Anda di halaman 1dari 6

SEJARAH BAHASA INDONESIA

Disusun oleh :

Nama : RIZKI AUDIA MINDASARI


NPM : 09 22 253
Semester : 1 (satu)
Kelas : c.1.10
Dosen : syamsul,S.S.MA

UNIVERSITAS BATURAJA
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tahun Akademik 2009/2010
ASAL USUL BAHASA INDONESIA

BAHASA adalah yang paling baik dalam menunjukkan identitas kultural suatu
bangsa.Dengan kata lain bahasa menunjukkan bangsa. Itu sebabnya penting bagi bangsa
Melanesia melestarikan sekitar 250 bahasa etnisnya dari arus besar dominasi ‘bahasa
Indonesia’. Sejauh mana dominasi itu? Apa dampaknya? Bagaimana proses historisnya?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penting sebagai upaya melestarikan identitas
bangsa Melanesia, yang selama ini ‘lebur’ dalam “NKRI” dan dalam banyak hal justru
mengalami Jawanisasi. Ini kontradiktif dengan gagasan Indonesia yang ber-Bhinneka
Tunggal Ika.

Dewasa ini, bangsa Melanesia menggunakan bahasa Indonesia, sebagaimana


bahasa ini adalah “bahasa pemersatu”, yang mendapat tempat utama dalam media
komunikasi formal, baik sebagai bahasa teks maupun lisan, disekolah, perkantoran dan
tentu saja pada media cetak dan elektronik.
Memang ada sisi baiknya, bahwa ‘bahasa Indonesia’ memainkan peran penting sebagai
“jembatan” komunikasi menerobos diversitas linguistik yang berbeda satu sama lain
(termasuk di Papua), dan memungkinkan para penuturnya menjangkau dunia pendidikan
modern. Namun mesti disadari pula akan sisi buruknya, terutama bahwa ‘bahasa
Indonesia’ menjadi dominan sehingga bahasa-bahasa lain keumgkinan akan tersisihkan.
Entah bahasa Batak, Jawa, Bali dan termasuk 250 bahasa etnis Melanesia di tanah Papua.
Padahal Bahasa Indonesia baru digunakan secara serius sejak 1950 di Papua oleh para
pendakwah dan pejabat kolonial dalam rangka ‘menyatukan’ wilayah Papua dengan
wilayah Hindia Belanda lainnya. Hal ini seiring dengan kebijakan diskriminasi kolonial
Belanda yang hanya memperbolehkan bahasa Belanda diajarkan pada garis keturunan
tertentu saja.

Apabila menenggok lebih jauh ke masa sebelumnya, maka bangsa Melanesia


sebenarnya belum cukup dikenal para nasionalis Indonesia, selain sebagai koloni Belanda
yang dalam banyak hal tidak terlibat langsung dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Diluar itu, wilayah ini cukup terisolir dari koloni Belanda di sebelah barat, kecuali
wilayah pesisir utara yang menjalin hubungan dagang tradisional dengan Maluku.
Selebihnya hanya bayang-bayang penjara besar - Boven Digul, di tengah sebagian besar
masyarakat yang masih hidup di zaman batu (Benedict Andersson: 2002)
Ini berarti bangsa Melanesia, tidak terlibat dalam beberapa proses sejarah penting, terkait
dengan penggunaan bahasa Indonesia. Pertama, saat bahasa Indonesia dipermaklumkan
sebagai bahasa persatuan pada Sumpah Pemuda 1928, tidak ada yang mewakili bangsa
Papua dalam peristiwa tersebut, kedua, saat bahasa Indonesia dianjurkan semasa
pendudukan Jepang untuk menggusur bahasa Belanda, hal itu tidak terjadi di Papua,
apalagi karena pertimbangan militer dan kondisi sosial politik waktu itu, Jepang membagi
Hindia Belanda menjadi tiga wilayah koloni terpisah, dan Papua berada dibawah
Angkatan Laut yang berpusat di Makasar, ketiga, saat bahasa Indonesia dipergunakan
sebagai wahana perlawanan menyerang kolonialisme yang dipuncaki proklamasi
kemerdekaan RI 1945, justru bangsa Papua belum ‘mengenal’ NKRI.
Dari tiga fakta ini, bisa dibilang bahasa Indonesia adalah produk historis yang dalam
prosesnya tidak sepenuhnya melibatkan bangsa Melanesia. Barulah pada tahun 1963
ketika Orde Lama mencanangkan operasi Trikora, dan disusul pelaksanaan Pepera semasa
Orde Baru tahun 1969 bahasa Indonesia mulai dijadikan ‘bahasa resmi’ di Papua.
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia yang sebagaimana disebutkan
dalam Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 36. Ia juga merupakan bahasa persatuan
bangsa Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Meski demikian, ia hanya sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang benar-benar
menggunakannya sebagai bahasa ibu karena dalam percakapan sehari-hari yang tidak
resmi masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing
sebagai bahasa ibu seperti bahasa Melayu pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dll. Untuk
sebagian besar lainnya bahasa Indonesia adalah bahasa kedua dan untuk taraf resmi
bahasa Indonesia adalah bahasa pertama.

Bahasa Indonesia ialah sebuah dialek bahasa Melayu yang menjadi bahasa resmi
Republik Indonesia Kata "Indonesia" berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu Indos
yang berarti "India" dan nesos yang berarti "pulau". Jadi kata Indonesia berarti kepulauan
India, atau kepulauan yang berada di wilayah India

Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1945.


Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan
kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan
asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari
bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres
Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, "jang dinamakan 'Bahasa
Indonesia' jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe
Riaoe', akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet
keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat
di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia
itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan
Indonesia". atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di
Medan, Sumatra Utara, "...bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar
bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam
masjarakat Indonesia".
Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa
Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip
dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa
Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru
dianggap "lahir" atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara
yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui
keberadaannya.
Fonologi dan tata bahasa dari bahasa Indonesia cukuplah mudah. Dasar-dasar yang
penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu beberapa
minggu. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan sebagai penghantar
pendidikan di perguruan-perguruan di Indonesia.
Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa
pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa
ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak
360).
Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda
pada tanggal 28 Oktober 1928. Di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta,
dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia
pascakemerdekaan. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, Jawa (yang sebenarnya
juga bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang
beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau.
Bahasa Melayu Riau dipilih sebagai bahasa persatuan Negara Republik Indonesia atas
beberapa pertimbangan sebagai berikut:
Jika bahasa Jawa digunakan, suku-suku bangsa atau puak lain di Republik Indonesia
akan merasa dijajah oleh suku Jawa yang merupakan puak (golongan) mayoritas di
Republik Indonesia.
Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari dibandingkan dengan bahasa Melayu Riau. Ada
tingkatan bahasa halus, biasa, dan kasar yang dipergunakan untuk orang yang berbeda
dari segi usia, derajat, ataupun pangkat. Bila pengguna kurang memahami budaya Jawa,
ia dapat menimbulkan kesan negatif yang lebih besar.
Bahasa Melayu Riau yang dipilih, dan bukan Bahasa Melayu Pontianak, atau
Banjarmasin, atau Samarinda, atau Maluku, atau Jakarta (Betawi), ataupun Kutai, dengan
pertimbangan pertama suku Melayu berasal dari Riau, Sultan Malaka yang terakhirpun
lari ke Riau selepas Malaka direbut oleh Portugis. Kedua, ia sebagai lingua franca,
Bahasa Melayu Riau yang paling sedikit terkena pengaruh misalnya dari bahasa
Tionghoa Hokkien, Tio Ciu, Ke, ataupun dari bahasa lainnya.
Pengguna bahasa Melayu bukan hanya terbatas di Republik Indonesia. Pada tahun 1945,
pengguna bahasa Melayu selain Republik Indonesia masih dijajah Inggris. Malaysia,
Brunei, dan Singapura masih dijajah Inggris. Pada saat itu, dengan menggunakan bahasa
Melayu sebagai bahasa persatuan, diharapkan di negara-negara kawasan seperti
Malaysia, Brunei, dan Singapura bisa ditumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme
negara-negara jiran di Asia Tenggara.
Dengan memilih Bahasa Melayu Riau, para pejuang kemerdekaan bersatu lagi seperti
pada masa Islam berkembang di Indonesia, namun kali ini dengan tujuan persatuan dan
kebangsaan.Bahasa Indonesia yang sudah dipilih ini kemudian distandardisasi
(dibakukan) lagi dengan nahu (tata bahasa), dan kamus baku juga diciptakan. Hal ini
sudah dilakukan pada zaman Penjajahan Jepang.

Pada umumnya orang mengetahui bahwa bahasa lndonesia yang sekarang berasal dari
bahasa Melayu. Istilah bahasa Melayu sendiri mengacu pada bahasa Melayu Riau, yaitu
bahasa Melayu yang diajarkan di sekolah-sekolah sebelum Perang Dunia II berkecamuk.
Beberapa bahasa daerah juga memberikan sumbangan kepada bahasa Indonesia, seperti
bahasa Jawa, Sunda, dan lain-lain. Bahkan, bahasa Indonesia juga mendapat sumbangan
dari bahasa Barat. Penerbitan buku di Leiden dengan judul European Loan Words in
Indonesian: A Checklist of Words of European Origin in Bahasa Indonesia and
Traditional Malay tahun 1983 mengingatkan tentang sumbangan bahasa-bahasa Barat
kepada bahasa Indonesia.“Apa sumbangan bahasa Melayu Riau terhadap bahasa
Indonesia? Akankah semua kata yang berada dalam kamus Melayu dimasukkan ke dalam
bahasa Indonesia? Bagaimana dengan tata bahasanya?” Penulis memperkirakan hal ini
sama dengan berbagai buku tentang gramatika bahasa Melayu yang juga dapat dianggap
membicarakan bahasa Indonesia. Kalau demikian jalan pikiran kita, maka kita hanya
mengganti nama saja, yaitu dari bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Akan tetapi,
cara seperti ini tentunya bukan satu-satunya jalan untuk melihat persoalan

Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia yang
digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal
penanggalan modern.

Kerajaan Sriwijaya (dari abad ke-7 Masehi) memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa
Melayu Kuno) sebagai bahasa kenegaraan. Hal ini diketahui dari empat prasasti berusia
berdekatan yang ditemukan di Sumatera bagian selatan peninggalan kerajaan itu. Pada
saat itu bahasa Melayu yang digunakan bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa
Sanskerta. Sebagai penguasa perdagangan di kepulauan ini (Nusantara), para
pedagangnya membuat orang-orang yang berniaga terpaksa menggunakan bahasa
Melayu, walaupun secara kurang sempurna. Hal ini melahirkan berbagai varian lokal dan
temporal, yang secara umum dinamakan bahasa Melayu Pasar oleh para peneliti.
Penemuan prasasti berbahasa Melayu Kuno di Jawa Tengah (berangka tahun abad ke-9)
dan di dekat Bogor (Prasasti Bogor) dari abad ke-10 menunjukkan adanya penyebaran
penggunaan bahasa ini di Pulau Jawa. Keping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat
Manila, Pulau Luzon, berangka tahun 900 Masehi juga menunjukkan keterkaitan wilayah
itu dengan Sriwijaya.

Kajian linguistik terhadap sejumlah teks menunjukkan bahwa paling sedikit terdapat dua
dialek bahasa Melayu Kuno yang digunakan pada masa yang berdekatan. Sayang sekali,
bahasa Melayu Kuno tidak meninggalkan catatan dalam bentuk kesusasteraan meskipun
laporan-laporan dari Tiongkok menyatakan bahwa Sriwijaya memiliki perguruan agama
Buddha yang bermutu.

Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap sebagai bentuk resmi bahasa Melayu
karena dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang kelak disebut sebagai bahasa Melayu
Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Jawa,
dan Semenanjung Malaya. Bentuk bahasa ini lebih halus, penuh sindiran, dan tidak
seekspresif Bahasa Melayu Pasar.[rujukan?]

Pada akhir abad ke-19 pemerintah kolonial Hindia-Belanda melihat bahwa bahasa Melayu
(Tinggi) dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi.
Promosi bahasa Melayu dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan
karya sastra dalam bahasa Melayu. Pada periode ini mulai terbentuklah "bahasa
Indonesia" yang secara perlahan terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.

Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa


pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa
ibu. Bahasa ibu masih menggunakan bahasa daerah yang jumlahnya mencapai 360
bahasa.

Pada pertengahan 1800-an, Alfred Russel Wallace menuliskan di bukunya Malay


Archipelago bahwa "penghuni Malaka telah memiliki suatu bahasa tersendiri yang
bersumber dari cara berbicara yang paling elegan dari negara-negara lain, sehingga
bahasa orang Melayu adalah yang paling indah, tepat, dan dipuji di seluruh dunia Timur.
Bahasa mereka adalah bahasa yang digunakan di seluruh Hindia Belanda."

Jan Huyghen van Linschoten di dalam bukunya Itinerario menuliskan bahwa "Malaka
adalah tempat berkumpulnya nelayan dari berbagai negara. Mereka lalu membuat sebuah
kota dan mengembangkan bahasa mereka sendiri, dengan mengambil kata-kata yang
terbaik dari segala bahasa di sekitar mereka. Kota Malaka, karena posisinya yang
menguntungkan, menjadi bandar yang utama di kawasan tenggara Asia, bahasanya yang
disebut dengan Melayu menjadi bahasa yang paling sopan dan paling pas di antara
bahasa-bahasa di Timur Jauh."

Pada awal abad ke-20, bahasa Melayu pecah menjadi dua. Di tahun 1901, Indonesia di
bawah Belanda mengadopsi ejaan Van Ophuijsen sedangkan pada tahun 1904 Malaysia di
bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson.[6]

Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa nasional pada saat Sumpah Pemuda
tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan
Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada
Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan bahwa : "Jika mengacu pada
masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua
bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu.
Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa
pergaulan atau bahasa persatuan."[7]

Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh


sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan
Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan
tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun
morfologi bahasa Indonesia.[8]