Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tungau menempati tipe habitat yang sangat beragam, seperti di darat, di air
atau hidup pada organisme lain. Karena ukuran tubuh tungau relatif kecil dan
plastis, tungau mampu beradaptasi pada berbagai habitat (Fain 1994). Semua
taksa yang lebih besar daripada tungau, baik tumbuhan atau hewan lain telah
dikolonisasi. Pada hewan, semua vertebrata darat menjadi inang simbiotik tungau.
Pada hewan avertebrata seperti insekta, Arachnida (termasuk tungau lain),
miriapoda, krustase, anelida telah diinfestasi oleh tungau (Walter dan Proctor
1999).
Tungau dapat menjadi simbion temporer atau permanen dan dapat bertindak
sebagai komensal, mutualis, parasit atau parasitoid. Parasitisme adalah interaksi
antara dua jenis organisme yang hidup bersama, yaitu salah satu organisme
diuntungkan dan yang lain dirugikan. Kebanyakan spesies tungau adalah
ektoparasit dan sebagian yang lain adalah endoparasit pada saluran pernafasan
burung, mamalia dan lain sebagainya (Fain 1994). Ektoparasit adalah organisme
parasit yang hidup pada permukaan tubuh inang, menghisap darah atau mencari
makan pada rambut, bulu, kulit dan menghisap cairan tubuh inang (Triplehorn dan
Johnson 2005). Sifat ektoparasit berlangsung paling tidak pada sebagian dari
seluruh siklus hidup tungau di tubuh inang avertebrata maupun vertebrata. Tungau
dapat berasosiasi dengan sejumlah hewan avertebrata maupun vertebrata. Reptil,
dalam hal ini kura-kura, ular kadal dan cicak, berinteraksi dengan beragam jenis
tungau, baik sebagai ektoparasit maupun endoparasit (Walter dan Proctor 1999).
Menurut Walter dan Proctor (1999), tungau dibagi menjadi tiga ordo yaitu
1) Ordo Opilioacariformes, 2) Ordo Parasitiformes, dan 3) Ordo Acariformes.
Ordo Opilioacariformes adalah ordo yang paling primitif. Ordo Parasitiformes
terdiri dari tiga sub ordo, yaitu Sub Ordo Mesostigmata (10 famili dan 10 000
spesies telah teridentifikasi), Sub Ordo Holothyrida (kurang lebih 30 spesies
teridentifikasi), dan Sub Ordo Ixodida (sekitar 800 spesies telah teridentifikasi).
Ordo Acariformes terdiri dari dua sub ordo, yaitu Sub Ordo Sarcoptiformes (10
famili) dan Sub Ordo Trombidiformes (sekitar 7000 spesies telah teridentifikasi).
2

Berdasar Kethley (1982), tungau termasuk anggota Filum Arthropoda,
Sub Filum Chelicerata, dan Kelas Arachnida. Ciri yang membedakan tungau
dengan Arachnida lain adalah struktur alat mulut (gnatosoma). Podosoma (toraks)
dan opistosoma (abdomen) menyatu membentuk idiosoma. Segmen abdomen
tidak ada atau tidak jelas. Tungau dewasa mempunyai empat pasang tungkai yang
terletak pada podosoma. Kelisera teradaptasi sebagai alat untuk menusuk,
menghisap dan mengunyah (Krantz 1978).
Tungau Famili Pterygosomatidae hidup sebagai parasit pada cicak dan kadal
Gekkonidae (Bochkov dan Mironov 2000, Walter dan Shaw 2002). Menurut
Schmaschke (1997) tungau Pterygosomatidae dikenal sebagai parasit penghisap
darah. Oliver dan Shaw 1953 menyatakan bahwa tungau yang menginfestasi
Hemidactylus garnotii adalah tungau Geckobia. Tungau Geckobia (Famili
Pterygosomatidae) dilaporkan ditemukan pada cicak Famili Gekkonidae
(Montgomery 1966) dan sebagai ektoparasit pada cicak Hemidactylus di Asia
Tenggara (Krantz 1978). Menurut Bertrand et al. (1999) cicak Cosymbotus
platyurus dan H. frenatus dapat diinfestasi oleh beberapa spesies Geckobia. Cicak
H. mabouia merupakan inang dari tungau G. hemidactyli di Puerto Rico (Rivera et
al. 2003), sedangkan tungau G. carcinoides merupakan ektoparasit pada cicak
Gehyra oceanica di Polynesia (Bertrand dan Ineich 1989).
Beberapa jenis tungau menimbulkan kerugian langsung atau tidak langsung
yaitu sebagai vektor beberapa penyakit pada manusia maupun hewan lain. Pada
integumen reptil Uta stanbuliana liar ditemukan tungau Famili Trombiculidae
yang dapat menimbulkan peradangan (Goldberg et al. 1991). Tungau G. naultina
pada reptil Haplodactylus duvaocelli (Gekkonidae) di Selandia Baru ditemukan
sebagai vektor pembawa Rickettsia, yaitu bakteri parasit (Barry et al. 2011).
Interaksi antara tungau parasit dengan cicak perlu diperhatikan, karena cicak
hidup di antara manusia. Data base penyakit infeksi global menunjukkan bahwa
satwa liar berperan sebagai reservoir patogen untuk manusia dan hewan
peliharaan atau ternak (Jones et al. 2011).
Penyebaran spesies cicak sangat luas, terutama di daerah tropis. Cook dan
Richard (1999) menyatakan bahwa cicak merupakan hewan yang mudah
menyebar dan membentuk kelompok baru. Cicak H. frenatus, C. platyurus dan
3

H. garnotii ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, seperti Sumatra, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara (Rooij 1915).
Inventarisasi dan identifikasi tungau ektoparasit pada cicak di Bogor telah
dilakukan oleh Soleha (2006) yang menunjukkan, bahwa tungau yang
menginfestasi C. platyurus, H. frenatus dan H. garnotii di Bogor adalah tungau
Geckobia. Vitzthum (1926) melaporkan bahwa G. bataviensis ditemukan pada
cicak H. frenatus di Batavia (Jakarta). Belum ada laporan mengenai distribusi
tungau ektoparasit yang menginfestasi cicak C. platyurus, H. frenatus dan
H. garnotii di Indonesia.
Analisis keberadaan ektoparasit pada tubuh inang dilakukan dengan
menghitung nilai prevalensi, intensitas infestasi dan pola perlekatan ektoparasit
pada tubuh inang. Menurut Barton dan Richard (1966), prevalensi adalah bagian
dari populasi inang yang terinfestasi ektoparasit, sedang intensitas infestasi adalah
kerapatan ektoparasit yang menginfestasi inang. Pola perlekatan inang diamati
untuk mengetahui distribusi ektoparasit pada tubuh inang.
Berdasarkan pada data penyebaran cicak di Indonesia dan adanya interaksi
antara cicak dengan tungau ektoparasit, penelitian ini akan mengeksplorasi
distribusi geografis cicak C. platyurus, H. frenatus dan H. garnotii, tungau
ektoparasit yang menginfestasi ketiga spesies cicak tersebut, hubungan antara
spesies inang dengan spesies tungau yang memparasit, serta menghitung nilai
prevalensi dan intensitas infestasi tungau pada inang.
Tujuan Penelitian
1. Mempelajari distribusi dan keanekaragaman tungau ektoparasit yang
menginfestasi cicak C. platyurus, H. frenatus dan H. garnotii di
Indonesia.
2. Menganalisis nilai prevalensi, intensitas infestasi dan perlekatan
tungau ektoparasit pada badan cicak.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai:
1. Spesies tungau yang menginfestasi cicak C. platyurus, H. frenatus
dan H. garnotii di Indonesia.
4

2. Hubungan antara spesies cicak dengan spesies tungau yang
menginfestasi.