Anda di halaman 1dari 12

Review Paper

Analisa Manajemen pada GlaxoSmithKline Plc



Oleh:







Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia

Auliya Zulfatillah
Ayu Diar Sari
M. Alvin Andoko
Mukhyar
Salsa Andiani
1106012533
1106003781
1106006884
1106003301
1106075805

Statement of Authorship
Kami yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa tugas terlampir adalah murni
hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa
menyebutkan sumbernya. Materi ini belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk
tugas pada mata ajaran lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami
menggunakannya. Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat
diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata Ajaran : Tata Kelola Perusahaan (Corporate Govenance)
Judul Makalah/Tugas : Analisa Manajemen pada GlaxoSmithKline Plc
Tanggal : 23April 2014
Dosen : Prof. Sidharta Utama, Ph.D., CFA/Yan Rahadian S.E., M.S.Ak


Nama : Auliya Zulfatillah Nama : Ayu Diar Sari
NPM : 1106012533 NPM : 1106003781
Tandatangan : Tandatangan :

Nama : M. Alvin Andoko Nama : Mukhyar
NPM : 1106006884 NPM : 1106003301
Tandatangan : Tandatangan :

Nama : Salsa Andiani
NPM : 1106075805
Tandatangan :

Ringkasan Kasus
Glaxo Smith Kline (GSK) merupakan perusahaan multinasional yang bergerak dalam
industri obat-obatan atau farmasi. Selain itu, GSK juga memproduksi peralatan medis dan
barang komsumsi. Perusahaan ini berdiri pada tahun 2000 dan telah beroperasi di 70 negara.
Permasalah yangterjadi di GSK adalah kasus mengenai penyuapan perusahaan kepada
para dokter dan manajer rumah sakit di china. Penyuapan ini dilakukan agar para dokter
mengunakan produk-produk dari GSK dalam resep obatnya, hal ini tentunya mengharuskan
pasien untuk menebus obat GSK. Penyuapan terhadap manajer rumah sakit juga dilakukan
agar rumah sakit tersebut memprioritaskan produk GSK dibanding produk kompetitor lain.
Oleh karena itu penjualan dari obat-obat GSK meningkat tajam. Penggenjotan penjualan
melalui kerjasama dengan para dokter dan manajer rumah sakit ini berhasil meningkatkan
penjualan obat secara signifikan yakni menembus 20 persen atau sebesat 1 bilyun
poundsterling.
Penyuapan yang dilakukan oleh GSK ini dilakukan melalui travel agencies. Dalam
hal ini, travel agencies berlaku sebagai perantara perusahaan dengan dokter dan manajer
rumah sakit. Bentuk dari penyuapan ini dikemas dengan sistem reimbursement, yakni sebagai
biaya transporasi para dokter untuk melakukan konferensi atau simposium. Reimbursement
ini jumlahnya tidak terlalu material sehingga terlewatkan oleh pengawasan internal kontrol
dan pengawasan dari kantor pusat di Inggris. Penyuapan ini mengatasnamakan Countinuing
Medical Education (CME) yang selama ini merupakan area investasi dari perusahaan-
perusahaan obat untuk mendorong para dokter untuk menggunakan produk dari perusahaan
dengan melakukan pertemuan dengan para dokter. Program ini memfasilitasi para dokter
untuk menghadiri simposioum atau medical conferences. Disinilah peran dari travel agencies
sebagai perantara penyaluran suap seakan-akan ada biaya untuk transportasi para dokter
untuk konferensi, padahal kenyataannya banyak konferensi yang fiktif.
Setelah melalui beberapa proses hukum akhirnya kementrian Cina menjelaskan
bahwa terdapat keterlibatan senior eksekutif manajer GSK di bagian investasi dan senior
eksekutif dari travel agencies dalam kasus suap dan pelanggaran pajak. Selain itu juga
disampaikan oleh kementrian Cina bahwa beberapa eksekutif dari GSK selama ini banyak
menggungunakan fake value added tax receipts, fake receipts dari travel agencies, dan fake
generai receipts.

Analisis Kasus GlaxoSmithKline (GSK) berdasarkan Draft Pedoman Penerapan
Manajemen Risiko Berbasis Governance KNKG 2011
Berdasarkan pedoman yang diterbitkan oleh KNKG, manajemen resiko dipahami
sebagai sebuah disiplin yang mengajak kita untuk secara logis, konsisten dan sistematis
melakukan pendekatan terhadap ketidakpastian masa depan, sehingga memungkinkan kita
untuk secara lebih hati-hati (prudent) dan produktif menghindari hal-hal yang tidak
berguna karena membuang sumber daya secara tidak perlu dan mencegah hal-hal yang
merugikan atau bahkan meraup dan mengejar hal-hal yang bermanfaat. Manajemen resiko
berfokus pada kemungkinan kejadian yang akan terjadi di masa depan dan apa dampak dari
kejadian tersebut.
Manajemen resiko penting karena manajemen resiko merupakan salah satu elemen
dasar dari tata kelola perusahaan, manajemen risiko berperan dalam memberikan jaminan
yang wajar atas pencapaian sasaran keberhasilan usaha. Selain itu karena resiko merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari organisasi, maka pelaksanaan manajemen resiko menjadi
penting terutama dalam membantu perusahaan dalam memberikan jaminan terhadap
pencapaian organisasi dan juga menjamin keberlangsungan usahanya.
Melihat pada kasus promosi ilegal yang dilakukan GSK, hal ini menunjukkan bahwa
penerapan manajemen resiko yang ada pada salah satu perusahaan farmasi terbesar di dunia
itu sangat lemah. Segala sesuatu yang dilakukan oleh perusahaan yang melanggar peraturan
dimana perusahaan tersebut berdiri tentunya menyimpan sebuah resiko yang besar, baik
terkait dengan sumber daya perusahaan maupun dengan keberlangsungan usaha perusahaan.
Resiko terutama resiko terkait dengan hukum di sebuah Negara tentunya merupakan
resiko yang tidak sulit untuk dikenali. Di Amerika sejak tahun 1998 sampai dengan 2003,
GSK mempromosikan obat Paxil untuk mengobati depresi pada anak-anak meskipun obat ini
hanya disetujui untuk usia 18 tahun keatas. Tidak hanya sampai disitu, GSK juga
mempromosikan obat Wellbutrin dari Januari 1999 sampai Desember 2003 untuk
menurunkan berat badan, pengobatan disfungsi seksual, kecanduan, dan gangguan perhatian
defisit hiperaktif, meskipun hanya disetujui untuk pengobatan gangguan depresi berat.
Di Cina, sejumlah eksekutif GSK diselidiki oleh pihak berwenang terkait dengan
penyuapan terhadap terhadap pejabat dan para dokter untuk meningkatkan penjualannya.
Pada bulan juli 2013, kepolisian Cina mengatakan GSK mentransfer uang sebesar 3 miliar
yuan (US$489 juta) kepada sejumlah konsultan dan agen perjalanan untuk menyuap para
pejabat pemerintah, dokter, dan rumah sakit guna mendongkrak penjualan dan harga obat
mereka (BBC Indonesia). Sementara itu, empat orang eksekutif di GSK yang
berkewarganegaraan Cina telah ditahan sehubungan dengan tuduhan ini.
Skandal yang terjadi baik di Amerika maupun Cina merupakan tindakan perusahaan
yang risikonya seharusnya sudah dapat diprediksi sejak awal. Jika fungsi manajemen risiko
yang dijalankan oleh GSK berjalan dengan semestinya, maka seluruh resiko yang akan
dihadapi oleh GSK tidak akan terlalu berdampak negatif terhadap perusahaan. Jadi analisa
kami adalah manajemen resiko yang dilaksanakan oleh GSK tidak berjalan dengan optimal.

Keterkaitan Kasus Galaxo Smith Klane dan Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.I.7
Terjadinya kasus penyuapan yang dilakukan oleh manajemen Galaxo Smith
Klane(GSK) terhadap pihak dokter dan rumah sakit mengindikasikan lemahnya internal
kontrol perusahaan. Padahal, diketahui bahwa GSK mendatangkan 20 auditor internal setiap
tahunnya, namun ternyata para auditor internal masih tidak mampu untuk mendeteksi
terjadinya fraud di perusahaan.
Secara struktural, GSK sudah mematuhi regulasi bahwa setiap perusahaan publik
wajib memiliki unit auditor internal yang jumlahnya disesuaikan dengan kompleksitas
perusahaan tersebut. Fungsi keberadaan auditor internal ini adalah memberikan assurance
dan konsultasi yang bersifat independen dan obyektif, dengan tujuan untuk meningkatkan
nilai dan memperbaiki operasional perusahaan, melalui pendekatan yang sistematis, dengan
cara mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko, pengendalian, dan proses
tata kelola perusahaan. Sehingga, akan diperoleh laporan keuangan yang transparan dan
akurat, yang mampu menggambarkan kondisi finansial perusahaan yang sebenarnya.
Namun mengacu pada kasus ini, sekalipun terdapat unit auditor internal di GSK,
kasus penyuapan yang dilakukan oleh manajemennya tidak diketahui dan tertutupi dengan
rapi. Ada beberapa kemungkinan mengapa hasil audit auditor internal tidak mampu
menunjukkan fraud yang terjadi pada laporan keuangan GSK.
Kemungkinan pertama, unit auditor internal perusahaan tidak menjalankan tugasnya
sesuai peraturan yang berlaku. Disebutkan dalam Peraturan Bapepam-LK IX.I.7 bahwa unit
auditor internal bertugas dan bertanggung jawab antara lain dalam hal pengujian dan evaluasi
pelaksanaan pengendalian internal dan sistem manajemen risiko sesuai dengan kebijakan
perusahaan, serta malakukan pemeriksaan dan penilaian atas efisiensi dan efektivitas di
bidang keuangan, akuntansi, operasional, sumber daya manusia, pemasaran, dan teknologi
informasi. Dalam rangka menjalankan tugas tersebut, maka auditor internal diberi
kewenangan untuk mengakses seluruh informasi yang relevan tentang perusahaan terkait
dengan tugas dan fungsinya. Jika unit auditor internal telah menjalankan tugasnya dengan
baik, seharusnya terjadinya penyuapan dan transaksi fiktif dalam perusahaan bisa
diungkapkan. Para auditor internal memiliki akses terhadap semua informasi perusahaan,
serta berhak menggali informasi yang relevan dari direksi yang menyangkut seluruh kegiatan
perusahaan, termasuk yang tidak material. Bila terdapat sesuatu yang mencurigakan dalam
transaksi perusahaan, sekalipun transaksi itu tidak material, maka auditor internal perlu
melakukan investigasi lanjutan untuk menemukan bukti-bukti terkait. Hasil kinerja auditor
internal ini, dapat dibuktikan dari adanya risalah rapat berkala yang diadakan bersama dewan
direksi. Bila ternyata tidak ada risalah yang dicatat, memang benar kemungkinan bahwa unit
auditor internal perusahaan tidak menjalankan tugasnya.
Kemungkinan kedua, unit auditor internal tidak independen. Dalam menjalankan
tugasnya, seorang auditor, termasuk auditor internal harus menjunjung tinggi independensi.
Hal ini penting agar hasil audit yang dihasilkan objektif dan riil menggambarkan kondisi
perusahaan. Jika mengacu pada Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.I.7, seorang auditor
internal haruslah orang yang memiliki integritas dan perilaku yang profesional, independen,
jujur, dan obyektif dalam pelaksanaan tugasnya serta memahami prinsip-prinsip tata kelola
perusahaan yang baik dan manajemen risiko. Jika auditor internal tidak independen, maka
mereka akan cenderung memberikan penilaian yang subjektif, yang menguntungkan pihak-
pihak tertentu saja bukan untuk kepentingan perusahaan dan seluruh pemegang saham.
Terjadinya kasus penyuapan di GSK juga dapat terjadi akibat auditor internal tidak
independen. Dalam kasus ini GSK memang selalu mendatangkan 20 auditor internal, namun
tidak diketahui siapa pihak-pihak yang menjabat sebagai auditor internal, termasuk latar
belakang mereka, atau kemungkinan adanya hubungan istimewa antara auditor internal
dengan direksi serta pihak dokter dan rumah sakit, yang tentunya akan berdampak pada hasil
audit yang subjektif. Perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk membuktikan
independensi auditor internal.
Kemungkinan ketiga, pihak auditor internal bekerja sama dengan direksi dalam kasus
penyuapan sehingga adanya transaksi penyuapan dalam perusahaan sengaja ditutupi dan tidak
dimunculkan sebagai fraud dalam laporan keuangan. Hal ini mungkin saja terjadi dalam
perusahaan, mengingat tak satupun diantara keduapuluh auditor internal yang didatangkan
oleh GSK ada yang berhasil membuka kasus penyuapan tersebut. Kasus penyuapan ini benar-
benar tersimpan aman dan jauh dari perhatian publik, untuk itulah pihak pemeriksa wajib
mencurigai bahwa direksi dan auditor internal sedang malaksanakan kerjasama ilegal. Bila
hal ini benar-benar terjadi, maka berdasarkan ketentuan dalam peraturan pasar modal pihak-
pihak yang terkait dapat dikenakan sanksi pidana.
Strengthening Corporate Governance with Internal Audit
by Rick Julien and Larry Rieger
Paper yang dibuat Rick Julien dan Larry Rieger menjelaskan bahwa regulasi tata kelola
perusahaan sekarang ini memberikan peluang bagi internal audit untuk lebih aktif dan
menjadi strategic team player. Internal audit harus mampu mendukung CAE (Chief Audit
Executive) dalam setiap komponen tata kelola perusahaan. Kewajiban internal audit
meningkat seiring dengan meningkatnya regulasi yang ada, Internal audit diharapkan mampu
untuk meningkatkan control dan memperbaiki manajemen resiko perusahaan. Internal Audit
memiliki peran strategis di setiap aspek tata kelola perusahaan, sebagai berikut :
1. Mendukung komite audit dalam memenuhi tanggung jawabnya ;
2. Berpartisipasi dalam komite pengungkapan organisasi;
3. Meninjau efektivitas kode organisasi perilaku, kebijakan etika,
dan ketentuan whistle blower;
4. Membantu menilai risiko dan mengukur kinerja seluruh organisasi;
5. Pemantauan kegiatan tata kelola perusahaan dan kepatuhan terhadap kebijakan
organisasi
6. Memfasilitasi dan meningkatkan komunikasi dengan CEO,
penasihat umum, kepala keuangan, kepala kantor informasi, dan pengawasan lainnya
eksekutif; dan
7. Mengevaluasi efektivitas kegiatan tata kelola perusahaan dan merekomendasikan area
untuk perangkat tambahan.
Sebuah penelitian yang dilakukan di University of Michigan Business School
menunjukkan adanya hubungan yang erat antara tata kelola perusahaan yang efektif dan
peluang investasi yang tinggi. Dalam hal ini peran Internal Auditor sangat strategis. Selain
itu, paper ini menjelaskan peran Internal Audit yang efektif dalam mendukung tata kelola
perusahaan yang dijelaskan melalui The Crowe Corporate Governance Framework.
Bila dikaitkan dengan kasus yang terjadi
pada GlaxoSmithKline, Internal Audit gagal
dalam mendeteksi adanya fraud yang telah
disusun sedemikian rupa ini. Keempat orang
eksekutif GSK telah ditahan sehubungan kasus
suap yang melibatkan lebih dari 700 agen
perjalanan, konsultan, dokter dan rumah sakit.
Peran Internal Audit sangat strategis dalam
menghadapi kasus semacam ini, belum lagi
karakteristik perusahaan yang berlokasi di China memang memiliki tantangan tersendiri
dalam menjalankan tata kelola perusahaan yang baik. Pada framework Business Practices &
Ethics, Internal Audit harus memverifikasi secara periodic apakah tindakan atau keputusan
yang dibuat manajemen dalam menjalankan perusahaan telah mematuhi aturan etika yang
telah dibuat. GSK juga dikehatuhi terjerat kasus hukum karena memasarkan 13 jenis obat-
obatan secara tak semestinya pada 2009. GSK dinyataka telah memasarkan obat antidepresi
Paxil pada pasien di bawah usia 18 tahun, padahal obat ini hanya dibolehkan untuk orang
dewasa. Selain itu, GSK juga memasarkan obat Wellbutrin untu tujuan yang tidak disetujui
otoritas kesehatan, termasuk untuk menurunkan berat badanan terapi disfungsi seksual.
Pelanggaran yang lebih mencengangkan lagi, GSK mempromosikan obat-obatnya dengan
menyebar artikel jurnal kesehatan yang menyesatkan dan menyediakan dokter fasilitas makan
dan spa.
Survei terbaru yang dilakukan oleh Chinese medical Association menunjukkan sekitar 54
persen dokter di China mengaku telah menerima suap dari perusahaan farmasi untuk
penjualan obat. Hal tersebut menunjukkan bahwa fungsi sentral Internal Audit bila dilakukan
sebagaimana mestinya, mampu mencegah terjadinya kasus-kasus semacam itu terjadi.
Dalam framework Enterprise Risk management, Internal Audit dapat berperan aktif
dengan mengidentifikasi area-area yang memiliki resiko penting terkait siklus kerja
perusahaan. Banyak perusahaan farmasi memilih China sebagai lokasi dalam melakukan
penelitian, alasannya tak lain karena membangun perusahaan farmasi di China membutuhkan
biaya yang sangat rendah dibandingkan negara lain. Internal audit dalam hal ini seharusnya
menyadari bahwa pemilihan lokasi China karena rendahnya biaya yang dibutuhkan, berarti
memiliki resiko yang besar juga. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa peluang fraud di
China lebih besar dibanding di tempat lainnya karena berbagai alasan. Oleh karena itu,
Internal Audit harus lebih sigap dalam menghadapi industry yang memiliki resiko besar
dengan mengetatkan sistem evaluasi.
Kasus suap yang dilakukan kepada sejumlah rumah sakit dan dokter malalui travel agent,
menunjukkan bahwa Internal Audit GSK gagal mendeteksi fraud ini meski telah dilakukan
prosedur sebagaimana mestinya. Pihak GSK pusat bahkan telah melakukan Internal Audit
yang menyimpulkan bahwa tidak terdapat kejanggalan pada GSK di China, padahal
setelahnya pihak GSK China melalui ekskutifnya mengakui telah melakukan penyuapan. Hal
tersebut menunjukkan bahwa Internal Audit memiliki tantangan yang lebih berat lagi dalam
menjalankan fungsinya sehingga mampu memastikan perusahaan melakukan usahanya sesuai
koridor peraturan yang ada.
Internal Audit seharusnya dapat menjaga komunikasi yang baik dengan komite audit
secara periodic, tentunya hal tersebut dilakukan untuk memastikan monitoring manajemen
perusahaan berlangsung dengan baik. Bagi perusahaan yang berlokai di China, kendala
bahasa menjadi salah satu alasan yang menyebabkan fraud rentan terjadi. Oleh karena itu,
Internal Audit memiliki peranan yang penting untuk menjaga komunikasi yang baik dengan
CFO untuk menilai kinerja perusahaan pada periode tersebut. Komunikasi yang baik akan
meningkatkan perbaikan yang signifikan dalam menyempurnakan sistem monitoring
perusahaan. Melibatkan seluruh komponen tata kelola perusahaan bersama Internal Audit
dapat menjadi upaya mengurangi terjadinya fraud.

Keterkaitan Paper IIA: Peran Audit Internal dalam ERM terhadap Kasus
GlaxoSmithKline Plc
Perusahaan yang menjalankan operasi bisnis dan memiliki tujuan untuk mencapai
goals tertentu pada suatu saat akan berhadapan dengan halangan yaitu risiko. Risiko bisnis
timbul berkenaan dengan isu sosial, etika, lingkungan serta finansial dan operasional
perusahaan. Dengan memanfaatkan kelebihan perusahaan melalui sumber daya yang
dimilikinya, perusahaan dituntut untuk meminimalisir bahkan jika memungkinkan
menghilangkan risiko yang dapat merugikan perusahaan dan stakeholders. Oleh karenanya,
dibutuhkan suatu pengelolaan risiko yang baik seperti halnya ERM (Enterprise Risk
Management), dimana proses pengelolaan risiko dijalankan secara terstruktur, konsisten dan
berkesinambungan di seluruh organisasi untuk mengidentifikasi, menilai, menentukan
tanggapan dan melaporkan peluang dan ancaman yang mempengaruhi pencapaian tujuan.
Secara keseluruhan, para dewan baik direksi maupun komisaris bertanggungjawab
memastikan bahwa risiko telah dikelola dengan baik oleh manajemen perusahaan. Audit
internal memegang peranan penting dalam memberikan informasi kepada dewan. Pertama,
audit internal melakukan penilaian obyektif, apakah manajemen telah melakukan tugasnya
secara seksama dalam mengelola risiko bisnis utama. Kedua, memastikan bahwa kerangka
kerja kontrol internal berjalan dengan efektif.
Praktek ERM yang baik mengharuskan peran audit internal untuk mencakup beberapa
aktivitas sebagai berikut: (1) Mereview pengelolaan risiko utama; (2) Mengevaluasi
pelaporan risiko utama; (3) Mengevaluasi proses pengelolaan risiko; (4) Memastikan bahwa
risiko telah dievaluasi secara benar; (5) Memastikan proses pengelolaan risiko berjalan
dengan baik.
Kasus yang dialami oleh GSK Plc China merupakan salah satu model
penanggulangan risiko yang buruk. GSK Plc dihadapkan pada suatu kondisi dimana
perusahaan harus menghasilkan profit dengan keterbatasan sumber daya yang dimilikinya
serta ancaman dari luar yaitu kompetitor. Akibatnya, muncul risiko bisnis gagal mencapai
target profit yang ingin dicapai perusahaan atau yang lebih buruk perusahaan merugi. Dengan
motif seperti itu, melibatkan beberapa manajer senior dan juga manajer travel agency,
perusahaan kemudian melakukan tindak penyuapan kepada dokter dan pejabat rumah sakit
untuk memprioritaskan penggunaan produk-produknya sehingga profit perusahaan pun
meningkat tajam.
Pada dasarnya, travel agency dijadikan kamuflase oleh perusahaan unntuk
memberikan suap bagi dokter. Caranya yaitu dengan menyalurkan dana transportasi dan
akomodasi bagi para dokter untuk mengikuti penyuluhan medis yang sebenarnya tidak ada.
Hal ini yang kemudian luput oleh kontrol internal perusahaan, dimana sistem check and
balance tidak berjalan dengan baik. Nominal pengeluaran yang tidak sedikit yaitu sebesar
$489 juta untuk biaya perjalanan seharusnya dapat mengirimkan tanda bagi kontrol internal
untuk memastikan dana digunakan dengan benar.
Peran audit internal dalam kaitannya dengan pelaksanaan ERM semestinya
melakukan setidaknya beberapa poin dari lima poin yang telah disebutkan. Contohnya poin
(5) Perusahaan memastikan proses pengelolaan risiko berjalan dengan baik. Kaitannya
adalah akibat dikeluarkannya jumlah uang yang signifikan oleh perusahaan, audit internal
harus mempertimbangkan risiko bahwa uang tersebut digunakan untuk hal yang tidak sesuai
dengan pelaporannya. Sistem check and balance harus dijalankan secara efektif. Menurut
informasi dari beberapa artikel, perusahaan GSK Plc juga memalsukan beberapa dokumen
tanda terima termasuk dari travel agency, PPN, dan lainnya. Internal audit sebaiknya
meningkatkan standar pengecekan bukti-bukti agar atas penggunaan dana tersebut dapat
dipastikan kebenarannya. Disisi lain, audit internal juga memiliki peran untuk memberikan
informasi kepada dewan direksi dan komisaris. Seperti yang diketahui, selaku pengawas
dewan komisaris tentunya memiliki tanggungjawab terutama kepada shareholders apabila
keputusan stratejik maupun operasional yang dilakukan perusahaan melanggar hukum. Jadi
untuk kasus GSK Plc di China terkait penyuapan, peran audit internal harus dijalankan lebih
baik dalam mempraktekkan ERM yang optimal.

Referensi:
BBC Indonesia. 18 Juli 2013. Cina mencekal petinggi GlaxoSmithKline. Sumber:
http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/07/130718_bisnis_glaxosmithkline.shtml
(Diakses pada 20 April 2014, Pukul 16.00 WIB)
BBC Indonesia. 11 Juli 2003. Penyelidikan suap eksekutif perusahaan obat GSK di Cina.
Sumber: http://www.Bbc.Co.Uk/Indonesia/Dunia/2013/07/130711_Glaxocina.Shtml
(Diakses pada 20 April 2014, pukul 16.00 WIB).
CFO Innovation Asia. 15 Agustu7s 2013. GSK Scandal: Spotlight on Internal Control in
China. Sumber: http://Www.Cfoinnovation.Com/Content/Gsk-Scandal-Spotlight-Internal-
Control-China (Diakses pada 20 April 2014, pukul 17.00 WIB)
Crowe Horwarth. 2011. Strengthening Corporate Governance With Internal Audit.
IIA Position Paper. 2009. The Role of Internal Auditing in Enterprise-Wide Risk
Management.
KNKG. 2011. Draft Pedoman Penerapan manajemen risiko Berbasis governance.
Kontan. 16 Juli 2013. GlaxoSmithKline China terjerat Kasus Suap. Sumber:
http://internasional.kontan.co.id/news/glaxosmithkline-china-terjerat-kasus-suap (Diakses
pada 20 April 2014, pukul 17.00 WIB)
Reuters. 19 Juli 2013. How GlaxoSmithKline missed red flags in China. Sumber:
http://www.reuters.com/article/2013/07/19/us-gsk-china-redflags-idUSBRE96I0L420130719
(Diakses pada 20 APril 2014, pukul 17.00 WIB)
Tempo.Co. 3 Juli 2012. Lakukan Promosi Ilegal, Pabrik Obat Glaxo Didenda. Sumber:
http://www.tempo.co/read/news/2012/07/03/116414403/Lakukan-Promosi-Ilegal-Pabrik-
Obat-Glaxo-Didenda (Diakses pada 20 April 2014, pukul 16.00 WIB)
VOA Indonesia. 30 Juli 2013. Skandal Ungkap Permasalahan Layanan Kesehatan di China.
Sumber: http://www.voaindonesia.com/content/skandal-ungkap-masalah-layanan-kesehatan-
china/1713083.html (Diakses pada 20 April 2014, pukul 20.00 WIB)