Anda di halaman 1dari 15

BAGIAN RADIOLOGI

RUMAH SAKIT WAHIDIN


SUDIROHUSODO

FRAKTUR CRURIS








OLEH :
ANDI IRHAM
FADLIAH AMIRUDDIN
EKA NOVIANTI
KURNIA PUTRI UTAMI


PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS HASANUDDIN

FRAKTUR CRURIS

I. KASUS
No. Rekam Medik : 658181
Nama Pasien : Muh. Rahmat
Umur : 18 Tahun, 5 Bulan, 11 Hari
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Ganra, Soppeng
Tempat / Tanggal Lahir : 27-10-1995
Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Tanggal Pemeriksaan : 07-04-2014
Perawatan Bagian : Bedah IGD (IRNA) Kelas2 , Bedah saraf, RS. Wahidin
Sudirohusodo

1.1 Anamnesis :
- Anamnesis : Alloanamnesis
- KeluhanUtama : Kesadaran Menurun disertai bengkak pada wajah
- Anamnesis terpimpin :
Kejadian dialami pasien sejak 7 jam. Riwayat mengendarai motor menabrak mobil yang
mengangkut padi. Ada riwayat pingsan dan muntah. Pasien menggunakan helm pada saat
kejadian.

1.2 PemeriksaanFisis
Keadaan Umum : keadaan luka berat
Kesadaran : GCS (E3V4M6)
Status Gizi :
Tanda Vital
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 84X/menit
Pernafasan : 24X/menit
Suhu : 36,7 C
Mata
Pupil : Isokor
THT : Dalam batas normal
Mulut
Bibir : Kering (+)
Asites : Tidak ada (-)
Sklera Icterus : Tidak
Dada
Inspeksi
Bentuk : Simetris
SelaIga : Dalam batas normal
Lain-lain : (-)
Paru-paru
Palpasi
Nyeritekan : Tidak ada (-)
Massa tumor : Tidak ada (-)
Perkusi
Parukiri : Sonor
Parukanan : Sonor
Jantung
Sianosis : Tidak ada
Irama Jantung : Teratur
Distensi vena jugularis : Tidak
Auskultasi
BunyiJantung : Vesikuler
Bunyi Tambahan : Tidak ada (-)
Genitalia : Tidak dilakukan pemeriksaan
Anus dan Rectum : Tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas :
Kesulitan dalam pergerakan
Keadan tonus baik
Ada Edema pada tungkai

1.3 Laboratorium
- Darah Rutin
Jenis Pemerikaan Hasil Nilai Rujukan



DARAH
RUTIN

WBC 9,3 x 10
3
/uL 4 - 10 x 10
3
/uL
RBC 2,89x 10
6
/uL 46 x 10
6
/uL
HGB 8,6 g/dL 12.5 16.0 g/dL
HCT 25,7 % 37.0-48.0 %
MCV 89 pl 8097 fl
MCH 29,6 pg 26.5 33.5 pg
MCHC 33,4 g/dl 31.5 35 g/dl
PLT 156 x 10
3
/uL 150-400x 10
3
/uL
NEU 83,4 % 52.0-75.0
LYM 82,0 % 20.0-40.0
MON 6,8 % 2.00-8.00

- Darah Kimia
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
KIMIA
DARAH

GDS 132 mg/dl < 200 mg/dl
Ureum 18 10-50
Creatinin 0,80 < 1,3
Protein total 16,6 10 - 14
Albumin 3.4 3.5-5.0
SGOT 38 < 38
SGPT 20 < 41
Elektrolit Natrium 132 136-145 mEq/L
Kalium 3,8 3.5-5.1 mEq/L
Cloride 106 97-111 mEq/L

1.4 Radiologi


Foto Cruris/ AP+Lateral D/S
- Alignment cruris berubah
- Tampak fraktur komminutif pada 1/3 proksimal os tibia sinistra dengan displace ke
craniolateral, fragmen fraktur yang avulse ke posterior, korteks tidak intak
- Tampak pula fraktur oblig pada 1/3 proksimal os fibula sinistra dengan displace
cranioposterolateral, korteks tidak intak
- Tidak tampak tanda-tanda osteomyelitis
- Mineralisasi tulang baik
- Celah sendi yang tervisualisasi kesan baik
- Jaringan lunak sekitarnya swelling

Kesan:
- Fraktur kommnutif 1/3 proksimal os tibia sinistra
- Fraktur oblig 1/3 proksimal os fibula sinistra

Diagnosis:
- TCR GLS E4M6V4
- Open linier fraktur os frontal
- Cerebral edema
- Open fraktur proximal (L) tibia grade IIIA
- Open fraktur proximal (L) fibula grade IIIA

Terapi:
- NRM 8-10 Lp
- WKD NaCL 0,93 28



II. DISKUSI
2.1 Pendahuluan
Seorang laki-laki 18 tahun masuk Rumah Sakit dengan kesadaran menurun yang
dialami sejak 7 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien riwayat pernah diopename di
rumah sakit di Soppeng. Pasien juga ada riwayat pingsan dan muntah. Pasien datang ke
rumah sakit dengan keadaan fraktur pada baik ekstremitas bawah bagian sinistra yakni
fraktur 1/3 proksimal os tibia dan fraktur obig 1/3 proksimal os fibula.
Dari hasil pemeriksaan labolatorium didapatkan ketidak seimbangan elektrolit yakni
natrium yang rendah dan kalium yang tinggi hal ini yang membuat pasien mengalami
kesadaran menurun (somnolen).
Pada pasien ini juga dilakukan pemeriksaan Foto Cruris AP/Lateral D/S, pada foto
pasien didapat Tampak fraktur komminutif pada 1/3 proksimal os tibia sinistra dengan
displace ke craniolateral, fragmen fraktur yang avulse ke posterior, korteks tidak intak.
Tampak pula fraktur oblig pada 1/3 proksimal os fibula sinistra dengan displace
cranioposterolateral, korteks tidak intak.

2.1.1 Definisi
Fraktur Cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikena stress
yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 1800).

2.1.2 Epidemiologi
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat di tahun 2011 terdapat lebih dari 5,6 juta
orang meninggal karena insiden kecelakaan dan sekitar 1,3 juta orang mengalami
kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi
yaitu insiden fraktur ekstremitas bawah, sekitar 40% dari insiden kecelakaan yang terjadi.
Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi diintegritas pada tulang. Penyebab
terbanyaknya adalah insiden kecelakaan tetapi faktor lain seperti proses degenerative dan
osteoporosis juga dapat berpengaru terjadinya fraktur.

2.1.3 Anatomi
Tibia merupakan tulang medial tungkai bawah yang besar dan berfungsi
menyanggah berat badan. Tibia bersendi di atas dengan condylus femoris dan caput
fibulae, di bawah dengan talus dan ujung distal fibula. Tibia mempunyai ujung atas yang
melebar dan ujung bawah yang lebih kecil, serta sebuah corpus. Pada ujung atas terdapat
condyli lateralis dan medialis (kadang-kadang disebut plateau tibia lateral dan medial),
yang bersendi dengan condyli lateralis dan medialis femoris, dan dipisahkan oleh menisci
lateralis dan medialis. Permukaan atas facies articulares condylorum tibiae terbagi atas
area intercondylus anterior dan posterior; di antara kedua area ini terdapat eminentia
intercondylus.
Pada aspek lateral condylus lateralis terdapat facies articularis fibularis
circularis yang kecil, dan bersendi dengan caput fibulae. Pada aspek posterior
condylus medialis terdapat insertio m.semimembranosus.
Corpus tibiae berbentuk segitiga pada potongan melintangnya, dan mempunyai
tiga margines dan tiga facies. Margines anterior dan medial, serta facies medialis
diantaranya terletak subkutan. Margo anterior menonjol dan membentuk tulang
kering. Pada pertemuan antara margo anterior dan ujung atas tibia terdapat
tuberositas, yang merupakan tempat lekat ligamentum patellae. Margo anterior di
bawah membulat, dan melanjutkan diri sebagai malleolus medialis. Margo lateral atau
margo interosseus memberikan tempat perlekatan untuk membrane interossea.
Facies posterior dan corpus tibiae menunjukkan linea oblique, yang disebut
linea musculi solei, untuk tempatnya m.soleus. Ujung bawah tibia sedikit melebar dan
pada aspek inferiornya terdapat permukaan sendi berbentuk pelana untuk os.talus.
ujung bawah memanjang ke bawah dan medial untuk membentuk malleolus medialis.
Facies lateralis dari malleolus medialis bersendi dengan talus. Pada facies lateral
ujung bawahtibia terdapat lekukan yang lebar dan kasar untuk bersendi dengan fibula.
Musculi dan ligamenta penting yang melekat pada tibia.

Merupakan tulang tungkai bawah yang terletak disebelah lateral dan bentuknya
lebih kecil sesuai os ulna pada tulang lengan bawah. Arti kata fibula adalah kurus
atau kecil. Tulang ini panjang, sangat kurus dan gambaran korpusnya bervariasi
diakibatkan oleh cetakan yang bervariasi dari kekuatan otot otot yang melekat pada
tulang tersebut. Tidak urut dalam membentuk sendi pergelangan kaki, dan tulang ini
bukan merupakan tulang yang turut menahan berat badan.
Pada fibula bagian ujung bawah disebut malleolus lateralis. Disebelah bawah
kira kira 0,5 cm disebelah bawah medialis, juga letaknya lebih posterior. Sisi
sisinya mendatar, mempunyai permukaan anterior dan posterior yang sempit dan
permukaan permukaan medialis dan lateralis yang lebih lebar. Permukaan anterior
menjadi tempat lekat dari ligamentum talofibularis anterior. Permukaan lateralis
terletak subkutan dan berbentuk sebagai penonjolan lubang. Pinggir lateral alur tadi
merupakan tempat lekat dari retinakulum. Permukaan sendi yang berbentuk segi tiga
pada permukaan medialis bersendi dengan os talus, persendian ini merupakan
sebagian dari sendi pergelangan kaki. Fosa malleolaris terletak disebelah belakang
permukaan sendi mempunyai banyak foramina vaskularis dibagian atasnya. Pinggir
inferior malleolus mempunyai apek yang menjorok kebawah. Disebelah anterior dari
apek terdapat sebuah insisura yang merupakan tempat lekat dari ligamentum
kalkaneofibularis.(Anatomi fisiologi untuk siswa perawat, 1997).
1
Cruris atau tibio fibular dibentuk oleh os tibia dan os fibula, dimana terdiri dari
cruris proksimal dan distal.Pada bagian proksimal membentuk knee joint bersama
dengan patella dan femur, sedangkan pada bagian distal membentuk ankle joint
bersama dengan ossa tarsal.Tibiofibular superior joint adalah sendi sinovial plane
joint dibentuk oleh caput fibula & facet pada bagian postero-lateral dari tepi condylus
tibia.Tibiofibular inferior joint adalah sindesmosis dengan jaringan fibrous antara
tibia & fibula.Tibiofibular inferior joint ditopang oleh ligamen interosseous
tibiofibular serta ligamen tibiofibular anterior dan posterior.Gerak yg dihasilkan
adalah gerak slide.


Gambar Anatomi Cruris



2.1.4 Fisiologi Cruris
3

Tibia atau tulang kering merupakan kerangka yang utama dari tungkai bawah dan
terletak medial dari fibula atau tulang betis, tibia adalah tulang pipa dengan sebuah
batang dan dua ujung yaitu : Ujung atas yang merupakan permukaan dua dataran
permukaan persendian femur dan sendi lutut. Ujung bawah yang membuat sendi dengan
tiga tulang, yaitu femur fibula dan talus.
Fibula atau tulang betis adalah tulang sebelah lateral tungkai bawah, tulang ini
adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung. Fungsi Tulang:
1) Memberi kekuatan pada kerangka tubuh.
2) Tempat melekatnya otot.
3) Melindungi organ penting.
4) Tempat pembuatan sel darah.
5) Tempat penyimpanan garam mineral.

2.1.5 Patofisiologi Fraktur Cruris
Fraktur paling sering disebabkan oleh trauma. Hantaman yang keras akibat
kecelakaan yang mengenai tulang akan mengakibatkan tulang menjadi patah dan fragmen
tulang tidak beraturan atau terjadi discontinuitas di tulang tersebut.
3
Ketika patah tulang, terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang
dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan
jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medul antara tepi
tulang bawah periostrium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya
respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik ditandai dengan fase vasodilatasi dari
plasma dan leukosit, ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses
penyembuhan untuk memperbaiki cedera, tahap ini menunjukkan tahap awal
penyembuhan tulang. Hematom yang terbentuk biasa menyebabkan peningkatan tekanan
dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan
lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain.
Hematom menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler
di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada
otot yang iskemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal
ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf,
yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndrom comportement.
4
Pada fraktur tibia dan fibula lebih sering terjadi dibanding fraktur batang tulang
panjang lainnya karena periost yang melapisi tibia agak tipis, terutama pada daerah depan
yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah dan karena berada langsung di
bawah kulit maka sering ditemukan adanya fraktur terbuka.
Fraktur dapat diseba kan oleh :
5

a. Trauma
1) Trauma langsung : benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut
2) Trauma tidak langsung : titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan
3) Trauma karena tarikan otot yang kuat
b.Patologis
Fraktur disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang, dll.

c. Degenerasi
Terjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri (usia lanjut)
d.Spontan
Tibia kurang dilindungi oleh jaringan lunak sehingga sangat mudah terjadi fraktur
akibat adanya trauma eksternal, dan seringkali terjadi open fraktur
Pada fraktur terbuka, biasanya terjadi fraktur obliq atau spiral, sedangkan pada
fraktur tertutup sering terjadi fraktur transversal


2.5 Komplikasi
2
Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus fraktur, antara lain:
1. Infeksi. Hal ini dapat terjadi pada fraktur terbuka dimana organisme dapat masuk melalui
luka terbuka. Infeksi superfisial dapat terjadi dan tidak menimbulkan masalah tetapi jika
infeksi tembus ke area fraktur maka dapat menyebabkan osteomyelitis dan dapat berujung
pada delayed atau non-union.
2. Avascular necrosis. Kurangnya suplai darah ke bagian tulang akan menyebabkan tulang
tersebut mati (nekrosis). Hal ini dapat menjadi masalah ketika satu bagian/fragmen tidak
mendapatkan suplai darah.
3. Mal-union. Hal ini terjadi jika buruknya penjajaran dari fragmen tulang dan
mengakibatkan deformitas yang dapat mempengaruhi fungsi afektif. Overlapping dari
fragmen dapat menyebabkan pemendekan dan akan mengakibatkan gangguan fungsi
khususnya pada ekstremitas inferior.
4. Gangguan Sendi. Jika fraktur meluas pada permukaan sendi dan ada pergeseran, maka
menjadi tidak mungkin untuk menghasilkan kesejajaran yang sempurna dari fragmen dan
mengakibatkan keterbatasan dari pergerakan sendi. Gangguan dari permukaan sendi
nantinya dapat berkembang mengakibatkan osteoarthritis
5. Adhesi/Pelekatan. Hal ini bisa terjadi di dalam persendian dan/atau periartikular. Adhesi
intraartikular terjadi ketika fraktur meluas hingga ke permukaan sendi dan terdapat
haemarthrosis. Adhesi periartikular bisa terjadi jika edema tidak berkurang dan
memungkinkan untuk mengatur dalam jaringan. Hal ini akan mengakibatkan pelekatan
antara jaringan seperti ligamen dan kapsul yang dapat mengakibatkan kekakuan sendi.
6. Cedera pada pembuluh darah besar. Hal ini terdiri dari haemorage karena sobekan dari
pembuluh darah besar atau oklusi. Jika terjadi pada arteri besar misalnya terpotong,
praktis seluruh suplai darah menuju ekstremitas mengakibatkan gangren atau jika terjadi
oklusi parsial maka dapat mengakibatkan ischemia.
7. Cedera pada otot. Serabut otot mungkin sobek atau putusnya otot sebagai akibat dari
cedera dan akan menyebabkan perdarahan dan pembengkakan Intervensi bedah
dibutuhkan untuk memperbaiki ruptur.
8. Cedera pada saraf. Cedera saraf mungkin terjadi pada saat fraktur terjadi. Jika saraf putus
maka kemudian akan terjadi paralisis dan anastesia dari bagian yang disuplai dan
pembedahan dibutuhkan untuk memperbaiki saraf. Namun demikian, jika saraf tidak
terputus, penyembuhan dapat terjadi walaupun waktu penyembuhannya bervariasi apakah
terdapat axonotmesis atau neuropraxia.
9. Sudecks Atrophy. Merupakan komplikasi yang terjadi setelah melepaskan fiksasi. Pasien
merasakan nyeri yang hebat pada saat ingin bergerak dan tangan membengkak. Kulit
nampak berkilauan dan tangan terasa dingin. Hal ini biasanya mudah ditangani oleh
physio tetapi penyembuhannya memerlukan waktu hingga bulan. Untungnya komplikasi
ini jarang terjadi.
10. Cedera pada visera. Mungkin merupakan komplikasi khususnya pada fraktur dari
pelvis atau thorax.

2.6 Penatalaksanaan
1. Selama imobilisasi
Tujuan fisioterapi selama imobilisasi adalah:
a. Mengurangi edema. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pembentukan
adhesi dan juga dapat membantu menurunkan rasa nyeri
b. Membantu menjaga sirkulasi.Latihan aktif yang giat pada ankle, jari-jari kaki,
gluteus dan hamstring memainkan peranan penting dalam meningkatkan sirkulasi
seluruh anggota badan dan juga memudahkan early healing pada area yang
mengalami luka.
c. Memelihara fungsi otot dengan kontraksi aktif/statis
d. Memelihara jarak sendi (Range of motion) yang possible
e. Memberikan edukasi pada pasien bagaimana cara menggunakan alat khusus

2. Setelah pelepasan fiksasi
Tujuan fisioterapi setelah pelepasan fiksasi adalah:
a. Untuk mengurangi pembengkakan. Bengkak tidak akan menjadi masalah yang
besar jika latihan dan aktivitas secara umum di perhatikan selama periode
imobilisasi. Hal ini dapat menjadi sebuah masalah pada tunkai bawah jika otot
ototnya sangat lemah dan kehilangan jarak sendi sebagai faktor kedua yang akan
mencegah aksi pompa adekuat pada vena.
b. Untuk mendapatkan kembali jarak gerak sendi. Sebelum mencoba untuk
mengembalikan jarak gerak sendi, yang berkurang, fisioterapis harus menentukan
penyebab hilangnya jarak. Hal ini seharusnya untuk memelihara edema, adhesi atau
kelemahan otot.
c. Untuk mendapatkan kembali kekuatan otot. Kekuatan otot akan bergantung dalam
memperoleh aktivitas maksimal dari otot dan penggunaannya disetiap gerakan-
gerakan utama, antagonis, fixator dan gerakan tambahan dengan beberapa grup otot.
d. Untuk mengembalikan fungsi optimal. Sebagian besar dari kasus ini seharusnya
memungkinkan untuk mendapatkan kembali fungsi penuh tetapi jika tidak,
fisioterapis harus mengembalikan fungsi optimum, dan besarnya pengembalian
fungsi optimal ini bergantung pada komplikasi yang menghambat pemulihan
sepenuhnya.






DAFTAR PUSTAKA

1. Lutfie.2012.laporan kasus cruris.(Online). http://lutfieblogs.blogspot.com/2012/05/laporan-
kasus-cruris.html. Diakses pada 12 April 2014
2. Porter, Stuart B (2003). Tidys Physiotherapy 13
th
edition. UK: Butterworth Heinemann.
3. Nugraha, Priyanta. 2010. Fraktur/Patah Tulang. online). http://blog.priyanta.com/fraktur-
patah-tulang/. Diakses pada 12 April 2014.
4. Evan, Ahmad. 2013. Asuhan Keperwatan pada Klien dengan Kasus Fraktur Cruris
Dexra.(Online). http://askebbedah.blogspot.com/2013/09/asuhan-keperawatan-pada-klien-
dengan.html. Diakses pada 12 April 2014
5. Ilham.2008. kondas Fraktur Tibia dan Fibula.(Online). http://healthreference-
ilham.blogspot.com/2008/07/kondas-fraktur-tibia-fibula.html. Diakses pada 12 April 2014

Anda mungkin juga menyukai