Anda di halaman 1dari 16

LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

STEP 7
1. Macam-macam kontrasepsi? Dan cari juga kelebihan serta kekurangannya?

Perbandingan Metode Kontrasepsi
No. Metode Keuntungan Efek samping Pertimbangan Lain
1 Metode Hormonal
a Kontrasepsi Oral Harus diminum setiap hari. Menstruasi
(perdarahan) tidak
teratur selama
beberapa bulan
pertama.
Wanita yang berusia
di atas 35 tahun dan
perokok tidak
dianjurkan
menggunakan
kontrasepsi oral.
Untuk kontrasepsi oral
kombinasi (mengandung
estrogen dan progestin),
seorang wanita
mengkonsumsi pil aktif
setiap hari selama 3 pekan,
kemudian diikuti dengan
minum tablet inaktif selama
1 pekan.
Mual, perut kembung,
retensi cairan,
peningkatan tekanan
darah, nyeri payudara,
migrain, sakit kepala,
pertambahan berat
badan, jerawat, dan
gelisah.
Beberapa gangguan
juga dapat
mengurangi
penggunaannya.
Untuk kontrasepsi oral yang
hanya mengandung
progestin saja maka pil
diminum setiap hari.
Meningkatkan resiko
terjadinya
penyumbatan
pembuluh darah &
kemungkinan kanker
leher rahim
Wanita yang
menggunakan
kontrasepsi oral, lebih
jarang mendapat
kram perut saat haid,
Jerawat, perdarahan
tak teratur,
Kunjungan ke dokter Peningkatan risiko
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

dilakukan secara periodik
untuk mengulangi resep
bekuan darah dan
kemungkinan kanker
serviks
kemungkinan terkena
osteoporosis, serta
resiko mendapat
beberapa jenis kanker
tertentu.
b Implan Kontrasepsi implan hanya
perlu dipasang 1 kali untuk
pemakaian selama 3 tahun.
Implan dipasang oleh
seorang dokter.
Menstruasi tidak
teratur selama tahun
pertama pemakaian.
Larangan sama
seperti penggunaan
kontrasepsi oral.
Sakit kepala dan
penambahan berat
badan.
Diperlukan torehan
untuk mengeluarkan
implan
c Koyo kontrasepsi/ koyo
KB
Wanita menggunakan patch
kontrasepsi (berbentuk
seperti koyo) untuk
penggunaan selama 3
minggu. 1 minggu
berikutnya tidak perlu
menggunakan koyo KB.
Efek samping sama
dengan kontrasepsi
oral, namun jarang
ditemukan adanya
perdarahan tidak
teratur.
Larangan sama
seperti penggunaan
kontrasepsi oral.
Kunjungan ke dokter
dilakukan secara periodik
untuk memperbarui resep.
d Cincin vagina Wanita memasukkan cincin
setiap 3 minggu sekali.
Kemudian selama 1 minggu
cincin vagina dilepaskan.
Cincin yang baru digunakan
untuk pemakaian 1 bulan
Efek samping mirip
dengan kontrasepsi
oral, namun jarang
ditemukan perdarahan
tidak teratur.
Larangan sama
seperti pada
penggunaan
kontrasepsi oral.
Pada minggu-minggu
awal pemakaian,
perlu digunakan
metode kontrasepsi
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

lain sebagai
cadangan.
Cincin vagina dapat
Keluar dengan
sendirinya. Apabila
cincin dimasukkan
kembali dalam waktu
kurang dari 3 jam
(setelah keluar
dengan tidak sengaja)
maka metode
kontrasepsi cadangan
tidak perlu
digunakan.
e Injeksi
Medroxyprogesterone
Injeksi diberikan oleh dokter
setiap 3 bulan.
Terjadi perdarahan
tidak teratur (seiring
waktu, perdarahan
makin jarang terjadi)
atau tidak menstruasi
sama sekali saat
kontrasepsi injeksi
digunakan.
Metode ini
mengurangi risiko
terjadinya kanker
rahim (endometrial),
penyakit radang
panggul, dan anemia
karena kekurangan
zat besi.
Sedikit kenaikan berat
badan, sakit kepala,
dan kehilangan
kepadatan tulang
secara sementara
2 Metode barrier (penghalang)
a Kondom Pria menggunakan kondom Reaksi alergi dan iritasi Kondom lateks
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

segera sebelum melakukan
hubungan seksual dan
membuangnya setiap habis
digunakan.
memberi
perlindungan
terhadap penyakit
yang ditularkan lewat
hubungan seksual.
Kondom banyak tersedia di
toko obat bebas.
Kondom harus di
gunakan secara
benar. Agar efektif,
metode ini
memerlukan
kerjasama dari
pasangan.
b Diafragma dengan krim
atau gel kontrasepsi
Diafragma dapat digunakan
oleh wanita sebelum
melakukan hubungan
seksual. Kemudian
didiamkan (dibiarkan)
selama 24 jam.
Reaksi alergi, iritasi &
infeksi saluran kemih
Setelah diafragma
dipasang, krim atau
gel tambahan perlu
dimasukkan sebelum
melakukan hubungan
seksual.
Penentuan ukuran
diafragma yang sesuai
dilakukan oleh dokter
(setidaknya setahun sekali).
Diafragma yang
menggunakan krim atau gel
kontrasepsi dapat
menyebabkan penempatan
diafragma menjadi
berantakan.
c Spons kontrasepsi Spons kontrasepsi dapat Reaksi alergi dan Spons dapat sulit
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

dimasukkan sebelum
melakukan hubungan
seksual. Spons dapat
dimasukkan kemudian dan
dapat efektif selama 24 jam.
Spons dibuang setiap habis
digunakan.
kekeringan pada
vagina atau iritasi
untuk dikeluarkan.
Spons harus
dikeluarkan dalam
setelah 30 jam.
Spons kontrasepsi tersedia
di toko obat bebas
3 Metode lain
a Intrauterine device (IUD)/
Alat kontrasepsi dalam
rahim (AKDR)
IUD/ AKDR hanya perlu
dipasang setiap 5-10 tahun
sekali, tergantung dari tipe
alat yang digunakan. Alat
tersebut harus dipasang
atau dilepas oleh dokter.
Perdarahan dan rasa
nyeri.
Kadangkala IUD /
AKDR dapat terlepas.
Perforasi rahim (jarang
sekali).
b KB alami metode ritmik Wanita memeriksa suhu
tubuh, lendir vagina dan
gejala lain atau kombinasi
dari ketiganya hampir setiap
hari.
Tidak ada. Metode ini
memerlukan
ketekunan wanita
dan hubungan
seksual tidak
dilakukan selama
beberapa hari dalam
sebulan.
Metode ini kurang
efektif bagi wanita
yang mempunyai
siklus mentruasi tidak
teratur
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

c Sanggama terputus Pria menarik keluar
penisnya dari vagina
sebelum terjadi ejakulasi.
tidak ada Metode ini tidak
dapat diandalkan
karena sperma bisa
saja keluar sebelum
terjadi ejakulasi
Sangat diperlukan
pengendalian diri dan
pengaturan waktu yang
tepat.

2. Bagaimana persyaratan medis menggunakan kontrasepsi?(indikasi)
Syarat yang baik :
- Aman/tidak berbahaya
- Dapat diandalkan
- Sederhana, sedapt-dapatnya tidak usah dikerjakan oleh seorang dokter
- Murah
- Dapat diterima oleh orang banyak
- Pemakaian jangka Lama
(dr. Hanafi, Keluarga Berencana dan Kontrasepsi)


3. Faktor faktor apa yang harus diperhatikan dalam pemilihan kontrasepsi?
- Faktor PASANGAN
o Umur
o Gaya Hidup
o Frekuensi Senggama
o Jumlah Keluarga yang diinginkan
o Pengalaman dengan kontraseptivum yang lain
o Sikap kewanitaan dan Kepriaan

- Faktor KESEHATAN
o Status kesehatan
o Riwayat Haid, Keluarga
o Pemeriksaan Fisik dan Panggul

- Faktor METODE KONTRASEPSI
o Efektivitas
o Efek SampingMinor
o Kerugian
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

o Komplikasi2 yang potensial
o Biaya
(dr. Hanafi, Keluarga Berencana dan Kontrasepsi)

4. Apakah orang setelah post partum wajib menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan?
Cara pemberian:
- pada hari ke3-5 setelah bersalin
- sesudah air susu ibu berproduksi
- sebelum pulang dari rumah sakit
- 6-8 minggu setelah bersalin
(dengan syarat tidak sementara hamil ataupun telah melakukan hubungan badan)

5. Alat kontrasepsi apa yang seharusnya digunakan oleh ibu yang mengalami fibroadenoma tersebut?
a. Pilihan kontrasepsi yang gunakan?
Jika ibu tersebut tetap ingin menggunakan kontrasepsi hormonal pil, berikan kontrasepsi hormonal pil
yang mengandung progesterone only, merk levonogestrel. Tapi sebaiknya berikan penjelasan mengenai
kontrasepsi nonhormonal seperti IUD.

6. Bagaimana hubungannya fibroadenoma dengan pemilihan kontrasepsi? (jelaskan fibroanenoma apa)
Mengapa demikian?
Karena ibu tersebut suspect fibroadenoma mammae maka kita jelaskan kandungan dan bagaimana kerja
kontrasepsi hormonal terhadap tubuh terutama pengaruhnya terhadap payudara ibu tersebut. Jelaskan
sesuai pemahaman ibu, mengenai kelainan yang ada pada payudaranya bahwa kontrasepsi hormonal
sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan sel dari fibroadenoma mammae. Karena kontrasepsi hormonal
memicu pertumbuhan sel tersebut.
Bagaimana informed choicenya?
Jelaskan kepada ibu macam macam kontasepsi, Jika ibu tersebut memilih kontrasepsi hormonal pil,
berikan kontrasepsi hormonal pil yang hanya mengandung progesterone. Jika memungkinkan ibu memilih
kontrasepsi nonhormonal ,bantu ibu untuk memilih kontrasepsi nonhormonal seperti metode kalender
(ajarkan ibu untuk menggunakan metode kalender), metode lendir serviks (ajarkan ibu utuk mengetahui
metode tersebut), kondom, koitus interuptus, IUD. Yang tidak memicu pertumbuhan sel kanker.
Apakah fibroadenoma bisa menjadi ganas?
Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak yang sering terjadi di payudara. Benjolan tersebut berasal dari
jaringan fibrosa (mesenkim) dan jaringan glanduler (epitel) yang berada di payudara, sehingga tumor ini disebut
sebagai tumor campur (mix tumor), tumor tersebut dapat berbentuk bulat atau oval, bertekstur kenyal atau
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

padat, dan biasanya nyeri. Fibroadenoma ini dapat kita gerakkan dengan mudah karena pada tumor ini terbentuk
kapsul sehingga dapat mobil, sehingga sering disebut sebagai breast mouse.
Fibroadenoma mammae biasanya terjadi pada wanita usia muda, yaitu pada usia sekitar remaja atau sekitar 20
tahun. Berdasarkan laporan dari NSW Breats Cancer Institute, fibroadenoma umumnya terjadi pada wanita
dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada usia di atas 50, sedangkan prevalensinya lebih dari 9%
populasi wanita terkena fibroadenoma. Sedangkan laporan dari Western Breast Services Alliance, fibroadenoma
terjadi pada wanita dengan umur antara 15 dan 25 tahun, dan lebih dari satu dari enam (15%) wanita mengalami
fibroadenoma dalam hidupnya. Namun, kejadian fibroadenoma dapat terjadi pula wanita dengan usia yang lebih
tua atau bahkan setelah menopause, tentunya dengan jumlah kejadian yang lebih kecil disbanding pada usia
muda.
Penelitian saat ini belum dapat mengungkap secara pasti apa penyebab sesungguhnya dari fibroadenoma
mammae, namun diketahui bahwa pengaruh hormonal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dari
fibroadenoma mammae, hal ini diketahui karena ukuran fibroadenoma dapat berubah pada siklus menstruasi
atau pada saat kehamilan. Perlu diingat bahwa tumor ini adalah tumor jinak, dan fibroadenoma ini sangat jarang
atau bahkan sama sekali tidak dapat menjadi kanker atau tumor ganas.

Fibroadenoma dapat didiagnosis dengan tiga cara, yaitu dengan pemeriksaan fisik (phisycal
examination), dengan mammography atau ultrasound, dengan Fine Needle Aspiration Cytology (FNAC). Pada
pemeriksaan fisik dokter akan memeriksa benjolan yang ada dengan palpasi pada daerah tersebut, dari palpasi
itu dapat diketahui apakah mobil atau tidak, kenyal atau keras,dll. Mammography digunakan untuk membantu
diagnosis, mammography sangat berguna untuk mendiagnosis wanita dengan usia tua sekitar 60 atau 70 tahun,
sedangkan pada wanita usia muda tidak digunakan mammography, sebagai gantinya digunakan ultrasound, hal
ini karena fibroadenoma pada wanita muda tebal, sehingga tidak terlihat dengan baik bila menggunakan
mammography.
Pada FNAC kita akan mengambil sel dari fibroadenoma dengan menggunakan penghisap berupa sebuah
jarum yang dimasukkan pada suntikan. Dari alat tersebut kita dapat memperoleh sel yang terdapat pada
fibroadenoma, lalu hasil pengambilan tersebut dikirim ke laboratorium patologi untuk diperiksa di bawah
mikroskop. Dibawah mikroskop tumpor tersebut tampak seperti berikut :
a. Tampak jaringan tumor yang berasal dari mesenkim (jaringan ikat fibrosa) dan berasal dari epitel (epitel
kelenjar) yang berbentuk lobus-lobus;
b. Lobuli terdiri atas jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar yang berbentuk bular (perikanalikuler) atau
bercabang (intrakanalikuler);
c. Saluran tersebut dibatasi sel-sel yang berbentuk kuboid atau kolumnar pendek uniform

7. Bagaimana hubungan kontrasepsi dengan produksi ASI? (saat keadaan menyusui dicari jg patfisnya)
Memilih kontrasepsi saat menyusui
Pil kontrasepsi
Pil KB kombinasi yang mengandung hormon estrogen dan progesteron tidaklah
dianjurkan untuk ibu menyusui karena mengurangi produksi ASI. Bila Anda tak
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

cocok dengan cara KB yang lain sedangkan Anda menyusui, lebih baik memilih pil
KB yang hanya mengandung turunan hormon progesteron (mini pil). Sebuah studi
menunjukkan mini pil ini tidak mempengaruhi ASI dibandingkan pil kombinasi.
Efek kontrasepsi mini pil yang lebih lemah bisa dibantu dengan memberi ASI
eksklusif. Dan bila ibu sudah berhenti menyusui, barulah menggantinya dengan
pil kombinasi.
KB suntik atau
implant
Karena hanya mengandung hormon turunan progesteron, KB suntik pada
prinsipnya sama dengan mini pil. KB suntik memiliki efek lebih panjang dan
disuntikkan pada periode tertentu saja (satu bulan atau 2-3 bulan). Konon, saat
penyuntikan dengan dosis tinggi, hormon yang masuk ke ASI akan meningkat, namun
menurut studi hal ini tidak merugikan si bayi.
KB implant merupakan jenis KB hormonal yang bersifat jangka panjang. KB
dilakukan dengan memasukkan sejenis selongsong berisi hormon ke bawah kulit,
dan akan diambil bila ibu menginginkannya atau setelah lima tahun.
Efeknya sama dengan KB suntik.
WHO menyarankan ibu yang menyusui eksklusif mulai memakai kontrasepsi
berisi hormon turunan progesteron ini enam minggu setelah melahirkan.
AKDR (alat
kontrasepsi dalam rahim)
Sampai saat ini, AKDR menjadi pilihan pertama untuk ibu yang masih menyusui
namun belum ingin kontrasepsi mantap.Selain keluhan yang minimal, AKDR tidaklah
berpengaruh pada ASI karena bekerja secara lokal di dalam rahim. Pemasangan
AKDR tidaklah perlu menunda waktu, bisa dilakukan pada akhir nifas, biasanya
saat satu bulan tujuh hari setelah ibu bersalin. Sebab, bila diberikan lebih
awal, risiko AKDR untuk terlepas (ekspulsi) lebih besar.
Metode kontrasepsi
lain
Beberapa ibu memilih untuk mengkombinasi ASI eksklusif dengan metode KB
sederhana seperti kondom, diafragma, atau senggama terputus. Kedua metode ini
akan saling melengkapi selama proses menyusui dilakukan dengan benar. Ingatlah
untuk mengganti metode KB bila ibu tak lagi menyusui secara eksklusif karena
metode-metode ini memiliki efektifitas yang rendah.
Pada ibu yang tak ingin punya anak lagi, kontrasepsi mantap yaitu dengan
mengikat saluran rahim bisa dilakukan dalam 24 jam pertama setelah melahirkan.
Kontrasepsi mantap juga bisa dilakukan pada pasangan dengan mengikat saluran
sperma.
Pilihan terbaik KB saat menyusui
1. Bila sudah tak
ingin punya anak lagi, lakukan kontrasepsi mantap
2. AKDR
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

3. Suntik KB
depoprovera
4. KB implant
5. Mini pil atau cara
sederhana lain
6. Pil kombinasi
adalah pilihan terakhir, digunakan bila ibu tak lagi menyusui atau anak sudah
diberi makanan padat. Pilihlah yang kandungan estrogennya rendah.
Referensi:
1. Karkata MK. Keluarga Berencana saat laktasi. Dalam: Soetjiningsih, ed. ASI
petunjuk untuk tenaga kesehatan. EGC, Jakarta. 1997
2. American Academy of Family physicians. Blenning EC,
Paladine H. An approach to the post partum office visit. Am Fam Physician
2005;72:2491-6, 2497-8.
3. Combined hormonal versus nonhormonal versus progestin-only
contraception in lactation. Cochrane Database syst rev.2003




8. Bagaimana hubungan hipertensi dengan kontrasepsi?
pengaruh kontrasepsi hormonal terhadap peningkatan tekanan darah.
Kontrasepsi hormonal dimanfaatkan untuk mengatur kehamilan. Penelitian menunjukan bahwa
pemakaian kontrasepsi hormonal meningkatkan tromboemboli dan gangguan pembuluh darah otak. Tekanan
darah tinggi dapat terjadi pada 5% pemakaian kontrasepsi hormonal. Tekanan darah akan meningkat secara
bertahap dan bersifat tidak menetap. Jika tekanan darah tinggi menetap setelah penggunaan kontrasepsi
hormonal dihentikan, maka telah terjadi perubahan permanen pada pembuluh darah akibat aterosklerosis.
Baziard (2002) menambahkan bahwa wanita yang memakai kontrasepsi hormonal terjadi peningkatan tekanan
darah sistolik dan diastolik terutama pada 2 tahun pertama penggunaannya. Tidak pernah ditemukan terjadi
peningkatan yang patologik, karena jika pemakaian kontrasepsi di hentikan, biasanya tekanan darah akan
kembali normal.
Tekanan darah sama atau lebih dari 140/100 mmHg , karena khasiat estrogen terhadap pembuluh
darah sehingga terjadi hipertropi arteriole dan vasokonstriksi. Estrogen mempengaruhi sistem renin
Aldosteron-Angiotensin sehingga terjadi perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Konseling.
Sewaktu memberikan konseling kepada aseptor kb hal yang paling utama dilakukan adalah
menanyakan kepada klien apakah klien mempunyai riwayat penyakit hipertensi dan adakah mempunyai
riwayat penyakit keturunan hipertensi.
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

Kemudian jelaskan kepada klien bahwa kontrasepsi hormonal mempunyai efek samping terhadap peningkatan
tekanan darah di khawatirkan akan memperburuk keadaan klien.
Anjurkan kepada klien untuk memilih alat kontrasepsi yang non hormonal.
9. Bagaimana hubungan merokok dengan penggunaan kontrasepsi? Cari lagi mekanismenya
KONSEKUENSI KESEHATAN YANG HARUS DIDAPAT BILA WANITA MEROKOK
1. KANKER
a. Kanker Paru-paru
Wanita mulai merokok 20-30 tahun setelah pria merokok, yaitu sekitar dekade ke 3 dan ke 4 abad 20. Pada mulanya, kematian akibat
kanker paru masih sedikit. Selama dalam hampir 50 tahun, kematian akibat kanker paru pada wanita meningkat hingga 600 persen,
atau peningkatan 5,3 persen pertahunnya. Pada tahun 1987, kanker paru menggantikan kedudukan kanker payudara sebagai
penyebab kematian nomor satu pada wanita. Dan pada tahun 2000, kanker paru menyebabkan 1 dari 4 kematian akibat kanker, dan
merupakan 1 dari 8 kanker yang baru ditemukan pada wanita. Pada tahun 2000 juga, dari Amerika diperkirakan akan ada 74.600
kasus kanker paru, dan akan ada 67.600 kematian dari penyakit tersebut pada wanita.
Merokok merupakan penyebab utama dari kanker paru pada wanita. Penelitian menunjukkan 90% dari semua kematian akibat kanker
paru pada wanita di Amerika serikat, disebabkan oleh merokok.
Resiko untuk terserang kanker paru meningkat sesuai dengan jumlah, lamanya, dan intensitas dari merokok. Resiko akan kematian
akibat kanker paru pada wanita yang merokok 2 pak atau lebih rokok ialah 20 kali wanita yang tidak merokok.
b. Kanker Payudara
Ada bukti tidak langsung yang menunjukkan adanya kemungkinan biologis bahwa merokok dapat menurunkan resiko terjadinya kanker
payudara.
Seperti yang kita ketahui, estrogen dalam kadar tinggi, terutama estrone dan estradiol, berperan dalam meningkatnya resiko terkena
kanker payudara, sedangkan merokok diperkirakan mempunyai efek antiestrogenik.
Kejadian terjadinya menopouse lebih awal juga sering terjadi pada wanita merokok, sedangkan kita ketahui bahwa menopouse pada
usia lanjut juga meningkatkan resiko untuk terjadinya kanker payudara.
Akan tetapi dilain pihak, asap rokok mengandung banyak karsinogen yang dapat saja berpengaruh pada terjadinya kanker payudara.
Penelitian-penelitian menunjukkan hasil yang saling bertentangan. Kalaupun ada peningkatan atau penurunan angka resiko untuk
terjadinya kanker payudara, perbedaannya tidak secara statistik bermakna.
c. Kanker Endometrium
Beberapa peneliti menduga, bahwa merokok mempunyai efek menurunkan resiko terhadap kemungkinan terjadinya kanker
endometrium. Hal ini diduga disebabkan karena merokok diduga mengurangi produksi estrogen dan juga adanya efek antiestrogenik
dari merokok. Teori lain mengatakan bahwa merokok mempengaruhi absorpsi, metabolisme dan distribusi dari estrogen. Merokok juga
diduga merubah estrogen lebih banyak menjadi 2-hidroksiestrone yang efek estrogeniknya rendah.
Akan tetapi, dalam beberapa penelitian, walaupun memang tampak adanya penurunan angka resiko, namun penurunan itu masih
secara statistik tidak bermakna.
d. Kanker Ovarium
Frekuensi ovulasi diduga berhubugan dengan resiko terjadinya kanker epitel ovarium, dimana makin banyak jumlah siklus ovulasi
selama hidupnya, makin tinggi seorang wanita beresiko untuk terkena kanker ovarium.
Jika merokok mengganggu proses ovulasi misalnya karena iregularitas menstruasi, maka merokok diduga bisa mengurani angka
resiko terjadinya kanker ovarium.
Akan tetapi sejumlah besar karsinogen dalam asap rokok, terutama Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH), dapat juga berpengaruh
pada kemungkinan terjadinya kanker ovarium.
Penelitian-penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan ini, umumnya tidak menemukan adanya hubungan merokok dengan
resiko terjadinya kanker ovarium.
e. Kanker Cervix Uteri
Penelitian-penelitian banyak menemukan adanya hubungan antara merokok dengan resiko terjadinya kanker Cervix Uteri, dimana
ditunjukkan bahwa merokok meningkatkan resiko untuk terjadinya kanker Cervix Uteri.
Ada beberapa dugaan tentang bagaimana mekanisme yang terjadi sehingga merokok dapat menyebabkan kanker Cervix Uteri.
Dugaan pertama, ialah bahwa adanya efek langsung dari merokok terhadap epitel cervix uteri. Ini disebabkan karena ditemukannya
nikotin dan kotinin dalam kadar tinggi pada sekret mukosa cervix uteri wanita yang merokok.
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

Dugaan lain berhubungan dengan infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Seperti yang kita ketahui, infeksi HPV merupakan penyebab
utama kanker Cervix Uteri diberbagai negara. Merokok, diduga dapat menyebabkan Immunosupresi lokal di daerah Cervix Uteri. Hal ini
dapat menyebabkan HPV yang sudah ada dapat terus berkembang biak, atau dapat juga menyebabkan mudahnya terjadi infeksi baru
HPV. Apakah merokok sendiri, ataukah harus disertai dengan infeksi HPV yang menyebabkan kanker, masih dalam penelitian.
f. Kanker Oral dan Pharynx.
Faktor resiko utama untuk terjadinya kanker pada mulut, lidah dan pharynx adalah merokok dan alkohol.
Pada wanita yang merokok, resiko untuk terjadinya kanker orapharynx lima kali lipat wanita yang tidak merokok.
Jika wanita itu merokok lebih dari 20 tahun dan lebih dari 2 pak seharinya, kemudian ditambah dengan konsumsi minuman beralkohol,
maka resiko untuk terjadinya kanker Orapharynx menjadi 10 kali lipat wanita yang tidak merokok. Jika konsumsi alkoholnya melebihi 15
kali atau lebih setiap minggunya, maka resiko tersebut akan lebih dari 10 kali lipat wanita yang tidak merokok dan tidak minum
minuman beralkohol. 60 persen dari kanker Orapharynx disebabkan oleh kombinasi rokok dan alkohol. Akan tetapi, resiko itu akan
tetap ada bila wanita tersebut terus merokok, walaupun ia sudah berhenti minu-minuman beralkohol.
Penggunaan tembakau kunyah atau susur juga meningkatkan terjadinya resiko untuk terjadinya kanker mulut, terutama dari daerah
mukosa pipi dan gusi yang sering kontak langsung dengan tembakau.
g. Kanker Larynx
Kanker Larynx relatif jarang terjadi pada wanita. Perbandingan prevalensi antara pria dan wanita adalah 5:1. Umumnya disebabkan
oleh karena merokok berat dan lama, serta alkoholisme.
Walaupun data mengenai hubungan penyakit ini dengan merokok jumlahnya tidak banyak, sehingga kurang akurat, namun data-data
tersebut menunjukkan adanya peningkatan resiko hingga 10 kali lipat bagi wanita perokok dibanding yang tidak merokok, untuk
terserang kanker Larynx.


h. Kanker Oesophagus
Faktor resiko utama untuk penyakit ini ialah merokok dan alkoholisme. Hanya sedikit data yang ada tentang efek merokok pada resiko
kanker Oesophagus. Salah satu penelitian mengatakan bahwa resiko untuk terjadinya kanker Oesophagus bagi wanita perokok hampir
8 kali lipat wanita yang tidak perokok. Resiko ini meningkat seiring dengan makin banyaknya jumlah rokok yang dihisap setiap harinya.
i. Kanker Colorectal
Merokok dihubungkan dengan meningkatnya resiko terjadinya kanker Colorectal hingga 2-3 kali lipat dibanding yang tidak merokok.
j. Kanker Hepar
Faktor resiko utama untuk terjadinya kanker Hepar dan Tractus Biliaris adalah alkoholisme dan infeksi virus Hepatitis B kroni s.
Merokok juga diduga sebagai faktor resiko, walaupun wanita tersebut tidak minum alkohol dan tidak pernah terinfeksi virus Hepatitis B.
Peningkatan resiko terjadinya kanker Hepar pada wanita merokok dibanding tidak merokok bervariasi dan tidak ada peningkatan
hingga 3 kali lipat. Namun penelitian lebih lanjut mengenai hal ini masih diperlukan.
k. Kanker Pankreas
Penelitian menunjukkan adanya peningkatan resiko untuk terjadinya kanker Pankreas pada wanita merokok hingga 2 kali lipat wanita
yang tidak merokok. Jika wanita itu merokok hingga 40 batang per hari atau selama 40 tahun lebih, maka resiko untuk terjadinya
kanker pankreas menjadi 3 kali lipat wanita yang tidak merokok.
l. Kanker Tractus Urinarius
Kanker dari Tractus Urinarius meliputi hanya 7% dari seluruh kanker. Kanker Vesico Urinaria meliputi 67% dari seluruh kanker Traktus
Urinarius, kanker Parenkim ginjal 23%, kanker Pelvis Renal 5%, dan kanker Ureter serta kanker bagian lain 5%.
Merokok adalah faktor resiko yang penting bagi terjadinya kanker disetiap bagian Traktus Urinarius. Bagian yang paling rendah resiko
terkena kanker akibat merokok ialah Parenkim Ginjal I (Adeno Caranoma), dan yang paling tinggi resikonya ialah kanker pada Pelvis
dan Ureter.
m. Kanker Thyroid
Walaupun kanker Thyroid sering dibicarakan sebagai satu kesatuan, namun ada 4 tipe kanker secara histologis, yaitu : papiller,
follikular, medullar, dan anaplastik. Tipe yang pappiler adalah yang paling umum (50-80%) disusul tipe yang follikular (10-40%). Tingkat
mortalitas cukup tinggi pada tipe anaplastik, sedangkan pada tipe lain, angka ketahanan hidup 5 tahunnya mencapai 95%. Karena tipe
yang papiler dan folikullar lebih banyak terjadi pada wanita, maka secara keseluruhan, wanita mempunyai resiko terjadinya kanker
Thyroid lebih tinggi dibanding pria.
Faktor resiko untuk terjadinya kanker Thyroid antara lain ialah terkena radiasi, penyakit Thyroid seperti Gotter dan Thyrotoxicosis, serta
tinginya Body Mass Index (BMI).
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

Tingginya angka kejadian kanker Thyroid pada wanita menimbulkan pernyataan akan adanya peraan hormon sex wanita sebagai
faktor penyebab kanker Thyroid. Dan walaupun belum meyakinkan, ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa estrogen
merupakan pemicu tumbuhnya tumor Thyroid pada hewan percoban, demikian juga penggunaan kontrasepsi oral, Hormon
Replacement Therapy (HRT), serta riwayat reproduksi.
Penelitian mengenai hubungan merokok dengan kanker Thyroid menunjukkan hasil yang belum meyakinkan. Namun demikian ada
kecenderungan untuk terjadinya penurunan resiko pada wanita yang merokok untuk terjadinya kanker Thyroid.
Tidak diketahui bagaimana merokok berhubungan dengan menurunnya resiko terjadi kanker Thyroid. Ada teori yang mengatakan
bahwa pada perokok terdapat kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH) yang lebih rendah, sehingga rendahnya resiko kanker Thyroid
dikarenakan kelenjar Thyroid lebih kurang terstimulasi. Teori lain mengatakan bahwa adanya efek antiestrogenik dari merokoklah yang
berperan.
n. Kanker Lymphoproliferatif dan Hematologis.
Dari sekian banyak keganasan hematologis, hanya Acute Myeloid Leukemia saja yang banyak dihubungkan dengan merokok.
Peningkatan resiko terjadinya Acute Myeloid Leukemia bervariasi mulai 1,3 kali hingga 3 kali lipat wanita yang tidak merokok.

2. PENYAKIT KARDIOVASKULAR
a. Penyakit jantung Koroner (PJK)
Setiap tahun, di Amerika serikat, lebih dari 500.000 wanita mengalami myokard infark, dan hampir separuhnya meninggal karenanya.
Walaupun secara keseluruhan, mortalitas penyakit ini terus turun sejak tahun 1960, namun pada wanita usia pertengahan dan usia
lanjut, penyakit ini masih merupakan penyebab kematian paling tinggi.
Data epidemiologis yang terkumpul seama 40 tahun menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara merokok dan PJK. Lebih dari
selusin penelitian yang menyatakan bahwa wanita yang merokok beresiko tinggi terserang PJK.
Resiko terjadinya PJK makin besar seiring dengan makin banyaknya jumlah rokok yang dihisap perharinya, jumlah total rokok yang
dihisap dalam tiap tahunnya, seberapa dalam ia menghisap, serta usia awal wanita itu merokok. Dalam 20 tahun terakhir, ternyata
resiko bagi wanita perokok untuk terjadinya PJK makin tinggi. Hal ini mungkin berhubungan dengan faktor-faktor tersebut diatas.
Sebagai gambaran, seorang wanita yang merokok 1-4 batang perhari, resiko terkena PJK adalah 2 kali lipat wanita yang tidak
merokok. Wanita yang mulai merokok sejak usia kurang dari 15 tahun, resiko terkena PJK adalah 9 kali lipat wanita yang tidak
merokok. Hampir separuh dari wanita usia di bawah 65 tahun yang meninggal karena PJK, mempunyai riwayat merokok yang berat.
Setelah berhenti merokok, resiko untuk terjadinya PJK mengalami penurunan cepat hingga 25-50% dalam satu tahun, yang disusul
dengan penurunan lambat dan gradual hingga akhirnya mencapai angka resiko yang sama dengan wanita yang tidak merokok dalam
waktu 10-15 tahun.
b. Merokok dan penanganan Kontrasepsi Oral (KO)
Pada saat pertama kali diperkenalkan 30 tahun yang lalu, KO berisi 150 mg etinil estradiol dan 10 mg progestin, yaitu 5-10 kali isi KO
yang beredar sekarang.
Sebelum 1985, wanita yang memakai KO memiliki resiko terserang Miokard Infark 4 kali lipat wanita yang tidak memakai. Jika wanita
ini merokok, resiko Miokard Infark menjadi 10 kali lipat wanita yang tidak memakai keduanya. Bahkan resikonya menjadi 40 kal i lipat
jika wanita itu merokok lebih dari 25 batang rokok sehari. Demikian juga dengan resiko terjadinya stroke.
Dengan makin turunnya dosis KO, maka seharusnya resiko PJK juga ikut turun. Akan tetapi penelitian tetap saja menunjukkan
tingginya resiko PJK pada wanita yang memakai KO jika ia merokok.
Karenanya ada pendapat yang mengatakan bahwa bagi wanita usia diatas 35 tahun yang merokok lebih dari 15 batang sehari,
sebaiknya tidak menggunakan KO. Namun karena merokok cenderung lebih berperan dalam meninggikan resiko PJK, maka perhatian
seharusnya lebih ditujukan kepada usaha menghentikan kebiasaan merokok

3. PENYAKIT CEREBROVASKULAR
Stroke, adalah jenis penyakit Cerebrovaskular utama, dan merupakan penyebab kematian ke 3 pada wanita usia pertengahan di
Amerika serikat dengan 87.000 kematian tiap tahunnya. Stroke juga merupakan penyebab utama cacat tubuh dan menghabiskan
biaya 15 Milyar dollar tiap tahunnya untuk biaya perawatan kesehatan, termasuk usaha rehabilitasi.
Merokok sudah lama diketahui sebagai faktor resiko untuk terjadinya stroke.. Lebih dari separuh wanita yang meninggal karena stroke
mempunyai riwayat merokok berat.
Resiko terjadinya stroke pada wanita merokok, secara keseluruhan 2 kali lipat wanita yang tidak merokok. Bila dilihat dari jenis stroke,
maka resiko untuk terjadinya Pendarahan Sunarathroid (PSA) pada wanita merokok adalah 3 kali lipat wanita yang tidak merokok,
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

sedangkan untuk terjadinya Infark Cerebri adalah 2 kali, dan tak ada peningkatan resiko untuk terjadinya perdarahan intra Cerebri
(PIS).
Hipertensi mungkin dimasa datang bukan lagi faktor resiko utama untuk terjadinya stroke. Sebab penanganan penyakit hipertensi
makin lama makin baik, sedangkan kebiasaan merokok makin lama makin sulit dikendalikan.
Penghentian merokok akan menurunkan resiko terjadinya stroke hingga akhirnya mencapai angka yang sama dengan wanita yang
tidak merokok dalam waktu 15 tahun, tergantung bagaimana intensitas merokok wanita tersebut sebelum berhenti merokok.

4. CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE (COPD)
Keadaan utama dari COPD adalah adanya obstruksi aliran udara, yang ditandai dengan FEV, dan rasio FEV, dengan FVC yang
rendah.
COPD dapat berupa Bronkitis kronis yang ditandai dengan batuk-batuk kronis dengan produksi spulum berlebih disertai obstruksi jalan
udara, atau berupa Emphysema yang ditandai dengan pelebaran abnormal dari saluran udara distal dari bronkiolus terminalis disertai
kerusakan dinding, tanpa tanda fibrusis yang jelas.
Merokok merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya COPD. Pada setiap perokok terjadi proses inflamasi pada saluran udara kecil
seperti bronkiolus respiratorius. Proses ini kemudian bisa menimbulkan penyempitan saluran udara, dan bisa menyebar ke alveol i dan
merusak dinding alveoli. Inilah yang mendasari terjadinya Brinkitis kronis. Dan emphysema pada perokoli. Boleh dikatakan 90%
kematian akibat COPD pada wanita di Amerika serikat disebabkan oleh merokok.
Apakah ada perbedaan kejadian antara pria dan wanita masih dipertanyakan. Yang pasti, menurut penelitian didapatkan bahwa angka
kejadian COPD pada wanita terus meningkat. Resiko ini terus meningkat dengan makin banyaknya jumlah rokok yang dihisap. Fungsi
paru pada wanita perokok lebih jelek dibanding wanita yang tidak merokok, dan penurunan fungsi paru ini berbanding lurus dengan
jumlah rokok yang dihisap.
Penghentian merokok akan mengurangi gejala-gejala gangguan pernafasan seperti batuk, produksi spurum berlebihan, atau wheezing,
dan menurunkan resiko terjadinya infeksi saluran nafas seperti bronkitis atau pneumonia. Penghentian merokok juga memperbaiki
fungsi paru, dalam beberapa bulan setelah berhenti merokok. Bila pengentian merokok ini terus berlangsung, angka kematian aki bat
OCPD terus menurun.
Merokok pada wanita hamil menyebabkan fungsi paru-paru pada bayi terganggu. Demikian juga bila anak-anak itu mengalami ETS.

5. GANGGUAN HORMONAL
a. Hormon Sex
Oleh karena asap rokok mempunyai efek anti estrogenik, maka banyak terjadi yang diakibatkan defisiensi estrogen dan penurunan
resiko terjadinya penyakit akibat kadar tinggi estrogen.
Merokok menyebabkan kadar estrogen terutama esriol dan estradiol yang lebih rendah pada waktu hamil dibanding wanita yang tidak
merokok, walaupun wanita itu mendapat tambahan estrogen atau progestin oral.
Penelitian menunjukkan adanya perbedaan metabolisme estrogen secara berbeda dibanding wanita yang tidak merokok. Perokok akan
lebih banyak menghasilkan 2 hidroxy estradiol yang mempunyai aktifitas estrogenik lebih rendah, sedangkan yang tidak merokok lebih
banyak menghasilkan estriol yang mempunyai aktifitas estrogenik yang tinggi.
b. Hormon Thyroid
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, gangguan thyroid lebih banyak terjadi pada wanita dibanding pria.
Penelitian yang mempelajari hubungan antara merokok dengan gangguan hormon thyroid baik hpertiroid maupun hipotiroid masih
menunjukkan hasil yang saling berhubungan.
c. Diabetes mellitus
Diabetes mellitus ialah suatu penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah yang disebabkan defisiensi relatif atau
absolut hormon insulin. Ada 2 tipe DM. Pada tipe 1, lebih sering terjadi pada anak-anak, dimana prevalensi merokok masih jarang.
Karenanya penelitian untuk mencari hubungan antara merokok dengan timbulnya DM tipe 1 tidak ada. Namun penelitian yang mencari
hubungan antara ibu yang merokok dan kemungkinan timbulnya DM tipe 1 pada anaknya sudah banyak dilakukan. Namun semuanya
menunjukkan tak ada hubungan diantara keduanya.
Demikian pula dengan DM tipe 2 dan DM Gestrasional. Penelitian ke arah hubungan merokok dengan kedua tipe DM ini menunjukkan
hasil yang bertentangan.
Merokok tampaknya lebih berhubungan dengan proses metabolik yang berhubungan dengan DM, misalnya homeostatis glukosa,
hiperinsulinemi dan resistansi insulin. Namun mekanisme yang jelas mengenai hal ini belum diketahui.
6. BERAT BADAN
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

Istilah obesitas ditujukan kepada keadaan dimana berat badan tinggi dibandingkan tinggi badan. Sedangkan istilahBody Moss
Index ialah berat badan (dalam kilogram) dibagi luas permukan tubh (dalam meter persegi). Berat badan seseorang, selain
berpengaruh pada kesehatan, juga sering berhubungan dengan penampilan dan daya tarik seseorang, terutama wanita.
Merokok sudah lama dikenal berhubungan dengan berat badan yang rendah, dan untuk alasan berat badan inilah kadang seorang
wanita mulai merokok atau tidak mau berhenti merokok. Jika berhenti merokok, maka berat badan akan segera naik, rata-rata 3-6 kg
dalam 1 tahun berhenti merokok.
Penelitian menunjukkan bahwa makin lama seseorang merokok, dan makin banyak rokok yang dihisap setiap harinya, makin jauh
perbedaan berat badan dengan wanita yang tidak merokok.
Berat badan yang rendah ini disebabkan wanita tersebut susah untuk mendapatkan berat badan selama merokok. Namun mekanisme
bagaimana rokok menyebabkan sulitnya berat badan naik belum diketahui dengan pasti. Diduga kuat merokok menyebabkan efek
anorexia atau turunnya nafsu makan pada wanita. Apakah merokok meningkatkan metabolisme sehingga berat badan turun belum
dapat dipastikan.
Pada kehamilan, sulitnya menaikkan berat badan pada wanita yang merokok akan sangat berpengaruh terutama pada janinnya.
Kemungkinan terjadi IUGR, dan berat badan lahir rendah menjadi tinggi.

10. Bagaimana hubungan hepatitis kronis dengan penggunaan kontrasepsi?
Pil
Pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum. Pil telah diperkenalkan sejak 1960. Pil diperuntukkan bagi
wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara yang paling efektif bila
diminum secara teratur. Minum pil dapat dimulai segera sesudah terjadinya keguguran, setelah menstruasi,
atau pada masa post-partum bagi para ibu yang tidak menyusui bayinya. Jika seorang ibu ingin menyusui,
maka hendaknya penggunaan pil ditunda sampai 6 bulan sesudah kelahiran anak (atau selama masih
menyusui) dan disarankan menggunakan cara pencegah kehamilan yang lain.
Pil dapat digunakan untuk menghindari kehamilan pertama atau menjarangkan waktu kehamilan-kehamilan
berikutnya sesuai dengan keinginan wanita. Berdasarkan atas bukti-bukti yang ada dewasa ini, pil itu dapat
diminum secara aman selama bertahun-tahun. Tetapi, bagi wanita-wanita yang telah mempunyai anak yang
cukup dan pasti tidak lagi menginginkan kehamilan selanjutnya, cara-cara jangka panjang lainnya seperti
spiral atau sterilisasi, hendaknya juga dipertimbangkan. Akan tetapi, ada pula keuntungan bagi penggunaan
jangka panjang pil pencegah kehamilan. Misalnya, beberapa wanita tertentu merasa dirinya secara fisik lebih
baik dengan menggunakan pil daripada tidak. Atau mungkin menginginkan perlindungan yang paling efektif
terhadap kemungkinan hamil tanpa pembedahan. Kondisi-kondisi ini merupakan alasan-alasan yang paling
baik untuk menggunakan pil itu secara jangka panjang.
Jenis-jenis Pil
a. Pil gabungan atau kombinasi
Tiap pil mengandung dua hormon sintetis, yaitu hormon estrogen dan progestin. Pil gabungan
mengambil manfaat dari cara kerja kedua hormon yang mencegah kehamilan, dan hampir 100% efektif
bila diminum secara teratur.
b. Pil berturutan
Dalam bungkusan pil-pil ini, hanya estrogen yang disediakan selama 1415 hari pertama dari siklus
menstruasi, diikuti oleh 56 hari pil gabungan antara estrogen dan progestin pada sisa siklusnya.
Ketepatgunaan dari pil berturutan ini hanya sedikit lebih rendah daripada pil gabungan, berkisar antara
9899%. Kelalaian minum 1 atau 2 pil berturutan pada awal siklus akan dapat mengakibatkan
terjadinya pelepasan telur sehingga terjadi kehamilan. Karena pil berturutan dalam mencegah
kehamilan hanya bersandar kepada estrogen maka dosis estrogen harus lebih besar dengan
LBM 3 Modul KB & Kependudukan M i r a n t i

kemungkinan risiko yang lebih besar pula sehubungan dengan efek-efek sampingan yang ditimbulkan
oleh estrogen.
c. Pil khusus Progestin (pil mini)
Pil ini mengandung dosis kecil bahan progestin sintetis dan memiliki sifat pencegah kehamilan,
terutama dengan mengubah mukosa dari leher rahim (merubah sekresi pada leher rahim) sehingga
mempersulit pengangkutan sperma. Selain itu, juga mengubah lingkungan endometrium (lapisan dalam
rahim) sehingga menghambat perletakan telur yang telah dibuahi.
Kontra indikasi Pemakaian Pil
Kontrasepsi pil tidak boleh diberikan pada wanita yang menderita hepatitis, radang pembuluh darah, kanker
payudara atau kanker kandungan, hipertensi, gangguan jantung, varises, perdarahan abnormal melalui
vagina, kencing manis, pembesaran kelenjar gondok (struma), penderita sesak napas, eksim, dan migraine
(sakit kepala yang berat pada sebelah kepala).
Efek Samping Pemakaian Pil
Pemakaian pil dapat menimbulkan efek samping berupa perdarahan di luar haid, rasa mual, bercak hitam di
pipi (hiperpigmentasi), jerawat, penyakit jamur pada liang vagina (candidiasis), nyeri kepala, dan penambahan
berat badan.

11. Bagaimana hubungan DM dengan penggunaan kontrasepsi?
Tdk boleh menggunakan yg hormone krn bisa meningkatkan sekresi insulin memperkuat rangsangan
glukosamerusak sel beta langerhanstidak sensitive thdp glukosaDm

12. Bagaimana hubungannya obat amitriptilin dengan KB?
Berhubungan dgn hormone progesterone menurunkan serotonin
Jdi tdk boleh pakai kontrasepsi yg hormonal
Amitriptilin golongan trisiklik
Bagaimana kemungkinan jangka panjang dari vasektomi dan tubektomi?