Anda di halaman 1dari 16

RECCURRENT APTHOUS STOMATITIS

LAPORAN KASUS

Oleh:
Vievien Widyaningtyas
NIM 101611101039

Instruktur:
Dr. drg. Sri Hernawati, M.Kes


BAGIAN PENYAKIT MULUT
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2014





RECCURRENT APTHOUS STOMATITIS



LAPORAN KASUS


diajukan untuk melengkapi tugas pada Bagian Penyakit Mulut
Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jember

Oleh:
Vievien Widyaningtyas
NIM 101610101039



FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2014


KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat dan
Hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Recurrent
Apthous Stomatitis dengan tepat waktu dan tanpa suatu halangan apapun.
Makalah ini penulis buat sebagai salah satu sarana untuk lebih mendalami
materi tentang Recurrent Apthous Stomatitis dan juga untuk syarat memenuhi
tugas di bagian Penyakit Mulut.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada :
1. drg. Erna Sulistyani, M. Kes sebagai ketua bagian Penyakit Mulut.
2. drg. Sri Hernawati, M. Kes selaku pembimbing penyusunan dan
penyelesaian makalah ini.
3. Dan semua pihak yang telah membantu dalam upaya menyelesaikan tugas
makalah ini.
Tak ada gading yang tidak retak, begitupun dengan makalah yang disusun
penulis, untuk itu penulis mohon maaf apabila dalam makalah ini banyak
kesalahan baik dalam isi maupun sistematika. Penulis juga berharap makalah ini
dapat bermanfaat bagi orang lain dan penulis sendiri.


Jember, Februari 2014


Penulis







BAB I. PENDAHULUAN
Recurrent Apthous Stomatitis (RAS) atau Recurrent Apthous Ulcer adalah
penyakit mukosa rongga mulut yang paling sering dijumpai pada manusia.
Penyakit ini mengenai 20-25 persen populasi umum. RAS merupakan keadaan
patologik yang ditandai dengan adanya ulcer berbentuk bulat atau oval, kecil, dan
sakit, dikelilingi oleh pinggiran eritema dengan dasar kuning keabu2an. RAS
merupakan kondisi idiopatik pada sebagian besar penderita. Kemungkinan
disebabkan oleh faktor trauma dan stress. Faktor lain yang berhubungan dengan
penyakit sistemik, defisiensi nutrisi, alergi makanan, predisposisi genetik,
gangguan imunologi, terapi pengobatan dan infeksi HIV. Walaupun RAS dapat
disebabkan oleh penyakit sistemik, sebagian besar kasus tidak ada bagian tubuh
lain yang terkena dan pasien teteap fit dan sehat. Semenjak etiologi tidak
diketahui, diagnosa didapat dari sejarah keluarga dan pemeriksaan klinis, serta
tidak ada prosedur laboratorium untuk menunjang diagnosa. Multivitamin,
antiseptik lokal, antibiotik lokal merupakan perawatan yang diberikan pada
penederita RAS. Sebagian besar tujuan pengobatan adalah mengurangi rasa sakit,
durasi ulser dan mengembalikan fungsi normal mulut (Volkov et al, 2008).
Pada makalah ini akan dilaporkan sebuah kasus pasien yang datang ke
RSGM Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dengan keluhan bibir bawah
bagian dalam. Terdapat gejala klinis ulser single, berbentuk bulat, diameter 3 mm,
tengah putih, tepi kemerahan dan sakit. Penatalaksanaan recurrent apthous
stomatitis tersebut dengan melakukan terapi simptomatik yaitu pemberian BBG
(Benzokain Borax Gliserin dan terapi suportif yaitu dengan pemberian
multivitamin (Becomzet tabs). Ulser dapat sembuh secara spontan dalam 10-14
hari.



BAB II. LAPORAN KASUS

Seorang wanita usia 19 tahun datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut
UNEJ mengeluhkan sariawannya yang sakit pada bibir bawah sebelah kanan
bagian dalam sejak 3 hari yang lalu. Sariawan ini sering terjadi pada bagian yang
sama semenjak dia menggunakan kawat gigi kurang lebih 2 tahun yang lalu.
Keadaan pasien saat ini kurang baik karena radang tenggorokan sejak 3 hari yang
lalu dan telah diperiksa oleh dokter dan diberi obat. Sariawan saat ini masih dalam
keadaan sakit karena gesekan dengan kawat gigi yang tajam tidak dapat dihindari.
Sakit ini mengakibatkan pasien merasa tidak enak untuk makan. Riwayat
sebelumnya pasien juga sering sariawan pada bagian lidahnya sebelum ia
menggunakan kawat gigi terutama saat menstruasi, tidak pernah diobati dan
sembuh dengan sendirinya setelah seminggu.
2.1 Status Klinik Ilmu Penyakit Mulut
No. Reg : 041672
Tanggal Pemeriksaan : 13 Februari 2014

2.1.1 Data Umum Pasien
Nama : AA
Usia : 20 tahun
Status Perkawinan : Belum Menikah
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Mahasiswa Farmasi
Alamat Rumah : Jl. Gunung Raung III no. 3 Jember
Kebangsaan/Suku Bangsa : Indonesia/Jawa

2.1.2 Anamnesa
Pasien mengeluh sariawan pada bibir bawah bagian dalam sejak + 3 hari
yang lalu karena terkena kawat gigi yang tajam. Pasien mengaku
sebelumnya sering sariawan karena tergesek kawat gigi yang tajam, sebelum
menggunakan kawat gigi pasien juga sering merasa sariawan pada lidahnya.
Keadaan tersebut tidak pernah diobati. Tiga hari sebelumnya pasien merasa
tidak enak badan dan memeriksakan diri ke dokter, dan dinyatakan radang
tenggorokan dan mengkonsumsi obat dokter. Kondisi fisik pasien akhir-
akhir ini sering kelelahan karena tugas kuliah tetapi merasa lebih baik
setelah konsumsi obat dokter selama 3 hari.

2.1.3 Keadaan Umum
Penyakit yang pernah diderita : Tonsilitis
Tinggi badan : 158 cm
Berat badan : 40 kg
BMI : 40
(1,58)
2
= 16 (underweight)


2.1.4 Pemeriksaan Ekstra Oral
Muka
Pipi Ka / Ki : N / N
Bibir atas/ bawah : fissure multiple vertical panjang
+ 4 mm, kedalaman + 0,5 mm,
kemerahan, desquamasi, sakit.
Sudut atas/ bawah Ka/ Ki : N/ N

Kelenjar Saliva
Kelenjar parotis Ka/ Ki : N/ N
Kelenjar Submandibularis : N

Kelenjar Limfe
Kelenjar Leher : N
Kelenjar Submandibularis : N
Kelenjar Pre dan Post Auricularis : N
Kelenjar Submentalis : N

2.1.5 Pemeriksaan Intra Oral
Status geligi

8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8
8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8

Riwayat perawatan gigi geligi : tumpatan pada gigi 16, 36, dan 46,
ekso gigi 24 dan 34, perawatan
ortodonsia
Mukosa Labial Atas : N
Mukosa Labial Bawah : ulser berwarna putih, bentuk bulat,
tepi kemerahan, diameter + 5 mm,
sakit.
Mukosa Pipi Ki/ Ka : Garis putih setinggi oklusal gigi,
tidak dapat dikerok, dan tidak sakit.
Bucal Fold Atas/ Bawah : N/ N
Gingiva Atas/ Bawah : kemerahan, konsistensi kenyal,
ujung membulat, tidak sakit
Lidah : terdapat plak putih, berbatas tdk
jelas, dapat dikerok, tdk sakit
Kelenjar sublingualis : N
Palatum : N
Tonsil Ka/ Ki : Pembesaran
Pharynk : N

2.1.6 Diagnosa sementara
Recurrent Apthous Stomatitis pada bibir dalam bawah
Cheilitis pada bibir atas dan bawah
Suspect Oral Candidiasis pada dorsum lidah
Linea Alba Buccalis pada mukosa pipi kanan dan kiri
Tonsilitis kanan dan kiri
Gingivitis Marginalis Kronis pada lingual gigi anterior bawah


2.1.7 Rencana Perawatan
- Pengobatan
1. BBG (Benzokain Borax Gliserin)
2. Salep OM
UE UE
PE
PE
3. Becomzet tabs
4. Fungatin suspensi oral
- Pemeriksaan Penunjang
Lab Mikrobiologi
Jamur
- Rujukan
Periodontia

2.1.8 Perawatan
1. Recurrent Apthous Stomatitis
- Lesi dikeringkan dengan cotton pellet steril
- Lesi dioles dengan BBG solution
2. Cheilitis
- Bibir dibersihkan dengan cotton pellet steril
- Bibir diolesi dengan salep OM
3. Oral Candidiasis
- lidah dikeringkan
- lakukan swab lidah dengan spatula semen
- tetesi dengan fungatin
4. Resep
- R/ BBG solution fl 1
oles lesi 3x sehari

- R/ salep OM pot 1
oles bibir 3x sehari

- R/ Becomzet tabs no VII
1 d.d.1
- R/ Fungatin susp oral
tetes lidah 4x sehari

5. Instruksi
- Menjaga kebersihan rongga mulut
- Gunakan obat sesuai anjuran
- Kontrol 1 minggu kemudian

2.2 Status Kontrol Ilmu Penyakit Mulut

Tanggal : 24 Juli 2013

2.2.1 Anamnesa
Setelah dilakukan perawatan selama 10 hari, pasien sudah tidak
merasakan sakit pada bibir bawah bagian dalam. Bibir atas dan bawah juga
sudah tidak sakit, tidak kering dan tidak mengelupas.

2.2.2 Pemeriksaan Ekstra Oral
t.a.a

2.2.3 Pemeriksaan Intra Oral
t.a.a

2.2.4 Diagnosis
Recurrent Apthous Stomatitis (sembuh)
Cheilitis (sembuh)
Oral Candidiasis (sembuh)

2.2.6 Terapi
- Terapi selesai




BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Recurrent Apthous Stomatitis (RAS)
Recurrent apthous Stomatitis (RAS) merupakan ulser suatu
kelainan yang ditandai dengan berulangnya ulser dan terbatas pada mukosa
rongga mulut pasien tanpa adanya tanda-tanda penyakit lainnya (Lynch et al.,
2001). Berbagai klasifikasi RAS telah diajukan, tetapi secara klinis kondisi ini
dapat dibagi menjadi 3 subtipe; minor, mayor dan hepetiformis. Semua tipe
ulserasi dihubungkan dengan rasa sakit dan presentasi klinis dari lesinya. Ulser
minor memiliki diameter yang besarnya kurang dari 1 cm dan sembuh tanpa
disertai pembentukan jaringan parut. Ulser mayor memiliki diameter lebih besar
dari 1 cm dan akan membentuk jaringan parut pada penyembuhannya. Ulser
herpetiformis dianggap sebagai suatu gangguan klinis yang berbeda, yang
bermanifestasi dengan kumpulan ulser kecil yang rekuren pada mukosa mulut
(Lynch et al.,2001; Lewis dan lamey, 1998).

3.2 Etiologi dan Patogenesis Recurrent Apthous Stomatitis (RAS)
Etiologi dan patogenesis RAS belum diketahui secara pasti. Ulser pada
RAS bukan oleh karena satu faktor saja, tetapi dalam lingkungan yang
memungkinkanyya berkembang menjadi ulser. Faktor-faktor ini terdiri dari
trauma, stress, hormonal, genetik, merokok, alergi, dan infeksi mikroorganisme
atau faktor imunologi (Scully et al., 2000).
Umumnya ulser terjadi karena tergigit saat bicara, kebiasaan buruk
(bruksism), atau saat mengunyah, akibat perawatan gigi, makanan atau minuman
yang terlalu panas. Trauma bukan merupakan faktor yang berhubungan dengan
berkembangnya RAS pada semua penderita tetapi trauma dapat dipertimbangkan
sebagai faktor pendukung (Scully et al., 2000).
Pada beberapa wanita mengalami rekurensi RAS setiap bulan yang
berhubungan dengan perubahan hormon, selalu ditandai dengan peningkatan
kadar progesteron saat fase luteal siklus menstruasinya. Pada sekelompok wanita
tertentu sering terlihat pada masa menstruasi bahkan sering terjadi berulang kali.
Keadaan ini diduga berhubungan dengan faktor hormonal antara lain hormon
estrogen dan progesteron (Lewis dan lamey, 1998).
Beberapa mikroorganisme di dalam rongga mulut diduga juga berperan
penting dalam patogenesis RAS terutama golongan Streptococcus. Berdasar
penelitian terdahulu, kecenderungan lebih besar untuk terjadi reaksi
hipersensitivitas tipe lambat terhadap Streptococcus sanguis diantara pasien RAS
(Lynch et al., 2001).

3.3 Gambaran Klinis Recurrent Apthous Stomatitis (RAS)
Ulser memiliki ukuran yang bervariasi dari 1 30 mm, tertutup selaput
kuning keabu-abuan, berbatas tegas, dan dikelilingi pinggiran eritematus dan
dapat bertahan untuk beberapa hari atau bulan. Karakteristik ulser yang sakit
terutama terjadi pada mukosa mulut yang tidak berkeratin yaitu mukosa bukal,
labial, lateral, dan ventral lidah, dasar mulut, palatum lunak dan mukosa orofaring
(Banuarea, 2009).
1. Minor Recurrent Apthous Stomatitis
Sebagian besar pasien 80% menderita bentuk minor (MiRAS), yang
ditandai oleh ulser bulat atau oval, dangkal dengan diameter kurang dari 5
mm, dan dikelilingi oleh pinggiran yang eritematus. Ulserasi pada MiRAS
cenderung mengenai daerah-daerah non-keratin, seperti mukosa labial,
mukosa pipi, dan dasar mulut. Ulserasi bisa tunggal atau kelompok yang
terdiri dari empat atau lima bentukan dan akan sembuh sendiri dalam
waktu 10-14 hari tanpa meninggalkan bekas (Lewis dan Lamey, 1998).
2. Mayor Recurrent Apthous Stomatitis
Stomatitis aptosa mayor yang rekuren (MaRAS) diderita kira-kira 10%
dari penderita RAS. Ulser ini berdiameter kira-kira 1-3 cm, berlangsung
selam 4 minggu atau lebih dan dapat terjadi pada bagian mukosa mana
saja pada mulut, termasuk daerah berjeratin. Tanda pernah terjadinya
MaRAS berupa jaringan parut karena keseriusan dan lamanya lesi (Lewis
dan Lamey, 1998). Lynch et al (2001) mengatakan bahwa pasien dengan
ulser mayor mengalami lesi yang dalam dengan diameter 1-5 cm.
Ulser seringkali multiple, terjadi pada palatum lunak, mukosa bibir,
mukosa pipi, lidah, dan meluas ke gusi cekat. Biasanya lesi asimetri dan
unilateral. Gambaran ulsernya berukuran besar, bagian tengah nekrotik
dan cekung, tepinya kemerahan karena peradangan (Langlais dan Miller,
2000).
3. Herpetiformis ulserasi (HU)
Istilah herpertiformis digunakan karena bentuk klinisnya yang terdiri dari
ulser kecil-kecil dalam satu waktu mirip dengan gingivostomatitis herpetik
primer, tetapi virua herpes tidak memiliki peran etiologi pada HU atau
dalam setiap ulserasi aptosa (Lewis dan Lamey, 1998). Gambaran
mencolok dari penyakit ini adalah erosi-erosi kelabu putih yang jumlahnya
banyak, berukuran sekepala jarum yang membesar, bergabung dan
menjadi tidak jelas batasnya. Ukurannya berkisar 1-2 mm sehingga dapat
dibedakan dengan aptosa namun tidak adanya vesikel dan gingivitis
bersama sifat kambuhan membedakannya dari herpes primer dan infeksi
virus lainnya (Porter, 1998).

3.4 Faktor Pemicu Recurrent Apthous Stomatitis (RAS)
Herditer
Defisiensi nutrisi
Alergi terhadap makanan
Gangguan hormonal
Gangguan imunologis
Trauma
Stress psikologis

3.5 Terapi
Perawatan RAS biasanya merupakan perawatn supportif. Tujuan utama
utama perawatan ini adalah untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat
penyembuhan. Obat-obatan yang biasa digunakan adalah kortikosteroid topikal,
analgesik, dan antimikroba. Untuk kasus ringan dapat diaplikasikan obat topikal
sebagai pereda rasa sakit, seperti anastesi topikal.
Untuk menghindari RAS perlu dilakukan kontro oral hygine pada rongga
mulut serta konsumsi nutrisi yang cukup terutama vitamin dan mineral. Selain itu
dianjurkan untuk menghindari stress psikologis.
Pada kasus ini rencana perawatan dan terapi yang akan dilakukan adalah
terapi simptomatif dengan menggunakan Benzokain Borax Gliserin (BBG) dengan
instruksi oles pada ulser 3x sehari, dan salep OM dioles pada bibir 3x sehari.
Terapi suportif menggunankan Becomzet tabs dengan instruksi minum obat 1 x
sehari. Pasien diinstruksikan untuk menjaga kebersihan rongga mulut,
menggunakan obat sesuai dengan anjuran dan datang kembali untuk kontrol 1
minggu setelah kunjungan pertama.
BBG mengandung benzokain yang berfungsi sebagai anastesi lokal untuk
meredakan nyeri pada ulser tersebut, borax bersifat bakterisid yang berfungsi
untuk membunuh bakteri yang terdapat pada ulser sehingga penyebaran infeksi
sekunder dapat dicegah, dan gliserin berfungsi sebagai pelarut dari kedua bahan
tersebut. Salep OM mengandung hidrokortison (steroid) untuk mengurangi
keradangan, Vitamin E untuk membantu mempercepat regenerasi sel, dan
pelembab sebagai pelindung. Becomzet tabs mengandung vitamin C, vitamin B1,
B2, B6 dan B12 yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh dan regenerasi sel
dalam proses penyembuhan.
Setelah dilakukan perawatan selama 9 hari, pasien sudah tidak mengalami
sakit pada bibir bawah bagian dalam, serta bibir atas dan bawah tidak lagi
mengelupas dan sakit. Selanjutnya pasien tetap diinstruksikan untuk selalu
menjaga kebersihan mulutnya, makan-makanan bergizi dan istirahat yang cukup.


















BAB IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Recurrent Apthous Stomatitis adalah lesi mukosa rongga mulut yang
paling sering terjadi, ditandai dengan ulser yang timbul berulang di
mukosa mulut pasien tanpa adanya gejala penyakit lain. Secara klinis
kondisi RAS dibagi menjadi 3 yaitu tipe mayor, minor dan herpetiform.
2. Pada kasus ini pasien mengalami Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS)
oleh karena faktor trauma dan imun menurun yang ditarik dari hasil
anamnesa dan pemeriksaan klinis. Berdasarkan hal tersebut, terapi yang
diberikan adalah pemberian Benzoikain Boraks Gliserin (BBG) juga
diberikan sebagai obat anastesi topical karena dapat mengurangi rasa sakit
pada ulser, melindungi ulser untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder
serta membantu proses penyembuhan ulser. Selain itu juga diberikan
Becomzet untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien serta membantu
proses penyembuhan jaringan. Instruksi pada pasien untuk menjaga
kebersihan rongga mulut dan memperbanyak istirahat.















DAFTAR PUSTAKA
Banuarea, T.H.P. 2009. Prevalensi Terjadinya Aftosa Rekuren pada Mahasiswa
FKG USU. Medan: USU.
Langlais, Robert P & Miller, Craig S. 2000. Atlas Berwarna Kelainan Rongga
Mulut yang Lazim. Jakarta: Hipokrates.
Lewis MAO, Lamey PJ. 1998. Tinjauan Klinis Penyakit Mulut. Jakarta: Widya
Medika
Lynch DP & Eisen D. 1994. Selecting Topical and Systemic Agents for Recurrent
Apthous Stomatitis. Cutis 2001; 68 (3): 201-6
Porter SR, Scully C, Pedersen. 1998. A Recurrent Apthous Stomatitis. Crit Rev
Oral Biol Med. 1998; 9 (3): 306-21
Scully C, Pouter SR, Hegarty A, Raliakatson F, Hodgson TA. 2000. Recurrent
Apthous Stomatitis. Clin Dermatol 2000; 18 (5):596-578
Volkov; rudoy, Inna; Peleg, Roni dan Press, Yan. 2008. Sucessfull Treatment of
Recurrent Apthous Stomatitis of, any origin with vitamin B12 (irrespective
of its blood level): [internet]. Available from: http://www.ispub.com