Anda di halaman 1dari 21

BAB III

SALINITAS AIR LAUT


3.1. Teori Asal-Usul Garam-Garam di laut
Mula-mula diperkirakan bahwa zat-zat kimia yang menyebabkan air laut asin berasal dari darat
yang dibawa oleh sungai-sungai yang mengalir ke laut, entah itu dari pengikisan batu-batuan
darat, dari tanah longsor, dari air hujan atau dari gejala alam lainnya, yang terbawa oleh air
sungai ke laut. Jika hal ini benar tentunya susunan kimiawi air sungai tidak akan berbeda
dengan susunan kimiawi air laut. Namun tabel 2 menunjukkan bahwa ada perbedaan besar
dalam susunan kimiawi kedua macam air tersebut. Jadi dugaan itu tidak benar. Lalu dari mana
sebenarnya asal garam-garam tersebut.
Menurut teori, zat-zat garam tersebut berasal dari dalam dasar laut melalui proses outgassing,
yakni rembesan dari kulit bumi di dasar laut yang berbentuk gas ke permukaan dasar laut.
Bersama gas-gas ini, terlarut pula hasil kikisan kerak bumi dan bersama-sama garam-garam ini
merembes pula air, semua dalam perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam di laut.
Kadar garam ini tetap tidak berubah sepanjang masa. Artinya kita tidak menjumpai bahwa air
laut makin lama makin asin.
Zat-zat yang terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas
dapat dibagi menjadi empat kelompok, yakni:
1. Konstituen utama : Cl, Na, SO4, dan Mg.
2. Gas terlarut : CO2, N2, dan O2.
3. Unsur Hara : Si, N, dan P.
4. Unsur Runut : I, Fe, Mn, Pb, dan Hg.
Konstituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya
0,3% terdiri dari ketiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini
sangat kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya
kepekatan zat-zat ini banyak ditentukan oleh aktivitas kehidupan di laut.
Selain zat-zat terlarut ini, air juga mengandung butiran-butiran halus dalam suspense. Sebagian
dari zat ini akhirnya terlarut, sebagian lagi mengendap ke dasar laut dan sisanya diurai oleh
bakteri menjadi zat-zat hara yang dimanfaatkan tumbuhan untuk fotosintesis.
Tabel 1. Perbedaan kandungan garam dan ion utama antara air laut dan air sungai
NAMA UNSUR % jumlah berat seluruh gram
AIR LAUT AIR SUNGAI
Klorida 55,04 5,68
Natrium 30,61 5,79
Sulfat 7,68 12,14
Magnesium 3,69 3,41
Kalsium 1,16 20,29
Kalium 1,10 2,12
Bikarbonat 0,41 -
Karbonat - 35,15
Brom 0,19 -
Asam borak 0,07 -
Strontium 0,04 -
Flour 0,00 -
Silika - 11,67
Oksida - 2,75
Nitrat - 0,90
Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-
partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti:
densitas, kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum)
beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat (viskositas, daya serap cahaya)
tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah
garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat
(8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari
bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di
laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal
(hydrothermal vents) di laut dalam.
Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap
kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu
penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu
klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion
klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini
mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida.
Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut
dalam satu kilogram air laut jika semua karbonat dirubah menjadi oksida, semua bromida dan
yodium dirubah menjadi klorida dan semua bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya
hubungan antara salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar
laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai:
S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)
Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding
dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut. Persamaan tahun 1902 di
atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal
ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang
digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO
memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan
salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan
rumus:
S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan hasil yang sama
dengan definisi sebelumnya.
Definisi salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran
konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu
satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai
rasio dari konduktivitas.
Salinitas praktis dari suatu sampel air laut ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K)
sampel air laut pada temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan
kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur dan
tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:
S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 - 7.0261 K2 + 2.7081 K5/2
Catatan:
Dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas dinyatakan sebagai rasio, maka satuan o/oo
tidak lagi berlaku, nilai 35o/oo berkaitan dengan nilai 35 dalam satuan praktis. Beberapa
oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam menuliskan harga salinitas, yang merupakan
singkatan dari "practical salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio, maka sebenarnya ia
tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya tidak mengandung makna
apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan yang ada saat ini, pengukuran harga
salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran konduktivitas.
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub)
rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah
subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di
permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di
kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah
secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan
lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).







Gambar 3. Typical temperature and salinity profiles in the open ocean.

3.2. Sebaran Salinitas di Laut
Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan,
curah hujan, aliran sungai. Perairan estuaria atau daerah sekitar kuala dapat mempunyai
struktur salinitas yang kompleks, karena selain merupakan pertemuan antara air tawar yang
relatif lebih ringan dan air laut yang lebih berat, juga pengadukan air sangat menentukan.
Beberapa kemungkinan ditunjukkan secara diagramatis pada gambar 1. Pertama adalah
perairan dengan stratifikasi salinitas yang sangat kuat, terjadi di mana air tawar merupakan
lapisan yang tipis di permukaan sedangkan di bawahnya terdapat air laut. Ini bisa ditemukan di
depan muara sungai yang alirannya kuat sedangkan pengaruh pasang-surut kecil. Nelayan
atau pelaut di pantai Sumatra yang dalam keadaan darurat kehabisan air tawar kadang-kadang
masih dapat menyiduk air tawar di lapisan tipis teratas dengan menggunakan piring, bila berada
di depan muara sungai besar.
Kedua, adalah perairan dengan stratifikasi sedang. Ini terjadi karena adanya gerak pasang-
surut yang menyebabkan terjadinya pengadukan pada kolom air hingga terjadi pertukaran air
secara vertikal. Di permukaan, air cenderung mengalir keluar sedangkan air laut merayap
masuk dari bawah. Antara keduanya terjadi percampuran. Akibatnya garis isohalin (=garis yang
menghubungkan salinitas yang sama) mempunyai arah yang condong ke luar. Keadaan
semacam ini juaga bisa dijumpai di beberapa perairan estuaria di Sumatra.
Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan di lapisan atas
hingga membentuk lapisan homogen kira-kira setebal 50-70 m atau lebih bergantung intensitas
pengadukan. Di perairan dangkal, lapisan homogen ini berlanjut sampai ke dasar. Di lapisan
dengan salinitas homogen, suhu juga biasanya homogen. Baru di bawahnya terdapat lapisan
pegat (discontinuity layer) dengan gradasi densitas yang tajam yang menghambat percampuran
antara lapisan di atas dan di bawahnya.
Di bawah lapisan homogen, sebaran salinitas tidak banyak lagi ditentukan oleh angin tetapi oleh
pola sirkulasi massa air di lapisan massa air di lapisan dalam. Gerakan massa air ini bisa
ditelusuri antara lain dengan mengakji sifat-sifat sebaran salinitas maksimum dan salinitas
minimum dengan metode inti (core layer method).
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub)
rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah
subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o 40oLU atau 23,5o 40oLS), salinitas di
permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di
kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah
secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan
lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).
3.3. Dinamika Salinitas di Daerah Estuaria
Estuaria adalah perairan muara sungai semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut,
sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar. Estuaria dapat
terjadi pada lembah-lembah sungai yang tergenang air laut, baik karena permukaan laut yang
naik (misalnya pada zaman es mencair) atau pun karena turunnya sebagian daratan oleh
sebab-sebab tektonis. Estuaria juga dapat terbentuk pada muara-muara sungai yang sebagian
terlindungi oleh beting pasir atau lumpur.
Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar akan menghasilkan suatu komunitas yang khas,
dengan lingkungan yang bervariasi, antara lain:
1. Tempat bertemunya arus air tawar dengan arus pasang-surut, yang berlawanan
menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi, pencampuran air, dan ciri-ciri fisika
lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya.
2. Pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu sifat fisika lingkungan khusus
yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun sifat air laut.
3. Perubahan yang terjadi akibat adanya pasang-surut mengharuskan komunitas mengadakan
penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya.
4. Tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasang-surut air laut, banyaknya
aliran air tawar dan arus-arus lainnya, serta topografi daerah estuaria tersebut.
3.4. Model Salinitas
Model Salinitas adalah suatu penggambaran atas kadar garam yang terdapat pada air, baik
kandungan atau perbedaannya sehingga untuk tiap daerah dimungkinkan terdapat perbedaan
model salinitasnya.
Perubahan salinitas dipengaruhi oleh pasang surut dan musim. Ke arah darat, salinitas muara
cenderung lebih rendah. Tetapi selama musim kemarau pada saat aliran air sungai berkurang,
air laut dapat masuk lebih jauh ke arah darat sehingga salinitas muara meningkat. Sebaliknya
pada musim hujan, air tawar mengalir dari sungai ke laut dalam jumlah yang lebih besar
sehingga salinitas air di muara menurun.
Perbedaan salinitas dapat mengakibatkan terjadinya lidah air tawar dan pergerakan massa di
muara. Perbedaan salinitas air laut dengan air sungai yang bertemu di muara menyebabkan
keduanya bercampur membentuk air payau. Karena kadar garam air laut lebih besar, maka air
laut cenderung bergerak di dasar perairan sedangkan air tawar di bagian permukaan. Keadaan
ini mengakibatkan terjadinya sirkulasi air di muara.
Aliran air tawar yang terjadi terus-menerus dari hulu sungai membawa mineral, bahan organik,
dan sedimen ke perairan muara. Di samping itu, unsur hara terangkut dari laut ke daerah muara
oleh adanya gerakan air akibat arus dan pasang surut. Unsur-unsur hara yang terbawa ke
muara merupakan bahan dasar yang diperlukan untuk fotosintesis yang menunjang
produktifitas perairan. Itulah sebabnya produktifitas muara melebihi produktifitas ekosistem laut
lepas dan perairan tawar. Lingkungan muara yang paling produktif di jumpai di daerah yang
ditumbuhi komunitas bakau.


BAB IV
DENSITAS AIR LAUT
Densitas merupakan salah satu parameter terpenting dalam mempelajari dinamika laut.
Perbedaan densitas yang kecil secara horisontal (misalnya akibat perbedaan pemanasan di
permukaan) dapat menghasilkan arus laut yang sangat kuat. Oleh karena itu penentuan
densitas merupakan hal yang sangat penting dalam oseanografi. Lambang yang digunakan
untuk menyatakan densitas adalah (rho).
Densitas air laut bergantung pada temperatur (T), salinitas (S) dan tekanan (p).
Kebergantungan ini dikenal sebagai persamaan keadaan air laut (Equation of State of Sea
Water):
= (T,S,p)
Penentuan dasar pertama dalam membuat persamaan di atas dilakukan oleh Knudsen dan
Ekman pada tahun 1902. Pada persamaan mereka, dinyatakan dalam g cm-3. Penentuan
dasar yang baru didasarkan pada data tekanan dan salinitas dengan kisaran yang lebih besar,
menghasilkan persamaan densitas baru yang dikenal sebagai Persamaan Keadaan
Internasional (The International Equation of State, 1980). Persamaan ini menggunakan
temperatur dalam oC, salinitas dari Skala Salinitas Praktis dan tekanan dalam dbar (1 dbar =
10.000 pascal = 10.000 N m-2). Densitas dalam persamaan ini dinyatakan dalam kg m-3. Jadi,
densitas dengan harga 1,025 g cm-3 dalam rumusan yang lama sama dengan densitas dengan
harga 1025 kg m-3 dalam Persamaan Keadaan Internasional.
Densitas bertambah dengan bertambahnya salinitas dan berkurangnya temperatur, kecuali
pada temperatur di bawah densitas maksimum. Densitas air laut terletak pada kisaran 1025 kg
m-3 sedangkan pada air tawar 1000 kg m-3. Para oseanografer biasanya menggunakan
lambang t (huruf Yunani sigma dengan subskrip t, dan dibaca sigma-t) untuk menyatakan
densitas air laut. dimana t = - 1000 dan biasanya tidak menggunakan satuan (seharusnya
menggunakan satuan yang sama dengan ). Densitas rata-rata air laut adalah t = 25. Aturan
praktis yang dapat kita gunakan untuk menentukan perubahan densitas adalah: t berubah
dengan nilai yang sama jika T berubah 1oC, S 0,1, dan p yang sebanding dengan perubahan
kedalaman 50 m.
Densitas maksimum terjadi di atas titik beku untuk salinitas di bawah 24,7 dan di bawah titik
beku untuk salinitas di atas 24,7. Hal ini mengakibatkan adanya konveksi panas.
S < 24.7 : air menjadi dingin hingga dicapai densitas maksimum, kemudian jika air permukaan
menjadi lebih ringan (ketika densitas maksimum telah terlewati) pendinginan terjadi hanya pada
lapisan campuran akibat angin (wind mixed layer) saja, dimana akhirnya terjadi pembekuan. Di
bagian kolam (basin) yang lebih dalam akan dipenuhi oleh air dengan densitas maksimum. S
> 24.7 : konveksi selalu terjadi di keseluruhan badan air. Pendinginan diperlambat akibat
adanya sejumlah besar energi panas (heat) yang tersimpan di dalam badan air. Hal ini terjadi
karena air mencapai titik bekunya sebelum densitas maksimum tercapai.
Seperti halnya pada temperatur, pada densitas juga dikenal parameter densitas potensial yang
didefinisikan sebagai densitas parsel air laut yang dibawa secara adiabatis ke level tekanan
referensi.
a. Tekanan dan Kedalaman Laut
Tekanan air laut bertambah terhadap kedalaman. Kedalaman air laut biasanya diukur dengan
menggunakan echo sounder atau CTD (Conductivity, Temperature, Depth). Kedalaman yang
diukur dengan menggunakan CTD didasarkan pada harga tekanan. Tekanan didefinisikan
sebagai gaya per satuan luas. Seperti telah disebutkan di atas, semakin ke dalam, tekanan air
laut akan semakin besar. Hal ini disebabkan oleh semakin besarnya gaya yang bekerja pada
lapisan yang lebih dalam. Satuan dari tekanan dalam cgs adalah dynes/cm2, sedangkan dalam
mks adalah Newton/m2. Satu Pascal sama dengan satu Newton/m2. Dalam oseanografi, satuan
tekanan yang digunakan adalah desibar (disingkat dbar), dimana 1 dbar = 10-1 bar = 105
dynes/cm2 = 104 Pascal.
Gaya akibat tekanan bekerja dari tekanan yang berbeda pada satu titik ke titik lainnya. Gaya ini
bekerja dari tekanan yang lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Di laut, gaya gravitasi yang
bekerja (ke arah bawah) akan diimbangi oleh gaya akibat adanya perbedaan tekanan tersebut
(ke arah atas), sehingga air yang bergerak ke bawah tidak akan mengalami percepatan. Tekanan
pada satu kedalaman bergantung pada massa air yang berada di atasnya. Persamaan yang
digunakan untuk mengukur harga kedalaman dari harga tekanan adalah persamaan hidrostatis,
yaitu dp=*g*dh, dimana dp=perubahan tekanan, =densitas air laut, g=percepatan gravitasi,
dan dh=perubahan kedalaman. Jadi, jika tekanan berubah sebesar 100 dbar, dengan harga
percepatan gravitasi g=9.8 m/det2 dan densitas air laut =1025 kg/m3, maka perubahan
kedalamannya adalah 99,55 meter. Variasi tekanan di laut berada pada kisaran nol (di
permukaan) hingga 10.000 dbar (di kedalaman paling dalam).

b. Sifat fisis air laut
Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-
garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis
utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.
1. Sifat Air Murni
Air murni jika dibandingkan dengan cairan lain (dengan komposisi yang sama), memiliki sifat
yang khas dan luar biasa (uncommon). Hal ini merupakan hasil dari struktur molekul air
(H2O), dimana atom-atom hidrogen yang membawa 1 muatan atom positif dan oksigen yang
membawa 2 muatan atom negatif membentuk sebuah molekul sedemikian rupa dimana
muatan-muatan atom tersebut tidak ternetralisir karena sudut yang terbentuk antara dua atom
hidrogen hanya sebesar 105o (kondisi netral akan terbentuk jika sudut yang terbentuk adalah
180o). Akibatnya, air murni memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Molekul air merupakan dipol elektrik, yang membentuk suatu kumpulan molekul (polimer)
dengan rata-rata 6 molekul pada temperatur 20oC. Oleh karena itu air bereaksi lebih lambat
(untuk berubah) daripada molekul-molekul individunya.
2. Air memiliki daya pisah yang luar biasa besar, akibatnya material terlarut akan memperbesar
daya hantar listrik air. Air murni memiliki daya hantar listrik yang relatif rendah, tetapi air laut
memiliki daya hantar antara air murni dan tembaga. Pada temperatur 20oC, daya hambat
(resistensi) air laut 1,3 kilometer (dengan kandungan garam 3,5%) sebanding dengan air murni 1
milimeter.
3. Sudut 105o dekat dengan sudut tetrahedron, yaitu struktur dengan 4 lengan yang keluar
dari atom pusat dengan sudut seragam (sebesar 109o28') . Akibatnya, atom oksigen di dalam air
berusaha untuk mendapatkan 4 atom hidrogen dalam suatu susunan tetrahedral. Ini disebut
sebagai ikatan hidrogen (hydrogen bond) yang membutuhkan energi ikat 10 hingga 100 kali
lebih kecil daripada ikatan-ikatan molekul sehingga air bersifat lebih fleksibel dalam reaksinya
merubah kondisi-kondisi kimiawi.
4. Tetrahedron memiliki sifat dasar jaringan yang lebih lebar dibanding susunan kumpulan
molekuler yang terdekat. Mereka membentuk kumpulan satu, dua, empat dan delapan molekul.
Pada temperatur tinggi kumpulan molekul satu dan dua lebih dominan; sementara itu dengan
turunnya temperatur, tandan (cluster) yang lebih besarlah yang akan dominan. Tandan yang
lebih besar mengisi ruang yang lebih kecil daripada jumlah molekul yang sama dengan tandan
yang lebih kecil. Akibatnya, kerapatan (densitas) air mencapai nilai maksimumnya pada
temperatur 4oC.
Ketika membeku, seluruh molekul air membentuk tetrahedron yang mengakibatkan adanya
ekspansi volume secara tiba-tiba, yaitu dengan berkurangnya densitas. Oleh karena itu, air pada
fasa padat jauh lebih ringan daripada air pada fasa cair, dimana hal ini merupakan sifat yang
jarang kita dapati. Akibatnya:
1. Es akan mengambang. Hal ini penting untuk kehidupan di danau air tawar, karena es
berperan sebagai penyekat terhadap pelepasan energi panas (heat) sehingga pembekuan air
dari permukaan hingga ke dasar tidak akan terjadi.
2. Densitas menurun secara cepat pada saat titik beku air tercapai. Ekspansi yang terjadi pada
saat membeku merupakan penyebab utama dalam pelapukan batuan.
3. Titik beku berkurang di bawah tekanan, akibatnya pencairan terjadi pada dasar glacier yang
memudahan terjadinya aliran glacier.
4. Rantai hidrogen putus di bawah tekanan, sehingga es di bawah tekanan akan menjadi plastis,
akibatnya daratan es di Antartika dan Artik mengalir melepaskan gunung es di bagian
terluarnya. Tanpa proses ini, maka semua air akan menjadi es di daerah kutub.
2. Salinitas
Seperti telah disebutkan di atas, air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut,
bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman
mempengaruhi sifat fisis air laut (densitas, kompresibilitas, titik beku, temperatur dimana
densitas menjadi maksimum) beberapa tingkat tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat
(viskositas, daya serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang
sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan
tekanan osmosis. Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%),
natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang
dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama
dari garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi
lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.
Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap
kilogram air laut. Secara praktis, untuk mengukur salinitas adalah susah, oleh karena itu
penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu
klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion
klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini
mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida.
Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut
dalam satu kilogram air laut jika semua karbonat dirubah menjadi oksida, semua bromida dan
yodium dirubah menjadi klorida dan semua bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya
hubungan antara salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar
laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai:
S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)
Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding
dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut.
Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas
sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam
sampel air yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969
UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas
dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan
rumus:
S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan hasil yang sama
dengan definisi sebelumnya.
Definisi salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran
konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu
satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio
dari konduktivitas. "Salinitas praktis dari suatu sampel air laut ditetapkan sebagai rasio dari
konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer
terhadap larutan kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada
temperatur dan tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:
S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 - 7.0261 K2 + 2.7081 K5/2
Sebagai catatan: dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas dinyatakan sebagai rasio,
maka satuan o/oo tidak lagi berlaku, nilai 35o/oo berkaitan dengan nilai 35 dalam satuan
praktis. Beberapa oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam menuliskan harga salinitas,
yang merupakan singkatan dari "practical salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio,
maka sebenarnya ia tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya tidak
mengandung makna apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan yang ada saat
ini, pengukuran harga salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran konduktivitas.
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga ke mendekati kutub)
rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah
subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS) salinitas di
permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di
kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah
secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan
lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan) ( lihat gambar).
3. Temperatur
Dalam oseanografi dikenal dua istilah untuk menentukan temperatur air laut yaitu temperatur
dan temperatur potensial. Temperatur adalah sifat termodinamis cairan karena aktivitas molekul
dan atom di dalam cairan tersebut. Semakin besar aktivitas (energi), semakin tinggi pula
temperaturnya. Temperatur menunjukkan kandungan energi panas. Energi panas dan
temperatur dihubungkan oleh energi panas spesifik. Energi panas spesifik sendiri secara
sederhana dapat diartikan sebagai jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan
temperatur dari satu satuan massa fluida sebesar 1o. Jika kandungan energi panas nol (tidak ada
aktivitas atom dan molekul dalam fluida) maka temperaturnya secara absolut juga nol (dalam
skala Kelvin). Jadi nol dalam skala Kelvin adalah suatu kondisi dimana sama sekali tidak ada
aktivitas atom dan molekul dalam suatu fluida. Temperatur air laut di permukaan ditentukan
oleh adanya pemanasan (heating) di daerah tropis dan pendinginan (cooling) di daerah lintang
tinggi. Kisaran harga temperatur di laut adalah -2o s.d. 35oC.
Tekanan di dalam laut akan bertambah dengan bertambahnya kedalaman. Sebuah parsel air
yang bergerak dari satu level tekanan ke level tekanan yang lain akan mengalami penekanan
(kompresi) atau pengembangan (ekspansi). Jika parsel air mengalamai penekanan secara
adiabatis (tanpa terjadi pertukaran energi panas), maka temperaturnya akan bertambah.
Sebaliknya, jika parsel air mengalami pengembangan (juga secara adiabatis), maka
temperaturnya akan berkurang. Perubahan temperatur yang terjadi akibat penekanan dan
pengembangan ini bukanlah nilai yang ingin kita cari, karena di dalamnya tidak terjadi
perubahan kandungan energi panas. Untuk itu, jika kita ingin membandingkan temperatur air
pada suatu level tekanan dengan level tekanan lainnya, efek penekanan dan pengembangan
adiabatik harus dihilangkan. Maka dari itu didefinisikanlah temperatur potensial, yaitu
temperatur dimana parsel air telah dipindahkan secara adiabatis ke level tekanan yang lain. Di
laut, biasanya digunakan permukaan laut sebagai tekanan referensi untuk temperatur potensial.
Jadi kita membandingkan harga temperatur pada level tekanan yang berbeda jika parsel air
telah dibawa, tanpa percampuran dan difusi, ke permukaan laut. Karena tekanan di atas
permukaan laut adalah yang terendah (jika dibandingkan dengan tekanan di kedalaman laut
yang lebih dalam), maka temperatur potensial (yang dihitung pada tekanan permukaan) akan
selalu lebih rendah daripada temperatur sebenarnya.
Satuan untuk temperatur dan temperatur potensial adalah derajat Celcius. Sementara itu, jika
temperatur akan digunakan untuk menghitung kandungan energi panas dan transpor energi
panas, harus digunakan satuan Kelvin. 0oC = 273,16K. Perubahan 1oC sama dengan perubahan
1K. Seperti telah disebutkan di atas, temperatur menunjukkan kandungan energi panas, dimana
energi panas dan temperatur dihubungkan melalui energi panas spesifik. Energi panas
persatuan volume dihitung dari harga temperatur menggunakan rumus Q = densitas*energi
panas specifik*temperatur (temperatur dalam satuan Kelvin). Jika tekanan tidak sama dengan
nol, perhitungan energi panas di lautan harus menggunakan temperatur potensial. Satuan untuk
energi panas (dalam mks) adalah Joule. Sementara itu, perubahan energi panas dinyatakan
dalam Watt (Joule/detik). Aliran (fluks) energi panas dinyatakan dalam Watt/meter2 (energi per
detik per satuan luas).

4. Konduktivitas
Konduktivitas air laut bergantung pada jumlah ion-ion terlarut per volumenya dan mobilitas ion-
ion tersebut. Satuannya adalah mS/cm (milli-Siemens per centimeter). Konduktivitas bertambah
dengan jumlah yang sama dengan bertambahnya salinitas sebesar 0,01, temperatur sebesar 0,01
dan kedalaman sebesar 20 meter. Secara umum, faktor yang paling dominan dalam perubahan
konduktivitas di laut adalah temperatur.
5. Densitas
Densitas merupakan salah satu parameter terpenting dalam mempelajari dinamika laut.
Perbedaan densitas yang kecil secara horisontal (misalnya akibat perbedaan pemanasan di
permukaan) dapat menghasilkan arus laut yang sangat kuat. Oleh karena itu penentuan densitas
merupakan hal yang sangat penting dalam oseanografi. Lambang yang digunakan untuk
menyatakan densitas adalah
Densitas air laut bergantung pada temperatur (T), salinitas (S) dan tekanan (p). Kebergantungan
ini dikenal sebagai persamaan keadaan air laut (Equation of State of Sea Water):
= (T,S,p)
Penentuan dasar pertama dalam membuat persamaan di atas dilakukan oleh Knudsen dan
Ekman pada tahun 1902. Pada persamaan mereka, dinyatakan dalam g cm-3. Penentuan dasar
yang baru didasarkan pada data tekanan dan salinitas dengan kisaran yang lebih besar,
menghasilkan persamaan densitas baru yang dikenal sebagai Persamaan Keadaan Internasional
(The International Equation of State, 1980). Persamaan ini menggunakan temperatur dalam oC,
salinitas dari Skala Salinitas Praktis dan tekanan dalam dbar (1 dbar = 10.000 pascal = 10.000 N
m-2). Densitas dalam persamaan ini dinyatakan dalam kg m-3. Jadi, densitas dengan harga
1,025 g cm-3 dalam rumusan yang lama sama dengan densitas dengan harga 1025 kg m-3
dalam Persamaan Keadaan Internasional.
Densitas bertambah dengan bertambahnya salinitas dan berkurangnya temperatur, kecuali pada
temperatur di bawah densitas maksimum. Densitas air laut terletak pada kisaran 1025 kg m-3
sedangkan pada air tawar 1000 kg m-3. Oseanografer biasanya menggunakan lambang t
(huruf Yunani sigma dengan subskrip t, dan dibaca sigma-t) untuk menyatakan densitas air laut.
dimana t = - 1000 dan biasanya tidak menggunakan satuan (seharusnya menggunakan
satuan yang sama dengan ). Densitas rata-rata air laut adalah t = 25 (lihat gambar). Aturan
praktis yang dapat kita gunakan untuk menentukan perubahan densitas adalah: t berubah
dengan nilai yang sama jika T berubah 1oC, S 0,1, dan p yang sebanding dengan perubahan
kedalaman 50 m.
Perlu diperhatikan bahwa densitas maksimum terjadi di atas titik beku untuk salinitas di bawah
24,7 dan di bawah titik beku untuk salinitas di atas 24,7. Hal ini mengakibatkan adanya konveksi
panas.
* S < 24.7: air menjadi dingin hingga dicapai densitas maksimum, kemudian jika air permukaan
menjadi lebih ringan (ketika densitas maksimum telah terlewati) pendinginan terjadi hanya pada
lapisan campuran akibat angin (wind mixed layer) saja, dimana akhirnya terjadi pembekuan. Di
bagian kolam (basin) yang lebih dalam akan dipenuhi oleh air dengan densitas maksimum.
* S > 24.7: konveksi selalu terjadi di keseluruhan badan air. Pendinginan diperlambat akibat
adanya sejumlah besar energi panas (heat) yang tersimpan di dalam badan air. Hal ini terjadi
karena air mencapai titik bekunya sebelum densitas maksimum tercapai.
c. Sirkulasi Laut
Sirkulasi laut adalah pergerakan massa air di laut. Sirkulasi laut di permukaan dibangkitkan oleh
stres angin yang bekerja di permukaan laut dan disebut sebagai sirkulasi laut yang dibangkitkan
oleh angin (wind driven ocean circulation). Selain itu, ada juga sirkulasi yang bukan dibangkitkan
oleh angin yang disebut sebagai sirkulasi termohalin (thermohaline circulation) dan sirkulasi
akibat pasang surut laut. Sirkulasi termohalin dibangkitkan oleh adanya perbedaan densitas air
laut. Istilah termohalin sendiri berasal dari dua kata yaitu thermo yang berarti temperatur dan
haline yang berarti salinitas. Penamaan ini diberikan karena densitas air laut sangat dipengaruhi
oleh temperatur dan salinitas. Sementara itu, sirkulasi laut akibat pasang surut laut disebabkan
oleh adanya perbedaan distribusi tinggi muka laut akibat adanya interaksi bumi, bulan dan
matahari.
Sirkulasi di permukaan membawa massa air laut yang hangat dari daerah tropis menuju ke
daerah kutub. Di sepanjang perjalanannya, energi panas yang dibawa oleh massa air yang
hangat tersebut akan dilepaskan ke atmosfer. Di daerah kutub, air menjadi lebih dingin pada
saat musim dingin sehingga terjadi proses sinking (turunnnya massa air dengan densitas yang
lebih besar ke kedalaman). Hal ini terjadi di Samudera Atlantik Utara dan sepanjang Antartika.
Air laut dari kedalaman secara perlahan-lahan akan kembali ke dekat permukaan dan dibawa
kembali ke daerah tropis, sehingga terbentuklah sebuah siklus pergerakan massa air yang
disebut Sabuk Sirkulasi Laut Global (Global Conveyor Belt). Semakin efisien siklus yang terjadi,
maka akan semakin banyak pula energi panas yang ditransfer dan iklim di bumi akan semakin
hangat.
Akibat bumi yang berotasi, maka aliran massa air (arus) yang terjadi akan dibelokkan ke arah
kanan di belahan bumi utara (BBU) dan ke kiri di belahan bumi selatan (BBS). Efek ini dikenal
sebagai gaya semu Coriolis. Pembelokkan ini menjadikan tinggi dan rendahnya elevasi muka
laut berbanding secara langsung dengan kecepatan arus permukaan. Perubahan elevasi muka
laut yang diakibatkan aliran massa air ini disebut sebagai topografi laut dan saat ini dapat
diamati dengan menggunakan satelit TOPEX/Poseidon. Dengan bantuan data dari satelit ini,
maka para ahli dapat memetakan pola arus laut global.
Variasi yang terjadi pada sirkulasi laut mengakibatkan variasi pada transpor energi panas dan
pola musim. Seperti diketahui bahwa laut memiliki peranan yang sangat penting dalam
mendsitribusikan energi panas dari daerah ekuator ke daerah kutub karena kemampuan air
untuk menyimpan energi panas dalam waktu yang sangat lama (bandingkan dengan tanah yang
cepat menjadi dingin ketika matahari sudah tidak menyinarinya lagi). Hal ini menjadi bagian
yang sangat vital dalam menentukan pola cuaca/iklim di bumi. Menurut penelitian yang
dilakukan di University of Bern dengan menggunakan model iklim dengan perata-rataan ke arah
zonal (zonally averaged climate model), pemanasan global yang terjadi saat ini akibat adanya
efek gas rumah kaca bisa merubah dan bahkan mematikan sabuk sirkluasi laut global (Stocker
and Schmittner, 1997). Pembahasan lebih rinci tentang hal ini dapat dilihat di bagian laut dan
iklim.
d. Angin
Angin (wind) adalah pergerakan masa udara yang disebabkan karena adanya perbedaan
tekanan dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Atau bisa dikatakan juga bahwa angin terjadi
karena adanya perbedaan suhu/temperatur yaitu angin bergerak dari temperatur rendah ke
temperatur tinggi.Meskipun pada kenyataan angin tidak dapat dilihat bagaimana wujudnya,
namun masih dapat diketahui keberadaannya melalui efek yang ditimbulkan pada benda
benda yang mendapat hembusan angin. Seperti ketika kita melihat dahan dahan pohon
bergerak atau bendera yang berkibar kita tahu bahwa ada angin yang berhembus. Dari mana
angin bertiup dan berapa kecepatannya dapat diketahui dengan menggunakan alat alat
pengukur angin. Alatalat pengukur angin tersebut adalah :
1. Anemometer, yaitu alat yang mengukur kecepatan angin.
2. Wind vane, yaitu alat untuk mengetahui arah angin.
3. Windsock, yaitu alat untuk mengetahui arah angin dan memperkirakan besar kecepatan
angin. Biasanya ditemukan di bandara bandara.
Selain dengan menggunakan alatalat pengukur angin, arah dan kecepatan angin juga dapat
diukur/diperkirakan dengan menggunakan tabel Skala Beaufort.

e. Gelombang
Gelombang selalu menimbulkan sebuah ayunan air yang bergerak tanpa henti-hentinya pada
lapisan permukaan laut dan jarang dalam keadaan sama sekali diam. Hembusan angin sepoi-
sepoi pada cuaca yang tenang sekalipun sudah cukup untuk dapat menimbulkan riak
gelombang. Sebaliknya dalam keadaan dimana terjadai badai yang besar dapat menimbulkan
suatu gelombang besar. Susunan gelombangdi laut baik bentuk maupun macamnya sangat
bervariasi dan kompleks, sehingga mengakibatkan mereka ini hamper tidak dapat diuraikan.
Bagian-bagian gelombang adalah:
a. Crest: titik tertinggi (puncak) gelombang
b. Trough: titik terendah (lembah) gelombang
c. Wave height: jarak vertikal antara crest dan trough
d. Panjang gelombang (wavelength): jarak berturut-turut antara dua buah crest atau dua buah
trough
e. Periode gelombang (wave period): waktu yang dibutuhkan crest untuk kembali pada titik
semula secara berturut-turut
f. Kemiringan gelombang (wave steepness): perbandingan antara panjang gelombang dengan
tinggi gelombang.
Angin yang bertiup diatas permukaan laut merupakan pembangkit utama gelombang. Bentuk
gelombang yang dihasilkan cenderung tidak tertentu dan tergantung pada bermacam-macam
sifat seperti tinggi, periode dimana daerah yang yang dibentuk. Kenyataanya gelombang
kebanyakan berjalan pada jarak yang luas, sehingga mereka bergerak makin jauh dari tempat
aslinya dan tidak lagi dipengaruhi langsung oleh angin, maka mereka akan berbentuk lebih
teratur. Bentuk ini dikenal sebagai swell.
Sifat-sifat gelombang dipengaruhi oleh tiga bentuk angin, yaitu:
a. Kecepatan angin. Umunya makin kencang angin yang bertiup maka besar gelombang yang
terbentuk dan gelombang ini mempunyai kecepatan yang tinggi dan panjang gelombang yang
besar. Tetapi gelombang yang terbentuk dengan cara ini puncaknya kurang curam dengan
dibandingkan dengan yang dibangkitkan oleh angin yang berkecepatan lebih lemah.
b. Waktu dimana angin sedang bertiup. Tinggi, kecepatan dan panjang gelombang seluruhnya
cenderung untuk meningkat sesuai dengan meningkatnya waktu pada saat angin pembangkit
gelombang mulai bertiup.
c. Jarak tanpa rintangan dimana angin sedang bertiup (fetch). Pentingnya fetch dapat
digambarkan dengan membandingkan gelombang yang terbentuk pada kolom air yang relative
kecil.
A. Kandungan Fisik Air Laut
Kandungan fisik dan kimia air laut merupakan akibat dari struktur atom air. Air merupakan
gabungan dari hydrogen dan oksigen yang berhubungan dengan covalen bond (covalen bond
hubungan antara 2 atom dalam molekul hasil pembagian dari electron). Covalen bond ada
ketika elemen membagi elektronnyake dalam bentuk campuran.di dalam air, hydrogen dan
oksigen berhubungan langsung dengan sudut 105.
Masing-masing atom hydrogen dan oksigen memiliki electron yang didistribusikan tidak sama,
dengan cara itulah masing-masing atom hydrogen bermuatan positif dan atom oksigen
bermuatan negative. Air yang bersifat positif dan negative secara bersama-sama memberikan
struktur molekul dipolar. Masing-masing sumbu positif (atom II) saling tarik menarik dan
membentuk hubungan yang lemah, sumbu negative (atom B) dimolekul lain.
Hubungan antara hydrogen ke atom oksigen disebut hydrogen bond. Karena merupakan
agregasi cairan, jika ada molekul yang lebih banyak yang dapat diindikasikan dari jumlah H2O,
jenis kandungan air terlihat tidak normal ketika dibandingkan dengan zat non polar seperti
methane (cha) atau hydrogen sulfide (H2S), karena adanya hydrogen bond, air mempunyai titik
didih (100 C) lebih tinggi dari yang diperkirakan.
B. Konduktifitas
Konduktifitas merupakan kapasitas dari air laut untuk memindahan arah aliran elektris dan
bergantung pada konsentrasi ion-ion dan kecepatannya. Muatan atom disebut ion. Ion-ion yang
lebih dalam setiap unit volume air. Teori kimia konduktifitas : ketika garam (sodium
klorida/UaCl) dilarutkan dalam air, ion klorida negative menarik hydrogen positif dalam molekul
air. Dengan cars ill,ion klorida atau klorit(Cl%) sebagai basis dapat ditentukan dengan rumus :
S%=1,8 X Cl%.
Salinitas ditentukan berdasarkan kandungan klorida agak akurat. Salininitas dari air laut akan
ditentukan pula denan arus listrik. Dengan arus listrik kita dapat mengetahui temperature dan
besarnya salinitas.
C. Salinitas
Salinitas adalah kandungan garam yang ada dilaut dan biasanya diperhitungkan sebagai jumlah
gram garam terlarut pada 1000 gram air laut.
Ahli ocenografi dari analisis intensif mereka berdasarkan air laut yang tenang dan terbuka dapat
diketahui bahwa setiap 1 kg air laut terdapat 35 gram kandungan garamnya. Konsentrasi ini
umumnya dinyatakan 35 bagian perseribu atau 35%. Salinitas dari lautan berfatiasi, mulai 33%
sampai 38% dengan rata-rata 35 %. Salinitas dari air laut yang luas tergantung pada perbedaan
antar evaporasi dan presipitasi, panjang dari aliran runoff, pembekuan dan es yang mencair.
Dalam area yang evaporasinya tinggi seperti laut merah salinitasnya mendekati mendekati
40%tapi didekat muara sungai biasanya hanya 20%. Pada umumnya salinitas yang tersebar
berada pada zone daerah kering.
Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan,
curah hujan dan aliran sungai. Perairan dengan tingkat curah hujan tinggi dan dipengaruhi oleh
aliran sungai memiliki salinitas yang rendah sedangkan perairan yang memiliki penguapan yang
tinggi, salinitas perairannya tinggi. Selain itu pola sirkulasi juga berperan dalam penyebaran
salinitas di suatu perairan.
Secara vertikal nilai salinitas air laut akan semakin besar dengan bertambahnya kedalaman. Di
perairan laut lepas, angin sangat menentukan penyebaran salinitas secara vertikal. Pengadukan
di dalam lapisan permukaan memungkinkan salinitas menjadi homogen. Terjadinya upwelling
yang mengangkat massa air bersalinitas tinggi di lapisan dalam juga mengakibatkan
meningkatnya salinitas permukaan perairan.
Sistem angin muson yang terjadi di wilayah Indonesia dapat berpengaruh terhadap sebaran
salinitas perairan, baik secara vertikal maupun secara horisontal. Secara horisontal berhubungan
dengan arus yang membawa massa air, sedangkan sebaran secara vertikal umumnya
disebabkan oleh tiupan angin yang mengakibatkan terjadinya gerakan air secara vertikal.
Menurut Wyrtki (1961), sistem angin muson menyebabkan terjadinya musim hujan dan panas
yang akhirnya berdampak terhadap variasi tahunan salinitas perairan. Perubahan musim
tersebut selanjutnya mengakibatkan terjadinya perubahan sirkulasi massa air yang bersalinitas
tinggi dengan massa air bersalinitas rendah. Interaksi antara sistem angin muson dengan faktor-
faktor yang lain, seperti run-off dari sungai, hujan, evaporasi, dan sirkulasi massa air dapat
mengakibatkan distribusi salinitas menjadi sangat bervariasi. Pengaruh sistem angin muson
terhadap sebaran salinitas pada beberapa bagian dari perairan Indonesia telah dikemukakan
oleh Wyrtki (1961). Pada Musim Timur terjadi penaikan massa air lapisan dalam (upwelling) yang
bersalinitas tinggi ke permukaan di Laut Banda bagian timur dan menpengaruhi sebaran
salinitas perairan. Selain itu juga di pengaruhi oleh arus yang membawa massa air yang
bersalinitas tinggi dari Lautan Pasifik yang masuk melalui Laut Halmahera dan Selat Torres. Di
Laut Flores, salinitas perairan rendah pada Musim Barat sebagai akibat dari pengaruh masuknya
massa air Laut Jawa, sedangkan pada Musim Timur, tingginya salinitas dari Laut Banda yang
masuk ke Laut Flores mengakibatkan meningkatnya salinitas Laut Flores. Laut Jawa memiliki
massa air dengan salinitas rendah yang diakibatkan oleh adanya run-off dari sungai-sungai
besar di P. Sumatra, P. Kalimantan, dan P. Jawa.

D. Suhu
Laut tropik memiliki massa air permukaan hangat yang disebabkan oleh adanya pemanasan
yang terjadi secara terus-menerus sepanjang tahun. Pemanasan tersebut mengakibatkan
terbentuknya stratifikasi di dalam kolom perairan yang disebabkan oleh adanya gradien suhu.
Berdasarkan gradien suhu secara vertikal di dalam kolom perairan, Wyrtki (1961) membagi
perairan menjadi 3 (tiga) lapisan, yaitu: a) lapisan homogen pada permukaan perairan atau
disebut juga lapisan permukaan tercampur; b) lapisan diskontinuitas atau biasa disebut lapisan
termoklin; c) lapisan di bawah termoklin dengan kondisi yang hampir homogen, dimana suhu
berkurang secara perlahan-lahan ke arah dasar perairan.
Menurut Lukas and Lindstrom (1991), kedalaman setiap lapisan di dalam kolom perairan dapat
diketahui dengan melihat perubahan gradien suhu dari permukaan sampai lapisan dalam.
Lapisan permukaan tercampur merupakan lapisan dengan gradien suhu tidak lebih dari 0,03
oC/m (Wyrtki, 1961), sedangkan kedalaman lapisan termoklin dalam suatu perairan didefinisikan
sebagai suatu kedalaman atau posisi dimana gradien suhu lebih dari 0,1 oC/m (Ross, 1970).
Suhu permukaan laut tergantung pada beberapa faktor, seperti presipitasi, evaporasi, kecepatan
angin, intensitas cahaya matahari, dan faktor-faktor fisika yang terjadi di dalam kolom perairan.
Presipitasi terjadi di laut melalui curah hujan yang dapat menurunkan suhu permukaan laut,
sedangkan evaporasi dapat meningkatkan suhu permukaan akibat adanya aliran bahang dari
udara ke lapisan permukaan perairan. Menurut McPhaden and Hayes (1991), evaporasi dapat
meningkatkan suhu kira-kira sebesar 0,1 oC pada lapisan permukaan hingga kedalaman 10 m
dan hanya kira-kira 0,12 oC pada kedalaman 10 75 m. Disamping itu Lukas and Lindstrom
(1991) mengatakan bahwa perubahan suhu permukaan laut sangat tergantung pada
termodinamika di lapisan permukaan tercampur. Daya gerak berupa adveksi vertikal, turbulensi,
aliran buoyancy, dan entrainment dapat mengakibatkan terjadinya perubahan pada lapisan
tercampur serta kandungan bahangnya. Menurut McPhaden and Hayes (1991), adveksi vertikal
dan entrainment dapat mengakibatkan perubahan terhadap kandungan bahang dan suhu pada
lapisan permukaan. Kedua faktor tersebut bila dikombinasi dengan faktor angin yang bekerja
pada suatu periode tertentu dapat mengakibatkan terjadinya upwelling. Upwelling
menyebabkan suhu lapisan permukaan tercampur menjadi lebih rendah. Pada umumnya
pergerakan massa air disebabkan oleh angin. Angin yang berhembus dengan kencang dapat
mengakibatkan terjadinya percampuran massa air pada lapisan atas yang mengakibatkan
sebaran suhu menjadi homogen.
Suhu juga dapat mempengaruhi fotosintesa di laut baik secara langsung maupun tidak
langsung. Pengaruh secara langsung yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia
enzimatik dalam proses fotosintesa. Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa
(Pmax), sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi
kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton (Tomascik et al., 1997 b).
Secara umum, laju fotosintesa fitoplankton meningkat dengan meningkatnya suhu perairan,
tetapi akan menurun secara drastis setelah mencapai suatu titik suhu tertentu. Hal ini
disebabkan karena setiap spesies fitoplankton selalu berdaptasi terhadap suatu kisaran suhu
tertentu.
Temperature adalah kekayaan yang penting dari air laut. Temperature dari air laut yang sangat
luas di dunia. Temperature dibawah permukaan yang sangat dalam, sirkulasi udara, turbelensi,
lokasi geografis dan jarak dari sumbu pusat panas adalah vulkanik. Pada umumnya temperature
air laut bervariasi mulai dibawah 5 C sampai 33% titik pembekuan dari air asin adalah 1,9C.
Lautan adalah pompa raksasa yang memindahkan panas dari ekuator menuju ke kutub. Panas
dari matahari bergerak dari lintang rendah ke lintang tinggi, dimana hal itu lepas dari atmosfer.
Pemindahan ini adalah efektif dipermukaan air dari lautan dengan keadaan yang hebat (sebagai
contoh aliran gulf ) yang bergerak dari daerah tropis yang panas ke daerah kutub). Kedalaman
air (7500 m) terdapat di lintang tinggi. Temperature dari lautan jatuh pada 3 zone, yaitu:
1. Permukaan (campuran) lapisan dimana pantulan rata-rata temperature pada lintang.
2. Kedalaman (bawah) lapisan yang memantul pada sumber air dilintang tinggi.
3. Thermodhine antara 100-1500 m. kedalamannya yang temperatunya berasal dari
pengurangan dari berbagai macam-macam bentuk dari nilai permukaan tinggi sampai nilai
kedalaman rendah.
Thermodine mengindikasikan pemindahan vertical dari permukaan air ke dalam kedalaman air
maupun perpindahan jalur air horizontal. Meskipun beberapa dari perpindahan ini terjadi
dengan difusi molekul, banyak dilahirkan diselesaikan dengan aliran pusat air kecil yang
membawa air vertical (Pencampuran salinitas maupun temperature dari garam Cua + dan Cl)
terbebas dari lainnya dan membawa hubungan dengan molekul air. Jika electron positif dan
negative terkandung oleh air, ion sodium positifdan ion klorida negative akan menarik muatan
elektroda yang berlawanan. Selama ion terus bergerak disekitar molekul air menuju elektroda
mereka menghasilkan gerakan elektrik air laut dapat digunakan untuk menentukan salinitas.

E. Densitas Air Laut
Distribusi densitas dalam perairan dapat dilihat melalui stratifikasi densitas secara vertikal di
dalam kolom perairan, dan perbedaan secara horisontal yang disebabkan oleh arus. Distribusi
densitas berhubungan dengan karakter arus dan daya tenggelam suatu massa air yang
berdensitas tinggi pada lapisan permukaan ke kedalaman tertentu. Densitas air laut tergantung
pada suhu dan salinitas serta semua proses yang mengakibatkan berubahnya suhu dan salinitas.
Densitas permukaan laut berkurang karena ada pemanasan, presipitasi, run off dari daratan
serta meningkat jika terjadi evaporasi dan menurunnya suhu permukaan.
Sebaran densitas secara vertikal ditentukan oleh proses percampuran dan pengangkatan massa
air. Penyebab utama dari proses tersebut adalah tiupan angin yang kuat. Lukas and Lindstrom
(1991), mengatakan bahwa pada tingkat kepercayaan 95 % terlihat adanya hubungan yang
positif antara densitas dan suhu dengan kecepatan angin, dimana ada kecenderungan
meningkatnya kedalaman lapisan tercampur akibat tiupan angin yang sangat kuat. Secara
umum densitas meningkat dengan meningkatnya salinitas, tekanan atau kedalaman, dan
menurunnya suhu.
F. Warna Air Laut
Warna air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari kandungan sedimen yang
dibawa oleh aliran sungai. Pada laut yang keruh, radiasi sinar matahari yang dibutuhkan untuk
proses fotosintesis tumbuhan laut akan kurang dibandingkan dengan air laut jernih. Pada
perairan laut yang dalam dan jernih, fotosintesis tumbuhan itu mencapai 200 meter, sedangkan
jika keruh hanya mencapai 15 40 meter. Laut yang jernih merupakan lingkungan yang baik
untuk tumbuhnya terumbu karang dari cangkang binatang koral.
Air laut juga menampakan warna yang berbeda-beda tergantung pada zat-zat organik maupun
anorganik yang ada.
Ada beberapa warna-warna air laut karena beberapa sebab:
a. Pada umumnya lautan berwarna biru, hal ini disebabkan oleh sinar matahari yang
bergelombang pendek (sinar biru) dipantulkan lebih banyak dari pada sinar lain.
b. Warna kuning, karena di dasarnya terdapat lumpur kuning, misalnya sungai kuning di Cina.
c. Warna hijau, karena adanya lumpur yang diendapkan dekat pantai yang memantulkan warna
hijau dan juga karena adanya planton-planton dalam jumlah besar.
d. Warna putih, karena permukaannya selalu tertutup es seperti di laut kutub utara dan selatan.
e. Warna ungu, karena adanya organisme kecil yang mengeluarkan sinar-sinar fosfor seperti di
laut ambon.
f. Warna hitam, karena di dasarnya terdapat lumpur hitam seperti di laut hitam
g. Warna merah, karena banyaknya binatang-binatang kecil berwarna merah yang terapung-
apung.








Sebaran salinitas dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan
(evaporasi), curah hujan (presipitasi) dan aliran sungai (run off) yang ada di sekitarnya
(Nontji, 1987). Salinitas di perairan samudera dapat berubah menjadi rendah dari kisaran
jika ada masukan air tawar yang cukup banyak dari sungaisungai yang besar atau bahkan
dapat mencapai nilai yang lebih tinggi bila tidak ada masukan air tawar dari daratan dan
penguapan di permukaan sangat tinggi (King, 1963). Perubahan salinitas di perairan bebas
( laut lepas) relatif kecil dibandingkan perairan pantai yang memiliki masukan massa air
tawar dari sungai (Laevastu and Hayes, 1981 dalamHarjoko, 1995).



Lalu mengapa kadar salinitas di setiap perairan berbeda, padahal kadar
garamnya tetap? Hal ini disebakan karena adanya distribusi salinitas di laut.
Distribusi ini terjadi secara vertical dan horizontal. Distribusi salinitas
dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu :
Pola sirkulasi air : membantu penyebaran salinitas
Penguapan (evaporasi) : semakin tinggi tingkat penguapan di daerah
tersebut, maka salinitasnya pun bertambah atau sebaliknya karena garam-garam
tersebut tertinggal di air contohnya di Laut Merah kadar salinitasnya mencapai
40
0
/00.
Curan hujan (presipitasi) : semakin tinggi tingkat curah hujan di daerah
tersebut, maka salinitasnya akan berkuran atau sebaliknya hal ini dikarenakan
terjadinya pengenceran oleh air hujan.
Aliran sungai di sekitar (run off) : semakin banyak aliran sungai yang
bermuara pada laut maka salinitasnya akan menurun dan sebaliknya.
Distribusi Salinitas Secara Horizontal
Distribusi salinitas secara horizontal yaitu semakin kearah lintang tinggi maka
salinitas juga akan bertambah tinggi. Maka dari itulah salinitas di daerah laut
tropis (daerah di sekitar khatulistiwa) lebih rendah daripada salinitas di laut
subtropis. Daerah yang memiliki salinitas paling tinggi berada pada daerah
lintang antara 30LU dan 30LS kemudian menurun ke arah lintang tinggi dan
khatulistiwa. Di perairan Indonesia yang termasuk iklim tropis, salinitas
meningkat dari arah barat ke timur dengan kisaran antara 30-35
o
/oo. Air
samudera yang memiliki salinitas lebih dari 34
o
/oo ditemukan di Laut Banda dan
Laut Arafuru yang diduga berasal dari Samudera Pasifik (Wyrtki,1961).
Sebaran salinitas secara horizontal tersebut terjadi karena faktor-faktor utama
yang telah disebutkan di atas, yaitu run off, presipitasi, evaporasi dan pola
sirkulasi air namun selain itu ada beberapa faktor lainnya yang ternyata
mempengaruhi distribusi secara horizontal yaitu angin dan topografi.
Presipitasi di daerah tropis lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya maka
terjadi pengenceran air laut yang menyebabkan rendahnya salinitas di daerah
tropis. Di Indonesia system angin munson sangat berpengaruh terhadap sebaran
salinitas baik secara vertical dan horizontal. Secara horizontal dikarenakan angin
munson mempengaruhi arus untuk bergerak dan arus akan membawa massa air.
Angin munson akan menyebabkan terjadinya musim hujan dan musim panas.
Perubahan musim inilah yang menyebabkan variasi tahunan salinitas perairan
seperti terjadinya perubahan sirkulasi massa air yang bersalinitas tinggi dengan
massa air bersalinitas rendah. Sedangkan topografi mempengaruhi salinitas
suatu wilayah perairan karena terkait dengan ada tidaknya limpasan air tawar
yang berasal dari sungai menuju muara. Akibatnya adanya limpasan (run off)
maka akan terjadi pengadukan yang berdampak pada pengenceran.
Distribusi salinitas secara vertical
Disribusi secara vertical terjadi dengan semakin bertambahnya kedalaman. Pola
distribusi vertikal menurut Ross (1970) dalam Rosmawati (2004), sebaran
menegak salinitas dibagi menjadi 3 lapisan yaitu lapisan tercampur dengan
ketebalan antara 50-100 m dimana salinitas hampir homogen , lapisan haloklin
yaitu lapisan dengan perubahan sangat besar dengan bertambahnya kedalaman
600-1000 m dimana lapisan tersebut dengan tegas memberikan nilai salinitas
minimum.
Angin sangat menentukan penyebaran salinitas secara vertical. Di Indonesia,
Sistem angin muson berpengaruh bagi sebaran salinitas perairan secara vertikan
maupun horizontal. Angin menyebabkan arus yang membawa massa air seperti
arus yang bersalinitas tinggi dari Lautan Pasifik yang masuk melalui Laut
Halmahera dan Selat Torres. Di Laut Flores, salinitas perairan rendah pada
Musim Barat sebagai akibat dari pengaruh masuknya massa air Laut Jawa,
sedangkan pada Musim Timur, tingginya salinitas dari Laut Banda yang masuk
ke Laut Flores mengakibatkan meningkatnya salinitas Laut Flores. Laut Jawa
memiliki massa air dengan salinitas rendah yang diakibatkan oleh adanya run-off
dari sungai-sungai besar di P. Sumatra, P. Kalimantan, dan P. Jawa
Faktor selain angin adalah pengadukan. Pengadukan dalam lapisan permukaan
seperti upwelling dapat memungkinkan salinitas menjadi homogen. Upwelling
mengangkat massa air dengan tingkat salinitas tinggi di lapisan dalam dan
mengakibatkan naiknya tingkat salinitas permukaan perairan