Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Usus merupakan bagian dari alat pencernaan yang menempati rongga
abdomen. Organ ini dimulai dai pylorus dan berakhir di rektum. Letak usus
dipertahankan dengan adanya penggantung yang disebut mesenterium (Colville
dan Bassert 2002). Usus secara umum dibagi menjadi dua bagian, yaitu usus
halus dan usus besar. Usus halus terdiri dari jejunum, duodenum, dan ileum
sedangkan usus besar terdiri dari sekum, kolon, dan rektum (Frandson 1992).
Fungsi utama dari usus halus adalah untuk menyerap sari-sari makanan yang
diperlukan oleh tubuh dan membantu proses pencernaan. Fungsi utama dari
usus besar adalah untuk menyerap air, menampung, dan mengeluarkan feces
(Aiache 1983).
Usus halus merupakan saluran pencernaan bagian bawah yang memiliki
banyak pembuluh darah dan berfungsi dalam proses penyerapan makanan.
Sebagai organ yang berupa saluran (tube), usus halus menjadi tempat
berjalannya makanan atau massa yang diteruskan oleh saluran pencernaan
sebelumnya. Fungsinya sebagai rute perjalanan makanan atau massa dari
saluran pada bagian anterior memberikan risiko terjadinya obstruksi oleh benda
asing. Hal ini menjadi indikasi dilakukannya tindakan bedah pada usus halus.
Salah satu tindakan bedah pada usus halus adalah enterotomi. Enterotomy
berasal dari kata entero dan tomy. Entero berarti organ dalam dan tomy berarti
penyayatan. Enterotomi adalah suatu tindakan bedah berupa penyayatan usus.
Selain risiko obstruksi usus oleh benda asing, indikasi dilakukannya enterotomi
yang lain adalah dilakukannya biopsi, pengambilan benda asing (corpus
alienum), serta pemeriksaan lumen (Fossum 1997). Operasi ini dilakukan dengan
membuka dinding usus untuk mengatasi beberapa kasus seperti tumor usus,
pengambilan benda asing, obstruksi usus, intusuceptio usus, dan banyak kasus
lainnya.
Enterotomi merupakan operasi membuka dinding usus untuk mengambil
benda asing dan dilakukan apabila jaringan usus masih baik, yaitu bila pulsasi
masih ada, jaringan tidak mengalami nekrosis, elastisitas usus masih baik dan
warna jaringan masih muda. Enterotomi dilakukan untuk menghindari terjadi
nekrosis pada usus yang disebabkan benda asing (Yudhi 2010). Enterotomi
adalah suatu tindakan penyayatan pada usus yang bertujuan untuk mengangkat
2

benda asing atau kemungkinan adanya gangren pada usus (Yusuf 1995).
Diagnosa terhadap benda asing dapat ditentukan dengan palpasi daerah
abdomen dimana ditemukan masa pada dinding dasar abdomen. Selain itu
diagnosa juga dapat didukung dengan bantuan alat seperti pemeriksaan
radiologi (x-ray) dan USG. Sehingga keputusan diagnosa yang tepat merupakan
hal yang mutlak harus dipenuhi sebelum melakukan enterotomi. Penyayatan
dilakukan pada laparotomi medianus dan dapat juga dilakukan menggunakan
laparotomi paramedianus, hal ini tergantung pada letak usus yang akan
dilakukan enterotomi, sehingga pemilihan sayatan ini dapat mempermudah
pelaksanaan enterotomi. Bila enterotomi tidak dilakukan dengan cara yang
benar, maka mengakibatkan lesio semakin parah hingga terjadi infeksi sekunder
yang dapat menyebabkan kematian.
Laparotomi dan enterotomi dilaksanakan apabila metode endoskopi dan
ultrasonografi tidak mungkin dilaksanakan, atau bersifat non-diagnostik (Fossum
1997). Kasus benda asing dalam usus banyak ditemukan pada anjing mongrels,
tetapi umum juga ditemukan pada doberman, poodle, german shepherd, dan
cocker spaniel. Sebagian besar kasus obstruksi usus halus terjadi pada jejunum,
dengan enterotomi sebagai penanganan paling efektif (Capak et al. 2001).
Kelebihan enterotomi yaitu dapat dilakukan biopsi dalam bentuk yang tebal dari
berbagai area usus halus (Fossum 1997).

B. TUJUAN
Tujuan dari praktikum kali ini adalah melatih keterampilan mahasiswa
dalam melakukan enterotomi untuk berbagai keperluan, baik dalam penanganan
kasus obstruktif, trauma, maupun pengambilan benda asing (corpus alienum).







3

BAB II. MATERI DAN METODA

A. ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan dalam operasi enterotomi antara lain seperangkat alat
bedah minor yang terdiri dari 4 buah towel clamp, 2 buah pinset anatomis dan
sirorgis, 1 gagang scalpel dan blade, 3 buah gunting (tumpul-tumpul lurus,
tumpul-lancip lurus, tumpul-lancip bengkok), 4 buah tang arteri anatomis lurus, 2
buah tang arteri anatomis bengkok, 2 buah tang arteri sirorgis lurus, 1 buah
needle holder, serta non-crushing intestinal (Doyen) forceps untuk memfiksasi
usus yang disayat. Selain alat bedah minor, dibutuhkan perlengkapan operator
dan asisten (2 buah penutup kepala, 2 buah masker, 2 buah sikat, 2 buah
handuk, 2 pasang sarung tangan, 2 buah pakaian bedah), needle berpenampang
segitiga dan bulat, tampon, spuit 3 ml, kain penutup/duk, kain lap, koran, tali,
timbangan, alat cukur, termometer, stetoskop, dan alat pencatat waktu (jam atau
stopwatch).
Enterotomi dilakukan dengan probandus seekor kucing. Bahan-bahan yang
digunakan dalam operasi yaitu, alkohol 70%, NaCl fisiologis, sediaan xylazine,
sediaan ketamine, betadine, antibiotik penisilin dan enrofloxacine, amoxilin,
sediaan atropin, benang cat gut ukuran 3/0, serta benang silk ukuran 3/0.

B. METODE OPERASI
1. Persiapan Pra-Operasi
Persiapan ruangan operasi
Ruangan operasi dibersihkan dari kotoran dengan disapu
(dibersihkan dari debu), kemudian ruangan dapat disterilisasi dengan
radiasi atau desinfektan. Desinfektan yang digunakan dapat berupa
campuran kalium permanganat 5% dengan formalin 10% dengan
perbandingan campuran adalah 1:2 selama 15 menit, dapat juga
menggunakan formalin tablet yang diletakkan di ruangan atau
menggunakan senyawa klorin.
Sterilisasi perlengkapan operator
Gloves (sarung tangan), baju operasi, handuk, masker, penutup
kepala, serta sikat yang telah dicuci bersih dan dikeringkan dibungkus
dengan dua lapis muslin/nonwoven setelah telebih dahulu dilipat dan
ditata sesuai urutan penggunaannya. Kemudian peralatan yang telah
4

dibungkus dimasukkan ke dalam oven/sterilisator dengan suhu 60
0
C
selama 15 sampai 30 menit. Perlengkapan yang telah disterilisasi
digunakan pada saat operasi.
Persiapan peralatan
Satu set peralatan bedah minor dibersihkan dan dikeringkan
kemudian disusun pada kotak sesuai dengan urutan penggunaannya
yang selanjutnya di bungkus dengan dua lapis muslin. Pertama, kain lapis
pertama disiapkan dan wadah diposisikan di tengah kain dengan posisi
sejajar. Sisi kain yang dekat dengan tubuh kita dilipat hingga menutupi
wadah dan ujung lainnya dilipat mendekati tubuh. Sisi kanan dilipat
dilanjutkan dengan sisi kiri. Peralatan yang telah terbungkus kain pertama
diletakkan di tengah pada kain kedua dengan posisi diagonal. Ujung kain
yang dekat dengan tubuh dilipat hingga menutupi peralatan. Sisi kanan
dilipat selanjutnya sisi kiri. Ujung lainnya dilipat mendekati tubuh dan
diselipkan. Selanjutnya peralatan disterilisasi ke dalam autoklaf dengan
suhu 100
0
C selama 60 menit. Setelah disterilisasi, peralatan disusun di
atas meja peralatan oleh asisten 1 sesuai dengan urutan dan masing-
masing alat digunakan oleh operator sesuai dengan fungsinya.
Persiapan obat-obatan
Obat-obatan yang harus disediakan antara lain:
- Desinfektan : Alkohol 70%, iodium tincture 3%.
- Sedativa : Xylazine 2% (dosis 0,22mg/kg BB).
- Anestetik : Ketamine 10% (dosis 15mg/kg BB).
- Cairan infus : NaCl (Sodium Cholride 0,9%).
- Antibiotik : Enrofloxacine (dosis 14 mg/kg BB), amoxilin
(dosis 20mg/kg BB) per oral (PO). selama 5 hari
post-operasi), penicillin 50.000 IU secukupnya
pada pemberian topikal.
Kucing yang sudah dipuasakan selama 12 jam ditimbang untuk
menentukan dosis anastetik yang akan diberikan. Kucing tidak diberikan
premedikasi sehingga langsung disuntik anastetikum yang digunakan
untuk transquilizer yaitu kombinasi xylazine 2% dengan dosis 0,22 mg/kg
BB dan ketamine 10% dengan dosis 15 mg/ kg BB secara intramuskular.
Sedangkan antibiotik yang digunakan adalah oxytetracyclin (IM) dan
5

penicillin (topical). Amoxicilin digunakan untuk perawatan post operasi.
Desinfektan yang digunakan adalah alkohol 70% dan iodium tincture 3%.
Persiapan hewan
Hewan yang akan dioperasi dipuasakan terlebih dahulu selama 12
jam. Persiapan yang dilakukan pada hewan meliputi signalement hewan,
anamnese, status present, serta pemeriksaan fisik hewan yaitu diperiksa
kondisi kesehatannya seperti suhu tubuh, frekuensi napas, frekuensi
jantung, Capillary Refill Time (CRT), dan tonus otot. Pencukuran daerah
orientasi di sekitar sayatan dilakukan setelah kucing terbius, selanjutnya
daerah tersebut dibersihkan dengan sabun dan diolesi iodin tincture 3%.
Hewan siap dibawa diatas meja operasi. Posisi hewan disesuaikan
dengan keadaan. Operasi siap dilakukan. Perubahan-perubahan pada
kucing diamati setiap 15 menit sampai waktu pemulihan ketika kucing
dapat berdiri sendiri. Perubahan-perubahan fisiologis yang diamati
meliputi frekuensi nafas, frekuensi jantung, temperatur, CRT, warna
mukosa dan tonus otot.
Persiapan operator dan asisten
Aksesoris yang dikenakan seperti cincin, gelang, jam tangan dilepas
terlebih dahulu. Selanjutnya operator dan asisten 1 memakai tutup kepala
dan masker, dilanjutkan dengan mencuci tangan menggunakan sabun
dan menyikat jari-jari kedua tangan kanan dan kiri, menyikat bagian
lengan, membilas tangan dengan air dengan arah dari ujung jari ke lengan
yang dilakukan 10-15 kali. Kran air ditutup menggunakan siku. Tangan
dikeringkan menggunakan handuk tiap sisi untuk tiap tangan, selanjutnya
memakai baju operasi dan memakainya dibantu oleh asisten operator.
Setelah itu memakai dan merapikan glove dan operasi siap dilakukan.

2. Operasi
Teknik operasi
Sebelum enterotomi dilakukan, untuk menjangkau bagian usus
yang akan disayat, dilakukan laparotomi medianus terlebih dahulu
dengan teknik standar. Omentum akan menyembul keluar setelah
peritoneum tersayat. Usus halus terletak di profundal omentum karena
usus diselimuti omentum, sehingga omentum perlu dikuakkan dan apabila
6

perlu dapat dilakukan sedikit penyayatan omentum. Hal ini agar usus
halus mudah dikeluarkan dari rongga abdomen.
Enterotomi dilakukan setelah usus difiksasi menggunakan non-
crushing Doyen forceps. Usus yang telah difiksasi dengan Doyen forceps
kemudian sisinya difiksasi dengan ibu jari serta telunjuk operator untuk
mencegah kesalahan dalam penyayatan. Usus halus disayat
menggunakan scalpel pada bagian yang sedikit terdapat pembuluh darah
aktif (hipovaskular).
Teknik penyayatan yang dilakukan saat enterotomi harus benar,
dengan sekali sayatan tanpa banyak pengulangan sayatan. Apabila pada
penyayatan pertama belum mencapai lumen (mukosa usus), maka
dilakukan satu sayatan pada bagian sayatan pertama. Teknik seperti ini
dilakukan untuk menghindari rusaknya jaringan usus yang memperlambat
penyembuhan. Sayatan yang sudah mencapai mukosa atau lumen usus
ditandai dengan terlihatnya cairan lumen usus.
Setelah kepentingan penyayatan tercapai, dilakukan penjahitan
pada usus menggunakan cat gut chromic 3/0. Sayatan ditutup
menggunakan jahitan sederhana, dengan jarak antar jahitan sekitar 2
mm. Setelah penjahitan selesai, pada bagian tersebut diberi antibiotik
penisilin 50.000 IU sebanyak 1 ml, kemudian usus ditutup dengan
omentum serta dimasukkan kembali ke dalam rongga abdomen.
Peritoneum dan otot dinding abdomen selanjutnya ditutup
menggunakan jahitan sederhana. Setelah penjahitan selesai, diberikan
antibiotik dan dilanjutkan penjahitan kulit. Setelah kulit dijahit
menggunakan benang silk 3/0, diberikan betadine secara topikal pada
bekas jahitan lalu disuntikkan enrofloxacine melalui rute intramuskular.
Hal-hal yang harus dikontrol pada saat operasi yaitu suhu, denyut
jantung, frekuensi napas, warna mukosa, CRT, dan tonus otot.

3. Post operasi
3.1 Monitoring kesehatan
Kucing diperiksa kesehatannya dan diukur lagi suhu, frekuensi napas,
frekuensi jantung, warna membran mukosa, CRT, urinasi, defekasi,
kontrol makan dan minum.

7

3.2 Pemberian antibiotik topikal dan general
Antibiotik general diberikan 2 kali sehari per oral (PO) dengan dosis 20
mg/kg BB selama 5 hari. Apabila perlu, diberikan antibiotik topikal.
3.3 Perawatan hewan
Kucing tetap dipuasakan selama 3 hari (puasa makan dan minum),
sehingga asupan energi dan cairan diberikan melalui pemberian
infus.NaCl (Sodium Chloride 0,9%) sebanyak 30-40 ml, 2 kali sehari.
Kucing mulai diberikan makan dan minum setelah hari ketiga,
diasumsikan sayatan pada usus sudah menutup.

4. Tim Bedah
Tim bedah terdiri dari 5 orang yaitu operator yang melaksanakan
operasi, asisten 1 yang membantu langsung operator dan menangani
peralatan, asisten 2 yang menagani obat-obatan dan memonitor pembiusan,
asisten 3 yang memonitor suhu, frekuensi pernafasan dan jantung, asisten 4
yang menjaga kebersihan (urin, feses, dan lainnya).




8

BAB III. HASIL PRAKTIKUM

Hasil yang diperoleh dari praktikum ini adalah :
Bagian-bagian yang berhasil ditemukan dan terlihat adalah usus halus
yang diselimuti omentum. Pada saat usus halus berhasil disayat pada
bagian hipovaskular, akan terlihat cairan lumen usus yang sekaligus
menjadi indikator penyayatan telah menyayat lumen usus.
Teknik penjahitan yang dilakukan pada praktikum ini adalah
menggunakan jahitan sederhana (simple interrupted suture), baik pada
sayatan usus, sayatan peritoneum dan otot dinding abdomen, maupun
sayatan kulit. Jarum yang digunakan adalah jarum bulat dan memakai
benang chromic catgut 3.0 untuk penjahitan usus dan otot, serta benang
silk 3.0 untuk penjahitan kulit. Sayatan usus ditutup dengan 4 jahitan
dengan, peritonemum dan otot ditutup dengan 9 jahitan, sedangkan kulit
ditutup dengan 8 jahitan.

1. Sebelum Operasi
Signalement
Nama Hewan : Gerry
Jenis Hewan : kucing
Ras : domestic house cat
Jenis Kelamin : jantan
Umur : + 1,5 tahun
Berat Badan : 3 kg
Warna : hitam-abu, putih
Tanda khusus : ekor pendek, ujungnya melingkar

Status Present
Keadaan umum
Perawatan : baik
Habitus : agresif
Gizi : sedang
Pertumbuhan badan : sedang
Sikap berdiri : tegak pada keempat kaki
Suhu : 37,8
o
C


9

Frek. jantung : 156/menit, normal
Frek. nafas : 28/menit, normal
Cara berjalan : koordinatif, baik
CRT : 1 detik
Diameter pupil : 1 cm
Adaptasi : baik

Perhitungan Dosis
Perhitungan pemberian preparat anaesthetik
a. Athropin 0,25 mg/ml (premedikasi)
dosis injeksi = ml
ml mg
kg kg mg
3 , 0
/ 25 , 0
3 / 025 , 0


b. Xylazine 20 mg/ml
dosis injeksi = ml
ml mg
kg kg mg
03 . 0
/ 20
3 / 22 , 0


c. Ketamin 100 mg/ml
dosis injeksi = ml
ml mg
kg kg mg
45 . 0
/ 100
3 / 15


d. Dosis (

) (

)
(

) (

)
() ()


Perhitungan pemberian antibiotik
a. Penicilline 50.000 IU/ml
dosis injeksi = ml
ml mg
kg kg mg
4 . 2
/ 100
3 / 20


b. Enrofloxacine 100 mg/ml
dosis injeksi = ml
ml mg
kg kg mg
42 . 0
/ 100
3 / 14


c. Amoxicilline 25 mg/ml
dosis injeksi = hari ml
ml mg
kg kg mg
/ 4 , 2
/ 25
3 / 20




10

2. Selama Operasi
Tabel 1 Hasil pengukuran suhu, denyut jantung, frekuensi nafas, CRT
(Capillary Refill Time), dan tonus otot selama operasi.
Parameter Pre-
OP
Menit ke-
15 30 45 60 75 90
Suhu (C)
Frekuensi Nafas (x/mnt)
Frekuensi Jantung
(x/mnt)
CRT (detik)
Tonus Otot
Warna mukosa
37,8
28
156

1
+
pink
37,1
36
132

2
-
pucat
36,6
24
120

1
-
pucat
36,5
28
112

1
+
pucat
36,6
28
112

1
-
pucat
36,3
28
120

1
-
pucat
36,3
24
128

1
-
pucat







35.8
36
36.2
36.4
36.6
36.8
37
37.2
15 30 45 60 75 90
s
u
h
u

(


C
)

menit ke-
Grafik perubahan suhu selama operasi
grafik perubahan
suhu selama operasi
100
105
110
115
120
125
130
135
15 30 45 60 75 90
f
r
e
k
.

j
a
n
t
u
n
g

(
p
e
r

m
e
n
i
t
)

menit ke-
Grafik frekuensi jantung selama operasi
grafik frekuensi
jantung selama
operasi
11



3. Post Operasi
Tabel 2 Pemeriksaan status fisiologi hewan beberapa hari setelah operasi
Parameter
Pemeriksaan post operasi hari ke-
I II III
pagi Malam Pagi malam pagi malam
Nafas 28 24 24 20 24 24
Jantung 124 128 136 142 132 148
Suhu (
0
C) 37,9 37,3 38,1 37,5 37,8 37,7
Makan - - - - - +
Urinasi - - - - - +
Defekasi - - - - - -
Skor feses - - - - - -
Minum - - - - - +
Jahitan Basah Basah Basah basah kering Kering

Catatan: kucing dipuasakan (makan dan minum) selama tiga hari post-operasi

0
5
10
15
20
25
30
35
40
15 30 45 60 75 90
f
r
e
k
.

n
a
p
a
s

(
p
e
r

m
e
n
i
t
)

menit ke-
grafik frekuensi napas selama operasi
grafik frekuensi napas
selama operasi
12






28
24 24 24
20
24
0
5
10
15
20
25
30
1 2 3
f
r
e
k
u
e
n
s
i

n
a
p
a
s

(
p
e
r

m
e
n
i
t
)

Post operasi (Hari ke-)
Grafik Perubahan Frekuensi Napas Post-operasi
Pagi
Malam
124
136
132
128
142
148
110
115
120
125
130
135
140
145
150
1 2 3
f
r
e
k
u
e
n
s
i

j
a
n
t
u
n
g

(
p
e
r

m
e
n
i
t
)

Post operasi (Hari ke-)
Grafik Perubahan Frekuensi Jantung Post-operasi
Pagi
Malam
37.9
38.1
37.8
37.3
37.5
37.7
36.8
37
37.2
37.4
37.6
37.8
38
38.2
1 2 3
s
u
h
u

t
u
b
u
h

(


C
)

Post operasi (Hari ke-)
Grafik Perubahan Suhu Tubuh Post-operasi
Pagi
Malam
13

Dokumentasi Selama Proses Enterotomi

14

Dokumentasi Selama Proses Enterotomi





15

BAB IV. PEMBAHASAN

Hasil pemeriksaan fisik kucing yang akan dioperasi yaitu suhu tubuh
37,8
o
C, frekuensi napas kucing 28 kali/menit, frekuensi jantung kucing 156
kali/menit. Kondisi fisiologis kucing yang normal yaitu suhu tubuh antara 37,7
39,4
o
C (Anonim 2010), frekuensi napas kucing antara 20-30 kali/menit (Ifianti
2005), frekuensi jantung kucing antara 110-130 kali/menit (Gustrini 2005). CRT
(Capillary Rate time) kucing adalah 1 detik dan mukosa kucing berwarna pink.
Berdasarkan pemeriksaan fisik, kucing yang akan dioperasi memiliki frekuensi
jantung yang lebih tinggi dari normal, hal ini disebabkan kondisi kucing yang stres
pada saat diperiksa. Secara keseluruhan berdasarkan pemeriksaan fisik, kucing
yang akan dioperasi merupakan kucing yang sehat dan dapat dipakai untuk
operasi enterotomi.
Sebelum dilakukan penyuntikan anastetikum, dilakukan penyuntikan
premedikasi terlebih dahulu. Premedikasi bermanfaat untuk menenangkan
hewan, mengurangi kegelisahan hewan, dan sebagai sedative. Premedikasi
yang sering digunakan adalah dari golongan antikolinergik yaitu atropin dan
glycopirrolate. Atropin memiliki onset yang cepat dan durasi yang pendek
sehingga atropin sering digunakan sebagai premedikasi (Carroll 2008).
Kucing yang diperiksa selama operasi mengalami penurunan suhu. Mula-
mula suhu kucing adalah 37,8
o
C kemudian mengalami penurunan sampai menit
ke 45 menjadi 36,5
o
C. pada menit ke 60 mengalami peningkatan kemudian
turun lagi sampai menit ke 90. Frekuensi jantung hewan pada awalnya
mengalami penurunan dari 156/menit menjadi 112/menit pada menit ke 60. Mulai
menit ke 75 frekuensi jantung hewan berangsur-angsur naik. Frekuensi napas
hewan mengalami penurunan kemudian naik dan konstan tetapi lebih rendah
daripada kondisi normal. Penurunan suhu tubuh, frekuensi jantung dan frekuensi
napas ini disebabkan oleh efek xylazine. Xylazine dapat mendepres pernapasan
dan suhu tubuh hewan sehingga hewan yang dioperasi akan mengalami
penurunan suhu dan penurunan frekuensi pernapasan. Pemberian sedasi atau
transquilizer misalnya xylazine disarankan untuk meningkatkan relaksasi otot
karena ketamine menyebabkan kekakuan otot. Ketamine memiliki efek
meningkatkan tekanan darah, frekuensi jantung, cardiac output, dan peningkatan
konsumsi oksigen miokardial. Ketamine dapat meningkatkan salivasi, tetapi hal
ini dapat diturunkan dengan pemberian atropin sulfat. Ketamine memiliki onset
16

yang cepat dan dimetabolisme di hati. Durasi ketamine adalah sekitar 15-20
menit ketika diberikan dosis tunggal intravena (Carroll 2008).
Sediaan anaestetikum yang banyak digunakan adalah kombinasi ketamin-
xylazin. Kombinasi ini memiliki banyak keuntungan, diantaranya ekonomis,
aplikasinya mudah, induksinya cepat begitu juga pemulihannya, mempunyai
pengaruh relaksasi otot yang baik, serta jarang menimbulkan komplikasi klinis
(Benson et al. 1985). Kombinasi ketamin-xylazin mempunyai sifat kerja yang
berbeda terhadap sistim saraf otonom. Ketamin merupakan salah satu jenis
anastesi non barbiturat yang sering digunakan dalam terapi bedah pada hewan
kucing dan anjing. Ketamin merupakan zat yang tidak berwarna, stabil pada
suhu kamar dan relatif aman (batas keamanan lebar), sifat anelgesiknya sangat
kuat untuk sistem somatis, tetapi lemah untuk sistem visceral yang tidak
menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan kadang-kadang tonusnya tinggi
(Ganiswara 1995).
Ketamin bersifat simpatomimetik yang bekerja menghambat saraf
parasimpatis pada sistim saraf pusat dengan neurotransmiter noradrenalin
sehingga akan menimbulkan dilatasi pupil, dilatasi bronkhiolus dan vasokonstriksi
pembuluh darah. Pemberian ketamin dapat menyebabkan halusinasi,
hipersalivasi, hipertensi dan tidak adanya relaksasi otot, namun efek tersebut
dapat diatasi dengan pemberian premedikasi (Hall and Clark 1983). Xylazin
merupakan obat parasimpatomimetik yang bekerja menghambat saraf simpatis
dengan reseptor muskarinik (Katzung 2002). Reseptor muskarinik xylazin akan
menekan sistem saraf pusat, sehingga menimbulkan efek sedatif hipnotik (Ko et
al. 1995).
Atropin sulfat diberikan sebagai premedikasi, hal ini bertujuan untuk
membantu mengurangi efek samping dari obat anastetikum seperti cardiac
ventricular aritmia, berontak, hipersalivasi dan sebagai antiemetikum. Atropin
sulfat yang digunakan sebanyak 0.3 ml. Sedangkan Anaesthetikum yang
diberikan pada operasi enterotomi kali ini adalah kombinasi ketamin-xylazin.
Masing-masing menggunakan dosis injeksi untuk xylazin sebanyak 0,03 ml dan
ketamin 0,45 ml. Dosis maintenance sendiri menggunakan setengah dosis
injeksi. Pemberian dosis maintenance dilakukan pada menit ke-30, menit ke-45
dan menit ke-60.
Anestetikum diinjeksikan secara intramuskular pada otot kaki belakang
(antara m. triceps femoralis dan m.biceps femoralis). Stadium Analgesia pada
17

pasien terjadi ketika kucing mulai kehilangan rasa sakit akan tetapi belum hilang
kesadaran. Ketika kesadarannya mulai hilang, kucing akan terlihat tidak
seimbang dan air liur keluar (salivasi), keadaan ini disebut stadium eksitasi atau
stadium involunter. Sedangkan stadium pembedahan yaitu saat yang tepat di
mana operasi dapat segera dilakukan dan akhirnya kesadaran dan rasa sakit
hilang seluruhnya dengan pulsus yang normal dan pernapasan juga berlangsung
secara abdominal. Operasi dilakukan selama 1 jam 19 menit, dimulai pukul
15.16 WIB sampai 16.35 WIB.
Kucing diberikan antibiotik penisilin sebanyak 2.4 ml setelah operasi
sebelum jahitan pertama dan kedua. Selain penisilin diberikan juga antibiotik
enrofloxacin sebanyak 0.42 ml yang diaplikasikan secara intramuskular, tujuan
dari pemberian antibiotik ini adalah untuk mencegah infeksi sekunder dari
operasi dan pasca operasi. Post-operatif antibiotik yang diberikan adalah
amoxcilin sebanyak 2.4 ml/hari yang diberikan secara peroral. Indikasi dari
amoxcilin adalah untuk mencegah infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran
pernafasan, dan infeksi saluran genitourinari. Setelah operasi enterotomi
diberikan cairan infus NaCl sebanyak 20 ml secara subkutan. Selama dua hari
postoperatif diberikan juga cairan infus sebanyak 10-20 ml secara subkutan.
Cairan infus ini berfungsi untuk mengganti asupan makanan dari luar karena
kondisi usus kucing dalam proses penyembuhan pasca bedah.
Kucing diperiksa secara umum sebelum dilakukan operasi untuk
mengetahui suhu, frekuensi jantung, dan frekuensi napasnya. Kemudian kucing
diberi atropin sulfas sebagai premedikasi untuk mencegah terjadinya vomitting
sebelum dan selama operasi. Penggunaan atropin menyebabkan blokade
reversibel kerja kolinomimetik mempengaruhi motilitas usus, bronkodilatator, dan
mencegah terjadinya hipersalivasi (Katzung 2002). Sediaan anesthesi yang
digunakan adalah kombinasi ketamine dan xylazine. Ketamine dan xylazine yang
diberikan adalah 0,35 ml dan 0,03 ml.
Pada praktikum ini, sayatan yang dilakukan adalah laparotomi medianus.
Orientasi sayatan adalah daerah umbilikal, dengan panjang sayatan sekitar 3 cm.
Penyayatan standar laparotomi dilakukan untuk menjangkau intestinal. Pada saat
omentum menyembul ke luar, usus halus yang diselimuti omentum dikeluarkan
pada bagian yang akan disayat. Bagian usus yang akan disayat difiksasi
menggunakan Doyen forceps. Pada operasi enterotomi, jika tidak memungkinkan
18

adanya non-crushing intestinal Doyen forceps, usus difiksasi dengan jari telunjuk
dan jari tengah asisten pada kedua batas daerah sekitar sayatan (Fossum 1997).
Penyayatan dilakukan di daerah hipovaskular (dorsal) usus, yang terdapat
sedikit pembuluh darah. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi perdarahan
selama operasi. Lapisan usus yang disayat pada operasi enterotomi antara lain
lapis serosa, lapis muskular, lapis submukosa, hingga lapis mukosa (lumen).
Secara histologi, usus terdiri dari beberapa lapisan yaitu dari lumen mukosa,
submukosa, muskularis mukosa dan serosa (Colville dan Bassert 2002). Mukosa
yang sehat dan suplai darah yang baik sangat penting untuk sekresi dan
absorbsi normal usus. Submukosa terdiri dari pembuluh darah, limpatik dan
saraf. Muskularis mukosa dibutuhkan untuk kontraksi normal dan serosa penting
untuk pemulihan yang cepat saat terjadi perlukaan atau insisi (Fossum 2002).
Penutupan sayatan pada usus halus dilakukan menggunakan jahitan
sederhana (simple inerrupted suture) dengan mempertemukan dua bagian
sayatan secara tepat. Selain jahitan sederhana, sayatan dapat ditutup
menggunakan simple continous atau crushing suture (Fossum 1997). Benang
yang digunakan dalam jahitan ini adalah cat gut chromic 3/0 sebanyak 4 jahitan,
dengan jarak antar jahitan sekitar 2 mm.
Kucing yang terbius mulai bangun 15 menit setelah operasi selesai, tetapi
kucing masih belum dapat bergerak aktif. Terapi post-operatif yang diberikan
adalah pemberian antibiotik per oral, betadine secara topikal pada daerah bekas
jahitan, serta pemberian cairan infus karena kucing harus dipuasakan selama 2
hari. Antibiotik yang diberikan adalah amoxicilin sebanyak 1,2 ml selama 5 hari
dan diberikan 2 kali sehari. Betadine diberikan sebanyak 2 kali sehari. Cairan
infus yang diberikan secara subkutan adalah NaCl 0,9% sebanyak 2 kali sehari,
20 ml dalam sekali pemberian. Kondisi fisiologis hewan setelah operasi dipantau
dua kali sehari pada malam hari dan pagi hari. Kondisi fisiologis kucing dan
parameter yang diamati post-operasi meliputi suhu tubuh, frekuensi jantung,
frekuensi napas, makan, minum, defekasi, urinasi, skor feses, dan jahitan.
Sampai hari ketiga post-operasi, kucing dipuasakan makan dan minum,
sehingga nutrisi dan kebutuhan cairan digantikan dengan pemberian injeksi
cairan infus NaCl 0,9%. Oleh karena itu, kucing tidak mengalami defekasi hingga
hari ketiga, sementara urinasi hanya dalam jumlah sedikit terjadi pada hari kedua
post-operasi. Setelah suhu tubuh secara umum mengalami penurunan selama
operasi, pada hari pertama post operasi, suhu kucing mengalami peningkatan
19

yaitu 37,9
0
C, sedangkan malam harinya mengalami penurunan menjadi 37,3
o
C.
Secara umum, suhu tubuh kucing mengalami perubahan yang baik ke arah
normal. Kucing belum mengalami defekasi hingga hari ketiga post-operasi
karena baru di hari ketiga pakan basah dan minum diberikan. Frekuensi jantung
dan napas selama tiga hari post-operatif mengalami kondisi fluktuatif tetapi
masih dalam rentang kondisi fisiologis normal.
.












20

BAB V. KESIMPULAN

Operasi enterotomi yang dilakukan dengan teknik yang tepat dapat
menghindari kerusakan dan semakin parahnya obstruksi yang terjadi pada usus.
Teknik yang terkait dengan penyayatan dan penjahitan dapat mempengaruhi
tingkat kerusakan usus. Penutupan usus yang telah dijahit dengan omentum
dapat mempercepat persembuhan luka sayatan pada usus.









21

BAB VI. DAFTAR PUSTAKA

Aiache MJ, Herman AMG. 1993. Biofarmasi. Ed ke-2. Surabaya: Airlangga.
University Pr.
[Anonim]. 2010. Data fisiologis normal (suhu tubuh, denyut jantung, frekuensi
napas, dan lama kebuntingan) pada kucing kesayangan anda. http://aneka-
kucing.blogspot.com/2010/04/data-fisiologis-kucing-kesayangan-
anda_12.html [12 Mei 2011].
Benson GJ, Thurman WJ, Tranguilli, and CW Smit. 1985. Cardiopulmonary
effects of an intravenous infusion of quaifenesin, ketamine, and xylazin in
dogs. Am. J. Vet. Res. Vol 49 (9).
Capak D, Brki A, Harapin I, Matii D, Radii B. 2001. Treatment of the foreign
body induced occlusive ileus in dogs. Veterinary Arhiv 71(6):345-359.
Carroll GL. 2008. Small Animal Anesthesia and Analgesia. USA: Blackwell
Publishing, Ltd.
Colville T, Bassert JM. 2002. Clinical Anatomy and Fisiology for Veterinary
Technicians. USA: Mosby
Frandson. 1982. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Ed ke-4. Yogyakarta: UGM Pr.
Fossum TW, et al. 1997. Small Animal Surgery. Ed ke-1. Missouri: Mosby-Year
Book, Inc.
Fossum TW, et al. 2002. Small Animal Surgery. Ed ke-2. Missouri: Mosby-Year
Book, Inc.
Ganiswara SG. 1995. Farmakologi dan Terapi. Ed ke-4. Jakarta: Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Gustrini D. 2005. Gambaran Klinis Penggunaan Xylazine HCl Tunggal, Suatu
Bahan Sedativum/Hipnotikum Pada Kucing. Bogor: Fakultas Kedokteran
Hewan Institut Pertanian Bogor.
Hall LW, Clark KW. 1983. Veterinary Anaesthesia. Ed ke-8. London: Bailliere
Tindal.
Ifianti M. 2001. Durasi dan Beberapa Aspek Fisiologi Pemakaian Anaestetikum
Xylazine dan Ketmine Untuk Ovariohisterektomi Pada Kucing Lokal
[Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
22

Katzung BG. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik. Ed ke-8. Bagian Farmakologi
Kedokteran Universitas Airlangga.
Ko JC, BL Williams, ER Rogers, LS Pablo, WC McCaine, CJ McGrath. 1995.
Increasing xylazine dose-enhanced anesthetic properties of telazol-
xylazine combination in swine. Lab Animal Sci 45(3):4-290.
Yudhi. 2010. Enterotomi dan Premedikasi serta Anestesi Umum. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada.
Yusuf I. 1995. Ilmu Bedah Khusus Veteriner. Diktat. Banda Aceh: FKH USK.






















23

Laporan Praktikum Hari, tanggal : Senin, 9 Mei 2011
Ilmu Bedah Khusus Veteriner 1 Kelompok : 2 Siang (14.
00
-16.
30
WIB)






ENTEROTOMI



Oleh: Kelompok 2 Siang
Mochammad Rifqi Wijaya (B04070106)
Danang Dwi Cahyadi (B04070116)
Catur Fajrie Diah Astuti (B04070124)
Ani Murtisari (B04070129)
Ayu Azriani Azhari (B04070133)









BAGIAN BEDAH DAN RADIOLOGI
DEPARTEMEN KLINIK REPRODUKSI DAN PATOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011


24
























LAMPIRAN




25






LAMPIRAN
JURNAL-JURNAL