Anda di halaman 1dari 76

ISSN 1410 9565

Akreditasi B No. 284/AU1/P2MBI/05/2010


SK Kepala LIPI Nomor : 452/D/2010
Tanggal : 6 Mei 2010


JURNAL TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH



Volume 14 Nomor 1 Juli 2011










Pusat Teknologi Limbah Radioaktif
Badan Tenaga Nuklir Nasional

J. Tek. Peng. Lim. Vol. 14 No. 1 Hal. 1-68
Jakarta
Juli 2011
ISSN 1410-9565


Akreditasi B No. 284/AU1/P2MBI/05/2010
SK Kepala LIPI Nomor : 452/D/2010, Tanggal : 6 Mei 2010


JURNAL TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011


Jurnal enam bulanan
Pertama terbit Juni 1998

Penanggung Jawab / Pengarah

Drs. R. Heru Umbara
(Ka. PTLR BATAN)


Pemimpin Redaksi merangkap Ketua Editor

Dr. Ir. Budi Setiawan M.Eng. (PTLR BATAN)


Editor

Dr. Ir. Djarot S. Wisnubroto, M. Sc. (PTLR BATAN)
Dr. Sri Harjanto (Universitas Indonesia)
Dr. Thamzil Las (Univ. Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
Dr. Heny Suseno, S.Si., M.Si. (PTLR BATAN)
Drs. Gunandjar SU. (PTLR BATAN)


Mitra Bestari

Dr. Sahat M. Panggabean (Kementerian Negara Riset dan Teknologi)
Dr. Muhammad Nurdin (Universitas Haluoleo)


Tim Redaksi

Endang Nuraeni, S.T.
Yanni Andriani, A.Md.
Adi Wijayanto, A.Md.


Penerbit

Pusat Teknologi Limbah Radioaktif
Badan Tenaga Nuklir Nasional
Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang 15310, Indonesia
Tel. +62 21 7563142, Fax. +62 21 7560927
e-mail : ptlr@batan.go.id

i

Akreditasi B No. 284/AU1/P2MBI/05/2010
SK Kepala LIPI Nomor : 452/D/2010, Tanggal : 6 Mei 2010


JURNAL TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011


Jurnal enam bulanan
Pertama terbit Juni 1998

Penanggung Jawab / Pengarah

Drs. R. Heru Umbara
(Ka. PTLR BATAN)


Pemimpin Redaksi merangkap Ketua Editor

Dr. Ir. Budi Setiawan M.Eng. (PTLR BATAN)


Editor

Dr. Ir. Djarot S. Wisnubroto, M. Sc. (PTLR BATAN)
Dr. Sri Harjanto (Universitas Indonesia)
Dr. Thamzil Las (Univ. Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
Dr. Heny Suseno, S.Si., M.Si. (PTLR BATAN)
Drs. Gunandjar SU. (PTLR BATAN)


Mitra Bestari

Dr. Sahat M. Panggabean (Kementerian Negara Riset dan Teknologi)
Dr. Muhammad Nurdin (Universitas Haluoleo)


Tim Redaksi

Endang Nuraeni, S.T.
Yanni Andriani, A.Md..
Adi Wijayanto, A.Md.


Penerbit

Pusat Teknologi Limbah Radioaktif
Badan Tenaga Nuklir Nasional
Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang 15310, Indonesia
Tel. +62 21 7563142, Fax. +62 21 7560927
e-mail : ptlr@batan.go.id

ii
Akreditasi B No. 284/AU1/P2MBI/05/2010
SK Kepala LIPI Nomor : 452/D/2010, Tanggal : 6 Mei 2010


JURNAL TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011


Pengantar Redaksi

Puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah, Volume 14
Nomor 1, Juli 2011. Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah memuat karya tulis ilmiah dari kegiatan penelitian dan
pengembangan di bidang pengelolaan limbah yang meliputi aspek-aspek pengolahan limbah, penyimpanan limbah,
dekontaminasi-dekomisioning, keselamatan lingkungan dan radioekologi kelautan.
Pertama-tama kami Dewan Redaksi mohon maaf atas keterlambatan kami untuk kembali menyapa para peneliti
dan pemerhati pengelolaan limbah dan lingkungan karena tingginya frekuensi kegiatan rutin kami sehingga penyajian jurnal ini
baru dapat terbit pada bulan Juli 2011, mudah-mudahan hal ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kami di masa yang
akan datang. Pada penerbitan kami kali ini kembali kami menyajikan makalah-makalah hasil penelitian dan pengembangan
yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan pengolahan limbah, penyimpanan limbah, dekontaminasi-dekomisioning,
keselamatan lingkungan dan radioekologi kelautan.
Semoga penerbitan jurnal ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk dijadikan acuan dalam
pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan pengelolaan limbah di masa yang akan datang, amien.

Jakarta, Juli 2011

iii
Akreditasi B No. 284/AU1/P2MBI/05/2010
SK Kepala LIPI Nomor : 452/D/2010, Tanggal : 6 Mei 2010


JURNAL TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011


Daftar Isi


Sutanto dan Ani Iryani: Hujan Asam dan Perubahan Kadar Nitrat dan Sulfat Dalam Air Sumur di Wilayah Industri Cibinong-
Citeureup Bogor (1-9)

Wati, Husen Zamroni, Herlan Martono: Pengolahan Limbah Rafinat Simulasi yang Ditimbulkan dari Produksi Radioisotop
Molibdenum-99 Menggunakan Bentonit Berpilar dan Resin Epoksi (10-22)

Aisyah: Sensitisasi Pada Pengelasan Tabung Baja Tahan Karat Aisi 304 Wadah Limbah Sumber 226ra Bekas Radioterapi
(23-33)

Budi Setiawan: Tahapan-Tahapan dalam Penentuan Tapak Disposal Limbah Radioaktif Aktivitas Rendah di Pulau Jawa
(34-41)

Budi Setiawan: Parameter-Parameter Penting pada Interaksi Radiocesium dengan Bentonit (42-48)

Heny Suseno: Kemampuan Kerang Hijau (Perna viridis) Mengakumulasi dan Mendistribusi 60Co dan 137Cs (49-55)

Budiawan, Heny Suseno: Prediksi Metilasi Merkuri pada Bioakumulasi Merkuri Anorganik oleh Oreochromiss mossambicus
(56-62)
Suzie Darmawati: Aspek Lingkungan pada Sistem Proteksi Radiasi (63-68)




















iv
Akreditasi B No. 284/AU1/P2MBI/05/2010
SK Kepala LIPI Nomor : 452/D/2010, Tanggal : 6 Mei 2010


JURNAL TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH


Pedoman Penulisan Naskah

Redaksi Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah menerima naskah/makalah karya tulis ilmiah dari kegiatan penelitian
dan pengembangan di bidang pengelolaan limbah yang meliputi aspek-aspek pengolahan limbah, penyimpanan limbah,
dekontaminasi-dekomisioning, keselamatan lingkungan dan radioekologi kelautan untuk penerbitan pada bulan Juni dan
Desember setiap tahun.
Ketentuan penulisan naskah :
1. Naskah asli yang belum pernah dipublikasikan berupa karya tulis ilmiah dari hasil penelitian, survei, pengkajian atau
studi literatur.
2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan format: menggunakan kertas A4, 1 kolom dengan
margin atas, bawah, kiri dan kanan masing-masing 3 cm (1,18). Gunakan jenis huruf Arial ukuran 9. Jumlah halaman
naskah termasuk gambar dan tabel maksimal 20 halaman,
3. Sistematika penulisan meliputi JUDUL, ABSTRAK, KATA KUNCI, PENDAHULUAN, TATA KERJA, HASIL DAN
PEMBAHASAN, KESIMPULAN, UCAPAN TERIMA KASIH (bila ada), DAFTAR PUSTAKA. Untuk makalah pengkajian
dan perancangan dapat menyesuaikan.
4. Judul tulisan menggunakan huruf Kapital, bold, font 14. Nama penulis dicantumkan tanpa gelar, bold, font 11,
sedangkan alamat penulis berupa Nama Unit Kerja, Instansi dan alamat Instansi.
5. Abstrak tidak melebihi 250 kata, dengan spasi 1, font 9 dan Judul tulisan dicantumkan kembali di dalam abstrak sebagai
kalimat pertama. Abstrak berbahasa Inggris ditulis dalam format Italic.
6. Bab dan Sub-bab dalam tulisan tidak bernomor tapi dibedakan dengan huruf besar dan huruf kecil, bold, font 9
7. Penulisan Tabel dan Gambar dibelakangnya diserta dengan angka Arab dan penjelasannya. Contohnya:
i) . Tabel 1. Hasil Analisis X-RF (ditulis di atas Tabel)
ii) . Gambar 2. Kurva Kesetimbangan . (ditulis di bawah Gambar)
8. Pustaka yang dikutip dalam teks diberi nomor angka Arab di belakangnya sesuai dengan urutan pemunculan dalam
Daftar Pustaka. Contoh: Standar IAEA memberi arahan bahwa kegiatan siting umumnya dilaksanakan melalui 4
tahapan utama [3],...
9. Penulisan Daftar Pustaka menggunakan format sebagai berikut:

Buku referensi :
[1] Akhmediev, M. and Ankiewicz, Y.: A Solution, Nonlinear Pulses and Beams, Chapman & Hall, London (1997).

Artikel yang terdapat dalam buku referensi:
[2] Dean, R.G.: Freak waves: A Possible Explanation, in Water Wave Kinetics, Editor: Torum, A and Gudmestad, O.T.,
Kluwer, Amsterdam, 609 612, (1990).

Artikel dari jurnal :
[3] Choppin, G.R.: The Role of Natural Organics in Radionuclide Migration in Natural Aquifer Systems, Radiochim.
Acta 58/59, 113, (1992)

Artikel dalam proceeding
[4] Chung, F., Erds, P., Graham , R.: On Sparse Sets Hitting Linear Forms, Proc. of the Number Theory for the
Millennium, I, Urbana, IL, USA, 57 72, (2000).

10. Dewan Redaksi berhak untuk menolak suatu tulisan yang dianggap tidak memenuhi syarat.
11. Dewan Redaksi dapat mengedit naskah tanpa mengurangi makna.
12. Isi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.
13. Naskah diserahkan dalam bentuk cetakan 2 rangkap disertai compact disk (CD) berisi file naskah dalam format MS
Word.

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

1
HUJAN ASAM DAN PERUBAHAN KADAR NITRAT
DAN SULFAT DALAM AIR SUMUR DI WILAYAH INDUSTRI
CIBINONG-CITEUREUP BOGOR

Sutanto dan Ani Iryani
Jurusan kimia FMIPA Universitas Pakuan,
Jl. Pakuan, Bogor 16144, Indonesia


ABSTRAK
HUJAN ASAM DAN PERUBAHAN KADAR NITRAT DAN SULFAT DALAM AIR SUMUR DI
WILAYAH INDUSTRI CIBINONG-CITEUREUP BOGOR. Hujan asam dan perubahan kadar nitrat dan
sulfat dalam air sumur di wilayah industri Cibinong-Citeureup Bogor. Wilayah industri Cibinong-
Citeureup Bogor telah mengalami hujan asam. Salah satu dampak hujan asam adalah degradasi
kualitas air sumur. Sebanyak 75% penduduk di wilayah ini mengkonsumsi air sumur untuk minum.
Telah dipelajari dampak hujan asam terhadap perubahan kadar nitrat (NO3
-
) dan sulfat (SO4
=
) dalam air
sumur pada daerah hujan asam intensitas tinggi (pH<5,0). Monitoring keasaman air hujan, kadar NO3
-

dan SO4
=
air hujan maupun air sumur dilakukan pada 9 lokasi dari tahun 1999 sampai 2009. Keasaman
air hujan diukur menggunakan pH meter elektronik, kadar NO3
-
ditentukan dengan metoda brucin sulfat,
dan kadar SO4
=
ditentukan dengan metoda turbidimetri (BaSO4) menggunakan spektrofotometer UV-
VIS. Dalam daerah hujan asam intensitas tinggi ini keasaman air hujan terus meningkat. Kadar nitrat
dalam air hujan meningkat nyata (Fhit 1,61 > F tabel ; P 0,193 < 0,05) tetapi kadar sulfat menurun
meskipun tidak nyata (Fhit<Ftabel ; P 0,721). Meningkatnya kadar nitrat dalam air hujan menyebabkan
peningkatan kadar nitrat dalam air sumur ( r = 0,85) secara nyata (F hit 8,93 > F tabel; P 0,000< 0,05).

Kata kunci: hujan asam, sulfat, nitrat, air sumur, Industri


ABSTRACT
ACID RAIN AND TREND OF NITRATE AND SULPHATE CONTAIN IN WELL WATER IN THE
AREA OF CIBINONG-CITEUREUP BOGOR. In the industry area of Cibinong-Citeureup Bogor there
has been an acid rain. One of the impact of acid rain is well water quality. About 75% people in this area
consume well water for drinking.It was studied the acid rain impact ofnitrate (NO3-) and sulphate
(SO4=) trend contain in well waters in the area of high acid rain intensity (pH<5,0).The acidity of NO3-,
and SO4= of acid rain and well waters where monitored on 9 locations from the year of 1999 to
2009.The acidity (pH) was measured using electronic pHmeter; NO3-was determined by brucine
sulphate method, and SO4=was determined by turbidimetri BaSO4 method using spectrophotometer
UV-VIS.In the are of research has been continues high intensity acid rain and has decrease trend of
pH.Nitrate contained in the rain water has an increased trend significantly (F 1,61 > F table; P 0,193
<a0,05, but the sulphate contain has decrease trend not significantly (Fcal <F table;P 0,721). The
nitrate contained in acid rain has increasing the nitratecontained in the well waters (r=0,8515)
significantly (Fcal 8,93> F table; P 0,000 < a0,05).

Keywords: acid rain, leaching, Fe, well water, industry, Cibinong


PENDAHULUAN
Wilayah industri banyak dihasilkan polutan penyebab hujan asam. Polutan penting penyebab
hujan asam adalah NOx dan SOx [6]. Kedua polutan ini dengan adanya oksidan di atmosfir dan awan
dapat terkonversi menjadi asam nitrat dan asam sulfat. Asam-asam terbawa oleh air hujan turun
kebumi dan dapat meresap kedalam tanah, akhirnya masuk ke dalam sumur. Air sumur merupakan
salah satu sumber air minum yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Di wilayah industrti
Cibinong-Citeureup Kabupaten Bogor sebanyak 75,63% penduduk di wilayah penelitian mengkonsumsi
air tanah/air sumur [3]. Pada tahun 1999 air sumur penduduk memiliki rata-rata konsentrasi nitrat 0,25
Sutanto dan Ani Iryani: Hujan Asam dan Perubahan Kadar Nitrat dan Sulfat Dalam Air Sumur di Wilayah Industri Cibinong-
Citeureup Bogor

2
ppm [12], dan pada tahun 2001 terukur rata-rata kadar nitrat 6,19 ppm [5]. Hal ini mengindikasikan
bahwa kadar nitrat dalam air sumur terjadi peningkatan dalam kurun waktu 2 tahun. Peningkatan kadar
nitrat ini tidak terlepas dari peningkatan kadar nitrat dalam air hujan. Kadar nitrat dalam air hujan di
wilayah industri Cibinong-Citeureup mencapai rata-rata 0,550 ppm [12]. Pada tahun 2001 kadar nitrat
mencapai 3,33 ppm [5].
Kadar nitrat dalam air minum yang tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Knobeloch
[9] menemukan kasus penyakit Blue Baby syndrome atau methemoglobinemia. Gejala penyakit ini
disebabkan oleh karena besi II dalam darah (hemoglobin) sebagai inti sel darah merah teroksidasi oleh
nitrat menjadi besi III (methemoglobin) sehingga darah tak dapat mengangkut oksigen. Menurut
Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990 dan Peraturan Pemerintah RI PP No. 82 tahun 2001 klas I
yaitu air yang dapat diminum nilai ambang batas atau baku mutu kadar nitrat sebesar 10 mg/L, namun
demikian jika kadar nitrat dalam air sumur sudah mencapai 3 mg/L harus dilakukan pemantauan setiap
tahun.
Kandungan nitrat dalam air sumur dapat berasal dari berbagai sumber. Apabila sumur berada
pada lokasi yang tidak terbuka maka satu-satunya jalan masuk polutan kedalam air sumur adalam
melewati tanah terbawa oleh air dan merembes masuk kedalam sumur. Pada tanah pertanian nitrat
berasal dari pemupukan tanaman dengan ure atau ammonium nitrat. Pupuk ini sebagian diserap oleh
akar tanaman untuk pertumbuhan, dan sebagain lagi tercuci dan berpindah ke tempat lain (leaching).
Jumlah Nitrat ter-leaching dipengaruhi oleh jumlah pupuk yang diberikan dan curah hujan, atau air
irigasi, dan jenis tanaman. Pada tanaman kapas nitrogen ter-leaching dapat mencapai antara 45-55%
dari jumlah pupuk yang diberikan [15]. Musim juga berpengaruh terhadap leaching nitrogen [7], hal ini
berhubungan dengan curah hujan. Pada daerah non pertanian sumber nitrat adalah polusi udara yaitu
gas NOx. Sumber NOx dari aktifitas manusia diantaranya adalah kendaraan bermotor, mesin stationer
putaran tinggi yang menghasilkan panas tinggi. Gas NOx (N2O, NO2, N2O4 dan sebagainya) terbentuk
karena pembakaran (panas tinggi) yang melibatkan gas Nitrogen (N2). Gas NOx diudara dengan
adanya oksidan dan uap air diubah menjadi asam nitrat (HNO3) dan turun bersama air hujan. Dengan
demikian kandungan asam nitrat dalam air hujan merupakan sumber nitrat dalam air sumur. Efe et al.
[7] mempelajari kandungan nitrat dalam air sumur terbuka dan air sumur bor dan mendapatkan bahwa
kadar nitrat dalam air sumur dipengaruhi oleh musim, dalam hal ini curah hujan.
Di atmosfir dengan adanya oksidan dan uap air, gas SOx akan bereaksi membentuk asam sulfat
[6]. Gas SOx bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batubara) khususnya
pada kegiatan PLTU batubara (power plants). Namun demikian semakin berkembangnya teknologi
desulfurisasi pada berbagai industri deposisi sulfur semakin menurun mencapai sekitar 16,5
kg/ha/tahun. Dengan demikian diramalkan pada tahun 2010 deposisi sulfur tak lagi berdampak pada
lingkungan. Perkembangan pertumbuhan lalu lintas dapat menaikkan trend deposisi nitrogen dari 15,4
kg/ha/tahun pada tahun 1990 menjadi 25,7 kg/ha/tahun pada tahun 2001. Jika trend ini berlangsung
terus maka deposisi nitrogen akan mencapai 37,8 kg/ha/tahun pada tahun 2015 yang berarti nitrogen
memegang peran penting dalam hujan asam [9].
Kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin merupakan salah satu sumber polutan SOx.
Berdasarkan spesifikasi bahan bakar bensin dengan kadar belerang mencapai 0,2 % [8], dapat dihitung
bahwa setiap satu liter bensin akan menghasilkan 1-2 kg gas CO2, 0,05-1,5 g Pb, 1-2 g SO2 dan
sejumlah kecil hidrokarbon (HC) khususnya senyawa poliaromatik. Hasil analisis minyak solar
menunjukkan kadar belerang antara 0,14-0,33 % bobot [11] yang berati bahwa minyak solar dalam
menyumbang SO2 di udara tidak jauh berbeda dengan bensin.
Air hujan yang terpolusi oleh gas SOx akan membentuk asam sulfat (H2SO4) yang dapat
menyebabkan hujan asam, dan merupakan input sulfat penting yang dapat menyebabkan perubahan
kadar sulfat dalam air sumur. Keberadaan SO4
=
dalam air sumur tidak cukup membahayakan karena
ion ini cukup stabil tidak mudah beraksi secara kimia. Namun demikian dalam jumlah yang berlebihan
dapat mempengaruhi rasa. Untuk keperluan air minum, air sumur harus, memenuhi syarat air bersih
Permenkes No. 416/MENKES /PER/IX/1990 yaitu kadar maksimum SO4
=
400 mg/L.
Penelitian ini bertujuan: (1), memantau dan mengevaluasi keasaman dan keberadaan nitrat dan
sulfat dalam air hujan dan air sumur, (2) menentukan pola perubahan kadar nitrat dan sulfat dalam air
sumur di wilayah industri, (3) menentukan persamaan yang menghubungkan antara kadar nitrat atau
sulfat dalam air hujan dengan kadar nitrat atau sulfat dalam air sumur. dengan studi kasus di wilayah
industri Cibinong-Citeureup Kabupaten Bogor.
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

3

TATA KERJA
Penelitian ini melibatkan data sekunder dari penelitian sebelumnya (data tahun, 1999, dan 2001)
yang telah dipublikasikan dan data primer pengamatan tahun 2006, 2008, dan 2009. Lokasi penelitian
adalah Kabupaten Bogor meliputi Kecamatan Cibinong, Kecamatan Citeureup, dan Kecamatan Gunung
Putri, dengan luas cakupan wilayah penelitian 15 km
2
.
Peralatan meliputi: botol/jerigen sampling kapasitas 2 liter, alat penampung air hujan dari plastik,
pH meter (LUTRON), spektrofotometer UV-VIS (Thermo Scientific, tipe Genesys 10V), neraca analitik,
penangas air, dan peralatan gelas lainnya,. Bahan-bahan yang digunakan adalah: asam sulfat, kertas
pH, larutan buffer (pH 4, 7 dan 10), air suling, akuabides, KNO3 pa, Na2SO4 pa, brucin sulfat, H2SO4 p
pa. HNO3 p. dan BaCl2.

Monitoring dan Evaluasi Hujan Asam
Analisis kimia merujuk pada APHA (2005) [1]. Sampling air hujan dilakukan pada 30 menit
pertama kemudian dibagi 2, masing-masing diawetkan dengan asam nitrat pekat sampai pH 2, dan
sebagian lagi diawetkan dengan asam sulfat pekat sampai pH 2. Sampel yang diawetkan dengan asam
sulfat digunakan untuk analisis kadar nitrat, dan sampel yang diawetkan dengan asam nitrat digunakan
untuk analisis kadar sulfat.

Pengukuran Kadar Nitrat (APHA, 419 D) [1]: Pengukuran kadar nitrat dilakukan dengan metoda
brucin sulfat menggunakan peralatan spektrofotometer. Ion nitrat dalam air sampel diwarnai dengan
larutan brucin pada kondisi asam sulfat (pH 2) dan suhu tinggi hampir mendidih. Warna kuning
intensif reaksi brucin nitrat diukur serapannya pada panjang gelombang 410 nm.

Pengukuran Kadar SO4
=
( APHA, 427 C) [1]: Pengukuran kadar nitrat dilakukan dengan metoda
turbidimetri menggunakan peralatan spektrofotometer. Ion SO4
=
dalam air sample direaksikan dengan
BaCl2 pada kondisi asam dan didiamkan selama 5 menit. Tingkat kekeruhan suspensi diukur
serapannya pada panjang gelombang 420 nm.

Menetukan Pola kecenderungan Peningkatan kadar NO3
-
dan SO4
=
Air Sumur
Nilai rata-rata kadar NO3
-
atau SO4
=
air sumur pada wilayah penelitian dari tahun 1999 sampai
2009 diplot terhadap waktu dan ditentukan persamaan matematika sehingga diperoleh pola
kecenderungan peningkatan rata-rata kadar NO3
-
atau SO4
=
air sumur terhadap waktu. Untuk maksud
ini dilakukan dengan bantuan komputer program excel.

Menetukan hubungan matematik kadar NO3
-
dan SO4
=
air hujan dengan kadar NO3
-
dan SO4
=
Air Sumur
Hasil analisis rata-rata kadar NO3
-
dan SO4
=
air sumur dan air hujan masing-masing di
kelompokkan sehingga diperoleh data series dari tahun 1999, 2001, 2006, 2008, dan 2009. Setiap data
series setiap parameter dibuat plot antara parameter air sumur vs parameter air hujan pada 5 kali
pengamatan (dalam kurun waktu 10 tahun) dengan menggunakan bantuan program komputer
excel/minitab baik untuk mendapatkan persamaan matematik kurva, nilai korelasi, dan visualisasi grafik.
Interpretasi korelasi didasarkan pada koefisien korelasi. Korelasi dianggap baik jika nilai koefisien
korelasi > 0,70 dan yang dapat menyatakan bahwa kualitas air sumur benar-benar dipengaruhi oleh
kualitas air hujan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pemantauan dan evaluasi keasaman dan keberadaan nitrat dan sulfat dalam air hujan dan
air sumur
Keasaman Air Hujan
Keasaman air hujan rata-rata berubah dari 5.00 padat tahun 1999 menjadi 4,77 pada tahun
2009. Perubahan pH air hujan menunjukkan adanya perubahan kadar polutan di udara. Semakin
menurunnya pH berarti semakin tinggi kadar polutan penyebab asam, salah satunya adalah
meningkatnya kadar nitrat dalam air hujan. Gambar 1 memperlihatkan perubahan rata-rata pH air
hujan yang semakin menurun.
Sutanto dan Ani Iryani: Hujan Asam dan Perubahan Kadar Nitrat dan Sulfat Dalam Air Sumur di Wilayah Industri Cibinong-
Citeureup Bogor

4
Kadar nitrat dalam air hujan
Hasil pemantauan kualitas air hujan di wilayah penelitian menunjukkan kadar nitrat berkisar
antara 0.0152 sampai 30,925 mg/l. Rata-rata tahunan kadar nitrat pada daerah yang sering mengalami
hujan asam intensitas tinggi disajikan pada Tabel 1. Rata-rata kadar nitrat tahunan selama 10 tahun
terakhir cenderung meningkat dari 0,405 mg/L menjadi 5,284 mg/L. Peningkatan kadar nitrat dalam air
hujan ini signifikan (F 1,61 < F tabel ; P 0,193 < 0,05) disebabkan oleh tingginya kadar NO2 diudara
dan kadar ozon sebagai oksidan dalam reaksi pembentukan asam nitrat bersama air hujan. Kadar NO2
di daerah hujan asam intensitas tinggi antara 36,44 ug/m
3
sampai 709,3 ug/m
3
dan kadar ozon antara
5,13 ug/m
3
sampai 27,14 ug/m
3
[4]. Reaksi pembentukan nitrat dalam air hujan dapat dinyatakan
dengan reaksi sebagai berikut :

Kadar sulfat dalam air hujan
Rerata kadar sulfat dalam air hujan cenderung menurun dari tahun ke tahun yaitu mengalami
penurunan dari 4,953 mg/L pada tahun 1999 menjadi 3,547 mg/L pada tahun 2009 (Tabel 2),. Hasil uji
statistik perubahan rata-rata penurunan tidak signifikan (Fhit 0,73<Ftabel, dan P 0,540 > 0,05)
Keasaman air hujan meningkat atau pH air hujan di daerah ini cenderung menurun. Tingkat keasaman
air hujan salah satunya ditentukan oleh kandungan sulfat yang mencerminkan terbentuknya asam sulfat
di atmosfir akibat adanya polusi SO2. Dengan semakin menurunnya kadar sulfat dalam air hujan akan
tetapi keasaman air hujan semakin meningkat (pH semakin menurun) menunjukkan bahwa sulfat bukan
merupakan satu-satunya penentu keasaman air hujan, namun kandungan nitrat dalam air hujan lebih
dominan dalam penentuan keasaman air hujan.
Industri yang melibatkan pembakaran suhu tinggi (seperti industri semen) menghasilkan polutan
NOx tinggi akibat ikut terbakarnya nitrogen dalam udara. Selain itu industri juga menjadi penyebab
cepatnya pertumbuhan kendaraan bermotor karena kebutuhan akan transportasi, baik transportasi
barang/produk industri maupun transportasi pekerja industri. Kendaraan bermotor yang berbasis
mesin/motor bakar menghasilkan gas NOx dari ruang bakar akibat pembakaran udara (78% gas
nitrogen) beserta bahan bakar berupa bensin atau solar dengan rasio udara : bahan bakar = 100 : 1.
Fenomena ini juga didukung dengan pertambahan jumlah kendaraan yang cukup fantastik di Bogor ,
menurut catatan POLWIL Bogor jumlah kendaraan meningkat dari 49808 (1998) menjadi 56296 (2000)
dan menjadi 136222 (2005), akhirnya menjadi 200139 unit (2008). Menurut HRKAL et al. [9]
perkembangan pertumbuhan lalu lintas dapat menaikkan trend deposisi nitrogen dari 15,4 kg/ha/tahun
pada tahun 1990 menjadi 25,7 kg/ha/tahun pada tahun 2001. Jika trend ini berlangsung terus maka
deposisi nitrogen akan mencapai 37,8 kg/ha/tahun pada tahun 2015 yang berarti nitrogen memegang
peran penting dalam hujan asam.
















Gambar 1. Pola perubahan rata-rata keasaman (pH) air hujan di wilayah industri Cibinong-Citeureup
Bogor dari tahun 1999 sampai tahun 2009.


4
4,25
4,5
4,75
5
5,25
5,5
5,75
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Tahun pengamatan
R
a
t
a
-
r
a
t
a

p
H

a
i
r

h
u
j
a
n
99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09
Batasan hujan
asam ( pH 5,6
)
Batas hujan asam
intensitas tinggi (pH <
5)
Trend pH air hujan
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

5

Tabel 1. Rata-rata kadar nitrat (NO3
-
) dalam air hujan pada daerah yang sering mengalami hujan asam
intensitas tinggi di wilayah industri Cibinong-Citeureup Kabupaten Bogor
Lokasi Sampling
Kadar NO3 ( mg/L)
1999
[12]
2001
[5]
2006 2008 2009
Kr.Asem Barat 0.156 0.426 0.799 0.885 6.825
Puspasari 0.239 2.754 - - 4.58
Kranggan 0.159 0.234 - 0.565 2.575
Kr.Asem Timur 1.169 - 9.550 30.925 11.45
Puspanegara 1.39 1.522 2.042 1.175 4.2
Gn. Putri 0.143 5.475 - - 3.95
Tlajung Udik 0.022 0.152 - 0.925 3.45
Ps.Citeureup 0.015 3.906 4.889 5.175 5.325
ITC CCibinong 0.355 6.131 7.530 1.425 3.825
Rata-rata 0.405 3.018 4.962 5.868 5.284
Keterangan : - tidak diukur /missing data

Kadar nitrat dalam air sumur
Hasil analisis kadar nitrat air sumur disajikan pada Tabel 3. Dari tabel ini nampak bahwa kadar
nitrat dalam air sumur di wilayah penelitian tertinggi 10,550mg/L. Kadar nitrat dalam air sumur secara
keseluruhan memenuhi persyaratan kualitas air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
416/MENKES/PER/IX/1990 dan Peraturan Pemerintah RI PP No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air klas I bahwa nilai ambang batas atau baku mutu kadar
nitrat 10 mg/L, kecuali pada desa Gunung Putri tahun 2009. Meskipun demikian dari tahun ketahun
kadar nitrat dalam air sumur terus meningkat. Rata-rata kadar nitrat air sumur meningkat hampir 4 kali
lipat dari tahun 1999 sampai tahun 2008. Hasil uji statistik peningkatan ini cukup signifikan (F hitung
8,93 > F tabel; P 0,000). Peningkatan kadar nitrat dalam air sumur ini disebabkan oleh meningkatnya
kadar nitrat dalam air hujan (r = 0,9).
Tabel 2. Rata-rata kadar sulfat (SO4
=
) dalam air hujan pada daerah yang sering mengalami hujan
asam intensitas tinggi di wilayah industri Cibinong-Citeureup Kabupaten Bogor
Lokasi sampling
Kadar SO4
=
(mg/L)
1999
[12]
2001
[5]
2008 2009
Tol Citeureup 3.360 0.899 3.093 2.293
Puspasari 4.960 1.798 - 2.120
Kranggan G. Putri 6.540 11.364 - 9.567
Kr.Asem Timur 3.890 - 2.693 3.360
Puspanegara 7.610 9.434 5.360 4.960
Tol Gn. Putri 3.890 3.034 3.627 4.827
Tlajung Udik 1.060 0.899 - -
Ps.Citeureup 8.320 5.556 2.427 3.770
Sukahati - - 1.493 2.490
ITC Cibinong - 1.011 1.227 2.293
Rata-rata 4.953 4.249 2.846 3.547
Keterangan : - tidak diukur /missing data




Sutanto dan Ani Iryani: Hujan Asam dan Perubahan Kadar Nitrat dan Sulfat Dalam Air Sumur di Wilayah Industri Cibinong-
Citeureup Bogor

6
Tabel 3. Rata-rata kadar nitrat (NO3
-
) dalam air sumur pada daerah yang sering mengalami hujan
asam intensitas tinggi di wilayah industri Cibinong- Citeureup Kabupaten Bogor

Lokasi sampling
Konsentrasi NO3
-
(mg/L)
1999
[12]
2001
[5]

2008 (I) 2008 (II) 2009 (I) 2009 (II)
Karangasem Barat 0.292 0.299 1.593 2.213 - 7.988
Kranggan, 0.253 0.286 0.941 1.725 1.000 2.550
Puspanegara I
0.223 0.281 0.771 4.175 4.125 5.925
Puspanegara II
0.264 0.349 0.381 3.963 - 4.175
Tarikolot, Tajur - 1.295 1.627 8.800 9.050 1.363
Desa G.Putri 0.154 0.336 0.559 2.075 3.225 10.550
Tlajung Udik. G. Putri 0.275 1.027 - 9.175 8.675 8.113
ITC Cibinong 0.292 0.162 0.720 1.925 1.788 6.925
Rata-rata
0.250 0.504 0.942 4.256 4.644 5.947
Keterangan: ((I) =sampling bulan Juni-Juli, II) sampling bulan basah (Desember-Januari)
- Tidak diukur

Tabel 4. Rata-rata kadar sulfat ( SO4
=
) air sumur pada daerah yang sering mengalami hujan
asam tinggi di wilayah industri Cibinong-Citeureup Kabupaten Bogor

Lokasi sampling
Konsentrasi SO4
=
(mg/L)
1999
[12]
2001
[5]

2008 (I) 2008 (II) 2009 (I) 2009 (II)
Karangasem Barat - 46.218 91.753 - 8.693 66.693
Kranggan, - 18.868 6.598 - 12.693 6.960
Puspanegara 1 10.912 46.218 148.454 47.360 22.027 6.960
Puspanegara II 67.045 42.857 20.515 18.027 - 54.027
Jl. Raya G.Putri 72.586 42.017 22.062 50.960 34.293 7.627
Tlajung Udik (G. Putri) 4.426 16.981 9.887 9.887 - 1.360
ITC Cibinong 5.311 10.84 13.959 12.160 12.560 1.893
Rata-rata tahunan 32.056 43.731 24.966 27.311 19.480 20.789
Keterangan: (I) =sampling bulan Juni-Juli, II) sampling bulan basah (Desember-Januari)
- =Tidak diukur

Kadar sulfat dalam air sumur
Kadar sulfat dalam air sumur disajikan pada Tabel 5. Kadar sulfat dalam air sumur tertinggi
terukur sebesar 148,454 mg/L yaitu sampel air sumur Puspanegara pada tahun 2008, dan terendah
sumur Gunung Putri sebesar 9,887 mg/L. Secara umum kualitas air sumur berdasarkan evaluasi kadar
sulfat adalah memenuhi syarat menurut KepMenKES No. 416/MENKES/PER/IX/1990 dan Peraturan
Pemerintah RI PP No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air, bahwa nilai ambang batas yang diperbolehkan adalah 400 mg/L.
Rerata kadar sulfat dalam air sumur menurun dari 32,056 mg/L (1999) menjadi 20.789 mg/L
(2009). Namun demikian perubahan ini tidak signifikan, hasil uji statistik menunjukkan Fhit<Ftabel ; P
0,721. Hasil analisis kadar sulfat dalam tanah didaerah penelitian berkisar antara 1,2 mg/L sampai 6
mg/L jauh lebih rendah dari kadar sulfat dalam air sumur. Hal ini menunjukkan bahwa kadar sulfat
dalam air sumur dominan berasal dari atmosfir, walaupun rata-rata kadar sulfat dalam air hujan masih
kurang dari 10 mg/L (Tabel 2). Namun demikian tingginya kadar sulfat dalam air sumur tidak dapat
dijelaskan dalam penelitian ini, dan memerlukan kajian lebih lanjut.


Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

7



Pola perubahan kadar nitrat dan sulfat dalam air hujan dan air sumur
Pola perubahan kadar nitrat
Gambar 2(a) memperlihatkan pola perubahan rata-rata kadar nitrat dalam air hujan dan air
sumur. Perubahan rata-rata kadar nitrat air hujan (mg/L) mengikuti persamaan [NO3
-
]ah = 2,1665Ln(th) +
0,4936 dengan koefisien determinasi R
2
= 0,9828.














Gambar 2. Kecenderungan rata-rata perubahan kadar nitrat dalam air hujan (a) (error bars 10%) dan
pola perubahan kadar nitrat dalam air sumur (b) pada daerah yang sering mengalami
hujan asam intensitas tinggi di wilayah industri Cibinong-Citeureup Kabupaten Bogor.

Pola perubahan kadar nitrat dalam air sumur pada daerah yang sering mengalami hujan asam
intensitas tinggi mengikuti persamaan [NO3
-
]as = 0,1881e
0,1407(th)
R
2
= 0,84. Kenaikan kadar nitrat
cukup tajam pada tahun 2009 hingga mencapai konsentrasi rata-rata 5,947 mg/L. Nilai koefisien
determinasi atas persamaan tersebut 0,84 yang berarti menunjukkan hubungan yang cukup kuat
peningkatan kadar nitrat dengan waktu. Artinya kadar nitrat semakin meningkat dari waktu ke waktu
selama dalam kurun waktu pengamatan.

Pola perubahan kadar sulfat
Pada daerah yang sering mengalami hujan asam rata-rata tahun kadar sulfat mengalami
perubahan yang berbeda dengan perubahan kadar nitrat yang meningkat tetapi justru mengalami
perubahan menurun. Fenomena ini sama dengan yang disinyalir oleh HRKAL et al.,[9] bahwa pada
tahun 2015 nitrogen memegang peran penting dalam hujan asam. Penurunan kadar sulfat mengikuti
persamaan [SO4
=
] = 51.296e
-0.0299(th)
R
2
= 0.64 seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Penurunan kadar
sulfat ini secara umum disebabkan oleh penurunan kadar sulfat dalam air hujan, dengan korelasi linier
positif, r = 0,70.

Hubungan antara kadar nitrat dan sulfat dalam air sumur dan dalam air hujan
Hubungan kadar nitrat dalam air sumur dan air hujan
Uji korelasi antara kadar nitrat dalam air hujan dan kadar nitrat dalam air sumur menghasilkan
kurva regresi linier koefisien korelasi, r sebesar 0,74. Nilai koefisien korelasi ini menunjukkan bahwa
kadar nitrat dalam air sumur tergantung kepada kadar nitrat dalam air hujan. Hal ini dapat dipahami
karena air hujan jatuh kebumi dan merembes kedalam air sumur. Oleh karena itu hubungan antara
keduanya sangat erat. Proses nitrifikasi yang terjadi dalam tanah dan menghasilkan nitrat sebagai
penyumbang kadar nitrat dalam air sumur dalam hal ini tidak sebesar jumlah nitrat yang datang
bersama air hujan.
[NO
3
]
ah
= 2,1665Ln(th) + 0,4936
R
2
= 0,9828
0
1
2
3
4
5
6
7
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Waktu (tahun pengamatan)
R
a
t
a
-
r
a
t
a

[
N
O
3
]

a
i
r

h
u
j
a
n

(
m
g
/
L
)
99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09
(a)
[NO
3
]
as
= 0,1881e
0,1407(th)
R
2
= 0,8384
0
1
2
3
4
5
6
7
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24
Waktu (tahun pengamatan)
R
a
t
a
-
r
a
t
a

[
N
O
3
]

a
i
r

s
u
m
u
r

(
m
g
/
L
)
99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09
(b
)
Sutanto dan Ani Iryani: Hujan Asam dan Perubahan Kadar Nitrat dan Sulfat Dalam Air Sumur di Wilayah Industri Cibinong-
Citeureup Bogor

8
















Gambar 3. Pola perubahan kadar SO4
=
dalam air hujan (a) dan kadar SO4
=
dalam air sumur (b) pada
daerah yang sering mengalami hujan asam intensitas tinggi di wilayah industri Cibionong-
Citeureup Kabupaten Bogor (error bar 15% dan 20%).
















Gambar 4. Hubungan kadar nitrat dalam air hujan terhadap kadar nitrat dalam air sumur (a) dan
hubungan antara kadar sulfat dalam air hujan dan air sumur (b) pada daerah yang sering
mengalami hujan asam intensitas tinggi di wilayah industri Cibinong-Citeureup kabupaten
Bogor.

Artinya kadar nitrat dalam air sumur sangat dipengaruhi oleh kadar nitrat dalam air hujan. Hubungan
matematik antara kadar nitrat (mg/L) dalam air sumur (as) dengan nitrat dalam air hujan (ah) mengikuti
persamaan : Gambar 4 (a) [NO3
-
]as = 0,1515e
0,5975[NO3]ah
dengan koefisien determinasi, R
2
= 0,90.

Hubungan kadar sulfat dalam air sumur dan air hujan
Hubungan rata-rata kadar sulfat dalam air sumur ([SO4
=
]as dalam mg/L) dengan rata-rata
kadar sulfat dalam air hujan ([SO4
=
]ah dalam mg/L) berkorelasi positif lemah dengan dengan koefisien
regresi linier, r = 0,50. Perubahan kadar sulfat air sumur dipengaruhi oleh kadar sulfat dalam air hujan
mengikuti persamaan : [SO4
=
]as = 5,29007[SO4]ah + 10,344 dengan koefisien determinasi R
2
= 0,25
(Gambar 4 (b)). Hal ini menunjukkan bahwa SO4
=
dalam air sumur tidak dipengaruhi oleh kadar SO4
=

dalam air hujan, tetapi kemungkinan disebabkan adanya ion sulfat dalam tanah.


[NO
3
]as = 0,1515e
0,5975[NO3]ah
R
2
= 0,9017
0
1
2
3
4
5
6
7
0 1 2 3 4 5 6 7
Rata-rata [NO
3
]air hujan (mg/L)
R
a
t
a
-
r
a
t
a

[
N
O
3
]

a
i
r

s
u
m
u
r

(
m
g
/
L
)
(a)
[SO
4
]
as
= 5,2907[SO
4
]
ah
+ 10,344
R
2
= 0,2456
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
2 3 4 5 6
Rata-rata [SO
4
=
] air hujan (mg/L)
R
a
t
a
-
r
a
t
a

[
S
O
4
=
]

a
i
r

s
u
m
u
r

(
m
g
/
L
)
(b)
[SO
4
=
] ah = 5,0352x
-0,1909
R
2
= 0,8212
0
1
2
3
4
5
6
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Waktu (tahun pengamatan)
R
a
t
a
-
r
a
t
a

[
S
O
4
=
]

a
i
r

h
u
j
a
n

(
m
g
/
L
)
99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09
[SO4=]as = 41,232e
-0,0282xth
R
2
= 0,6763
0
10
20
30
40
50
60
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24
R
a
t
a
-
r
a
t
a

[
S
O
4
=
]

a
i
r

s
u
m
u
r

(
m
g
/
L
)
Waktu (tahun pengamatan)
99 00 01 02 03 04 05 06 07 08
09
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

9

KESIMPULAN
Keasaman air hujan di wilayah penelitian semakin meningkat (pH semakin menurun). Kadar
nitrat dalam air sumur dipengaruhi oleh kadar nitrat dalam air hujan (r=0,74), dan kadar nitrat dalam air
sumur dari tahun ke tahun meningkat secara nyata (Fh 8,93 > Ftabel; P 0,0001 < 0,05). Kadar sulfat
air sumur tidak dipengaruhi oleh kadar sulfat air hujan (r=0,25), dan menurun tidak nyata (Fhit<Ftabel ; P
0,721).

UCAPAN TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada DP2M Dikti atas hibah dana
penbelitian fundamental multi tahun yang diberikan dari Dipa No 0145.0/023-04.0/-/2008 dan Dipa
No.0868.0/023-04.1/2009.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. APHA.: Standart methods for the examination of water and waste, 14
ed
. APHA. Washington D.C.
(2005).
[2]. BLH: Laporan kegiatan unit pelaksana teknis laboratorium lingkungan tahun 2009. Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor (2009).
[3]. BPS: Biro Pusat statistik. Kabupaten Bogor dalam Angka. BPS Kab. Bogor (2008).
[4]. DTLH: Laporan pemantauan lingkungan hidup, Dinas tata ruang dan lingkungan hidup
Kabupaten Bogor (2007).
[5]. Iryani, A.: Pengaruh pencemaran udara terhadap kualitas air sumur penduduk (studi kasus air
sumur penduduk wilayah industri Cibinong-Citeureup kab. Bogor Jawa Barat) . Tesis. UI.
Jakarta (2002).
[6]. Manahan, S.: Environment Chemistry, Lewis Publ. Boca Raton, (2005).
[7]. Efe, S.I. Ogban, F.E., Horsfall, M. Jnr, Akporhonor, E.E. : Seasonal variations of physico-
chemical characteristics in water resources quality in western Niger Delta Region, Nigeria. J.
Appl.Sci. Environ. Mgt. Vol 9 No.I, 191-195 (2006).
[8]. Haberle, J. Helena, K. Pavel, S. Jan, K.: The Change of Soil Mineral Nitrogen Observe on
Farms between Autumn and Spring and Modelled with a Simple Leaching Equation, Soil &
Water Res, Vol. 4, No.4, 159-167 (2009).
[9]. HRKAL, Z. Hana, P. Dana, F.: Trends in Impact of Acidification on Groundwater Bodies in the
Czech Republic: An Estimation of Atmospheric Deposition at the Horizon 2015, Journal of
Atmospheric Chemistry Vol 53, 1-12 (2006).
[10]. Knobeloch, L. Barbara, S. Adam,H. Jeffrey, P. Henry, A.: Blue Babies and Nitrate-
Contaminated Well Water. Environmental Health Perspectives Volume 108, Number 7(2000).
[11]. Pupung, P.L.: Pengaruh angka setana minyak solar terhadap kinerja mesin. Lembaran publikasi
LEMIGAS Vol. 36 No.2,10-23 (2002).
[12]. Sutanto, Eka, H. Ani, I. Budi, S.: Pemeriksaan kualitas air hujan di wilayah Cibinong-Citeureup
Bogor, J. hasil penelitian, LPP univ, Pakuan, Bogor, 7-15 (2000).
[13]. Sutanto, Ani, I. Yusnira: Profil hujan asam di wilayah industri Citeureup-Cibinong Bogor,
Ekologia, Vol 2 No.2, 1-6 (2002).
[14]. Sijabat O: Bahan Bakar Minyak Bensin (Bertimbel dan tidak bertimbel): Pengaruhnya terhadap
Lingkungan dan Permasalahannya. Lembaran Publikasi Lemigas. Vol 37. No 2, 22-30 (2003).
[15]. Yusron, M. dan Ian, R.P.: Nitrogen Leaching from urea and ammonium sulphate fertilizer under
uncropped and cotton cropped conditions, Indonesian Journal of Crop Scioence, Vol 12. No.1,
23-29 (1997).

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

10

PENGOLAHAN LIMBAH RAFINAT SIMULASI
YANG DITIMBULKAN DARI PRODUKSI RADIOISOTOP
MOLIBDENUM-99 MENGGUNAKAN BENTONIT BERPILAR
DAN RESIN EPOKSI

Wati, Husen Zamroni, Herlan Martono
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN,
Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang 15310


ABSTRAK
PENGOLAHAN LIMBAH RAFINAT SIMULASI YANG DITIMBULKAN DARI PRODUKSI
RADIOISOTOP MOLIBDENUM-99 MENGGUNAKAN BENTONIT BERPILAR DAN RESIN EPOKSI.
Metode yang umum digunakan untuk memisahkan uranium dari larutan adalah adsorpsi menggunakan
adsorben seperti bentonit. Penelitian ini mempelajari tentang adsorpsi uranium oleh bentonit berpilar
dan imobilisasi bentonit jenuh uranium tersebut menggunakan resin epoksi. Uranil nitrat heksahidrat
dengan konsentrasi 50 ppm digunakan sebagai limbah rafinat simulasi dari produksi Mo
99
. Bentonit
berpilar dibuat dengan mereaksikan Na-bentonit dan zirkonil khlorid (ZrOCl2.8H2O). Penelitian
dilakukan dengan memvariasi faktor yang berpengaruh terhadap proses adsorbsi uranium oleh bentonit
berpilar, yaitu variabel konsentrasi Zr sebagai bahan pilar, waktu kontak dan derajat keasaman (pH).
Hasil variabel terbaik digunakan untuk membuat bentonit jenuh uranium yang akan diimobilisasi
menggunakan resin epoksi dengan berbagai variasi kandungan limbah. Blok polimer-limbah sebagai
fungsi kandungan limbah ditentukan densitas, kuat tekan dan laju pelindihannya. Kondisi optimum
penyerapan limbah rafinat dari produksi molibdenum-99 oleh bentonit berpilar diperoleh pada
konsentrasi Zr 0,01 M, pH = 7, dan waktu kontak 16 menit dengan efisiensi penyerapan sebesar 42,60
%. Berdasarkan densitas, kuat tekan, dan laju pelindihan diperoleh bahwa blok polimer-limbah terbaik
adalah pada kandungan limbah 20 %. Pada kondisi tersebut blok polimer-limbah mempunyai densitas
0,99 gram/cm
3
, kuat tekan 20,18 kN/cm
2
, dan tidak terdeteksi adanya uranium yang terlindih.

Kata kunci : uranium, bentonit berpilar, adsorpsi, resin epoksi, imobilisasi.


ABSTRACT
PROCESSING OF RAFINAT SIMULATION WASTE GENERATED FROM RADIOISOTOP
MOLIBDENUM-99 PRODUCTION USING PILLARED CLAY AND EPOXY RESIN. Commonly available
methods for adsorption of uranium from an aqueous solution is used pillared clay as adsorbent. This
research is about sorption of uranium from aquous solution with pillared clay and immobilization pillared
clay containing uranium by using epoxy resin. Simulation waste was made from uranyl nitrat hexahidrat
with 50 ppm in concentration. Pillared clay was made by reacting between Ba-bentonit and zirconyl
chloride (ZrOCl2.8H2O).The research was carried out by varying influent factors to the adsorption
uranium process, i.e : variable of Zr as pillar material, contact time, and pH to find the optimum
condition. The optimum condition is used to make pillared clay containing uranium which would be
immobilized by using epoxy resin and to variate the waste loading. The product qualities of waste-
polymer blocks as function of waste loading were determined by measurement of its density,
compressive strength, and leaching rate. The optimum condition of uranium adsorption was obtained at
Zr concentration of 0,01 M, pH 7, contact time 16 minutes with the adsorption uranium was 42.60 %.
Base on the density, compressive strength, and leaching rate the best block polymer-waste with waste
loading of 20 %. On this condition, the density of polymer-waste block is 0.99 gram/cm
3
, compressive
strength is 20.18 kN/cm
2
and there is no detection for leaching rate.

Keywords : uranium, pillared clay, adsorption, epoxy resin, immobilization.



Wati, Husen Zamroni, Herlan Martono: Pengolahan Limbah Rafinat Simulasi yang Ditimbulkan dari Produksi Radioisotop
Molibdenum-99 Menggunakan Bentonit Berpilar dan Resin Epoksi.

11

PENDAHULUAN
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir, pemanfaatan tenaga
nuklir semakin meluas di bidang penelitian, pertanian, kesehatan, industri dan lain-lain. Pemakaian zat
radioaktif di bidang kesehatan misalnya pemanfatan radioisotop Mo
99
untuk kegiatan diagnosis penyakit
seperti fungsi hati, ginjal dan adanya tumor [1].
Mo
99
diproduksi dari pemisahan hasil fisi nuklir dengan sasaran uranium-235 (U
235
). Uranium-
235 ditembak dengan neutron di dalam reaktor nuklir sehingga pecah menjadi berbagai jenis isotop
yang sebagian besar berupa radioisotop. Radioisotop Mo
99
yang merupakan salah satu hasil fisi
tersebut selanjutnya dipisahkan dari hasil fisi lainnya. Di Instalasi Produksi Radioisotop, isotop Mo
99

dibuat dari High Enriched Uranium (HEU) atau yang dikenal dengan uranium diperkaya 93 %, yang
diiradiasi dalam reaktor G.A. Siwabessy. Uranium diperkaya 93 %, berarti U
235
93 % yang akan
mengalami reaksi fisi, sedangkan 7 % U
238
yang mengalami reaksi serapan neutron. Reaksi tersebut
dapat dinyatakan sebagai berikut [2] :

92U
235
+ 0n
1
X + Y + 2-3 0n
1
+ energi (1)
92U
238
+ 0n
1
92U
239
+ (2)
92U
239
93Np
239
+ -1
0
(t = 23,5 menit)
93Np
239
94Pu
239
+ -1
0
(t = 2,3 hari)

Reaksi yang menghasilkan radioisotop Mo
99
dan hasil belah yang lain adalah reaksi (1). Pada reaksi (1)
dengan lama iradiasi 103,5 jam U
235
yang bereaksi sekitar 7 %, sedangkan reaksi (2) sangat kecil
terjadinya karena persentase campuran yang kecil dan tampang lintang reaksinya juga kecil. Setelah
iradiasi dalam reaktor, kelongsong dilepas dan U teriradisi dilarutkan ke dalam HNO3 6 8 M. Setelah
Mo
99
diambil dengan penyerapan dalam Al2O3, maka uranium diekstraksi dengan pelarut tributil
dodekan [2].
Produksi radioisotop Mo
99
dari target uranium diperkaya 93 % yang diiradiasi dalam reaktor akan
menghasilkan limbah cair yang dikenal dengan sebutan limbah cair rafinat. Limbah ini merupakan hasil
samping ekstraksi uranil nitrat [UO2(NO3)2] yang mengandung uranium, aktinida lain dan hasil belah.
Dari hasil analisis laboratorium dan prediksi berdasarkan program komputer Code ORIGEN-2, diketahui
kandungan uranium dalam rafinat sebesar 50 ppm [2]. Berdasarkan keputusan Kepala BAPETEN No.
02/Ka.BAPETEN/V-99 tentang Baku Tingkat Radioaktivitas di Lingkungan Tahun 2009 konsentrasi
tertinggi yang diizinkan dalam air lingkungan untuk U
235
adalah 12,612 x 10
-3
ppm, sedangkan menurut
Environmental Protection Agency (EPA) standar uranium adalah 44 ppm untuk groundwater dan 20
ppm untuk air minum. Limbah rafinat tersebut perlu dikelola untuk menghindari potensi bahaya dan
dampaknya terhadap pekerja, masyarakat, dan lingkungan hidup. Oleh karena itu diperlukan penelitian
pengelolaan limbah rafinat dari produksi radioisotop Mo
99
agar diperoleh teknologi pengelolaan yang
sederhana, ekonomis, dan dapat diterapkan di PTLR-BATAN serta tentunya memenuhi standar
keselamatan International Atomic Energy Agency (IAEA).
Bentonit mempunyai kandungan mineral montmorillonite lebih dari 85 % dengan rumus kimianya
Al2O3.4SiO2.xH2O. [3]. Kandungan lain dalam bentonit merupakan pengotor dari beberapa jenis mineral
seperti kuarsa, ilit, kalsit, mika, dan klorit. Struktur montmorillonite terdiri dari 3 lapisan yang terdiri dari 1
lapisan alumina (AlO6) berbentuk oktahedral pada bagian tengah diapit oleh 2 lapisan silika (SiO4)
berbentuk tetrahedral seperti ditunjukkan pada Gambar 1 [4].

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

12



Gambar 1. Struktur kristal montmorillonite, mineral major dalam bentonit [4].

Diantara lapisan oktahedral dan tetrahedral terdapat kation monovalent maupun bivalent, seperti Na
+
,
Ca
2+
, dan Mg
2+
. Tetrahedral silika terikat secara hexahedral Si4O6(OH)4 sedangkan oktahedral Al
berikatan secara Van Der Waals (fisik) membentuk lapisan alumino silikat karena kondisi terjadinya
bentonit, memungkinkan terjadinya substitusi Si oleh Al (bentuk tetrahedral), menyebabkan bentonit
kekurangan muatan negatif yang dinetralisir oleh logam alkali dan alkali tanah. Ion logam tersebut di
antara lapisan, sehingga dapat dipertukarkan dengan ion lain menyebabkan bentonit mempunyai sifat
penukar ion [5].
Montmorillonite memiliki struktur yang membentuk lapisan-lapisan. Ruang antar lapisan tersebut
biasanya ditempati oleh molekul air ataupun kation-kation yang dapat dipertukarkan. Struktur yang
demikian menyebabkan bentonit tidak tahan terhadap perlakuan panas dan akan mengalami kerusakan
struktur pada suhu 650 C. Disamping itu bentonit mudah mengalami swelling apabila kontak dengan
air [3,6]. Guna menghindari keduanya dan untuk memperbaiki sifat bentonit maka struktur yang berupa
lapisan tersebut dapat diubah menjadi suatu bahan yang memiliki struktur pori dua dimensi yaitu
dengan membentuk pilar-pilar antara lapisan-lapisannya. Pembentukan pilar ini menyebabkan bentonit
tidak mengalami swelling, luas permukaannya menjadi besar dan mempunyai porositas yang sama [7].
Luas permukaan bentonit berpilar dapat mencapai 341 m
2
/gram, tergantung bahan pilar yang
digunakan.
Bahan yang digunakan sebagai pilar biasanya polikation anorganik berbentuk metal organik.
Zirkonium merupakan salah satu bahan pilar yang dapat membentuk bentonit berpilar yang stabil [6,8].
Dalam penelitian ini untuk membuat Zr pillared clay digunakan ZrOCl2.8H2O (zirkonium khlorida).
Faktor yang mempengaruhi kapasitas adsorbsi oleh bentonit yaitu luas permukaan adsorben,
ukuran partikel, waktu kontak dan distribusi ukuran pori. Derajat keasaman (pH) perlu dipertimbangkan
sebagai parameter penting dalam keefektifan penyerapan uranium oleh bentonit, karena distribusi
uranil dipengaruhi oleh pH dan konsentrasi uranium dalam larutan [9]. Oleh karena itu, penelitian ini
dilakukan dengan memvariasi faktor yang berpengaruh terhadap proses adsorbsi bentonit terhadap
uranium, yaitu variabel konsentrasi Zr sebagai bahan pilar, waktu kontak dan derajat keasaman (pH),
sehingga diperoleh kondisi proses yang optimum dan dapat diaplikasikan untuk pengolahan limbah
rafinat yang ditimbulkan dari produksi radioisotop Mo
99
. Bentonit yang telah jenuh uranium selanjutnya
diimobilisasi menggunakan polimer agar uranium tidak larut dan lepas ke lingkungan.
Dalam penelitian ini digunakan resin epoksi sebagai bahan matriks untuk imobilisasi bentonit
yang telah jenuh uranium tersebut. Epoksi merupakan salah satu jenis polimer yang banyak digunakan
sebagai material struktur. Epoksi memiliki sifat yang unggul diantaranya kekuatan mekanik yang bagus,
tahan terhadap bahan kimia, adesif, mudah diproses dan proses curing berlangsung dengan reaksi
polimerisasi yang bersifat eksotermis sehingga lebih ekonomis [10]. Berdasarkan pada keunggulan ini,
maka resin epoksi dipilih untuk imobilisasi bentonit berpilar yang mengandung limbah rafinat dari
produksi Mo
99
. Epoksi terbentuk dari reaksi antara epiklorohidrin dengan bisfenol propana (bisfenol A)
dengan persamaan reaksi sebagai berikut [10,11] :
Wati, Husen Zamroni, Herlan Martono: Pengolahan Limbah Rafinat Simulasi yang Ditimbulkan dari Produksi Radioisotop
Molibdenum-99 Menggunakan Bentonit Berpilar dan Resin Epoksi.

13


CH3

(n+1) H O C OH (n+2) H2C CH CH2Cl

CH3 O
bisfenol A epiklorohidrin



CH3 CH3

R O C O CH2 CH CH2 O C O R

CH3 OH n CH3

epoksi


Gambar 2. Reaksi antara epiklorohidrin dengan bisfenol A [10,11].

Reaksi polimerisasi dimulai dengan adanya radikal bebas yang terbentuk karena dekomposisi
bahan yang tidak stabil oleh temperatur, radiasi maupun katalis. Radikal bebas dengan monomer akan
mengadakan reaksi polimerisasi dan akhirnya jika radikal bebas bereaksi dengan radikal bebas terjadi
reaksi terminasi yang menghasilkan polimer. Terbentuknya polimer melibatkan perubahan fase cair dan
pasta menjadi padat yang disebut curing atau pengeringan. Proses ini terjadi secara fisika karena
adanya penguapan pelarut atau medium pendispersi dan dapat juga terjadi karena adanya perubahan
kimiawi misal polimerisasi pembentukan ikatan silang.
Epoksi merupakan campuran dari monomer-monomer bisfenol A dan epiklorohidrin, yang
mempunyai rumus dan struktur kimia seperti ditunjukkan dalam Gambar 2. Hardener (pengeras)
mempunyai fungsi sebagai katalisator reaksi berantai dalam pembentukan polimer, dengan
pencampuran epoksi dan pengeras tersebut terbentuklah polimer epoksi. Polimer epoksi termasuk jenis
resin termoset. Resin termoset mempunyai struktur tiga dimensi. Polimer tiga dimensi adalah polimer
yang dapat membentuk struktur jaringan bila monomer yang bereaksi bersifat fungsional ganda, artinya
mereka dapat menghubungkan tiga atau lebih molekul yang berdekatan [12]. Bila dalam pencampuran
resin epoksi dan pengeras tersebut ditambahkan pula limbah radioaktif, maka konstituen limbah akan
terkungkung dalam struktur kerangka tiga dimensi polimer tersebut sebagai filler.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh komposisi polimer-limbah yang optimal sehingga
diperoleh karakteristik blok polimer-limbah yang baik. Karakteristik blok polimer-limbah yang dipelajari
adalah densitas, kuat tekan dan laju pelindihan sebagai fungsi kandungan limbah (waste loading).
Uranil nitrat heksahidrat dengan konsentrasi 50 ppm digunakan sebagai limbah rafinat simulasi dari
produksi Mo
99
, yang mewakili aktinida (U, Ce, dan aktinida yang lain).
Blok polimer-limbah diukur densitasnya, kemudian dilakukan pengujian terhadap kuat tekan dan
laju pelindihan. Densitas merupakan salah satu parameter blok polimer- limbah yang dibutuhkan untuk
memprediksi keselamatan transportasi, penyimpanan sementara (interm storage), dan penyimpanan
lestari. Densitas dari blok polimer-limbah ditentukan dengan persamaan :

V
m
(1)

dimana: = densitas (g/cm
3
), m = massa sampel (g), V = volume sampel (cm
3
).
Kuat tekan adalah gaya maksimum yang dibutuhkan untuk menghancurkan benda uji dibagi luas
permukaan yang mendapat tekanan. Kuat tekan blok polimer- limbah merupakan parameter penting
untuk mengevaluasi besarnya benturan agar menjamin keselamatan penanganan, transportasi dan
penyimpanan lestarinya. Kuat tekan benda uji dihitung menggunakan persamaan :

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

14


A
P
maks
c
(2)

dimana: c = kuat tekan (kN/cm
2
), Pmaks = beban tekanan maksimum (kN), A = luas
penampang (cm
2
). Faktor yang mempengaruhi kuat tekan adalah komposisi dan homogenitas.
Laju pelindihan adalah salah satu karakteristik blok polimer limbah yang penting untuk evaluasi
hasil imobilisasi, karena tujuan akhir imobilisasi limbah memperkecil potensi terlepasnya radionuklida
yang ada dalam limbah itu ke lingkungan. Laju pelindihan dipercepat digunakan pada penelitian jangka
pendek untuk mengetahui pengaruh beberapa parameter dan mengevaluasi kualitas hasil imobilisasi.
Laju pelindihan dalam hal ini diasumsikan sebagai lepasnya sejumlah unsur limbah (uranium) dari blok
polimer-limbah. Untuk mengetahui uranium yang terlindih selama uji pelindihan dilakukan analisis air
pelindih menggunakan Spektrometri UV-VIS dengan pengompleks arsenazo III.

TATA KERJA
Bahan
Bahan yang digunakan untuk penelitian antara lain : bentonit alam, uranil nitrat heksahidrat
[UO2(NO3)2.6 H2O], larutan NaCl 3 M, larutan AgNO3 1 %, Zirconil chloride [ZrOCl2.8 H2O], air bebas
mineral, resin epoksi EPOSIR 7120, hardener (bahan pengeras), pengompleks arsenazo III, larutan
standar Na, dan larutan standar Ca.

Alat
Alat-alat yang digunakan meliputi : timbangan elektrik, jangka sorong, alat uji tekan Paul Weber,
alat uji lindih (soxhlet), rolling, oven, furnace, ayakan (laboratory test sieve), Atomic Absorbsion
Spectrometer (AAS), Spektrofotometri UV-VIS, bejana isap (gelas erlenmeyer vakum), corong gelas,
kertas filter, gelas ukur 1.000 ml, labu ukur 1.000 ml, stopwatch, cetakan polimer, cawan porselin,
termometer, erlenmeyer 250 ml, dan lain-lain.

Metode
Pembuatan limbah rafinat simulasi
Dalam penelitian ini, limbah yang digunakan adalah limbah simulasi yang memiliki karakteristik
seperti limbah rafinat yang berasal dari produksi Mo
99
di Instalasi Produksi Radioisotop (IPR).
Kandungan uranium dalam limbah rafinat sebesar 0,05 gram/liter (50 ppm). Limbah rafinat simulasi
dibuat dengan cara melarutkan uranil nitrat heksahidrat sebanyak 0,2109 gram ke dalam 1 liter air
bebas mineral.

Pembuatan Na-bentonit
Na-bentonit dibuat dari bentonit alam asal Sukabumi. Aktivasi bentonit dilakukan secara fisika
dan kimia. Aktivasi fisika dilakukan dengan cara 400 gram bentonit alam ukuran 100 mesh dipanaskan
dalam oven pada suhu 300 C selama 2 jam. Sedangkan aktivasi kimia dilakukan dengan cara 50 gram
bentonit yang sudah diaktivasi secara fisika ditambah 1.000 ml larutan NaCl 3 M kemudian di-rolling
selama 24 jam dengan kecepatan konstan 300 400 rpm. Setelah itu didiamkan sebentar, dilanjutkan
dengan penyaringan cuplikan menggunakan corong gelas dan kertas filter yang dilengkapi dengan
pompa vakum. Filtrat yang diperoleh dianalisis dengan AAS untuk mengetahui kandungan Ca
2+
dan
Na
+
. Untuk menganalisis ion Ca
2+
yang terlepas, diambil 10 ml dari filtrat tersebut langsung dianalisis
dengan SSA. Sedangkan untuk analisis ion Na
+
yang terserap, diambil 1 ml dari filtrat tersebut
kemudian diencerkan menjadi 50 ml dengan labu ukur. Setelah itu, diukur dan dianalisis dengan AAS.
Na-bentonit yang diperoleh selanjutnya dicuci dengan air bebas mineral sampai bebas ion klor (tes
dengan AgNO3 1%), kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 110 C selama 1 jam. Na-bentonit
yang dihasilkan siap digunakan untuk penelitian selanjutnya.

Pembuatan larutan zirkonil 0,01 M, 0,05 M, dan 0,1 M
Pembuatan larutan zirkonil 0,01 M dilakukan dengan cara melarutkan 3,22 gram Zirconil chloride
[ZrOCl2.8 H2O] ke dalam 1.000 ml air bebas mineral, selanjutnya dikocok sampai homogen dan
dihidrolisis selama 24 jam sehingga terbentuk larutan polioksakation. Sedangkan untuk pembuatan
Wati, Husen Zamroni, Herlan Martono: Pengolahan Limbah Rafinat Simulasi yang Ditimbulkan dari Produksi Radioisotop
Molibdenum-99 Menggunakan Bentonit Berpilar dan Resin Epoksi.

15

larutan zirkonil 0,05 M dan 0,1 M dilakukan dengan cara yang sama, yaitu dengan melarutkan berturut-
turut sebanyak 16,11 gram dan 32,22 gram Zirconil chloride [ZrOCl2.8 H2O] ke dalam 1.000 ml air
bebas mineral, selanjutnya dikocok sampai homogen dan dihidrolisis selama 24 jam sehingga terbentuk
larutan polioksakation.

Pembuatan bentonit berpilar
Dalam penelitian ini, variasi konsentrasi Zr yang digunakan untuk bentonit berpilar yaitu 0,01 M
(BP 1), 0,05 M (BP 2) dan 0,1 M (BP 3). Ke dalam masing-masing 1.000 ml larutan zirkonil 0,01 M, 0,05
M dan 0,1 M dimasukkan 33 gram Na-bentonit. Selanjutnya campuran diaduk dan dipanaskan pada 90
C selama 24 jam. Campuran disaring dan dicuci dengan air bebas mineral sampai bebas ion khlor (tes
dengan AgNO3 1%). Bentonit yang sudah terpilar kemudian dikeringkan dalam oven pada 110 C dan
dikalsinasi pada suhu 500 C. Bentonit berpilar yang dihasilkan siap digunakan untuk penelitian
selanjutnya.

Penentuan pengaruh variabel konsentrasi Zr sebagai bahan pilar, waktu kontak dan derajat
keasaman (pH) terhadap proses adsorbsi Uranium pada bentonit berpilar
Penentuan pengaruh variabel konsentrasi Zr terhadap proses adsorbsi uranium pada bentonit
berpilar (BP 1, BP 2 dan BP 3) dilakukan dengan cara bentonit berpilar BP 1, BP 2, dan BP 3 masing-
masing seberat 0,25 gram dimasukkan ke dalam masing-masing botol polietilen yang berisi 250 ml
limbah rafinat simulasi dari produksi Mo
99
dengan konsentrasi uranium 50 ppm. Campuran di-rolling
selama 3 jam hingga bentonit berpilar BP 1, BP 2, dan BP 3 jenuh uranium. Filtrat dianalisis
menggunakan Spektrometri UV-VIS dengan pengompleks arsenazo III untuk mengetahui uranium yang
terserap ke dalam masing-masing bentonit berpilar. Hasil serapan bentonit berpilar terbaik (paling
banyak) digunakan untuk penelitian selanjutnya, yaitu penentuan pengaruh waktu kontak dan derajat
keasaman (pH) terhadap proses adsorbsi uranium pada bentonit berpilar. Penelitian dilakukan dengan
cara yang sama, waktu kontak dibuat bervariasi : 0, 4, 8, 12, 16, 32, dan 42 menit. Sedangkan variasi
derajat keasaman (pH) adalah : 3, 5, 7, dan 9. Untuk pengaturan pH larutan digunakan NaOH 0,1 N
dan HCl 0,1 N. Penentuan pengaruh waktu kontak dan derajat keasaman (pH) juga dilakukan terhadap
proses adsorpsi pada bentonit alam dan Na-bentonit. Hasil terbaik digunakan untuk penelitian
selanjutnya.

Pengolahan awal/partisi limbah rafinat simulasi dari produksi Mo
99

Limbah rafinat simulasi dari produksi Mo
99
yang mengandung uranium selanjutnya diserap
menggunakan bentonit berpilar sampai bentonit berpilar menjadi jenuh terhadap uranium ( 1 hari)
sambil diaduk menggunakan magnetic stirer. Setelah bentonit berpilar jenuh uranium kemudian
dikeringkan pada suhu 100 C menggunakan oven untuk menguapkan kadar airnya sampai bentonit
berpilar benar-benar kering. Bentonit berpilar yang telah jenuh uranium ini selanjutnya disebut sebagai
limbah yang akan digunakan untuk penelitian selanjutnya dan akan diimobilisasi menggunakan resin
epoksi.

Pembuatan blok polimer-limbah
Polimer yang digunakan sebagai pengungkung adalah jenis polimer EPOSIR 7120 yang
dicampur dengan bahan pengeras (hardener) dengan perbandingan 2 : 1 (perbandingan sesuai dengan
petunjuk aplikasi). Limbah (bentonit berpilar yang telah jenuh uranium) masing-masing dicampur
dengan polimer dengan berbagai kandungan limbah (waste loading) yaitu 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 %
berat untuk mencari rasio optimum limbah-polimer. Perbandingan komposisi limbah-polimer ditunjukkan
pada Tabel 1. Pengadukan campuran dilakukan selama 10 menit, kemudian campuran yang telah
homogen dimasukkan ke dalam blok cetakan silinder yang berukuran tinggi 20 mm dan diameter 25
mm, kemudian dibiarkan mengeras selama 8 - 12 jam. Setelah blok polimer-limbah mengeras
kemudian dikeluarkan dari cetakan dan selanjutnya dilakukan uji kualitas meliputi uji densitas, kuat
tekan dan laju pelindihan.





Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

16

Tabel 1. Komposisi limbah-polimer untuk berbagai kandungan limbah dengan berat total 10 gram.

No
Kandungan limbah (%
berat)
Bentonit berpilar
(gram)
Resin Epoksi
(gram)
Hardener (gram)
1. 0 - 6,67 3,33
2. 10 1 6 3
3. 20 2 5,33 2,67
4. 30 3 4,67 2,33
5. 40 4 4 2
6. 50 5 3,33 1,67

Kualitas blok polimer-limbah
Uji kualitas blok polimer-limbah meliputi uji densitas, kuat tekan dan laju pelindihan.
Pengukuran densitas dilakukan dengan cara mengukur tinggi dan diameter sampel dengan jangka
sorong serta menimbang blok polimer-limbah yang telah berulang-ulang dikeringkan dalam oven dan
didinginkan dalam desikator hingga diperoleh berat konstan. Densitas sampel dihitung berdasarkan
persamaan (1). Pengujian kekuatan tekan dilakukan dengan kompaktor buatan Paul Weber jenis
D.7064 Remshaiden-Grunbach. Sampel polimer-limbah yang berbentuk silinder dilakukan penekanan
sampai pecah. Kuat tekan polimer-limbah dihitung berdasarkan persamaan (2). Pelindihan dilakukan
dengan alat soxhlet pada 100 C, 1 atm selama 6 jam. Untuk mengetahui uranium yang terlindih
selama uji pelindihan dilakukan analisis air pelindih menggunakan Spektrometri UV-VIS dengan
pengompleks arsenazo III. Rasio optimum blok polimer-limbah hasil imobilisasi didapatkan dari hasil
penentuan densitas, kuat tekan dan laju pelindihannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada pembuatan Na-bentonit untuk menaikkan kapasitas absorbsi dilakukan dengan aktivasi
fisika terlebih dahulu sebelum dilakukan aktivasi kimia. Bentonit yang telah mengalami aktivasi fisika
secara visual mengalami perubahan warna dari coklat muda menjadi coklat tua. Pada saat pemanasan
pada suhu 300 C selama 2 jam permukaan bentonit akan mempunyai jumlah muatan negatif yang
lebih besar. Pemanasan dapat menghancurkan ikatan OH-O, sehingga bentonit menjadi lebih aktif. Hal
ini akan mengakibatkan semakin banyak ion Na
+
yang terikat pada saat aktivasi kimia. Dengan
demikian proses pertukaran ion akan lebih sempurna [13]. Pada aktivasi kimia, logam-logam pengotor
dan kation seperti Ca
+2
, K
+
dan Mg
+2
digantikan oleh Na
+
yang berasal dari NaCl. Hasil analisis pada
proses aktivasi kimia diperoleh ion Na
+
yang terserap sebanyak 54.860,3 ppm dan ion Ca
2+
yang
terlepas sebanyak 275,5 ppm (sedangkan untuk ion Mg
2+
, K
+
dan lain-lain tidak dilakukan karena
keterbatasan alat analisis). Dari hasil analisis ini dapat diperkirakan bahwa pada pembentukan bentonit
alam menjadi Na-bentonit tidak mutlak melalui pertukaran ion Na
+
dengan Ca
2+
, tetapi juga melalui
proses adsorbsi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ion Na
+
yang terserap jauh lebih besar dibanding
dengan Ca
2+
yang terlepas.
Na-bentonit yang terbentuk selanjutnya dipilarisasi menggunakan Zr untuk mengubah struktur
yang berupa lapisan menjadi suatu bahan yang memiliki struktur pori dua dimensi yaitu dengan
membentuk pilar-pilar antara lapisan-lapisannya. Pembentukan pilar ini menyebabkan bentonit tidak
mengalami swelling, luas permukaannya menjadi lebih besar dan mempunyai porositas yang sama [7].
Dengan demikian diharapkan dapat menyerap limbah uranium secara maksimal. Perbedaan bentonit
alam dan bentonit berpilar dapat dilihat pada Gambar 3 [4].

Wati, Husen Zamroni, Herlan Martono: Pengolahan Limbah Rafinat Simulasi yang Ditimbulkan dari Produksi Radioisotop
Molibdenum-99 Menggunakan Bentonit Berpilar dan Resin Epoksi.

17



Gambar 3. Efek swelling pada bentonit alam dan bentonit berpilar [4].
Bentonit berpilar disintesis dengan mengganti ion Na
+
di dalam antarlapis bentonit dengan
oligokation yang besar dari logam Zr. Melalui kalsinasi, spesies pemilar akan teroksidasi sehingga
terbentuk oksida logam yang akan menyangga dan membuka lembaran-lembaran bentonit sehingga
terbentuk pori-pori [14]. Hasil analisis menggunakan Small Angel X-ray menunjukkan adanya kenaikan
jumlah zirkon yang ada dalam bentonit berpilar diikuti dengan penurunan jumlah ion Ca
2+
dan Na
+

seperti ditunjukkan pada Tabel 2 [5].

Tabel 2. Komposisi bentonit alam dan bentonit berpilar [5].

Sampel SiO2 Al2O3 TiO2 MnO Fe2O3 MgO CaO Na2O K2O ZrO2 Si/Al
Bentonit Alam 57,50 15,95 0,74 0,07 9,35 2,33 1,66 2,16 0,30 - 3,6
Bentonit Berpilar 46,17 12,32 0,62 0,04 7,01 1,48 0,27 0,55 0,27 11,97 3,7

Kenaikan jumlah zirkon di dalam bentonit berpilar tidak mempengaruhi nilai perbandingan Si/Al di dalam
bentonit tersebut. Pada bentonit alam perbandingan Si/Al adalah 3,6 sedangkan dalam bentonit berpilar
perbandingan Si/Al adalah 3,7. Perbandingan ini menunjukkan secara struktur bentonit tidak mengalami
perubahan. Hasil analisis menggunakan SEM dan EDS menunjukkan adanya distribusi dari zirkon
oksida yang merata masuk dalam lapisan bentonit [5]. Electron Probe Micro Analizer menunjukkan
adanya zirkon oksida antara dua lapisan pada bentonit [5]. Zirkon yang berada dalam bentonit
membentuk pilar diantara dua lapisan sehingga bentonit mempunyai porositas yang tetap.
Variabel yang berpengaruh terhadap proses adsorbsi bentonit berpilar terhadap uranium, yaitu
konsentrasi Zr sebagai bahan pilar, waktu kontak dan derajat keasaman (pH). Oleh karena itu untuk
mempelajari proses adsorbsi bentonit berpilar terhadap limbah uranium dilakukan dengan memvariasi
faktor-faktor yang berpengaruh tersebut. Penentuan pengaruh konsentrasi Zr sebagai bahan pilar
terhadap efisiensi penyerapan uranium dengan waktu kontak 3 jam, pada pH 7 ditunjukkan pada Tabel
3.

Tabel 3. Pengaruh konsentrasi Zr terhadap efisiensi penyerapan uranium.

Konsentrasi Zr
(M)
Uranium terserap
(mg/g bentonit)
Efisiensi penyerapan uranium (%)
0,01 20,66 41,66
0,05 11,82 23,84
0,10 4,76 9,59

Tabel 3 memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi bahan pilar Zr maka efisiensi penyerapan
limbah uranium semakin menurun. Hal ini disebabkan semakin tinggi konsentrasi Zr maka ruang
interlayer akan semakin terisi oleh Zr tersebut hingga penuh, sehingga dapat menghambat penyerapan
uranium oleh bentonit tersebut [15]. Berdasarkan Tabel 3, kapasitas serap terbaik adalah bentonit
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

18

berpilar dengan konsentrasi Zr 0,01 M (BP 1) dan efisiensi penyerapan 41,66 %. Bentonit berpilar
dengan efisiensi penyerapan terbaik ini selanjutnya dibandingkan dengan efisiensi penyerapan uranium
oleh bentonit alam dan Na-bentonit. Hasil percobaan penyerapan uranium oleh bentonit berpilar BP 1,
bentonit alam, dan Na-bentonit pada berbagai variasi waktu kontak ditunjukkan pada Gambar 4.



Gambar 4. Grafik pengaruh waktu kontak terhadap efisiensi penyerapan uranium oleh
bentonit berpilar BP 1, bentonit alam, dan Na-bentonit.

Gambar 4 memperlihatkan bahwa bentonit alam dan Na-bentonit memiliki kemampuan
penyerapan uranium yang lebih kecil dibanding dengan BP 1. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan
pilar pada bentonit dapat meningkatkan kemampuan serapnya terhadap uranium. Peningkatan
kapasitas serap ini disebabkan pada proses pemilaran bentonit dengan oksida ZrO2 menyebabkan
terjadinya peningkatan luas permukaan spesifik yang cukup tinggi dari senyawa tersebut. Dengan
adanya peningkatan luas permukaan pada bentonit berpilar menyebabkan peningkatan adsorpsi
uranium oleh bentonit berpilar [8,15]. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wijaya, Karna et al luas
permukaan Na-bentonit 81,34 m
2
/g, sedangkan luas permukaan bentonit berpilar menggunakan Zr
adalah 171 m
2
/g [14]. Hal serupa juga disampaikan oleh N. Maes et al yang menyebutkan bahwa luas
permukaan Na-bentonit akan meningkat setelah ditambahkan pilar didalamnya [7].
Waktu kontak merupakan suatu hal yang sangat menentukan dalam proses adsorpsi. Waktu
kontak yang lebih lama memungkinkan proses penyerapan uranium terhadap bentonit berlangsung
lebih baik. Namun, waktu kontak yang terlalu lama tidak efektif jika diterapkan dalam pengolahan
limbah untuk skala industri. Gambar 4 menunjukkan serapan maksimal bentonit berpilar BP 1 berada
pada waktu kontak 32 42 menit. Pada kisaran waktu kontak tersebut bentonit berpilar BP 1 telah
jenuh oleh uranium. Meskipun waktu kontak ditambah lagi (lebih lama) namun kemampuan serapnya
tidak akan bertambah. Hasil penyerapan yang mendekati serapan maksimal adalah serapan dengan
waktu kontak 16 menit. Oleh karena itu, waktu kontak 16 menit dijadikan sebagai waktu kontak terpilih
untuk penelitian selanjutnya (variasi pH) karena 16 menit merupakan waktu yang relatif singkat, namun
serapannya mendekati serapan maksimal yaitu sebesar 19,62 ppm dengan efisiensi penyerapan 39,10
%. Kapasitas serap pada waktu kontak 16 menit disebut kapasitas serap optimum dan 16 menit adalah
waktu kontak optimum.
Hasil penelitian penyerapan uranium oleh bentonit berpilar BP 1, bentonit alam, dan Na-
bentonit pada waktu kontak 16 menit pada berbagai variasi pH ditunjukkan pada Gambar 5.

0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Waktu kontak (menit)
E
f
i
s
i
e
n
s
i

p
e
n
y
e
r
a
p
a
n

u
r
a
n
i
u
m

(
%
)
Bentonit berpilar BP 1
Bentonit alam
Na-Bentonit
Wati, Husen Zamroni, Herlan Martono: Pengolahan Limbah Rafinat Simulasi yang Ditimbulkan dari Produksi Radioisotop
Molibdenum-99 Menggunakan Bentonit Berpilar dan Resin Epoksi.

19



Gambar 5. Grafik pengaruh derajat keasaman (pH) terhadap efisiensi penyerapan
uranium oleh bentonit berpilar BP 1, bentonit alam, dan Na-bentonit.

Gambar 5 memperlihatkan bahwa efisiensi penyerapan uranium oleh bentonit berpilar BP 1 adalah
yang paling tinggi dibanding dengan bentonit alam maupun Na-bentonit untuk berbagai variasi pH.
Disamping itu terlihat juga bahwa pada pH 7 efisiensi penyerapan uranium oleh bentonit berpilar BP 1,
bentonit alam dan Na-bentonit adalah yang paling tinggi dibanding pada pH 3 (kondisi asam) maupun
pH 9 (kondisi basa). Fakta ini sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Park et al [9] tentang pengaruh pH
terhadap penyerapan uranium oleh chitosan. Pengaruh pH terhadap efisiensi penyerapan uranium oleh
citosan dapat dilihat pada Gambar 6.



Gambar 6. Pengaruh pH pada efisiensi penyisihan uranium oleh citosan pada
(a) 50 mg/l uranium dan (b) 300 mg/l uranium [9].
Variasi pH berpengaruh terhadap karakteristik permukaan adsorben dan hidrolisis uranil dalam
larutan [9]. Pernyataan serupa disampaikan oleh Dyer A. et al, bahwa faktor penting yang berpengaruh
terhadap adsorpsi uranium yaitu karakteristik dari adsorben dan keberadaan ion uranium dalam larutan
dimana kedua faktor ini dipengaruhi oleh konsentrasi dan pH larutan [8].
Efek pH pada penyerapan uranium oleh bentonit berpilar BP 1 dapat dijelaskan dengan larutan
kimia uranium. Pada saat pH larutan uranium meningkat, uranil akan mudah mengalami hidrolisis. Tipe
spesies hasil uranil yang telah terhidrolisis misalnya yaitu UO2
2+
, UO2(OH)
+
, (UO2)2(OH)2
2+
,
(UO2)3(OH)5
+
. Pada pH tinggi akan dihasilkan spesies uranium dalam bentuk anion yaitu (UO2)3(OH)7
+

dengan ukuran ion uranil yang lebih besar. Grafik distribusi ion uranil disajikan pada Gambar 7 [9].
Pada saat pH rendah, larutan kontak dengan permukaan oksigen pada lapisan oktahedral
bentonit dan pada lapisan tersebut akan dihasilkan proton yang berlebih sehingga permukaan bentonit
cenderung untuk menangkap anion-anion. Proton tersebut berasal dari SiOH
2+
yang mendominasi
permukaan bentonit [7]. Sementara itu Zakutevskii et al menjelaskan bahwa pada pH 3,5 lebih dari 90
0
10
20
30
40
50
60
70
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Derajat keasaman (pH)
E
f
i
s
i
e
n
s
i

p
e
n
y
e
r
a
p
a
n

u
r
a
n
i
u
m

(
%
)
Bentonit berpilar BP 1
Bentonit alam
Na-Bentonit
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

20

% uranium pada larutan terdapat dalam bentuk UO2
2+
[8]. Permukaan bentonit pada kondisi asam
cenderung untuk menangkap anion, namun spesies ion uranil yang dihasilkan dalam bentuk kation. Hal
ini yang menyebabkan efisiensi penyerapan uranium sangat kecil pada kondisi pH rendah.



Gambar 7. Distribusi ion uranil pada berbagai variasi pH [9].

Pada pH sangat tinggi, larutan kontak dengan permukaan oksigen pada lapisan oktahedral
bentonit dan pada lapisan tersebut akan dihasilkan OH
-
yang berlebih sehingga permukaan bentonit
cenderung untuk menangkap kation [9]. Namun pada pH > 7 spesies uranium yang dihasilkan adalah
dalam bentuk anion yaitu (UO2)3(OH)7
+
dengan ukuran ion uranil yang lebih besar [9]. Hal inilah yang
menyebabkan efisiensi penyisihan uranium sangat kecil pada pH > 7.
Berdasarkan Tabel 3 (Pengaruh konsentrasi Zr terhadap efisiensi penyerapan uranium), Gambar
1 (Grafik pengaruh waktu kontak terhadap efisiensi penyerapan uranium oleh bentonit berpilar BP 1,
bentonit alam, dan Na-bentonit), dan Gambar 2 (Grafik pengaruh pH terhadap efisiensi penyerapan
uranium oleh bentonit berpilar BP 1, bentonit alam, dan Na-bentonit) dapat disimpulkan bahwa untuk
pengelolaan limbah rafinat produksi Mo
99
, efisiensi penyerapan uranium terbaik yaitu menggunakan
bentonit berpilar BP 1 ( konsentrasi Zr 0,01 M), waktu kontak 16 menit pada pH 7 (netral). Pada kondisi
tersebut, efisiensi penyerapan uranium sebesar 66,0 %.
Bentonit berpilar BP 1 yang telah jenuh uranium selanjutnya disebut sebagai limbah dan
diimobilisasi menggunakan bahan matriks resin epoksi dengan berbagai variasi kandungan limbah
seperti disajikan dalam Tabel 1. Pengamatan secara visual hasil imobilisasi limbah dengan resin epoksi
menunjukkan bahwa resin epoksi yang tidak mengandung limbah tidak berwarna (bening) dan tembus
cahaya, sedangkan yang mengandung limbah berwarna kuning, makin tinggi kandungan limbah warna
polimer makin kuning. Hal ini dapat terjadi karena semakin tinggi kandungan limbah akan diikuti dengan
semakin banyaknya bentonit berpilar BP 1 maupun kandungan uranium yang ada dalam blok polimer-
limbah tersebut seperti ditunjukkan pada Tabel 1.
Pengaruh kandungan limbah terhadap densitas blok polimer-limbah disajikan pada Gambar 8.
Gambar 8 menunjukkan bahwa makin besar kandungan limbah, makin besar pula densitas blok
polimer-limbah yang dihasilkan. Hal ini disebabkan oleh kenaikan kandungan limbah akan diikuti
dengan penurunan jumlah/volume polimer yang digunakan untuk mengungkung limbah seperti yang
ditunjukkan pada Tabel 1. Resin epoksi disusun oleh atom-atom C dan H yang massanya jauh lebih
kecil dibandingkan dengan limbah uranium. Semakin tinggi kandungan limbah maka makin banyak
atom-atom berat (uranium) yang terkandung dalam blok polimer-limbah yang dihasilkan tersebut,
sehingga densitasnyapun akan semakin besar.
Wati, Husen Zamroni, Herlan Martono: Pengolahan Limbah Rafinat Simulasi yang Ditimbulkan dari Produksi Radioisotop
Molibdenum-99 Menggunakan Bentonit Berpilar dan Resin Epoksi.

21



Gambar 8. Pengaruh kandungan limbah terhadap densitas blok polimer-limbah.

Pengaruh kandungan limbah terhadap kuat tekan blok polimer-limbah dapat dilihat pada
Gambar 9. Gambar 9 menunjukkan bahwa harga kuat tekan naik dengan kenaikan kandungan limbah
sampai nilai optimumnya yaitu sebesar 22,12 kN/cm
2
pada kandungan limbah 10 % (b/b). Hal tersebut
disebabkan oleh unsur-unsur limbah mengisi rongga antara ikatan-ikatan dalam struktur kerangka tiga
dimensi polimer sebagai filler [12]. Sedangkan pada kandungan limbah di atas 10 % (b/b) rongga yang
terbentuk tidak cukup mengungkung limbah yang ada, sehingga kekuatan tekannya semakin menurun.




Gambar 9. Pengaruh kandungan limbah terhadap kuat tekan blok polimer-limbah.

Laju pelindihan sangat penting diketahui untuk menentukan kualitas hasil imobilisasi yang harus
memenuhi standar untuk penanganan selanjutnya. Sampai kandungan limbah 50 % hasil imobilisasi
masih memenuhi syarat, tidak ada uranium yang terlindi.
Dalam suatu proses pengolahan limbah ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan yaitu
hasil pengolahan yang memenuhi persyaratan, proses sederhana sehingga dapat diterapkan di
Instalasi Pengolahan Limbah (IPLR) PTLR-BATAN dan ekonomis. Kandungan limbah yang besar akan
lebih ekonomis, namun karakteristik blok polimer-limbah yang dihasilkan cenderung menurun. Demikian
pula sebaiknya karakteristik blok polimer-limbah yang baik dapat diperoleh pada proses dengan
0.98
1
1.02
1.04
1.06
1.08
1.1
1.12
1.14
0 10 20 30 40 50
Kandungan limbah (%)
D
e
n
s
i
t
a
s

(
g
/
c
m
3
)
Blok polimer-limbah BP 1
0
5
10
15
20
25
0 10 20 30 40 50
Kandungan limbah (%)
K
u
a
t

t
e
k
a
n

(
k
N
/
c
m
2
)
Blok polimer-limbah BP 1
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

22

kandungan limbah yang lebih rendah. Berdasarkan densitas, kuat tekan, dan laju pelindihan maka hasil
terbaik imobilisasi bentonit berpilar BP 1 dengan resin epoksi ini akan memberikan karakteristik blok
polimer-limbah yang optimum pada kandungan limbah 20 % (b/b). Pada kondisi tersebut blok polimer-
limbah mempunyai densitas 0,99 gram/cm
3
, kuat tekan 20,18 kN/cm
2
, dan tidak terdeteksi adanya
uranium yang terlindi. Meskipun kuat tekan tidak setinggi pada kandungan limbah 10 % (b/b) tetapi
masih memenuhi syarat dan lebih ekonomis karena dapat menampung limbah lebih banyak. Blok
polimer-limbah dengan kandungan limbah lebih besar dari 20 % (b/b) berat terjadi penurunan kuat
tekan yang sangat besar.

KESIMPULAN
Kondisi optimum penyerapan limbah rafinat simulasi dari produksi molibdenum-99 oleh bentonit
berpilar diperoleh pada konsentrasi Zr 0,01 M, pH = 7, dan waktu kontak 16 menit dengan efisiensi
penyerapan sebesar 42,60 %. Berdasarkan densitas, kuat tekan, dan laju pelindihan diperoleh bahwa
blok polimer-limbah terbaik adalah pada kandungan limbah 20 %, densitas 0,99 gram/cm
3
, kuat tekan
20,18 kN/cm
2
, dan tidak terdeteksi adanya uranium yang terlindih.


DAFTAR PUSTAKA
[1] Putra, htttp://www.chem-is-try.org/?sec=fokus&ext=25, diperoleh tanggal 9 Maret 2009.
[2] Martono, H., Status Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan Limbah Aktivitas Tinggi di Pusat
Teknologi Limbah Radioaktif, Diktat Diklat Pengelolaan Limbah Radioaktif dan B3, Pusdiklat-
BATAN, Jakarta, (2008)
[3] Ohtsuka, K., Preparation and Properties if Two-Dimensional Microporous Pillared Interlayered
Solids, J. Chem. Mater, Vol. 9, p 2039 2050, (1997)
[4] Grimm, R.E. Clay Mineralogy, 2nd edition, McGraw-Hill Book Company, New York, (1968).
[5] Zamroni, H., LAS, T., Pembuatan Bentonit Berpilar Untuk Penyerapan Limbah Radioakti Sr-90,
Hasil Penelitian dan Kegiatan P2PLR 2001, BATAN, Jakarta, (2002).
[6] Klopproge, J.T., Synthesis of Smectites and Porous Pillared Clay Catalyst, Journal of Porous
Material, Kluwer Academic, Netherland, Vol. 5, pp 5 41, (1998).
[7] Maes, N., Heylen, I., Cool P., Vansant, E.F., The Relation Between The Syntesis of Pillared
Clays and Their Resulting Porosity, J. Applied Clay Science, Vol. 12, pp 43 60, (1997).
[8] Dyer, A. et al., Preparation and Properties of Clay Pillared with Zirkonium and Their Use in
Separation, Elsevier Science Publisher, Netherlands. (1989)
[9] PARK, G.I, PARK, H.S., Influence of pH on the Adsorption of Uranium Ions by Oxidized
Activated Carbon and Chitosan, Korea Atomic Energy Research Institute, Vol. 34 (5), pp. 833
854, (1999).
[10] Tata Surdia MS. and Saito, S., Pengetahuan Bahan Teknik, PT. Pradnya Paramita, Jakarta,
(1992).
[11] Fried, J. R., Polymer Science and Technology, Prentice Hall Inc. USA, (1995).
[12] Van Vlack, L.H., dan Sriati Djaprie, Ilmu dan Teknologi Bahan (Ilmu Logam dan Bukan Logam),
Erlangga, Jakarta, (1986).
[13] Al Zahrani A.A., Al Shahrani S.S., Al Tawil Y.A., Study on The Activation of Saudi Natural
Bentonit Part I : Investigation on The Conditions That Give Best Results Kinetics of The Sulfuric
Acid Activation Process, Chemical and Materials Engineering Department King Abdul Azis
University, Vol. 13, pp. 57 72, (2001).
[14] Wijaya, K., IQMAL T., BAIKUNI , A. Sintesis Lempung Terpilar Cr2O3 dan Pemanfaatannya
Sebagai Inang Senyawa p-Nitroanilin, Indonesian Journal of Chemistry, Chemistry Department,
Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Gadjah Mada University, 2002, 2(1), pp. 12 21,
(2002).
[15] Paul S., Clearfield A., and R.J. Diaz. Pillared Montmorillonites : Cesium Selective Ion Exchange
Materials, Journal Separation Science and Technology , Department of Chemistry, Texas A & M
University, Vol. 34(12), pp. 2293 2305, (1999).
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

23

SENSITISASI PADA PENGELASAN TABUNG BAJA TAHAN
KARAT AISI 304 WADAH LIMBAH SUMBER
226
Ra BEKAS
RADIOTERAPI

Aisyah
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN
Kawasan PUSPIPTEK, Serpong-Tangerang 15310


ABSTRAK
SENSITISASI PADA PENGELASAN TABUNG BAJA TAHAN KARAT AISI 304 WADAH
LIMBAH SUMBER
226
Ra BEKAS RADIOTERAPI. Pusat Teknologi Limbah Radioaktif melakukan
pengelolaan limbah sumber
226
Ra bekas radioterapi dengan cara memasukkan limbah kedalam tabung
baja tahan karat AISI 304 yang ditutup dengan cara pengelasan. Tabung yang telah berisi limbah
dimasukkan kedalam Long Term Storage Shield (LTSS), dan kemudian LTSS dimasukkan kedalam
shell drum 200 liter untuk penyimpanan sementara. Sensitisasi pada pengelasan baja tahan karat AISI
304 adalah dimungkinkan. Telah dilakukan penelitian sensitisasi pada pengelasan tabung baja tahan
karat AISI 304 wadah limbah dengan parameter arus pengelasan. Sensitisasi ditandai dengan
terbentuknya presipitat Cr23C6 pada batas butir, dan adanya presipitat diamati dengan mikroskop optik
dan elektron. Uji tarik guna mendukung pengamatan struktur mikro dilakukan untuk mengetahui
kekuatan tabung wadah limbah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus optimal pada pengelasan
tabung baja tahan karat AISI 304 wadah limbah adalah 110 A dengan kuat tarik 64 kg/mm
2
. Terbentuk
HAZ dalam daerah 14 mm dari sumbu las dengan kekerasan tertinggi 162 HVN. Pada HAZ terjadi
sensitisasi, namun presipitat Cr23C6 yang terbentuk pada batas butir masih terisolir antara satu dengan
yang lain dan korosi batas butir tidak signifikan. Sensitisasi pada pengelasan tabung wadah limbah
dengan kondisi seperti ini diyakini berada dalam batas yang selamat.

Kata kunci: Sensitisasi, pengelasan, baja tahan karat, limbah sumber bekas
226
Ra


ABSTRACT
SESITIZATION IN WELDING OF AISI 304 STAINLESS STEEL USED FOR THE CAN OF
226
Ra
WASTE FROM RADIOTHERAPHY. The Center for Radioactive Waste manages the
226
Ra source
wastes originated from radiotheraphy by containing them in a welded waste can made of AISI 304
stainless steel. The loaded can is then put in a Long Term Storage Shield (LTSS), and the LTSS is put
in a shell drum of 200 liters for temporary disposal. In the welding of the can, sensitization is assumed to
take place. A research of sensitization on welding of stainless steel AISI 304 can under a varied
welding current has been carried ou. The sensitization was identified by the production of Cr23C6
precipitates at the grain boundaries, the precipitates was observed by means of optic and electron
microscopes. Tensile strenght test was performed to back up the observation of microstructure in order
to know the strength of the can. The result shows that the electrical current of 110 Ampheres was
optimum for welding of the can, yield strength of 64 kg/cm
2
was obtained. HAZ was present in between
14 mm distance from the weld center, and the hardnest was 162 HVN. Sensitization was occurred in the
HAZ, but the precipitates in grain boundary was isolated one to the other, and therefore the
intergranular corrossion is believed insignificant. The sensitization in welding of AISI 304 steel can used
for containing
226
Ra waste under welding parameter mentioned above is safe.

Keywords: Sensitization, welding, stainless steel,
226
Ra spent source waste


PENDAHULUAN
Saat ini pemanfaatan teknologi nuklir dalam dunia kedokteran berkembang dengan pesat. Salah
satunya adalah pemanfaatan sumber radiasi dalam bidang radioterapi. Radioterapi merupakan salah
satu cara yang efektif untuk mengobati penyakit dengan memanfaatkan kemampuan radiasi pengion
Aisyah: Sensitisasi Pada Pengelasan Tabung Baja Tahan Karat Aisi 304 Wadah Limbah Sumber
226
ra Bekas Radioterapi

24

yang dapat membunuh sel-sel yang tumbuh abnormal seperti tumor atau kanker. Brachiterapy adalah
suatu radioterapi dengan zat radioaktif sebagai sumber radiasinya. Brachiterapy dilakukan dengan
cara penyinaran pada jarak sangat dekat bahkan pada kondisi tertentu sumber radiasi tertutup
dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Di Indonesia sumber radiasi yang digunakan adalah
226
Ra,
137
Cs,
60
Co dan
192
Ir.
Di masa lampau Indonesia banyak menggunakan
226
Ra sebagai sumber radiasi yang dipakai
dalam radioterapi. Sumber radiasi
226
Ra merupakan radionuklida yang berumur panjang, sehingga akan
menyulitkan dalam pengelolaan sumber bekasnya (limbah). Atas rekomendasi International Atomic
Energy Agency (IAEA), Indonesia telah menghentikan pemakaian sumber radiasi
226
Ra, sehingga
pihak rumah sakit telah mengirimkan limbah sumber
226
Ra bekasnya ke Pusat Teknologi Limbah
Radioaktif (PTLR) untuk dilakukan pengelolaan. Pengelolaan dilakukan sesuai standar IAEA seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 1 [1,2,3].
1. Sejumlah tertentu limbah sumber
226
Ra bekas yang berupa jarum atau kapsul dimasukkan
kedalam tabung baja tahan karat dengan dimensi tabung 110 x 20x 8 mm.
2. Limbah sumber
226
Ra bekas merupakan radionuklida yang dalam masa peluruhannya
mengeluarkan gas radon yang cukup berbahaya bagi kesehatan manusia, sehingga tabung
baja tahan karat yang telah berisi sumber radiasi bekas
226
Ra dilas rapat agar gas radon tidak
lepas ke lingkungan.
3. Pengelasan tabung baja tahan karat AISI 304 dilakukan dengan tungsten inert gas (TIG) dan
dilakukan pengujian kebocoran hasil lasan dengan metode Vacum buble test
4. Tabung baja tahan karat AISI 304 yang telah terisi limbah sumber bekas
226
Ra dan telah lolos
uji pengelasan , kemudian dimasukkan dalam Long Term Storage Shield (LTSS) yang terbuat
dari Pb dengan maksud sebagai perisai radiasi untuk membatasi paparan radiasi yang cukup
tinggi
5. Long Term Storage Shield kemudian dimasukkan dalam shell drum 200 liter untuk kemudian
disimpan sementara di tempat penyimpanan sementara limbah aktivitas rendah dan sedang.

Gambar 1. Pengelolaan limbah sumber
226
Ra bekas radioterapi [1,2,3]
A) Tabung baja tahan karat wadah limbah sumber
226
Ra
B) Pengelasan tabung baja tahan karat
C) LTSS untuk memuat tabung baja tahan karat
D) Pemuatan LTSS dalam shell drum 200 Liter

Tabung yang digunakan sebagai wadah limbah sumber
226
Ra bekas radioterapi terbuat baja
tahan karat austenitik AISI 304 yang memerlukan pengelasan pada tutupnya agar tidak terjadi
kebocoran dari gas radon akibat peluruhan limbah sumber
226
Ra. Seperti diketahui dalam pengelasan
baja tahan karat AISI 304 sering timbul masalah yaitu kemungkinan terjadi sensitisasi. Sensitisasi
adalah timbulnya presipitat krom karbida (Cr23C6) pada batas butir. Sensitisasi akan timbul pada baja
tahan karat austenitik yang mengalami siklus termal akibat pengelasan atau perlakuan panas lainnya
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

25

yaitu pemanasan pada suhu sensitisasi (500-800
o
C) yang diikuti dengan pendinginan lambat [4,5,6].
Akibat adanya sensitisasi ini maka bahan akan cenderung mengalami penurunan kekuatannya karena
terjadi korosi batas butir. Hal ini harus dihindari karena wadah limbah sumber
226
Ra ini nantinya akan
disimpan lestari pada formasi geologi. Jika suatu saat pada penyimpanan lestari air tanah mencapai
wadah, maka wadah yang telah mengalami sensitisasi ini akan meningkatkan laju korosi dan wadah
akan hancur sebelum waktunya. Dalam bahan yang mengalami pengelasan, sensitisasi biasanya timbul
pada HAZ (Heat Affected Zone), sedangkan daerah las maupun daerah logam induk tidak mengalami
sensitisasi. Heat Affected Zone adalah daerah dekat las yang terpengaruh panas sehingga mengalami
perubahan struktur mikro dan sifat mekanik.
Pengelasan TIG (tungsten inert gas) adalah teknik pengelasan berkualitas tinggi dimana
elektrodanya tidak meleleh dan hanya berfungsi sebagai penghantar arus. Untuk pengelasan lembaran
logam yang tipis, pengelasan TIG dapat digunakan tanpa bahan pengisi logam, sedangkan untuk
lembaran logam yang lebih tebal dapat digunakan bahan pengisi logam dalam bentuk kawat batangan
atau kawat gulungan. Lelehan logam, elektroda tungsten yang panas dan bagian ujung bahan pengisi
logam yang meleleh dilindungi dari atmosfir dengan menggunakan gas argon [7,8].
Proses pengelasan merupakan proses yang tidak bisa dihindari dalam fabrikasi atau pemakaian
tabung wadah limbah sumber
226
Ra bekas radioterapi. Adanya pengelasan memungkinkan terjadinya
perubahan struktur mikro dan sifat mekanik. Perubahan struktur mikro dan sifat mekanik terjadi
terutama pada HAZ, dimana pada daerah ini akan terjadi sensitisasi. Sensitisasi diamati dengan
mikroskop optik dan elektron terhadap terbentuknya presipitat Cr23C6 pada batas butir, sedangkan kuat
tekan dan kekerasan diamati melalui pengujian dengan mesin uji tarik dan mesin uji kekerasan Vikers.
Dengan penelitian ini diharapkan dapat diketahui sejauh mana efek pengelasan tabung limbah sumber
226
Ra bekas radioterapi terhadap terjadinya sensitisasi, sehingga potensi terjadinya korosi batas butir
dapat diminimalkan.

TATA KERJA
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bidang Teknologi Pengolahan Limbah Radioaktif
Dekontaminasi dan Dekomisioning di Pusat Teknologi Limbah Radioaktif, Badan Tenaga Nuklir
Nasional (BATAN), Kawasan Puspiptek Serpong pada Tahun 2009

Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Pelat baja tahan karat AISI 304 dengan komposisi kimia seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1
[9,10].
2. Bahan pengisi jenis OK AUTROD 16.10 yang berupa kawat dengan diameter 3,2 mm dengan
komposisi kimia seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2 [11].

Tabel 1. Komposisi kimia baja tahan karat AISI 304 [9,10].
Unsur Prosentase (%) Unsur Prosentase (%)
C 0,050 S 0,030
Si 0,370 Ni 8,080
Mn 1,340 Cr 18,470
P 0,029 Fe 71,630


Tabel 2. Komposisi Bahan Pengisi jenis OK Autrod 16.10 [11].
Unsur Prosentase (%) Unsur Prosentase (%)
C 0,020 S 0,018
Si 0,400 Ni 10,000
Mn 1,600 Cr 20,000
P 0,018


Aisyah: Sensitisasi Pada Pengelasan Tabung Baja Tahan Karat Aisi 304 Wadah Limbah Sumber
226
ra Bekas Radioterapi

26

Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mesin las TIG dengan pelindung gas
argon, mesin uji tarik Servopulser Shimadzu, mesin uji keras (Vickers Hardness Testing Machine),
mesin grinding, polishing, peralatan etsa, mikroskop optik, dan lainnya.

Metode
Dalam penelitian ini dilakukan pengelasan terhadap bahan tabung wadah limbah
226
Ra bekas
radioterapi yang berupa pelat baja tahan karat AISI 304. Dipelajari pengaruh arus pengelasan
terhadap kuat tarik bahan. Pada penggunaan arus las yang optimal diamati kekerasan dan struktur
mikronya. Pengamatan struktur mikro terutama dilakukan pada HAZ, dimana pada daerah ini
kemungkinan terjadi sensitisasi. Pengamatan sensitisasi dilakukan secara mikroskopis dengan
mengamati terbentuknya presipitat Cr23C6 pada batas butir. Sedangkan kuat tarik dan kekerasan
diamati dengan mesin uji tarik dan mesin uji kekerasan Vikers.

Pengelasan
Dua potong baja tahan karat AISI 304 dengan ukuran 200x125x5 mm disambung dengan cara
dilas dengan cara penyambungan seperti ditunjukkan pada Gambar 2 [12]. Pengelasan dilakukan
dengan mesin las TIG dengan pelindung gas argon [7,8]. Besarnya arus yang digunakan dalam
penelitian ini divariasikan, yaitu 60, 70, 80, 90, 100, 110, 120, 130 dan 140A. Bahan pengisi yang
digunakan adalah jenis OK AUTROD 16.10. Dilakukan pengamatan pengaruh arus pengelasan
terhadap kuat tarik bahan, sehingga diperoleh arus pengelasan yang optimal.


Gambar 2. Bentuk kampuh las pada pengelasan [12].

Pengujian tarik
Pengujian tarik dilakukan untuk mengetahui tegangan tarik bahan yang mengalami pengelasan.
Pengujian dilakukan sesuai dengan standar JIS Z 2201 dengan ukuran sampel seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 3. Kekuatan tarik merupakan kemampuan dari sambungan las untuk menerima beban
tarik. Pengujian dilakukan dengan menggunakan mesin uji tarik Servopulser Shimadzu dengan cara
menjepit sampel dengan kuat dan beban diberikan secara kontinyu sampai sampel tersebut putus [13-
15]. Tegangan tarik (kuat tarik), yaitu tegangan maksimum yang dapat ditahan oleh sampel
t = Fmak/A0 (1)
dimana : t : Kuat tarik sampel (kg/mm
2
)
Fmak : Gaya maksimum yang dapat ditahan oleh sampel (kg)
A0 : Luas penampang awal sampel (mm
2
)

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

27


Gambar 3 . Bentuk sampel pada uji tarik ( standar JIS Z 2201) [13-15].

Pengujian kekerasan
Pengujian kekerasan dimaksudkan untuk mendapatkan data perubahan kekerasan dari
bahan akibat adanya pengelasan. Pengujian dilakukan dengan mesin uji keras Vickers (Vickers
Hardness Testing Machine) dengan cara melakukan penekanan pada sampel menggunakan penekan
berbentuk piramida intan yang dasarnya bujur sangkar. Besarnya sudut puncak identor piramida intan
136
0
. Besarnya angka kekerasan dihitung berdasarkan persamaan [13,14,16]:
HVN = 1,8544 x P/d
2
(2)
dimana: HVN : Angka kekerasan Vickers (Hardness Vickers Number )
P : Beban yang digunakan (kg)
d : Diagonal identasi (mm)

Pengujian kekerasan dilakukan pada sampel yang telah dilas dengan arus pengelasan yang
optimal. Pengujian kekerasan dilakukan mulai dari daerah las, HAZ dan daerah sampai jarak tertentu
kearah logam induk .

Pengujian metalografi
Pengamatan struktur mikro dilakukan terhadap sampel yang mengalami pengelasan dengan
arus las yang optimal. Pengujian metalografi dilakukan pada daerah logam induk, HAZ dan daerah
las. Pengujian dilakukan dengan cara memotong sampel sesuai ukuran, kemudian dibingkai dengan
resin dan selanjutnya dilakukan pemolesan. Penggerindaan dilakukan dengan kertas amplas yang
bertingkat kekasarannya sedangkan pemolesan dilakukan dengan pasta alumina. Sampel yang telah
mengkilap dietsa dengan metode etsa elektrolitik yaitu dengan cara memasang sampel sebagai anoda,
sedangkan sebagai katoda adalah bahan dengan jenis dan dimensi yang sama. Jarak katoda dan
anoda adalah 25 mm dan sebagai larutan etsa digunakan larutan asam oksalat 10 %. Arus yang
digunakan adalah 5 A dengan voltase 12 V dan waktu etsa 15 menit [17 19]. Selanjutnya diamati
struktur mikronya dengan mikroskop optik.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian ditunjukkan pada gambar-gambar berikut. Gambar 4 menunjukkan pengaruh
arus pengelasan terhadap kuat tarik bahan.

Gambar 4. Pengaruh arus pengelasan terhadap kuat tarik
45
50
55
60
65
50 70 90 110 130 150
Arus Pengelasan (A)
K
u
a
t

T
a
r
i
k

(
k
g

m
m
-
2
)
P
L
R
R
W
L = 200 mm
P = 220 mm
W = 40 mm
R = 25 mm
Aisyah: Sensitisasi Pada Pengelasan Tabung Baja Tahan Karat Aisi 304 Wadah Limbah Sumber
226
ra Bekas Radioterapi

28


Dari Gambar 4 terlihat bahwa pada arus pengelasan yang rendah akan memberikan kuat tarik
yang rendah, hal ini terjadi karena pada penggunaan arus yang rendah akan menyebabkan sukarnya
penyalaan busur listrik. Busur listrik yang terjadi menjadi tidak stabil. Panas yang terjadi tidak cukup
untuk melelehkan bahan pengisi dan bahan induk, sehingga hasilnya merupakan rigi-rigi las yang kecil
dan tidak rata serta penembusan kurang maksimal. Oleh karena itu akan dihasilkan sambungan las
yang kurang kuat dengan kuat tarik yang rendah. Hal ini ditandai dengan putusnya sambungan las
sewaktu pengujian tarik.
Makin besar kuat arus yang digunakan maka kuat tarik semakin tinggi. Kuat tarik tertinggi
dicapai pada arus pengelasan 110A dengan kuat tarik 64 kg mm
-2
. Hal ini dapat diterangkan bahwa
makin tinggi arus pengelasan maka akan memberikan panas yang tinggi, penetrasi yang dalam dan
kecepatan pencairan logam yang tinggi. Pencairan logam induk dan logam pengisi memerlukan energi
panas yang cukup. Dalam proses pengelasan, energi panas berasal dari listrik yang besarnya
tergantung dari parameter pengelasan yaitu arus las, tegangan las dan kecepatan pengelasan.
Hubungan ketiga parameter tersebut akan menghasilkan masukan panas (H) menurut persamaan
[8,20]:

H =P/v = EI/v (3)

dimana P : Tenaga input ( watt )
v : Kecepatan pengelasan ( mm/s )
E : Potensial listrik (volt)
I : Arus listrik ( amper ).

Dari persamaan (3) terlihat bahwa pada pemakaian arus yang besar menghasilkan panas yang
besar. Adanya panas dengan jumlah yang cukup besar mampu menghasilkan sambungan las yang
betul-betul kuat, sehingga sewaktu dilakukan pengujian tarik, bahan tidak patah pada sambungan las,
tetapi patah pada HAZ atau pada logam induknya. Hal ini sesuai dengan hasil pengujian bahwa pada
pemakaian arus pengelasan 110 A memberikan kuat tarik yang maksimum yaitu 64 kg mm
-2
dan
sewaktu pengujian, sampel patah pada daerah logam induk.
Pada pemakaian arus pengelasan yang semakin besar, maka kuat tarik akan semakin
menurun. Hal ini terjadi karena bahwa pada pemakaian arus yang terlalu besar maka percikan busur
menjadi lebih besar sehingga mengakibatkan masukan panas yang terlalu besar. Sesuai dengan
diagram siklus termal yang ditunjukkan pada Gambar 5 bahwa semakin besar masukan panas maka
akan terjadi kecepatan pendinginan yang lebih lambat.


Gambar 5. Siklus termal pada pengelasan [20].

Pada kecepatan pendinginan lambat akan terjadi pembesaran butir. Butir yang besar akan
menurunkan kekuatan bahan. Hal ini sesuai dengan persamaan Hall-Petch berikut [8,20]:
= o + kd
-1/2
(4)
dimana : tegangan luluh
o : tegangan friksi (friction stress)
k : koefisien penguat (strengthening coefficient)
d : ukuran (diameter) butir.
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

29

Menurut persamaan (4) bahwa bahan akan mempunyai kekuatan yang tinggi jika memiliki batas
butir yang kecil. Butir yang kecil mampu menahan pergerakan dislokasi sehingga bahan mempunyai
kekuatan yang besar. Oleh karena itu dalam penelitian ini diperoleh arus pengelasan yang optimal
adalah 110 A dengan kuat tarik 64 kg mm
-2
. Selanjutnya dilakukan pengujian kekerasan dan struktur
mikro pada pengelasan yang menggunakan arus 110 amper.
Hasil pengujian kekerasan bahan untuk sampel yang dilas dengan arus 110 A yang diukur pada
setiap jarak 2 mm dari sumbu las ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6.Pengaruh jarak terhadap kekerasan.

Dari Gambar 6 tampak bahwa untuk jarak sampai dengan 6 mm dari sumbu las harga
kekerasan semakin meningkat. Hal ini terjadi karena daerah tersebut merupakan HAZ dimana pada
daerah itu tumbuh presipitat Cr23C6 yang keras. Krom karbida ini tumbuh pada HAZ karena pada HAZ
mengalami sensitisasi akibat siklus panas pada saat pengelasan. Untuk daerah yang lebih besar dari 6
mm harga kekerasan akan makin menurun. Hal ini karena pada daerah yang semakin jauh dari sumbu
las semakin sedikit menerima panas sehingga kesempatan tumbuhnya presipitat Cr23C6 semakin kecil.
Seperti diketahui bahwa presipitat Cr23C6 merupakan senyawa yang keras karena mengandung karbon,
sehingga jika presipitat Cr23C6 sedikit maka kekerasan akan semakin menurun. Pada daerah dengan
jarak 14 16 mm dari sumbu las harga kekerasan sudah sama dengan bahan induk. Dengan demikian
HAZ panjangnya sekitar 14 mm dari sumbu las dengan kekerasan tertinggi 162 HVN. Daerah las
memiliki kekerasan yang lebih besar dari bahan induknya, karena pada daerah ini terjadi peleburan
bahan yang kemudian mendingin dengan cepat, sehingga terbentuk tegangan termal yang
menghasilkan distorsi. Daerah dengan distorsi yang cukup tinggi mempunyai kekerasan yang lebih
tinggi.
Hasil pengujian struktur mikro pada bahan yang mengalami pengelasan dengan arus 110
amper yang diamati dengan mikroskop optik pada perbesaran 500 kali ditunjukkan pada Gambar 7.
Gambar 7A menunjukkan foto struktur mikro daerah bahan induk sedangkan Gambar 7B menunjukkan
gambar struktur mikro HAZ serta Gambar 7C menunjukkan foto struktur mikro daerah las.


Gambar 7. Struktur mikro bahan yang mengalami pengelasan,
pengamatan dengan mikroskop optik
(A). Daerah bahan induk
(B). HAZ
(C) Daerah las
130
140
150
160
170
0 4 8 12 16 20
Jarak dari Sumbu Las (mm)
K
e
k
e
r
a
s
a
n

(
H
V
N
)
Aisyah: Sensitisasi Pada Pengelasan Tabung Baja Tahan Karat Aisi 304 Wadah Limbah Sumber
226
ra Bekas Radioterapi

30


Pada Gambar 7A tampak struktur mikro daerah bahan induk yang bersih bebas dari presipitat
Cr23C6. Bahan induk adalah bagian logam dasar di mana panas dan suhu pengelasan tidak
menyebabkan terjadinya perubahan struktur mikro dan sifat mekanik. Hal ini sesuai dengan hasil
pengujian kekerasan yang ditunjukkan pada Gambar 6 dimana daerah yang terpengaruh panas hanya
sejauh 14 mm dari sumbu las. Lebih jauh dari itu merupakan daerah bahan induk. Sedangkan pada
Gambar 7B merupakan gambar struktur mikro HAZ dimana dalam gambar tampak batas butir yang
berwarna hitam dan tebal yang merupakan bekas jejak presipitat Cr23C6. Daerah tampak terkorosi
akibat terbentuknya daerah deplesi krom. Struktur mikro daerah las ditunjukkan pada Gambar 7C.
Komposisi daerah las terdiri dari komponen bahan induk dan bahan pengisi. Logam las dalam proses
pengelasan mencair kemudian membeku, sehingga kemungkinan terjadi pemisahan komponen yang
menyebabkan terjadinya struktur yang tidak homogen. Daerah las pada umumnya memiliki struktur
berbutir panjang (columnar grains). Pertumbuhan struktur ini berawal dari logam induk yang tumbuh ke
arah tengah daerah logam las.
Dalam proses pengelasan adanya siklus termal yaitu pemanasan yang diikuti dengan
pendinginan lambat , maka HAZ akan berada pada suhu sensitisasi (500-800
o
C). Hal ini sesuai
dengan yang ditunjukkan oleh Kurva Time Temperature Sensitisation pada Gambar 8 [21].

Gambar 8. Kurva Time Temperature Sensitization [21]
Pada Gambar 8 tampak bahwa untuk bahan baja tahan karat AISI 304 dengan kadar C 0,05 %
jika berada pada suhu 700
0
C selama minimal 10 menit sudah terkena sensitisasi yaitu terbentuknya
presipitat Cr23C6 pada batas butir. Untuk bahan baja tahan karat dengan kadar karbon yang lebih
rendah misalnya AISI 304L atau 316L pada suhu tersebut tidak terjadinya sensitisasi. Sensitisasi
adalah terbentuknya presipitat karbida M23C6 pada batas butir. Presipitat M23C6 mempunyai unsur
utama adalah Cr23C6 dengan besi (Fe) atau Molybdenum (Mo) akan mensubtitusi sebagian dari Cr.
Besarnya subtitusi ini tergantung pada paduan dan kondisi presipitasinya. Pada tingkat awal presipitasi,
maka presipitat M23C6 mengandung Fe cukup tinggi. Dengan naiknya suhu maupun waktu presipitasi
maka kadar Cr akan meningkat. Oleh karena itu pada penggunaan baja tahan karat AISI 304 maka
M23C6 biasanya berupa presipitat Cr23C6 [10,22,23]. Kinetika pembentukan presipitat Cr23C6 ini melaui
mekanisme difusi C dalam matrik ke batas butir dan berikatan dengan Cr membentuk presipitat Cr23C6.
Akibat dari difusi C kebatas butir tersebut maka terdapat daerah yang kekurangan Cr (cromium
depleted zone). Secara mikro akan terjadi perbedaan potensial antara daerah yang kekurangan Cr
dibanding presipitat Cr23C6 yang kaya unsur Cr sehingga terjadi korosi batas butir (intergranular
corrosion). Gambar 9a. menunjukkan pertumbuhan presipitat Cr23C6 pada batas butir, sedangkan
Gambar 9b menunjukkan terbentuknya daerah deplesi Cr [5,24].
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

31


Gambar 9. Bahan yang mengalami sensitisasi [5,24].
(a) Terbentuknya Cr23C6 pada batas butir
(b) Terbentuk daerah deplesi krom akibat adanya sensitisasi

Krom karbida merupakan senyawa yang keras karena mengandung C. Oleh karena itu sejalan dengan
hasil pengujian kekerasan pada HAZ pada Gambar 6 yang menunjukkan nilai kekerasan yang paling
tinggi.
Untuk lebih mendeteksi kondisi presipitat Cr23C6, maka dapat dilakukan pengamatan struktur
mikro menggunakan Transmision Electron Microscope (TEM) dengan hasil foto seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 10 [25].

Gambar 10. Presipitat Cr23C6, hasil pengamatan TEM [25].

Dari Gambar 10 tampak bahwa presipitat Cr23C6 tumbuh pada batas butir namun masih terisolir
antara satu dengan yang lainnya. Artinya pada kondisi ini korosi batas butir cenderung belum tampak.
Namun jika bahan berada pada suhu sensitisasi yang cukup lama maka presipitat Cr23C6 akan tumbuh
semakin banyak dan membentuk jaringan yang kontinyu menutup seluruh batas butir, maka pada
kondisi ini terjadi korosi batas butir. Serangan korosi batas butir ini akan semakin hebat, jika bahan
terus terpapar pada suhu sensitisasi yang terlalu lama. Pada kondisi ini batas butir mengalami
serangan korosi yang cukup besar, bahkan banyak diantara butir-butirnya terlepas atau tidak ada ikatan
antar butir lagi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 11 [26].


Gambar 11.Batas butir mengalami serangan korosi yang berat,
hasil pengamatan SEM [26].

Aisyah: Sensitisasi Pada Pengelasan Tabung Baja Tahan Karat Aisi 304 Wadah Limbah Sumber
226
ra Bekas Radioterapi

32

Berdasarkan pada kondisi presipitat Cr23C6 yang terbentuk pada batas butir masih terisolir satu
sama lain, maka dikatakan bahwa serangan korosi batas butir cenderung belum signifikan. Hal ini
berarti bahwa peristiwa sensitisasi yang menyertai pengelasan tabung bahan baja tahan karat AISI
304 wadah limbah
226
Ra bekas radioterapi masih dalam batas yang wajar dan selamat. Namun bila
presipitat Cr23C6 yang terbentuk pada batas butir mengakibatkan serangan korosi batas butir, maka
harus dilakukan upaya pencegahan agar tabung wadah limbah sumber
226
Ra bekas radioterapi dapat
selamat sesuai dengan disain yang direncanakan.
Upaya pencegahan terjadinya sensitisasi pada baja tahan karat AISI 304 yang mengalami
pengelasan dapat dilakukan dengan mengontrol kadar C pada bahan atau dengan menambahkan
unsur yang bisa mengikat C lebih stabil dari pada Cr. Pada baja tahan karat austenitik, mereduksi kadar
C sampai 0,03 % atau lebih kecil lagi akan mencegah sensitisasi selama pengelasan atau perlakuan
panas lainnya. Akan tetapi cara ini kurang efektif untuk mencegah timbulnya korosi batas butir bila
bahan berada dalam waktu yang lama pada suhu sensitisasi. Titanium dan Columbium (Cb) atau
Niobium (Nb) yang ditambahkan pada baja tahan karat austenitik akan membentuk karbida yang lebih
stabil (TiC, CbC dan NbC) dari pada Cr. Titanium, Cb atau Nb akan mengikat C yang ada dalam
matriks, sehingga mencegah presipitasi Cr23C6. Baja tahan karat seperti ini biasanya disebut Stabilized
Grades yaitu baja tahan karat austenitik 321 atau 347 [10,27,28].

KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, pada pengelasan wadah limbah
sumber
226
Ra bekas radioterapi arus 110 A merupakan arus yang optimal dengan kekuatan tarik
sebesar 64 kg/mm
2
. Pada pengujian kekerasan diperoleh bahwa HAZ mempunyai panjang 14 mm dari
sumbu las dengan kekerasan teringgi 162 HVN. Dari pengamatan struktur mikro menggunakan
mikroskop optik terlihat bahwa pada HAZ terjadi sensitisasi yang ditandai dengan batas butir yang
menebal yang merupakan bekas jejak presipitat Cr23C6. Pengamatan dengan mikroskop elektron
tampak bahwa presipitat Cr23C6 yang terbentuk masih terisolir satu dengan lainnya, sehingga pada
kondisi ini dikatakan bahwa korosi batas butir cenderung belum signifikan. Oleh karena itu adanya
pengelasan pada wadah limbah sumber
226
Ra bekas radioterapi ini meskipun terjadi sensitisasi namun
masih dalam batas yang wajar dan selamat. Untuk lebih meningkatkan keselamatan dalam pengelolaan
sumber
226
Ra ini maka wadah limbah sumber
226
Ra dapat dipilih dari baja tahan karat Stabilized
Grades yaitu AISI 321 atau 347 yang lebih selamat dari serangan sensitisasi.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. International Atomic Energy Agency, Management of Waste from The Use of Radioactive
Material in Medicine, Industry, Agriculture, Research and Education, Safety Guide No.WS-G-2.7,
IAEA, Vienna, (2005).
[2]. Al-Mughrabi, M., Technical Manual for Conditioning of Spent Radium Sources, IAEA, Vienna,
(1998).
[3]. International Atomic Energy Agency, Handling, Conditioning and Storage of Spent Sealed
Radioactive Sources, IAEA-TECDOC-1145, IAEA, Vienna, (2000).
[4]. Matula, M, et.al., Intergranular Corrosion of 316L Steel, Materials Characterization, 46: 203-210,
(2001).
[5]. Korostelev, A.B, et.al., Evaluation of Stainless Steel for Their Resistance to Intergranular
Corrosion, Journal of Nuclear Materials, 233-237:1361-1363, (1996).
[6]. Karokaro, M., et.al., Effect of Repair Welding Process on Microstructure and Corrosion
Resistance of Stainless Steel Type 304, http://www.its.ac.id/.../2484-hariyati-Lampiran%20B.3-
paper%20IACD%20Karokaro%20(ITS).doc, diunduh pada tanggal 4 Oktober 2009.
[7]. Messler, Jr., Robert W., Principle of Welding: Process, Physics, Chemistry, and Metallurgy, John
willey & Sons, New York, (1999).
[8]. Wiryosumarto, H. dan Okumura, T., Teknologi Pengelasan Logam, PT. Pradya Paramita,
Jakarta, (2000).
[9]. Davis, J. R., Metals Handbook, 10
th
Ed., Vol. 6, ASM International, USA, (1990).
[10]. Peckner, D and Berstein, I. M., Handbook Of Stainless Steels, McGraw Hill Book , USA, (1977).
[11]. Esab, OK.Autrod 16.10, http://marsenterprises.co.in/ESABStanderdCONSUMABLES/GTAW_
consumables/gtawleft.pdf. diunduh pada tanggal 16 Nopember 2009
[12]. GurulasS Weblog, SMAW Lanjut, http://gurulas.wordpress.com/materi-smaw-lanjut/, diunduh
pada tanggal 17 November 2009
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

33

[13]. Khun, H., Meslin, D., ASM Handbook, Vol. 8 : Mechanical Testing and Evaluation, 9
th
ed, ASM,
USA, (1992).
[14]. Crancovic, M.,G., ASM Handbook, Vol. 10 : Materials Characterization, 9
th
ed, ASM, USA.
(1992)
[15]. Anonim, Mengenal Uji Tarik dan Sifat-sifat Mekanik Logam, http://www.infometrik.com/2009/09/
mengenal-uji-tarik-dan-sifat-sifat-mekanik-logam/, diunduh pada tanggal 15 September 2009.
[16]. Tata Surdia, dkk., Pengetahuan Bahan Teknik, Edisi 4, PT. Pradya Paramita, Jakarta, (1999).
[17]. Sindo Kou, Welding Metallurgy, 2
nd
ed., John Wiley & Sons Inc, New York, (2003).
[18]. George F. Vander Voort, ASM Handbook, Vol. 9 : Metallography and Micro Structures, 9
th
ed,
ASM, USA, (1992).
[19]. Amelinckx, S., et.al., Handbook of Microscopy: Applications in Materials Science, Solid-State
Physics and Chemistry, 1
st
ed., Wiley-VCH, (1996).
[20]. Subeki, N., Nilai Ketangguhan dan Bentuk Struktur Mikro dari Perubahan Kuat Arus Pengelasan
Pipa Spiral, Naskah Publikasi, Universitas Muhamadiyah Malang, (2006).
[21]. Anonim, L, H And Standard Grades Of Stainless Steels http://www.corrosionist.com/L_H_
grades_Stainless_Steels.htm. diunduh pada tanggal 15 Oktober 2009
[22]. Karl-Eric, T., Steel and Its Heat Treatment, 2
nd
ed , Buffer Warth & Co, Boston, London, (1994).
[23]. Angelini, E., et.al., Instability of Stainless Steel Reference Weights Due To Corrosion
Phenomena, Corrosion Science, 40 (7):1139 1148, (1998).
[24]. Koekoeh, K.W, Pengaruh Proses Perlakuan Panas Pada Baja AISI 304 Terhadap Kekerasan
dan Laju Korosi Dalam Media HCl (35%), http://www.lurik.its.ac.id/Senta/R.K.K.Wibowo.pdf,
diunduh pada tanggal 17 Nopember 2009
[25]. Sourmail, T., and Bhahadeshia, H.K.D.H.,Microstructural Evolution in Two Variants of NF709 at
1023 and 1073
0
K, Metall. Mater. Trans. A,36A, p23-34, (2005).
[26]. Kartaman, M.A, dkk., Efek Perlakuan Panas Terhadap Korosi Intergranular Baja Tahan Karat
Austenitik Menggunakan Metode Kimia (Heuy Test), Hasil-Hasil Penelitian EBN Tahun 2006,
PEBN, Tangerang, 217-222, (2007).
[27]. Anonim, Different Types of Corrosion - Recognition, Mechanisms & Prevention Intergranular
Corrosion (Cracking), http://www.corrosionclinic.com/types_of_corrosion/intergranular corrosion_
cracking.htm, diunduh pada tanggal 15 Oktober 2009
[28]. Steiner, R., ASM Handbook, Volume 1: Properties and Selection: Irons, Steels, and High-
Performance Alloys, ASM, USA, (1998).


Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

34

TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PENENTUAN TAPAK DISPOSAL
LIMBAH RADIOAKTIF AKTIVITAS RENDAH DI PULAU JAWA


Budi Setiawan
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN,
Kawasan PUSPIPTEK, Serpong-Tangerang 15310


ABSTRAK
TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PENENTUAN TAPAK TERPILIH UNTUK DISPOSAL LIMBAH
RADIOAKTIF AKTIVITAS RENDAH DI PULAU JAWA. Kegiatan penggunaan teknologi nuklir di
banyak bidang telah menghasilkan limbah radioaktif dalam rentang radioaktivitas yang beragam.
Apalagi dengan adanya rencana introduksi pusat listrik tenaga nuklir di pulau Jawa diperkirakan akan
menambah total volume limbah secara kuantitas, sehingga perlu dipertimbangkan adanya suatu
fasilitas penyimpanan limbah di pulau Jawa. Sampai sekarang Indonesia belum memilih suatu lokasi
untuk penyimpanan limbahnya. Introduksi pusat listrik tenaga nuklir yang pertama akan membuat
masyarakat ingin tahu tentang masalah keselamatan lingkungan, termasuk program penyimpanan
limbah. Untuk itu prosedur penyiapan tapak untuk disposal limbah radioaktif, utamanya aktivitas rendah
perlu disiapkan. Dengan mengadopsi prosedur penyiapan tapak IAEA, secara internal program
penyiapan tapak untuk disposal limbah telah didiskusikan dengan intensif. Penetapan program dan
kriteria-standar menjadi pekerjaan yang penting. Adanya kondisi lokal yang spesifik di pulau Jawa,
batuan lempung dipertimbangkan sebagai host rock untuk disposal limbah radioaktif. Dengan mengikuti
prosedur penyiapan tapak akan di evaluasi beberapa area potensial kemudian untuk memperoleh
lokasi-lokasi yang potensi yang akhirnya menjadi lokasi-lokasi terpilih.

Kata kunci : Penentuan tapak, limbah radioaktif aktivitas rendah, pulau Jawa


ABSTRACT
SOME STEPS ON SELECTION OF PREFERRED SITE FOR LOW-LEVEL RADWASTE
DISPOSAL IN J AWA ISLAND. Activities on the application of nuclear technology in Indonesia have
generated radioactive wastes in wide range of activity levels. Moreover the introduction of NPP in Jawa
island is predicted will increase the total volume of waste quantitatively, and necessity of disposal facility
in Jawa island is considered. Up to now Indonesia has not been choose a location for dispose its
radwaste. Introduction of first NPP will increase public awareness to environment safety problem,
included the disposal program. For that reason the procedure of siting for radwaste disposal, especially
for low-level activity needs to be prepared. By adopting the IAEA siting procedures, internally
preparation of siting program for radwaste disposal in Jawa Island has been discussing intensively.
Establishing program and standards-criteria becomes important works. Due to local condition in Jawa
Island, clay rock was considered as host rock for radwaste disposal. By following the siting procedure,
some potential areas have been evaluated to find out the potential sites and then were selected as
preferred sites.

Keywords: Siting, low-level waste, Jawa island


PENDAHULUAN
Kegiatan penelitian dan pemakaian teknologi nuklir di sektor-sektor industri, kesehatan,
pertanian dan pendidikan telah berlangsung lama yang akhirnya telah pula menghasilkan limbah
radioaktif dengan tingkat radioaktivitas yang beragam, dimana hal tersebut perlu dilakukan suatu
pengelolaan limbah secara baik dan benar. Demikian pula dengan rencana introduksi pusat listrik
tenaga nuklir di waktu yang akan datang diperkirakan akan meningkatkan volume limbah radioaktif
dalam jumlah yang signifikan, terutama limbah-limbah radioaktif beraktivitas rendah-sedang. Hal ini
dapat menyebabkan meningkatnya rasa ingin tahu dari masyarakat terhadap program pengelolaan
limbah radioaktif, terutama dalam hal penyimpanan limbah karena ini sangat berkaitan erat dengan
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

35

kepedulian mereka terhadap keselamatan lingkungan.
BATAN sebagai suatu badan penyelenggara pada penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi
nuklir di Indonesia harus mampu memberi jaminan pada aspek keselamatan penggunaan iptek nuklir
kepada masyarakat luas terhadap segala dampak atas kegiatan yang dilakukannya. Sehingga
berkaitan dengan program pengelolaan limbah radioaktif maka penentuan suatu lokasi penyimpanan
limbah merupakan suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk dapat mengantisipasi dampak dari kegiatan
pengelolaan limbah radioaktif, sehingga hal ini benar-benar harus dipertimbangkan dengan baik dan
program ini perlu diinisiasi. Penyimpanan limbah merupakan ujung belakang (back-end) dari suatu
program pengelolaan limbah radioaktif.
Untuk menjamin rasa aman pada masyarakat terhadap aspek penyimpanan limbah maka secara
internal persiapan program penyiapan tapak untuk disposal limbah radioaktif di pulau Jawa telah
diinisiasi. Program ini juga ditujukan untuk mendorong rencana introduksi program PLTN di Indonesia,
dan secara khusus program ini bertujuan untuk mencari dan menemukan suatu lokasi yang cocok dan
aman untuk menyimpan limbah radioaktif di pulau Jawa, utamanya limbah-limbah yang beraktivitas
rendah.
Pulau Jawa dipilih karena sebagian besar pengguna dan penimbul limbah (dari kegiatan industri,
kesehatan, pertanian-pertambangan dan pendidikan) di Indonesia dengan skala yang cukup besar ada
di pulau ini, walaupun ada juga beberapa berada diluar pulau Jawa [1]. Rencana penempatan PLTN
pertama direncanakan ada di pulau Jawa untuk menopang kebutuhan energi listrik sehingga bila dilihat
dari aspek resiko keselamatan dan keamanan transportasi limbah maka logislah bila lokasi
penyimpanan limbah juga berada di pulau Jawa agar berdekatan dengan lokasi penimbul limbah.
Program penyiapan tapak ini juga untuk mengantisipasi masalah penggunaan lahan yang semakin
menyempit, mahal dan rumit karena masalah penyebaran penduduk, utamanya di pulau Jawa. Selain
itu kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menyempurnakan kegiatan penyiapan tapak yang ada di masa
lalu[2-5]. Melalui program ini akan dapat diketahui ada atau tidaknya suatu tapak yang cocok dan
aman di pulau jawa yang nantinya akan menjadi masukan yang sangat penting bagi manajemen
BATAN untuk membuat kebijakan pengelolaan limbah radioaktif dalam jangka panjang. Untuk itu
semua maka langkah-langkah penentuan dan penyiapan tapak disposal limbah radioaktif perlu disusun.

PROGRAM PENYIAPAN TAPAK
Tahap penyiapan tapak disposal limbah radioaktif mengadopsi prosedur penyiapan tapak yang
dipandukan oleh IAEA dan juga dari hasil penelaahan program penyiapan tapak dari beberapa negara
kemudian dimodifikasi sesuai dengan kondisi geologi dan alam Indonesia. Tahapannya berupa (1)
pembuatan konsep dan perencanaan, (2) pelaksanaan survei wilayah, (3) karakterisasi tapak dan (4)
konfirmasi tapak [6-12].

TAHAPAN-TAHAPAN PENENTUAN TAPAK
1. Pembuatan Konsep dan Perencanaan.
1.a. Identifikasi faktor penting dalam kegiatan siting
Pada tahapan pembuatan konsep dan perencanaan, pengidentifikasian faktor-faktor yang
dianggap penting pada kegiatan penyiapan tapak menjadi hal yang signifikan, karena hal ini akan
berkaitan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku disuatu negara yang diharapkan akan
mendukung seluruh kegiatan seleksi tapak secara aspek hukum dan teknis [13-15], karena dari
parameter-parameter yang dipakai akan menjadi dasar penyusunan kriteria dan standar yang nantinya
akan digunakan pada kegiatan seleksi tapak disposal.
Berdasarkan acuan dari IAEA, negara-negara lain yang mempunyai kegiatan sejenis serta
beberapa peraturan dari BAPETEN dan Kementerian Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan
penyiapan tapak disposal limbah maka telah diperoleh beberapa parameter-parameter penting yang
berkaitan dengan aspek geologi dan non-geologi seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa parameter penting yang digunakan untuk menyusun criteria dan standar
No Parameter Fungsi
1. Geologi mengisolasi dan menjaga kestabilan sistem disposal LRA dengan volume
yang cukup serta untuk membatasi adanya sebaran radionuklida ke biosfer
Budi Setiawan: Tahapan-Tahapan dalam Penentuan Tapak Disposal Limbah Radioaktif Aktivitas Rendah di Pulau Jawa

36

2. Hidrogeologi mengidentifikasi aliran dan flowpath air tanah di lokasi untuk
mengupayakan penghambatan perpindahan radionuklida
3. Geokimia membatasi sebaran radionuklida dari fasilitas
4. Kegempaan mengidentifikasi potensi kegempaan di lokasi
5. Proses permukaan

mengidentifikasi proses-proses alam seperti banjir, longsor, erosi di lokasi
6. Meteorologi evaluasi kemungkinan kondisi meteorologi yang ekstrem di lokasi
7. Intrusi manusia prediksi kegiatan manusia di masa depan tidak mempengaruhi
kemampuan isolasi sistem disposal
8. Transportasi mengidentifikasi rute pengangkutan dengan risiko yang minimal terhadap
masyarakat
9. Tata guna lahan prediksi/perkiraan perkembangan dan rencana tata ruang wilayah pada
wilayah yang diinginkan
10. Kependudukan prediksi bahaya yang masih dapat diterima oleh masyarakat potensial
pada masa kini dan yang akan datang dari adanya sistem disposal
11. Perlindungan alam kemampuan lingkungan untuk melindungi dirinya selama masa hidup
(lifetime) fasilitas

Dari parameter penting yang ditetapkan kemudian disusun suatu kriteria dan standar yang
berkesesuaian dengan kepentingan dan kondisi lokal. Kriteria dan standar yang disusun mempunyai
aspek-aspek yang lebih rinci berkaitan dengan masalah geologi dan non-geologi yang berhubungan
dengan aspek keselamatan dan keamanan. Kriteria yang dibuat akan berfungsi sebagai faktor penapis
terhadap informasi, data dan wilayah yang tidak disukai untuk memperoleh wilayah dan lokasi yang
diinginkan dan kemudian akan dipilih sebagai lokasi terpilih untuk suatu fasilitas disposal limbah
radioaktif. Dimana faktor penapis dapat berupa kriteria penolak dan kriteria pembanding. Kriteria
penolak akan berisi parameter yang apa bila hal itu ada atau ditemui di suatu wilayah/lokasi maka
wilayah/lokasi itu akan seketika tertolak (rejected) sebagai wilayah/lokasi disposal yang
dipertimbangkan. Sedangkan faktor pembanding berupa parameter-parameter pembanding yang akan
dipakai untuk menilai dan membandingkan suatu wilayah/lokasi dengan wilayah/lokasi yang lain,
dengan cara pembobotan/pengharkatan (scoring) akan diperoleh wilayah/lokasi yang lebih cocok dan
sesuai untuk lokasi disposal. Beberapa contoh parameter faktor penolak dan pembanding ditunjukkan
pada Tabel 2 dan Tabel 3.

Tabel 2. Beberapa contoh parameter faktor penolak
No Parameter
1. Dimensi tapak < 1 x 1 km
2
2. Kelulusan air host rock
3. Host rock retak dan bukan absorbent
4. Berdekatan dengan patahan
5. Dampak patahan > 400 gal
6. Dampak seismik > 400 gal
7. Diterjang lava, lahar, awan panas dalam radius 1 km
8. Bersisian dengan badan akuifer
9. Dekat dengan cebakan tambang
10. Potensi liquefaction dll.

Tabel 3. Beberapa contoh parameter faktor pembanding
No Parameter
1. Ketebalan sedimen abu vulkanik
2. Sejarah dampak kegempaan
3. Dampak patahan
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

37

4. Tsunami
5. Banjir laut dan sungai
6. Tornado dan petir
7. Kedekatan dengan badan akuifer dan cebakan tambang
8. Kepadatan penduduk < 1000 jiwa/km
2
9. Jarak dari fasilitas militer dan peluncuran roket
10. Jarak dari jalan utama, dll.

Faktor-faktor penolak dan pembanding ini dikenakan pada wilayah yang ditetapkan untuk mengevaluasi
kecocokan dan keselamatan wilayah menjadi wilayah potensial, kemudian menjadi calon tapak
potensial sampai akhirnya terpilih menjadi suatu tapak potensial.

1.b. identifikasi host rock potensial
Pulau Jawa dengan karakter alamnya yang bercurah hujan serta kelembaban yang tinggi [16],
serta jenis tanah/batuannya yang mudah retak maka host rock yang berkonduktivitas hidrolik rendah
(10
-7
m/s) seperti lempung dapat diusulkan sebagai calon host rock untuk fasilitas penyimpanan limbah
radioaktif di pulau Jawa. Peta curah hujan Indonesia ditunjukkan pada Gambar 1.


Gambar 1. Peta rerata curah hujan di Indonesia

Batuan/tanah lempung adalah salah satu jenis host rock untuk fasilitas disposal penyimpanan
limbah di dunia karena sifatnya yang tidak lulus air/imparmeable [17,18] akan dapat mengkontrol aliran
air tanah secara baik dan selain itu juga mempunyai sifat serap/sorpsi radionuklida yang baik [19-22]
sehingga penggunaan batuan/tanah lempung akan memberikan suatu keuntungan tersendiri bagi
keselamatan fasilitas penyimpanan limbah radioaktif terhadap lingkungan sekitarnya. Adanya sifat-sifat
yang baik ini tentunya diharapkan akan juga memberikan hal yang baik pula bila suatu saat digunakan
batuan/tanah lempung sebagai host rock untuk fasilitas penyimpanan limbah di pulau Jawa.

1.c. identifikasi wilayah yang dimungkinkan
Dengan menggunakan peta-peta geologi, rupa bumi, tataguna lahan, lexicon stratigraphy untuk
pulau Jawa dan gambar citra satelit [23-28], maka dari desk-top study telah diperoleh beberapa daerah
yang dikenali sebagai daerah yang berbasis lempung seperti daerah: Karawang, Subang, Majalengka
Budi Setiawan: Tahapan-Tahapan dalam Penentuan Tapak Disposal Limbah Radioaktif Aktivitas Rendah di Pulau Jawa

38

(di Jawa Barat), Rembang (di Jawa Tengah) dan Tambakrogo, Tuban dan Madura (di Jawa Timur) [29].
Dari kegiatan-kegiatan sebelumnya yang diketahui ada beberapa wilayah potensial yang
ditunjuk sebagai calon lokasi penyimpanan limbah seperti daerah: Karimunjawa (P. Genting dan P.
Parang, batuan basalt), Masalembo (P. Masalembu dan P. Keramaian, batuan andesit) bekerjasama
dengan pihak universitas, Semenanjung Muria (batuan vulkanik), PPTN Serpong (batuan vulkanik) [2-5]
sehingga secara keseluruhan telah diketahui ada 14 wilayah potensial yang dikenali dan akan
dievaluasi.
Untuk penyelidikan terhadap wilayah-wilayah potensial yang telah dikenali maka dilakukan suatu
kegiatan survei lapangan yang dimaksudkan untuk menghimpun data dan informasi yang berkaitan
dengan kriteria dan standar pemilihan lokasi disposal. Data tersebut dikumpulkan secara hati -hati dan
kemudian diklasifikasikan sesuai dengan parameter yang diinginkan agar dapat dievaluasi untuk
mendapatkan wilayah potensial. Proses penapisan selanjutnya terhadap wilayah potensial digunakan
faktor pembanding untuk memperoleh lokasi potensial dan terakhir dipilih sejumlah lokasi tertentu yang
mempunyai nilai terbaik untuk diranking sebagai urutan lokasi terpilih. Secara ringkas proses
penapisan suatu wilayah yang telah dikenali sampai terpilihnya tapak terpilih untuk pulau Jawa dapat
ditunjukkan pada Gambar 2.

1.d. menetapkan tujuan penyelidikan
Kegiatan terakhir dari pembuatan konsep dan perencanaan adalah menetapkan rencana
keseluruhan dan tujuan dari kegiatan siting serta penetapan kriteria dan standar yang akan digunakan
pada masing-masing tahap kegiatan.

2. Survei Wilayah
Mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi satu atau lebih lokasi yang dianggap potensial untuk
disposal limbah radioaktif, dimana kegiatan penapisan terhadap suatu wilayah yang dimungkinkan
harus dilakukan secara sistematis yang nantinya akan menghasilkan wilayah potensial. Pada tahapan
ini perlu pertimbangan hal-hal yang berkaitan dengan perekayasaan, operasional, sosioekonomi dan
lingkungan.
Tahap survei wilayah mencakup 2 fase kegiatan, yaitu pemetaan wilayah untuk mengidentifikasi
wilayah yang diperkirakan cocok sebagai lokasi-lokasi disposal yang potensial, dan proses penapisan
untuk menseleksi lokasi-lokasi yang potensial untuk tahap evaluasi selanjutnya.
Pada kegiatan ini akan dilakukan pemetaan wilayah, dimana kegiatan pengumpulan dan
evaluasi data sekunder dari wilayah-wilayah memungkinkan (terutama yang berbasis lempung) yang
ada di pulau Jawa dilakukan, termasuk data dari wilayah-wilayah yang telah ditunjuk sebelumnya.
Wilayah-wilayah yang dimungkinkan ini kemudian diadakan kegiatan observasi secara visual ke
lapangan untuk dilakukan cross-check dengan hasil pekerjaan desk-top study. Data yang bersifat
geologis dan non-geologis yang diperoleh dari kegiatan survei lapangan kemudian di kumpulkan dan
diklasifikasikan sesuai dengan parameter tertentu untuk dievaluasi dengan kriteria penolak sehingga
akan diperoleh wilayah-wilayah yang tertolak dan yang diterima. Untuk wilayah-wilayah yang dapat
diterima selanjutnya disebut sebagai wilayah potensial.

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

39


Gambar 2. Proses penapisan suatu wilayah yang dikenali untuk pulau Jawa

Parameter yang digunakan pada saat pemetaan wilayah berdasarkan faktor-faktor yang
Budi Setiawan: Tahapan-Tahapan dalam Penentuan Tapak Disposal Limbah Radioaktif Aktivitas Rendah di Pulau Jawa

40

diinginkan, kemudahan petunjuk pelaksanaan dan ketersediaan data wilayah/lokasi. Adanya
persyaratan, peraturan dan petunjuk yang khusus harus pula dipertimbangkan dan digunakan dalam
parameter pemetaan wilayah yang cocok untuk suatu fasilitas disposal limbah radioaktif. Secara
sederhana, pemetaan wilayah dimulai dari suatu wilayah yang luas yang mempunyai kondisi geologi,
struktur, hidrologi, geohidrologi dan cuaca yang favourable yang ada di wilayah tersebut, dan pada
kegiatan selanjutnya kondisi yang diinginkan dikerucutkan menjadi wilayah yang lebih sempit dan
akhirnya menjadi suatu wilayah yang lebih cocok untuk keperluan fasilitas disposal.
Beberapa wilayah-wilayah potensial yang diperoleh pada tahap ini kemudian ditapis kembali
dengan menggunakan kriteria penolak dengan cakupan wilayah dan standar harga/nilai yang lebih detil,
hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan satu dengan lainnya berdasarkan data/identifikasi wilayah
yang didapat saat survei ke lapangan. Penilaian evaluasi dengan cara pembandingan diperoleh
setelah kriteria yang diperoleh diberi bobot dari nilai terjelek sampai terbaik dengan rentang nilai yang
disesuaikan dengan rentang bobot yang diinginkan. Hasil penjumlahan dari nilai yang diperoleh
kemudian diurutkan menjadi tapak potensial. Disini ada sejumlah wilayah dan lokasi yang tersisih dari
evaluasi, daerah yang diterima atau lolos dari tahap penapisan ini disebut sebagai tapak potensial.
Tapak potensial diperoleh dari hasil kerja identifikasi diantara lokasi-lokasi yang berada pada wilayah
yang bersesuaian.
Dari hasil perolehan tapak potensial kemudian dipilih beberapa lokasi terpilih (tergantung berapa
lokasi terpilih yang akan diusulkan, biasanya < 5 lokasi). Lokasi terpilih merupakan hasil seleksi
lanjutan dari tapak potensial dengan menggunakan standar pembanding yang lebih detil yang dapat
mencerminkan adanya akibat timbal balik antara rona/informasi antara yang berada diluar dan didalam
lokasi yang diselidiki, yang dapat berpengaruh dan mempengaruhi terhadap lokasi-lokasi yang
diusulkan sebagai tempat fasilitas disposal. Dengan meggunakan cara yang seperti ini, proses
penapisan akan menghasilkan identifikasi (calon) lokasi terpilih yang kemudian akan diuji dalam
tahapan selanjutnya yaitu karakterisasi tapak.
Kondisi aktual dari desk-top study wilayah berbasis lempung yang ada di pulau Jawa telah
diperoleh 9 wilayah potensial yang ada di Banten (Serang, Serpong), di Jawa Barat (Karawang,
Subang, Sumedang dan sekitarnya), di Jawa Tengah (Jepara dan Rembang) dan di Jawa Timur (Tuban
dan Madura) [29] setelah dilakukan penapisan wilayah diperoleh 6 wilayah potensial yaitu wilayah di
kabupaten Serang, Serpong, Sumedang, Jepara, Rembang dan Tuban [30]. Wilayah potensial dengan
tapak-tapak potensial inilah yang terus didalami untuk nantinya akan diperoleh beberapa tapak
potensial dan akhirnya menjadi tapak terpilih.

KESIMPULAN
Introduksi PLTN pertama di Indonesia akan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap
masalah keselamatan lingkungan, seperti misalnya program disposal. Dengan mengadopsi prosedur
penyiapan tapak IAEA, hasil review dari beberapa negara dan peraturan nasional yang ada, secara
internal persiapan program penyiapan tapak untuk disposal limbah radioaktif terus didiskusikan secara
intensif. Kegiatan penyiapan tapak yang sedang dilakukan juga dimaksudkan untuk melengkapi
kegiatan-kegiatan penyiapan tapak terdahulu. Dengan mempertimbangkan kondisi lokal pulau Jawa
maka batuan lempung dipertimbangkan sebagai host rock untuk fasilitas disposal limbah, dan beberapa
informasi yang berkaitan dengan wilayah potensial yang ada di pulau Jawa terus dikumpulkan dan
dievaluasi secara hati-hati untuk mendapatkan lokasi potensial. Dengan mengikuti prosedur penyiapan
tapak akan di evaluasi beberapa area potensial kemudian untuk memperoleh lokasi-lokasi yang
potensial yang akhirnya menjadi lokasi-lokasi terpilih.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Muziyawati, A., Data Hasil Pengolahan Limbah Padat Tahun 2007-2010, PTLR - BATAN, Tidak
dipublikasi (2010)
[2]. ITB, Preliminary Site Investigation for Radioactive Waste Repositories (Masalembu Islands), ITB-
Bandung 1989
[3]. ITB, Preliminary Survey at Genting and Parang Islands for The location of Radioactive Waste
Repository, ITB-Bandung 1990
[4]. Sucipta, Evaluasi Pendahuluan Geologi Lingkungan Untuk Calon Lokasi Penyimpanan Limbah
Radioaktif PLTN Daerah Muria Bagian Utara, Pros. Seminar Teknol. dan Keselamatan PLTN,
PPTKR/PRSG-BATAN, Serpong, DBBL2-1 (1995).

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

41

[5]. Sucipta, Pemilihan Tapak Penyimpanan Limbah Radioaktif di Kawasan PUSPIPTEK Serpong,
J.Teknol. Pengelolaan Limbah Vol.9(2), p.28 (Des. 2006)
[6]. IAEA, Classification of Radioactive Waste, Safety Standards Series GSG-1, IAEA-Vienna (2009)
[7]. IAEA, Near Surface Disposal of Radioactive Wastes, Safety Series No. 111-S.3, IAEA, Vienna,
(1994)
[8]. IAEA, Siting of Near Surface Disposal Facilities, Safety Series No. 111-G-3.1, IAEA-Vienna (1994)
[9]. IAEA, , Site Investigations for Repositories for Solid Radioactive Wastes in Shallow Ground
Technical Reports Series No. 216, IAEA, Vienna, (1982)
[10]. IAEA, Design, Construction Operation and Closure of Near Surface Repositories, Safety Series
No. 111-G-3.2, IAEA-Vienna (1994)
[11]. Schaller, A., Site Selection of Low And Intermediate Level Radioactive Waste Repository In The
Republic of Croatia, APO - Hazardous Waste Management Agency, Zagreb-Croatia (1996)
[12]. Dept. of Primary Industries and Energy, A Radioactive Waste Repository For Australia Site
Selection Study-Phase 3, Reg. Assess., A Public Discussion Paper, Canberra-Australia (1997)
[13]. Peraturan Kepala BAPETEN No. 03/Ka.BAPETEN/V-99, tentang Petunjuk Keselamatan
Pengelolaan Limbah Radioaktif, BAPETEN-Jakarta (1999)
[14]. Peraturan Pemerintah No. 27/2002 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif, BAPETEN-Jakarta
(2002)
[15]. UU No.23/1997 Pengelolaan Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta (1997)
[16]. Dep. Dalam Negeri, Peta Curah Hujan Tahunan, skala 1:2.500.000, Dir.Tata Guna Tanah, Dirjen
Agraria-Depdagri, September 1981.
[17]. www.world-nuclear.org/info/inf94.html, Nuclear Power in Belgium (August 2007)
[18]. www.uic.com.au/nip28.htm, Nuclear Power in France, Briefing Paper 28 (Dec 2007)
[19]. Setiawan, B., Karakterisasi Migrasi Radionuklida Dalam Lempung (Clay) Tipikal p. Jawa Pada
Sistem Penyimpanan Limbah Radioaktif, Laporan Riset Insentif Diknas Kementerian Pendidikan
Nasional, Jakarta (2009)
[20]. Setiawan, B., Karakterisasi Keandalan Host Rock Jenis Konduktivitas Hidrolik Rendah Tipikal p.
Jawa Sebagai Calon Wilayah Potensial Untuk Penyimpanan Akhir Limbah Radioaktif (daerah
Subang), Laporan Riset Insentif PKPP Tahun 2010 Kementerian Negara Riset dan Teknologi,
Jakarta (2010)
[21]. Wendling LA ., et.al., Cesium Sorption Illite, Clay and Clay Minerals Vol. 52 No. 3, 375-381 (2004)
[22]. Setiawan, B., Potencies of Kaolinite and Bentonite Clays as Candidate of Buffer Materials for
Radwaste Disposal System, Proc. 2nd Int. Conference on Math. and Natural Scie., ITB-Bandung
28-30 Oktober 2008
[23]. Amin, TC., Ratman N., Gafoer S., Peta Geologi Lembar Jawa Bagian Barat skala 1: 500.000.
Puslitbang Geologi, Bandung-Indonesia (1998)
[24]. Amin, TC., Ratman N., Gafoer S., Peta Geologi Lembar Jawa Bagian Tengah skala 1: 500.000.
Puslitbang Geologi, Bandung-Indonesia (1999)
[25]. Amin, TC., Ratman N., Gafoer S., Peta Geologi Lembar Jawa Bagian Timur skala 1: 500.000.
Puslitbang Geologi, Bandung-Indonesia (1998, 1999).
[26]. Harahap, B., et.al., Stratigraphic Lexicon of Indonesia 1
st
ed., Geology R&D Center, Bandung-
Indonesia (2003).
[27]. Van Bemmelen, RW., The Geology of Indonesia, Vol. 1A, Martinus Nijhoff, The Hague., (1949)
[28]. Google Earth, Europa Technologies (2008)
[29]. Setiawan, B. dkk, Penyiapan Tapak Penyimpanan Lestari Limbah Radioaktif di Pulau Jawa dan
Sekitarnya, Prosid. Seminar Teknologi Pengelolaan Limbah VI, ISSN 1410-6086, PTLR-BATAN,
Serpong 24 Juni 2008
[30]. Sucipta, Setiawan, B., Pratomo, BS., Suganda, D., Pemilihan Wilayah Potensial Untuk Disposal
Limbah Radioaktif di Pulau Jawa dan Sekitarnya, J. Teknologi Pengelolaan Limbah, Volume 13
No. 1 Juni 2010, ISSN 1410-9565, Nomor Akreditasi : 452/D/2010 (2010)

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

42

PARAMETER-PARAMETER PENTING
PADA INTERAKSI RADIOCESIUM DENGAN BENTONIT

Budi Setiawan
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN,
Kawasan PUSPIPTEK, Serpong-Tangerang 15310


ABSTRAK
PARAMETER-PARAMETER PENTING PADA INTERAKSI RADIOCESIUM DENGAN
BENTONIT. Untuk menanggulangi adanya migrasi radionuklida dari suatu fasilitas disposal ke
lingkungan maka bahan penyangga seperti bentonit diletakkan disekeliling fasilitas tersebut. Bahan
penyangga yang digunakan biasanya mempunyai konduktivitas hidrolik yang rendah dan bersifat
sebagai penyerap ion logam/radionuklida yang baik. Sedangkan radiocesium digunakan karena
sebagai radionuklida acuan untuk limbah radioaktif aras rendah-sedang. Tujuan dari makalah ini
adalah mengkaji beberapa parameter yang biasanya digunakan pada penelitian interaksi antara
radionuklida/ion logam dengan sampel bentonit. Untuk maksud tersebut biasanya metode catu
diadopsi dalam kegiatan ini, dan penelitian dilakukan dengan parameter percobaan yang bervariasi
seperti berat massa bentonit, konsentrasi ion logam, kekuatan ion larutan, pH yang berbeda serta
pengamatan terhadap isoterm sorpsi yang terjadi. Hasilnya menunjukkan bahwa meningkatnya waktu
kontak, massa bentonit dan pH larutan akan menaikkan banyaknya cesium yang terserap di contoh
bentonit sampai dicapai nilai yang konstan, sedangkan meningkatnya konsentrasi ion logam, kekuatan
ion larutan dapat menurunkan koefisien distribusi dari cesium ke contoh bentonit. Isoterm sorpsi yang
mengikuti hukum Freundlich dapat memberikan indikasi tentang heterogenitas permukaan dari bentonit.

Kata kunci: cesium, bentonit, interaksi, parameter-parameter


ABSTRACT
IMPORTANT PARAMETERS ON INTERACTION OF RADIOCESIUM WITH BENTONIT. To
overcome the radionuclides migration from a disposal facility to environment, buffer material such as
bentonite material is placed in surrounding of facility. Buffer material usually has low hydraulic
conductivity and as a good absorbent of metal ions/radionuclides. Radiocesium is applied due to as
reference radionuclide for low intermediate-level radwaste. Objective of the paper was to review some
using parameters usually applied on the interaction of radionuclides/metal ions with bentonite samples.
For that purpose batch method was adopted in the experiment, and the experiments were done under
various conditions such as different of mass weight of bentonit, metal ion concentrations, ionic strength
of solution, pH and also observation to sorption isotherm. The results showed that increasing in contact
time, mass of bentonite and pH will increase the amount of cesium sorbed onto bentonit samples until
its reached constant value, however increasing in metal ion concentrations, ionic strength could
decrease distribution coefficient of cesium into bentonite sample. Sorption isotherm of cesium followed
Freundlich law gave indicator of the dergree of heterogeneity of the mineral surface of bentonit.

Keywords: cesium, bentonite, interaction, parameters


PENDAHULUAN
Kemungkinan terjadinya radionuklida hasil belah seperti Cs-137 release ke lingkungan membuat
setiap peneliti keselamatan fasilitas disposal limbah radioaktif selalu berpikir tentang opsi jenis disposal
yang akan diadopsi untuk merancang disain bangunan fasilitas disposal. Untuk meningkatkan sifat
isolatif dari suatu fasilitas disposal maka fasilitas tersebut dapat dikelilingi oleh bahan inorganik alami
sebagai bahan penyangga. Bahan penyangga alami seperti bentonit umumnya digunakan yang
diletakkan disekeliling fasilitas tersebut [1]. Bahan penyangga/bentonit yang digunakan mempunyai
sifat konduktivitas hidrolik yang rendah akan berperan penting sebagai pengontrol laju air tanah, selain
itu bentonit juga mempunyai kemampuan untuk menggelembung (swelling) ketika melakukan kontak
Budi Setiawan: Parameter-Parameter Penting pada Interaksi Radiocesium dengan Bentonit

43

dengan air tanah dan bersifat plastis sehingga diharapkan dapat menyumbat serta mengisi pori atau
retakan disekitar fasilitas [2]. Sifat lain yang menonjol adalah mempunyai kemampuan serap ion
logam/radionuklida di air tanah yang baik sehingga diharapkan akan memberikan keuntungan sebagai
bahan penghambat migrasi radionuklida dari fasilitas penyimpanan akhir limbah radioaktif (PA-LRA) ke
lingkungan [3]. Kemungkinan terjadinya radionuklida lepas dari fasilitas disposal limbah radioaktif ke
lingkungan melalui jalur tanah, air (migrasi) maupun udara merupakan kejadian yang sangat tidak
diinginkan oleh siapapun sehingga subjek mengenai kemampuan tanah dan batuan sebagai host dari
diposal maupun sebagai bahan penyangga di sistem penyimpanan limbah untuk menghambat migrasi
radionuklida menjadi penting untuk dipelajari. Bahan alam seperti bentonit digunakan karena murah,
mudah diperoleh dan secara kuantitatis cukup berlimpah tersedia di Indonesia khususnya P. Jawa [4].
Sedangkan radiocesium digunakan karena sebagai radionuklida acuan untuk limbah radioaktif
aras rendah-sedang dengan umur paro yang relatif panjang (+ 30 tahun) sehingga diperkirakan dapat
memberikan masalah radioekologis pada lingkungan [5]. Selain itu sifatnya yang mirip dengan ion K
sehingga diperkirakan mudah berasimilasi dengan sistem yang ada di lingkungan seperti tumbuhan dan
organisme lainnya di permukaan dan akuatik [6]. ISecara umum, banyaknya radiocesium terserap di
tanah, batuan atau sedimen tergantung dari besarnya kapasitas serap dari fase padatan [7]. Mineral
lempung seperti bentonit diharapkan mampu menyerap radiocesium tersbut sehingga dapat
menghambat mobilitasnya ke lingkungan. Hal inilah sebagai salah satu sebab dari penggunaan
lempung/bentonit sebagai penghalang/ penyangga di fasilitas disposal limbah radioaktif.
Metode catu umumnya diadopsi dalam penelitian tentang interaksi radiocesium dengan bahan
penyangga/bentonit, dan parameter percobaan yang digunakan dengan variasi konsentrasi yang
beragam seperti berat massa bentonit, konsentrasi ion logam/CsCl, kekuatan ion larutan/NaCl, pH yang
berbeda serta pengamatan terhadap isotherm sorpsi yang terjadi [8-17].
Pengkajian ini perlu dilakukan untuk mengetahui secara jelas parameter-parameter penting yang
biasa digunakan untuk meneliti kemampuan bentonit menyerap/menghambat kemungkinan adanya
migrasi radionuklida dari suatu fasilitas disposal limbah radioaktif melalui jalur tanah atau air tanah ke
lingkungan. Sehingga potensi kemungkinan pemanfaatan bentonit alam lokal Indonesia untuk
digunakan sebagai bahan penyangga pada fasilitas penyimpanan limbah radioaktif dapat dipelajari
lebih rinci dimasa yang akan datang karena sampai saat ini data potensi sorpsi radionuklida oleh
bentonit asli Indonesia masih sangat minim. Kegiatan ini termasuk dalam kegiatan penelitian
pengelolaan limbah radioaktif dimana salah satunya adalah kegiatan penelitian tentang kemungkinan
pemanfaatan mineral alam lokal untuk bahan penyangga pada sistem penyimpanan limbah radioaktif
yang merupakan salah satu Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) yang penting dilaksanakan di Satuan
Kerja Pusat Teknologi Limbah Radioaktif - Badan Tenaga Nuklir Nasional (PTLR-BATAN), berdasarkan
Peraturan Ka.BATAN No.123/KA/VIII/2007 tentang Organisasi Tata Laksana [18].

TATA KERJA
Pengkajian dilakukan dengan cara studi pustaka melalui penelusuran makalah-makalah hasil
penelitian terdahulu atau laporan hasil penelitian dan kemudian dilakukan analisis data sekunder yang
diperoleh dari hasil penelusuran. Data yang diperoleh kemudian dikelompokkan, dianalisis dan
dievaluasi berdasarkan parameter-parameter yang diperoleh dengan memperhatikan besaran koefisien
distribusi atau banyaknya serapan radiocesium oleh contoh bentonit yang terjadi. Koefisien distribusi
(Kd) diperoleh dari perbandingan banyaknya ion logam/radiocesium yang terserap di fase padatan
dibandingkan dengan yang tersisa di larutan [19],

W
V
x
A
A
C
C
Kd
l
s
1
] [
] [
larutan fase di tersisa logam ion banyaknya
padat fase di terserap logam ion banyaknya
0


dimana Cs adalah konsentrasi radionuklida pada fasa padat (mol/g), Cl adalah konsentrasi radionuklida
pada fasa cair (mol/ml), A0 adalah aktivitas awal radionuklida ( Ci/ml), At adalah aktivitas akhir
radionuklida ( Ci/ml), V adalah volume larutan (ml), W adalah berat padatan (g). Kegiatan pengkajian
ini dilakukan di Pusat Teknologi Limbah Radioaktif pada tahun 2011 sebagai kegiatan pendukung dari
Program Insentif Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa Tahun 2011.



Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)


44

HASIL DAN PEMBAHASAN
Ketergantungan banyaknya radiocesium dapat terserap oleh contoh bentonit dilakukan dengan
mengontakkan massa bentonit yang divariasikan dari 5 sampai 50 g/dm
-3
dengan larutan CsCl dengan
3 konsentrasi yang berbeda seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai Kd
meningkat dengan meningkatnya konsentrasi bentonit yang berfungsi sebagai penyerap sampai dicapai
suatu kondisi koefisien distribusi yang konstan, sedangkan meningkatnya konsentrasi CsCl di larutan
dapat memberikan nilai Kd yang lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi CsCl yang lebih
rendah. Hal ini disebabkan dengan meningkatnya konsentrasi penyerap akan meningkatkan pula site
pertukaran di bentonit untuk melakukan penyerapan ion logam/radiocesium, sedangkan meningkatnya
konsentrasi ion logam di larutan akan membuat kapasitas site pertukaran pada bentonit segera jenuh
dan akan menyisakan ion logam yang lebih banyak dilarutan [8-10].


Gambar 1. Nilai Kd sebagai fungsi perubahan konsentrasi bahan penyerap/ bentonit

Sorpsi radionuklida kedalam suatu sampel tanah/batuan selalu membutuhkan waktu yang cukup
untuk dapat mencapai kondisi yang setimbang, untuk itu biasanya dilakukan percobaan penentuan
kinetika sorpsi atau waktu kontak antara suatu radionuklida dengan contoh tanah/batuan seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2. Nilai Kd pada awal pengontakkan beranjak meningkat sampai mencapai
waktu kontak tertentu nilai Kd menjadi mendatar yang menunjukkan telah tercapainya kondisi
kesetimbangan antara radionuklida yang masuk dan keluar bentonit. Cepat lambatnya kondisi
kesetimbangan tercapai akan tergantung dari kapasitas serap tanah/batuan serta besar-kecilnya
konsentrasi radionuklida/cesium di larutan. Hasil dari waktu kontak yang diperoleh akan digunakan
sebagai waktu acuan untuk pengontakkan pada parameter selanjutnya [8,11-14].
Budi Setiawan: Parameter-Parameter Penting pada Interaksi Radiocesium dengan Bentonit

45


Gambar 2. Pengaruh waktu kontak pada nilai Kd bentonit

Penelitian pengaruh konsentrasi ion logam/CsCl terhadap sorpsi CsCl ke contoh bentonit
biasanya dilakukan dengan cara memvariasi konsentrasi awal CsCl di larutan yang kemudian
dikontakkan ke bentonit, dimana rentang konsentrasi awal yang diberikan antara 10
-9
sampai 10
-3
M
CsCl. Pengontakan antara larutan yang mengandung CsCl dengan sampel bentonit dilakukan dengan
waktu yang tertentu sesuai dengan hasil analisis waktu kontak yang optimum. Hasil dari pengaruh
konsentrasi CsCl terhadap sorpsi CsCl oleh bentonit dapat ditunjukkan pada Gambar 3. Terlihat bahwa
secara umum nilai Kd akan menurun/berkurang seiring dengan bertambahnya konsentrasi CsCl di
larutan. Nilai Kd akan menurun tajam bersamaan dengan meningkatnya konsentrasi CsCl menuju nilai
kejenuhan yang lebih rendah, hal ini menunjukkan bahwa factor kejenuhan dari kapasitas serap/tukar
ion dari site akan berpengaruh sehingga sebagian dari CsCl yang diberikan sebagai konsentrasi awal
CsCl akan tersisa di larutan dan ini dapat menurunkan nilai Kd CsCl oleh bentonit. [11,13,15,16].

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)


46


Gambar 3. Pengaruh konsentrasi cesium terhadap nilai Kd bentonit

Pengaruh kekuatan ionic larutan dapat diketahui dengan cara pengontakkan antara radiocesium
dengan contoh bentonit dalam kondisi larutan mempunyai konsentrasi NaCl yang bervariasi yang
berperan sebagai garam latar. Nilai serap dari radiocesium oleh contoh bentonit terlihat menurun
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4, hal ini disebabkan telah terjadinya netralisasi site pertukaran
dari bentonit oleh ion-ion sodium yang ada disekitar contoh bentonit sehingga adanya ion-ion logam lain
seperti ion Cs yang akan berinteraksi dengan bentonit akan berkompetisi dengan sodium yang ada
disekitar contoh bentonit. Gangguan adanya ion sodium di larutan telah mampu menurunkan
banyaknya ion cesium yang dapat berinteraksi dengan bentonit [12,15,17].

Gambar 4. Pengaruh kekuatan ionic larutan terhadap nilai Kd bentonit

Kondisi keasaman dari larutan/air tanah ternyata dapat pula mempengaruhi banyaknya ion
logam yang dapat terserap oleh bentonit. Hasil sorpsi CsCl dengan konsentrasi 7,5 x 10
-4
, 1,5 x 10
-3

dan 3 x 10
-3
M CsCl dalam larutan dengan pH larutan yang divariasi dari 6 sampai 10 ditunjukkan pada
Gambar 5. Pada pH larutan yang rendah (asam) nilai sorpsi yang diperoleh kecil, sedangkan dengan
semakin meningkatnya pH larutan maka nilai sorpsi dari CsCl ke bentonit juga meningkat hal ini
disebabkan karena terjadinya kompetisi antara ion logam dengan ion-ion hydrogen yang berperan
Budi Setiawan: Parameter-Parameter Penting pada Interaksi Radiocesium dengan Bentonit

47

sebagai site pertukaran atau karena meningkatnya deprotonasi gugus aluminol pada bentonit telah
menyebabkan site pertukaran di bentonit semakin terbuka untuk berinteraksi dengan ion-ion logam
yang ada di larutan [8,9,12].

Gambar 5. Pengaruh pH larutan terhadap nilai Kd bentonit

Variasi konsentrasi awal CsCl yang dikontakkan dengan bentonit telah memberikan nilai Kd
yang menurun dan membentuk pola yang tidak lurus seperti pada Gambar 3, sedangkan isoterm
sorpsinya akan ditunjukkan dengan mem-plotkan data antara banyaknya ion Cs yang terserap di
padatan per-unit massa padatan, xCs (mol/g bentonit) terhadap banyaknya konsentrasi ion Cs di
larutan (mol/ml) dalam bentuk skala logaritma. Walaupun nilai Kd berkurang bersamaan dengan
meningkatnya konsentrasi awal Cs di larutan, tetapi banyaknya ion Cs yang terserap di
padatan/bentonit telah meningkat sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 6. Hasil regresi yang linier
terlihat pada grafik log vs log untuk seluruh data Cs yang terserap di bentonit dan Cs yang tersisa di
larutan, hal ini mengindikasikan bahwa isotherm sorpsi yang terjadi telah mengikuti isotherm Freundlich
di sepanjang rentang consentrasi awal yang diberikan [11,15,17].



Gambar 10. Isoterm sorpsi dari ion Cs yang ada di larutan [Cs] dan yang ada di bentonit, xCs


Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)


48

KESIMPULAN
Dari kajian interaksi antara radiocesium dengan bentonit terlihat bahwa parameter-parameter
penting yang perlu didapatkan datanya adalah selain perbandingan massa padatan dan cairan juga
parameter tentang waktu kontak yang akan dipakai sebagai waktu kontak pada pencarian data
parameter selanjutnya. Selain itu interaksi Cs dengan kondisi konsentrasi Cs yang divariasi perlu
diperoleh untuk mendapatkan kecenderungan pola sorpsi dari bentonit pada waktu bahan bentonit
tersebut menyerap ion logam/ CsCl dari larutan. Nilai Kd dari bentonit akan menurun dengan
meningkatnya kekuatan ionic di larutan akibat terjadinya kompetisi antara garam latar dengan ion
logam/CsCl. Keasaman larutan dapat meningkatkan nilai Kd karena terjadinya kompetisai antara ion
logam dengan ion-ion hydrogen di site pertukaran bentonit dan adanya protonisasi pada kerangka
bentonit. Slope log-log plot dari banyaknya ion logam yang terserap di bentonit dan yang tersisa di
larutan yang mengikuti pola Freundlich dapat memberikan indikasi tentang derajat heterogenitas
permukaan mineral dari bentonit.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Cornell, RM., Adsorption of cesium on minerals: A review. J Radioanal Nucl Chem 171, p.483-500
(1993).
[2]. IAEA, Use of Local Mineral in The Treatment of Radioactive Waste, TRS No. 136, IAEA-Vienna
(1972).
[3]. Rousseau JP., et.al., Review of the Transport of Selected Radionuclides in the Interim Risk
Assessment for the Radioactive Waste Management Complex, Idaho National Engineering and
Environmental Laboratory, Idaho, Volume II, USGS Scientific Investigations Report 2005-5026,
2005
[4]. Dir. SDM, Peta Sebaran Mineral Industri dan Batuan Indonesia, skala 1: 5000.000, (1990).
[5]. Suryanto, Radionuklida Acuan Pada Analisis Keselamatan Penyimpanan Limbah Radioaktif,
Prosid. Pertemuan dan Presentasi Ilmiah I, PTPLR-BATAN, Serpong, p.138-142 (1997).
[6]. Coughtrey, PJ., Thorne, MC., Radionuclide Distribution and Transport in Terrestrial and Aquatic
Ecosistems, vol 1. Rotterdam: A. A. Balkema Publ. (1983).
[7]. Livens, FR., Loveland, PJ., The Influence of Soil Properties on The Environmental Mobility of
Cesium in Cumbria, Soil Use Manage 4, p.69-75 (1988).
[8]. Bangash, MA., Adsorption of Fission Products and Other Radionuclides on Inorganic Exchangers,
Ph.D Thesis, University of The Punjab, Lahore (1991).
[9]. Khan, SA., Ion Exchange and Adsorption Behavior of Natural Clays and Hydrated Metal Oxides,
Ph.D Thesis, University of The Punjab, Lahore (1992).
[10]. Ishikawa NK., et.al., Radiocesium Sorption Behavior on Illite, Kaolinite and Their Mixtures,
Radioprotection Vol. 44 No. 5, p.141-145 (2009)
[11]. Cornell, RM., Adsorption Behavior of Cesium on MARL, Clay Minerals 27, p.363-371 (1992)
[12]. Wendling LA., et.el., Cesium Sorption to Illite as Affected by Oxalate, Clays and Clay Minerals Vol.
52 Vol. 3, p.375-381 (2004)
[13]. Akiba K. et.el., Distribution Coefficient of Cesium and Cation Exchange Capacity on Minerals and
Rocks, J.Nucl. Sci and Technology 26 [12], p.1130-1135 (1989)
[14]. Schlegel ML., et.al., Sorption of Metal Ions on Clay Minerals, J.Colloid and Interface Sci., 215,
p.140-158 (1999)
[15]. Staunton, S., and Roubaud, M., Adsorption of
137
Cs on Montmorillonite and Illite: Effect of Charge
Compensating Cation, I, Concentration of Cs, K and Fulvic Acid, Clay and Clay Minerals Vol. 45
No. 2, p.251-260 (1997).
[16]. McKnight ME., and Norgon RWE.,, A Study of The Exchange Characteristics of Montmorillonite
Clay for FP Cations for Use in The Generation of Insoluble Aerrosols, AEC, Lovelace Foundation,
New Mexico (1967).
[17]. Apak R., et.al., Sorptive Removal of Cs-137 and Sr-90 From Water by Unconventional Sorbents:
II. Usage of Coal Fly Ash, J. Nucl.Sci and Technology Vol. 33 No. 5, p.396-402 (1996).
[18]. BATAN, Per.Ka. BATAN No.123/KA/VIII/2007, BATAN-Jakarta (2007).
[19]. Erten, HN., et.al., Sorption of Cesium and Stontium on Montmnorillonite and Kaolinite, Radiochim.
Acta 44/45, p.147 (1988).

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

49

KEMAMPUAN KERANG HIJAU (Perna viridis)
MENGAKUMULASI DAN MENDISTRIBUSI
60
Co DAN
137
Cs

Heny Suseno
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN,
Kawasan PUSPIPTEK, Serpong-Tangerang 15310


ABSTRAK
KEMAMPUAN KERANG HIJAU (Perna viridis) MENGAKUMULASI DAN MENDISTRIBUSI
60
Co dan
137
Cs. Pelepasan radionuklida dari fasilitas nuklir termasuk PLTN menjadi perhatian karena
prilaku kimiawi dan biologinya dalam lingkungan akuatik. Diantara radionuklida antropogenik yang
dilepas ke dalam lingkungan laut,
60
Co dan
137
Cs yang merupakan produk fisi menjadi perhatian utama
karena mempunyai waktu paro yang cukup panjang dan berada dalam kolom air untuk waktu yang
lama. Kekerangan adalah moluska yang banyak didapati pada daerah pesisir dan muara di wilayah
Indonesia. Kekerangan banyak digunakan sebagai organisme sanitel untuk pengukuran kontaminan
dan pembanding konsentrasi berbagai radionuklida. Untuk memahami bioakumulasi
60
Co dan
137
Cs
oleh kerang hijau (Perna viridis), dilakukan penelitian kinetika pengambilan dan pelepasan kedua
radionuklida tersebut dari air laut dalam kondisi laboratorium. Hasil eksperimen menunjukkan Faktor
Biokonsentrasi (BCF)
60
Co dan
137
Cs berturut-turut 22,31 to 24,88 l.kg
-1
dan 2,43 to 3,24 l.kg
-1
.
Radionuklida
60
Co diakumulasi oleh kerang hijau 10 kali lipat dibandingkan dengan
137
Cs. Sebagian
besar kedua radionuklida tersebut terdistribusi dalam jaringan lunak terutama pada cairan pencernaan

Kata kunci: Bioakumulasi, Perna viridis, radionuklida


ABSTRACT
THE ABILITY OF GREEN MUSSEL (Perna viridis) TO ACCUMULATED AND DISTRIBUTED
60
Co AND
137
Cs. Releases of radionuclides from nuclear facilities including power stations have
resulted in considerable concern for their chemical and biological fates in aquatic environments. Among
the many radionuclides discharged into marine environments,
60
Co and
137
Cs are the fission products
of particular interest because of their long physical half-lives and residence times in the water column.
Mussels are common marine molluscs found in most coastal areas and estuaries in a wide range of
latitudes of Indonesia. They have been used as sentinel organisms for measuring contaminants and
comparing concentrations of radionuclides. In order to understand the bioaccumulation of
60
Co and
137
Cs in green mussel, the uptake and elimination kinetics of these two radionuclides were investigated
in Perna viridis exposed via seawater under laboratory conditions. The result of experiment were
shown Bioconcentration Factor (BCF) of
60
Co and
137
Cs were were 22.31 to 24.88 l.kg
-1
and 2.43 to
3.24 l.kg
-1
respectively. Generally,
60
Co was about tenfold than
137
Cs accumulated by green mussel.
Most of
60
Co and
137
Cs was distributed in the soft tissue, with the remaining contained mostly in the
disgestive gland.

Keywords: Bioaccumulation, Perna viridis, radionuclides


PENDAHULUAN
Operasional fasilitas nuklir memungkinkan lepasnya radionuklida seperti
241
Am,
57
Co,
137
Cs atau
57
Mn ke lingkungan dan masuk ke dalam jejaring makanan
[1]
. Lingkungan akuatik merupakan jalur
paparan utama zat-zat radioaktif yang terlepas dari fasilitas nuklir, oleh karena itu investigasi lengkap
harus dilakukan
[2]
. Salah satu data yang dibutuhkan dalam investigasi tersebut adalah kemampuan
akumulasi radionuklida oleh biota laut. Bagaimana radionuklida terakumulasi ke dalam jejaring
makanan di lingkungan laut dan seberapa besar dampaknya terhadap manusia menjadi focus program
monitoring dan survey lingkungan
[3]
.
Radionuklida
60
Co dan
137
Cs merupakan salah satu produk aktivasi neutron yang berasal dari
berasal dari operasi reactor nuklir dan terakmulasi dalam biota laut
[4]
. Pemahaman bioakumulasi
Heny Suseno: Kemampuan Kerang Hijau (Perna viridis) Mengakumulasi dan Mendistribusi
60
Co dan
137
Cs

50

radionuklida (termasuk
60
Co dan
137
Cs) oleh biota laut dapat membantu program-program pemantauan
lingkungan dan diperlukan dalam pengambangan model dan metodologi untuk menilai dampak yang
berkaitan dengan radioaktivitas di lingkungan laut
[5]
. International Atomic Energy Agency (IAEA)
mensyaratkan data dasar (baseline) dan dan model bioakumulasi
60
Co dan
137
Cs dalam menentukan
calon lokasi PLTN
[6-8
]. Studi bioakumulasi banyak dilakukan di seluruh dunia tetapi hanya berdasarkan
pada pemantauan lingkungan yang bersifat temporal. Sebagian besar studi tersebut dilakukan dengan
mengumpulkan berbagai komponen abiotik (air dan sedimen) serta komponen biotik (fitoplankton,
zoplankton, invertebrata, berbagai jenis ikan dan sebagainya). Kemampuan akumulasi ditentukan
berdasarkan rasio konsentrasi radionuklida dalam komponen biotik terhadap konsentrasinya dalam
komponen abiotik. Menggunakan metode ini akan diperoleh data kemampuan bioakumulasi pada
kisaran yang lebar walaupun diamati pada organisme, lokasi dan kontaminan yang sama
[9]
.
Untuk melengkapi kekurangan tersebut, saat ini studi bioakumulasi dilakukan di laboratorium
menggukan sistem akuaria yang memodelkan kondisi ekosistem akuatik. Studi bioakumulasi ini
menggunakan pendekatan model biokinetik kompartemen tunggal dan multi kompartemen dimana
faktor bioakumulasi ditentukan dari seluruh jalur paparan (air, pakan, partikulat dan sedimen). Pada
penelitian ini dilakukan studi bioakumulasi
60
Co dan
137
Cs oleh kerang hijau (Perna viridis) melaluli jalur
air. Kerang hijau dari family Mytiladea mempunyai kemampuan mengakumulasi berbagai kontaminan
termasuk kobal non radioaktif maupun radioaktif
[10]
. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi
kemampuan akumulasi
60
Co dan
137
Cs oleh kerang hijau. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai
salah satu parameter untuk kajian dampak keberadaan
60
Co dan
137
Cs dalam lingkungan laut.

TATA KERJA
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari: air laut yang berasal dari Seaworld Ancol (difiltrasi
dilaboratorium Bidang Radioekologi Kelautan PTLR BATAN menggunakan filter 0,2l dan disterilisasi
menggunakan lampu UV), radionuklida
60
Co
2+
dan
137
Cs
+
buatan Amersham, point source radioactive
calibration (buatan Canberra-Tenelec) dan bahan gelas. Alat yang digunakan adalah: spektrometer
gamma yang dilengkapi dengan multy chanel analysis (buatan Canberra) terhubung dengan komputer
dan detector NaI (buatan Bicorn).

Aklimatisasi
Kerang hijau (Perna viridis) yang digunakan sebagai hewan uji diambil dari lokasi budi daya di
Pantai Dadap Teluk Jakarta dimasukan ke dalam kontak PVC yang berisi es batu dilengkapi dengan
aerator. Hewan uji ditransportasikan ke laboratorium untuk dilakukan aklimatisasi. Aklimatisasi
bertujuan untuk menghilangkan stres kerang hijau dalam kondisi aquarium sehingga dapat digunakan
dalam percobaan bioakumulasi. Aklimatisasi dilakukan dengan menempatkan masing-masing sebanyak
30 kerang hijau yang diperoleh dari lapangan ke dalam akuarium berkapasitas 250 l yang dilengkapi
dengan sistem penyaringan bertingkat, penghilang buih dan aerator. Pada hari pertama tidak ada
pencahayaan ruangan dan hari berikutnya pencahayaan dilakukan 12 jam diberi cahaya, 12 jam
kondisi gelap. Pemberian pakan (alga hijau) dilakukan 2 kali sehari. Seluruh proses aklimatisasi
dilakukan selama 2 minggu tanpa pemberian kontaminan. Mortalitas selama aklimatisasi harus kurang
dari 10%. Jika selama aklimatisasi, mortalitas melebihi 10% hewan percobaan tersebut tidak dapat
digunakan untuk eksperimen bioakumulasi.

Bioakumulasi
Penandaaan air laut dengan
60
Co dan
137
Cs dilakukan dengan menambahkan kontaminan
tersebut ke dalam akuarium 5 l sehingga konsentrasinya 1 Bq.l
-1
. Setelah dihomogenasi selama 24 jam,
air laut dianalis kandungan
60
Co dan
137
Cs menggunakan spektrometer gamma. Sebanyak 5 ekor
kerang hijau masing-masing berukuran 3,0+0,2 cm ( 13,9 g) dan 5,4+ 0,3 cm (25,4 g) ditempatkan ke
dalam aquarium tersebut dan dibiarkan hidup normal tanpa diberi pakan. Kandungan
60
Co dan
137
Cs di
dalam tubuh kerang hijau dianalisis menggunakan spektrometer gamma pada interval waktu 1, 6, 10,
24, 48, 72, 116, 140 dan 162 jam. Analisis dilakukan dengan mencacah kerang tersebut selama 5
menit, kesalahan (error) pencacahan tidak boleh lebih dari 10% . Kerang hijau yang telah dianalisis
ditempatkan dalam medium baru yang mengandung
60
Co dan setelah terkontaminasi selama 24 jam
berikutnya, dianalisis kembali menggunakan spectrometer gamma. Kemampuan akumulasi dinyatakan
oleh nilai Faktor Konsentrasi (CF) yang ditunjukkan pada persamaan (1)
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

51


(1)

Dimana: CF adalah faktor konsentrasi (l.kg
-1
), Cb adalah konsentrasi
60
Co dalam tubuh kerang hijau
(Bq.g
-1
) dan Ca adalah konsentrasi
60
Co dan
137
Cs dalam air (Bq.ml
-1
)

Proses Depurasi
Setelah menjalani proses bioakumulasi, ketiga kerang hijau ditempatkan dalam aquarium yang
berisi air laut bebas kontaminan dan dalam kondisi mengalir (debit 50 l/jam). Pemberian pakan
dilakukan 2 kali sehari. Selama proses depurasi, secara periodik, kerang hijau dianalisis kandungan
60
Co dan
137
Cs menggunakan spektrometer gamma untuk memperoleh data pelepasan kontaminan.
Konstanta laju pelepasa (ke,) diperoleh dari slope grafik waktu (t) terhadap konsentrasi (C) perunut
tersebut. Retensi kontaminan dari masing-masing jalur dinyatakan dalam waktu paro biologi (t1/2b) yang
dihitung menggunakan persamaan (2)

(2)



HASIL DAN PEMBAHASAN
Bioakumulasi merupakan proses yang kompleks dan dinamis, tetapi dapat dijelaskan melalui
model yang dikonstruksi dari hasil eksperimen. Model kompartemen tunggal secara luas paling banyak
digunakan untuk beragam spesies perairan. Model kompartemen tunggal memberikan penjelasan
matematis kuantitas senyawaan kimia termasuk (
60
Co dan
137
Cs) yang ditentukan oleh laju
pengambilan dan pelepasannya
[11]
. Jalur utama bioakumulasi kedua radionuklida tersebut oleh P.
viridis melalui jalur air dan pakan. Namun demikian bioakumulasi melalui jalur air memberikan kontribusi
yang signifikan terhadap keseluruhan proses bioakumulasi
[12]
. Radionuklida
60
Co dan
137
Cs dalam
medium air langsung diakumulasi melalui insang. Bioakumulasi melalui jalur air merupakan
keseimbangan antara 2 mekanisme yaitu: pengambilan dan pelepasan
60
Co dan
137
Cs dari medium
air. Radionukida
60
Co mempunyai sifat kimia yang sama dengan mikroelemen Co non radioaktif
sehingga prilakunya di dalam lingkungan laut identik. Kobalt merupakan komponen dari vitamin B12
yang sangat dibutuhkan oleh hampir seluruh organism hidup sehingga dapat dengan mudah
dieksternaliasi ke dalam tubuh
[13]
. Disisi lain
137
Cs mempunyai sifat kimiawi yang sama dengan K
+

sehingga dapat diakumulasi oleh biota laut
[14-15]
. Kemampuan akumulasi dan eliminasi kedua
radionuklida tersebut ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2.



A

B
Gambar 1. Kemampuan akumulasi
60
Co dan
137
Cs oleh kerang hijau dari jalur air
A. Ukuran perna viridis + 3,2 cm B. Ukuran perna viridis + 5,6 cm


y = 0.042x + 0.105
R = 0.921
y = 0.004x + 0.515
R = 0.906
0
2
4
6
8
10
12
1 30 59 88 117 146 175 204
F
a
k
t
o
r

K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i
,

C
F

(
l
.
k
g
-
1
)
Waktu (jam)
Co-60
Cs-137
y = 0.041x + 0.076
R = 0.918
y = 0.002x + 0.599
R = 0.280
0
2
4
6
8
10
12
1 30 59 88 117 146 175 204
F
a
k
t
o
r

K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i
,

C
F

(
l
.
k
g
-
1
)
Waktu (jam)
Co-60
Cs-137
Heny Suseno: Kemampuan Kerang Hijau (Perna viridis) Mengakumulasi dan Mendistribusi
60
Co dan
137
Cs

52



A

B
Gambar 2. Kemampuan eliminasi
60
Co dan
137
Cs oleh dari dalam tubuh kerang hijau
A. Ukuran perna viridis + 3,2 cm B Ukuran perna viridis + 5,6 cm

Gambar 1 menunjukkan kemampuan P. viridis mengakumulasi
60
Co selama periode
eksperimen cenderungan meningkat. Nilai CF kerang hijau berukuran 3 dan 5,4 cm berturut-turut 6,76
dan 4,75 ml.g
-1
. Pada periode eksperimen ini kondisi tunak (steady state) belum tercapai, tetapi dari
hasil eksperimen ini diperoleh nilai laju pengambilan radionuklida oleh biota tersebut dari dalam air (ku).
Laju pengambilan merupakan slope dari plot Faktor Konsentrasi (CF) terhadap lama paparan. Laju
pengambilan
60
Co oleh kerang berukuran 3 dan 5,4 cm berturut-turut adalah 1,01 dan 0,98 ml.g
-1.
hari
-1
.
Nilai CF
137
Cs pada kedua jenis ukuran tersebut P. viridis berturut-turut 1,40 dan 1,49 ml.g
-1
dan
kondisi steady state telah tercapai. Laju pengambilan
137
Cs oleh kedua jenis kerang tersebut sebesar
0,096 ml.g
-1
.hari
-1
. Hasil eksperimen menunjukkan ukuran tubuh P. viridis hanya berpengaruh terhadap
proses bioakumulasi
60
Co. Disisi lain ukuran tubuh biota tersebut tidak berpengaruh terhadap proses
bioakumulasi
137
Cs. Kebanyakan jenis biota laut mempunyai kecenderungan ukuran tubuhnya
mengendalikan dan mempunyai korelasi terhadap akumulasi logam
[16]
. Ukuran tubuh merupakan faktor
yang mempengaruhi konsentrasi logam di dalam tubuh biota. Konstanta pengambilan berhubungan
dengan sistem regulasi tersebut sehingga laju bioakumulasi juga akan lebih tinggi pada organisme
yang berusia muda (berukuran lebih kecil)
[17]
. Secara umum bioakumulasi terjadi karena interaksi
antara biomasa dan beberapa senyawaan atau ion dilingkungan. Bioakonsentrasi senyawaan kimia
dikontrol oleh proses kesetimbangan kimia dan distribusi (misalnya log Kow), pembentukan senyawaan
koordinasi. Bioligan memiliki ligan-ligan potensial antara lain gugus amino-, carboxylate-, phenolate-,
imidazole dan sebagainya yang mampu berinteraksi dengan ion logam atau spesies organologam dan
membentuk senyawaan kompleks
[18]
. Radionuklida
60
Co merupakan golongan logam transisi yang
mempunyai kemampuan membentuk senyawaan koordinat. Disisi lain
137
Cs adalah unsur golongan
alkali dan kemampuan membentuk senyawaan kompleks dengan bioligan lebih rendah dibandingkan
dengan logam golongan transisi.
Gambar 2 menunjukkan eliminasi (pelepasan) kedua radionuklida tersebut oleh P. viridis setelah
paparan dihentikan. Laju pelepasan merupakan slope (ke) fraksi yang tertahan dalam tubuh hewan
terhadap waktu. Laju pelepasan
60
Co oleh kedua jenis ukuran P. viridis berturut-turut 0,03 dan 0,045
hari
-1
. Disisi lain laju pelepasann
137
Cs berturut-turut 0,037 dan 0,04 hari
-1
. Waktu tinggal biologis
kedua kontaminan tersebut dihitung menggunakan persamaan (2). Estimasi waktu tinggal biologis
60
Co
dan
137
Cs berturut-turut 15,34 sampai dengan 23,39 hari dan 17,53 sampai dengan 19,06 hari.
Estimasi kemampuan bioakumulasi
60
Co dan
137
Cs dari jalur air dihitung menggunakan
persamaan (3)
..(3)
Dimana BCF adalah faktor bioakumulasi dari jalur air (ml.g
-1
). Hasil perhitungan BCF
60
Co dan
137
Cs
pada kedua ukuran P. viridis tersebut di atas berturut-turut 22,31 sampai dengan 24,88 l.kg
-1
dan 2,43
sampai dengan 3,24 l.kg
-1
. Berdasarkan data tersebut, P. viridis mengakumulasi
60
Co 6,9 sampai
y = -4.518x + 83.56
R = 0.789
y = -2.964x + 36.87
R = 0.652
0
20
40
60
80
100
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
F
r
a
k
s
i

y
a
n
g

t
e
r
t
a
h
a
n

d
a
l
a
m

t
u
b
u
h

(
%
)
Waktu (hari)
Co-60
Cs-137
y = -3.955x + 79.17
R = 0.682
y = -3.637x + 34.86
R = 0.781
0
20
40
60
80
100
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
F
r
a
k
s
i

y
a
n
g

t
e
r
t
a
h
a
n

d
a
l
a
m

t
u
b
u
h

(
%
)
Waktu (hari)
Co-60
Cs-137
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

53

dengan 10,3 kali dibandingkan
137
Cs. Sebagai perbandingan, kemampuan akumulasi Cs yang
direpresentasikan oleh nilai BCF oleh moluska secara umum berkisar antara 9 - 50
[19]
. Hasil penelitian
menunjukkan nilai CF
137
Cs tidak berada pada kisaran tersebut. Namun demikian sebagai
perbandingan BCF
134
Cs oleh sejenis kerang laut dari jenis P. maximus adalah 1,0. Waktu tinggal
biologis 22 hari
[14]
. Pentingnya studi bioakumulasi dijelaskan dalam Safety Report Series IAEA.
[8)
.
Taiwan melakukan studi biokinetika
137
Cs sebagai antisipasi dampak rencana pembangunan PLTN di
Guangdong Cina
[16]
. Mengacu pada Safety Report Series IAEA, perpindahan radionuklida dari air
melalui tingkatan jejaring makanan yang berakhir pada manusia selaku pengkonsumsi organism laut.
Nilai Faktor Bioakumulasi
60
Co dan
137
Cs direkomendasikan berturut-turut 5000 dan 30 l.kg
-1
. Nilai
Faktor Bioakumulasi tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil eksperimen. Perbedaan ini
karena nilai Faktor Bioakumulasi menurut dokumen tersebut merupakan penyederhanaan dari berbagai
parameter yang mempengaruhi akumulasi
60
Co dan
137
Cs. Konsentrasi kedua radionuklida tersebut di
dalam air dianggap merupakan gabungan dari fraksi partikel tersuspensi. Mikro algae yang merupakan
pakan P. viridis merupakan fraksi tersuspensi. Disisi lain kontribusi bioakumulasi melalui jalur pakan
jauh lebih besar dibandingkan dari jalur air. Informasi kontribusi proses bioakumulasi melalui jalur
pakan dan partikulat harus ditetapkan untuk membandingkan seluruh hasil eksperimen dengan
rekomendasi IAEA.
Organisme akuatik memiliki kecenderungan dan pola yang berbeda dalam hal akumulasi dan
eleminasi logam (termasuk Cs dan Co)
[20]
. Beberapa organisme mengakumulasi secara ekstrim tetapi
sedikit melepaskan kembali logam tersebut dari dalam tubuhnya.Proses kesetimbangan antara
pengambilan dan pelepasan logam dinamakan dengan istilah regulasi akumulasi. Regulasi ini
umumnya dilakukan pada tingkatan organ tertentu organisme akuatik seperti insang, otot/daging, cairan
pencernaan (hepatopancreas) atau ginjal. Regulasi
137
Cs dan
60
Co oleh P. viridis ditunjukkan pada
Gambar 3 .



A B
Gambar 3. Distribusi radionuklida di dalam organ tubuh P. viridis. (A)
60
Co (B)
137
Cs

Berdasarkan Gambar 3, sebagian besar kedua radionuklida tersebut berada pada cairan
pencernaan. Hal yang sama ditunjukkan oleh eksperimen yang dilakukan oleh Ke dan kawan-kawan,
dimana fraksi terbesar
137
Cs berada pada jaringan lunak dan kebanyakan berada pada cairan
pencernaan
[16]
.

KESIMPULAN
Faktor Biokonsentrasi (BCF)
60
Co dan
137
Cs di dalam tubuh kerang hijau berturut-turut 22,31 -
24,88 l.kg
-1
dan 2,43 - 3,24 l.kg
-1
. Radionuklida
60
Co diakumulasi oleh kerang hijau 10 kali lipat
dibandingkan dengan
137
Cs. Sebagian besar kedua radionuklida tersebut terdistribusi dalam jaringan
lunak terutama pada cairan pencernaan. Estimasi waktu tinggal biologis
60
Co dan
137
Cs berturut-turut
15,34 sampai dengan 23,39 hari dan 17,53 sampai dengan 19,06 hari. Nilai Faktor Biokonsentrasi
66.1
5.87
28.03
Cairan Pencernaan
Daging
Cangkang
2
1.2
97.8
Cairan Pencernaan
Daging
Cangkang
Heny Suseno: Kemampuan Kerang Hijau (Perna viridis) Mengakumulasi dan Mendistribusi
60
Co dan
137
Cs

54

kedua radionuklida tersebut merepresentasikan kemampuan akumulasi kedua radionuklida tersebut
hanya dari dalam air laut yang tidak mengandung berbagai bahan tersuspensi dan bahan partikulat.

UCAPAN TERIMAKASIH
Riset ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan Program Insentif Riset Kompetitif yang
dibiayai oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Terimakasih kepada Kantor Kementrian Riset dan
Teknologi. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Sdri Wahyu Retno Prihatiningsih, S.Si, M.Si
yang membantu pelaksanaan riset ini.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Lacoue-Labarthe, T., Warnau, M., Oberhnsli, F., Teyssi, J-L., Bustamante, P. Contrasting
accumulation biokinetics and distribution of 241Am, Co, Cs, Mn and Zn during the whole
development time of the eggs of the common cuttlefish, Sepia officinalis. Journal of Experimental
Marine Biology and Ecology 382(2): 131-138.( 2010)
[2]. Leggett, R.W., Eckerman, K.F., Meck, R.A. Reliability of Current Biokinetic and Dosimetric
Models for Radionuclides: A Pilot Study. OAK RIDGE ORNL/TM-2008/131. (2008) .
[3]. Fowler, S.W. , Holm, E., Mee, L.D. Monitoring the marine environment IAEA's Laboratory at
Monaco offers valuable instruction in measuring contaminants in the sea IAEA BULLETIN, 2: 40-
42 (1998)
[4]. Watabe, T., Ishii, T., Hirano, S., Yokosuka, S., . Kurosawa , A. Application of the marine
organisms as a biological monitor to evaluation of the background levels of radioactivity in the
coastal environment Laboratory for Marine Radioecology, National Institute of Radiological
Sciences , Japan(2007)
[5]. Zalewska, T., Saniewski, M. Bioaccumulation of gamma emitting radionuclides in red algae
from the Baltic Sea under laboratory conditions, Oceanologia, 53 (2), 2011.
pp. 631650 (2011)
[6]. IAEA, Dispersion of Radioactive Material in Air and Water And Consideration of Population
Distribution in Site Evaluation For Nuclear Power Plants: Safety Guide. Vienna : International
Atomic Energy Agency, 2002. Safety Standards Series, ISSN 1020525X ; No. NS-G-3.2, IAEA,
Vienna
[7]. IAEA (2005) Radionuclide levels in oceans and seas : Final report of a coordinated research
project. IAEA-TECDOC-1429, IAEA, Vienna
[8]. IAEA. Generic models for use in assessing the impact of discharges of radioactive substances to
the environment. Safety report series, no. 19. International Atomic Energy Agency, Vienna
(2001)
[9]. Luoma, S.N., Rainbow, P. Why Is Metal Bioaccumulation So Variable? Biodynamics as a
Unifying Concept Critical Review. Environmental Science & Technology 39 (7):1921-
1931.(2005)
[10]. Kamaruzsaman, B.Y., Mohd Zahir, M.S., Akbar-John, B., Jalal, K.C.A., Shahbudin, S.
Bioaccumulation of Some Metal by Green Mussel Perna viridis (Linnaeus 1758) from Pekan,
Pahang, Malaysia. Intl J. of Biol Chem. 5(1):54-60, 2011
[11]. Newman, M.C., Jagoe, R.H. Bioaccumulation Models With Time Lags: Dynamics And Stability
Criteria. Ecological Modelling 84 ,281-286 (1996)
[12]. Bank, M.S., Loftin, C.S., Jung, R.E. Mercury Bioaccumulation in Northern Two-lined
Salamanders from Streams in the Northeastern United States. Ecotoxicology, 14: 181191
(2005)
[13]. Adam, C., Garnier-Laplace, J. Bioaccumulation of silver-110m, cobalt-60, cesium-137, and
manganese-54 by the freshwater algae Scenedesmus obliquus and Cyclotella meneghiana and
by suspended matter collected during a summer bloom event . Limnol. Oceanogr., 48(6): 2303
2313 (2003)
[14]. Metian, M., Warnau., M.; Teyssi, J-L.; Bustamante, P (2009) Characterization of
241
Am and
134
Cs bioaccumulation in the king scallop Pecten 2 maximus: investigation via three exposure
pathways. Journal of Environmental Radioactivity 102(6):543-550 (2011)
[15]. Wang,W-X , Ke, C., Yu, K.N., Lam, P.K.S. Modeling radiocesium bioaccumulation in a marine
food chain Mar Ecol Prog Ser 208: 4150.( 2000)
[16]. Ke, C., Yu, K.N., Lam, P.K.S. Uptake and Depuration Cesium in Green Mussel Pernaviridis.
Marine Biologi 137:567-575 (2000)
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

55

[17]. Kojadinovic, J et al. Mercury content in commercial pelagic fish and its risk assessment in the
Western Indian. Ocean Science of the Total Environment 366, 688700 (2006)
[18]. Frnzle, S., Markert, B. What Does Bioaccumulation Really Tell Us? Analytical Data in Their
Natural Environment. Ecological Chemistry and Engineering Vol. 14(1) : 8-23 (2007)
[19]. Till JE, Meyer HR. Radiological Assessment: A Textbook on Environmental Dose Analysis.
NUREG/CR-3332. U.S. Nuclear Regulatory Commission, Washington, DC (1983).
[20]. Rainbow, P.S.Biomonitoring of Trace Metals in Estuarine and Marine Environments
Australasian Journal of Ecotoxicology. 12: 107-122 (2006)





Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

56

PREDIKSI METILASI MERKURI PADA BIOAKUMULASI
MERKURI ANORGANIK OLEH Oreochromiss mossambicus

Budiawan
1)
, Heny Suseno
2)

1)

Departemen Kimia - Universitas Indonesia, Kampus UI Depok
2) Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN


ABSTRAK
PREDIKSI METILASI MERKURI PADA BIOAKUMULASI MERKURI ANORGANIK OLEH
Oreochromiss mossambicus. Ikan mujair (O. mossambicus ) yang dibudidaya di perairan payau
kemungkinan tercemar berbagai polutan termasuk merkuri. Prilaku bioakumulasi senyawaan merkuri
dalam tubuh ikan mujair belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prilaku
senyawaan merkuri termasuk apakah terjadi metilasi internal dalam tubuh ikan. Eksperimen dilakukan
menggunakan radiotracer
203
Hg
2+
dan CH3
203
Hg
+
sehingga diperoleh prilaku bioakumulasi kedua
senyawaan tersebut. Hasil eksperimen menunjukan kemampuan bioakumulasi CH3Hg
+
dan Hg
2+

berturut-turut berkisar 1217,65 1308,46 dan 137,61-179,72. Prediksi berdasarkan persamaan non
linier nilai CFss CH3Hg
+
dan Hg
2+
berturut-turut 1763l,90 - 2001,92 dan 162,42 222,60. Laju
pengambilan CH3Hg
+
oleh O.mossambicus melalui jalur air lebih besar dibandingkan Hg
2+
. Prediksi
kandungan CH3Hg
+
di dalam O.mossambicus sebagai akibat prilaku bioakumulasinya air adalah 62,5
85,7%. Berdasarkan kalkulasi tersebut maka metilasi tidak terjadi di dalam tubuh ikan.

Kata kunci: Bioaccumulasi, metilasi, mercury


ABSTRACT
BIOACCUMULATION MERCURY COMPOUND BY Oreocromis mossambicus AND
PREDICTION OF ITS INTERNAL MERCURY METHYLATION. Java tilapia (O. mossambicus) are
cultured in brackish water have possibility contaminate by various pollutant including mercury
compound. Only limited the information of fate and behavior of mercury compound on Java tilapia
body. This research aims to determine the behavior of mercury coumpound, including the possibility of
internal mercury methylation. Experiment carry out using radiotracer
203
Hg
2+
and CH3
203
Hg
+
in order to
obtain bioaccumulation behavior. The results of experiment obtain the capability bioaccumulation both
CH3Hg
+
and Hg
2+
were 1217.65 to 1308,46 and 137.61 to 179.72 respectively. The prediction base on
nonlinear equations that found the CFss value 17361,90 to 2001,92 and 162.42 to 222,60. The uptake
rate of CH3Hg
+
more higher than Hg
2+
. The prediction of CH3Hg+ content on O. mossambicus as result
of b ioaccumulation behavior were 85.7%. Base on these calculation, the methylation of mercury did not
occur in internal body of fish.

Keywords : Bioaccumulation, methylation, mercury


PENDAHULUAN
Merkuri merupakan salah satu zat pencemar, bersifat neutrotoksin, masuk ke ekosistem
akuatik melalui deposisi atmosferik maupun bersumber dari eksternalisasi limbah industry
[1,2]
. Menurut
sudut pandang ekotoksikologi, terdapat dua bentuk utama senyawaan merkuri di lingkungan hidup
yaitu CH3Hg
+
dan Hg
2+
. Kedua bentuk tersebut terakumulasi dalam berbagai spesies organisme
akuatik dan masuk ke dalam jejaring makanan. Ikan merupakan predator teratas dalam ekosistem
akuatik dan mempunyai posisi ditengah pada jejaring makanan. Sebagai sumber protein ikan banyak
dikonsumsi oleh manusia sehingga menjadi sumber utama paparan merkuri pada manusia
[3]
. Ikan
mujair (O. mossambicus ) yang dibudidaya di perairan payau banyak dikonsumsi oleh masyarakat
karena harganya cukup terjangkau. Lingkungan pesisir tempat budibaya ikan tersebut (misalnya
sepanjang pantai utara laut Jawa) kebanyakan tercemar berbagai polutan termasuk merkuri. Disisi
lain prilaku bioakumulasi senyawaan merkuri dalam tubuh ikan mujair belum banyak diketahui.
Budiawan, Heny Suseno: Prediksi Metilasi Merkuri pada Bioakumulasi Merkuri Anorganik oleh Oreochromiss mossambicus
57

Secara umum pada jaringan otot ikan, akumulasi merkuri dominan dalam bentuk CH3Hg
+
.
Persentase kandungan CH3Hg
+
merkuri dalam otot ikan berkisar antara 80% - 92%

terhadap merkuri
total
[4]
. Disisi lain, pada perairan oksik, proporsi metil merkuri terhadap total merkuri umumnya sangat
rendah sehingga kontribusi metil merkuri dibandingkan total merkuri dalam proses bioakumulasi bersifat
sangat spekulatif
[5]
. Terdapat beberapa bukti yang dapat dipertimbangkan bahwa metilasi dan
demetilasi merkuri dapat terjadi dalam jaringan otot ikan, walaupun berbagai penelitian juga
membuktikan bahwa metilasi tidak terjadi dalam tubuh ikan
[5]
. Sebuah penelitian membuktikan metilasi
merkuri terjadi di dalam usus 6 jenis ikan
[6]
. Jika benar terjadi metilasi merkuri maka kandungan metil
merkuri dalam tubuh ikan cenderung dominan walaupun rasio konsentrasinya terhadap metil merkuri di
dalam air sangat kecil.
Untuk mempelajari prilaku bioakumulasi merkuri dalam tubuh ikan mujair, langkah pertama
adalah melakukan kuantisasi pengaruh eksternal dan internal terhadap proses bioakumulasi CH3Hg
+

dan Hg
2+
menggunakan model biokinetik. Teknik percobaan yang dilakukan menggunakan perunut
radioaktif. Langkah kedua adalah menghitung rasio kontribusi bioakumulasi merkuri dan metil merkuri.
Perhitungan rasio tersebut digunakan untuk membuktikan terjadi atau tidaknya metilasi merkuri dalam
tubuh O. mossambicus.

TATA KERJA
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari: air payau yang diambil dari tambak-tambak rakyat di
Panimbang Banten (difiltrasi dilaboratorium menggunakan filter 0,2l), Hg(NO3)2 spesifikasi proanalisis
E merck, CH3HgCl spesifikasi pro analisis E merck, perunut radioaktif
203
Hg
2+
dan CH3
203
Hg
+
aktivitas
20 mCi buatan Pusat Produksi Radioisotope BATAN, point source radioactive calibration (buatan
Canberra-Tenelec). Alat yang digunakan adalah: spektrometer gamma yang dilengkapi dengan multy
chanel analysis (buatan Canberra) terhubung dengan komputer dan detector NaI (buatan Bicorn),
penangas air, centrifuge, water qulity checker dan sebagainya.

Metode
Metode yang digunakan meliputi: aklimatisasi, pembuatan medium, bioakumulasi dan pelepasan
kontaminan. Aklimatisasi hewan percobaan, tahapan ini dimulai dari pengambilan hewan percobaan di
lapangan (tambak), penanganan dan transportasi hewan percobaan dari lapangan ke laboratorium dan
adaptasi hewan percobaan di lingkungan akuatik buatan (sistem akuaria).Pembuatan medium paparan
melalui jalur air untuk mensimulasikan: perubahan konsentrasi CH3Hg
+
dan Hg
2+
(0,021 sampai dengan
1,832 g.l
-1
untuk CH3Hg
+
dan 0,4 sampai dengan 20,0 g.l
-1
Hg
2+
). Penandaaan medium air dengan
perunut radioaktif CH3
203
Hg
+
dan
203
Hg
2+
. Metil merkuri dan Hg
2+
di dalam medium air bercampur
dengan perunut radioaktif membentuk suatu matriks. Penambahan perunut radioaktif CH3
203
Hg
+
dan
203
Hg
2+
(masing-masing hingga kadarnya dalam air mencapai 1 Bq.ml
-1
) tidak mempengaruhi kadar
CH3Hg
+
dan Hg
2+
di dalam air. Hasil pengukuran perunut radioaktif tersebut akan ekivalen dengan
kuantitas CH3Hg
+
dan Hg
2+
di dalam medium air. Bioakumulasi CH3Hg
+
dilakukan dengan
menempatkan O. mossambicus dalam medium air yang mengandung CH3Hg
+
dan CH3
203
Hg
+
dalam
interval waktu 1 - 30 hari. Bioakumulasi Hg
2+
dilakukan dengan menempatkan O. mossambicus dalam
medium air yang mengandung Hg
+
dan
203
Hg
2+
dalam interval waktu 1 - 30 hari. Secara terpisah,
perunut CH3
203
Hg
+
dan
203
Hg dalam air dan tubuh ikan dianalisis menggunakan spektrometer gamma.
Rasio konsentrasi CH3
203
Hg
+
atau
203
Hg
2+
dalam ikan dibandingkan konsentrasinya dalam air
merupakan nilai Faktor Konsentrasi (CF). Nilai slope yang berasal dari plot nilai CF terhadap waktu
merupakan konstanta kecepatan pengambilan (ku, hari
-1
). Nilai CFss diperoleh dari CF pada kondisi
tunak
[6]
. Pelepasan CH3Hg
+
dan Hg
2+
dari tubuh O.mossambicus dilakukan dengan menempatkan ikan
yang telah terakumulasi akuarium berisi air payau yang tidak ditambahkan CH3Hg
+
dan Hg
2+
maupun
perunut radioaktifnya. Perunut CH3
203
Hg
+
dan
203
Hg dalam tubuh ikan dianalisis menggunakan
spektrometer gamma. Persentase kedua kedua perunut radioaktif tersebut pada waktu t terhadap
waktu t=0 (sebelum dilakukan depurasi) yang tertinggal dalam tubuh O. mossambicus ditetapkan
setiap hari. nilai slope yang berasal dari plot nilai persentase kontaminan yang tertahan CF terhadap
waktu merupakan konstanta laju pelepasan (hari
-1
)
[6]
.




Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

58

HASIL DAN PEMBAHASAN
Proses bioakumulasi CH3Hg
+
dan Hg
2+
oleh O. Mossambicus dari medium air dipengaruhi oleh
perubahan konsentrasi kedua senyawaan tersebut. Pada eksperimen ini, O.mossambicus
disimulasikan berada dalam kondisi lingkungan perairan yang mengandung CH3Hg
+
dan Hg
2+
dengan
konsentrasi rendah sampai menengah. Kisaran konsentrasi CH3Hg
+
dan Hg
2+
yang digunakan adalah
seperlimaratus sampai sepersepuluh dari nilai LC50-96h pada O. mossambicus
[7]
. Pengaruh
perubahan konsentrasi CH3Hg
+
dan Hg
2+
terhadap kemampuan akumulasi oleh O.mossambicus yang
direpresentasikan oleh nilai Faktor Konsentrasi (CF) ditunjukkan pada Gambar 1
Mengacu pada Gambar 1, kondisi tunak akumulasi CH3Hg
+
dan Hg
2+
tidak dicapai dalam waktu yang
bersamaan. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kondisi tunak dalam medium CH3Hg
+
dan Hg
2+
tercapai berturut-turut setelah 29 30 hari dan 21 23 hari.
Berdasarkan hasil eksperimen, nilai CFss CH3Hg
+
adalah 1308,46; 1217,65; 1286,02; dan
1032,62

berturut-turut setelah terpapar dalam medium yang mengandung CH3Hg
+
0,021; 0,105; 0,361
dan 1,832g.l
-1
. Hasil kali CFss dengan konsentrasi CH3Hg
+
dalam medium air merupakan kandungan
CH3Hg
+
dalam tubuh O. mossambicus. Berdasarkan hasil perhitungan, kandungan CH3Hg
+
dalam O.
mossambicus berkisar antara 0,03 1,86 g.g
-1
. Laju akumulasi 0,0007- 0,0570 g.g
-1
.hari
-1
. Nilai
CFss Hg
2+
setelah terpapar medium Hg
2+
0,4; 02; 10,0 dan 20,0 g.l
-1
berturut-turut adalah 179,72;
165,03; 145,40 dan 137,61. Menggunakan metoda perhitungan yang sama maka konsentrasinya di
dalam O. mossambicus sebesar 0,07 2,70 g.g
-1
. Laju akumulasi Hg
2+
0,0022 0,0382.
Estimasi kondisi tunak berdasarkan fitting persamaan non linier dan hasil yang diperoleh
berbeda dengan hasil eksperimen. Estimasi kondisi tunak CH3Hg
+
berdasarkan prediksi persamaan non
linier dicapai setelah 72 hari dan estimasi CFss berturut-turut sebesar 1763,90; 1944,32; 2001,92 dan
1472,88. Hal serupa ditunjukkan oleh bioakumulasi Hg
2+
, estimasi kondisi tunak berdasarkan prediksi
persamaan non linier dicapai setelah 68 hari dan estimasi CF berturut-turut sebesar 222,60; 215,77;
175,72 dan 162,42.
Menurut rekomendasi IAEA, nilai CF Hg
2+
adalah 3 x 10
4
secara umum untuk seluruh jens
ikan
[9]
. Nilai tersebut berbeda dengan eksperimen ini maupun berbagai eksperimen yang telah
dilakukan oleh peneliti lainnya. Pada berbagai hasil eksperimen tersebut, nilai CF CH3Hg
+
dan Hg
2+

sangat bervariasi dan pada kisaran yang lebar
[5, 9,10, 11]
.

Perbedaan ini disebabkan oleh jenis biota serta
kondisi lingkungan akuatik dan metoda yang digunakan dalam percobaan yang tidak sama. Sebagai
contoh, nilai CF CH3Hg
+
dan Hg
2+
O. mossambicus jauh kecil dibandingkan dengan nilai CF O.
notilicus
[11]
.


(a)

(b)

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80
10
100
1000
10000
CF
t
=1763,90 (1- e
-0,040.t
)
CF
t
=222,60 (1- e
-0,068.t
)


F
a
k
t
o
r

K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i
,

C
F

Lama Paparan (Hari)
Prediksi CH
3
Hg
+
CH
3
Hg
+
0,021 g.l
-1
Prediksi Hg
2+
Hg
2+
0,2 g.l
-1
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80
10
100
1000
10000
CF
t
=1944,32 (1- e
-0,040.t
)
CF
t
=215,77 (1- e
-0,059.t
)


F
a
k
t
o
r

K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i
,

C
F
Lama Paparan (Hari)
Prediksi CH
3
Hg
+
CH
3
Hg
+
0,105 g.l
-1
Prediksi Hg
2+
Hg
2+
2,0 g.l
-1
Budiawan, Heny Suseno: Prediksi Metilasi Merkuri pada Bioakumulasi Merkuri Anorganik oleh Oreochromiss mossambicus
59


(c)
(d)

Gambar 1.

Pengambilan CH3Hg
+
dan Hg
2+
oleh O. mossambicus dari medium air pada
berbagai kadar. (a) 0,021 g.l
-1
CH3Hg
+
; 0,2 g.l
-1
Hg
2+
(b) 0,105 g.l
-1

CH3Hg
+
; 2,0 g.l
-1
Hg
2+
(c) 0,361 g.l
-1
CH3Hg
+
; 10,0 g.l
-1
Hg
2+
(d) 1,832 g.l
-
1
CH3Hg
+
; 20,0 g.l
-1
Hg
2+


Namun demikian hasil penelitian tersebut tidak dapat dibandingkan secara proporsional karena
eksperimen dilakukan pada konsentrasi yang sangat rendah (3,3100 ng.l
-1
Hg
2+
dan 1,1 130 ng.l
-1

CH3Hg
+
) dan waktu yang sangat singkat (8 jam). Berbagai spesies biota akuatik mempunyai
perbedaan kemampuan mengakumulasi CH3Hg
+
dan Hg
2+
. Hal ini yang disebabkan oleh sistem
pengaturan logam (termasuk merkuri) di dalam tubuh berbagai spesies tersebut tidak sama
[12]
.
Perbedaan ini dimulai dari kemampuan adsorpsi CH3Hg
+
dan Hg
2+
ke dinding sel selanjutnya melewati
membran sel sampai dengan detoksifikasi keluar sel
[13]
. Internalisasi CH3Hg
+
dan Hg
2+
dari medium air
ke dalam tubuh tergantung dari kemampuan sel insang masing-masing biota mentransportasikan ke
dalam sel darah merah.
Tahapan berikutnya adalah CH3Hg
+
dan Hg
2+
didistribusikan ke seluruh organ tubuh biota dan
sebagian lagi diekresikan. Sistein merupakan protein yang kaya akan gugus sulfhidril berperan dalam
proses pengambilan dan distribusi CH3Hg
+
dan Hg
2+
. Metalotionin adalah protein berbobot molekul
rendah, kaya akan gugus sulfhidril berperan mengekresikan Hg
2+
keluar tubuh biota
[14]
. Glutation yang
juga kaya akan gugus sulfhidril berperan mengeluarkan CH3Hg
+

[15]
. Berdasarkan penjelasan di atas,
maka berbagai jenis spesies memiliki perbedaan kemampuan sintesis sistein, metalotionin dan
glutation yang berperan dalam proses pengambilan, pelepasan dan akumulasi CH3Hg
+
dan Hg
2+
.
Pelepasan CH3Hg
+
dan Hg
2+
dari dalam tubuh O. mossambicus setelah terpapar kedua
kontaminan tersebut selama 30 hari ditunjukkan pada Gambar 2.

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80
10
100
1000
10000
CF
t
=2001,92 (1- e
-0,043.t
)
CF
t
=175,72 (1- e
-0,071..t
)


F
a
k
t
o
r

K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i
,

C
F

Lama Paparan (Hari)
Prediksi CH
3
Hg
+
CH
3
Hg
+
0,361 g.l
-1
Prediksi Hg
2+
Hg
2+
10,0 g.l
-1
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80
10
100
1000
10000
CF
t
=159.88 (1- e
-0,0766.t
)
CF
t
=1445,41 (1- e
-0,0483.t
)


F
a
k
t
o
r

K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

(
m
l
.
g
-
1
)
Lama Paparan (Hari)
Prediksi CH
3
Hg
+
CH
3
Hg
+
1,832 g.l
-1
Prediksi Hg
2+
Hg
2+
20 g.l
-1
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

60


(a)

(b)
Gambar 2. Pelepasan Hg dari tubuh O. Mossambicus setelah terpapar berbagai konsentrasi CH3Hg
+

dan Hg
2+
selama 30 hari. (a) terpapar CH3Hg
+
(b) terpapar Hg
2+

Mengacu pada Gambar 2, mekanisme pelepasan CH3Hg
+
melalui satu tahapan. Disisi lain
mekanisme pelepasan Hg
2+
melalui 1 tahapan dan 2 tahapan (laju lambat dan cepat). Konstanta laju
pelepasan cepat Hg
2+
berkisar antara 0,0302 -0,0614 hari
-1
. Laju pelepasan lambat berkisar antara
0,0141 0,0178 hari
-1
. Perkiraan pelepasan Hg
2+
setelah terpapar oleh medium Hg
2+
2,0; 10,0 dan
20,0 g.l
-1
adalah:
(1)
(2)
(3)
Untuk memprediksi kemampuan bioakumulasi merkuri laju pelepasan dihitung hanya satu
tahapan
[12]
. Menggunakan metode perhitungan tersebut, maka konstanta laju pelepasan CH3Hg
+
dan
Hg
2+
dari tubuh O. mossambicus masing-masing sebesar 0,0102 0,0110 hari
-1
dan 0,0270 0,0238
hari
-1
. Berdasarkan data tersebut maka CH3Hg
+
ditahan 2,13 - 2,16 kali lebih lama dalam tubuh O.
mossambicus dibandingkan dengan Hg
2+
. Sebagai perbandingan, ikan G. affinis menahan CH3Hg
+

1,17 kali lebih lama dibandingkan Hg
2+ [11]
. Ikan L. microlophus menahan CH3Hg
+
1,43 - 1,67 kali lebih
lama dibandingkan Hg
2+

[11]
. Ikan O. niloticus menahan CH3Hg
+
7,2 kali lebih lama dibandingkan Hg
2+

[12]
. Oreochromis mossambiscus menahan CH3Hg
+
lebih lama dibandingkan Hg
2+
karena jalur
pelepasannya terdiri dari berbagai mekanisme.
Jalur utama pelepasan CH3Hg
+
melalui biotransformasi menjadi bentuk anorganik untuk
selanjutnya diekresikan sebagai ion Hg
2+
. Jalur lainnya adalah sekresi CH3Hg
+
ke dalam empedu,
berikatan dengan berbagai macam senyawaan sulfhidril nonprotein. Sebagai tambahan pelepasan
CH3Hg
+
juga dapat melalui sistem pernafasan. Metil merkuri bersaifat lifofilik dan cepat diserap insang
dari medium air. Ultrafiltrasi atau fraksi CH3Hg
+
yang tidak terikat oleh darah merah dan tetap berada
dalam plasma darah dapat dipindahkan kembali ke dalam insang dan selanjutnya diekskresikan keluar
tubuh
[17]
.
Untuk memprediksi relatif kontribusi pengambilan Hg
2+
pada proses bioakumulasi merkuri,
fraksi CH3Hg
+
dalam lingkungan perairan harus ditetapkan. Berbagai studi pemantauan lingkungan
melaporkan fraksi CH3Hg
+
sangat kecil dibandingkan total merkuri yang terkandung di dalam air.
Secara umum fraksi CH3Hg
+
terhadap Hg
2+
pada lingkungan perairan sebesar 5%
[18]
. Pada prediksi
ini digunakan asumsi rasio CH3Hg
+
terhadap Hg
2+
sebesar 5 - 10%. Prediksi menggunakan
persamaan (4).
0 5 10 15 20 25 30
40
50
60
70
80
90
100
110


F
r
a
k
s
i

t
e
r
t
a
h
a
n

d
a
l
a
m

t
u
b
u
h

(
%
)
Lama depurasi (hari)
Prediksi 0,021 g.l
-1
CH
3
Hg
+
Prediksi 0,015 g.l
-1
CH
3
Hg
+
Prediksi 0,0361 g.l
-1
CH
3
Hg
+
Prediksi 1,832 g.l
-1
CH
3
Hg
+
0,021 g.l
-1
CH
3
Hg
+
0,015 g.l
-1
CH
3
Hg
+
0,0361 g.l
-1
CH
3
Hg
+
1,832 g.l
-1
CH
3
Hg
+
0 5 10 15 20 25 30
40
50
60
70
80
90
100
110


F
r
a
n
s
i

t
e
r
t
a
h
a
n

d
a
l
a
m

t
u
b
u
h

(
%
)
Lama depurasi (hari)
Prediksi 0,4 g.l
-1
Hg
2+
Prediksi 2,0 g.l
-1
Hg
2+
Prediksi 10,0 g.l
-1
Hg
2+
Prediksi 20,0 g.l
-1
Hg
2+
0,4 g.l
-1
Hg
2+
2,0 g.l
-1
Hg
2+
10,0 g.l
-1
Hg
2+
20,0 g.l
-1
Hg
2+
Budiawan, Heny Suseno: Prediksi Metilasi Merkuri pada Bioakumulasi Merkuri Anorganik oleh Oreochromiss mossambicus
61


(4)

Untuk keperluan perhitungan tersebut parameter bioakumulasi (CFss, ku, ke) dari seluruh
variabel yang mempengaruhi bioakumulasi melalui jalur air ( konsentrasi Hg
2+
dan CH3Hg
+
, kandungan
partikulat, perubahan salinitas dan pengaruh ukuran O. mossambicus) harus ditetapkan.
Nilai CF digunakan untuk prediksi metilasi adalah rerata CF prediksi yang diperoleh dari
eksperimen yaitu: Variabel percobaan pengaruh konsentrasi, digunakan nilai CF CH3Hg
+
2001,92 dan
CF Hg
2+
222,6.
Hasil perhitungan yang merepresentasikan kontibusi Hg
2+
terhadap bioakumulasi total merkuri
ditunjukkan
pada Gambar 3

Gambar 3. Prediksi persentase kontribusi Hg
2+
terhadap bioakumulasi
merkuri secara keseluruhan oleh O. mossambicus

Gambar 3 menunjukkan bahwa pada asumsi rasio konsentrasi CH3Hg
+
terhadap Hg
2+
di perairan
payau 0,1 sampai 0,25, maka diperoleh estimasi rasio fraksi Hg
2+
di dalam tubuh O. mossambicus
hanya berkisar 14,3 - 27,5%. Hasil perhitungan menunjukkan kontribusi CH3Hg
+
terhadap total
akumulasi merkuri adalah 85,7%. Berdasarkan hal tersebuk terbukti tidak terjadi metilasi dalam tubuh
O. mossmbicus.

KESIMPULAN
1. Kemampuan bioakumulasi CH3Hg
+
dan Hg
2+
dari medium air yang dinyatakan sebagai CF berturut-
turut berkisar 1217,65 1308,46 dan 137,61-179,72. Prediksi berdasarkan persamaan non linier
nilai CFss CH3Hg
+
dan Hg
2+
berturut-turut 1763l,90 - 2001,92 dan 162,42 222,60.
2. Laju pengambilan CH3Hg
+
oleh O.mossambicus melalui jalur air lebih besar dibandingkan Hg
2+
.
Metil merkuri lebih lama ditahan dalam tubuh O. mossambicus dibandingkan dengan Hg
2+

3. Prediksi kandungan CH3Hg
+
di dalam O.mossambicus sebagai akibat prilaku bioakumulasinya air
adalah 85,7%. Berdasarkan kalkulasi tersebut maka metilasi tidak terjadi di dalam tubuh ikan.

0
20
40
60
80
100
120
0
0
.
0
2
0
.
0
4
0
.
0
6
0
.
0
8
0
.
1
0
.
1
2
0
.
1
4
0
.
1
6
0
.
1
8
0
.
2
0
.
2
2
0
.
2
4
F
r
a
k
s
i

H
g
2
+
d
a
l
a
m

t
u
b
u
h

i
k
a
n

(
%
)
Rasio relatif konsentrasi CH
3
Hg
+
terhadap Hg
2+
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

62

DAFTAR PUSTAKA
[1]. WHO. Guidance for identifying populations at risk from mercury exposure, Issued by UNEP DTIE
Chemicals Branch and WHO Department of Food Safety, Zoonoses and Foodborne Diseases
Geneva, Switzerland(2008)
[2]. Gochfeld, M . Cases of mercury exposure, bioavailability, and absorption. Ecotoxicology and
Environmental Safety 56, 174179(2003)
[3]. Schwindt, R.A et al. Mercury Concentrations in Salmonids from Western U.S. National Parks and
Relationships With Age and Macrophage Aggregates. Environ. Sci. Technol. 2, 13651370(2008)
[4]. Houserova,P., et al. Determination of total mercury and mercury species in fish and aquatic
ecosystems of moravian rivers. Veterinarni Medicina, 51(3): 101110, 2006
[5]. Wang, W-X ., Wong, R.S.K. Bioaccumulation kinetics and exposure pathways of inorganic
mercury and methylmercury in a marine fish, the sweetlips Plectorhinchus gibbosus. Mar Ecol
Prog Ser 261: 257268(2003)
[6]. Rudd, J.W.M. ,Furutani, A., Turner, M.A. Mercury methylation by fish intestinal contents, Appl Env
Micobiology 40,4:777-7(1980)
[7]. Ishikawa, N.M., et al. Hematological Parameters in Nile Tilpia, Oreochromis niloticus Exposed to
Sub-letal Concentrations of Mercury. Brazilian Archives of Biology and Technology. 50, 4 : 619-
626 (2007)
[8]. IAEA. Sediment Kds and concentration factors for radionuclides in the marine environment.
International Atomic Energy Agency Tech Rep Ser 247:144(1985)
[9]. Lacoue-Labarthe, T. et al. Bioaccumulation of Inorganic Hg by the Juvenile Cuttlefish Sepia
officinalis Exposed to
203
Hg Radiolabelled Seawater and Food, Aquat Biol 6, 9198 (2009)
[10]. Pickhardt, P.C., Stepanova,M.C., Fisher, N.S. Contrasting Uptake Routes and Tissue
Distributions of Inorganic and Methylmercury in Mosquitofish (Gambusia affinis) and Redear
Sunfish (Lepomis microlophus) Environ. Toxicol. Chem. 25,8: 21322142 (2006)
[11]. Wang, R., Wong, M.H., Wang, W-X. Mercury exposure in the freshwater tilapia Oreochromis
niloticus. Environmental Pollution 158: 2694-2701 (2010)
[12]. Luoma, S.N., Rainbow, P. Why Is Metal Bioaccumulation So Variable? Biodynamics as a Unifying
Concept Critical Review. Environmental Science & Technology 39, 7:1921-1931 (2005)
[13]. Vijver, M.G. The Ins and Outs of Bioaccumulation Metal Bioaccumulation Kinetics in Soil
Invertebrates in Relation to Availability and Physiology. PhD Desertation, Vrije Universiteit,
Amsterdam, The Netherlands(2005)
[14]. Otsuka, F.Molecular Mechanism of the Metallothionein Gene Expression Mediated by Metal-
Responsive Transcription Factor, Journal of Health Science, 47(6): 513-519(2001)
[15]. Grotto, D., et al. Low level and sub-chronic exposure to methylmercury induces hypertension in
rats: nitric oxide depletion and oxidative damage as possible mechanisms, Arch Toxicol. 83, 653
662 (2009).
[16]. Schultz, I.R., Peters, E.L., Newman, M.C. Toxicokinetics and Disposition Of Inorganic Mercury
And Cadmium In Channel Catfish After Intravascular Administration. Toxiicol. Appl. Pharmacol.
140, 39-43 (1996)
[17]. Morel,F.M.M., Kraepiel, A.M.L., Amyot, M (1998). The Chemical Cycle and Bioaccumulation of
Mercury. Annu. Rev. Ecol. Syst. 29,54366 (1998)

Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

63

ASPEK LINGKUNGAN PADA SISTEM PROTEKSI RADIASI

Suzie Darmawati
Pusat Standardisasi dan Jaminan Mutu Nuklir-BATAN,
Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang 15310


ABSTRAK
ASPEK LINGKUNGAN PADA SISTEM PROTEKSI RADIASI. Proteksi radiasi adalah suatu
tindakan yang dilakukan untuk memberikan perlindungan bagi manusia terhadap efek pajanan radiasi
yang berbahaya. Untuk mencapai tujuan ini telah dikembangkan sistem proteksi radiasi yang
menerapkan prinsip pembenaran, optimisasi dan pembatasan dosis. Selama bertahun-tahun diyakini
bahwa dengan menerapkan ketiga prinsip tersebut kepada manusia, semua spesies yang lain tidak
berada dalam bahaya. Namun demikian dalam sepuluh tahun terakhir ini timbul kesadaran bahwa
banyak kegiatan terkait nuklir dan radiasi oleh manusia modern yang walaupun tidak berbahaya bagi
manusia, ternyata membawa dampak bagi lingkungan. Untuk itu maka telah dikembangkan suatu
sistem proteksi radiasi lingkungan yang memperhitungkan efek yang terjadi pada hewan dan tanaman
jika menerima pajanan radiasi. Lebih jauh, mengingat saat ini dipandang tidak ada lagi bagian bumi
yang lingkungannya terisolasi dari populasi manusia, telah dikembangkan pula suatu sistem proteksi
radiasi terpadu yang menggabungkan sistem proteksi radiasi manusia dengan sistem proteksi radiasi
lingkungan.

Kata Kunci : Proteksi radiasi, lingkungan, sistem terpadu


ABSTRACT
ENVIRONMENTAL ASPECTS IN RADIATION PROTECTION SYSTEM. Radiation protection is
a mean to give protection to people from the detrimental effects of exposure to radiation. To achieve this
objective a radiation protection system which implements the principles of justification, optimisation and
dose limits has been developed. For years it has been believed that by implementing those three
principles to people, all other species are not put at risk. In the last decade, however, it is realized that
many modern human activities related to nuclear or radiation which even though not bring a dangerous
situation to people, bring about an impact to the environment. For this purpose it has been developed a
system of radiation protection for non-human environment by considering effects that may happen to
animals and plants if they receive radiation exposures. Moreover, since at present there is no part of
earth considered to be isolated from human population, it has also been developed an integrated
radiation protection system which combine both human and environment radiation protection systems.

Keywords : Radiation protection, environmental, integrated system


PENDAHULUAN
Bahan nuklir, zat radioaktif dan atau sumber radiasi lainnya merupakan bahan yang banyak
membawa manfaat dan berperan penting dalam upaya meningkatkan mutu hidup manusia. Selain
bahan nuklir yang dapat digunakan utuk memproduksi energi listrik, berbagai zat radioaktif dan atau
sumber radiasi lainnya telah dimanfaatkan di berbagai bidang terutama medik, industri dan pertanian.
Selain membawa manfaat yang sangat besar, diketahui pula bahwa penggunaan ketiga bahan ini (yang
untuk memudahkan selanjutnya disebut hanya sebagai radiasi) memiliki efek yang berbahaya bagi
kesehatan manusia. Efek radiasi dapat berupa deterministik maupun stokastik. Efek deterministik
merupakan efek yang dapat terjadi pada suatu organ atau jaringan tubuh tertentu yang menerima
radiasi dengan dosis tinggi, sementara efek stokastik merupakan efek akibat penerimaan radiasi dosis
rendah di seluruh tubuh yang baru diderita oleh orang yang menerima dosis setelah selang waktu
tertentu, atau oleh turunannya. Dengan adanya kedua jenis efek yang berbahaya ini maka setiap
aplikasi radiasi harus diatur dan diawasi secara ketat oleh instansi yang diberi tanggung jawab untuk
melaksanakan pengawasan tersebut.
Suzie Darmawati: Aspek Lingkungan pada Sistem Proteksi Radiasi

64

Upaya pemahaman tentang fenomena yang terjadi jika radiasi berinteraksi dengan jaringan
tubuh ini termasuk dalam cabang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) proteksi radiasi. Secara
umum, proteksi radiasi adalah tindakan yang dilakukan untuk melindungi pekerja, anggota masyarakat
dan lingkungan hidup dari efek bahaya radiasi.
Proteksi radiasi merupakan iptek yang pada awalnya dikembangkan dengan pendekatan moral
anthroposentrik. Dengan pendekatan ini maka umat manusia merupakan obyek utama atau bahkan
satu-satunya yang perlu diberikan perlindungan dari efek radiasi yang berbahaya tersebut. Komi si
Internasional untuk Proteksi Radiologik (ICRP, International Commission on Radiological Protection),
suatu organisasi internasional yang bekerja untuk memberikan rekomendasi dan pedoman mengenai
proteksi terhadap risiko yang berkaitan dengan radiasi pengion, merupakan salah satu institusi yang
menggunakan pendekatan ini dalam rekomendasinya. Pada paragraf 14 dari rekomendasi ICRP tahun
1977, misalnya, dinyatakan bahwa tingkat keselamatan yang diperlukan untuk proteksi semua
individu manusia dipercaya cukup untuk melindungi spesies lain, meskipun bukan anggota individual
dari spesies tersebut. ICRP dengan demikian yakin bahwa jika manusia telah cukup diproteksi, maka
semua makhluk hidup lain juga telah cukup terproteksi. [1].
Hingga tahun 1990 ICRP mempertahankan pendekatan anthroposentrik ini terkait dengan
pengendalian lingkungan akibat kegiatan manusia yang melibatkan penggunaan radiasi. Hal ini terlihat
pada paragraf 16 dari rekomendasinya pada tahun 1990 tersebut yang menyatakan bahwa: ICRP
yakin bahwa standar pengendalian lingkungan yang diperlukan untuk melindungi manusia sampai pada
tingkat yang diinginkan saat ini dijamin tidak berisiko bagi spesies lain. Kadang-kadang anggota
individual spesies non-manusia mungkin dalam bahaya, namun tidak sampai membahayakan seluruh
spesies atau menimbulkan ketidakseimbangan antara spesies.[2].
Namun demikian, dalam perkembangan lebih lanjut timbul kesadaran bahwa banyak kegiatan
terkait nuklir oleh manusia modern yang walaupun tidak berbahaya bagi manusia, ternyata membawa
dampak bagi lingkungan. Sebagai contoh adalah penipisan lapisan ozon sebagai akibat penggunaan
chlorofluorocarbons (CFC) yang sebenarnya zat kimia non-racun bagi manusia namun mengakibatkan
kerusakan yang sangat besar bagi lingkungan. Contoh lain dari kegiatan yang mungkin dapat merusak
lingkungan namun tidak langsung membahayakan manusia adalah pembuangan limbah nuklir ke laut
dalam, atau dekomisioning kapal selam nuklir.
Dengan pertimbangan di atas, pendekatan anthroposentrik sudah tidak lagi dapat diterima oleh
beberapa komponen masyarakat. Sebagai gantinya diperkenalkan pendekatan biosentrik. Dalam
pendekatan biosentrik ini, posisi moral dapat dan juga telah diperluas ke anggota individu spesies lain,
sehingga sebagai akibatnya juga timbul kewajiban yang terkait dengan individu tersebut [3].
Namun demikian, pendekatan biosentrik ternyata masih belum memenuhi etika moral yang
diharapkan. Pendekatan ini hanya menggeser pemantauan lingkungan dari manusia ke spesies yang
dipilihnya tanpa dasar yang kuat. Pemilihan ikan sebagai hewan yang dilindungi dan bukan hewan yang
lain, misalnya, hanya bergantung pada kebutuhan sesaat manusia yang memberikan perlindungan
tersebut.
Pendekatan lain yang kemudian menjadi pilihan utama adalah pendekatan ekosentrik. Dalam
pendekatan ini, etika moral dapat diperluas ke hampir semua yang ada di lingkungan, walaupun fokus
utamanya adalah keseluruhan dan keragaman ekosistem dan bukan signifikansi moral dari masing-
masing komponen individu yang ada di dalamnya. Pendekatan ini dengan demikian memperlihatkan
adanya kebutuhan akan suatu sistem yang memadukan berbagai komponen kehidupan yang ada.
Dalam kaitannya dengan sistem proteksi radiasi, pendekatan ekosentrik meminta agar sistem tersebut
dapat memadukan proteksi manusia dengan proteksi lingkungan.
Sebelum menyusun suatu sistem proteksi yang terpadu, sudah tentu perlu ditetapkan terlebih
dahulu apa yang dimaksud dengan proteksi lingkungan. Lebih jauh lagi, apa yang dimaksud dengan
lingkungan itu sendiri. Selanjutnya, apa yang ingin diproteksi, bagaimana mengkaji efek dan
memperkirakan risikonya, bagaimana pengaturan proteksinya, dan juga bagaimana memadukan sistem
proteksi radiologik lingkungan ini dengan sistem proteksi radiologik manusia yang telah jauh lebih
mapan [4]. Setelah sistem proteksi lingkungan ini ditetapkan, barulah sistem proteksi terpadu dapat
dikembangkan dengan baik.

LINGKUNGAN DAN PROTEKSI LINGKUNGAN
Pada dasarnya lingkungan dapat diartikan secara sempit, tapi juga bisa diartikan secara luas.
Jika lingkungan dibatasi hanya yang terkait dengan habitat manusia, maka sistem proteksi radiasi
manusia juga, jika dilaksanakan dengan benar, telah memberikan proteksi lingkungan. Dengan sistem
proteksi manusia, lingkungan dipantau untuk menjamin bahwa masyarakat tidak menerima dosis radiasi
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

65

dari lingkungan. Untuk maksud ini, misalnya, badan pengawas radiasi atau nuklir dapat menetapkan
batas buangan zat radioaktif ke lingkungan.
Namun demikian, jika lingkungan didefinisikan lebih luas dari sekedar manusia dan lingkungan
terdekatnya, maka sistem proteksi manusia tidak dapat memberikan proteksi lingkungan yang
diinginkan. Beberapa contoh yang dikemukakan sebelumnya, seperti pembuangan limbah nuklir ke laut
dalam, memperlihatkan bahwa lingkungan mungkin saja tercemar tanpa ada manusia yang terkena
efeknya.
Dalam hal lingkungan yang ingin diproteksi, isu ini juga cukup pelik. Konvensi PBB tentang
Hukum Laut, misalnya, menyatakan bahwa setiap negara harus melakukan semua tindakan yang
perlu untuk mencegah, mengurangi dan mengendalikan pencemaran lingkungan laut dari semua
sumber [5]. Di bagian lain dari konvensi ini dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan pencemaran
didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat menyebabkan bahaya. Namun, apa itu bahaya? Apakah
adanya suatu bahan di lingkungan, ataukah jumlah bahan tersebut yang dapat, misalnya, membunuh
suatu populasi ikan?
Dalam lingkungan yang lebih luas, dapat pula dipertanyakan apakah yang akan diproteksi itu
individu flora atau fauna tertentu, atau populasinya, atau ekosistem secara keseluruhan yang
mengandung flora dan fauna tersebut?
Dalam hal pengaturan proteksi radiologik lingkungan, sifat dari efek secara global, regional
maupun lokal perlu dipertimbangkan. Untuk efek yang melintasi batas negara melalui pergerakan
radioaktif lewat udara atau lautan seperti akibat dari percobaan senjata nuklir atau kecelakaan
Chernobyl, pengaturan dengan konsensus secara internasional mutlak diperlukan. Namun demikian,
untuk kecelakaan yang efeknya terbatas hanya pada dua atau tiga negara, konsensus regional
tampaknya dapat dilakukan. Jika efeknya sangat terbatas hanya pada satu negara, seperti dari
penyimpanan limbah radioaktif di suatu lokasi tertentu, konsensus tampaknya juga bisa dilakukan
secara nasional. Dengan demikian, sistem proteksi radiologik lingkungan tampaknya harus cukup
fleksibel untuk dapat mengadaptasi keadaan lokal, regional atau global, tanpa melupakan keragaman
ekosistem yang ada.

STUDI EFEK RADIASI PADA LINGKUNGAN
Pada tahun-tahun terakhir ini studi efek radiasi pada lingkungan telah banyak dilakukan. Studi
difokuskan pada pengembangan metodologi dalam mengkaji dan mengevaluasi pajanan pada flora dan
fauna yang terdapat pada lingkungan akuatik dan terestrial, dan melalui tahapan seperti yang diberikan
pada Gambar 1.

Gambar 1. Tahapan pada kajian dan evaluasi pajanan dan biota di lingkungan akuatik dan terestrial
Suzie Darmawati: Aspek Lingkungan pada Sistem Proteksi Radiasi

66


Pada tahun 2005, ICRP membentuk komite yang khusus membahas isu proteksi lingkungan
dengan tujuan untuk menyusun suatu kerangka yang mengkaji dan mengevaluasi pajanan pada biota.
Komite memutuskan untuk mengadopsi pendekatan yang dibuat oleh dua buah proyek Komisi Eropa,
FASSET dan ERICA, untuk melakukan kajian dan evaluasi tersebut.
Mengingat sangat beragamnya komponen lingkungan, akan mustahil untuk mempertimbangkan
semua komponen lingkungan tersebut dalam pengkajian dan evaluasi. Untuk itu maka telah diambil
suatu set 12 organisme hewan dan tanaman acuan untuk mewakili ekosistem terestrial, air tawar dan
air laut [6].
Isu penting dalam pengkajian proteksi radiasi pada lingkungan adalah kaitan pajanan dengan
efek yang terjadi pada komponen lingkungan. Jika tujuan utama pada sistem proteksi radiasi manusia
adalah mencegah terjadinya efek deterministik dan membatasi kemungkinan terjadinya efek stokastik,
maka ICRP telah menyatakan bahwa tujuan proteksi radiasi lingkungan adalah konservasi spesies, dan
melindungi habitat, komunitas, dan ekosistem [7].
Untuk tujuan ini ICRP menggunakan pendekatan hewan dan tanaman acuan sebagai dasar
sistematik untuk menghubungkan pajanan radiasi dengan dosis, dan dosis ke berbagai efek yang
mungkin timbul, seperti kematian awal, morbiditas, pengurangan kapasitas reproduksi, atau kerusakan
kromosom baik dari efek stokastik maupun deterministik. Dalam memilih hewan dan tanaman acuan ini
ICRP menggunakan beberapa kriteria, antara lain informasi radiobiologi dari yang dipilih telah tersedia
cukup banyak, merupakan wakil tipikal dari ekosistem tertentu, paling mungkin menerima radiasi, efek
pada setiap organisme individu akibat pajanan radiasi dapat diidentifikasi, dan pembuat keputusan
serta masyarakat umum telah mengenalnya dalam bahasa sehari-hari [6]. Hewan dan tanaman acuan
yang diambil ICRP adalah kijang (mewakili mamalia terestrial besar), tikus (mamalia terestrial kecil),
bebek (burung akuatik), katak (amfibi), trout (ikan air tawar), ikan pari (ikan laut), kumbang (serangga
terestrial), kepiting (hewan air berkulit keras), cacing tanah (annelid terestrial), pinus (tanaman terestrial
besar), rumput liar (tanaman terestrial kecil) dan rumput laut coklat (rumput laut).
Berdasarkan data hubungan pajanan dengan efek yang ada, ICRP telah mengusulkan suatu
Tingkat Acuan Tertimbang Turunan (DCRL, derived consideration reference levels) untuk 12 hewan
dan tanaman acuan di atas (lihat Tabel 1). Nilai DCRL dipilih sebagai rentang dosis yang dalam
berbagai studi tidak menunjukkan adanya efek yang berbahaya bagi biota tersebut.
DCRL pada dasarnya juga bukan nilai batas dosis, namun merupakan suatu zona dosis yang
memerlukan evaluasi lebih rinci terhadap situasi yang terjadi sekiranya dosis tersebut dicapai. Evaluasi
yang dilakukan antara lain adalah jenis situasi pajanan (terencana, yang ada atau kedaruratan), ukuran
daerah yang terkena, periode waktu pajanan, fraksi populasi spesies yang tersinar pada tingkat dosis
tersebut, kelayakan basis data yang digunakan untuk perkiraan dosis, dan tingkat kehati-hatian yang
diperlukan untuk pengkajian [8].

Tabel 1. Tingkat Acuan Tertimbang Turunan (DCRL) untuk biota (hewan dan tanaman) acuan.
Biota acuan DCRL (mGy/hari) Biota acuan DCRL
(mGy/hari)
Kijang 0,1 - 1 Kumbang 10 100
Tikus 0,1 1 Kepiting 10 100
Bebek 0,1 1 Cacing tanah 10 100
Katak 1 10 Pinus 0,1 1
Trout 1 10 Rumput liar 1 10
Ikan pari 1 - 10 Rumput laut coklat 10 100

PROTEKSI RADIASI TERPADU
Dalam perkembangan lebih lanjut disadari bahwa proteksi radiasi manusia tidak dapat
dipisahkan dari proteksi radiasi lingkungan, karena sebenarnya keduanya merupakan komponen
penghuni bumi yang bergantung satu sama lain. Untuk itu, sambil terus mengembangkan sistem
proteksi radiasi lingkungan, para ahli juga mulai mengembangkan suatu sistem proteksi radiasi terpadu
yang menggabungkan kedua sistem proteksi radiasi manusia dan lingkungan ini.
Sistem proteksi radiasi terpadu pertama kali diusulkan oleh Penreath [9]. Menurut Penreath,
tujuan proteksi radiasi terpadu adalah menjaga kesehatan manusia dengan mencegah terjadinya efek
deterministik dan membatasi efek stokastik pada individu dan meminimalkannya pada populasi, serta
menjaga lingkungan dengan mencegah atau mengurangi frekuensi efek yang mungkin dapat
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (J ournal of Waste Management Technology), ISSN 1410-9565
Volume 14 Nomor 1 Juli 2011 (Volume 14, Number 1, July, 2011)
Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (Radioactive Waste Technology Center)

67

menyebabkan terjadinya kematian awal atau mengurangi keberhasilan reproduksi pada individu fauna
dan flora tanpa memberikan dampak pada pelestarian spesies, pemeliharaan keragaman hayati, atau
kesehatan dan status ekosistem.
Sistem proteksi radiologik terpadu secara umum dengan demikian harus mengembangkan
sistem proteksi radiologik lingkungan dengan metodologi dan dasar ilmiah yang sama dengan sistem
proteksi radiologik manusia. Pendekatan dalam sistem proteksi radiologik terpadu ini dapat dilihat pada
Gambar 2 [8].
Seperti terlihat pada Gambar 2, untuk semua sumber pajanan radiasi, pengkajian pajanan dan
evaluasi pajanan pada manusia dan biota diawali dengan tingkat konsentrasi radiasi di lingkungan.
Pajanan masing-masing dihitung untuk manusia acuan dan hewan dan tanaman acuan. Keputusan
yang akan diambil terkait pajanan manusia ditentukan oleh perbandingannya dengan nilai batas dosis
dan penghambat dosis untuk situasi pajanan terencana dan yang ada, dan dengan tingkat acuan untuk
situasi pajanan kedaruratan. Sedang pajanan pada biota dapat dievaluasi dengan membandingkannya
dengan DCRL, dengan mempertimbangkan kondisi spesifik situasi pajanan.
Dalam kaitan di atas, situasi pajanan terencana adalah situasi pajanan yang melibatkan
penggunaan sumber radiasi dengan sengaja, situasi pajanan yang ada adalah situasi pajanan yang
melibatkan pajanan berkepanjangan setelah terjadinya kecelakaan, sementara situasi pajanan
kedaruratan adalah situasi pajanan yang memerlukan tindakan segera untuk menghindari atau
mengurangi konsekuensi yang tidak diinginkan [7].


Gambar 2. Skema untuk pengkajian dan evaluasi pajanan pada manusia dan biota

Jika lepasan radiasi ke lingkungan yang dapat menimbulkan pajanan pada manusia masih
memenuhi nilai batas dosis, pada umumnya tidak ada risiko pajanan bagi biota yang ada di lokasi yang
sama. Namun demikian, jika pajanan pada biota terjadi pada daerah yang tidak ada populasi
manusianya, tidak berarti dampak radiologik pada biota ini dapat diisolasi. Di dunia yang memiliki
hampir tujuh milyar manusia ini, lingkungan yang tidak berpopulasi akan selalu menjadi bagian dari
habitat manusia atau akan menjadi bagian habitat manusia dalam waktu mendatang, sehingga tetap
harus diperhitungkan sebagai sumber aktual atau potensi sumber bagi pajanan manusia.
Suzie Darmawati: Aspek Lingkungan pada Sistem Proteksi Radiasi

68

KESIMPULAN
Proteksi radiasi lingkungan merupakan topik yang masih akan terus dibahas karena
pengetahuan mengenai efek radiasi pada spesies non-manusia masih sangat terbatas. Untuk
mendukung pengembangannya maka pada tahun-tahun terakhir ini telah dikembangkan metodologi
untuk memperkirakan pajanan pada hewan dan tanaman dan mengevaluasi pajanan tersebut dalam
kaitannya dengan efek yang dapat terjadi. Tingkat Acuan Tertimbang Turunan (DCRL) yang diusulkan
ICRP merupakan salah satu dasar untuk dapat mengevaluasi lebih rinci terhadap situasi yang terjadi
sekiranya dosis tersebut dicapai.
Selain itu, perkembangan terakhir menunjukkan perlunya disusun suatu sistem proteksi radiasi
terpadu yang menggabungkan sistem proteksi radiasi manusia dengan sistem proteksi radiasi
lingkungan, mengingat saat ini dipandang tidak ada lagi bagian bumi yang lingkungannya terisolasi dari
populasi manusia.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. ICRP. Recommendations of the International Commission on Radiological Protection. Publication
26. Annals of the ICRP Vol.1 No.3. Pergamon Press, Oxford (1977).
[2]. ICRP. Recommendations of the International Commission on Radiological Protection. Publication
60. Annals of the ICRP Vol.21 No.1-3. Pergamon Press, Oxford (1991).
[3]. ICRP. A Framework for Assessing the Impact of Ionizing Radiation on Non-human Species.
Publication 91. Annals of the ICRP Vol.33 No.3. Pergamon Press, Oxford (2003).
[4]. OECD/NEA. Radiological Protection of the Environment. ISBN 92-64-18497-X. OECD, Paris
(2003).
[5]. Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
[6]. ICRP. Environmental Protection: The Concept and Use of Reference Animals and Plants.
Publication 108. Annals of the ICRP Vol.38 No.4-6. Pergamon Press, Oxford (2008).
[7]. ICRP. The 2007 Recommendations of the International Commission on Radiological Protection.
Publication 103. Annals of the ICRP Vol.27 No.2-4. Pergamon Press, Oxford (2007).
[8]. Gerhard, P., et.al, The Activities of The IAEA in Developing Standards on Radiological Protection
of The Environment, Proc. Third European IRPA Congress, June 14-16 2010, Helsinki, Finland.
[9]. Penreath, J., Radiation Protection of People and The Environment: Developing a common
approach. J.Radiol. Prot. 22 (2002).



Akreditasi B No. 284/AU1/P2MBI/05/2010
SK Kepala LIPI Nomor : 452/D/2010, Tanggal : 6 Mei 2010


JURNAL TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH


Pedoman Penulisan Naskah

Redaksi Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah menerima naskah/makalah karya tulis ilmiah dari kegiatan penelitian
dan pengembangan di bidang pengelolaan limbah yang meliputi aspek-aspek pengolahan limbah, penyimpanan limbah,
dekontaminasi-dekomisioning, keselamatan lingkungan dan radioekologi kelautan untuk penerbitan pada bulan Juni dan
Desember setiap tahun.
Ketentuan penulisan naskah :
1. Naskah asli yang belum pernah dipublikasikan berupa karya tulis ilmiah dari hasil penelitian, survei, pengkajian atau
studi literatur.
2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan format: menggunakan kertas A4, 1 kolom dengan
margin atas, bawah, kiri dan kanan masing-masing 3 cm (1,18). Gunakan jenis huruf Arial ukuran 9. Jumlah halaman
naskah termasuk gambar dan tabel maksimal 20 halaman,
3. Sistematika penulisan meliputi JUDUL, ABSTRAK, KATA KUNCI, PENDAHULUAN, TATA KERJA, HASIL DAN
PEMBAHASAN, KESIMPULAN, UCAPAN TERIMA KASIH (bila ada), DAFTAR PUSTAKA. Untuk makalah pengkajian
dan perancangan dapat menyesuaikan.
4. Judul tulisan menggunakan huruf Kapital, bold, font 14. Nama penulis dicantumkan tanpa gelar, bold, font 11,
sedangkan alamat penulis berupa Nama Unit Kerja, Instansi dan alamat Instansi.
5. Abstrak tidak melebihi 250 kata, dengan spasi 1, font 9 dan Judul tulisan dicantumkan kembali di dalam abstrak sebagai
kalimat pertama. Abstrak berbahasa Inggris ditulis dalam format Italic.
6. Bab dan Sub-bab dalam tulisan tidak bernomor tapi dibedakan dengan huruf besar dan huruf kecil, bold, font 9
7. Penulisan Tabel dan Gambar dibelakangnya diserta dengan angka Arab dan penjelasannya. Contohnya:
i) . Tabel 1. Hasil Analisis X-RF (ditulis di atas Tabel)
ii) . Gambar 2. Kurva Kesetimbangan . (ditulis di bawah Gambar)
8. Pustaka yang dikutip dalam teks diberi nomor angka Arab di belakangnya sesuai dengan urutan pemunculan dalam
Daftar Pustaka. Contoh: Standar IAEA memberi arahan bahwa kegiatan siting umumnya dilaksanakan melalui 4
tahapan utama [3],...
9. Penulisan Daftar Pustaka menggunakan format sebagai berikut:

Buku referensi :
[1] Akhmediev, M. and Ankiewicz, Y.: A Solution, Nonlinear Pulses and Beams, Chapman & Hall, London (1997).

Artikel yang terdapat dalam buku referensi:
[2] Dean, R.G.: Freak waves: A Possible Explanation, in Water Wave Kinetics, Editor: Torum, A and Gudmestad, O.T.,
Kluwer, Amsterdam, 609 612, (1990).

Artikel dari jurnal :
[3] Choppin, G.R.: The Role of Natural Organics in Radionuclide Migration in Natural Aquifer Systems, Radiochim.
Acta 58/59, 113, (1992)

Artikel dalam proceeding
[4] Chung, F., Erds, P., Graham , R.: On Sparse Sets Hitting Linear Forms, Proc. of the Number Theory for the
Millennium, I, Urbana, IL, USA, 57 72, (2000).

10. Dewan Redaksi berhak untuk menolak suatu tulisan yang dianggap tidak memenuhi syarat.
11. Dewan Redaksi dapat mengedit naskah tanpa mengurangi makna.
12. Isi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.
13. Naskah diserahkan dalam bentuk cetakan 2 rangkap disertai compact disk (CD) berisi file naskah dalam format MS
Word.