Anda di halaman 1dari 14

TATA KELOLA ETIS DAN AKUNTABILITAS

OLEH :
KELOMPOK 3
1. Adhariani
2. Muhammad Mas Said
3. Rizkie Awalia
4. M. Arief Rakhman Noor

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI (PPAK)
FAKULTAS EKONOMI UNLAM
BANJARMASIN
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Good Corporate Governance atau dikenal dengan nama Tata Kelola
Perusahaan Yang Baik (selanjutnya disebut GCG). Forum for Corporate
Governance in Indonesia menjelaskan bahwa GCG adalah Seperangkat peraturan
yang mengatur hubungan antar pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan,
kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan
eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan
kata lain suatu sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan.
Karakteristik pelaksanaan good governance antara lain:
1. Partisipasi, yaitu keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik
secara langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang
dapat menyalurkan aspirasinya. Rule of law yaitu kerangka hukum yang adil
dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.
2. Transparansi, umumnya dibangun atas dasar kebebasan memperoleh
informasi. Informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik secara
langsung dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan.
3. Responsif, yaitu lembaga-lembaga publik harus cepat dan tanggap dalam
melayani stakeholder.
4. Consensus orientation, yaitu berorientasi pada kepentingan masyarakat yang
lebih luas.
5. Equity, yaitu setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk
memperoleh kesejahteraan dan keadilan.
6. Efficiency dan effectiveness, yaitu pengelolaan sumber daya publik dilakukan
secara berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif) .
7. Accountability, adalah pertanggungjawaban kepada publik atas setiap aktivitas
yang dilakukan.
8. Strategic vision, yaitu penyelenggaraan pemerintah dan masyarakat harus
memiliki visi jauh kedepan.
Pentingnya konsep GCG dilatarbelakangi oleh maraknya skandal perusahaan
yang menimpa perusahaan-perusahaan besar. Joel Balkan (2002) mengatakan bahwa
perusahaan (korporasi) saat ini telah berkembang dari sesuatu yang relatif tidak jelas
menjadi institusi ekonomi dunia yang amat dominan. Kekuatan tersebut terkadang
mampu mendikte hingga ke dalam pemerintahan suatu negara, sehingga mejadi tidak
berdaya dalam menghadapi penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh para pelaku
bisnis yang berpengaruh tersebut. Semua itu terjadi karena perilaku tidak etis dan
bahkan cenderung kriminal-yang dilakukan oleh para pelaku bisnis yang memang
dimungkinkan karena kekuatan mereka yang sangat besar disatu sisi, dan
ketidakberdayaan aparat pemerintah dalam menegakkan hukum dan pengawasan atas
perilaku para pelaku bisnis tersebut; disamping berbagai praktik tata kelola
perusahaan dan pemerintahan yang buruk.
Salah satu dampak signifikan yang terjadi adalah krisis ekonomi di suatu
negara, dan timbulnya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Sebagai akibat
adanya tata kelola perusahaan yang buruk oleh perusahan-perusahaan besar yang
mana mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi dan krisis kepercayaan para investor,
seperti yang terjadi di Amerika pada awal tahun 2000 dan tahun 2008 yang
mengakibatkan runtuhnya beberapa perusahan besar dan ternama dunia; disamping
juga menyebabkan krisis global dibeberapa belahan negara dunia.
GCG belakangan ini makin mendapat perhatian masyarakat dikarenakan GCG
memperjelas dan mempertegas mekanisme hubungan antar para pemangku
kepentingan di dalam suatu organisasi yang mencakup (a) hak-hak para pemegang
saham (shareholders) dan perlindungannya, (b) peran para karyawan dan pihak-pihak
yang berkepentingan (stakeholders) lainnya, (c) pengungkapan (disclosure) yang
akurat dan tepat waktu, (d) transparansi terkait dengan struktur dan operasi
perusahaan, (e) tanggungjawab dewan komisaris dan direksi terhadap perusahaan itu
sendiri, kepada para pemegang saham dan pihak lain yang berkepentingan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah yang dihadapi
dalam makalah antara lain :
1. Apa yang dimaksud dengan teori good governance ?
2. Bagaimana tata kelola etis dan akuntabilitas dalam pengelolaan good governance?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka tujuan dalam
makalah ini antara lain :
1. Untuk menjelaskan teori good governance baik definisi, alasan, serta cara
pengelolaan good governance.
2. Untuk memaparkan pengembangan program etika dalam tata kelola etis dan
akuntabilitas

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Good Corporate Governance
Corporate Governance pertama kali dikenalkan oleh Cadbury Committee di
Inggris tahun 1922 yang menggunakan istilah dimaksud dalam laporannya yang
dikenal dengan Cadbury Report (dalam sukrisno Agoes, 2006). Beberapa pengertian
yang terdapat dari beberapa sumber :
1. Cadbury Committee of United Kingdom
A set of rules that define the relationship between shareholders, managers,
creditors, the goverment, employees, and other internal and external stakeholders
in respect to their right and responsibilities, or the system by which companies
are directed and controlled.
2. Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI-2006)
FCGI tidak membuat definisi sendiri, namun mengadopsi definisi Cadbury
Committee of United Kingdom dan menerjemahkan Seperangkat peraturan yang
mengatur hubungan antar pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan,
kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan
eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau
dengan kata lain suatu sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan
3. Sukrisno Agoes (2006)
Tata kelola perusahaan yang baik sebagai suatu sistem yang mengatur hubungan
peran dewan komisaris, para direksi, pemegang saham, dan pemangku
kepentingan lainnya. Tata kelola perusahaan yang baik juga disebut sebagai suatu
proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaiannya, dan
penilaian kinerjanya.
4. Wahyudi Prakarsa
Mekanisme adninistratif yang mengatur hubungan-hubungan antara manajemen
perusahaan, komisaris, direksi, pemegang saham, dan kelompok-kelompok
kepentingan (stakeholders) yang lain. Hubungan-hubungan ini dimanifestasikan
dalam bentuk berbagai aturan (prosedur) dan sistem insentif sebagai kerangka
kerja (framework) yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan dan cara-
cara untuk mencapai tujuan tersebut, serta pemantauan atas kinerja yang
dihasilkan.
Dari berbagai sumber diatas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa konsep
inti yang mengandung pengertian yang berintikan 4 poin, yaitu :
1. Wadah Organisasi (Perusahaan, social, pemerintahan)
2. Model, Suatu sistem, proses, dan seperangkat peraturan, termasuk prinsip-prinsip,
serta nilai-nilai yang meladasi praktik bisnis yang sehat
3. Tujuan
- Meningkatkan kinerja organisasi
- Menciptakan nilai tambah bagi semua pemangku kepentingan
- Mencegah dan mengurangi manipulasi serta kesalahan yang signifikan dalam
pengelolaan organisasi
- Meningkatkan upaya agar para pemangku kepentingan tidak dirugikan
4. Mekanisme
Mengatur dan mempertegas kembali hubungan, peran, wewenang, dan tanggung
jawab:
- Dalam arti sempit: antar pemilik atau pemegang saham, dewan komisaris dan
direksi
- Dalam arti luas: antar seluruh pemangku kepentingan

2.2 Prinsip Prinsip Dasar yang Melandasi Konsep GCG
1. Vision
Pengembangan suatu organisasi atau badan usaha harus didasarkan pada
adanya visi & strategi yang jelas dan didukung oleh adanya partisipasi dari seluruh
anggota dalam proses pengambilan keputusan, pelaksanaan dan pengembangan
supaya semua pihak akan merasa memiliki dan tanggungjawab dalam kemajuan
organisasi atau usahanya.
2. Participation
Dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan hasil keputusan suatu
organisasi atau badan usaha sedapat-dapatnya melibatkan pihak-pihak terkait dan
relevan melalui sistem yang terbuka dan dengan jaminan adanya hak berasosiasi dan
penyampaian pendapat.
3. Equality
Suatu badan usaha atau organisasi yang baik selalu akan memberi dan
menyediakan peluang yang sama bagi semua anggota atau pihak terkait bagi
peningkatan kesejahteraan melalui usaha bersama di dalam etika usaha yang baik.
4. Professional
Dalam bahasa sehari-hari professional diartikan One who engaged in a
learned vocation (Seseorang yang terikat dalam suatu lapangan pekerjaan). Dalam
konteks ini professional lebih dikaitkan dengan peningkatan kapasitas kompetensi
dan juga moral sehingga pelayanan dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan akurat.
5. Supervision
Meningkatkan usaha-usaha supervisi terhadap semua aktivitas usaha atau
organisasi sehingga tujuan bersama dapat dicapai secara optimal, efektif dan efisien,
serta untuk meminimalkan potensi kesalahan atau penyimpangan yang mungkin
timbul.
6. Effective & Efficient
Effective berarti do the things right, lebih berorientasi pada hasil,
sedangkan efficient berarti do the right things, lebih berorientasi pada proses.
Apapun yang direncanakan dan dijalankan oleh suatu organisasi atau badan usaha
harus bersifat efektif dan efisien.
7. Transparent
Dalam konteks good governance, transparency lebih diartikan membangun
kepercayaan yang saling menguntungkan antara pemerintah atau pengelola dengan
masyarakat atau anggotanya melalui ketersediaan informasi yang mudah diakses,
lengkap dan up to date.
8. Accountability / Accountable
Dalam konteks pembicaraan ini accountability lebih difokuskan dalam
meningkatkan tanggungjawab dari pembuat keputusan yang lebih diarahkan dalam
menjawab kepentingan publik atau anggota.
9. Fairness
Dalam konteks good governance maka fairness lebih diartikan sebagai aturan
hukum harus ditegakan secara adil dan tidak memihak bagi apapun, untuk siapapun
dan oleh pihak manapun.
10. Honest
Policy, strategi, program, aktivitas dan pelaporan suatu organisasi atau badan
usaha harus dapat dijalankan secara jujur. Segala jenis ketidak-jujuran pada akhirnya
akan selalu terbongkar dan merusak tatanan usaha dan kemitraan yang telah dan
sedang dibangun. Tanpa kejujuran mustahil dapat dibangun trust dan long term
partnership.
11. Responsibility dan Social Responsibility
Institusi dan proses pelayanan bagi kepentingan semua pihak terkait harus
dijalankan dalam kerangka waktu yang jelas dan sistematis.
Sebagai warga suatu organisasi, badan usaha dan/atau masyarakat, semua pihak
terkait mempunyai tanggungjawab masing-masing dalam menjalankan tugasnya dan
juga harus memberi pertanggungjawaban kepada publik, sehingga di dalam suatu
tatanan atau komunitas dapat terjadi saling mempercayai, membantu, membangun
dan mengingatkan agar terjalin hubungan yang harmonis dan sinergis.
Sedangkan lebih sempit lagi, menurut OECD, prinsip dasar GCG yang
dikembangkan adalah (a) perlakuan yang setara antar pemangku kepentingan
(fairness), (b) transparansi, (c) akuntabilitas, dan (d) responsibilitas.


2.3 Prinsip Prinsip dalam Tata Kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Menteri Negara BUMN juga mengeluarkan keputusan KEP-117/M-
MBU/2002 tentang prinsip GCG, diantaranya:
1. Kewajaran
Prinsip agar para pegelola memperlakukan pemangku kepentingan secara adil
dan setara, baik pemangku kepentingan primer (pemasok, pelanggan, karyawan, dan
pemodal) maupun sekunder (pemerintah, masyarakat, dan pihak lain). Prinsip inilah
yang memunculkan konsep pengedepanan kepentingan atas stakeholders dan bukan
hanya shareholders.
2. Transparansi
Kewajiban bagi para pengelola untuk menjalankan prinsip keterbukaan dalam
proses keputusan dan penyampaian informasi. Lebih dalam bahwa, informasi yang
disampaikan harus lengkap, benar, dan tepat waktu kepada semua pemangku
kepentingan, tidak boleh ada hal-hal tertentu yang dirahasiakan, disembunyikan,
ditutup-tutupi, maupun ditunda-tunda pengungkapannya.
3. Akuntabilitas
Kewajiban bagi para pengelola untuk membina sistem akuntansi yang efektif
untuk menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya (reliabel) dan
berkualitas.
4. Responsibilitas
Kewajiban para pengelola untuk memberikan pertanggungjawaban atas semua
tindakan dalam pengelolaan perusahaan kepada para pemangku kepentingan sebagai
wujud kepercayaan dan wewenang yang telah diberikan. Pertanggungjawaban ini
setidaknya mencakup dimensi (a) ekonomi diwujudkan dalam bentuk pemberian
keuntungan ekonomis bagi pemangku kepentingan, (b) hukum diwujudkan dalam
bentuk kepatuhan terhadap hukum dan peraturan-peraturan yang berlaku , (c) moral -
diwujudkan dalam bentuk pertanggungjawaban tersebut dapat dirasakan secara
menyeluruh dan adil bagi semua pemangku kepentingan, (d) sosial - diwujudkan
dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai wujud kepedulian
terhadap kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam di lingkungan perusahaan,
dan (e) spiritual - diwujudkan dalam bentuk sejauh mana tindakan manajemen telah
mampu mewujudkan aktualisasi diri atau telah dirasakan sebagai bagian dari ibadah
sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya.
5. Kemandirian
Suatu keadaan dimana para pengelola dalam mengambil suatu keputusan
bersifat profesional, mandiri, bebas dari konflik kepentingan, bebas dari tekanan serta
pengaruh dari pihak manapun yang bertentangan dengan perundangan yang berlaku
dan prinsip pengelolaan yang sehat.

2.4 Ekspektasi Baru Kerangka Baru
Stakeholder mengetahui bahwa mereka bisa memiliki pengaruh yang
signifikan pada pasar konsumsi perusahaan, pasar modal dan pada dukungan yang
ditawarkan perusahaan oleh kelompok stakeholder lain seperti pekerja dan kreditur.
Reputasi korporasi bisa secara signifikan dipengaruhi oleh emosi stakeholder.
Komisaris dan eksekutif melihat boikot, menurunkan pendapatan dan laba, juga
menemukan bahwa dukungan stakeholder penting untuk pencapaian optimat atas
tujuan jangka menengah dan panjang perusahaan. Dengan bantuan akademisi dan
lainnya, pedoman baru dan rerangka akuntabilitas dibangun, menyempurnakan
dengan peralatan dan teknik baru.

2.5 Akuntabilitas untuk Shareholder dan Stakeholder
Peristiwa Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom memperlihatkan bahwa
aktivitas korporasi membuat pola untuk mempengaruhi pencapaian tujuan korporasi
tersebut. Eksekutif, komisaris dan investor yang terfokus pada jangka pendek
membahayakan kredibilitas seluruh tata kelola korporasi dan proses akuntabilitas. Hal
dapat mengubah fokus akuntan profesional terhadap perannya sebagai orang yang
dipercaya oleh publik. Reputasi dan eksistensi profesi akuntan di masa depan telah
menurun di mata publik, sehingga perbaikan serta kesuksesannya kembali tergantung
pada perubahan yang akan dilakukan. Selain ini juga kenyataan adanya tekanan
stakeholder tersebut membuat perusahaan menyadari bahwa mereka
bertanggungjawab pada stakeholder dan menata kelola diri mereka untuk
meminimalisasi risiko dan memaksimalkan kesempatan tak terpisahkan dengan
kerangka akuntabilitas stakeholder.
Profesi akuntan harus mengembangkan pertimbangan, nilai, dan sifat karakter
yang mencakup kepentingan publik, dimana pertimbangan tersebut inheren dengan
munculnya akuntabilitas berorientasi stakeholder dan kerangka tata kelola
(governance framework). Standar code of conduct yang baru muncul untuk
menuntun profesi akuntan serta memastikan bahwa self-interest, bias, dan
kesalahpahaman tidak menutupi independensinya.
Globalisasi mulai mempengaruhi perkembangan aturan dan harmonisasi
standar akuntan profesional, dan hal ini akan terus berkelanjutan. Sama seperti
mekanisme tata kelola untuk korporasi yang menghasilkan batasan dan yurisdiksi
domestik, stakeholders di seluruh dunia akan lebih mengutamakan dalam
menentukan standar kinerja bagi profesi akuntan. Pekerjaan mereka akan melayani
pasar modal dan korporasi global, dan kesuksesannya membutuhkan respek dari
karyawan dan partner yang lebih banyak dibandingkan dahulu. Dengan kemampuan
dan pengetahuan yang dimiliki, akan menarik apabila akuntan profesional dapat
menggunakan kesempatan yang menunjukkan perannya yang lebih luas. Mereka
secara khusus harus menempatkan diri untuk membantu perkembangan mekanisme
ke depan yang menyediakan dan memastikan panduan etika yang lebih baik bagi
organisasi.

2.6 Pengembangan Program Etika
Kebutuhan tata kelola etis tidak hanya baik bagi bisnis perusahaan.
Perubahan-perubahan terkini pada regulasi pemerintahan merubah ekspektasi secara
signifikan. Dalam era meningkatkan pengawasan, dimana perilaku tidak etis dapat
mempengaruhi pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan, sangat dibutuhkan
sistem tata kelola perusahaan yang menyediakan aturan serta akuntabilitas yang tepat
untuk kepentingan shareholders, direktur, dan eksekutif.
Direktur harus cermat dalam mengatur risiko bisnis dan etika perusahaannya.
Mereka harus memastikan bahwa budaya etis telah berjalan dengan efektif dalam
perusahaan. Hal ini membutuhkan pengembangan code of conduct, dan cara yang
paling fundamental dalam menciptakan pemahaman mengenai perilaku yang tepat,
memperkuat perilaku tersebut, dan meyakinkan bahwa nilai yang mendasarinya
dilekatkan pada strategi dan operasi perusahaan. Konflik kepentingan dalam
perusahaan, kekerasan seksual, dan topiktopik serupa perlu diatasi segera dengan
pengawasan yang memadai untuk menjaga agar budaya perusahaan sejalan dengan
ekspektasi saat ini.

2.7 Pendedikasian Kembali Peran Akuntan Profesional
Peristiwa Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom mengubah fokus akuntan
profesional terhadap perannya sebagai orang yang dipercaya oleh publik. Reputasi
dan eksistensi profesi akuntan di masa depan telah menurun di mata publik, sehingga
perbaikan serta kesuksesannya kembali tergantung pada perubahan yang akan
dilakukan. Profesi akuntan harus mengembangkan pertimbangan, nilai, dan sifat
karakter yang mencakup kepentingan publik, dimana pertimbangan tersebut inheren
dengan munculnya akuntabilitas berorientasi stakeholder dan kerangka tata kelola
(governance framework).
Standar code of conduct yang baru muncul untuk menuntun profesi akuntan
serta memastikan bahwa self-interest, bias, dan kesalahpahaman tidak menutupi
independensinya. Globalisasi mulai mempengaruhi perkembangan aturan dan
harmonisasi standar akuntan profesional, dan hal ini akan terus berkelanjutan. Sama
seperti mekanisme tata kelola untuk korporasi yang menghasilkan batasan dan
yurisdiksi domestik, stakeholder di seluruh dunia akan lebih mengutamakan dalam
menentukan standar kinerja bagi profesi akuntan. Pekerjaan mereka akan melayani
pasar modal dan korporasi global, dan kesuksesannya membutuhkan respek dari
karyawan dan partner yang lebih banyak dibandingkan dahulu. Dengan kemampuan
dan pengetahuan yang dimiliki, akan menarik apabila akuntan profesional dapat
menggunakan kesempatan yang menunjukkan perannya yang lebih luas. Mereka
secara khusus harus menempatkan diri untuk membantu perkembangan mekanisme
ke depan yang menyediakan dan memastikan panduan etika yang lebih baik bagi
organisasi.
Ekspektasi Publik pada Semua Profesional
Seorang profesional bekerja dengan sesuatu yang bernilai, akibat kepercayaan
dan kompetensinya mereka bekerja serta bertanggungjawab. Jika sebuah profesi
kehilangan kredibilitas di mata publik, maka konsekuensinya cukup parah. Dalam
analisis terakhir menyebutkan bahwa sebuah profesi merupakan kombinasi dari
keistimewaan, tugas, dan hak yang semuanya terbingkai dalam sekumpulan nilai
profesional yang umum, nilai yang menentukan bagaimana keputusan dibuat dan
tindakan diambil.
Ekspektasi Publik pada Akuntan Profesional
Akuntan profesional diharapkan mempunyai keahlian khusus berhubungan
dengan akuntansi dan pemahaman yang lebih baik dari orang awam mengenai hal-hal
terkait seperti kontrol manajemen, perpajakan, atau sistem informasi. Sebagai
tambahan, mereka juga diharapkan untuk menganut nilai dan tugas profesional umum
serta menganut standar spesifik yang dikeluarkan oleh badan profesional dimana
mereka bernaung.
Yang Dominan antara Nilai Etis dan Teknik Audit atau Akuntansi
Nilai etis harus dipertimbangkan agar sejajar dengan kemampuan teknik.
Namun demikian, yang dominan mungkin ditujukan pada nilai etis, ketika seorang
profesional menemukan masalah yang melebihi kemampuan yang dimilikinya saat
itu, nilai etislah yang akan mendorongnya untuk mengenali dan mengungkapkan
fakta tersebut. Tanpa nilai etis, kepercayaan yang diperlukan dalam hubungan fidusial
tidak dapat dipertahankan, dan hak-hak yang dimiliki oleh profesi akuntansi akan
dibatasi, sehingga mengurangi efektivitas yang dapat diberikan oleh profesi
independen pada masyarakat.