Anda di halaman 1dari 12

Konsep Beban Kerja Perawat

Definisi Beban kerja


Beban kerja adalah frekuensi rata-rata masing-masing jenis pekerjaan dalam jangka waktu
tertentu, dimana dalam memperkirakan beban kerja dari organisasi dapat dilakukan berdasarkan
perhitungan atau pengalaman (Peraturan Pemerintah RI Nomor 97 tahun 2000 dalam
Nurcahyaningtyas, 2006). Beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan / aktifitas yang dilakukan
oleh seorang perawat selama bertugas di suatu unit pelayanan keperawatan (Marquish dan
huston, 2000 dalam Nurcahyaningtyas, 2006).
Berdasarkan dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa beban kerja perawat adalah seluruh
kegiatan atau aktifitas yang dilakukan perawat dengan jenis pekerjaan dan beratnya pekerjaan
yang ditetapkan dalam satuan waktu tertentu di suatu unit pelayanan keperawatan.
Beban kerja dapat dibedakan menjadi beban kerja kuantitatif dan kualitatif. Beban kerja kuantitatif
menunjukkan adanya jumlah pekerjaan yang besar yang harus dilakukan misalnya jam kerja yang
tinggi, derajat tanggung jawab yang besar, tekanan kerja sehari-hari dan sebagainya. Beban kerja
kualitatif menyangkut kesulitan tugas yang dihadapi (Putrono, 2002)

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BEBAN KERJA
Beban kerja disebabkan oleh kelebihan beban kerja, yang dibedakan menjadi kelebihan beban
kerja secara kuantatif (Quantitative Overload) dan beban kerja secara kualitatif (Qualitative
Overload) (Caplan HI & Sadock BJ, 1973 dalam Putrono, 2002). Kelebihan beban kerja secara
kuantitatif mencakup:
1. Harus melaksanakan observasi pasien secara ketat selama jam kerja
2. Terlalu banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan
3. Terlalu beragamnya pekerjaan yang harus dikerjakan
4. Kontak langsung perawat klien secara terus menerus selama jam kerja
5. Rasio perawat-klien.
Sedangkan beban kerja secara kualitatif mencakup:
1. Pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki perawat tidak mampu mengimbangi
sulitnya pekerjaan di ruangan
2. Tanggung jawab yang tinggi terhadap asuhan keperawatan pasien kritis di ruangan
3. Harapan pimpinan Rumah Sakit terhadap pelayanan yang berkualitas
4. Tuntutan keluarga pasien terhadap keselamatan pasien
5. Setiap saat dihadapkan pada pengambilan keputusan yang tepat
6. Tugas memberikan obat secara intensif
7. Menghadapi pasien dengan karakteristik tidak berdaya, koma dan kondisi terminal
8. Tindakan penyelamatan pasien.

STANDAR BEBAN KERJA
Menurut Gillies, 1998, dalam Nurcahyaningtyas, 2006, standar beban kerja perawat sebagai
berikut.
Dinas pagi
Jam dinas = 420 menit. Jumlah jam efektif = 357 menit. Beban kerja : K1=357. K2=714. K3=1071.
K4=1428.
Dinas sore
Jam dinas = 420 menit. Jumlah jam efektif = 357 menit. Beban kerja : K1=357. K2=714. K3=1071.
K4=1428.
Dinas malam
Jam dinas = 600 menit. Jumlah jam efektif = 510 menit. Beban kerja : K1=510. K2= 1020.
K3=1530. K4=2040.

Keterangan :
1. K1: kategori klien dengan perawatan mandiri dan diberi bobot 1
2. K2: kategori klien dengan perawatan minimal dan diberi bobot 2
3. K3: kategori klien dengan perawatan moderat dan diberi bobot 3
4. K4: kategori klien dengan perawatan ekstensif dan diberi bobot 4
5. Untuk standar normal beban kerja dinas pagi didapatkan dengan penghitungan
sebagai berikut : (K2 + K3)/2 = (714 +1071)/2 = 892,5 unit
6. Untuk standar normal beban kerja dinas sore adalah 892,5 unit sama dengan dinas
pagi karena jam dinasnya sama yaitu tujuh jam (420 menit)
7. Untuk standar normal beban kerja dinas malam dengan jam dinas 10 jam (600
menit) didapatkan hitungan sebagai berikut : (K2 + K3)/2 = (1020 + 1530)/2 =1275 unit.


KLASIFIKASI TINGKAT KETERGANTUNGAN PASIEN
Kategori I: Mandiri ( Self Care )
1) Aktifitas hidup sehari-hari: pemenuhan kebutuhan makan dengan sedikit bantuan, mengurus
hampir seluruh kebutuhan sendiri, kebutuhan eliminasi ke kamar mandi sendiri, kadang-kadang
perlu bantuan tanpa terjadi inkontinensia, pemenuhan kebutuhan rasa nyaman sendiri.
2) Kesehatan secara umum baik untuk prosedur diagnostik sederhana atau pembedahan yang
sederhana/minor.
3) Pendidikan kesehatan (health education) dan dukungan emosional secara rutin untuk tiap
prosedur, follow up penyuluhan atau discharge planning, tanpa reaksi emosional yang merugikan.
Pasien mampu berorientasi terhadap waktu, kondisi fisik dan orang.
Kategori II: Minimal Care
1) Aktifitas hidup sehari-hari: pemenuhan kebutuhan makan dibantu dalam menyiapkan
makanan, pengaturan posisi, atau anjuran untuk makan, dapat makan sendiri, dapat mengurus
kebutuhan yang utama tanpa dibantu atau dengan bantuan minimal, kebutuhan eliminasi dibantu
ke kamar mandi atau menggunakan urinal tanpa inkontinensia atau kondisi stress.
2) Kondisi umum dengan lebih dari satu keluhan sakit, memerlukan monitoring tanda vital, tes
urine diabet, menggunakan drainage yang tidak terlalu banyak, atau menggunakan infus.
3) Penyuluhan/pendidikan kesehatan dan dukungan emosional perlu 5 sampai 10 menit setiap
kali masing-masing penyuluhan.
4) Pengobatan atau medikasi memerlukan waktu 20 sampai 30 menit sekali tindakan.
5) Perlu evaluasi secara efektif terhadap medikasi (obat-obatan) atau tindakan yang sering
dilakukan. Mungkin diperlukan observasi terhadap status mental.
Kategori III : Moderate Care
1) Aktifitas hidup sehari-hari: kebutuhan makan dibantu tetapi dapat mengunyah dan menelan
sendiri, mengurus kebutuhan dengan bantuan, kebutuhan eliminasi menggunakan pispot/urinal.
Kadang-kadang boleh turun, dengan frekuensi inkontinen 2 x sehari setiap shift
2) Kondisi kesehatan secara umum menunjukkan gejala akut dan dibantu. Monitoring dan
evaluasi kondisi fisik atau status emosional setiap 2 sampai 4 jam menggunakancontinues
drainage atau infus dimana perlu dimonitoring tiap jam.
3) Pendidikan kesehatan/penyuluhan dan dukungan emosional memerlukan waktu 10 sampai
30 menit setiap kali pendidikan kesehatan. Takut, sangat khawatir atau tergantung pada
penyuluhan itu. Pasien mungkin bingung, agitasi atau gelisah, tetapi dapat dikontrol dengan baik
oleh obat-obatan, perlu diorientasikan sering atau dipasang pangaman.
4) Tindakan-tindakan dan obat-obatan memerlukan waktu 30 sampai 60 menit sekali tindakan.
Perlu observasi sering untuk efek sampingnya seperti reaksi alergi. Observasi tiap 1 jam untuk
status mental pasien.
Kategori IV: Intensive Care
1) Aktifitas hidup sehari-hari: tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri, sulit mengunyah dan
menelan, kemungkinan menggunakan NGT, dibantu mengurus secara penuh kebutuhan mandi,
merawat rambut dan mulut, eliminasi inkontinen lebih dari 2 kali 1 shift, rasa nyaman perlu dibantu,
mungkin memerlukan 2 orang.
2) Kondisi kesehatan umum sangat serius penyakitnya tampak gejala-gejala akut seperti
perdarahan atau kehilangan cairan. Terdapat episode acut respiratory. Perlu sering dievaluasi dan
dimonitoring.
3) Pendidikan kesehatan dan dukungan emosional lebih dari 30 menit setiap kali pendidikan
kesehatan. Pasien sangat menolak terhadap penjelasan perawat dan sangat menunjukkan reaksi
emosional. Pasien bingung, gelisah, agitasi dan tidak dapat dikontrol dengan obat-obatan, sering
diorientasikan atau perlu pengaman.
4) Tindakan dan pemberian obat-obatan memerlukan lebih dari 60 menit setiap kali
tindakan. Tindakan kolaborasi dikerjakan lebih dari 1 kali setiap shift atau memerlukan bantuan 2
orang. Perlu observasi lebih sering, yaitu lebih dari 1 kali tiap jam untuk status mental. (Joko
Suwito, 2001 dalam Nurcahyaningtyas, 2006).



BEBAN KERJA PERAWAT
PENDAHULUAN
Setiap masyarakat berhak mendapat pelayanan kesehatan dengan kinerja yang terbaik dari
perawat dan tenaga kesehatan, oleh karena itu pemberian pelayanan kesehatan harus menjadi prioritas
utama bagi negara dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakatnya. Namun, pelayanan kesehatan
yang terjangkau dan bermutu sulit dilaksanakan jika kualitas kehidupan kerja terpuruk, dan suplai tenaga
kesehatan serta sistem kesehatan tidak memadai. Untuk mencapai ketenagaan yang optimal perlu
diperhatikan upaya kesehatan bagi tenaga kesehatannya.
Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan
lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri
maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal (UU Kesehatan
Tahun 1992, Pasal 23, dalam Depkes, 2006).
Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam
upaya kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan
menghasilkan kesehatan kerja yang optimal.
Beban kerja adalah frekuensi kegiatan rata-rata dari masing-masing pekerjaan dalam jangka
waktu tertentu. Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Akibat beban kerja yang terlalu
berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang perawat menderita
gangguan atau penyakit akibat kerja.
Beban kerja berkaitan erat dengan produktifitas tenaga kesehatan, dimana 53,2% waktu yang
benar-benar produktif yang digunakan pelayanan kesehatan langsung dan sisanya 39,9% digunakan untuk
kegiatan penunjang (Gani, dalam Irwandy, 2007). Tenaga kesehatan khususnya perawat, dimana analisa
beban kerjanya dapat dilihat dari aspek-aspek seperti tugas-tugas yang dijalankan berdasarkan fungsi
utamanya, begitupun tugas tambahan yang dikerjakan, jumlah pasien yang harus dirawat, kapasitas
kerjanya sesuai dengan pendidikan yang ia peroleh, waktu kerja yang digunakan untuk mengerjakan
tugasnya sesuai dengan jam kerja yang berlangsung setiap hari, serta kelengkapan fasilitas yang dapat
membantu perawat menyelesaikan kerjanya dengan baik (Irwady, 2007).
Banyaknya tugas tambahan yang harus dikerjakan oleh perawat dapat menganggu penampilan
kerja dari perawat. Akibat negatif dari banyaknya tugas tambahan perawat diantaranya timbulnya emosi
perawat yang tidak sesuai dengan yang diharapkan dan berdampak buruk bagi produktifitas perawat
(Irwady, 2007). Menurut hasil survey dari PPNI tahun 2006, sekitar 50,9% perawat yang bekerja di empat
propinsi di Indoonesia mengalami stress kerja, sering pusing, lelah, tidak bisa beristirahat karena beban
kerja terlalu tinggi dan menyita waktu, gaji rendah tanpa insentif memadai. Namun, perawat di rumah
sakit swasta dengan gaji lebih baik ternyata mengalami stress kerja lebih besar dibandingn perawat di
rumah sakit pemerintah yang berpenghasilan rendah. Sementara hasil penelitian yang
dilakukan International Council of Nurses (ICN) menunjukkan, peningkatan beban kerja perawat dari
empat pasien jadi enam orang telah mengakibatkan 14% peningkatkan kematian pasien yang dirawat
dalam 30 hari pertama sejak dirawat di rumah sakit. Ini menunjukkan adanya hubungan antara jumlah
kematian dengan jumlah perawat per pasien dalam sehari (Rachmawati, 2007).
Perhitungan beban kerja dapat dilihat dari 3 aspek, yakni fisik, mental dan panggunaan waktu.
Aspek fisik meliputi beban kerja berdasarkan kriteria-kriteria fisik manusia. Aspek mental merupakan
perhitungan beban kerja dengan mempertimbangkan aspek mental (psikologis). Sedangkan aspek
pemanfaatan waktu lebih mempertimbangkan pada aspek pengunaan waktu untuk bekerja (Adipradana,
2008). Aspek mental atau psikologis lebih menekankan pada hubungan interpersonal antara perawat
dengan kepala ruang, perawat dengan perawat lainnya dan hubungan perawat dengan pasien, yang dapat
mempengaruhi keserasian dan produktifitas kerja bagi perawat sebagai alokasi penggunaan waktu guna
peningkatan pelayanan keperawatan terhadap pasien.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Upaya Kesehatan Kerja
Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban
kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan dirinyan sendiri maupun masyarakat disekelilingnya, agar diperoleh
produktivitas kerja yang optimal (UU Kesehatan tahun 1992, Pasal 23, dalam Depkes RI,
2006).
B. Ruang Lingkup Kesehatan Kerja
Menurut Depkes RI (2006), Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian
antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal
cara atau metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk :
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja disemua
lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, psikis atau mental maupun kesejahteraan
sosialnya.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh
keadaan atau kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan pekerjaan dan perlingdungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari
kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.
C. Komponen Kesehatan Kerja
Menurut Depkes RI (2006), ada tiga komponen utama dalam kesehatan kerja,
dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan
kesehatan kesehatan kerja yang baik dan optimal. Adapun ketiga komponen kesehatan kerja
adalah sebagai berikut:
1. Kapasitas kerja
Kapasitas kerja yang baik seperti status kerja dan gizi kerja yang baik serta
kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan
pekerjaannya dengan baik. Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja sebagai modal awal
seorang untuk melakukan pekerjaan harus pula mendapat perhatian. Kondisi awal
seseorang untuk bekerja dapat dipengaruhi oleh kondisi tempat kerja, gizi kerja dan lain-
lain.
2. Beban kerja
Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun psikis atau mental. Akibat beban
kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan
seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja.
3. Lingkungan kerja
Kondisi lingkungan kerja (misalnya panas, bising debu, zat-zat kimia dan lain-
lain) dapat merupakan beban tambahan terhadap pekerja. Beban-beban tambahan
tersebut secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau
penyakit akibat kerja.
D. Pengertian Beban Kerja Perawat
Beban kerja adalah frekuensi kegiatan rata-rata dari masing-masing pekerjaan dalam
jangka waktu tertentu (Irwandy, 2007).
Beban kerja merupakan salah satu unsur yang harus diperhatikan bagi seorang
tenaga kerja untuk mendapatkan keserasian dan produktivitas kerja yang tinggi selain unsur
beban tambahan akibat lingkungan kerja dan kapasitas kerja (Sudiharto, 2001).
Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan
tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan
keperawatan (UU Kesehatan No. 23, 1992, dalam Gaffar, 1999).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa beban kerja perawat adalah
frekuensi kegiatan rata-rata dari seseorang yang memiliki kemampuan dan kewenangan
melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya dalam jangka waktu
tertentu.
E. Kelebihan Beban Kerja
Pengelolaan tenaga kerja yang tidak direncanakan dengan baik dapat menyebabkan
keluhan yang subyektif, beban kerja semakin berat, tidak efektif dan tidak efisien yang
memungkinkan ketidakpuasan bekerja yang pada akhirnya mengakibatkan turunnya kinerja
dan produktivitas serta mutu pelayanan yang merosot (Bina Diknakes, 2001).
Kelebihan beban kerja (beban kerja berat) yang dirasakan oleh perawat meliputi
(French dan Caplan, 1973) :
1. Harus melaksanakan observasi pasien secara ketat selama jam kerja.
2. Terlalu banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan demi kesehatan dan keselamatan
pasien.
3. Beragamnya jenis pekerjaan yang harus dilakukan demi kesehatan dan keselamatan
pasien.
4. Kontak langsung perawat klien secara terus menerus selama 24 jam.
5. Kurangnya tenaga perawat dibanding jumlah pasien.
6. Pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tidak mampu mengimbangi sulitnya pekerjaan.
7. Harapan pimpinan rumah sakit terhadap pelayanan yang berkualitas.
8. Tuntutan keluarga untuk keselamatan dan kesehatan pasien.
9. Setiap saat dihadapkan pada pengambilan keputusan yang tepat.
10. Tanggung jawab yang tinggi dalam melaksanakan asuhan keperawatan klien di ruangan.
11. Menghadapi pasien dengan karakteristik tidak berdaya, koma dan kondisi terminal.
12. Setiap saat melaksanakan tugas delegasi dari dokter (memberikan obat-obatan secara
intensif).
13. Tindakan untuk selalu menyelamatkan pasien.
Prestasi suatu organisasi atau perusahaan yang buruk dapat dengan mudah
terjadinya penghentian tenaga kerja yang besar-besaran ataupun menyebabkan
diperlukannya banyak sekali waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan (Tulus, 1996).
Salah satu cara untuk mengurangi beban kerja perawat yang terlalu tinggi adalah
dengan menyediakan tenaga kerja yang cukup baik kuantitas maupun kualitasnya sesuai
dengan tuntutan kerja. Semakin banyak pasien yang ditangani seorang perawat selama
periode waktu tertentu, maka semakin berat atau besar beban kerja perawat tersebut(Gilles,
1996). Pelayanan keperawatan yang bermutu dapat dicapai salah satunya tergantung pada
seimbangnya antara jumlah tenaga perawat dengan beban kerjanya di suatu rumah sakit.
F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja
Menurut Swanburg C. R. (1993), dikatakan bahwa secara nasional kekurangan tenaga perawat
sekitar 100.000 perawat rumah sakit. Dalam hal yang bersamaan terjadi peningkatan usia harapan hidup
lebih dari 65 tahun, yang merupakan konsumen utama pelayanan keperawatan. Tenaga keperawatan
menurun pada saat kebutuhan konsumenatau klien meningkat, sehingga beban kerja perawat semakin
meningkat. Faktor lain yang mempengaruhi beban kerja disamping faktor jumlah tenaga dan jumlah
konsumen atauklien, adalah faktor ketrampilan majemen perawat atau pengalaman kerja perawat dan
faktor tingkat pendidikan perawat (Samba, 2000).
G. Perhitungan Tenaga Perawat.
Menurut Suyanto (2008), perhitungan tenaga kerja perawat perlu diperhatikan hal-hal,
sebagai berikut :
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan tenaga keperawatan.
a. Faktor klien, meliputi : tingkat kompleksitas perawat, kondisi pasien sesuai dengan jenis
penyakit dan usianya, jumlah pasien dan fluktuasinya, keadaan sosial ekonomi dan
harapan pasien dan keluarga.
b. Faktor tenaga, meliputi : jumlah dan komposisi tenaga keperawatan, kebijakan
pengaturan dinas, uraian tugas perawat, kebijakan personalia, tingkat pendidikan dan
pengalaman kerja, tenaga perawat spesialis dan sikap ethis professional.
c. Faktor lingkungan, meliputi : tipe dan lokasi rumah sakit, lay out keperawatan, fasilitas
dan jenis pelayanan yang diberikan, kelengkapan peralatan medik atau diagnostik,
pelayanan penunjang dari instalasi lain dan macam kegiatan yang dilaksanakan.
d. Faktor organisasi, meliputi : mutu pelayanan yang ditetapkan dan kebijakan pembinaan
dan pengembangan.
2. Rumusan perhitungan tenaga perawat
a. Peraturan Men.Kes.R.I. No.262/Men.Kes./Per/VII/1979 menetapkan bahwa
perbandingan jumlah tempat tidur rumah sakit dibanding dengan jumlah perawat adalah
sebagai berikut :
Jumlah tempat tidur : Jumlah perawat = 3-4 tempat tidur : 2 perawat.
b. Hasil Work Shop Perawatan oleh Dep.Kes RI di Ciloto Tahun 1971 menyebutkan bahwa
:
Jumlah tenaga keperawatan : pasien = 5 : 9 tiap shift.
c. Menggunakan sistem klasifikasi pasien berdasarkan perhitungan kebutuhan tenaga.
H. Psikologis Kerja Perawat
Perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan selalu berinteraksi sosial dengan
orang lain, terutama dengan pasien, teman sejawat dan atasan langsung yaitu kepala
ruangan. Menurut Sunaryo (2004) interaksi sosial merupakan salah satu bentuk hubungan
antara individu dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, seorang perawat hendaknya
dapat memahami kepribadian pasien, keluarga pasien, teman sejawat dan atasan langsung.
Perawat hendaknya memahami perbedaan yang ia miliki dan menyadari ciri masing-masing
sehingga tidak menjadi beban dalam menjalankan tugasnya.
Adanya kerja sama antara perawat dengan perawat dan perawat dengan kepala
ruangan serta kerja sama antara perawat dengan pasien yang dirawatnya akan mempercepat
proses penyembuhan penyakit. Tidak terjalinnya kerja sama dengan baik akan menimbulkan
beban psikologis bagi perawat selain juga beban fisik yang dialaminya. Beban psikis yang
berlebihan menyebabkan perawat mengalami stress kerja, sering merasa pusing, lelah, dan
tidak dapat istirahat dengan nyenyak. Akibat beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan
fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang perawat menderita gangguan atau
penyakit akibat kerja (Depkes, 2006).
Efek psikologis yang paling sederhana dan jelas dari kelebihan beban kerja adalah
stress kerja yang mengakibatkan menurunnya motivasi kerja perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan. Motivasi sangat dibutuhkan oleh seorang perawat sebagai dorongan
untuk meningkatkan gairah kerja. Kinerja perawat timbul sebagai respon efektif atau
emosional terhadap tugas pekerjaan yang dilakukan perawat. Stress kerja disebabkan oleh
konflik kerja, beban kerja, waktu kerja, karakteristik tugas, dukungan kelompok dan pengaruh
kepemimpinan (Rusman, 2006).
PEMBAHASAN
A. Aspek Psikis Beban Kerja Perawat dengan Kepala Ruangan
Kepala ruangan merupakan seorang pemimpin, mengatur dan mengarahkan para
perawat yang bertugas dalam ruang perawatannya. Dalam ini seorang kepala ruangan
berperan sebagai seorang pemimpin dan manajer. Sebagai seorang konsultan dan
pengendalian mutu asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat pelaksana, tugas
kepala ruangan meliputi : melaksanakan orientasi perawat baru, menyusun jadwal dinas,
memberi penugasan para perawat pelaksana, mengevaluasi asuhan keperawatan dan
merencanakan pengembangan staf.
Mengarahkan, menggerakkan dan memotivasi staf perawat bekerja dengan sebaik-
baiknya adalah salah satu fungsi dari kepala ruangan. Sering dijumpai seorang perawat
melaksanakan tugas tidak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan. Hal ini semata mata bukan
kesalahan atau kekeliruan perawat tetapi sering juga disebabkan oleh kurangnya pengarahan
dari kepala ruangan sebelum tugas dilaksanakan. Pengarahan yang kurang tepat dapat
menimbulkan beban psikis bagi perawat dalam melaksanakan tugasnya. Beban psikis
semakin berat bila perawat mengalami kelebihan beban kerja dan perhitungan tenaga kerja
yang dilakukan oleh kepala ruangan tidak sesuai dengan kebutuhan tenaga keperawatan.
Kelebihan beban kerja dapat terjadi karena harapan kepala ruangan terhadap pelayanan yang
berkualitas, sedangkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki perawat tidak sebanding
sehingga bisa menjadi beban psikis bagi perawat bersangkutan. Hal lainnya bisa karena
adanya tanggung jawab yang tinggi dalam melaksanakan asuhan klien di ruangan. Menurut
Rusman (2006), pengaruh kepemimpinan bisa menyebabkan timbulnya stress kerja akibat
beban kerja berlebihan yang dilimpahkan oleh kepala ruangan sebagai pimpinan.
Untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara perawat dengan kepala ruangan,
maka kepala ruangan harus memiliki kemampuan seperti memberikan pengarahan dan
petunjuk yang jelas, sehingga dapat dimengerti oleh pelaksana keperawatan, memberikan
saran/nasehat dan bantuan kepada pelaksana keperawatan, memberikan motivasi untuk
meningkatkan semangat kerja pelaksana keperawatan, memberikan latihan dan bimbingan
yang diperlukan serta memberikan penghargaan bagi yang berprestasi dan hukuman bagi
yang melanggar peraturan. Selain dari kepala ruangan, perawat juga diharapkan dapat
melaksanakan arahan yang diberikan oleh kepala ruangan dan melaksanakan tanggung
jawab yang diberikan dengan sebaik-baiknya.
B. Aspek Psikis Beban Kerja Perawat dengan Perawat
Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dilaksanakan secara langsung
atau tidak langsung kepada pasien. Pemberian asuhan keperawatan tidak dapat dilaksanakan
sendiri oleh perawat tapi perlu adanya kerja sama dengan anggota tim dan antar tim perawat.
Beban kerja yang berlebihan dan ketidakmampuan tim mengkoordinir tugas akan
menimbulkan konflik antar anggota tim perawat. Bila setiap perawat tidak mampu mengontrol
emosinya akan meningkatkan konflik yang berakibat terhadap teganggunya pelayanan
keperawatan yang diberikan. Beragamnya jenis pekerjaan yang harus dilakukan oleh perawat
bila tidak ada kerja sama yang baik akan menjadi beban psikis bagi perawat untuk itu perlu
adanya tanggung jawab dari tim perawat yang bekerja. Perlu juga adanya kecocokan diantara
sesama tim perawat guna mengurangi ketegangan dan perbedaan prinsip satu dengan yang
lainnya.
Hubungan mengurangi beban psikis karena beban kerja maka, antar sesama perawat
sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja perawat, untuk itu perlu adanya kerja sama
yang baik antara perawat dengan perawat dan adanya rasa tanggung jawab setiap
melaksanakan tindakan keperawatan. Antar sesama anggota tim perawat perlu adanya rasa
saling pengertian sehingga dalam memberikan asuhan, perawat dapat saling menutupi
kekurangan yang dimiliki sehingga pelayanan yang diberikan kepada pasien dapat optimal.
C. Aspek Psikis Beban Kerja Perawat dengan Pasien
Pemberian asuhan keperawatan kepada pasien pada dasarnya untuk memenuhi
kebutuhan dasarnya mencakup kebutuhan biologis, sosial, psikologis dan spiritual karena
adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan dan kurangnya kemauan
menuju kemandirian pasien (Gaffar, 1999).
Jumlah pasien yang tidak sesuai dengan jumlah perawat, dalam hal ini jumlah pasien
yang lebih banyak dari jumlah perawat akan menimbulkan beban psikis bagi perawat. Menurut
Rachmawati (2007) tidak memadainya jumlah dan kualifikasi perawat ternyata berhubungan
dengan kejadian gangguan psikis pada perawat. Kurang kooperatifnya pasien juga bisa
menimbulkan beban psikis bagi perawat oleh karena perawat perlu waktu dan tenaga yang
lebih banyak untuk pasien yang kooperatif serta setiap tindakan yang diberikan kepada pasien
tidak dipatuhi oleh pasien. Kelebihan beban kerja yang menyebabkan beban psikis bisa terjadi
karena perawat harus melaksanakan observasi pasien secara ketat selama kerja, kontak
langsung perawat dengan klien secara terus menerus selama 24 jam, tuntutan keluarga
pasien untuk keselamatan dan kesehatan pasien, serta menghadapi pasien dengan
karakteristik tidak berdaya, koma dan kondisi terminal. Hal-hal tersebut bisa menjadi beban
psikis bila perawat yang bersangkutan kurang pengetahuan dan keterampilan yang
dimilikinya.
Perawat perlu memiliki kemampuan komunikasi yang baik, oleh karena setiap pasien
mempunyai sifat yang berbeda-beda sehingga cara komunikasi kepada pasien juga
disesuaikan dengan individu setiap pasien. Perawat harus meningkatkan kemampuan yang
dimilikinya supaya bisa mengikuti perkembangan dalam ilmu kesehatan khususnya perawatan
agar tindakan yang dilaksanakan bisa mempercepat proses penyembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA
http://adipradana.wordpress.com/2008/11/27/analisis-beban-kerja/
http://www.depkes.go.id/index.php?
http://irwandykapalawi.wordpress.com/2007/10/28/
http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php
Gaffar, L.O.J. (1999). Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta : EGC
Gillies. (1996). Manajemen Keperawatan, Edisi ke dua, Philadelphia.
Samba S. (2000). Pengantar Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan untuk Perawat Klinis, Buku
Kedokteran, EGC, Jakarta.
Sunaryo, (2004). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
Suyanto. (2008). Mengenal Kepemimpinan Dan Manajemen Keperawatan Di Rumah Sakit.Jogjakarta :
Penerbit Mitra Cendikia.
Tulus, A. (1996). Manajemen Sumber Daya manusia, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.


Pengertian Proses Asuhan Keperawatan
January 1st, 2013
Pengertian Proses Asuhan Keperawatan. Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan
professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang berlandaskan ilmu dan kiat
keperawatan berbentuk layanan bio, psiko, social, dan spiritual yang komprehensif yang bertujuan bagi
individu, keluarga, dan masyarakat baik dalam keadaan sehat ataupun sakit serta mencakup seluruh proses
keperawatan (Asmadi,2008).
Menurut Carol V.A. (1991) proses keperawatan adalah suatu metode yang sistematis untuk mengkaji
respon manusia terhadap masalah kesehatan dan membuat rencana keperawatan yang bertujuan
mengatasi masalah tersebut.
Komponen proses keperawatan
Sebagai metode ilmiah, proses keperawatan memiliki serangkaian langkah. Langkah/komponen proses
keperawatan merupakan suatu siklus yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Tahap I (pengkajian)
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Disini, semua data dikumpulkan secara
sistematis guna menentukan status kesehatan klien saat ini. Pengkajian harus dilakukan secara
komprehensif terkait dengan aspek biologis, psikologis, social, maupun spiritual klien.
Proses pengkajian keperawatan yang digunakan di IRD BRSU Tabanan, merupakan pendekatan sistematik
untuk mengidentifikasi masalah keperawatan gawat darurat. Data dapat diperoleh secara primer (klien)
maupun sekunder (keluarga, tim kesehatan lainya). Proses pengkajian dibagi dalam dua bagian : pengkajian
primer dan pengkajian sekunder (Depkes RI, 2005).

1) Pengkajian Primer
Pengkajian cepat untuk mengidentifikasi dengan segera masalah actual atau resiko tinggi dari kondisi life
threatening (berdampak terhadap kemampuan pasien untuk mempertahankan hidup). Pengkajian
berpedoman pada inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi jika hal tersebut memungkinkan.
Prioritas penilaian dilakukan berdasarkan :
A: Airway (jalan nafas) dengan control servikal
B: Breathing dan ventilasi
C: Circulation dengan control perdarahan
D: Disability
E: Exposure control, dengan membuka pakaian pasien tetapi cegah hipotermi.
2) Pengkajian Sekunder
Pengkajian sekunder setelah masalaha airway, breathing dan circulation yang ditemukan pada pengkajian
primer diatasi. Pengkajian sekunder meliputi pengkajian obyektif dan subyektif dari riwayat keperawatan
(riwayat penyajit sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat pengobatan, riwayat keluarga) dan
pengkajian dari kepala sampai kaki.
Tahap II (Diagnosa Keperawatan)
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang dibuat oleh perawat professional yang memberi gambaran
tentang masalah atau status kesehatan klien, baik actual maupun potensial, yang ditetapkan berdasarkan
analisis dan interpretasi data hasil pengkajian. Pernyataan diagnosis keperawatan harus jelas, singkat, dan
lugas terkait masalah kesehatan klien berikut penyebabnya yang dapat diatasi melalui tindakan
keperawatan (Asmadi, 2008).
Diagnosa keperawatan dibuat sesuai dengan urutan masalah, penyebab, dan data (problem, etiologi,
symptoms/PES), baik bersifat actual maupun resiko tinggi. Prioritas masalah ditentukan berdasarkan
besarnya ancaman terhadap kehidupan klien ataupun berdasarkan dasar/penyebab timbulnya gangguan
kebutuhan klien (Depkes RI, 2005).
Daftar diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada gawat darurat antara lain: bersihan jalan nafas tidak
efektif, pola nafas tidak efektif, gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung, gangguan perfusi
jaringan ferifir, gangguan perfusi jaringan serebral, nyeri dada, gangguan volume cairan (kurang/lebih),
gangguan kebutuhan nutrisi dan gangguan termoregulasi (Depkes RI, 2005).
Tahap III (Perencanaan)
Rencana tindakan keperawatan menggambarkan prioritas tindakan keperawatan dan tujuan keperawatan
yang didasari atas ilmu keperawatan mutakhir, serta meliputi rencana tindakan observasi,
pemantauan/monitor, tindakan mandiri keperawatan, dan kolaborasi. Sebagai penunjang rencana
tindakan, perawat gawat darurat menyiapkan alat-alat yang diperlukan dalam keadaan siap digunakan dan
menjaga keselamatan dan keamanan diri sendiri, sejawat dan klien serta keluarganya (Depkes RI, 2005).

Tahap IV (Implementasi)
Implementasi adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan rencana asuhan keperawatan ke dalam bentuk
intervensi keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Intervensi keperawatan merupakan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dapat dilakukan secara
mandiri maupun kolaborasi, intervensi mandiri meliputi tindakan pemantauan berkelanjutan kondisi klien,
penyelamatan hidup dasar, pendidikan kesehatan, ataupun pelaksanaan dindakan keperawatan lainya
sesuai dengan kondisi kegawat-daruratan klien. Intervensi kolaborasi adalah tindakan kerjasama dengan
tim kesehatan lainnya dalam lingkup yang sesuai dengan aturan profesi keperawatan. Intervensi yang
diberikan kepada setiap klien gawat darurat harus dapat dipertanggung jawabkan dan dipertanggung
gugatkan oleh perawat gawat darurat yang memberikan asuhan keperawatan tersebut (Depkes RI, 2005).
Tahap V (Evaluasi)
Evaluasi adalah tahap terakhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan
terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau criteria hasil yang dibuat pada tahap
perencanaan. Evaluasi dilakukan secara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan
lainnya.
Evaluasi merupakan tindakan pengkajian ulang (reassessment) klien gawat darurat dimana data yang
diperoleh merupakan dasar analisa untuk tindakan keperawatan selanjutnya. Evaluasi harus dilakukan
secara berkelanjutan sehingga perawat dapat memantau ada tidaknya perkembangan kondisi klien sesuai
dengan tujuan keperawatan, melanjutkan atau merubah rencana asuhan keperawatan selanjutnya,
ataupun mengembangkan diagnose keperawatan baru yang sesuai dengan kondisi terkini klien. Evaluasi
dapat dilakukan berdasarkan tingkat kegawatdaruratan klien, dilakukan paling sedikit setiap pergantian sift
(false emergensi), setiap 4 jam sekali atau klien dengan kondisi gawat darurat setiap 15 menit (Depkes RI,
2005).
Dokumentasi Proses Keperawatan
Menurut Asmadi (2008) dokumentasi merupakan pernyataan tentang kejadian atau aktivitas yang otentik
dengan membuat catatan tertulis. Dokumentasi keperawatan berisi hasil aktivitas keperawatan yang
dilakukan perawat terhadap klien, mulai dari pengkajian hingga evaluasi.
Dokumentasi keperawatan merupakan sarana komunikasi dari satu profesi ke profesi lain terkait status
klien. Sebagai alat komunikasi, tulisan dalam dokumentasi keperawatan harus jelas terbaca, tidak boleh
memakai istilah atau singkatan-singkatan yang tidak lazim, juga berisi uraian yang jelas, tegas, dan
sistematis.
Menurut Doenges (2000) dokumentasi bukan hanya syarat untuk akreditasi, tetapi juga syarat hokum di
tatanan perawatan kesehatan. Dokumentasi memberikan catatan tentang penggunaan proses
keperawatan untuk memberikan perawatan pasien secara individual. Jadi system dokumentasi adalah
untuk: memfasilitasi pemberian perawatan pasien yang berkwalitas, memastikan dokumentasi kemajuan
yang berkenaan dengan hasil yang berfokus pada pasien, dan memfasilitasi konsistensi antardisiplin dan
komunikasi tujuan dan kemajuan pengobatan.

Tags: dokumentasi proses keperawatan, komponen proses keperawatan, pengertian proses asuhan
keperawatan