Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa karna atas berkat rahmat nya kami
dapat menyelesaikan makalah Instrumentasi dan Pengukuran dengan judul Pengukuran Sifat
Termal dengan lancar. Makalah ini kami buat sebagai pendukung dan media alat dalam
program belajar diperkuliahan . Ucapan terima kasih tak lupa kami haturkan kepada :
Yth. Ibu Yuniar, S.T.,M.Si. selaku dosen pembimbing kami yang teah banyak memberikan
arahan dan motivasi demi kelancaran pembuatan makalah ini
Tak lupa kepada keluarga dan kerabat dekat yang telah banyak membantu kami baik dukungan
moril maupun materil
Serta teman-teman yang telah banyak membantu dan memberi saran untuk perbaikan Akhirnya
kami selaku penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfat bagi kita khususnya bagi
proses belajar dan mengajar. Tak lupa kami juga meminta saran dan kritik dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini


Palembang, Oktober 2012







Tim Penulis





BAB I
I. PENDAHULUAN

1. Pengertian Thermal

Termal adalah sebuah kolom udara naik pada ketinggian rendah atmosfir Bumi.
Termal dibentuk oleh penghangatan permukaan Bumi dari radiasi matahari,dan contoh
konveksi. Matahari menghangatkan daratan, yang akhirnyamenghangatkan udara di
atasnya.Udara hangat menyebar, menjadi kurang padat daripada massa udarasekitarnya.
Massa udara yang lebih ringan naik, dan ketika naik, udara mendinginkarena
perluasannya pada tekanan rendah di ketinggian tinggi. Berhenti naik ketika telah
mendingin hingga mencapai temperatur yang sama dengan udarasekitarnya. Berkaitan
dengan termal adalah aliran ke bawah yang mengelilingikolom termal. Bagian luar yang
bergerak ke bawah disebabkan oleh udara dinginyang digantikan di atas termal.Ukuran
dan kekuatan termal dipengaruhi oleh sifat atmosfir bawah(troposfir). Umumnya, ketika
udara dingin, partikel udara hangat yang dibentuk oleh daratan yang menghangatkan
udara di atasnya, dapat naik seperti balonudara. Udara kemudian dikatakan tidak stabil. Bila lapisan
udara hangat naik,inversi dapat mencegah termal naik tinggi dan udara dikatakan stabil.
Termalmatahari membentuk prisma heksagonal (sel Bnard).Termal biasanya ditandai
dengan munculnya awan kumulus. Ketika angintenang datang termal dan awan kumulus
dapat bersilangan sesuai arah angin.Awan kumulus terbentuk oleh udara yang naik di
sebuah termal ketika mendingindan naik, hingga uap air di udara mulai mengembun menjadi titik-
titik air. Air yang mengembun ini melepaskan energi panas laten yang membolehkan
udaranaik lebih tinggi. Udara yang sangat tidak stabil dapat mencapai tingkat
bebaskonveksi (LFC) dan kenaikan yang sangat tinggi dapat mengembunkan
sejumlahbesar air dan menghasilkan hujan atau bahkan badai petir. Termal adalah
salahsatu sumber utama kenaikan yang digunakan oleh burung layang dan
paralayanguntuk terbang. Fenomena sejenis dapat dilihat di lampu lava.

2. Pengertian Sifat Termal

Sifat termal, meliputi konduktivitas panas, temperatur kerja maksimum,koefisien
ekspansi termal, difusivitas termal, dll. Konduktivitas adalah suatubesaran intensif bahan
yang menunjukkan kemampuannya untuk menghantarkanpanas. Semua keramik boleh
dikatakan dibuat dengan melalui pemanasan padatemperatur tinggi dan sejumlah keramik
dimanfaatkan karena sifat termalnya yangunggul, seperti sifat tahan panas, hantaran
panas, ketahanan terhadap kejutantermal, dan sebagainya. Titik cair dari kristal adalah
temperatur dimana energibebas Gibbs dari fasa padat dan fasa cair (G=H-TS) adalah sama.
Sejalan denganitu titik cair tidak dapat ditentukan dari analisa sederhana pada fasa padat
saja.Ada dua mekanisme dari penyerapan panas oleh kristal, yang pertamaadalah oleh
getaran atom yang kedua oleh pergerakan elektron. Umumnya yangpertama relatif sangat
besar. Dengan mengumpamakan semua atom dalam kristalbergetar secara harmonis pada
frekuensi tunggal yang sama, secara teoritisEinstein menurunkan harga kapasitas panas
volum tetap sama dengan nol padatemperatur nol derajat Kelvin dan mendekati harga 3 R (5,96
kal.mol-1.der-1)pada temperatur tinggi. Debye mengumpamakan bahwa ada distribusi
tertentupada frekuensi getaran atom dan menurunkan persamaan yang
menjelaskankapasitas panas terukur lebih baik dari rumus Einstein.Gejala pertambahan
volume bahan mengikuti peningkatan temperatur disebut pemuaian termal. Kristal yang
bukan sistem kubus memiliki susunan atomberbeda menurut arah, oleh karena itu
memiliki pula anisotropi dalam pemuaiantermal dan juga dalam sifat lainnya.
Kebanyakan keramik mempunyai isotropidalam pemuaian termal walaupun terdiri dari
kristal anisotropi, karena sifat-sifatadalah sebagai rata-rata dari keseluruhan bahan
polikristal. Dalam hal inikoefisien pemuaian panjang dari bahan polikristal kira-kira 1/3
dari koefisienpemuaian volum dari kristal pembentuk.

Panas dipindahkan dengan tiga macam mekanisme, yaitu konduksi,konveksi, dan
radiasi. Ketiga mekanisme tersebut secara umum terlibat dalamproses perpindahan panas
secara umum.Perpindahan panas dalam keramik hanyamencakup konduksi dan radiasi
saja.Dalam zat padat ada tiga pembawa energi bagi konduksi termal, yaituelektron,
getaran kisi dan foton. Gelombang elastik meneruskan panas karenaperbedaan dalam
getaran termal dari atom pada daerah temperatur tinggi dandaerah temperatur rendah.Ini
adalah konduksi termal karena vibrasi kisi. Denganmenganggap gelombang elastik ini
sebagai pertikel yang bergerak pada kecepatantinggi, partikel terkuantisasi, dan disebut
fonon.Pada temperatur tinggiperpindahan panas dengan radiasi dari gelombang
elektromagnetik menjadi sangatberarti. Gelombang elektromagnetik yang yang
dikuantumkan disebut foton.Pada umumnya hantaran termal dari logam adalah besar,
karena panasdipindahkan oleh elektron yang bergerak bebas dalam kristal. Keramik
adalahisolator yang hantaran termalnya karena elektron dapat diabaikan.
Fononmempunyai peranan bagi hantaran termal dalam keramik. Hantaran termalalumina
sangant kecil pada temperatur sangat rendah, dan cenderung meningkatsangat cepat menurut
temperatur, menurun kembali pada atau diatas 40oK, danmeningkat lagi pada atau diatas
1000
o
K.Perubahan ini dapat dihubungkandengan perubahan panas jenis dan menurunnya
lintasan bebas rata-rata olehantaraksi fonon dengan fonon. Meningkatnya hantaran panas
pada temperatur tinggi disebabkan oleh foton yang terutama penting bagi bahan tembus
cahaya.


3. Pengertian Pengukuran sifat termal

Pengukuran sifat termal menyangkut penentuan aliran kalor dan suhu.
Perpindahan kalor biasanya diukur dengan membuat neraca energy untuk peranti yang
sedang dikaji. Umpanya, pemanasan air dengan mengalirkan air itu melalui pipa panas.
Perpindahan kalor konveksi dari dinding pipa ke air dapat ditentukan dengan mungukur
laju aliran massa air dan suhu-suhu masuk dan keluar dari bagian pipa yang di panaskan.
Energi yang diterima air tentu sama dengan perpindahan kalor dari pipa, jika bagian luar
pipa itu diisolasi dan tidak ada kehilangan kalor. Adapun yang termasuk pengukuran sifat
termal oleh zat cair, gas dan pengukuran nilai kalor meliputi calorimeter bom dan
calorimeter aliran junker.
Sifat transport suatu fluida merupakan petunjuk tentang transport energy didalam
fluida atau zat padat. Dalam gas dan zat cair transport energy itu berlangsung melalui
gerakan molekul, sedangkan dalam zat padat transpor energy oleh electron bebas dan
getaran kisilah yang penting.
Viskositas fluida diklasifikasikan sebagai suatu sifat transport, karena pada
transport momentum yang terjadi sebagai akibat gerakan molekul didalam fluida. Sifat
transport momentum yang terjadi sebagai akibat gerakan molekul didalam fluida. Sifat
transport lainnya antara lain PH dan potensial larutan.

4. Pengukuran Konduktivitas termal
Konduktivitas termal diaplikasikan oleh persamaan Fourier :
Q
x
= -kA

( )
Dimana :
Q
x
= Laju perpindahan kalor,Btu/h atau W
A = Luas bidang tempat berlangsung nya perpindahan kalor, ft
2
atau m
2

= gradient suhu dalam arah perpindahan kalor,


0
F/ft atau
0
C/m
K = Konduktivitas termal, Btu/ h.ft.
0
F atau W/m.
0
C

Penentuan konduktivitas termal secara eksperimen didasarkan atas hubungan ini.
Perhatikan lempeng logam tipis pada gambar 5-1. Jika laju perpindahan kalor melalui
bahan itu, tebal bahan dan perbedaan suhu telah diukur, maka konduktivitas termal dapat
dihitung dari :
K=

( )

Dalam rakitan eksperimen, kalor diberikan dengan pemanas listrik pada satu sisi
lempeng itu dan dikeluarkan dari sisi yang satu lagi dengan plat yang diinginkan. Suhu
pada kedua sisi lempeng diukur dengan termokpel atau termistor.



Masalah pokok dalam metode penentuan kondukyivitas diatas ialah adanya
kemungkinan kalor hilang dari rusuk lempeng yang menyebabkan adanya kesalah dalam
pengukuran. Masalah ini dapat dihindarkan dengan cara emasang pemanas kawl seperti
gambar 5-2.



Dalam susunan ini pemanas ditempatkan dipusat dan lempeng specimen itu
ditempatkan pada kedua sisi plat pemanas itu. Suatu pendingin dialiri lingkaran melalui
peranti itu untuk mengeluarkan energy pada tempat-tempat tertentu dipasang termokopel
untuk mengukur suhu. Pemanas kawal mengurung pemanas utama dan suhunya dijaga
agar sama dengan pemanas utama. Hal ini mencegah adanya perpindahan kalor melalui
rusuk-rusuk specimen. Dengan demikian adanya perpindahan kalor satu dimensi melalui
bahan yang akan ditentukan konduktivitas termal nya. Plat panas berkawal banyak
digunakan untuk menentukkan konduktivita termal bahan-bahan bukan logam yaitu zat-
zat yang mempunyai konduktivitas termal tinggi., beda suhunya kecil sehingga
memrlukan pengukuran yang lebih teliti.

5. Konduktivitas termal zat cair dan gas
Untuk menentukan konduktivitas termal zat cair yaitu dengan menggunakan
metode plat panas berkawal. Aparatus yang dipakai ialah seperti gambar 5-3. Diameter
plat adalah 5 cm dan tebal zat cair kira-kira 0,05cm. Lapisan ini harus cukup tipis agar
arus konveksi minimum.


Susunan annulus seperti gambar 5-4 dapat pula digunakan untuk penentuan
konduktivitas termal zat cair, tebal lapisan zat cair harus cukup tipis arus konveksi termal
menjadi minimum.
Keyes dan sandell menggunakan metode silinder konsentrik untuk pengukuran
konduktivitas termal gas. Dengan menggunakan peranti demikian untuk pengukuran
konduktivitas termal uap-cair, oksigen, nitrogen, dan gas lain-lain.



Silinder dalam dan silinder luar kedua nya terbuat dari perak, panjangnya 5 in dan
diameter luar 1 in. Ruang celah untuk gas 0,025in. Banyak digunakan untuk mengukur
konduktivitas termal gas suhu tinggi. Skema apparatus tersebut seperti gambar 5-5.
Pemancar berfungsi sebgai sumber kalor, sedangkan pusat-pusat panas pada kedua
ujungnya menjadi pemanas kawal. Pemancar mempunyai diameter luar 6mm dan panjang
50 mm sedangkan penerima mempunyai diameter dalam 10 mm dan panjangnya 125 mm
dan tebalnya 1 mm. Laju perpindahan kalor dengan menentukkan masukkan daya listrik
kepemancar sedangkan untuk pengukuran suhu digunakan termokopel yang dipasang
pada permukaan pemancar dan penerima.



6. Pengukuran nilai kalor
Penentuan nilai kalor berkaitan erat dengan penetuan besaran energy. Besaran-
besaran ini dapat diklasifikasikan sebagai sifat-sifat termodinamika sistim seperti entalpi,
energy dalam, kalor spesifik dan nilai kalor. Pengukuran nilai-nilai kalor suatu zat cair,
padat atu gas dengan menggunakan kalorimetri aliran junker dan bom calorimeter.

a. kalorimeter aliran junker
Suatu peranti yang banyak digunakan untuk penentuan nilai kalor bahan bakar
padat dan cair. Peranti yang biasanya digunakan untuk eksperimen ialah kalorimeter
junker. Skema calorimeter itu diberikan pada gambar 5-6. Bahan bakar gas dibakar
didalam kalorimeter itu dan kalor nya diberikan ke air pendingin. Laju aliran air
ditentukan dengan menimbangnya, sedangkan suhu air masuk dan keluar diukur dengan
thermometer presisi raksa dalam gelas. Hasil pembakaran didinginkan hingga suhunya
cukup rendah dan uap ai mengembun. Kondensat itu dikumpulkan dalam tabung ukur.
Laju aliran gas diukur dengan meter aliran anjakan positif.



Skema alir calorimeter aliran terlihat pada gambar 5-7. Untuk mudahnya, semua
arus yang masuk peranti diberi subskrip1, sedangkan arus yang keluar dari peranti itu
ditandai dengan subskrip 2. Bahan bakar dan udara dibakar didalam calorimeter dan
sebagian besar kalor pembakaran diambil oleh air yang masuk dan kelua T
w1
dan T
w2
,
laju aliran massa bahan bakar m
f
, laju aliran massa air pendingin m
w
, suhu kondensat T
w2
,
suhu bahan dan udara masuk T
f1
dan T
a1.




Dari semua data ini, neraca massa dan energy dapat dilakukan untuk menetukkan
nilai kalor bahan bakar zat tersebut. Neraca massa dan neraca energy menjadi :
M
f1
(h
f1
+E
f1
)+m
a1
h
a1
+m
v1
h
v1
-m
p2
h
p2
-m
c2
h
c2
=m
w
(h
w2
-h
w1
).. (5-3)
Dimana E
f1
adalah energy kimia bahan bakar itu.

b. Kalorimeter Aliran Bomb Kalorimeter
Jenis alat bomb kalorimeter aliran yang biasa digunakan dalam eksper imen
disebut Junkers Calorimeter (Kalorimeter Junker) seperti skema Gambar 4.2. Bahan
bakar gas dibakar di dalam kalorimeter Junker itu, dan kalornya dialirkan ke air
pendingin. Laju aliran air ditentukan dengan menimbangnya, sedang suhu air masuk dan
kel uar diukur dengan termometer presisi raksa dalam gelas. Hasil pembakaran
didinginkan hingga suhunya cukup rendah dan uap airnya mengembun. Kondensatnya
dikumpulkan dalam tabung ukur seperti pada gambar. Laju aliran gas biasanya diukur
dengan positive displ acement flowmeter. Skema alir Junker calorimeter terlihat pada
Gambar 4.2. Semua arus yang masuk rangkaian diberi subskrip 1, sedang arus yang
keluar dari rangkaian itu diberi tanda subskrip 2. Bahan bakar dan udara dibakar di dalam
calorimeter, dan sebag ai besar kalor pembakaran diserap oleh air pendingin. Pengukuran
yang perlu dibuat dalam eksperimen ini ialah suhu air pendingin masuk dan keluar Tw
1

dan T
w2
, laju aliran massa bahan bakar mf, laju aliran massa air pendingin mw, suhu
kondesat T
c2
, suhu bah an bakar dan udara masuk T
f1
dan T
a1
, dan kelembaban relatif
udara masuk f 1, di samping itu dilakukan pula analisa hasil pembakaran untuk
menentukan kandungan okigen, karbon dioksida, dan karbon monoksida. Berdasarkan
data- data ini, neraca massa dan neraca energi dapat dilakukan untuk menghitung nilai
kalor bahan bakar tersebut. Uraian lebih detail tentang contoh perhitungan dan demikian
juga




Prosedurnya diharapkan para pembaca merujuk pustaka by J.P. Holmen dan
Shoop-Tuve. Pada makalah ini hanya dibahas prosedur dan contoh analisis kalor
menggunakan jenis kalorimeter non -aliran (Bomb kalorimeter).


c. Kalorimeter Non- Aliran
Jenis alat kalorimeter non - aliran yang telah lazim adalah bomb kalorimeter ,
digunakan untuk untuk penentuan nilai kalor bahan bakar padat dan cair. Berbeda dengan
jenis kalorimeter aliran, pengukuran disini dilakukan pada kondisi volum konstan, tanpa
alira n, seperti pada Gambar 4.4. Contoh bahan bakar yang diukur dimasukkan ke dalam
bejana logam yang kemudian diisi dengan oksigen pada tekanan tinggi. Bom ditempatkan
di dalam bejana berisi air dan bahan bakar dinyalakan dengan sambungan listrik dari luar.
Suhu air diukur sebagai fungsi waktu setelah penyalaan, dan dari pengetahuan tentang
massa air di dalam sistem itu, massa dan kalor spesifik bejana, kurva pemanasan dan
pendinginan transien, maka energi yang dilepaskan dalam pembakaran itu dapat
ditentukan. Keseragaman suhu air di sekeliling bom dijaga dengan suatu pengaduk.
Dalam hal -hal tertentu diberikan pemanasan dari luar melalui selubung air untuk
menjaga supaya suhu seragam, sedang dalam hal -hal lain selubung itu dibiarkan kosong
untuk menjaga kondisi yang mendekati adiabatik dalam bejana air sebelah dalam.





REFRENSI :
- Modul Instrumen dan teknik Pengukuran Politeknik Negeri sriwijaya
- http://id.wikipedia.org/wiki/Termal
- http://www.scribd.com/doc/50299091/THERMAL
- http://eprints.upnjatim.ac.id/3285/2/analisa_instrumentasi.pdf
- ml.scribd.com/doc/44825679/konduktivitas-termal
- www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengaplikasian alat yang menggunakan kalorimeter
junker&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCAQFjAA&url=http%3A%2F%2Fniketut
sari.wordpress.com%2F2012%2F04%2F13%2Fbomb-
kalorimeter%2F&ei=4vV_UOOpH8rOrQenrIG4Cw&usg=AFQjCNFRz0NJFdghwaYs1
hSxqx7zkewd0A
-