Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANALITIK 2
TITRASI IODOMETRI
Senin, 5 Mei 2014

Disusun Oleh:
MAWAH SHOFWAH
1112016200040
KELOMPOK 1
Millah Hanifah (1112016200073)
Yasa Esa Yasinta (1112016200062)
Widya Fitriani (1112016200046)
Savira Aulia (1112016200076)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
ABSTRAK
Titrasi iodometri adalah salah satu titrasi redoks yang melibatkan iodium. Pada
iodometri, sampel yang bersifat oksidator direduksi dengan kalium iodida
berlebihan dan akan menghasilkan iodium yang selanjutnya dititrasi dengan
larutan baku natrium thiosulfat. Berdasarkan titrasi iodometri dapat diperoleh nilai
normalitas suatu larutan NaS
2
O
3
sebesar 0,06 N dan kadar Cu sebesar 3,3 %.
PENDAHULUAN
Titrasi iodometri adalah salah satu titrasi redoks yang melibatkan iodium.
Titrasi iodometri disebut juga titrasi tidak langsung yang dapat digunakan untuk
menetapkan senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi yang lebih
besar daripada sistem iodium-iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat
oksidator seperti CuSO4.5H2O. Pada iodometri, sampel yang bersifat oksidator
direduksi dengan kalium iodida berlebihan dan akan menghasilkan iodium yang
selanjutnya dititrasi dengan larutan baku natrium thiosulfat. Banyaknya volume
Natrium Thiosulfat yang digunakan sebagai titran setara dengan banyaknya
sampel (Hamdani, dkk. 2012).
Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah amylum. Amylum tidak
udah larut dalam air serta tidak stabil dalam suspensi dengan air, membentuk
kompleks yang sukar larut dalam air bila bereaksi dengan iodium, sehingga tidak
boleh ditambahkan pada awal titrasi. Penambahan amylum ditambahkan pada saat
larutan berwarna kuning pucat dan dapat menimbulkan titik akhir titrasi yang tiba-
tiba. Titik akhir titrasi ditandai dengan terjadinya hilangnya warna biru dari
larutan menjadi bening (Hamdani, dkk. 2012).
Dalam proses-proses analitis, iodin digunakan sebagai sebuah agen
pengoksidasi (iodimetri), dan ion iodida dipergunakan sebagai sebuah agen
pereduksi (iodometri). Dapat dikatakan bahwa hanya sedikit saja substansi yang
cukup kuat sebagai unsur reduksi untuk dititrasi langsung dengan iodin. Karena
itu jumlah dari penentuan-penentuan iodimetrik adalah sedikit. Namun demikian,
banyak adegan pengoksidasi yang cukup kuat untuk bereaksi secara lengkap
dengan ion iodida, dan aplikasi dari proses iodometrik cukup banyak. Kelebihan
dari ion iodida ditambahkan ke dalam agen pengoksidasi yang sedang ditentukan,
membebaskan iodin, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat.
Reaksi antara iodin dengan tiosulfat berlangsung sempurna (Underwood, 2002:
296).
Natrium tiosulfat umumnya dibeli sebagai pentahidrat dan larutan-
larutannya distandarisasi terhadap sebuah standar primer. Iodin mengoksidasi
tiosulfat menjadi ion tetrationat:
I
2
+ 2S
2
O
3
2-
2I
-
+ S
4
O
6
2-

Reaksinya berjalan dengan cepat, sampai selesai, dan tidak ada reaksi sampingan.
Sejumlah substansi dapat dipergunnakan sebagai standar-standar primer
untuk larutan-larutan tiosulfat. Iodin murni adalah standar yang paling jelas
namun jarang dipergunakan dikarenkan kesulitannya dalam penanganannya dan
penimbangan yang sering dipergunakan adalah standar yang terbuat dari suatu
agen pengoksidasi kuat yang akan membebaskan iodin dari iodida, sebuah proses
iodometrik (underwood, 2002: 298).
Tembaga murni dapat dipergunakan sebagai standar primer untuk natrium
tiosulfat dan didasarkan untuk dipakai ketika tiosulfatnya akan dipergunakan
untuk menentukan tembaga (Underwood, 2002: 299).
Reaksi penggabungan-ion, dimana bilangan oksidasi (valensi) spesi-spesi
yang bereaksi tidaklah berubah. Namun terdapat sejumlah reaksi dalam mana
keadaan oksidasi berubah, yang disertai dengan pertukaran elektron anatara
pereaksi. Ini disebut reaksi oksidasi-reduksi, atau reaksi redoks (Vogel, 1979:
107).
Oksidasi dan reduksi dapat didefinisikan sebagai istilah berkurangnya atau
bertambahnya satu atau lebih elemen. Oksidasi didefinisikan sebagai kehilangan
satu atau lebih electron secara jelas oleh unsure terkecil yang terlibat dalam suatu
reaksi. Sedangkan reduksi didefinisikan sebagai bertambahnya satu atau lebih
electron secara jelas oleh unsure terkecil yang terdapat dalam suatu reaksi. Reaksi
redoks adalah suatu reaksi transfer electron yang mana electron dari suatu unsure
dioksidasi dengan kehilangan satu atau lebih electron ke unsur lain yang direduksi
ketika berperan sebagai sebuah penerima electron. Jumlah electron yang hilang
harus sama dengan jumlah electron yang bertambah. Dalam reaksi karena terdapat
transfer satu atau lebih electron dalam satu unsur ke unsure yang lain. (Novianti
dkk, 2009).
ALAT dan BAHAN
Alat yang digunakan dalam praktikum yaitu:
Abu Erlenmeyer
Buret
Statif dan Klem
Gelas ukur
Pipet
Neraca analitik
Kaca arloji
Spatula
Bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu:
K
2
CrO
4

H
2
SO
4

Padatan KI
NaS
2
O
3

CuSO4
Amilun 1 %
LANGKAH KERJA
Prosedur kerja yang dilakukan dalam percobaan yaitu:
Pembakuan natrium tiosulfat
1. Mengambil 15 ml larutan iodin

dan memasukkan ke dalam labu erleneyer
2. Menambahkan 1 mL indicator amilum
3. Melakukan titrasi dengan larutan Natrium tiosulfat untuk menentukan
konsentrasi dari Natrium tiosulfat
Penentuan kadar CuSO4
1. Mengambil 25 ml larutan CuSO
4
, menambahkan asam sulfat sebanyak 5
ml
2. Menambahkan 0,5 gram padatan KI dan menambahkan setetes demi
setetes indicator amilum hingga larutan menjadi ungu
3. Melakukan titrasi dengan larutan Natrium tiosulfat hingga larutan tidak
berwarna
HASIL PENGAMATAN dan PEMBAHASAn
Data hasil pengamatan
Pembakuan natrium tiosulfat

Perlakuan Pengamatan
Larutan iodin 0,1 M 15 mL + indikator Larutan berwarna coklat
amilum 1 mL
Titrasi dengan natrium tiosulfat 22 mL Titik akhir titrasi larutan tidak berwarna

V
1
x M
1
= V
2
x M
2

15 mL x 0,1 M = 22 mL x M
2

M
2
= 1,5
22
= 0,06 M

Penentuan kadar CuSO4

Perlakuan Pengamatan
25 ml CuSO4 + 5 ml H2SO4 + 0,5
gram KI
Larutan berwarna kuning
+ indikator amilum 4 ml Larutan menjadi berwarna ungu
Titrasi dengan larutan natrium tiosulfat
8,5 ml
Titik akhir titrasi larutan tidak berwarna

V NaS
2
O
3
= 8,5 ml
Be =

= 65,37
W Cu
2+
=


x Be Cu

W Cu
2+
=

x 65,37
W Cu
2+
= 1,33 gram
Kadar Cu
2+
=


x 100%
Kadar Cu
2+
=

x 100%
Kadar Cu
2+
= 3,3 %
Titrasi iodometri adalah salah satu titrasi redoks yang melibatkan iodium. Titrasi
iodometri disebut juga titrasi tidak langsung yang dapat digunakan untuk
menetapkan senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi yang lebih
besar daripada sistem iodium-iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat
oksidator seperti CuSO4.5H2O.
Kelebihan dari ion iodida ditambahkan ke dalam agen pengoksidasi yang sedang
ditentukan, membebaskan iodin, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium
tiosulfat. Reaksi antara iodin dengan tiosulfat berlangsung sempurna.
Pada percobaan ini akan dilakukan pembakuan nartium tiosulfat dan penentukan
kadar CuSO4 menggunakan metode titrasi iodometri yang berprinsipkan
berdasarkan rekasi redoks, yaitu serah terima elektron di mana
elektron diberikanoleh pereduksi dan diterima oleh pengoksidasi.
Di sini iod merupakan oksidator lemah sedangkan ion iodida sering bertindak
sebagaireduktor. Oleh karena itu iodium dapat diguakan sebagai reduktor dan
oksidator. Titrasi iodometri harus dilakukan dalam suasana asam agar rekasi dapat
berlangsung,maka dalam praktiukum ini analit diberika H2SO4 2M agar
bersuasana asam. Dalam praktikumini digunakan indikator kanji sebagai
pengidentifikasi titik akhir titrasi, karena sensitivitas warna biru tua yang
mempermudah pengamatan perubahan pada titik akhir titrasi. Selain itu
kompleksantara iodium dan amilum memiliki kelarutan yang amat kecil dalam air
apalagi dalam larutanasam iodida mudah untuk dioksidasikan menjadi iod bebas
dengan sejumlah zat pengoksid,sehingga iod bebas ini mudah diidentifikasi
dengan larutan indikator sebagai uji kepekaan terhadap iod dari pewarnaan biru
tua yang dihasilkan oleh indikator kanji.
Pada pembakuan natrium tiosulfat, proses titrasi dilakukan hingga warna
biru pada larutan hilang, dan volume larutan NaS
2
O
3
yang digunakan selama
titrasi sebanyak 22 ml. berdasarkan data hasil perhitungan diperoleh nilai
normalitas dari larutan NaS
2
O
3
adalah 0,06 N. Pada penentuan kadar CuSO4,
titrasi dilakukan hingga warna ungun pada larutan hilang. NaS
2
O
3
yanh digunkan
hingga warna ungu hilang adalah 8,5 mL. Berdasarkan perhitungan data hasil
percobaan diperoleh kadar Cu
2+
yang didapat sebesar 3,3 %.

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Titrasi iodometri disebut juga titrasi tidak langsung yang dapat digunakan
untuk menetapkan senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi
yang lebih besar daripada sistem iodium-iodida atau senyawa-senyawa
yang bersifat oksidator seperti CuSO4.5H2O.
2. Titrasi iodometri adalah salah satu titrasi redoks yang melibatkan iodium
3. Nilai normalitas dari larutan Na
2
S
2
O
3
adalah 0,06 N
4. Kadar Cu
2+
dari larutan CuSO
4
adalah 3,3 %
REFERENSI
Underwood A.L , JR. R.A. Day. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam.
Jakarta: Erlangga.
Vogel. 1979. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro
Edisi ke-5 Bagian 1. Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka.

Novianti N.R, Ade. Laporan Praktikum Kimia Dasar II.
http://id.scribd.com/doc/176286014/Percobaan-Viii-Reaksi-Redoks. 2009.
Diakses pada sabtu, 10 Mei 2014 pukul 14.00 WIB.

Hamdani, Syarif dkk. Panduan Praktikum Kimia Analisis, STFI.
http://id.scribd.com/doc/119575944/Diktat-Praktikum-Kimia-Analisis. 2012.
Diakses pada sabtu, 10 mei 2014 pukul 14.30 WIB.