Anda di halaman 1dari 18

Sistem Informasi Geografis | 39

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam suatu pekerjaan SIG, terutama berkaiatan dengan sumberdaya
lahan, data data yang dibutuhkan terdiri dari :
1. Data spasial, yang meliputi :
a. Data raster, misalnya Foto Udara, Citra Satelit, Citra Radar, dan Peta Digital
b. Data vektor, misalnya Peta RBI, Peta Geologi, dan Peta Tentatif lainnya
2. Data atribut/ deskriptif, yang meliputi :
a. Data keterangan hasil sensus dan hasil pengamatan/ pengukuran di
lapangan.
b. Data dari berbagai sumber masukkan berupa teks, tabel, grafik, dan gambar
Data-data sebagaimana tersebut (spasial dan deskriptif) merupakan data-
data yang saling berkaitan satu sama lain dan digunakan sebagai bahan (data)
masukan SIG. Agar pekerjaan SIG memberikan hasil (output) yang terbaik
diperlukan beberapa persyaratan teknis data masukan, diantaranya adalah :
terbaru, lengkap, detil, akurat, mudah tersedia, murah, dan tersaji dalam format
yang mudah dibaca/ dianalisis. Agar data-data spasial (peta, foto udara, citra
radar, dan citra satelit) benar - benar dapat bermanfaat dalam suatu pekerjaan SIG
diperlukan teknik pembacaan dan penggalian data secara profesional melalui
teknik interpretasi. Interpretasi adalah teknik kajian data spasial secara sistematis
untuk mendapatkan arti penting dari kenampakan obyek yang tergambar dari
Sistem Informasi Geografis | 40

suatu data spasial. Ada dua cara interpretasi yang umum dilakukan, yaitu :
interpretasi visual atau manual, dan interpretasi numerik atau digital.


B. Tujuan Praktikum
Melakukan digitasi on-screen pada citra sesuai dengan peruntukan citra

C. Manfaat Praktikum
Praktikum ini mempunyai manfaat terhadap mahasiswa agroteknologi agar
dapat melakukan digitasi on-screen pada citra sesuai dengan peruntukan citra












Sistem Informasi Geografis | 41

II. TINJAUAN PUSTAKA
Digitasi pada layar monitor (on screen digitation) adalah teknik pengubahan
data analog menjadi data digital yang paling umum dan paling sering dipraktikkan
dalam pekerjaan SIG. Digitasi on screen lebih diminati dalam pekerjaan SIG
karena tidak memerlukan digitizer yang mahal dan hasilnya dapat diedit atau
dianalisa secara langsung dalam satu kali pekerjaan. Program yang umum
digunakan untuk digitasi on screen adalah Arc View, Map Info, IDRISI,
Arc_Map, Arc_GIS, dan sebagainya. Interpretasi visual dapat dilakukan
menggunakan tampilan citra /foto udara dalam format simpanan *.bil; *.tif; dan
*.jpg yang dilakukan menggunakan software Arc View. Sedangkan interpretasi
secara digital dilakukan melalui klasifikasi multispektral secara supervised dan
unsupervised pada citra / foto udara digital dalam format *.ers menggunakan
software ER Mapper.
Hasil interpretasi citra dan foto udara kemudian disimpan secara digital
pada folder terpisah dari sumber datanya dengan nama file yang sederhana, jelas
dan mudah diingat, misalnya : C/data hasil interpretasi /lereng.bil. Seluruh data
hasil interpretasi disimpan dalam format yang bisa dibaca menggunakan software
Arc View, miaslnya *.bil atau *tif (GEOTiff). Selanjutnya citra / foto udara yang
telah diinterpretasi tersebut digunakan sebagai dasar (backgroud) pembuatan peta
digital menggunakan Arc View.
Keberhasilan dalam interpretasi citra atau foto sangat ditentukan oleh
beberapa faktor, diantaranya : (a) tingkat kemampuan dan pengalaman interpreter;
Sistem Informasi Geografis | 42

(b) sifat obyek yang diinterpretasi; (c) kualitas citra atau foto yang digunakan; (d)
kelengkapan alat interpretasi dan data pendukung yang tersedia. Mengingat setiap
obyek yang terekam pada suatu lembar citra atau foto memiliki karakteristik yang
berbeda-beda dan memberikan respon spektral yang bervariasi, maka pengenalan
karakteristik obyek secara individual atau kelompok sangat diperlukan. Sifat khas
obyek yang diinterpretasi tersebut inilah yang sering digunakan dalam kegiatan
interpretasi citra atau foto, terutama interpretasi citra atau foto menggunakan
teknik kunci interpretasi secara langsung (directkeys interpretation).















Sistem Informasi Geografis | 43

III. METODE PRAKTIKUM
A. Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Sistem Informasi Geografis pada
tanggal 8 April 2014


B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan yaitu
1. Seperangkat komputer
2. Software SIG, dan
3. Citra yang telah diklasifikasi

C. Cara Kerja
1. Menjalankan program ARC View dengan mengklik ikon yang ada di desktop
2. Memanggil atau mengunggah citra yang telah diklasifikasi pada acara 2
melalui tombol Add Theme yang ada pada tool bar
3. Mengatur properti tampilan untuk unit jarak dan jarak peta secara berurutan
menjadi meter dan kilometer
4. Membuat tema polygon baru melalui menu New Theme pada menu bar
Sistem Informasi Geografis | 44

5. Membuat bidang persegi empat di sekaliling citra yang hendak di digitasi
dengan menggunakan ikon pada tool bar
6. Mendigitasi citra sesuai dengan klasifikasi yang telah di tentukan
7. Menyimpan hasil digitasi kedalam dua file yakni Project (*.apr) dan Shape File
(*.shp) pada folder yang sesuai.


















Sistem Informasi Geografis | 45

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

B. Pembahasan
Digitasi pada layar monitor (on screen digitation) adalah teknik
pengubahan data analog menjadi data digital yang paling umum dan paling sering
dipraktikkan dalam pekerjaan SIG. Digitasi on screen lebih diminati dalam
Sistem Informasi Geografis | 46

pekerjaan SIG karena tidak memerlukan digitizer yang mahal dan hasilnya dapat
diedit atau dianalisa secara langsung dalam satu kali pekerjaan. Program yang
umum digunakan untuk digitasi on screen adalah Arc View, Map Info, IDRISI,
Arc_Map, Arc_GIS, dan sebagainya. Interpretasi visual dapat dilakukan
menggunakan tampilan citra /foto udara dalam format simpanan *.bil; *.tif; dan
*.jpg yang dilakukan menggunakan software Arc View. Sedangkan interpretasi
secara digital dilakukan melalui klasifikasi multispektral secara supervised dan
unsupervised pada citra / foto udara digital dalam format *.ers menggunakan
software ER Mapper.
Hasil interpretasi citra dan foto udara kemudian disimpan secara digital
pada folder terpisah dari sumber datanya dengan nama file yang sederhana, jelas
dan mudah diingat, misalnya : C/data hasil interpretasi /lereng.bil. Seluruh data
hasil interpretasi disimpan dalam format yang bisa dibaca menggunakan software
Arc View, miaslnya *.bil atau *tif (GEOTiff). Selanjutnya citra / foto udara yang
telah diinterpretasi tersebut digunakan sebagai dasar (backgroud) pembuatan peta
digital menggunakan Arc View.
Keberhasilan dalam interpretasi citra atau foto sangat ditentukan oleh
beberapa faktor, diantaranya :
(a) tingkat kemampuan dan pengalaman interpreter
(b) sifat obyek yang diinterpretasi
(c) kualitas citra atau foto yang digunakan
(d) kelengkapan alat interpretasi dan data pendukung yang tersedia.
Sistem Informasi Geografis | 47

Mengingat setiap obyek yang terekam pada suatu lembar citra atau foto
memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan memberikan respon spektral yang
bervariasi, maka pengenalan karakteristik obyek secara individual atau kelompok
sangat diperlukan. Sifat khas obyek yang diinterpretasi tersebut inilah yang sering
digunakan dalam kegiatan interpretasi citra atau foto, terutama interpretasi citra
atau foto menggunakan teknik kunci interpretasi secara langsung (directkeys
interpretation).
Interpretasi Numerik / Digital
Teknik interpretasi secara digital hanya bisa dilaksanakan bila data yang
tersedia adalah citra atau foto udara digital. Sejalan dengan perkembangan
teknologi komputer dewasa ini, interpretasi citra saat ini lebih sering dilakukan
secara digital menggunakan software pengolah citra yang diintegrasikan dengan
sistem informasi geografis (Geographic Information System). Beberapa software
yang biasa digunakan dalam pengolahan citra (terutama citra satelit) dan GIS di
Indonesia antara lain : ErMapper (ESRI), Erdas Imagine (ArcGIS) dan Leica
Photogrammetry; Geographic Resources Analysis Support System/ GRASS), Map
Info, Arc Info, dan Arc View. Berbeda dengan interpretasi visual, pada teknik
interpretasi secara digital ini semua kenampakan obyek yang terekam pada foto
udara atau citra satelit akan diklasifikasikan secara otomatis berdasarkan range
pantulan spektralnya. Misalkan, obyek-obyek dengan pantulan spektral antara 0
20 dikelaskan sebagai obyek air (laut, sungai, rawa), 21 50 sebagai lahan basah/
lembab (sawah, daerah sekitar badan air (rawa, pasangsurut, pantai), 51-80
sebagai lahan bervegetasi lebat (hutan), 81-110 sebagai semak belukar, 111-140
Sistem Informasi Geografis | 48

sebagai lahan perkebunan dan kebun campur, 141-170 sebagai tegalan dan kebun,
171-200 sebagai lahan pekarangan permukiman, 201-230 sebagai tanah terbuka
atau tanah tandus, dan 231-266 sebagai bangunan rumah dan perkantoran/
sekolahan. Karena teknik interpretasi secara digital ini pada prinsipnyamerupakan
pengklasifikasian nilai pantulan spektral obyek yang terekam pada foto udara atau
citra, maka teknik ini dikenal dengan nama teknik klasifikasi spektral. Ada dua
teknik klasifikasi spektral (multispektral), yaitu teknik klasifikasi terbimbing
(supervised classification) dan teknik klasifikasi tidak terbimbing (unsupervised
classification). Untuk keperluan interpretasi secara digital ini digunakan program
ER Mapper (ESRI). Klasifikasi terbimbing didasarkan kepada kelompok pixel
yang telah dikenali dengan baik sebagai obyek tertentu yang digunakan sebagai
area sampel (training area). Klasifikasi tidak terselia dilakukan secara langsung
(otomatis) tanpa menggunakan daerah sampel (training area). Beberapa metode
klasifikasi terselia yang biasa dipraktikkan dalam interpretasi citra, meliputi :
(a) Jarak minimum terhadap rerata (minimum distance to mean algorith)
(b) Algorithma parallelepiped (box classification algorithm)
(c) Algoritma kemiripan maksimum (maximum likelihood algorithm), dan
(d) Algoritma tetangga terdekat (K-nearest neighbour algorithm).
Pemasukan Data Spasial
Pada prinsipnya ada dua macam teknik pemasukan data spasial, yaitu
melalui teknik digitasi dan teknik penyiaman.


Sistem Informasi Geografis | 49

1. Digitasi
Digitasi adalah proses pengubahan (konversi) data analog (berupa data
cetak, atau tampilan citra/ foto) menjadi data digital pada suatu koordinat X, Y.
Ada dua metode digitasi, yaitu (a) digitasi manual, penelusuran batas poligon atau
kumpulan pixel terklasifiasi pada lembar cetak (hardcopy) menggunakan alat
digitizer atau menggunakan rapidograph; (b) digitasi pada layar monitor,
penelusuran citra atau peta yang ditayangkan pada layar monitor. Digitasi secara
manual dilakukan dengan menempatkan citra, foto udara atau peta tercetak
sedemikian rupa pada papan digitizer, kemudian menggunakan mouse digitizer
dilakukan perunutan garis atau poligon sesuai instruksi dari program (Arc_Info)
yang digunakan pada digitizer tersebut. Digitasi secara manual menggunakan
rapidograph atau spidol permanen merupakan cara digitasi peta atau citra yang
paling sederhana, yaitu melalui cara penindasan (pengeblakan) gambar pada
kertas kalkir atau plastik transparan. Digitasi cara ini tidak menghasilkan data
digital, tetapi tetap sebagai data analog, oleh karenanya tidak termasuk dalam cara
digitasi yang sebenarnya. Namun demikian, apabila hasil pengeblakan tersebut
kemudian disiam menggunakan scanner, maka datanya dapat digunakan sebagai
latar belakang (background) pada proses digitasi pada layar (on screen digitation).
Digitasi pada layar monitor (on screen digitation) adalah teknik pengubahan data
analog menjadi data digital yang paling umum dan paling sering dipraktikkan
dalam pekerjaan SIG. Digitasi on screen lebih diminati dalam pekerjaan SIG
karena tidak memerlukan digitizer yang mahal dan hasilnya dapat diedit atau
dianalisa secara langsung dalam satu kali pekerjaan. Program yang umum
Sistem Informasi Geografis | 50

digunakan untuk digitasi on screen adalah Arc View, Map Info, IDRISI,
Arc_Map, Arc_GIS, dan sebagainya. Data citra atau peta yang akan didigitasi
umumnya merupakan data citra atau peta yang sudah diinterpretasi secara visual/
manual dan disimpan dalam format digital (*.Jpg, *.Tiff, *.BIL, dan *.ers). Untuk
mendapatkan data peta atau citra dalam format digital dilakukan dengan cara kopi
data digital langsung dalam bentuk dan format yang sama, atau menggunakan
scanner (penyiam) untuk data peta/ citra dalam bentuk analog (cetak).
2. Penyiaman (Scanning)
Scanning (penyiaman) adalah proses pengubahan data garfis tercetak
(analog) menjadi data grafis digital menggunakan sensor optik elektronik secara
parsial. Data yang didapat disimpan dalam format yang dapat dibaca oleh program
SIG, misalnya : file. Tiff dan atau file.jpg. Untuk menghasilkan data grafis yang
berkualitas, maka penyiaman dilakukan pada resolusi lebih besar dari 200 x 200
dpi.
Pemasukan Data Atribut
Dalam SIG, data atribut atau data deskripsi merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari data spasial dan merupakan bagian penting dari data geografi.
Data atribut dapat dikaegorikan dalam 4 macam, yaitu : (1) data nominal,
menyangkut macam atau jenis data geografis, seperti sawah, tegalan, pinus,
lapangan, sungai, jalann, dan sebagainya; (2) data ordinal, menyangkut urut-
urutan atau ranking dari data geografis seperti jalan negara, jalan propinsi, jalan
kabupaten, jalan kecamatan/ desa, jalan setapak; (3) data interval, menyangkut
tingkatan obyek dalam kaitannya dengan sifat-sifat alam, seperti lereng 0-3%, 3-
Sistem Informasi Geografis | 51

8%, 8-15%, 15-25%, 25-40% dan 40%; dan (4) data rasio, yaitu perbandingan
obyek dengan obyek lain yang sejenis dalam hal luas, besar, tinggi, kedalaman,
kelembaban, warna, maupun kandungan mineral. Secara umum setiap program
SIG memiliki fasilitas pemasukan data deskriptip atau data atribut secara otomatis
pada setiap pekerjaan pengolahan data spasial. Pada program ER Mapper data
atribut suatu citra dapat ditayangkan dan diedit secara otomatis melalui fungsi-
fungsi algoritma. Dengan fasilitas tersebut user dapat mengetahui, menampilkan
dan mengedit data atribut dari citra yang diolah, seperti koordinat geografis/
UTM, jumlah dan ukuran pixel, serta nilai pantulan spektral tiap pixel, jarak,
ukuran, dan luas obyek sebenarnya di lapangan, mengetahui sebaran berbagai
jenis obyek berdasarkan kelas lereng, kelas penggunaan lahan, serta dapat
menentukan/ memprediksi kadar air tanah, kesuburan tanah, dan kandungan
mineral tanah lainnya. Pada program Arc View data atribut dapat ditampilkan
secara otomatis dan diedit dengan mudah berdasarkan data-data atribut terbaru
untuk berbagai tujuan penggunaan. Pemasukan (capture) data atribut pada
program SIG meliputi pemberian label dan skor, pemberian dan atau perbaikan
koordinat citra (koreksi geometris), perbaikan tampilan citra menggunakan
formula khusus (misalnya pemfilteran, analisis NDVI, TVI, dan clay ratio),
penambahan dan perbaikan (pembaruan) data berdasarkan hasil pengukuran
lapang, penghitungan dan analisis spasial sesuai formula yang digunakan, dan
beberapa eksekusi matematis berkaitan dengan analisis dan manipulasi data
spasial. Sebagaimana umumnya, data deskripsi berupa tabel dan teks dimasukkan
Sistem Informasi Geografis | 52

ke dalam SIG melalui papan ketik (keyboard) dan mouse, dan berupa gambar
menggunakan kamera..





















Sistem Informasi Geografis | 53

V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Digitasi pada layar monitor (on screen digitation) adalah teknik pengubahan
data analog menjadi data digital yang paling umum dan paling sering
dipraktikkan dalam pekerjaan SIG.
2. Digitasi adalah proses pengubahan (konversi) data analog (berupa data cetak,
atau tampilan citra/ foto) menjadi data digital pada suatu koordinat X, Y.
3. Scanning (penyiaman) adalah proses pengubahan data garfis tercetak (analog)
menjadi data grafis digital menggunakan sensor optik elektronik secara parsial.

B. Saran
Sebaiknya asisten praktikum membimbing praktikan dengan tidak terburu
buru, dikarenakan praktikan belum tahu mengenai seluk beluk software
pengolahan SIG dan cara penggunaan serta fungsi fungsi ikon didalamnya.








Sistem Informasi Geografis | 54

DAFTAR PUSTAKA

Aronoff, Stan. 1989. GIS : a Management Perspective, WDL. Publication,Ottawa.

Attenuci John C. 1998. GIS a Guide to Technology. John Wiley and Sons, New
York.

Baba Barus dan Wiradisastra. 1996. Sistem Informasi Geografi. Laboratorium
Penginderaan Jauh dan Kartografi, Jurusan Tanah Fakultas Pertanian
Bogor.

Bennema J., and H.F. Gelens, 1969, Aerial Photointerpre-tation for Soil Surveys.
International Institute for Aerial Survey and Earth Sciences, ITC.,
Netherlands

Borrough, Peter A. 1986. Principles of GIS for Land Resources Assesment.
Claderon Press,Oxford.

Danoedoro, Projo. 1996. Pengolahan Citra Digital, Teori dan Aplikasi dalam
Bidang Penginderaan Jauh. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta

Goozen, D., 1967. Aerial Photo interpretation in Soil Survey. Soils Bulletin 6,
Sistem Informasi Geografis | 55

FAO,Rome

Jensen, John R., 1986. Introductory Digital Image Processing. A Remote Sensing
Perspective. Prentice-Hall Inter-national, A Division of Simon & Schuster,
Inc., New Jersey.

Lillesand dan Kiefer. 1994. Remote Sensing and Image Interpretatio, Third
Edition, John Wiley and Sons, New York.

Mulders, M.A., 1987. Remote Rensing in Soil Science. Department of Soil
Science and Geology, Agricultural Univ. of Wageningen, Netherlands.
ESEVIERAmsterdam.

Paine, David P., 1982. Aerial Photography and Image Interpretation For
Resource Management. John Wiley and Sons, Inc. Oregon, USA Prahasta,
Eddy. Konsep-konsep dasar Sistem Informasi Geografis. Penerbit
Informatika Bandung.

Short. 1982. The Landsat Tutorial Workbook, Basic of Satellite Remote Sensing.
NASA Reference Publication 1078. Washington.

Sisno. 2002. Pemanfaatan Data Landsat TM dan SIG untuk Kajian Sebaran
Sistem Informasi Geografis | 56

Salinitas Tanah., Tesis S2 Program Studi Penginderaan Jauh, UGM,
Yogyakarta.

Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh Jilid 1 dan 2. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Verstappen H. Th., 1977. Remote Sensing in Geomorphology. Elsevier Scientific
Publishing Company. Amsterdam

Vink, A.PA., 1975. Land Use in Advancing Agriculture. Berlin/Heidelberg:
Springer.

Wolf, Paul R., 1993. Elemen Fotogrametri. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.