Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

SUHU TUBUH

OLEH
KELOMPOK 1
ANDI RYANSYAH (3415106799)
DEWI EKAWATI (3415106776) - Absent
LAILATUL FITRIYANI (3415106784)
WELMY MELATI P. (3415106767)



PENDIDIKAN BIOLOGI BILINGUAL
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2013


HASIL PENGAMATAN
1. Regulasi Suhu Tubuh Katak
Tabel 1. Hasil pengamatan regulasi suhu tubuh katak
Pengulangan
Suhu Tubuh Katak selama 5 Menit pada (
o
C)
Air Panas (41
o
C) Air Dingin (11
o
C) Air Ledeng (29
o
C)
1 42 24 24
2 43 22 29
3 43 20 34
4 43 14 30
5 43 14 30

2. Subjektivitas Reseptor Tubuh
Tabel 2. Hasil pengamatan subjektivitas reseptor tubuh

3. Keseimbangan pada Manusia
Tabel 3. Hasil pengamatan keseimbangan pada manusia
No. Perlakuan Setelah diberi perlakuan
1
Badan diputar searah jarum jam dengan
posisi kepala tegak
Badan terasa berputar ke arah
kiri
2
Badan diputar searah jarum jam dengan
posisi kepala menunduk
Badan terasa berputar ke arah
kiri
3
Badan diputar searah jarum jam dengan
kepala ditengadahkan ke belakang
Kepala terasa pusing, Badan
ingin jatuh ke arah kiri
4
Badan diputar searah jarum jam dengan
kepala dimiringkan ke kanan
Badan terasa berputar ke arah
kiri, Badan ingin jatuh ke
belakang ketika kepala
ditegakkan kembali





Jenis
Air
Tanggapan
Setelah tangan dikeluarkan dari
air
Saat tangan dimasukan ke dalam
air ledeng
Air
dingin
(tangan
kiri)
tangan terasa sakit, kaku, pegal,
nyeri
tangan menjadi tidak kaku dan
menjadi terasa lebih hangat
dibandingkan tangan kanan yang
berasal dari air panas
Air
hangat
(tangan
kanan)
tangan terasa hangat dan nyaman tangan terasa dingin
4. Keseimbangan pada Katak
Tabel 4. Hasil pengamatan keseimbangan pada katak
No. Perlakuan
Setelah diberi perlakuan
Cara berenang Cara Berjalan
1
Katak yang diletakan di atas
papan bedah diputar searah
jarum jam dan diangkat naik
turun sebanyak 10 x
Berenang ke arah
kanan menuju tepian
-
2
Otak katak ditusuk (sum-sum
tulang belakang)
Berenang ke arah kiri Melompat ke
arah kanan

PEMBAHASAN
1. Regulasi Suhu Tubuh Katak
Berdasarkan hasil pengamatan pengaturan suhu tubuh katak menunjukkan
bahwa suhu awal katak sebesar 36
o
C, dan ketika katak ditempatkan pada air
panas, air dingin, dan air ledeng maka suhu tubuh katak tersebut akan berubah
sesuai dengan suhu lingkungan.
Suhu pada air panas sebesar 41
o
C, sedangkan suhu tubuh katak sebesar
36
o
C. Katak akan menyesuaikan diri dengan menyeimbangkan suhu tubuh dengan
suhu lingkungan. Hal ini dapat diketahui dari perubahan suhu dari menit pertama
ke menit berikutnya dengan rata-rata suhu katak sebesar 42,8
o
C. Sedangkan pada
air dingin yang bersuhu 11
o
C suhu tubuh katak pun akan menyesuaikannya
dengan kisaran suhu rata-rata sebesar 18,8
o
C. Serta pada air ledeng yang bersuhu
29
o
C, katak akan menyesuaikan suhu tubuhnya menjadi 29,4
o
C. Hal ini berarti
bahwa katak akan menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu di lingkungan
tempat hidupnya. Menurut Puranik (2007) bahwa pengaturan suhu tubuh dan
pengaturan hormone pada vertebrata dipengaruhi oleh sistem kardiovaskuler. Pada
vertebrata yang berdarah panas, atau endoterm, suhu tubuh yang konstan akan
dipertahankan tanpa mengabaikan suhu lingkungan. Hal ini dilakukan sebagian
oleh pembuluh darah yang terletak tepat di bawah epidermis. Ketika suhu sekitar
dingin, pembuluh darah supervisial akan berkontraksi untuk mengalihkan darah
panas ke pembuluh darah yang lebih dalam. Ketika suhu hangat, pembuluh
supervisial akan melebar atau mengalami vasodilatasi sehingga dapat menyerap
panas dari lingkungan.
Menurut Ekert (1997) model klasifikasi termoregulasi pada hewan
didasarkan pada stabilitas suhu tubuh yang kemudian dibedakan menjadi dua,
yaitu homoiotermik, tetap mempertahankan suhu tubuh terhadap suhu lingkungan
yang berbeda. Poikiloterm merupakan kelompok hewan yang memiliki fluktuasi
suhu tubuh naik atau turun terhadap suhu lingkungan ketika air atau udara yang
bervariasi. Sering ectoterm memiliki rata-rata produksi metabolis panas rendah
dan konduksi panas dari lingkungan tinggi. Akibatnya panas yang berasal dari
metabolism tubuh akan cepat hilang dengan lingkungan yang lebih dingin. Oleh
karena itu, pertukaran panas dengan lingkungan jauh lebih penting daripada
produksi panas metabolik dalam menentukan suhu tubuh ektoterm itu.
Selain itu, kulit juga berfungsi sebagai pengatur suhu. Karena pada kulit
terdapat reseptor. Sel saraf akan menerima rangsang dari reseptor suhu dan
terlibat dalam pengaturan suhu tubuh. Sel saraf yang ada di hipotalamus
vertebrata dapat mendeteksi perubahan suhu pada tubuh. Pada tubuhnya terdapat
dua reseptor, yaitu reseptor panas yang dapat meningkatkan pembakarannya
ketika kulit dalam keadaan dingin, serta reseptor dingin.

2. Subjektivitas Reseptor Tubuh
Perubahan suhu lingkungan eksternal mempengaruhi tingkat penambahan
atau pengurangan panas antara tubuh dengan lingkungannya. Panas selalu
berpindah mengikuti penurunan gradien konsentrasinya, yaitu mengikuti
penurunan gradien termal dari daerah yang lebih panas ke yang lebih dingin
(Sherwood, 2001). Pada percobaan ini, tubuh menggunakan mekanisme
pemindahan panas berupa konduksi. Menurut Sherwood (2001), konduksi adalah
perpindahan panas antara benda-benda yang berbeda suhunya yang berkontak
langsung satu sama lain. Panas dikonduksikan lebih cepat dari permukaan tubuh
ke air sehingga air merupakan konduktor yang baik. Oleh sebab itu, pada
percobaan ini, konduktor yang digunakan adalah air.
Berdasarkan hasil percobaan, setelah tangan dikeluarkan dari dalam air
dingin, tangan menjadi terasa dingin, kaku dan nyeri. Menurut Amir (2012), rasa
nyeri timbul karena kulit tangan mempunyai reseptor nyeri, tepatnya di ujung
saraf bebas dan disebut nosiseptor. Awal timbulnya nyeri dimulai karena jaringan
mengalami kerusakan sebagai stimulus nosiseptor. Nosiseptor mengirimkan
informasi kerusakan jaringan kepada peripheral nervous system yang teraktivasi.
Informasi ini diteruskan kepada central nervous system di spinal cord level yang
sudah teraktivasi juga. Dari central nervous system di spinal cord level, informasi
ditransmisikan ke otak sebagai sinyal nyeri dan muncullah nyeri.
Selanjutnya, setelah tangan dikeluarkan di air dingin dan dimasukkan ke
dalam air ledeng, tangan menjadi terasa hangat. Hal tersebut terjadi karena adanya
perpindahan panas antara tanagan dengan air yang memiliki suhu yang saling
berbeda.
Lalu, pada percobaan setelah tangan dimasukkan ke dalam air hangat,
tangan menjadi terasa lebih hangat. Hal tersebut terjadi karena panas berpindah
mengikuti penurunan gradien termal dari benda yang lebih panas ke yang lebih
dingin oleh perpindahan dari molekul ke molekul. Sewaktu molekul-molekul
dengan panas yang berbeda saling bersentuhan satu sama lain, maka molekul yang
lebih panas dan bergerak cepat akan memacu molekul yang lebih dingin untuk
bergerak lebih cepat, sehingga molekul-molekul yang lebih dingin itu menjadi
lebih hangat. Molekul yang lebih dingin berasal dari kulit tangan. Sedangkan
molekul yang lebih panas berasal dari molekul air hangat. Dengan demikian,
tangan menjadi terasa lebih hangat.
Selanjutnya, setelah tangan dikeluarkan di air hangat dan dimasukkan ke
dalam air ledeng, tangan menjadi terasa dingin. Hal itu terjadi karena molekul
yang semula panas akan kehilangan sebagian energi termalnya sewaktu molekul
tersebut melambat dan menjadi dingin (Sherwood, 2001). Selain itu, penurunan
suhu pada kulit juga cenderung menghilangkan panas dari tubuh (Winslow, dkk,
1937).
Mekanisme tangan menjadi terasa hangat dan dingin setelah dimasukan ke
dalam air ledeng sama dengan mekanisme saat tangan terasa nyeri. Perbedaannya
terdapat pada reseptornya. Kulit mempunyai reseptor hangat yang disebut
Ruffini. Selain itu, kulit juga mempunyai reseptor dingin yang disebut End Krause
(Anonim, 2011).

3. Keseimbangan pada Manusia
Pada keseimbangan tubuh manusia, aparatus vestibularis merupakan
komponen khusus pada telinga dalam yang berperan memberikan informasi
penting untuk sensasi keseimbangan dan untuk koordinasi gerakan-gerakan kepala
dengan gerakan-gerakan mata dan postur tubuh. Aparatus vestibularis berfungsi
mendeteksi perubahan posisi dan gerakan kepala. Aparatus vestibularis terdiri
dari dua set struktur yang terletak di dalam tulang tempolaris di dekat koklea,
kanalis semisirkularis dan organ otolit, yaitu utrikulus dan sakulus. Di koklea,
semua komponen aparatus vestibularis mengandung endolimfe dan dikelilingi
oleh perilimfe (Sherwood, 2001). Kanalis semisirkularis berperan dalam
mendeteksi akselerasi, deselarisasi anguler atau rotasional kepala, misalnya ketika
memulai atau berhenti berputar, jungkir balik, atau memutar kepala. Akselerasi
atau deselerasi selama rotasi kepala ke segala arah menyebabkan pergerakan
endolimfe di salah satu kanalis semisirkularis (Sherwood, 2001).
Pada percobaan dengan perlakuan badan diputar searah jarum jam pada
posisi kepala tegak lurus dan menunduk, respon yang dihasilkan setelah badan
berhenti berputar yaitu badan terasa berputar ke arah kiri. Hal tersebut terjadi
karena ketika kepala mulai bergerak, saluran tulang dan bubungan sel rambut
yang terbenam dalam kupula bergerak mengikuti gerakan kepala. Akan tetapi,
cairan di dalam kanalis, yang tidak melekat ke tengkorak, mula-mula tidak ikut
bergerak sesuai arah rotasi, tetapi tertinggal di belakang karena adanya inersia
(kelembaman). Ketika endolimfe tertinggal saat kepala mulai berputar, endolimfe
yang terletak sebidang dengan gerakan kepala pada dasarnya bergeser dengan
arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala.
Gerakan cairan ini menyebabkan kupula condong ke arah yang berlawanan
dengan arah gerakan kepala, membengkokan rambut-rambut sensorik yang
terbenam didalamnya. Apabila gerakan kepala berlanjut dalam arah dan kecepatan
yang sama, endolimfe akan menyusul dan bergerak bersama dengan kepala,
sehingga rambut-rambut kembali ke posisi tegak mereka. Ketika kepala melambat
dan berhenti, endolimfe secara singkat melanjutkan diri bergerak searah dengan
rotasi kepala sementara kepala melambat untuk berhenti. Akibatnya kupula dan
rambut-rambutnya secara sementara membengkok sesuai dengan arah rotasi
semula. Hal tersebut menyebabkan badan terasa berputar dan tidak seimbang.
Pada percobaan dengan perlakuan badan diputar searah jarum jam pada
posisi kepala ditengadahkan ke belakang dan dimiringkan ke kanan, respon yang
dihasilkan setelah badan berhenti berputar yaitu kepala menjadi terasa pusing,
badan terasa berputar ke arah kiri dan ingin jatuh ke belakang. Menurut Sherwood
(2001), ketika kepala digerakan ke semua arah selain vertikal (yaitu, selain tegak
dan menunduk), rambut-rambut membengkok sesuai arah gerakan kepala karena
gaya gravitasi yang mendesak bagian atas lapisan gelatinosa yang berat. Di dalam
urtikulus tiap-tiap telinga, sebagian berkas sel rambut diorientasikan untuk
mengalami depolarisasi dan sebagian lagi mengalami hiperpolarisasi ketika kepala
berada dalam segala posisi selain tegak lurus. Dengan demikian, susunan saraf
pusat menerima pola-pola aktivitas saraf yang berlainan bergantung pada posisi
kepala dalam kaitannya dengan gravitasi. Oleh karena itu, gerakan tubuh menjadi
tidak seimbang yakni kepala menjadi terasa pusing, badan terasa berputar ke aarah
kiri dan badan ingin terjatuh setelah badan diputar searah jarum jam.
4. Keseimbangan pada Katak
Berdasarkan hasil pengamatan keseimbangan katak, setelah katak diberi
perlakuan berupa diputar searah jarum jam dan diangkat naik turun sebanyak 10
kali, katak memperlihatkan arah gerak berenang yaitu berenang menuju ke arah
kanan. Pergerakan katak tersebut dipengaruhi oleh kerja kanalis semisirkularis,
yang berperan sebagai pusat keseimbangan dan koordinasi gerakan kepala,
gerakan mata, dan postur tubuh.
Akselerasi atau deselerasi selama rotasi kepala ke segala arah
menyebabkan pergerakan cairan endolimfe di salah satu bidang kanalis
semisirkularis (Sherwood, 2001). Saat terjadi akselerasi, endolimfe akan bergerak
dengan arah berlawanan terhadap arah putaran. Cairan ini mendorong kupula
sehingga menyebabkan perubahan bentuk. Bila pemutaran dihentikan,
perlambatan akan menyebabkan pergeseran endolimfe searah dengan putaran, dan
kupula mengalami perubahan bentuk dalam arah berlawanan dengan arah sewaktu
akselerasi. Pergerakan kupula dengan arah berlawanan akan menghambat aktivitas
saraf (Ganong, 2008). Oleh karena itu, setelah katak diputar dan diangkat naik
turun sebanyak 10 kali. Kemudian, diletakan di dalam air, katak menunjukan arah
gerak berenang ke sebelah kanan menuju tepi.
Berdasarkan hasil pengamatan keseimbangan katak telah dilakukan
penusukan di sum-sum tulang belakang lalu di putar-putar diatas papan bedah,
kemudian di gerakkan naik turun dan selanjutnya dilepaskan di air untuk
mengetahui arah gerak katak. Arah gerak renang katak menuju ke arah kiri
sedangkan arah jalannya menuju ke arah kanan. Katak akan langsung meloncat
ketika hubungan saraf pada sum-sum tulang belakang diputus. Menurut Ekert
(1997), organ kesimbangan pada vertebrata ada pada membran labirin yang
berkembang dari anterior akhir dari garis lateral, terdiri atas sacculus dan utriculus
yang dikelilingi oleh tulang dan diisi oleh cairan khusus endolimfe. Di utriculus
terdapat kanalis semisirkularis yang merupakan pusat keseimbangan. Percepatan
akselerasi rotasi pada salah satu bidang kanalis semisirkularis tertentu akan
merangsang kristanya. Endolimfe, karena kelembabannya, akan bergeser kearah
yang berlawanan terhadap arag rotasi. Cairan ini mendorong kupula sehingga
menyebabkan perubahan bentuk. Jika telah tercapai kecepatan rotasi yang
konstan, cairan akan berputar dengan kecepatan yang sama dengan tubuh dan
posisi kupula kembali tegak. Apabila rotasi dihentikan, perlambatan akan
menyebabkan pergeseran endolimfe searah dengan rotasi dan kupula mengalami
perubahan bentuk dalam arah yang berlawanan dengan arah saat percepatan
(Ganong, 2008). Jadi ketika sum-sum tulang belakang pada katak diputus maka
katak akan segera meloncat dengan arah atau menuju ke tepi.



DAFTAR PUSTAKA
Amir, Darwin. 2012. Mekanisme Nyeri. repository.unand.ac.id/18408/
3/MEKANISME%20NYERI-2012.
Anonim. 2011. Indera Peraba. http://ps-lanjut.lab.gunadarma.ac.id/wp-
content/uploads/2011/03/Indera-Peraba2.pdf
Ekert. 1997. Animal physiology. United State of America: New York
Ganong, W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 22. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran
Guyton, Arthur C. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed 9.. Alih bahasa: Dr.
Petrus Andrianto. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG (52939)
Puranik, Prakash and Bhate, Asha. 2007. Animal Form and Function. Sarups
Sons: New Delhi
Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia. Alih bahasa: Santoso BI. Ed. ke-2.Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Winslow, C E.A., Herrington L.P., and Gagge A. P. 1937. Physiological
Reactions of Human Body to Varying Enviromental Temperatures. The
American Journal of Physiological, Vol. 120














LINK DAPUS LAIN :
Loram, Ian D. and Martin Lakie. 2002. Human Balancing of an Inverted
Pendulum: Position Control by Small, Ballistic-like, Throw and Catch
Movements. http://jp.physoc.org/content/540/3/1111.full.pdf+html: 540.3 (1111-
1124)
Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia. Alih bahasa: Santoso BI. Ed. ke-2.Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Winter, David A., et. al. 1990. Assesments of Balance Control in Human.
http://www.castonline.ilstu.edu/McCaw/hpr482/1848%20Winter%201990
%20balance.pdf : 16 (31-51)
http://link.springer.com/article/10.1007/BF01087485#page-2 Jurnal The
influence of climatic conditions on the heat balance of the human body
http://jp.physoc.org/content/480/Pt_2/395.full.pdf+html Stable human standing
with lower-limb muscle afferents providing the only sensory input
http://www.climateknowledge.org/heat_waves/Doc8002_Winslow_Temperature_
Physiology_AmJPhysiol_1937.pdf - Reaksi fisiologi tubuh pada suhu
lingkungan