Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN INOVASI PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN

Refleksi Pengajaran dan Pembelajaran



c)Mengubah Yang Abstrak Kepada Konkrit
Seorang pendidik perlu mengelakkan murid-murid lembab membayangkan sesuatu yang tidak
nampak dalam pembelajaran. Pembelajaran akan menjadi lebih mudah sekiranya subjek diajar
boleh dilihat dan didengar. Menurut Shaw (2002) strategik mengajar kanak-kanak lembam
hendaklah secara jelas dengan mengubah yang abstrak kepada konkrit. Penggunaan kad
berwarna dan alat bantuan fotografik akan memudahkan pengajaran guru kerana kanak-kanak
lembam dapat melihat perkara yang diajar. Penggunaan kad yang pelbagai aras memerlukan
imaginasi dan persediaan yang rapi tetapi hasilnya amat bernilai serta bermakna (Brian Cooke,
1976). Pengajaran dan pembelajaran yang melibatkan banyak pancaindera murid-murid lembam
akan mempertingkatkan keupayaan mereka.

d)Penggunaan Teknologi Maklumat Dan Komunikasi (ICT)
Penggunaan teknologi maklumat dan komunikasi (ICT) seperti penggunaan Power Point dalam
komputer dan electronic dictionary dapat menunjukkan demonstrasi dalam konsep yang
kompleks. Ini dapat menarik perhatian kanak-kanak lembam untuk mempelajari subjek yang
diajar dan mengelakkan mereka daripada berasa bosan terhadap pembelajaran konvensional yang
stereotype. Sebagai contoh, Edyburn (1991) telah membuktikan bahawa pelajar-pelajar
istimewa lebih berjaya memperoleh maklumat dengan menggunakan ensiklopedia secara
elektronik berbanding dengan penggunaan ensiklopedia bercetak. Selain itu, kajian menunjukkan
penggunaan komputer dapat meningkatkan kemahiran membaca di kalangan murid-murid yang
menghadapi masalah pembelajaran (Jones, Torgeswn dan Sexton, 1987: Torgesen, 1986)
f)Cara Kerja
Cara kerja pula boleh membantu murid-murid slow learner, sindrom down, disleksia atau terencat akal
menjalankan aktiviti. Guru boleh melatih mereka bagaimanakah cara kerja yang betul agar dapat
menyiapkan atau menyelesaikan aktiviti yang dijalankan dengan betul dan cepat. Bagi murid slow learner
misalnya mereka boleh menjalankan aktiviti tetapi lambat menyelesaikannya. Sebagai contoh di sini,
apabila guru meminta murid mengangkat kotak hadiah yang berwarna biru. Guru memberikan arahan ini
berulangkali. Guru tidak harus jemu untuk mengulang-ulang apa sahaja kerana murid-murid ini kurang
berupayaan untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh guru terbabit. sahaja. Guru memberikan
bimbingan kepada murid yang tidak dapat memilih kotak berwarna biru tersebut.
Penerapan Token Ekonomi Untuk Meningkatkan Atensi dalam Mengerjakan Tugas pada Anak ADHD
Abstraksi: Anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang mengikuti pendidikan formal, banyak mengalami kesulitan
pada anak terutama terkait dengan kesulitan untuk memusatkan perhatian pada tugas sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan
atensi anak ADHD dalam mengerjakan tugas dengan menggunakan teknik token ekonomi. Subjek dalam penelitian ini berjumlah dua anak
yang mengalami ADHD. Penelitian ini merupakan penelitian ekpserimen dengan menggunakan desain subyek tunggal (single-subject
experimental design). Intervensi yang diberikan kepada subyek berupa teknik token ekonomi (penguatan positif) sebanyak 16 kali, data
tentang kesulitan atensi anak ketika mengerjakan tugas diperoleh melalui observasi dan wawancara hasil penelitian menunjukkan adanya
peningkatan atensi anak setelah memperoleh intervensi. Hal ini berarti bahwa penerapan teknik token ekonomi dapat meningkatkan atensi
dalam mengerjakan tugas pada anak ADHD, yaitu anak dapat memberi perhatian pada tugas yang diberikan

PENGURUSAN TINGKAH LAKU (DEFINISI EKONOMI TOKEN)
Program Ekonomi Token merupakan satu sistem pengukuhan secara simbolik. Murid diberi token apabila menunjukkan tingkahlaku yang diingini. Program ini dipanggil
sebagai sistem ekonomi kerana berasaskan sistem kewangan, iaitu token yang diterima mempunyai nilai ekonomi dan boleh ditukar dengan benda atau aktiviti yang
dikenalpasti sebagai pengukuhan kepada murid.
Token Economies merupakan suatu wujud modifikasi perilaku yang dirancang untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan dan pengurangan perilaku yang tidak diinginkan
dengan pemakaian Tokens (tanda-tanda). Individu menerima token cepat setelah mempertunjukkan perilaku yang diinginkan. Token itu dikumpulkan dan yang dipertukarkan
dengan suatu obyek atau kehormatan yang penuh arti.
Secara singkatnya Token Ekonomi merupakan sebuah system reinforcement untuk perilaku yang dikelola dan diubah, seseorang mesti dihadiahi/diberikan penguatan untuk
meningkatkan atau mengurangi perilaku yang diinginkan.

TUJUAN
Tujuan yang utama suatu Token Economies untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan dan perilaku pengurangan yang tidak diinginkan. Sering kali Token Economies
digunakan di dalam pengaturan dalam sebuah lembaga (seperti rumah sakit jiwa atau fasilits rehabilitasi) untuk mengatur perilaku dari individu yang bisa tak dapat diramalkan
atau agresif. Bagaimanapun, tujuan yang lebih utama dari Token Economies untuk mengajar perilaku yang sesuai dan ketrampilan-ketrampilan sosial yang dapat digunakan
dalam satu lingkungan yang alami (wajar).
Pendidikan khusus (untuk anak-anak dengan pengembangan atau belajar cacat-cacat, hiperaktivitas, kurangnya perhatian, atau kekacauan-kekacauan tingkah laku),
pendidikan regular/ umum, perguruan tinggi, berbagai jenis-jenis dari rumah-rumah kelompok, divisi-divisi militer, rawatan rumah, program panti rehabilitasi, pengaturan-
pengaturan jabatan, keluarga (perkawinan atau berbagai kesulitan orangtua), dan rumah sakit dapat juga menggunakan Token Economies. Token Economies dapat digunakan
secara individu atau di dalam kelompok-kelompok.

URAIAN/PENJELASAN
Beberapa unsur-unsur yang perlu diperhatikan di dalam Token Economies:
Tokens: Semua hal yang dapat dihitung dan kelihatan dapat digunakan sebagai suatu token. Token diutamakan yang disukai, menarik, mudah untuk dibawa/dibagikan, dan
juga sulit untuk dipalsu. Biasanya menggunakan materi termasuk chip poker, stiker-stiker, objek jumlah, kelereng atau uang permainan. Ketika perorangan tampilkan perilaku
yang diinginkan, dia dengan segera diberi suatusejumlah tokens. token tidak memiliki nilai yang berarti. Namun token dikumpulkan dan kemudian dipertukarkan untuk suatu
objek yang penuh arti, kehormatan-kehormatan atau aktivitas. Individu dapat juga kehilang token (kompensasi/denda) karena menunjukkan perilaku yang tidak diinginkan.

Suatu target perilaku jelas dan nyata: Individu yang mengambil bagian di suatu Token Economies perlu untuk mengetahui persisnya apa yang mereka harus lakukan supaya
menerima token Perilaku yang tidak diinginkan dan yang diinginkan dijelaskan sebelum waktu yang ditetapkan di dalam terminologi yang sederhana dan spesifik. Banyaknya
token diberikan atau yang diambil untuk masing-masing perilaku tertentu juga ditetapkan dan dijelaskan sebelumnya.

Motif-motif Penguat/Back-up Reinforcers: Motivasi penguat adalah object yang penuh arti, kehormatan-kehormatan, atau individu menerima aktivitas sebagai pertukaran
dengan token yang mereka peroleh. Token dapat berupa mainan-mainan, waktu tambahan, atau tamasya/aktivitas diluar. kesuksesan dari suatu token economy bergantung
pada pesona(tawaran menarik/kenikmatan) dari motif-motif penguat. Individu akan hanya termotivasi untuk mendapatkan token jika mereka mengetahui bentuk penghargaan
di masa depan yang diwakili oleh tanda-tanda yang mereka terima. Suatu token economy yang dirancang akan baik dengan penggunaan motif-motif penguat yang dipilih oleh
individu sendiri dibanding oleh yang dipilih staf.

Suatu sistim yang digunakan untuk menukarkan token: perlu untuk difasilitasi suatu waktu dan tempat untuk menukarkan motif-motif penguat. Token menghargai dari tiap
motif penguat ditentukan didasarkan pada nilai keuangan, permintaan, atau nilai terapik. Sebagai contoh, jika motif penguat itu adalah mahal atau sangat menarik, nilai token
harus yang lebih tinggi. Jika nilai token diatur/tetapkan terlalu rendah, maka individu akan lebih sedikit yang termotivasi untuk mendapatkan token. Dan sebaliknya, jika nilai
itu diatur terlalu tinggi, individu akan merasa takut atau ragu dalam mendapatkan token. Adalah penting untuk masing-masing individu dapat memeperoleh sedikitnya
beberapa token.

Suatu sistim untuk merekam data: Sebelum treatmen mulai, informasi (data umum) dikumpulkan tentang masing-masing perilaku yang dilakukan oleh individu. Perubahan
perilaku kemudian direkam di lembar data keseharian. Informasi ini digunakan untuk mengukur kemajuan individu dan efektivitas dari token economy. Informasi mengenai
pertukaran dari token juga perlu untuk direkam/catat.

Implementasi konsistensi token economy oleh staf: Dalam suatu proses token economy untuk berhasil, semua fasilitator yang dilibatkan harus memberi penghargaan perilaku-
perilaku yang sama, menggunakan jumlah yang sesuai dari token, menghindari motif penguat dibagikan dengan bebas, dan mencegah token dari pemalsua, mencuri, atau
diperoleh secara tidak adil. Tanggung-jawab staf dan ketentuan-ketentuan token economy harus dijelaskan di suatu manual tertulis. staf juga perlu dievaluasi pada waktu
tertentu dan diberi peluang itu untuk bertanya atau berpendapat.

PELAKSANAAN
1. Kenalpasti tingkahlaku sasaran ( peraturan )
2. Kenalpasti bahan token. ( Cth: cip,cop bintang dll )
3. Kenalpasti ganjaran yang akan diperolehi. ( Cth: bekas pensel )
4. Kenalpasti kadar nilai ganjaran ( menu ganjaran ) ( Cth: 10 bintang dapat sebatang pensel.)
5. Murid-murid dijelaskan tentang penerimaan dan penarikan balik token.

KRITERIA PEMILIHAN TOKEN

1. Disukai oleh murid.
2. Mencukupi bila diperlukan.3. Praktis - tidak menyusahkan.
4. Dalam bentuk yang boleh dihimpunkan, dilihat, disentuh dan dibilang.
5. Tidak mudah diperolehi di tempat lain.
6. Tahan lama

KEBAIKAN SISTEM EKONOMI TOKEN

1. Dapat mengawal tingkahlaku murid.
2. Menjadi motivasi kepada murid untuk memajukan diri.
3. Tidak mengganggu pembelajaran murid-( diberi selepas pembelajaran)

JADUAL PEMBERIAN TOKEN

1. Menyiapkan tugasan yang diberi guru 3 Token

2. Menghantar tugasan tepat pada waktunya 3 Token

3. Mengangkat tangan untuk menjawab soalan 2 Token

4. Tugasan yang dibuat sentiasa kemas dan betul 2 Token

5. Tidak menganggu rakan sepanjang pengajaran guru dalam kelas 1 Token


JADUAL PENARIKAN BALIK TOKEN

1. Bergaduh di dalam kelas 4 Token
2. Tidak hadir ke sekolah 3 Token
3. Masuk ke dalam kelas lewat 2 Token
4. Menjerit ketika menjawab soalan 2 Token
5. Tertinggal alat tulis di dalam kelas 1 Token

JADUAL SEWAAN ALATAN

1. Pensel warna 4 Token
2. Pemadam 3 Token
3. Pembaris 2 Token
4. Gunting 2 Token
5. Pengasah pensel 1 Token
6. Pensel 1 Token
. Elemen Persekitaran

1.1 Unsur Bunyi
Persekitaran di sini lebih menjurus kepada persekitaran pembelajaran sama ada persekitaran
bilik darjah atau elemen-elemen di luar bilik darjah yang boleh memberikan impak kepada
proses pengajaran dan pembelajaran (P&P). Kajian telah menunjukkan ada sebahagian pelajar
akan belajar dengan lebih berkesan apabila adanya muzik dan ada pula yang perlu belajar
dengan berkesan dalam keadaan senyap (Meng, 1997).

Jadi sudah tentulah guru perlu kreatif di dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Murid-
murid selalunya akan tertarik terhadap persekitaran pembelajaran yang bercorak multimedia.
Menurut Shaikh Mohd Saifuddeen (2002), sistem multimedia yang menggabungkan
pendengaran dan penglihatan membolehkan pelajar memproses maklumat dengan berkesan.
Oleh itu penggabungan aplikasi budaya berfikir dan budaya teknologi khususnya multimedia
mampu mewujudkan persekitaran pengajaran dan pembelajaran secara lebih menarik dan
berkesan ( DickW. Dan Reiser, R.A., 1998).

Pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan multimedia menurut Dunn and Dunn
perlulah menyokong keperluan dan kehendak individu kerana individu mempunyai pendekatan
pembelajaran tersendiri. Oleh kerana itu semua sekolah di Malaysia ini telah dibekalkan LCD
projektor dan Komputer kepada guru Matematik dan Sains supaya dapat menyokong proses
pengajaran dan pembelajaran subjek tersebut. Malahan makmal komputer juga telah
diwujudkan bagi membantu pengajaran dan pembelajaran. Bunyi yang dihasilkan melalui alat
multimedia mewujudkan perhatian terhadap murid yang sukakan bunyi muzik seperti murid
dalam golongan audio dan visual.

Sebaliknya, terdapat juga pelajar yang hanya boleh menumpukan perhatian terhadap
pembelajarannya dalam keadaan yang senyap, senyap sunyi dan tenteram. Oleh itu paparan
multimedia tanpa bunyi boleh digunakan bagi membantu murid yang tidak sukakan bunyi tetapi
sukakan cahaya dan warna yang dipancarkan melalui alat multimedia seperti projector dalam
proses pengajaran dan pembelajaran. Implikasi yang wujud dari rangsangan ini memerlukan
guru bertindak secara kreatif dalam pengajaran dan pembelajaran dengan menggunakan
peralatan audio dan multimedia seperti computer riba, LCD projector, pembesar suara dan
memiliki kemahiran untuk mengendalikan perkakasan dan perisian yang sesuai berkaitan
dengan Alat Bantu Mula multimedia.

1.2 Unsur Cahaya, Suhu dan Pola
Model ini juga melihat aspek cahaya, suhu dan pola atau corak pembelajaran juga akan
memberikan implikasi. Cahaya merujuk kepada nisbah cahaya yang sesuai semasa proses
pengajaran dan pembelajaran. Kanak-kanak muda memerlukan cahaya yang kurang untuk
belajar, namun begitu apabila mereka membesar, keperluan untuk cahaya terang meningkat
(Meng, 1997). Entwistle (1988) menyatakan murid yang mempelajari sesuatu subjek secara
mendalam akan lebih mudah tertarik dan mudah memahami terhadap subjek tersebut. Oleh itu
sudah tentulah murid ini memerlukan jumlah cahaya yang terang untuk memudahkan
pembelajaran. Secara amnya, tidak ramai orang suka belajar di bawah cahaya yang malap atau
terlalu terang (Sang 2008).

Suhu sememangnya memberikan implikasi dalam P&P. Bilik darjah yang tidak memiliki
peralatan untuk menstabilkan suhu bilik pasti menimbulkan kerimasan kepada pelajar dan guru.
Bilik darjah yang tidak memmiliki kipas angin mahupun penghawa dingin sudah pasti akan
menggangu gaya pembelajaran seseorang individu. Bilik darjah yang berhawa dingin adalah
lebih selesa serta mendorong pembelajaran (Meng, 1997). Tambahan murid pendidikan khas
dalam ketegori hiperaktif sememangnya memerlukan bilik penghawa dingin kerana menurut
pakar perubatan, keaktifan murid-murid hiperaktif boleh dikurangkan jika diletakkan di dalam
bilik yang sejuk.

Pola atau reka bentuk tempat belajar pula merujuk kepada kesesuaian tempat seseorang murid
untuk belajar. Ada murid yang memiliki gaya pembelajaran yang suka belajar dengan cara
duduk, ada juga yang suka berbaring, dan ada juga yang tidak sukakan suasan pembelajaran
yang formal. Perkara ini sudah semestinya memberikan implikasi kepada pengajaran dan
pembelajaran. Sekiranya ada murid yang lebih selesa duduk di atas lantai ketika melihat
tayangan filem atau cerita, lebih baik murid-murid ini terus berada dalam keadaan tersebut
sekiranya itulah cara mereka dapat menumpukan sesuatu subjek yang dipelajari. Selain itu
tempat duduk murid juga perlu selesa. Kelesaan tempat duduk dapat mengurangkan keletihan
murid dalam sepanjang masa persekolahan. Maka, ramai pelajar suka belajar di tempat duduk
yang sesuai dengan gaya duduk yang tersendiri. Oleh itu guru perlu memastikan suasana bilik
darjah berada dalam keadaan kondusif supaya dapat menyerap apa jua gaya pembelajaran
yang ditunjukkan oleh murid. Cahaya, suhu dan susun atur bilik darjah merupakan perkara
penting di dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Sekiranya berlaku kejadian bekalan
elektrik terputus, sudah tentulah suasana kelas tidak lagi menjadi kondusif kerana wujud
keadaan panas dan gelap. Dalam kes ini guru perlu mengambil tindakan secara pantas seperti
mencari lokasi di luar bilik darjah yang sesuai untuk meneruskan pengajaran dan pembelajaran
sekaligus membantu gaya pembelajaran murid.
2.1 Motivasi
Perkara pertama yang dilihat oleh model ini dari aspek emosi ialah motivasi. Motivasi penting
untuk pembelajaran yang berkesan. Motivasi merupakan penggerak yang mendorong murid
melakukan sesuatu. Misalnya , murid yang menunjukkan prestasi yang baik boleh mendapatkan
hadiah atau kotak pensil. Pemberian tersebut yang mendorong murid-murid belajar dan ini
merupakan motivasi insentif (Meng, 1997).

Motivasi tidak seharusnya disifatkan dengan pemberian semata-mata dan berlaku dengan
bersebab tetapi terdapat motivasi yang hadir secara semulajadi iaitu motivasi yang sudah wujud
dalam diri seseorang individu. Ada murid yang bermotivasi untuk mendapatkan pencapaian
yang baik untuk kepuasan diri tanpa memikirkan ganjaran yang bakal muncul ataupun diberikan
kepada dirinya hasil dari kejayaannya di dalam bilik darjah. Jadi sudah pastilah unsur motivasi
ini memberi implikasi kepada gaya pembelajaran seseorang yang dapat dilihat melalui tingkah
laku seseorang individu dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Azali Azlan berjaya
mendapatkan 21A dalam peperiksaan Sijil Terbuka Pelajaran Malaysia hasil motivasi diri dan
motivasi luaran yang diterimanya tanpa mengharapkan ganjaran tetapi untuk kepuasan peribadi
dalam menimba ilmu. Jadi unsur motivasi ini memerlukan guru memberikan sesuatu kepada
murid di dalam pengajaran supaya murid lebih rajin dan berusaha untuk berjaya. Memberikan
ganjaran yang bersifat maujud seperti token ekonomi dan ganjaran yang bersifat peneguhan
seperti puji-pujian amat bertepatan untuk membantu membentuk motivasi murid KESIMPULAN

Model Dunn and Dunn sememangnya memberikan kesan kepada gaya pembelajaran individu.
Guru-guru perlu memahami implikasi model ini dalam kelas supaya langkah-langkan atau
tindakan yang sesuai boleh diambil dalam pengajaran dan pembelajaran agar menjadi lebih
menyeronokkan dan bermakna.

Model ini telah mengenal pasti beberapa prinsip yang perlu ditadbir oleh guru dan guru-guru
perlu menunjukkan komited yang tinggi dalam merencana prinsip-prinsip ini. Prinsip semua
individu boleh belajar; struktur persekitaran, sumber, dan pendekatan merupakan respon
kepada kepuasan dalam kepelbagaian gaya pembelajaran; dan semua orang memiliki kekuatan
tetapi kekuatan ini berbeza merupakan antaran prinsip pembelajaran yang harus diperhatikan
oleh guru-guru.

Prinsip-prinsip ini pula telah diterjemahkan melalui elemen atau rangsangan yang telah
disyorkan oleh Dunn and Dunn. Rangsangan alam sekitar, emosi, sosiologi, fisiologi, dan
psikologi merupakan cermin atau pemboleh ubah yang dapat mengesan gaya pembelajaran
seseorang dan implikasi yang dicetuskan melalui rangsangan-rangsangan ini.
Oleh itu model ini telah memudahkan para guru untuk melihat gaya pembelajaran seseorang
individu dan mengatur strategi dan kaedah pengajaran dan pembelajaran yang sesuai untuk
mereka

Mengikut George Morrison (1995), behavior modification means the conscious
application of the methods of behavioral science with the intent of changing childrens
behavior. Ini menunjukkan bahawa teknik modifikasi tingkah laku merupakan salah satu
strategi yang boleh digunakan oleh guru prasekolah untuk mengatasi masalah yang
timbul di dalam kelas. Modifikasi tingkah laku terdiri dari pelbagai teknik iaitu
peneguhan, hukuman, shaping, kontrak, pengurusan kendiri, kawalan kendiri, modeling
time-out dan token ekonomi.
Mengikut petikan dari Kazdin, 1977, 1982b, McLaughlin & Williams,
(1988),dalam Klimas & McLaughlin(2007):One of the most powerful and data-based
procedures to improve classroom behavior has been to employ a token economy. Ini
menunjukkan bahawa, kaedah token ekonomi memberi kesan yang sangat besar terhadap
perubahan tingkah laku seseorang individu atau kumpulan. Sistem token akan
meningkatkan tingkahlaku yang diinginkan serta mengurangkan tingkahlaku yang tidak
diinginkan. Individu akan diberi token setelah menunjukkan tingkahlaku yang diinginkan
dan mengumpul token untuk ditukarkan dalam bentuk ganjaran seperi hadiah atau pujian.
Ganjaran adalah berbentuk motivasi kepada kanak-kanak agar mereka mengulang tingkah
laku yang diingini. Mengikut Paul Dix (2007), dimana manusia akan bermotivasi melalui
penghargaan terhadap kerja yang dilakukan, pujian dan ganjaran. Beliau juga
berpendapat bahawa pujian merupakan alat yang sangat berkuasa untuk menanganimasalah
tingkah laku di dalam kelas. Ini menunjukkan kanak- kanak akan menunjukkan
tingkah laku positif jika sentiasa diberi pujian dan ganjaran oleh guru mereka.
Selain itu, mengikut kajian yang pernah dijalankan oleh Anhalt, McnNeil & Bahl
(1998) dalam Filcheck &McNeil (2004), penggunaan token ekonomi untuk mengatasi
masalah tingkah laku di peringkat kelas prasekolah telah terbukti berkesan. Kenyataan ini
juga turuk disokong oleh, McGoey & DuPaul (2000) dalam Filcheck &McNeil (2004),
menyatakan bahawa penggunaan kaedah token ekonomi dapat mengatasi masalah tingkah
laku di dalam kelas prasekolah Namun begitu, penggunaan sistem token menjadi subjek
kontroversi dalam
sistem pendidikan. Lepper dan Greene (1978) dalam Klimas & McLaughlin (2007)
menyatakan bahawa, pemberian ganjaran memberi penurunan terhadap tingkahlaku yang
sesuai di dalam kelas. Manakala Kohn (1999), menyatakan pemberian token ini adalah
bersifat rasuah kepada pelajar. Di mana pelajar akan melakukan sesuatu tindakan atau
kelakuan jika diberi ganjaran. Selain itu, penggunaan token ekonomi di dalam kelas
prasekolah jiga boleh menyebabkan kanak-kanak bersaing sesama mereka. Sebagai
contoh, kanak-kanak akan bersaing sesama mereka untuk mendapat jumlan token yang
paling banyak. Ini akan memberi kesan negatif kepada kanak-kanak tersebut, di mana
kanak-kanak akan lebih mementingkan diri sendiri dari mempelajari kepentingan
bekerjasama dalam kumpulan dan mengamalkan sikap suka menolong antara satu sama
lain.2.0 KUMPULAN SASARAN
Kajian ini melibatkan melibatkan dua orang murid prasekolah Bestari di Sekolah
Kebangsaan Pulau Rusa. Responden merupakan bangsa Melayu dan berumur 6 tahun.
Prestasi akademik responden adalah lemah berdasarkan maklumat yang diberikan oleh
guru kelas. Permilihan responden dibuat berdasarkan permasalahan yang dikaji dan
berdasarkan hasil pemerhatian yang telah dijalankan. Selain itu, kenyataan oleh Paul Dix (2007),
manusia akan bermotivasi melalui
penghargaan terhadap kerja yang dilakukan, pujian dan ganjaran. Beliau juga
berpendapat bahawa pujian merupakan alat yang sangat berkuasa untuk menangani
masalah tingkah laku di dalam kelas. Selain itu, dapatan ini adalah selari dengan
kenyataan Kazdin, 1977, 1982b, McLaughlin dan Williams,(1988) dalam Klimas dan
McLaughlin (2007):One of the most powerful and data-based procedures to improve
classroom behavior has been to employ a token economy. Ini menunjukkan bahawa,
kaedah token ekonomi memberi kesan yang sangat besar terhadap perubahan tingkah
laku seseorang individu atau kumpulan.

Mengikut kajian yang telah dijalankan oleh McLaughlin, & Williams (1990),
mereka mendapati bahawa kaedah pemantauan diri yang digabungkan dengan kaedah
peneguhan yang lain sangat berkesan dalam mengurangkan tingkah laku mengganggu di
dalam kelas. Melalui gabungan kaedah ini, kanak-kanak tidak hanya akan bergantung
kepada pemberian hadiah atau ganjaran untuk mengubah tingkah laku tetapi mereka
perlu sentiasa memantau tingkah laku mereka agar sesuai dengan keadaan persekitaran
mereka.
Selain itu, kajian yang dijalankan ini mengambil masa hanya sebulan sahaja. Ini
menyebabkan masa untuk mengumpul data sangat terhad. Diharapkan kajian ini dapat
dijalankan dalam tempoh yang lebih lama supaya proses perlaksanaan kajian menjadi
lebih efektif dan dapat dijalankan dengan lancar dan sempurna.
REFLEKSI PENGAJARAN MIKRO PEMBELAJARAN BAHASA MELAYU( MOHD
IMRAN BIN HUSSIN )
Refleksi Pengajaran dan Pembelajaran
Melalui pemerhatian sepanjang menjalani praktikum, pengkaji mendapati keadaan
kelas
prasekolah dilihat kurang bersih apabila selesai sesuatu aktiviti yang dijalankan.
Sebagai
contoh, apabila selesai sesuatu aktiviti, seperti menggunting kertas dan mengoyak
kertas
di dapati sesetengah murid prasekolah tidak mengutip sampah yang terdapat di atas
lantai dan membuangnya ke dalam tong sampah.
Selain itu, pengkaji turut mendapati sesetengah murid prasekolah tidak
menyimpan semula permainan yang telah digunakan seperti lego dan bongkah kayu
selepas selesai bermain. Pengkaji mendapati mereka akan membiarkan alat permainan
bersepah di atas lantai dan tidak menyimpannya semula di tempat asal. Walaupun telah
di arahkan oleh guru untuk mengemas dan menyimpan semula permainan yang
digunakan, masih terdapat murid-murid prasekolah yang membiarkan sahaja alat
mainan
tersebut bersepah di atas lantai.
Ini menyebabkan pengkaji sering memarahi murid-murid prasekolah kerana
tidak mengemas barang dan permainan yang mereka gunakan. Pengkaji juga pernah
menyorokkan alat permainan di dapur prasekolah kerana terlalu marah dengan sikap
murid-murid prasekolah yang tidak menyimpan semula alat mainan yang mereka
gunakan.
Oleh itu, pengkaji berpendapat sikap murid-murid prasekolah yang kurang
bertanggungjawab kebersihan kelas mereka perlu diubah dengan segera supaya
proses
pengajaran dan pembelajaran (P&P) dapat dijalankan dengan lancar tanpa sebarang
gangguan.1.2 Latar Belakang Kajian
Sukatan pelajaran Kurikulum Standard Prasek

Refleksi: Guru berasa gembira kerana objektif pengajaran dan pembelajaran pada hari ini telah
tercapai walaupun terdapat beberapa orang murid yang masih lemah penguasaannya dalam
membezakan cara menulis huruf konsonan dan vokal kemahiran motor halus amat sederhana dan
diharap pada pengajaran dan pembelajaran akan datang,latihan pengukuhan dan bimbingan guru
akan diperbanyakkan
. Intervensi Tingkah Laku Memberi ganjaran dan pengukuhan bagi tingkah laku yang diingini
yang ditunjukkan Strategi pencegahan iaitu menghentikan tingkah laku yang tidak sesuai
ketika baru bermula atau ketika masih ringan Token ekonomi memberi ganjaran dalam bentuk
token ( sticker, syiling palstik, dll) yang mempunyai nilai ekonomi, aiitu boleh ditukar dengan
barang yang disukai. Intervensi Pengajaran Arahan yang diberikan hendaklah jelas, ringkas, dan
lengkap Apabila memberi arahan, minta murid mengulang arahan tersebut kepada anda
Pecahkan tugasan yang kompleks/ besar kepada bahagian-bahagian yang lebih kecil Gunakan
banyak tindak balas aktif sepanjang pengajaran Gunakan kaedah pelbagai sensori dalam
pembelajaran Libatkan pelajar dalam aktiviti
pembelajaran Alhamdulillah, bersyukur saya ke hadrat Ilahi kerana dengan limpahkurniaNya,
dapatlah saya menyiapkan rancangan pengajaran harian BahasaMelayu tahun 2 dan
juga pengajaran mikro berdasarkan rancangan pengajaran yangdibuat. Terima kasih juga saya
ucapkan kepada dua orang lagi ahli kumpulan sayaiaitu Puan Intan hahele Bt Abu eman dan
Puan Nurul Akma Bt Abdul !ani keranatelah bertungkus lumus dan banyak membantu saya
dalam menyiapkan
tugasanyang diberi ini. elain itu, saya juga ingin mengucapapkan ribuan terima
kasihkepada pensayarah kami iaitu Puan "ajah "asnah Binti Mohd aleh yang
banyakme mb e r t unj uk a j a r ke p a d a s a ya da n j u ga a hl i ku mpul a n ya n g l a i
n u nt u k memyiapkan kerja kursus yang diberi
ini.#ntuk rancangan pengajaran harian, kumpulan kami telah memilih untukmemb
uat rancangan pengaj aran harian Bahasa Malaysia untuk $ ! tahun 2. !ancangan
pelajaran ini berdurasi selama % jam. Tajuk yang kami pilih ialah tajukBersih &an ihat
di ba'ah tema $elas (eria. )bjekti* pembelajaran bagi rancanganpengajaran ini ialah yang pertama
sekali murid dapat mengisyaratkan *rasa dan ayatdengan betul dan objekti* yang kedua ialah
murid dapat menulis ayat berdasarkan*rasa yang diberikan. elepas selesai membuat
rancangan pengajaran harian, sayatelah melaksanakan satu sesi pengajaran mikro dalam
bilik darjah untuk jangkamasa + minit. Pelbagai impak yang saya perolehi semasa
menjalankan pengajaranmikro tersebut terutama sekali dari segi suasana pembelajaran murid-
murid di dalambilik darjah dan juga situasi saya sendiri se'aktu menjalankan pengajaran
mikrotersebut. aya mendapati baha'a suasana pembelajaran kelas yang kurang
e*ekti*kerana bersebelahan dengan tandas yang terdapat banyak pergerakan pelajar
laindi ka'asan berkenaan menyulitkan lagi keadaan pembelajaran dan menggangut umpua
n pel aj ar t er ut ama se' akt u pembel aj ar an ber l angsung. Bunyi -
bunyi menyebabkan rasa kurang selesa apabila suara guru kurang didengari oleh
setiappelajar di dalm kelas. Murid juga hilang *okus untuk memerhati dengan teliti isyaratyang
ditunjukkan oleh guru. aya mempunyai satu pandangan yang mana ada sesetengah pelajar
hanyaberminat disebabkan oleh cara bahan alat bantu mengajar digunakan dan
tidak

secara keseluruhan. "al ini kerana,apabila bermulanya pembelajaran menggunakanalat bantu
mengajar terutamanya dengan menggunakan (&, pelajar mula berasasuka dan teruja
memulakan pembelajaran. aya percaya baha'a keberanian pelajardalam pembelajaran dapat
dinilai jika adanya perhubungan dua hala antara
gurudan pelajar. aya percaya baha' a interaksi pelajar dan guru perlu selalu adas
upaya pelajar merasakan diri mereka dekat dengan guru. Pelajar akan berasa lebihyakin dalam
memberitahu mengenai apa yang dirasakan tidak *aham dan jika adapersoalan dalam diri
mereka. aya sedar hubungan antara guru dan pelajar bukanlah berasaskan sikapgarang
namun perlulah ada sikap hormat menghormati kerana setiap pelajar akanlebih selesa jika
guru sentiasa menjadi pendamping setiap masa. aya juga
belajarunt uk ber i nt er aks i dengan pel aj ar , memahami mas al ah pel aj ar dan s ent
i as aberdamping dengan pelajar supaya pelajar tidak berasa kekok dengan saya.
ayaterpanggil untuk mendekati pelajar saya pada masa akan datang dan menjadi ka'anterbaik
untuk mereka. aya rasa penambahbaikan perlu dilakukan dari segi cara menguasai pelajardan
kelas. Penggunaan masa juga perlu dititikberatkan terutamanya apabila
aya juga akan cuba menyediakan lebih banyak alat bantu mengajar kepada pelajar.$erana
ianya lebih menarik minat pelajar. aya juga merasakan pembelajaran perludilakukan di
ka'asan yang selesa . oleh itu,lebih baik jika pembelajaran dibuat di dal am bi l i k-
bi l i k l ai n di s ebabkan t er l al u banyak gangguan di ka' as an yangberhampiran
dengan kelas tersebut. /anjaran seperti gulu-gula dan lain-lain
lagi juga boleh dijadikan sebagai satu cara bagi merangsang sikap pembelajaranmereka. Akhir se
kali, guru perlu melakukan re*leksi kendiri bagi menilai sejauh manakeberkesanan kaedah p
engajaran yang dilaksanakan. Ia dapat dinilai dari segipenguasaaan para pelajar
mengenai objekti* pengajaran pada hari tersebut. Iabukan dinilai dari segi sukatan
mata pelajaran yang dapa dihabiskan. Pemantauandan penilaian perlulah dilakukan agar
rancangan pengarajaran tidak
menyimpangdar i mat l amat dan obj ekt i * pengaj ar an yang di t et apkan. el ai n i
t u i a dapat memastikan pelajar menguasai pengajaran dan dinilai melalui ujian bertulis dan
soal ja'ab dengan para pelajar mengenai topik terbabit
1.0 Pengenalan
Program ekonomi token terbukti efektif dalam mencetus perubahan tingkah laku individu. Untuk melihat
sejauh mana keberkesanannya, kita perlu memahami terlebih dahulu konsep tingkah laku dan ekonomi token itu
sendiri. Perlu diketahui bahawa, teori tingkahlaku mengandaikan bahawa tingkahlaku adalah ciri-ciri asas pada
organisma yang hidup. Prosedur-prosedur tingkahlaku analitik menegaskan bahawa spesifikasi tepat dan
pengukuran terhadap tingkahlaku pemerhatian sebagai panduan asas. Andaian seterusnya adalah tingkahlaku
boleh diubahsuai melalui pembelajaran dan perubahan tingkahlaku tersebut adalah fungsi kepada perubahan
dalam persekitaran.
Menurut Stone (2007), sekiranya tingkahlaku boleh dipelajari maka sudah tentu ia boleh diubah atau diubahsuai.
Kebanyakan tingkahlaku berbentuk operan dan bukannya responden . Oleh itu tingkahlaku berubah apabila
persekitaran berubah dan menyediakan konsekuens yang berbeza. Menurut beliau lagi, operan adalah tingkahlaku
disengajakan (voluntary) termasuk kebanyakan perkara yang kita lakukan atau ucapkan setiap hari. Responden
pula merupakan reflexus atau respon automatik terhadap rangsangan sebelum itu.

Beralih kepada konsep ekonomi token. Secara umum, ia merupakan satu sistem pengukuhan secara
simbolik. Murid diberi token apabila menunjukkan tingkahlaku yang diingini. Program ini dipanggil sebagai sistem
ekonomi kerana berasaskan sistem kewangan, iaitu token yang diterima mempunyai nilai ekonomi dan boleh
ditukar dengan benda atau aktiviti yang dikenalpasti sebagai pengukuhan kepada murid. Teknik pengubahsuaian
tingkah laku menggunakan sistem token iaitu merupakan satu modifikasi tingkahlaku yang dirancang untuk
meningkatkan tingkahlaku yang diinginkan serta mengurangkan tingkahlaku yang tidak diinginkan dengan
menggunakan token.

Kelebihan dalam kontrak secara lisan dan bertulis ini adalah murid yang berkenaan akan memainkan
peranan yang aktif dalam jenis dan kuantiti tugas yang perlu dilakukannya. Dengan itu, murid berkenaan akan
memupuk sikap yang bertanggungjawab ke atas tugasan yang dikehendakinya lakukan. Selain itu, data tersebut
yang dikumpulkan oleh guru boleh digunakan untuk merancang program, hasil pembelajaran dan matlamat
perkembangan yang selaras dengan murid berkenaan.


1. Definisi Ekonomi Token

Menurut Miltenberger (2004), token ekonomi adalah sebuah teknik dimana individu mendapatkan token
untuk tingkah laku diingini yang ditunjukkan. Token yang dihasilkan boleh ditukar pula dengan peneguh simpanan
(backup reinforcer). Tujuan token ekonomi dilakukan adalah untuk meneguhkan tingkah laku yang diinginkan
terhadap klien. Token ekonomi juga digunakan sebagai intervensi untuk mengurangkan tingkah laku yang tidak
diingini melalui sebuah struktur semasa rawatan.

Dalam kata lain, ekonomi token ialah satu sistem pengurusan di mana guru dan murid bersetuju tingkah
laku sasaran yang akan diberi peneguhan. Murid diberi token dengan segera jika melakukan tingkah laku sasaran.
Token ini kemudiannya boleh ditukarkan dengan ganjaran atau hadiah yang disukai oleh murid. Token dapat
diperolehi / dikumpulkan mengikut cara murid bertingkah laku. Murid mengawal tingkah laku; guru mengawal
peneguhan. Token yang dikumpulkan semakin meningkat nilainya kerana aktiviti, bahan, atau keistemewaan yang
boleh ditukarkan dengannya.
Setiap poin yang diterima untuk tingkah laku yang diingini adalah merupakan token. Setiap kali klien
menunjukkan tingkah laku yang diingini, klien akan diberikan token.Kemudian token ditukarkan dengan peneguh
simpanan. Apabila token dipasangkan dengan peneguh yang lain, maka hal tersebut akan menjadi satu peneguh
baru yang dapatmemperkuatkan tingkah laku yang diingini.

Peneguh simpanan hanya dapat diperolehi dengan menggunakan token ekonomi. Manakala token pula
hanya dapat diperolehi apabilatingkah laku yang diingini ditunjukkan. Peneguh simpanan dipilih kerana kaunselor
mengetahui kekuatan peneguh kepada klien semasa dalam tempoh rawatan. Oleh itu, klienakan bermotivasi untuk
menunjukkan tingkah laku yang diingini dan akan mengelak tingkahlaku yang tidak diingin.

Individu diberi token setelah menunjukkan tingkahlaku yang diinginkan dan mengumpul token tersebut
serta menukarkannya dengan sesuatu objek atau penghargaan. Sistem ekonomi token ini merupakan sistem
reinforcement untuk tingkahlaku yang dirancang. Individu tersebut mesti diberi ganjaran untuk meningkatkan
perilaku yang dikehendaki. Individu akan terangsang serta bermotivasi untuk melakukan perubahan tingkahlaku
untuk mendapatkan token yang mempunyai nilai.

2. Garis Panduan

Suatu token ekonomi yang dirancang dengan baik akan menghasilkan perubahan tingkahlaku yang
dikehendaki terutamanya jika individu itu memilih motif motivasinya sendiri. Semua perkara (tingkahlaku ) yang
dapat dihitung dan nampak dapat digunakan sebagai token. Sekiranya individu menunjukan pengubahsuaian
tingkahlaku yang dikehendaki, dia dengan segera diberi token kerana perubahan tingkahlakunya.

Burrhus F. Skinner telah membuat suatu teori berkaitan dengan prinsip-prinsip utama pelaziman operan
atau tindak balas terhadap sesuatu perlakuan. Dalam teori ini, makhluk hidup mempunyai pilihan untuk berindak
balas atau tidak, berasaskan kepada ganjaran yang disediakan. Ianya bermaksud, ianya ransangan dari
persekitaran. Teori prinsip-prinsip utama pelaziman operan Skinner terbahagi kepada dua bahagian:


a. .Peneguhan positif
Dalam peneguhan positif ini, sesuatu mahkluk hidup yang diberikan upah/ ganjaran/ hadiah atau apa sahaja
bentuk pengukuhan atas apa sahaja yang dilakukannya akan mengulangi perlakuan atau perbuatan tersebut.

b. Peneguhan negatif
Dalam peneguhan negatif pula, sesuatu ganjaran akan ditarik semula sekiranya pelajar menunjukkan tingkahlaku
negatif berdasarkan Jadual Penarikan Token. Contoh perlakuan yang akan ditarik tokennya ialah seperti bergaduh
didalam kelas, masuk ke kelas lewat dan sebagainya

Berikut adalah garis panduan untuk melaksanakan program ekonomi token.

i. Pemilihan Token

Token diutamakan yang disukai, menarik, mudah untuk dibawa atau diberikan serta tidak mudah untuk
diselewengkan. Biasanya token menggunakan material seperti chip poker, stiker-stiker, jumlah objek atau wang
permainan. Token tidak memiliki harga. Namun token yang telah dikumpul kemudiannya ditukar dengan sesuatu
yang bernilai, penghargaan atau aktiviti yang disukai. Individu yang menunjukkan tingkahlaku yang tidak
dikehendaki akan juga kehilangan token.

Banyak benda yang dapat di pakai sebagai token. Anda dapat menggunakan wang mainan, kelereng, kacang,
kancing, sticker. Pilih token yang mudah untuk dihitung, dapat dilihat, disukai, sukar untuk dipalsukan dan selamat
digunakan. Oleh yang demikian, saya telah memilih stiker berbentuk bintang sebagai token ini kerana stiker lebih
mudah dijaga dan disimpan dan simbol bintang juga sinonim dengan maksud skor dan pencapaian yang biasa
digunakan dikebanyakan institusi. Saya telah memilih token bintang untuk menyelesaikan masalah murid tersebut.
Selain itu, token bintang adalah sistematik dan amat sesuai digunakan kerana ianya cepat dan mudah diberikan
kepada murid.

Token diberikan dengan murid menampal token tersebut pada kad yang disediakan. Jika sebarang tingkah
laku negatif wujud token akan ditarik balikStiker tersebut terdiri daripada beberapa warna untuk mewakili nilai
token yang berbeza. Berikut adalah stiker token yang digunakan bersama carta ekonomi token yang diperlu
ditampal di bahagian yang sesuai dan mudah dilihat di dalam kelas.

Berikut adalah kriteria utama Pemilihan Token

Disukai oleh murid.

Mencukupi bila diperlukan.

Praktis - tidak menyusahkan.

Dalam bentuk yang boleh dihimpunkan, dilihat, disentuh dan dibilang.

Tidak mudah diperolehi di tempat lain.

Tahan lama

3. PENGENALAN
4. Menurut Hallahan dan Kauffman (2006):Pendidikan Khas didefinisikan sebagai satubentuk
pendidikan yang disediakan untukmemenuhi keperluan kanak-kanakberkeperluan khas.
Gargiulo (2003) pula menyatakanPendidikan Khas merupakan programpengajaran khusus yang
di reka bentuk bagimemenuhi keperluan pelajar luar biasa. Iamungkin memerlukan penggunaan bahan-bahan peralatan dan kaedah
pengajarankhusus. Friend (2005) menyatakan Pendidikan Khasadalah pengajaran yang di reka bentukkhusus bagi memenuhi keperluan kanak-kanak yang
kurang upaya. Pengajaran inimungkin dikelolakan dalam bilik darjah, dirumah, di hospital atau institut lain.4
5. Perkembangan dan penggunaan ICT(Information and Communication Technology)atau
dipanggil Teknologi Komunikasi danMaklumat, khususnya dalam pendidikan, bukanlagi
merupakan sesuatu yang asing di Malaysia. Perkembangan ICT menjanjikan potensi besar,terutama
dalam pendidikan, iaitu denganmengubah cara seseorang belajar, caramemperoleh maklumat, cara
menyesuaikansetiap maklumat, dan sebagainya. Sejajar dengan perkembangan ICT dalam
duniapendidikan, Kementerian Pelajaran Malaysia(KPM) telah mengambil beberapa langkah
dalammengintegrasikan penggunaan ICT dalam prosespengajaran dan pembelajaran (P&P) di
semuaperingkat sekolah termasuklah sekolahPendidikan Khas.5
6. Penerimaan Guru dan Pelajar TerhadapPenggunaan ICT dalam Program Pendidikan Khas
Menurut Tan Ai Goh(1998), penggunaan komputer dalampengajaran dan pembelajaran bukansahaja
membantu guru mencapaiobjektif pedagoginya, malah iamemberi peluang kepada pelajar
untukmencuba cara pembelajaran yangbaru. Sokongan daripada pihak pentadbirjuga banyak
memainkan peranansejauh mana penerimaan komputer dikalangan guru dan pelajar pendidikankhas.
7. Peranan guru pendidikan khas akanmenentukan minat pelajar terhadappenggunaan komputer
kerana guru banyakmencorak keperibadian pelajar, lebih-lebih lagipelajar khas. Guru-guru
pendidikan khas juga mempunyaikesedaran tentang kepentingan penggunaankomputer dan ini
menyebabkan mereka selalumengikuti kursus komputer. Komitmen ini membolehkan
penggunaankomputer dalam pengajaran berlaku denganberkesan dan dapat menarik minat
pelajaruntuk belajar. Kajian di Malaysia juga menunjukkan denganjelas bahawa guru-guru
mempunyai sikap danpenerimaan yang tinggi terhadap penggunaankomputer dalam pengajaran.7
8. Namun masih terdapat segelintir guru yang kurang menyedari tentangpentingnya penggunaan
komputer dalam pelaksanaan tugas harianmereka, dimana mereka masih menggunakan teknik
pengajarantradisional. Selain itu,kajian juga mendapati pelajar pendidikan khas kurangmenerima
penggunaan komputer semasa pembelajaran di dalamkelas kerana penerimaan mereka terhadap
teknologi ICT masih baru. Pelajar jarang menggunakan komputer dalam pengajaran danpelajaran
mereka, kerana mereka kurang didedahkan denganpenggunaan komputer di sekolah dan di sekolah.
Oleh itu, bagi meningkatkan pengetahuan dan kemahiran pelajarmenggunakan komputer, guru
memainkan peranan penting dalammemupuk sikap positif pelajar supaya penerimaan mereka
terhadappenggunaan komputer adalah pada tahap optimum.8
9. KepentinganICTMeningkatkankefahaman danpenguasaanpelajar.Memberi peluang
yangsama kepada kanak-kanak pendidikan khasmeneroka berdasarkankeupayaan
mereka.Mewujudkansuasanapembelajaran yangmenyeronokkandan mencabar
10. MeningkatkanmotivasimuridMembolehkanmuridmengaksesmaklumat
yangsukarMeningkatkandaya kreatifdan imaginasimuridMembolehkan
muridmengumpulmaklumatyang diperlukan
11. Penggunaan komputer mengajar komunikasiPenggunaan gambar dianggap lebih
murah dankurang bahaya jika dimakan.Ditambahkan dengan gambar memudahkanmurid
membuat pilihan.Aspek penggunaan ICT
12. VOCA boleh diprogram untukmenghasilkan pertuturan. Menggunakan
PictureExchange CommunicationSystem (PECS) Dapat mengurangkan masalahtingkah
laku Meningkatkan kemahirankomunikasi Memperbaiki interaksi sosial14
13. Penggunaan ICT DalamPendidikan Khas
14. Mouthstick and Slant Board Digunakan oleh mereka yangmempunyai masalah
dalampergerakan tangan sama adapenggunaan lengan yangterhad ataupun tidak
dapatmenggerakkan tangan. Slant board tersebut boleh diubah kedudukan
mengikutkesesuaian ketinggian pelajardan keselesaan.
15. Diletakkan pelekat huruf yang lebih besar.Membantu pelajar-pelajar yang
mempunyaimasalah penglihatan rabun.Papan kekunci yang biasa juga boleh dibuatlubang
pada setiap huruf tersebut agar pelajaryang mempunyai masalah motor mudah
untukmenekan huruf-huruf yang terdapat padapapan kekunci tersebut.Papan kekunci yang
telah dimodifikasi
16. Papan kekunci alternatif Terbahagi kepada duaiaitu papan kekuncialternatif besar
danpapan kekunci alternatifkecil.
17. Papan kekunci sesentuh dan skrinsesentuh Membantu pelajar yang
mempunyaipergerakan motor yang terhad untukmenggerakkan cursor pada skrindengan
hanya menekan kepada apayang dikehendakinya di skrin. Dipadankan dengan
pentafsirperkataan yang akan memberikanperkataan seerti kepada perkataanyang telah
ditaip kerana kadang kalapelajar salah ketika menaipperkataan.
18. Pelajar dapat menulisperkataan pada komputer tanpamenggunakan apa-apa
kecualibercakap.Memudahkan pelajar yangmempunyai masalah fizikal(tangan) serta
mengendalikankomputer.Program Pengenal Suara
19. Talking Word Processors Salah satu sokongan membaca kepada pelajar semasa
merekamembaca mahupun menulis kerana program ini telah dirangka. Untuk membantu
membunyikan huruf, membaca perkataan, ayat danperenggan. Program ini turut dapat
membaca perkataan yang sedang ditulis.
20. Portable Word Processor: AlphaSmart Diubahsuai sesuai dengan keperluan pelajar.
Alat ini adalah senang di bawa kerana mempunyai saiz yang kecil sertaringan. Mempunyai
sistem penstoran fail. Boleh dimuat turun kepada komputer menggunakan wayar dan
jugaboleh terus untuk dicetak.
21. Adapted Tape Recorders ( pita perakam ) Kepada pelajar yangmempunyai
masalahpenglihatan danbermasalahpembelajaran. Mendengar semulapengajaran yang
telahdiajar oleh guru ketika didalam kelas. Pelajar dapat membuatulang kaji secara
berkalauntuk menguatkan lagidaya ingatan mereka.
22. CCTV Membantu terutamanya kepada pelajar yangmengalami masalah penglihatan
terhad ataurendah Untuk membesarkan perkataan, gambar dan objek.
23. Winsford Feeder Alat tersebut dicipta khas kepadapelajar yang tidak
sempurnaanggota tangannya ataupun tidakmempunyai motor untukmenggerakkan
bahagian atas tubuhbadannya. Memberi makan denganmemusingkan
pinggan,mencedukkan makanan danmenyuapkan makanan tersebut.
24. Melalui penggunaan alat inipelajar dapat menggerakkansesuatu barang denganhanya
menekan satu butang.kepada pelajar yangmempunyai masalah fizikalSwitches
25. Prone Stander Seorang ahli terapi fizikal yang disarankan oleh akanmembantu dan
membimbing pelajar yang mempunyai masalahfizikal untuk menggalakkan
pertumbuhantulang, perkembangan otot. Pelajar selalunya akan menggunakan alatan ini
ketika merekasedang melakukan aktiviti-aktiviti seperti membacabulu, membasuh pinggan
mahupun ketika mereka sedangmelukis.
26. Positron Emission Tomography (PET) dan FuntionalMagnetic Resonance
Imaging(fRMI) Kedua alat ini berfungi untuk mengukur darah yangmengalir semasa
berlakunya aktiviti otak. Berfungsi untuk melihat perbezaan di antara disleksiadan bukan
disleksia.
27. Membantu kanak-kanak hiperaktif ataupunkanak-kanak sindrom down mahupun kanak-
kanak yang mempunyai masalah untukmengurus kehidupan seharian
mereka.Memperingatkan kanak-kanak atau individuuntuk melakukan sesuatu perkara
seperti yangtelah ditetapkan.Digabungkan bersama dengan terapi ekonomitoken di mana
sekiranya pelajar berjayamengikuti jam yang tersebut maka merekalayak untuk diberikan
token.Reminder Watch
28. Dapat menulis mengenai peringatanseperti memulangkan buku
keperpustakaan.Membantu mereka untuk menulistugaasan mereka di sekolah mahupun
dirumah.Membantu untuk merekod ganjaran hasildaripada tingkah laku positif
mereka.Memuat turun aplikasi yang berkaitandengan pelajaran sebagai contoh
aplikasikamus dan pemeriksaan kesalahan ejaan.Personal Digital Assistant (PDA)
29. Satu perisian yang memprosesperkataan dan juga sebagaipengkalan data.Membantu
individu denganmembuat senarai perkataanyang selalu mereka gunakanserta
membahagikannyakepada beberapa kategoriseperti kategori makanan,aktiviti dan
sebagainya.perisian ini tururt membantudengan membunyikanperkataan yang telah
dipilih.TypeIt4Me
30. Juga dikenali sebagai Typing TextTelephone (TTY).Alat ini digunakan untukmembalas
dengan cara menaip.Kepada individu yang mempunyaimasalah
pendengaran.Telecomunication Device for The Deaf (TDD)
31. TRS ini adalah merupakan satuperkhidmatan yangmenghubungkan tiga pihak dimana
penerima, si penelefon danjuga orang tengah.Penerima yang tidak mempunyaiTTD akan
menggunakan servis inidan melalui servis ini mereka iniakan menaip melalui TTD
yangkemudiannya akan dihantarkepada si penerima.Telecomication Relay Service (TRS)
32. Merupakan satu alat yangmenyerupai seperti web cam.Kemudiaannya
jurubahasabahasa isyarat akanmenterjemahkannya kepadapenerima panggilan.Individu
yang mempunyaimasalah pendengaran danjuga masalah pertuturan bolehberkomunikasi
menggunakanbahasa isyarat.Video Relay Service (VRS)
33. Merupakan satu perisisan dimana komputer mengsintesisucapan pengguna
danmentafsir apa yang telahdiperkatakan.Perisian ini dapat digunakanoleh mereka yang
mempunyaimasalah penglihatan.Ini membolehkan penggunauntuk mengawal
komputerdengan suara, bukannya untukmenggunakan tetikus danpapan kekunciSpeech
Synthesis
34. Perisian Terjemahan Braille Perisian ini boleh digunakan sama ada untukmenukarkan
teks kepada kod braile ataupunmenukarkan kod braile kepada teks biasa. Perisian ini
adalah direka kepada individu yangmempunyai masalah penglihatan. Di antara contoh
:1.Braille20002.TurboBraille3.Duxbury Braille Translator
35. notetakers Pengguna notetaker Braille juga mempunyaipilihan untuk memasukkan
maklumat kedalam alat ini, dan kemudian bolehmemindahkannya ke komputer yang
lebihbesar memorinya. Ia direka khas kepada individu yangmempunyai masalah
penglihatan. Alat ini juga boleh menyediakan tugas-tugasasas organisasi, seperti kalendar
dan merekajuga boleh digunakan untuk menghantar /menerima mesej e-mel
36. Multimedia Social Story Membantu individu yang mempunyai masalah autisme. Dapat
meningkatkan keyakinan mereka untukberkomunikasi dengan individu yang lain. Perisian
ini direka bertujuan untuk mengajar kemahirantertentu seperti mengambil kira pendapat
orang lain,memahami peraturan, rutin dan juga apa-apa situasi.
37. Kerusi Roda Merupakan satu alat dimana iadilengkapi dengan pelbagaivariasi sama
ada menggunakanmotor mahupun secara manualiaitu menggunakan tangan sahajauntuk
menggerakkan kerusi roda. Membantu memudahkanpergerakkan
38. Tujuan direka atau sistem yangmembolehkan seseorang untukmengendalikan
peralatandalam persekitaran mereka.Boleh meningkatkankebebasan seseorang dankualiti
hidup denganmenghapuskan keperluanuntuk mengawal kawalan jauhstandard atau
suis.Peranti ini dapat membantuindividu yang mempunyaimasalah fizikal sepertikecacatan
pelbagai dan jugacerebral palsy.Boleh mengendalikan visualaudio (seperti
televisyen,stereo dan pemain DVD),lampu, penghawa dingin, kuncipintu dan membuka
pintu,langsir dan sistemkeselamatan.Unit Kawalan Alam Sekitar ( Enviromental
ControlUnits (ECU))
39. Augmentative Communication Device (ACDs) Digunakan oleh mereka yang
mempunyai pelbagai kecacatanpertuturan dan bahasa, termasuk kecacatan kongenital
seperticerebral palsy, intelektual kemerosotan dan autisme Simbol-simbol yang digunakan
dalam ACDs termasuk isyarat,gambar, gambar, huruf dan perkataan, yang boleh
digunakansecara bersendirian atau secara kombinasi. Sistem ACDs adalah seperti
komunikasi tanpa bantuan tidakmenggunakan peralatan dan termasuk menandatangani
danbahasa badan, manakala pendekatan dibantu menggunakan alatluaran dan terdiri
daripada gambar-gambar dan papankomunikasi untuk menjana ucapan peranti.
40. Sebagai seorang guru pendidikankhas, adalah menjadi satu tanggungjawabguru bagi
memastikan program yang telahdirancang dapat dilaksanakan denganjayanya.Guru
pendidikan khas yang mahir dalam ICTdan pada masa yang sama berkemahiranserta
berpengalaman dalam pengajaran-pembelajaran samada pendidikan
masalahpendengaran, penglihatan mahupunpembelajaran tahu akan keperluan ICT
dalambidang masing masing.

Refleksi Pengajaran dan Pembelajaran

Mengajar Matematik adalah satu tugas yang mencabar dankompleks. Guru Matematik yang
berjaya harus mampumengatasi dan menyelesaikan masalah pembelajaran dalambilik darjah
dengan bijaksana
.
(Nik Aziz, 1996)


3Matematik adalah mata mata pelajaran yang sering menjadi permasalahan kepadamurid-murid
pemulihan. Saya telah diberi tugas untuk mengajar murid-murid pemulihan
Tahun 2 bagi mata mata pelajaran Matematik di salah sebuah sekolah diKepala Batas semasa
menjalani praktikum fasa ketiga. Penggunaan ujian diagnostik Matematik sebelum memulakan
proses pengajaran dan pembelajaran adalah perluuntuk mengenalpasti kelemahan-kelemahan
yang mereka hadapi pada ketika itu.Menurut Zainal dan Suhaila (2010), ujian diagnostik adalah
satu
alat pengukuran yang membolehkan guru pemulihan mengesan punca dan kawasankelemahan
secara terperinci yang dihadapi oleh seseorang murid. Melalui hasildapatan ujian diagnostik
Matematik, terdapat dua orang murid Tahun 2 yangmengalami masalah operasi tambah dalam
lingkungan 10 yang sesuai dijadikansebagai responden saya bagi kajian tindakan ini.Selain itu,
saya juga telah memberikan lembaran kerja melibatkan operasitambah dalam lingkungan 10
kepada responden yang mengandungi 10 soalan. Sayamendapati responden tidak mahir membuat
pengiraan operasi tambah dalamlingkungan 10. Setelah diajar mengira menggunakan jari,
responden masih tidak memahami konsep penambahan dengan jelas dan responden tidak
mahumelengkapkan lembaran kerja yang diberi. Saya terpaksa menyuruh respondenmenulis
jawapan bagi soalan-soalan yang responden tahu dan selebihnya tinggalkankosong. Hasil ujian
diagnostik Matematik dan lembaran kerja yang diberi, jelasmenunjukkan responden tidak dapat
menjawab soalan bagi kemahiran operasitambah dalam lingkungan 10.Sehubungan itu, saya
telah melaksanakan beberapa sesi pengajaran
dan pembelajaran yang melibatkan kemahiran operasi tambah dalam lingkungan 10.


4Penggunaan bahan bantu mengajar berbentuk bahan konkrit sentiasa menjadi pilihansaya di
dalam aktiviti pengajaran dan pembelajaran untuk memastikan keberkesanan pembelajaran yang
dilaksanakan. Menurut Piaget (1953) menyatakan bahawa kanak-kanak di sekolah rendah
memerlukan pengalaman konkrit semasa peringkat permulaan untuk membantu mereka
mempelajari dan memahami konsep operasi asasMatematik dengan lebih mudah. Disebabkan itu,
responden saya seringkaliditegaskan menggunakan bahan konkrit ketika menyelesaikan operasi
tambah dalamlingkungan 10 semasa proses pengajaran.Pada mulanya, saya memperkenalkan
konsep operasi tambah menggunakan batang
ais krim sewaktu sesi pengajaran dan pembelajaran. Sepanjang pelaksanaan pengajaran dan pem
belajaran menggunakan bahan tersebut, responden saya seringmengadu dan menyatakan mereka
tidak memahami konsep penambahan. Kemudian,saya cuba mempelbagaikan bahan bantu
mengajar dengan menggunakan guli.Muhammad Kamarul (2011) dalam kajiannya membuktikan
bahawa
penggunaan bahan konkrit seperti guli amat berkesan dalam membantu murid menyelesaikanope
rasi Matematik. Responden saya tetap memberikan tindak balas yang samawalaupun
menggunakan bahan bantu mengajar yang lain. Apa yang saya dapati,responden saya mengalami
kesukaran dan kekeliruan sewaktu melakukan pengiraandengan menggunakan batang ais krim
dan guli.Hal ini memberikan kesan yang mendalam pada diri saya. Selama empatminggu, saya
menggunakan pelbagai jenis bahan bantu mengajar berbentuk konkritdan akhirnya saya masih
tidak dapat mengatasi permasalahan tersebut. Sayamenyemak kembali refleksi pengajaran dan
pembelajaran saya dan komen-
komen para pensyarah pembimbing sewaktu penyeliaan praktikum sesi-
sesi yang lalu banyak menegur tentang teknik penyampaian saya di dalam kelas. Ini bertepatan


5dengan kehendak
National Council of Teachers of Mathematics
(2000) yangmenyatakan guru perlu membuat refleksi dan usaha berterusan untuk
mencari pembaharuan supaya pengajaran guru lebih berkesan. Saya tersedar bahawa teknik pen
yampaian saya dalam menerangkan konsep operasi tambah adalah kurang jelas.Menurut Noriati,
Boon dan Sharifah (2009), pembelajaran bermakna tidak boleh berlaku sekiranya murid-
murid tidak memahami konsep. Saya telah mengabaikan proses penyatuan dua kumpulan yang m
erupakan konsep penting dalam operasitambah dan ini menyebabkan responden saya tidak
memahami apa yang sayasampaikan.Perkataan penambahan menunjukkan suatu tindakan
menyatukan dantindakan ini memberi model asas bagi pengajaran mengenai operasi tambah
(Frank J.Swetz dan Liew Su Tim, 1988). Penyatuan yang dimaksudkan ialah penyatuan
duakumpulan objek yang berasingan dan jumlah bilangan objek yang digabungkandalam
kumpulan yang baru dikatakan hasil tambah operasi tersebut. Responden
saya beranggapan bahawa kedua-dua objek yang diasingkan dalam dua kotak sebagaiobjek yang
berasingan dan tidak berkait antara satu sama lain.Selain itu, penggunaan batang ais krim yang
pelbagai warna turutmenyumbang kepada kekeliruan responden menambah dalam lingkungan
10. Hal
ini bermakna, bahan konkrit seperti batang ais krim dan guli tidak begitu sesuaidigunakan oleh
murid-murid pemulihan. Justeru itu, saya bercadang untuk
membuat penambahbaikan amalan penggunaan bahan konkrit yang saya gunakan dalam sesi pen
gajaran dan pembelajaran saya supaya lebih berkesan dan bermakna untuk meningkatkan
kemahiran operasi tambah dalam lingkungan 10 dalam kalanganmurid pemulihan saya.
Refleksi Pengajaran dan Pembelajaran

Mengajar Matematik adalah satu tugas yang mencabar dankompleks. Guru Matematik yang
berjaya harus mampumengatasi dan menyelesaikan masalah pembelajaran dalambilik darjah
dengan bijaksana
.
(Nik Aziz, 1996)


3Matematik adalah mata mata pelajaran yang sering menjadi permasalahan kepadamurid-murid
pemulihan. Saya telah diberi tugas untuk mengajar murid-murid pemulihan
Tahun 2 bagi mata mata pelajaran Matematik di salah sebuah sekolah diKepala Batas semasa
menjalani praktikum fasa ketiga. Penggunaan ujian diagnostik Matematik sebelum memulakan
proses pengajaran dan pembelajaran adalah perluuntuk mengenalpasti kelemahan-kelemahan
yang mereka hadapi pada ketika itu.Menurut Zainal dan Suhaila (2010), ujian diagnostik adalah
satu
alat pengukuran yang membolehkan guru pemulihan mengesan punca dan kawasankelemahan
secara terperinci yang dihadapi oleh seseorang murid. Melalui hasildapatan ujian diagnostik
Matematik, terdapat dua orang murid Tahun 2 yangmengalami masalah operasi tambah dalam
lingkungan 10 yang sesuai dijadikansebagai responden saya bagi kajian tindakan ini.Selain itu,
saya juga telah memberikan lembaran kerja melibatkan operasitambah dalam lingkungan 10
kepada responden yang mengandungi 10 soalan. Sayamendapati responden tidak mahir membuat
pengiraan operasi tambah dalamlingkungan 10. Setelah diajar mengira menggunakan jari,
responden masih tidak memahami konsep penambahan dengan jelas dan responden tidak
mahumelengkapkan lembaran kerja yang diberi. Saya terpaksa menyuruh respondenmenulis
jawapan bagi soalan-soalan yang responden tahu dan selebihnya tinggalkankosong. Hasil ujian
diagnostik Matematik dan lembaran kerja yang diberi, jelasmenunjukkan responden tidak dapat
menjawab soalan bagi kemahiran operasitambah dalam lingkungan 10.Sehubungan itu, saya
telah melaksanakan beberapa sesi pengajaran
dan pembelajaran yang melibatkan kemahiran operasi tambah dalam lingkungan 10.


4Penggunaan bahan bantu mengajar berbentuk bahan konkrit sentiasa menjadi pilihansaya di
dalam aktiviti pengajaran dan pembelajaran untuk memastikan keberkesanan pembelajaran yang
dilaksanakan. Menurut Piaget (1953) menyatakan bahawa kanak-kanak di sekolah rendah
memerlukan pengalaman konkrit semasa peringkat permulaan untuk membantu mereka
mempelajari dan memahami konsep operasi asasMatematik dengan lebih mudah. Disebabkan itu,
responden saya seringkaliditegaskan menggunakan bahan konkrit ketika menyelesaikan operasi
tambah dalamlingkungan 10 semasa proses pengajaran.Pada mulanya, saya memperkenalkan
konsep operasi tambah menggunakan batang
ais krim sewaktu sesi pengajaran dan pembelajaran. Sepanjang pelaksanaan pengajaran dan pem
belajaran menggunakan bahan tersebut, responden saya seringmengadu dan menyatakan mereka
tidak memahami konsep penambahan. Kemudian,saya cuba mempelbagaikan bahan bantu
mengajar dengan menggunakan guli.Muhammad Kamarul (2011) dalam kajiannya membuktikan
bahawa
penggunaan bahan konkrit seperti guli amat berkesan dalam membantu murid menyelesaikanope
rasi Matematik. Responden saya tetap memberikan tindak balas yang samawalaupun
menggunakan bahan bantu mengajar yang lain. Apa yang saya dapati,responden saya mengalami
kesukaran dan kekeliruan sewaktu melakukan pengiraandengan menggunakan batang ais krim
dan guli.Hal ini memberikan kesan yang mendalam pada diri saya. Selama empatminggu, saya
menggunakan pelbagai jenis bahan bantu mengajar berbentuk konkritdan akhirnya saya masih
tidak dapat mengatasi permasalahan tersebut. Sayamenyemak kembali refleksi pengajaran dan
pembelajaran saya dan komen-
komen para pensyarah pembimbing sewaktu penyeliaan praktikum sesi-
sesi yang lalu banyak menegur tentang teknik penyampaian saya di dalam kelas. Ini bertepatan
dengan kehendak
National Council of Teachers of Mathematics
(2000) yangmenyatakan guru perlu membuat refleksi dan usaha berterusan untuk
mencari pembaharuan supaya pengajaran guru lebih berkesan. Saya tersedar bahawa teknik pen
yampaian saya dalam menerangkan konsep operasi tambah adalah kurang jelas.Menurut Noriati,
Boon dan Sharifah (2009), pembelajaran bermakna tidak boleh berlaku sekiranya murid-
murid tidak memahami konsep. Saya telah mengabaikan proses penyatuan dua kumpulan yang m
erupakan konsep penting dalam operasitambah dan ini menyebabkan responden saya tidak
memahami apa yang sayasampaikan.Perkataan penambahan menunjukkan suatu tindakan
menyatukan dantindakan ini memberi model asas bagi pengajaran mengenai operasi tambah
(Frank J.Swetz dan Liew Su Tim, 1988). Penyatuan yang dimaksudkan ialah penyatuan
duakumpulan objek yang Selain itu, penggunaan batang ais krim yang pelbagai warna
turutmenyumbang kepada kekeliruan responden menambah dalam lingkungan 10. Hal
ini bermakna, bahan konkrit seperti batang ais krim dan guli tidak begitu sesuaidigunakan oleh
murid-murid pemulihan. Justeru itu, saya bercadang untuk
membuat penambahbaikan amalan penggunaan bahan konkrit yang saya gunakan dalam sesi p
engajaran dan pembelajaran saya supaya lebih berkesan dan bermakna untuk meningkatkan
kemahiran operasi tambah dalam lingkungan 10 dalam kalanganmurid pemulihan
sayaberasingan dan jumlah bilangan objek yang digabungkandalam kumpulan yang baru
dikatakan hasil tambah operasi tersebut. Responden saya beranggapan bahawa kedua-
dua objek yang diasingkan dalam dua kotak sebagaiobjek yang berasingan dan tidak berkait antara satu
sama lain
TEORI KECERDASAN PELBAGAI
1. Konsep
Teori Kecerdasan Pelbagai adalah berdasarkan pada pemikiran bahawa kemampuan intelektual
yang diukur melalui ukuran ujian IQ adalah sangat terbatas. Ini kerana ukuran ujian IQ
menekankan pada kemampuan logikal-matematik dan bahasa sahaja. Sebenarnya, setiap orang
mempunyai caranya yang tersendiri dan unik untuk menyelesaikan persoalan atau masalah yang
dihadapi mereka. Tambahan lagi, kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperolehi
seseorang. Hal ini kerana kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk
melihat sesuatu masalah dan seterusnya berupaya menyelesaikan masalah tersebut atau membuat
sesuatu yang berguna kepada orang lain. Definisi kecerdasan pelbagai yang diberikan oleh
Gardner (1983) adalah kepakaran kecerdasan manusia seharusnya mempunyai kemahiran untuk
menyelesaikan masalah, menangani masalah sesuai dengan masa dan tempat dan menghasilkan
output yang efektif.
An intelligence is the ability to solve problems, or to create products that are valued within one
or more cultural setting
(Gardner 1983)
Kecerdasan Pelbagai yang mencakupi sembilan kecerdasan pada dasarnya merupakan
pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual
(SQ).
Teori Kecerdasan Pelbagai mempunyai pengaruh signifikan dalm pendidikan serta membawa
kesan penting pembelajaran organisasi. Gardner mengatakan bahawa pendidikan tradisional
dengan proses pengujian tradisional (ujian IQ) telah mengabaikan kecerdasan pelbagai manusia.
Menurut beliau, kebanyakan ujian IQ hanya mengukur kebolehan verbal atau bahasa dan
pemikiran logical atau matematik. Kemahiran lain seperti sosial, interpersonal dan emosi yang
membolehkan manusia berfungsi dengan berkesan telah dikecualikan daripada ujian IQ
tradisional.
Teori Kecerdasan Pelbagai oleh Gardner (2000) mendasari dua prinsip asas iaitu manusia
mempunyai kecerdasan yang pelbagai dan semua orang dapat mengembangkan kesemua
kecerdasan ini ke satu tahap yang kompeten. Teori ini hasil daripada kajian beliau yang
dijalankan terhadap pelbagai lapisan masyarakat yang mempunyai pelbagai kriteria tersendiri
dalam kalangan kanak-kanak biasa dan kanak-kanak istimewa. Menurut Howard Gardner,
kecerdasan tidak boleh diwarisi semata-mata dan kecerdasan boleh dipengaruhi oleh budaya,
persekitaran, peluang pendidikan, makanan, suasana pembelajaran dan lain-lain. Teori
Kecerdasan Pelbagai yang diperkenalkan oleh Howard Gardner lebih kepada aspek kognitif dan
perkembangan psikologi, antrapologi dan sosiologi dalam menjelaskan kecerdasan manusia.
Pada mulanya teori ini terdiri daripada tujuh kecerdasan tetapi pada tahun 1999, dua lagi
kecerdasan dimasukkan ke dalam teori ini.
Pendapat yang dikemukakan oleh Howard Gardner menunjukkan bahawa kecerdasan seseorang
dapat ditingkatkan melalui pendidikan dan latihan. Menurut Gardner, setiap individu mempunyai
tahap kecerdasan yang berbeza kecerdasan dan kecerdasan tersebut boleh ditingkatkan dengan
pendidikan melalui aktiviti yang bersesuian. Dalam konteks pendidikan guru memainkan
peranan penting untuk merancang aktiviti dalam pengajaran dan pembelajaran supaya dapat
memenuhi keperluan kecerdasan iaitu yang terdiri daripada sembilan kecerdasan yang
diperkenalkan oleh Gardner.
2. Pelopor

Howard Gardner
Howard Gardner seorang ahli psikologi perkembangan yang terkenal mendapat pendidikan di
Universiti Harvard. Beliau telah menulis banyak buku berkenaan dengan psikologi
perkembangan yang mengetengahkan kerja-kerjanya dalam bidang perkembangan kreativiti di
kalangan kanak-kanak dan orang dewasa. Gardner juga sangat dikenali melalui hubungannya
dengan kerja-kerja yang berkaitan dengan perkembangan artistik. Minatnya dalam kreativiti
bermula pada awal tahun 1970-an semasa beliau mengkaji perhubungan seni dan perkembangan
manusia. Bukunya Artful Scribbles yang dihasilkan dalam tahun 1980 mengkaji kehebatan
kreativiti di kalangan kanak-kanak dan kreativiti ini berkurangan apabila kanak-kanak itu
menjadi semakin matang. Gardner membuat kesimpulan bahawa pada peringkat akhir permulaan
kanak-kanak tersebut, mereka lebih memberi perhatian kepada kemahiran linguistik mereka yang
kian berkembang dan tidak lagi berminat untuk berkomunikasi dalam bentuk nonverbal seperti
melukis.
Sebagai seorang ahli psikologi pendidikan, Gardner adalah lebih dikenali melalui sumbangannya
dalam bidang perkembangan intelektual dengan teorinya yang diberi nama Kecerdasan Pelbagai
(Multiple Intelligence). Penyelidikan Gardner berkisar di sekitar kemahuannya untuk
melepaskan diri daripada ujian-ujian dan kolerasi antara ujian-ujian dan memandang di sebalik
sumber informasi semulajadi tentang bagaimana manusia di dunia memperkembangkan
kemahiran-kemahiran yang penting untuk kehidupan mereka.
Dalam penerbitannya pada tahun 1983, bukunya Frames of Mind menjadi titik permulaan
kejutan bagi pendidik. Dalam buku yang berpengaruh ini Gardner melayari pelbagai sifat
kecerdasan manusia. Beliau menunjukkan terdapatnya tujuh kecerdasan manusia yang boleh
dibahagikan dalam tiga kumpulan iaitu kecerdasan berdasarkan perkaitan objek yang melibatkan
matematik dan logik, kecerdasan tanpa objek yang melibatkan muzik dan bahasa dan kecerdasan
personal atau persepsi psikologikal yang kita dan orang lain miliki. Masalah yang diketengahkan
oleh Gardner ialah sistem pendidikan kita tidak bersedia untuk memenuhi keperluan semua
kecerdasan manusia dan mengenepikan keperluan perkembangan beberapa perkara yang
berkaitan dengannya.
Gardner berjuang untuk membuktikan bahawa kecerdasan yang berasaskan aras kesatuan bukan
merupakan satu ukuran keupayaan intelektual seseorang yang sempurna. Gardner mendakwa
bahawa teori Kecerdasan Pelbagai mengetengahkan fakta bahawa manusia wujud dalam satu
konteks yang pelbagai dan konteks ini digunakan untuk membajai kelainan-kelainan susunan dan
himpunan kecerdasan. Gardner seterusnya menggunakan teori Kecerdasan Pelbagai dalam
bukunya The Unschooled Mind: How Children Think and How Schools Should Teach (1991).
Dalam buku ini beliau membincangkan pelbagai gaya pembelajaran dan menyarankan supaya
meninggalkan pendekatan pintas dalam bidang pendidikan untuk mendidik semua kanak-kanak
dan melihatnya mudah untuk belajar secara tradisional.
Dr. Howard Gardner menerima MacArthur Prize Fellowship pada tahun 1981 di Harvard
Universiti. Beliau merupakan murid kepada Piaget. Beliau tidak bersetuju dengan pendapat
Piaget yang dianggapnya mempunyai pandangan yang sempit terhadap kecerdasan manusia.
Gardner menilai semula teori-teori yang dikemukan oleh Piaget sebagai too narrow a notion of
how the human mind works. Beliau tidak mempercayai kewujudan satu bentuk kognitif yang
menguasai semua bentuk pemikiran manusia. Gardner memerhatikan bahawa terdapat sekurang-
kurangnya tujuh kecerdasan manusia dan setiap satu kecerdasan itu mempunyai keupayaan
intelektual yang tersendiri.
Seterusnya, Gardner menulis tentang pemerhatiannya terhadap kepelbagaian kecerdasan yang
kemudiannya telah dijadikan buku seminar dalam komuniti pendidikan, Rangka Minda yang
telah diterbitkan dalam tahun 1983. Teori Kecerdasan Pelbagai yang dicadangkan dalm bukunya
telah menjadi pusat perbincangan dan sebagai rangka kerja bagi strategi pendidikan kini yang
menjana kejayaan dalam mempertingkatkan pencapaian para pelajar. Gardner menyebut
walaupun ia tidak semestinya bergantung sesame sendiri, namun kecerdasan tersebut kerap
beroperasi secara berasingan. Setiap individu yang normal memiliki kadar yang berbeza-beza
terhadap setiap satu daripada kecerdasan ini, tetapi cara-cara bagaimana kecerdasan itu
bergabung dan bercampur adalah berbagai-bagai sama seperti bagaimana muka dan personaliti
individu tersebut berbeza-beza.
Dr. Gardner ialah Pengarah bersama Project Zero dan Pofesor Pendidikan di Sekolah Pendidikan
Siswazah Harvard. Beliau juga adalah Profesor Pendidikan Tetamu di Jabatan Neorologi di
Universiti Boston di bahagian Sekolah Perubatan dan pakar penyelidik psikologi Pusat Perubatan
Pentadbiran Vateran Boston. Dr. Gardner telah menghasilkan pelbagai penulisan yang berkaitan
dengan minda manusia seperti The Minds New Science, To Open Minds, The Unshooled Mind,
Multiple Intelligences, Creating Minds dan Leading Minds.
Bagi Gardner (1993), kecerdasan melibatkan kebolehan menyelesaikan masalah atau fesyen
produk yang merupakan kesan dalam budaya atau komuniti tertentu. Beliau menolak pendapat
yang mengatakan bahawa kita boleh mempelajari tentang kecerdasan dengan mengkaji
bagaimana manusia menjawab soalan-soalan ujian. Bagi Gardner, kita hanya boleh belajar
tentang kecerdasan dengan mengkaji proses kognitif yang digunakan oleh manusia apabila
mereka menyelesaikan masalah budaya yang penting atau mencipta produk budaya yang penting.
Gardner telah mengenalpasti tujuh kecerdasan yang terlibat dalam penyelesaian masalah dan
beliau mempercayai kesemua tujuh kecerdasan ini boleh diajarkan di sekolah. Bagi Gardner,
penyelesaian masalah adalah penting untuk kecerdasan. Ini adalah konsisten dengan
kebanyakkan pengetahuan tradisional terhadap kecerdasan. Bagaimanapun, Gardner
menekankan bahawa penyelesaian masalah boleh dipelajari dengan memerhatikan manusia
menyelesaikan masalah atau mencipta produk yang penting kepada mereka dan bukan dengan
memberikan ujian-ujian yang telah distandardkan. Namun pada 1997, Gardner telah menambah
satu lagi kecerdasan iaitu kecerdasan naturalis. Menurut Gardner, setiap insan mempunyai bukan
satu tetapi lapan kecerdasan yang berbeza. Pada 1999, Gardner menambahkan Existential
Intelligence yang berkaitan dengan keadaan kerohanian manusia. Beliau belum bersedia
menerima Spiritual Intelligence sebagai kecerdasan kesembilan dalm teorinya.
Gardner juga menekankan perkara-perkara yang berkaitan dengan konteks budaya kecerdasan
pelbagai. Umpamanya, Gardner (1983) membincangkan keupayaan spatial yang tinggi orang-
orang Puluwat yang tinggal di pulau-pulau Caroline yang menggunakan kemahiran-kemahiran
ini untuk menjelajahi lautan dengan kenu-kenu mereka. Gardner juga membincangkan
keseimbangan kecerdasan personal yang diperlukan dalam masyarakat jepun. Teori Kecerdasan
Pelbagai ini berkongsi beberapa idea umum dengan teori-teori lain yang menyentuh kelainan-
kelainan individu seperti yang terdapat dalam saranan Carnbach & Snow, Guilford dan
Sternberg.
3. Sembilan Teori Kecerdasan Pelbagai
3.1. Logikal Matematik
Kecerdasan ini mempunyai kaitan dengan logik, abstrak, penaakulan, dan nombor. Kebolehan
dominan di bahagian kiri otak membolehkan individu menaakul secara deduktif dan induktif
serta berfikir secara konseptual. Walaupun ia sering dianggap bahawa mereka yang mempunyai
kecerdasan ini secara semula jadi cemerlang dalam bidang matematik, catur, pengaturcaraan
komputer dan aktiviti lain yang logik atau berangka, tempat takrif yang lebih tepat kurang
penekanan kepada keupayaan matematik tradisional dan lanjut mengenai keupayaan penaakulan,
mengenal pasti pola abstrak, pemikiran saintifik dan penyiasatan dan keupayaan untuk
melaksanakan penaakulan kiraan. Logikal kompleks berkait rapat kepada kepintaran bendalir
dan keupayaan umum.
Individu yang mempunyai kecerdasan logikal matematik yang tinggi memperlihatkan minat yang
besar terhadap kegiatan yang berbentuk eksplorasi. Individu ini sering bertanya tentang berbagai-
bagai fenomena yang dilihat yang berlaku di sekeliling. Individu ini suka menuntut penjelasan
logik dari setiap pertanyaan. Selain itu, individu ini suka mengklasifikasikan benda untuk mudah
mengira. Contohnya, saintis, jurutera, arkitek dan doctor lazimnya memiliki kecerdasan ini.
3.2. Spatial / Visual Ruang
Kecerdasan ini memperkatakan tentang penghakiman ruang dan keupayaan untuk
menggambarkan dengan mata minda. Kerjaya yang sesuai dengan mereka dengan kepintaran
jenis ini termasuk artis, pereka dan arkitek. Individu yang mempunyai ciri-ciri ruang visual ini
juga baik dalam puzzle. Keupayaan spatial merupakan salah satu daripada tiga faktor di
bawahnya dalam model hierarki kepintaran. Individu ini berkebolehan menceritakan dan
menggambarkan pengalaman yang pernah dilalui serta bijak menghubungkaitkan antara objek-
objek dalam ruang. Kecerdasan ruang visual membolehkan individu mempersembahkan idea-
idea visual dan ruang berkecenderungan dalam aspek imaginatif dan kreatif.
Kecerdasan ini juga mampu membuat individu selalu sedar akan posisi relatifnya dalam
koordinat ruang dan waktu. Individu yang ruang tingkat kecerdasan ruang visual rendah akan
selalu berasa bingung untuk mengingat jalan dan tempat di mana dia tinggal meskipun sudah
tinggal di tempat tersebut dalam jangka masa yang agak lama. Individu yang tersesat di dalam
perjalanan adalah individu yang mengalami gangguan orientasi ruang. Individu ini termasuk
dalam golongan tidak cerdas ruang. Manakala individu yang cerdas ruang mampu menggunakan
warna secara sempurna, membaca peta dengan baik serta mempunyai daya imaginasi yang kuat.
Individu yang mahir dalam bidang ini seperti juruterbang, ahli pelayaran, angkasawan dan juga
termasuk pelukis, arkitek, dan perancang bandar. Contohnya, Azhar Mansor dan Yuri Gagarin.
3.3. Linguistik
Kecerdasan ini mempunyai kaitan dengan kata-kata, lisan atau bertulis. Orang dengan
kecerdasan verbal-linguistik tinggi memaparkan kemudahan dengan kata-kata dan bahasa.
Individu ini biasanya yang baik untuk membaca, menulis, bercerita dan menghafal kata-kata
bersama-sama dengan tarikh. Individu ini sensitif terhadap makna perkataan dan mahir untuk
memanipulasikannya. Mereka cenderung untuk belajar dengan lebih baik dengan membaca,
mengambil nota, mendengar kuliah, dan dengan berbincang dan berdebat mengenai apa yang
mereka pelajari. Individu yang mempunyai kecerdasan verbal-linguistik mempelajari bahasa
asing dengan mudah kerana mereka mempunyai ingatan yang tinggi lisan dan ingatan, dan
kebolehan untuk memahami dan memanipulasi sintaks dan keupayaan struktur. Verbal adalah
salah satu kebolehan yang paling tinggi dalam diri kebanyakan individu.
Individu ini pandai berbicara, gemar bercerita dan tekun mendengar cerita atau membaca.
Kecerdasan jenis ini membolehkan individu tersebut menyimpan pelbagai informasi yang bererti
dan berkaitan dengan pemikirannya.
Individu yang mahir dalam bidang ini adalah seperti pengarang, pensyarah, wartawan,
penyunting, penyair, penulis skrip dan novelis. Contoh di Malaysia seperti Munshi Abdullah,
A.Samad Said dan di luar negara seperti William Shakespeare, dan Enid Blyton.
3.4. Kinestetik
Unsur-unsur utama badan-kinestetik mengawal gerakan badan seseorang dan kapasiti untuk
mengendalikan objek mahir. Gardner memberikan secara terperinci untuk mengatakan bahawa
kecerdasan ini juga termasuk rasa masa, rasa yang jelas matlamat tindakan fizikal, bersama-sama
dengan keupayaan untuk melatih jawapan supaya mereka menjadi seperti refleks.
Secara teori, orang-orang yang mempunyai kecerdasan badan-kinestetik perlu belajar lebih baik
dengan melibatkan pergerakan otot (contohnya bangun dan bergerak ke dalam pengalaman
pembelajaran), dan secara amnya baik pada aktiviti-aktiviti fizikal seperti sukan atau tarian.
Mereka boleh menikmati bertindak atau membuat persembahan, dan secara umumnya mereka
baik di bangunan dan membuat perkara-perkara. Mereka sering belajar dengan lebih baik dengan
melakukan sesuatu secara fizikal, dan bukannya dengan membaca atau mendengar tentang hal
itu. Mereka yang mempunyai kuat badan-kinestetik perisikan seolah-olah menggunakan apa
yang mungkin diistilahkan sebagai memori otot mereka ingat perkara melalui badan mereka
seperti memori lisan.
Kerjaya yang sesuai dengan mereka yang mempunyai kecerdasan ini termasuk atlit, juruterbang,
penari, pemuzik, pelakon, pakar bedah, doktor, pembina, pegawai polis dan askar. Walaupun
kerjaya ini boleh disalin melalui simulasi maya, mereka tidak akan menghasilkan pembelajaran
sebenar fizikal yang diperlukan dalam badan perisikan ini. Contohnya, Shalin Zulkifli, Nicole
David, dan Lim Chong Wei.
3.5. Muzik
Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan untuk menggemari, mendiskriminasi dan
meluahkan perasaan melalui muzik. Hal ini kerana kecerdasan muzik yang terdapat dalam diri
seseorang individu membolehkannya mengesan bunyi tanpa lisan, muzik serta irama yang
terdapat di persekitarannya. Individu yang mempunyai kelebihan ini sangat sensitif kepada
bunyi-bunyian atau suara yang wujud dan timbul di dunia ini, baik yang berasal daripada suara
alat muzik ataupun yang timbul dalam daripada gejala alamiah seperti suara manusia, binatang,
guruh serta suara-suara yang lain. Individu ini berupaya menggunakan set asas atau elemen-
elemen muzik serta dapat bermain alat muzik dan menghafal lirik muzik dengan baik. Selain itu,
individu yang cenderung dalam kecerdasan ini boleh menggubah rentak dan tempo muzik dan
mudah mengenali dan mengingati nada-nada bunyi atau muzik.
Individu ini juga mampu untuk menggubah kata-kata menjadi lagu dan boleh mencipta berbagai-
bagai alat dan permainan muzik. Individu ini pintar melantunkan nada lagu dengan baik, pandai
menggunakan kosa kata muzikal dan peka terhadap ritma, ketukan, melodi atau warna suara
dalam sebuah komposisi muzik. Semua orang mempunyai kecerdasan untuk menikmati dan
menghayati pengalaman muzik yang ada berdasarkan tahap yang berbeza-beza. Contohnya,
kehebatan P.Ramlee dengan ciptaanya yang evergreen, Manan Ngah, Habsah Hassan,
Beethovan, Kitaro, dan Kenny G.
3.6. Interpersonal
Kecerdasan ini merupakan kemampuan individu dalam mendiskriminasi antara pelbagai
petandainterpersonal dan kebolehan untuk berkomunikasi dengan berkesan secara pragmatik
terhadap petanda tersebut. Kecerdasan interpersonal membolehkan seseorang itu memahami
perasaan, motivasi, tabiat dan hasrat orang lain. Seterusnya, mereka dapat berinteraksi dengan
mudah dan boleh bekerjasama dengan orang lain secara praktikal untuk menghasilkan sesuatu
yang berfaedah. Mereka yang mempunyai kecerdasan interpersonal yang menonjol biasanya
memiliki interaksi yang baik dengan orang lain.
Selain itu, mereka juga mampu berasa sensitif dan memahami emosi, perasaan, fikiran, tingkah
laku dan harapan orang lain. Pada tahap yang mudah, kecerdasan ini termasuk kemampuan
seseorang anak mengenal dan sensitif terhadap perasaan orang dewasa di sekitarnya. Murid-
murid yang mempunyai kecerdasan ini akan belajar dengan berkesan melalui pembelajaran,
bekerjasama dengan rakan sebaya dan mudah terlibat dengan sebuah pergaulan.
Individu yang mahir dalam bidang ini adalah seperti pendakwah, kaunselor, jururunding dan
imam. Contohnya, Dato Dr. Fadzilah Kamsah.
3.7. Intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal merupakan kesedaran tentang diri sendiri, berfikiran metakognitif dan
berkebolehan untuk menilai diri sendriri. Orang yang memiliki kecerdasan intrapersonal yang
tinggi selalunya dapat mengenali diri sendiri. Orang yang memiliki
kecerdasan intrapersonal yang tinggi selalunya dapat mengenali diri sendiri secara mendalam
dan mempunyai tanggapan tentang kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Kebolehan ini memberi
keyakinan diri yang tinggi kepada mereka tentang kebolehan yang terdapat dalam diri mereka
sendiri. Selain itu, mereka pandai menentukan hala tuju kehidupan serta mempunyai pegangan,
prinsip dan azam yang kuat serta boleh berdikari.
Secara keseluruhannya, orang yang mempunyai kecerdasan intrapersonal yang tinggi biasanya
kelihatan murung dan suka mengelamun, tetapi pada masa yang sama mereka juga sentiasa
berwaspada dan berwawasan dalam melakukan sesuatu. Orang yang seperti ini akan lebih
menyukai belajar secara bersendirian di perpustakaan dan gemar melakukan renungan yang
mendalam dan termenung di persekitaran yang sangat sepi. Biasanya individu dengan tingkat
kecerdasan ini mempunyai peribadi yang tertutup.
Disamping itu, mereka juga memiliki kepekaan terhadap perasaan dalam situasi yang sedang
berlangsung, memahami diri sendiri dan seterusnya mampu mengendalikan diri dalam situasi
konflik. Mereka mengetahui apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam
persekitaran sosial serta mengetahui kepada siapa harus mereka meminta bantuan pada saat-saat
yang diperlukan. Contohnya, pemimpin, ahli falsafah, pendeta dan pemikir.
3.8. Naturalis
Kecerdasan ini mempunyai kaitan dengan memupuk maklumat berkaitan persekitaran
semulajadi. Individu yang mempunyai kecerdasan naturalistik yang tinggi biasanya merupakan
seseorang pencinta alam yang dapat mengenali dan mengklasifikasikan flora, fauna, dan galian
dengan mudah. Mereka akan lebih banyak menghabiskan masa di luar dan gemar mendengar
bunyi-bunyian yang terdapat dalam alam sekitar. Mereka mempunyai tarikan yang besar
terhadap alam sekitar termasuk binatang. Dengan itu, mereka merupakan individu yang sensitif
terhadap alam sekitar dan dapat menghubungkait antara kehidupan flora dan fauna.
Contohnya termasuk mengklasifikasikan bentuk-bentuk semula jadi seperti haiwan dan spesis
tumbuhan dan batu-batu dan jenis gunung dan pengetahuan yang digunakan semula jadi dalam
perladangan, perlombongan, dan lain-lain Kerjaya mereka dengan kecerdasan ini termasuk
alamiah, petani dan tukang kebun.
Pelajar yang mempunyai kecerdasan naturalistik akan lebih berkesan kecerdasanya dengan
mengadakan aktiviti luar kelas. Ahli biologi, zoology, petani, nelayan, ahli botani, perancang
bandar, ahli geologi, dan pendaki gunung adalah kerjaya yang sesuai bagi mereka yang
mempunyai kecerdasan naturalistik yang tinggi.
3.9. Spiritual / Eksistensialisme
Individu yang mempunyai kecerdasan ini memiliki ciri-ciri yang lebih cenderung untuk bertanya
mengenai segala kejadian kewujudan manusia, erti kehidupan, mengapa manusia mengalami
kematian dan juga realiti yang dihadapi oleh manusia dalam hidup. Kecerdasan ini telah
diperkenal dan dikembangkan oleh Gardner pada tahun 1999.
Individu ini mampu menelaah nilai-nilai yang berkembang di tengah-tengah kehidupan
masyarakat, sama ada nilai-nilai tradisional ataupun nilai-nilai baru yang sedang berkembang.
Untuk meningkatkan kecerdasan ini seseorang boleh membaca banyak buku falsafah dan
menyoal diri sendiri tentang pertanyaan yang membolehkannya menelaah jawapan secara
mendalam.
4. Aplikasi Teori Kecerdasan Pelbagai Dalam Proses Pengajaran Dan Pembelajaran
Teori kecerdasan banyak membantu para guru melaksanaakn tanggungjawab bagi mendidik anak
bangsa bagi mendapatkan ilmu pengetahuan.
Terdapat tiga peringkat dalam melaksanakan teori kecerdasan pelbagai dalam pengajaran dan
pembelajaran. Antara peringkat-peringkat tersebut ialah peringkat padanan, percubaan dan
peningkatan.
Pada peringkat pertama, guru perlu memadankan pengajaran dan pembelajaran dengan
kecerdasan pelbagai murid. Guru perlu mengenalpasti kecerdasan pelajar-pelajarnya bagi
memudahkan proses pembelajaran. Sebagai contohnya, jika majoriti pelajar dalam sesebuah
kelas mempunyai kecerdasan kinestetik, maka guru tersebut, perlu melakukan aktiviti yang
melibatkan pergerakan seperti melakukan ujikaji, senaman dan sebagainya bagi menarik minat
pelajar, walau bagaimanapun aktiviti-aktiviti lain juga perlu bagi mengasah kecerdasan yang
dimiliki oleh pelajar. Hal ini di sebabkan pelajar mempunyai kebolehan yang berbeza.
Pada peringkat pertama ini, guru mengenal pasti kekuatan sendiri dalam kecerdasan pelbagai dan
juga kekuatan murid. Melalui mengenal pasti ini, guru dapat memilih strategi pengajaran dan
pembelajaran yang sesuai dan memadankan dengan kecerdasan murid. Dengan ini guru boleh
memperkembangkan potensi murid dalam kecerdasan lain yang belum menyerlah.
Peringkat kedua bagi melaksanakan atau mengaplikasikan teori kecerdasn pelbagai dalam
pengajaran ialah percubaan. Pada peringkat ini, guru perlu memikirkan bagaimana teori
kecerdasan pelbagai boleh di aplikasikan dalam pengajaran dan pembelajaran seharian. Terdapat
persoalan-persoalan yang membantu para guru bagi meyediakan rancangan pengajaran, melalui
verbal-linguistik, melibatkan persoalan bagaimanakah saya boleh menggunakan bahasa lisan ,
bacaan dan penulisan?. Selain itu, persoalan logik-matematik ialah bagaimanakah saya boleh
memasukkan nombor, pengiraan, pengelasan atau menggalakkan pemikiran kritis?. Melalui
visual-ruang melibatkan soalan bagaimanakah saya boleh menggunakan alat bantu mengajar
visualisasi, warna, seni, metafora atau penyusun grafik?. Seterusnya elemen muzik,
bagaimanakah saya boleh menggunakan muzik, bunyi-bunyian persekitaran atau unsur ritma dan
melodi?, elemen kinestetik pula bagaimanakah saya boleh melibatkan pengalaman pergerakan
seluruh badan atau aktiviti hands-on?. Di samping itu, elemen interpersonal melibatkan
persoalan bagaimanakah saya boleh melibatkan pelajar dalam perkongsian rakan sebaya,
pembelajaran kerjasama atau simulasi kumpulan?, elemen intrapersonal pula bagaimanakah saya
boleh memberi pilihan kepada pelajar merangsang perasaan kendiri?. Akhir sekali elemen
naturalis ialah bagaimanakah saya boleh membawa alam semula jadi ke dalam bilik darjah atau
membawa murid ke luar ke alam semula jadi?
Pada peringkat kedua ini juga, guru memikirkan cara memaksimumkan potensi persekitaran
terutama sekali keadaan di dalam bilik darjah. Menghias bilik darjah dengan maklumat yang
boleh dihargai oleh setiap kecerdasan, contohnya, murid yang cenderung kepada verbal-
linguistik menyediakan poster beberapa orang penulis terkenal. Membawa murid keluar dari
bilik darjah juga merupakan aktiviti yang dapat menarik minat pelajar, supaya guru dapat
memerhati dan memahami bagaimana setiap individu mempunyai dan menggunakan kecerdasan
pelbagai masing-masing.
Pada peringkat ketiga, iaitu peningkatan, guru perlu mengaitkan teori kecerdasan pelbagai
dengan kemahiran berfikir untuk perkembangan murid. Melalui peningkatan ini, murid dapat
mengaplikasikan apa yang di ajar dalam hal tertentu. Dalam visual-ruang, murid dapat melakar,
membuat peta minda, membayangkan masalah dan penyelesaiannya. Melalui kinestetik pula,
murid boleh memanipulasi alat, bahan untuk menyelesiakan masalah. Melalui muzik. murid
memahami ritma, harmoni, mengenal pasti masalah dan penyelesaiannya. Peningkatn dari segi
interpersonal pula, murid mendapat pelbagai idea melalui interaksi dengan orang lain mengenai
masalah dan penyelesaiannya. Peningkatan intrapersonal, murid membuat refleksi secara
mendalam berasaskan pengalaman, perasaan diri mengenai masalah dan penyelesaiannya. Akhir
sekali, naturalis, murid menggunakan contoh daripada alam semula jadi untuk mengkaji masalah
dan penyelesaiannya.
Melalui peningkatan kecerdasan pelajar. Kreatviti dan inovasi dapat di cungkil daripada pelajar.
Pelajar juga dapat memperoleh pelbagai perspektif mengenai sesuatu perkara serta mengaplikasi
pengetahuan yang sedia ada dalam situasi dan konteks yang baru dan berlainan. Aktiviti bilik
darjah boleh dipelbagaikan dengan menggunakan strategi Teori Kecerdasan Pelbagai untuk
peningkatan perkembangan kognitif mengikut Taksonomi Bloom.
5. Kelebihan-Kelebihan Menggunakan Teori Kecerdasan Pelbagai .
Teori kecerdasan pelbagai adalah salah satu konsep yang baru diperkenalkan. Teori ini dilihat
adalah sangat baik untuk diaplikasikan dalam psikologi pendidikan. Teori kecerdasan pelbagai
ini adalah sangat fleksibel dimana ia boleh diaplikasikan dalam pengajaran dan pembelajaran
untuk kesemua mata pelajaran yang terdapat di sekolah kerana ia tidak terhad atau menjerumus
kepada satu-satu mata pelajaran sahaja contohnya terhad kepada mata pelajaran matematik.
Teori kecerdasan ini mengiktiraf kesemua kecerdasan yang terdapat pada manusia,dan ia
mempunyai kelebihan apabila diaplikasikan dalam pendidikan. Antara kelebihan dan
kepentingan penggunaan kecerdasan pelbagai ini adalah seseorang guru itu dapat melihat potensi
yang ada pada pelajar itu sendiri. Ini kerana kecerdasan pelbagai ini bertindak sebagai petunjuk
kepada potensi pelajar. Apabila guru dapat mengenalpasti potensi yang ada pada murid itu, maka
ia dapat membantu guru untuk memperkembangkan lagi potensi yang ada pada pelajar.
Teori kecerdasan pelbagai ini membolehkan guru memberi tunjuk ajar sepenuhnya tentang
kekuatan dan kelemahan yang ada pada pelajar. Dengan itu pelajar dapat mengukuhkan lagi
kekuatan mereka dan dapat memperbaiki kelemahan yang ada pada diri mereka. Maka modal
insan yang lengkap dengan segala kecerdasan yang ada dapat dilahirkan.
Pengaplikasian teori kecerdasan pelbagai ini dapat membantu guru untuk merancang
pengajarannya. Guru dapat merancang apa yang patut diberikan kepada pelajar tentang cara
pengajaran, penekanan dan pemfokusan sewaktu dalam sesi pengajaran dan pembelajaran. Ini
kerana guru dapat mengenalpasti potensi yang ada dalam diri pelajar dan membolehkan guru
menjalankan pengajaran mengikut kecerdasan pelbagai ini.
Dengan adanya kecerdasan pelbagai ini, maka guru dapat membangunkan bukan sahaja kesemua
bidang akademik malah membangunkan ko-kurikulum pelajar. Ini kerana,sebagaimana yang kita
tahu, kecerdasan pelbagai bukan sahaja tertumpu kepada bidang akademik tetapi juga
mencangkumi bidang ko-kurikulum seperti kecerdasan kinestetik,kecerdasan muzik dan
beberapa kecerdasan lain.
Teori kecerdasan pelbagai Gardner juga membolehkan guru untuk mempelbagaikan teknik
pengajaran. Ia membolehkan guru itu untuk menjadi lebih kreatif dalam mengembangkan
kecerdasan dan potensi murid. Kecerdasan pelbagai ini tidak menghadkan guru ke atas cara
pengajaran tertentu tetapi ia membolehkan guru mengaplikasikan pendekatan yang pelbagai. Ini
akan menjadikan pengajaran dan pembelajaran itu satu proses yang seronok untuk dilalui oleh
guru dan diikuti oleh pelajar.
Melalui kecerdasan pelbagai, pelajar juga akan mendapat kebaikan dari aplikasi kecerdasan
pelbagai ini dimana pelajar dapat memahami potensi yang ada pada diri mereka sendiri dan
mereka akan merasa diri mereka dihargai kerana kecerdasan yang ada pada diri diiktiraf. Selain
itu, pelajar juga akan dapat memahami kecerdasan yang ada pada individu disekeliling mereka
yang dapat membantu lagi untuk mengembangkan potensi dalam diri mereka.
Pelajar tidak akan rasa terasing dan rendah diri dengan kecerdasan pelbagai. Ini kerana,
sesetengah kecerdasan hanya mengiktiraf kecerdasan dalam logikal-matematik dan apabila
seseorang pelajar itu tidak dapat menguasai kecerdasan logikal-matematik maka pelajar
dikategorikan sebagai lemah. Sedangkan banyak lagi kecerdasan dan kekuatan lain yang ada
pada diri pelajar tidak diberi perhatian. Sebaliknya, kecerdasan pelbagai memberI perhatian
terhadap kecerdasan selain logikal-matematik disamping kecerdasan logikal-matematik itu
sendiri. Maka pelajar akan rasa lebih bersemangat untuk belajar. Kecerdasan pelbagai ini dapat
memberi keyakinan yang jitu kepada pelajar. Ini kerana kekuatan mereka dalam kecerdasan
tertentu diberikan perhatian dan begitu juga kelemahan mereka akan diperbaiki. Ini dapat
menaikkan lagi semangat dan keyakinan mereka untuk memperkembangkan lagi kecerdasan
mereka dan untuk memperbaiki kelemahan yang ada pada diri mereka.
Kecerdasan pelbagai ini juga mempunyai kelebihan dimana ia dapat mengenal pasti kecerdasan
secara kontekstual. Kegagalan untuk mengenalpasti kecerdasan ini boleh memberi impak ke atas
pengurusan modal insan dalam pendidikan negara. Dalam erti kata lain, kegagalan ini oleh
mengakibatkan pembaziran sumber manusia. Pengurusan modal insan yang sempurna adalah
amat penting untuk masa depan negara. Kegagalan pengurusan modal insan ini akan memberi
kesan ke atas Pelan Induk Pembangunan Pendidikan 2006-2010 yang memfokuskan untuk
membangunkan modal insan.
Kecerdasan pelbagai ini, memandangkan ia memfokuskan hampir kesemua kecedasan pada
manusia, maka ia membolehkan pelajar-pelajar yang dikategorikan sebagai pelajar corot untuk
merealisasikan kebolehan mereka. Dengan menambahkan lagi penilaian disamping penekanan
terhadap verbal-linguistik dan logikal-matematik yang diorientasi oleh sistem pendidikan pada
hari ini, maka pelajar ini akan mendapat peluang untuk menonjolkan kecerdasan mereka masing-
masing. Mereka mungkin mempunyai kecerdasan lain yang lebih tinggi berbanding rakan lain
yang berada dalam kelas yang lebih baik.
Kecerdasan pelbagai, oleh kerana ia memfokus lebih banyak kecerdasan dan memberi peluang
kepada semua individu untuk menonjolkan kecerdasan yang ada pada diri mereka dilihat sebagai
satu bentuk penilaian kecerdasan yang adil. Ini membolehkan semua pelajar mendapat layanan
yang sama rata dan dapat merasakan diri mereka mempunyai nilai dan berkepentingan. Maka,
semua pelajar akan berpeluang untuk bersama-sama berjuang untuk mambagunkan diri dan
negara.
Perlaksanaan teori kecerdasan pelbagai Gardner ini juga mempunyai kelebihan kerana ia juga
dapat mengatasi masalah seperti gejala ponteng kelas dan ponteng sekolah. Bagaimana teori
kecerdasan pelbagai ini dapat membantu mengatasi masalah ini? Teori kecerdasan pelbagai
dapat mengatasi masalah ini kerana ia memberi ruang untuk pelajar mengembangkan potensi
dalam diri mereka. Dengan itu minat untuk belajar dapat ditingkatkan kerana apa yang mereka
pelajari dapat mereka kembangkan berdasarkan apa yang ada dan sesuai dengan diri
mereka.Dengan adanya minat, pelajar akan sanggup untuk melaui apa jua kesukaran demi
mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka kerana telah timbul minat untuk
menguasainya.
Kecerdasan pelbagai ini dikatakan dapat mengatasi masalah bosan dengan sistem pembelajaran
sedia ada di sekolah. Minat untuk belajar memainkan peranan yang amat penting dalam
pembelajaran. Ini kerana jika pelajar merasa pembelajaran yang mereka sedang lalui tidak
membawa apa-apa manfaat, maka mereka akan merasa bosan untuk mengikuti kelas terbabit.
Dengan adanya kecerdasan yang sesuai dengan diri pelajar, maka perasaan bosan untuk belajar
dapat diatasi. Pelajar tentunya tidak akan bosan lagi untuk belajar sebaliknya akan lebih berminat
untuk dating ke sekolah kerana beranggapan bahawa pelajaran itu menyeronokkan, berfaedah
untuk masa hadapan mereka dan bukannya sebagai satu bebanan.
Teori kecerdasan pelbagai ini mempunyai pelbagai cara untuk diaplikasikan. Dengan
kepelbagaian ini, kita dapat memupuk dan mencungkil mana-mana kecerdasan yang diingini
malah jika kena dengan cara pengajarannya, seseorang pelajar itu tidak mustahil untuk dapat
menguasai kesemua kecerdasan yang diutarakan oleh Howard Gardner ini.
Antara lainnya, dengan teori kecerdasan pelbagai ini, kita tentunya tidak perlu menghadapi
kemelut yang melanda sistem pendidikan negara baru-baru ini iaitu masalah pengajaran dan
pembelajaran Sains dan Matematik dalam Bahasa Inggeris (PPSMI). Jika dari dulu kita
memahami dan melaksanakan teori kecerdasan pelbagai, kita tentunya tidak akan menukar
sistem pengajaran dan pembelajaran Sains dan Matematik ke dalam Bahasa Inggeris. Ini kerana,
dalam sistem itu, adalah sangat jelas dimana ia hanya menekankan kecerdasan verbal-linguistik
dan kecerdasan logikal-matematik. Sedangkan terdapat ramai pelajar yang tidak dapat menguasai
kecerdasan itu dan penekanan terhadap hanya dua jenis asas kecerdasan itu sebenarnya boleh
memudaratkan anak bangsa dan tentunya Negara pada masa hadapan. Maka langkah yang
diambil untuk tidak meneruskan PPSMI adalah satu langkah yang bijak kerana ia adalah adil
untuk semua yang sejajar dengan kecerdasan pelbagai Gardner.
Di sini, kita dapat lihat dengan jelas betapa kecerdasan pelbagai ini adalah sangat adil kerana ia
tidak menekankan pada kecerdasan tertentu yang mungkin tidak dapat dikuasai oleh pelajar atau
individu yang lain. Ia juga tidak bermaksud bahawa pelajar yang mempunyai kecerdasan tertentu
contohnya di sini kecerdasan verbal-linguistik dan logikal-matematikdibiarkan maju sendiri
tanpa perhatian malah mereka ini masih mempunyai peluang yangsama untuk mereka
memgembangkan potensi dalam asas-asas kecerdasan ini disampingpeluang untuk mengenalpasti
kecerdasan lain yang ada dalam diri yang tidak mungkin ditemuitanpa perhatian yang diberi
melalui kecerdasan pelbagai
TINGKAH LAKU BERMASALAH
DISEDIAKAN OLEH: NG EE TIENG

1.0 Konsep Tingkah Laku Bermasalah
Tingkah laku bermasalah merupakan tingkah laku yang tidak normal atau terkeluar dari nilai
norma sosial masyarakat termasuk sekolah. Mohd. Nazar Mohamad (1990) menyatakan
bahawa tingkah laku bermasalah seseorang individu sebagai tingkah laku yang mengganggu
perjalanan kehidupannya. Manakala di bawah konteks pendidikan pula, tingkah laku
bermasalah merujuk kepada sebarang tingkah laku murid yang boleh menjejaskan kelicinan
ataupun keberkesanan pengajaran dan pembelajaran terutamanya di dalam bilik darjah.

2.0 Jenis-jenis Tingkah Laku Bermasalah
Tingkah laku bermasalah boleh diklasifikasikan kepada dua kategori utama iaitu tingkah laku
bermasalah negatif dan tingkah laku bermasalah positif. Dimana tingkah laku bermasalah
negatif merangkumi tingkah laku yang menghalang (bergantung), tingkah laku yang
mengganggu (disruptif), dan tingkah laku antisosial (distruktif). Manakala tingkah laku positif
merangkumi tingkah laku ingin tahu, cepat belajar, pintar cerdas, dan proaktif (Mok Soon Sang,
2011).

Di dalam tingkah laku bermasalah negatif, tingkah laku bergantung merupakan kelakuan
yang membahayakan diri dan tidak mengganggu murid yang lain. Misalnya mereka yang
berkelakuan kebimbangan, pergantungan berlebihan, pengunduran diri dan pengasingan diri
telah dikategorikan dalam tingkah laku bermasalah bergantung. Seperkara lagi, tingkah laku
disruptif bukan sahaja membahayakan diri tetapi membahayakan murid lain. Hal ini kerana
murid yang hiperaktif sering bertindak tanpa memikirkan akibatnya. Manakala tingkah laku
distruktif merupakan tingkah laku yang berbahaya. Ini kerana tingkah laku ini merupakan aktiviti
jenayah dimana ia akan mengancam keselamatan orang lain serta kemudahan-kemudahan
sekolah.

Tambahan pula, tingkah laku bermasalah positif iaitu tingkah laku ingin tahu boleh
merujuk kepada murid-murid bersikap ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu perkara yang
dilihat. Misalnya, murid-murid menyentuh barang tanpa mendapat kebenaran daripada guru.
Tingkah laku ini akan menimbulkan situasi yang berbahaya terutamanya dalam makmal. Selain
itu, murid-murid yang mudah memahami sesuatu konsep dengan cepat telah dikategorikan
dalam tingkah laku cepat belajar. Misalnya, murid yang cepat belajar akan berasa bosan dan
tidak akan memberi tumpuan lagi apabila guru mengulangi penerangannya.

Bagi murid-murid yang bertingkah laku pintar cerdas pula, mereka mempunyai kebolehan
dalam aktiviti intelek seperti pemikiran abstrak, pemikiran logik, kemahiran lisan dan
mempunyai daya reka cipta yang tinggi. Jadi, mereka akan cepat memahami terhadap konsep-
konsep yang disampaikan oleh guru. Ini akan menyebabkan mereka hilang penumpuan
sekiranya kaedah pengajaran guru adalah lambat. Manakala bagi murid yang bertingkah laku
proaktif pula, mereka adalah sentiasa aktif dan bertindak dengan penuh semangat serta jarang
menunggu arahan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, selepas mereka memerhati sesuatu
demonstrasi di dalam makmal, mereka ingin menjalankan uji kaji dengan serta merta.

3.0 Cara-cara Mengenal Pasti Murid yang Bermasalah Tingkah
Laku
Guru boleh mengenalpasti murid-murid yang bermasalah tingkah laku melalui pelbagai kaedah
iaitu melalui ujian, bukan ujian, dan kajian. Di dalam kaedah ujian, ahli psikologi atau kaunselor
sekolah akan mentadbirkan ujian-ujian psikologi dan diagnostik ini. Penilaian psikologi
dilaksanakan terhadap muid-murid yang menunjukkan isu emosi dan isu tingkah laku. Penilaian
ini biasa terdiri daripada sesi temuduga dan analisa latar belakang. Antara penilaian psikologi
biasanya terdiri daripada perasaan, personaliti, tekanan, stail dan kebolehan untuk berkait
kepada orang lain, serta tingkah laku bermasalah dan emosi. Tujuan utama bagi penilaian
psikologi adalah untuk mendapat sesuatu gambaran bagi tingkah laku klien atau tahap emosi
distres dan juga menilai kekuatan dan kelemahan murid-murid secara keseluruhan (Ragbir
Kaur, 2012).

Bagi penilaian diagnostik pula, ia berfokus kepada menilai ciri-ciri biasa dan tidak biasa
mengenai fungsi keseluruhan seseorang individu. Dimana penilaian diagnostik daripada
komponen-komponen temuduga klinikal, peperiksaan status mental, dan satu atau lebih
peperiksaan psikologikal. Tambahan pula, penilaian ini boleh disingkatkan dengan ujian
psikologikal yang terhad kepada aspek-aspek spesifik. Ia juga boleh terdiri daripada penilaian
komprehensif yang terdiri daripada ukuran personaliti yang panjang dan terperinci. Biasanya,
ahli-ahli psikologi sekolah atau kaunselor sekolah yang akan mentadbirkan penilaian diagnostik
kerana ujian ini agak menyukarkan guru kelas. Hal ini kerana guru-guru kelas tiada masa untuk
mentadbirkan begitu banyak komponen dalam penilaian diagnostik.

Kaedah bukan ujian iaitu melalui pemerhatian dan temubual juga boleh digunakan untuk
mengenalpasti murid-murid yang bermasalah tingkah laku. Dimana pemerhatian merupakan
sesuatu kaedah kajian yang boleh digunakan oleh guru untuk mencari kebaikan dan kelemahan
murid-murid dan menentukan faktor-faktor yang menyebabkan sesuatu tingkah laku
bermasalah berlaku. Kaedah pemerhatian ini adalah penting bagi guru untuk menentukan
kekerapan, tempoh langsungnya serta intensiti sesuatu salah laku murid yang telah dikenal
pasti. Data yang dikumpul melalui teknik pemerhatian adalah penting bagi seseorang guru. Hal
ini kerana guru boleh merancang tindakan susulan untuk menyelesaikan salah laku di dalam
bilik darjah. Di samping itu, ia juga boleh menolong guru mengawal tingkah laku bermasalah di
dalam bilik darjah. Bagi kaedah temubual pula, ia merupakan satu siri penyoalan dan
perbincangan antara guru bimbingan dengan murid bermasalah, ibu bapa, penjaga, rakan
sebaya dan pihak lain untuk mendapat maklumat.

Seperkara lagi, guru-guru juga boleh menggunakan kaedah kajian untuk membuat
analisis yang terperinci mengenai murid-murid yang menunjukkan tingkah laku bermasalah di
dalam bilik darjah. Dimana metodologi yang boleh digunakan ialah kajian rentasan, kajian
membujur, kajian kes, dan kajian dokumen. Penyelidikan kajian rentasan melibatkan
pemerhatian sasuatu sampel populasi. Di mana kumpulan-kumpulan yang berlainan boleh
dibandingkan pada peringkat-peringkat umur tertentu berdasarkan angkubah-angkubah seperti
IQ dan memori. Dalam kajian rentasan, guru-guru akan mengkaji murid-murid bermasalah pada
peringkat-peringkat umur yang tertentu sahaja. Misalnya, guru-guru mengambil sampel kanak-
kanak yang mempunyai tingkah laku bermasalah daripada peringkat umur yang berlainan untuk
dikaji. Perubahan-perubahan dalam tingkah laku bermasalah diukur dengan membandingkan
perlakuan murid-murid dari suatu peringkat umur ke peringkat umur yang lain.

Di samping itu, kajian membujur merupakan satu kajian korelasi yang melibatkan
pemerhatian berulang mengenai item-item penyelidikan yang sama untuk satu jangka masa
yang lama. Data kajian membujur boleh dipungut melalui soal selidik atau data pentadbiran.
Melalui kajian membujur, murid-murid bermasalah yang diperhatikan dalam jangka masa yang
panjang oleh guru-guru untuk menilai semua perubahan tingkah lakunya. Kajian ini melalui
pemerhatian kepada tingkah laku murid bermasalah untuk mendapat maklumat terperinci
mengenai perubahan-perubahan dalam tingkah lakunya. Kajian ini memerlukan masa yang
panjang dan perbelanjaan yang tinggi.

Tambahan pula, guru-guru boleh menjalankan kajian kes untuk menganalisa tingkah
laku bermasalah secara terperinci khususnya bagi murid-murid yang mempunyai salah laku
yang serius. Kajian kes ini biasanya melibatkan sasuatu kajian membujur secara mendalam
mengenai sesuatu kes. Kajian kes merupakan suatu kaedah yang sistematik unuk melihat
kejadian, mengumpul dan menganalisa data serta melaporkan keputusan tersebut. Melalui
kajian kes, setiap aspek hidup dan latar belakang individu telah dianalisis untuk melihat corak
dan faktor-faktor penyebab tingkah laku. Di samping itu, tujuan utama menjalani kajian kes ialah
generalisasi yang dibuat pada satu kes boleh digeneralisasikan kepada banyak kes yang lain.
Guru-guru juga boleh menggabungkan kaedah kajian seperti temubual dan pemerhatian
dengan rakan sebaya untuk membina kajian kes yang kuat. Terdapat suatu kelemahan bagi
kajian kes ini, dimana ia mengambil masa yang panjang untuk mendapat keputusan kajian.
Kadang-kadang, keputusan kajian kes juga susah untuk digeneralisasikan kepada populasi
yang lebih besar.

Bagi kajian dokumen pula, ia merupakan analisis bertulis yang dibuat oleh guru-guru
terhadap sesuatu tingkah laku bermasalah berdasarkan dokumen-dokumen yang dikumpulkan
mengenai murid-murid yang biasa menunjukkan salah laku di sekolah. Dimana kajian dokumen
ini boleh dibahagikan kepada dua kategori iaitu rekod awam dan dokumen peribadi. Tambahan
pula, dokumen peribadi ialah akaun orang pertama atau pengalaman dan kejadian yang telah
berlaku. Dokumen kehidupan ini termasuk punca diari, portfolio, gambar, kerja lukisan, jadual,
buku skrap, dan suratkhabar. Dokumen-dokumen ini juga mengandungi anekdot, borang
maklumat murid, laporan-laporan pemerhatian dan temuramah serta dokumen yang
mengandungi maklumat mengenai tingkah laku dan perkembangan murid bermasalah.
Dokumen-dokumen ini amat berguna dalam sesuatu projek penyelidikan. Hal ini kerana ia
membekalkan maklumat yang mengenai budaya sekolah dan ahli yang terlibat dalam sesuatu
projek bagi seseorang guru.

4.0 Pengurusan Tingkah Laku Bermasalah
Dengan diagnosis dan analisis dokumen-dokumen ini, guru boleh memperkenalkan teknik-
teknik modifikasi tingkah laku untuk menangani tingkah laku bermasalah murid-murid. Dimana
pengurusan tingkah laku boleh dirujuk sebagai sesuatu rancangan untuk memodifikasi tingkah
laku bermasalah ke matlamat yang ditetapkan dengan menggunakan teknik-teknik atau
kaedah-kaedah yang sesuai seperti peneguhan positif dan negatif. Tujuan utama bagi
pengurusan tingkah laku adalah untuk mengurangkan dan melupuskan tingkah laku negatif
yang tidak diingini serta memupuk tingkah laku laku positif yang diingini (Mok Soon Sang,
2010). Melalui rancangan berkenaan, guru-guru harus memberitahu murid-murid tentang
tingkah laku yang harus diamalkan di sekolah serta peraturan-peraturan sosial yang harus
ditunjukkan dalam bilik darjah. Selain itu, guru-guru harus membetulkan tingkah laku murid
yang salah dengan menunjukkan mereka tingkah laku yang betul. Hal ini kerana terdapat kajian
yang menunjukkan bahawa kanak-kanak ini mungkin mengalami masalah kesihatan mental
pada kelak nanti.

Terdapat tiga peringkat yang telah ditetapkan dalam proses memodifikasikan tingkah
laku murid-murid iaitu taksiran, intervensi, dan penilaian. Pada peringkat awal, seseorang guru
harus mengenalpasti tingkah laku bermasalah yang ditunjukkan oleh seseorang murid. Jadi,
guru boleh menetapkan objektif tingkah laku yang sepatut ditunjukkan oleh murid tersebut.
Tingkah laku bermasalah akan dinilai supaya masalah dapat ditangani untuk membawa
perubahan pola tingkah laku kepada murid-murid yang bermasalah. Dalam proses intervensi
pula, seseorang guru boleh menggunakan pelbagai teknik modifikasi tingkah laku untuk
memperbetulkan tingkah laku yang salah. Dalam tahap ini, guru mestilah memodifikasikan
tingkah laku bermasalah supaya mereka tidak bergantung kepada ganjaran-ganjaran ekstrinsik
tetapi menunjukkan tingkah laku yang betul. Manakala dalam tahap penilaian pula, guru
berkenaan menilai hasil kesemua intervensi tingkah laku dan membuat kesimpulan yang
mengenai program modifikasi tingkah lakunya (Ragbir Kaur, 2012).

Sebagai rumusan, dalam proses modifikasi tingkah laku, guru-guru mestilah mengikut
langkah-langkah yang berikut iaitu membuat pemerhatian awal dan penilaian terhadap tingkah
laku bermasalah. Seterusnya, mengenalpasti dan menentukan objektif tingkah laku positif yang
perlu dicapai oleh murid-murid. Kemudiannya, menunjukkan satu set tingkah laku positif iaitu
sama ada dengan kaedah model atau pemberitahuan. Akhirnya, memberikan ganjaran atau
peneguhan untuk tingkah laku positif secara tekal dan konsisten. Jikalau murid-murid masih
menunjukkan tingkah laku bermasalah walaupun pelbagai teknik dan intervensi digunakan,
jadi mereka perlu mendapat nasihat dan bantuan dari para professional.

Terdapat beberapa prinsip yang boleh diamalkan untuk mengekalkan dan meningkatkan
tingkah laku yang diingini dalam sesebuah sekolah. Dimana guru boleh mengamalkan prinsip
bersiri anggaran untuk mengajar murid yang bermasalah untuk beraksi dalam satu cara yang
dia tidak pernah melakukan sebelum ini. Guru juga boleh memberikan ganjaran secara bersiri
sehingga masalah tingkah laku ditangani. Misalnya, seseorang murid yang suka bercakap
dengan kuat dan kurang berminat untuk belajar. Dalam pengaplikasian prinsip ini, guru boleh
memberi ganjaran kepada murid tersebut apabila dia bercakap dengan perlahan atau
mengangkat tangan untuk menjawab soalan (Ragbir Kaur, 2012).

Di samping itu, prinsip peneguhan berterusan juga perlu diamalkan untuk mengekalkan
dan meningkatkan tingkah laku yang diingini. Apabila guru ingin membangunkan satu tingkah
laku yang baru terhadap seseorang murid yang belum menunjukkan sebelum ini, beliau akan
memberikan ganjaran dengan serta merta secara berterusan semasa tingkah laku yang betul
dipertunjukkan oleh murid tersebut. Sebagai contoh, seorang murid yang gagal dalam mata
pelajaran sains, guru akan memberikan ganjaran setiap kali murid tersebut boleh menjawab
satu set soalan sains dengan betul. Ini akan menggalakkan murid untuk mencuba dan membuat
lebih banyak soalan sains dan seterusnya menikmati kejayaan dalam mata pelajaran tersebut.

Bagi prinsip peneguhan negatif pula, guru-guru akan memastikan murid menunjukkan
peningkatan tingkah laku untuk mengelakkan daripada hukuman ringan yang telah ditetapkan
oleh seseorang guru. Misalnya, jika seorang murid tidak ingin pergi ke bilik Guru Besar, dia
perlulah duduk dengan diam sepanjang pengajaran dijalankan. Dalam prinsip peningkatan
peneguhan, seseorang guru ingin menggalakkan murid untuk terus berusaha membuat satu
tingkah laku yang telah dilazimkan dengan ganjaran, beliau akan meningkatkan jangka masa
bagi murid tersebut untuk terus menunjukkan sesuatu tingkah laku yang positif. Misalnya,
seorang kanak-kanak membuat 20 soalan matematik dan menerima pujian daripada guru.
Menurut prinsip ini, guru akan meningkatkan kerja rumahnya kepada 50 soalan matematik serta
menggalakkan untuk menjawab dengan betul sebelum murid tersebut pada kali yang berikutnya
(Ragbir Kaur, 2012).

Manakala bagi tujuan mengurangkan dan melupuskan tingkah laku yang tidak diingini.
Seseorang guru boleh mengamalkan prinsip penghapusan. Jika guru ingin seorang murid untuk
bertindak laku dalam cara tertentu, dia boleh mewujudkan situasi dimana murid-murid tidak
mendapatkan sebarang peneguhan atau perhatian selepas menunjukkan sesuatu tingkah laku
bermasalah. Bagi prinsip pengelakan pula, guru ingin mengajar murid-murid untuk
mengelakkan sesuatu situasi negatif yang tertentu, guru dikehendaki memastikan stimuli
tersebut dielakkan dengan sesuatu stimuli yang kurang selesa. Misalnya, seorang murid yang
sentiasa lewat masuk ke bilik darjah. Guru akan memaklumkan bahawa jika dia lambat lagi, dia
perlu memberi ucapan pada hari perhimpunan sekolah. Prinsip ini akan dikuatkuasakan dan
murid tersebut akan datang dengan awal untuk mengelakkan daripada memberi ucapan pada
hari perhimpunan sekolah.

Tambahan pula, guru juga boleh mengamalkan prinsip pengurangan ketakutan bagi
mengurangkan dan melupuskan tingkah laku yang tidak diingini. Hal ini kerana guru yang ingin
membantu seseorang murid untuk mengatasi perasaan ketakutan dalam sesuatu situasi, guru
itu dikehendaki meningkatkan pendedahan kepada situasi tersebut sehingga murid tersebut
berasa selesa. Sebagai contohnya, seorang murid yang takut untuk menjawab soalan di dalam
bilik darjah, guru boleh menggalakkan murid tersebut menjawab soalan di dalam kumpulan kecil
terlebih dahulu. Ini dapat membina keyakinan sebelum mencuba untuk menjawab soalan di
dalam bilik darjah. Prinsip hukuman juga boleh diamalkan oleh seseorang guru untuk
mengurangkan dan melupuskan tingkah laku yang tidak diingini. Apabila guru ingin
memberhentikan tingkah laku bermasalah yang serius, hukuman seperti merotan perlu
dijalankan. Seperkara lagi, teknik-teknik disiplin yang keras seperti dendaan dan hukuman
akan membawa kesan-kesan negatif kepada murid-murid. Jadi, guru-guru perlu didedahkan
kepada teknik modifikasi tingkah laku yang boleh memodifikasikan tingkah laku murid-murid
dengan cara-cara yang positif.

Terdapat pelbagai teknik boleh digunakan oleh guru-guru untuk memodifikasikan
tingkah laku yang negatif. Antaranya ialah peneguhan, dendaan, reverse psychology, shaping,
token economy, kontrak secara lisan atau bertulis, time-out, modeling, kawalan kendiri,
pengurusan kendiri, peneguhan kendiri dan pengasingan (Ragbir Kaur, 2012). Dimana
peneguhan merupakan sesuatu tingkah laku yang dihasilkan adalah memuaskan, peluang
mengulang tingkah laku tersebut akan bertambah. Ia juga boleh dibahagikan kepada
peneguhan positif dan peneguhan negatif. Peneguhan positif menyediakan pencetus yang
terancang dan sesuai serta memungkinkan pengulangan tingkah laku yang diingini.
Stumphauzer (1985) menyatakan bahawa dalam konteks modifikasi tingkah laku, pencetusan
yang disediakan seperti ganjaran dan harapan kepada remaja akan mengekalkan tingkah laku
yang baik atau mengubah tingkah laku yang bermasalah dengan mengikut norma. Manakala
peneguhan negatif merupakan stimuli yang dipindahkan dengan tujuan menguatkan tingkah
laku positif supaya ia dapat diteruskan. Selain itu, terdapat juga peneguhan negatif yang boleh
menyakiti seseorang individu kerana tingkah laku operannya kurang sesuai. Misalnya guru
mengejek kesilapan seseorang murid di hadapan orang ramai.

Seperkara lagi, dendaan juga merupakan salah satu teknik modifikasi tingkah laku (Ee Ah
Meng, 2001). Skinner menyatakan bahawa dendan hanya boleh membawa kesan dalam tempoh
yang singkat sahaja. Selepas itu, tingkah laku yang tidak diingini biasanya akan diulangi. Di
samping itu, murid yang didenda kerana tidak menguasai sesuatu kemahiran, ini akan
menyebabkan murid tersebut menimbulkan sikap kebencian terhadap pembelajarannya.
Bagi reverse psychology pula, ia memerlukan kemahiran guru memahami psikologi, sikap,
pandangan dan pemikiran murid berkenaan. Tujuan utama bagi teknik ini adalah mencabar
murid agar melepaskan sikap negatif dan memupuk sikap positif demi membentuk tingkah laku
yang diingini. Sebagai contohnya, jika seorang guru ingin murid berdiam, beliau mungkin
mengatakan dengan suara yang tegas seperti berikut, Teruskan dan buat bising sekuat yang
anda semua boleh. Murid-muridnya akan diam dengan serta-merta kerana mereka memahami
maksud sebenar yang disampaikan oleh guru. Justeru, dalam reverse psychology guru
mengatakan sesuatu untuk mendapat suatu reaksi yang bertentangan.

Selain itu, teknik shaping juga merupakan salah satu teknik modifikasi tingkah laku.
Menurut Mok Soon Sang (2011), teknik shapingdigunakan untuk mengajar haiwan secara
berperingkat supaya melakukan aktiviti permainan seperti dalam sarkas dan zoo. Di dalam
sebuah makmal, Skinner memasukkan seekor tikus ke dalam sebuah kotak khas yang dikenali
sebagai Skinner Box yang terdiri daripada tombol, alat memberi makanan, bekas makanan,
lampu yang dapat dikawal nyalaannya. Disebabkan dorongan lapar, tikus berusaha keluar
untuk mencari makanan. Semasa berusaha keluar dari kotak, tikus tertekan tombol dan
makanan keluar. Semenjak itu, tikus menekan tombol apabila lapar dan makanan keluar secara
beperingkat dengan berdasarkan peningkatan tahap pelaziman tikus tersebut, proses ini juga
dikenali sebagai shaping. Justeru, ahli-ahli psikologi menyatakan bahawa proses shaping ini
juga boleh digunakan untuk membentuk tingkah laku manusia yang diingini.

Guru juga boleh menggunakan teknik token economy untuk memodifikasikan tingkah
laku murid-murid. Token economy merupakan satu sistem yang meneguhkan tingkah laku
positif dengan memberikan token atau hadiah kepada murid-murid yang mencapai tingkah laku
yang diingini. Misalnya, guru memberi bintang kepada murid-murid yang mendapat markah
yang ditetapkan. Setelah murid berjaya mengumpulkan 10 bintang, dia boleh menukarkan
hadiah seperti sekotak pensil warna daripada gurunya. Satu lagi teknik modifikasi tingkah laku
yang boleh diamalkan oleh guru-guru adalah kontrak secara lisan atau bertulis. Dimana guru
boleh membuat satu persetujuan di antara guru dengan murid setelah guru membincangkan
dengan murid berkenaan. Jika kontrak dibuat secara bertulis, kontrak itu perlu ditandatangani
oleh kedua-dua pihak dan jika murid melanggari, dia akan dihukum seperti yang ditetapkan
dalam kontrak tersebut (Ee Ah Meng, 1999).

Time out juga merupakan satu teknik modifikasi tingkah laku murid-murid. Dalam teknik
ini, jika murid tidak menunjukkan tingkah laku yang diingini, dia akan dihantar ke satu lokasi
yang ditetapkan oleh guru. Misalnya bagi murid yang tidak menyiapkan kerja rumah, guru boleh
mengarahkan murid tersebut melengkapkannya dalam ruang time out. Murid tersebut
dibenarkan masuk ke bilik darjahnya apabila dia berjaya menyiapkan kerja rumahnya. Time
out ini adalah berkesan bagi murid-murid yang berumur di antara 4 hingga 12 tahun sahaja.
Dimana masa yang diperuntukkan bagi teknik ini adalah bergantung kepada darjah keseriusan
masalah tingkah laku murid tersebut. Seperkara lagi,modeling juga merupakan salah satu
teknik modifikasi tingkah laku. Dimana ia juga dikenali sebagai pembelajaran pemerhatian. Hal
ini kerana guru menunjukkan suatu tingkah laku yang baik di kalangan murid-murid yang
bermasalah dengan menyuruh mereka membuat pemerhatian. Selepas itu, mereka akan
disuruh untuk membuat simulasi menegnai keadaan yang diperhatikan supaya murid-murid
boleh menunjukkan tingkah laku positif yang sama.

Teknik modifikasi pengurusan kendiri, peneguhan kendiri dan pengawalan kendiri
mempunyai pendekatan yang sama dengan teknikmodeling. Dalam memodifikasikan teknik ini,
guru-guru dikehendaki memodelkan sesuatu jenis tingkah laku positif dan menerangkan secara
eksplisit langkah-langkah yang harus ditunjukkan oleh murid-murid dalam mengikuti tingkah
laku tersebut. Manakala pengurusan kendiri harus diimplementasikan sebelum tingkah laku
bermasalah berlaku. Ketiga-tiga teknik modifikasi tingkah laku ini mengajar murid-murid untuk
melengkapkan tugasan sendiri dan mengambil peranan yang aktif untuk memantau dan
meneguhkan tingkah laku kendiri. Teknik pengasingan merupakan teknik yang terakhir bagi
modifikasi tingkah laku murid-murid. Dalam teknik ini, murid-murid disuruh keluar daripada bilik
darjah atau dimasukkan dalam kelas detensi untuk menjalankan hukuman yang ditetapkan oleh
guru. Guru-guru membiarkan tingkah laku murid-murid yang bermasalah negatif dengan tidak
memberi sebarang perhatian kepadanya. Teknik ini berdasarkan andaian bahawa tingkah laku
yang tidak diteguhkan akan terhapus dengan sendirinya.

5.0 Kesimpulan
Tingkah laku bermasalah tidak boleh memandang remeh. Hal ini kerana ia akan menjejaskan
keberkesanan pengajaran dan pembelajaran. Setelah suatu tingkah laku bermasalah
dikenalpasti, guru seharusnya menggunakan teknik modifikasi tingkah laku yang sesuai untuk
menangani masalah tersebut. Pengajaran dan pembelajaran akan dijalankan dengan lancar
apabila tingkah laku bermasalah diselesaikan. Guru juga dikehendaki menunjukkan amalan
nilai-nilai murni atau teladan sebagai contoh kepada murid-murid. Pandangan dan kajian dari
tokoh-tokoh juga boleh dijadikan sebagai panduan oleh pihak sekolah bagi merancang strategi-
strategi untuk meningkatkan keberkesanan mengatasi tingkah laku bermasalah di kalangan
murid-murid.

Bibliografi

Ee, A. M. (1999). Psikologi pendidikn I: Psikologi Pendidikan

(Semester I). Kuala Lumpur: Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd.

Ee, A. M. (2001). Pedagogi II (2
nd
ed.) (Semester II). Shah Alam,

Selangor: Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd.

Mok, S. S. (2011). Psikologi pendidikan (2
nd
ed.). Puchong, Selangor:

Penerbit Multimedia Sdn. Bhd.

Ragbir Kaur Joginder Singh. (2012). Panduan ilmu pendidikan untuk

DPLI psikologi. Subang Jaya, Selangor:

Kumpulan Budiman Sdn. Bhd.


Suppiah Nachiappan, Kamarulzaman Kamaruddin, Abd. Aziz Abd.

Shukor, Ramlah Jantan, Roslinda Mustapha, dan Hazalizah

Hamzah. (2009). Pembelajaran dan perkembangan pelajar.

Shah Alam, Selangor: Oxford Fajar Sdn. Bhd.

Internet

Teori Skinner: Teori modifikasi tingkah laku Skinner. (2010, Mei).

Dimuat turun dari http://akugpc.blogspot.com/2010/05/

teori-skinner.html

Tingkah Laku Bermasalah. (2010, September). Dimuat turun dari

http://www.scribd.com/doc/37767402/tingkahlaku-bermasalah
engurusan tingkah laku merupakan satu rancangan untuk memodifikasikan tingkah laku
bermasalah ke satu matlamat yang telah ditetapkan dengan teknik-teknik atau kaedah-kaedah
yang sesuai. Dalam melaksanakan pengurusan tingkah laku, guru perlu memberitahu murid-
murid tentang tingkah laku yang harus diamalkan di sekolah dan peraturan-peraturan sosial yang
harus ditunjukkan di dalam bilik darjah.

Pengurusan tingkah laku juga adalah tindakan yang dilakukan oleh guru, ibubapa atau pihak-
pihak tertentu untuk membentuk perlakuan luaran atau dalaman individu atau kumpulan supaya
mempunyai tingkah laku yang bermanfaat, produktif dan diterima oleh masyarakat

Menurut Stone (2007), kalau tingkah laku boleh dipelajari maka sudah tentu ia juga boleh diubah
atau diubahsuai. Kebanyakan tingkah laku berbentuk operan dan bukannya responden . Oleh itu
tingkah laku berubah apabila persekitaran berubah dan menyediakan konsekuens yang berbeza.
Dalam menjayakan pengurusan tingkah laku, guru mesti selalu memodelkan tingkah laku yang
positif. Guru juga harus menggunakan contoh-contoh visual dan konkrit untuk menunjukkan
interaksi yang positif dalam sistem persekolahan. Disamping itu, guru juga harus membetulkan
tingkah laku murid yang salah dengan menunjukkan mereka tingkah laku yang betul.

1.3.2 Definisi Pengurusan Tingkah Laku

Pengurusan tingkah laku adalah tugas guru untuk menyediakan murid-murid supaya hendak
belajar.
( Bradley, King, Sears dan Teassier Switlick, 1997 )

Pengurusan tingkah laku adalah merupakan langkah yang sistematik untuk mengubah tingkah
laku negatif kepada tingkah laku yang positif.
( Behaviour Modification )

Pengurusan tingkah laku adalah program tingkah laku yang berbentuk saintifik yang dibuat
secara analisis untuk menghasilkan perubahan tingkah laku sosial yang positif bagi seorang
individu.
( Bear, Wolf dan Risley, 1968 )
v. TOKEN EKONOMI
Guru boleh memberikan token untuk mengawal tingkah laku murid semasa
pengajaran dan pembelajaran berlangsung supaya proses pembelajaran tidak
terganggu. Setiap kali murid menunjukkan tingkah laku yang positif, akan diberikan satu
token oleh guru. Token terdiri daripada kad-kad berwarna atau bintang yang
mempunyai nilai-nilai tertentu. Sebagai contoh kad biru sebanyak lima markah, kad
merah sebanyak 10 markah dan sebagainya. Jika murid telah mengumpul banyak

markah, maka akan diberikan hadiah. Ini akan memotivasikan murid untuk terus
menunjukkan tingkah laku yang positif.

Selain itu, jika murid menunjukkan tingkah laku yang baik seperti menghasilkan
kerja yang bermutu, maka, guru akan memberikan hadiah sebagai tukaran. Ini akan
memotivasikan murid supaya lebih gigih lagi
Mengikut Mohd Nazar Mohamad ( 1990 ), mentakrifkan masalah tingkah laku
individu sebagai tingkah laku yang menggangu perjalanan kehidupannya. Menurut
Robert H Woody di dalam bukunya berjudul The School and the Behaviour Problem
Child menyatakan semua tingkah laku di sekolah dapat diperlihatkan dalam berbagai
bentuk dan ragam. Kanak-kanak tidak dapat menyesuaikan diri mereka dengan
keadaan dan suasana pembelajaran. Keadaan begini selalu menjejaskan pelajaran dan
keupayaan mereka untuk belajar dan berhubung dengan orang lain.

Mengikut pandangan Lewis M. Beaker (2001), sebarang perbuatan yang
dilakukan sama ada secara terus atau tidak, secara sedar atau separa sedar. Bagi
Garry Martin & Joseph Pear (2003), tingkah lagu juga merangkumi aktiviti, aksi,
prestasi, bertindak balas, tindakan atau reaksi. Dari segi teknik, aktiviti yang melibatkan
otot-otot, kalenjar (glandular) dan aktiviti eletrik oleh setiap organ. Pada dasarnya
tingkahlaku adalah apa saja yang diperkatakan atau dilakukan oleh individu. Feldhusen

( Levin & Nolan, 2004), merujuk kepada tingkah laku yang bermasalah yang melakukan
gangguan terhadap perlaksanaan proses pengajaran yang lancar. Menurut Emmer (
Levin & Nolan, 2004) pula, mengganggu pengajaran guru serta pembelajaran beberapa
orang murid untuk jangka masa yang tertentu.

Manakala, dalam konteks pendidikan, masalah tingkah laku merujuk kepada
sebarang tingkah laku murid yang boleh menjejaskan kelicinan atau keberkesanan
pembelajaran dan pengajaran khasnya di dalam bilik darjah. Kanak-kanak yang
menghadapi masalah tingkah laku tidak boleh menyesuaikan dirinya dengan kelakuan-
kelakuan yang diterima oleh masyarakat dan selalunya keadaan ini menjejaskan
keadaan pelajarannya, keupayaan untuk belajar dan perhubungannya dengan orang
lain. Di dalam bahasa Inggeris, masalah tingkah laku disebut sebagai Abnormal
Behavior iaitu tingkah laku yang terkeluar dari nilai dan norma masyarakat. Konsepnya
bertentangan dengan tingkah laku normal yang lazimnya dipersepsi, dirasai, dilakukan
dan dialami oleh kebanyakan orang dalam masyarakat.

Tingkah laku bermasalah ini boleh berupa tingkah laku negatif atau positif dan
yang pastinya masalah ini boleh membawa kesan yang tidak baik atau memudaratkan
proses pengajaran dan pembelajaran di dalam bilik darjah. Oleh yang demikian, adalah
menjadi tanggungjawab seorang guru mengenalpasti murid-murid yang bertingkah laku
bermasalah di dalam kelasnya agar strategi atau teknik tertentu dapat diguna pakai
bagi memastikan keberkesanan aktiviti pengajaran dan pembelajaran di dalam bilik
darjah dapat berjalan dengan lancar serta berkesan.

Justeru itu, terdapat cara-cara untuk mengenal pasti masalah tingkah laku di
kalangan murid iaitu melalui jenis ujian (diagnostik dan psikologi), jenis bukan ujian
(pemerhatian dan temubual) dan kajian (kajian kes, kajian dokumen dan kajian

membujur). Disamping itu, terdapat pengurusan tingkah laku yang mana terdapat
beberapa proses yang telah ditetapkan dalam proses memodifikasikan tingkah laku
dikalangan murid-murid


1.0 PENGENALAN

Sebelum mengambil langkah-langkah untuk mengenalpasti tingkah laku, sebagai guru
perlu mengetahui terlebih dahulu jenis-jenis tingkah laku dan punca tingkah laku
ditunjukkkan.Secara umumnya, tingkah laku bermasalah dapat dikategorikan kepada
tingkah laku bermasalah positif dan tingkah laku bermasalah negatif.Tingkah laku
bermasalah positif bermaksud tingkah laku positif yang ditunjukkan oleh kanak-kanak
tetapi tingkah laku itu akan menjadi bermasalah sekiranya dilakukan secara berlebihan
atau tanpa kawalan dan boleh menimbulkan masalah kepadanya.Misalnya, sifat ingin
tahu yang berlebihan kepada seorang kanak-kanak boleh menyebabkannya bertindak
keterlaluan sehingga menyusahkan dirinya dan orang lain. Tingkah laku bermasalah
negatif adalah jelas iaitu tingkah laku yang menimbulkan masalah kepada dirinya dan
juga orang lain.Contohnya tingkah laku bermasalah negatif adalah seperti disruptif iaitu
perlakuan sentiasa mengganggu perjalanan pengajaran dan pembelajaran dalam kelas.
Tingkah laku ini juga berlaku di luar kelas dan juga di rumah. Pergantungan berlebihan
ialah kanak-kanak yang sangat bergantung kepada orang lain, tidak dapat berdikari,
dan tidak berupaya membuat keputusan sendiri.Manakala tingkah laku agresif adalah
seperti suka memulakan pergaduhan, suka bergaduh, suka memaki hamun dan
sebagainya. Distruktif pula adalah perlakuan yang suka merosakkan benda seperti
kerusi meja, barangan kawan sekelas, mengoyak poster atau notis di papan kenyataan
dan sebagainya.
Tingkah laku yang ditunjukkan oleh kanak-kanak berpunca daripada faktor-faktor
tertentu. Guru perlu memahami faktor-faktor yang menjadi punca masalah tingkah laku
muridnya supaya menjadi panduan dalam merangka program pengurusan tingkah laku
bagi murid tersebut. Roger Stancliffe (tidak bertarikh) telah menyenaraikan 9 faktor
yang dikaitkan dengan masalah tingkah laku kanak-kanak iaitu persekitaran, tekanan
psikologikal, ketakutan dan fobia,peneguhan yang kurang sesuai,kemahiran komunikasi
dan sosial yang terhad, kesukaran tugasan, aktiviti dan tahap rangsangan, kesihatan
dan perubatan,jangkaan tingkah laku.


2.0 LANGKAH-LANGKAH DALAM PROSES PERUBAHAN TINGKAH LAKU

Proses perubahan tingkah laku perlu dilakukan mengikut langkah-langkah yang telah
ditetapkan.
2. 1 Memilih tingkah laku sasaran
Tingkah laku sasaran adalah tingkah laku yang telah dipilih untuk diberi
keutamaan dalam proses perubahan.Memilih hanya satu tingkah laku sasaran pada
satu-satu masa iaitu dengan mengenalpasti masalah-masalah seperti masalah yang
membahayakan diri dan orang lain, Masalah yang boleh mengganggu pembelajarannya
dan murid lain, masalah yang membahayakan keselamatan diri dan murid lain,masalah
yang tidak sesuai dengan umurnya ,masalah yang terlalu kerap berlaku,masalah yang
terjadi akibat kurang mahir dalam bidang-bidang tertentu,masalah yang menyebabkan
murid lain menjauhkan diri daripada berinteraksi dengannya (Zirpoli & Mellow, 2001).
Menganalisis tingkah laku sasaran berdasarkan jenis tingkah laku,kekerapan
berlaku,jangka masa berlaku,tahap keterukan,jumlah keseluruhan tingkah
laku,Mempertimbangkan kemungkinan arah perubahan sama ada meningkat atau
mengurang.Seterusnya memastikan tingkah laku dapat dibuat pemerhatian dan
memastikan tingkah laku dapat diukur perlakuannya.Tingkah laku sasaran dinyatakan
dengan jelas dan khusus sama ada secara lisan atau bertulis.

2..2 Mengumpul dan merekod data
Sebelum melaksanakan program pengurusan tingkah laku, guru perlu mengumpul
maklumat tentang tingkah laku yang hendak diubah. Maklumat atau data yang
terkumpul dikenali sebagai baseline data.Tujuan mengumpul data adalah untuk
mengetahui jumlah tingkah laku tersebut dalam sehari,mengetahui waktu tingkah laku
paling banyak berlaku.Mengetahui sama ada tingkah laku ini mempunyai corak / bentuk
tertentu dan mengetahui sebab-sebab berlaku keadaan tersebut.
Maklumat mengenai tingkah laku diperolehi melalui pemerhatian dan maklumat direkod
melalui teknik-teknik seperti Rekod naratif, Rekod anekdot, Rekod naratif Berterusan,
Rekod kejadian (Event recording), Rekod kekerapan,Rekod jangka masa (Duration),
Rekod had masa (Interval) dan Rekod sampel masa.
2.3 Melaksana intervensi
Setelah guru mengumpul segala maklumat (baseline data) tentang tingkah laku
muridnya, barulah guru dapat melaksanakan program intervensi untuk mengurus
tingkah laku tersebut. Sebelum sesuatu tingkah laku dapat diurus, beberapa perkara
perlu diberil perhatian dahulu, iaitu:
i. Apakah jenis tingkah laku yang dapat diperhati?
ii. Tingkah laku yang mana satu harus diberi keutamaan?
iii. Bila tingkah laku itu berlaku?
iv. Kekerapan tingkah laku itu berlaku.
v. Apakah punca/sebab tingkah laku itu berlaku?
vi. Bagaimana hendak mengurus tingkah laku tersebut?
Baseline data yang diperolehi hendaklah diteliti untuk melihat ciri-ciri, keterukan, dan
corak tingkah laku itu itu berlaku. Dari sinilah guru dapat merancang intervensi yang
hendak dilaksanakan. Progam intervensi dilaksanakan dengan menggunakan strategi
untuk meningkatkan atau mengurangkan tingkah laku yang dibincangkan dalam tajuk
berikutnya.
Program intervensi dijalankan dalam tiga fasa, iaitu:
i. Fasa pra intervensi
ii. Fasa intervensi
iii. Fasa selepas intervensi

Fasa pra intervensi
Dikenali sebagai baseline period, iaitu guru akanmengumpul semua maklumat tentang
tingkah laku murid melalui pemerhatian tanpa sebarang intervensi . Rekod baseline
data ini akan djadikan perbandingan dengan rekod baseline data selepas intervensi.
Fasa intervensi
Setelah guru berpuas hati dengan data yang diperolehi dalam tempoh fasa pra
intervensi, guru boleh memulakan program intervensi yang dirancangkan. Sepanjang
tempoh program intervensi ini tingkah laku tersebut akan diperhati dan direkodkan
(seperti dalam fasa pra intervensi terdahulu) ke dalam geraf bahagian fasa intervensi.
Dicadangkan fasa intervensi ini dijalankan sekiurangh-kurangnya selama dua minggu.
Fasa selepas intervensi
Dalam fasa ini tingkah laku murid akan dinilai untuk menentukan tingkah laku yang
dipelajari dalam tempoh intervensi dapat dikekalkan. Tingkah laku murid akan terus
diperhati dan direkodkan ke dalam bahagian geraf fasa selepas intervensi.

2.4 Menilai keberkesanan intervensi
Intervensi yang dilaksanakan perlu direkod dan ditunjukkan melalui geraf sama seperti
rekodbaseline data. Selepas program intervensi dijalankan pemerhatian akan dilakukan
sekali lagi untuk mendapatkan baseline data yang kedua. Gambaran rekod penilaian
intervensi adalah seperti berikut.


Kekerapan 30
25

20 . . . . .

15 . . . .

10 . . .

5 . . . . .

0 . . .

Hari I S R K J I S R K J I S R K J I S R K J
__Baseline data 1__ ______________ Intevensi ______________ __Baseline data 2 _
(Fasa pra intervensi) (Fasa intervensi ) (Fasa selepas Intervensi)
Baseline data 2 merupakan pemerhatian susulan selepas program intervensi
dilaksanakan. Sekiranya tidak ada perubahan tingkah laku yang diingini ditunjukkan
oleh murid, maka guru boleh melaksanakan intervensi susulan seterusnya dengan
mencuba strategi dan teknik pengubahsuaian tingkah laku yang lain.
Strategi dan prosedur pengurusan tingkah laku
Meningkatkan Tingkah Laku dengan peneguhan positif,peneguhan
negative,pembentukan (shaping),kontrak, ekonomi token,modeling, rantaian (chaining)
dan pengaburan/pelunturan (fading).Cara Mengurangkan Tingkah Laku penghapusan
(extinction), time-out, kejemuan (satiation),hukuman/dendaan,
disensitisasi, overcorrection dan Response cost.
Strategi pengurusan tingkah laku mengikut model
a. biofizikal
b. psikodinamik
c. behavioral
d. persekitaran

3.0 CARA-CARA MENGENALPASTI MURID-MURID YANG BERMASALAH
TINGKAH LAKU
Satu penilaian tingkah laku boleh dijalankan bagi mengenalpasti tingkah laku
sebenar murid yang menyebabkan sesuatu masalah pembelajaran atau masalah
disiplin.Dalam konteks ini,Penilaian Tingkah Laku Berfungsi (Functional Behavioral
Assessment) ialah satu pendekatan yang mengintegrasikan pelbagai teknik dan strategi
untuk mendiagnosis sebab-sebab dan untuk mengenalpasti intervensi-intervensi yang
berkemungkinan untuk mengatasi tingkah laku bermasalah.Teknik dan strategi yang
digunakan ialah seperti temubual,ujian diagnostik dan psikologi,pemerhatian dan
kaedah-kaedah yang lain.Faktor-faktor afektif,sosial dan biologi yang menyebabkan
tingkah laku bermasalah dapat dikenalpasti melalui penilaian tingkah laku berfungsi.Ia
juga digunakan untuk mengesyorkan matlamat-matlamat dan tindakan-tindakan yang
perlu dicapai untuk menyelesaikan tingkah laku bermasalah.

3.1 JENIS-JENIS UJIAN (PSIKOLOGI DAN DIAGNOSTIK)
Sebelum sesuatu ujian psikologi dan diagnostik dijalankan,satu proses perlu
dijalankan oleh guru dengan mengenalpasti murid yang menunjukkan tingkah laku
bermasalah dan membuat perbincangan dengan ibubapa murid tersebut bagi meminta
maklumat mengenai perkembangan keseluruhan murid tersebut.Selepas
perbincangan,ujian I.Q akan diberikan kepada murid-murid untuk menentukan
kebolehan akademiknya secara keseluruhan dan mengenapasti kekuatan dan
kelemahannya.Guru juga boleh mentadbir ujian-ujian diagnostik untuk mendiagnos
tingkah lakunya dengan lebih terperinci.Hasil keputusan ujian diagnostik akan
dibincangkan dengan ibubapa murid tersebut.Guru akan menasihati mereka tentang
tindakan susulan yang mereka harus ambil untuk mengatasi masalah tingkah laku
bermasalah anak mereka.Ibubapa diberikan keputusan ujian-ujian dalam satu laporan
khas.Ujian diagnostik/psikologi boleh ditadbir dalam bentuk soal selidik,skala motivasi
atau senarai semak untuk membuat penilaian serta penganalisaan tingkah laku
bermasalah murid secara sistematik dan terperinci.

3.1.1 Penilaian Psikologi
Secara umumnya penilaian bolehlah ditakrifkan sebagai satu kaedah atau satu
sistem yang digunakan untuk membuat sesuatu perancangan baru yang lebih baik dan
lebih berkesan. Ianya bermula dengan membuat pengumpulan maklumat yang
bertujuan untuk membuat sesuatu keputusan. Secara keseluruhannya penilaian boleh
dijalankan oleh pakar-pakar psikologi, pakar psikiatrik, guru pendidikan khas, guru-guru
dan ibu bapa. Umumnya penilaian dijalankan bertujuan untuk menentukan kekuatan
dan kelemahan serta keperluan seseorang pelajar.D. Stufflebeam,dalam
bukunya Educational Evaluation and Decision (Pedagogi 3 Pengujian Dan Penilaian,
Pemulihan, Pengayaan Dan Pendidikan Inklusif, Mok Soon Sang, Kumpulan Budiman
Sdn Bhd 1997 ) membuat takrifan, penilaian itu sebagai proses menentukan,
mendapatkan dan memberi maklumat yang berguna untuk membuat pertimbangan
mengenai tindakan yang akan diambil selanjutnya.Penilaian itu adalah sesuatu
rumusan daripada dapatan data-data yang telah dikumpul. Dengan kenyataan-
kenyataan yang tepat berkenaan tahap pencapaian atau kemerosotan perubahan
tingkah laku, sikap, sahsiah, harga diri seseorang atau untuk lain-lain tugasan. Dalam
konteks ini pengukuran juga adalah penilaian yang dapat dinyatakan dalam bentuk
kuantiti iaitu angka atau gred.
jenis-jenis penilaian psikologi
Menurut ahli-ahli psikologi penilaian terbahagi kepada beberapa kategori. Antaranya
seperti berikut Penilaian Pengesanan,Penilaian Diagnostik,Penilaian
Perkembangan,Penilaian Pencapaian, Penilaian Aptitut, Penilaian Kebolehan, Penilaian
Kerjaya, Penilaian Personaliti dan Penilaian Kesihatan Mental.Biasanya penilaian
psikologi dijalankan untuk murid-murid yang menunjukkan isu emosi dan atau tingkah
laku seperti kemurungan,kebimbangan,serangan panik atau penggunaan dadah/arak.Ia
terdiri daripada sesi temuduga dan analisa sejarah /latar belakang.Penilaian psikologi
terdiri daripada pengukuran dan penilaian seperti perasaan/emosi,personaliti,tekanan
dan distres (reaksi kepada tekanan),stail dan kebolehan untuk berkait kepada orang
lain dan tingkah laku bermasalah dan emosi.Penilaian ini bertujuan untuk mendapat
satu gambaran yang jelas mengenai tingkah laku bermasalah klien atau tahap emosi
distres dan juga untuk menilai kekuatan dan kelemahan murid secara
keseluruhannya.Komponen-komponen penilaian psikologi adalah seperti
perkembangan sensori,perkembangan motor,perkembangan bahasa,perkembangan
persepsi,perkembangan perhatian,perrkembangan kognitif,perkembangan
afektif,perkembangan sikap,perkembangan imej kendiri dan perkembangan inter-
personal.Dalam penilaian psikologi mengkaji minat dan faktor-faktor vokasional untuk
mengukur kematangan dan integriti kanak-kanak dan interaksi dinamik mereka dalam
konteks pendidikan.
Penilaian psikologi ialah berdasarkan sejarah perkembangan dan sosial
kanak-kanak,pemerhatian diagnostik dalam persekitaran bilik darjah serta ujian-ujian
psikologi .Ujian-ujian psikologi adalah seperti ujian kecerdasan,penilaian pencapaian
pendidikan,penilaian personaliti serta penilaian kerjaya dan vokasional. Penilaian
Psikologi adalah penilaian yang berkaitan secara langsung dengan tingkah laku, mental
dan emosi kanak-kanak yang berkeperluan khas. Secara keseluruhannya Penilaian
Psikologi ini bermatlamatkanuntuk membantu penilai mengawal tingkah laku kanak-
kanak berkeperluan khas dari segi emosi, tingkah laku dan mental mereka. Di sini telah
berlaku peningkatan keperluan minda dan pembentukan respon afektif individu. Semua
proses ini adalah menuju ke arah perkembangan psikologi.
Terdapat alat yang digunakan untuk menilai ciri-ciri personaliti untuk
interaksi sosial dan kehidupan sosial iaitu CPI (California Psychological
Inventory).Senarai Semak Identifikasi Tingkah Laku adalah bertujuan untuk menilai
dan mengenalpasti murid-murid yang sedang menunjukkan tingkah laku bermasalah di
sekolah seperti bertindak berlebihan,penarikan diri.perhatiannya mudah alih oleh orang
lain,perhubungan bermasalah dengan rakan sebaya dan
ketidakmatangan.Manakala Skala Penilaian Conner digunakan untuk mengenalpasti
kanak-kanak hiperaktif dan untuk menilai keseriusan masalah ini.Ujian
psikologi Portland Problem Behavior Checklist (PPBC) dicipta untuk membantu
personel sekolah untuk mengenalpasti tingkah laku bermasalah dan untuk
mengimplementasikan dan menilai prosedur-prosedur intervensi untuk memulihkan
atau mengubah semua tingkah laku bermasalah murid-murid.Bagi tingkah laku
bermasalah yang sangat serius,ahli psikologi sekolah,guru dan kaunselor sekolah perlu
menjalani ujian psikologi yang lebih komprehensif yang dikenali sebagai penilaian
diagnostik.

3.1.2 Penilaian Diagnostik
Penilaian diagnostik berfokus kepada menilai ciri-ciri biasa dan tidak biasa
mengenai fungsi keseluruhan seseorang individu.Penilaian diagnostik terdiri daripada
komponen-komponen seperti temuduga klinikal,peperiksaan status mental dan satu
atau lebih peperiksaan psikologikal.Ia juga terdiri daripada penilaian komprehensif yang
terdiri daripada ukuran personaliti yang panjang dan terperinci.Ujian ini dilakukan oleh
ahli ahli psikologi dan kaunselor sekolah kerana agak sukar dan guru kelas tidak ada
masa untuk mentadbir banyak komponen dalam peperiksaan diagnostik.Sebagai
alternatif guru boleh menjalani teknik-teknik bukan penilaian seperti pemerhatian dan
temubual yang lebih senang ditadbir.

3.2 JENIS BUKAN UJIAN (PEMERHATIAN DAN TEMUBUAL)
3.2.1 Pemerhatian
Pemerhatian merujuk kepada satu kaedah yang boleh digunakan oleh guru
untuk mencari kebaikan dan kelemahan murid-murid dan menentukan faktor-faktor
yang menyebabkan sesuatu tingkah laku bermasalah.Guru boleh menggunakan
kaedah pemerhatian untuk membuat analisis yang tepat mengenai reaksi murid yang
diperhatikan dalam situasi-situasi yang tertentu.Data yang dikumpul oleh guru melalui
kaedah ini penting kerana dapat merancang tindakan susulan untuk mengurangkan
atau menyelesaikan salah laku di dalam bilik darjah serta dapat menolong guru
mengawal tingkah laku bermasalah dalam bilik darjah.Teknik-teknik pemerhatian yang
boleh digunakan di dalam sekolah untuk merekod pencapaian murid-murid atau tingkah
laku adalh seperti frekuensi,kadar,jangkamasa,perakam interval,sampel masa dan
rekod anekdot.
Sebelum sesuatu pemerhatian dijalankan,guru perlu memastikan lokasi
pemerhatian iaitu dimana tingkah laku bermasalah berlaku.Guru juga harus
menjadualkan pemerhatian pada masa yang tingkah laku bermasalah berkemungkinan
berlaku dan membenarkan syarat untuk tingkah laku tersebut berlaku.Guru perlu
mengambil kira tingkah laku spesifik dan maklumat yang akan dikumpul daripada
pemerhatian sebelum menentukan jenis teknik pemerhatian.Guru juga perlu membuat
pengiraan frekuensi ,kadar dan jangkamasa untuk merekod tingkah laku
bermasalah.Perekodan interval ialah satu teknik yang mengukur samada satu tingkah
laku berlaku dalam satu selang masa spesifik yang ditetapkan atau tidak.Ia digunakan
untuk merekod kekerapan sebarang tingkah laku yang boleh diperhatikan.Tetapi
kaedah ini membebankan pemerhati kerana mengambil banyakmasa.Rekod anekdot
merujuk kepada nota-nota bertulis yang menghuraikan kejadian tingkah laku
bermasalah yang berlaku.Nota-nota ini biasanya diselitkan di dalam fail peribadi murid-
murid.Rekod anekdot digunakan untuk mendokumenkan satu kejadian signifkan yang
berlaku secara tiba-tiba atau kerapkali dan keadaan atau persekitaran.Pemerhati perlu
memfokus kepada kejadian awal (sebelum berlaku) dan konsekuen (selepas
berlaku).Rekod anekdot digunakan untuk mendokumentasikan kejadian tingkah laku
bermasalah dengan jelas dan tepat sekali.Semasa menulis rekod anekdot,panduan-
panduan seperti merekod pemerhatian semasa tingkah laku bermasalah diperhatikan
daripada satu masa bermula hingga akhir harus diambil kira.Menggunakan sau borang
rekod anekdot yang diselaraskan supaya semua maklumat yang berkaitan
dilengkapkan dan merekod kejadian tingkah laku bermasalah sebenar seperti yang
diperhatikan dan tidak melibatkan perasaan pemerhati /guru mengenai kejadian
tersebut.Maklumat-maklumat yang terdapat di dalam rekod anekdot adalah terdiri
daripada nama pemerhati,tarikh kejadian,masa bila kejadian berlaku,nama murid-murid
yang terlibat ,satu penerangan ringkas mengenai kejadian tersebut,lokasi/persekitaran
di mana kejadian telah berlaku,nota/rekomendasi /tindakan yang harus diambil dan
tandatangan.


Contoh: REKOD ANEKDOT



Nama Pelajar:. Tarikh:
.
Nama Pemerhati:.. Masa:
..
Tempat Kejadian: .

Huraian Kejadian:

Ismail Junid adalah seorang murid lelaki yang baru dipindah
ke kelas ini. Dia adalah seorang budak yang badannya besar.
Sebentar sebelum waktu rehat, dia berkelahi dengan Mohd Ali
mengenai soal siapa harus menjadi penjaga gol pasukan bola
sepak kelas. Dia menumbuk meja sambil menjerit. Dia
menunjukkan penumbuknya kepada Yunus dan suruh dia
diam. Beberapa minit kemudian, dia menolak Kasim yang jatuh
dan menangis.


Maklumat Lain Yang Relevan :


Tafsiran / Komen Pemerhati:





3.2.2 Temubual
Temubual boleh didefinisikan sebagai satu siri penyoalan dan perbincangan
antara guru bimbingan/guru biasa dengan murid bermasalah,ibubapa/penjaga,rakan
sebaya dan pihak lain untuk mendapatkan maklumat. Semua maklumat yang diperolehi
daripada sesi temuduga dan pemerhatian akan dianalisis dan dikaji oleh guru-guru
untuk meyelesaikan tingkah laku bermasalah di dalam bilik darjah.Ujian diagnostik dan
ujian psikologi boleh digunakan untuk menganalisis semua tingkah laku bermasalah
yang berlaku di dalam bilik darjah dengan lebih terperinci dan sistematik.

3.3 KAJIAN (KAJIAN RENTASAN,KAJIAN MEMBUJUR,KAJIAN KES DAN KAJIAN
DOKUMEN)
Kaedah atau metodologi yang boleh digunakan oleh guru untuk membuat analisis yang
lebih terperinci mengenai urid-murid yang menunjukkan tingkah laku bermasalah di
dalam bilik darjah ialah ;
a) Kajian rentasan
b) Kajian membujur
c) Kajian Kes
d) Kajian Dokumen

3.3.1 Kajian Rentasan
Kajian rentasan ialah pemerhatian yang melibatkan satu sampel populasi pada
satu masa yang sesuai, di mana kumpulan-kumpulan berlainan boleh dibandingkan
kepada peringkat peringkat umur tertentu berdasarkan IQ dan memori.Guru juga akan
mengkaji murid-murid yang bermasalah pada peringkat-peringkat umur yang tertentu
sahaja.Guru mengambil sampel murid yang mempunyai tingkah laku bermasalah
daripada peringkat umur yang berlainan untuk dikaji di mana perubahan-perubahan
dalam tingkah laku bermasalah diukur dengan membandingkan perlakuan murid-murid
dari satu peringkat umur ke peringkat umur.Perubahan perubahan yang berlaku pada
masa-masa itu diperhatikan dan dianalisa dengan membandingkan tingkah laku murid
daripada 3 peringkat umur ini.Kebaikan kajian rentasan adalah ringkas dan
menjimatkan kos.

3.3.2 Kajian Membujur
Kajian membujur merupakan satu kajian korelasi yang melibatkan pemerhatian
berulang mengenai item-item penyelidikan yang sama untu satu jangka masa yang
lama.Ia digunakan untuk mengkaji perkembangan manusia sepanjang hayat dan ia
merupakanperbezaan berlalu dalam sampel manusia bukan disebabkan oleh faktor
budaya.Data kajian membujur dikumpul melalui soal selidik atau data
pentadbiran.Murid-murid bermasalah diperhatikan untuk jangka masa yang panjang
oleh guru untuk menilai semua tingkah lakunya.Ia meliputi pemerhatian untuk mendapat
maklumat terperinci mengenai perubahan-perubahan tingkah laku.Kelemahan kajian ini
memerlukan masa dan belanja yang banyak.

3.3.3 Kajian Kes
Kajian kes digunakan untuk menganalisa tingkah laku bermasalah secara
terperinci khususnya untuk murid murid yang melakukan salah laku yang serius.Ia
melibatkan satu kajian membujur yang mendalam mengenai satu kes dalam konteks
kehidupan yang sebenar.Ia merupakan satu kaedah sistematik cara untuk melihat
kejadian ,mengumpul dan menganalisa data dan melaporkan keputusan tersebut.Setiap
aspek hidup dan sejarah individu dianalisa untuk melihat corak dan faktor-faktor yang
menyebabkan tingkah laku bermasalah.Kajian kes ini digunakan untuk generalisasi
yang dibuat pada satu kes boleh digeneralisasikan kepada banyak kes yang lain.Guru akan
mendapat gambaran yang tepat dan menyeluruh mengenai murid-murid tersebut melalui kajian
ini untuk satu tempoh masa yang lama.Untuk membina kajiian kes yang kuat,guru boleh
menggabungkan kaedah pemerhatian dan temubual.Terdapat juga kelemahan di dalam kajian
kes ini iaitu mengambil masa yang lama dan keputusan kajian kes susah untuk
digeneralisasikan kepada populasi yang lebih besar.

3.3.4 Kajian Dokumen
Kajian dokumen merupakan analisis yang dibuat oleh guru teradap sesuatu tingkah laku
bermasalah berdasarkan dokumen-dokumen yang telah dikumpulkan mengenai murid-murid
yang biasa menunjukkan salah laku di sekolah.Kajian dokumen boleh dibahagikan kepada 2
jenis iaitu rekod awam/dokumen peribadi dan dokumen kehidupan.Akaun pertama atau
pengalaman dan kejadian yang telah berlaku dikenali dokumen peribadi manakala dokumen
kehidupan adalah termasuk punca diari,portfolio,gambar,kerja lukisan,jadual ,buku skrap dan
suratkhaabar.Kajian dokumen terdiri daripada anekdot,borang maklumat murid,laporan-laporan
pemerhatian dan temuramah serta lain-lain dokumen.surat yang mengandungi maklumat
mengenai tingkah laku dan perkembangan murid bermasalah.

4.0 KESIMPULAN

Sebagai guru perlu mengenalpasti tingkah laku bermasalah yang dihadapi oleh murid
kita samada tingkahlaku positif atau negatif.Tingkah laku bermasalah merujuk kepada tingkah
laku yang negatif dalam kalangan murid-murid.Guru mengenalpasti juga punca-punca
berlakunya tingkah laku bermasalah sebelum mengenalpasti langkah-langkah dalam proses
perubahan tingkah laku iaitu dengan meemilih tingkah laku sasaran,mengumpul dan merekod
data, melakasanakan intevensi dan memilih keberkesanan intervensi.Apabila langkah-langkah
dalam proses perubahan dikenalpasti,cara-cara mengenalpasti murid yang bermasalah tingkah
laku diambil dengan menggunakan pelbagai cara antaranya melalui ujian penilaian psikologi
dan diagnostik,pemerhatian dan temubual serta melalui kajian iaitu kajian rentasan,kajian
membujur,kajian kes dan kajian dokumen.Cara-cara mengenalpasti tingkah laku bermaslh
adalah penting kepada guru sebelum melaksanakan prosedur pengurusan tingkah laku



















LAMPIRAN H
MENU GANJARAN
JUMLAH TOKEN GANJARAN
10 token
10 token
20 token
30 token
40 token
50 token

80 token
100 token
Makanan
Alat Tulis
Buku Cerita
Alat Mainan
Buku Tulis
Makan dengan Guru
Pensil Warna
Lawatan