Anda di halaman 1dari 24

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Energi Surya
Energi yang menggunakan bahan bakar fosil menjadi primadona di abad
18 hingga akhir abad 20. Seiring dengan berkembangnya zaman, maka bahan bakar
ini persediaannya mulai menipis dan dampaknya yang sangat buruk bagi
lingkuangan. Ketidakseimbangan antara persediaan dan permintaan akan energi fosil
inilah yang memicu terjadinya krisis energi. Untuk menyeimbangkan antara
persediaan dan permintaan energi dibutuhkanlah energi yang terbarukan dan ramah
lingkungan [1].
Sumber energi yang berjumlah besar dan bersifat kontinu, terbesar yang
tersedia bagi umat manusia adalah energi surya, khususnya energi elektromagnetik
yang dipancarkan oleh matahari. Energi surya sangat atraktif karena tidak bersifat
polutif, tak dapat habis, dan gratis. Dua kejelekan utama dari energi surya ini ialah,
bahwa ia sangat halus (dilute) dan tidak konstan. Arus energi surya yang rendah
mengakibatkan terpaksa dipakainya sistem dan kolektor yang luas permukaannya
besar untuk mengumpul dan mengkonsentrasikan energi itu. Di samping sistem
koleksi ini berharga mahal, masalah besar lainnya yang mungkin timbul ialah
kenyataan bahwa sistem-sistem di bumi tidak dapat diharapkan akan menerima
persediaan yang terus-menerus dari energi surya ini. Ini berarti bahwa diperlukan
pula semacam sistem penyimpanan energi atau sistem konversi lain diperlukan
6

untuk menyimpan energi pada malam hari serta pada waktu cuaca mendung yang
panjang. Sistem penyimpanan ini atau sistem konversi alternatif jelas menambah
mahalnya unit surya ini secara keseluruhan.
Energi surya dapat dikonversi secara langsung menjadi bentuk energi lain
dengan tiga proses terpisah-proses heliochemical, proses helioelectrical, dan proses
heliothermal. Reaksi heliochemical yang utama adalah proses fotosintesis. Proses ini
adalah sumber dari semua bahan bakar fossil. Proses helioelectrical yang utama
adalah produksi listrik oleh sel-fotovoltaik. Proses heliothermal adalah penyerapan
(absorpsi) radiasi matahari dan pengkonversian energi ini menjadi energi termal.
Jumlah radiasi matahari pada suatu permukaan disebut sebagai isolasi surya.
Isolasi surya total pada suatu permukaan tertentu terdiri dari sebuah komponen
langsung [sinar(beam)] dan sebuah komponen difusi [tersebar ( scattered)] begitu
juga pancaran radiasi dengan panjang gelombang yang pendek dari permukaan lain
yang sama-sama berada dibumi. Isolasi langsung pada sebuah permukaan yang
tegak lurus terhadap sinar matahari tergantung pada waktu dari tahun, waktu dari
hari, dan garis lintang permukaan itu begitu juga kondisi atmosfir [2].
2.2. Fotovoltaik
2.2.1. Sejarah Fotovoltaik
Pada sekitar akhir abad 19, aliran listrik surya diketemukan oleh ahli fisika
Jerman bernama Alexandre Edmond Becquerel secara kebetulan dimana berkas
sinar matahari jatuh pada larutan elektro kimia bahan penelitian, sehingga muatan
elektron pada larutan meningkat. Pada awal abad 20, Albert Einstein menamakan
7

penemuan ini dengan Photoelectric Effect, yang kemudian menjadi pengertian
dasar pada Photovoltaic Effect, dimana selempeng metal melepaskan Photon
partikel energi cahaya ketika terkena sinar matahari.
Gelombang cahaya sinar lembayung (ultraviolet) adalah sinar yang
bermuatan energi Foton tinggi dan panjang gelombangnya pendek, sedangkan sinar
merah (infra-red) adalah sinar yang bermuatan energi Foton rendah dan dalam
bentuk gelombang panjang. Sekitar tahun 1930, ditemukan konsep Quantum
Mechanics untuk menciptakan teknologi baru solid-state, dimana perusahaan
Bell Telephone Research Laboratories menciptakan Fotovoltaik padat yang pertama.
Tahun 1950 - 1960, teknologi disain dan efisiensi Fotovoltaik terus berlanjut dan
diaplikasikan ke pesawat ruang angkasa (photovoltaic energies). Tahun 1970-an,
dunia menggalakkan sumber energi alternatif yang terbarukan dan ramah
lingkungan, maka PV mulai diaplikasikan ke low power warning systems dan
offshore buoys (tetapi produksi PV tidak dapat banyak karena masih handmade).
Baru pada tahun 1980 an, perusahaan-perusahaan PV bergabung dengan instansi
energi pemerintah agar dapat lebih memproduksi PV sel dalam jumlah besar,
sehingga harga sel-surya dapat serendah mungkin [3].
Sejarah perkembangan fotovoltaik di Indonesia sudah dimulai sejak 1987
pada awal itu, BPPT dimulai dengan pemasangan 80 unit fotovoltaik (Solar Home
System, system pembangkit listrik, tenaga tata surya untuk lampu penerang rumah)
di desa sukatani jawa barat. Setelah itu pada tahun 1991 dilanjutkan dengan proyek
bantuan presiden (banpres listrik tenaga surya masuk desa) untuk pemasangan 13445
8

unit SHS di 15 propinsi. Program banpres listrik tenaga surya masuk desa juga telah
memperoleh sambutan sangat menggembirakan dari masyarakat perdesaan dan telah
terbukti dapat berjalan dengan baik akan dijadikan model guna implementasi
program listrik tenaga surya untuk sejuta rumah [4].
2.2.2. Prinsip Kerja
Secara sederhana fotovoltaik terdiri dari persambungan bahan semikonduktor
bertipe p dan n (p-n junction semiconductor) yang jika tertimpa sinar matahari maka
akan terjadi aliran electron, aliran electron inilah yang disebut sebagai aliran arus
listrik. Sedangkan struktur dari fotovoltaik adalah seperti ditunjukkan dalam gambar
2.2 di bawah:
Gambar 2.2. Struktur lapisan tipis fotovoltaik secara umum [5]
Bagian utama perubah energi sinar matahari menjadi listrik adalah absorber
(penyerap), meskipun demikian, masing-masing lapisan juga sangat berpengaruh
terhadap efisiensi dari fotovoltaik. Sinar matahari terdiri dari bermacam-macam jenis
gelombang elektromagnetik yang secara spektrum dapat dilihat pada gambar 2.3.
9

Oleh karena itu absorber disini diharapkan dapat menyerap sebanyak mungkin solar
radiation yang berasal dari cahaya matahari.
Gambar 2.3.Spektrum radiasi sinar matahari [5]
Lebih detail lagi bisa dijelaskan sinar matahari yang terdiri dari photon-
photon, jika menimpa permukaaan bahan fotovoltaik (absorber), akan diserap,
dipantulkan atau dilewatkan begitu saja (lihat Gambar 2.4), dan hanya foton dengan
level energi tertentu yang akan membebaskan elektron dari ikatan atomnya,
sehingga mengalirlah arus listrik. Level energi tersebut disebut energi band-gap
yang didefinisikan sebagai sejumlah energi yang dibutuhkan utk mengeluarkan
elektron dari ikatan kovalennya sehingga terjadilah aliran arus listrik. Untuk
membebaskan elektron dari ikatan kovalennya, energi foton hc/ harus sedikit lebih
besar atau diatas dari pada energi band-gap. Jika energi foton terlalu besar dari pada
energi band-gap, maka extra energi tersebut akan dirubah dalam bentuk panas pada
fotovoltaik. Karenanya sangatlah penting pada fotovoltaik untuk mengatur bahan
yang dipergunakan, yaitu dengan memodifikasi struktur molekul dari semikonduktor
yang dipergunakan.
10






Gambar 2.4. Radiative transition of fotovoltaik [5]
Tentu saja agar efisiensi dari fotovoltaik bisa tinggi maka foton yang berasal
dari sinar matahari harus bisa diserap yang sebanyak banyaknya, kemudian
memperkecil refleksi dan remombinasi serta memperbesar konduktivitas dari
bahannya.



Gambar 2.5. Bagian Dalam dari Photovoltaic [5]
Untuk bisa membuat agar foton yang diserap dapat sebanyak banyaknya,
maka absorber harus memiliki energi band-gap dengan range yang lebar, sehingga
memungkinkan untuk bisa menyerap sinar matahari yang mempunyai energi sangat
11

bermacam-macam tersebut. Salah satu bahan yang sedang banyak diteliti adalah
CuInSe
2
yang dikenal merupakan salah satu dari direct semikonductor[5].
2.2.3. Karakteristik Fotovoltaik
Fotovoltaik menghasilkan arus, dan arus ini beragam tergantung pada
tegangan fotovoltaik. Karakteristik tegangan-arus biasanya menunjukkan hubungan
tersebut. Ketika tegangan fotovoltaik sama dengan nol atau digambarkan sebagai
fotovoltaik hubung pendek, arus rangkaian pendek atau I
SC
(short circuit
current), yang sebanding dengan irradiansi terhadap fotovoltaik dapat diukur. Nilai
I
SC
naik dengan meningkatnya temperatur, meskipun temperatur standar yang
tercatat untuk arus rangkaian pendek adalah 25
0
C. Jika arus fotovoltaik sama dengan
nol, fotovoltaik tersebut digambarkan sebagai rangkaian terbuka. Tegangan
fotovoltaik kemudian menjadi tegangan rangkaian terbuka, Voc (open circuit
voltage). Ketergantungan Voc terhadap iradiansi bersifat logaritmis, dan penurunan
yang lebih cepat disertai peningkatan temperatur melebihi kecepatan kenaikan Isc.
Oleh karena itu, daya maksimum fotovoltaik dan efisiensi fotovoltaik menurun
dengan peningkatan temperatur [6].
Fotovoltaik pada keadaan tanpa penyinaran, mirip seperti keadaan penyearah
setengah gelombang dioda. Ketika fotovoltaik mendapat sinar akan mengalir arus
konstan yang arahnya berlawanan dengan arus dioda seperti pada Gambar 2.6 di
bawah ini:
12


Gambar 2.6 Karakteristik Suatu Fotovoltaik dan Dioda [7].
Dari Gambar 2.6 dapat dilihat bahwa grafik fotovoltaik tidak tergantung dari
sifat sifat dioda. Jika diselidiki pada kuadran IV akan ditemukan tiga titik penting,
yaitu :
Tegangan beban nol U
0
diukur tanpa beban tanpa dipengaruhi penyinaran.
Arus hubungsingkat I
K
diukur saat sel hubung singkat dan disini arus
hubungsingkat berbanding lurus dengan kuat penyinaran.
Titik daya maksimum (Maximum Power Point = MPP) dari fotovoltaik
didapatkan dari hasil arus dan tegangan yang dibuat pada setiap titik.
Dalam hal U
0
dan I
K
maksimum, daya yang dihasilkan oleh suatu fotovoltaik sama
dengan nol. Pada suatu titik tertentu daya fotovoltaik mencapai titik maksimum dan
titik ini disebut dengan titik MPP (Maximum Power Point), yang pada prakteknya
selalu diusahakan agar pemakaian berpatokan dari titik MPP ini. Keadaan ini dapat
dilihat pada Gambar 2.6 [7].
13


Gambar 2.7. Kurva Karakteristik Arus dan Daya Fotovoltaik [8]
Berdasarkan kurva pada gambar 2.7. terdapat 5 parameter yang penting yakni
Isc, Voc, Imp, Vmp, dan Pmp. Isc merupakan arus maksimal yang dapat dihasilkan
oleh modul fotovoltaik. Cara untuk mendapatkan nilai Isc yaitu dengan cara menge-
short-kan kutub positif dengan kutub negatif pada PV module, kemudian nilai Isc
dibaca pada multimeter sebagai pembaca arus sehingga didapatkan nilai pengukuran
arus maksimum pada fotovoltaik.
Voc adalah tegangan yang dibaca pada saat arus tidak mengalir atau dengan
kata lain tegangan maksimum fotovoltaik yang terjadi ketika arus hubung singkat
sama dengan nol. Cara untuk mencapai tegangan hubung buka (Voc) yaitu dengan
cara menghubungkan kutub positif dan kutub negatif PV module pada multimeter
maka akan terlihat pembacaan nilai tegangan hubung buka fotovoltaik pada
multimeter [11].
14

Imp adalah arus dimana daya bernilai maksimum sedangkan Vmp adalah
tegangan dimana daya bernilai maksimum. Maximum Power Point (Vmp & Imp)
adalah titik operasi dimana nilai keluaran maksimum yang dihasilkan oleh
fotovoltaik saat kondisi operasional. Keluaran berkurang seiring penurunan
tegangan. Ketika kurva melewati titik maximum power point, arus dan daya
keluaran fotovoltaik akan mengalami penurunan seiring peningkatan tegangan.
2.2.4 Sel, Modul dan Array
Fotovoltaik (seperti Gambar 2.8) adalah dasar pembangun dari sistem energi
photovoltaic. Secara khusus fotovoltaik berukuran hanya beberapa inci persegi.
Untuk mendapatkan tenaga yang besar, beberapa buah fotovoltaik dihubungkan
secara seri dan pararel dalam sebuah modul dengan ukuran beberapa meter persegi.
Array atau panel digambarkan sebagai sebuah group dari beberapa modul yang
secara elektrik terhubung dalam kombinasi seri-pararel untuk menghasilkan arus dan
tegangan yang di butuhkan [9].
15


Gambar 2.8 Sel, Modul dan Array [9].
2.2.5. Jenis Jenis Fotovoltaik
Hingga saat ini terdapat beberapa teknologi pembuatan fotovoltaik yang
berhasil dikembangkan oleh para peneliti untuk mendapatkan fotovoltaik yang
memiliki efisiensi yang tinggi yang murah dan mudah dalam pembuatannya.
1. Generasi pertama
Teknologi pertama yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti adalah
teknologi yang menggunakan bahan silikon kristal tunggal. Teknologi ini dalam
mampu menghasilkan fotovoltaik dengan efisiensi yang sangat tinggi. Masalah
terbesar yang dihadapi dalam pengembangan silikon kristal tunggal ini adalah
bahwa untuk dapat diproduksi secara komersial fotovoltaik ini harganya sangat
mahal sehingga membuatnya menjadi tidak efisien sebagai sumber energi
alternatif.
16

Teknologi yang kedua adalah dengan menggunakan wafer silikon poli
kristal. Saat ini, hampir sebagian besar fotovoltaik yang beredar di pasar
komersial berasal dari screen printing jenis silikon poli kristal ini. Wafer silikon
poli kristal dibuat dengan teknologi casting berupa balok silikon dan dipotong-
potong dengan metode wire-sawing menjadi kepingan (wafer), denagn ketebalan
sekitar 250350 micrometer. Dengan teknologi ini bisa diperoleh fotovoltaik
lebih murah meskipun tingkat efisiensinya lebih rendah jika dibandingkan
dengan silikon kristal tunggal. Kedua jenis fotovoltaik di dikenal sabagai
fotovoltaik generasi pertama.

2. Generasi kedua
Generasi kedua adalah fotovoltaik yang dibuat dengan teknologi lapisan
tipis (thin film). Teknologi pembuatan fotovoltaik dengan lapisan tipis ini
dimaksudkan untuk mengurangi biaya pembuatan fotovoltaik mengingat
teknologi ini hanya menggunakan kurang dari 1% dari bahan baku silikon jika
dibandingkan dengan bahan baku untuk tipe silikon wafer.
Metode yang paling sering dipakai dalam pembuatan silikon jenis lapisan
tipis ini adalah dengan Plasma-enhanced chemical vapor deposition (PECVD)
dari gas silane dan hidrogen. Lapisan yang dibuat dengan metode ini
menghasilkan silikon yang tidak memiliki arah orientasi kristal atau yang dikenal
sebagai amorphous silikon (non kristal).
17

Selain menggunakan material dari silikon, fotovoltaik lapisan tipis juga
dibuat dari bahan semikonduktor lainnya yang memiliki efisiensi fotovoltaik
tinggi seperti Cadmium Telluride (Cd Te) dan Copper Indium Gallium Selenide
(CIGS).
Efisiensi tertinggi saat ini yang bisa dihasilkan oleh jenis fotovoltaik
lapisan tipis ini adalah sebesar 19,5% yang berasal dari fotovoltaik CIGS.
Keunggulan lainnya dengan menggunakan tipe lapisan tipis adalah
semikonduktor sebagai lapisan fotovoltaik bisa dideposisi pada substrat yang
lentur sehingga menghasilkan divais fotovoltaik yang fleksibel. Persoalannya
adalah material ini belum dapat diterima dengan baik karena mengandung unsur
cadmium. Bila rumah yang atapnya dipasang fotovoltaik CdTe terbakar, unsur
cadmium ini akan menimbulkan polusi yang membahayakan.
3. Generasi ketiga
Penelitian agar harga fotovoltaik menjadi lebih murah selanjutnya
memunculkan teknologi generasi ketiga yaitu teknologi pembuatan fotovoltaik
dari bahan polimer atau disebut juga dengan fotovoltaik organik dan fotovoltaik
foto elektrokimia. Fotovoltaik organik dibuat dari bahan semikonduktor organik
seperti polyphenylene vinylene dan fullerene. Pada fotovoltaik generasi ketiga ini
foton yang datang tidak harus menghasilkan pasangan muatan seperti halnya
pada teknologi sebelumnya melainkan membangkitkan exciton. Exciton inilah
yang kemudian berdifusi pada dua permukaan bahan konduktor (yang biasanya
di rekatkan dengan organik semikonduktor berada di antara dua keping
18

konduktor) untuk menghasilkan pasangan muatan dan akhirnya menghasilkan
efek arus foto (photocurrent). Sedangkan fotovoltaik photokimia merupakan
jenis fotovoltaik exciton yang terdiri dari sebuah lapisan partikel nano (biasanya
titanium dioksida) yang di endapkan dalam sebuah perendam (dye). Teknologi
ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Graetzel pada tahun 1991 sehingga
jenis fotovoltaik ini sering juga disebut dengan Graetzel sel atau dye-sensitized
fotovoltaik (DSSC).
Graetzel sel ini dilengkapi dengan pasangan redoks yang diletakkan
dalam sebuah elektrolit (bisa berupa padat atau cairan). Komposisi penyusun
fotovoltaik seperti ini memungkinkan bahan baku pembuat Graetzel sel lebih
fleksibel dan bisa dibuat dengan metode yang sangat sederhana seperti screen
printing. Meskipun fotovoltaik generasi ketiga ini masih memiliki masalah besar
dalam hal efisiensi dan usia aktif sel yang masih terlalu singkat, fotovoltaik jenis
ini akan mampu memberi pengaruh besar dalam sepuluh tahun ke depan
mengingat harga dan proses pembuatannya yang akan sangat murah [10].
Dari ketiga generasi fotovoltaik yang telah dipaparkan diatas, untuk saat
ini fotovoltaik berteknologi CIGS memiliki keunggulan tersendiri. Berikut
perbandingan teknologi CIGS terhadap beberapa jenis fotovoltaik lainnya:
19


Gambar 2.9 Perbandingan beberapa teknologi fotovoltaik [12].
Fotovoltaik jenis ini umumnya memiliki efisiensi sebesar 20%, walaupun
secara teoritis dapat memiliki efisiensi sebesar 30%. Keuntungan penggunaan
CIGS untuk fotovoltaik adalah harga yang lebih murah dibandingkan dengan
fotovoltaik dengan bahan baku silikon. Hal ini disebabkan penggunaan lebih
sedikit material dan biaya pabrikasi yang berujung pada biaya manufaktur yang
lebih rendah. Selain itu, CIGS memiliki band-gap material langsung yang dapat
menyerap sebagian besar cahaya matahari walaupun ketebalan lapisan CIGS-nya
hanya 1-2 mikrometer. Film tipis berteknologi CIGS juga fleksibel, berbeda
dengan silicon wafer yang rigid, sehingga dapat diletakkan pada permukaan-
permukaan yang tidak datar. Dengan kata lain, teknologi CIGS memiliki harga
yang lebih murah untuk diproduksi dibandingkan teknologi silikon, dan
memiliki efisiensi lebih tinggi dibanding teknologi fotovoltaik organik [11].
2.2.6. Efek Perubahan Intensitas Cahaya Matahari
20

Apabila jumlah energi cahaya matahari yang diperoleh fotovoltaik
(photovoltaic) berkurang atau intensitas cahayanya melemah, maka besar tegangan
dan arus listrik yang dihasilkan juga akan menurun. Penurunan tegangan relatif lebih
kecil dibandingkan penurunan arus listriknya.

Gambar 2.10. Karakteristik perubahan intensitas matahari pada fotovoltaik [13].
Gambar 2.10. memperlihatkan perubahan arus dan tegangan dari fotovoltaik
(photovoltaic) apabila intensitas cahaya matahari yang diperoleh berubah-ubah
nilainya [13].
2.2.7. Pengaruh Bayangan dan Jenisnya
Idealnya, modul surya dipasang pada lokasi yang bebas dari bayangan.
Namun, sistem ini biasanya ditemukan di daerah perkotaan dan pinggiran kota dan
dipasang pada atap, di mana keberadaan bayangan kadang-kadang tak dapat
dihindari. Bayangan dapat mengurangi daya keluaran dari modul surya secara
signifikan dan idealnya harus dihindari. Olehnya itu, hal ini dibahas secara
21

mendalam, terutama pada pembahasan tentang sistem grid-connected (modul surya
untuk sistem stand-alone biasanya terletak di daerah pedesaan dan biasanya terletak
pada tanah yang tersedia cukup luas di sekitar bangunan, sehingga dapat terhindar
dari bayangan).
Permasalahan bayangan memiliki efek yang lebih besar pada keluaran modul
surya dibanding panas matahari. Hasil operasi yang diperoleh dari German 1000
Roofs programme menunjukkan bahwa partial shading disebabkan oleh keadaan
lokasi, diamati dari sekitar setengah dari keseluruhan sistem. Pada sebagian besar
sistem ini , keberadaan bayangan menyebabkan penurunan hasil tahunan antara 5
hingga 10 persen. Bayangan dapat diklasifikasikan sebagai bayangan sementara,
bayangan yang dihasilkan dari lokasi , bangunan atau yang disebabkan oleh sistem
itu sendiri (self - shading) [14].
1. Bayangan Sementara
Bayangan sementara secara umum meliputi beberapa faktor seperti salju,
daun, kotoran burung dan kotoran lain. Salju adalah faktor yang signifikan,
terutama di daerah pegunungan es. Debu dan asap polutan di daerah industri atau
daun jatuh di kawasan hutan juga faktor yang signifikan. Salju, asap polutan dan
daun tergolong sebagai penyebab bayangan pada modul surya. Efek ini akan
berkurang jika modul surya dapat bersih dengan sendirinya (yaitu jika hanyut
oleh aliran air hujan) . Sudut kemiringan 12 atau lebih biasanya cukup untuk
mencapai hal ini . Sudut kemiringan yang lebih besar meningkatkan kecepatan
aliran air hujan dan karenanya membantu untuk menghilangkan partikel
22

kotoran. Bayangan jenis ini dapat dikurangi dengan meningkatkan kemiringan
modul. Pembersihan sendiri yang baik memiliki peran penting bagi modul. Salju
di atas modul meleleh lebih cepat dari salju di sekitarnya, sehingga secara umum
bayangan hanya terjadi pada beberapa hari.

Gambar 2.11.a Bayangan sementara akibat kotoran hewan [15].

Gambar 2.11.b Bayangan sementara akibat salju [16].
2. Bayangan yang Diakibatkan Oleh Lokasi
Bayangan Yang Diakibatkan Oleh Lokasi mencakup semua bayangan
yang dihasilkan dari bangunan di sekitarnya. Bangunan yang dekat, pohon dan
bahkan gedung-gedung jauh yang tinggi dapat menaungi modul, atau setidaknya
23

menghasilkan bayangan horizontal. Harus diperhitungkan bahwa, karena
pertumbuhan pohon dan semak-semak , vegetasi mungkin telah menaungi modul
hanya setelah beberapa tahun . Kabel di atas bangunan juga berakibat negatif ,
meskipun kecil tapi merupakan bayangan bergerak yang.memiliki efek
signifikan.

Gambar 2.12 Bayangan disebabkan oleh pohon [17].
3. Bayangan yang Dihasilkan Dari Bangunan
Bayangan yang dihasilkan dari bangunan melibatkan bayangan langsung,
yang karenanya harus sangat diperhatikan. Perhatian khusus harus diberikan
pada cerobong asap , antena , konduktor petir , parabola, tonjolan pada atap dan
bagian depan gedung, struktur offset bangunan, superstruktur atap, dll. Beberapa
bayangan dapat dihindari dengan memindahkan modul atau benda yang
menyebabkan bayangan (misalnya antena) . Jika hal ini tidak mungkin , dampak
bayangan dapat diminimalkan dengan memperhitungkan hal tersebut dalam
memilih konfigurasi pengabelan sel-sel dan modul kabel serta dalam konsep
sistem.
24


Gambar 2.13 Contoh bayangan yang disebabkan oleh bangunan [18].

4. Bayangan disebabkan oleh sistem itu sendiri
Dengan sistem rack- mount , bayangan pada modul dapat disebabkan
oleh deretan modul di depan. Persyaratan ruang dan kerugian akibat bayangan
dapat diminimalkan melalui optimalisasi sudut kemiringan dan jarak antara baris
modul. Sebuah sistem perancangan yang buruk juga dapat menyebabkan
bayangan kecil pada pemasangan di atap yang miring.

25

Gambar 2.14 Bayangan disebabkan oleh modul surya yang lain [19].
5. Bayangan Langsung
Bayangan langsung secara khusus dapat menyebabkan kerugian energi
yang tinggi . Semakin dekat benda penghasil bayangan , semakin gelap pula
bayangan yang mencapai modul terkena inti bayangan (umbra) dan semakin
sedikit cahaya menyebar yang mencapai modul . Dengan demikian , bayangan
inti yang dihasilkan oleh benda yang dekat mengurangi energi pada sel sekitar 60
persen menjadi 80 persen , sementara partial shading (bayangan sebagian) hanya
dapat mengakibatkan pengurangan setengahnya. Semakin besar jarak ke benda
penghasil bayangan, semakin terang pula bayangan itu dan kerugian lebih sedikit
[14].

Gambar 2.15 Bayangan langsung pada fotovoltaik [20].
2.2.8. Efek Perubahan Temperatur pada Fotovoltaik
Temperatur juga mempengaruhi kinerja sel dan efisiensi fotovoltaik. Jika
fotovoltaik berada pada kondisi dingin maka akan menghasilkan daya yang lebih
26

besar. Karakteristik perubahan temperatur pada fotovoltaik diperlihatkan pada
gambar berikut:

Gambar 2.17. Karakteristik perubahan temperatur pada fotovoltaik
Pada umumnya ketika penyinaran pada sel adalah 1 kW/m2 temperatur sel
kira-kira 30
0
C lebih tinggi dari udara sekitar. Makin besar temperatur fotovoltaik
maka tegangan berkurang sekitar 0,0023 Volt/
0
C untuk teknologi kristal silikon atau
sekitar 0,0028 Volt/
0
C untuk teknologi film tipis (thin film). Daya listrik juga
mengalami penurunan sampai 0,5%/
0
C untuk teknologi kristal silikon atau sekitar
0,3%/
0
C untuk teknologi film tipis (thin film).
2.2.9. Pengaruh Hambatan Dalam Terhadap Karakteristik Fotovoltaik
0 5 10 15 20 25
0
2
4
6
8
10
12
14
Kurva Arus Tegangan
Tegangan
A
r
u
s


20 C
25 C
30 C
35 C
40 C
45 C
50 C
27

Pada rangkaian ekivalen fotovoltaik terdapat dua jenis hambatan dalam yaitu
hambatan seri (Rs) dan hambatan paralel (Rp). Pengaruh hambatan seri dan paralel
dapat dilihat pada kurva dibawah:
Gambar 2.12.b Pengaruh hambatan paralel terhadap perubahan kurva I-V [22].
Hambatan seri (Rs) pada fotovoltaik CIGS merupakan penjumlahan dari
R
ZnO:Al
(resistansi pada lapisan ZnO:Al), R
Mo
(resistansi pada lapisan Mo), R
d

(resistansi diskrit), R
c
(resistansi tambahan pada kontak ZnO:Al / Mo). Sedangkan
resistansi paralel diwakili oleh R
sh
(resistansi shunt) yang merupakan tahanan dalam
bahan CIGS. Hambatan seri (Rs) pada kurva I-V mengakibatkan penurunan bentuk
kurva pada tegangan hampir konstan, sedangkan hambatan paralel (Rp)
mengakibatkan penurunan bentuk kurva saat arus hampir konstan.
2.3 Matlab
2.3.1. Pengertian Matlab
28

Matlab adalah bahasa pemrograman dengan kemampuan tinggi dalam
bidang komputasi. Matlab memiliki kemampuan mengintegrasikan komputasi,
visualisasi, dan pemrograman. Oleh karenanya, matlab banyak digunakan dalam
bidang risetriset yang memerlukan komputasi numerik yang kompleks. Penggunaan
Matlab meliputi bidangbidang:
Matematika dan Komputasi
Pembentukan Algoritma
Akusisi Data
Pemodelan, simulasi, dan pembuatan prototype
Analisa data, explorasi, dan visualisasi
Grafik Keilmuan dan bidang Rekayasa
Matlab merupakan kepanjangan dari Matrix Laboratory. Sesuai dengan
namanya, struktur data yang terdapat dalam Matlab menggunakan matriks atau array
berdimensi dua (double). Oleh karenanya penguasaan teori matriks mutlak
diperlukan bagi pengguna pemula Matlab agar mudah dalam mempelajari dan
memahami operasioperasi yang ada di Matlab [23].