Anda di halaman 1dari 35

CASE REPORT

MALUNION FRAKTUR TERTUTUP 1/3


DISTAL RADIUS DEKSTRA DAN
DISLOKASI SENDI RADIOULNAR DISTAL
DEKSTRA

DISUSUN OLEH :

Aldi Fauzan Lazuardi


1102009019

PEMBIMBING :

dr. Eka M, Sp.OT., SH., MKES., MHKES

KEPANITRAAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUBANG
2014
LAPORAN KASUS
1

I. IDENTITAS

II.

Nama

: Tn. S

Umur

: 54 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Dusun tiga cipeundeuy RT 01/01 kecamatan Cipeundeuy

Tanggal masuk RS

: 10 April 2014

Ruang rawat

: Poliklinik Bedah Ortopedi

ANAMNESIS
(Autoanamnesis tanggal 10 April 2014)
Keluhan utama

: Pergelangan tangan dan jari-jari tangan kanan sulit


untuk digerakkan

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke poliklinik bedah ortopedi RSUD Subang dengan keluhan
pergelangan tangan kanan dan jari- jari tangan kanan sulit untuk digerakkan sejak 11
bulan lalu. Keluhan ini berawal dari kecelakaan lalu lintas yang menimpa pasien pada
bulan juni tahun 2013.
Menurut pasien, kecelakaan terjadi ketika pasien sedang mengendarai sepeda
motor dan terjatuh kemudian pasien menahan badannya dengan tangan kanan. Pasien
2

lupa posisi lengan kanan saat jatuh dan menahan badannya seperti apa. Lalu pada
daerah pergelangan tangan kanan pasien timbul tonjolan seperti tulang kearah atas.
Pasien mengaku masih dapat menggerakan pergelangan tangan dan jari-jari tangan
kanannya tetapi gerakannya terbatas dan tidak maksimal. Pasien dalam keadaan
sadar, tidak terdapat luka terbuka dan tidak disertai memar pada daerah yang terkena.
Pasien mengatakan perdarahan yang keluar dari kepala, hidung dan telinga disangkal.
Setelah kejadian tersebut, pasien lalu berobat ke tukang urut dan kemudian
diurut dan dilakukan pembidaian dengan menggunakan spalk. Pasien mengaku
melakukan pengobatan ke tukang urut selama 5 bulan. Selama berobat ke tukang urut
pasien merasa tidak ada perbaikan sehingga pasien berhenti ke tukang urut. Pasien
merasa pergelangan tangan dan jari-jari tangannya kanan sulit untuk digerakkan saat
menggengam dan saat digerakan pergelangan tangan kanannya terasa tertahan.
Setelah berhenti berobat ke tukang urut, pasien membiarkan tangan kanannya seperti
itu dan tidak mempedulikannya karena dirasakan tidak nyeri. Karena mulai tidak
yakin, akhirnya pasien dan keluarga memutuskan untuk kembali berobat ke RS.

Riwayat penyakit dahulu

Pasien tidak pernah mengalami patah tulang sebelumnya

Riwayat penyakit hipertensi sebelumnya disangkal

Riwayat penyakit gula disangkal

Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada dalam keluarga yang menderita keluhan seperti ini

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan umum

: Tampak sakit sedang


3

Kesadaran

: Compos mentis

Vital sign : TD

: 130/80 mmHg

Nadi : 84 x/menit
RR

: 24 x/ menit

Suhu : 36,3

Status generalis
Kepala : Normocephal
Mata

: Conjunctiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, pupi bulat isokor, refleks
pupil +/+ normal

Leher

: Trakea ditengah, pembesaran KGB (-)

Thoraks :
Cor

: Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba pada sela iga 5 linea mid clavicula

Perkusi

: Batas jantung normal

sinistra

Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Pulmo : Inspeksi

: Pergerakan hemitoraks dalam keadaan statis dan dinamis


simetris kanan dan kiri
4

Palpasi

: Fremitus vocal dan taktil hemitoraks kanan dan kiri


simetris, tidak teraba massa dan tidak ada nyeri tekan

Perkusi

: Sonor di seluruh lapang paru

Auskultasi : Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-

Abdomen
Inspeksi

: Tampak datar simetris

Palpasi

: Supel , NT/NL -/- ; hepar dan lien tidak teraba besar

Perkusi

: Tympani pada seluruh kuadran abdomen

Auskultasi : Bising usus (+ ) normal

Ekstremitas atas

: Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-

Ekstremitas bawah

: Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-

Status lokalis :
a/r radius dan ulna dekstra
Look

: Swelling (-), Deformitas (+), penonjolan tulang (+), kulit utuh, cedera
terbuka (-), warna kulit sama dengan warna kulit sekitarnya.

Feel

: Arteri radialis teraba, Nyeri tekan (-), krepitasi (-), sensibilitas baik,
suhu sama dengan bagian lainnya

Move
-

Pronasi

: Range of movement terbatas pada wrist joint dan pada jari- jari tangan
: Normal
5

Supinasi : Normal

Fleksi

Ekstensi : Nyeri dan terbatas

Aktif

Pasif: Nyeri dan terbatas

IV.

: Nyeri dan terbatas


: Terbatas

Diagnosis Klinis
Suspect closed fracture a/r 1/3 distal radius ulna dekstra

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto antebrachii dekstra (AP, lateral)

Kesan

: Fraktur tertutup 1/3 distal radius dekstra


Fraktur displaced, dislocatio ad longitudinam cum contractionum
Dislokasi radioulnar joint

VI. DIAGNOSIS KERJA


Malunion fraktur tertutup 1/3 distal os radius dekstra + dislokasi sendi radioulnar distal dekstra

VII. Rencana Pemeriksaan

VIII.

Foto Rontgen ulang Regio antebrachii dextra AP/Lateral

Pemeriksaan Darah rutin

Persiapan op : Ro thorak, EKG

PENATALAKSANAAN

Non Medikamentosa

Fisioterapi

Istirahat

Pemasangan bidai melewati 2 sendi.

Edukasi kepada pasien beserta keluarganya tentang penyakit yang diderita


pasien.

Medikamentosa

Analgesik : Meloxicam tab 15 mg 2x1/hari

Ranitidin 150 mg 2x1/ hari

Operatif

IX.

Reposisi terbuka dan fiksasi interna : ORIF

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam : dubia


Quo ad sanactionam : dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI LENGAN BAWAH


1. Tulang
Antebrachii terdiri dari dua tulang, yaitu ulna dan radius. Dimana dalam posisi
anatomi tulang ulna adalah yang paling dekat dengan tubuh.
Gerakan utama dari lengan bawah adalah rotasi: kemampuan untuk mengubah
telapak tangan ke atas atau bawah. Ulna tidak bergerak sementara radiuslah yang
berputar. Patah tulang lengan bawah dapat mempengaruhi kemampuan

untuk

memutar lengan, serta menekuk dan meluruskan pergelangan tangan.

Gambar

2.5.

Anatomi
tulang

radius

dan ulna
Diunduh dari:

http://www.netterimages.com/images/vpv/000/000/036/36672-0550x0475.jpg

2. Saraf
Nervus ulnaris
10

Saraf ulnar memanjang di belakang epikondilus medial. Saraf ini menginervasi m.


flexor carpi ulnaris, bagian medial m. flexor digitorum profundus dan otot-otot
intrinsic tangan.

Gambar 2.6. Nervus ulnaris


Diunduh dari: http://www.netterimages.com/images/vpv/000/000/004/4611-0550x0475.jpg

Nervus Medianus
11

Nervus medianus masuk ke lengan bawah melalui celah antara caput ulna dan radius.
Berjalan turun ke m. flexor digitorum superficialis. Cabangnya nervus interosseus
anterior menginervasi index, dan juga m. flexor digitorum profundus, m. flexor
pollicis longus dan m. pronator quadratus.

Gambar 2.7. Nervus medianus


Diunduh

dari:

http://www.netterimages.com/images/vpv/000/000/051/51639-

0550x0475.jpg

Nervus Radialis
12

Di dalam fossa cubiti nervus radialis bercabang menjadi dua superfisial (sensorik)
dan dalam (motorik). Nervus radialis superfisial menginervasi sensorik pada
punggung pergelangan tangan dan tangan. Cabang yang dalam menginervasi otototot ekstensor pada lengan bawah. Berjalan ke dalam menginervasi m. supinator dan
keluar sebagai n. interosseus posterior.

Gambar 2.8. Nervus radialis


Diunduh

dari:

http://www.netterimages.com/images/vpv/000/000/004/4452-

0550x0475.jpg

3. Pembuluh Darah
13

Tedapat dua arteri utama pada daerah lengan bawah yaitu a. radialis dan a. ulnaris.

Gambar 2.9. Pembuluh darah daerah antebrachii


Diunduh dari: http://radiographics.rsna.org/content/28/1/e28/F1.large.jpg

FRAKTUR RADIUS ULNA


DEFINISI
14

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik
yang bersifat total maupun parsial akibat rudapaksa.

KLASIFIKASI
Berikut ini gejala klinis dari beberapa jenis fraktur yang terdapat pada fraktur
radius dan ulna :

Fraktur Kaput Radius


Fraktur kaput radius sering ditemukan pada orang dewasa tetapi hampir tidak

pernah ditemukan pada anak-anak. Fraktur ini kadang-kadang terasa nyeri saat lengan
bawah dirotasi, dan nyeri tekan pada sisi lateral siku memberi petunjuk untuk
mendiagnosisnya.

Fraktur Leher Radius


Jatuh pada tangan yang terentang dapat memaksa siku ke dalam valgus dan

mendorong kaput radius pada kapitulum. Pada orang dewasa kaput radius dapat retak atau,
patah sedangkan pada anak-anak tulang lebih mungkin mengalami fraktur pada leher
radius. Setelah jatuh, anak mengeluh nyeri pada siku. Pada fraktur ini kemungkinan
terdapat nyeri tekan pada kaput radius dan nyeri bila lengan berotasi.

Fraktur Diafisis Radius


Kalau terdapat nyeri tekan lokal, sebaiknya dilakukan pemeriksaan sinar-X

Fraktur Distal Radius


Fraktur Distal Radius dibagi dalam :

1) Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi yaitu Fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi sendi radioulna distal. Fragmen distal mengalami pergeseran dan angulasi ke arah dorsal.
Dislokasi mengenai ulna ke arah dorsal dan medial. Fraktur ini akibat terjatuh dengan
tangan terentang dan lengan bawah dalam keadaan pronasi, atau terjadi karena pukulan
langsung pada pergelangan tangan bagian dorsolateral. Fraktur Galeazzi jauh lebih
sering terjadi daripada fraktur Monteggia. Ujung bagian bawah ulna yang menonjol

15

merupakan tanda yang mencolok. Perlu dilakukan pemeriksaan untuk lesi saraf ulnaris,
yang sering terjadi.

Gambar 6. Fraktur Galeazzi


2) Fraktur Colles
Fraktur ini akibat terjatuh dengan tangan terentang. Fraktur radius terjadi di korpus
distal, biasanya sekitar 2 cm dari permukaan artikular. Fragmen distal bergeser ke arah
dorsal dan proksimal, memperlihatkan gambaran deformitas garpu-makan malam
(dinner-fork). Kemungkinan dapat disertai dengan fraktur pada prosesus styloideus
ulna.
Fraktur radius bagian distal (sampai 1 inci dari ujung distal) dengan angulasi ke
posterior, dislokasi ke posterior dan deviasi pragmen distal ke radial. Dapat bersifat
kominutiva. Dapat disertai fraktur prosesus stiloid ulna. Fraktur collees dapat terjadi
setelah terjatuh, sehingga dapat menyebabkan fraktur pada ujung bawah radius dengan
pergeseran posterior dari fragmen distal
3) Fraktur Smith
Fraktur ini akibat jatuh pada punggung tangan atau pukulan keras secara langsung
pada punggung tangan. Pasien mengalami cedera pergelangan tangan, tetapi tidak
terdapat

deformitas. Fraktur radius bagian distal dengan angulasi atau dislokasi

fragmen distal ke arah ventral dengan diviasi radius tangan yang memberikan
gambaran deformitas sekop kebun (garden spade).
16

Gambar 7. Fraktur Colles dan fraktur Smith

Gambar 8. Gambaran radiologi fraktur Smith

Gambar 9. Gambaran radiologi fraktur Colles

17

4) Fraktur Lempeng Epifisis


Fraktur Lempeng Epifisis merupakan fraktur pada tulang panjang di daerah ujung
tulang pada dislokasi sendi serta robekan ligament.
Klasifikasi menurut Salter-Harris merupakan klasifikasi yang dianut dan dibagi
dalam 5 tipe

Gambar 10. Klasifikasi Salter Harris


Paling umum adalah tipe II, dengan fragmen metafisis triangular terlihat di dorsal.
-

Tipe I
Terjadi pemisahan total lempeng epifisis tanpa adanya fraktur pada tulang, sel-sel
pertumbuhan lempeng epifisis masih melekat pada epifisis. Fraktur ini terjadi oleh
karena adanya shearing force dan sering terjadi pada bayi baru lahir dan pada anakanak yang lebih muda. Pengobatan dengan reduksi tertutup mudah oleh karena
masih ada perlekatan periosteum yang utuh dan intak. Prognosis biasanya baik bila
direposisisdengan cepat

18

Gambar 11. Cedera Salter Harris tipe I


-

Tipe II
Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan. Garis fraktur melalui sepanjang
lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan membentuk suatu fragmen
metafisis yang berbentuk segitiga yang disebut tanda Thurson-Holland. Sel-sel
pertumbuhan pada lempeng epifisis juga masih melekat. Trauma yang
menghasilkan jenis fraktur ini biasanya terjadi pada anak-anak yang lebih tua.
Periosteum mengalami robekan pada daerah konveks tetapi tetap utuh pada daerah
konkaf. Pengobatan dengan reposisi secepatnya tidak begitu sulit kecuali bila
reposisi terlambat harus dilakukan tindakan operasi. Prognosis biasanya baik,
tergantung kerusakan pembuluh darah

Gambar 12. Cedera Salter Harris tipe II pada tulang radius ulna

Tipe III
19

Fraktur lempeng epifisis tipe III merupakan fraktur intra-artikuler. Garis fraktur
mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian sepanjang garis
lempeng epifisis. Jenis fraktur ini bersifat intra-artikuler dan biasanya ditemukan
pada epifisis tibia distal. Oleh karena fraktur ini bersifat intra-artikuler dan
diperlukan reduksi yang akurat maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka dan
fiksasi interna dengan mempergunakan pin yang halus.

Gambar 13. Cedera Salter Harris tipe III atau Tillaux fracture
-

Tipe IV
Fraktur tipe ini juga merupakan fraktur intra-artikuler yang melalui permukaan
sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan epifisis dan berlanjut pada sebagian
metafisis. Jenis fraktur ini misalnya fraktur kondilus lateralis humeri pada anakanak. Pengobatan dengan operasi terbuka dan fiksasi interna dilakukan karena
fraktur tidak stabil akibat tarikan otot. Prognosis jelek bila reduksi tidak dilakuakn.

20

Gambar 14. Cedera Salter Harris tipe IV


-

Tipe V
Fraktur tipe V merupakan fraktur akibat hancurnya epifisis yang diteruskan pada
lempeng epifisis. Biasanya terjadi pada daerah sendi penopang badan yaitu sendi
pergelangan kaki dan sendi lutut. Diagnosa sulit karena secara radiologik tidak
dapat dilihat. Prognosis jelek karena dapat terjadi kerusakan sebagian atau seluruh
lempeng pertumbuhan.

Gambar 15. Cedera Salter Harris tipe V

21

5) Fraktur Monteggia
Fraktur jenis ini disebabkan oleh pronasi lengan bawah yang dipaksakan saat jatuh
atau pukulan secara langsung pada bagian dorsal sepertiga proksimal dengan
angulasi anterior yang disertai dengan dislokasi anterior kaput radius.(14)

Gambar 16. Fraktur Monteggia


CT scan di gunakan untuk mendeteksi letak struktur fraktur yang kompleks dan
menentukan apakah fraktur tersebut merupakan fraktur kompresi, burst fraktur atau fraktur
dislokasi. Biasanya dengan scan MRI fraktur ini akan lebih jelas mengevaluasi trauma
jaringan lunak, kerusakan ligament dan adanya pendarahan

FRAKTUR GALEAZZI
Definisi
Adalah cedera patah tulang yang melibatkan shaft radius dengan dislokasi dari distal
radoiulnar joint(DRJU), cedera ini menganggu aktivitas sendi pergelangan tangan.

Epidemiologi
Fraktur Galeazzi mencapai 3-7% dari semua patah tulang lengan bawah. Terdapat
paling sering pada pria. Meskipun fraktur Galeazzi jarang dilaporkan, fraktut ini
diperkirakan mencapai 7% dari seluruh fraktur lengan bawah pada orang dewasa.

Etiologi
Penyebab dari fraktur Galeazzi biasanya akibat menahan beban tubuh saat terjatuh
sehingga menyebabkan hiperpronasi dari antebrachii.
22

Mekanisme trauma
Ada beberapa perbedaan pendapat pada mekanisme yang tepat yang menyebabkan
terjadinya fraktur Galeazzi. Mekanisme yang paling mungkin adalah jatuh dengan
tumpuan pada tangan disertai dengan pronasi lengan bawah yang ekstrim. Daya tersebut
diduga melewati artikulasi radiocarpal, mengakibatkan dislokasi dan pemendekan dari
tulang radius. Terjadi fraktur pada 1/3 distal radius dan subluksasi atau dislokasi sendi
radioulnar distal. Deforming forces termasuk brakioradialis, kuadriseps pronator, dan
ekstensor ibu jari, serta berat tangan. Cedera otot dan jaringan lunak yang deformasi
yang terkait dengan fraktur ini tidak dapat dikontrol dengan imobilisasi plester.

DISLOKASI
Definisi
Dislokasi atau disebut juga luksasio adalah tergesernya permukaan tulang yang
membentuk persendian terhadap tulang lainnya.

Diagnosis Dislokasi
Dislokasi dapat berupa lepas komplit (cerai sendi) atau parsial (dislokasi inkomplit),
atau subluksasi. Bila ligament atau kapsul sendi tidak sembuh dengan baik atau bila
trauma minimal, luksasio mudah terulang kembali dan disebut sebagai luksasio
habitualis.
Anamnesis
a. Ada trauma. Cedera pada sendi dapat mengenai bagian permukaan tulang yang
membuat persendian dan tulang rawannya, ligament atau kapsul sendi rusak.
Darah dapat mengumpul di dalam simpai sendi yang disebut hemartrosis.
b. Mekanisme trauma yang sesuai, misalnya trauma ekstensi dan eksorotasi pada
dislokasi anterior sendi bahu.
c. Ada rasa sendi keluar

23

Pemeriksaan Klinis
a. Deformitas
b. Nyeri
c. Functio laesa, misalnya bahu tidak dapat endorotasi pada dislokasi anterior
bahu.

Pemeriksaan Radiologis
Untuk memastikan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur.

Tatalaksana Dislokasi
Dislokasi harus ditangani segera karena penundaan tindakan dapat menimbulkan
nekrosis avascular tulang persendian serta kekakuan sendi. Dalam fase syok lokal
(antara 5-20 menit setelah kejadian) terjadi relaksasi otot sekitar sendi dan rasa baal
(hipestesia). Karena itu, reposisi dapat dilakukan tanpa narcosis. Setelah fase syok
lokal terlewati, reposisi harus dilakukan dengan anestesi. Prinsip reposisi tertutup
adalah melakukan gerakan yang berlawanan dengan gaya trauma, kontraksi atau
tonus otot. Reposisi tidak boleh dilakukan dengan kekerasan. Sebaiknya diberikan
anestesi agar tidak terasa nyeri dan spasme otot sekitar menjadi kendur. Apabila
reposisi tertutup tidak berhasil, mungkin telah terjadi rupture simpai sendi dengan
akibat gangguan perdarahan bonggol sendi atau interposisi fragmen tulang.
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan Roentgen atau pemeriksaan penunjang lain yang
memperlihatkan keadaan sendi secara jelas dan reposisi harus dilakukan secara
bedah.
Mobilisasi segera dilakukan setelah waktu penyembuhan jaringan lunak selesai,
yaitu sekitar 2-3 minggu pasca cedera.

24

DIAGNOSIS
Gambaran klinis
Terdapat gejala fraktur dan dislokasi pada daerah distal lengan bawah. Adanya
tonjolan tulang atau nyeri pada ujung ulnar adalah manifestasi yang paling sering
ditemukan. Nyeri dan edema pada jaringan lunak bisa didapatkan pada daerah fraktur
radius 1/3 distal dan pada pergelangan tangan. Cedera ini harus dikonfirmasi dengan
pemeriksaan radiologi.
Anterior interroseous nerve palsy juga bisa terjadi tapi sering dilewati karena
tidak ada komponen sensorik pada temuan ini. Nervus interosseous anterior merupakan
cabang dari nervus medianus. Cedera pada nervus interosseous anterior ini bisa
mengakibatkan paralisis dari fleksor policis longus dan fleksor digitorum profundus
pada jari telunjuk, dan menyebabkan hilangnya mekanisme menjepit antara ibu jari
dengan jari telunjuk.

Pemeriksaan radiologis

25

Dengan pemeriksaan rontgen diagnosis dapat ditegakkan. Foto radiologi


lengan bawah posisi anteroposterior (AP) dan lateral di perlukan untuk menegakkan
diagnosis. Foto radiologi ekstremitas kontralateral bisa diambil untuk perbandingan.
Foto polos lengan bawah bisa ditemukan cedera pada sendi radioulnar distal:

Fraktur pada dasar dari styloideus ulnaris.

Pelebaran dari ruang sendi radioulnar distal yang bisa terlihat pada foto posisi AP.

Dislokasi radius yang relative dengan ulna pada foto lateral, yang bisa didapatkan
dengan mengabduksikan bahu 90.

Pemendekan dari radius lebih dari 5 mm relatif dengan ulnar distal.

Gambar 2. Foto radiologis posisi anteroposterior menunjukkan fraktur Galeazzi klasik:


fraktur radius yang berbentuk oblik dan transversum dengan adanya dislokasi sendi
radioulnar distal.(3)

PENATALAKSANAAN
Prinsip-prinsip pengobatan fraktur

26

1. Pertolongan pertama membersihkan jalan napas, menutup luka dengan verban


yang bersih dan imobilisasi fraktur pada anggota gerak yang terkena agar penderita
merasa nyaman dan mengurangi nyeri sebelum diangkut dengan ambulans
2. Penilaian klinis nilai luka, apakah luka tembus tulang atau tidak, adakah trauma
pembuluh darah atau saraf atau trauma alat-alat dalam yang lain.
3. Resusitasi kebanyakan penderita dengan fraktur multiple tiba di rumah sakit
dengan syok, sehingga diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada
frakturnya sendiri berupa transfusi darah dan cairan-cairan lainnya serta obat-obat
anti nyeri.
Prinsip Pengobatan ada 4, yaitu :
1. Recognition (diagnosis dan penilaian fraktur)
Awal pengobatan perlu diperhatikan :

Lokalisasi fraktur

Bentuk fraktur

Menentukan teknik yang sesuai dengan pengobatan

Komplikasi yang mungkin selama dan sesudah pengobatan

2. Reduction
Mengurangi fraktur dengan cara reposisi fraktur. Harus dengan posisi yang baik
yaitu:

Alignment yang sempurna

Aposisi yang sempurna

3. Retention
Imobilisasi fraktur
27

4. Rehabilitation
Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin.
Fraktur bersifat tidak stabil dan terdapat dislokasi sehingga sebaiknya
dilakukan operasi dengan fiksasi interna. Pada fraktur Galeazzi harus dilakukan
reposisi secara akurat dan mobilisasi segera karena bagian distal mengalami dislokasi.
Dengan reposisi yang akurat dan cepat maka dislokasi sendi ulna distal juga tereposisi
dengan sendirinya. Apabila reposisi spontan tidak terjadi maka reposisi dilakukan
dengan fiksasi K-Wire. Operasi terbuka dengan fiksasi rigid mempergunakan plate dan
screw.
Open reduction internal fixation merupakan terapi pilihan, karena closed
treatment dikaitkan dengan tingkat kegagalan yang tinggi. Fiksasi plate dan screw
adalah terapi pilihan. Pendekatan Henry anterior (interval antara fleksor karpi radialis
dan brakioradialis) biasanya menyediakan eksposur yang cukup untuk melihat fraktur
radius, dengan fiksasi plate pada permukaan yang datar, permukaan volar dari radius.
Cedera sendi radioulnar distal biasanya menyebabkan ketidakstabilan bagian
dorsal, karena itu, capsulotomy dorsal dapat dilakukan untuk mendapatkan akses ke
sendi radioulnar distal jika tetap dislokasi setelah radius difiksasi. Fiksasi Kirschner
wire mungkin diperlukan untuk mempertahankan reduksi dari sendi radioulnar distal
jika ianya tidak stabil. Jika sendi radioulnar distal diyakini stabil, bagaimanapun,
imobilisasi plester pasca operasi mungkin sudah cukup.

ORIF (Open Reduction internal fixation)


Reposisi terbuka dan fiksasi interna
Keuntungan :

Reposisi anatomis

Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar

Indikasi :

28

Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avaskular nekrosisnya tinggi.
Misalnya fraktur talus dan fraktur collum femur

Fraktur yang tidak bisa direposisi tetutup, misalnya fraktur avulse dan
fraktur dislokasi

Fraktur yang dapat direposisi tetapi sullit dipertahankan

Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik


dengan operasi, misalnya fraktur femur

Gambar. Fiksasi internal


Ada 3 kemungkinan yang bisa terjadi pada pasien dengan fraktur Galeazzi:
1. Sendi radio-ulnar tereduksi dan stabil
Tidak dilakukan tindakan lanjut. Lengan di istirihatkan untuk beberapa hari,
kemudian dilakukan pergerakan aktif dengan hati-hati. Sendi radio-ulnar harus
diperiksa baik secara klinis dan radiologis setelah 6 minggu.
2. Sendi radio-ulnar tereduksi tapi tidak stabil
Imobilisasi lengan dalam posisi stabil (biasanya supinasi), jika diperlukan
disertai juga dengan K-wire transversum. Lengan di balut dengan cast di bagian
atas siku selama 6 minggu. Jika terdapat fragmen styloideus ulnaris yang besar,
maka harus direduksi dan difiksasi.
3. Sendi radio-ulnar tidak tereduksi
Keadaan ini jarang didapatkan. Open reduction harus dilakukan untuk
membersihkan jaringan lunak yang rusak. Setelah itu lengan di imobilisasi dalam
posisi supinasi selama 6 minggu.
29

Manajemen pascaoperasi:
1. Jika sendi radioulnar distal stabil: Pergerakan dini adalah dianjurkan.
2. Jika sendi radioulnar distal tidak stabil: Imobilisasi lengan dalam posisi supinasi
selama 4 sampai 6 minggu dengan menggunakan long arm splint atau cast.
3. Pin sendi radioulnar distal, jika diperlukan, dan akan dilepas pada 6 sampai 8
minggu.
Komplikasi
1. Malunion: Reduksi nonanatomik dari fraktur radius disertai dengan kegagalan
untuk mengembalikan alignment rotasi atau lateral dapat mengakibatkan hilangnya
fungsi supinasi dan pronasi, serta nyeri pada range of motion. Ini mungkin
memerlukan osteotomy atau ulnar distal shortening untuk kasus-kasus di mana
gejala pemendekan dari radius mengakibatkan ulnocarpal impaction
2. Nonunion: Ini jarang terjadi dengan fiksasi yang stabil, tetapi mungkin
memerlukan bone grafting.
3. Compartement syndrome: kecurigaan klinis harus diikuti dengan pemantauan
tekanan kompartemen dengan fasciotomy darurat setelah didiagnosa sebagai
sindrom kompartemen.
4. Cedera neurovaskuler:

Biasanya iatrogenik.

Cedera saraf radialis superfisial (dibawahnya brakioradialis) adalah beresiko


dengan pendekatan radius anterior.

Cedera saraf interoseus posterior (di supinator) adalah beresiko dengan


pendekatan radius proksimal.

Jika pemulihan tidak terjadi, eksplorasi saraf setelah 3 bulan.

5. Radioulnar synostosis: Jarang terjadi (3% sampai 9,4% kejadian)

Faktor risiko meliputi:


Fraktur kedua tulang pada tingkat yang sama (11% kejadian).
Closed head injury
Penundaan operasi > 2 minggu.
30

Satu sayatan untuk fiksasi kedua fraktur lengan bawah.


Penetrasi pada membran interoseus oleh bone grafting atau screw, fragmen
tulang, atau peralatan bedah.
Crush injury.
Infeksi.

Prognosis terburuk adalah dengan synostosis distal, dan yang terbaik adalah
dengan synostosis diafisis.

6. Dislokasi rekuren: Ini bisa terjadi akibat dari malreduksi dari radius. Ini
menekankan bahwa perlunya pemulihan secara anatomi pada fraktur radius untuk
memastikan penyembuhan yang cukup dan fungsi biomekanik dari sendi radioulnar
distal.

PROSES PENYEMBUHAN
Penyembuhan tulang terbagi menjadi 5, yaitu :
1. Fase Hematoma
Pembuluh darah di sekitar tulang yang mengalami fraktur robek, akibatnya, tulang
disekitar fraktur akan kekurangan nutrisi dan akhirnya mati sekitar 1-2 mm.

2. Fase Proliferasi Sel


Pada 8 jam pertama fraktur merupakan masa reaksi inflamasi akut dengan
proliferasi sel di bawah periosteum dan masuk ke dalam kanalis medulla. Bekuan
hematom diserap secara perlahan dan kapiler baru mulai terbentuk.
31

3. Fase Pembentukan Kalus


Sel yang berproliferasi bersifat kondrogenik dan osteogenik. Sel-sel ini akan
membentuk tulang dan juga kartilago. Selain itu sel yang berproliferasi tersebut
juga membentuk osteoklas yang memakan tulang-tulang yang mati. Massa seluler
yang tebal tersebut dan garam-garam mineralnya terutam kalsium membentuk suatu
tulang imatur yang disebut woven bone. Woven bone ini merupakan tanda pada
radiologik bahwa telah terjadi proses penyembuhan fraktur

4. Fase Konsolidasi
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan akan
membentuk jaringan tulang yang lebih kuat oleh aktivitas osteoblas.

32

5. Fase Remodeling
Jika proses penyatuan tulang sudah lengkap, maka tulang yang baru akan
membentuk bagian yang menyerupai dengan bulbus yang meliputi tulang tanpa
kanalis medularis. Pada fase ini resorbsi secara osteoklastik tetap terjadi dan tetap
terjadi osteoblastik pada tulang.

PROGNOSIS
Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan terjadi
pada setiap patah tulang, tidak peduli apa yang telah dikerjakan dokter pada patahan tulang
tersebut. Pada permulaan akan terjadi perdarahan di sekitar patahan tulang, yang
disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periost yang disebut dengan
fase hematoma, kemudian berubah menjadi fase jaringan fibrosis, lalu penyatuan klinis,
dan pada akhirnya fase konsolidasi.(18)
Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung pada
lokasi fraktur dan umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan fraktur:
33

Lokasi Fraktur
1. Pergelangan tangan
2. Fibula
3. Tibia
4. Pergelangan kaki
5. Tulang rusuk
6. Jones fracture

Masa Penyembuhan
3-4 minggu
4-6 minggu
4-6 minggu
5-8 minggu
4-5 minggu
3-5 minggu

Lokasi Fraktur
7. Kaki
8. Metatarsal
9. Metakarpal
10. Hairline
11. Jari tangan
12. Jari kaki

Masa Penyembuhan
3-4 minggu
5-6 minggu
3-4 minggu
2-4 minggu
2-3 minggu
2-4 minggu

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia (> 8
minggu).

DAFTAR PUSTAKA

1.

Apley. A Graham, louis Solomon.Buku Ajar Orthopedi dan fraktur sistem Alpley.
Penerbit widya medika. Jakarta

2. Solomon L, Warwick D, Nayagam S. Injuries of the forearm and wrist. In:


(Solomon L, Warwick D, Nayagam S. eds.) Apleys System of Orthopaedics and
Fractures. Ninth Edition.UK: Hodder Arnold.2010
3. Rasjad Chairuddin, Struktur dan Fungsi Tulang dalam: Rasjad Chairuddin.
Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Cetakan keenam. Penerbit PT. Yarsif Watampone.
Jakarta. 2009.

34

4. Sjamsuhidajat. R, Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah ed 2. Penerbit buku


kedokteran EGC. Jakarta.2005
5. Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Ekstermitas Superior:
Lengan Bawah. EGC: Jakarta. 2006. Hal: 467

6. Reksoprodjo, Soelarto. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

35