Anda di halaman 1dari 19

MIGREN (migraine)

Definisi
Migren adalah serangan nyeri kepala berulang, dengan karakteristik lokasi unilateral, berdenyut dan
frekuensi, lama serta hebatnya rasa nyeri yang beraneka ragam.2,3,5Blau mengusulkan definisi migren
sebagai berikut nyeri kepala yang berulang-ulang dan berlangsung 2-72 jam dan bebas nyeri antara
serangan nyeri kepalanya harus berhubungan dengan gangguan visual atau gastrointestinal atau
keduanya. Harsono. 2005. Kapita Selekta Neurologi, edisi kedua. Gajahmada University Press.
Yogyakarta.

Epidemiologi
Migren dapat terjadi pada anak-anak sampai orang dewasa, biasanya jarang terjadi setelah berumur
lebih dari 50 tahun. Angka kejadian migren dalam kepustakaan berbeda-beda pada setiap negara,
umumnya berkisar antara 5 6 % dari populasi. Di seluruh dunia, migrain memengaruhi lebih dari 10%
penduduk. Robbins MS, Lipton RB (April 2010). "The epidemiology of primary headache disorders".
Semin Neurol 30 (2): 10719. Di Amerika Serikat, sekitar 6% pria dan 18% wanita menderita migrain
pada tahun tertentu, dengan resiko seumur hidup sebesar sekitar 18% dan 43% secara berurutan.
Bartleson JD, Cutrer FM (May 2010). "Migraine update. Diagnosis dan pengobatan". Minn Med 93 (5):
3641 Di Eropa, migrain memengaruhi 1228% penduduk pada suatu waktu dalam hidup mereka
dengan sekitar 615% pria dewasa dan 1435% wanita dewasa menderita migrain setidaknya sekali
dalam setahun. Stovner LJ, Zwart JA, Hagen K, Terwindt GM, Pascual J (April 2006). "Epidemiology of
headache in Europe". European Journal of Neurology 13 (4): 33345. Rata-rata penderita migrain
sedikit lebih rendah di Asia dan Afrika daripada di negara-negara Barat. Wang SJ (2003). "Epidemiology
of migraine and other types of headache in Asia". Curr Neurol Neurosci Rep 3 (2): 1048 Migrain kronis
terjadi pada sekitar 1.4 sampai 2.2% populasi. Natoli, JL; Manack, A; Dean, B; Butler, Q; Turkel, CC;
Stovner, L; Lipton, RB (2010 May). "Global prevalence of chronic migraine: a systematic review.".
Cephalalgia : an international journal of headache 30 (5): 599609.


Angka-angka ini sangat bervariasi berdasarkan usia: migrain umumnya bermula pada usia antara 15
sampai 24 tahun dan terjadi paling sering pada mereka yang berusia 35 sampai 45 tahun. Pada anak-
anak, sekitar 1,7% dari anak usia 7 tahun dan 3,9% dari anak usia antara 7 sampai 15 tahun menderita
migrain, dengan kondisi yang sedikit lebih umum ditemukan pada anak laki-laki sebelum pubertas.
Selama masa remaja migrain menjadi lebih umum diderita wanita dan ini bertahan seumur hidup, dua
kali lebih umum pada wanita lansia dibandingkan pria.

Hershey, AD (2010 Feb). "Current approaches to
the diagnosis and management of pediatric migraine.". Lancet neurology 9 (2): 190204. Nappi, RE;
Sances, G; Detaddei, S; Ornati, A; Chiovato, L; Polatti, F (2009 Jun). "Hormonal management of
migraine at menopause.". Menopause international 15 (2): 826. Pada wanita migrain tanpa aura
adalah lebih umum daripada migrain dengan aura, bagaimanapun pada pria kedua tipe terjadi dengan
frekuensi serupa.

Di Indonesia belum ada data secara kongkret. Pada wanita migren lebih banyak ditemukan dibanding
pria dengan skala 2:1. Wanita hamil tidak luput dari serangan migren, pada umumnya serangan muncul
pada kehamilan trimester Sadeli H. A. 2006. Penatalaksanaan Terkini Nyeri Kepala Migrain. Dalam
Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Nasional II Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia.
Airlangga University Press. Surabaya.
Klasifikasi
Klasifikasi migren menurut International Headache Society (IHS):
1. Migrain tanpa aura (common migraine)
Nyeri kepala selama 4-72 jam tanpa terapi. Sekurang-kurangnya 10 kali serangan. Pada anak-
anak kurang dari 15 tahun, nyeri kepala dapat berlangsung 2-48 jam.
a. Nyeri kepala minimal mempunyai dua karakteristik berikut ini:
o Lokasi unilateral
o Kuafitas berdenyut
o Intensitas sedang sampai berat yang menghambat aktivitas sehari-hari.
o Diperberat dengan naik tangga atau aktivitas fisik rutin.
b. Selama nyeri kepala, minimal satu dari gejala berikut muncul:
Mual dan atau muntah
Fotofobia dan fonofobia
c. Minimal terdapat satu dari berikut:
Riwayat dan pemeriksaan fisik tidak mengarah pada kelainan lain.
Riwayat dan pemeriksaan fisik mengarah pada kelainan lain, tapi telah disingkirkan
dengan pemeriksaan penunjang yang memadai (mis: MRI atau CT Scan kepala)
2. Migrain dengan aura (classic migraine)
Terdiri dari empat fase yaitu: fase prodromal, fase aura, fase nyeri kepala dan fase postdromal.
Terdapat minimal 3 dari 4 karakteristik sebagai berikut :
a. Satu gejala aura atau lebih mengindikasikan disfungsi CNS fokal (mis: vertigo, tinitus,
penurunan pendengaran, ataksia, gejala visual pada hemifield kedua mata, disartria,
diplopia, parestesia, paresis, penurunan kesadaran)
b. Gejala aura timbul bertahap selama lebih dari 4 menit atau dua atau lebih gejala aura
terjadi bersama-sama
c. Tidak ada gejala aura yang berlangsung lebih dari 60 menit; bila lebih dari satu gejala
aura terjadi, durasinya lebih lama
d. Nyeri kepala mengikuti gejala aura dengan interval bebas nyeri kurang dari 60 menit,
tetapi kadang-kadang dapat terjadi sebelum aura.
Sekurang-kurangnya terdapat satu dari yang tersebut dibawah ini :
a. Riwayat dan pemeriksaan fisik tidak mengarah pada kelainan lain.
b. Riwayat dan pemeriksaan fisik mengarah pada kelainan lain, tapi telah disingkirkan dengan
pemeriksaan penunjang yang memadai (mis: MRI atau CT Scan kepala)
3. Migraine with prolonged aura
Memenuhi kriteria migren dengan aura tetapi aura terjadi selama lebih dari 60 menit dan
kurang dari 7 hari.
4. Basilar migraine (menggantikan basilar artery migraine)
Memenuhi kriteria migren dengan aura dengan dua atau lebih gejala aura sebagai berikut:
vertigo, tinnitus, penurunan pendengaran, ataksia, gejala visual pada hemifield kedua mata,
disartria, diplopia, parestesia bilateral, paresis bilateral dan penurunan derajat kesadaran.
5. Migraine aura without headache (menggantikan migraine equivalent atau achepalic migraine)
Memenuhi kriteria migren dengan aura tetepi tanpa disertai nyeri kepala
6. Benign paroxysmal vertigo of childhood
Episode disekuilibrium, cemas, seringkali nystagmus atau muntah yang timbul secara sporadis
dalam waktu singkat.
- Pemeriksaan neurologis normal.
- Pemeriksaan EEG normal
7. Migrainous infraction (menggantikan complicated migraine)
Telah memenuhi kriteria migren dengan aura. Serangan yang terjadi sama persis dengan
serangan yang sebelumnya, akan tetapi defisit neurologis tidak sembuh sempurna dalam 7 hari
dan atau pada pemeriksaan neuroimaging didapatkan infark iskemik di daerah yang sesuai-
Penyebab infark yang lain disingkirkan dengan pemeriksaan yang memadai.
8. Migren oftalmoplegik
Migren yang dicirikan oleh serangan berulang-ulang yang berhubungan dengan paresis
- Tidak ada kelainan organik.
- Paresis pada saraf otak ke III, IV, VI
9. Migren hemiplegic familial
Migren dengan aura termasuk hemiparesis dengan criteria klinik yang sama seperti migren aura
dan sekurang-kurangnya seorang keluarga terdekat memiliki riwayat migren yang sama.
10. Migren retinal
Terjadi berulang kali dalam bentuk buta tidak lebih dari 1 jam. Gangguan okuler dan vaskuler
tidak dijumpai.
11. Migren yang berhubungan dengan intracranial
Ciri-ciri:
- Gangguan intrakranial berhubungan dengan awitan secara temporal.
- Aura dan lokasi nyeri kepala berhubungan erat dengan jenis lesi intrakranial.
Aura ialah gejala fokal neurologi yang komplek dan dapat timbul sebelum, pada saat atau
setelah serangan nyeri kepala

Penyebab
1. Teori Serotonin
Meskipun kebanyakan sakit kepala belum sepenuhnya dimengerti, beberapa peneliti
menganggap migraine dapat disebabkan oleh perubahan fungsional pada saraf sistem saraf
trigeminal, suatu jalur nyeri utama pada sistem saraf, dan oleh ketidakseimbangan
neurotransmitter di otak termasuk serotonin yang mengatur rangsangan nyeri melalui jalur ini.
Selama terjadinya serangan, terjadi penurunan tingkat serotonin. Para peneliti percaya bahwa
ini menyebabkan saraf trigeminal melepaskan suatu senyawa yang disebut neuropeptida, yang
akan berjalan menuju selubung otak luar. Substansi ini selanjutnya menyebabkan dilatasi dan
inflamasi pembuluh darah, sehingga menyebabkan migraine headache. Migraine Headache,
Available at : www.mayoclinic/disease_& _condition/topic/migraine_headache.htm
Access at 4
th
April 2014
2. Teori Vaskular
Selama bertahun-tahun nyeri kepala saat serangan migraine headache, dianggap suatu
hiperemia reaktif, sebagai respon dari vasokonstriksi yang di perantarai oleh iskemik selama
terjadinya aura. Hal ini menjelaskan sakit kepala yang berdenyut, lokasi yang berbeda-beda, dan
berkurangnya nyeri dengan penggunaan ergot, namun demikian teori ini tidak mampu
menjelaskan tentang keberhasilan obat-obatan yang digunakan untuk mengobati migraine yang
tidak berefek ke pembuluh darah, dan fakta bahwa tidak semua pasien memiliki aura. Migraine
Headache, Available at : www.emedicine/topic226.htm Access at 4
th
April 2014
3. Depresi Penyebaran Kortikal
Penyebaran dari hipoperfusi berkembang dengan kecepatan yang sama dengan depresi
penyebaran kortikal dan aura migraine. Ini menunjukkan tidak hanya depresi penyebaran
kortikal dengan gangguan yang menyebabkan manifestasi klinis dari aura migraine namun juga
bahwa penyebaran ini tidak menunjukkan gejala (migraine tanpa aura). Mungkin terdapat
ambang batas tertentu yang diperlukan untuk memproduksi gejala pada pasien dengan aura
namun tidak terdapat pada mereka yang tidak memiliki aura. Depresi penyebaran kortikal
dengan atau tanpa terdapat gejala klinis (aura) mungkin adalah kunci pemicu terjadinya sakit
kepala ataupun migraine. Depresi penyebaran kortikal telah didalilkan merangsang secara
langsung pembuluh afferen dari trigeminovaskular dengan meningkatkan pelepasan senyawa
nosiseptif dari neokorteks ke ruang interstitial yang menyebabkan pelepasan secara langsung
rangsangan nosiseptif. Migraine Headache, Available at : www.emedicine/topic226.htm
Access at 4
th
April 2014 (ini sama kyk yg di atas ya)
4. Pusat Migraine
Suatu pusat migraine pada batang otak telah diajukan berdasarkan temuan pada PET dari
meningkatkan persisten rCBF dari batang otak (periaquaduktus grisea, formasi retikular otak
tengah, lokus serulous) bahkan setelah sumatriptan memproduksi perbaikan pada sakit kepala
dan gejala-gejala yang terkait pada sembilan pasien yang telah mengalami serangan spontan
dari migraine tanpa aura. Peningkatan rCBF ini tidak ditemukan di luar serangan, menyatakan
bahwa pengaktivasiannya tidak disebabkan oleh nyeri atau peningkatan aktivitas sistem anti
nosiseptif endogen. Sumatriptan tersebut membalikkan peningkatan rCBF pada korteks serebri
namun tidak pada pusat batang otak menunjukkan disfungsi pada regulasi yang terlibat dengan
pengaturan anti nosiseptif dan vaskular di pusat-pusat tersebut. Pemrosesan nyeri pada
thalamus diketahui dimulai dari serabut-serabut serotogenik asenden dari nukleus raphe
dorsalis dan dari nukleus aminergik pada fontin tegmentum sebagai lokus seroleus yang
akhirnya dapat merubah aliran darah otak dan permeabilitas sawar darah otak. Mungkin ketika
kontrol-kontrol modulasi ini mengalami disfungsi, terjadilah proses migraine. Migraine
Headache, Available at : www.emedicine/topic226.htm Access at 4
th
April 2014(ini sama
kyk yg di atas ya)


Etiologi dan factor pencetus
Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti faktor penyebab migren, di duga sebagai gangguan
neurobiologis, perubahan sensitivitas sistim saraf dan avikasi sistem trigeminal-vaskular,
sehingga migren termasuk dalam nyeri kepala primer. Diketahui ada beberapa faktor pencetus
timbulnya serangan migren yaitu:
1. Menstruasi biasa pada hari pertama menstruasi atau sebelumnya/ perubahan hormonal.
Beberapa wanita yang menderita migren merasakan frekuensi serangan akan meningkat
saat masa menstruasi. Bahkan ada diantaranya yang hanya merasakan serangan migren
pada saat menstruasi. Istilah menstrual migraine sering digunakan untuk menyebut
migren yang terjadi pada wanita saat dua hari sebelum menstruasi dan sehari setelahnya.
Penurunan kadar estrogen dalam darah menjadi biang keladi terjadinya migren.
2. Kafein terkandung dalam banyak produk makanan seperti minuman ringan, teh, cokelat,
dan kopi. Kafein dalam jumlah sedikit akan meningkatkan kewaspadaan dan tenaga,
namun bila diminum dalam dosis yang tinggi akan menyebabkan gangguan tidur, lekas
marah, cemas dan sakit kepala
3. Puasa dapat mencetuskan terjadinya migren oleh karena saat puasa terjadi pelepasan
hormon yang berhubungan dengan stress dan penurunan kadar gula darah. Hal ini
menyebabkan penderita migren tidak dianjurkan untuk berpuasa dalam jangka waktu
yang lama.
4. Makanan misalnya akohol, coklat, susu, keju dan buah-buahan. Cokelat dilaporkan
sebagai salah satu penyebab terjadinya migren, namun hal ini dibantah oleh beberapa
studi lainnya yang mengatakan tidak ada hubungan antara cokelat dan sakit kepala
migren. Anggur merah dipercaya sebagai pencetus terjadinya migren, namun belum ada
cukup bukti yang mengatakan bahwa anggur putih juga bisa menyebabkan migren.
Tiramin (bahan kimia yang terdapat dalam keju, anggur, bir, sosis, dan acar) dapat
mencetuskan terjadinya migren, tetapi tidak terdapat bukti jika mengkonsumsi tiramin
dalam jumlah kecil akan menurunkan frekuensi serangan migren. Penyedap masakan atau
MSG dilaporkan dapat menyebabkan sakit kepala, kemerahan pada wajah, berkeringat
dan berdebar debar jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar pada saat perut kosong.
Fenomena ini biasa disebut Chinese restaurant syndrome. Aspartam atau pemanis buatan
yang banyak dijumpai pada minuman diet dan makanan ringan, dapat menjadi pencetus
migren bila dimakan dalam jumlah besar dan jangka waktu yang lama.
5. Cahaya yang terlalu terang dan intensitas perangsangan visual yang terlalu tinggi akan
menyebabkan sakit kepala pada manusia normal. Mekanisme ini juga berlaku untuk
penderita migren yang memiliki kepekaan cahaya yang lebih tinggi daripada manusia
normal. Sinar matahari, televisi dan lampu disko dilaporkan sebagai sumber cahaya yang
menjadi faktor pencetus migren.6. Psikis baik pada peristiwa duka ataupun pada
peristiwa bahagia (stress)
6. Banyak tidur atau kurang tidur. Gangguan mekanisme tidur seperti tidur terlalu lama,
kurang tidur, sering terjaga tengah malam, sangat erat hubungannya dengan migren dan
sakit kepala tegang, sehingga perbaikan dari mekanisme tidur ini akan sangat membantu
untuk mengurangi frekuensi timbulnya migren. Tidur yang baik juga dilaporkan dapat
memperpendek durasi serangan migren.
7. Factor herediter
8. Factor kepribadian

Fase Migraine
Secara umum terdapat 4 fase gejala, meskipun tak semua penderita migren mengalami
keempat fase ini.
1. Fase prodromal
Fase ini terdiri dari kumpulan gejala samar / tidak jelas, yang dapat mendahului serangan
migren. Fase ini dapat berlangsung selama beberapa jam, bahkan dapat 1-2 hari sebelum
serangan. Gejalanya antara lain:
a. Psikologis : depresi, hiperaktivitas, euforia (rasa gembira yang berlebihan),
banyak bicara (talkativeness), sensitif / iritabel, gelisah, rasa mengantuk atau
malas.
b. Neurologis : sensitif terhadap cahaya dan/atau bunyi (fotofobia & fonofobia), sulit
berkonsentrasi, menguap berlebihan, sensitif terhadap bau (hiperosmia)
c. Umum : kaku leher, mual, diare atau konstipasi, mengidam atau nafsu makan
meningkat, merasa dingin, haus, merasa lamban, sering buang air kecil.
2. Aura
Umumnya gejala aura dirasakan mendahului serangan migren. Secara visual, aura
dinyatakan dalam bentuk positif atau negatif. Penderita migren dapat mengalami kedua
jenis aura secara bersamaan.Aura positif tampak seperti cahaya berkilauan, seperti suatu
bentuk berpendar yang menutupi tepi lapangan pengelihatan. Fenomena ini disebut juga
sebagai scintillating scotoma (scotoma = defek lapang pandang). Skotoma ini dapat
membesar dan akhirnya menutupi seluruh lapang pandang. Aura positif dapat pula
berbentuk seperti garis-garis zig-zag, atau bintang-bintang.
Aura negatif tampak seperti lubang gelap/hitam atau bintik-bintik hitam yang menutupi
lapangan pengelihatannya. Dapat pula berbentuk seperti tunnel vision; dimana lapang
pandang daerah kedua sisi menjadi gelap atau tertutup, sehingga lapang pandang terfokus
hanya pada bagian tengah (seolah-seolah melihat melalui lorong).
Beberapa gejala neurologis dapat muncul bersamaan dengan timbulnya aura. Gejala-
gejala ini umumnya: gangguan bicara; kesemutan; rasa baal; rasa lemah pada lengan dan
tungkai bawah; gangguan persepsi penglihatan seperti distorsi terhadap ruang; dan
kebingungan (confusion).
3. Fase serangan
Tanpa pengobatan, serangan migren umumnya berlangsung antara 4-72 jam. Migren
yang disertai aura disebut sebagai migren klasik. Sedangkan migren tanpa disertai aura
merupakan migren umum (common migraine). Gejala-gejala yang umum adalah:
a. Nyeri kepala satu sisi yang terasa seperti berdenyut-denyut atau ditusuk-tusuk. Nyeri
kadang-kadang dapat menyebar sampai terasa di seluruh bagian kepala
b. Nyeri kepala bertambah berat bila melakukan aktivitas
c. Mual, kadang disertai muntah
d. Gejala gangguan pengelihatan dapat terjadi
e. Wajah dapat terasa seperti baal / kebal, atau semutan
f. Sangat sensitif terhadap cahaya dan bunyi (fotofobia dan fonofobia)
g. Wajah umumnya terlihat pucat, dan badan terasa dingin
h. Terdapat paling tidak 1 gejala aura (pada migren klasik), yang berkembang secara
bertahap selama lebih dari 4 menit. Nyeri kepala dapat terjadi sebelum gejala aura
atau pada saat yang bersamaan.
4. Fase postdromal
Setelah serangan migren, umumnya terjadi masa prodromal, dimana pasien dapat merasa
kelelahan (exhausted) dan perasaan seperti berkabut.


PENATALAKSANAAN
Penatalaksaan migrain secara garis besar dibagi atas mengurangi faktor resiko, terapi
farmaka dengan memakai obat dan terapi nonfarmaka. Terapi farmaka dibagi atas dua
kelompok yaitu terapi abortif (terapi akut) dan terapi preventif (terapi pencegahan), walau
pada terapi nonfarmaka juga dapat bertujuan untuk abortif dan pencegahan. Terapi abortif
merupakan pengobatan pada saat serangan akut yang bertujuan untuk meredakan
serangan nyeri dan disabilitas pada saat itu dan menghentikan progresivitas. Pada terapi
preventif atau profilaksis migrain terutama bertujuan untuk mengurangi frekwensi, durasi
dan beratnya nyeri kepala.
1. Mengurangi faktor risiko/pencetus
- Stres dan kecemasan
- Kurang atau telalu banyak tidur, perubahan jadwal seperti jetlag.
- Hipoglikemia (terlambat makan)
- Kelelahan
- Perubahan hormonal seperti haid, obat hormonal. Kadar estrogen yang
berfluktuasi dapat dilakukan dengan menghentikan pil KB atau obat-obat
pengganti estrogen
- Diet, menghindari makanan tertentu cukup membantu pada 25-30% penderita
migrain. Secara umum, makanan yang harus dihindari adalah: MSG, beberapa
minuman beralkohol (anggur merah, prot, sherry, scotch, bourbon), keju (Colby,
Roquefort, Brie, Gruyere, cheddar, bleu, mozzarella, Parmesan, Boursault,
Romano), coklat, dan aspartame. Diet dilakukan selama 1 bulan. Apabila setelah
1 bulan gejala tidak membaik, berarti modifikasi diet tidak bermanfaat. Apabila
makanan menjadi pencetus gejala, maka jenis makanan tersebut harus
diidentifikasi dengan cara menambahkan satu jenis makanan sampai gejala
muncul. Sebaiknya dibuat diari makanan selama mengidentifikasi makanan apa
yang menjadi pencetus migrain, karena beberapa jenis makanan dapat langsung
menimbulkan gejala (anggur merah, MSG), sementara makanan lain baru
menimbulkan gejala setelah 1 hari (coklat, keju)
2. Terapi farmaka migraine
Terapi Abortif
Pada terapi abortif dapat diberikan analgesia nonspesifik yaitu analgesia yang
dapat diberikan pada kasus nyeri lain selain nyeri kepala, dan atau analgesia
spesifik yang hanya bekerja sebagai analgesia nyeri kepala. Secara umum dapat
dikatakan bahwa terapi memakai analgesia nonspesifik masih dapat menolong
pada migrain dengan intensitas nyeri ringan sampai sedang. Pada kasus sedang
sampai berat atau berespons buruk dengan OAINS pemberian analgesia spesifik
lebih bermanfaat.
Domperidon atau metoklopramid sebagai antiemetik dapat diberikan saat
serangan nyeri kepala atau bahkan lebih awal yaitu pada saat fase prodromal. Fase
prodromal migrain dihubungkan dengan gangguan pada hipotalamus melalui
neurotransmiter dopamin dan serotonin. Pemberian antiemetik akan membantu
penyerapan lambung di samping meredakan gejala penyerta seperti mual dan
muntah. Kemungkinan timbulnya efek samping antiemetik seperti sedasi dan
parkinsonism pada orang tua patut diperhatikan.
Analgesik nonspesifik
Yang termasuk analgesia nonspesifik adalah asetaminofen (parasetamol), aspirin
dan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS). Pada umumnya pemberian analgesia
opioid dihindari. Beberapa obat OAINS yang telah diteliti diberikan pada migrain
antara lain adalah:
- Diklofenak.
- Ketorolak.
- Ketoprofen.
- Indometasin.
- Ibuprofen.
- Naproksen.
- Golongan fenamat.
Ketorolak IM membantu pasien dengan mual atau muntah yang berat. Kombinasi
antara asetaminofen dengan aspirin atau OAINS serta penambahan kafein
dikatakan dapat menambah efek analgetik, dan dengan dosis masing-masing obat
yang lebih rendah diharapkan akan mengurangi efek samping obat. Mekanisme
kerja OAINS pada umumnya terutama menghambat enzim siklooksigenase
sehingga sintesa prostaglandin dihambat.
Pasien diminta meminum obatnya begitu serangan migrain terasa. Dosis obat
harus adekuat baik secara obat tunggal atau kombinasi. Apabila satu OAINS tidak
efektif dapat dicoba OAINS yang lain. Efek samping pemberian OAINS perlu
dipahami untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pada wanita hamil
hindari pemberian OAINS setelah minggu ke 32 kehamilan. Pada migrain anak
dapat diberikan asetaminofen atau ibuprofen.
Analgesik spesifik
Yang termasuk analgesik spesifik yang sering digunakan adalah ergotamin,
dihidroergotamin (DHE) dan golongan triptan yang merupakan agonis selektif
reseptor serotonin pada 5-HT1, terutama mengaktivasi reseptor 5HT I B / 1 D. Di
samping itu ergotamin dan DHE juga berikatan dengan reseptor 5-HT2, 1dan
2- nonadrenergik dan dopamin.
Analgesik spesifik dapat diberikan pada migrain dengan nyeri sedang sampai
berat. Pertimbangan harga kadang menjadi penghambat dipakainya analgesia
spesifik ini, walaupun golongan ini merupakan pilihan sebagai antimigren. Ergot
lebih murah dibanding golongan triptan tetapi efek sampingnya lebih besar.
Penyebab lain yang menjadi penghambat adalah preparat ini di Indonesia hanya
tersedia dalam bentuk oral dan dari golongan triptan hanya ada sumatriptan.
Ergotamin dan DHE diberikan pada migrain sedang sampai berat apabila
analgesia nonspesifik kurang terlihat hasilnya atau memberi efek samping. Dosis
dan cara pemberian ergotamin dan DHE harus diperhatikan. Kombinasi ergotamin
dengan kafein bertujuan untuk menambah absorpsi ergotamin selain sebagai
analgesik pula. Hindari pada kehamilan, hipertensi tidak terkendali, penyakit
serebrovaskuler, kardiovaskuler dan penyakit pembuluh perifer (hati-hati pada
pasien > 40 tahun) serta gagal ginjal, gagal hati dan sepsis. Efek samping yang
mungkin timbul antara lain mual, dizziness, parestesia, kramp abdominal.
Ergotamin biasanya diberikan pada episode serangan tunggal. Dosis dibatasi tidak
melebihi 10 mg/minggu.
Sumatriptan dapat meredakan nyeri, mual, fotofobia dan fonofobia sehingga
memperbaiki disabilitas pasien. Diberikan pada migrain berat atau pasien yang
tidak memberikan respon dengan analgesia nonspesifik dengan atau tanpa
kombinasi. Dosis awal sumatriptan adalah 50 mg dengan dosis maksimal dalam
24 jam 200 mg. Kontra indikasi antara lain adalah pasien, yang berisiko penyakit
jantung koroner, penyakit serebrovaskuler, hipertensi yang tidak terkontrol,
migrain tipe basiler. Efek samping berupa dizziness, heaviness, mengantuk, nyeri
dada non kardial, disforia.
Golongan triptan generasi kedua (zolmitriptan, eletriptan, naratriptan, rizatriptan)
yang tidak ada di Indonesia sebenarnya mempunyai respons yang lebih baik,
rekurensi nyeri kepala yang lebih rendah dan lebih dapat ditoleransi.

Terapi profilaksis
Terapi preventif harus selalu diminum tanpa melihat adanya serangan atau tidak.
Pengobatan dapat diberikan dalam jangka waktu episodik, jangka pendek
(subakut) atau jangka panjang (kronis). Terapi episodik diberikan apabila faktor
pencetus nyeri kepala dikenal dengan baik sehingga dapat diberikan analgesia
sebelumnya. Terapi preventif jangka pendek berguna apabila pasien akan terkena
faktor risiko yang telah dikenal dalam jangka waktu tertentu seperti pada migrain
menstrual. Terapi preventif kronis akan diberikan dalam beberapa bulan bahkan
tahun tergantung respons pasien. Biasanya diambil patokan minimal dua sampai
tiga bulan.
Indikasi:
Penyakit kambuh beberapa kali dalam sebulan
Penyakit berlangsung terus menerus selama beberapa minggu atau bulan
Penyakit sangat mengganggu kuafitas/gaya hidup penderita.
Adanya kontra indikasi atau efek samping yang tidak dapat ditoleransi terhadap
terapi abortif.
Kecenderungan pemakaian obat yang berlebih pada terapi abortif.
Terapi profilaksis lini pertama: calcium channel blocker (verapamil), antidepresan
trisiklik (nortriptyline), dan beta blocker (propanolol)
Terapi profilaksis lini kedua: methysergide, asam valproat, asetazolamid.
Mekanisme kerja obat-obat tersebut tidak seluruhnya dimengerti. Diduga obat
tersebut menghambat pelepasan neuropeptida ke dalam pembuluh darah dural
melalui efek antagonis pada reseptor 5-HT2. Satu jenis obat profilaksis tidak lebih
efektif daripada obat yang lain. oleh karena itu, bila tidak ada kontraindikasi,
verapamil lebih sering digunakan pada awal terapi karena efek sampingnya paling
minimal dibandingkan yang lain.
Apabila dizziness tidak dapat dikontrol dengan satu obat, gunakan jenis obat yang
lain. Bila dizziness sudah terkontrol, obat diberikan terus menerus selama
minimal 1 tahun (kecuali methysergide yang memerlukan interval bebas obat
selama 3-4 minggu pada bulan ke-6 terapi). Obat dapat diberikan ulang pada
tahun berikutnya apabila dizziness muncul lagi setelah terapi dihentikan.

Terapi nonfarmaka
Walaupun terapi farmaka merupakan terapi utama migren, terapi nonfarmaka
tidak bisa dilupakan. Pada kehamilan terapi nonfarmaka bahkan diutamakan.
Terapi nonfarmaka dimulai dengan edukasi dan menenangkan pasien
(reassurance). Pada saat serangan pasien dianjurkan untuk menghindari stimulasi
sensoris berlebihan. Bila memungkinkan beristirahat di tempat gelap dan tenang
dengan dikompres dingin. Menghindari faktor pencetus mungkin merupakan
terapi pencegahan yang murah.
Intervensi terapi perilaku (behaviour) sangat berperan dalam mengatasi nyeri
kepala yang meliputi terapi cognitive-behaviour, terapi relaksasi serta terapi
biofeedback dengan memakai alat elektromiografi atau memakai suhu kulit atau
pulsasi arteri temporalis. Olahraga terarah yang teratur dan meningkat secara
bertahap umumnya sangat membantu. Beberapa penulis mengusulkan terapi
alternatif lain seperti meditasi, hipnosis, akupunktur dan fitofarmaka. Pada
migrain menstrual dapat dianjurkan mengurangi garam dan retensi cairan.

Komplikasi
Terkadang usaha untuk mengontrol nyeri menyebabkan masalah, obat-obat NSAIDs seperti
ibuprofen dan aspirin dapat menyebabkan efek samping seperti nyeri abdominal, perdarahan dan
ulkus, terutama jika digunakan dalam dosis besar dan jangka waktu yang lama.
Sebagai tambahan jika menggunakan obat-obatan abortif lebih dari dua atau tiga kali seminggu
dengan jumlah yang besar, dapat menyebabkan komplikasi serius yang dinamakan rebound
headache. Meskipun obat-obat tersebut dapat memberikan kesembuhan sementara, obat-obat
tersebut tidak hanya menghilangkan nyeri, namun sebetulnya mulai menyebabkan sakit kepala.
Pasien kemudian menggunakan obat dengan dosis yang lebih tinggi sehingga akhirnya
terperangkap dalam lingkaran setan. Migraine Headache, Available at : www.mayoclinic/disease_&
_condition/topic/migraine_headache.htm (sama kyk yg diatas tolong di cek bener2 ya)
Stroke iskemik dapat terjadi sebagai komplikasi yang jarang namun sangat serius dari migraine.
Hal ini dipengaruhi oleh faktor resiko seperti aura, jenis kelamin wanita, merokok, penggunaan
hormon estrogen. Migraine Headache, Available at : www.emedicine/topic226.htm (sama kyk yg
diatas tolong di cek bener2 ya)

Pencegahan
Baik pada pasien yang menggunakan obat-obat preventif atau tidak, perubahan pola hidup dapat
mengurangi jumlah dan tingkat keparahan migraine. Satu atau lebih hal-hal sebagai berikut dapat
dilakukan :
Menghindari pemicu, jika makanan tertentu menyebabkan sakit kepala, hindarilah dan
makan makanan yang lain. Jika ada aroma tertentu yang dapat memicu maka harus
dihindari. Secara umum pola tidur yang reguler dan pola makan yang reguler dapat cukup
membantu.
Berolahraga secara teratur, olahraga aerobik secara teratur mengurangi tekanan dan dapat
mencegah migraine. Olahraga yang dapat dipilih antara lain, berjalan, berenang dan
bersepeda. Lakukanlah pemanasan sebelum berolahraga, karena olahraga yang mendadak
dapat menyebabkan sakit kepala.
Mengurangi efek estrogen, pada wanita dengan migraine dimana estrogen menjadi
pemicunya atau menyebabkan gejala menjadi lebih parah, atau orang dengan riwayat
keluarga memiliki tekanan darah tinggi atau stroke sebaiknya mengurangi obat-obatan
yang mengandung estrogen.
Berhenti merokok, merokok dapat memicu sakit kepala atau membuat sakit kepala
menjadi lebih parah. Migraine Headache, Available at : www.mayoclinic/disease_&
_condition/topic/migraine_headache.htm Access at 4
th
April 2014 (ini sama kyk yg di atas ya
tolong cek yg bnr ya)

Anda mungkin juga menyukai