Anda di halaman 1dari 12

BAB III

PONDASI DALAM

Pondasi Dalam adalah pondasi yang kedalamannya lebih dari 2 meter dan biasa digunakan pada
bangunan bangunan bertingkat. Pondasi dalam atau sering disebut pondasi tiang adalah suatu
konstruksi yang mampu menahan gaya orthogonal ke sumbu tiang dengan cara menyerap
lenturan. Pondasi tiang berfungsi untuk menyalurkan beban-beban yang diterimanya dari
konstruksi diatasnya kelapisan tanah yang lebih dalam. Pada umunya pondasi tiang ditempatkan
tegak lurus di dalam tanah, tetapi jika diperlukan dapat dibuat miring agar dapat menahan gaya-
gaya horizontal.
Jenis-Jenis Pondasi Dalam

Berdasarkan materi yang digunakan
A. Pondasi tiang kayu
Pondasi tiang kayu sangat cocok untuk daerah rawa. Biasanya dapat menahan beton hingga 25
ton tiap tiang. Dan juga dapat dipergunakan untuk memperbaiki daya dukung tanah lunak
yang biasa disebut dengan cerucuk.

B. Pondasi tiang baja

Pondasi tiang baja terbagi menjadi 2, yaitu :
1. Pipa baja (pipe pile)
2. Tiang pipa berpenampang H (H-pile)

Pemakaian tiang baja memiliki keuntungan yaitu kekuatannya sangat besar sehingga dalam
pengangkutan dan pemancangannya tidak menumbulkan bahaya patah. Namun, memiliki
kelemahan tidak tahan terhadap korosi. Tanah yang dapat menyebabkan karat adalah tanah
rawa, tanah payau dan tanah-tanah yang mengandung alkali. Sehingga, dalam pemakaiannya
harus dilakukan perlindungan, yaitu pemilihan mutu baja dan melakukan pelapisan permukaan
baja dengan lapisan anti karat.




C. Pondasi tiang beton
Pondasi tiang beton dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Tiang beton pracetak tanpa prategang (precast) dengan prategang (prestressed)
2. Tiang beton dicor di tempat (cast in place)


Tiang pancang ini dikerjakan dengan cara penumbukan. Diameter tiang franki berkisar antara
50-55 cm dengan daya dukung maksimum 150 ton dan kedalaman mencapai 27 m. Diameter
dasarnya 70-80 cm. Sebaiknya hindari diameter yang besar, bila perlu kedalaman tiang
ditambah untuk memperkecil diameternya. Tiang franki cocok untuk mendukung beban yang
besar pada kedalaman yang dangkal atau menembus lapisan tanah lunak yang dalam hingga
mencapai tanah keras.




Pondasi Bored pile digunakan untuk bangunan berlantai banyak seperti rumah susun yang
memiliki lantai 4-8 lantai dengan kedalaman lebih dari 2 meter.Digunakan untuk pondasi
bangunan bangunan tinggi.
Sebelum memasang bore pile, permukaan tanah dibor terlebih dahulu dengan menggunakan
mesin bor. Hingga menemukan daya dukung tanah yang sangat kuat untuk menopang
pondasi.Setelah itu tulang besi dimasukan kedalam permukaaan tanah yang telah dibor,
kemudian dicor dengan beton.Pondasi ini berdiameter 20 Cm keatas.Dan biasanya pondasi ini
terdiri dari 2 atau lebih yang diatasnya terdapat pile cap.
Pondasi ini berbentuk seperti paku yang kemudian di tancapkan kedalam tanah dengan
menggunakan alat berat seperti crane.

Urutan pengerjaan :
Pengeboran Penulangan Pengecoran
Keuntungan penggunaan pondasi ini adalah :
Tidak menimbulkan kebisingan.
Tidak menimbulkan getaran yang kuat terhadap bangunan sekitarnya.

Pondasi ini cocok digunakan pada tempat-tempat yang padat oleh bangunan-bangunan.
Namun, pembuatannya memerlukan peralatan yang besar, sehingga hanya digunakan pada
proyek besar.

strauss
Urutan pengerjaan tiang strauss yaitu :
Pengeboran Pengecoran Penumbukan Penulangan
Pondasi ini dibuat dengan menggunakan perangkat alat bor yang dinamakan Strauss D40
dengan kemampuan :
Dapat melakukan pengeboran berdiamater 30-60 cm dengan kedalaman 5m - 40m.
Dapat melakukan pengeboran dengan kapasitas per unit mesin bor per hari (8jam
kerja) dalam kondisi normal 4m3 pada sistem wash boring dan 2m3 pada sistem dry boring.


Pondasi tiang bump dapat dibuat dengan kemiringan. Hal ini akan menambah daya dukung
pondasi baik tekanan maupun tarikan. Pondasi bump sangat cocok untuk pondasi transmisi
dan sejenisnya yang memungkinkan adanya gaya-gaya tarikan, bangunan-bangunan dengan
berat sedang (4-5 lantai), yang kondisi tanah kerasnya sangat dalam, sehingga penggunaan
pondasi jenis lain sangat mahal.

D. Tiang komposit
Kayu dengan beton
Baja dengan beton

Berdasarkan teknik pemasangan

A. Tiang precast digolongkan menjadi :
1. Cara dengan penumbukan
2. Cara dengan penggetaran
3. Cara dengan penanaman


B. Tiang cast in place
1. Dengan cara penetrasi :
Tiang bump
Tiang franki
Tiang penutup akhir
Tiang simpleks
Tiang Raymond
2. Dengan cara penggalian :
Tiang pembukaan
Tiang benoto
3. Dengan cara pengeboran :
Tiang bor

Berdasarkan cara penyaluran beban

A. Pondasi tiang dengan tahanan ujung (end bearing pile)
Penyaluran beban dimana sebagian besar daya dukungnya adalah akibat dari perlawanan tanah
keras pada ujung tiang. Tiang yang dimasukan sampai lapisan tanah keras, secara teoritis
dianggap bahwa seluruh beban tiang dipindahkan kelapisan keras melalui ujung tiang.
Anggapan tanah keras yang dimaksudkan disini sebetulnya relatif dan tergantung dari
beberapa faktor, antara lain seperti besar beban yang harus dipikul oleh tiang. Sehingga bisa
saja ada anggapan asalkan pada posisi dimana daya dukung tanahnya sudah mumpuni untuk
mengimbangi besarnya beban yang dipikul tiang, maka disitu diasumsikan letak tanah keras
berada.
Anggapan ini tidak salah tapi juga tidak betul, namun supaya tidak terjadi perbedaan yang
tajam dalam perspektif anggapan, maka untuk dianggap sebagai lapisan tanah pendukung
yang baik, dapat digunakan ketentuan sebagai berikut :

1. Lapisan non kohesif (pasir, kerikil) mempunyai harga standard penetration test (SPT), N >
35.
2. Lapisan kohesif mempunyai harga kuat tekan bebas (Unconfined compression strength) qu
antara 3 s/d 4 kg/cm2 atau N > 15 s/d 20.

Dari hasil sondir dapat dipakai kira- kira harga perlawanan konis S 150 kg/cm2 untuk
lapisan non kohesif, dan S 70 kg/cm2 untuk lapisan kohesif.

B. Pondasi tiang dengan tahanan geseran (friction pile)
Penyaluran beban dimana sebagian besar daya dukungnya adalah akibat dari gesekan antara
tanah dengan sisi- sisi tiang pancang, atau dengan kata lain kemampuan tiang pancang dalam
menahan beban hanya mengandalkan gaya geseran antara tiang dengan tanah disekelilingnya.
Hal ini bisa terjadi karena pada dasarnya kenyataan dilapangan mengenai data kondisi tanah
tidak bisa diprediksi, sehingga sering kita menjumpai suatu keadaan dimana lapisan yang
memenuhi syarat sebagai lapisan pendukung yang baik ditemui pada kedalaman yang dalam,
sehingga untuk mendapatkan tumpuan ujungnya kita perlu merogoh kocek lebih dalam
dikarenakan biayanya sangat mahal.
Pada kenyataan seperti ini praktis daya dukung yang didapat adalah dari gesekan antara sisi
tiang dengan tanah disekelilingnya namun bukan berarti perlawanan diujungnya kita anggap
melempem atau tidak ada, tapi pada kenyataannya tumpuan diujung ini juga memiliki andil
dalam memberikan sumbangan daya dukung walaupun itu kecil.
Perbedaan dari kedua jenis tiang pancang ini, semata-mata hanya dari segi kemudahan, karena
pada umumnya tiang pancang berfungsi sebagai kombinasi antara friction pile (tumpuan sisi)
dan end bearing pile (tumpuan ujung). Kecuali tiang pancang yang menembus tanah yang
sangat lembek sampai lapisan tanah dasar yang padat.
Berikut ini adalah beberapa contoh rangkaian pekerjaan pondasi tiang pancang di lapangan :







Gambar 1. Tampak Kepala Tiang Pancang Sebelum Dipecah






Gambar 2. Pemecahan Kepala Tiang Pancang












Gambar 3.Penyusunan Bata Hebel (sebagai pengganti bekisting),
untuk Poer Pondasi











Gambar 4. Perakitan Tulangan Untuk Poer Pondasi




Gambar 5. Perakitan Tulangan Untuk Sloof ke Poer Pondasi







Gambar 6. Pondasi yang Telah di Cor Beton






C. Kombinasi friction dan end bearing

Pondasi tiang pancang

Seperti yang kita ketahui bahwasanya tipe pondasi cukup banyak macamnya, dan itu tergantung
dari fungsi dan kegunaannya.. Salah satu di antara tipe pondasi yang sering digunakan adalah
pondasi tiang pancang.
Tiang pancang pada dasarnya sama dengan bore pile, hanya sja yang membedakan bahan
dasarnya.Tiang pancang menggunakan beton jadi yang langsung ditancapkan langsung ketanah
dengan menggunakan mesin pemancang. Karena ujung tiang pancang lancip menyerupai paku,
oleh karena itu tiang pancang tidak memerlukan proses pengeboran.





Perencanaan penggunaan pondasi tiang pancang

Dalam merencanakan pondasi untuk suatu konstruksi dapat digunakan beberapa macam tipe
pondasi. Pemilihan tipe pondasi ini didasarkan atas :

1. Fungsi bangunan atas (Upper structure) yang akan dipikul oleh pondasi tersebut.
2. Besarnya beban dan berat dari bangunan atas.
3. Kondisi tanah dimana bangunan tersebut akan didirikan
4. Biaya pondasi dibandingkan dengan bangunan atas

Secara umum pemakaian pondasi tiang pancang dipergunakan apabila tanah dasar dibawah
bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung (bearing capacity) yang cukup untuk memikul
berat bangunan dan beban diatasnya, dan juga bila letak tanah keras yang memiliki daya dukung
yang cukup untuk memikul berat dari beban bangunan diatasnya terletak pada posisi yang sangat
dalam.

Berdasarkan hal tersebut , maka dalam mendesain Pondasi tiang pancang mutlak diperlukan data
data mengenai :

1. Data tanah dimana bangunan akan didirikan
2. Daya dukung dari tiang pancang itu sendiri (baik single pile ataupun group pile)
3. Analisa negative skin friction (karena mengakibatkan beban tambahan)

Perencanaan pondasi ditinjau dari pembebanan vertikal dan horisontal dimana daya dukung tanah
telah dihitung harus lebih besar dari beban ultimate. Berdasarkan data tanah dapat dilihat lapisan
tanah keras pada lapisan dalam sehingga digunakan pondasi dalam yaitu pondasi tiang pancang.
Prosedur Perencanaan
a) Menentukan kriteria perencanaan, seperti beban-beban yang bekerja pada dasar tumpuan
(poer), parameter tanah, situasi dan kondisi bangunan di sekitar lokasi, besar pergeseran
yang diijinkan, tegangan ijin dari bahan-bahan pondasi.
b) Memperkirakan diameter, jenis, panjang, jumlah dan susunan tiang. Perkiraan tersebut
sebaiknya disesuaikan dengan yang ada di pasaran.
c) Menghitung daya dukung vertical tiang tunggal (single pile), baik untuk kondisi
pembebanan normal maupun pada waktu gempa.
d) Menghitung faktor efisiensi dalam kelompok tiang dan daya dukung vertikal yang
diijinkan untuk sebuah tiang dalam kelompok tiang.
e) Menghitung beban vertikal yang bekerja pada setiap tiang dalam kelompok tiang.
f) Memeriksa beban yang bekerja pada setiap tiang masih termasuk dalam batas daya
dukung yang diijinkan yang dihitung pada langkah no.4 diatas. Bila hasilnya melampaui
daya dukung yang diijinkan untuk setiap tiang, maka perkiraan diameter, jumlah atau
susunan tiang harus diganti. Selanjutnya perhitungan diulang kembali mulai dari langkah
no.2
g) Menghitung daya dukung mendatar sebuah tiang dalam kelompok.
h) Menghitung beban horizontal yang bekerja pada setiap tiang dalam kelompok.
i) Menghitung penurunan.
Perhitungan penurunan tiang pancang, tegangan pada tanah akibat berat bangunan dan
muatannya dapat diperhitungkan merata pada kedalaman 2/3 Lp dan disebarkan 30.
j) Merencanakan struktur tiang.

Pembuatan Pondasi dihitung berdasarkan hal-hal berikut.
1. Berat bangunan yang harus dipikul pondasi berikut beban-beban hidup, mati serta beban-
beban dan beban-beban yang diakibatkan gaya-gaya eksternal.
2. Jenis tanah dan daya dukung tanah.
3. Bahan pondasi yang tersedia atau mudah diperoleh ditempat.
4. Alat dan tenaga kerja yang tersedia.
5. Lokasi dan lingkungan tempat pekerjaan.
6. Waktu dan biaya pekerjaan.
Untuk mengetahui letak/kedalaman tanah keras dan besar tegangan tanah/daya dukung tanah,
maka perlu diadakan penyelidikan tanah, yaitu dengan cara.
Pemboran (drilling) : dari lubang hasil pemboran (bore holes), diketahui contoh-
contoh lapisan tanah yang kemudian dikirim ke laboraturium mekanika tanah.
Percobaan penetrasi (penetration test) : yaitu dengan menggunakan alat yang disebut
sondir static penetrometer. Ujungnya berupa conus yang ditekan masuk kedalam
tanah, dan secara otomatis dapat dibaca hasil sondir tegangan tanah (kg/cm2).

Akibat penurunan dan patahnya pondasi.
1. Kerusakan pada dinding, retak-retak, miring dan lain-lain.
2. Lantai pecah, retak dan bergelombang.
3. Penurunan atap pada bagian-bagian bangunan lain.


Studi Kasus 1

Bangunan 12 lantai di Jakarta, yang ternyata dalam perencanaan boleh dikatakan sama sekali
tidak memperhitungkan gempa. Mula-mula para penghuni kantor mengeluh adanya getaran yang
kuat, ketika di sebelah bangunan tersebut ada pekerjaan pemancangan. Setelah diteliti, di samping
perencanaannya memang tidak dihitung terhadap beban gempa, tebal plat lantainya (untuk ukuran
6m x 6m) hanya 10 cm, padahal dalam spek ditetapkan 12 cm.

Setelah dievaluasi dengan peraturan gempa yang berlaku, ternyata perlu dilakukan perbaikan baik
pada struktur atas maupun pondasinya. Untuk itu perlu dilakukan penebalan pada lantai,
perkuatan pada balok-balok dan kolom-kolom maupun pondasinya. Untuk perbaikan pondasi ada
dua alternatif : dengan sistem grouting dan under-pinning. Namun setelah dipelajari, pelaksanaan
underpinning ternyata sulit dan beresiko tinggi, di samping biayannya mahal karena belum
mampu ditangani kontraktor lokal. Akhirnya dipilih metode grouting, yang nampaknya lebih
cocok karena tanah setempat pasir. Grouting dilakukan di sekitar pondasi tiang (bored pile
diameter 80 cm), hingga kedalaman tiang.

Sebagian besar kasus-kasus kegagalan struktur yang pernah ditangani Mardiana, adalah akibat
kegagalan pondasi. Memang biaya untuk perbaikan akibat kegagalan pondasi, menurutnya, lebih
mahal dibanding jika kegagalannya hanya di struktur atas. Perbaikan akibat kegagalan struktur
atas hanya sekitar 10-15 persen dari biaya jika membangun baru. Dalam hal kegagalan pondasi
bisa sampai 40 persen, bahkan ada yang mencapai 100%. demikian parahnya, sehingga untuk
kasus ini lebih baik dibongkar saja kemudian dibangun yang baru. Sebenarnya biaya untuk
perbaikan strukturnya hanya sekitar 40-50 persen dari biaya perbaikan total. Tapi porsi biaya
struktur itu lebih besar dibanding membangun gedung baru, yang umumnya berkisar antara 25-30
persen.

http://gouw2007.wordpress.com/2011/11/04/mengungkap-kegagalan-struktur/


Tanggapan:







Studi Kasus 2

Dinding Rumah Retak, Pondasi Miring






DAMPAK BURUK: Dinding rumah warga yang retak akibat getaran pemcangan tiang pembangunan proyek super mal.
BALIKPAPAN Keterangan dari salah satu tokoh warga Salahuddin mengenai adanya tembok
warga yang retak akibat aktivitas pemancangan tiang beton di areal super mal bukan isapan
jempol belaka. Hal ini juga dibenarkan dan dipertegas oleh Ketua RT 25 Mekar Sari Gunadi
beserta warga. Warga menunjukkan dinding rumah yang retak.
Padahal sebelum adanya aktivitas pemancangan tiang tersebut tidak pernah ada tembok warga
yang retak. Selain banyak dinding yang retak, ada juga tiang pondasi rumah warga yang miring.
Balikpapan Pos menanyakan kepada salah satu Ketua RT 25 Mekar Sari Gunadi.
Padahal awalnya ketika sosialisasi pembangunan super mal di Kecamatan Balikpapan Tengah,
Kelurahan Mekar Sari, LPM, banyak warga yang mendukung pembangunan super mal sampai
mengundang ahli geologi.
Namun dalam perjalanan dan perkembangannya malah terjadi dampak kerusakan materil dinding
bangunan warga di RT 24,25,27 dan 34. Untuk itu kami meminta pihak pengembang developer
super mal untuk dapat segera berikan ganti rugi terhadap kerusakan dinding retak di beberapa
bangunan warga, tegas Gunadi.
Selama belum ada tindak lanjut dari pihak supoermal warga yang terkena dampak keretakan
menghentikan paksa aktivitas tiang pancang di proyek tersebut. Apabila masih tidak di tanggapi
kami akan melayangkan surat baik kepada Wali Kota Balikpapan HM Rizal Effendi SE untuk
ditindaklanjuti ke Gurbenur Kaltim Awang Fahroek Ishak, tegas Gunandi.
Menurut Gunadi, saat itu rumah-rumah yang retak temboknya, oleh developer diasuransikan.
Namun mengenai polis asuransi kompensasinya tidak dapat diketahui oleh warga secara
transparan, hanya pihak asuransi dan developer super mal saja yang tahu.
Kerusakan tidak hanya kali ini saja, tetapi juga pernah pipa terkena aktivitas alat berat di areal
supermal tersebut hingga bocor dan pendistribusian air sempat mati, juga ada kabel listrik yang
putus, imbuh Gunandi.
Ada tuntutan 8 item yang di ajukan kepada warga kepada pihak super mal yang meliputi
kompensasi retaknya tembok warga, pemagaran di areal proyek supermal, adanya tenaga
pengamanan, kebisingan akibat kegiatan proyek juga harus ditindaklanjuti, amdal lingkungan,
jembatan depan akses masuk eks Puskib juga di perhatikan jangan sampai sering lalu lalang
kendaraan kontainer bermuatan menyebabkan jembatan rusak karena adanya batasan tonase.
Serta tersedianya penerangan lampu juga adanya pemisahan seperti gardu listrik dan pipa air
jangan sampai berdampak kepada warga, tutur Gunadi. Sementara saat dikonfirmasi, Lurah
Mekar Sari Unggul Wijaya mengatakan, keretakan tembok warga belum diterima oleh pihak
kelurahan. Yang sudah masuk ke kami adanya laporan kerusakan di wilayah RT 11 Mekar Sari,
urai Unggul.
Sedangkan pihak Super mal Christ menjelaskan kepada Balikpapan Pos, pihaknya akan mengkaji
ulang, bahkan tim mega proyek tersebut sudah melakukan monitoring. Kebanyakan keretakan
tembok bangunan warga bukan dampak dari pemancangan tiang apalagi kegiatan pemancangan
tersebut radiusnya jauh dari pemukiman warga, tutup Christ.(aji)
http://www.balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=112557

Tanggapan: