Anda di halaman 1dari 14

TOKOH PENDIDIKAN ISLAM

K.H AHMAD DAHLAN


MAKALAH

Disusun dan diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah : Kapita Selekta
Dosen pengampu: Ust. Ali Taman Saputra








Disusun Oleh :

1. M.YUNUS
2. IWAN RIDWANSYAH
3. DEDI
4. SUNARYA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-
HIDAYAH KOTA BOGOR
2014 M/1435 H
2
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan rahmat dan hidayah
kepada umat ini. Shalawat beserta salam semoga tercurah kepada Nabi kita
Muhammad Saw. yang tidak ada nabi setelahnya. sebagai contoh dan panutan yang
paling baik bagi seluruh umat manusia.
Alhamdulillah kami dapat menyusun Makalah dengan tema "Tokoh pendidikan
Islam K.H. Ahmad Dahlan Walaupun kami sadari masih banyak kekurangan yang
belum bisa kami tutupi dalam pembuatannya. Dengan adanya makalah ini mudah-
mudahan dapat menambah pengetahuan bagi pembaca dan terutama penyusun dan
semoga makalah ini dapat menjadi pelengkap nilai dalam mata kuliah Kapita
Selekta.
Saran dan masukkan sangat kami harapkan agar dapat menjadi lebih baik di
masa yang akan datang. Semoga Makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca
pada umumnya. Amin.






Bogor, 10 Mei 2014
Penyusun

3
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ 02
DAFTAR ISI ............................................................................................... 03
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 04
A. Latar belakang ................................................................................. 04
B. Rumusan masalah............................................................................ 04

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................ 05
A. Riwayat Hidup K.H. Ahmad Dahlan .............................................. 05
B. Latar Belakang Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan ........................... 06
C. Tujuan Berdirinya Organisasi Muhammadiyah .............................. 07
D. Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan ...................................................... 08
E. Konsep Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan ....................................... 10

BAB III PENUTUP .................................................................................... 13
A. Kesimpulan ........................................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 14








4
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia
setelah NU. Pendidikan telah menjadi trade-merk gerakan Muhammadiyah,
besarnya jumlah lembaga pendidikan merupakan bukti konkrit peran penting
Muhammadiyah dalam proses pemberdayaan umat Islam dan pencerdasan bangsa.
Dalam konteks ini Muhammadiyah tidak hanya berhasil mengentaskan bangsa
Indonesia dan umat islam dari kebodohan dan penindasan, tetapi juga menawarkan
suatu model pembaharuan sistem pendidikan modern yang telah terjaga identitas
dan kelangsungannya.
Diskusi tentang pendidikan Muhammadiyah sebagai salah satu pembaharuan
pendidikan islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pemikiran para pendirinya.
Salah satu tokoh pendidikan Muhammadiyah yang paling menonjol adalah K.H.
Ahmad Dahlan. Oleh karenanya penulis akan membahas makalah yang berjudul
Tokoh Pendidikan Islam K.H Ahmad Dahlan.


B. Rumusan Masalah
Agar pembahasan makalah ini tidak melenceng dari pembahasan, maka
penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Riwayat Hidup K.H. Ahmad Dahlan ?
2. Bagaimana Latar pendidikan K.H. Ahmad Dahlan?
3. Apa Tujuan dari berdirinya Organisasi Muhammadiyah?
4. Bagaimana Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan?
5. Bagaimana Konsep Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan?



5
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


BAB II
PEMBAHASAN

A. Riwayat Hidup K.H. Ahmad Dahlan
K.H. Ahmad Dahlan diakui sebagai salah seorang tokoh pembaru dalam
pergerakan Islam Indonesia, antara lain, karena ia mengambil peran dalam
mengembangkan pendidikan Islam dengan pendekatan-pendekatan yang lebih
modern. Ia berkepentingan dengan pengembangan pendidikan Islam masyarakat yang
menurutnya tidak sesuai dengan ajaran Al Quran dan Hadits.
1

Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, 1 Agustus 1868 adalah
seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara
dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib
terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu
2
, dan ibu dari K.H.
Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat sebagai penghulu
Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. Dalam sumber lain K.H. Ahmad Dahlan
dilahirkan pada tahun 1869.
3

Diwaktu kecil K.H. Ahmad Dahlan bernama Muhammad Darwis, nama
Ahmad Dahlan adalah pergantian setelah berangkat untuk menunaikan ibadah haji di
Makkah. Sebelum mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah, beliau bergabung
sebagai anggota Boedi Oetomo yang merupakan organisasi kepemudaan pertama di
Indonesia.
Dengan kedalaman ilmu agama dan ketekunannya dalam mengikuti gagasan-
gagasan pembaharuan Islam, K.H. Ahmad Dahlan kemudian aktif menyebarkan
gagasan pembaharuan Islam ke pelosok-pelosok tanah air sambil berdagang batik.
K.H. Ahmad Dahlan melakukan tabliah dan diskusi keagamaan sehingga atas
desakan para muridnya pada tanggal 18 November 1912 K.H. Ahmad Dahlan

1
Syamsul Kurniawan-Erwin Mahrus, jejak pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jogjakarta:Ar-Ruzz
Media), hal.193
2
Junus salam, Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah, (Tangerang: Al-Wasat Publising House, 2009),
hal.56.
3
Muhammad Soedja, Cerita tentang kyiai haji Ahmad Dahlan, ( Jakarta: Rhineka Cipta, 1993), hal
202.
6
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


mendirikan organisasi Muhammadiyah. Disamping aktif di Muhammadiyah beliau
juga aktif di partai politik. Seperti Budi Utomo dan Sarikat Islam. Hampir seluruh
hidupnya digunakan utnuk beramal demi kemajuan umat Islam dan bangsa. K.H.
Ahmad Dahlan meninggal pada tanggal 7 Rajab 1340 H atau 23 Pebruari 1923 M dan
dimakamkan di Karang Kadjen, Kemantren, Mergangsan, Yogyakarta.

B. Latar Belakang Pendidikan KH. Ahmad Dahlan
Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Saat masih kecil
beliau diasuh oleh ayahnya sendiri yang bernama K.H. Abu bakar. Karena sejak kecil
Muhammad Darwis mempunyai sifat yang baik, budi pekerti yang halus dan hati
yang lunak serta berwatak cerdas, maka ayah bundanya sangat sayang kepadanya.
Ketika Muhammad Darwis menginjak usia 8 tahun Ia dapat membaca Al-Quran
dengan lancar. Dalam hal ini Muhammad Darwis memang seorang yang cerdas
pikirannya karena dapat mempengaruhi teman-teman sepermainannya dan dapat
mengatasi segala permasalahan yang terjadi diantara mereka.
Muhammad Darwis tinggal di kampung kauman yang mana di tempat itu anti
dengan penjajah. Suasana seperti itu tidak memungkinkan bagi Muhammad Darwis
untuk memasuki sekolah yang dikelola oleh pemerintah penjajah. Pada waktu itu
siapa yang memasuki sekolah gubernamen, yaitu sekolah yang diselenggarakan oleh
pemerintah jajahan, dianggap kafir atau kristen. Sebab itu muhammad Darwis tidak
meuntut ilmu pada sekolah Gubernamen, Ia mendapatkan pendidikan, khususnya
pendidikan keagamaan dari ayahnya sendiri.
Pada abad ke-19 berkembang suatu tradisi mengirimkan anak kepada guru
untuk menuntut ilmu, dan menurut Karel Steebbrink sebagaimana yang dikutip oleh
Weinata Sairin ada enam macam guru yang terkenal pada masa itu; guru ngaji
Quran, guru kitab, guru tarekat, guru untuk ilmu ghaib, pejual jimat dan lain-lain.
Dari lima macam guru tadi, Muhammad Darwis belajar mengaji Quran pada
ayahnya, sedangkan belajar kitab pada guru-guru lain.
4


4
Weinata Sairin, Gerakan pembaharuan Muhammdiyah, hal 39.
7
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


Setelah menginjak dewasa, Muhammad Darwis mulai membuka kebetan kitab
mengaji kepada K.H. Muhammad Saleh dalam bidang ilmu Fiqh dan kepada K.H.
Muhsin dalam bidang ilmu nahwu. Kedua guru tersebut merupakan kakak ipar yang
rumahnya berdampingan dalam suatu komplek. Sedangkan pelajaran yang lain beliau
belajar kepada ayahnya sendiri. Guru-guru Muhammad Darwis lain yang bisa disebut
adalah; Kyai haji Abdul Khamid, KH. Muhammad Nur, dan Syaikh Hasan.
Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan
mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi di Mesir, Arab, dan India, untuk
kemudian berusaha menerapkannya di Indonesia. Ahmad Dahlan juga sering
mengadakan pengajian agama di langgar atau mushola.
5


C. Tujuan Berdirinya Organisasi Muhammadiyah
Sesuai dengan ide pembaruan yang di serapnya dari pemikiran Timur Tengah,
ia pun mulai melakukan usaha meluruskan akidah dan amal ibadah masyarakat Islam.
Melihat kondisi umat Islam yang saat itu cukup kritis, K.H. Ahmad Dahlan terdorong
untuk mendirikan organisasi yang kemudian dinamakan Muhammadiyah. Organisasi
ini berdiri pada 8 November 1912 di yogyakarta. Perkumpulan Muhammadiyah
berusaha mengembalikan ajaran Islam kepada sumber aslinya, yaitu Al-Quran dan
Hadits. Hal ini diwujudkan melalui usaha memperluas dan mempertinggi pendidikan
Islam, serta memperteguh keyakinan agama Islam.
Tujuan dari berdirinya organisasi ini ialah mengadakan dakwah Islam,
memajukan pendidikan dan pengajaran, menghidupkan sifat tolong-menolong,
mendirikan tempat ibadah dan wakaf, mendidik dan mengasuh anak-anak agar
menjadi umat Islam yang berarti, berusaha ke arah perbaikan penghidupan dan
kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam, serta berusaha dengan segala
kebijaksanaan supaya kehendak dan peraturan islam berlaku dalam masyarakat.
Rumusan tujuan ini sesuai dengan apa yang tertulis dalam Anggaran Dasar
Muhammadiyah Desenber 1950. Setelah organisasi ini berdiri, sekolah yang didirikan
semakin banyak, karena pendirian sekolah dan madrasah menjadi prioritas dalam

5
Mif Baihaqi, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2008),hal.36
8
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


setiap gerakan Muhammadiyah. Oleh karena itu, di mana ada cabang perkumpulan
organisasi ini dipastikan terdapat sekolah atau Madrasah Muhammadiyah. Hal ini
dimungkinkan karena kalangan pendukung Muhammadiyah kebanyakan berasal dari
kaum pedagang dan pegawai di wilayah perkotaan sehingga mudah untuk
dikoordinasikan.

D. Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan
Merasa prihatin terhadap perilaku masyarakat Islam di Indonesia yang masih
mencampur-baurkan adat-istiadat yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran umat
islam, inilah yang menjadi latar belakang pemikiran K.H. ahmad Dahlan untuk
melakukan pembaruan, yang juga melatar belakangi lahirnya Muhammadiyah. Selain
faktor lain diantaranya, yaitu pengaruh pemikiran pembaruan dari para gurunya di
Timur Tengah.
6

Hampir seluruh pemikiran K.H. Ahmad Dahlan berangkat dari
keprihatinannya terhadap situasi dan kondisi global umat Islam waktu itu yang
tenggelam dalam kejumudan (stagnasi), kebodohan, serta keterbelakangan. Kondisi
ini semakin diperparah dengan politik kolonial belanda yang sangat merugikan
bangsa Indonesia.
7

Menurut K.H. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat
Islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah
melalui pendidikan. Memang, Muhammadiyah sejak tahun 1912 telah menggarap
dunia pendidikan, namun perumusan mengenai tujuan pendidikan yang spesifik baru
disusun pada 1936. Pada mulanya tujuan pendidikan ini tampak dari ucapan K.H.
Ahmad Dahlan: Dadiji kjai sing kemajorean, adja kesel anggonu njambut gawe
kanggo Muhammadiyah( Jadilah manusia yang maju, jangan pernah lelah dalam
bekerja untuk Muhammadiyah)

6
Syamsul kurniawan-Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam,(Jogjakarta:Ar-Ruzz
Media,2011), hal.195-196
7
.Ramayulis-Syamsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh pendidikan Islam, (Jakarta:Quantum teaching,2010).hal
193.
9
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


Untuk mewujudkannya, menurut K.H. Ahmad Dahlan pendidikan terbagi
menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Pendidikan moral, akhlak, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan karakter
manusia yang baik, berdasarkan Al-Quran dan Al-Sunnah
2. Pendidikan Individu, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran
individu yang utuh, yang berkesinambungan antara keyakinan dan intelek,
antara akal dan pikiran serta antara dunia dan akhirat
3. Pendidikan kemasyarakatan, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan
keseiyaan dan keinginan hidup masyarakat.
Tanpa mengurangi pemikiran para intelektual muslim lainnya, paling tidak
pemikiran Ahmad Dahlan tentang pendidikan Islam dapat dikatakan sebagai awal
kebangkitan pendidikan Islam di Indonesia. Gagasan pembaruannya sempat
mendapat tantangan dari masyarakat waktu itu, terutama dari lingkunagan pendidikan
tradisional. Kendati demikian, bagi Dahlan, tantangan tersebut bukan merupakan
hambatan, melainkan tantangan yang perlu dihadapi secara arif dan bijaksana.
8

Arus dinamika pembaharuan terus mengalir dan bergerak menuju kepada
berbagai persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Dengan demikian, peranan
pendidikan Islam menjadi semakin penting dan strategis untuk senantiasa mendapat
perhatian yang serius. Hal ini disebabkan, karena pendidikan merupakan media yang
sangat strategis untuk mencerdaskan umat. Melalui media ini, umat akan semakin
kritis dan memiliki daya analisa yang tajam dalam membaca peta kehidupan masa
depannya yang dinamis. Dalam konteks ini, setidaknya pemikiran pendidikan K.H
Ahmad Dahlan dapat diletakkan sebagai upaya sekaligus wacana untuk memberikan
inspirasi bagi pembentukan dan pembinaan peradaban umat masa depan yang lebih
proporsional.





8
Ibid hal. 200
10
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


E. Konsep Pendidikan KH. Ahmad Dahlan
Kehadiran penjajah Belanda ke Indonesia telah merusak tatanan sosial yang
ada dalam masyarakat Indonesia. Di jawa, Belanda telah merusak dan
menghancurkan komponen kehidupan perdagangan dan politik umat Islam. Selain
itu, kondisi umat Islam mulai menyimpang dari kesucian dan kemurnian ajaran Islam.
Dalam segi kegiatan keagamaan, mulai berkembang sikap fatalisme, khurafat,
takhayul, serta konservatisme yang tertanam kuat dalam kehidupan keagamaan dan
sosial ekonomi masyarakat Islam. Kondisi ini diperburuk lagi dengan dengan misi
kristenisasi yang membuat umat Islam mengalami kejumudan dalam setiap aspek
kehidupannya. Memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan Islam dan akibat dari
pemerintahan kolonial Belanda, terutama di pulau Jawa, K.H. Ahmad Dahlan merasa
sangat prihatin. Umat Islam saat itu berada dalam keterbelakangan, kebodohan, dan
kemiskinan. Selain itu, sistem pendidikan yang ada sangat lemah sehingga tidak
mampu menandingi misi kaum Zindiq maupun Kristen.
Melihat kenyataan diatas, beliau sebagai seorang muallim merasa terpanggil
untuk mempertahankan sistem dari abad-abad permulaan Islam sebagai suatu sistem
yang benar dan bebas dari unsur-unsur bidah, berusaha membangun kembali agama
Islam yang didasarkan pada sendi-sendi ajaran yang benar, yakni sejalan dengan Al-
Quran dan Hadits. Oleh sebab itu K.H. Ahmad dahlan memfokuskan dirinya untuk
memperbaiki tatanan masyarakat dengan meningkatkan taraf pendidikan khususnya
di Indonesia.
Pelaksanaan pendidikan menurut Dahlan hendaknya di dasarkan pada
landasan yang kokoh. Landasan ini merupakan kerangka filosofis bagi merumuskan
kerangka filosofis bagi Islam, baik secara vertikal (Khaliq) maupun Horizontal
(makhluk). Dalam pandangan Islam, paling tidak ada dua sisi tugas penciptaan
manusia, yaitu sebagai abd Allah dan khalifah fi al-ardh.
Dalam proses kejadiannya, manusia diberikan Allah dengan al-ruh dan alaql.
Untuk itu, pendidikan hendaknya menjadi media yang dapat mengembangkan potensi
al-ruh untuk menalar petunjuk pelaksanaan ketundukan dan kepatuhan manusia
kepada Khaliqnya. Disini eksistensi akal merupakan potensi dasar bagi peserta didik
11
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


yang perlu dipelihara dan dikembangkan guna menyusun kerangka teoritis dan
metodologis bagaimana menata hubungan yang harmonis secara vertikal maupun
horizontal dalam konteks tujuan penciptaannya.
9

Pendidikan menurut K.H. Ahmad Dahlan hendaknya ditempatkan pada skala
prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Upaya mengaktualisasikan gagasan
tersebut maka konsep pendidikan K.H. Ahmad Dahlan ini meliputi:
1. Tujuan Pendidikan
Menurut K.H. Ahmad Dahlan, pendidikan Islam hendaknya diarahkan
pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam
agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia
berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Tujuan pendidikan tersebut merupakan
pembaharuan dari tujuan pendidikan yang saling bertentangan pada saat itu yaitu
pendidikan pesantren dan pendidikan sekolah model Belanda. Di satu sisi
pendidikan pesantren hanya bertujuan utnuk menciptakan individu yang salih dan
mendalami ilmu agama. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda
merupakan pendidikan sekuler yang didalamnya tidak diajarkan agama sama
sekali.
Melihat ketimpangan tersebut KH. Ahamd Dahlan berpendapat bahwa
tujuan pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu yang utuh
menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spritual serta dunia dan
akhirat. Bagi K.H. Ahmad Dahlan kedua hal tersebut (agama-umum, material-
spritual dan dunia-akhirat) merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama
lain. Inilah yang menjadi alasan mengapa KH. Ahmad Dahlan mengajarkan
pelajaran agama dan ilmu umum sekaligus di Madrasah Muhammadiyah.





9
Ramayulis-Syamsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh pendidikan Islam, (Jakarta:Quantum teaching,2010).hal
195.
12
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


2. Materi pendidikan
Menurut Dahlan, materi pendidikan adalah pengajaran Al-Quran dan
Hadits, membaca, menulis, berhitung, Ilmu bumi, dan menggambar. Materi Al-
Quran dan Hadits meliputi; Ibadah, persamaan derajat, fungsi perbuatan
manusia dalam menentukan nasibnya, musyawarah, pembuktian kebenaran Al-
Quran dan Hadits menurut akal, kerjasama antara agama-kebudayaan-kemajuan
peradaban, hukum kausalitas perubahan, nafsu dan kehendak, Demokratisasi dan
liberalisasi, kemerdekaan berpikir, dinamika kehidupan dan peranan manusia di
dalamnya, dan akhlak (budi pekerti).
10

3. Metode Mengajar
Di dalam menyampaikan pelajaran agama K.H. Ahmad Dahlan tidak
menggunakan pendekatan yang tekstual tetapi kontekstual. Karena pelajaran
agama tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami secara kognitif, tetapi harus
diamalkan sesuai situasi dan kondisi.
Cara belajar-mengajar di pesantren menggunakan sistem Weton dan
Sorogan, madrasah Muhammadiyah menggunakan sistem masihal seperti
sekolah Belanda. Bahan pelajaran di pesantren mengambil dari kitab-kitab agama
saja. Sedangkan di madrasah Muhammadiyah bahan pelajarannya mengambil
dari kitab agama dan buku-buku umum. Di pesantren hubungan guru-murid
biasanya terkesan otoriter karena para kiai memiliki otoritas ilmu yang dianggap
sakral. Sedangkan madrasah Muhammadiyah mulai mengembangkan hubungan
antara guru-murid yang akrab.







10
Ramayulis-Syamsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh pendidikan Islam,(Jakarta:Quantum teaching,2010).hal
199.
13
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, pemakalah dapat menyimpulkan bahwasanya K.H.
Ahmad Dahlan adalah merupakan tokoh pendidikan yang sangat besar jasanya bagi
dunia pendidikan di Indonesia ini.
Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) lahir di Kauman, Yogyakarta,
1 Agustus 1868, Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, K.H. Ahmad
Dahlan mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi di Mesir, Arab, dan India,
untuk kemudian berusaha menerapkannya di Indonesia. Ahmad Dahlan juga sering
mengadakan pengajian agama di langgar atau mushola. Pada tahun 1912 beliau
mendirikan Muhammadiyah yang semata-mata bertujuan untuk mengadakan dakwah
Islam, memajukan pendidikan dan pengajaran, menghidupkan sifat tolong-menolong,
mendirikan tempat ibadah dan wakaf, mendidik dan mengasuh anak-anak agar
menjadi umat Islam yang berarti, berusaha ke arah perbaikan penghidupan dan
kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam
Ide-ide yang di kemukakan K.H.Ahmad Dahlan telah membawa pembaruan
dalam bidang pembentukan lembaga pendidikan Islam yang semula bersistem
pesantren menjadi sistem klasikal, dimana dalam pendidikan klasikal tersebut
dimasukkan pelajaran umum kedalam pendidikan madrasah. Meskipun demikian,
K.H. Ahmad Dahlan tetap mendahulukan pendidikan moral atau ahlak, pendidikan
individu dan pendidikan kemasyarakatan.








14
Kapita Selekta/Tokoh Pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan


DAFTAR PUSTAKA

Ramayulis- Nizar, Syamsul. 2010. Ensiklopedi Tokoh pendidikan Islam, Jakarta:
Quantum teaching
Kurniawan, Syamsul - Mahrus, Erwin. 2011. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan
Weinata Islam, (Jogjakarta:Ar-Ruzz Media)
Sairin, Gerakan pembaharuan Muhammdiyah,
Salam, Junus 2009. Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah, Tangerang: Al-Wasat
Publising House
Soedja, Muhammad, 1993. Cerita tentang kyiai haji Ahmad Dahlan, Jakarta:
Rhineka Cipta
Baihaqi, Mif. 2008. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan, Bandung: Penerbit Nuansa