Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK

TOPIK : INFEKSI DENTOFASIAL


SKENARIO 6
BLOK. 3.5.10





Nama Fasilitator : M. Chair Effendi, drg, SU, spKGA
Tanggal DK 1 / DK 2 : 11 Desember 2012 / 19 Desember 2012

Kelompok 6

Ketua : Wanda Oktaria NIM:105070400111011
Sekretaris : Juwita Ratna Rahayu NIM:105070400111012
Anggota : Andreas Adi Tegar NIM:105070400111017
Hilda Primantha A. NIM:105070400111027
Efrin T. Anestya NIM:105070400111044
Mohamad Radixa Bio Zega NIM:105070400111047
Fajar Hani Priandhika NIM:105070400111048
Pavita Rahma Rosyida NIM:105070401111003
Meynita Niken Praptiwi NIM:105070407111002
Ayusha Dwi Fawnia NIM:105070407111010
Amanda Andika Sari NIM:105070407111017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Semakin berkembangnya jaman, informasi yang didapat semakin mudah.
Penyakit mulut yang diderita masyarakat semakin banyak dan bervariasi, penyakit-
penyakit ini bisa berupa infeksi ataupun abses. Oleh karena itu, pada topik ini akan
dibahas mengenai berbagai penyakit mulut yang berupa infeksi ataupun abses,
pembahasan ini antara lain meliputi definisi, etiologi, gambaran klinis, pathogenesis,
diagnosis, diagnose banding, dan penatalaksanaan untuk penyakit tersebut
Laporan ini membahas tentang Infeksi denofasial, diharapakan dengan
dibuatnya laporan ini, mahasiswa mengerti dan memahami tentang hal-hal yang
berkaitan dengan topik yang dibahas

1.2 BATASAN MASALAH
Infeksi Dentofasial
Macam : Definisi
Etiologi
Gambaran klinis
Pathogenesis
Diagnosis
Diagnosis Banding
Treatment
Abses Dentofasial
Macam : Definisi
Etiologi
Gambaran klinis
Pathogenesis
Diagnosis
Diagnosis Banding
Treatment
Proses penyebaran Infeksi
DAFTAR ISI

Halaman sampul ..................................................................................... i
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Batasan Topik .................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 2
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 41













































BAB II

INFEKSI SERTA PERADANGAN (INFLAMASI) PADA RONGGA MULUT
DAN RAHANG

A. INFEKSI TULANG RAHANG
1. Alveolitis
Nama lain : Alveolalgia (Dolor Post Ekstraksi) atau Dry socket.
Patogenesis : Alveolus pasca ekstraksi (socket) kering, tak terisi koagulum.
Etiologi :
- Gangguan vaskuler lokal, rusaknya kapiler akibat trauma shg tak
terbentuk koagulum.
- Komplikasi kelainan sistemik, misalnya avitaminosis, diabet & sifilis.
- Keracunan obat, bahan perawatan gigi atau penggunaan
vasokonstriksi yg berlebihan.
- Infeksi luka.
- Larutnya koagulum akibat terlalu sering berkumur & pemakaian obat
kumur terlalu dini.
- Osteoradionekrosis pasca radioterapi.
- Adanya tumor ganas yang tersembunyi di bawah socket gigi.
Klinis :
- Timbul 3 hari atau lebih pasca pencabutan gigi.
- Ditandai rasa sakit terus menerus atau intermitent.
- Luka pasca ekstraksi tak kunjung sembuh.
- Socket kering, tak terisi koagulum atau jaringan granulasi.
- Socket berisi jaringan nekrotik dan disertai gejala inflamasi/infeksi.
Terapi :
- Untuk etiologi lokal dilakukan kuretase.
- Etiologi sitemik; atasi gangguan sistemik kemudian kuretase.
- Osteoradionekrosis; nekrotomi atau reseksi marginal.
- Tumor ganas; rencanakan perawatan tumor ganas.

2. Periostitis
Definisi : Peradangan atau infeksi pada periosteum.
Etiologi : - Trauma
- Kemis; misalnya akibat obat perawatan gigi (arsen).
- Infeksi dentogen (paling sering) dan sistemik.
Klinis dan Terapi :
1. Periostitis Akut
- Infeksi biasanya berjalan dari apikal atau marginal melalui canalis Harvers &
canalis Volkman hingga mencapai periosteum.
- Didahului dgn periostitis serosa yg berlangsung cepat & umumnya
menyertai periodontitis apikalis akut atau osteomielitis akut.
- Ekstra oral : pembengkakan difus, kemerahan dan limphadenopati.
- Intra oral : nyeri palpasi mukobukal fold meskipun tanpa pembengkakan &
nyeri perkusi pada gigi penyebab (periodontitis akut).
- Terapi : antibiotika, analgetika & anti inflamasi serta ekstraksi gigi
penyebab.
2. Periostitis Kronis
- Merupakan stadium terminal dari periostitis akut.
- Sebab primer : Infeksi sistemik misalnya sifilis, tuberkulosa atau
aktinomikosis.
- Salah satu bentuk : periostitis osifikans (Garres osteomyelitis) yang ditandai
dgn pembentukan tulang baru pada bagian permukaan luar tulang.
- Terapi : antibiotika & eliminasi penyebab.

3. Osteomyelitis
Definisi :
- Mead; Osteomielitis adalah suatu inflamasi supuratif sumsum tulang.
- Archer; Osteomielitis adalah suatu peradangan tulang, terutama
meliputi bagian lunak tulang.
- Secara umum osteomielitis dinyatakan sebagai suatu peradangan
pada struktur pembentuk tulang, yaitu meliputi medula, korteks,
periosteum, pembuluh darah, saraf dan epifisis.
Etiologi :
1. Odontogen :
1.1. Infeksi periapikal
1.2. Infeksi periodontal
1.3. Infeksi perikoronal
1.4. Abses peritonsilar
1.5. Kista atau tumor odontogenik
1.6. Komplikasi pasca ekstraksi
2. Non Odontogen :
2.1. Furunkel
2.2. Keracunan kimia
2.3. Trauma
2.4. Infeksi Hematogen
2.5. Infeksi spesifik
2.6. Daya tahan tubuh rendah
2.7. Radiasi
Klasifikasi :
1. Berdasarkan perjalanan penyakit :
1.1. Osteomielitis akut
1.2. Osteomielitis subakut
1.3. Osteomielitis kronis
2. Berdasarkan golongan umur :
2.1. Osteomielitis pada bayi
2.2. Osteomielitis pada anak-anak
2.3. Osteomielitis pada orang dewasa
3. Berdasarkan bakteri penyebab :
3.1. Osteomielitis spesifik
3.2. Osteomielitis aspesifik
4. Berdasarkan penyebaran pus :
4.1. Osteomielitis intramedulare
4.2. Osteomielitis subperiostal
5. Jenis osteomielitis lainnnya :
5.1. Osteomielitis tropis
5.2. Osteomielitis Garre
5.3. Osteomielitis radiasi
Diagnosa :
1. Anamnesa :
1.1. Akut : - Nyeri hebat yang menyebar
- Suhu tinggi
- Nadi dan pernafasan cepat
- Nausea dan vomitus
- Lesu, lemah dan tak dapat tidur
- Trismus dan parestesi bibir bawah
1.2. Kronis : - Nyeri lebih ringan
- Suhu normal atau sedikit naik
2. Klinis :
2.1. Akut :
2.1.1. Ekstra oral : - Bengkak dan nyeri palpasi
- Parestesi dan trismus
- Limphadenopati & nyeri palpasi KGB
regional
2.1.2. Intra Oral: - Bengkak
- Inflamasi gusi
- Palpasi dan perkusi
- Mobiliti (lebih dari satu gigi)
- Ballotement
- Pyorhea
2.2. Kronis :
2.2.1. Ekstra Oral : - Kadang disertai bengkak, radang & trismus
- Parestesi, fistel dan sekuester
- Limphadenopati KGB regional tanpa nyeri
palpasi
2.2.2. Intra Oral : - Kadang disertai nyeri palpasi dan
mobiliti
- Perkusi dan ballotement
- Multiple fistel dan sekuester
3.Laboratorium :
3.1. Akut : - Leokositosis (12.000 - 20.000)
- Sel leukosit muda dan sel PMN meningkat
- Toksemia dan anemia
3.2. Subakut : Lekositosis, sel-sel muda dan toksemia menurun
3.3. Kronis : - Leukosistosis lebih menurun (8.000 -
12.000)
- Sel-sel dewasa meningkat
- Toksemia lebih menurun
3.3. Kronis : - Leukosistosis lebih menurun (8.000 -
12.000)
- Sel-sel dewasa meningkat
- Toksemia lebih menurun
4. Pemeriksaan Radiologis :
4.1. Akut dini : Gambaran normal.
4.2. Akut lanjut : Rarefraksi ireguler (destruksi trabekula serta
pelebaran rongga-rongga spongiosa).
4.3. Kronis dini : Worn eaten appearance (gambaran berupa
lubang-lubang kecil seperti dimakan rayap).
4.4. Kronis lanjut : Radioopak (sekuester) yg dikelilingi daerah
radiolusen (pus), kemudian pada tepi bagian luar daerah
radiolusen ini dikelilingi lagi oleh daerah radioopak (involukrum).
4.5. Kronis akhir : Demarkasi (sekuester telah terpisah dengan
jaringan tulang normal di sekelilingnya).
5.Diagnosa Banding :
5.1. Akut : - Periodontitis akut
- Periapikal abses akut dan abses
subperiosteal akut
5.2. Kronis : Abses subkutan dan abses submukus
6. Terapi : - Antibiotika
- Drainage
- Perawatan suportif
- Sekuesterktomi
7. Prognosa :
Baik-buruknya prognosa ditentukan oleh :
7.1. Diagnosa yang tepat
7.2. Penggunaan dan pemilihan antibiotika yang tepat
7.3. Perawatan yang sempurna
7.4. Daya tahan tubuh penderita
7.5. Virulensi mikroorganisme
7.6. Saatnya penyakit diketahui
7.7. Luasnya kerusakan
7.8. Usia penderita
8. Komplikasi :
8.1. Parestesi
8.2. Fraktur patologis
8.3. Deviasi pergerakan mandibula dan deformitas sekunder
8.4. Terlibatnya sinus-sinus paranasalis
8.5. Tidak erupsinya gigi-gigi tertentu
8.6. Toksemia dan piemia, menyebar ke fosa dan fisura basis
kranii, sehingga menyebabkan infeksi intrakranial.
8.7. Deformitas wajah penderita
- Sauserisasi

B. INFEKSI & INFLAMASI JARINGAN LUNAK

1. Ulkus Dekubitalis
Definisi : Ulkus dekubitalis adalah suatu inflamasi atau ulkus yang terjadi
akibat iritasi atau trauma tajam yang berlangsung lama.
Etiologi :
1. Akar gigi sulung yang terdesak menembus mukosa.
2. Tepi karies gigi yang tajam.
3. Tergigit akibat gigi malposisi.
4. Gigi palsu yang kedudukannya tidak baik.
Klinis :
- Tampak berupa ulkus berbentuk bulat degan dasar berwarna putih.
- Biasanya dapat segera ditemukan penyebabnya di sekitar lesi.
Terapi :
- Eliminasi penyebabnya, maka biasanya ulkus sembuh secara
spontan.
- Pada penderita berusia lanjut harus diobservasi; jika selama sebulan
lesi tak sembuh,harus dibiopsi.

2. Operkulitis & Perikoronitis
- Operkulum adalah jaringan fibrous yg menutupi sebagian dari permukaan
oklusal gigi baru erupsi atau semi erupsi, biasanya gigi molar ketiga bawah.
- Perikoronal adalah operkulum beserta sebagian gusi yg mengelilingi
mahkota gigi baru erupsi atau semi erupsi.
2.1. Operkulitis
2.1.1. Pengertian : Inflamasi atau infeksi operkulum.
2.1.2. Etiologi :
- Iritasi kronis pengunyahan.
- Akumulasi sisa makanan yang terjebak pada ronggaantara
operkulum dgn permukaan oklusal gigi, kemudian membusuk &
menjadi media inkubator bakteri dan akhirnya menyebabkan terjadinya
infeksi.
2.1.3. Terapi : Operkulektomi.
2.2. Perikoronitis
2.2.1. Pengertian : Inflamasi atau infeksi perikoronal
2.2.2. Etiologi :
- Iritasi kronis pengunyahan.
- Akumulasi sisa makanan yg terjebak pada rongga antara operkulum
& perikoronal dgn permukaan gigi membusuk menjadi media
inkubator bakteri akhirnya terjadi infeksi.
2.2.3. Terapi :
- Operkulektomi.
- Ekstraksi atau odontektomi jika gigi tersebut erupsi dalam posisi
miring.

3. Glositis
Suatu lesi atau bentuk-bentuk ulserasi akibat inflamasi pada mukosa lidah.
3.1. Migratory Glossitis
3.1.1. Nama lain :
- Geographic tongue
- Wandering rash
- Glossitis migrans
- Glossitis areata exfoliativa
3.1.2. Etiologi :
- Penyebab yang pasti belum jelas.
- Seringkali dikaitkan dengan faktor emosional dan stres.
- Kadang dikaitkan dengan defisiensi Vitamin B kompleks.
3.1.3. Klinis :

- Karakteristik ditandai oleh daerah deskuamatif yg tidak beraturan
(bald spots) pada permukaan mukosa lidah yg dikelilingi oleh area
berwarna putih.
- Bald spots merupakan suatu area yang mengalami penipisan
epitel, kehilangan keratin & papila filiformis, sedangkan papila
fungiformis masih dpt ditemukan.
- Area yg berwarna putih di sekelilingnya tampak hipertropi akibat
akumulasi keratin & paplila filiformis tampak di daerah ini.
3.1.4. Terapi :
- Umumnya lesi ini tidak memberikan respon jika dilakukan
tindakan terapi, tetapi dapat menghilang secara spontan.
- Dapat dibantu dengan pemberian vitamin B kompleks.
3.2. Magenta glossitis
3.2.1. Etiologi : - Defisiensi Vitamin B2 (riboflavin = vitamin G)
- Defisiensi Vitamin B kompleks.
3.2.2. Klinis :
3.2.2.1. Defisiensi Riboflavin :
- Lidah mengalami inflamasi dan tampak hiperemis
- Dapat pula terjadi ulserasi dan tampak sianotik atau
berwarna magenta.
3.2.2.2. Defisiensi Vitamin B Kompleks :
- Lidah hiperemis kadang berwarna magenta.
- Mukosa lidah mengalami ulserasi dan erosi.
- Lidah membengkak & permukaannya berlekuk-lekuk.
3.2.3. Terapi : Vitamin B2 atau B kompleks.
3.3. Hunters Glossitis
3.3.1. Etiologi : Anemia pernisiosa.
3.3.2. Klinis :
- Lidah sangat nyeri menyerupai rasa terbakar.
- Mengalami atropi semua papila.
- Warna hiperemis dan kadang disertai ulserasi.
3.3.3. Terapi :
Jika anemia pernisiosa dapat diatasi, maka lesi tersebut akan
sembuh secara spontan.

4. Cheilitis Angularis (Perleche)
Etiologi :
- Infeksi Streptokokus atau Sacharomycetes.
- Defisiensi riboflavin diduga sebagai faktor predisposisi.
Klinis :
- Lesi erosif atau ulseratif pada sudut mulut dan biasanya
bilateral.
- Mukosa menebal dan lesi sedikit meluas ke kutis.
- Pada orang dewasa cenderung menjadi kronis.
Terapi :
- Keadaan umum dan oral higiene diperbaiki.
- Lesi diulas dengan antiseptik.
- Dianjurkan pemberian riboflavin dan nicotinamide.
- Jika ditemukan peran kandida, lesi diulas dengan nystatin
ointment.

5. Stomatitis
Definisi :
Stomatitis adalah suatu lesi peradangan atau inflamasi yang terjadi
pada mukosa rongga mulut.
Etiologi :
- Trauma fisik, khemis dan radiasi.
- Infeksi bakteri, fungus virus dan parasit.
- Malnutrisi.
- Keadan umum yang buruk dan menurunnya daya tahan tubuh.
- Blood dyscrasia.
- Alergi dan reaksi autoimun.
- Ketidak-seimbangan hormonal dan stress
5.1. Stomatitis Aphtosa (Sariawan)
Merupakan jenis stomatitis yang paling sering terjadi di rongga
mulut.
5.1.1. Etiologi :
Belum jelas, akan tetapi diduga bahwa hormonal, alergi, stres,
trauma & blood dyscrasia (terutama anemia) berperan sebagai
etiologi.
5.1.2. Patogenesis :
- Diawali dengan suatu vesikel kecil, kemudian pecah menjadi
ulkus kecil (dalam 24 jam)
- Ulkus membesar dengan ukuran bervariasi, yakni dari sebesar
kepala peniti s/d 2 cm (dalam 3-6 hari).
- Penyembuhan dimulai hari ke 6, total 10-14 hari (kadang s/d 6
minggu}.
- Sembuh tanpa jaringan parut, kecuali ulkusnya dalam dan besar.
- Jika terbentuk ulkus akan menghilang dalam jangka waktu setahun.
5.1.3. Klinis
- Dapat terjadi di semua bagian rongga mulut, kecuali palatum.
- Rasa nyeri hebat, tak sebanding dengan besar ulkus.
- Nyeri timbul spontan atau akibat adanya rangsangan dan gerakan.
- Tidak disertai demam.
- Bentuk ulkus bulat atau oval dengan permukaan cekung, berwarna
putih dan dikelilingi oleh area berwarna hiperemis (kemerahan).
- Ulkus dapat soliter ataupun multipel.
5.1.4. Terapi :
5.1.4.1. Sistemik :
Setiap faktor yang dianggap sebagai predisposisi atau
etiologi diobati.
5.1.4.2. Lokal :
- Antiseptik lokal seperti gentian violet atau zat kaustik seperti
Ag nitrat dapat mempercepat penyembuhan.
- Albothyl concentrate secara topikal.
- Kenalog pasta secara topikal.
5.2. Gingivostomatitis Plaut Vincent
5.2.1. Nama Lain :
- Acute ulceromembranous stomatitis.
- Fusospirochaetal stomatitis.
- Acute necrotizing ulcerative gingivitis.
- Trench mouth.
5.2.2. Etiologi :
- Borrelia Vincenti.
- Basilus fusiformis.
5.2.3. Predisposisi :
- Turunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi.
- Defisiensi vitamin (Nicotinamide dan Vitamin C).
- Gingivitis kronis dan trauma.
5.2.4. Gambaran Klinis :
5.2.4.1. Akut :
- Onsetnya cepat (3 - 5 hari) disertai demam dan malaise.
- Gusi berwarna merah, nyeri, ulserasi & perdarahan gusi.
- Ulserasi disertai pseudomembran, yakni daerah nekrosis
warna putih kekuningan, bila diangkat terjadi perdarahan.
- Lebih sering berupa ulkus pada regio insisif dan molar 3.
- Menimbulkan ulkus pada mukosa bersebrangan dgn lesi & dpt
menyebar ke bibir, dasar mulut, palatum & lidah (jarang).
- Pada kasus yang hebat terjadi nekrosis luas s/d ke tulang
alveolar sehingga menyebabkan gigi-gigi goyang.
- Tanda yang karakteristik adalah halitosis.
- Limfadenitis regional.
5.2.4.2. Kronis :
- Tidak ada demam dan gejala-gejala umum.
- Tampak seperti gingivitis marginalis biasa; gusi membengkak,
berwarna merah gelap & ujung papila membulat.
- Pasien mengeluh rasa gatal, panas & tak enak di gusi
serta gusi mudah berdarah.
- Halitosis tak jelas & tidak ada ulkus pada mukosa
berseberangan.
5.2.5. Diagnosa :
5.2.5.1. Akut :
- Secara klinis biasanya telah jelas.
- Jika kurang meyakinkan dapat dilakukan pemeriksaan apus
bakteri (sampel dari sulkus gingiva).
5.2.5.2. Kronis :
- Secara klinis diagnosa lebih sulit.
- Permeriksaan apus bakteri sangat membantu.
5.2.6. Terapi :
- Preparat penisilin peroral/parenteral minimal 5 hari berturut-turut,
karena penyakit ini memberi respon yg baik terhadap penisilin.
- Perbaiki daya tahan tubuh dan kondisi umum penderita.
- Perbaiki oral hygiene, berkumur-kumur dgn antiseptik & H2O2,
karena selain membasmi bakteri secara lokal juga akan
mempersingkat waktu yg dibutuhkan untuk penyembuhan.
5.3. Oral Moniliasis
5.3.1. Nama Lain :
- Oral candidiasis.
- Oral trush.
- Mycotic stomatitis atau Stomatomycosis.
5.3.2. Etiologi : Jamur Candida albicans.
5.3.3. Insidensi :
- Bayi yg malnutrisi; akibat kontak langsung dari botol susu,
atau partus melalui vagina ibu penderita kandidiasis.
- Orang dewasa; akibat penurunan pH dan sekresi saliva
(lokal), DM, terapi kortikosteroid serta devisiensi riboflavin
(sistemik).
- Penggunaan antibiotika (lozengens dan peroral) yang lama.
- Umumnya menyerang mukosa lidah, bibir, bukal & dasar
mulut.
5.3.4. Patogenesis :
- Candida albicans hidup dalam keseimbangan flora mulut normal
sebagai mikroflora non patogen.
- Patogenitasnya timbul jika keseimbangan flora mulut normal
terganggu atau turunnya daya tahan tubuh jamur bermultiplikasi
hyphae menembus keratin, masuk ke stratum granulosum
membentuk suatu anyaman benang-benang jamur di antara sel epitel
pseudomembran.
- Epitel mengalami perubahan degeneratif dan stratum korneum
lenyap pada bagian yang terserang jamur.
- Pseudomembran terdiri dari jaringan nekrotik, keratin, fibrin, food
debris, epitel yg mengalami deskuamasi, leukosit & bakteri
menyatu dgn hyphae sebagai akar yg menembus ke dalam epitel.
5.3.5. Gambaran Klinis :
- Diawali dgn timbulnya papula-papula berwarna putih keabuan
bersatu membentuk plak membran yg dikelilingi daerah erythema.
- Secara sepintas tampak sebagai bercak putih yg melekat erat pada
mukosa mulut, jika dilepas akan menyebabkan perdarahan.
- Penderita mengeluh nyeri pada daerah lesi disertai yeasty
halitosis.
5.3.6. Diagnosa :
Perlu dilakukan pemeriksaan apus yg akan menampakkan adanya
spora dan hyphae.
5.3.7. Terapi :
- Drug of choice adalah Nystatin.
- Dapat diulaskan dengan gentien violet 1 - 2% pada daerah
lesi.
- Perbaiki kondisi umum penderita.
5.4. Noma
5.4.1. Nama lain :
- Stomatitis gangrenosa.
- Cancrum oris.
- Cancer aquaticus.
- Dzo-Ma-Gan (Cina).
- Running horse gangren.
5.4.2. Etiologi :
- Secara pasti belum jelas.
- Diduga bakteri anaerob (Bacillus Fusiformis & Spirochaetes).
5.4.3. Faktor Predisposisi :
- Terutama adalah malnutrisi.
- Oral hygiene yang buruk.
5.4.4. Insidensi :
- Seringkali pada anak-anak yang kekurangan gizi.
- Anak-anak yang menderita penyakit melemahkan, misalnya
pneumonia, measles, tipoid dan blood dyscrasia.
5.4.5. Gambaran Klinis :
- Gejala karakteristiknya adalah bau yg sangat busuk (bau gangren)
serta dapat tercium dari jarak cukup jauh.
- Mula-mula yang terserang gusi, selanjutnya menyebar ke pipi, jarang
sekali ke bibir dan dasar mulut.
- Proses gangren tersebut berlangsung sangat cepat (24 jam setelah
onset penyakit), yg diawali dgn membengkaknya pipi, perubahan warna
dari merah selanjutnya menjadi hitam perforasi pipi
berlubang.
- Sementara itu, gusi terkelupas tulang terbuka gigi-gigi goyang
dan kadang-kadang terlepas.
- Hiperslivasi dan dapat keluar dari pipi yang perforasi.
- Umumnya tidak ditemukan pembengkakan pada wajah.
- Limfadenopati regional.
- Temperatur febris atau sub febris.
- Kematian umumnya disebabkan aspiration bronkhopneumonia dan
sepsis.
5.4.6. Komplikasi Oral Pasca Penyakit Sembuh :
- Pipi berlubang.
- Perlekatan pipi dengan gusi.
- Fornix atau muccobucal fold menghilang.
- Jaringan parut.
- malformasi bentuk wajah.
5.4.7. Prognosa : Buruk sebelum adanya antibiotika.
5.4.8. Terapi :
- Antibiotika, memberi respon baik dengan penisilin oral atau
peroral.
- Lesi senantiasa dibersihkan atau dicuci dgn natrium bikarbonat
5%.
- Perbaiki kondisi umum penderita.
- Bedah plastik untuk mengatasi komplikasi/cacat pada wajah dan
mulut.
5.5. Beberapa Jenis Stomatitis Lainnya :
5.5.1. Stomatitis Herpetika :
- Lesi berbentuk ulserasi pada mukosa mulut yg merupakan manifestasi
penyakit herpes dalam rongga mulut.
- Terapi ditujukan pada penyakit herpesnya, jika sembuh stomatitisnya juga
sembuh.
5.5.2. Stomatitis Difterika :
- Merupakan perluasan lesi penyaklit difteri ke mukosa rongga
mulut.
- Terapi ditujukan pada penyakit difterinya.
5.5.3. Stomatitis Merkurika :
- Stomatitis akibat absorbsi merkuri (bahan tambal gigi) yg
berlebihan.
- Terapi ditujukan pada eliminasi penyebabnya.
5.5.4. Stomatitis Arsenika :
- Stomatitis akibat mukosa keracunan arsen (bahan perawatan
gigi).
- Terapi sama dengan stomatitis merkurika.
5.5.5. Stomatitis Alergika:
5.5.5.1. Stomatitis Venenata :

Reaksi alergi yg menyebabkan stomatitis, akibat kontak lokal dengan
alergen.

5.5.5.2. Stomatitis Medikamentosa :
Reaksi alergi yang menyebabkan stomatitis, akibat kontak alergen secara
sistemik.
5.5.6. Stomatitis Nikotina :
- Stomatitis yg umumnya terjadi di palatum akibat akumulasi &
absorbsi nikotin berlebihan pada perokok berat dan mengunyah
tembakau.

- Terapi kurangi merokok, mengisap dan mengunyah tembakau.
5.5.7. Stomatitis Manifestasi Sistemik :
Stomatitis lainnya akibat manifestasi kelainan atau gangguan
sistemik :
- Manifestasi sistemik infeksi bakteri, virus dan
jamur.
- Manifestasi beberapa sindroma.
- Manifestasi malnutrisi.
- Manifestasi reaksi auto-imun.
- Manifestasi kelainan darah dll.

PENYEBARAN INFEKSI PERIAPIKAL
Infeksi periapikal dapat menyebar ke jaringan-jaringan lain mengikuti pola
patofisiologi yang beragam yang pada dasarnya dipengaruhi oleh : jumlah
dan virulensi kuman, resistensi dari host, dan struktur anatomi daerah yang
terlibat.
Pus pada jaringan periapikal menyebar melalui tulang kanselus menuju ke
permukaan tulang dan setelah menembus lapisan korteks pus masuk ke
jaringan lunak di sekitarnya yang biasanya didahului dengan keradangan
pada periosteum tulang alveolar di daerah tersebut (periostitis)
Arah penyebaran infeksi periapikal menuju ke jaringan lunak dipengaruhi oleh
2 faktor utama yaitu:
1. Ketebalan tulang yang meliputi apeks gigi
2. hubungan antara tempat perforasi tulang dan tempat perlekatan otot-otot
pada maksila dan mandibula
Bila apeks gigi yang terinfeksi lebih dekat dengan labial plate maka akan
menyebabkan vestibular abscess. Sebaliknya jika kar gigi lebih dekat dengan
permukaan palatal maka yang terjadi adalah palatal abscess.
Setelah pus menembus permukaan tulang dan masuk ke dalam jaringan
lunak arah penyebaran selanjutnya ditentukan oleh tempat perlekatan otot-
otot pada tulang rahang, utamanya yaitu m. Buccinator pada maksila dan
mandibula, dan. Mylohyoid pada mandibula. Pada gigi-gigi posterior rahang
atas apabila pus keluar ke arah bukal dan dibawah perlekatan m.buccinator
pada maksila dan mandibula, dan m mylohyoid pada mandibula. Pada gigi
posterior rahang atas apabila pus keluar ke arah bukal dan dibawah
perlekatan m. Buccinator maka akan terjadi vestibular abscess. Apabila pus
terletak di atas perlekatan m. Buccinator maka yang terjadi adalah buccal
space abscess.
Infeksi periapikal pada gigi-gigi rahang atas pada umunya menjalar ke arah
labial atau bukal. Beberapa gigi seperti insisif lateral yang inklinasinya
ekstrenm, akar palatal gigi premolar pertama dan molar rahang atas dapat
menyebabkan abses di sebelah palatal. Penjalaran infeksi ke labial atau
bukal dapat menjadi vestibular abscess atau fascial space infection
ditentukan oleh hubungan antara tempat peforasi tulang dan tempat
perlekatan otot-otot oada tukang maksila yaitu m, buccinator dan m. Levator
anguli oris.
Gigi insisif sentral dan lateral rahang atas penyebaran infeksi ke labial
sehingga terjadi vestibular abscess. Infeksi pada kaninus yang akarnya
panjang dapat menyebabkan canine space infection. Infeksi pada M rahang
atas bisa menjadi vestibular abscess. Infeksi periapikal gigi-gigi P dan M
rahang atsa dapat menyebar ke arah sinus maksilaris sehingga
menyebabkan sinusitis maksilaris.
Di rahang bawah infeksi periapikal dari gigi I,C dan P pada umumnya akan
merusak korteks di buccal palte sehingga menjadi vestibular abscess.
Infeksi pada gigi M1 bisa mengarah ke bukal atau ke lingual demikian juga
M2, sedangkan infeksi periapikal gigi M3 selalu mengarah ke lingual.
Penyebaran infeksi Molar bawah yang ke arah bukal juga ditentukan oleh
perlekatan m. Buccinator. Apabila pus keluar diatas perlekatan m. buccinator
maka yang tejadi adalah vestibular abscess, bila pus keluar dibawah
perlekatan otot tersebut maka yang terjadi adalah buccal space infection atau
perimandibular infection. Penyebaran infeksi M RB yg kearah lingual
ditentukan oleh relasi antara letak apeks akar gigi M dan tempat perlekatan
m. Mylohyoid. Bila pus keluar dari dinding lingual di atas perlekatan m.
Mylohyoid maka akan terjadi sublingual space abscess, sebaliknya bila pus
keluar dibawah perlekatan otot tsb akan timbul submandibular space
abscess.

Abses Rongga mulut dan Rahang
Abses Odontogen
Abses adalah proses supurasi yang terlokalisir di dalam suatu rongga .
Patologis akibat infeksi mikroorganisme proteolitik, sehingga terjadi proses
nekrosis dan lisis jaringan membentuk pus. Abses rongga mulut & rahang
paling banyak disebabkan oleh infeksi dentogen, selanjutnya oleh infeksi
jaringan periodontal dan bagian lainnya dalam rongga mulut.Terdapat
berbagai jenis abses berdasarkan lokasi terjadinya, serta perluasannya ke
jaringan sekitar yang disebut sebagai perjalanan abses.

1. Periapikal Abses
1.1. Pengertian :
Suatu infeksi supurasi dari jaringan periapikal (ujung akar gigi).
1.2. Perjalanan Abses :
Karies gigi infeksi jaringan pulpa & saluran akar gigi (pulpitis)
Infeksi periodontium di periapikal gigi (periodontitis apikalis)
supurasi maka terbentuk abses di daerah periapikal gigi.
1.3. Jenis Abses Periapikal Secara Klinis :
1.3.1. Periapikal Abses Akut :
1.3.1.1. Gejala Klinis :
1.3.1.1.1. Ekstra Oral :
- Disertai atau tanpa pembengkakan ekstraoral.
- Nyeri tekan +.
1.3.1.1.2. Intra Oral :
- Karies : + - Perkusi : + - Mobility :
+
- Sondasi : - - Tekanan : + - Pocket :
+
- Dingin : - - Palpasi : + - Gravitasi :
1.3.1.2. Gambaran Radiologis : Lamina dura terputus.
1.3.1.3. Diferensial Diagnosa : Periodontitis apikalis akut.
1.3.1.4. Terapi : - Antibiotika dan analgetika.
- Setelah infeksi reda gigi diekstraksi.
1.3.2. Periapikal Abses Kronis :
1.3.2.1. Gejala Klinis :
- Karies : + - Perkusi : + - Mobility : +/-
- Sondasi : - - Tekanan : + - Pocket : +/-
- Dingin : - - Palpasi : + - Gravitasi : -
- Jaringan sekitar gigi : fistula +/-
1.3.2.2. Radiologis :
- Lamina dura terputus.
- Radiolusensi berbentuk bulat (dental granuloma).
1.3.2.3. Diferensial Diagnosa :
Periodontitis apikalis kronis.
1.3.2.4. Terapi :
Ekstraksi gigi kemudian beri antibiotika & analgetika.

2. Periodontal Abses
2.1. Pengertian :
Suatu infeksi supurasi (abses) pada jaringan periodontal gigi.
2.2. Perjalanan Abses :
- Diawali dgn gingivitis marginalis Infeksi jaringan periodontium
daerah marginal gigi (periodontitis marginalis) supurasi
periodontal abses.
- Periapikal abses menjalar sepanjang margin gigi periodontal
abses.
2.3. Gambaran Klinis Periodontal Abses
Berdasarkan Perjalanannya :
2.3.1. Periodontal Abses yg Berasal dari Gingiva :
2.3.1.1. Gejala Klinis :
2.3.1.1.1. Ekstra Oral :
- Disertai atau tanpa pembengkakan ekstr aoral.
- Nyeri tekan +.
2.3.1.1.2. Intra Oral :
- Karies : +/- - Perkusi : + - Mobility : +
- Sondasi : + - Tekanan : + - Pocket : +
- Dingin : + - Palpasi : + - Gravitasi : +
2.3.1.2. Gambaran Radiologis :
Lamina dura sepanjang margin gigi terputus.
2.3.1.3. Diferensial Diagnosa :
Periodontitis marginalis akut.
2.3.1.4. Terapi :
- Antibiotika dan analgetika.
- Setelah infeksi reda pembersihan karang gigi
dan kuretase periodontal.
- Jika kerusakan jaringan periodontal luas, gigi
diekstraksi.
2.3.2. Periodontal Abses yg Berasal dari
Periapikal :
2.3.2.1. Gejala Klinis : Sama dengan periapikal abses.
2.3.2.2. Radiologis : Lamina dura dari apikal s/d marginal
terputus.
2.3.2.3. Diferensial Diagnosa :
- Periodontitis marginalis akut.
- Periapikal abses akut.
2.3.2.4. Terapi : Sama dengan terapi periapikal abses akut.

3. Perikoronal abses
3.1. Pengertian :
Suatu infeksi supurasi (abses) pada operkulum dan perikoronal gigi yg
baru erupsi atau semi erupsi.
3.2. Perjalanan Abses :
Diawali dgn operkulitis perikoronitis supurasi perikoronal
abses.
3.3. Gambaran Klinis :
3.3.1. Ekstra Oral :
- Disertai pembengkakan ekstraoral pada regio angulus mandibula.
- Nyeri + - Demam : + - Trismus + - Palpasi : +
- Limfaenopati KGB regional : +
- Wajah pucat dan pasien tampak lemah.
- Sulit dan nyeri menelan.
3.3.2. Intra Oral :
- Benjolan/pembengkakan pada operkulum dan perikoronal disertai
fluktuasi dan nyeri tekan.
- Karies : +/- - Perkusi : + - Mobility : +
- Sondasi : + - Tekanan : + - Pocket : +
- Dingin : + - Palpasi : + - Gravitasi : +
3.4. Gambaran Radiologis :
Radiolusensi mengelilingi perikoronal gigi.
3.5. Diferensial Diagnosa :
Perimandibular abses akut dan bukal abses akut.
3.6. Terapi :
- Antibiotika dan analgetika
- Jika telah berkembang menjadi abses submukus atau subkutan insisi
drainase ekstra atau intra oral.
- Setelah infeksi reda ekstraksi atau odontektomi.

4. Subperiosteal abses
4.1. Pengertian :
Suatu infeksi supurasi (abses) pada periosteum tulang rahang.
4.2. Perjalanan Abses :
- Periapikal abses menembus tulang alveolar menjalar sampai
ke periosteum periostitis/subperiostitis supurasi
subperiosteal abses.
- Supperiosteal abses merupakan tahap awal perjalan abses sebelum
menyebar ke jaringan ikat longgar (jar lunak) ekstra & intra oral.
4.3. Gambaran klinis :
4.3.1. Ekstra Oral :
- Disertai pembengkakan ekstra oral dengan konsistensi keras.
- Nyeri hebat : + - Demam : + - Trismus + - Palpasi : +
- Fluktuasi : - - Limfaenopati KGB regional : +
- Sakit menelan. - Wajah pucat dan tampak lemah.
4.3.2. Intra Oral :
- Pembengkakan mukosa di atas periosteum dgn konsistensi
keras.
- Fluktuasi : - - Nyeri tekan : +
- Karies : +/- - Perkusi : + - Mobility : +
- Sondasi : + - Tekanan : + - Pocket : +
- Dingin : + - Palpasi : + - Gravitasi : +
Biasanya abses subperiosteal dgn cepat berkembang menjadi abses
subkutan atau submukus (paling lama 2 - 3 hari ).
4.4. Gambaran Radiologis :
- Lamina dura periapikal terputus.
- Garis radiolusen dari periapikal s/d periosteum.
- Periosteum belum terputus.
4.5. Diferensial Diagnosa :
- Periostitis & superiostitis akut.
- Osteomielitis akut.
4.6. Terapi :
- Antibiotika, analgetika dan anti inflamasi.
- Jika telah menjadi subkutan atau submukus abses insisi darinase.
- Setelah infeksi reda ekstraksi atau odontektomi.

5. Gingival abses
5.1. Pengertian : Suatu infeksi supurasi (abses) pada gingiva.
5.2. Perjalanan Abses :
- Diawali dgn gingivitis marginalis supurasi gingival abses.
- Periapikal abses subperiosteal abses menembus periosteum
gingival abses.
5.3. Gambaran Gingival Abses Berdasarkan
Perjalanannya :
5.3.1. Gingival Abses Murni :
5.3.1.1. Gejala Klinis :
- Benjolan pada gusi disertai fluktuasi dan nyeri tekan.
- Karies : +/ - - Perkusi : +/ - - Mobility : -
- Sondasi : + - Tekanan : +/ - - Pocket : +
- Dingin : + - Palpasi : + - Gravitasi : -
5.3.1.2. Gambaran Radiologis : Normal.
5.3.1.3. Diferensial Diagnosa : Periodontal abses akut.
5.3.1.4. Terapi :
- Antibiotika dan analgetika.
- Obat kumur antiseptik & obat kumur analgetik/anti
inflamasi.
- Setelah infeksi reda pembersihan karang gigi & kuretase
periodontal.
5.3.2. Gingival Abses yg Berasal dari Periapikal :
5.3.2.1. Gejala Klinis :
Diawali dengan gejala periapikal abses & subperiosteal abses,
kemudian timbul gejala gingival abses sebagai berikut :
- Benjolan/pembengkakan pada gusi disertai fluktuasi
dan nyeri tekan.
- Karies : + - Perkusi : +/ - - Mobility : +/ -
- Sondasi : - - Tekanan : +/ - - Pocket : +
- Dingin : - - Palpasi : + - Gravitasi : -
5.3.2.2. Radiologis :
- Lamina dura periapikal terputus.
- Garis radiolusen dari periapikal s/d periosteum.
- Periosteum terputus.
5.3.2.3. Diferensial Diagnosa :
Periodontitis marginalis akut.
5.3.2.4. Terapi :
Sama dengan terapi periapikal abses akut.

6. Submukus abses
6.1. Pengertian :
Suatu infeksi supurasi (abses) pada daerah tepat di bawah mukosa.
6.2. Perjalanan Abses :
- Diawali dgn Periapikal abses subperiosteal abses periosteum
pecah pus mengalir ke daerah di bawah mukosa submukus
abses.
- Pus dapat berkumpul di bawah mukosa vestibulum oris/forniks,
palatum, sublingual, retromolar, peritonsilar dan faring sehingga disebut
sebagai abses submukus sesuai dengan daerah yg terkena.
- Submukus abses merupakan tahap superfisialis (akhir) perjalan abses
pada mukosa daerah tertentu dalam rongga mulut dan faring.
6.3. Gambaran Klinis :
6.3.1. Ekstra Oral :
- Tergantung mukosa yang terkena, pada vestibulum oris disertai
pembengkakan ekstra oral di daerah bukal.
- Pembengkakan kenyal dan nyeri tekan.
6.3.2. Intra Oral :
- Benjolan/pembengkakan lunak pada mukosa sesuai daerah
yang terkena disertai fluktuasi & nyeri tekan.
- Gejala intra oral bervariasi, umumnya merupakan kelanjutan
dari periapikal & subperiosteal abses.
- Nyeri berkurang dibanding periapikal & subperiosteal abses.
6.4. Gambaran Radiologis :
Idem periapikal dan superiosteal abses.
6.5. Diferensial Diagnosa :
Bergantung pada daerah yang terkena.
6.6. Terapi :
- Antibiotika dan analgetika
- Insisi drainase intra oral pada mukosa sesuai daerah yang terkena.
- Setelah infeksi reda ekstraksi atau odontektomi gigi penyebab.

7. Subkutan abses
7.1. Pengertian :
Suatu infeksi supurasi pada daerah tepat di bawah kutis.
7.2. Perjalanan Abses :
- Diawali periapikal abses subperiosteal abses periosteum
pecah menembus fasia superfisialis pus mengalir ke daerah
subkutis sesuai regio yg terkena subkutan abses.
- Subkutan abses merupakan tahap superfisialis/akhir perjalan abses
pada kutis daerah ekstra oral tertentu sesuai arah perjalanan absesnya.
7.3. Gambaran Klinis :
7.3.1. Ekstra Oral :
- Pembengkakan ekstra oral sesuai daerah yang terkena.
- Pembengkakan berwarna kemerahan dan mengkilat.
- Konsistensi lunak disertai fluktuasi.
- Nyeri saat palpasi & tekanan (nyeri lebih ringan dibanding
subperiosteal abses).
- Pembengkakan biasanya terlokalisir & sudah ada sentrum.
7.3.2. Intra Oral :
- Gejala intra oral merupakan kelanjutan dari periapikal &
subperiosteal abses dgn tingkat yang lebih ringan.
- Tidak ada benjolan/pembengkakan intra oral.
7.4. Gambaran Radiologis :
Idem periapikal & superiosteal abses.
7.5. Diferensial Diagnosa :
Bergantung pada daerah yg terkena.
7.6. Terapi :
- Antibiotika dan analgetika
- Insisi drainase ekstra oral pada kutis, yakni di daerah lokasi
sentrum.
- Setelah infeksi reda ekstraksi atau odontektomi gigi penyebab.
8. Vestibular abses
8.1. Pengertian :
Suatu infeksi supurasi (abses) tepat di bawah mukosa vestibulum oris,
baik rahang atas maupun rahang bawah.
8.2. Perjalanan Abses :
Identik submukus abses dgn tahap superfisialis/akhir di vestibulum
oris.
8.3. Gambaran Klinis :
8.3.1. Ekstra Oral :
- Benjolan ekstra oral di daerah bukal.
- Konsistensi lunak disertai fluktuasi.
- Nyeri palpasi & tekanan lebih ringan dibanding subperiosteal
abses.
8.3.2. Intra Oral :
- Gejala intra oral merupakan kelanjutan dari periapikal dan
subperiosteal abses dengan tingkat yg lebih ringan.
- Vestibulum terangkat/bengkak, konsistensi lunak disertai
fluktuasi.
- Nyeri pada palpasi dan tekanan.
- Jika di palpasi kadang keluar pus dari margin gingiva.
8.4. Gambaran Radiologis :
Idem periapikal & superiosteal abses.
8.5. Diferensial Diagnosa :
Kista radikuler terinfeksi.
8.6. Terapi :
- Antibiotika & analgetika
- Insisi drainase intra oral di mukosa vestibulum yg konsistensinya
paling lunak.
- Setelah infeksi reda ekstraksi atau odontektomi gigi penyebab.

9. Palatal abses
9.1. Pengertian :
Suatu infeksi supurasi (abses) pada daerah tepat di bawah mukosa
palatum.
9.2. Perjalanan Abses :
Seperti submukus abses dgn tahap superfisialis/akhir di daerah
palatum.
9.3. Gambaran Klinis :
9.3.1. Ekstra Oral : Tidak ada pembengkakan ekstra oral.

9.3.2. Intra Oral :
- Gejala intra oral merupakan kelanjutan dari periapikal &
subperiosteal abses dengan tingkat yg lebih ringan.
- Vestibulum terangkat/bengkak.
- Pada superiosteal palatal abses konsistensi keras-kenyal
tanpa disertai fluktuasi & sangat nyeri palpasi atau tekanan.
- Pada submukus palatal abses konsistensi kenyal-lunak,
disertai fluktuasi, nyeri palpasi & tekanan lebih ringandibanding
subperiosteal palatal abses.
9.4. Gambaran Radiologis :
Idem periapikal dan superiosteal abses.
9.5. Diferensial Diagnosa :
Kista radikuler terinfeksi.
9.6. Terapi :
- Antibiotika dan analgetika
- Insisi drainase intra oral pada mukosa palatum yg konsistensinya
paling lunak.
- Setelah infeksi reda ekstraksi atau odontektomi gigi penyebab.

10. Perimandibular (mandibular abses)
10.1. Pengertian :
Suatu infeksi supurasi (abses) pada border inferior mandibula.
10.2. Perjalanan Abses :
Diawali dengan periapikal abses gigi posterior rahang bawah pus
meluas ke periosteum di border inferior mandibula subperiosteal
abses perimandibular menembus fasia superfisialis subkutan
abses perimandibular.
10.3. Gambaran Klinis :
10.3.1. Gejala Umum :
Trismus,demam, lesu, pucat, tidak dapat tidur dan makan disertai
limfadenopati KGB regional.
10.3.2 . Ekstra Oral :
10.3.2.1. Subperiosteal Perimandibular Abses :
- Pembengkakan difus tak jelas di daerah border
inferior mandibula.
- Konsistensi keras.
- Sangat nyeri, baik nyeri spontan atau palpasi dan
tekanan.
10.3.2.2. Subkutan Perimandibular Abses :
- Pembengkakan difus yg jelas di daerah border inferior
mandibula sehingga border inferior tidak teraba.
- Konsistensi lunak disertai fluktuasi.
- Permukaan mengkilat berwarna kemerahan.
- Sangat nyeri, ( nyeri spontan, palpasi atau tekanan),
tetapi agak ringan dibanding subperiosteal
perimandibular abses.
10.3.3 . Intra 0ral :
- Gigi penyebab memperlihatkan gejala seperti periapikal
abses akut, tetapi dengan tingkat yang lebih ringan.
- Tidak ada pembengkakan intra oral.
10.4. Gambaran Radiologis :
Idem periapikal dan superiosteal abses.
10.5. Diferensial Diagnosa :
Submaksilar/submandibular dan perikoronal abses.
10.6. Terapi :
- Antibiotika dan analgetika
- Insisi drainase ekstra oral pada daerah sentrum.
- Setelah infeksi reda ekstraksi atau odontektomi gigi penyebab.

11. Submandibular (submaksilar) abses
11.1. Pengertian :
11.1.1. Submandibular abses adalah suatu infeksi supurasi (abses)
yang terjadi pada spasium submandibular.
11.1.2. Spasium submandibular adalah rongga atau ruang anatomis
jaringan lunak yang terdapat di bawah dasar mulut dengan batas-
batas sbb :
- Batas superior & medial : otot mylohyoideus.
- Batas posterior & lateral : mandibula.
- Batas anterior : otot hyoglosus & digastrikus venter
anterior.
- Batas inferior : fasia superfisialis & kulit (ekstra
oral).
11.1.3. Isi spasium submandibula : glandula submandibularis dan KGB.
11.2. Perjalanan Abses :
- Diawali dengan periapikal abses gigi-gigi posterior rahang bawah
pus meluas ke periosteum pada sisi medial mandibula di bawah
perlekatan otot mylohyoideus subperiosteal abses submandibular
periosteum pecah dan pus menembus fasia superfisialis subkutan
abses submandibular.
- Penyebaran selanjutnya ke arah spasium parafaringeal dan
daerah leher.
11.4. Gambaran Radiologis : Idem periapikal & superiosteal abses.
11.5. Diferensial Diagnosa : Perimandibular & glandula submandibular abses.
11.6. Terapi : - Idem perimandibular abses.
- Jika meluas ke daerah leher indikasi trakheostomi.
11.3. Gambaran Klinis :
11.3.1. Gejala Umum :
Idem perimandibular abses, hanya tidak selalu disetai
trismus.
11.3.2 .Ekstra Oral :
- Idem perimandibular abses, hanya letak pembengkakan tidak
melewati border inferior mandibula serta lebih ke medial,
meluas ke arah leher.
- Seringkali glandula submandibularis ikut meradang
sialodenitis.
- Jika meluas ke sapsium parafaringeal sulit bernapas &
nyeri menelan.
11.3.3 .Intra Oral : Idem perimandibular abses.

12. Sublingual abses
12.1. Pengertian :
12.1.1. Sublingual abses adalah suatu infeksi supurasi (abses) yang
terjadi pada spasium sublingualis.
12.1.2. Spasium sublingualis adalah spasium dasar mulut yg
berlokasitepat di atas spasium submandibularis, dgn batas-batas sbb :
- Batas superior : mukosa rongga mulut (dasar
mulut).
- Batas inferior : otot mylohyoideus.
- Batas anterior dan lateral : mandibula.
- Batas posterior : tulang hyoid.
- Batas medial : raphe medialis lingua.
12.1.3. Isi spasium sublingualis : glandula sublingualis.
12.2. Perjalanan Abses :
- Diawali dgn periapikal abses gigi rahang bawah pus meluas ke
periosteum pada sisi medial mandibula di atas perlekatan otot
mylohyoideus subperiosteal abses sublingualis menembus
periosteum - submukus abses sublingualis.
- Penyebaran selanjutnya ke spasium parafaringeal &
submandibular.
12.3. Gambaran Klinis :
12.3.1. Gejala Umum :
Gangguan bernapas, bicara, menelan dan mengunyah.
12.3.2. Ekstra Oral : Tidak ada pembengkakan ekstra oral.
12.3.3. Intra Oral :
- Pembengkakan mukosa di bawah lidah (dasar mulut) pada
sisi yang terkena.
- Konsistensi lunak disertai fluktuasi.
- Nyeri pada palpasi dan tekanan.
- Lidah terangkat & terdorong ke sisi normal.
12.4. Gambaran Radiologis :
Idem periapikal & superiosteal abses.
12.5. Diferensial Diagnosa :
Ranula terinfeksi & abses glandula sublingualis.
12.6. Terapi :
- Antibiotika dan analgetika.
- Obat kumur antiseptik dan obat kumur analgetik/anti inflamasi.
- Insisi drainase intra oral pada mukosa yg konsistensinya paling
lunak.
- Jika infeksi reda ekstraksi gigi penyebab.

13. Submental abses
13.1. Pengertian :
13.1.1. Submental abses adalah suatu infeksi supurasi (abses) yang
terjadi pada spasium submentalis.
13.1.2. Spasium submentalis adalah spasium dasar mulut yang
lokasinya berada di sebelah anterior spasium submandibularis kiri &
kanan (parasimfisis), dengan batas-batas sbb :
- Batas superior : otot mylohiyoideus kiri & kanan, border
inferior mandibula dan otot mentalis.
- Batas inferior : fasia superfisialis dan kulit.
- Batas antero lateral : Sisi medial mandibula, fasia superfisialis
&
kulit.
- Batas posterior : otot hyoglosus.
13.1.3. Isi spasium submentalis : otot digastrikus venter anterior &
KGB.
13.2. Perjalanan Abses :
- Periapikal abses gigi rahang bawah anterior pus meluas ke
periosteum di bawah perlekatan otot mylohyoideus atau otot mentalis
subperiosteal abses submentalis menembus periosteum
subkutan abses submentalis.
- Penyebaran selanjutnya ke spasium submandibular.
13.3. Gambaran Klinis :
13.3.1. Ekstra Oral :

Idem perimandibular abses, hanya lokasinya berada di border inferior
bagian anterior mandibula.
13.3.2. Intra Oral :
- Tidak ada pembengkakan intra oral.
- Gejala periapikal atau subperiosteal abses pada gigi
penyebab.
13.4. Gambaran Radiologis :
Idem periapikal & superiosteal abses.
13.5. Diferensial Diagnosa :
Kista dermoid regio submental.
13.6. Terapi :
Idem perimandibular abses, hanya lokasi insisi drainase lebih
anterior.

14. Flegmon (Angina Ludovici)
14.1. Pengertian :
14.1.1. Flegmon adalah infeksi supurasi (abses) yang terjadi sekaligus di
beberapa spasium dasar mulut, yang meliputi :
- spasium submandibular kiri dan kanan.
- spasium sublingual kiri dan kanan.
- spasium submental.
14.1.2. Kriteria flegmon :
- Harus ada pembengkakan ekstra dan intra oral.
- Minimal melibatkan tiga spasium.
- Salah satu spasium yang terlibat harus ada yang bilateral.
14.1.3. Etiologi :
Umumnya streptokokus hemolitikus & bakteri pyogenik
anaerob.
14.1.5. Merupakan infeksi odontogen dasar mulut yang fatal, penderita
biasanya meninggal akibat asfiksia dan sepsis.
14.2. Perjalanan abses :
- Seringkali berasal dari infeksis/abses gigi M2 dan M3 rahang bawah
dgn posisi ujung akar{apek/apikal) terletak di bawah garis perlekatan
otot mylohyoideus.
- Abses menyebar mula-mula ke salah satu spasium submandibular,
selanjutnya ke spasium dasar mulut lainnya.
14.3. Gambaran Klinis :
- Pembengkakan simetris ekstra oral bilateral, simetris, letaknya
dalam, konsistensi keras (tanpa fluktuasi) karena penyebaran abses
tak mencapai subkutan.
- Pembengkakan keras intra oral pada daerah sublingual (lidah
terangkat).
- Sangat nyeri, baik ekstra maupun intra oral.
- Hipersalivasi, sulit menelan dan bernapas, kadang disertai
trismus ringan.
- Gejala umum : demam, lesu, sangat lemah, apatis, anoreksia
dan sulit tidur.
- Pasien tampak selalu menundukkan kepalanya sebagai usaha
mengatasi kesulitanbernapas akibat oedema glotis.
14.4. Terapi :
14.4.1. Medikamentosa :
- Antibiotika dosis tinggi untuk bakteri aerob dan anerob.
- Analgetika dan antipiretika.
- Ruborantia.
14.4.2. Rawat Inap :
Istirahat total, terapi cairan, diet tinggi kalori & tinggi protein.
14.4.3. Atasi Kesulitan Pernapasan :
- Bantu oksigen.
- Jika timbul gejala asfiksia trakheostomi.
14.4.4. Atasi Oedema :
- Kortikosteroid.
- Insisi drainase ekstra oral di submental dan submandibular.
14.4.5. Eliminasi Penyebab :
Ekstraksi atau odontektomi gigi penyebab.

15. Abses submasseterica
15.1. Pengertian :
15.1.1. Abses submasseterica adalah infeksi supurasi (abses) yg terjadi
di spasium submasseterica.
15.1.2. Spasium submasseterica adalah spasium yg terletak di antara
perlekatan otot masseter pada ramus & angulus mandibula, dengan
batas-batas sbb :
- Batas superior : insisura mandibula (perlekatan otot
temporalis).
- Batas inferior : perlekatan otot masseter bagian
superfisialis.
- Batas anterior : otot buksinatorius.
- Batas posterior : glandula parotis.
- Batas medial : ramus mandibula & otot masseter bagian
dalam.
- Batas lateral : otot masseter bagian tengah.
15.2. Perjalanan Abses :
Perikoronal abses gigi molar 3 RB meluas ke arah lateral ramus dan
berjalan ke arah postero-superior menuju spasium submasseterica
abses submasseterica.
15.3. Gambaran Klinis :
- Wajah membengkak, terutama di daerah ramus mandibula.
- Sakit berdenyut di bagian dalam ramus mandibula.
- Demam, suhu tetap tinggi s/d diperoleh drainase.
- Toksik delirium.
- Trismus.
- Dearah posterior ramus stampak tegang dan keras.
- Adanya tekanan, tegangan atau pergerakan mandibula
memperhebat nyeri.
15.4. Terapi :
Idem abses lainnya, insisi drainase dapat dilakukan ekstra dan intra
oral.

16. Abses fossa kanina
16.1. Pengertian :
16.1.1. Abses fosa kanina adalah suatu infeksi supurasi (abses) yang
terjadi pada fosa kanina.
16.1.2. Fosa kanina adalah spasium yang berlokasi tepat di sebelah
dalam nasolabial fold, kira-kira disekitar ujung akar gigi kaninus, dengan
batas-batas sbb :
- Batasa superior : regio infra orbitalis.
- Batas inferior : vestibulum oris (mukolabial fold).
- Batas anterior : Otot levator labii superior & orbikularis oris.
- Batas posterior : otot buksinator dan tulang maksila.
- Batas medial : bagian lateral hidung.
- Batas lateral : otot levator anguli oris & zygomatikus mayor
16.1.3. Infeksi serosa (nonsupuratif) di daerah ini dikenal sebagai
selulitis fasialis.
16.2. Perjalanan Abses :
Periapikal abses gigi-gigi rahang atas (kaninus, premolar,kadang
molar pertama) subperiosteal abses fosa kanina abses fosa
kanina.
16.3. Gambaran Klinis :
- Wajah membengkak, nasolabial fold menghilang.
- Oedema kelopak mata, baik yang bawah maupun atas mata
tertutup.
- Kulit wajah tegang & hiperemis, kadang bibir atas membengkak.
- Nyeri hebat karena ramifikasi saraf infraorbitalis berlokasi pada
daerah ini.
16.4. Terapi :
Idem abses lainnya, insisi sebaiknya intra oral di daerah
vestibulum.

17. Bukal abses
17.1. Pengertian :
17.1.1. Bukal abses adalah suatu infeksi supurasi (abses) pada spasium
bukalis.
17.1.2. Spasium bukalis adalah suatu spasia di daerah pipi yang berisi
jar lemak, dengan batas-batas sbb :
- Batas superior : spasium infratemporalis.
- Batas inferior : sisi lateral mandibula.
- Batas anterior : Otot-otot bibir.
- Batas posterior : spasium pterygomandibularis.
- Batas medial : otot buksinatorius.
- Batas lateral : otot masseter, fasia superfisialis &
kutis.
17.2. Perjalanan Abses :
- Periapikal abses gigi molar rahang atas berakar panjang sehingga
letak ujung akarnya di atas perlekatan otot buksinatorius pus
masuk ke spasium bukalis bukal abses.
- Selanjutnya abses dapat menyebar ke spasium infratemporalis
17.3. Gambaran Klinis :
- Wajah membengkak difus di bagian pipi, kenyal, disertai
fluktuasi dan nyeri tekan.
- Oedema bisa sangat besar, meskipun demikian jaringan
periorbita belum terlibat.
- Hipersalivasi dan trismus serta tidak ditemukan pembengkakan
intraoral.
17.4. Terapi :
Idem abses lainnya, insisi sebaiknya intra oral di daerah
vestibulum.

18. Pterygomandibular Abses
18.1. Pengertian :
18.1.1. Pterrygomandibular abses adalah suatu infeksi supurasi (abses)
yang terjadi pada spasium pterygomandibularis.
18.1.2. Spasium pterygomandibularis adalah spasium yang terletak dan
merupakan bagian dari fosa retromandubularis, dgn batas-batas sbb :
- Batas superior : otot pterygoideus eksternus
- Batas inferior : perlekatan otot pterygoideus internus di
ramus.
- Batas anterior : otot buksinatorius & konstriktor faringeus
superior.
- Batas posterior : glandula parotis
- Batas medial : otot pterygoideus internus
- Batas lateral : ramus mandibula.
18.1.3. Spasium pterygomandibularis dilewati oleh nervus lingualis serta
berkas nervus,arteri dan vena alveolaris inferior sebelum masuk ke
kanalis mandibularis.
18.2. Perjalanan Abses :
- Perikoronal abses gigi M 3 rahang bawah spasium
pterygomandibular abses.
- Infeksi akibat injeksi anestesi lokal blok mandibular langsung ke
dalam spasium pterygomandibular.
- Selanjutnya abses pterygomandibularis dpt menyebar ke spasium
infratemporalis atau ke spasium parafaringeal.
18.3. Gambaran Klinis :
- Pembengkakan ekstra oral tak jelas di regio medial angulus
mandibula.
- Keluhan rasa tertekan dan nyeri di regio pterygoideus atau ramus
mandibula
- Keluhan sakit hebat jika membuka mulut.
- Intra oral ditemukan pembengkakan retro molar dan peritonsilar
sulit menelan.
- Hipersalivasi dan trismus.
18.4. Terapi :
Idem abses lainnya, insisi drainase intra oral di daerahretrommolar
dan mukosa bukal ujung posterior vestibulum oris.

19. Infratemporal Abses (Zygomaticotemporal Abses)
19.1. Pengertian :
19.1.1. Infratemporal abses adalah suatu infeksi supurasi (abses) yang
terjadi pada spasium infratemporalis.
19.1.2. Spasium infratemporalis adalah suatu celah yang terletak di
bawah arkus zygomaticus, dengan batas-batas sbb :
- Batas superior : otot pterygoideus eksternus
- Batas inferior : spasium pterygomandibularis.
- Batas anterior : perlekatan otot pterygoideus internus.
- Batas posterior : perlekatan otot temporalis di ramus
mandibula
- Batas medial : otot pterygoideus internus
- Batas lateral : ramus mandibula.
19.1.3. Spasium infratemporalis dilewati oleh n.mandibularis, n.lingualis
dan chordatympani, serta arteri maksilaris interna.
19.2. Perjalanan Abses :
- Perikoronal abses gigi M 3 rahang bawah abses spasium
pterygomandibular abses infratemporalis.
- Abses gigi molar rahang atas berakar panjang idem perjalanan
abses bukalis, tetapi penyebaran pus tidak membelok ke spasium
bukalis melainkan terus ke arah postero-inferior menuju spasium
infratemporalis abses infratemporalis.
- Penyebaran lebih lanjut ke spasium post zygomaticus.
19.3. Gambaran Klinis :
- Pembengkakan ekstra oral tak jelas.
- Keluhan rasa tertekan dan nyeri di regio pterygoideus atau ramus
mandibula
- Keluhan sakit hebat jika membuka mulut & terjadi deviasi ke arah sisi
yang terkena abses.
- Intra oral ditemukan pembengkakan dinding lateral faring sulit
menelan.
- Hipersalivasi dan trismus.
19.4. Terapi :
Idem abses pterygomandibularis.

20. Abses Postzygomaticus (Abses Fosa Pterygomaksilaris)
20.1. Pengertian :
20.1.1. Postzygomaticus abses adalah suatu infeksi supurasi (abses)
yang terjadi pada spasium postzygomaticus.
20.1.2. Spasium postzygomaticus adalah suatu spasium yg terletak di
dalam fosa pterygomaksilaris, yakni langsung diposterior os. maksila dan
os. malar.
20.1.3. Spasium postzygomaticus berisi prosesus koronoideus dan
perlekatan otottemporalis.
20.2. Perjalanan Abses :
- Idem abses infratemporalis meluas ke arah posterior abses
postzygomaticus.
- Penyebaran abses postzygomaticus selanjutnya adalah ke fosa
temporalis.
20.3. Gambaran Klinis :
- Idem abses infratemporalis, kecuali pembengkakan ekstra oral jelas,
terutama di regio periorbita.
- Oedema kelopak mata atas dan bawah mata tertutup.
20.4. Terapi :
Idem abses pterygomandibularis dan abses infratemporalis.

21. Abses Temporalis
21.1. Pengertian :
21.1.1. Abses temporalis adalah suatu infeksi supurasi (abses) yang
terjadi pada fosa temporalis.
21.1.2. Fosa temporalis adalah suatu dataran cekung os temporalis yang
terletak di sebelah atas prosesus zygomaticotemporalis.
21.1.3. Hal penting dalam perjalan abses, bahwa fosa ini berisi fasia
yang menutupi otot temporalis beserta aponeurosisnya.
21.2. Perjalanan Abses :
Merupakan perluasan dari abses infratemporalis & abses
postzygomaticus.
21.3. Gambaran klinis :
- Pembengkakan lunak diregio temporal, disertai fluktuasi & nyeri
tekan.
- Nyeri pada gerakan membuka dan menutup rahang.
- Trismus.
21.4. Terapi :
Idem abses lainnya, insisi ekstra oral di daerah fosa temporal.

22. Parafaringeal Abses
22.1. Pengertian :
22.1.1. Parafaringeal abses adalah suatu infeksi supurasi (abses) yang
terjadi pada spasium parafaringeal.
22.1.2. Spasium parafaringeal adalah spasium yg berbentuk kerucut,
mengecil ke arah bawah & terletak di sisi lateral faring, dengan batas-
batas sbb :
- Batas superior : merupakan basis dari kerucut yang terletak
pada basis kranii.
- Batas inferior : berupa ujung kerucut & bergabung dgn karotid
sheath.
- Batas anterior : otot konstriktor faringeus superior.
- Batas posterior : parotis, otot prevertebralis dan prosesus
stilloideus.
- Batas lateral : otot pterygoideus internus
- Batas medial : otot konstriktor faringeus (dinding lateral
faring).
22.1.3. Spasium parafaringeal dilewati oleh karotit sheath, KGB serta
struktur saraf lainnya.
22.2. Perjalanan Abses :
- Perikoronal abses gigi M 3 rahang bawah abses spasium
pterygomandibular abses parafaringeal.
- Infeksi akibat injeksi anestesi lokal blok mandibular langsung ke
dalam spasium pterygomandibular abses pterygomandibular
abses parafaringeal.
- Penyebaran lebih lanjut ke spasium retrofaringeal (arah posterior),
intrakranial (arah superior) dan mediastinum (arah inferior).
22.3. Gambaran Klinis :
- Nyeri hebat di orofaring.
- Keluhan nyeri menelan, kadang total tidak dapat menelan.
- Trismus, hingga menyulitkan pemeriksaan dan diagnosa.
- Pilar tonsil dan uvula terdorong ke medial.
- Gejala inflamasi lainnya disertai sepsis.
22.4. Diferensial Diagnosa :
Peritonsilar abses, regio tonsil bengkak dan meradang, tetapi tidak
atau jarang sekali disertai trismus.
22.5. Terapi :
Idem abses pterygomandibularis.

23. Penyebaran Abses Dentogen Lainnya
23.1. Lokasi :
- Peritonsilar. - Sinus paranasalis. - Spasium
retrofaringeal.
- Orbita. - Intrakranial. - Mediastinum.
23.2. Penanganan :
Tidak oleh bagian gigi & mulut, umumnya oleh bagian lainnya yg
berkaitan dgn lokasi abses.

























DAFTAR PUSTAKA

Marx RE, Stern D. 2003. Oral and Maxillofacial Pathology.Chicago: Quintessence
Publishing Co, Inc.& London : C.V. Mosby Co
Neville BW, Damn DD, Allen CM, Bouquot JE. Oral & Maxillofacial Pathology. 3nd
ed. 2009. Philadelphia:WB Saunders
Regezi JA, Sciubba JJ, Jordan RCK. Oral Pathology Clinical Pathologic
Correlations. 6th ed. 2012. Philadelphia: Saunders
http://potooloodental.blog.com/?p=437
http://www.scribd.com/doc/81582501/INFEKSI-ODONTOGEN
http://comingsoon-comingsoon.blogspot.com/2011/05/periapikal-diseases.html
http://gilangrasuna.wordpress.com/2010/06/01/patogenesa-pola-penyebaran-dan-
prinsip-terapi-abses-rongga-mulut/
http://www.scribd.com/doc/58749104/Abses