilakukan karena kehilangan pasangan hidup. Kehilangan tersebut dapat disebabkan oleh
kematian atau perceraian (Hurlock, 1999). Kondisi ini mengakibatkan gangguan
11

emosional dimana lanjut usia akan merasa sedih akibat kehilangan orang yang
dicintainya (Hidayat, 2004)
KEBUTUHAN SPIRITUAL DAN KETENANGAN JIWA PADA LANSIA
Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan mencari arti dan tujuan hidup, kebutuhan
untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan, kebutuhan untuk memberikan dan
mendapatkan maaf. Meningkatnya usia harapan hidup masyarakat Indonesia, membawa
konsekuensi pada meningkatnya populasi lanjut usia dari tahun ke tahun, sehingga
menimbulkan kebutuhan pelayanan sosial bagi lansia dalam mengisi hari tuanya (Depsos,
2007). Perubahan-perubahan yang signifikan pada lansia, antara lain: perubahan gaya hidup
dan keuangan, merawat pasangan yang sakit, menghadapi kematian, kehilangan pasangan
hidup dan orang-orang yang dicintai, ketidakmampuan fisik dan penyakit kronis, kesepian
serta perubahan lainnya (Elderly Health Service, 2003; Berger & William, 1992).
Berdasarkan kegiatan spiritual, kondisi lansia meliputi dua hal, yaitu mengenai ibadah
agama dan kegiatan didalam organisasi sosial keagamaan. Dalam hal ini kehidupan spiritual
mempunyai peranan penting, seseorang yang mensyukuri nikmat umurnyya tentu akan
memelihara umurnya dan mengisi dengan hal-hal yang bermanfaat (Depsos, 2007). Cara
mengaplikasikan pemenuhan kebutuhan spiritual perlu dipahami oleh semua masyarakat,
termasuk lansia, karena tidak jarang berpandangan tentang dimensi spiritual hanya terbatas
pada kegiatan ritual ibadah, atau dalam kaitan hubungan vertikal antara manusia dengan
tuhannya. Sedangkan karakteristik spiritual itu tidak hanya menyangkut hubungan dengan
Tuhan, tetapi masih ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan, diantaranya hubungan dengan
diri sendiri, hubungan dengan orang lain, dan hubungan dengan alam.
Aspek spiritual pada masa lansia selayaknya telah menjadi bagian dari dimensi
manusia yang matang. Kebutuhan spiritual yang terpenuhi pada masa ini akan membuat
lansia mampu merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaannya di dunia,
mengembangkan arti penderitaan dan meyakini suatu hikmah dari suatu kejadian /
penderitaan, menjalin hubungan yang positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa percaya
diri dan cinta. Lansia juga akan mampu membina integritas personal dan merasa dirinya
berharga, merasakan kehidupan yang terarah terlihat melalui harapan, serta mampu
mengembangkan hubungan antar manusia yang positif (Hamid, 2000).
Pada lansia dengan tingkat spiritual yang tinggi maka akan dapat menerima kenyataan
yang akan diterimanya nanti dan siap dalam menghadapi kematian, sedangkan pada lansia
dengan dengan tingkat spiritual yang rendah maka mereka akan sulit dalam menerima
keadaan yang menimbulkan kemungkinan terburuk yaitu menyalahkan takdir Allah SWT.
Salah satu alternatif yang dapat diberikan untuk peningkatan tingkat spiritual pada
lansia adalah metode Spiritual Night Care. Berdasarkan penelitian Ramachandran (1995),
diketahui bahwa pada lobus temporal manusia terdapat Gog Spot yang membuat manusia
selalu terkait dengan Tuhan nya. Penelitian inilah yang mendasari tercetusnya ide penerapan
metode Spiritual Night Care, dalam membangun tingkat spiritual pada lansia sehingga
mampu menerima perubahan yang terjadi pada diri mereka. Metode ini dijalankan dengan
12

cara membiasakan lansia untuk mendengarkan atau lebih baiknya membaca ayat-ayat Al-
Quran bersama sehingga akan terbentuk ketenangan jiwa yang akan berdampak langsung
pada kedekatan dengan Allah SWT. Selain hal ini, kegiatan lain yang akan diterapkan pada
metode ini adalah terapi zikir malam bersama sehingga hubungan langsung antara pasien dan
Allah pun akan berlangsung dengan baik. Allah berfirman:




Artinya: Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari
Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman (QS. Yunus 10: 57)
Melihat tafsiran tersebut telah terpapar dengan jelas khasiat Al-Quran yang apabila
kita gunakan sebagai salah satu terapi spiritual yang efektif dalam usaha membangun tingkat
motivasi spiritual pada lansia. Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984,
menyebutkan bahwa Al-Quran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi
yang mendengarkannya. Ketenangan jiwa merupakan salah satu efek penting yang harus
didapatkan oleh lansia sehingga mereka akan dapat menjalankan hidup mereka dengan lebih
dekat kepada Allah.
Malam hari menjelang tidur merupakan waktu yang tepat dalam pelaksanaan terapi.
Hal ini karena pada waktu malam hari seluruh kegiatan telah selesai dilaksanakan sehingga
fokus pikiran tidak akan terbagi untuk kegiatan lain. Saat tenang sebelum tidur ini kita
manfaatkan untuk memberikan terapi membaca bersama atau mendengar lantunan ayat suci
Al-Quran sehingga terbangun kualitas spiritual yang baik menjelang tidur. Hasil yang
diharapkan waktu terjaga hingga terbangun pada malam hari, lansia dapat merasakan
ketenangan jiwa dan siap menjalani aktivitas pagi harinya.




Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tentram (QS. Ar-Rad 13: 28)




13

KESIMPULAN

Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun dan disebutkan juga bahwa
lansia adalah kelompok masyarakat yang mudah terserang kemunduran fisik dan mental.
Spiritual adalah kebutuhan dasar dan pencapaian tertinggi manusia dalam hidupnya tanpa
memandang suku atau asal usul. Karakteristik spiritual tidak hanya terpaku pada hubungan
manusia dengan Tuhan, namun juga dengan diri sendiri, orang lain dan alam. Kebutuhan
spiritual pada lansia dikatakan memiliki tiga poin penting yaitu mencari arti dan tujuan hidup,
mencintai dan dicintai serta rasa ketertarikan, dan memberi dan mendapatkan maaf. Dengan
tujuan untuk meningkatkan spiritualitas pada lansia, maka dapat dilakukan satu metode
alternatif, yaitu Spiritual Night Care. Metode ini membiasakan lansia untuk mendengar /
membaca Al-Quran supaya bertambah dekat dengan Sang Pencipta.


















14

SARAN

Diperlukan adanya pengembangan dan pelatihan-pelatihan bagi tenaga medis seperti dokter
dan perawat tentang perawatan paliatif. Indonesia adalah negara ke-empat terbanyak lansia di
seluruh dunia, maka diperlukan juga adanya pembinaan dan perawatan bagi lansia. Tidak
hanya perawatan kesehatan fisik, tetapi juga perawatan kesehatan mental dan jiwa supaya
bisa tercapai ketenangan jiwa pada pasien lansia. Selain itu akan lebih baik lagi jika semua
perawatan tersebut diatas dikaitkan dengan agama pasien, agar terbentuk kedekatan antara
pasien dengan Sang Khalik / Pencipta.




















15

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada RS Kanker Dharmais dan dr. Maria A.
Witjaksono, Mpall yang telah memberikan bimbingan saat kunjungan ke rumah pasien yang
membutuhkan perawatan paliatif. Kepada dr. Taufiq Nashrulloh, S.si yang telah memberikan
bimbingannya sehingga laporan kasus ini bisa terselesaikan. Tidak lupa kepada dr. Hj. Riyani
Wikaningrum, DMM, MSc. selaku dosen pengampu bidang kepeminatan palliative care, dr.
Hj. Susilowati, M.Kes selaku koordinator pelaksana blok elektif dan DR. Drh. Hj. Titiek
Djannatun selaku koordinator penyusun blok elektif. Dan terakhir terimakasih kepada seluruh
anggota kelompok 5 palliative care atas kerjasamanya selama blok elektif ini.




















16

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, Trihaningsih Puji. 2012. Penerapan Metode Spiritual Night Care Pada Lansia Sebagai
Metode Efektif Peningkatan Motivasi Spiritual Dalam Menghadapi Sisa Kehidupan.
http://t1214-fkp11.web.unair.ac.id/. 17 November 2013 (20.00)
Mahajudin, Marlina S. 1999. Perawatan Paliatif: Tinjauan Aspek Psikososiospiritual.
http://www.anima.ubaya.ac.id/class/openpdf.php?file=1357872516.pdf. 16
November 2013 (10.00)
Rahmawati, Arina. 2008. Pembinaan Agama Islam Terhadap Lansia di Panti Wreda Wiloso
Wredho Purweroje Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo. Skripsi. Program
Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga. Yogyakarta
Syam, Amir. 2010. Hubungan Antara Kesehatan Spiritual Dengan Kesehatan Jiwa Lansia
Muslim di Sasana Tresna Werdha KBRP Jakarta Timur. Tesis. Program Magister
Ilmu Keperawatan Jiwa Universitas Indonesia. Depok.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20906/5/Chapter%20I.pdf
http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/23/jtptiain-gdl-s1-2006-sairohnim3-1133-
bab4_310-2.pdf