Anda di halaman 1dari 10

TRANSPLANTASI GINJAL

A. Definisi Transplantasi Organ



Donor organ atau lebih sering disebut transplantasi adalah pemindahan suatu jaringan
atau organ manusia tertentu dari suatu tempat ke tempat lain pada tubuhnya sendiri
atau tubuh orang lain dengan persyaratan dan kondisi tertentu. Syarat tersebut melipui
kecocokan organ dari donor dan resipen.

Donor organ adalah pemindahan organ tubuh manusia yang masih memiliki daya
hidup dan sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi
dengan baik apabila diobati dengan teknik dan cara biasa, bahkan harapan hidup
penderitan hampir tidak ada lagi. Sedangkan resipien adalah orang yang akan
menerima jaringan atau organ dari orang lain atau dari bagian lain dari tubuhnya
sendiri. Organ tubuh yang ditransplantasikan biasanya adalah organ vital seperti
ginjal, jantung, dan mata. Namun dalam perkembangannya organ-organ tubuh lainnya
pun dapat ditransplantasikan untuk membantu orang yang sangat memerlukannya.

Menurut pasal 1 ayat 5 Undang-undang kesehatan,transplantasi organ adalah
rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan tubuh manusia
yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk
menggantikan organ dan atau jaringan tubuh. Pengertian lain mengenai transplantasi
organ adalah berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, transplantasi
adalah tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan tubuh manusia
yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk
mengganti jaringan dan atau organ tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.

Transplantasi ginjal melibatkan menanamkan ginjal dari donor hidup atau kadaver
menusia resipein yang mengalami penyakit ginjal tahap akhir. Transplantasi
ginjal dapat dilakukan secara cadaveric (dari seseorang yang telah meninggal) atau
dari donor yang masih hidup (biasanya anggota keluarga). Ada beberapa keuntungan
untuk transplantasi dari donor yang masih hidup, termasuk kecocokan lebih bagus,
donor dapat dites secara menyeluruh sebelum transplantasi dan ginjal tersebut
cenderung memiliki jangka hidup yang lebih panjang (Brunner and Suddarth).

B. Klasifikasi Transplantasi Organ

Transplantasi ditinjau dari sudut si penerima, dapat dibedakan menjadi:

1. Autotransplantasi: pemindahan suatu jaringan atau organ ke tempat lain dalam
tubuh orang itu sendiri.
2. Homotransplantasi : pemindahan suatu jaringan atau organ dari tubuh
seseorang ke tubuh orang lain.
3. Heterotransplantasi : pemindahan organ atau jaringan dari satu spesies ke
spesies lain.
4. Autograft
Transplantasi jaringan untuk orang yang sama. Kadang-kadang hal ini
dilakukan dengan jaringan surplus, atau jaringan yang dapat memperbarui,
atau jaringan lebih sangat dibutuhkan di tempat lain (contoh termasuk kulit
grafts, ekstraksi vena untuk CABG, dll) Kadang-kadang autograft dilakukan
untuk mengangkat jaringan dan kemudian mengobatinya atau orang sebelum
mengembalikannya (contoh termasukbatang autograft sel dan
penyimpanan darah sebelum operasi).
5. Allograft
Allograft adalah suatu transplantasi organ atau jaringan antara dua non-identik
anggota genetis yang samaspesies . Sebagian besar jaringan manusia dan
organ transplantasi yang allografts. Karena perbedaan genetik antara organ
dan penerima, penerima sistem kekebalan tubuh akan mengidentifikasi organ
sebagai benda asing dan berusaha untuk menghancurkannya,
menyebabkan penolakan transplantasi .
6. Isograft
Sebuah subset dari allografts di mana organ atau jaringan yang
ditransplantasikan dari donor ke penerima yang identik secara genetis
(seperti kembar identik ). Isografts dibedakan dari jenis lain transplantasi
karena sementara mereka secara anatomi identik dengan allografts, mereka
tidak memicu respon kekebalan.
7. Xenograft dan Xenotransplantation
Transplantasi organ atau jaringan dari satu spesies yang lain. Sebuah contoh
adalah transplantasi katup jantung babi, yang cukup umum dan sukses. Contoh
lain adalah mencoba primata (ikan primata non manusia) transplantasi Piscine
dari pulau kecil (yaitu pankreas pulau jaringan atau jaringan).
8. Transplantasi Split
Kadang-kadang organ almarhum-donor biasanya hati, dapat dibagi antara dua
penerima, terutama orang dewasa dan seorang anak. Ini bukan biasanya
sebuah pilihan yang diinginkan karena transplantasi organ secara keseluruhan
lebih berhasil.
9. Transplantasi Domino
Operasi ini biasanya dilakukan pada pasien dengan fibrosis kistik karena
kedua paru-paru perlu diganti dan itu adalah operasi lebih mudah secara teknis
untuk menggantikan jantung dan paru-paru pada waktu yang sama. Sebagai
jantung asli penerima biasanya sehat, dapat dipindahkan ke orang lain yang
membutuhkan transplantasi jantung.
Jika ditinjau dari sudut penyumbang atau donor alat dan atau jaringan tubuh, maka
transplantasi dapat dibedakan menjadi:
a. Transplantasi dengan donor hidup
Transplantasi dengan donor hidup adalah pemindahan jaringan atau organ tubuh
seseorang ke orang lain atau ke bagian lain dari tubuhnya sendiri tanpa
mengancam kesehatan. Donor hidup ini dilakukan pada jaringan atau organ yang
bersifat regeneratif, misalnya kulit, darah dan sumsum tulang, serta organ-organ
yang berpasangan misalnya ginjal.

b. Transplantasi dengan donor mati atau jenazah
Transplantasi dengan donor mati atau jenazah adalah pemindahan organ atau
jaringan dari tubuh jenazah ke tubuh orang lain yang masih hidup. Jenis organ
yang biasanya didonorkan adalah organ yang tidak memiliki kemampuan untuk
regenerasi misalnya jantung, kornea, ginjal dan pankreas (Anonim,2012).

C. Etiologi Transplantasi Ginjal

Penyakit gagal ginjal terminal (End Stage of Renal Disease).

D. Komplikasi Transplantasi Ginjal

1. Penolakan pencangkokan
Yaitusebuah serangan dari sistem kekebalan terhadap organ donor asing yang
dikenal oleh tubuh sebagai jaringan asing. Reaksi tersebut dirangsang oleh antigen
dari kesesuaian organ asing. Ada tiga jenis utama penolakan secara klinik, yaitu
hiperakut, akut, dan kronis.

2. Infeksi
Infeksi meninggalkan masalah yang potensial dan mewakili komplikasi yang
paling serius memberikan ancaman kehidupan pada periode pencangkokan jaman
dulu. Infeksi sistem urine, pneumonia, dan sepsis adalah yang sering dijumpai.

3. Komplikasi sistem urinaria
Salah satunya adalah terputusnya ginjal secara spontan. Komplikasi yang lain
adalah bocornya urine dari ureteral bladder anastomosis yang menyebabkan
terjadinya urinoma yang dapat memberi tekanan pada ginjal dan ureter yang
mengurangi fungsi ginjal.

4. Komplikasi kardiovaskular
Komplikasinya bisa berupa komplikasi lokal atau sistem. Hipertensi dapat terjadi
pada 50%-60% penderita dewasa yang mungkin disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya stenosis arteri ginjal, nekrosis tubular akut, penolakan pencangkokkan
jenis kronik dan akut, hidronefrosis.

5. Komplikasi pernafasan
Pneumonia yang disebabkan oleh jamur dan bakteri adalah komplikasi pernafasan
yang sering terjadi.

6. Komplikasi gastrointestinal
Hepatitis B dan serosis terjadi dan mungkin dihubungkan dengan penggunaan
obat-obatan hepatotoksik.

7. Komplikasi kulit
Karsinoma kulit adalah yang paling umum. Penyembuhan luka dapat menjadi
lama karena status nutrisi yang kurang, albu,in serum yang sedikit dan terapi
steroid.

8. Komplikasi-komplikasi yang lain
Sistem lain juga diakibatkan oleh komplikasi sesudah pencangkokan diabetes
militusyang disebabkan oleh steroid, mungkin bisa berkembang. Akibat terhadap
muskuluskeletal yang termasuk adalah osteoporosis dan miopaty. Nekrosis tulang
aseptik adalah utamanya disebabkan oleh terapi kortikosteroid. Masalah
reproduksi yang digambarkan dalam frekuensi CRF muncul setelah transplantasi.

9. Kematian
Rata-rata kematian setelah 2 tahun pelaksanaan transplantasi tersebut hanya 10%.
Hal ini menggambarkan adanya penurunan tingkat kematian yang berarti dalam
dua dekade yang lalu, sebelumnya tingkat ketahanan hidup hanya 40-50%.
Khususnya rata-rata kematian yang menurun yang diakibatkan oleh infeksi pada
dua tahun pertama setelah dua tahun pencangkokkan telah terjadi.

E. Keberhasilan Transplantasi Ginjal Menurut Harapan Klinis

1. Lama hidup ginjal cangkok (Graft Survival)
Lama hidup ginjal cangkok sangat dipengaruhi oleh kecocokan antigen antara
donor dan resipien. Waktu paruh ginjal cangkok pada HLA identik 20-25 tahun,
HLA yang sebagian cocok (one-haplotype match) 11 tahun dan pada donor
jenazah 7 tahun. Lama hidup ginjal cangkok pada pasien diabetes militus lebih
buruk daripada non diabetes.

2. Lama hidup pasien (Patient Survival)
Sumber organ donor sangat mempengaruhi lama hidup pasien dalam jangka
panjang. Lama hidup pasien yang mendapat donor ginjal hidup lebih baik
dibanding donor jenasah, mungkin karena pada donor jenasah memerlukan lebih
banyak obat imonosupresi. Misalnya pada pasien yang ginjal cangkoknya
berfungsi lebih dari satu tahun, didapatkan lama hidup pasien 5 tahun (five live
survival) pada donor hidup 93 % dan pada donor jenasah 85 % penyakit eksternal
seperti diabetes militus akan menurunkan lama hidup pasien.

F. Faktor-Faktor Keberhasilan Transplantasi Ginjal

Transplantasi ginjal merupakan transplantasi yang paling banyak dilakukan dibanding
transplantasi organ lain dan mencapai lam hidup paling panjang. Faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan transplantasi ginjal terdiri faktor yang bersangkut paut
dengan donor, resipien, faktor imunologis, faktor pembedahan antara lain penanganan
pra-operatif dan paska operasi.

1. Donor ginjal
Kekurangan ginjal donor merupakan masalah yang umum dihadapai di seluruh
dunia. Kebanyakan negara maju telah menggunakan donor jenasah (cadaveric
donor).Sedangkan negara-negara di Asia masih banyak mempergunakan donor
hidup (living donor). Donor hidup dapat berasal dari individu yang mempunyai
hubungan keluarga(living related donor) atau tidak ada hubungan keluarga (living
non related donor). Kemungkinan mempergunakan donor hidup bukan keluarga
berkembang menjadi suatu masalah yang peka, yaitu komersialisasi organ tubuh.

2. Donor hidup
Donor hidup, khususnya donor hidup yang mempunyai hubungan keluarga harus
memenuhi beberapa syarat :

a. Usia lebih dari 18 tahun s/d kurang dari 65 tahun.
b. Motivasi yang tinggi untuk menjadi donor tanpa paksaan.
c. Kedua ginjal normal.
d. Tidak mempunyai penyakit yang dapat mengakibatkan penurunan fungsi
ginjal dalam waktu jangka yang lama.
e. Kecocokan golongan darah ABO, HLA dan tes silang darah (cross match).
f. Tidak mempunyai penyakit yang dapat menular kepada resepien.
g. Sehat mental.
h. Toleransi operasi baik.
Pemeriksaan calon donor meliputi anamnesis, pemeriksaan fisis lengkap;
termasuk tes fungsi ginjal, pemeriksaan golongan darah dan sistem HLA, petanda
infeksi virus (hepatitis B, hepatitis C, CMV, HIV), foto dada, ekokardiografi, dan
arteriografi ginjal.
3. Donor jenazah

Donor jenazah berasal dari pasien yang mengalami mati batang otak akibat
kerusakan otak yang fatal, usia 10-60 tahun, tidak mempunyai penyakit yang
dapat ditularkan seperti hepatitis, HIV, atau penyakit keganasan (kecuali tumor
otak primer). Fungsi ginjal harus baik sampai pada saat akhir menjelang kematian.
Panjang hidup ginjal transplantasi dari donor jenasah yang meninggal karena
strok, iskemia, tidak sebaik meninggal karena perdarahan subaracnoid.

4. Resipien Ginjal

Pasien gagal ginjal terminal yang potensial menjalani transplantasi ginjal harus
dinilai oleh tim transplantasi. Setelah itu dilakukan evaluasi dan persiapan untuk
transplantasi. Frekuensi dialisis menjadi lebih sering menjelang opersi untuk
mencapai keadaan seoptimal mungkin pada saat menjalani operasi.

Dilakukan pemeriksaan jasmani yang teliti untuk menetapkan adanya hipertensi,
penyakit pembuluh darah perifer dan penyakit jantung koroner, ulkus
peptikum dan keadaan saluran kemih. Disamping itu pemeriksaan laboratorium
lengkap termasuk pertanda infeksi virus (hepatitis, CMV, HIV) foto dada, USG,
EKG, ekokardiografi, pemeriksaan gigi geligi dan THT.

Resipien yang potensial untuk transplantasi ginjal

a. Dewasa
b. Pasien yang kesulitan menjalani hemodialisis dan CAPD.
c. Saluran kemih bawah harus normal bila ada kelainan dikoreksi terlebih
dahulu.
d. Dapat mnejalani terapi imunosupresi dalam jangka waktu lama dan
kepatuhan berobat tinggi.

G. Kontra Indikasi Transplantasi Ginjal

a. Infeksi akut : tuberkolosis, infeksi saluran kemih, hepatitis akut.
b. Infeksi kronik, bronkietaksis.
c. Aterotema yang berat.
d. Ulkus peptikum yang aktif.
e. Penyakit keganasan.
f. Mal nutrisi

H. Imunologi Transplantasi

Ginjal donor harus mempunyai kecocokan secara imunologi dengan ginjal resepien
agar transplantasi berhasil baik. Golongan darah (ABO) yang sama merupakan syarat
yang utama. Kesesuaian imunologis pada transplantasi ginjal dinilai dengan
memeriksa pola HLA.

Bila ginajal yang dicontohkan tidak cocok secara imunologis akan timbul reaksi
rejeksi. Reaksi ini sebenarnya merupakan usaha tubuh resepien untuk menolak benda
asing yang masuk ketubuhnya. Ada tiga jenis reaksi rejeksi yang dikenal
pada transplantasi ginjal, yaitu :

1. Reaksi hiperakut
Terjadi segera dengan beberapa menit atau beberapa jam setelah klem pembuluh
darah dilepas. Disebabkan adanya antibodi terhadap sistem ABO atau sistem HLA
yang tidak cocok. Rejeksi hiperaktif tidak bisa diatasi harus dilaksanakan
nefrektomi ginjal cangkok. Rejeksi hiperakut saat ini jarang terjadi oleh karena
dapat dihindarkan dengan pemeriksaan reaksi silang.

2. Rejeksi akut

Biasanya terjadi dalam waktu 3 bulan pasca transplantasi, dapat dicetuskan oleh
penghentian atau pengurangan dosis obat imunoisupresi. Manifestasi klinis :
demam, mialgia malaise, nyeri pada ginjal baru, produksi urine menurun, berat
badan meningkat, tekanan darah naik, kreatinin serum meningkat, histopatologi.

Terapi rejeksi akut:
1) Metil prednisolon: 250 mg-1 gr IV/hari selama 3 hari. Respon umumnya
setelah didapatkan 3 hari.
2) ALG (anti limphocyte globulin), ATG (anti thympocyte globulin) atau
antibodi monoklonsl (OKT-3) sebagai terapi alternatif bila tidak teratasi.

3. Rejeksi kronik
Terjadi setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun pasca transplantasi. Pada
rejeksi kronik terjadi penurunan fungsi ginjal cangkok. Belum ada pengobatan
yang spesifik untuk mengobati rejeksi kronik.

Transplantasi Organ dari Segi Agama
1. Transplantasi Organ dari Segi Agama Islam

Didalam syariat Islam terdapat 3 macam hukum mengenai transplantasi organ dan
donor organ ditinjau dari keadaan si pendonor. Adapun ketiga hukum tersebut, yaitu

a. Transplantasi Organ Dari Donor Yang Masih Hidup
Dalam syara seseorang diperbolehkan pada saat hidupnya mendonorkan sebuah
organ tubuhnya atau lebih kepada orang lain yang membutuhkan organ yang
disumbangkan itu, seperti ginjal. Akan tetapi mendonorkan organ tunggal yang
dapat mengakibatkan kematian si pendonor, seperti mendonorkan jantung, hati
dan otaknya. Maka hukumnya tidak diperbolehkan, berdasarkan firman Allah
SWT dalam Al Quran :

a) Surat Al Baqorah ayat 195
dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan
b) An Nisa ayat 29
dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri
c) Al Maidah ayat 2
dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

b. Transplantasi Organ dari Donor yang Sudah meninggal
Sebelum kita mempergunakan organ tubuh orang yang telah meninggal, kita harus
mendapatkan kejelasan hukum transplantasi organ dari donor tersebut. Adapun
beberapa hukum yang harus kita tahu, yaitu :

a) Dilakukan setelah memastikan bahwa si penyumbang ingin
menyumbangkan organnya setelah dia meninggal. Bisa dilakukan melalui
surat wasiat atau menandatangani kartu donor atau yang lainnya.
b) Jika terdapat kasus si penyumbang organ belum memberikan persetujuan
terlebih dahulu tentang menyumbangkan organnya ketika dia meninggal
maka persetujuan bisa dilimpahkan kepada pihak keluarga penyumbang
terdekat yang dalam posisi dapat membuat keputusan atas penyumbang.
c) Organ atau jaringan yang akan disumbangkan haruslah organ atau jaringan
yang ditentukan dapat menyelamatkan atau mempertahankan kualitas
hidup manusia lainnya.
d) Organ yang akan disumbangkan harus dipindahkan setelah dipastikan
secara prosedur medis bahwa si penyumbang organ telah meninggal dunia.
e) Organ tubuh yang akan disumbangkan bisa juga dari korban kecelakaan
lalu lintas yang identitasnya tidak diketahui tapi hal itu harus dilakukan
dengan seizin hakim.
Seorang dokter atau seorang penguasa tidak berhak memanfaatkan salah satu
organ tubuh seseorang yang sudah meninggal untuk ditransplantasikan kepada
orang lain yang membutuhkannya.Adapun hukum kehormatan mayat dan
penganiayaan terhadapnya, maka Allah SWT telah menetapkan bahwa mayat
mempunyai kehormatan yang wajib dipelihara sebagaimana kehormatan orang
hidup. Dan Allah telah mengharamkan pelanggaran terhadap kehormatan mayat
sebagaimana pelanggaran terhadap kehormatan orang hidup. Allah menetapkan
pula bahwa menganiaya mayat sama saja dosanya dengan menganiaya orang
hidup. Diriwayatkan dari Aisyah Ummul Muminin RA bahwa Rasulullah SAW
bersabda : Memecahkan tulang mayat itu sama dengan memecahkan tulang
orang hidup. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).
Imam Ahmad meriwayatkan dari Amar bin Hazm Al Anshari RA, dia
berkata,Rasulullah pernah melihatku sedang bersandar pada sebuah kuburan.
Maka beliau lalu bersabda : Janganlah kamu menyakiti penghuni kubur itu !.
Hadits-hadits di atas secara jelas menunjukkan bahwa mayat mempunyai
kehormatan sebagaimana orang hidup. Begitu pula melanggar kehormatan dan
menganiaya mayat adalah sama dengan melanggar kehormatan dan menganiaya
orang hidup (Bayyinatul,2012).
2. Transplantasi Organ dari Segi Agama Kristen

Di alkitab tidak dituliskan mengenai mendonorkan organ tubuh, selama niatnya tulus
dan tujuannya kebaikan itu boleh-boleh saja terutama untuk membantu kelangsungan
hidup suatu nyawa (nyawa orang yang membutuhkan donor organ) bukan karena
mendonorkan untuk mendapatkan imbalan berupa materi, uang untuk si pendonor
organ. Akan lebih baik lagi bila si pendonor sudah mati dari pada saat si pendonor
belum mati karena saat kita masih hidup organ tubuh itu bagaimanapun penting,
sedangkan saat kita sudah mati kita tidak membutuhkan organ tubuh jasmani
kita(Bayyinatul,2012).

3. Transplantasi Organ dari Segi Agama Katolik

Gereja menganjurkan kita untuk mendonorkan organ tubuh sekalipun jantung kita,
asal saja sewaktu menjadi donor kita sudah benar-benar mati artinya bukan mati
secara medis yaitu otak kita yang mati, seperti koma, vegetative state atau kematian
medis lainnya. Tentu kalau kita dalam keadaan hidup dan sehat kita dianjurkan untuk
menolong hidup orang lain dengan menjadi donor.

Kesimpulannya bila donor tidak menuntut kita harus mati, seperti donor darah, sum-
sum, ginjal, kulit, mata, rambut, lengan, jari, kaki atau urat nadi, tulang maka kita
dianjurkan untuk melakukannya. Sedangkan menjadi donor mati seperti jantung atau
bagian tubuh lainnya dimana donor tidak bisa hidup tanpa adanya organ tersebut,
maka kita sebagai umat Katolik wajib untuk dinyatakan mati oleh ajaran GK. Ingat,
kematian klinis atau medis bukan mati sepenuhnya, jadi kita harus menunggu sampai
si donor benar-benar mati untuk dipanen organ, dan ini terbukti tidak ada halangan
bagi kebutuhan medis dalam pengambilan organ(Bayyinatul,2012).

4. Transplantasi Organ dari Segi Agama Budha

Dalam pengertian Budhis, seorang terlahir kembali dengan badan yang baru. Oleh
karena itu, pastilah organ tubuh yang telah didonorkan pada kehidupan yang lampau
tidak lagi berhubungan dengan tubuh dalam kehidupan yang sekarang. Artinya, orang
yang telah mendanakan anggota tubuh tertentu tetap akan terlahir kembali dengan
organ tubuh yang lengkap dan normal. Ia yang telah berdonor kornea mata misalnya,
tetap akan terlahir dengan mata normal, tidak buta. Malahan, karena donor adalah
salah satu bentuk kamma baik, ketika seseorang berdana kornea mata, dipercaya
dalam kelahiran yang berikutnya, ia akan mempunyai mata lebih indah dan sehat dari
pada mata yang ia miliki dalam kehidupan saat ini(Bayyinatul,2012).

5. Transplantasi Organ dari Segi Agama Hindu

Menurut ajaran Hindu transplantasi organ tubuh dapat dibenarkan dengan alasan,
bahwa pengorbanan (yajna) kepada orang yang menderita, agar dia bebas dari
penderitaan dan dapat menikmati kesehatan dan kebahagiaan, jauh lebih penting,
utama, mulia dan luhur, dari keutuhan organ tubuh manusia yang telah meninggal.
Perbuatan ini harus dilakukan diatas prinsip yajna yaitu pengorbanan tulus ikhlas
tanpa pamrih dan bukan dilakukan untuk maksud mendapatkan keuntungan material.
Alasan yang lebih bersifat logis dijumpai dalam kitab Bhagawadgita II.22 sebagai
berikut: Wasamsi jirnani yatha wihaya nawani grihnati naroparani, tatha sarirani
wihaya jirnany anyani samyati nawani dehi Artinya: seperti halnya seseorang
mengenakan pakaian baru dan membuka pakaian lama, begitu pula Sang Roh
menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama
yang tiada berguna.

Ajaran Hindu tidak melarang bahkan menganjurkan umatnya untuk melaksanakan
transplantasi organ tubuh dengan dasar yajna (pengorbanan tulus ikhlas dan tanpa
pamrih) untuk kesejahteraan dan kebahagiaan sesama umat manusia. Demikian
pandangan agama hindu terhadap transplantasi organ tubuh sebagai salah satu bentuk
pelaksanaan ajaran Panca Yajna terutama Manusa Yajna (Bayyinatul,2012)