Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

Trauma maksilofasial merupakan trauma fisik yang dapat mengenai
jaringan keras dan lunak wajah. Penyebab trauma maksilofasial bervariasi,
mencakup kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma
akibat senjata api. Trauma pada wajah sering mengakibatkan terjadinya
gangguan saluran pernafasan, perdarahan, luka jaringan lunak, hilangnya
dukungan terhadap fragmen tulang dan rasa sakit. Oleh karena itu, diperlukan
perawatan kegawatdaruratan yang tepat dan secepat mungkin.
Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab dengan persentase yang tinggi
terjadinya kecacatan dan kematian pada orang dewasa secara umum dibawah
usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya mengenai batas usia 21-30 tahun.
Berdasarkan studi yang dilakukan, 72% kematian oleh trauma maksilofasial
paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Pasien dengan kecelakaan
lalu lintas yang fatal harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan dapat
mengalami cacat permanen. Oleh karena itu, diperlukan perawatan
kegawatdaruratan yang tepat dan secepat mungkin.
Cedera maksilofasial, juga disebut sebagai trauma wajah, meliputi cedera
pada wajah, mulut dan rahang. Hampir setiap orang pernah mengalami seperti
cedera, atau mengetahui seseorang yang memiliki.
Sebagian besar fraktur yang terjadi pada tulang rahang akibat trauma
maksilofasial dapat dilihat jelas dengan pemeriksaan dan perabaan serta
menggunakan penerangan yang baik. Trauma pada rahang mengakibatkan
terjadinya gangguan saluran pernafasan, perdarahan, luka jaringan
lunak,hilangnya dukungan terhadap fragmen tulang dan rasa sakit. Namun,
trauma pada rahang jarang menimbulkan syok dan bila hal tersebut terjadi
mungkin disebabkan adanya komplikasi yang lebih parah, seperti pasien dengan
kesadaran yang menurun tidak mampu melindungi jalan pernafasan dari darah,
patahan gigi.
Kedaruratan trauma maksilofasial merupakan suatu penatalaksanaan
tindakan darurat pada orang yang baru saja mengalami trauma pada daerah
maksilofasial (wajah). Penatalaksanaan kegawatdaruratan pada trauma
maksilofasial oleh dokter umum hanya mencakup bantuan hidup dasar (basic
life support) yang berguna menurunkan tingkat kecacatan dan kematian pasien
sampai diperolehnya penanganan selanjutnya di rumah sakit. Oleh karena itu,
para dokter umum harus mengetahui prinsip dasar ATLS (Advance Trauma Life
Support) yang merupakan prosedur-prosedur penanganan pasien yang
mengalami kegawatdaruratan.
Prinsip-prinsip untuk mengobati patah tulang wajah adalah sama seperti
untuk patah lengan atau kaki. Bagian-bagian dari tulang harus berbaris
(dikurangi) dan ditahan dalam posisi cukup lama untuk memungkinkan mereka
waktu untuk menyembuhkan. Ini mungkin membutuhkan enam minggu atau
lebih tergantung pada usia pasien dan kompleksitas fraktur itu.
Menghindari cedera merupakan hal yang terbaik, ahli bedah mulut dan
maksilofasial menganjurkan penggunaan sabuk pengaman mobil, penjaga
pelindung mulut, dan masker yang tepat dan helm untuk semua orang yang
berpartisipasi dalam kegiatan atletik di tingkat manapun.





































BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Definisi Trauma Maksilofasial

Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan
jaringan sekitarnya. Trauma pada jaringan maksilofasial dapat mencakup
jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah
adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang
dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari :
tulang hidung, tulang arkus zigomatikus, tulang mandibula, tulang maksila,
tulang rongga mata, gigi, tulang alveolus. Yang dimaksud dengan trauma jaringan
lunak antara lain :
1. Abrasi kulit, tusukan, laserasi, tato.
2. Cedera saraf, cabang saraf fasial.
3. Cedera kelenjar parotid atau duktus Stensen.
4. Cedera kelopak mata.
5. Cedera telinga.
6. Cedera hidung.

2.2 Anatomi Maksilofasial
Pertumbuhan kranium terjadi sangat cepat pada tahun pertama dan kedua
setelah lahir dan lambat laun akan menurun kecepatannya. Pada anak usia 4-5
tahun, besar kranium sudah mencapai 90% cranium dewasa. Maksilofasial tergabung
dalam tulang wajah yang tersusun secara baik dalam membentuk wajah
manusia.
Daerah maksilofasial dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah
wajah bagian atas, di mana patah tulang melibatkan frontal dan sinus. Bagian
kedua adalah midface tersebut. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bawah.
Para midface atas adalah di mana rahang atas Le Fort II dan III Le Fort fraktur
terjadi dan / atau di mana patah tulang hidung, kompleks nasoethmoidal atau
zygomaticomaxillary, dan lantai orbit terjadi. Bagian ketiga dari daerah
maksilofasial adalah wajah yang lebih rendah, di mana patah tulang yang
terisolasi ke rahang bawah.
1


Gambar 1. Anatomi Maksilofasial.

Tulang pembentuk wajah pada manusia bentuknya lebih kecil dari
tengkorak otak. Didalam tulang wajah terdapat rongga-rongga yang
membentuk rongga mulut (cavum oris), dan rongga hidung (cavum nasi) dan rongga
mata(orbita).
3

a. Bagian hidung terdiri atas :
Os Lacrimal (tulang mata) letaknya disebelah kiri/kanan pangkal hidung disudut
mata. Os Nasal (tulang hidung) yang membentuk batang hidung sebelahatas.
Dan Os Konka nasal (tulang karang hidung), letaknya di dalam ronggahidung
dan bentuknya berlipat-lipat. Septum nasi (sekat rongga hidung)
adalahsambungan dari tulang tapis yang tegak.
3,4


b. Bagian rahang terdiri atas tulang-tulang seperti :
Os Maksilaris (tulang rahang atas), Os Zigomaticum, tulang pipi yangterdiri
dari dua tulang kiri dan kanan. Os Palatum atau tulang langit-langit, terdiridari
dua dua buah tulang kiri dan kanan. Os Mandibularis atau tulang rahangbawah,
terdiri dari dua bagian yaitu bagian kiri dan kanan yang kemudian bersatudi
pertengahan dagu. Dibagian depan dari mandibula terdapat processus coracoids
tempat melekatnya otot.
3,4



Facial danger zones (Zona bahaya wajah)
Secara anatomi, wajah memiliki beberapa serabut-serabut saraf yang tersebar di
beberapa lokasi di wajah, ada 7 lokasi-lokasi penting di sekitar wajah yang
apabila terjadi trauma atau kesalahan dalam penanganan trauma maksilofasial
akan berakibat fatal, lokasi-lokasi tersebut disebut dengan facial danger zone.
3,6


Gambar 2. Facial Danger Zones

2.3 Epidemiologi
Dari data penelitian itu menunjukan bahwa kejadian trauma maksilofasial
sekitar 6% dari seluruh trauma yang ditangani oleh SMF Ilmu Bedah RS
Dr.Soetomo. Kejadian fraktur mandibula dan maksila terbanyak diantara 2
tulang lainnya, yaitu masing-masing sebesar 29,85 %, disusul fraktur zigoma
27,64 % danfraktur nasal 12, 66 %. Penderita fraktur maksilofasial ini terbanyak
pada laki-laki usia produktif,yaitu usia 21-30 tahun, sekitar 64,38 % disertai
cedera di tempat lain, dan trauma penyerta terbanyak adalah cedera otak ringan
sampai berat, sekitar 56%. Penyebab terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas
dan sebagian besar adalah pengendara sepeda motor.
1,4


2.4 Etiologi Trauma Maksilofasial
Trauma wajah di perkotaan paling sering disebabkan oleh perkelahian,
diikuti oleh kendaraan bermotor dan kecelakaan industri. Para zygoma dan
rahang adalah tulang yang paling umum patah selama serangan. Trauma wajah
dalam pengaturan masyarakat yang paling sering adalah akibat kecelakaan
kendaraan bermotor, maka untuk serangan dan kegiatan rekreasi. Kecelakaan
kendaraan bermotor menghasilkan patah tulang yang sering
melibatkan midface, terutama pada pasien yang tidak memakai sabuk pengaman
mereka. Penyebab penting lain dari trauma wajah termasuk trauma penetrasi,
kekerasan dalam rumah tangga, dan pelecehan anak-anak dan orang tua.
1,3,4

Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah
karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat
mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72%
kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan
lalu lintas (automobile).
3,4


Berikut ini tabel etiologi trauma maksilofasial :


Penyebab pada
orang dewasa
Persentase (%)
Kecelakaan lalu
lintas
40-45

Penganiayaan /
berkelahi

10-15

Olahraga 5-10

Jatuh

5
Lain-lain 5-10



Penyebab pada
orang anak
Persentase (%)
Kecelakaan lalu
lintas
10-15

Penganiayaan /
berkelahi

5-10

Olahraga (termasuk
naik sepeda)
50-65

Jatuh

5-10



2.5 Klasifikasi Trauma Maksilofasial
Trauma maksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma
jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak
biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan
lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian.
3


2.5.1 Trauma jaringan lunak wajah

Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena
trauma dari luar.
Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan :
3,5

1. Berdasarkan jenis luka dan penyebab:
a. Ekskoriasi
b. Luka sayat, luka robek , luka bacok.
c. Luka bakar
d. Luka tembak
2. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan
3. Dikaitkan dengan unit estetik
Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis Langer.


Gambar 3. (A) Laserasi yang menyilang garis Langer tidak menguntungkan
mengakibatkan penyembuhan yang secara kosmetik jelek. B. Insisi fasial
ditempatkan sejajar dengan garis Langer

2.5.2 Trauma jaringan keras wajah
Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang
terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara umum dilihat
dari terminologinya, trauma pada jaringan keras wajah dapat diklasifikasikan
berdasarkan :
3

1. Dibedakan berdasarkan lokasi anatomic dan estetik.a
a. Berdiri Sendiri : fraktur frontal, orbita, nasal, zigomatikum, maxilla,
mandibulla, gigi dan alveolus.
b. Bersifat Multiple : Fraktur kompleks zigoma, fronto nasal dan fraktur kompleks
mandibula

Gambar 4. A. Fraktur kompleks zygomaticomaxillaris yang biasa kearah
inferomedial. B. Stabilisasi fraktur pada sutura zygomaticofrontalis

Gambar 5. Fraktur pada daerah mandibula : A. Dento-alveolar B. Kondilar C.
Koronoid D. Ramus E. Angulus F. Corpus G. Simfisis H. Parasimfisis

2. Berdasarkan Tipe fraktur :
9

a. Fraktur simpel
Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya pada kondilus,
koronoideus, korpus dan mandibula yang tidak bergigi.
Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut.
Termasukgreenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang, terutama pada anak dan
jarang terjadi.

b. Fraktur kompoun
Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak.
Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi, dan hampir
selalu tipe fraktur kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut,
bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit.

c. Fraktur komunisi
Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti
peluru yang mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang kecil atau
remuk.
Bisa terbatas atau meluas, jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan
kerusakan tulang dan jaringan lunak.

d. Fraktur patologis
keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang,
seperti Osteomyelitis, tumor ganas, kista yang besar dan penyakit tulang
sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur spontan.

3. Perluasan tulang yang terlibat
3,9

1. Komplit, fraktur mencakup seluruh tulang.
2. Tidak komplit, seperti pada greenstik, hair line, dan kropresi ( lekuk )

4 . Konfigurasi ( garis fraktur )
7,9

1. Tranversal, bisa horizontal atau vertikal.
2. Oblique ( miring )
3. Spiral (berputar)
4. Komunisi (remuk)

5. Hubungan antar Fragmen
3

1. Displacement, disini fragmen fraktur terjadi perpindahan tempat
2. Undisplacement, bisa terjadi berupa :
a. Angulasi / bersudut
b. Distraksi
c. Kontraksi
d. Rotasi / berputar
e. Impaksi / tertanam

Pada mandibula, berdasarkan lokasi anatomi fraktur dapat mengenai daerah :
8

a. Dento alveolar
b. Prosesus kondiloideus
c. Prosesus koronoideus
d. Angulus mandibula
e. Ramus mandibula
f. Korpus mandibula
g. Midline / simfisis menti
h. Lateral ke midline dalam regio insisivus

6. Khusus pada maksila fraktur dapat dibedakan :
5,9

a. Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita)
b. Fraktur Le Fort I, Le Fort II, dan Le Fort III
c. Fraktur segmental mandibula


Gambar 6. (A). I Le Fort I, II Le Fort II, III Le Fort III (pandangan anterior) (B).
I Le Fort I, II Le Fort II, III Le Fort III (pandangan sagital)

2.6 Patofisiologi Trauma Maksilofasial
1

Kehadiran energi kinetik dalam benda bergerak adalah fungsi dari massa
dikalikan dengan kuadrat kecepatannya. Penyebaran energi kinetik saat
deselerasi menghasilkan kekuatan yang mengakibatkan cedera. Berdampak
tinggi dan rendah-dampak kekuatan didefinisikan sebagai besar atau lebih kecil
dari 50 kali gaya gravitasi. Ini berdampak parameter pada cedera yang
dihasilkan karena jumlah gaya yang dibutuhkan untuk menyebabkan kerusakan
pada tulang wajah berbeda regional. Tepi supraorbital, mandibula (simfisis dan
sudut), dan tulang frontal memerlukan kekuatan tinggi-dampak yang akan
rusak. Sebuah dampak rendah-force adalah semua yang diperlukan untuk
merusak zygoma dan tulang hidung.
1


Patah Tulang Frontal : ini terjadi akibat dari pukulan
berat pada dahi. Bagiananterior dan / atau posterior sinus frontal mungkin
terlibat. Gangguan lakrimasi mungkin dapat terjadi jika dinding posterior sinus
frontal retak. Duktus nasofrontal sering terganggu.

Fraktur Dasar Orbital : Cedera dasar orbital dapat menyebabkan suatu fraktur
yang terisolasi atau dapat disertai dengan fraktur dinding medial. Ketika
kekuatan menyerang pinggiran orbital, tekanan intraorbital meningkat dengan
transmisi ini kekuatan dan merusak bagian-bagian terlemah dari dasar dan
dinding medialorbita. Herniasi dari isi orbit ke dalam sinus maksilaris adalah
mungkin. Insiden cedera okular cukup tinggi, namun jarang menyebabkan
kematian.

Patah Tulang Hidung: Ini adalah hasil dari kekuatan diakibatkan oleh trauma
langsung.
7


Fraktur Nasoethmoidal (noes): akibat perpanjangan kekuatan trauma dari
hidung ke tulang ethmoid dan dapat mengakibatkan kerusakan pada canthus
medial, aparatus lacrimalis, atau saluran nasofrontal.
1,7


Patah tulang lengkung zygomatic: Sebuah pukulan langsung ke lengkung
zygomatic dapat mengakibatkan fraktur terisolasi melibatkan jahitan
zygomaticotemporal.
1


Patah Tulang Zygomaticomaxillary kompleks (ZMCs): ini menyebabkan
patah tulang dari trauma langsung. Garis fraktur jahitan memperpanjang melalui
zygomaticotemporal, zygomaticofrontal, dan zygomaticomaxillary dan
artikulasi dengan tulang sphenoid. Garis fraktur biasanya memperpanjang
melalui foramen infraorbital dan lantai orbit. Cedera mata serentak yang umum.

Patah tulang rahang atas : ini dikelompokkan sebagai Le Fort I, II, atau III.
9

Fraktur Le Fort I adalah fraktur rahang horizontal di aspek inferior rahang atas
dan memisahkan proses alveolar dan langit-langit keras dari seluruh rahang
atas. Fraktur meluas melalui sepertiga bagian bawah septum dan termasuk sinus
maksilaris dinding lateralis memperluas ke tulang palatina dan piring
pterygoideus.
Fraktur Le Fort II adalah fraktur piramida mulai dari tulang hidung dan
memperluas melalui tulang lacrimalis; ke bawah melalui jahitan
zygomaticomaxillary; terus posterior dan lateral melalui rahang atas, bawah
zygoma itu, dan ke dalam piring pterygoideus.
Fraktur Le Fort III atau dysjunction kraniofasial adalah pemisahan dari semua
tulang wajah dari dasar tengkorak dengan fraktur simultan dari zygoma, rahang,
dan tulang hidung. Garis fraktur meluas melalui tulang ethmoid posterolaterally,
orbit, dan jahitan pterygomaxillary ke fosa sphenopalatina.
9


Fraktur mandibula: Ini dapat terjadi di beberapa lokasi sekunder dengan
bentuk U-rahang dan leher condylar lemah. Fraktur sering terjadi bilateral di
lokasi terpisah dari lokasi trauma langsung.
8


Patah tulang alveolar: Ini dapat terjadi dalam isolasi dari kekuatan rendah
energi langsung atau dapat hasil dari perpanjangan garis fraktur melalui bagian
alveolar rahang atas atau rahang bawah.
1


Fraktur Panfacial: Ini biasanya sekunder mekanisme kecepatan tinggi
mengakibatkan cedera pada wajah atas, midface, dan wajah yang lebih rendah.
1




2.7 Manifestasi Klinis
Gejala klinis gejala dan tanda trauma maksilofasial dapat berupa :
Dislokasi, berupa perubahan posisi yg menyebabkan maloklusi terutama
pada fraktur mandibula.
Pergerakan yang abnormal pada sisi fraktur.
Rasa nyeri pada sisi fraktur.
Perdarahan pada daerah fraktur yang dapat menyumbat saluran napas.
Pembengkakan dan memar pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan
lokasi daerah fraktur.
Krepitasi berupa suara pada saat pemeriksaan akibat pergeseran.
Laserasi yg terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan daerah
sekitar fraktur.
Diskolorisasi perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan.
Numbness, kelumpuhan dari bibir bawah, biasanya bila fraktur terjadi
dibawah nervus alveolaris.
Pada fraktur orbita dapat dijumpai penglihatan kabur atau ganda, penurunan
pergerakan bola mata dan penurunan visus.
3,10


2.8 Diagnosis
2.8.1 Anamnesa
1

Mendapatkan informasi tentang alergi, obat, status tetanus, riwayat medis
dan bedah masa lalu, merupakan hal yang paling terakhir, dan peristiwa seputar
cedera. Aspek yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
bagaimana mekanisme cedera? Apakah pasien kehilangan kesadaran atau
mengalami perubahan status mental? Jika demikian, untuk berapa
lama? Apakah gangguan penglihatan, kilatan cahaya, fotofobia, diplopia,
pandangan kabur, nyeri, atau perubahan dengan gerakan mata? Apakah pasien
mengalami tinnitus atau vertigo? Apakah pasien memiliki kesulitan bernapas
melalui hidung? Apakah pasien memiliki manifestasi berdarah atau yang jelas-
cairan dari hidung atau telinga?Apakah pasien mengalami kesulitan membuka
atau menutup mulut? Apakah ada rasa sakit atau kejang otot? Apakah pasien
dapat menggigit tanpa rasa sakit, dan pasien merasa
seperti kedudukan gigi tidak normal? Apakah daerah mati rasa atau kesemutan
pada wajah?

2.8.2 Pemeriksaan Fisik
1,3

A. Inspeksi
Secara sistematis bergerak dari atas ke bawah :
Deformitas, memar, abrasi, laserasi, edema.
Luka tembus.
Asimetris atau tidak.
Adanya Maloklusi / trismus, pertumbuhan gigi yang abnormal.
Otorrhea / Rhinorrheaf. Telecanthus, Battle's sign, Raccoon's sign.
Cedera kelopak mata.
Ecchymosis, epistaksisi.
Defisit pendengaran.
Perhatikan ekspresi wajah untuk rasa nyeri, serta rasa cemas


B. Palpasi
1. Periksa kepala dan wajah untuk melihat adanya lecet, bengkak, ecchymosis,
jaringan hilang, luka, dan perdarahan, Periksa luka terbukauntuk memastikan
adanya benda asing seperti pasir, batu kerikil.
2. Periksa gigi untuk mobilitas, fraktur, atau maloklusi. Jika gigi avulsi,
mengesampingkan adanya aspirasi.
3. Palpasi untuk cedera tulang, krepitasi, terutama di daerah pinggiran
supraorbital dan infraorbital, tulang frontal, lengkungan zygomatic, dan pada
artikulasi zygoma dengan tulang frontal, temporal, dan rahang atas.
4. Periksa mata untuk memastikan adanya exophthalmos atau enophthalmos,
menonjol lemak dari kelopak mata, ketajaman visual, kelainan gerakan okular, jarak
interpupillary, dan ukuran pupil, bentuk,dan reaksi terhadap cahaya, baik
langsung dan konsensual.
5. Perhatikan sindrom fisura orbital superior, ophthalmoplegia, ptosis
danproptosis.
6. Balikkan kelopak mata dan periksa benda asing atau adanya laserasi.
7. Memeriksa ruang anterior untuk mendeteksi adanya perdarahan,
sepertihyphema.
8. Palpasi daerah orbital medial. Kelembutan mungkin menandakan kerusakan
pada kompleks nasoethmoidal.
9. Lakukan tes palpasi bimanual hidung, bius dan tekan intranasal terhadap
lengkung orbital medial. Secara bersamaan tekan canthus medial. Jika tulang
bergerak, berarti adanya kompleks nasoethmoidal yang retak.
10. Lakukan tes traksi. Pegang tepi kelopak mata bawah, dan tarik terhadap bagian
medialnya. Jika "tarikan" tendon terjadi, bisa dicurigai gangguan dari canthus
medial.
11. Periksa hidung untuk telecanthus (pelebaran sisi tengah hidung) atau dislokasi.
Palpasi untuk kelembutan dan krepitasi.
12. Periksa septum hidung untuk hematoma, massa menonjol kebiruan, laserasi
pelebaran mukosa, fraktur, atau dislokasi, dan rhinorrhea cairan cerebrospinal.
13. Periksa untuk laserasi liang telinga, kebocoran cairan serebrospinal,
integritas membran timpani, hemotympanum, perforasi, atauecchymosis daerah
mastoid (Battle sign).
14. Periksa lidah dan mencari luka intraoral, ecchymosis, atau bengkak. Secara
Bimanual meraba mandibula, dan memeriksa tanda-tanda krepitasi atau mobilitas.
15. Tempatkan satu tangan pada gigi anterior rahang atas dan yang lainnya di sisi
tengah hidung.
16. Gerakan hanya gigi menunjukkan fraktur le fort I. Gerakan di sisi hidung menunjukkan
fraktur Le Fort II atau III.
17. Memanipulasi setiap gigi individu untuk bergerak, rasa sakit, gingival dan
pendarahan intraoral, air mata, atau adanya krepitasi.
18. Lakukan tes gigit pisau. Minta pasien untuk menggigit keras pada pisau. Jika
rahang retak, pasien tidak dapat melakukan ini dan akan mengalami rasa sakit.
19. Meraba seluruh bahagian mandibula dan sendi temporomandibular untuk
memeriksa nyeri, kelainan bentuk, atau ecchymosis.
20. Palpasi kondilus mandibula dengan menempatkan satu jari di saluran telinga
eksternal, sementara pasien membuka dan menutup mulut. Rasa sakit atau kurang gerak
kondilus menunjukkan fraktur.
21. Periksa paresthesia atau anestesi saraf.
3


2.9 Pemeriksaan Penunjang
3

1. Wajah Bagian Atas :
CT-scan 3D dan CBCT-scan 3D (Cone Beam CT-scan 3D).
CT-scan aksial koronal.
Imaging Alternatif diantaranya termasuk CT Scan kepaladan X-ray kepala
2. Wajah Bagian Tengah :
CT-scan 3D dan CBCT-scan 3D (Cone Beam CT-scan 3D).
CT scan aksial koronal.
Imaging Alternatif diantaranya termasuk radiografi posisi waters dan
posteroanterior (Caldwells), Submentovertek (Jughandles).
3. Wajah Bagian Bawah :
CT-scan 3D dan CBCT-scan 3D.
Panoramic X-ray.
Imaging Alternatif diagnostik mencakup posisi :
- Posteroanterior (Caldwells).
- Posisi lateral (Schedell).
- Posisi towne.


Gambar 7. Pemeriksaan Radiologi


2.10 Penatalaksanaan
3

Penatalaksanaan awal pada pasien dengan kecurigaan trauma masilofasial yaitu
meliputi :
1. Periksa kesadaran pasien.
2. Perhatikan secara cermat wajah pasien :
Apakah asimetris atau tidak.
Apakah hidung dan wajahnya menjadi lebih pipih.
3. Apakah ada Hematoma :
a. Fraktur Zygomatikus
Terjadi hematoma yang mengelilingi orbita, berkembang secaracepat sebagai
permukaan yang bersambungan secara seragam.
Periksa mulut bagian dalam dan periksa juga sulkus bukal atas apakah ada
hematoma, nyeri tekan dan krepitasi pada dinding zigomatikus.
b.Fraktur nasal
Terdapat hematoma yang mengelilingi orbita, paling berat kearah medial.
c. Fraktur Orbita
Apakah mata pasien cekung kedalam atau kebawah ?
Apakah sejajar atau bergeser ?
Apakah pasien bisa melihat ?
Apakah dijumpai diplopia ? Hal ini karena :
o Pergeseran orbita
o Pergeseran bola mata
o Paralisis saraf ke VI
o Edema
d. Fraktur pada wajah dan tulang kepala.
Raba secara cermat seluruh bagian kepala dan wajah : nyeri tekan,
deformitas, iregularitas dan krepitasi.
Raba tulang zigomatikus, tepi orbita, palatum dan tulang hidung,pada fraktur
Le Fort tipe II atau III banyak fragmen tulang kecil sub cutis pada regio
ethmoid. Pada pemeriksaan ini jika rahang tidak menutup secara sempurna
berarti pada rahang sudah terjadi fraktur.

e. Cedera saraf
Uji anestesi pada wajah ( saraf infra orbita) dan geraham atas (saraf gigi atas).
f. Cedera gigi
Raba giginya dan usahakan menggoyangkan gigi bergerak abnormal dan
juga disekitarnya.

2.11 Prosedur penatalaksanaan kegawatdaruratan trauma maksilofacial.
11

Pada pasien dengan trauma hebat atau multiple trauma akan dievaluasi
dan ditangani secara sistematis, di titik beratkan pada penentuan prioritas
tindakan berdasarkan atas riwayat terjadinya kecelakaan dan derajat beratnya
trauma.

1. Apakah Pasien dapat bernapas ?
Jika sulit : Ada obstruksi. Lidahnya jatuh kearah belakang atau tidak.
2.Curiga adanya Fraktur Mandibula.
Kait dengan jari tangan anda mengelilingi bagian belakang palatum durum, dan
tarik tulang wajah bag tengah dengan lembut kearah atas dan depan
memperbaiki jalan napas dan
sirkulasi mata. Reduksi ini diperlukan pengetahuan dan ketrampilan yang baik
juga gaya yang besar jika fraktur terjepit dan jika reduksi tidak berhasil lakukan
Tracheostomi.
Untuk melepaskan himpitan tulang pegang alveolus maksilaris dengan forcep
khusus (Rowes) atau forcep bergerigi tajam yang kuat dan goyangkan.
3. Jika lidah atau rahang bawah jatuh ke arah belakang
Lakukan beberapa jahitan atau jepitkan handuk melaluinya,dan secara lembut
tarik kearah depan, lebih membantu jika posisi pasien berbaring, saat evakuasi
sebaiknya dibaringkan pada salah satu sisi
4. Jika cedera rahang yang berat dan kehilangan banyak jaringan
Pada saat mengangkutnya, baringkan pasien dengan kepalapada salah satu ujung sisi
dan dahinya ditopang dengan pembalut di antara pegangan.
5. Jika pasien merasakan lebih enak dengan posisi duduk
Biarkan posisi demikian mungkin jalan napas akan membaik dengan cepat ketika ia
melakukannya. Hisap mulutnya dari sumbatan bekuan darah. Jalan napas buatan
(OPA, ETT) mungkin tidak membantu.
6. Jika hidungnya cedera parah dan berdarah
Hisap bersih (suction) dan pasang NPA atau pipa karet tebalyang sejenis ke satu
sisi.
Jika terjadi perdarahan : Ikat pembuluh darah yang besar atau jika terjadi
perdarahan yang sulit gunakan tampon yang direndam adrenalin yang dipakai
untuk ngedep perdarahan yang hebat. Tampon post nasal selalu dapat
menghentikan perdarahan. Jika perlu gunakan jahitan hemostasis sementara.
Tujuan Perawatan pasien trauma maksilofasial :
a. Memperbaiki jalan napas.
b. Mengontrol perdarahan.
c. Dapat menggigit secara normal reduksi akan sempurna.
d. Cegah deformitas reduksi pada fraktur hidung dan zigoma
7. Pemeriksaan Intra Oral.
Yang harus di perhatikan pada saat melakukan pemeriksaan intra oral adalah
adanya floating pada susunan tulang-tulang wajah, seperti :
Mandibular floating.
Maxillar floating.
Zygomaticum floating
Yang dimaksud dengan floating disini adalah keadaan dimana salah satu
dari struktur tulang diatas terasa seperti melayang saat dilakukan palpasi, jika
terbukti adanya floating, berarti ada kerusakan atau fraktur pada tulang
tersebut.
3

Pasien dengan trauma maksilofasial harus dikelola dengan segera, dimana
dituntut tindakan diagnostik yang cepat dan pada saat yang sama juga
diperlukan juga tindakan resusitasi yang cepat. Resusitasi mengandung prosedur
dan teknik terencana untuk mengembalikan pulmonary alveolaris ventilasi,
sirkulasi dan tekanan darah yang efektif dan untuk memperbaiki efek yang
merugikan lainnya dari trauma maksilofasial. Tindakan pertama yang dilakukan
ialah tindakan Primary Survey yang meliputi pemeriksaan vital sign secara
cermat, efisien dan cepat. Kegagalan dalam melakukan salah satu tindakan ini
dengan baik dapat berakibat fatal.
11


Jadi secara umum dapat disimpulkan, penderita trauma maksilofasial
dapat dibagi dalam 2 kelompok :
1. Kelompok perlukaan maksilofasial sekunder pada relative trauma kecil,
misalnya dipukul atau ditendang, dapat di terapi pada intermediate atau area
terapi biasa pada ruang gawat darurat.
2. Kelompok perlukaan maksilofasial berat sekunder kedalam trauma tumpul
berat, misalnya penurunan kondisi secara cepat dari kecelakaan lalulintas atau
jatuh dari ketinggian, harus diterapi di tempat perawatan kritis pada instalasi
gawat darurat :
1.Trauma maksilofasial berat harus di rawat di ruang resusitasi atau kritis area
diikuti dengan teknik ATLS
2.Yakinkan dan jaga potensi jalan napas dengan immobilisasi tulang leher.
a. Setengah duduk jika tidak ada kecurigaan perlukaan spinal, atau jika
penderita perlu melakukannya.
b. Jaw trush dan chin lift.
c. Traksi lidah : Dengan jari, O-slik suture atau dengan handuk
3. Endotrakel intubasi : oral intubasi sadar atau RSI atau krikotiroidotomi
4. Berikan oksigenasi yang adekuat .
5.Monitor tanda vital setiap 5 10 menit, EKG, cek pulse oximetry.
6. Pasang 1 atau 2 infus perifer dengan jarum besar untuk pengantian cairan.
7. Laboratorium : Crossmatch golongan darah, darah lengkap, ureum /elektrolit /
kreatinin.
8. Fasilitas penghentian perdarahan yang berlangsung.
a. Penekanan langsung. Jepitan hidung,Tampon hidung atau tenggorokan.
b. Bahan haemostatic asam tranexamid (cyclokapron). Dosis : 25mg/kg BB IV
bolus pelan selama 5 10 menit.
3,11


Beberapa pegangan pada bedah plastik dapat digunakan dalam
menangani trauma dan luka pada wajah :
1. Asepsis.
2. Debridement, bersihkan seluruh kotoran dan benda asing.
3. Hemostasis, sedemikian rupa sehingga setetes darah pun tidak bersisa
sesudah dijahit.
4. Hemat jaringan, hanya jaringan yang nekrosis saja yang boleh dieksisi dari pinggir luka.
5. Atraumatik, seluruh tindakan bedah dengan cara dan bahan atraumatik.
6. Approksimasi, penjahitan kedua belah sisi pinggir luka secara tepat dan teliti.
7. Non tensi, tidak boleh ada tegangan dan tarikan pinggir luka sesudah dijahit.
Benang hanya berfungsi sebagai pemegang
8. Eksposure, luka sesudah dijahit sebaiknya dibiarkan terbuka karena
penyembuhan dan perawatan luka lebih baik, kecuali ditakutkan ada perdarahan
di bawah luka yang harus ditekan (pressure)
3
.




Fraktur Maksilofasial (Tinjauan)
2. FRAKTUR MAKSILOFASIAL
2.1 Pengertian Fraktur Maksilofasial
Fraktur ialah hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan keras tubuh (Grace and
Borley, 2007). Berdasarkan anatominya wajah atau maksilofasial dibagi menjadi tiga bagian,
ialah sepertiga atas wajah, sepertiga tengah wajah, dan sepertiga bawah wajah (gambar
2.1). Bagian yang termasuk sepertiga atas wajah ialah tulang frontalis, regio supra orbita,
rima orbita dan sinus frontalis. Maksila, zigomatikus, lakrimal, nasal, palatinus, nasal konka
inferior, dan tulang vomer termasuk ke dalam sepertiga tengah wajah sedangkan mandibula
termasuk ke dalam bagian sepertiga bawah wajah (Kruger, 1984). Fraktur maksilofasial ialah
fraktur yang terjadi pada tulang-tulang pembentuk wajah.








Gambar 2.1 Pembagian Wajah Secara Lateral (Fonseca, 2005)
2.2 Etiologi Fraktur Maksilofasial
Fraktur maksilofasial dapat diakibatkan karena tindak kejahatan atau penganiayaan,
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga dan industri, atau diakibatkan oleh hal yang
bersifat patologis yang dapat menyebabkan rapuhnya bagian tulang (Fonseca, 2005).

2.3 Lokasi Anatomis Fraktur Maksilofasial
2.3.1 Fraktur Sepertiga Bawah Wajah (Fonseca, 2005)
Mandibula termasuk kedalam bagian sepertiga bawah wajah.
Klasifikasi fraktur berdasarkan istilah (gambar 2.2) :
1. Simple atau Closed : merupakan fraktur yang tidak menimbulkan luka terbuka keluar baik
melewati kulit, mukosa, maupun membran periodontal.
2. Compound atau Open : merupakan fraktur yang disertai dengan luka luar termasuk kulit,
mukosa, maupun membran periodontal , yang berhubungan dengan patahnya tulang.
3. Comminuted : merupakan fraktur dimana tulang hancur menjadi serpihan.
4. Greenstick : merupakan fraktur dimana salah satu korteks tulang patah, satu sisi lainnya
melengkung. Fraktur ini biasa terjadi pada anak-anak.
5. Pathologic : merupakan fraktur yang terjadi sebagai luka yang cukup serius yang
dikarenakan adanya penyakit tulang.
6. Multiple : sebuah variasi dimana ada dua atau lebih garis fraktur pada tulang yang sama tidak
berhubungan satu sama lain.
7. Impacted : merupakan fraktur dimana salah satu fragmennya terdorong ke bagian lainnya.
8. Atrophic : merupakan fraktur yang spontan yang terjadi akibat dari atropinya tulang,
biasanya pada tulang mandibula orang tua.
9. Indirect : merupakan titik fraktur yang jauh dari tempat dimana terjadinya luka.
10. Complicated atau Complex : merupakan fraktur dimana letaknya berdekatan dengan jaringan
lunak atau bagian-bagian lainnya, bisa simple atau compound.



Gambar 2.2 Jenis Fraktur Mandibula. A. Greenstick; B. Simple; C.Comminuted; dan
D. Coumpound (Hupp et al., 2008)

Klasifikasi Fraktur Mandibula berdasarkan lokasi anatominya (gambar 2.3):
1. Midline : fraktur diantara incisal sentral.
2. Parasymphyseal : dari bagian distal symphysis hingga tepat pada garis alveolar yang
berbatasan dengan otot masseter (termasuk sampai gigi molar 3).
3. Symphysis : berikatan dengan garis vertikal sampai distal gigi kaninus.
4. Angle : area segitiga yang berbatasan dengan batas anterior otot masseter hingga perlekatan
poesterosuperior otot masseter (dari mulai distal gigi molar 3).
5. Ramus : berdekatan dengan bagian superior angle hingga membentuk dua garis apikal pada
sigmoid notch.
6. Processus Condylus : area pada superior prosesus kondilus hingga regio ramus.
7. Processus Coronoid : termasuk prosesus koronoid pada superior mandibula hingga regio
ramus.
8. Processus Alveolaris : regio yang secara normal terdiri dari gigi.


Gambar 2.3 Lokasi Fraktur mandibula (Coulthard et al., 2008)

2.3.2 Fraktur Sepertiga Tengah Wajah
Sebagian besar tulang tengah wajah dibentuk oleh tulang maksila, tulang palatina, dan
tulang nasal. Tulang-tulang maksila membantu dalam pembentukan tiga rongga utama wajah
: bagian atas rongga mulut dan nasal dan juga fosa orbital. Rongga lainnya ialah sinus
maksila. Sinus maksila membesar sesuai dengan perkembangan maksila orang dewasa.
Banyaknya rongga di sepertiga tengah wajah ini menyebabkan regio ini sangat rentan terkena
fraktur.
Fraktur tulang sepertiga tengah wajah berdasarkan klasifikasi Le Fort :
1. Fraktur Le Fort tipe I (Guerins)
Fraktur Le Fort I (gambar 2.4) merupakan jenis fraktur yang paling sering terjadi, dan
menyebabkan terpisahnya prosesus alveolaris dan palatum durum. Fraktur ini menyebabkan
rahang atas mengalami pergerakan yang disebut floating jaw. Hipoestesia nervus infraorbital
kemungkinan terjadi akibat dari adanya edema.

Gambar 2.4 Fraktur Le Fort I(Fonseca, 2005)

2. Fraktur Le Fort tipe II
Fraktur Le Fort tipe II (gambar 2.5) biasa juga disebut dengan fraktur piramidal.
Manifestasi dari fraktur ini ialah edema di kedua periorbital, disertai juga dengan ekimosis,
yang terlihat seperti racoon sign. Biasanya ditemukan juga hipoesthesia di nervus
infraorbital. Kondisi ini dapat terjadi karena trauma langsung atau karena laju perkembangan
dari edema. Maloklusi biasanya tercatat dan tidak jarang berhubungan dengan open bite. Pada
fraktur ini kemungkinan terjadinya deformitas pada saat palpasi di area infraorbital dan sutura
nasofrontal. Keluarnya cairan cerebrospinal dan epistaksis juga dapat ditemukan pada kasus
ini.


Gambar 2.5 Fraktur Le Fort II (Fonseca, 2005)

3. Fraktur Le Fort III
Fraktur ini disebut juga fraktur tarnsversal. Fraktur Le Fort III (gambar 2.6)
menggambarkan adanya disfungsi kraniofasial. Tanda yang terjadi pada kasus fraktur ini
ialah remuknya wajah serta adanya mobilitas tulang zygomatikomaksila kompleks, disertai
pula dengan keluarnya cairan serebrospinal, edema, dan ekimosis periorbital.


Gambar 2.6 Fraktur Le Fort III (Fonseca, 2005)

2.3.3 Fraktur Sepertiga Atas Wajah
Fraktur sepertiga atas wajah mengenai tulang frontalis, regio supra orbita, rima orbita
dan sinus frontalis. Fraktur tulang frontalis umumnya bersifat depressedke dalam atau hanya
mempunyai garis fraktur linier yang dapat meluas ke daerah wajah yang lain.

2.3.4 Fraktur Dentoalveolar (Fonseca, 2005; Andreasen et al., 2007)
Fraktur dentoalveolar sering terjadi pada anak-anak karena terjatuh saat bermain atau
dapat pula terjadi akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Struktur dentoalveolar dapat
terkena trauma yang langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya dapat
menyebabkan trauma pada gigi insisif sentral maksila karena berhubungan dengan posisinya
yang terekspos.
Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan fraktur dentoalveolar ialah oklusi yang
abnormal, adanya overjet lebih dari 4mm, inklinasi gigi insisal ke arah labial, bibir yang
inkompeten, pendeknya bibir atas, dan bernafas lewat hidung. Kondisi tersebut dapat dilihat
pada individu dengan kelainan maloklusi kelas II divisi I Angle, atau pada orang dengan
kebiasaan buruk menghisap ibu jari.


Gambar 2.7 Fraktur Dentoalveolar Disertai Avulsi Pada Gigi 52, 53, dan 63 Pada Pasien Instalasi Gawat
darurat Bagian Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

Klasifikasi Klinis Traumatic Dental Injuries (TDI) yang diadaptasi dariWorld Health
Organization (WHO) pada Application of international classification of disease to dentistry
and stomatology dapat dilihat pada tabel berikut.


Tabel 2.1 Klasifikasi Trauma Pada Jaringan Keras Gigi dan Pulpa
Kode Trauma Kriteria
N.502.50 Infraksi Email Fraktur yang tidak menyeluruh pada
email tanpa hilangnya substansi gigi
(retak).
N.502.50 Fraktur Email
(uncomplicatedfraktur
mahkota)
Fraktur dengan adanya kehilangan
substansi gigi pada email, tanpa
melibatkan dentin.
N.502.51 Fraktur Email-Dentin
(uncomplicatedfraktur
mahkota)
Fraktur dengan adanya kehilangan
substansi gigi dengan melibatkan email
dan dentin, namun tidak melibatkan
pulpa.
N.502.52 ComplicatedFraktur
Mahkota
Fraktur yang melibatkan email dan
dentin, dan menyebabkan tereksposnya
pulpa.
N.502.53 Fraktur Akar Fraktur yang melibatkan email, dentin,
dan pulpa. Fraktur akar dapat
diklasifikasikan lagi berdasarkan
berpindahnya bagian koronal gigi.
N.502.54 Uncomplicatedfraktur
akar-mahkota
Fraktur yang melibatkan email, dentin,
dan sementum namun tidak
menyebabkan tereksposnya pulpa.
N.502.54 Complicated fraktur
akar-mahkota
Fraktur yang melibatkan email, dentin,
sementum, dan juga menyebabkan
tereksposnya pulpa.









Tabel 2.2 Klasifikasi Trauma Pada Tulang Pendukung Gigi
Kode Trauma Kriteria
N.502.40 ComminutionSoket
Alveolar Maksila
Hancur dan tertekannya soket alveolar.
Kondisi ini ditemukan bersamaan dengan
intrusif dan luksasi lateral gigi.

N.502.60 ComminutionSoket
Alveolar
Mandibula
Hancur dan tertekannya soket alveolar.
Kondisi ini ditemukan bersamaan dengan
intrusif dan luksasi lateral gigi.

N.502.40 Fraktur dinding
soket alveolar
maksila
Fraktur yang melibatkan dinding soket
bagian fasial atau oral.

N.502.60 Fraktur dinding
soket alveolar
mandibula
Fraktur yang melibatkan dinding soket
bagian fasial atau oral.

N.502.40 Fraktur prosesus
alveolaris maksila
Fraktur pada prosesus alveolaris dimana
dapat atau tidak melibatkan soket alveolar.

N.502.60 Fraktur prosesus
alveolaris
mandibula
Fraktur pada prosesus alveolaris dimana
dapat atau tidak melibatkan soket alveolar.

N.502.42 Fraktur Maksila Fraktur dimana melibatkan maksila atau
mandibula dan juga prosesus alveolaris.
Fraktur tersebut dapat atau tidak
melibatkan soket alveolar.

N.502.61 Fraktur Mandibula Fraktur dimana melibatkan maksila atau
mandibula dan juga prosesus alveolaris.
Fraktur tersebut dapat atau tidak
melibatkan soket alveolar.






2.4 Penatalaksanaan Pasien Fraktur Maksilofasial (Fonseca, 2005; Hupp et al., 2008)
2.4.1 Kontak Awal Pasien
Survey awal digunakan untuk melihat kondisi sistemik pasien dan prioritas perawatan
pasien berdasarkan luka, tanda-tanda vital, dan mekanisme terjadinya luka. Advance Trauma
Life Support (ATLS) yang dianjurkan oleh American College of Surgeon ialah perawatan
trauma ABCDE.
A: Airway maintenance with cervical spine control/ protection
1. Menghilangkan fragmen-fragmen gigi dan tulang yang fraktur.
2. Memudahkan intubasi endotrakeal dengan mereposisi segmen fraktur wajah untuk membuka
jalan nafas oral dan nasofaringeal.
3. Stabilisasi sementara posisi rahang bawah ke arah posterior dengan fraktur kedua kondilus
dan simfisis yang menyebabkan obstruksi jalan nafas atas.
B: Breathing and adequate ventilation
1. Stabilisasi sementara posisi fraktur rahang bawah ke arah posterior dengan fraktur kedua
kondilus dan simfisis yang menyebabkan obstruksi jalan nafas pada pasien yang sadar.
C: Circulation with control of hemorrhage
1. Kontrol perdarahan dari hidung atau luka intraoral untuk meningkatkan jalan nafas dan
mengontrol perdarahan.
2. Menekan dan mengikat perdarahan pembuluh wajah dan perdarahan di kepala.
3. Menempatkan pembalut untuk mengontrol perdarahan dari laserasi wajah yang meluas dan
perdarahan kepala.
D: Disability: neurologic examination
1. Status neurologis ditentukan oleh tingkat kesadaran, ukuran pupil, dan reaksi.
2. Trauma periorbital dapat menyebabkan luka pada okular secara langsung maupun tdak
langsung yang dapat dilihat dari ukuran pupil, kontur, dan respon yang dapat mengaburkan
pemeriksaan neurologis pada pasien dengan sistem saraf pusat yang utuh.
3. Menentukan perubahan pupil pada pasien dengan perubahan sensoris (alkohol atau obat)
yang tidak berhubungan dengan trauma intrakranial.
E: Exposure/ enviromental control
1. Menghilangkan gigi tiruan, tindikan wajah dan lidah.
2. Menghilangkan lensa kontak.

2.4.2 Penilaian Glasgow Coma Scale (Hupp et al., 2008)
Pada umumnya, Glasgow coma scale (GCS) digunakan untuk memeriksa kesadaran
yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan neurologis pada saat pertama kali
terjadi trauma maksilofasial. Ada tiga variabel yang digunakan pada skala ini, yaitu respon
membuka mata, respon verbal, dan respon motorik. Nilai GCS ditentukan berdasarkan skor
yang diperoleh berdasarkan tabel berikut.





Tabel 2.3 Glasgow Coma Scale (GCS)
Glasgow Coma Scale Nilai



Respon Membuka Mata
(E)
Buka mata spontan 4
Buka mata bila
dipanggil / ada
rangsangan suara
3
Buka mata bila ada
rangsang nyeri
2
Tidak ada reaksi
dengan rangsangan
apapun
1



Respon Verbal
(V)
Komunikasi verbal
baik, jawaban tepat
5
Bingung, disorientasi
waktu, tempat, dan
orang
4
Kata-kata tidak teratur 3
Suara tidak jelas 2
Tidak ada reaksi
dengan rangsangan
apapun
1






Respon Motorik
(M)
Mengikuti Perintah 6
Dengan rangsangan
nyeri, dapat mengetahui
tempat rangsangan
5
Dengan rangsangan
nyeri, menarik anggota
badan
4
Dengan rangsangan
nyeri, timbul reaksi
fleksi abnormal
3
Dengan rangsangan
nyeri, timbul reaksi
ekstensi abnormal
2
Dengan rangsangan
nyeri, tidak ada reaksi
1

Penilaian ini dilakukan terhadap respon motorik (1-6), respon verbal (1-5), dan respon
membuka mata (1-4), dengan interval GCS 3-15. Berdasarkan beratnya, cedera kepala
dikelompokkan menjadi :
(1) Cedera kepala ringan dengan nilai GCS 14-15
(2) Cedera kepala sedang dengan nilai GCS 9-13
(3) Cedera kepala berat dengan nilai GCS sama atau kurang dari 8
Glasgow Coma Scale ditujukan untuk menilai koma pada trauma kepala dan sebagian
tergantung pada respon verbal sehingga kurang sesuai bila diterapkan pada bayi baru lahir,
bayi, dan anak kecil. Oleh karena itu, diajukan beberapa modifikasi untuk anak. Anak dengan
kesadaran normal mempunyai nilai 15 pada GCS, nilai 12-14 menunjukkan gangguan
kesadaran ringan, nilai 9-11 berkorelasi dengan koma moderat sedangkan nilai dibawah 8
menunjukkan koma berat. (The Paediatric Accident and Emergency Research Group, 2008)

Tabel 2.4 Glasgow Coma Scale Modifikasi Untuk Bayi dan Anak
Glasgow Coma Scale Nilai







Respon Verbal
(V)
Berceloteh, bersuara,
berkata-kata seperti
biasanya

5
Rewel, Bingung 4
Menangis bila ada
rangsangan nyeri,
berkata-kata tidak jelas

3
Merintih bila ada
rangsang nyeri,
bersuara tidak jelas

2
Tidak ada reaksi
dengan rangsangan
apapun

1



2.4.3 Riwayat penyakit, Keluhan Utama dan Pemeriksaan Klinis (Fonseca, 2005; Hupp et al.,
2008)
Lima pertanyaan yang harus diketahui untuk mengetahui riwayat penyakit pasien
penderita fraktur maksilofasial ialah:
1. Bagaimana kejadiannya?
2. Kapan kejadiannya?
3. Spesifikasi luka, termasuk tipe objek yang terkena, arah terkena, dan alat yang kemungkinan
dapat menyebabkannya?
4. Apakah pasien mengalami hilangnya kesadaran?
5. Gejala apa yang sekarang diperlihatkan oleh pasien, termasuk nyeri, sensasi, perubahan
penglihatan, dan maloklusi?
Evaluasi menyeluruh pada sistem, termasuk informasi alergi, obat-obatan, imunisasi
tetanus terdahulu, kondisi medis, dan pembedahan terdahulu yang pernah dilakukan.
Jejas pada sepertiga wajah bagian atas dan kepala biasanya menimbulkan keluhan
sakit kepala, kaku di daerah nasal, hilangnya kesadaran, dan mati rasa di daerah kening.
Jejas pada sepertiga tengah wajah menimbulkan keluhan perubahan ketajaman
penglihatan, diplopia, perubahan oklusi, trismus, mati rasa di daerah paranasal dan
infraorbital, dan obstruksi jalan nafas.
Jejas pada sepertiga bawah wajah menimbulkan keluhan perubahan oklusi, nyeri pada
rahang, kaku di daerah telinga, dan trismus.


Gambar 2.8 Perubahan Oklusi dan Laserasi Gingiva Serta Mukosa Pada Insisif Sentral Pasien Instalasi
Gawat Darurat Bagian Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung
Menandakan Adanya Fraktur Mandibula.


Pemeriksaan klinis pada struktur wajah terpenuhi setelah seluruh pemeriksaan fisik
termasuk pemeriksaan jantung dan paru, fungsi neurologis, dan area lain yang berpotensi
terkena trauma, termasuk dada, abdomen, dan area pelvis.
Evaluasi pada wajah dan kranium secara hati-hati untuk melihat adanya trauma
seperti laserasi, abrasi, kontusio, edema atau hematoma. Ekimosis di periorbital, terutama
dengan adanya perdarahan subkonjungtiva, merupakan sebagai indikas dari adanya fraktur
zigomatikus kompleks dan fraktur rima orbita.


Gambar 2.9 Hematoma Pada Orbita Sinistra Pasien Fraktur Maksilofasial di Instalasi Gawat darurat
RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung.

Gambar 2.10 Ekimosis di Periorbital (Hupp et al., 2008)

Pemeriksaan neurologis pada wajah dievaluasi secara hati-hati dengan memeriksa
penglihatan, pergerakan ekstraokular, dan reaksi pupil terhadap cahaya.
Pemeriksaan mandibula dengan cara palpasi ekstraoral semua area inferior dan lateral
mandibula serta sendi temporomandibular. Pemeriksaan oklusi untuk melihat adanya laserasi
pada area gingiva dan kelainan pada bidang oklusi. Untuk menilai mobilisasi maksila,
stabilisasi kepala pasien diperlukan dengan menahan kening pasien menggunakan salah satu
tangan. Kemudian ibu jari dan telunjuk menarik maksila secara hati-hati untuk melihat
mobilisasi maksila.



Gambar 2.11 Pemeriksaan Mobilisasi Maksila (Hupp et al., 2008)

Pemeriksaan regio atas dan tengah wajah dipalpasi untuk melihat adanya kerusakan di
daerah sekitar kening, rima orbita, area nasal atau zigoma. Penekanan dilakukan pada area
tersebut secara hati-hati untuk mengetahui kontur tulang yang mungkin sulit diprediksi ketika
adanya edema di area tersebut. Untuk melihat adanya fraktur zigomatikus kompleks, jari
telunjuk dimasukan ke vestibula maksila kemudian palpasi dan tekan kearah superior lateral.

2.4.4 Pemeriksaan Radiografis (Hupp et al., 2008)
Pada pasien dengan trauma wajah, pemeriksaan radiografis diperlukan untuk
memperjelas suatu diagnosa klinis serta untuk mengetahui letak fraktur. Pemeriksaan
radiografis juga dapat memperlihatkan fraktur dari sudut dan perspektif yang berbeda.
Pemeriksaan radiografis pada mandibula biasanya memerlukan foto
radiografis panoramic view, open-mouth Townes view, postero-anterior view, lateral oblique
view. Biasanya bila foto-foto diatas kurang memberikan informasi yang cukup, dapat juga
digunakan foto oklusal dan periapikal.
Computed Tomography (CT) scans dapat juga memberi informasi bila terjadi trauma yang
dapat menyebabkan tidak memungkinkannya dilakukan teknik foto radiografis biasa. Banyak
pasien dengan trauma wajah sering menerima atau mendapatkan CT-scan untuk menilai
gangguan neurologi, selain itu CT-scan dapat juga digunakan sebagai tambahan penilaian
radiografi.
Pemeriksaan radiografis untuk fraktur sepertiga tengah wajah dapat
menggunakan Waters view, lateral skull view, posteroanterior skull view, dansubmental
vertex view.

2.4.5 Perawatan Fraktur Maksilofasial (Hupp et al., 2008)
Hasil yang diharapkan dari perawatan pada pasien fraktur maksilofasial adalah
penyembuhan tulang yang cepat, normalnya kembali okular, sistem mastikasi, dan fungsi
nasal, pemulihan fungsi bicara, dan kembalinya estetika wajah dan gigi. Selama fase
perawatan dan penyembuhan, penting untuk meminimalisir efek lanjutan pada status nutrisi
pasien dan mendapatkan hasil perawatan dengan minimalnya kemungkinan pasien merasa
tidak nyaman.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, prinsip dasar pada bedah yang harus
dipersiapkan sebagai penunjuk untuk perawatan fraktur maksilofasial ialah : reduksi fraktur
(mengembalikan segmen-segmen tulang pada lokasi anatomi semula) dan fiksasi segmen-
segmen tulang untuk meng-imobilisasi segmen-segmen pada lokasi fraktur. Sebagai
tambahan, sebelum tindakan, oklusi sebaiknya sudah direstorasi dan infeksi pada area fraktur
sebaiknya di cegah dan dihilangkan terlebih dahulu.
Waktu perawatan fraktur tergantung dari banyak faktor. Secara umum, lebih cepat
merawat luka akan lebih baik hasilnya. Penelitian membuktikan bahwa semakin lama luka
dibiarkan terbuka dan tidak ditangani, semakin besar kemungkinan untuk terjadinya infeksi
dan malunion.
Perawatan fraktur dengan menggunakan intermaxillary fixation (IMF) disebut juga
reduksi tertutup karena tidak adanya pembukaan dan manipulasi terhadap area fraktur secara
langsung. Teknik IMF yang biasanya paling banyak digunakan ialah penggunaan arch bar.


Gambar 2.12 Jenis Teknik Maxillomandibular fixation wiring Arch bar Pada Pasien Fraktur Maksilofasial
Instalasi Gawat Darurat RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung.

Perawatan fraktur dengan reduksi terbuka ialah perawatan pembukaan dan reduksi
terhadap area fraktur secara langsung dengan tindakan pembedahan. Reduksi terbuka
dilakukan bila diperlukan reduksi tulang secara adekuat. Indikasi perawatan reduksi terbuka
ialah berpindahnya segmen tulang secara lanjut atau pada fraktur unfavorable, seperti fraktur
angulus, dimana tarikan otot masseter dan medialis pterygoid dapat menyebabkan distraksi
segmen proksimal mandibula.