Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH DASAR-DASAR AGRONOMI

REVOLUSI HIJAU
Dibuat oleh:
1. Nicki Trias Pamungkas A44120034
2. Anita Lestari Putri A44120035
3. Fadli Tariaz Dwi L. A44120037
4. Nurlita Btari Fatimah A44120038
5. Sandra Devi Maharani A44120040
6. Fadhilatul Ihsan A44120041
7. Annisa Rachma A44120042
8. Ismi Zainati A44120043
9. Fitri Ramadhaini A44120044
10. Susana Yokhebed S. A44120045
11. Hidayatun Nisa A44120098
Latar Belakang Revolusi Hijau
Revolusi Hijau adalah sebutan tidak resmi yang dipakai untuk
menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya
pertanian yang dimulai pada tahun 1950-an hingga 1980-an di banyak negara
berkembang, terutama di Asia. Hasil yang nyata adalah tercapainya swasembada
(kecukupan penyediaan) sejumlah bahan pangan di beberapa negara yang
sebelumnya selalu kekurangan persediaan pangan (pokok),
seperti India, Bangladesh, Tiongkok, Vietnam, Thailand, serta Indonesia, untuk
menyebut beberapa negara. Norman Borlaug, penerima penghargaan Nobel
Perdamaian 1970, adalah orang yang dipandang sebagai konseptor utama gerakan
ini. Revolusi hijau diawali oleh Ford dan Rockefeller Foundation, yang
mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina (1960). Konsep
Revolusi Hijau yang di Indonesia dikenal sebagai gerakan Bimas (bimbingan
masyarakat) adalah program nasional untuk meningkatkan produksi pangan,
khususnya swasembada beras. Tujuan tersebut dilatarbelakangi mitos bahwa beras
adalah komoditas strategis baik ditinjau dari segi ekonomi, politik dan sosial.
Gerakan Bimas berintikan tiga komponen pokok, yaitu penggunaan teknologi
yang sering disabut Panca Usaha Tani, penerapan kebijakan harga sarana dan
hasil reproduksi serta adanya dukungan kredit dan infrastruktur. Gerakan ini
berhasil menghantarkan Indonesia pada swasembada beras.
Revolusi hijau diawali oleh Ford dan Rockefeller Foundation, yang
mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina (1960). Revolusi
hijau menekankan pada SEREALIA: padi, jagung, gandum, dan lain-lain.
(serealia adalah tanaman biji-bijian)
Revolusi hijau mendasarkan diri pada empat pilar penting yaitu:
1. penyediaan air melalui sistem irigasi,
2. pemakaian pupuk kimia secara optimal,
3. penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu, dan
4. penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas.
Melalui penerapan teknologi non-tradisional ini, terjadilah peningkatan
hasil tanaman pangan berlipat ganda dan memungkinkan penanaman tiga kali
dalam setahun untuk padi pada tempat-tempat tertentu.
Revolusi Hijau di Indonesia
Revolusi Hijau di Indonesia di mulai sejak berlakunya UU Agraria pada
tahun 1870 yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda, sehingga di
Indonesia dapat dikembangkan berbagai jenis tanaman. Dalam perkembangan
kemudian, pada masa Orde Baru, program Revolusi Hijau
digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan produksi pangan di
Indonesia, terutama produksi beras. Revolusi Hijau ini dilaksanakan sebagai
secara sistematis, terprogram, dan terus menerus sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan Indonesia mampu
meningkatkan swasembada pangan yaitu penghasil beras sehingga Presiden
Soeharto mendapat penghargaan Nobel.
Usaha yang dilakukan pemerintah Orde Baru untuk meninggatkan
swaembada pangan nasional yaitu:
a. Program Bimbingan Massal (Bimas) untuk meningkatkan produksi beras.
b. Program Intensifikasi Massal (Inmas) yang merupakan kelanjutan Bimas.
c. Program Intensifikasi Khusus (Insus) yang merupakan upaya peningkatan
produksi per unit.
d. Program Supra Intensifikasi Khusus (Supra Insus) yang dapat meningkatkan
swasembada beras.
Program-program di atas dikembangkan melalui intensifikasi pertanian,
yaitu upaya peningkatan produksi per unit dan eksensifikasi, yaitu upaya
perluasan areal pertanian.
Revolusi Hijau di Indonesia diformulasikan dalam konsep Pancausaha
Tani dan Saptausaha Tani. Pancausaha Tani mamiliki langkah-langkah yaitu:
a. Pemilihan dan penggunaan bibit unggul atau varietas unggul.
b. Pempukukan yang teratur.
c. Pengairan yang cukup.
d. Pemberantasan hama secara intensif
e. Teknik penanaman yang lebih teratur
Untuk meningkatkan produksi pangan d an produksi pertanian umumnya
dilakuan dengan empat usaha pokok, yaitu sebagai berikut:
a. Intensifikasi pertanian : usaha meningkatkan produksi pertanian dengan
menerapkan panca usaha tani.
b. Ekstensifikasi pertanian : usaha meningkatkan produksi pertanian dengan
membuka lahan baru termasuk usaha penangkapan ikan dan penanaman
rumput untuk makanan tenak.
c. Diversifikasi pertanian : usaha meningkatkan produksi pertanian dengan
keanekaragaman usaha tani.
d. Rehabilitasi pertanian : usaha meningkatkan produksi pertanian dengan
pemulihan kemampuann daya produktivitas sumber daya pertanian yang
sudah kritis.
Sedangkan Saptasauna Tani memiliki langkah-langkah serupa Pancausaha
Tani ditambah pengolahan dan penjualan pascapanen.
Revolusi Hijau di Indonesia memiliki beberapa keuntungan dan
kelemahan bagi masyarakat Indonesia yaitu:
a. Keuntungan:
1) Masalah pangan nasional teratasi.
2) Mengenal aneka jenis tanaman.
3) Ditemukan bibit unggul.
4) Kesejahteraan petani makin baik.
5) Pendapatan petani meningkat.
b. Kelemahan:
1) Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pengunaan pupuk buatan dan
pestisida hijau secara berlebihan.
2) Berkurangnya keanekaragaman genetika jenis tanaman tertentu.
3) Kemampuan daya produksi tanah makin turun.
4) Timbul urbanisasi.
5) Pencemaran tanah.
Adapun usaha yang dilakukan pemerintah Orde Baru untuk membatasi kelemahan
di atas adalah dengan cara:
1) Membasmi serangga dan hama tanaman secara biologi.
2) Menggunakan pupuk buatan, yaitu pupuk kandang dan pupuk hijau.
3) Menerapkan sistem rotasi tanam, yaitu menanam tanaman secara bergantian.
Dampak Revolusi Hijau dan Industrialisi bagi Masyarakat Indonesia pada
Masa Orde Baru
Kebijakan modernisasi pertanian di Indonesia pada masa Orde Baru, yang
sering dikenal dengan sebutan Revolusi Hijau merupakan proses
memodernisasikan pertanian gaya lama menjadi pertanian gaya modern dengan
melakukan pengembangan bibit unggul jenis IR dari IRRI. Hal ini telah
mengubah pola pertanian subsistensi menuju pertanian berbasis kapital dan
komersial. Untuk mendukung komersial tersebut, dilakukan dengan cara
pembangunan sistam ekonomi modern, pembangunan pabrik pupuk nasional, dan
pendirian Koperasi Unit Desa (KUD). Pelaksanaan Revolusi Hijau dan
industrialisasi di Indonesia memberikan dampak positif dan negatif yaitu,
a. Dampak Positif
1) Lapangan pekerjaan, khususnya pertanian lebih terbuka.
2) Lahan pertanian menjadi luas.
3) Pendapatan para petani mengalami peningkatan, tercapainya efisiensi, dan
efektivitas dalam pengelolaan pertanian.
4) Peningkatan kualitas hasil pertanian.
5) Peningkatan kualitas hasil produksi dan penjualan hasil pertanian.
b. Dampak Negatif
1) Munculnya kesenjangan sosial antara petani kaya dan miskin akibat
perbedaan ekonomi.
2) Sistem kekerabatan pada masing-masing lapisan masyarakat mulai memudar.
3) Masyarakat memiliki budaya industri yang berupa budaya konsumtif.
4) Munculnya kesengajaan ekonomi yang nampak dari adanya kemiskinan,
kemelaratan, tingkat kriminalitas yang tinggi, dan kenakalan remaja.
5) Pencemaran lingkungan yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
(Anonim). 2013. Revolusi Hijau di Indonesia [terhubung berkala]
http://mujtahid269.blogspot.com/2013/07/revolusi-hijau-di-indonesia.html (23
Desember 2013)
(Anonim). 2013. Revolusi Hijau [terhubung berkala]
http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Hijau (23 Desember 2013)