Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Diabetes Mellitus adalah salah satu penyakit degeneratif. Pada
tahun 2000 diperkirakan sekitar 150 juta orang di dunia mengidap
diabetes mellitus. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi dua
kali lipat pada tahun 2005, dan sebagian besar peningkatan itu akan
terjadi di egara!negara yang sedang berkembang seperti "ndonesia.
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit di dalam sepuluh
besar penyakit di "ndonesia.Populasi penderita diabetes di "ndonesia
diperkirakan berkisar antara 1,5 sampai 2,5# ke$uali di Manado %#.
Dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta ji&a, berarti lebih kurang '!5
juta penduduk "ndonesia menderita diabetes.
(er$atat pada tahun 1))5, jumlah penderita diabetes di "ndonesia
men$apai 5 juta ji&a. Pada tahun 2005 diperkirakan akan men$apai 12
juta penderita *Promosi +esehatan ,nline, Juli 2005-.
.alaupun Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang tidak
menyebabkan kematian se$ara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila
pengelolaannya tidak tepat. Pengelolaan DM memerlukan penanganan
se$ara multidisiplin yang men$akup terapi non!obat dan terapi obat.
Makalah tentang /Diabetes Mellitus0 ini disusun dengan tujuan
untuk dapat membantu para pemba$a dalam memahami penyakit
diabetes mellitus.
I.2 Tujuan Makalah
1. Menguraikan pengertian dan klasifikasi diabetes melitus se$ara
umum
2. Menguraikan faktor risiko, gejala dan diagnosis diabetes mellitus
se$ara umum
'. Menguraikan etiologi, patofisiologi, dan komplikasi yang
berhubungan dengan diabetes melitus tipe 1 dan 2.
1. Memahami dan mendiskusikan garis!garis besar pendekatan
penatalaksanaan dan terapi diabetes melitus.
5. Menguraikan farmakoterapi insulin
%. Menguraikan farmakoterapi obat hipoglikemik oral
2. Menyarankan strategi untuk men$egah timbulnya dan makin
parahnya penyakit diabetes, termasuk tata laksana untuk
men$egah komplikasi yang umum menyertai diabetes mellitus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Pengertian
Diabetes mellitus *DM- didefinisikan sebagai suatu penyakit atau
gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan
tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme
karbohidrat,lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin.
"nsufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi
produksi insulin oleh sel!sel beta 3angerhans kelenjar pankreas, atau
disebabkan oleh kurang responsifnya sel!sel tubuh terhadap insulin
*.4,, 1)))-.
II.2 Klai!ikai Dia"ete Mellitu
Pada tahun 1)50 .4, mengemukakan klasifikasi baru diabetes
melitus memperkuat rekomendasi ational Diabetes Data 6roup pada
tahun 1)2) yang mengajukan 2 tipe utama diabetes melitus, yaitu 7"nsulin
Dependent Diabetes Mellitus7 *"DDM- disebut juga Diabetes Melitus (ipe 1
dan 7on!"nsulin!Dependent Diabetes Mellitus7 *"DDM- yang disebut
juga Diabetes Melitus (ipe 2. Pada tahun 1)55 .4, mengajukan re8isi
klasifikasi dan tidak lagi menggunakan terminologi DM (ipe 1 dan 2,
namun tetap mempertahankan istilah 7"nsulin!Dependent Diabetes
Mellitus7 *"DDM- dan 7on!"nsulin!Dependent Diabetes Mellitus7 *"DDM-,
&alaupun ternyata dalam publikasi!publikasi .4, selanjutnya istilah DM
(ipe 1 dan 2 tetap mun$ul.
Disamping dua tipe utama diabetes melitus tersebut, pada
klasifikasi tahun 1)50 dan 1)55 ini .4, juga menyebutkan ' kelompok
diabetes lain yaitu Diabetes (ipe 3ain, (oleransi 6lukosa (erganggu atau
"mpaired 6lu$ose (oleran$e *"6(-dan Diabetes Melitus 6estasional atau
6estational Diabetes Melitus *6DM-. Pada re8isi klasifikasi tahun 1)55
.4, juga mengintroduksikan satu tipe diabetes yang disebut Diabetes
Melitus terkait Malnutrisi atau Malnutrition!related Diabetes Mellitus
*M9DM-. +lasifkasi ini akhirnya juga dianggap kurang tepat dan
membingungkan sebab banyak kasus "DDM *on!"nsulin!Dependent
Diabetes Mellitus- yang ternyata juga memerlukan terapi insulin. :aat ini
terdapat ke$enderungan untuk melakukan pengklasifikasian lebih
berdasarkan etiologi penyakitnya. +lasifikasi Diabetes Melitus
berdasarkan etiologinya dapat dilihat pada tabel 1.
(abel 1. +lasifikasi Diabetes Mellitus ;erdasarkan <tiologinya *=D=, 200'-
1. Diabetes Mellitus (ipe 1>
Destruksi sel ? umumnya menjurus ke arah defisiensi insulin absolut
=. Melalui proses imunologik *=utoimunologik-
;. "diopatik
2. Diabetes Mellitus (ipe 2
;er8ariasi, mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin
relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi
insulin
'. Diabetes Mellitus (ipe 3ain
=. Defek genetik fungsi sel ?>
@ kromosom 12, 4A!1 B*dahulu disebut M,DC '-,
@ kromosom 2, glukokinase *dahulu disebut M,DC 2-
@ kromosom 20, 4A!1 B*dahulu disebut M,DC 1-
@ D= mitokondria
;. Defek genetik kerja insulin
D. Penyakit eksokrin pankreas>
@Pankreatitis
@(raumaEPankreatektomi
@eoplasma
@ Disti$ Aibrosis
@4emokromatosis
@Pankreatopati fibro kalkulus
D. <ndokrinopati>
1. =kromegali
2. :indroma Dushing
'. Aeokromositoma
1. 4ipertiroidisme
<. Diabetes karena obatEFat kimia> 6lukokortikoid, hormon tiroid, asam nikotinat,
pentamidin, 8a$or, tiaFid, dilantin, interferon
A. Diabetes karena infeksi
6. Diabetes "munologi *jarang-
4. :idroma genetik lain> :indroma Do&n, +linefelter, (urner, 4untington, Dhorea,
Prader .illi
1. Diabetes Mellitus 6estasional
Diabetes mellitus yang mun$ul pada masa kehamilan, umumnya
bersifatmsementara, tetapi merupakan faktor risiko untuk DM (ipe 2
5. Pra!diabetes>
=. "A6 *"mpaired Aasting 6lu$ose-G 6P( *6lukosa Puasa (erganggu-
;. "6( *"mpaired 6lu$ose (oleran$e-G (6( *(oleransi 6lukosa
(erganggu-
II.# Eti$l$gi %an Pat$!ii$l$gi
=. Diabetes Mellitus (ipe 1
Diabetes tipe ini merupakan diabetes yang jarang atau sedikit
populasinya, diperkirakan kurang dari 5!10# dari keseluruhan populasi
penderita diabetes. 6angguan produksi insulin pada DM (ipe 1 umumnya
terjadi karena kerusakan sel!sel ? 3angerhans yang disebabkan oleh
reaksi autoimun. amun ada pula yang disebabkan oleh berma$am!
ma$am 8irus, diantaranya 8irus Do$ksakie, 9ubella, DM Hirus, 4erpes,
dan lain sebagainya. =da beberapa tipe autoantibodi yang dihubungkan
dengan DM (ipe 1, antara lain "DD= *"slet Dell Dytoplasmi$ =ntibodies-,
"D:= *"slet $ell surfa$e antibodies-, dan antibodi terhadap 6=D *glutami$
a$id de$arboIylase-.
"DD= merupakan autoantibodi utama yang ditemukan pada
penderita DM (ipe 1. 4ampir )0# penderita DM (ipe 1 memiliki "DD= di
dalam darahnya. Di dalam tubuh non!diabetik, frekuensi "DD= hanya 0,5!
1#. ,leh sebab itu, keberadaan "DD= merupakan prediktor yang $ukup
akurat untuk DM (ipe 1. "DD= tidak spesifik untuk sel!sel ? 3angerhans
saja, tetapi juga dapat dikenali oleh sel!sel lain yang terdapat di
3angerhans.
:ebagaimana diketahui, pada 3angerhans kelenjar pankreas
terdapat beberapa tipe sel, yaitu sel ?, sel B dan sel J. :el!sel ?
memproduksi insulin, sel!sel B memproduksi glukagon, sedangkan sel!sel
J memproduksi 11 hormon somatostatin. amun demikian, nampaknya
serangan autoimun se$ara selektif menghan$urkan sel!sel ?. =da
beberapa anggapan yang menyatakan bah&a tingginya titer "DD= di
dalam tubuh penderita DM (ipe 1 justru merupakan respons terhadap
kerusakan sel!sel ? yang terjadi, jadi lebih merupakan akibat, bukan
penyebab terjadinya kerusakan sel!sel ? 3angerhans. amun titer "DD=
makin lama makin menurun sejalan dengan perjalanan penyakit.
=utoantibodi terhadap antigen permukaan sel atau "slet Dell
:urfa$e =ntibodies *"D:=- ditemukan pada sekitar 50# penderita DM
(ipe 1. :ama seperti "DD=, titer "D:= juga makin menurun sejalan
dengan lamanya &aktu. ;eberapa penderita DM (ipe 2 ditemukan positif
"D:=. =utoantibodi terhadap enFim glutamat dekarboksilase *6=D-
ditemukan pada hampir 50# pasien yang baru didiagnosis sebagai positif
menderita DM (ipe 1. :ebagaimana halnya "DD= dan "D:=, titer antibodi
anti!6=D juga makin lama makin menurun sejalan dengan perjalanan
penyakit. +eberadaan antibodi anti!6=D merupakan prediktor kuat untuk
DM (ipe 1, terutama pada populasi risiko tinggi.
Disamping ketiga autoantibodi yang sudah dijelaskan di atas, ada
beberapa autoantibodi lain yang sudah diidentifikasikan, antara lain "==
*=nti"nsulin =ntibody-. "== ditemukan pada sekitar 10# anak!anak yang
menderita DM (ipe 1. "== bahkan sudah dapat dideteksi dalam darah
pasien sebelum onset terapi insulin.
Destruksi autoimun dari sel!sel ? 3angerhans kelenjar pankreas
langsung mengakibatkan defisiensi sekresi insulin. Defisiensi insulin inilah
yang menyebabkan gangguan metabolisme yang menyertai DM (ipe 1.
:elain defisiensi insulin, fungsi sel!sel B kelenjar pankreas pada penderita
DM (ipe 1 juga menjadi tidak normal. Pada penderita DM (ipe 1
ditemukan sekresi glukagon yang berlebihan oleh sel!sel B Klangerhans.
:e$ara normal, hiperglikemia akan menurunkan sekresi glukagon, namun
pada penderita DM (ipe 1 hal ini tidak terjadi, sekresi glukagon tetap
tinggi &alaupun dalam keadaan hiperglikemia. 4al ini memperparah
kondisi hiperglikemia. :alah satu manifestasi dari keadaan ini adalah
$epatnya penderita DM (ipe 1 mengalami ketoasidosis diabetik apabila
tidak mendapat terapi insulin. =pabila diberikan terapi somatostatin untuk
menekan sekresi glukagon, maka akan terjadi penekanan terhadap
kenaikan kadar gula dan badan keton. :alah satu masalah jangka
panjang pada penderita DM (ipe 1 adalah rusaknya kemampuan tubuh
untuk mensekresi glukagon sebagai respon terhadap hipoglikemia. 4al ini
dapat menyebabkan timbulnya hipoglikemia yang dapat berakibat fatal
pada penderita DM (ipe 1 yang sedang mendapat terapi insulin.
.alaupun defisiensi sekresi insulin merupakan masalah utama
pada DM (ipe 1, namun pada penderita yang tidak dikontrol dengan baik,
dapat terjadi penurunan kemampuan sel!sel sasaran untuk merespons
terapi insulin yang diberikan. =da beberapa mekanisme biokimia yang
dapat menjelaskan hal ini, salah satu diantaranya adalah, defisiensi insulin
menyebabkan meningkatnya asam lemak bebas di dalam darah sebagai
akibat dari lipolisis yang tak terkendali di jaringan adiposa. =sam lemak
bebas di dalam darah akan menekan metabolisme glukosa di jaringan!
jaringan perifer seperti misalnya di jaringan otot rangka, dengan perkataan
lain akan menurunkan penggunaan glukosa oleh tubuh. Defisiensi insulin
juga akan menurunkan ekskresi dari beberapa gen yang diperlukan sel!sel
sasaran untuk merespons insulin se$ara normal, misalnya gen
glukokinase di hati dan gen 63L(1 *protein transporter yang membantu
transpor glukosa di sebagian besar jaringan tubuh- di jaringan adiposa.
;. Diabetes Mellitus (ipe 2
Diabetes (ipe 2 merupakan tipe diabetes yang lebih umum, lebih
banyak penderitanya dibandingkan dengan DM (ipe 1. Penderita DM (ipe
2 men$apai )0!)5# dari keseluruhan populasi penderita diabetes,
umumnya berusia di atas 15 tahun, tetapi akhir!akhir ini penderita DM
(ipe 2 di kalangan remaja dan anak!anak populasinya meningkat.
<tiologi DM (ipe 2 merupakan multifaktor yang belum sepenuhnya
terungkap dengan jelas. Aaktor genetik dan pengaruh lingkungan $ukup
besar dalam menyebabkan terjadinya DM tipe 2, antara lain obesitas, diet
tinggi lemak dan rendah serat, serta kurang gerak badan.
,besitas atau kegemukan merupakan salah satu faktor
pradisposisi
utama. Penelitian terhadap men$it dan tikus menunjukkan bah&a ada
hubungan antara gen!gen yang bertanggung ja&ab terhadap obesitas
dengan gen!gen yang merupakan faktor pradisposisi untuk DM (ipe 2.
;erbeda dengan DM (ipe 1, pada penderita DM (ipe 2, terutama
yang berada pada tahap a&al, umumnya dapat dideteksi jumlah insulin
yang $ukup di dalam darahnya, disamping kadar glukosa yang juga tinggi.
Jadi, a&al patofisiologis DM (ipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya
sekresi insulin, tetapi karena sel!sel sasaran insulin gagal atau tak mampu
merespon insulin se$ara normal. +eadaan ini laFim disebut sebagai
/9esistensi "nsulin0. 9esistensi insulin banyak terjadi di negara!negara
maju seperti =merika :erikat, antara lain sebagai akibat dari obesitas,
gaya hidup kurang gerak *sedentary-, dan penuaan.
Disamping resistensi insulin, pada penderita DM (ipe 2 dapat juga
timbul gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang
berlebihan. amun demikian, tidak terjadi pengrusakan sel!sel ?
3angerhans se$ara autoimun sebagaimana yang terjadi pada DM (ipe 1.
Dengan demikian defisiensi fungsi insulin pada penderita DM (ipe 2
hanya bersifat relatif, tidak absolut. ,leh sebab itu dalam penanganannya
umumnya tidak memerlukan terapi pemberian insulin.
:el!sel ? kelenjar pankreas mensekresi insulin dalam dua fase.
Aase pertama sekresi insulin terjadi segera setelah stimulus atau
rangsangan glukosa yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa
darah, sedangkan sekresi fase kedua terjadi sekitar 20 menit sesudahnya.
Pada a&al perkembangan DM (ipe 2, sel!sel ? menunjukkan gangguan
pada sekresi insulin fase pertama, artinya sekresi insulin gagal
mengkompensasi resistensi insulin =pabila tidak ditangani dengan baik,
pada perkembangan penyakit selanjutnya penderita DM (ipe 2 akan
mengalami kerusakan sel!sel ? pankreas yang terjadi se$ara progresif,
yang seringkali akan mengakibatkan defisiensi insulin, sehingga akhirnya
penderita memerlukan insulin eksogen.
Penelitian mutakhir menunjukkan bah&a pada penderita DM (ipe 2
umumnya ditemukan kedua faktor tersebut, yaitu resistensi insulin dan
defisiensi insulin.
;erdasarkan uji toleransi glukosa oral, penderita DM (ipe 2 dapat
dibagi menjadi 1 kelompok>
a. +elompok yang hasil uji toleransi glukosanya normal
b. +elompok yang hasil uji toleransi glukosanya abnormal, disebut juga
Diabetes +imia *Dhemi$al Diabetes-
$. +elompok yang menunjukkan hiperglikemia puasa minimal *kadar
glukosa plasma puasa M 110 mgEdl-
d. +elompok yang menunjukkan hiperglikemia puasa tinggi *kadar glukosa
plasma puasa N 110 mgEdl-.
:e$ara ringkas, perbedaan DM (ipe 1 dengan DM (ipe 2 disajikan
dalam tabel 2.
(abel 2. Perbandingan Perbedaan DM tipe 1 dan 2
DM (ipe 1 DM (ipe 2
Mula mun$ul Lmumnya masa kanak!
kanak dan remaja,
&alaupun ada juga pada
masa de&asa M 10 tahun
Pada usia tua, umumnya
N 10 tahun
+eadaan klinis saat
diagnosis
;erat 9ingan
+adar insulin darah 9endah, tak ada Dukup tinggi, normal
;erat badan ;iasanya kurus 6emuk atau normal
Pengelolaan yang
Disarankan
(erapi insulin, diet,
olahraga
Diet, olahraga,
hipoglikemik oral

D. Diabetes Mellitus 6estasional
Diabetes Mellitus 6estasional *6DMG6estational Diabetes Mellitus-
adalah keadaan diabetes atau intoleransi glukosa yang timbul selama
masa kehamilan, dan biasanya berlangsung hanya sementara atau
temporer. :ekitar 1!5# &anita hamil diketahui menderita 6DM, dan
umumnya terdeteksi pada atau setelah trimester kedua.
Diabetes dalam masa kehamilan, &alaupun umumnya kelak dapat
pulih sendiri beberapa saat setelah melahirkan, namun dapat berakibat
buruk terhadap bayi yang dikandung. =kibat buruk yang dapat terjadi
antara lain malformasi kongenital, peningkatan berat badan bayi ketika
lahir dan meningkatnya risiko mortalitas perinatal. Disamping itu, &anita
yang pernah menderita 6DM akan lebih besar risikonya untuk menderita
lagi diabetes di masa depan. +ontrol metabolisme yang ketat dapat
mengurangi risiko!risiko tersebut.
D. Pra!diabetes
Pra!diabetes adalah kondisi dimana kadar gula darah seseorang
berada diantara kadar normal dan diabetes, lebih tinggi dari pada normal
tetapi tidak $ukup tinggi untuk dikatagorikan ke dalam diabetes tipe 2.
Penderita pradiabetes diperkirakan $ukup banyak, di =merika diperkirakan
ada sekitar 11 juta orang yang tergolong pra!diabetes, disamping 15,2 juta
orang penderita diabetes *perkiraan untuk tahun 2000-. Di "ndonesia,
angkanya belum pernah dilaporkan, namun diperkirakan $ukup tinggi, jauh
lebih tinggi dari pada penderita diabetes.
+ondisi pra!diabetes merupakan faktor risiko untuk diabetes,
serangan jantung dan stroke. =pabila tidak dikontrol dengan baik, kondisi
pra!diabetes dapat meningkat menjadi diabetes tipe 2 dalam kurun &aktu
5!10 tahun.
amun pengaturan diet dan olahraga yang baik dapat men$egah
atau menunda timbulnya diabetes. =da dua tipe kondisi pra!diabetes,
yaitu>
"mpaired Aasting 6lu$ose *"A6- atau 6lukosa Darah Puasa
(ergaggu *6DP(- ,yaitu keadaan dimana kadar glukosa darah puasa
seseorang sekitar 100!125 mgEdl *kadar glukosa darah puasa normal>
M100 mgEdl-, atau
"mpaired 6lu$ose (oleran$e *"6(- atau (oleransi 6lukosa
(erganggu *(6(-, yaitu keadaan dimana kadar glukosa darah seseorang
pada uji toleransi glukosa berada di atas normal tetapi tidak $ukup tinggi
untuk dikatagorikan ke dalam kondisi diabetes. Diagnosa "6( ditetapkan
apabila kadar glukosa darah seseorang 2 jam setelah mengkonsumsi 25
gram glukosa per oral berada diantara 110!1)) mgEdl.
II.& 'akt$r (iik$
:etiap orang yang memiliki satu ataulebih faktor risiko diabetes
selayaknya &aspada akan kemungkinan dirinya mengidap diabetes. Para
petugas kesehatan, dokter, apoteker dan petugas kesehatan lainnya pun
sepatutnya memberi perhatian kepada orang!orang seperti ini, dan
menyarankan untuk melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui
kadar glukosa darahnya agar tidak terlambat memberikan bantuan
penanganan. +arena makin $epat kondisi diabetes melitus diketahui dan
ditangani, makin mudah untuk mengendalikan kadar glukosa darah dan
men$egah komplikasi!komplikasi yang mungkin terjadi.
;eberapa faktor risiko untuk diabetes melitus, terutama untuk DM
(ipe 2, dapat dilihat pada tabel '.
(abel '. Aaktor 9isiko Lntuk Diabetes (ipe 2
9i&ayat Diabetes dalam keluarga
Diabetes 6estasional
Melahirkan bayi dengan berat badan N1 kg
+ista o8arium *Poly$ysti$ o8ary syndrome-
"A6 *"mpaired fasting 6lu$ose- atau "6(
*"mpaired
glu$ose toleran$e-
,besitas N120# berat badan ideal
Lmur 20!5) tahun > 5,2#
N %5 tahun > 15#
<tnikE9as
4ipertensi N110E)0mm4g
4iperlipidemia +adar 4D3 rendah M'5mgEdl
+adar lipid darah tinggi N250mgEdl
Aaktor!faktor 3ain +urang olah raga
Pola makan rendah serat

II.) *ejala Klinik
Diabetes seringkali mun$ul tanpa gejala. amun demikian ada
beberapa gejala yang harus di&aspadai sebagai isyarat kemungkinan
diabetes. 6ejala tipikal yang sering dirasakan penderita diabetes antara
lain poliuria *sering buang air ke$il-, polidipsia *sering haus-, dan polifagia
*banyak makanEmudah lapar-. :elain itu sering pula mun$ul keluhan
penglihatan kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu, kesemutan
pada tangan atau kaki, timbul gatal!gatal yang seringkali sangat
mengganggu *pruritus-, dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas.
Pada DM (ipe " gejala klasik yang umum dikeluhkan adalah
poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, $epat merasa
lelah *fatigue-, iritabilitas, dan pruritus *gatal!gatal pada kulit-.
Pada DM (ipe 2 gejala yang dikeluhkan umumnya hampir tidak
ada. DM (ipe 2 seringkali mun$ul tanpa diketahui, dan penanganan
baru dimulai beberapa tahun kemudian ketika penyakit sudah
berkembang dan komplikasi sudah terjadi. Penderita DM (ipe 2
umumnya lebih mudah terkena infeksi, sukar sembuh dari luka,
daya penglihatan makin buruk, dan umumnya menderita hipertensi,
hiperlipidemia, obesitas, dan juga komplikasi pada pembuluh darah
dan syaraf.
II.+ Diagn$i
Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan apabila ada keluhan
khas DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan
yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. +eluhan lain yang mungkin
disampaikan penderita antara lain badan terasa lemah, sering kesemutan,
gatal!gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, dan pruritus 8ul8ae
pada &anita.
=pabila ada keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar glukosa darah
se&aktu N 200 mgEdl sudah $ukup untuk menegakkan diagnosis DM. 4asil
pemeriksaan kadar glukosa darah puasa N12% mgEdl juga dapat
digunakan sebagai patokan diagnosis DM. Lntuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel 1.
(abel 1. +riteria penegakan diagnosis
6lukosa Plasma
Puasa
6lukosa Plasma
2 jam setelah makan
ormal M100 mgEd3 M110 mgEd3
Pra!diabetes 100 O125 mgEd3 OO
"A6 atau "6( OO 110O1)) mgEd3
Diabetes N12% mgEd3 N200 mgEd3

Lntuk kelompok tanpa keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar
glukosa darah abnormal tinggi *hiperglikemia- satu kali saja tidak $ukup
kuat untuk menegakkan diagnosis DM. Diperlukan konfirmasi atau
pemastian lebih lanjut dengan mendapatkan paling tidak satu kali lagi
kadar gula darah se&aktu yang abnormal tinggi *N200 mgEd3- pada hari
lain, kadar glukosa darah puasa yang abnormal tinggi *N12% mgEd3-, atau
dari hasil tes toleransi glukosa oral *((6,- didapatkan kadar glukosa
darah paska pembebanan N200 mgEd3.
:e$ara umum, langkah!langkah penegakan diagnosis DM
digambarkan oleh :oegondo *2001- dan Perkeni sebagaimana yang
terlihat dalam gambar 1.
6ambar 1. 3angkah!3angkah Diagnostik Diabetes Melitus dan toleransi 6lukosa
(erganggu *:umber > Perkeni, 2011-
Lntuk menegakkan diagnosis DM (ipe 1, perlu dilakukan
konfirmasi dengan hasil tes toleransi glukosa oral *((6,-. +ur8a toleransi
glukosa penderita DM (ipe 1 menunjukkan pola yang berbeda dengan
orang normal sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar 2.
Gambar 2. Kurva toleransi glukosa normal dan pada penderita DM Tipe 1.
Garis titik-titik menunjukkan kisaran kadar glukosa darah normal.
II., K$-.likai
Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat menimbulkan
komplikasi akut dan kronis. ;erikut ini akan diuraikan beberapa komplikasi
yang sering terjadi dan harus di&aspadai.
a. 4ipoglikemia
:indrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis penderita
merasa pusing, lemas, gemetar, pandangan berkunang!kunang, pitam
*pandangan menjadi gelap-, keluar keringat dingin, detak jantung
meningkat, sampai hilang kesadaran. =pabila tidak segera ditolong dapat
terjadi kerusakan otak dan akhirnya kematian.
Pada hipoglikemia, kadar glukosa plasma penderita kurang dari 50
mgEdl, &alaupun ada orang!orang tertentu yang sudah menunjukkan
gejala hipoglikemia pada kadar glukosa plasma di atas 50 mgEdl. +adar
glukosa darah yang terlalu rendah menyebabkan sel!sel otak tidak
mendapat pasokan energi sehingga tidak dapat berfungsi bahkan dapat
rusak.
4ipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita diabetes tipe 1,
yang dapat dialami 1 O 2 kali perminggu. Dari hasil sur8ei yang pernah
dilakukan di "nggris diperkirakan 2 O 1# kematian pada penderita diabetes
tipe 1 disebabkan oleh serangan hipoglikemia. Pada penderita diabetes
tipe 2, serangan hipoglikemia lebih jarang terjadi, meskipun penderita
tersebut mendapat terapi insulin.
:erangan hipoglikemia pada penderita diabetes umumnya terjadi
apabila penderita>
3upa atau sengaja meninggalkan makan *pagi, siang atau malam-
Makan terlalu sedikit, lebih sedikit dari yang disarankan oleh dokter
atau ahli giFi
;erolah raga terlalu berat
Mengkonsumsi obat antidiabetes dalam dosis lebih besar dari pada
seharusnya
Minum alkohol
:tress
Mengkonsumsi obat!obatan lain yang dapat meningkatkan risiko
hipoglikemia
Disamping penyebab di atas pada penderita DM perlu diperhatikan
apabila penderita mengalami hipoglikemik, kemungkinan penyebabnya
adalah>
a- Dosis insulin yang berlebihan
b- :aat pemberian yang tidak tepat
$- Penggunaan glukosa yang berlebihan misalnya olahraga anaerobi$
berlebihan
d- Aaktor!faktor lain yang dapat meningkatkan kepekaan indi8idu
terhadap insulin, misalnya gangguan fungsi adrenal atau hipofisis
b. 4iperglikemia
4iperglikemia adalah keadaan dimana kadar gula darah melonjak
se$ara tiba!tiba. +eadaan ini dapat disebabkan antara lain oleh stress,
infeksi, dan konsumsi obat!obatan tertentu. 4iperglikemia ditandai dengan
poliuria, polidipsia, polifagia, kelelahan yang parah *fatigue-, dan
pandangan kabur.
=pabila diketahui dengan $epat, hiperglikemia dapat di$egah tidak
menjadi parah. 4ipergikemia dapat memperburuk gangguan!gangguan
kesehatan seperti gastroparesis, disfungsi ereksi, dan infeksi jamur pada
8agina.
4iperglikemia yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi
keadaan metabolisme yang berbahaya, antara lain ketoasidosis diabetik
*Diabeti$ +etoa$idosisG D+=- dan *44:-, yang keduanya dapat berakibat
fatal dan memba&a kematian. 4iperglikemia dapat di$egah dengan
kontrol kadar gula darah yang ketat.
$. +omplikasi Makro8askular
' jenis komplikasi makro8askular yang umum berkembang pada
penderita diabetes adalah penyakit jantung koroner *$oronary heart
disease G D=D-, penyakit pembuluh darah otak, dan penyakit pembuluh
darah perifer *peripheral 8as$ular disease G PHD-. .alaupun komplikasi
makro8askular dapat juga terjadi pada DM tipe 1, namun yang lebih sering
merasakan komplikasi makro8askular ini adalah penderita DM tipe 2 yang
umumnya menderita hipertensi, dislipidemia dan atau kegemukan.
+ombinasi dari penyakit!penyakit komplikasi makro8askular dikenal
dengan berbagai nama, antara lain :yndrome P, Dardia$ Dysmetaboli$
:yndrome, 4yperinsulinemi$ :yndrome, atau "nsulin 9esistan$e
:yndrome.
+arena penyakit!penyakit jantung sangat besar risikonya pada
penderita diabetes, maka pen$egahan komplikasi terhadap jantung harus
dilakukan sangat penting dilakukan, termasuk pengendalian tekanan
darah, kadar kolesterol dan lipid darah. Penderita diabetes sebaiknya
selalu menjaga tekanan darahnya tidak lebih dari 1'0E50 mm 4g. Lntuk
itu penderita harus dengan sadar mengatur gaya hidupnya, termasuk
mengupayakan berat badan ideal, diet dengan giFi seimbang, berolah
raga se$ara teratur, tidak merokok, mengurangi stress dan lain
sebagainya.
d. +omplikasi Mikro8askular
+omplikasi mikro8askular terutama terjadi pada penderita diabetes
tipe 1. 4iperglikemia yang persisten dan pembentukan protein yang
terglikasi *termasuk 4b=1$- menyebabkan dinding pembuluh darah
menjadi makin lemah dan rapuh dan terjadi penyumbatan pada pembuluh!
pembuluh darah ke$il. 4al inilah yang mendorong timbulnya komplikasi!
komplikasi mikro8askuler, antara lain retinopati, nefropati, dan neuropati.
Disamping karena kondisi hiperglikemia, ketiga komplikasi ini juga
dipengaruhi oleh faktor genetik. ,leh sebab itu dapat terjadi dua orang
yang memiliki kondisi hiperglikemia yang sama, berbeda risiko komplikasi
mikro8askularnya. amun demikian prediktor terkuat untuk perkembangan
komplikasi mikro8askular tetap lama *durasi- dan tingkat keparahan
diabetes.
:atu!satunya $ara yang signifikan untuk men$egah atau
memperlambat jalan perkembangan komplikasi mikro8askular adalah
dengan pengendalian kadar gula darah yang ketat. Pengendalian intensif
dengan menggunakan suntikan insulin multi!dosis atau dengan pompa
insulin yang disertai dengan monitoring kadar gula darah mandiri dapat
menurunkan risiko timbulnya komplikasi mikro8askular sampai %0#.
II. / Penatalakanaan Dia"ete
Penatalaksanaan diabetes mempunyai tujuan akhir untuk
menurunkan morbiditas dan mortalitas DM, yang se$ara spesifik ditujukan
untuk men$apai 2 target utama, yaitu>
1. Menjaga agar kadar glukosa plasma berada dalam kisaran normal
2. Men$egah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi
diabetes.
(he =meri$an Diabetes =sso$iation *=D=- merekomendasikan
beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan
penatalaksanaan diabetes (abel 5.
(abel 5. (arget Penatalaksanaan Diabetes
Parameter +adar "deal Cang Diharapkan
+adar 6lukosa Darah Puasa
+adar 6lukosa Plasma Puasa
+adar 6lukosa Darah :aat (idur
+adar 6lukosa Plasma :aat (idur
+adar "nsulin
+adar 4b=1$
+adar +olesterol 4D3
+adar (rigliserida
(ekanan Darah
50O120mgEdl
)0O1'0mgEdl
100O110mgEdl
110O150mgEdl
M2 #
M2mgEdl
N15mgEdl *pria-
N55mgEdl *&anita-
M200mgEdl
M1'0E50mm4g

Pada dasarnya ada dua pendekatan dalam penatalaksanaan
diabetes,yang pertama pendekatan tanpa obat dan yang kedua adalah
pendekatan dengan obat. Dalam penatalaksanaan DM, langkah pertama
yang harus dilakukan adalah penatalaksanaan tanpa obat berupa
pengaturan diet dan olah raga. =pabila dengan langkah pertama ini tujuan
penatalaksanaan belum ter$apai, dapat dikombinasikan dengan langkah
farmakologis berupa terapi insulin atau terapi obat hipoglikemik oral, atau
kombinasi keduanya.
;ersamaan dengan itu, apa pun langkah penatalaksanaan yang
diambil, satu faktor yang tak boleh ditinggalkan adalah penyuluhan atau
konseling pada penderita diabetes oleh para praktisi kesehatan, baik
dokter, apoteker, ahli giFi maupun tenaga medis lainnya.
II.0 Tera.i Tan.a 1"at
=. Pengaturan Diet
Diet yang baik merupakan kun$i keberhasilan penatalaksanaan diabetes.
Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang
dalam hal karbohidrat, protein dan lemak, sesuai dengan ke$ukupan giFi
baik sebagai berikut>
@+arbohidrat > %0!20#
@Protein > 10!15#
@3emak > 20!25#
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status giFi, umur,
stres akut dan kegiatan fisik, yang pada dasarnya ditujukan untuk
men$apai dan mempertahankan berat badan ideal.
Penurunan berat badan telah dibuktikan dapat mengurangi
resistensi insulin dan memperbaiki respons sel!sel ?terhadap stimulus
glukosa. Dalam salah satu penelitian dilaporkan bah&a penurunan 5#
berat badan dapat mengurangi kadar 4b=1$ sebanyak 0,%# *4b=1$
adalah salah satu parameter status DM-, dan setiap kilogram penurunan
berat badan dihubungkan dengan '!1 bulan tambahan &aktu harapan
hidup.
:elain jumlah kalori, pilihan jenis bahan makanan juga sebaiknya
diperhatikan. Masukan kolesterol tetap diperlukan, namun jangan melebihi
'00 mg per hari. :umber lemak diupayakan yang berasal dari bahan
nabati, yang mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh
dibandingkan asam lemak jenuh. :ebagai sumber protein sebaiknya
diperoleh dari ikan, ayam *terutama daging dada-, tahu dan tempe, karena
tidak banyak mengandung lemak.
Masukan serat sangat penting bagi penderita diabetes, diusahakan
paling tidak 25 g per hari. Disamping akan menolong menghambat
penyerapan lemak, makanan berserat yang tidak dapat di$erna oleh tubuh
juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan
penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. Disamping itu
makanan sumber serat seperti sayur dan buah!buahan segar umumnya
kaya akan 8itamin dan mineral.
;. ,lah 9aga
;erolah raga se$ara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar
gula darah tetap normal. :aat ini ada dokter olah raga yang dapat
dimintakan nasihatnya untuk mengatur jenis dan porsi olah raga yang
sesuai untuk penderita diabetes. Prinsipnya, tidak perlu olah raga berat,
olah raga ringan asal dilakukan se$ara teratur akan sangat bagus
pengaruhnya bagi kesehatan.
,lahraga yang disarankan adalah yang bersifat D9"P<
*Dontinuous, 9hytmi$al, "nter8al, Progressi8e, <nduran$e (raining-.
:edapat mungkin men$apai Fona sasaran 25!55# denyut nadi maksimal
*220!umur-, disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penderita.
;eberapa $ontoh olah raga yang disarankan, antara lain jalan atau lari
pagi, bersepeda, berenang, dan lain sebagainya. ,lahraga aerobik ini
paling tidak dilakukan selama total '0!10 menit per hari didahului dengan
pemanasan 5!10 menit dan diakhiri pendinginan antara 5!10 menit. ,lah
raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan akti8itas reseptor
insulin dalam tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa.
=pabila penatalaksanaan terapi tanpa obat *pengaturan diet dan
olah raga- belum berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita,
maka perlu dilakukan langkah berikutnya berupa penatalaksanaan terapi
obat, baik dalam bentuk terapi obat hipoglikemik oral, terapi insulin, atau
kombinasi keduanya.
II.12 'ar-ak$tera.i
=. (erapi "nsulin
(erapi insulin merupakan satu keharusan bagi penderita DM (ipe
1. Pada DM (ipe ", sel!sel ?3angerhans kelenjar pankreas penderita
rusak, sehingga tidak lagi dapat memproduksi insulin. :ebagai
penggantinya, maka penderita DM (ipe " harus mendapat insulin eksogen
untuk membantu agar metabolisme karbohidrat di dalam tubuhnya dapat
berjalan normal. .alaupun sebagian besar penderita DM (ipe 2 tidak
memerlukan terapi insulin, namun hampir '0# ternyata memerlukan
terapi insulin disamping terapi hipoglikemik oral.
1. Pengendalian :ekresi "nsulin
Pada prinsipnya, sekresi insulin dikendalikan oleh tubuh untuk
menstabilkan kadar gula darah. =pabila kadar gula di dalam darah tinggi,
sekresi insulin akan meningkat. :ebaliknya, apabila kadar gula darah
rendah, maka sekresi insulin juga akan menurun. Dalam keadaan normal,
kadar gula darah di ba&ah 50 mgEdl akan menyebabkan sekresi insulin
menjadi sangat rendah.
:timulasi sekresi insulin oleh peningkatan kadar glukosa darah
berlangsung se$ara bifasik. Aase 1 akan men$apai pun$ak setelah 2!1
menit dan masa kerja pendek, sedangkan mula kerja *onset-fase 2
berlangsung lebih lambat, namun dengan lama kerja *durasi- yang lebih
lama pula. 6ambar ' menunjukkan pengaruh pemberian infus glukosa
terhadap kadar insulin darah. "nfus glukosa diberikan untuk
mempertahankan kadar gula darah tetap tinggi *lebih kurang 2 sampai '
*kali kadar gula puasa selama 1 jam-. :egera setelah infus diberikan
kadar insulin darah mulai meningkat se$ara dramatis dan men$apai
pun$ak setelah 2!1 menit. Peningkatan kadar insulin fase 1 ini berasal dari
sekresi insulin yang sudah tersedia di dalam granula sekretori.
Peningkatan kadar insulin fase 2 berlangsung lebih lambat namun mampu
bertahan lama. Peningkatan fase 2 ini merefleksikan sekresi insulin yang
baru disintesis dan segera disekresikan oleh sel!sel b kelenjar pankreas.
Jadi jelas bah&a stimulus glukosa tidak hanya menstimulasi sekresi
insulin tetapi juga menstimulasi ekspresi gen insulin.
6ambar '. +ur8a peningkatan kadar insulin darah berlangsung se$ara bifasik.
Disamping kadar gula darah dan hormon!hormon saluran $erna,
ada beberapa faktor lain yang juga dapat menjadi pemi$u sekresi insulin,
antara lain kadar asam lemak, benda keton dan asam amino di dalam
darah, kadar hormon!hormon kelenjar pankreas lainnya, serta
neurotransmiter otonom. +adar asam lemak, benda keton dan asam
amino yang tinggi di dalam darah akan meningkatkan sekresi insulin.
Dalam keadaan stres, yaitu keadaan dimana terjadi perangsangan
syaraf simpatoadrenal, hormon epinefrin bukan hanya meninggikan kadar
glukosa darah dengan mema$u glikogenolisis, melainkan juga
menghambat penggunaan glukosa di sel!sel otot, jaringan lemak dan sel!
sel lain yang penyerapan glukosanya dipengaruhi insulin. Dengan
demikian, glukosa darah akan lebih banyak tersedia untuk metabolisme
otak, yang penyerapan glukosanya tidak bergantung pada insulin. Dalam
keadaan stres, sel!sel otot terutama menggunakan asam lemak sebagai
sumber energi, dan epinefrin memang menyebabkan mobilisasi asam
lemak dari jaringan.
2. Mekanisme +erja "nsulin
"nsulin mempunyai peran yang sangat penting dan luas dalam
pengendalian metabolisme. "nsulin yang disekresikan oleh sel!sel ?
pankreas akan langsung diinfusikan ke dalam hati melalui 8ena porta,
yang kemudian akan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui peredaran
darah.
<fek kerja insulin yang sudah sangat dikenal adalah membantu
transpor glukosa dari darah ke dalam sel. +ekurangan insulin
menyebabkan glukosa darah tidak dapat atau terhambat masuk ke dalam
sel. =kibatnya, glukosa darah akan meningkat, dan sebaliknya sel!sel
tubuh kekurangan bahan sumber energi sehingga tidak dapat
memproduksi energi sebagaimana seharusnya.
Disamping fungsinya membantu transport glukosa masuk ke dalam
sel, insulin mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap metabolisme,
baik metabolisme karbohidrat dan lipid, maupun metabolisme protein dan
mineral.insulin akan meningkatkan lipogenesis, menekan lipolisis, serta
meningkatkan transport asam amino masuk ke dalam sel. "nsulin juga
mempunyai peran dalam modulasi transkripsi, sintesis D= dan replikasi
sel.
"tu sebabnya, gangguan fungsi insulin dapat menyebabkan
pengaruh negatif dan komplikasi yang sangat luas pada berbagai organ
dan jaringan tubuh.
'. Prinsip (erapi "nsulin
"ndikasi
1. :emua penderita DM (ipe 1 memerlukan insulin eksogen karena
produksi insulin endogen oleh sel!sel ?kelenjar pankreas tidak ada
atau hampir tidak ada
2. Penderita DM (ipe 2 tertentu kemungkinan juga membutuhkan terapi
insulin apabila terapi lain yang diberikan tidak dapat mengendalikan
kadar glukosa darah
'. +eadaan stres berat, seperti pada infeksi berat, tindakan pembedahan,
infark miokard akut atau stroke
1. DM 6estasional dan penderita DM yang hamil membutuhkan terapi
insulin, apabila diet saja tidak dapat mengendalikan kadar glukosa
darah.
5. +etoasidosis diabetik
%. "nsulin seringkali diperlukan pada pengobatan sindroma hiperglikemia
hiperosmolar non!ketotik.
2. Penderita DM yang mendapat nutrisi parenteral atau yang memerlukan
suplemen tinggi kalori untuk memenuhi kebutuhan energi yang
meningkat, se$ara bertahap memerlukan insulin eksogen untuk
mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal selama
periode resistensi insulin atau ketika terjadi peningkatan kebutuhan
insulin.
5. 6angguan fungsi ginjal atau hati yang berat
). +ontra indikasi atau alergi terhadap ,4,
Dara Pemberian
:ediaan insulin saat ini tersedia dalam bentuk obat suntik yang umumnya
dikemas dalam bentuk 8ial. +e$uali dinyatakan lain, penyuntikan dilakukan
subkutan *di ba&ah kulit-. 3okasi penyuntikan yang disarankan ditunjukan
pada gambar 1.
6ambar 1. 3okasi penyuntikan insulin yang disarankan
Penyerapan insulin dipengaruhi oleh beberapa hal. Penyerapan
paling $epat terjadi di daerah abdomen, diikuti oleh daerah lengan, paha
bagian atas dan bokong. ;ila disuntikkan se$ara intramuskular dalam,
maka penyerapan akan terjadi lebih $epat, dan masaQkerjanya menjadi
lebih singkat. +egiatan fisik yang dilakukan segera setelah penyuntikan
akan memper$epat &aktu mula kerja *onset- dan juga mempersingkat
masa kerja.
:elain dalam bentuk obat suntik, saat ini juga tersedia insulin dalam
bentuk pompa *insulin pump- atau jet inje$tor, sebuah alat yang akan
menyemprotkan larutan insulin ke dalam kulit. :ediaan insulin untuk
disuntikkan atau ditransfusikan langsung ke dalam 8ena juga tersedia
untuk penggunaan di klinik. Penelitian untuk menemukan bentuk baru
sediaan insulin yang lebih mudah diaplikasikan saat ini sedang giat
dilakukan. Diharapkan suatu saat nanti dapat ditemukan sediaan insulin
per oral atau per nasal.
1. Penggolongan :ediaan "nsulin
Lntuk terapi, ada berbagai jenis sediaan insulin yang tersedia, yang
terutama berbeda dalam hal mula kerja *onset- dan masa kerjanya
*duration-.
:ediaan insulin untuk terapi dapat digolongkan menjadi 1
kelompok, yaitu>
1. "nsulin masa kerja singkat *:hort!a$tingE"nsulin-, disebut juga
insulin reguler
2. "nsulin masa kerja sedang *"ntermediate!a$ting-
'. "nsulin masa kerja sedang dengan mula kerja $epat
1. "nsulin masa kerja panjang *3ong!a$ting insulin-
+eterangan dan $ontoh sediaan untuk masing!masing kelompok
disajikan dalam tabel % *",", 2000 dan :oegondo, 1))5b-.
(abel %. Penggolongan sediaan insulin berdasarkan mula dan masa kerja

Jenis :ediaan "nsulin Mula kerja
*jam-
Pun$ak
*jam-
Masa
kerja
*jam-
Masa kerja :ingkat *:horta$tingE"nsulin-,
disebut juga insulin reguler
0,5 1!1 %!5
Masa kerja :edang 1!2 %!12 15!21
Masa kerja :edang, Mula kerja $epat 0,5 1!15 15!21
Masa kerja panjang 1!% 11!20 21!'%

9espon indi8idual terhadap terapi insulin $ukup beragam, oleh
sebab itu jenis sediaan insulin mana yang diberikan kepada seorang
penderita dan berapa frekuensi penyuntikannya ditentukan se$ara
indi8idual, bahkan seringkali memerlukan penyesuaian dosis terlebih
dahulu. Lmumnya, pada tahap a&al diberikan sediaan insulin dengan
kerja sedang, kemudian ditambahkan insulin dengan kerja singkat untuk
mengatasi hiperglikemia setelah makan. "nsulin kerja singkat diberikan
sebelum makan, sedangkan "nsulin kerja sedang umumnya diberikan satu
atau dua kali sehari dalam bentuk suntikan subkutan. amun, karena
tidak mudah bagi penderita untuk men$ampurnya sendiri, maka tersedia
sediaan $ampuran tetap dari kedua jenis insulin regular *9- dan insulin
kerja sedang *P4-.
.aktu paruh insulin pada orang normal sekitar 5!% menit, tetapi
memanjang pada penderita diabetes yang membentuk antibodi terhadap
insulin. "nsulin dimetabolisme terutama di hati, ginjal dan otot. 6angguan
fungsi ginjal yang berat akan mempengaruhi kadar insulin di dalam darah
*",", 2000-.
5. :ediaan "nsulin yang ;eredar di "ndonesia
Dalam tabel 2 disajikan beberapa produk obat suntik insulin yang
beredar di "ndonesia *",", 2000 dan :oegondo, 1))5b-.
(abel 2. Profil beberapa sediaan insulin yang beredar di "ndonesia
ama :ediaan 6olongan
Mula kerja
*jam-
Pun$ak
*jam-
Masa
kerja *jam-
:ediaanR
=$trapid 4M
Masa kerja
:ingkat
0,5 1!' 5 10 L"Eml
=$trapid 4M
Penfill
Masa kerja
:ingkat
0,5 2!1 %!5 100 L"Eml
"nsulatard 4M Masa kerja
:edang,
Mula
0,5 1!12 21 10 L"Eml
kerja $epat
"nsulatard 4M
Penfill
Masa kerja
:edang,
Mula
kerja $epat
0,5 1!12 21 100 L"Eml
Monotard 4M
Masa kerja
:edang,
Mula
kerja $epat
2,5 2!15 21 10 L"Eml
Protamin Sin$
:ulfat
+erja lama 1!% 11!20 21!'%
4umulin 20E50 Dampuran 0,5 1,5!5 11!1% 10 L"Eml
4umulin '0E20
Dampuran
0,5 1!5 11!15 100 L"Eml
4umulin 10E%0
Dampuran
0,5 1!5 11!15 10 L"Eml
MiItard '0E20
Penfill
Dampuran
100 L"Eml
RLntuk tujuan terapi, dosis insulin dinyatakan dalam unit internasional *L"-. :atu L"
merupakan jumlah yang diperlukan untuk menurunkan kadar gula darah kelin$i sebanyak
15 mg#. :ediaan homogen human insulinmengandung 25!'0 LEmg.
%. Penyimpanan :ediaan "nsulin *:oegondo, 1))5b-
"nsulin harus disimpan sesuai dengan anjuran produsen obat yang
bersangkutan. ;erikut beberapa hal yang perlu diperhatikan>
"nsulin harus disimpan di lemari es pada temperatur 2!5
o
D. "nsulin
8ial <li 3ily yang sudah dipakai dapat disimpan selama % bulan atau
sampai 200 suntikan bila dimasukkan dalam lemari es. Hial o8o
ordisk insulin yang sudah dibuka, dapat disimpan selama )0 hari
bila dimasukkan lemari es.
"nsulin dapat disimpan pada suhu kamar dengan penyejuk 15!20
o
D
bila seluruh isi 8ial akan digunakan dalam satu bulan. Penelitian
menunjukkan bah&a insulin yang disimpan pada suhu kamar lebih
dari '0TD akan lebih $epat kehilangan potensinya. Penderita
dianjurkan untuk memberi tanggal pada 8ial ketika pertama kali
memakai dan sesudah satu bulan bila masih tersisa sebaiknya
tidak digunakan lagi.
Penfill dan pen yang disposable berbeda masa simpannya. Penfill
regular dapat disimpan pada temperatur kamar selama '0 hari
sesudah tutupnya ditusuk. Penfill '0E20 dan P4 dapat disimpan
pada temperatur kamar selama 2 hari sesudah tutupnya ditusuk.
Lntuk mengurangi terjadinya iritasi lokal pada daerah penyuntikan
yang sering terjadi bila insulin dingin disuntikkan, dianjurkan untuk
mengguling!gulingkan alat suntik di antara telapak tangan atau
menempatkan botol insulin pada suhu kamar, sebelum disuntikkan.
;. (erapi ,bat 4ipoglikemik ,ral
,bat!obat hipoglikemik oral terutama ditujukan untuk membantu
penanganan pasien DM (ipe "". Pemilihan obat hipoglikemik oral yang
tepat sangat menentukan keberhasilan terapi diabetes. ;ergantung pada
tingkat keparahan penyakit dan kondisi pasien, farmakoterapi hipoglikemik
oral dapat dilakukan dengan menggunakan satu jenis obat atau kombinasi
dari dua jenis obat. Pemilihan dan penentuan rejimen hipoglikemik yang
digunakan harus mempertimbangkan tingkat keparahan diabetes *tingkat
glikemia- serta kondisi kesehatan pasien se$ara umum termasuk
penyakit!penyakit lain dan komplikasi yang ada.
1. Penggolongan obat hipoglikemik oral
;erdasarkan mekanisme kerjanya, obat!obat hipoglikemik oral
dapat dibagi menjadi ' golongan, yaitu>
a- ,bat!obat yang meningkatkan sekresi insulin, meliputi obat
hipoglikemik oral golongan sulfonilureadan glinida *meglitinida
danturunan fenilalanin-.
b- :ensitiser insulin *obat!obat yang dapat meningkatkan sensitifitas
sel terhadap insulin-, meliputi obat!obat hipoglikemik golongan
biguanida dan tiaFolidindion, yang dapat membantu tubuh untuk
memanfaatkan insulin se$ara lebih efektif.
$- "nhibitor katabolisme karbohidrat, antara lain inhibitor B!glukosidase
yang bekerja menghambat absorpsi glukosa dan umum digunakan
untuk mengendalikan hiperglikemia post!prandial *post!meal
hypergly$emia-. Disebut juga /star$h!blo$ker0.
6olongan :ulfonilurea
Merupakan obat hipoglikemik oral yang paling dahulu ditemukan.
:ampai beberapa tahun yang lalu, dapat dikatakan hampir semua obat
hipoglikemik oral merupakan golongan sulfonilurea. ,bat hipoglikemik oral
golongan sulfonilurea merupakan obat pilihan *drug of $hoi$e- untuk
penderita diabetes de&asa baru dengan berat badan normal dan kurang
serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. :enya&a!
senya&a sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penderita gangguan
hati, ginjal dan tiroid.
,bat!obat kelompok ini bekerja merangsang sekresi insulin di
kelenjar pankreas, oleh sebab itu hanya efektif apabila sel!sel ?
3angerhans pankreas masih dapat berproduksi. Penurunan kadar glukosa
darah yang terjadi setelah pemberian senya&a!senya&a sulfonilurea
disebabkan oleh perangsangan sekresi insulin oleh kelenjar pankreas.
:ifat perangsangan ini berbeda dengan perangsangan oleh glukosa,
karena ternyata pada saat glukosa *atau kondisi hiperglikemia- gagal
merangsang sekresi insulin, senya&a!senya&a obat ini masih mampu
meningkatkan sekresi insulin. ,leh sebab itu, obat!obat golongan
sulfonilurea sangat bermanfaat untuk penderita diabetes yang kelenjar
pankreasnya masih mampu memproduksi insulin, tetapi karena sesuatu
hal terhambat sekresinya. Pada penderita dengan kerusakan sel!sel ?
3angerhans kelenjar pankreas, pemberian obat!obat hipoglikemik oral
golongan sulfonilurea tidak bermanfaat. Pada dosis tinggi, sulfonilurea
menghambat degradasi insulin oleh hati.
=bsorpsi senya&a!senya&a sulfonilurea melalui usus $ukup baik,
sehingga dapat diberikan per oral. :etelah diabsorpsi, obat ini tersebar ke
seluruh $airan ekstrasel. Dalam plasma sebagian terikat pada protein
plasma terutama albumin *20!)0#-.
<fek :amping *:uyono, 2001U ",", 2000-
<fek samping obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea
umumnya ringan dan frekuensinya rendah, antara lain gangguan saluran
$erna dan gangguan susunan syaraf pusat. 6angguan saluran $erna
berupa mual, diare, sakit perut, hipersekresi asam lambung dan sakit
kepala. 6angguan susunan syaraf pusat berupa 8ertigo, bingung, ataksia
dan lain sebagainya. 6ejala hematologik termasuk leukopenia,
trombositopenia, agranulosistosis dan anemia aplastik dapat terjadi &alau
jarang sekali. +lorpropamida dapat meningkatkan =D4 *=ntidiuretik
4ormon-. 4ipoglikemia dapat terjadi apabila dosis tidak tepat atau diet
terlalu ketat, juga pada gangguan fungsi hati atau ginjal atau pada lansia.
4ipogikemia sering diakibatkan oleh obat!obat hipoglikemik oral dengan
masa kerja panjang.
"nteraksi ,bat *4andoko dan :uharto, 1))5U ",", 2000-
;anyak obat yang dapat berinteraksi dengan obat!obat sulfonilurea,
sehingga risiko terjadinya hipoglikemia harus di&aspadai. ,bat atau
senya&asenya&a yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia se&aktu
pemberian obat!obat hipoglikemik sulfonilurea antara lain> alkohol, insulin,
fenformin, sulfonamida, salisilat dosis besar, fenilbutaFon, oksifenbutaFon,
probeneFida, dikumarol, kloramfenikol, penghambat M=, *Mono =min
,ksigenase-, guanetidin, steroida anabolik, fenfluramin, dan klofibrat.
Peringatan dan +ontraindikasi *",", 2000 dan -
Penggunaan obat!obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea
harus hatihati pada pasien usia lanjut, &anita hamil, pasien dengan
gangguan fungsi hati, dan atau gangguan fungsi ginjal.
+lorpropamida dan glibenklamida tidak disarankan untuk pasien
usia lanjut dan pasien insufisiensi ginjal. Lntuk pasien dengan
gangguan fungsi ginjal masih dapat digunakan glikuidon, gliklaFida,
atau tolbutamida yang kerjanya singkat.
.anita hamil dan menyusui, porfiria, dan ketoasidosis merupakan
kontra indikasi bagi sulfonilurea.
(idak boleh diberikan sebagai obat tunggal pada penderita
diabetes yu8enil, penderita yang kebutuhan insulinnya tidak stabil,
dan diabetes melitus berat.
,bat!obat golongan sulfonilurea $enderung meningkatkan berat
badan.
=da beberapa senya&a obat hipoglikemik oral golongan
sulfonilurea yang saat ini beredar *(abel )-. ,bat hipoglikemik oral
golongan sulfonilurea generasi pertama yang dipasarkan sebelum 1)51
dan sekarang sudah hampir tidak dipergunakan lagi antara lain
asetoheksamida, klorpropamida, tolaFamida dan tolbutamida. Cang saat
ini beredar adalah obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea generasi
kedua yang dipasarkan setelah 1)51, antara lain gliburida *glibenklamida-,
glipiFida, glikaFida, glimepirida, dan glikuidon.
:enya&a!senya&a ini umumnya tidak terlalu berbeda
efekti8itasnya, namun berbeda dalam farmakokinetikanya, yang harus
dipertimbangkan dengan $ermat dalam pemilihan obat yang $o$ok untuk
masing!masing pasien dikaitkan dengan kondisi kesehatan dan terapi lain
yang tengah dijalani pasien.
6olongan Meglitinida dan (urunan Aenilalanin
,bat!obat hipoglikemik oral golongan glinida ini merupakan obat
hipoglikemik generasi baru yang $ara kerjanya mirip dengan golongan
sulfonilurea. +edua golongan senya&a hipoglikemik oral ini bekerja
meningkatkan sintesis dan sekresi insulin oleh kelenjar pankreas.
Lmumnya senya&a obat hipoglikemik golongan meglitinida dan turunan
fenilalanin ini dipakai dalam bentuk kombinasi dengan obat!obat
antidiabetik oral lainnya.
6olongan ;iguanida
,bat hipoglikemik oral golongan biguanida bekerja langsung pada
hati *hepar-, menurunkan produksi glukosa hati. :enya&a!senya&a
golongan biguanida tidak merangsang sekresi insulin, dan hampir tidak
pernah menyebabkan hipoglikemia.
:atu!satunya senya&a biguanida yang masih dipakai sebagai obat
hipoglikemik oral saat ini adalah metformin. Metformin masih banyak
dipakai di beberapa negara termasuk "ndonesia, karena frekuensi
terjadinya asidosis laktat $ukup sedikit asal dosis tidak melebihi 1200
mgEhari dan tidak ada gangguan fungsi ginjal dan hati.
<fek :amping*:oegondo, 1))5b-
<fek samping yang sering terjadi adalah nausea, muntah,
kadangkadang diare, dan dapat menyebabkan asidosis laktat.
+ontra "ndikasi
:ediaan biguanida tidak boleh diberikan pada penderita gangguan
fungsi hepar, gangguan fungsi ginjal, penyakit jantung kongesif dan &anita
hamil. Pada keadaan ga&at juga sebaiknya tidak diberikan biguanida.
6olongan (iaFolidindion *(SD-
:enya&a golongan tiaFolidindion bekerja meningkatkan kepekaan
tubuh terhadap insulin dengan jalan berikatan dengan PP=9V
*peroIisome proliferator a$ti8ated re$eptor!gamma- di otot, jaringan
lemak, dan hati untuk menurunkan resistensi insulin. :enya&a!senya&a
(SD juga menurunkan ke$epatan glikoneogenesis.
6olongan "nhibitor B!6lukosidase
:enya&a!senya&a inhibitor B!glukosidase bekerja menghambat
enFim alfa glukosidase yang terdapat pada dinding usus halus.
<nFim!enFim B!glukosidase *maltase, isomaltase, glukomaltase dan
sukrase- berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida, pada dinding usus
halus. "nhibisi kerja enFim ini se$ara efektif dapat mengurangi pen$ernaan
karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat mengurangi
peningkatan kadar glukosa post prandial pada penderita diabetes.
:enya&a inhibitor B!glukosidase juga menghambat enFim B!amilase
pankreas yang bekerja menghidrolisis polisakarida di dalam lumen usus
halus. ,bat ini merupakan obat oral yang biasanya diberikan dengan
dosis 150!%00 mgEhari. ,bat ini efektif bagi penderita dengan diet tinggi
karbohidrat dan kadar glukosa plasma puasa kurang dari 150 mgEdl.
,bat ini hanya mempengaruhi kadar glukosa darah pada &aktu
makan dan tidak mempengaruhi kadar glukosa darah setelah itu.
,bat!obat inhibitor B!glukosidase dapat diberikan sebagai obat
tunggal atau dalam bentuk kombinasi dengan obat hipoglikemik lainnya.
,bat ini umumnya diberikan dengan dosis a&al 50 mg dan dinaikkan
se$ara bertahap sampai 150!%00 mgEhari. Dianjurkan untuk
memberikannya bersama suap pertama setiap kali makan.
<fek :amping *:oegondo, 1))5b-
<fek samping obat ini adalah perut kurang enak, lebih banyak flatus
dan kadang!kadang diare, yang akan berkurang setelah pengobatan
berlangsung lebih lama. ,bat ini hanya mempengaruhi kadar glukosa
darah pada &aktu makan dan tidak mempengaruhi kadar glukosa darah
setelah itu. ;ila diminum bersama!sama obat golongan sulfonilurea *atau
dengan insulin- dapat terjadi hipoglikemia yang hanya dapat diatasi
dengan glukosa murni, jadi tidak dapat diatasi dengan pemberian gula
pasir. ,bat ini umumnya diberikan dengan dosis a&al 50 mg dan
dinaikkan se$ara bertahap, serta dianjurkan untuk memberikannya
bersama suap pertama setiap kali makan. Dalam tabel 5 disajikan
beberapa golongan senya&a hipoglikemik oral
D. (erapi +ombinasi
Pada keadaan tertentu diperlukan terapi kombinasi dari beberapa
,abat 4ipoglikemik ,ral *,4,- atau ,4, dengan insulin. +ombinasi
yang umum adalah antara golongan sulfonilurea dengan biguanida.
:ulfonilurea akan menga&ali dengan merangsang sekresi pankreas yang
memberikan kesempatan untuk senya&a biguanida bekerja efektif. +edua
golongan obat hipoglikemik oral ini memiliki efek terhadap sensiti8itas
reseptor insulin, sehingga kombinasi keduanya mempunyai efek saling
menunjang. Pengalaman menunjukkan bah&a kombinasi kedua golongan
ini dapat efektif pada banyak penderita diabetes yang sebelumnya tidak
bermanfaat bila dipakai sendiri!sendiri.
4al!hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat
hipoglikemik oral >
1. Dosis selalu harus dimulai dengan dosis rendah yang kemudian
dinaikkan se$ara bertahap.
2. 4arus diketahui betul bagaimana $ara kerja, lama kerja dan efek
samping obat!obat tersebut.
'. ;ila diberikan bersama obat lain, pikirkan kemungkinan adanya
interaksi obat.
1. Pada kegagalan sekunder terhadap obat hipoglikemik oral,
usahakanlah menggunakan obat oral golongan lain, bila gagal lagi,
baru pertimbangkan untuk beralih pada insulin.
5. 4ipoglikemia harus dihindari terutama pada penderita lanjut usia,
oleh sebab itu sebaiknya obat hipoglikemik oral yang bekerja
jangka panjang tidak diberikan pada penderita lanjut usia.
%. Lsahakan agar harga obat terjangkau oleh penderita.
(abel 5. Penggolongan obat hipoglikemik oral
N$. en3a4a
1"at
5generi67
*$l$ngan
Mekani-e
kerjan3a
ES Ake8Paten D$i Interaki
1. 6liben$lamid
6lipiFida
6limepiride
6likuidon
:ulfonilurea Merangsang
sekresi insulin di
kelenjar
pankreas,
sehingga hanya
efektif bagi
penderita
diabetes yang
sel ?
pankreasnya
masih berfungsi
dengan baik
6angguan saluran
$erna,mual,diare,
hipersekresi
lambung, gejala
hematologi$,
anemia plasti$
=skes > 6libeklamid *
1 *li"enkla-i%e
2 Padonil
2 9enabeti$
' 4armida
, glipiFide
*li6a"
6likamel
6lidabet
6lu$odeI
Pedab
Pepabet
,glikuidone
Paten >
=benom hero$,
$ondiabet,euglo$on*
6libenklamid-. =ldiab
merk, glu$otrol
PfiFer, minidiab
*6lipiFide-. =meryl
=8entis *glimepiride-.
6lurenirm ;oeringer
* 6likuidon-
6liben$lamid
5 mgE hari. DM
20 mgEhari
6lipiFide 5 mg
hari. DM 10
mgEhari
6limepiride 2
mgEhari
6likuidon > 250
mg Ehari DM
500 mgEhari
=l$ohol,antidepresan,
rifampisin, androgen,
antikoaugulant,
antifungal aFol,
probenesit, salisilat,
sulfinpiraFon,
sulfonamide
*W :ulfonilurea-.
;etabloker, pemblok
$elah
kalsium,kolestiramin,
kortikosteroid,
diaFoFid,estrogen,
hindatoin, agen tiroid,
karbon aktif * X
sulfonilurea-
2. 9epaglinide Meglitinida Merangsang
sekresi insulin di
kelenjar
pankreas
+onstipasi, mual,
muntah,
Dosis a&al
0,5!1 mg dgn
mknan DM. 1%
mg
ketonaFol,
sim8astatin,
trimotripin
#. eteglinide (urunan
Aenilalanin
Meningkatkan
ke$epatan
sintesa insulin
oleh pankreas
Mual,muntah,
anoreksia,
Dosis a&al 120
mg perhari. DM
120 mg 'I
sehari
&.
Metformin
;iguanida ;ekerja
langsung pada
4epar
menurunkan
produksi
glukosa hati.
(idak
merangsang
sekresi insulin
oleh kelenjar
pankreas.
Mual,muntah
anoreksia, diare,
asidosis laktat,
gangguan
penyerapan ;12
=skes > metformin
6ludepati$
,megluphage
6likos
Metformin
Paten >
;enoformis,
;estab,
DiabeI $ombiphar,
(udiab metprofarm,
neodipar =8entis,
Fumamet prima
4eIal
2 kali sehari
Y250! 500 mg
=l$ohol, simetidin,
furosemid, nifedipin
dogoksin, morfin,
ranitidine, kinin,
triamteren,
trimetropin,
* W metformin-
6liburid *W6liburid-
). 9osiglitaFon
(roglitaFon
PioglitaFon
(iaFolidindion Meningkatkan
kepekaan tubuh
terhadap insulin.
;erikatan
dengan PP=9y
*peroIisome
proliferator
a$ti8ated
re$eptor!
gamma- di otot,
jaringan lemak,
dan hati untuk
menurunkan
resistensi
6angguan saluran
$erna,mual,diare,
hipersekresi
lambung
Paten >
=8andia 6laIo smith
kline *9osiglitaFon-
=$tos (akeda phar$.
*PiogltaFon-
9osiglitaFon 2!
1 gr sehari *DM
5 mgEhari- ,
PioglitaFon 15
mgEhari*DM 15
mgEhari-
=tor8astatin,
ketonaFol, *W
pioglitaFone-
midaFolam,
*XmidaFolam-
nifedipin
*W nifedipin-,
kontrasepsi oral
*Xetinilestradion-
insulin.
). =$arbose
Miglitol
"nhibitor
B!glikosidase
Menghambat
kerja enFim!
enFim
pen$ernaan
yang men$erna
karbohidrat,
sehingga
memperlambat
absorpsi
glukosa darah
Diare, perut
kembung dan
nyeri, ikterus,
hepatitis
=skes >
6lu$obay *akarbose-
Paten >
6lukobay *a$arbose-
6yset *Miglitol-
50 mg dan
se$ara
bertahap
sampai 150!
%00 mg perhari
Digoksin *Xdogoksin-,
<nFim sal. Derna,
absorsen
* Xakarbose-

II.11. 1"at Tra%ii$nal
1. Mengkudu
a. <fek ;uah Mengkudu terhadap +adar 6lukosa Darah
+eadaan hiperglikemia pada DM dapat meningkatkan konsentrasi
radikal bebas dalam tubuh, melalui beberapa mekanisme yaitu jalur
autooksidasi glukosa, jalur glikosilasi protein, dan jalur akti8asi poliol.
Pada jalur Poliol, glukosa diubah menjadi sorbitol dengan bantuan
enFim aldose reduktase, selain itu terjadi pembentukan ad8an$e
glu$osylation end produ$ts *=6<Ps- dari fruktosa!'!fosfat dan '!
deoksiglu$osone yang mana jika berikatan dengan reseptor =6<Ps
akan terbentuk radikal bebas. :el beta pankreas akan mengalami
kerusakan bila sering terpapar radikal bebas dan hal tersebut akan
berefek pada penurunan produksi insulin.
Mengkudu mengandung banyak Fat aktif yang sangat berguna
bagi kesehatan tubuh. Sat aktif yang memiliki khasiat untuk
menurunkan kadar glukosa darah adalah Ieronin dan fla8onoid.
;uah mengkudu mengandung sedikit Ieronin, tetapi banyak
mengandung proIeronin yang berfungsi sebagai prekursor Ieronin .
Peronin berfungsi untuk meregenerasi sel dan reseptor sel
tubuh, termasuk pankreas yang menghasilkan insulin sebagai
regulator glukosa darah.
;uah mengkudu juga mengandung fla8onoid yang berperan
sebagai antioksidan sehingga dapat men$egah komplikasi atau
progresifitas DM dengan $ara membersihkan radikal bebas yang
berlebih, memutuskan rantai radikal bebas dan memblokade jalur poliol
dengan menghambat enFim aldose reduktase . Dengan peran fla8onoid
sebagai antioksidan maka produksi radikal bebas dalam tubuh
berkurang. Ala8onoid juga berperan dalam memperbaiki kerusakan
pada sel beta pankreas sehingga pankreas dapat kembali mensekresi
insulin, yang berefek pada penurunan kadar glukosa darah *Hi8i,
201'-.
BAB III
KESIMPULAN
1. Diabetes mellitus *DM- didefinisikan sebagai suatu penyakit atau
gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai
dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan
metabolisme karbohidrat,lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi
fungsi insulin.
2. +lasifikasi diabetes melitus ada 2 tipe utama diabetes melitus, yaitu
7"nsulin Dependent Diabetes Mellitus7 *"DDM- disebut juga Diabetes
Melitus (ipe 1 dan 7on!"nsulin!Dependent Diabetes Mellitus7
*"DDM- yang disebut juga Diabetes Melitus (ipe 2.
'. Penanganan DM dapat dilakukan dengan diet dan olah raga serta
terapi insulin yntuk DM tipe 1 dan (erapi ,4, untuk DM tipe 2.
DA'TA( PUSTAKA
=meri$an Diabetes =sso$iation. Diagnosis and $lassifi$ation of diabetes
mellitus. Diabetes Dare. 2001U22*:uppl 1->:5!:10.
=meri$an Diabetes =sso$iation. :tandards of medi$al $are in diabetes.
Diabetes Dare. 2001U22*:uppl 1->:15!:'5.
=meri$an :o$iety of 4ealth :ystem Pharma$ist. =:4P :tatement on the
Pharma$istZs 9ole in Primary Dare. =m J 4osp Pharm
1)))U5%>1%%5!2
D<P+<: 9". Pharma$euti$al Dare untuk Penyakit Diabetes Mellitus.
Direktorat ;ina Aarmasi +omunitas dan +linik Direktorat Jenderal
;ina +efarmasian dan =lat +esehatan. 2005
Aarmakologi dan (erapi. ;agian Aarmakologi A+L", 2000.
"nformatorium ,bat asional "ndonesia 2000 *"," 2000-. Direktorat
Jenderal Penga&asan ,bat dan Makanan. Departeman +esehatan
9epublik "ndonesia, 2000
"nformasi :pesialite ,bat "ndonesia *":, "ndonesia- Holume 12, 200).
+oda!+imble M=, Darlisle ;=. Diabetes Mellitus. "n> +oda!+imble, Coung
3C, eds. =pplied (herapeuti$s. (he Dlini$al Lse of Drugs., 2
th
ed.
Han$ou8er,.=. =pplied (herapeuti$s "n$.
P<9+<". Petunjuk Praktis Pengelolaan DM (ipe 2, Jakarta, 2002.
P<9+<". +onsensus Pengelolaan dan Pen$egahan Diabetes Mellitus
(ipe 2 di "ndonesia. Jakarta. 2011.
:oegondo :. Diagnosis dan +lasifikasi Diabetes Mellitus (erkini. Dalam
:oegondo :, :oe&ondo P dan :ubekti " *eds-. Penatalaksanaan
Diabetes Mellitus (erpadu, Pusat Diabetes dan 3ipid 9:LP
asional Dipto Mangunkusumo!A+L", Jakarta, 2001.
:uyono :. +e$enderungan Peningkatan Jumlah Penderita Diabetes.
Dalam :oegondo :, :oe&ondo P dan :ubekti " *eds-.
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus (erpadu, Pusat Diabetes dan
3ipid 9:LP asional Dipto Mangunkusumo!A+L", Jakarta, 2001.
:uyono :. Patofisiologi Diabetes Mellitus. Dalam :oegondo :, :oe&ondo
P dan :ubekti " *eds-. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus (erpadu,
Pusat

Hi8i. Pemberian <kstrak ;uah Mengkudu *Morinda citrifolia- se$ara oral
dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes mellitus.
program magister program studi ilmu biomedik program
pas$asarjana Lni8ersitas udayana. Denpasar. 201'
.aspadji :. Diabetes Mellitus> Mekanisme Dasar dan Pengelolaannya
Cang 9asional. Dalam :oegondo :, :oe&ondo P dan :ubekti "
*eds-. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus (erpadu, Pusat Diabetes
dan 3ipid 9:LP asional Dipto Mangunkusumo!A+L", Jakarta,
2001.
.4, <Ipert Dommittee on Diabetes Mellitus> :e$ond report. .orld
4ealth ,rgan (e$h 9ep :er 1)50U%1%>1!50.
.4, :tudy 6roup. Diabetes mellitus> 9eport of a .4, :tudy 6roup.
.orld 4ealth ,rgan (e$h 9ep :er 1)55U222>1!11'.
.4, Department of on$ommuni$able Disease :ur8eillan$e 6ene8a.
Definition, Diagnosis and Dlassifi$ation of Diabetes Mellitus and its
Dompli$ations. 9eport of a .4, DonsultationPart 1> Diagnosis and
Dlassifi$ation of Diabetes Mellitus. 1)))