Anda di halaman 1dari 8

Nama : Mokh.

Chalifal Amri
NIM : 125030100111169

Beberapa Pendekatan Teori-teori Ekonomi Politik
( James A. Caporaso dan David P. Levine)

A. Pendekatan Klasik
Periode klasik dalam ekonomi politik dimulai sejak terbitnya buku wealth of
Nations karya Adam Smith (1776) sampai terbitnya buku Principles of Political Economy
karya John S. Mill (1848). Namun jika menggunakan periodisasi yang lebih longgar maka
dapat dikatakan bahwa era klasik dari ekonomi politik dimulai dari munculnya pemikiran-
pemikiran dari kaum fisiokrat (physiocrats) ditengah peradaban XVIII sampai ke tahun
kematian Karl Marx yaitu 1883, dimana Karl Marx memang dipandang sebagai pemikir
ekonomi politik penting yang terakhir. Marx sendiri diyakini sebagai orang pertama yang
menggunakan istilah ekonomi politik klasik (Dasgupta 1985 : 12), dimana Marx
menggangap bahwa ekonomi politik klasik dimulai pada masa kehidupan William Petty.
Pendekatan klasik menyatakan bahwa pasar memiliki kemampuan untuk mengelola
dirinya sendiri dalam artian yang kuat (strong sense) dimana pandangan seperti ini dijadikan
dasar untuk melaksanakan kebijakan Laissez- faire (dari bahasa Prancis biar bekerja) yang
berarti perdagangan bebas. Argumen yang diajukan oleh pemilikir aliran klasik ini adalah
sistem pasar. Sistem Pasar sendiri adalah sebuah realitas yang sui generis (mampu
menciptakan dirinya sendiri atau akan tercipta dengan sendirinya tanpa campur tangan
manusia) dimana pasar memiliki hubungan dengan negara tetapi pasar bukan organ bawahan
dari negara.
Memudarnya dominasi politik tampak jelas dalam konsep tangan tak terlihat
(invisible hands, maksudnya regulasi pasar terhadap dirinya sendiri) dari Adam Smith. Aliran
klasik dari ekonomi politik diuraikan menjadi dua bagian, yaitu
1. Argumen tentang pasar yang mengatur dirinya sendiri. Bagian yang pertama ini membahas
tentang sifat dari sistem pasar dan hubungan antara pasar dengan negara.
2. Mengenai teori nilai dan distribusi. Bagian kedua ini membahas tentang produksi dan
penggunaan surplus ekonomi.

1. Pasar Yang mengatur dirinya sendiri
Sebuah pasar akan berjalan dengan baik jika individu- individu di dalamnya bertindak
sebagai pembeli dan sekaligus penjual. Tiap-tiap pelaku dalam pasar bertindak sebagai
penjual dan pembeli maka uang dan komoditas akan berputar (sirkulasi) di dalam pasar.
Pasar berfungsi sebagai wadah untuk memfasilitasi pertukaran hak kepemilikan agar sesuai
dengan keinginan dari para pemilik property yang menjadi pelaku pasar. Dengan kata lain,
pasar adalah mekanisme sosial yang berfungsi untuk menjamin bahwa kebutuhan pribadi
dapat dipenuhi.
Jika pendapatan didapatkan lewat pasar, maka penderitaan menjadi sebuah hal yang
tidak terhindarkan. Tapi para pemikir ekonomi klasik tidak menganggap bahwa komoditas
yang tidak laku adalah bukti dari kelemahan pasar. Yang dikatakan pemikir ekonomi klasik
adalah bahwa penderitaan yang ditimbulkan pasar adalah penderitaan pada individu per
individu. Maksudnya, pendapatan dan kesejahteraan dari seorang penjual tentu bisa saja
menurun oleh karena kondisi pasar, tetapi pendapatan dan kesejahteraan dari semua penjual
sebagai satu kesatuan tidak mungkin bisa mengalami kerugian. Para pemikir ekonomi klasik
menyatakan bahwa kesulitan yang dialami seorang penjual akan bersifat sementara karena
kesulitan itu akan berakhir ketika si penjual itu menyesuaikan ketrampilannya dan modalnya
sehingga ia menghasilkan barang lain yang disukai pasar.
Kegagalan pasar dalam pandangan aliran klasik adalah kapasitas produksi tidak
terpakai karena tidak ada permintaan. Disisi lain ketidakadaan permintaan ini disebabkan
karena kapasitas produksi yang tidak terpakai (sehingga orang tidak mendapatkan upah). Para
pekerja menganggur dan rendahnya daya beli mereka membuat membuat pemilik pabrik
enggan untuk memanfaatkan kapasitas produksi mereka. Ini adalah contoh dari sebuah
kegagalan pasar yag terjadi karena mekanisme dari pasar itu sendiri dan bukan karena
tindakan pemerintah untuk meregulasi pasar.
2. Teori Nilai dan Distribusi
a. Pembagian kerja dan pertukaran
Pembagian kerja memiliki hubungan yang sangat erat dengan pertukaran. Ketika tidak
ada pasar yang bisa menampung sebuah produk, maka tidak ada gunanya bagi seorang
individu untuk melakukan spesialisasi dalam kegiatan seperti yang dituntut oleh pembagian
kerja. Dengan kata lain ketika seseorang melakukan pembagian kerja, maka ia harus
melakukan pertukaran agar bisa mendapatkan kebutuhan- kebutuhan pokok yang tidak dapat
ia hasilkan sendiri. Adam Smith meletakkan hubungan dua sisi antara pasar dengan
pembagian kerja ini sebagai landasan utama dari analisisnya dalam pembagian kerja, semua
orang serta merta menjadi pedagang dalam artian tertentu (1937:22).
Smith, Ricardo dan Marx memandang bahwa ada hubungan langsung antara
pembagian kerja dengan harga, yaitu dengan pembagian kerja dengan harga, yaitu dengan
mengatakan bahwa harga akan ditentukan oleh besaran relatif dari tenaga kerja sosial yang
digunakan untuk memproduksi komoditas. Pendekatan klasik memandang tenaga kerja
sebagai satu himpunan tersendiri yang dibagi- bagi kedalam macam tugas dan disatukan oleh
hubungan pertukaran. Besarnya porsi tenaga kerja yang diperlukan oleh kegiatan produksi
sosial secara akan menentukan berapa nillai tukarnya (harga dari tenaga kerja). Nilai tukar ini
akan mencapai level sedemikian rupa, tiap-tiap produsen yang menjual outputnya akan
mendapatkan nilai yang memadai baginya untuk memperbaharui sarana produksi yang ia
miliki. Contohnya adalah kalau membuat kursi diperlukan 20 jam, dan untuk membuat
mantel diperlukan 10 jam. Maka perbandingan harga antara mantel dengan kursi adalah 1
banding 2 yatiu mantel yang dapat ditukar dengan satu kursi adalah dua mantel.
Teori nilai dan tenaga kerja ini menyatakan bahwa ada hubungan langsung antara
pembagian himpunan tenaga kerja ke berbagai industri dengan pertukaran komoditas. Namun
teori ini memiliki beberapa kesulitan sehingga para ahli ekonomi modern yang menganut
pendekatan klasik mencoba mencari dasar lain untuk menjelaskan pertukaran, yaitu dengan
menggunakan landasan materialistik lewat sebuah konsep lain yang juga ada dalam
pendekatan klsik yaitu harga produksi.
b. Distribusi pendapatan
Teori nilai dari pendekatan klasik yang sudah dipaparkan secara singkat diatas tetap
didasarkan pada asumsi klasik bahwa level dari upah akan bergantung pada spesifikasi dari
himpunan kebutuhan subsistensi. Konsep upah dipandang sebagai variabel (sesuatu yang bisa
berubah- ubah) dan bukan sebagai besaran yang tetap, itu berarti bahwa ada faktor yang tidak
dapat ditentukan (indeterminan) di dalam pasar. Variabilitas upah berarti variabilitas surplus
sehingga selanjutnya juga berarti variabilitas laba sebuah struktur produksi tertentu.
Pihak yang berdebat memperebutkan pendapatan yaitu membagi masyarakat menjadi
beberapa kelas sosial dimana tiap tiap kelas ini memiliki hubungan dengan kelas yang lain
lewat sarana produksi. Analisis ini masih ada dalam lingkup klasik. Kesimpulannya adalah
bahwa distribusi pendapatan adalah ditentukan oleh pertarungan antarkelas sosial untuk
memperebutkan hasil atau keuntungan dari tenaga kerja yang telah digunakan dalam kegiatan
produksi.
B. Pendekatan Neoklasik
Pendekatan neoklasik dianggap lahir pada dekade 1870 yaitu bertepatan dengan
bangkitnya aliran marginalis dalam ilmu ekonomi. Sebelum 1970 ilmu ekonomi adalah
sebuah pemikiran yang didominasi oleh teori nilai dan tenaga kerja, lalu setelah dekade
1870an agenda ini mengalami perubahan tetapi tidak terlalu drastis. Struktur pemikiran
neoklasik ini adalah pilihan yang dibatasi. Istilah pilihan rasional merujuk pada keputusan
yang dibuat berdasarkan urutan pilihan yang konsisten secara internal. Sebuah urutan
konsisten bila ada pilihan A yang memiliki peringkat lebih tinggi dari B dan ada pilihan B
yang memiliki peringkat lebih tinggi dari pilihan C. Pilihan rasional berusaha untuk
medapatkan level kepuasan subjektif yang setinggi mungkin bagi sang individu.
Dalam ekonomi politik klasik, pasar dipandang sebagai sistem yang terdiri dari
transaksi- transaksi yang dilakukan secara sukarela antarbeberapa pemilik properti yang
independen yang semuanya sama sama mengejar kepentingan pribadinya sendiri- sendiri.
Menurut pandangan neoklasik transaksi ini baru akan terjadi kalau dianggap bisa
memberikan peningkatan kesejahteraan bagi kedua belah pihak yang terlibat dalam transaksi.

Hak kepemilikan
Dalam pendekatan neoklasik, hak kepemilikan adalah hal yang sangat penting. Dalam
beberapa tahun terakhir para ekonom neoklasik mulai membahas tentang hak kepemilikan,
mereka memandang hak ini bukan hanya sebagai bagian dari kerangka yang mendasari
kegiatan ekonomi tapi juga sebagai bagian dari sistem hukum dimana sistem hukum ini
dibentuk melalui sistem ekonomi.
Hak kepemilikan (property rights) adalah hak untuk memiliki, menggunakan, menjual
dan mengakses kekayaan. Yang dimaksud dengan kekayaan (property) adalah properti dalam
artian fisik yaitu konsumsi, mesin, tanah. Tenaga kerja adalah hak kepemilikan juga. Ada dua
teori yang telah mengemukakan pandangan tentang hak kepemilikan:
1. teori postitivis. Bagi positivis, hak kepemilikan dapat dianggap bersifat politik karena hak
adalah hasil dari proses politik, sehingga hak kepemilikan boleh diganggu gugat sama halnya
dengan hal politik lainnya.
2. hak kepemilikan tidak statis. Hak kepemilikan memang merujuk pada sebuah kondisi awal
yang menjadi syarat bagi terjadinya hubungan pertukaran namun tidak itu saja, sifat dan
jangkauan hak kepemilikan bisa berubah pada perkembangan selanjutnya.
Eksternalitas
Eksternalitas adalah dampak (dari transaksi) terhadap pihak ketiga (yang tidak ikut
transaksi) yang tidak melewati sistem harga dan muncul sebagai efek samping yang tidak
disengaja dari kegiatan orang lain atau perusahaan lain (Rhoads 1985:113). Dalam pasar
semua tranksaksi bersifat pribadi dan jika ada pihak ketiga yang dilibatkan di dalam nya jika
pihak ketiga ini biasanya diberi imbalan atau dikenakan biaya. Semua biaya yang ditanggung
oleh produsen adalah sama dengan biaya yang ditanggung oleh masyarakat. Dan keuntungan
yang didapat oleh produsen sama dengan keuntungan yang didapat oleh keuntungan
masyarakat.
Dalam mengatasi eksternalitas, pemerintah dapat mengatsinya dengan cara pertama
denda dan subsidi lewat harga, kedua regulasi pemerintah dengan melakukan standar -
standar dan ancaman hukuman. Dengan kata lain diberikan larangan yang mengikat. Ketiga,
pemerintah melakukan pengadilan. Artinya pihak-pihak yang dirugikan dapat
memperkarakan ke pengadilan.
Barang publik (public goods)
Dalam pandangan neoklasik, barang publik adalah merupakan kegagalan pasar.
Barang publik ini dianggap sebagai kegagalan pasar karena barang publik yang dibutuhkan
banyak orang ini sering kali tidak berhasil diciptakan atau diadakan oleh pasar. Sifat umum
barang publik ini adalah non ekslusif dan non rival ( tidak tersaingi dan tidak menyaingi).
Barang dikatakan non eksklusif kalau tidak ada cara untuk menyalurkan keuntungan dari
barang itu hanya kepada mereka yang sudah membayar saja namun yang tidak membeli
barang tetap bisa mengkonsumsinya.
Monopoli dan oligopoli
Dua bentuk penyimpangan ketika pasar tidak lagi dalam kondisi pasar persaingan
sempurna yaitu monopoli dan oligopoli. Oligopoli dikatakan terjadi ketika beberapa
perusahaan mengendalikan sebagian besar pasar atau aset dalam pasar untuk sebuah sektor
tertentu. Dalam keadaan ini, perusahaan dalam oligpoli dapat menetapkan level harga yang
lebih tinggi daripada level harga yang bisa terbentuk dalam persaingan sempurna.
C. Teori Keynesian
Pendekatan keynesian berada pada kritikan teori klasik dan neoklasik yang
mengatakan bahwa pasar yang meregulasi sendiri dirinya. Kritik dari pendekatan keynesian
adalah kegagalan untuk menemukan pembeli ,bisa jadi merupakan masalah yang sistematik
yang tidak ada hubungannya dengan ketidakcocokan antara apa yang diproduksi dengan apa
yang diperlukan. Melainkan karena kegagalan mekanisme pasar itu sendiri untuk menarik
pembeli - pembeli yang memiliki daya beli yang cukup. Kritik keynesian berusaha untuk
mempertibangkan kembai hubungan antara politik dengan pasar. Namun sejauh ini, banyak
ekonom dari aliran keynesian menyimpulkan bahwa kegagalan dalam permintaan agregat
tidak harus diberlakukan sebagai sebuah masalah politik.
Aliran keynesian menerima argumen bahwa perekonomian kapitalis kalau dibiarkan
bekerja sendiri tanpa regulasi dari luar, tidak bisa memanfaatkan secara sepenuhnya sumber
daya yang tersedia. Kegagalan ini akan memaksa pemerintah untuk melakukan intervensi.
Dalam aliran ini ketidakstabilan dari pererkonomian kapitalis menimbulkan keraguan
terhadap hipotesis tentang tangan tidak terlihat (invisible hands). Aliran keynesian berujung
pada kesimpulan bahwa kebijakan pemerintah harus diadakan untuk menjamin adanya
stabilitas dan proses reproduksi dan adanya penyerapan tenaga kerja secara memadai.
Keynes juga menyanggah konsep equlibrium yang banyak digunakan oleh pemikir-
pemikir pada abad XIX sampai awal abad XX dan konsep tangan tak telihat dari Adam
Smith dan para pencetus awal dari konsep Laissez-faires (pasar bebas).
Pasar kapital dan instabilitas
Keynes berpendapat bahwa pergeseran pola pikir para pelaku pasar dari perspektif
jangka panjang ke perspektif jangka pendek akan mengikis stabilitas dalam perekonomian
kapitalis (keynes 1936, bab 12). Keynes memandang bahwa pergeseran ini terjadi karena
berkembangnya pasar sekuritas yang menurutnya memberikan alternatif peluang yang lebih
menarik bagi para investor daripada berinvestasi pada pabrik dan peralatan.
Ekonomi politik dari pasar tenaga kerja dan pasar kapital
Ciri khas pendekatan keynesian yang membedakannya dengan pendekatan neoklasik
dapat dilihat pada pandekatan keynesian bahwa keputusan investasi lebih dipengaruhi oleh
perkiraan akan pemintaan dimasa depan daripada biaya produksi yang sudah terjadi.
Pandangan ini memiliki instabilitas dari pasar yang meregulasi dirinya sendiri.
Pasar tenaga kerja adalah inti dari permasalahan instabilitas ekonomi politik karena
pertama, pasar tenaga kerja adalah mekanisme yang digunakan sebagaian besar individu
dalam perekonomian kapitalis untuk mendapatkan nafkah bagai penghidupan mereka. Kedua,
kontrak upah menghubugkan antara permintaan produk dengan upah dan penyerapan tenaga
kerja.
Analisis pendekatan keynesian terhadap pasar tenaga kerja dipusatkan pada implikasi-
implikasi dari negosiasi upah terhadap permintaan. Karenanya, analisis keynesian
memandang bahwa ada kemungkinan bahwa keputusan yang dibuat antarpelaku pasar (yaitu
pekerja dan perusahaan) akan membawa dampak negatif. Analisis keynesian terhadap
kegiatan menabung juga dikembangkan kearah yang sama, yaitu menunjukkan potensi
terjadinya konflik antara rasionalitas dari pelaku pelaku individual dan rasionalitas dari
sistem secara keseluruhan.
D. Pendekatan Marxian
Selanjutnya adalah pendekatan Marxian, dalam teori Marxian konsep ekonomi relatif
dari negara merupakan sebuah penolakan terhadap pendapat bahwa negara bertindak sebagai
pelaksanaan dari kepentingan-kepentingan orang-orang atau individu-individu tertentu yaitu
individu yang kapitalis dan kepentingan mereka masing-masing. Negara dipandang memiliki
kepentingan sendiri yang ideologis, bahwa kepentingan negara harus disimpulkan dari
pemahaman tentang bagaimana struktur dari masyarakat dan bagaimana mempertahankan
kohesi sosial, sehingga memungkinkan terjadinya akumulasi kekayaan pribadi dalam jangka
panjang oleh individu-individu di dalamnya. Kepentingan yang hendak dicapai oleh negara
adalah kepentingan untuk mempertahankan tatanan sosial tertentu.
Untuk membuktikan bahwa cara kerja dari perekonomian kapitalis membawa dampak
politik, Marx mengajukan kritik terhadap pandangan klasik tentang pasar yang meregulasi
dirinya sendiri. Dia melakukan kritik bukan dengan tujuan untuk membenarkan konsep
kapitalisme yang dikendalikan negara, melainkan untuk menunjukkan bahwa kapitalisme
tidak dapat bertahan hidup dalam waktu yang lama.
Pembuktian dari pernyataan bahwa kapitalisme tidak dapat bertahan hidup dalam
waktu yang lama, menggunakan konsep kesadaran kelas antara kelas pekerja dan kelas
kapitalis akan memperjelas gap antara kaum pekerja dengan kaum kapitalis atau pemilik
modal. Seperti dalam penelitian yang dilakukan marx yang di sampaikan Charles Bettelheim
1985, dimana akibat dari hubungan produksi (reletion of production) menjadikan sebuah
masyarakat menjadi beberapa kelas.