Anda di halaman 1dari 17

KEBIJAKAN HSE PERUSAHAAN

LATAR BELAKANG Bahwa terjadi kecelakan di tempat kerja sebagian besar disebabkan oleh faktor manusia dan sebagian kecil disebabkan oleh faktor teknis. Oleh karena itu untuk menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja maupun orang lain yang berada ditempat kerja, serta sumber produksi, proses produksi dan lingkungan kerja dalam keadaan aman, maka perlu penerapan system Manajemen Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan yang selanjutnya kita sebut HSE (Health Safety Environment).

TUJUAN DAN SASARAN Tujuan dan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ini diungkapkan dengan kalimat yang sederhana, yaitu “Bebas Kecelakaan - Tidak Membahayakan Manusia dan - Tidak Merusak Lingkungan, tujuan tersebut dicapai dengan melalui tahapan utama berikut:

  Identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian resiko

  Penyebarluasan, penerapan dan monitoring rencana HSE

  Pengukuran, analisis dan perbaikan secara berkala

SISTEM MANAJEMEN HSE Element 1- Pimpinan Proyek Dibawah pimpinan Proyek, personil pada semua strata dalam organisasi proyek ini bertangung jawab untuk menerapkan HSE, dan berkapasitas untuk :

Identifikasi bahaya dan dampaknya

Memastikan penerapan prosedur kerja

Contoh personal terhadap perilaku HSE diluar dan ditempat kerja

Komunikasi yang aktif

Saling tukar pengalaman dan pengetahuan tentang HSE

Memonitor kinerja penerapan HSE

HSE Element 2— Supervisor Supervisor proyek mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam penerapan HSE sebagai berikut:

Membantu Pimpinan Proyek dalam penerapan HSE

Mandor menipunyai otoritas untuk menghentikan operasi atau aktifitas dimana dipandang membahayakan personil atau dapat menimbulkan kerusakan peralatan, fasilitas atau lingkungan

Melakukan penyelidikan dan pelaporan kepada pihak terkait

Melakukan koordinasi kegiatan yang berkaitan yang berkaitan dengan HSE

JOB SAFETY ANALISYS (JSA) Job Safety Analysis adalah suatu proses pengumpulan data yang berpotensi bahaya yang mungkin terjadi selama pelaksanaan pekerjaan, pemahaman terhadap JSA ini akan meminimalkan kemungkinan terjadinya kecelakan kerja.

TANGGAP DARURAT Tanggap darurat dibuat agar memberikan kepastian system informasi yang memadai dan jalur tanggung jawab ketika terjadi keadaan darurat, yang meliputi

Kejadian Medis Kritis

Kejadian Kebakaran

Darurat Lain (Kecelakaan lalu lintas, gempa bumi, dll)

METODA KOMUNIIASI Persyaratan umum komunikasi berikut ini hendaknya diterapkan pada saat kejadian darurat, yaitu:

Semua komunikasi dilakukan secara singkat,jelas dan tegas

Simpan catatan panggilan selama kondisi darurat

Gunakan foto atau sketsa untuk mengilustrasikan kejadian darurat

KEBIJAKAN KESEHATAN, LINGKUNGAN DAN NORMA Kebijakan kesehatan harus mempunyai informasi yang memadai mengenal kesehatan personil, kotak pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dengan obat standar tersedia dikantor dan dipasang pada lokasi yang mudah dilihat dan terjangkau. Kebijakan lingkungan diambil untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan lingkungan, semua sampah yang dihasilkan hendaknya dipisah sesuai jenisnya, agar tidak merusak lingkungan. Dalam kebijakan Norma semua personil harus menjungjung tinggi norma susila, agama yang diyakini dan menghargai adat istiadat masyarakat setempat.

PELATIHAN HSE Agar kebijakan HSE ini berhasil, maka dilakukan pelatihan, diantaranya berupa pelatihan:

Pengetahuan dasar HSE

Pelatihan P3K

Pelatihan dasar pengendalian kebakaran

INSPEKSI LAPANGAN DAN AUDIT Inspeksi lapangan dan audit dilakukan secara rutin, dilakukan secara bersama dan temuannya dicatat dan menjadi bahan untuk tindakan lebih lanjut.

LAPORAN KEJADIAN DAN INVESTIGASI Setiap kecelakaan kerja segera dilaporkan ke pihak yang terkait dengan masalah HSE, dan membuat laporan yang meliputi:

Tanggal, waktu dan lokasi kejadian

Jumlah dan personil yang cidera

Jenis kecelakaan

KEBIJAKAN BERKENDARAAN Lalu lintas dilingkungan proyek dibatasi hanya untuk kendaraan yang berkepentingan untuk proyek, aturan keselamatan berkendara seperti sabuk pengaman, SIM dan kecepatan berkendara harus dipatuhi.

KICK OF MEETING Rapat pendahuluan HSE dilakukan sebelum pekerjaan dimulai, yang bermaksud agar :

Program pelaksanaan pekerjaan berjalan dengan baik

Pembicaraan detail mengenai maksud program kerj a

Kampanyekan kebijakan HSE

PAPAN INFORMASI

Papan

informasi

merupakan

komunikasi

satu

arah

penyebarluasan kebijakan HSE, yang berisi:

Resiko tempat kerja

Cara melakukan evakuasi

Tindakan P3K

Tanggap Darurat

Dan lain-lain

sebagai

sarana

POSTER / RAMBU PERINGATAN Poster atau rambu peringatan merupakan konunikasi satu arah dalam bentuk symbol atau kalimat perintah yang jelas, tegas, mudah dibaca dan ditempatkan dilokasi yang strategis

ORIENTASI KARYAWAN BARU

I. LATAR BELAKANG

Dalarn rangka untuk meningkatkan kapasitas kemarnpuan karyawan baru diperlukan mekanisme untuk melakukan pembinaan dan pembekalan kepada karyawan baru yang akan bekerja dilingkungan perusahaan. Program tersebut dilaksanakan dalam jangka waktu yang telah ditentukan untuk memberikan kesempatan kepada karyawan baru untuk melakukan pengenalan terhadap tugas pokok dan fungsi sesuai dengan tujuan rekrutmen. Disamping itu masa pengenalan memberikan pemahaman dan pengalaman bagi para karyawan baru pada tugas dan fungsi serta visi misi perusahaan. Sehingga para karyawan baru dapat segera melaksanakan tugas dan fungsinya dengan segera dan mampu memberikan dukungan yang tepat kepada pelaksanaan tugas dipurasahaan Selanjutnya bagi karyawan baru dilingkungan perusahaan perlu diberikan pendampingan agar dapat menyesuaikan diri dengan nilai-nilai budaya kerja, penyesuaian diri yang tepat dan cepat semakin mendukung sikap kerja para karyawan baru dan sinergi dengan lingkungannya, sehingga apabila ada permasalahan yang berkaitan dengan cara penyesuaian diri, para karyawan baru memiliki bekal untuk dapat menyelesaikan secara mandiri dan tidak mempengaruhi kinerja dan akhirnya tidak berdampak buruk terhadap perusahaan.

II. METODA PELAKSAAN

Metoda yang digunakan adalah metoda ajar klasikal dan diskusi oleh peserta pengenalan yang meliputi materi umum dan khusus, sebagai berikut:

Orientasi umum disampaikan secara klasikal yang berisi materi tentang:

o

Visi dan misi perusahaan

o

Aturan kekaryawanan dan administrasi kekaryawanan

o

Budaya dan nilai-niiai kerja

o

Kesehatan dan keselamatan kerja

o

Pengenalan lingkungan

Orientasi khusus disampaikan secara job training masing-masing unit terdiri dari:

o

SOP (standar operasional prosedur) yang sesuai dengan penempatan dan fungsi kerja karyawan baru

o

Pengenalan lingkungan instalasi/bagian/bidang

o

Uraian tugas dan wewenang sesuai dengan posisi penempatan di instansi/bagian/bidang.

III.

MATERI NARA SUMBER DAN JADWAL PELAKSANAAN

No

Materi umum

Waktu

Nara sumber

1

Visi dan Misi Perusahaan

60 Menit

Direktur

2

Aturan-aturan, kekaryawanan dan Adrninistrasi & kekaryawanan

60 Menit

Bidang HRD

3

Budaya dann nilai kerja

6O Merit

Bidang SDM

4

Kesehatan dan keselamatan kerja

60 Menlt

Man. HSE

5

Pengenalan Lingkungan

60 Menit

Bidang HRD

No

Materi pengenalan Khusus

Waktu

Nara sumber

1.

SOP (standar opersional prosedur)

60 Menit

Bidang HRD

2.

Pengendara lingkungan bagian Spesifik

60 Menit

Bidang HSE

3.

Uraian tugas dan wewenang

60 Menit

Bidang HRD

IV. PENANGGUNG JAWAB PELAKSANA

Pelaksana program pengenalan dibawah koordinasi direktur dan ketua HSE sesuai dengan pokok dan fungsinya

V.

PEKERJAAN

Pengertian :

STANDAR

OPERASIONAL

PROSEDUR

PENILAIAN

PELAKSANAAN

1. Daftar Penilaian kinerja karyawan baru (DPK) ada!ah suatu daftar yang memuat hasil penilaian pelaksanaan pekerjaan karyawan baru dalam jangka waktu masa kontrak yang akan digunakan untuk evaluasi kinerja sebagai dasar menjadi karyawan tetap.

2. Pejabat penilai adalah atasan langsung dari karyawan baru.

Tujuan :

1. Pembinaan dan pengawasan karyawan baru

2. Rencana pengembangan sumber daya manusia

3.

Pelatihan dan peningkatan pendayagunaan karyawan baru sesuai dengan tugas dan fungsinya

4. Memperoleh bahan-bahan pertimbangan yang obyektif dalam pembinaan karyawan baru

5. Dasar untuk rnernperoanjang masa kerja karyawan baru

Kebijakan Undang-undang no. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan :

1. Bidang SDM menyampaikan, kepada tenaga kerja yang meilputi bagian, formulir DPK untuk dapat dilakukan penilaian atas karyawan baru yang bertugas

2. Forrnulir DPK rangkap 2 lembar dengan ketentuan 1 lembar untuk karyawan baru dan 1 lembar untuk perusahaan

3. Hasil penilaian harus disampaikan ke karyawan baru yang bersangkutan dan apabila disetujui maka atasan langsung dan karyawan baru yang bersangkutan menandatangani formulir DPK tersebut untuk seianjutnya disarnpaikan ke atasan penilai

4. Selanjutnya DPK yang teiah ditandatangani atasa penilai, I disarnpaikan ke bidang HRD untuk mendapatkan dan penetapan hasil penilaian DPK

5. Apabila

mengajukan

karyawan

baru

keberatan

dengan

basil

penilaian,

dapat

keberatan

6. Selanjutnva keberatan karyawan baru akan diperiksa oeh hidang HRD untuk mendapatkan pertimbangan.

SAFETY INDUCTION

Selamat datang dilokasi pekerjaan. Dilokasi ini akan dilakukan pekerjaan renovasi gedung sesuai dengan perintah kerja dari kita Kegiatan ini mempunyai bahaya-bahaya yang cukup tinggi karena rawan terhadap bahaya kebakaran, bahaya dropobject, bahan jatuh dari ketinggian dll. Oleh karena itu, pada pekerjaan / pengunjung wajib mentaati semua peraturan-peraturan yang berlaku di lokasi ini.

1. Setiap pekerja / pengunjung wajib melapor kepada keamanan dan mengisi daftar hadir yang tersedia di pos keamanan.

2. wajib mengenakan peralatan keselamatan diri (alat pelindung diri) yang dipersyaratkan di area-area produksi (mandatory adalah : safety shoes dan helmet).

3. Dilarang membawa korek api maupun sumber api yang lain, serta dilarang menyalakan api dalam bentuk apapun.

4. Dilarang menghidupkan telepon selular. Telepon selular dalam keadaan mati.

5. Dilarang mengambil foto tanpa seijin petugas HSE dan apabila melakukan pengambilan foto wajib menonaktifkan penggunaan lampu “flash / blight”.

6. Dilarang membuang sampah disembarang tempat.

7. Selalu waspada terhadap rambu-rambu keselamatan yang terpasang dilokasi produksi.

8. Dalam keadaan darurat (kebaran, ledakan, dsb), pengunjung diharuskan untuk tidak panik,jika petugas mengantar anda (guide) dan segera bergegas menuju area berkumpul (assembly point) yang telah ditentukan…………………tunggu perintah/ aba-aba selanjutnya dari petugas berwenang dilokasi.

Semua aturan-aturan tersebutmengikat seluruh pengunjung selama berada dilokasi produksi kami. Dan akan kami lakukan dengan teguran maupun tindakan keras atas setiap pelanggaran. Kesemuanya adalah semata-mata untuk kepentingan keselamatan dan kesehatan kerja serta perlindungan lingkungan. Safety first.

Daftar Hadir Induksi :

…………………………… Petugas HSE

Pentingnya Safety Talk Sebagai Usaha Pencegahan Kecelakaan

PENDAHULUAN Sebuah perusahaan yang mengoperasikan kilang dalam beberapa hal kemungkinan bisa terjadi seperti kecelakaan kerja.

Setiap orang dimanapun berada , siapapun dia bisa saja mengalami suatu kecelakaan.Terlebih lagi bila sedang melakukan suatu aktifitas atau berada dalam lingkungan orang yang sedang bekerja . Setiap kecelakaan kerja sudah pasti akan merugikan pekerja itu sendiri maupun perusahaan , perusahaan didalam menjalankan seluruh aktifitasnya selalu berusaha untuk menekan sekecil mungkin terjadinya kecelakaan kerja yang disebabkan berbagai factor , berbagai upaya senantiasa dilakukan oleh perusahaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja sehingga kerugian – kerugian yang sangat fatal baik dari peralatan maupun dari manusianya dapat dihindarkan . Dari berbagai upaya yang dilakukan perusahaan sebagai langkah pencegahan kecelakaan kerja, salah satunya adalah dengan melaksanakan program Safety talk untuk seluruh pekerja tanpa kecuali. Dalam safety talk kali ini materi yang dibahas adalah; “Pentingnya Safety talk sebagai usaha pencegahan kecelakaan kerja ” Safety talk merupakan salah satu sarana penunjang dalam upaya mencegah terjadinya bahaya di tempat kerja, serta berbagai masalah pekerjaan dapat kita diskusikan ( secara teoritis ), untuk kemudian dapat diterapkan dan dipraktekan hasil dari diskusi tersebut dilapangan / plant, dengan safety talk dapat pula meningkatkan pengetahuan kita terhadap :

Pekerjaan yang kita hadapi dan bahayanya serta penanggulangannya .

Procedure kerja .

Peralatan safety ( alat-alat pelindung diri ).

Komunikasi

.

1. Meningkatkan pengetahuan pekerjaan yang kita hadapi dan bahayanya serta

penangulangannya. Semakin banyak kita melaksanakan tugas / pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan maka membuat kita semakin berpengalaman pula bahkan bisa makin familier dengan tugas dan tanggung jawab tersebut , sehingga kita semakin mengerti dengan keadaan lingkungan tempat bekerja dan akan dengan cepat pula mengatasinya bila terjadi problem atau keadaan darurat .

2. Meningkatkan pengetahuan tentang prosedur kerja.

Dari pengalaman – pengalaman selama ini semakin kita sering melakukan pekerjaan yang sama sehingga kita menjadi terbiasa dan membuat kita semakin menguasai pekerjaan itu , tetapi dilain pihak menjadikan kita terlena dengan kemampuan itu , dikarenakan kita sudah terbiasa melakukannya terkadang menjadikan kita lalai , gegabah dan sembrono dengan yang namanya prosedur kerja , akibatnya bisa fatal terhadap peralatan maupun manusianya . Apabila kita bekerja menggunakan prosedur kita sudah terlindungi bila terjadi hal – hal yang tidak kita inginkan , karena yang akan bertanggung jawab adalah yang menyiapkan , memeriksa dan mengesahkan prosedur tersebut .

3. Meningkatkan pengetahuan kita terhadap alat – alat pelindung diri .

Setiap pekerja mempunyai tanggung jawab yang sama untuk bekerja yang aman dan selamat, pada dasarnya kita semua mengerti bahaya-bahaya yang mungkin timbul ditempat area kerja kita masing- masing dan alat-alat pelindung diri apa saja yang harus kita pakai .

Perusahaan telah menyediakan dan memcukupi perlengkapan dan kelengkapan alat pelindung diri, diharapkan dapat dipergunakan secara baik dan tepat .

4. Meningkatkan kemampuan kita berkomunikasi . Didalam safety talk ini tanpa sadar kita juga belajar berkomunikasi , kapan kita harus mendengarkan , kapan kita mengutarakan pendapat, jangan main potong saja selagi orang lain mengutarakan pendapatnya efeknya bisa saja orang tersebut tersinggung , terutama bila kita sedang bekerja komunikasi memegang peranan sangat penting , apabila kita menerima atau memberi perintah yang tidak jelas atau salah akibatnya bisa fatal.

Komunikasi yang baik merupakan suatu manifestasi / cerminan dari keakraban dan kebersamaan kita hingga akan menciptakan suasana yang intim , hangat dan harmonis yang pada akhirnya akan menciptakan kebersamaan , sehingga dalam kita bekerja sehari-hari akan terasa ringan dan nyaman .

PENUTUP Uraian tersebut diatas yang baru kita bahas merupakan sebagian kecil dari banyaknya persoalan dan manfaat yang dapat kita ungkap dalam safety talk , mudah – mudahan menjadikan kita lebih bertanggung jawab dalam bekerja sehingga ikut menunjang produktifitas perusahaan .

ARTI KESELAMATAN DAN KEPEDULIAN DIRI AKAN BAHAYA

Dibandingkan di tempat kerja, sesungguhnya kecelakaan di luar jam kerja lebih banyak terjadi, hanya sayangnya tidak ada data ataupun catatan untuk membuktikannya. Celaka / cedera yang terjadi di luar jam kerja / saat tidak bekerja sangat mempengaruhi angka absensi kerja. Sebagai akibatnya, para karyawan harus kehilangan waktu kerjanya, mencari pengganti, dan tertundanya pekerjaan sehingga keseluruhan produktivitas perusahaan sangat terganggu.

Keselamatan berarti “Selalu Siap”

Keselamatan tidak seperti memutar tombol listrik ke ON, dan langsung dapat memulai pekerjaan. Dengan usaha yang keras dan sungguh-sungguh serta dukungan dan partisipasi dan seluruh karyawan dan pimpinan, kecelakaan di tempat kerja dapat ditekan bahkan dihilangkan, dan keselamatan kerja menjadi bagian dan pola kerja serta prioritas utama dalam pekerjaan, yaitu berproduksi dengan aman dan selamat. Memang tidak ada yang bisa memastikan di mana kecelakaan akan dan bisa terjadi. Tidak ada yang merasa diuntungkan jika Seorang karyawan menderita celaka, bahkan jika sampai cacat sekalipun. Jika ada anggota keluarga yang sakit atau mendapat kecelakaan di rumah, hal ini bisa menyebabkan karyawan absen ataupun izin untuk tidak masuk kerja, untuk menolong ataupun ia tetap masuk kerja, maka kualitas dan kuantitas kerjanya pun akan terganggu, karena kurangberkonsentrasi, lelah karena kurang tidur/istirahat, bahkan staminanya menurun karena waktu makan dan minum yang terabaikan. Berdasarkan hal-hal tersebut, beberapa perusahaan terkemuka mulai memperhatikan masalah- masalah kehidupan pribadi dan keluarga pekerja, yang mempengaruhi keselamatan dan kesehatan karyawan dan keluarga secara keseluruhan. Mengapa demikian? Karena tiap tahun perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk perawatan kesehatan bagi karyawan dan juga keluarganya, termasuk di dalamnya biaya perawatan kesehatan dan tindakan medis yang harus dibayar karena kecelakaan di luar jam kerja, di dalam maupun di luar rumah. Pihak perusahaan menyadari biaya biaya tersebut dapat dihemat atau ditekan, antara lain dengan melaksanakan program Keselamatan dan Kesehatan di Rumah melalui kampanye, bulletin perusahaan, pelatihan pekerja, dan cara-cara lain yang mungkin dan bisa dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan arti penting selamat dan sehat bagi karyawan dan anggota keluarganya di rumah.

Keselamatan di Jalan Raya

Angka kecelakaan lalu lintas di negara kita cukup tinggi dan cenderung bertambah, serta kecelakaan lalu lintas yang menimpa pengendara sepeda motor merupakan jumlah dan pemakan korban terbesar baik meninggal dunia maupun luka luka. Para pengemudi kendaraan perusahaan, dan pengendara truk sampai ke tenaga penjualan, sebaiknya diberi pengarahan tentang teknik pengemudi yang aman. Demikian juga para pekerja yang memakai kendaraan bermotor untuk berangkat dan pulang kerja, harus memahami teknik pengendara yang benar, mengenali kondisi kendaraanya, selalu mematuhi aturan berlalu lintas, tidak bertelpon ria dengan hand phone saat mengendara dan juga memakai alat pelindung diri yang diwajibkan, seperti helm, sabuk pengaman, serta dapat mengendalikan emosi disaat keadaan lalu lintas yang macet. Perlu diingat bahwa kecelakaan lalu lintas tidak saja mengakibatkan kematian dan luka-luka tetapi juga kerugian materi yang tidak sedikit.

Alat Pelindung Diri

Seorang pekerja pabrik memerlukan helm, safety shoes, masker udara, sarung tangan, dan peralatan keselamatan dan pelindung lainnya untuk melindungi dirinya dan bahaya dan celaka yang mungkin bisa menimpanya. Seorang pekerja kantor tidak memerlukan alat pelindung diri seperti pekerja pabrik, tetapi tetap harus waspada dan hati-hati, karena ada bahaya yang mengintai seperti tersengat araus listrik dan peralatan kantor yang saat ini banyak memakai listrik. Selain itu, beberapa jenis kegiatan, terutama yang menyangkut hobi dan olah raga, memerlukan alat pelindung diri seperti helm untuk bersepeda, sarung tangan, kacamata pelindung, sepatu sabuk pengaman, dan lain lain, sesuai kebutuhan dan bahaya yang mungkin terjadi. Bahkan, bagi mereka yang suka mengisi waktu luangnya dengan membuat peralatan / hobi bertukang, harus waspada terhadap kondisi tangga,

terkena / tersiram bahan kimia cair, bahan pembersih, pestisida, ataupun terhirup bahan-bahan pelarut / solvet. Demikian juga mereka yang bekerja dengan perkakas tangan yang tajam dan anggota badan yang lain. Jadi, perlu diperhatikan cara pemakaian alat kerja yang benar dan pemakaian pelindung din yang sesuai.

Bahaya Tersengat Arus Listrik

Instalasi listrik harus aman, terlindung, dan bebas dan gangguan. Mematikan semua peralatan listrik sebelum pulang kerja terlebih menjelang libur akhir pekan sangat perlu diperhatikan. Memberikan trafo ataupun stabilizer komputer tetap hidup walaupun komputer dan perlengkapanya sudah dimatikan belum menjamin hal itu sudah aman, apalagi jika trafo / stabilizer itu diletakkan begitu saja di atas lantai yang beralasan karpet ataupun kayu. Sungguh hal itu sangat membahayakan karena panas yang berasal dan peralatan tersebut bisa membakar dan menghanguskan karpet ataupun kayu.Demikian juga pemakalan peralatan listrik untuk rumah tangga seperti mesin cuci, setrika, dan vacuum cleaner. Perhatikan jangan sampai ada kabel yang terbuka, yang mengakibatkan bahaya hubungan singkat (konslet) atau tersengat aliran listnik yang mematikan. Jika kabel isolasi kabel rusak ganti dengan ukuran dan daya listrik yang sama. Jangan sampai diubah dengan alasan supaya lebih murah. Jika menggunakan kompor microwave, jangan sekali-kali membuka saat kompor bekerja, hanya karena ingin melihat hasil masakan karena hal ni sangat berbahaya. Kebiasaan makan-makanan kecil di tempat kerja, sisa makanan yang jatuh di lantai maupun yang tersisa cenderung mengundang masuknya tikus, dan jika tikus telah masuk, resiko yang lebih serius selain kabel-kabel listrik dan telpon yang rusak akibat gigitan tikus, juga merusak peralatan kerja lainnya seperti misalnya printer, kertas-kertas file.

Api dan Bahaya Kebakaran

Tempat kerja harus bebas dan bahaya api / kebakaran dengan menyingkirkan dan menyimpan di tempat yang aman dan terpisah bahan-bahan yang mudah terbakar, menutup rapat wadahnya, dan memberi label. Bagi mereka yang bekerja di gedung bertingkat atau di ruangan yang lua dan tertutup, kenali di mana alat pemadam api diletakkan, serta jalan-jalan menuju pintu keluar dan tangga darurat. Selain itu pahami cara penyelamatan diri dan bahaya api / kebakaran yang baik dan benar, juga cara menghindari bahaya asap. Jika terjadi kebakaran jangan menggunakan lift untuk menyelamatkan diri, tetapi pakailah tangga darurat. Bahaya api / kebakaran di rumah juga harus diperhatikan. Pemakaian kompor minyak tanah harus memperhatikan sumbu dan kebersihannya. Sirkulasi udara ruangan juga perlu diperhatikan. Bagi mereka yang menggunakan kompor gas LPG, ventilasi ruangan harus baik dan terbuka, karena gas yang bocor cenderung melayang di bawah / di lantai, Sehingga harus ada ventilasi yang baik di bawah / dekat lantai. Jika tidak, bukalah pintu dan jendela dan biarkan udara bebas masuk sebelum menyalakan kompor.

Kebersihan

Biasakanlah mencuci dan mengeringkan tangan sebelum maupun sesudah mengerjakan sesuatu yang kotor, berdebu, berminyak, dan lain-lain. Tindakan ini sangat sederhana namun sangat ampuh untuk menghindari kuman-kuman penyakit. Demikian juga kebersihan dapur, kantin dan peralatan makan, baik ditempat kerja maupun di rumah. Karena kasus keracunan makanan yang berasal dan bakteri seperti E.coli dan salmonella selalu berasal dan ketidakbersihan bahan makanan dan peralatan makan. Anakanak harus diajarkan cara hidup yang bersih sejak kecil. Hendaknya selalu diingat, “Kebersihan adalah pangkal kesehatan”. Jika sakit semua anggota keluarga akan repot, biaya-biaya yang tak terduga mau tidak mau akan keluar, dan pada akhirnya akan menambah beban hidup yang sudah susah saat ini

20 Ide Untuk Bahan Safety Talk

Safety talk merupakan sebuah media komunikasi untuk menyampaikan pentingnya memperhatikan aspek safety atau HSE dalam bekerja. Kegiatan safety talk dapat dilakukan per kelompok atau perusahaan secara keseluruhan. Safety talk dapat dilakukan harian, mingguan, bulanan atau periode waktu tertentu yang ditetapkan berdasarkan resiko dan jenis pekerjaan.

Topik atau bahan safety talk tentu harus diputuskan berdasarkan kebutuhan pekerjaan. Dan idealnya, safety talk mampu menyentuh seluruh aspek safety atau HSE dalam pekerjaan sehari-hari.

Menentukan bahan safety talk, ternyata tidak mudah. Hal ini mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa topik dalam safety talk hanya berkutat pada hal yang sama. Padahal, safety talk sudah berlangsung bertahun-tahun. Dan hal itu pulalah yang membuat safety talk menjadi tidak efektif.

20 Ide Bahan Safety Talk

Sebenarnya banyak sumber ide yang bisa menjadi topik atau bahan safety talk. Nah berikut ini adalah 20 ide untuk bahan safety talk di semua area kerja.

1. Standard Operating Procedures atau instruksi kerja

2. Manual safety operasi alat (dari manufacturer)

3. Material Safety Data Sheet atau MSDS atau Lembar Data Keselamatan Bahan(LDKB) bahan kimia B3 yang ada di pabrik

4. Prosedur penggunaan fire extinguisher atau alat pemadam api ringan (APAR)

5. Jenis-jenis alat pelindung diri dan penggunaannya

6. Prosedur kerja dalam confined space

7. Cara memperoleh safety permit sebelum melakukan pekerjaan

8. Bahaya gas karbon monoksida dan sumber-sumbernya di dalam pabrik

9. Bahaya pekerjaan pengelasan dan hal-hal yang harus diperhatikan

10. Lower Explosive Limit (LEL) dan flammable gas detector

11. Aspek safety pada hydrostatic pressure test

12. Pengendalian bahan kimia berbahaya

13. Identifikasi bahaya di tempat kerja

14. Regulasi yang berkaitan dengan safety atau HSE

15. Hasil investigasi kecelakaan kerja (di tempat kerja sendiri atau orang lain)

16. Potensi bahaya kebakaran di tempat kerja dan pencegahannya

17. Safety inspection

18. Bahaya static electric

19. Mengenal hazardous area

20. Emergency response procedure (ERP)

Untuk mempermudah, buatlah daftar bahan safety talk yang akan anda pergunakan, plus jadwal setiap safety talk. Sesuaikan dengan tingkat resiko, potensi bahaya, kualifikasi pekerja dan jenis pekerjaan yang anda lakukan. Lakukan evaluasi secara periodik, agar anda bisa mengetahui tingkat efektifitas safety talk yang telah anda lakukan. Masukkan beberapa perubahan jika menurut hasil evaluasi anda hasilnya tidak memenuhi target dan harapan.

MEMBANGUN ETOS KERJA YANG HANDAL

Dan dalam kesempatan ini sampaikan sedikit mengenai ETOS Kerja tersebut kepada karyawan, rekan kerja sekalian, sebagai suatu oleh-oleh yang mencerdaskan.

Dalam bahasa yunani “ETOS” berarti Api yang menyala-nyala, yang melambangkan semangat dan asa yang tak lekang oleh waktu dan keadaan. Makanya ETOS ini sering dipasangkan dengan KERJA, sehingga menjadi satu susunan kata yang memiliki Arti yang Luas. Dalam perkembangannya ETOS KERJA memiliki makna Spirit, Semangat, dan Mentalitas

yang mewujud menjadi seperangkat Perilaku Kerja yang Khas nan Unggul, seperti : rajin, Antusias, Teliti , Tekun, Kerja Keras, Ulet, Sabar, Bertanggungjawab, Hemat, effisien dan menghargai waktu. Ada dua Dimensi Etos

1. ETOS terhadap Kerja : Management

1. Plan-Perencanaan

2. Do- Pelaksanaan

3. Check- Evaluasi

4. Action- Tindakan perbaikan

2. ETOS terhadap Manusia: Leadership

1. Excellencing = Menjaga Keunggulan

2. Supporting=Memelihara Dukungan

3. Motivating=Membangun semangat

4. Visioning= Membangun masa depan.

Bangsa Jepang terkenal sebagai bangsa yang memiliki ETOS KERJA yang luar biasa, ada 7

(tujuh) “The Japanese Ethos”

bangsa dunia lainnya sampai saat ini, yakni:

yang membuat bangsa Jepang terpandang di mata bangsa-

1. Gi, Bersikap benar dan Bertanggungjawab

2. Yu, Berani dan Kesatria

3. Jin, Murah hati dan mencintai

4. Rei, Bersikap santun dan Hormat

5. Makoto, Tulus dan bersungguh-sungguh

6. Melyo, Menjaga martabat dan kehormatan

7. Chugo, Mengabdi dan Loyal.

Jepang selama ini kita kenal sebagai salah satu negara didunia yang memiliki etos kerja yang hebat.Etos kerja yang baik ini menimbulkan suatu dampat kemajuan teknologi dan penguasaan teknologi,serta mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara jepang itu sendiri. etos kerja orang jepang terkenal dari dulu selama perang dunia ke 2 jepang yang merupakan negara kecil dapat menguasai sebagian besar wilayah asia dan Amerika Serikat sempat diluluhlantahkan (peard hamboard) hingga akhirnya bertekuk lutut setelah hirosima dan nagasaki di bom atom oleh sekutu Semangat dan pantang menyerah merupakan ciri orang jepang, dari semboyan samurai yang menyatakan “Lebih baik mati dari pada berkalang malu”, ada juga istilah MAKOTO yang artinya bekerja dengan giat semangat,jujur serta ketulusan.belum lagi semangat dan semboyan serta falsafah yang lain yang dapat memacu kerja dan membentuk etos kerja para pekerja diluar negara jepang kita lihat perusahaan yang cukup terkenal yaitu KENWOOD, yang bergerak didunia elektronika yaitu dibidang akustik home teater ,sounsistem dan alat komunikasi berupa HT dan Car comunication. Kenwood Singapura bergerak dibidang radio komunikasi HT dan CAR yang memiliki anak cabang di Addpluss Tech Indonesia yang berlokasi di Bintan.hampir 85 % produk kenwood yang tersebar kepenjuru dunia diproduksi di sini Sementara Bangsa Eropa juga memilki ETOS KERJA yang juga membuat bangsa tersebut ,

dapat menguasahi dunia. Etos kerja tersebut di Kenal dengan “The Western Ethos-Ethos Panzer”, dimana juga ada 7 (tujuh), :

1. Berpikir Ilmiah, bertindak rasional

2. Berdisiplin Tinggi

3. Rajin, tekun dan bekerja keras

4. Berorientasi pada sukses material

5. Anti Pemborosan dan Kesenangan

6. Hemat dan Bersahaja

7. Menabung dan Berinvestasi.

Dimana 7 etos kerja ini masuk dalam segala bidang termasuk: bidang sains dan teknologi, Perdagangan, Transportasi, Kedokteran, Telekomunikasi, Infrastruktur, Energy, Militer, Fashion, banking ,dll. Dalam kesempatan ini , Pak Jansen Sinamo, memberikan satu pemahaman tentang ETOS

Kerja Profesional, yang merupakan hasil kajian beliau selama bertahun tahun, dan akhirnya

di simpulkan bahwasanya ETHOS Kerja Profisional terdiri dari 8 (delapan) unsur. Dengan

penjelasan sebagai berikut:

1. Kerja adalah RAHMAT, Bekerja dengan Ikhlas dan bersyukur

2. Kerja adalah AMANAH, Bekerja dengan Benar dan Bertanggungjawab

3. Kerja adalah PANGGILAN, Bekerja dengan Visioner dan Berintegritas

4. Kerja adalah AKTUALISASI, Bekerja dengan Antusias dan Bersemangat

5. Kerja adalah IBADAH, Bekerja dengan Serius dan Berdedikasi

6. Kerja adalah SENI, Bekerja Cerdas dan Kreatif

7. Kerja adalah KEHORMATAN, Bekerja dengan Tekun dan Berkeunggulan

8. Kerja adalah PELAYANAN, Kerja Paripurna dan Rendah hati.

7 Pondasi Keberhasilan HSE

Terdapat 7 aktifitas penting yang akan menjadi penentu keberhasilan dari organisasi HSE

di tempat kerja anda. Aktifitas tersebut yaitu;

1. Accountability / Tanggung Gugat

Semua anggota dalam HSE harus menyadari bahwa posisi mereka dalam organisasi HSE membutuhkan adanya partisipasi aktif.

Semua anggota akan memiliki tanggung jawab untuk mencapai tujuan/target yang telah ditetapkan.

2. Commitment / Komitmen

Komite atau P2K3 harus mendapatkan dukungan dari manajemen untuk menjamin pelaksanaan rekomendasi atau usulan dari P2K3

Para anggota juga harus menunjukkan komitmennya dengan cara menghadiri rapat, menyelesaikan tugas dari P2K3 yang diembannya dan mendorong rekan kerjanya untuk melaksanakan program-program HSE

3.

Employee Involvement / Keterlibatan Pekerja

Ajak semua pekerja untuk berpartisipasi untuk menciptakan tempat kerja yang aman dengan cara;

– Berperan untuk melaporkan semua temuan bahaya di tempat kerja

– Menanggapi rekomendasi atau usulan perbaikan dari pekerja

– Mengkomunikasikan kegiatan dari P2K3

4. Identifikasi Bahaya

Pencegahan kondisi berbahaya dan tindakan tidak aman dengan cara;

Memberikan pelatihan dasar mengenai identifikasi bahaya dan cara pengendaliannya

Fokus pada identifikasi bahaya dan tindakan tidak aman yang berpotensi besar untuk menimbulkan cidera yang serius

Menggunakan laporan kecelakaan untuk fokus pada sumber bahaya yang memang telah menimbulkan cidera

Melaksanakan kegiatan rutin inspeksi HSE

Mencatat dan mendiskusikan temuan inspeksi untuk bagaimana pengendaliannya

5. Penyelidikan Kecelakaan

Menetapkan prosedur untuk pelaporan dan penyelidikan setiap kecelakaan yang terjadi untuk diambil langkah pencegahannya.

6. Recordkeeping / Pencatatan

Lakukan pencatatan terhadap hasil kegiatan P2K3

Tetapkan sistem dan organisasi pengelolaan catatan P2K3 yang rapih

Simpan catatan-catatan seperti; notulensi rapat, hasil inspeksi, hasil identifikasi bahaya, usulan HSE dari tenaga kerja.

7. Evaluasi

Lakukan evaluasi rutin terhadap kemajuan dari program-program HSE

Lakukan evaluasi terhadap kinerja dari anggota P2K3

Evaluasi kelebihan dan kelemahan dari P2K3 anda.

Tetapkan tujuan atau target baru.

PROSEDUR KOMUNIKASI

TUJUAN Untuk memastikan tersedianya mekanisme komunikasi dan konsultasi dua arah terkait dengan implementasi system manajemen Mutu dan Lingkungan

RUANG LINGKUP Semua informasi internal dan eksternal terkait dengan implementasi sistem manajemen mutu dan lingkungan

DEFINISI Komunikasi Internal adalah suatu media hubungan antar personal / departemen dalam lingkungan dalam kaitan pengelolaan kinerja terkait dengan manajemen mutu dan lingkungan

Komunikasi Eksternal adalah suatu hubungan antara Pihak Perusahaan dengan pihak luar/eksternal seperti Kontraktor/Subkontraktor, Instansi Pemerintah, atau Masyarakat sekitar perusahaan yang saling memberikan Informasi terkait dengan pengelolaan lingkungan di perusahaan

PROSEDUR

Komunikasi Internal

Wakil Manajemen harus membuat rencana komunikasi internal sekaligus menentukan metode komunikasi yang sesuai

Semua departemen harus menjalankan rencana komunikasi internal yang telah ditentukan, jika metode komunikasi melalui pertemuan harus dilengkapi daftar hadir peserta, jika melalui perintah harus dituangkan kedalam format internal memo.

Apabila dalam pelaksanaannya terdapat masukan atau feedback dari karyawan, maka Wakil Manajemen bertanggungjawab untuk memberikan respon atau jawaban

Apabila feedback memerlukan keputusan manajemen, Wakil Manajemen bertanggungjawab untuk membahasnya dengan top manajemen

Apabila diperlukan tindak lanjut, Wakil Manajemen bersama departemen terkait bertanggungjawab membuat rencana tindak lanjut (action plan)

Semua masukan dalam pelaksanaan komunikasi internal harus dilaporkan kepada manajemen oleh Wakil Manajemen dalam rapat tinjauan manajemen

Komunikasi eksternal

Wakil Manajemen bertanggungjawab memonitor semua informasi yang berkaitan dengan pihak eksternal

Semua informasi yang terkait dengan yang hendak disampaikan kepada pihak eksternal, harus sepengetahuan Wakil Manajemen, misalnya pelaporan tiga bulanan dokumen limbah B3 kepada pemerintah dll

Untuk informasi yang terkait dari pihak eksternal, semua harus dicatat dalam Risalah Komunikasi Eksternal. Untuk informasi yang terkait dengan pengelolaan lingkungan, bagian security bertanggungjawab sebagai pelaksana pencatatan, sedangkan untuk informasi yang terkait dengan pelanggan, bagian marketing bertanggungjawab sebagai pelaksana.

Semua informasi harus disampaikan ke Wakil Manajemen

Wakil Manajemen bersama departemen terkait membahas informasi yang ada. Jika pembahasannya memerlukan keputusan manajemen, maka Wakil Manajemen bertanggungjawab membahasnya dengan top manajemen

Jika dari hasil pembahasan memerlukan tindakan perbaikan terkaitan informasi dari pihak eksternal, maka Wakil Manajemen bersama departemen terkait bertanggungjawab melakukan tindakan perbaikan

Wakil Manajemen bertanggungjawab memberikan tanggapan atas setiap informasi dari pihak eksternal melalui departemen terkait, termasuk bukti rencana perbaikan dan hasilnya

Semua status informasi dari pihak eksternal harus dilaporkan kepada manajemen oleh Wakil Manajemen dalam rapat tinjauan manajemen