Anda di halaman 1dari 3

BAB III

BIDANG USAHA MODAL ASING



Pasal 5
(1) Pemerintah menetapkanperincian bidang-bidang usaha yang terbuka bagi modal asing
menurut urutanprioritas, dan menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh penanam
modalasing dalam tiap-tiap usaha tersebut.
(2) Perincian menurut urutanprioritas ditetapkan tiap kali pada waktu Pemerintah menyusun
rencana-rencanapembangunan jangka menengah dan jangka panjang, dengan
memperhatikanperkembangan ekonomi serta tekhnologi.
Pasal 6
(1) Bidang-bidang usaha yangtertutup untuk penanaman modal asing secara penguasaan penuh
ialahbidang-bidang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup rakyat banyak sebagai
berikut:
pelabuhan-pelabuhan;
produksi, transmisidan distribusi tenaga listrik untuk umum;
telekomunikasi;
pelayaran;
penerbangan;
air minum;
kereta api umum;
pembangkitan tenaga atom;
mass media.
(2) Bidang-bidang yangmenduduki peranan penting dalam pertahanan Negara, antara lain
produksi senjata, mesiu, alat- alat peledak dan peralatan perang dilarang sama sekalibagi modal
asing.
Pasal 7
Selain yang tersebut pada pasal 6 ayat (1) Pemerintah dapat menetapkan bidang-bidang
usahatertentu dimana tidak boleh lagi ditanam modal asing.
Pasal 8
(1) Penanaman modal asing dibidang pertambangan didasarkan pada suatu kerja sama dengan
Pemerintah atasdasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundangan
yangberlaku.
(2) Sistim kerja sama atasdasar kontrak karya atau dalam bentuk lain dapat dilaksanakan
dalambidang-bidang usaha lain yang akan ditentukan oleh Pemerintah








Daftar Negatif dalam Undang Undang no.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing
terdapat dalam pasal 6 ayat (1) dan (2).
Analisis mengapa tidak diperbolehkan para investor asing untuk menanamkan modal dalam daftar
negatif tersebut ada beberapa alasan yang mendukung.
1. Penanaman modal asing secara penuh tidak dapat dilakukan dalam bidang transportasi, hal
tersebut dilakukan karena jika penguasaan investor asing terlalu mendominasi maka sangat
merugikan bagi rakyat maupun negara, dikarenakan bahwa akan terjadi monopoli dalam hal
transportasi, baik darat, laut mapun udara. Mengingat transportasi telah menjadi sebuah
kebutuhan bagi seluruh rakyat maka negara harus mampu mengakomodir transportasi
sehingga tidak terjadi monopoli harga yang menyebabkan terganggunya stabilitas nasional,
sebab transportasi menjadi penghubung antar sebuah daerah dengan daerah yang lain
sehingga sangat mendukung dalam bidang ekonomi dan pembangunan sebuah negara.
2. Dalam bidang sumber daya alam khususnya listrik dan air, kedua hal tersebut tidak dapat
diserahkan seluruhnya kepada investor asing dikarenakan bahwa pentingnya SDA tersebut.
Jika hal tersebut telah dikuasai asing maka sulit bagi pemerintah melakukan pemerataan sosial
yang berakibat juga pembangunan bagi seluruh rakyat Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil
dan makmur.
3. Media massa dan komunikasi menjadi hal penting dalam saat ini, kedua hal tersebut telah
menjadi mata dan telinga bagi seluruh rakyat, untuk mengetahui apa yang terjadi kejadian
baik di nasional maupun internasional, maka dari itu jika investor kembali menguasai seluruh
aspek tersebut maka, sama saja juga kehilangan mata dan telinga, dikarenakan investor asing
yang hanya mempunyai tujuan untuk mengambil keuntungan dari apa yang telah mereka
pijak, kemudian tidak mempedulikan dampak atau akibat yang telah mereka perbuat di dalam
negara itu sendiri maka rakyat pun akan semakin mudah untuk dibohongi, dan pemerintah
semakin sulit untuk berhubungan dengan rakyatnya jika komunikasi telah dikuasai asing.
4. Alutsista (Alat utama sistem persenjataan) Indonesia memproduksi persenjataan yang
seluruhnya dikuasai oleh PT. Pindad hal tersebut tidak dapat diserahkan oleh pihak asing
manapun walaupun hanya sekedar untuk menanamkan modal sebagian kecil saja, dikarenakan
masalah yang dihadapi adalah pertahanan nasional yang melibatkan seluruh negara, jika hal
tersebut mendapat campur tangan pihak asing maka jelas negara menjadi taruhannya
mengingat pertahanan negara yang seharusnya milik negara secara utuh telah dilubangi oleh
pihak asing.