Anda di halaman 1dari 33

H U K U M

BAB XX

HUKU
M

A. PENDAHULUAN

Sebagaimana ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan


Negara (GBHN) Tahun 1988, pembangunan hukum dalam Repe-
lita V diarahkan untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat,
menjamin penegakan, pelayanan dan kepastian hukum serta
mewujudkan tata hukum nasional yang mengabdi kepada kepentingan
nasional.

Pembangunan hukum ditujukan pula untuk memantapkan dan


mengamankan pelaksanaan pembangunan dan hasil-hasilnya,
menciptakan kondisi yang lebih mantap sehingga setiap anggota
masyarakat menikmati iklim kepastian dan ketertiban hukum, dan
hukum benar-benar menjadi pengayom masyarakat serta mendukung
stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.

XX/3
Sesuai dengan arahan dan tujuan tersebut di
atas, dalam tahun keempat Repelita V telah
dilanjutkan dan ditingkatkan serangkaian
kebijaksanaan dan langkah-langkah pelaksanaan
pembangunan hukum yang meliputi: (1)
Pembaharuan hukum secara lebih terarah dan
terpadu, yang ditunjang oleh pengkajian, penelitian,
naskah akademis, peraturan perundang-undangan
serta pengembangan dokumentasi dan informasi
hukum; (2) Peningkatan kadar kesadaran hukum
masyarakat melalui kegiatan penyuluhan dan
penerangan hukum; (3) Pemberian bantuan hukum
dan konsultasi hukum bagi para pencari keadilan
dari golongan masyarakat yang kurang mampu; (4)
Peningkatan penegakan hukum dengan lebih
memantapkan kedudukan dan peranan badan-badan
penegak hukum sesuai dengan tugas dan
kewenangan masing-masing serta meningkatkan
hubungan kerja sama dan koordinasi antara sesama
aparat penegak hukum untuk pemantapan
persamaan dalam persepsi . tentang keadilan dan
kebenaran; (5) Pembinaan peradilan dengan
meningkatkan proses pelayanan peradilan,
melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelatihan
para hakim (umum, tata usaha negara, agama dan
militer), pembentukan Pengadilan Tata Usaha
Negara baik tingkat pertama maupun handing
secara bertahap serta pembinaan terhadap para
penasehat hukum dan pengacara; (6) Pemantapan
pembinaan narapidana, anak didik dan klien
pemasyarakatan melalui pendekatan sosial edukatif
dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan
kesadaran masyarakat untuk menerimanya kembali
serta pemberian rehabilitasi sosial dan resosialisasi
sebagai usaha reintegrasi yang sehat dengan
masyarakat; (7) Peningkatan pelayanan hukum
kepada masyarakat, antara lain melalui
penyederhanaan prosedur, organisasi,
penyempurnaan peraturan perundang-undangan
serta perizinan di berbagai bidang hukum; (8)
Pendidikan dan pelatihan tenaga teknis hukum yang
diarahkan agar mereka lebih peka terhadap
perkembangan kesadaran hukum dan rasa keadilan
masyarakat.

XX/4
B. PELAKSANAAN KEGIATAN

Untuk mendukung kebijaksanaan dan langkah-langkah tersebut


di atas, telah disusun dan dilaksanakan (1) Program Pembinaan
Hukum Nasional dan (2) Program Pembinaan Peradilan dan Pe-
negakan Hukum.

1. Program Pembinaan Hukum Nasional

Program ini terdiri dari 2 kegiatan pokok, yaitu (a) Pembaha-


ruan Hukum, dan (b) Peningkatan Kesadaran Hukum Masyarakat.

a. Pembaharuan Hukum

Kegiatan dalam pembaharuan hukum ini meliputi perancangan


peraturan perundang-undangan, yang ditunjang oleh antara lain
kegiatan pengkajian, penelitian, pertemuan ilmiah, yang melibatkan
berbagai kalangan ahli, baik dari perguruan tinggi dan fakultas
hukum maupun dari kelompok profesi hukum. Di samping itu
dilaksanakan pula kegiatan penyusunan naskah akademis, peraturan
perundang-undangan, serta peningkatan kegiatan dokumentasi dan
informasi hukum. Dalam tahun 1992/93 (Tabel XX-1) telah berhasil
ditetapkan beberapa peraturan perundang-undangan sebagai berikut:

1) Undang-Undang

Rancangan Undang-Undang (RUU) yang telah disahkan


menjadi Undang-Undang (UU) dalam tahun 1992/93 berjumlah 18
buah, ialah: (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang
Dana Pensiun; (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang
Sistem Budi Daya Tanaman; (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun
1992 tentang Perkeretaapian; (4) Undang-Undang Nomor 14 Tahun
1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; (5) Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan; (6) Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan
Tumbuhan; (7) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1992 tentang

XX/5
TABEL XX — 1

PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBINAAN HUKUM,


1988/89 — 1992/93
(buah)

1) Dilaksanakan oleh Departemen Kehakiman dan Kejaksaan Agung

XX/6
Tambahan dan Perubahan Atas Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Tahun Anggaran 1991/92; (8) Undang-Undang Nomor 18
Tahun 1992 tentang Perhitungan Anggaran Negara Tahun Anggaran
1989/90; (9) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1992 tentang Merek;
(10) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1992 tentang Pembentukan
Pengadilan Tinggi Agama di Yogyakarta, di Bandar Lampung dan di
Jambi; (11) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang
Pelayaran; (12) Undang-Undang Nomor 22 tahun 1992 tentang
Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 1992 tentang Penangguhan Mulai
Berlakunya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan; (13) Undang-Undang Nomor 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan; (14) Undang-Undang Nomor 24 Tahun
1992 tentang Penataan Ruang; (15) Undang-Undang Nomor 25
Tahun 1992 tentang Perkoperasian; (16) Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1993 tentang Pembentukan Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Negara Surabaya; (17) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1993
tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang; (18)
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1993 tentang Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara Tahun Anggaran 1993/94.

2) Peraturan Pemerintah
Dalam tahun 1992/93 telah dihasilkan 87 buah Peraturan
Pemerintah (PP), di antaranya: (1) Peraturan Pemerintah Nomor 38
Tahun 1992 tentang Tenaga Pendidikan; (2) Peraturan Pemerintah
Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat dalam
Pendidikan Nasional; (3) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun
1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan Titik Berat
pada Daerah Tingkat II; (4) Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun
1992 tentang Obligasi Perusahan Umum (PERUM) Listrik Negara;
(5) Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 1992 tentang Pajak
Penghasilan Perusahaan Reksa Dana; (6) Peraturan Pemerintah
Nomor 62 Tahun 1992 tentang Sektor-Sektor Usaha Perusahaan
Pasangan Usaha Dari Perusahaan Modal Venture Dalam Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang PPH sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991; (7)
Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1992 tentang Pengertian

XX/7
Daerah Terpencil dan Jenis Imbalan dalam Bentuk Natura
dan/Kenikmatan dalam Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1983 tentang PPH sebagaimana diubah dengan Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1991; (8) Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun
1992 tentang Bank Umum; (9) Peraturan Pemerintah Nomor 71
Tahun 1992 tentang Bank Perkreditan Rakyat; (10) Peraturan
Pemerintah Nomor 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip
Bagi Hasil; (11) Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992
tentang Penyertaan Usaha Perasuransian; (12) Peraturan Pemerintah
Nomor 76 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun Pemberi Kerja; (13)
Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun
Lembaga Keuangan; (14) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun
1993 tentang Obligasi Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian; (15)
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan
Telekomunikasi; (16) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1993
tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986
tentang Jangka Waktu Izin Perusahaan Modal Asing; (17) Peraturan
Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Alam;
(18) Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1993 tentang Bentuk
dan Isi Surat Paten; (19) Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun
1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga
Kerja; (20) Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1993 tentang
Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1985 tentang Hak
Keuangan/Administrasi Jaksa Agung, Panglima Angkatan
Bersenjata, Gubernur BI sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 56 Tahun 1992; (21) Peraturan Pemerintah
Nomor 21 Tahun 1993 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah
Nomor 14 Tahun 1985 tentang Pemberian Tunjangan Penggerak
Kebangsaan/Kemerdekaan Sebagaimana dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 57 Tahun 1992; (22) Peraturan Pemerintah
Nomor 23 Tahun 1993 tentang Tata Cara Permintaan Pendaftaran
Merek; (23) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1993 tentang
Barang Atau Jasa bagi Pendaftaran Merek.

XX/8
3) Keputusan Presiden

Selanjutnya telah ditetapkan pula sebanyak 77 buah Keputusan


Presiden (Keppres) dalam tahun 1992/93, di antaranya: (1)
Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1992 tentang Tata Niaga
Cengkeh Hasil Produksi Dalam Negeri; (2) Keputusan Presiden
Nomor 23 Tahun 1992 t e n t a n g Pengesahan Vienna Protection of
Ozone Layer dan Montreal Protocol on Substances that deplete The
Ozone Layer as Adjusted and amended by The Second Meeting of
The Parties London, 27-29 June 1990; (3) Keputusan Presiden
Nomor 25 Tahun 1992 tentang Pembagian Hasil Pengangkatan
Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam antara
Pemerintah dan Perusahaan; (4) Keputusan Presiden Nomor 28
Tahun 1992 tentang Penambahan Wilayah Lingkungan Kerja Daerah
Industri Pulau Batam dan Penetapannya sebagai Wilayah Usaha
Kawasan Berikat (Bonded Zone); (5) Keputusan Presiden Nomor 30
Tahun 1992 tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah RI
dan Pemerintah Amerika Serikat untuk Kerja Sama Dalam Riset
Ilmiah dan Pengembangan Teknologi; (6) Keputusan Presiden
Nomor 32 Tahun 1992 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup
bagi Penanaman Modal; (7) Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun
1992 tentang Tata Cara Penanaman Modal; (8) Keputusan Presiden
Nomor 34 Tahun 1992 tentang Pemanfaatan Tanah Hak Guna Usaha
dan Hak Guna Bangunan Untuk Usaha Patungan dalam rangka
Penanaman Modal Asing; (9) Keputusan Presiden Nomor 37 Tahun
1992 tentang Usaha Penyediaan Tenaga Listrik oleh Swasta; (10)
Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 1992 tentang Pembentukan
Komisi Pengarahan Warganegara Menjadi Wajib Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia; (11) Keputusan Presiden Nomor 41
Tahun 1992 tentang Pembentukan Pengadilan Tata Usaha Negara
Pontianak, Menado dan Banjarmasin; (12) Keputusan Presiden
Nomor 43 Tahun 1992 tentang Pembentukan Panitia Pemeriksaan
untuk Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan
Rakyat; (13) Keputusan Presiden Nomor 47 Tahun 1992 tentang
Perubahan atas Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 1974 tentang
Beberapa Pembatasan Kegiatan Pegawai Negeri Sipil dalam rangka

XX/9
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Kesederhanaan Hidup; (14)
Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1992 tentang Perincian
Anggaran Belanja Pembangunan Tahun Anggaran 1992/93; (15)
Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1992 Tentang Pengesahan
Agreement between The Government of The Republic of Indonesia
and The Government of The Republic of Hungary for The
Promotion and Protection of Investigation; (16) Keputusan Presiden
Nomor 54 Tahun 1992 tentang Penetapan Pulau Sumbawa sebagai
Daerah Transmigrasi; (17) Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun
1992 tentang Penangguhan PPN dan Pajak Penjualan Atas Barang
Mewah serta tidak Dipungut PPH Pasal 21 atas Impor Barang Dalam
Rangka Kegiatan; (18) Keputusan Presiden Nomor 64 Tahun 1992
tentang Perpanjangan Batas Usia Pensiun Bagi Pegawai Negeri Sipil
yang Menduduki Jabatan Pustakawan; (19) Keputusan Presiden
Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional; (20)
Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 1993 tentang Pengesahan
Persetujuan Perdagangan antara Pemerintah RI dan Pemerintah
Republik Chili; (21) Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 1993
tentang Hari Pekerja Nasional; (22) Keputusan Presiden Nomor 10
Tahun 1993 tentang Pencabutan Keputusan Presiden tentang Susunan
Organisasi Universitas/Institut Negeri; (23) Keputusan Presiden
Nomor 15 Tahun 1993 tentang Pembentukan Pengadilan Negeri di
Maliana; (24) Keputusan Presiden Nomor 16 Tahun 1993 tentang
Pembentukan Pengadilan Tata Usaha Negara di Kupang, Ambon dan
Jayapura; (25) Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1993 tentang
Pembentukan Kelompok Kerja untuk Membantu Presiden dalam
Melaksanakan Keputusan Konperensi Tingkat Tinggi Gerakan Non
Blok ke 10; (26) Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1993 tentang
Penyakit yang timbul karena Hubungan Kerja.

4) Instruksi Presiden

Adapun Instruksi Presiden yang telah ditetapkan pada tahun


1992/93 berjumlah 5 buah, yaitu: (1) Instruksi Presiden Nomor 1
Tahun 1992 tentang Harga Dasar Pembelian Cengkeh oleh Koperasi
Unit Desa dari Petani Cengkeh; (2) Instruksi Presiden Nomor 2

XX/10
Tahun 1992 tentang Sensus Pertanian Tahun 1992; (3) Instruksi
Presiden Nomor 3 Tahun 1992 tentang Pengadaan Kapal-kapal
Perang untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut; (4)
Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 1992 tentang Kebijaksanaan
Pembangunan dalam rangka menunjang Pengembangan Propinsi
Riau; (5) Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 1992 tentang Penetapan
Harga Dasar Gabah.

Selain kegiatan-kegiatan tersebut di atas, pada tahun 1992/93


untuk menunjang pembaharuan hukum, telah dilaksanakan (1)
pengkajian, (2) penelitian Berta (3) pertemuan ilmiah di bidang
hukum yang telah dilakukan oleh para ahli hukum, baik dari
kalangan perguruan tinggi maupun profesi hukum. Pengkajian
hukum dilaksanakan terhadap 15 masalah hukum, yang menyangkut:
(1) Penggantian Tenaga Asing oleh Tenaga Indonesia dalam
Penanaman Modal Asing; (2) Aspek Sosial Budaya yang
mempengaruhi timbulnya kejahatan oleh Wanita; (3) Pengaruh
pemanfaatan IPTEK Kesehatan terhadap Hukum Kesehatan; (4)
Kedudukan dan Peranan Biro-biro/Unit Kerja Hukum pada
Departemen/Lembaga Non Departemen dalam Pembangunan
Hukum/Peraturan Perundang-undangan; (5) Dampak Globalisasi
Ekonomi terhadap Perkembangan Lembaga-lembaga Perdagangan;
(6) Perkawinan Campuran dalam Arti Luas Hukum Perdata
International; (7) Hukum Islam sebagai salah satu Sumber Hukum;
(8) Masalah Hukum Antar Wewenang di Perairan Indonesia; (9)
Masalah Hukum Penyelesaian Piutang Negara; (10) Beberapa Aspek
Hukum dari Perjanjian Keagenan dan Distribusi; (11) Pengaruh
Konvensi International terhadap Pengembangan Hukum Nasional
(Bidang EKUIN); (12) Tanggung jawab Produsen Makanan dan
Minuman terhadap Konsumen; (13) Masalah Penerapan KUHAP di
Perairan Indonesia dan ZEE; (14) Kerja Sama Regional dan
International dalam Pencegahan Pencemaran Laut; (15) Status
Hukum dan tugas Kantor Konsultan.

Selanjutnya telah dilaksanakan pula 17 penelitian hukum


dengan topik-topik sebagai berikut: (1) Aspek-aspek hukum

XX/11
Teknologi Bayi Tabung; (2) Perkembangan Bentuk dan Penggunaan
Surat Berharga dalam Praktek Perbankan; (3) Lembaga-lembaga
Hukum Adat di Timor Timur (lanjutan); (4) Faktor-faktor yang
mendukung timbulnya kejahatan oleh Pelaku Usia Muda dan
Dewasa; (5) Pengawasan dan Perlindungan Tenaga Kerja di Sektor
Formal di Bidang Garment; (6) Aspek Hukum Masalah Tindak
Pidana Transnasional; (7) Aspek Hukum Masalah Jaminan Kredit;
(8) Kedudukan Wanita di dalam Perkawinan menurut Hukum dan
dalam Kenyataan; (9) Aspek Hukum Kerja Sama Badan Usaha
Koperasi, BUMN dan Badan Usaha Swasta; (10) Manajemen dan
Organisasi Penyusunan Peraturan Perundang-undangan; (11)
Masalah Pengawasan dalam Pelaksanaan Kredit Luar Negeri; (12)
Aspek Hukum Penggunaan Tanah dalam rangka Pengembangan
Kawasan Industri; (13) Perlindungan Hukum bagi Dokter dan
Akseptor dalam Program KB; (14) Aspek Hukum Transnasional
Pembangunan dan Pengoperasian Reaktor Nuklir; (15) Peranan
Kejaksaan dalam Pengawasan Orang Asing; (16) Masalah Peninjauan
Kembali dan Grasi; (17) Upaya Pemantapan Peran Kejaksaan di
Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.

Beberapa hasil penelitian hukum yang telah dilakukan pada


tahun-tahun sebelumnya, kecuali untuk penelitian singkat pada tahun
1992/93 yang dilaksanakan oleh Kejaksaaan, telah pula disajikan
dan dibahas dalam pertemuan ilmiah hukum yang dilaksanakan pada
tahun 1992/93, yaitu mengenai:

(1) Perkembangan Pengaturan Penanaman Modal;


(2) Perbankan dalam Suasana Deregulasi;
(3) Masalah Pembeslahan Hak Milik Tindak Pidana
Narkotika;
(4) Masalah-masalah Hukum Kejahatan Hukum
Perbankan;
(5) Persaingan Tidak Sehat;
(6) Upaya Memantapkan Peranan Kejaksaan di bidang Perda-
ta dan Tata Usaha Negara;
(7) Peranan Kejaksaan dalam Pengawasan Orang Asing.

XX/12
Sementara itu, pada tahun 1992/93 telah dapat dihasilkan pula
8 (delapan) Naskah Akademis Peraturan Perundang-undangan yang
meliputi topik-topik:

(1) Pedoman Rekam Medis;


(2) Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai
Atas Tanah;
(3) Penggunaan Tanah untuk Pembangunan;
(4) Perlindungan Tenaga Kerja Wanita dan Anak;
(5) Kontrak di Bidang Perdagangan;
(6) Komisi Banding Paten dan Lisensi Wajib;
(7) flak Lintas Damai Kendaraan Air Asing di Perairan
Indonesia;
(8) Perlindungan Konsumen dalam hal Makanan dan
Minuman.

Untuk memperluas wawasan dalam rangka pembaharuan


hukum, telah pula dilaksanakan Penulisan Karya Ilmiah sebanyak
5 (lima) naskah dengan topik-topik sebagai berikut:

(1) Demokrasi dan Pemilihan Umum dalam Negara Hukum.


yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945;
(2) Aspek-aspek Hukum dan Sosial Budaya yang
mempengaruhi Hak-hak Wanita di bidang Kete-
nagakerjaan;
(3) Aspek Hukum Fungsi dan Peranan Pemerintahan dalam
Pembinaan Koperasi;
(4) Aspek Hukum Perkawinan Antar Agama dan Perkawinan
Campuran;
(5) Aspek Hukum Pengelolaan Tanah Negara.

Untuk mendukung pembuatan b e r b a g a i p e r a t u r a n


perundang-undangan dan untuk mempelajari pelaksanaan hukum
pada umumnya, telah pula ditingkatkan kegiatan Dokumentasi dan

XX/13
Informasi Hukum dan diarahkan pada pembinaan dan pemantapan
Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum, baik antara unit
jaringan di tingkat pusat maupun dengan unit jaringan di tingkat
daerah. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain meliputi
Komputerisasi Peraturan Perundang-undangan dan Non Peraturan
Perundang-undangan, Yurisprudensi dan lain-lain bahan hukum yang
dapat dimanfaatkan bersama secara optimal baik oleh para pejabat,
hakim, lembaga profesi hukum maupun oleh masyarakat pada
umumnya.

Sebagai kegiatan penunjang lainnya yang merupakan


kelanjutan kegiatan 1991/92, maka . pada tahun 1992/93 telah dapat
diselesaikan Monograf Hukum Adat untuk Wilayah Irian Jaya dan
Jawa Tengah. Selanjutnya secara bertahap tetap dilanjutkan pula
upaya penyusunan kamus hukum dan pembakuan istilah hukum.
Upaya kegiatan penyusunan kamus hukum dan pembakuan istilah
hukum ini sangat bermanfaat terutama bagi tenaga ahli perancang
perundang-undangan dalam melaksanakan tugasnya, terutama dengan
makin berkurangnya tenaga ahli hukum yang mengerti bahasa dan
atau istilah hukum Belanda. Dengan menggunakan istilah-istilah
hukum yang sudah baku tersebut akan dapat dihindarkan adanya
kerancuan dan mencegah berbagai penafsiran yang berbeda.

Untuk mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan, upaya


penyusunan perencanaan hukum melalui kegiatan Rencana Legislasi
Nasional di berbagai bidang hukum perlu lebih ditingkatkan. Dalam
rangka itu, telah dilakukan pemantapan koordinasi yang terarah dan
terpadu baik organisasi maupun manajemennya agar dapat
mendukung pembangunan di berbagai bidang sesuai dengan tuntutan
pembangunan serta kesadaran hukum dan dinamika yang berkembang
dalam masyarakat.

b. Peningkatan Kesadaran Hukum Masyarakat

Peningkatan kesadaran hukum masyarakat dilaksanakan


melalui beberapa kegiatan, antara lain kegiatan penyuluhan hukum.

XX/14
Di samping itu dilaksanakan pula kegiatan penerangan hukum serta
keteladanan dan kepeloporan aparat penegak hukum dalam mematuhi
ketentuan-ketentuan hukum. Kegiatan itu bertujuan untuk
meningkatkan kadar kesadaran hukum masyarakat sehingga setiap
anggota masyarakat mengetahui dan paham akan hak dan
kewajibannya sebagai warga negara, demi tegaknya hukum,
keadilan, perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia,
ketertiban, ketenteraman, kepastian hukum dan terbentuknya perilaku
setiap warga negara Indonesia yang taat pada hukum. Penyuluhan
hukum dilaksanakan dalam bentuk langsung dan tidak langsung,
penyuluhan Keluarga Sadar Hukum, kegiatan Jaksa Masuk Desa dan
Jaksa Masuk Laut. Dengan langkah-langkah tersebut kesadaran
Hukum Masyarakat dapat ditingkatkan dan diperluas jangkauan serta
kualitasnya, sehingga masyarakat dapat memberi dukungan optimal
bagi penegakan dan penerapan hukum.

(1) Penyuluhan Hukum Langsung dan Tidak Langsung

Penyuluhan hukum dilaksanakan melalui kegiatan penyuluhan


hukum langsung yang terdiri dari ceramah, pameran dan pentas
panggung. Selama tahun 1992/93 di 27 propinsi telah dilakukan
1.054 kali ceramah hukum, 60 kali pameran hukum dan 957 kali
pentas panggung. Sedangkan penyuluhan hukum tidak langsung
dilakukan melalui fragmen/sandiwara RRI sebanyak 1.148 kali,
fragmen/sandiwara TVRI sebanyak 80 kali, wawancara RRI
sebanyak 1.456 kali dan sinetron sebanyak 4 kali, serta pemasangan
spanduk yang berisikan pesan-pesan hukum di berbagai tempat yang
strategis.

(2) Penyuluhan Keluarga Sadar Hukum

Pada tahun 1992/93 kegiatan penyuluhan hukum melalui


pembentukan Keluarga Sadar Hukum sebagai wadah guna
menghimpun anggota masyarakat yang berkesadaran hukum tetap
dilanjutkan. Kegiatan Keluarga Sadar Hukum dilakukan melalui

XX/15
kegiatan Temu Sadar Hukum yang bertujuan agar masyarakat
berkesempatan menyuluh dirinya sendiri apabila menghadapi suatu
masalah hukum dan mengerti cara terbaik untuk menyelesaikan
persoalan yang timbul. Kegiatan Temu Sadar Hukum ini
dilaksanakan dengan cara sambung rasa, simulasi bidang hukum,
tebak tepat dan lomba keluarga sadar hukum. Materi yang
diprioritaskan untuk disuluhkan antara lain meliputi masalah-masalah
narkotika, hak cipta, acara pidana, pengelolaan lingkungan hidup,
pertanahan, pemerintahan desa serta perkawinan. Pada tahun
1992/93 telah terbina 2.651 kelompok keluarga sadar hukum yang
melibatkan 265.100 orang yang tersebar di 27 propinsi.

(3) Jaksa Masuk Desa dan Jaksa Masuk Laut

Penyuluhan hukum melalui kegiatan Jaksa Masuk Desa


sasaran utamanya adalah masyarakat pedesaan. Kegiatan ini
kemudian dikembangkan dengan kegiatan penerangan hukum
terhadap masyarakat perkotaan. Pada tahun 1992/93 telah
dilaksanakan penyuluhan di 850 desa/kelurahan. Dengan demikian
sampai dengan tahun keempat Repelita V telah berhasil disuluh
sebanyak 33.129 desa/kelurahan. Sementara itu kegiatan Jaksa
Masuk Laut dilaksanakan di 7 propinsi, yaitu Daerah Istimewa
Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara,
Maluku dan Irian Jaya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan
pengamanan, keselamatan dan penegakan hukum di laut. Sasaran
penyuluhan adalah para nakhoda dan anak buah kapal patroli TNI
Angkatan Laut serta aparat penegak hukum yang bertugas di laut.
Kegiatan Jaksa Masuk Laut telah berhasil meningkatkan mutu dari
penampilan para aparat penegak hukum di laut serta mempertinggi
kerja sama antar mereka.

Dalam rangka makin memeratakan kesempatan memperoleh


keadilan pemberian Bantuan Hukum dan Konsultasi Hukum terus
ditingkatkan terutama bagi golongan yang kurang mampu. Pada
tahun 1992/93 pemberian bantuan hukum dilaksanakan melalui
Pengadilan Negeri di 27 propinsi baik untuk perkara pidana

XX/16
maupun perkara perdata yang seluruhnya berjumlah 1.550 perkara.
Pemberian konsultasi hukum dilaksanakan melalui kerja sama dengan
berbagai Fakultas Hukum pada Universitas Negeri maupun
Universitas Swasta yang meliputi kasus pidana dan perdata. Dalam
kegiatan konsultasi ini diberikan penjelasan, petunjuk, nasehat dan
saran kepada anggota masyarakat yang menghadapi masalah hukum
agar ia mengetahui dan memahami persoalan hukum yang sedang
dihadapinya. Pemberian konsultasi hukum pada tahun 1992/93 telah
mencakup 7.550 kasus perkara pidana dan perdata.

2. Program Pembinaan Peradilan dan Penegakan Hukum

a. Pembinaan Peradilan

Dalam- rangka memperluas jangkauan pelayanan dan pemera-


taan kesempatan memperoleh keadilan, proses peradilan diupayakan
agar makin sederhana, cepat, tepat dan biaya terjangkau oleh semua
lapisan masyarakat. Upaya ini ditunjang dengan penyempurnaan
administrasi peradilan untuk meningkatkan produktivitas
penyelesaian perkara. Pemanfaatan Tempat Sidang Tetap yang
dimaksudkan untuk memperlancar pelaksanaan tugas hakim keliling
khususnya pada lokasi-lokasi terpencil agar proses penyelesaian
perkara dapat terselenggara dengan cepat, secara terbuka dan di
tempat kasus/sengketa terjadi, tetap diupayakan pula secara optimal.

Sebagai hasil kelanjutan perbaikan administrasi peradilan,


khususnya di lingkungan peradilan umum, maka persentase
penyelesaian perkara di tingkat Pengadilan Negeri dan Pengadilan
Tinggi telah menjadi makin mantap. Penyelesaian perkara di
Pengadilan Negeri pada tahun 1992/93 mencapai 98,8% dari
1.393.277 perkara yang masuk. Pada Pengadilan Tinggi persentase
perkara banding yang dapat diselesaikan pada tahun 1992/93
mencapai 67,8% dari 8.104 perkara yang masuk (label XX-3).
Dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1991/92, maka jumlah
perkara yang masuk pada Pengadilan Negeri pada tahun 1992/93

XX/17
cukup menggembirakan karena mengalami penurunan sebesar 18,0%
atau sebanyak 297.713 perkara.

Dalam pada itu jumlah perkara kasasi (perdata, pidana, agama


dan militer), peninjauan kembali dan grasi yang masuk ke
Mahkamah Agung tetap meningkat dari tahun ke tahun. Sementara
jumlah penanganan perkara yang dapat diselesaikan Mahkamah
Agung pada tahun 1992/93 masih tetap terbatas, yaitu 8.661 perkara
atau sebesar 31,0% dibandingkan dengan jumlah perkara yang
masuk dan tunggakan perkara yang ada sebanyak 27.950 perkara.
Dibandingkan dengan tahun 1991/92, penyelesaian perkara pada
tahun 1992/93 cukup menggembirakan karena terjadi kenaikan
persentase penyelesaian perkara dari 22,2% menjadi 31,0%. Hal ini
disebabkan antara lain karena perubahan kebijaksanaan yang
ditempuh Mahkamah Agung dalam tahun keempat Repelita V ini,
yaitu dengan memberikan prioritas kepada penyelesaian perkara
penting yang baru masuk pada tahun yang bersangkutan. Dan untuk
mengatasi penyelesaian tunggakan perkara, secara bertahap telah
dilakukan kegiatan crash-programme yang diharapkan dapat
membantu penyelesaian tunggakan perkara sebanyak 80 buah per
bulannya (Tabel XX-3).

Dalam rangka pembinaan kepada para hakim, Mahkamah


Agung telah pula melanjutkan pembinaan kemampuan teknis yustisial
bagi para hakim. Khusus pada tahun 1992/93 telah dilaksanakan pena-
taran kemampuan teknis yustisial bagi 240 orang Hakim Umum, 220
orang Hakim Agama, 60 orang Hakim Militer, 88 orang Hakim Tata
Usaha Negara, 100 orang Hakim Tinggi serta 90 orang Hakim
Tinggi Agama. Telah dilaksanakan pula kegiatan pendalaman materi
hukum bagi 60 orang Hakim Tinggi dan 400 orang Hakim
Pengadilan Negeri serta penataran administrasi yudisial bagi para
Panitera Pengadilan Negeri sebanyak 52 orang.

Sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986


tentang Pengadilan Tata Usaha Negara, telah dibangun satu gedung
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara di Surabaya dan 3 (tiga)

XX/18
buah gedung Pengadilan Tata Usaha Negara, yaitu di Ambon,
Jayapura dan Kupang (Tabel XX-2).

Penghimpunan statistik perkara yang merupakan bahan


masukan dalam rangka pembinaan tenaga teknis peradilan tetap dilan-
jutkan. Sedangkan dalam rangka pembentukan hukum melalui per-
adilan, Mahkamah Agung telah pula melaksanakan penerbitan buku
Yurisprudensi Indonesia yang hingga tahun 1992 telah diterbitkan
sebanyak 5 (lima) nomor.

Untuk menunjang kelancaran pembinaan peradilan, pada tahun


1992/93 telah dilaksanakan pembangunan baru gedung Pengadilan
Tinggi Palu sebagai pengganti gedung lama yang terbakar habis serta
2 (dua) buah Pengadilan Negeri di Sawahlunto dan Manatuto. Di
samping itu telah pula dilakukan rehabilitasi sebanyak 86 gedung
Pengadilan Tinggi/Pengadilan Negeri (Tabel XX-2).

b. Penegakan Hukum

Dalam rangka meningkatkan penegakan hukum, sesuai dengan


wewenangnya, Kejaksaan telah mengajukan tuntutan perkara pidana
sebagai tugas pokoknya dengan tetap mempertahankan produktivitas
dan effektivitas penyelesaian perkara yang ditanganinya. Penanganan
tindak pidana. khusus ini dilakukan melalui Operasi Yustisi yang
meliputi Operasi Wibawa dengan sasaran untuk mengungkapkan
mata rantai korupsi dan pengembalian uang negara dan Operasi
Jaring yang mengungkapkan jaringan penyelundupan dan aktor
intelektual penyelundupnya.

Penanganan penyelesaian perkara pada Kejaksaan tetap dapat


dipertahankan secara mantap dari tahun ke tahun. Khususnya pada
tahun 1992/93, dari sejumlah 1.473.894 perkara yang masuk, telah
diselesaikan sebanyak 1.472.862 perkara atau 99,9% (Tabel XX-4).
Di antara perkara-perkara tersebut di samping tindak pidana umum
yang menarik perhatian juga terdapat perkara-perkara tindak pidana

XX/19
khusus, sejumlah 738 perkara yang terdiri dari 345 perkara ekonomi,
389 perkara korupsi dan 4 perkara subversi.
Bekerja sama dengan aparat penegak hukum lainnya telah
pula ditangani secara terpadu penanggulangan berbagai masalah yang
timbul akibat perbuatan-perbuatan negatif yang menimbulkan
tendensi pertentangan antar suku, agama dan golongan sebagai akibat
dari adanya kesenjangan sosial ekonomi yang merenggangkan
solidaritas sosial. Demikian juga terhadap masalah yang
menimbulkan pengaruh negatif terhadap golongan pemuda dalam
bentuk peredaran narkotika dan obat-obatan berbahaya lainnya, serta
dalam upaya peningkatan observasi, deteksi, pencatatan dan telaahan
di bidang politik, keamanan, ekonomi dan sosial budaya, lalu lintas
orang asing, peredaran barang cetakan serta masalah aliran
kepercayaan dalam masyarakat yang dapat mengganggu keamanan.
Peningkatan penegakan hukum juga dilaksanakan dalam
rangka pelaksanaan Pemilu tahun 1992 dan dalam mengamankan
serta mensukseskan Sidang Umum MPR tahun 1993. Untuk
menunjang tugas-tugas penegakan hukum, pada tahun 1992/93 telah
dilaksanakan peningkatan prasarana fisik berupa pembangunan baru
4 (empat) gedung Kejaksaan Negeri/Cabang Kejaksaan Negeri di
Liwa (Lampung), Suai, Aileu dan Los Palos (Timtim), serta
rehabilitasi sebanyak 79 gedung Kejati/Kejari/Cabjari (Tabel XX-2).

Di bidang, keimigrasian, perhatian yang lebih besar atas


pengawasan dan pengamatan keimigrasian terutama atas lalu lintas
orang asing dengan tujuan antara lain untuk menekan arus imigran
gelap. Dalam tahun 1992/93 kedatangan orang dari luar negeri yang
berjumlah 3,1 juta orang, 72%. di antaranya adalah orang asing.
Sedangkan jumlah keberangkatan orang ke luar negeri berjumlah 3,2
juta orang, 70% di antaranya adalah orang asing (Tabel XX-5).
Meningkatnya arus volume lalu lintas antar negara ini merupakan
akibat dari kemajuan teknologi dan kebijaksanaan tentang penanaman
modal, kepariwisataan dan ketenagakerjaan.

Untuk lebih meningkatkan penegakan hukum di

XX/20
TABEL XX — 2

KEGIATAN PENINGKATAN PRASARANA H UK UM ,


1988/89 – 1992/
(gedung)

XX/21

1
TABEL XX — 3

PENYELESAIAN PERKARA PADA BADAN PERADILAN,


(1988/89 — 1992/93)

1) Termasuk sisa perkara pada tahun-tahun sebelumnya

XX/22
TABEL XX — 4

PENYELESAIAN PERKARA PADA KEJAKSAAN,


1988/89 — 1992/93

XX/23
TABEL XX - 5
KEDATANGAN DAN KEBERANGKATAN DARI DAN/ATAU KE LUAR NEGERI,
1988/89 - 1992/93
(orang)

XX/24
bidang keimigrasian sehubungan dengan arus keluar masuknya orang
Indonesia dan orang asing dari dan ke wilayah Indonesia, maka
pelacakan dan penindakan terhadap orang-orang asing yang tidak
mentaati ketentuan-ketentuan yang berlaku terus dilancarkan.
Pelacakan dan penindakan ini antara lain dilancarkan terhadap
orang-orang asing yang melakukan kegiatan atau usaha yang tidak
sah di wilayah Republik Indonesia. Pengawasan terhadap
pengeluaran paspor Republik Indonesia juga lebih diperketat untuk
mencegah terjadinya penyalahgunaan oleh mereka yang tidak
berhak.

Untuk menunjang pelaksanaan tugas, telah diundangkan


Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.
Undang-Undang ini dimaksudkan untuk dapat ikut memperkokoh
landasan dan memperkuat ketahanan nasional di bidang hukum agar
siap menghadapi segala tantangan dan keadaan di tengah arus
globalisasi yang melanda semua aspek kehidupan masyarakat dunia.
Berbagai peraturan pelaksanaan undang-undang ini tengah dalam
proses persiapan. Untuk lebih meningkatkan pelayanan dan
penegakan hukum, pada tahun 1992/93 telah dibangun 2 (dua) buah
gedung Imigrasi, yaitu di Lhok Seumawe dan Pangkal Pinang, serta
8 (delapan) Pos Imigrasi, yaitu di Probolinggo, Tanjung Samak,
Sajingan, Tarakan, Tual, Tenau, Waropke, Agat dan Sota. Di
samping itu telah pula dibangun 7 (tujuh) buah Asrama Karantina
Imigrasi di Padang, Sampit, Kotabaru, Palangkaraya, Lhok
Seumawe, Pangkal Pinang dan Kendari serta rehabilitasi sejumlah
gedung kantor imigrasi.

c. Pembinaan Pemasyarakatan

Pembinaan Pemasyarakatan bertujuan untuk menyiapkan pelak-


sanaan reintegrasi narapidana dan anak didik ke dalam masyarakat,
agar setelah selesai menjalani pidananya mereka dapat kembali
menjadi warga negara yang produktif serta taat pada hukum dan
menghormati norma-norma pergaulan hidup dalam masyarakat.
Pembinaan terhadap narapidana dan anak didik telah memper-

XX/25
lihatkan kemajuan yang cukup menonjol, khususnya dalam hal
pemberian keterampilan seperti beternak, pekerjaan kerajinan tangan
dan lain-lain. Demikian pula pembinaan keagamaan, kesadaran
hukum, kesadaran berbangsa dan bernegara serta pembinaan
kepribadian lainnya. Pembinaan terhadap narapidana dan anak didik
dalam bidang pendidikan melalui pendidikan luar sekolah berupa
Kelompok Belajar Paket A tetap dilanjutkan. Terutama bagi anak
didik serta narapidana usia muda yang berada di dalam 6 (enam)
Lembaga P e m a s y a r a k a t a n , 14 (empat b e t a s ) L e m b a g a
Pemasyarakatan Anak Negara dan 1 (satu) Lembaga Pemasyarakatan
Pemuda, telah dilaksanakan kegiatan yang meliputi pembinaan
kehidupan beragama, pembinaan kepramukaan serta pembinaan
keterampilan.

Pada tahun 1992/93 pembinaan narapidana dapat dikatakan


cukup berhasil dengan meningkatnya jumlah narapidana yang
mendapat remisi, asimilasi, pembebasan bersyarat dan cuti menjelang
bebas. Pembinaan keterampilan sebagai hasil kerja lama dengan
berbagai instansi (Departemen Sosial, Departemen Tenaga Kerja dan
Departemen Perindustrian) meskipun berjalan dengan baik dan telah
dirasakan manfaatnya, masih perlu lebih ditingkatkan di tahun-tahun
mendatang. Peralatan dan perlengkapan bengkel kerja pada lembaga
pemasyarakatan perlu mendapatkan penggantian untuk meningkatkan
kualitas produksinya. Pemberian pelayanan kesehatan bagi para
narapidana, setahap demi setahap telah pula dapat ditingkatkan.

Upaya pembinaan terhadap narapidana di luar Lembaga Pema-


syarakatan yang dilakukan melalui Balai BISPA masih perlu
mendapatkan perhatian karena belum semua klien pemasyarakatan
(narapidana bebas bersyarat dan bekas narapidana) mendapatkan
bimbingan. Di samping wilayah kerja Balai BISPA yang terlalu luas,
jumlah petugas pembimbing dan sarana penunjang masih belum
memadai.
Khusus bagi para tahanan diberikan pula kegiatan yang positif
sebagai pengisi waktu selama mereka berada dalam tahanan seperti
kegiatan olahraga dan kegiatan sukarela untuk turut serta dalam
kegiatan keterampilan yang ada.

XX/26
Lembaga Pemasyarakatan/Rumah Tahanan Negara/Cabang
Rumah Tahanan Negara hingga tahun 1992/93 seluruhnya berjumlah
375 buah yang tersebar di 27 propinsi. Lima di antaranya baru mulai
berfungsi pada tahun 1992/93 ini, yaitu Rumah Tahanan Jantho
(Aceh), Rumah Tahanan Muara Bulian (Jambi), Rumah Tahanan
Baucau (Timtim), Rumah Tahanan Balikpapan (Kalimantan Timur)
serta Lembaga Pemasyarakatan Soa Siu (Maluku). Jumlah seluruh
narapidana, anak didik dan tahanan di seluruh propinsi sampai
dengan akhir Maret 1993 tercatat sebanyak 44.286 orang. Jumlah
narapidana dan tahanan yang terbanyak berturut-turut terdapat di
Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Selatan dan DKI
Jakarta. Sedangkan Daerah paling sedikit jumlah narapidana dan
tahanannya ialah Propinsi Sulawesi Tenggara (Tabel XX-6).

Dalam rangka menunjang pembinaan pemasyarakatan, pada


tahun 1992/93 telah dilakukan pembangunan kembali sebuah
Lembaga Pemasyarakatan, yaitu LP Tanjung Raja, 5 (lima) Rumah
Tahanan Negara/Cabang Rumah Tahanan Negara yaitu RUTAN
Tenggarong, RUTAN Tanjung Redeb, RUTAN Ermera, Cabang
RUTAN Idi dan Cabang RUTAN Lirung. Selanjutnya telah
dilaksanakan pula rehabilitasi 47 Lembaga Pemasyarakatan dan 46
Rumah Tahanan Negara/Cabang Rumah Tahanan Negara, serta
pengadaan sejumlah kendaraan angkutan tahanan dan perlengkapan
keamanan lainnya bagi Lembaga Pemasyarakatan/Rutan secara
bertahap.

d. Pembinaan Pelayanan Hukum

Pembinaan administrasi pelayanan hukum dilaksanakan


dengan memperhatikan aspek-aspek kualitatif dan kuantitatif dalam
arti menyangkut segi-segi ketepatan materi dan kecepatan
penanganan pelayanan dengan tujuan meningkatkan efisiensi
pelayanan hukum. Dalam rangka peningkatan pelayanan kepada
masyarakat telah dilaksanakan kegiatan yang menyangkut
penyederhanaan tata laksana pelayanan hukum. Pada tahun 1992/93
telah diselcsaikan pemberian Kewarganegaraan kepada 2.698 orang,

XX/27
TABEL XX - 6
JUMLAH LEMBAGA PEMASYARAKATAN/TAHANAN,
1988/89 - 1992/93

+) Angka diperbaiki

XX/28
Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) sebanyak
15.841 buah, pengesahan Badan Hukum sebanyak 40.172 buah,
pengesahan Perubahan Nama Keluarga sebanyak 2.034 buah dan
permohonan Grasi sebanyak 415 buah. Selanjutnya, di bidang Hak
Paten, Cipta dan Merek, pada tahun 1992/93 telah diberikan
penyelesaian Hak Cipta sebanyak 2.608 permohonan, Paten sebanyak
4.640 permohonan dan Merek sebanyak 23.826 permohonan.

Sementara itu untuk lebih meningkatkan pelayanan hukum di


bidang Hak Cipta, Paten dan Merek, telah dilaksanakan pula pendi-
dikan dan pelatihan bagi para tenaga pelaksana hukum di bidang
pemeriksaan paten serta Dokumentasi dan Informasi Paten. Di
samping itu untuk lebih memasyarakatkan Hak Cipta dan Paten,
dalam tahun 1992/93 telah pula dilaksanakan serangkaian pertemuan
diskusi mengenai pelanggaran dan litigasi Hak Cipta dan Paten di
Jakarta, Palembang, Pekanbaru dan Samarinda bagi para penegak
hukum serta masyarakat luas lainnya.

Guna lebih meningkatkan pelayanan hukum di bidang keimi-


grasian, terutama dalam menunjang program kepariwisataan, telah
dilaksanakan berbagai kemudahan, antara lain dengan adanya
penambahan jumlah negara yang warganya memperoleh Bebas Visa
Wisata. Sampai saat ini tercatat 44 negara yang warga negaranya
memperoleh Bebas Visa Wisata untuk dapat masuk ke wilayah
Indonesia. Di samping . itu pintu-pintu masuk bagi wisatawan asing
telah pula ditambah dan saat ini meliputi sebanyak 13 (tiga belas)
Bandar Udara dan 12 (dua belas) Pelabuhan Laut. Kemudahan
lainnya antara lain dalam hal penyelesaian pemeriksaan penumpang
di atas kapal-kapal pesiar yang membawa wisatawan ke Indonesia,
serta penyederhanaan prosedur pendaratan bagi penduduk Singapura
yang bekerja di Pulau Batam dan pemberian visa pada saat
kedatangan bagi wisatawan dan usahawan yang datang di pelabuhan
Tanjung Pinang dan Bandar Udara Sepinggan.

Selanjutnya, kemudahan lainnya telah pula diberikan kepada


warga negara Indonesia yang bepergian keluar negeri baik sebagai

XX/29
T A B E L XX — 7

PENDIDIKAN/LATIHAN TE NA GA PENEGAK H U K U M
D A N TENA GA TEKNIS L A IN N Y A ,
(orang )

XX/30
usahawan, pelajar atau mahasiswa maupun sebagai tenaga kerja yang
akan bekerja keluar negeri. Penyederhanaan prosedur keimigrasian
telah dilakukan dengan memberikan pembebasan dari keharusan
memiliki izin berangkat/bebas exit permit. Pembebasan ini mulai
berlaku tanggal 17 Agustus 1992 bagi setiap warga negara Indonesia
pemegang paspor biasa atau Surat Perjalanan Laksana Paspor, yang
akan melakukan perjalanan keluar negeri.

e. Pendidikan/Pelatihan Tenaga Hukum

Dalam rangka membina dan meningkatkan daya guna dan


hasil guna para aparat penegak hukum yang bersih dan berwibawa,
kegiatan pendidikan dan pelatihan tetap diupayakan untuk
ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya.

Pada tahun 1992/93 telah dilaksanakan kegiatan dan pelatihan


Teknis Pemasyarakatan bagi 289 orang dan di bidang Teknis
Keimigrasian bagi 100 orang. Selanjutnya telah pula dilaksanakan
Pendidikan Pembentukan Jaksa sebanyak 200 orang, Pendidikan
Jaksa Khusus di bidang Spesialisasi Penyelundupan, Narkotika,
Subversi, Korupsi dan Perdata sebanyak 120 orang, serta penataran
Intelijen, peradilan Tata Usaha Negara, dan Hukum Lingkungan,
sebanyak 1.058 orang. Di samping itu telah pula dilaksanakan
pendidikan Calon Hakim sebanyak 345 orang (Tabel XX-7).

Sementara itu dilaksanakan pula kegiatan pendidikan penjen-


jangan (Sespa, Sepadya, Sepala dan Sepada) bagi 141 orang pejabat
Kehakiman dan 87 orang pejabat Kejaksaan yang sudah atau akan
menduduki jabatan struktural tertentu.

XX/31