Anda di halaman 1dari 17

OSMOREGULASI

Oleh :
Nama : Ria Cahya Lani
NIM : B1J012069
Rombongan : II
Kelompok : 2
Asisten : Evelin Agusti Tjasmana






LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II



KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehidupan suatu organisme sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan baik faktor
fisika, faktor kimia dan biologi. Salah satu faktor yang mendukung kehidupan organisme di
perairan adalah kadar salinitas dalam perairan. Tinggi rendahnya salinitas di suatu perairan
baik itu air tawar, payau maupun perairan asin akan mempengaruhi keberadaan organisme
yang ada di perairan tersebut, hal ini sangat terkait erat dengan tekanan osmotik dari ikan
untuk melangsungkan kehidupannya. Ikan akan mengalami stress dan bahkan akan
mengalami kematian akibat osmoregulasi yang tidak seimbang. Perubahan salinitas juga
dapat mempengaruhi permeabilitas dinding sel ketika salinitas mengalami perubahan. (Ville
et al., 1988).
Osmoregulasi adalah kemampuan organisme untuk mempertahankan
keseimbangan kadar dalam tubuh, didalam zat yang kadar garamnya berbeda. Secara
sederhana hewan dapat diumpamakan sabagai suatu larutan yang terdapat di dalam suatu
kantung membran atau kantung permukaan tubuh. Hewan harus menjaga volume tubuh
dan kosentrasi larutan tubuhnya dalam rentangan yang agak sempit, yang menjadi masalah
adalah konsentrasi yang tepat dari cairan tubuh hewan selalu berbeda dengan yang ada
dilingkungannya. Perbedaan kesentrasi tersebut cenderung mengganggu keadaan manpat
dari kondisi internal (Ville et al., 1988).
Hanya sedikit hewan yang membiarkan kosentrasi cairan tubuhnya berubah-ubah
sesuai degan lingkungannya dalam kedaan demikian hewan dikatakan melakukan
osmokonformitas. Kebanyakan hewan menjaga agar kosentrasi cairan tubuhnya tetap lebih
tinggi dari mediumnya (regulasi hiporosmotis) atau lebih rendah dari mediumnya (regulasi
hipoosmotis), untuk itu hewan harus berusaha mengurangi gangguan dengan menurunkan
permeabilitas membran atau kulitnya, gardien (landaian) kosentrasi antara cairan tubuh
dan lingkungannya. Keadaan kondisi internal yang mantap dapat dipelihara hanya bila
organisme mampu mengimbangi kebocoran dengan arus balik melawan gradient kosentrasi
yang memerlukan energy (Ville at al., 1988).
Hewan dengan keterbatasan toleransi terhadap bermacam-macam lingkungan
disebut stenohalin, sedangkan hewan dengan kemampuan toleransi yang besar terhadap
berbagai macam kedaan lingkungan disebut eurihalin. Selain stenohalin dan eurihalin,
hewan juga dapat dibagi menjadi kelompok berdasarkan pola perubahan yang terjadi pada
internal tubuhnya terhadap konsentrasi osmosis cairan tubuh sebagai respon terhadap
variasi eksternalnya (Gordon, 1982).

1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mempelajari osmoregulasi pada hewan eurihalin
(hewan yang mampu hidup dalam perairan dengan salinitas yang cukup luas), ikan nila
(Oreochromis sp.) dan hewan stenohalin, ikan nilem (Osteochilus hasselti) dan kepiting
(Scylla serrata).

II. MATERI DAN METODE
2.1 Materi
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih ikan nilem (Osteochilus
hasselti) dan ikan nila (Oreochromis niloticus) masing-masing 10 ekor, kepiting (Scylla
serrata), air laut dan larutan EDTA.
Alat-alat yang digunakan meliputi wadah (baskom plastik), pipet, jam, spuit,
osmometer, respirometer, lap, bak preparat, tissue, kertas cakram, mikropipet beserta tip.

2.2 Cara Kerja
2.2.1. Percobaan 1. Pengamatan toleransi salinitas
1. Dibuat medium air dengan salinitas 0 ppt, 10 ppt, 20 ppt dan 30 ppt.
2. Medium dibagi dalam 3 wadah percobaan, setiap wadah diberi label sesuai dengan
salinitasnya.
3. Masing-masing 10 benih ikan nilem dimasukkan dalam wadah.
4. Dilakukan pengamatan dan catat waktu kematian tiap ekor ikan pada masing-
masing wadah percobaan setelah 10, 20, 30 dan 40 menit.
5. Jika masih ada yang hidup, lakukan pula pengamatan dan catat waktu kematian tiap
ekor ikan pada masing-masing wadah percobaan setelah 24, 48, 72 dan 96 jam.
6. Dicatat hasil pengamatan pada tabel dan dihitung SR nya dengan rumus
SR (%) = larva ikan hidup
larva ikan awal
2.2.2. Percobaan 2. Pengukuran osmolalitas plasma dan medium
1. Ikan nilem yang telah diaklimasi pada salinitas medium selama 24 jam diambil dan
dipegang dengan lap basah.
2. Spuit dibasahi dengan EDTA untuk mencegah koagulan.
3. Sampel darah diambil dengan spuit dari bagian jantung ikan.
4. Sampel darah dimasukan dalam tabung sentrifuge
5. Darah disentrifuge untuk memperoleh plasma darah.
6. Dilakukan pengukuran osmolalitas plasma dan medium dengan vapour pressure
osmometer.
7. Dihitung rasio antara osmolalitas plasma dengan osmolalitas medium (kapasitas
osmoregulasi).
x 100%
8. Dicatat semua data yang diperoleh.
2.2.3 Pengukuran Osmolalitas Hemolimfe pada Kepiting
1. Ambil sampel hemolimfe kepiting dari bagian ruas-ruas kaki yang paling dekat
dengan tubuh kepiting menggunakan spuit injeksi berukuran 1 ml.
2. Injeksi yang dilakukan untuk mengambil hemolimfe sebelumnya dilapisi larutan
EDTA.
3. Ukur osmolalitas hemolimfe dengan vapour pressure osmometer.
4. Hitung rasio antara osmolalitas plasma dan medium.
5. Catat semua data yang diperoleh.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Tabel 3.1.1. Hasil pengamatan sintasan ikan nila pada perlakuan direct transfer.
No. Salinitas (ppt)
Waktu Pengamatan (menit)
10 20 30 40
1. 0 90% 90% 90% 90%
2. 10 100% 100% 100% 100%
3. 20 100% 100% 90% 90%
4. 30 100% 10% 0% 0%

Tabel 3.1.2 Hasil pengamatan sintasan ikan nila pada perlakuan direct transfer.
No. Salinitas (ppt)
WaktuPengamatan (jam)
24 48 72 96
1. 0 90% 0% 0% 0%
2. 10 100% 100% 80% 60%
3. 20 0% 0% 0% 0%
4. 30 0% 0% 0% 0%











Tabel 3.1.3 Hasil pengamatan sintasan ikan nila pada perlakuan gradual transfer.
No. Salinitas (ppt)
Waktu Pengamatan (jam)
24 48 72 96
1. 0 100%
2. 10 100%
3. 20 60%
4. 30 40%

Tabel 3.1.4Hasil pengamatan sintasan ikan nilem pada perlakuan direct transfer.
No. Salinitas (ppt)
Waktu Pengamatan (menit)
10 20 30 40
1. 0 90% 90% 90% 90%
2. 10 100% 100% 100% 100%
3. 20 30% 30% 20% 100%
4. 30 0% 0% 0% 0%

Tabel 3.1.5 Hasil pengamatan sintasan ikan nilem pada perlakuan direct transfer.
No. Salinitas (ppt)
Waktu Pengamatan (jam)
24 48 72 96
1. 0 90% 30% 0% 0%
2. 10 100% 0% 0% 0%
3. 20 0% 0% 0% 0%
4. 30 0% 0% 0% 0%

Tabel 3.1.6 Hasil pengamatan sintasan ikan nilem pada perlakuan gradual transfer.
No. Salinitas (ppt)
Waktu Pengamatan (jam)
24 48 72 96
1. 0 100%
2. 10 0%
3. 20 0%
4. 30 0%

Tabel 3.1.7 Hasil pengamatan osmolalitas plasma dan medium ikan nila.
No. Salinitas (ppt)
Osmolalitas
Kapasitas
Osmoregulasi
Plasma
(mmol/kg)
Medium
(mmol/kg)
1. 0 507 165 3,07
2. 10 580 253 2,29
3. 20 624 370 1,68
4. 30 543 739 0,73

Tabel 3.1.8 Hasil pengamatan osmolalitas plasma dan medium kepiting.
No. Salinitas (ppt)
Osmolalitas
Kapasitas
Osmoregulasi
Plasma
(mmol/kg)
Medium
(mmol/kg)
1. 0 724 165 4,38
2. 10 968 253 3,8
3. 20 624 370 1,68
4. 30 1880 739 2,54


Grafik 1. Hubungan antara Salinitas dengan Kapasitas Osmoregulasi
Perhitungan:
I. Kapasitas osmoregulasi kelompok 2 :

Kapasitas Osmoregulasi = Osmolalitas plasma = 580 = 2,29 mmol/kg
Osmolalitas media 253


















0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5
0 10 20 30
K
a
p
a
s
i
t
a
s

o
s
m
o
r
e
g
u
l
a
s
i

Salinitas
kepiting
3.2 Pembahasan
Data pengamatan toleransi salinitas pada ikan nila dan ikan nilem menunjukan hasil
ikan nilem lebih rentan terhadap perubahan salinitas yang dalam hal ini semakin meningkat
dibandingkan dengan ikan nila. Data ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
ikan nila mempunyai tingkat osmolalitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan
lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri sampai salinitas yang cukup tinggi, sedangkan
ikan nilem tidak mampu hidup pada salinitas yang cukup tinggi. Ikan nila jika dilihat dari
toleransinya terhadap perubahan kadar garam termasuk ke dalam ikan yang eurihalin. Ikan
eurihalin yaitu ikan yang toleransi terhadap perubahan salinitasnya luas. Kebalikan dari
eurihalin adalah kelompok hewan stenohalin. Hewan stenohalin adalah hewan yang
toleransi terhadap perubahan salinitasnya sempit, contohnya ikan Nilem (Ville et al., 1988).
Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi
kehidupan ikan sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal. Ikan mempunyai tekanan
osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu harus mencegah kelebihan
atau kekurangan air. Pengaturan tekanan osmotik dalam tubuh ini disebut dengan
osmoregulasi (Rusdi, 2006). Proses osmoregulasi yang terjadi adalah pengaturan
konsentrasi ion-ion bukan konsentrasi cairan tubuh, dimana proses ini juga membutuhkan
energi. Bila ikan air tawar dimasukkan dalam medium air laut, maka yang terjadi adalah
pemasukan air dalam tubuh ikan dari medium dan juga berusaha mengeluarkan sebagian
garam-garam dari dalam tubuhnya. Bila ikan tidak dapat melakukan proses ini, maka sel-sel
ikan akan pecah dan jika terjadi sebaliknya ikan akan kekurangan cairan atau biasa disebut
dengan dehidrasi (Guner, 2005).
Regulasi ion dan air pada ikan terjadi secara hipertonik, hipotonik, atau isotonik
tergantung pada perbedaan (lebih tinggi, lebih rendah atau sama) konsentrasi cairan tubuh
dengan konsentrasi media hidupnya. Perbedaan tersebut dapat dijadikan sebagai strategi
dalam menangani komposisi cairan ekstraseluler dalam tubuh ikan. Untuk ikan-ikan
potadorm yang bersifat hiperosmotik terhadap lingkungannya, air bergerak ke dalam tubuh
dan ion-ion keluar ke lingkungan dengan cara difusi. Keseimbangan cairan tubuhnya dapat
terjadi dengan cara meminum sedikit atau bahkan tidak minum sama sekali. Kelebihan air
dalam tubuh dapat dikurangi dengan membuangnya dalam bentuk urin. Untuk ikan-ikan
oseandrom yang bersifat hipoosmotik, air mengalir secara osmosis dari dalam tubuhnya
melalui ginjal, insang, dan kulit ke lingkungan, sedangkan ion-ion masuk ke tubuh secara
difusi. Sedangkan untuk ikan-ikan eurihalin, memiliki kemampuan menyeimbangkan
tekanan osmotik dengan cepat (Kaneko et al., 2002).
Mekanisme osmoregulasi dilakukan melalui aktivitas mempertahankan
pemantapan osmolaritas cairan ekstrasel tanpa harus isoosmotik terhadap salinitas media
dan menjaga kemantapan cairan intrasel agar tetap isoosmotik terhadap cairan
ekstraselulernya. Mekanisme pengaturan osmosis tingkat sel dikelompokkan menjadi
isoosmotik yaitu tekanan osmosis di dalam sama dengan di luar sel dan sel dalam keadaan
seimbang. Hiperosmotik yaitu tekanan osmosis di dalam sel lebih besar daripada di luar sel
lingkungan hipotonik. Air di luar sel cenderung masuk ke dalam sel sehingga sel akan
mengembang dan akhirnya pecah. Hipoosmotik yaitu tekanan osmosis di dalam sel lebih
kecil daripada di luar sel lingkungan hipertonik. Air di dalam sel cenderung bergerak ke luar
sel sehingga sel akan mengecil (Cahyono, 2004).
Hewan dengan keterbatasan toleransi terhadap bermacam-macam lingkungan
disebut stenohalin. Sedangkan hewan dengan kemampuan toleransi yang besar terhadap
berbagai macam kedaan lingkungan disebut eurihalin. Selain stenohalin dan eurihalin,
hewan juga dapat dibagi menjadi kelompok berdasarkan pola perubahan yang terjadi pada
internal tubuhnya terhadap konsentrasi osmosis cairan tubuh sebagai respon terhadap
variasi eksternalnya (Susilo dan Sri, 2007).
Hewan akuatik dapat dikelompokan sebagai organisme eurihalin dan stenohalin
berdasarkan kemampuan lulus hidupnya dalam lingkungan osmotik yang berbeda. Hewan
yang mampu hidup pada salinitas yang luas disebut dengan hewan euyhalin, contohya ikan
nila. Hewan yang mampu hidup pada salinitas yang sempit disebut dengan hewan
stenohalin, contohya ikan nila. Hewan eurihalin salinitasnya lebih tinggi dibandingkan
hewan stenohalin. Hewan eurihalin seperti ikan nila mengatur transport ion dan enzim
melalui sel mitokondria yang berada di insang yang berfungsi sebagai homeostasis internal
(Tseng et al., 2008). Menurut Karim (2007), salinitas akan berpengaruh pada pengaturan
ion-ion internal, yang secara langsung memerlukan energi untuk transpor aktif ion-ion guna
mempertahankan lingkungan internal.
Semua hewan air tawar dan hewan air laut adalah osmoregulator. Osmoregulator
merupakan hewan yang harus menyesuaikan osmolaritas internalnya, karena cairan tubuh
tidak isoosmotik dengan lingkungan luarnya. Seekor hewan osmoregulator harus
membuang kelebihan air jika hewan itu hidup dalam lingkungan hiperosmotik. Ikan Nilem
termasuk ikan air tawar dan tergolong osmoregulator yaitu golongan hewan yang dapat
mempertahankan kadar garam dalam tubuh dan tidak terpengaruh dengan kadar garam
lingkungannya. Ikan Nilem biasanya tahan terhadap suatu kisaran salinitas yang sempit atau
yang biasa disebut stenohalin (Johnson et al., 1984).
Hewan jika dilihat dari kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan salinitas
lingkungan eksternalnya dibagi menjadi dua yaitu osmoregulator dan osmoconformer.
Hewan yang dikatakan osmoconformer adalah hewan yang kadar garam lingkungan
internalnya menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan luar sekelilingnya. Contoh dari
hewan osmoconformer yaitu crustacea. Kategori yang kedua yaitu hewan osmoregulator
yaitu hewan yang kadar garam lingkungan internalnya cenderung tidak berubah, walaupun
kadar garam lingkungan eksternalnya berubah. Contoh dari hewan osmoregulator adalah
ikan Nilem (Ville et al., 1988).
Mekanisme menjaga konsentrasi tubuh pada ikan dapat dilihat melalui
osmoregulasi pada ikan bertulang sejati yang hidup di air laut dan air tawar. Seekor ikan
laut, seperti ikan cod, adalah hipoosmotik terhadap air laut disekitarnya dan dengan
demikian secara konstan kehilangan air melalui osmosis. Dalam keadaan salinitas konstan
kelas elasmobranchs dan ikan-ikan laut mungkin tidak perlu minum untuk menjaga
keseimbangan air. Hal ini menunjukkan, bahwa hilangnya cairan tidak dapat dihindari dari
ginjal dan ekstra-ginjal ke lingkungan laut yang hipertonik pada ikan hipo-osmoregulating
terkompensasi oleh konsumsi air laut dengan penyerapan air di saluran gastro-intestinal.
Ikan itu meminum banyak sekali air laut, insang pada permukaan tubuh umumnya
membuang natrium klorida (sel-sel khusus yang disebut sel klorida secara aktif mengangkut
Cl
-
keluar dan Na
+
mengikutinya secara pasif) dan ginjalnya mengeluarkan kelebihan ion-ion
kalsium (Ca
2+
), magnesium (Mg
2+
) dan sulfat (SO
4
2-
) sementara mengekskresikan hanya
sejumlah kecil air (Grosell, 2006).
Menurut Hurkat and Martur (1976) dua problem osmotik hewan air tawar adalah
masuknya air ke dalam tubuh searah gradien konsentrasi dan hilangnya garam tubuh ke
lingkungan. Cara menghindari kelebihan air pada hewan air tawar adalah dengan
menghasilkan urine encer, tetapi beberapa garam tetap hilang bersama urine seperti NaCl,
KCl dan CaCl
2
. Mekanisme untuk menggantikan garam yang hilang adalah dengan transport
aktif garam dari media ke darah. Transport aktif tersebut terjadi melalui kulit atau insang.
Agar kondisi tekanan osmotik tetap seimbang diperlukan energi dan adaptasi dalam bentuk
osmoregulasi. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan tingkat kelangsungan hidup pada
salinitas yang berbeda (Grosell ,2006). Proses osmoregulasi juga dikenal mekanisme
transport aktif dalam upaya menjaga konsentrasi osmotik internal homeostatis, ikan
memanfaatkan protein membran (seperti Na
+
K
+
ATPase) untuk melakukan transport aktif
ion yang terjadi di insang, esofagus, dan intestine. Kemampuan adaptasi ikan terhadap
perubahan salinitas berkorelasi dengan peningkatan aktivitas protein membran
Na
+
K
+
ATPase, untuk melakukan transport aktifion sodium pada organ osmoregulasi (Susilo
dan Sri, 2007).
Ikan air tawar yang bersifat hipertonik terhadap lingkungan yaitu mampu
beradaptasi terhadap lingkungan yang salinitasnya rendah, minimum 2%. Setelah
dimasukkan dalam lingkungan yang salinitasnya tinggi maka cairan sel tubuhnya menjadi
hipotonik terhadap lingkungan tersebut. Akhirnya ikan akan mati karena tidak mampu
beradaptasi terhadap toleransi salinitas tersebut. Salinitas dapat ditoleransi dengan tekan
darah hewan itu sendiri (Hurkat and Martur, 1976).


















IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Berdasarkan hasil praktikum, kapasitas osmoregulasi ikan nila dengan salinitas 0 ppt,
10 ppt, 20 ppt, dan 30 ppt berturut-turut adalah 3,07 mmol/kg, 2,29 mmol/kg, 1,68
mmol/kg, dan 0,73 mmol/kg. Sedangkan kepiting memiliki kapasitas osmoregulasi
berturut-turut sebesar 4,38 mmol/kg, 3,8 mmol/kg, 1,68 mmol/kg, dan 2,54
mmol/kg.
2. Ikan nila (Oreochromis sp.) merupakan contoh ikan eurihalin serta bersifat
hiperosmotik terhadap lingkungannya, sedangkan ikan nilem (Osteochillus hasselti)
termasuk ikan stenohalin dan kepiting (Scylla serrata) termasuk dalam hewan
eurihalin.
















DAFTAR REFERENSI
Cahyono. 2004. Osmoregulasi Pada Ikan. Jakarta : Gramedia.
Gordon, M.S. 1982. Animal Physiology Principles. MacMillan Pub. Co., New York.
Grosell, M. 2006. Intestinal anion exchange in marine sh osmoregulation. RSMAS,
University of Miami, 4600 Rickenbacker Causeway, Miami, FL 33149-1098, USA.
The Journal of Experimental Biology 209, 2813-2827 Published by The Company of
Biologists 2006. doi:10.1242/jeb.02345.
Guner, Y., Osman O., Hasmet C., Muhamet A., Volkan K. 2005. Effects of Salinity on The
Osmoregulatory Functions of The Gills In Nile Tilapia (Oreochromis niloticos).
Tubitak Journal. Vol 29 : 1259-1266.
Hurkat and Martur. 1976. A Text Book of Animal Physiology. Chank and Co. Ltd., New
Delhi.
Johnson, K. D, D. C Rayle and H.L. Alberg. 1984. Biology on Introduction. S. Chand and Co,
New Delhi.
Kaneko, T. Shirashi, K. Katoh, F. 2002. Chloride cells during early life stages of fish and their
functional differentiation. Fisheries Science 68 : 1-9.

Karim, M.Y. 2007. The Effect of Osmotic at Various Medium Salinity on Vitality of Female
Mud Crab (Scylla olivacea). Jurnal Protein,Vol.14.No.1.

Rusdi, I. Dan Karim, S. M. 2006. Salinitas Optimum bagi Sintasan dan Pertumbuhan Crablet
Kepiting (Scylla paramamosain).J. Sains & Teknologi, Desember 2006, Vol. 6 No.3:
149157.
Susilo, Untung dan Sri Sukmaningrum. 2007. Osmoregulasi Ikan Sidat Anguilla bicolor
McClelland pada media dengan salinitas berbeda. Universitas Jenderal Soedirman.
Susilo, U. dan. S. Sukmaningrum, Sains Akuatik 10 (2) : 111-119.

Takeuchi, K., H. Toyohara, dan M. Sakaguchi. 2000. Effect of hyper and hypoosmotic stress
on protein in cultured epidermal cell of common carp. Fishiers science 66 : 117-
123.
Tseng, Y.C., Lee, Jay-Ron., Joshua, Chia-Hsi., Kuo, Chien-Hsien., Lee, Shyh-Jye., and Hwang
Pung-Pung. 2008. Regulation of Lactate Dehydrogenase in Tilapia
(Oreochromismossambicus) Gills during Acclimation to Salinity Challenge. Zoological
Studies 47(4): 473- 480.


Yuwono,E., P. Sukardi., I. SulistyodanKhairunisah. 2007. PerubahanOsmolalitas Plasma
IkanBandeng (Chanoschanos) sebagaiResponterhadapAklimasiSalinitas Medium
yang Berbeda. Lchthyos, 6(1) : 11-16.

Ville, C. A., Walker, W. F dan R. D, Barnes. 1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.