Anda di halaman 1dari 16

PEMERIKSAAN URINALISIS LENGKAP

Sistem urinaria terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, uretra. Sistem ini membantu
mempertahankan homeostasis dengan menghasilkan urine yang merupakan hasil sisa
metabolisme. Ginjal yang mempertahankan susunan kimia cairan tubuh melalui beberapa
proses, yaitu:
1) Filtrasi Glomerular, yaitu filtrasi plasma darah oleh Glomerulus
2) Reabsorpsi tubular, melakukan reabsorpsi (absorpsi kembali) secara selektif zat zat seperti
garam, air, gula sederhana, asam amino dari tubulus ginjal ke kapiler peritubular.
3) Sekresi peritubular, sekresi zat zat dari kapiler darah ke dalam lumen tubulus, proses
sekresi ini mengikutsertakan penahanan kalium, asam urat, amino organic dan ion hydrogen,
yang berfungsi untuk memperbaiki komponen buffer darah dan mengeluarkan zat zat yang
mungkin merugikan.
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urine pasien untuk tujuan diagnosis
infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal,
memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi
(hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
Urine yang normal memiliki cirri-ciri antara lain: warnanya kuning atau kuing gading,
transparan, pH berkisar dari 4,6-8,0 atau rata-rata 6, berat jenis 1,001-1,035, bila agak lama
berbau seperti amoniak.
Unsur-unsur normal dalam urine misalnya adanya urea yang lebih dari 25-30 gram dalam
urine. Urea ini merupakan hasil akhir dari metabolisme protein pada mamalia. Ekskresi urea
meningkat bila katabolisme protein meningkat, seperti pada demam, diabetes, atau aktifitas
korteks adrenal yang berlebihan. Jika terdapat penurunan produksi urea misalnya pada
stadium akhir penyakit hati yang fatal atau pada asidosis karena sebagian dari nitrogen yang
diubah menjadi urea dibelokkan ke pembentukan amoniak.
Reaksi urine biasanya asam dengan pH kurang dari 6 (berkisar 4,7-8). Bila masukan
protein tinggi, urine menjadi asam sebab fosfat dan sulfat berlebihan dari hasil katabolisme
protein. Keasaman meningkat pada asidosis dan demam. Urine menjadi alkali karena
perubahan urea menjadi ammonia dan kehilangan CO2 di udara. Urine menjadi alkali pada
alkalosis seperti setelah banyak muntah. Pigmen utama pada urine adalah urokrom, sedikit
urobilin dan hematofopirin.
Dalam keadaan normal, manusia memiliki 2 ginjal. Setiap ginjal memiliki sebuah
ureter, yang mengalirkan air kemih dari pelvis renalis (bagian ginjal yang merupakan pusat
pengumpulan air kemih) ke dalam kandung kemih. Dari kandung kemih, air kemih mengalir
melalui uretra, meninggalkan tubuh melalui penis (pria) dan vulva (wanita).

Darah yang masuk ke dalam glomerulus memiliki tekanan yang tinggi. sebagian besar
bagian darah yang berupa cairan disaring melalui lubang-lubang kecil pada dinding
pembuluh darah di dalam glomerulus dan pada lapisan dalam kapsula bowman; sehingga
yang tersisa hanya sel-sel darah dan molekul-molekul yang besar (misalnya saja beruupa
protein).
Cairan yang telah disaring (filtrat) masuk ke dalam rongga bowman dan mengalir ke
dalam tubulus kontortus proksimal (tabung/saluran di bagian hulu yang berasal dari kapsula
bowman); natrium, air, glukosa dan bahan lainnya yang ikut tersaring diserap kembali dan
dikembalikan ke darah.
Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urine sangat penting, karena
sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urine. Selain urine juga
terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam
mempertahankan homeostasis ini. Fungsi utama urine adalah untuk membuang zat sisa
seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urine sebagai
zat yang kotor. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urine tersebut berasal dari ginjal
atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinenya pun akan mengandung bakteri.
Namun jika urine berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urine
sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja,
beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urine dan
mengubah zat-zat di dalam urine dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia
yang dihasilkan dari urea.

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS
Pemeriksaan makroskopik terdiri dari: Jumlah, Bau, Buih, Warna dan
Kejernihan Urine
1. Jumlah
Mengukur jumlah urin bermanfaat untuk ikut menentukan adanya gangguan faaal
ginjal,kelainan dalam keseimbangan cairan badana dan berguna juga untuk
menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif dan semikuantitatif dengan urin.
Adapun mengukur jumlah urin dapat dilakukan dengan :
a. Urin 24 jam
b. Urin siang 12 jam dan urin malam 12 jam
c. Timed specimen pada sesuatu percobaan tertentu
d. Urin sewaktu
Jumlah urin 24 jam sangat berbeda dari seseorang ke orang lain.banyak sekali faktor
yang berpengaruh kepada dieresis itu ,umpamanya umur, berat badan , kelamin ,
makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang bersangkutan
.Rata rata didapat didaerah tropik jumlah urin 24 jam antara 800 1300 ml untuk
orang dewasa
Jumlah urin siang normal 12 jam keadaan normal 2 sampai 4 lebih besar dari urin
malam 12 jam.perbandingan itu tidak berubah ,biarpun misalnya banyaknya minuman
pada malam hari dijadikan sama dengan yang siang hari.Perbandingan antara urin
siang 12 jam dan urin malam 12 jam seperti ditulis tadi,tidak berlaku sepenuhnya
pada anak anak.
Penelitian terhadap dieresis urin 24 jam atau 12 jam menentukan adanya kelainan
seperti poliuria dan oliguria yang dapat dipertalikan dengan keadaan klinik tertentu.
2. Warna
Memperhatikan warna urin bermakna karena kadang kadang didapat kelainan yang
bermakna untuk klinik.Warna urin diuji pada tebal lapisan 7-10 cm dengan
cahaya tembus ,tindakan itu dapat dilakukan dengan mengisis tabung reaksi sampai
penuh dan ditinjau dalam sikap serong.
Nyatakan warna urin dengan:tidak berwarna ,kuning muda, kuning, kuning tua,
kuning bercampur merah, merah bercampur kuning, merah, coklat kuning bercampur
hijau ,putih serupa susu,dll.
Pada umumnya warna urin ditentukan oleh besarnya dieresis,makin besar dieresis
makin muda warna urin itu,,biasanya warna normal urin berkisar antara kuning muda
dan kuning tua.warna itu disebabkan oleh beberapa macam zat warna,terutama
urochrom dan urobilin.
Beberapa sebab warna urin
Kuning
1. Zat warna normal dalam jumlah besar: urochrom dan urobilin.
2. Zat warna abnormal: bilirubin
3. Obat obat dan diagnostika:sanatonin ,PSV,riboflavin dan lain lain
Hijau
1. Zat warna abnormal dalam jumlah besar:indikan
2. Obat obat dan diagnostika:methylenblue,Evans blue
3. Kuman kuman:Ps.aeruginosa
Merah
1. Zat warna normal dalam jumlah besar:uroerythrin.
2. Zat warna abnormal:hemoglobin,porfirin,porfobilin.
3. Obat obat dan diagnostika: santonin,psp,amidoprin dan lain lain
4. Kuman kuman:B.poridigous
Coklat
1. Zat warna normal dalam jumlah besar:urobilin
2. Zat warna abnormal:bilirubin,hematin,porfobilin
Coklat tua atau hitam
1. Zat warna normal dalam jumlah besar:indikan
2. Zat warna abnormal:darah tua,alkapton.melamin
3. Obat obat:derivate derivate fenol,argyol
Serupa susu
1. Zat warna normal dalam jumlah besar:fosfat,urat
2. Zat warna abnormal:pus.getah pospat,shylus

3. Kejernihan
Cara mengujji kejernihan sama seperti menguji warna.Nyatakan pendapat
dengan:jernih,agak keruh,keruh atau sangat keruh.
Tidak semua macam kekeruhan bersifat abnormal.Urin normalpun akan menjadi agak
keruh jika dibiarkan atau didinginkan:kekeruhan ringan itu disebut nubecula dan
terjadi dari lender,sel epitel dan leukosit.
Sebab sebab urin keruh dari mula mula
1. Fosfat amorf dan karbonat dalam jumlah besar.Mungkin terjadi setelah
seseorang makan banyak.Kekeruhan itu hilang jika urin diberikan asam asetat
encer.Sediment mengandung banyak Kristal fosfat atau karbonat
2. Bakteri bakteri.Kekeruhan yang terjadi bukan saja disebabkan oleh
berkembangbiaknya kuman,tetapi juga oleh bertambahnya unsure sediment
seperti sel epitel,leukosit,dsb.
3. Unsur- unsur sedimen dalam junlah besar.
1. Eritrosit eritosit yang menyebabkan urin menjadi keruh dan berupa
serupa air daging
2. Leukosit leukosit: adanya dibenarkan dengan pemeriksaan
mikroskopik sediment.
3. Sel sel epitel.akan terlihat juga dalam sediment pada pemeriksaan lebih
lanjut.
4. Chylus dan lemak .Urin keruh menyerupai susu encer.Jika kekeruhan
disebabkan oleh adanya butir butir lemak (lipuria),maka pada pemeriksaan
mikroskop dapat dilihat butir butir lemak.Kalau urin yang bercampur chylus
atau lemak kocok dengan ether ,kemudian ether itu diteteskan kepada
sepotong kertas,akan ketinggaalan bacak lemak pada kertas tadi.
5. Benda benda koloid

4. Berat Jenis
Penetapan berat jenis urin biasanya cukup teliti dengan menggunakan
urinometer.Apabila sering melakukan penetapan berat jenis dengan contoh urin yang
volumenya kecil,sebaiknya memakai refraktometer untuk tujuan itu.
Berat jenis urin sangat erat hubunganya dengan dieresis,makin besar diuresis, makin
rendah berat jenis dan sebaliknya.Berat jenis urin 24 jam dari orang normal biasanya
berkisar antara ,1,016 1,024.
5. Derajat Keasaman Urin
Penetapan reaksi atau PH urin tidak banyak berarti dalam pemeriksaan
penyaring.Akan tetapi pada gangguan keseimbangan asam basa penetapan itu dapat
member kesan tentang keadaan dalam tubuh,apalagi bila disertai penetapan jumlah
asam yang diekskresikan dalam waktu tertentu,jumlah ion NH4,dsb.
Uji keasaman urin bisa dilakukan dengan pemeriksaan berikut:kertas lakmus,carik
celup,kertas nitrazin,dan ph meter
Penetapan asam basa dengan kertas lakmus
Cara pemeriksaan:
1. Kertas lakmus merah atau biru dibasahi urine
2. Tunggu 1 menit, perhatikan perubahan warna yang terjadi
Pelaporan:
1. Urine asam: lakmus biru merah
2. Urine basa: lakmus merah biru
3. Urine netral: lakmus merah/biru tidak berubah warna

PEMERIKSAAN KIMIAWI
1. Glukosa
Metode : Benedict
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya glukosa/gula pereduksi dalam urine

Prinsip : Dalam suasana alkali dan pemanasan, glukosa dan gula-gula reduktor akan
mereduksi garam kompleks reagent benedict, ion cupri (Cu++) direduksi menjadi Cupro
(Cu+) dan mengendap dalam bentuk CuO dan Cu2O yang berwarna kuning hingga
merah bata.
Alat :
Tabung reaksi panjang
Penjepit tabung
Pipet tetes
Lampu Spritus
Pipet Ukur 5 mL
Timer
Waterbath
Reagensia :
Reagen Benedict
Sampel : Urine

Cara Kerja :
Masukkan 2,5 mL reagent Benedict ke dalam tabung reaksi.
Ditambahkan 4 tetes urine dan dipanaskan diatas nyala api spritus (jangan sampai
mendidih dan meluap) atau diletakkan di waterbath suhu 60 - 70C selama 2
menit.
Didinginkan dan dibaca hasilnya.
Nilai Normal : Negatif (-)
Negatif (-) : Tetap biru atau hijau jernih (0 0,1 gram/dL)
(+) : Keruh warna hijau agak kuning (0,5 1 gram/dL)
(++) : Kuning kehijauan dengan endapan kuning (1 1,5 gram/dL)
(+++) : Kuning kemerahan endapan kuning merah (1,5 2,5 gram/dL)
(++++) : Merah orange sampai merah bata dengan endapan merah coklat (2,5
4 gram/dL)
Glukosa (+2)



2. Bilirubin
Metode : Cincin Yodium
Tujuan :Untuk mengetahui ada tidaknya bilirubin dalam urine
Prinsip : Yodium mengoksidasi bilirubin menjadi senyawa biliverdin yang berwarna
hijau.
Alat dan Reagensia :
- Tabung reaksi
- Pipet Tetes
- Reagent Yodium 1% atau Lugol.
Sampel : Urine
Cara Kerja :
Urine sebanyak 3 mL ke dalam tabung reaksi.
Melalui dinding tabung tambahkan 5-10 tetes Yodium 1% sampai menumpang
dipemukaan urine tadi membentu lapisan cincin.
Dilihat adanya warna hijau
Nilai Normal : Negatif
Negatif (-) : Tidak terjadi perubahan
Positif (+) : Terjadi cincin warna hijau pada kedua batas cairan.


Bilirubin (+)


3. Protein
Metode : Asam Sulfosalisilat 20%
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya protein dalam urine
Prinsip : Protein dalam suasana asam lemah organik akan mengalami denaturasi yang
kemudian terjadi kekeruhan hingga endapan.
Alat :
- Tabung reaksi panjang
- Penjepit tabung
- Pipet tetes
- Lampu Spritus
- Pipet Ukur 5 mL
Reagensia :
- Reagen Asam Sulfosalisilat 20%
Sampel : Urine sewaktu

Cara Kerja :
Siapkan 2 buah tabung reaksi dan dimasukkan urine jernih sebanyak 5 mL urine.
Ditambah 8 tetes asam sulfosalisilat 20%.
Dibandingkan kekeruhan kedua tabung tersebut.
Bila terjadi kekeruhan pada tabung kedua setelah penambahan asam sulfosalisilat
20%, dipanaskan tabung tersebut :
Bila panas tetap keruh setelah dingin juga tetap keruh, berarti positif protein.
Bila hilang saat pemanasan dan dingin kembali keruh : Protein Bence Jones.
Nilai Normal : Negatif
Negatif (-) : Jernih, ada kekeruhan yang sangat sedikit sekali. (< 10 mg/dL)
(+) : Ada kekeruhan dengan latar belakang tulisan masih terbaca (10 50
mg/dL)
(++) : Kekeruhan jelas dengan latar belakang tulisan tidak terbaca (50 200
mg/dL)
(+++) : Kekeruhan berkeping-keping yang nyata (200 500 mg/dL)
(++++) : Endapan menggumpal besar dan membeku (> 500 mg/dL)
Protein : Asam Sulfosalisilat 20% (-)




Metode : Bang (As. asetat 6%)
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya protein dalam urine

Prinsip : Protein dalam suasana asam lemah dan pemanasan, akan mengalami denaturasi yang
kemudian terjadi kekeruhan hingga endapan.

Alat :
- Tabung reaksi panjang
- Penjepit tabung
- Pipet tetes
- Lampu Spritus
- Pipet Ukur 5 mL
- Timer
- Waterbath
- Sentrifuge
- Tabung sentrifuge

Reagensia :
- Reagen Bang (As. asetat 6 %)

Sampel : Urine

Cara Kerja :
Masukkan 2/3 bagian urine ke dalam tabung sentrifuge.
Sentrifuge selama 5 menit pada 1500 rpm.
Supernatan di tuang ke dalam tabung reaksi sebanyak 3 mL.
Ditambah 4 tetes reagent Bang dan dipanasi dengan nyala api spritus sampai
mendidih (jangan sampai meluap) atau diletakkan di waterbath suhu 60 - 70C selama
2 menit.
Didinginkan dan dibaca hasilnya.

Nilai Normal : Negatif
Negatif (-) : Jernih, ada kekeruhan yang sangat sedikit sekali. (< 10 mg/dL)
(+) : Ada kekeruhan dengan latar belakang tulisan masih terbaca (10 50
mg/dL)
(++) : Kekeruhan jelas dengan latar belakang tulisan tidak terbaca (50 200
mg/dL)
(+++) : Kekeruhan berkeping-keping yang nyata (200 500 mg/dL)
(++++) : Endapan menggumpal besar dan membeku (> 500 mg/dL)
Protein : Bang / As. asetat 6% (-)


4. Urobilinogen
Metode : Wallace Diamond
Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya urobilinogen dalam urine.

Prinsip : Urobilinogen dengan paradimetil amino benzaldehide akan membentuk senyawa
kompleks yang berwarna merah anggur.

Alat :
- Tabung Reaksi
- Pipet Ukur 5 mL
- Pipet Ukur 1 mL
- Timer


Reagensia :
- Reagent Ehrlich :

Sampel : Urine

Cara Kerja :
Sebanyak 5 mL urine yang masih segar ditambah dengan 0,5 mL reagent Ehrlich.
Didiamkan selama 5 menit dan dibaca hasilnya.
Nilai Normal : Ditemukan hanya dalam urine segar dan dalam batas normal negatif.
Negatif (-) : Tidak terjadi warna.
Positif (+) : Terbentuk warna merah.
Urobilinogen



5. Membedakan urine dengan cairan lainnya
Metode : BaCl2 10%

Cara Kerja :
siapkan air teh sebangai pembanding pada tabung 1
kemudian masukkan urine sebanyak 2ml ke dalam tabung 2
kemudian tambahkan reagen BaCl2 10% sebanyak 10 tetes
lalu baca hasilnya
jika (+) urine makan larutan akan keruh
jika (-) atau bukan urine maka larutan tidak keruh
BaCl2 10%


Metode : Reagen Kreatinine
siapkan air teh sebangai pembanding pada tabung 1
kemudian masukkan urine sebanyak 2ml ke dalam tabung 2
kemudian tambahkan reagen Kreatinine sebanyak 10 tetes
lalu baca hasilnya
jika (+) urine maka larutan akan berwarna orange
jika (-) atau bukan urine maka larutan akan berwarna kuning




PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE
Pemeriksaan sedimen urin termasuk pemeriksaan rutin.Urin yang dipakai itu ialah urin segar
atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet .Yang paling baik untuk pemeriksaan urin
adalah urin pekat,yaitu yang mempunyai berat jen is 1023 atau lebih tinggi ,urin yang pekat
lebih muda didapat bila memakai urin pagi sebagai pemeriksaan.
Cara pemeriksaan (mikroskopi):
1. Kocok urine dalam botol agar sedimen merata
2. Masukan urine dalam tabung sentrifuge 10 15 cc sentrifuge selama 5 menit
dengan kecepatan 2000 rpm
3. Tuang bagian atas urine tinggal 0,5 1 cc kocok kembali sedimen
4. Tuang dalam obyek glass, tutup dengan cover glass periksa dibawah mikroskop
Hasil yang mungkin ditemukan ( unsur-unsur sedimen):
1. Organik
1. Epitel
2. eritrosit,
3. lekosit,
4. silinder
5. Kristal
6. jamur, trikomonas
7. spermatozoa
2. Anorganik
1. Bahan amorf
2. Kristal Kristal normal:calcium oxalate,ammonium-magnesium dll
3. Kristal Kristal yang menunjukkan urin abnormal:cystine,leucine,tyrosine,dll