Anda di halaman 1dari 88

ULTIMA COMM

Jurnal Ilmu Komunikasi


Efektivitas Twiter Sebagai
Medium Promosi
Anastasia Prima dan Emrus
New Media dan Multikulturalisme
Frame media online dalam mengemas isu anti
multikulturalisme dalam Pilkada DKI 2012
Indiwan seto wahyu Wibowo
Volume 5, Nomor 1 Mei-Juli 2014
ISSN 1979-1232
Perspektif & Masalah Komunikasi
Partai NasDem sebagai Partai Politik Baru di
Indonesia
Inco Hary Perdana
The Construction of Meaning in Indonesia
Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009
Election on Metro TV
Novita Damayanti
Penjahat Proletar Ala Bajuri
(Realisme dalam Komedi Situasi Bajaj Bajuri
Edisi Jalani Lebaran dalam Tahanan)
Djatiprasetyani Hadi
Anomalous Democracy:
Examination on the Correlation between
Press Freedom and Levels of Corruption in
Indonesia and Singapore
F. X. Lilik Dwi Mardjianto
Citra Partai Demokrat di Media Cetak
Analisis Pemberitaan Kisruh Wisma
Atlit di Harian Media Indonesia
Yoyoh Hereyah
Pelindung
Rektor UMN
Dr Ninok Leksono
Penanggung jawab
Dekan Ilkom
Ir Andrey Andoko M.Sc
Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi
Dr Bertha Sri Eko M.Si
Ketua Penyunting
Drs Indiwan Seto Wahyu Wibowo M.Si
Desain dan Layout
Yurike Prastica Arini
Sekretaris
Dra. Joice Caroll Siagian, M.Si
Dewan Penyunting
Ambang Priyonggo
FX.Lilik M
Dr Endah Muwarni
Augustinus Roni Siahaan M.Si
Sirkulasi & Distribusi
Melly
Alamat Redaksi :
Jl. Boulevard Gading Serpong Tangerang Banten
Telp : (021) 5422 0808/ 3703 9777
Fax : (021) 5422 0800
ULTIMA COMM
Jurnal Ilmu Komunikasi
Volume 5, Nomor 1 Mei-Juli 2014
ISSN 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi diterbitkan dua kali dalam satu tahun sebagai media in-
formasi karya ilmiah untuk bidang kajian Ilmu Komunikasi di Indonesia.Kami
menerima naskah berupa artikel ilmiah, ringkasan hasil penelitian atau resensi
buku. Redaksi berhak untuk menyunting isi naskah tanpa mengubah substansinya.
KATA PENGANTAR
ULTIMA COMM
Jurnal Ilmu Komunikasi
Volume 5, Nomor 1 Mei-Juli 2014
ISSN 1979-1232
Media Baru merupakan media yang sangat potensial, di satu sisi
mampu menawarkan informasi secara interaktif. Sebagai bagian dari
komunikasi yang memberi pencerahan kepada masyarakat. Salah satu
fungsi dari komunikasi adalah memberikan informasi dan pengetahuan
dan bisa mencerdaskan. Begitu juga dengan Jurnal Ilmu Komunikasi
ULTIMA COMM edisi Mei-Juli 2014 yang hadir di hadapan para
pembaca.
Dalam edisi kali ini, jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Mul-
timedia Nusantara menyampaikan sejumlah topik bahasan diantaranya
persoalan new media, semiotika dan komunikasi politik.
Di antaranya, ada artikel terkait dengan framing seputar pemberi-
taan media baru. Artikel berjudul New Media dan Multikulturalisme
Frame media online dalam mengemas isu anti multikulturalisme dalam
Pilkada DKI 2012.
Masih terkait dengan pemberitaan media ada artikel mengenai
Anomalous Democracy: Examination on the Correlation between Press
Freedom and Levels of Corruption in Indonesia and Singapore ditulis
oleh F. X. Lilik Dwi Mardjianto.
Begitu juga sejumlah artikel dan hasil penelitian memberi warna
jurnal Ilmu Komunikasi ini yang ditulis oleh sejumlah akademisi dan
praktisi Ilmu Komunikasi.
Terkait dengan Komunikasi politik, edisi jurnal kali ini mengangkat
Perspektif & Masalah Komunikasi Partai NasDem sebagai Partai Politik
Baru di Indonesia yang ditulis oleh Inco Hary Perdana
Redaksi sangat berterimakasih atas partisipasi teman sejawat,
dan penulis-penulis di bidang Komunikasi. Kami selalu menunggu ha-
sil karya teman-teman, praktisi Komunikasi dan bapak ibu dosen dalam
penerbitan jurnal berikutnya.
Mei -Juli 2014 Volume 5, Nomor 1 ii
DAFTAR ISI
ULTIMA COMM
Jurnal Ilmu Komunikasi
Volume 5, No.1 Edisi Mei-Juli 2014
ISSN 1979-1232
Efektivitas Twitter Sebagai Medium Promosi
Anastasia Prima dan Emrus
(Mahasiswa dan Dosen Universitas Pelita Harapan) 1-7
Anomalous Democracy: Examination on the Correlation
between Press Freedom and Levels of Corruption
in Indonesia and Singapore
F. X. Lilik Dwi Mardjianto 8-15
New Media dan Multikulturalisme
Frame media online dalam mengemas isu anti
multikulturalisme dalam Pilkada DKI 2012
Indiwan seto wahyu Wibowo 16-28
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu
Show on Presiden- tial-Vice Presidential Candidates Debate in
2009 Election on Metro TV
Novita Damayanti 29-44
Perspektif & Masalah Komunikasi
Partai NasDem sebagai Partai Politik Baru di Indonesia
Inco Hary Perdana 45-51
Penjahat Proletar Ala Bajuri
(Realisme dalam Komedi Situasi Bajaj Bajuri
Edisi Jalani Lebaran dalam Tahanan)
Djatiprasetyani Hadi 52-69
Citra Partai Demokrat di Media Cetak
Analisis Pemberitaan Kisruh Wisma Atlit di Harian Media
Indonesia
Yoyoh Hereyah, M.Si 70-83
Volume 5, Nomor 1 Mei -Juli 2014 iii
Jurnal UltimaComm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN : 1979-1232
JURNAL ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA
EFEKTIVITAS TWITTER SEBAGAI
MEDIUM PROMOSI
Anastasia
(mahasiswa)
Emrus
(dosen Pembimbing)
Universitas Pelita Harapan
Jl. M.H. Thamrin Boulevard
Tangerang, 15811 Banten
P: (021) 546 0901 ext. 1171-1172
Abstract:
Dalam bidang bisnis, Internet sarana penghubung perusahaan dengan pelanggan secara cepat. Salah
satu medium dalam Internet ialah Twiter, yang merupakan situs microblogging. Pemilik akun Twiter
dapat menyampaikan apa saja dalam 140 karakter. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan
metode survei deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, twiter merupakan medium yang sangat efektif
bagi usaha kecil, seperti yang dilakukan oleh restoran Taiyo Sushi dalam melakukan promosi. Hal ini dapat
menjadi gambaran bagi praktisi usaha kecil menggunakan twiter sebagai medium promosi
Keywords: efektivitas, Twiter, medium promosi
PENDAHULUAN
Internet, singkatan dari interconnect-
ed network, membawa perubahan dalam
berkomunikasi (Seitel, 2011, 393). Internet
menjadi alat penyampaian pesan sangat
cepat. Salah satu komunikasi melalui Inter-
net adalah social media, seperti Facebook
dan Twiter.
Sekalipun muncul belakangan, peng-
gunaan Twiter mengalahkan Facebook. Ber-
dasarkan data Internet World Stats, diakses
23 September 2011, pengguna Internet di
Indonesia pada Desember 2010 mencapai
39.600.000 orang. Twiter diluncurkan pada
tahun 2006, sedangkan Facebook lebih da-
hulu diluncurkan, yakni pada tahun 2004
(ODell, 2011). Tetapi, berdasarkan pada data
dari comscore.com (diakses 19 September
2011), pada tahun 2010, penetrasi Twiter di
Indonesia (rasio pengguna Twiter diband-
ing pengguna Internet) menempati pering-
kat pertama di dunia, sedangkan Facebook
menempati peringkat ke tiga. Selain itu, ber-
dasarkan penelitian yang dilakukan, seperti
yang dilansir oleh www.marketinghq.com.
au ,diakses 25 Oktober 2011, terdapat 52%
pengguna Twiter melakukan pembaharuan
(update) status setiap hari. Padahal, hanya
12% pengguna Facebook yang melakukan
hal serupa.
Dalam hubungannya dengan bisnis,
penelitian oleh Cruz dan Mendelsohn (2010,
13) mengungkapkan bahwa sejak menjadi
pengikut sebuah akun (follower), 67% fol-
lowers Twiter akan membeli produk atau
jasa yang ditawarkan oleh sebuah akun Twit-
ter bisnis, sedangkan hanya 51% fans sebuah
akun bisnis di Facebook yang melakukan
pembelian. Selain itu, 79% followers Twit-
ter akan merekomendasi suatu akun Twiter
bisnis kepada orang lain, dimana hanya 60%
fans Facebook yang melakukan hal serupa.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa
64% pemasar memilih Twiter sebagai alat
pertama ketika memulai suatu usaha baru.
Data yang didapat membuat Twiter menjadi
1
EFEKTIVITAS TWITTER SEBAGAI MEDIUM PROMOSI
ANASTASIA & EMRUS
menarik untuk diteliti.
Meskipun berkomunikasi lewat In-
ternet tidak memerlukan biaya, keefektifan
suatu medium sangat perlu diketahui agar
tidak menjadi sebuah kesia-siaan. Oleh kare-
na itu, tulisan ini menyajikan sejauh mana
keefektifan Twiter sebagai medium promosi
oleh restoran Taiyo Sushi.

MASALAH PENELITIAN

Merujuk pada latar belakang, maka
pnelitian ini membahas tentang efektivitas
Twiter sebagai medium proposi bagi Taiyo
Sushi.

SUBYEK PENELITIAN

Restoran Taiyo Sushi merupakan se-
buah usaha rumah makan yang menawarkan
makanan dan minuman khas negeri Jepang.
Restoran ini berada di Jalan Pluit Putra Raya
nomor 17, Jakarta Utara. Restoran yang di-
buka sejak tanggal 4 Mei 2011 ini memiliki
40 karyawan. Berdasarkan jumlah karyawan
tersebut, Restoran Taiyo Sushi, menurut Stel-
zer (2011, 17) termasuk sebagai usaha kecil.
Ada beberapa latarbelakang menjadi-
kan restoran ini menjadi tempat penelitian,
yaitu: (1) restoran Taiyo Sushi termasuk
dalam jenis usaha yang baru (buka selama
enam bulan). Hal ini sesuai dengan kegu-
naan dari penelitian ini; (2) restoran Taiyo
Sushi bertempat di Jakarta, dimana Jakarta
merupakan kota yang memiliki jumlah usaha
restoran terbesar di Indonesia, yakni sebesar
26,1 persen (htp://binaukm.com/2010/05/se-
baran-wilayah-usaha-peluang-usaha-rumah-
makan-restoran, diakses 1 November 2011)
dan ; (3) restoran Taiyo Sushi menggunakan
Twiter sebagai salah satu medium dalam
melakukan promosi (Darusman, 2011).
TINJAUAN PUSTAKA
Internet sebagai channel atau medium
dalam model komunikasi interaksional oleh
Wilbur Schramm (West & Turner, 2007, 12).
Menurut Belch dan Belch (2009, 149), chan-
nel adalah tempat dimana pesan berjalan
dari sender ke receiver. Hal ini berarti Inter-
net menjadi sarana penyampaian pesan oleh
restoran Taiyo Sushi. Namun ada feedback
dari penerima pesan sesuai dengan sifat In-
ternet yang interaktif (Duncan, 2008, 389).
Medium dalam Internet yang diteliti
ialah Twiter, yang merupakan sebuah lay-
anan microblogging dimana penggunanya
dapat menyampaikan pesan dalam 140 kara-
kter (Boyd, Goler, & Lotan, 2010, 1). Setiap
pengguna memiliki nama akun yang dilam-
bangkan dengan simbol @ (Jantsch, 2009, 4).
Langkah awal bersosialisasi melalui Twit-
ter dengan menuliskan tweet, yakni pesan
umum pada Twiter (Sulianta, 2011, 41-
42). Sebuah pemilik akun dapat mengikuti
perkembangan pembaharuan status akun
lain dengan menjadi follower akun tersebut
(Jantsch, 2009, 4). Interaktivitas dalam Twit-
ter terlihat melalui mention (menyebutkan
akun lain) (Sulianta, 2011, 42) dan retweet
(mempublikasikan ulang tweet akun lain)
(Jantsch, 2009, 4). Berikut visualisasinya:


Gambar 1. Mention Kepada Akun Twiter
Restoran Taiyo Sushi.Sumber: twiter.com/
TaiyoSushi, diakses 20 November 2011


Gambar 2. Retweet Terhadap Pesan Akun
Twiter Restoran Taiyo Sushi
Sumber: twiter.com/TaiyoSushi, diakses 20
November 2011
Twiter digunakan oleh restoran Taiyo
Sushi melakukan promosi. Promosi meru-
pakan penggunaan komunikasi untuk mem-
berikan informasi dan membujuk individu,
kelompok, atau organisasi untuk membeli
produk atau jasa dari sebuah perusahaan
(Fill, 2009, 932). Selain itu, promosi juga
merupakan komunikasi dengan pelang-
gan atau calon pelanggan (Shimp, 2007, 4).
Promosi yang dimaksud dalam penelitian
ini ialah menyebarkan informasi mengenai
produk, harga produk, alamat, serta pro-
mosi penjualan yang sedang berlangsung di
restoran Taiyo Sushi.
Sebagai medium promosi, perlu dilaku-
kan pengukuran keefektifan Twiter dengan
menggunakan model information process-
ing, sebagaimana dikemukakan Chafey dan
Smith (2008, 122), Hofackers model has fve
stages of information processing which can
be used to review the efectiveness of an ad
or a promotional container, or overall page
template layout on a site.
2
EFEKTIVITAS TWITTER SEBAGAI MEDIUM PROMOSI
ANASTASIA & EMRUS
Pertama, Exposure. Tahap ini terjadi
pada saat stimulus menyentuh atau ditang-
kap oleh salah satu atau lebih bagian dari
panca indera (Engel et al., 1995, 472). Stimu-
lus merupakan masukan atau input apapun
yang datang dari pemasar yang disampaikan
kepada konsumen melalui berbagai media
(Sumarwan, 2004, 70). Setiap manusia me-
miliki tingkat respon penerimaan stimulus
yang berbeda (Sumarwan, 2004, 70). Tingkat
keterpaparan seseorang terhadap stimulus
dipengaruhi intensitas stimulus. Dengan me-
ningkatnya intensitas, terdapat kemungki-
nan meningkatnya tingkat exposure, demiki-
an Sumarwan (2004, 71).
Berdasarpan pandangan di atas dikait-
kan dengan penelitian yang dilakukan, maka
exposure terjadi pada saat followers akun
Twiter restoran Taiyo Sushi membaca pesan
(tweet) mengenai produk beserta harga yang
ditawarkan dan promosi penjualan yang ber-
langsung di restoran Taiyo Sushi. Selain itu,
followers membaca alamat restoran Taiyo
Sushi pada kolom biodata dan melihat foto
produk yang diunggah (upload) oleh akun
Twiter restoran Taiyo Sushi.
Kedua, Atention. Menurut Copley
(2004, 56), atention merupakan reaksi afektif
(perasaan atau emosi). Customer menyeleksi
stimuli yang telah dipaparkan untuk diper-
hatikan dan diproses lebih lanjut. Proses ini
dinamakan perceptual selection (Sumar-
wan, 2004, 75-76). Manusia memilih stimulus
mana yang ingin mereka perhatikan. Menu-
rut Hoyer dan Maclnnis (2010, 75), seseorang
cenderung kurang memperhatikan hal yang
sering ia lihat sebelumnya. Oleh karena itu,
pemasar membutuhkan kreatiftas agar tidak
menampilkan stimuli yang sama.
Disesuaikan dengan penelitian yang
dilakukan, atention terjadi pada saat stimuli
yang disampaikan menarik bagi followers
akun Twiter restoran Taiyo Sushi. Stimuli
tersebut terdiri dari pesan (tweet) mengenai
produk dan harga yang ditawarkan, serta
promosi penjualan yang berlangsung di
restoran Taiyo Sushi. Alamat restoran dan
foto produk yang diunggah juga menjadi
stimuli yang disampaikan.
Ketiga, Comprehension and Perception.
Pemahaman terjadi ketika seseorang beru-
saha menginterpretasikan stimulus (Sumar-
wan, 2004, 83). Sejalan dengan pernyataan
tersebut, Schifman dan Kanuk (2000, 158)
mengartikan persepsi sebagai proses dima-
na suatu individu memilih, mengatur, dan
mengartikan stimuli menjadi sesuatu yang
bermakna. Namun, dapat terjadi miscom-
prehension dalam tahap ini, yakni dimana
seseorang kurang akurat dalam mengartikan
sebuah pesan (Hoyer & Maclnnis, 2010, 110).
Untuk meningkatkan keakurasian interpre-
tasi pesan, perlu menyusun pesan mudah
dipahami dengan menggunakan kata yang
sederhana (Hoyer & Maclnnis, 2010, 111).
Disesuaikan dengan penelitian yang
dilakukan, comprehension and perception
terjadi pada saat customer dapat memaha-
mi pesan (tweet) dan foto produk yang dis-
ampaikan oleh akun Twiter restoran Taiyo
Sushi. Pesan yang dimaksud berisikan in-
formasi mengenai produk dan harga yang
ditawarkan, promosi penjualan yang sedang
berlangsung di restoran Taiyo Sushi, serta lo-
kasi (alamat) restoran Taiyo Sushi yang ter-
tera pada kolom biodata.
Keempat, Yielding and Acceptance.
Chafey dan Smith (2008, 157) mengungkap-
kan bahwa yielding and acceptance terjadi
ketika informasi yang dipaparkan itu dapat
diterima oleh customer. Lebih jauh lagi, En-
gel et al. (1995, 497-458) menyatakan bahwa
yielding and acceptance berfokus pada efek
persuasif stimulus, baik dari sisi kognitif
(pengetahuan) maupun afektif (sikap). Untuk
dapat mempengaruhi pengetahuan, Hoyer
dan Maclnnis (2010, 133) menyarankan agar
isi pesan memuat argumen yang kuat. Se-
dangkan untuk dapat mempengaruhi sisi
afektif seseorang, sebuah pesan hendaknya
menyentuh sisi emosional manusia, seperti
perasaan suka, takut, marah, malu, sukaci-
ta, atau lain sebagainya (Hoyer & Maclnnis,
2010, 140).
Disesuaikan dengan penelitian yang
dilakukan, yielding and acceptance terjadi
pada saat pesan (tweet) dan foto produk
yang disampaikan oleh akun Twiter restoran
Taiyo Sushi, serta alamat restoran yang terte-
ra pada kolom biodata akun Twiter restoran
Taiyo Sushi dapat berguna dalam sisi kognitif
dan afektif followers. Sisi kognitif followers
ditandai dengan bertambahnya pengetahuan
followers, serta sisi afektif ditandai dengan
munculnya keinginan untuk mengunjungi
restoran Taiyo Sushi dan membeli produk
yang ditawarkan. Pesan (tweet) yang disam-
paikan berisi informasi mengenai produk,
harga produk, dan promosi penjualan yang
sedang berlangsung di restoran Taiyo Sushi.
Kelima, Retention. Loudon dan Bita
(1993, 402) mendefnisikan retention sebagai
materi yang telah dipelajari, yang diingat
oleh seseorang. Hal ini serupa dengan apa
3
EFEKTIVITAS TWITTER SEBAGAI MEDIUM PROMOSI
ANASTASIA & EMRUS
yang diungkapkan oleh Schifman dan Ka-
nuk (2000, G-11) mengenai retention, yakni
kemampuan seseorang dalam menyimpan
informasi dalam ingatannya. Informasi yang
disimpan adalah interpretasi mereka ter-
hadap stimulus yang diterima (Sumarwan,
2004, 85). Cara yang dapat dilakukan pema-
sar dalam meningkatkan retention ialah me-
nyampaikan stimuli secara rutin dengan tu-
juan untuk mengingatkan (Sumarwan, 2004,
89). Hal ini dinamakan recirculation oleh
Hoyer dan Maclnnis (2010, 177).
Disesuaikan dengan penelitian ini, re-
tention terjadi ketika followers akun Twit-
ter restoran Taiyo Sushi dapat mengingat
pesan (tweet) dan foto produk yang pernah
disampaikan, serta dapat mengingat alamat
restoran Taiyo Sushi yang tertera pada kolom
biodata akun Twiter tersebut. Pesan (tweet)
yang disampaikan merupakan informasi
mengenai produk dan harga yang ditawar-
kan, serta promosi penjualan yang sedang
berlangsung di restoran Taiyo Sushi.
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini ialah pendekatan kuantitatif,
yang berarti pengukuran dilakukan dengan
menggunakan angka sebagai representasi
suatu karakteristik (Hair et al., 2007, 424).
Teknik pelaksanaan dilakukan melalui survei
deskriptif yang merupakan salah satu teknik
dalam penelitian kuantitatif (Sandjaja &
Heriyanto, 2006, 57). Menurut Sekaran (2000,
125), penelitian deskriptif merupakan peneli-
tian yang digunakan untuk mendeskripsikan
karakteristik dari variabel di dalam suatu
situasi dan survei adalah teknik penelitian
yang mengambil sampel dari satu populasi
(Singarimbun & Efendi, 1989, 3).
Populasi adalah sekelompok orang
yang akan diteliti oleh peneliti (Sekaran,
2000, 266) yang memiliki pengetahuan akan
topik tertentu (Hair et al., 2007, 170), sedan-
gkan sampel ialah bagian dari populasi yang
diambil sebagai sumber data (Riduwan, 2009,
56). Teknik pengambilan sampel menggu-
nakan teknik convenience sampling, yakni
pemilihan sampel yang dengan sukarela
memberikan informasi yang dibutuhkan
(Hair et al., 2007, 181).
Berdasarkan defnisi tersebut, popu-
lasi dalam penelitian ini ialah followers akun
Twiter restoran Taiyo Sushi yang berjumlah
464 orang (twiter.com/TaiyoSushi, diakses 20
November 2011) dan anggota populasi yang
sukarela memberikan jawaban atas angket
yang disebarkan merupakan sampel dalam
penelitian ini. Menurut Neuman (2000, 217),
ukuran populasi kurang dari 1000 menggu-
nakan rasio sampel minimal 30 persen dari
jumlah populasi. Maka dari itu, 140 sampel
adalah jumlah minimum sampel yang dibu-
tuhkan.
Data dalam penelitian ini didapat me-
lalui kuesioner sebagai alat pengumpul uta-
ma dari setiap individu pada penelitian yang
menggunakan pendekatan kuantitatif (Hair
et al., 2007, 424) dan wawancara dengan rep-
resentatif dari restoran Taiyo Sushi. Angket
dibuat pada situs www.kwiksurveys.com
dan alamat (link) angket tersebut disebarkan
melalui ftur direct message Twiter kepada
464 followers akun Twiter restoran Taiyo Su-
shi.
Analisis data yang digunakan adalah
statistik deskriptif, yang berfungsi untuk
mengelompokkan data, menggarap, meny-
impulkan, memaparkan serta menyajikan
hasil olahan (Arikunto, 2005, 298). Sebagai
penelitian deskriptif, penelitian ini mem-
berikan gambaran tentang fenomena tentang
Twiter sebagai medium promosi. Karena itu,
penelitian ini menggunakan univariate sta-
tistic, yakni melihat distribusi frekuensi dari
hasil yang didapat (Fielding & Gilbert, 2000,
49).
Untuk melihat efektivitas, penelitian
ini merujuk kepada rumusan yang dike-
mukakan oleh ahli. Efektivitas menurut Hi-
dayat (1986) yang dikutip oleh Kristi (2010,
8) adalah suatu ukuran yang menyatakan
seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan
waktu) telah tercapai. Artinya, semakin be-
sar persentase target yang dicapai, semakin
tinggi efektivitasnya.
Berdasarkan defnisi tersebut, jawaban
responden terhadap kuesioner diintepreta-
sikan menjadi skor dengan kriteria sebagai
berikut (Riduwan, 2009, 88): (a) Sangat Tidak
Setuju = Sangat Lemah = Sangat Tidak Efek-
tif = 20%; (b) Tidak Setuju = Lemah = Ti-
dak Efektif = 21% sampai 40%; (c) Netral =
Cukup = Cukup Efektif = 41% sampai 60%;
(d) Setuju = Kuat = Efektif = 61% sampai
80%; (e) Sangat Setuju = Sangat Kuat = Sangat
Efektif = 81% sampai 100%
HASIL DAN PEMBAHASAN

Data didapat dari 160 responden yang
menjawab angket yang telah disebarkan. Ter-
dapat 70% responden berjenis kelamin pria
(48 orang) dan 30% berjenis kelamin wanita
4
EFEKTIVITAS TWITTER SEBAGAI MEDIUM PROMOSI
ANASTASIA & EMRUS
(112 orang). Selain itu, 21.3% responden (34
orang) yang berusia kurang dari 20 tahun,
76.9% responden (123 orang) yang berusia
antara 20 sampai 40 tahun, dan 1.9% respon-
den (3 orang) yang berusia di atas 40 tahun.
Mayoritas responden (94,4% atau 151 orang)
tinggal di Jakarta dan sisanya (5.6% atau 9
orang) tinggal di luar Jakarta, yakni Band-
ung, Tangerang, Samarinda, Bekasi, Yogya-
karta, Balikpapan, Bekasi (2 orang), dan Mel-
bourne (Australia).
Hasil perhitungan data yang diperoleh dari
hasil penelitian dapat disajikan pada tabel 1
berikut.
Tabel 1. Persentase Efektivitas Dimensi

Persentase
Kategori
Exposure 85.975% Sangat Efek-
tif
Atention 83.375% Sangat efek-
tif
Comprehen-
sion
81.455 Sangat efektif
Acceptance 79.45% Efektif
Retention 75.3% Efektif
Information
Processing
80.83 % Sangat Efektif
Sumber: Olahan Peneliti, 2011
Dari tabel di atas, dimensi (tahap) ex-
posure, atention, dan comprehension dalam
variabel information processing dapat di-
kategorikan sangat efektif, dimana dimensi
acceptance dan retention termasuk dalam
kategori efektif. Secara keseluruhan, Twit-
ter merupakan medium promosi yang san-
gat efektif bagi restoran Taiyo Sushi dengan
persentase 80.83%. Akun Twiter restoran
Taiyo Sushi memanfaatkan hampir semua f-
tur yang terdapat di dalam Twiter. Ia meng-
gunakan komponen utama dalam Twiter
yakni tweet untuk memberikan informasi
kepada pengikutnya, mengisi kolom biodata
dengan alamat restoran, dan komponen tam-
bahan yakni unggah foto. Berikut pemba-
hasan dari masing-masing dimensi:
1. Exposure
Berdasarkan hasil perhitungan, Twit-
ter dikatakan Sangat Efektif pada tahap
pemaparan. Hal ini dikarenakan restoran
Taiyo Sushi menggunakan komponen utama
dalam Twiter, yakni tweet dan kolom bioda-
ta, yang menunjukkan keberadaannya seb-
agai sebuah akun Twiter. Dengan persentase
85.975%, dapat dikatakan bahwa stimulus
yang disampaikan restoran Taiyo Sushi me-
lalui akun Twiter ditangkap oleh pengli-
hatan pengikutnya. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Engel et al. (1995, 472) mengenai
exposure yang terjadi ketika stimulus me-
nyentuh atau ditangkap oleh satu atau lebih
panca indera.
Skor tertinggi dalam lima pernyataan
yang diberikan dalam dimensi exposure ter-
letak pada indikator yang menyatakan bahwa
responden membaca pesan (tweet) mengenai
promosi penjualan yang sedang berlangsung
di restoran Taiyo Sushi. Hal ini dikarenakan
pesan (tweet) mengenai promosi penjualan
merupakan informasi yang paling sering
dibagikan melalui akun Twiter restoran Tai-
yo Sushi (Darusman, 2011). Dengan demiki-
an, pernyataan Sumarwan (2004, 70) berlaku
dalam dimensi ini, yakni keterpaparan dapat
meningkat seiring dengan meningkatnya in-
tensitas penyampaian stimulus.

2 Atention
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
persentase keefektifan Twiter pada dimensi
ini sebesar 83.375% dan tergolong Sangat
Efektif. Hal ini menunjukkan bahwa stimu-
lus yang dipaparkan menarik perhatian
pengikut akun Twiter restoran Taiyo Sushi.
Dalam menulis pesan (tweet), Darusman
(2011) mengatakan bahwa ia tidak pernah
menggunakan kalimat yang sama dalam
menyampaikan informasi atau mengunggah
foto yang sama.
Pernyataan yang memperoleh nilai
pendapat terendah dari responden ialah per-
nyataan bahwa responden menganggap isi
kolom biodata pada akun Twiter restoran
Taiyo Sushi menarik perhatian. Menurut Da-
rusman (2011), kolom biodata merupakan f-
tur yang belum pernah diperbaharui karena
hanya berisikan alamat restoran Taiyo Sushi.
Rendahnya skor yang didapat pada pernyata-
an tersebut sesuai dengan pendapat Hoyer
dan Maclnnis (2010, 75), yakni seseorang cen-
derung kurang memperhatikan hal-hal yang
sudah pernah ia lihat sebelumnya.
3. Comprehension and Perception
Dimensi ini mengukur sejauh mana
pendapat responden mengenai pemahaman
mereka terhadap stimulus yang disampaikan
oleh restoran Taiyo Sushi melalui akun Twit-
5
EFEKTIVITAS TWITTER SEBAGAI MEDIUM PROMOSI
ANASTASIA & EMRUS
ter. Persentase yang didapat ialah 81.45%
yang tergolong Sangat Efektif. Hal ini berarti
bahwa responden sangat memahami stimuli
yang disampaikan oleh pemasar.

Gambar 3. Pesan (tweet) Mengenai Harga
Produk
Sumber: twiter.com/TaiyoSushi, diakses
20 No
vember 2011
Pendapat responden menunjuk-
kan bahwa pemahaman terendah terdapat
pada stimulus berupa pesan (tweet) men-
genai harga produk yang ditawarkan oleh
restoran Taiyo Sushi. Mengacu pada gambar
3, kurangnya informasi yang rinci mengenai
harga menyebabkan responden kurang me-
mahami maksud dari pesan tersebut. Hal ini
dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan
responden akan harga produk secara rinci,
sehingga menyebabkan followers kurang
akurat dalam pemberian arti terhadap stimu-
lus tersebut (Hoyer & Maclnnis, 2010, 109).
4. Yielding and Acceptance
Berdasarkan hasil perhitungan skor,
dimensi ini mendapat persentase sebesar
79.45% dan tergolong Efektif. Hal ini menun-
jukkan bahwa sebagian besar responden ter-
pengaruh oleh stimulus yang disampaikan
melalui akun Twiter restoran Taiyo Sushi,
baik dalam sisi kognitif maupun sisi afektif.
Namun, angka tersebut lebih kecil diband-
ingkan angka yang diperoleh dalam dimensi
sebelumnya, yakni dimensi exposure, at-
tention dan comprehension. Maka dari itu,
pernyataan Copley (2004, 56) berlaku dalam
penelitian ini, yakni tidak semua pesan yang
diterima dapat menimbulkan keinginan
dalam benak followers.
Indikator yang memiliki skor terendah ialah
pernyataan bahwa stimulus berupa alamat
restoran Taiyo Sushi yang tertera pada ko-
lom biodata akun Twiter mempengaruhi sisi
afektif responden untuk melakukan kunjun-
gan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kai-
tan stimulus tersebut dengan sisi emosional
responden, dimana menurut Hoyer dan Ma-
clnnis (2010, 140), agar dapat mempengaruhi
sisi afektif maka sebuah pesan hendaknya
menyentuh sisi emosional seseorang.
5. Retention
Menurut hasil perhitungan skor, di-
mensi retention dalam penelitian ini mem-
peroleh 75.3% dan tergolong Efektif. Angka
tersebut merupakan skor terendah dari lima
dimensi yang dibahas. Hal ini menunjukkan
bahwa tidak semua stimulus yang dipapar-
kan oleh restoran Taiyo Sushi melalui akun
Twiter dapat diingat oleh pengikutnya (fol-
lowers). Intensitas penyampaian stimulus
mempengaruhi tingkat ingatan seseorang
(Sumarwan, 2004, 89). Daruman (2011) men-
gungkapkan bahwa akun Twiter restoran
Taiyo Sushi tidak diperbaharui setiap hari.
Hal ini menunjukkan bahwa intensitas pe-
nyampaian stimulus tidak disampaikan se-
cara rutin, sehingga mempengaruhi tingkat
retention.
Skor terendah dalam dimensi ini ter-
letak pada pernyataan bahwa responden
mengingat pesan (tweet) mengenai harga
produk yang disampaikan melalui akun
Twiter restoran Taiyo Sushi. Merujuk pada
hasil dimensi comprehension and percep-
tion, stimulus serupa juga mendapat skor
terendah dibandingkan stimulus lainnya. Re-
sponden kurang melakukan intepretasi atau
pemberian arti terhadap stimulus tersebut
dan mengakibatkan informasi itu tidak di-
ingat oleh responden. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Sumarwan (2004, 85), bahwa in-
formasi yang disimpan merupakan hasil in-
tepretasi seseorang terhadap stimulus yang
diterima.
KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian menunjukkan, akun
Twiter merupakan medium yang sangat
efektif bagi usaha kecil untuk melakukan
promosi, sebagaimana restoran Taiyo Sushi
dalam melakukan promosi.
Penelitian ini dapat menjadi gambaran bagi
praktisi usaha kecil agar mempertimbangkan
pemakaian Twiter sebagai medium promosi
bagi usahanya.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian.
Jakarta, PT Rineka Cipta, 2005.
Belch, George E. and Michael A. Belch. Adver-
tising and Promotion: An Integrated Market-
ing Communication Perspective, 8th ed. New
York: McGraw-Hill, 2009.
Boyd, Danah, Scot Golder, and Gilad Lotan.
Tweet, Tweet, Retweet: Conversational As-
pects of Retweeting on Twiter. Hawaii: HIC-
SS, IEEE, 2010.
Chafey, Dave and PR Smith. eMarketing eX-
cellence: Planning and Optimizing Your Digi-
6
EFEKTIVITAS TWITTER SEBAGAI MEDIUM PROMOSI
ANASTASIA & EMRUS
tal Marketing, 3rd ed. Oxford: Elsevier But-
terworth-Heinemann, 2008.
Copley, Paul. Marketing Communications
Management: Concepts and Theories, Cases
and Practices. Oxford: Elsevier Buterworth-
Heinemann, 2004.
Cruz, Brant and Josh Mendelsohn. Why So-
cial Media Maters to Your Business. Boston:
Chadwick Martin Bailey, 2010.
Dale, Chris. Some Useful Marketing Facts
About Twiter and Facebook. Didapat dari
htp://www.marketinghq.com.au/social-me-
dia/some-useful-marketing-facts-about
-twiter-and-facebook/; Internet; diakses 25 Ok-
tober 2011.
Darusman, Danis, Marketing Ofcer Restoran
Taiyo Sushi. Wawancara oleh Peneliti, 29 Sep-
tember 2011, Jakarta.
Duncan, Tom. Principles of Advertising & IMC,
2nd ed. New York: McGraw-Hill, 2008.
Engel. James F., Roger D. Blackwell, and Paul
W. Miniard. Consumer Behavior, 8th ed.
Florida: The Dryden Press, 1995.
Fielding, Jane and Nigel Gilbert, Understand-
ing Social Statistic. London: SAGE Publica-
tions Ltd, 2000.
Fill, Chris. Marketing Communication: Interac-
tivity, Communities and Content, 5th ed. Es-
sex: Pearson Education Limited, 2009.
Hair, Joseph F., Arthur H. Money, Phillip Sa-
mouel, and Mike Page. Research Methods for
Business. Chichester: John Wiley & Sons Ltd.,
2007.
Hoyer, Wayne D. and Deborah J. Maclnnis.
Consumer Behavior, 5th ed. Cengage Learn-
ing, 2010.
Jantsch, John. Using Twiter for Business. Kan-
sas City: Duct Tape Marketing, 2009.
Kristi, Yosseane Widia. Keefektifan Trafc
Management Centre dalam Menangani Ma-
salah Lalu Lintas di Jakarta. Depok: Univer-
sitas Indonesia, 2010.
Loudon, David L. and Albert J. Della Bita.
Consumer Behavior: Concepts and Applica-
tions, 4th ed. Singapore: McGraw-Hill Book
Co., 1993.
Miniwats Marketing Group. Asia Marketing
Research, Internet Usage, Population Statis-
tics and Facebook Information. Didapat dari
http://www.internetworldstats.com/asia.
htm; Internet; diakses 23 September 2011
Neuman, William L. Social Research Methods
Qualitative and Quantitative Approaches,
4th ed. Massachusets: A Pearson Education
Company, 2000.
ODell, Jolie. The History of Social Media (In-
fographic). Didapat dari htp://mashable.
com/2011/01/24/the-history-of-social-media-
infographic; Internet ; diakses 25 Oktober
2011.
PT. Kassa9 International. Indonesia: Nomer
Satu Di Perkembangan Twiter, Nomer
Tiga di Facebook. Didapat dari htp://www.
teknoup.com/news_gallery/indonesia-no-
mer-satu-di-perkembangan-twitter-nomer-
tiga-di-facebook/6012_0; Internet ; diakses 19
September 2011.
Riduwan. Metode dan Teknik Menyusun Tesis.
Bandung: Alfabeta, 2009.
Sandjaja, B. dan Albertus Heriyanto. Panduan
Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustakaraya,
2006.
Schifman, Leon G. and Leslie Lazar Kanuk.
Consumer Behavior, 7th ed. New Jersey:
Prentice-Hall, Inc., 2000.
Seitel, Fraser P. The Practice of Public Rela-
tions, 11th ed. New Jersey: Pearson Educa-
tion, Inc., 2011.
Sekaran, Uma. Research Methods For Business.
New York: John Wiley & Sons, Inc., 2000.
Shimp, Terence A. Integrated Marketing Com-
munications in Advertising and Promotion,
7th ed. Ohio: Thomson Higher Education,
2007.
Stelzner, Michael A. 2011 Social Media Market-
ing Industry Report. Social Media Examiner,
2011.
Singarimbun, Masri dan Sofan Efendi. Metode
Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES, 1989.
Sulianta, Feri. Twiter for Business. Jakarta: PT
Elex Media Komputindo, 2011
Sumarwan, Ujang. Perilaku Konsumen; Teori
dan Penerapannya dalam Pemasaran. Bogor:
Ghalia Indonesia, 2004.
West, Richard and Lynn H. Turner. Introducing
Communication Theory: Analysis and Appli-
cation, 3rd ed. New York: McGraw-Hill, 2007.
7
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN: 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Anomalous Democracy
Examination on the Correlation between Press Freedom and Levels
of Corruption in Indonesia and Singapore
FX.Lilik Dwi Mardjianto
dosen Ilmu Komunikasi
Universitas Multimedia Nusantara
Jl. Boulevard, Gading Serpong Tangerang-Banten
Telepon (021) 5422 0808
e-mail: lilik@umn.ac.id
Abstract:
Indonesia sedang berada di dalam era keterbukaan dan kebebasan pers. Hal itu berarti demokrati-
sasi juga sedang berkembang. Geliat serupa juga dirasakan di ranah pemberantasan korupsi, ditan-
dai oleh banyaknya investigasi kasus-kasus korupsi oleh pers dan aparat penegak hukum. Fenomena
itu mengundang pertanyaan; apakah demokrasiyang salah satunya ditandai oleh kebebasan pers-
-selalu berjalan beriringan dengan penurunan tingkat korupsi? Adakah faktor di luar demokrasi
yang bisa menekan korupsi? Setelah melakukan perbandingan, analisis sejumlah data, dan wawa-
ncara, penulis menemukan sebuah anomali demokrasi; bahwa demokrasi dan kebebasan pers tidak
selalu diikuti oleh penurunan tingkat korupsi. Hal itu diterapkan oleh Singapurasebuah negara
yang berhasil melepaskan diri dari perangkap korupsi tanpa perlu repot mengurusi demokratisasi.
Keywords: Pers, demokrasi,anomali,korupsi
INTRODUCTION

Corruption is an extraordinary crime. It
is so extraordinary that people react to it dif-
ferently. While some are amused by it, others
are enraged. People react to corruption after
receiving and analyzing information they
get. Those with limited access to primary
sources of information tend to rely on infor-
mation released by the press or media, which
regularly scrutinize cases of corruption.
The global characteristic of corruption
and its massive destructive efects make news
headlines everywhere. Corruption is worth
dying for, especially for journalists seeking
good stories. Furthermore, massive cover-
age of corruption defnes public opinion and
atitude. It is clear that there is a correlation
between corruption, the press, and public at-
titude. Whenever possible, corruption will be
exposed by the press, and the result of the ex-
pose defnes the publics reaction or atitude
towards it.
Transparency International (TI), a glob-
al organization, recognizes that corruption
is a transnational problem and measures it
through its annual Corruption Perception In-
dex (CPI). CPI is used for this study because
it is regularly used by Indonesia and Sin-
gapore; on which the study will focus. This
study focuses on these two countries because
they possess unique and, in certain cases,
anomalous characteristics related to press
freedom and corruption. Geographically, In-
donesia and Singapore are in Southeast Asia
and bear similarities in nature and culture.
Although the citizens of these countries are
close geographically and ethnically, some of
them maintain diferent views about freedom
of speech and expression. While Indonesians
value press freedom, this does not seem to be
shared with an equal fervor by Singaporeans.
And while Indonesians are more tolerant of
corrupt practices, Singaporeans are less so.
As a result, Indonesia and Singapore have
achieved diferent levels of development,
8
Anomalous Democracy
F. X. LILIK DWI MARDJIANTO
with the later performing much beter.
The writer also used World Press Free-
dom Index released annually by a global or-
ganization called Reporters without Borders.
It measures the state of press freedom in the
world and refects the degree of freedom that
journalists and news organizations enjoy in
each country. The survey also measures the
eforts of authorities to respect this freedom.
REVIEW OF RELATED LITERATURE

Journalism is an immediate infuence
upon public opinion. Robert C. Brooks in his
book entitled, Corruption in American Poli-
tics and Life, states that journalism possesses
undeniable infuence upon public opinion. It
shapes how the public see life. Within a con-
cept of a state, journalism plays an important
role in determining public opinion towards
politics, and every aspect of it, including cor-
rupt practices.
Media are (muzzled) watchdogs. Rod-
ney Tifen explores several issues about me-
dia, politics, and corruptionespecially in
contemporary Australia. In a research enti-
tled Scandals: Media, Politics & Corruption
in Contemporary Australia, Tifen explores
how politics and corruption afect news poli-
cies, and how a news policy afects correction
of bad politics and eradication of corruption,
especially in Australia. The research also puts
atention on several aspects that limit the role
of the press.
Tifen uses the ideal identity of the me-
dia and the pressthey are watchdogs. It
is the highest aspiration for the media. The
media and press are expected to be a vigilant
watchdog for the public good against so-
cial abuses and ofcial wrongdoing (Tifen,
1999). But at the same time, the media are
under atack from contradictory directions.
They are willing but unable to perform their
role as watchdogs. The media are hamstrung
by restrictive laws, especially those relating
to defamation. The media are no longer vigi-
lant, but muzzled watchdogs instead.
States are an example of organized
crime. The idea goes along with what Weberi-
ans think. A state, according to Max Weber, is
a human community which, within a defned
territory, successfully claims for itself the mo-
nopoly of legitimate physical force. For some
cases, a state is the sole source of the right
to exercise violence (Whimster, 2004:131).
Gramscians are of the same opinion. They re-
gard a state, with its powerful hegemony, as
an entity that tends to coerce.
These studies are relevant to the study
of press freedom and aspects of social and po-
litical life, including corruption. Some of the
studies explore media and corruption within
a frame called politics. It is understandable
since media and corruption in a country will
always have something to do with the politi-
cal practices. But none of the studies explore
press freedom and levels of corruption at the
same time. Moreover, most of the works are
American or Australian-based researches,
therefore rarely discussing what is happen-
ing in developed or developing countries in
Asia like Singapore and Indonesia.
This study will ofer something new be-
cause it concentrates on Asia, especially In-
donesia and Singapore. This study also ofers
elaborations on a relatively new idea, which
is correlation between press freedoma cru-
cial feature of democracy---and level of cor-
ruption.
METHODOLOGY

The study focuses on press freedom
and levels of corruption in Indonesia and Sin-
gapore. The writer analyzed and interprets
World Press Freedom Index and Corruption
Perception Index (CPI) in order to compose
fundamental argument of the study. The
writer, afterwards, strengthen the argument
by analyzing several stories released by the
press of both countries. The next step is ana-
lyzing the idea of ownership, in which the
writer indicated the patern of ownership of
the media in Indonesia and Singapore. Af-
ter that, an analysis on legal aspects in both
countries was conducted. The two last steps
were crucial for determining potential in-
terventionboth from the authorities and
lawexperienced by the press.
Journalists, experts in media and com-
munication, NGO activists involved in anti-
corruption movements, and ofcial bodies
concerned about the eradication of corrup-
tion were interviewed to provide expert
opinion and facts.
Senior editors of Koran Tempo and
Seputar Indonesia, national and investigative
newspapers in Indonesia were likewise in-
terviewed. Topics discussed in the interview
were mostly about the role of the press in
anticorruption movements in Indonesia. Af-
terwards, the deputy chief of Indonesia Cor-
ruption Watch (ICW), the most aggressive
NGO in Indonesia, was interviewed. The in-
9
Anomalous Democracy
F. X. LILIK DWI MARDJIANTO
terview gave an idea of how anti-corruption
movements relate to the role of the press, also
elaborating on how the press determines the
success of anti-corruption eforts conducted
by ICW.
The commissioner of the Indonesia
Corruption Eradication Commission (KPK)
was also interviewed. KPK is an ofcial body
tasked with combating corruption through
preventive and punitive strategies. The inter-
view then explored how the press infuences
the KPKs strategy in combating corruption.
It also looked at the cooperation between the
two entities both interested in eradicating
corruption.
An adjunct Senior Research fellow of
the National University of Singapore was
likewise interviewed to explain press free-
dom, politics and corruption in Singapore.
Several cases and testimonials from Singa-
porean journalists, media companies, and
media activists were also studied. Due to
time and budgetary constraints, tight dead-
lines and schedules, the interviewees chose to
be interviewed via email.
Three Singaporean journalists were also
interviewed through email in order to get a
comprehensive picture of press freedom in
the country. The interviewees explained their
opinion and experience about press freedom
in relation to political issues and the govern-
ments efort in combating corruption.
RESULTS AND DISCUSSION
The Indonesian press and media are
celebrating the freedom of speech. This has
made the press and media efective agents
in conveying certain messages and afecting
public opinion. The most controversial case
that illustrates this is that experienced by the
Indonesian Corruption Eradication Commis-
sion (KPK) commissioners, Bibit Samad Rian-
to and Chandra M. Hamzah, in 2008. The case
was widely covered by the press for almost
three months, making Indonesians aware of
corruption and provoking them to begin a
great online movement. Millions expressed
their opinion on Facebook and it successfully
forced the government to adopt a political
policy to stop investigations in the KPK case,
which is also known as Bibit-Chandra case.
Taking after the Philippines, some refer to
this case as Indonesian People Power.
Another major case surfaced two years
later, the Century Bank case, and cast doubt
on the Susilo Bambang Yudhoyono presiden-
cy. By 2010, the media and political institu-
tions have been dealing with it for almost a
year. There is a suspicion that Yudhoyono,
the founder of the Demokrat party, received
illegal funds amounting to 6.7 trillion rupiahs
during his presidential election campaign.
Money from the government went to Cen-
tury Bank, especially to several businessmen
who were suspected of having a relationship
with Yudhoyono or the Demokrat party. The
press has been reporting on this case exten-
sively and everybody, including politicians,
has started to talk about impeachment. Yud-
hoyono and his men have denied the accusa-
tions.
Indonesian press has been experienc-
ing freedom, indicated by the fow of various
stories for years. The freedom began after
the fall of Soeharto presidency. It grew rap-
idly since 2000s. As the result, the world has
recognized Indonesias press freedom. In the
2009 World Press Freedom Index of RSF, In-
donesia ranked 100th, beter than its neigh-
boring countries, Singapore (133th), Malaysia
(131st), and Thailand (130th).
Freedom House, using a similar meth-
odology, also gave a similar assessment,
where Indonesia scored 54 in both 2007 and
2008, or improved from 58 in 2006.
Meanwhile, the Singaporean press rare-
ly investigated corruption cases. Investigative
reports were usually done by foreign media
operating in Singapore. Trixia Carungcong,
deputy foreign editor of Today newspaper,
admits it. In an interview with the writer, Ca-
rungcong said that one of the difculties for
journalists working in Singapore is the guess-
ing game they have to play with regard to the
gray areas. There are so-called OB (out-of-
bounds) markers. Journalists may take too
much risk if they work carelessly within this
area. The area includes some topics that are
deemed too sensitive, such as race, religion,
religion and corruption. Criticism and al-
legations of corruption or abuse of power,
for instance, which are not backed by evi-
dence, could end up in a costly libel suit,
Carungcong said. As an experienced journal-
ist, Carungcong confdently claimed that the
role of the press is not the main reason for
the low incidence of corruption in Singapore.
The situation in Singapore is very diferent
from countries like the United States, Britain,
the Philippines and Indonesia, where investi-
gative journalists play a major role in keeping
ofcials in check.
Another Singaporean journalist, Ans-
ley Ng shared the same opinion. Journalists
10
Anomalous Democracy
F. X. LILIK DWI MARDJIANTO
have limited access to be able to aggressively
report on corruption cases in the country. Of-
ten, they are able to obtain information that
comes from the courtonly after the case has
gone to court. Before such cases go to court, it
can be very difcult to persuade newsmakers
to give information. This goes to show that
the Corrupt Practices Investigation Bureau
(CPIB) does not regard the press as a partner
in the investigation of corruption cases.
The reporter of Today, in an interview
with the writer, noted that authorities still
control the fow of information, but in a rela-
tively good way. There are more of-the-re-
cord briefngs for editors and reporters before
any major announcement. This allows sensi-
tive questions to be asked, to which frank an-
swers are given by authorities. On the fip
side, such briefngs can be seen as yet another
way to control information, by keeping it of
the record, Ng said. According to her, there
is more press freedom in Singapore, con-
sidering that the government was tighter as
many as fve to eight years ago.
In terms of corruption eradication, In-
donesia and Singapore seem to live in a dif-
ferent world. Indonesia ranked 111th and
scored 2.8 out of 180 countries on the Cor-
ruption Perception Index (CPI) 2009 scale
released by Transparency International (TI).
The score means there is a high level of cor-
ruption in Indonesia. TIs ofcial statement
calls atention to the fact that many countries
scored less than 5.0. Most of the countries
with low scores are countries that are at war
or undergoing political and economic insta-
bility.
The same condition happened in 2010.
Indonesia still scored 2.8 and it showed that
the country incurred corrupt desease. In
2011, Indonesia made a litle improvement
by achieving 3.0. But, according to TI state-
ment, such a score indicate the same corrupt
practices still exist.
Indonesia is left behind by its neighbor-
ing countrySingapore--which scored 9.2 or
placed itself at the top of the list, along with
several free-corruption countries.
Former Singaporean Prime Minister
Lee Kwan Yew is an inspiring fgure who
eradicated corruption in the country. Lee
launched a program asking the government
to spare funds for the countrys ofcials. The
New York Times reported that the coun-
try spent huge amounts of money to reach
a 60-percent increase in ministers salaries,
or about S$1.3 million in 2007. The program
aimed to stop corruption and it succeeded.
The country also has a Corrupt Practic-
es Investigation Bureau (CPIB) which plays
an important role in combating corruption in
the country. It has also successfully brought
erring politicians and public ofcers to jail.
The Power of Ownership
Power is exercised in every media or-
ganization. Reporters are usually ordered by
editors to cover several events, while editors
obey commands of the owner. Power allows
whoever holds it to exercise control over
those who dont. In some news organizations,
ownership means the ability to control and
create newsroom policy which, according to
Warren Breed, is the consistent orientation of
a papers news and editorial toward issues
and events, revolving primarily around par-
tisan, classes, and racial division (Breed, 1955:
326-335). A discussion on the ownership of a
news organization will sometimes lead to a
discussion of independence. The press can be
dependent on anything, including the owner.
Two major categories of media owners
are public and private, with each group hav-
ing its own characteristics and news policies.
A government-owned news organization is
bound to follow government policy and toe
the line. Private news organizations, on the
other hand, have more freedom to criticize
the government but are still dependent on its
owners.
In Singapore, there is a virtual monop-
oly of ownership, with owners closely linked
to the ruling party. It is diferent in Indone-
sia where there is relatively no monopoly of
the government, with majority of Indonesian
media being fnancially independent. This
means that the country does not allocate any
funds for most of the media organizations so
that Indonesian journalists are free and en-
thusiastic about investigating sensitive issues
in the country, including corruption.
There are 335 weekly magazine and 288
daily newspapers read by Indonesians. Each
province has its own magazine and daily
newspapers. Some Indonesians in certain
provinces also enjoy monthly magazines and
various programs produced by several tele-
vision stations. TV stations, newspapers, and
magazines are the most popular media used
by Indonesians. Jakarta seems to be the most
well-informed province. The Press Council
counted that there are 14 TV stations, 46 daily
newspapers, 134 weekly magazines, and 44
monthly magazines. Freedom of information
11
Anomalous Democracy
F. X. LILIK DWI MARDJIANTO
is so highly appreciated in Indonesia, that the
most remote provincePapuapossesses
two main daily newspapers (Press Council,
2010).
Indonesian journalists enjoy various ad-
vantages that come with press freedom, and
for some infuential newspapers and TV sta-
tions, this is a virtual paradise. But the free-
dom is also being challenged by problematic
media ownership in the country.
The Century Bank case depicts the
power of media ownership. The press treated
this case diferently. The government-owned
press was expected to protect the govern-
ment by publishing friendly stories, while
privately-owned media tended to publish
more ofensive stories. This is not decided
upon by reporters, but by the owners.
ANTARA News Agency, as an exam-
ple, is a state-owned enterprise. The agency
rarely covers stories that atack the govern-
ment. On the other hand, the agency publish-
es stories that promote government stability.
ANTARA, in an article, stated that the Cen-
tury Bank case has afected President Susilo
Bambang Yudhoyonos second-term govern-
ment, especially its frst 100-day program.
This will likely continue to cost a lot of ener-
gy even after the end of 2010. The Yudhoy-
ono-Boediono government has not been able
to enjoy a honeymoon in the past 60 days
of its administration because many problems
have emerged, including the alleged framing
issue of the Corruption Eradication Commis-
sion (KPK) and the Bank Century case, the
article said.
The agency also quoted an economic
observer from state University of Indonesia,
Faisal Basri, who said the decision to bail out
Century Bank was right and had saved Indo-
nesia from a crisis. ANTARA also stated its
position by quoting that the idea to summon
President Susilo Bambang Yudhoyono was
not necessary. Indeed it is not necessary to
summon him because he has no connections
with the Century Bank case, ANTARA quot-
ed Anas as saying.
The more independent press treated
the issue diferently. The Jakarta Post in an
article published in February 2009 said that
the crucial question in the Century Bank case
was whether Yudhoyono was commited to
the policy of bailing out the bank, and wheth-
er this policy was justifed by the global crisis
that was exerting pressure on Indonesia. The
article also pointed out the political issue in
the case: Especially for a signifcant number
of politicians, Yudhoyono is the ultimate tar-
get.
Meanwhile, The Jakarta Globe called
atention to Yudhoyonos popularity after
dealing with the case. A survey conducted by
Indonesia Survey Institute (LSI) pegged Yud-
hoyonos popularity at 70 percent. LSI que-
ried 2,900 respondents. A previous survey
found the presidents popularity standing at
85 percent.
The Singaporean press and media are
closely connected to the government. Unlike
Indonesia, media ownership in Singapore is
limited to only two main corporations, Singa-
pore Press Holdings (SPH) and MediaCorp.
The British Broadcasting Corporation (BBC)
reported close links between SPH and the
ruling Peoples Action Party (PAP).
A set of amendments to the Newspa-
pers and Printing Presses Act (NPPA) in 1974
ended the private ownership of newspapers,
allowing only the PAP government to own
newspapers, and forcing all newspaper or-
ganizations to become public companies. The
Act also forbade newspapers from receiving
funding from foreign sources without gov-
ernment approval.
The government forced all media com-
panies to be public companies with a mini-
mum of 50 shareholders, with no shareholder
owning more than three percent of the shares.
The government or its nominees has to be
given management shares that carry more
voting power than those held by the rest of
the shareholders combined. Management
shares carry some 200 times the voting power
that ordinary shares have. Furthermore, only
persons approved by the government can be
issued management shares, with the transfer
of these shares also requiring government ap-
proval.
Looking at the situation, the editorial
policies of the newspapers are automatically
managed by those holding a majority of the
management shares, and because these share-
holders are government-approved, they are,
as a mater of course, pro-PAP (Gomez, 2005).
It comes as no surprise then that most media
analysts describe Singapores media environ-
ment as highly regulated (Quinn, 2008).
Stephen Quinn, in his book entitled,
Asias Media Innovators, elaborates that SPH
is divided into two divisions. About 600 jour-
nalists work in the Chinese newspaper divi-
sion and more than 600 operate in the English,
Tamil, and Malaysian division. The company
employs 400 of its journalists to run its fag-
12
Anomalous Democracy
F. X. LILIK DWI MARDJIANTO
ship publication, The Straits Times. SPH is
licensed to published 14 newspapers in four
languages. Together, these newspapers have
a combined circulation of more than a million
copies a day. SPH publishes and distributes
more than 90 periodicals in the country and
region. It also has a 40 percent stake in Me-
diaCorp Press Pte Ltd, which publishes a free
daily newspaper, Today. The company also
has free-to-air television business through a
20-percent shareholding in MediaCorps tele-
vision holdings (Quinn, 2008).
This giant corporation can maintain
most of the people living in Singapore. Quinn
claims that, every day, SPH newspapers are
read by 2.7 million individuals, or 83 percent
of people aged 15 or older. This means that
more than half of Singapores total popula-
tion read an SPH newspaper. The count of
SPHs consumers will be more if the readers
and viewers of other SPH divisions are in-
cluded. Millions of SPH consumers end up
receiving homogeneous information from
the companys publications. And given close
relations with the ruling party, content and
substance of the companys publications can
be predictable.
This situation strengthens the predic-
tion that most of local press and media will
follow the governments intention and rare-
ly oppose it. This leads to the fact that local
press and media in Singapore seldom pub-
lish or investigate corruption cases that may
slap the government. Well-arranged media
ownership, along with strict media rules, will
maintain the stability.
Freedom Versus Rule of Law
Azhar Azis, senior editor of Seputar In-
donesia says that the role of the Indonesian
press is signifcant in exposing corruption
cases. Citing the Bibit-Chandra case, Azis
says it illustrates the infuence of press free-
dom on Indonesia. Civil society, along with
the press and Indonesian judicial systems
successfully exposed confdential taping that
eventually brought about justice. The public
realized that the charges were just trumped
up, the commissioners were innocent, and
that some Indonesian ofcials were alleged-
ly bribed to create the false accusations. In
this case, the government was fnally forced
to follow public demand conveyed by the
press, says Azhar.
Abdul Manan, senior editor of Koran
Tempo chose to step backwards. He referred
to the Bulog case to elaborate on the role of
the press in dealing with corruption cases.
The case was slowly investigated because
the suspect was an infuential ofcial. It was
Tempo which decided to investigate the case
and successfully brought the suspect to court.
Manan, now in charge of national (law and
politics) news, said that the basic role of the
press is to encourage change. Talking about
corruption, the press should force authorities
to honestly investigate every case. Because
the government tends to investigate cases
that (are) massively covered by the media,
he said.
Deputy chief of Indonesia Corruption
Watch (ICW), Emerson Yuntho said that
there are at least fve strategies in combat-
ing corruption, one of which is working to-
gether with the press. The other four include
producing original ideas for anti-corruption
campaigns, building and developing net-
works, helping anti-corruption movements
in various sectors and area, and working
with civil society.
Emerson said that ICW and the press
are brothers. The success of corruption
eradication eforts cannot be separated from
the support of the press. So far, our criticism
is heard by authorities only if it is massively
covered by the press, Emerson said.
Another anti-corruption agent in In-
donesia is KPK. The body is an ofcial body
established in 2002, which became the most
powerful institution in Indonesia, especially
in corruption eradication. In completing its
mission, KPK often works with the press.
KPK commissioner Chandra Marta Hamzah
said the Indonesian press and media play an
important role, especially in providing infor-
mation both for the public and KPK. News
can lead to preliminary evidence for KPK to
solve certain corruption cases, Hamzah said
to the writer.
Sometimes, the press interviews some-
one who has not been interviewed by KPK.
According to Hamzah, KPK can interpret
the position of the interviewee in cases that
KPK is working on. Furthermore, the news
can make informants more confdent and
more willing to provide hidden information
to KPK.
A senior Singaporean journalist, Jona-
than Burgos, argued that limited ac-
cess is not the sole problem faced by Singa-
porean journalists in reporting corruption
cases. Another key factor is that the journal-
ists themselves are not as aware of corruption
13
Anomalous Democracy
F. X. LILIK DWI MARDJIANTO
issues. Journalists believe that corruption is
not an issue worth dying for. Most of them
do not regard corruption cases as a priority
for investigation. We seldom hear of corrup-
tion cases that came to light because of me-
dias vigilance in Singapore, Burgos said in
an interview with the writer.
Carungcong of Today added that the
success of corruption eradication in Singa-
pore is mainly due to the rule of lawthe
efcient and credible judiciary and a reliable
police forceas well as the philosophy of the
government in compensating its employees
and ofcials. The country believes that to
keep the best and the brightest in its ranks,
and to discourage them from seeking illegal
or unethical means of making money, it must
compensate its people well in terms of salary
and benefts. The government prides itself in
running the country well, and as its economic
success shows, it has been doing a fairly good
job.
Ng of Today also claimed that key fac-
tor for successful corruption eradication is
Singapores harsh laws on corruption. It also
requires the willingness of the government
to carry out the punishments. Corrupted
people are given no slack when it comes to
being punished. In other countries like Indo-
nesia, prisoners live in comfortable jail cells
because they are celebrities, VIPs, or are able
to pay the prison guards for it. This is hardly
the case in Singapore. If that happened, the
prison director will be jailed instead.
CONCLUSION
Based on fndings, there is no defnite
correlation between press freedom and the
level of corruption in a country. It means that
the press is not the sole factor in bringing
about less corruption.
Indonesia is an example where press
freedom exists alongside anticorruption
movements. Two of these, the Indonesian
Corruption Eradication Commission and In-
donesia Corruption Watch depend on the
press as they make press coverage one of the
essential factors in combating corruption. Yet
Indonesias ranking in the 2009 Corruption
Perception Index remained low.
Singapore, on the other hand, is an un-
usual case. Even without the press and the
media, it has successfully batled corrup-
tion. Legally speaking, according to Cherian
George of the National University of Singa-
pore, there is greater press freedom in Indo-
nesia than in Singapore. But the Singaporean
state has very efective internal safeguards
against corruption and its political culture is
such that there is zero tolerance for corrup-
tion. Citizens do not tolerate corruption, and
will complain if they encounter it. This means
that there is a greatly reduced role for investi-
gative journalism in combating corruption in
Singapore.
This leads to the conclusion that democ-
racy, represented by freedom of the press, is
not the sole factor in bringing about good
governance and less corruption. Democracy,
which has resulted in successful and clean
governance in America, Australia and Eu-
rope, does not seem to bring about the same
results in Southeast Asia. In fact, a democratic
country like Indonesia is hardly prosperous.
The study reveals that the press is quite
aggressive in a democratic country. Mean-
while, in an authoritarian-like country like
Singapore, there is a tendency for the press to
be less aggressive. Further research on ethics
is recommended to analyze the nature of the
press in these opposing situations. Does an
aggressive press tend to violate ethical codes,
while the obedient press stays on track, or
vice versa?
BIBLIOGRAPHY
Abdussalam, A. (2009, December 21). Anta-
ranews. Retrieved September 13, 2010, from
Antaranews: htp://www.antaranews.com/
en/news/1261336269/year-ender-bank-centu-
ry-case-disturbs-govts-100-day-program
Antaranews. (2009, December 11). Antaranews.
Retrieved September 13, 2010, from Anta-
ranews: htp://www.antaranews.com/en/
news/1260538284/anas-century-bank-com-
mitee-must-not-target-individuals
Antaranews. (2009, December 11). Antaranews.
Retrieved September 13, 2010, from Anta-
ranews: htp://www.antaranews.com/en/
news/1260482999/decision-to-bail-out-centu-
ry-bank-correct-observer
Breed, W. (1955). Social control in the news-
room: A functional analysis. In W. Breed, So-
cial Forces (pp. 326-335).
Brooks, R. C. (n.d.). Corruption in American
Politics and Life. Retrieved November 25,
2009, from questia: htp://www.questia.com/
read/98213556?title=Corruption%20in%20
American%20Politics%20and%20Life#
Gomez, J. (2005). Freedom of Expression and
the Media in Singapore. London: Article 19
14
Anomalous Democracy
F. X. LILIK DWI MARDJIANTO
Pasandaran, C. (2010, January 27). Jakarta
Globe. Retrieved September 13, 2010, from
Jakarta Globe: htp://www.thejakartaglobe.
com/indonesia/scandals-dent-yudhoyonos-
popularity-especially-among-middle-class-
voters/355295
Quinn, S. (2008). Asia's Media Innovators. Sin-
gapore: Konrad Adenauer Stiftung.
Tifen, R. (n.d.). Scandals: Media, Poli-
tics & Corruption in Contemporary Aus-
tralia. Retrieved November 25, 2009,
from questia: htp://www.questia.com/
read/ 23076230?t i t l e=Scandal s%3a%20
Media%2c%20Politics%20%26%20Corrup-
tion%20in%20Contemporary%20Australia#
Tifen, R. (1999). Scandals: Media, Politics &
Corruption in Contemporary Australia. Syd-
ney, N.S.W.: UNSW Press.
Whimster, S. E. (2004). The Essential Weber: A
Reader. London: Routledge.
15
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
NEW MEDIA DAN MULTIKULTURALISME
Indiwan Seto Wahyu wibowo
Dosen Ilmu Komunikasi
Universitas Multimedia Nusantara
Jl. Boulevard, Gading Serpong Tangerang-Banten
Telepon (021) 5422 0808/082112297660
e-mail: indiwan@umn.ac.id
Abstract:
Kemunculan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI sangat fenomenal bahkan mampu mengalahkan
calon kuat yang didukung partai-partai besar menimbulkan tanda Tanya besar, mengapa sosok
keduanya ini begitu cepat melejit dan mampu meraih simpati rakyat yang banyak. Apakah kehadi-
ran keduanya yang terkenal karena baju kotak-kotaknya ini melulu memang karena kharisma
mantan Walikota Solo itu ataukah karena pengaruh opini public yang dihembuskan oleh media
massa khususnya new media dan social media. Mengapa kemunculan keduanya ini memunculkan
sentiment SARA ( suku,agama dan ras) dan berujung pada gangguan terhadap multikultural-
isme bangsa Indonesia?
Keywords: New Media, Multikulturalisme, Framing Komunikasi, Konstruksi realitas
PENDAHULUAN
Siapa yang tidak tahu Jokowi Ahok?
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta
yang baru saja dilantik sebagai pejabat baru
menggantikan Fauzie Bowo sebagai orang
nomor satu di Ibukota Jakarta.
Kemunculan keduanya yang sangat
fenomenal bahkan mampu mengalahkan
calon kuat yang didukung partai-partai besar
menimbulkan tanda Tanya besar, me ngapa
sosok keduanya ini begitu cepat melejit dan
mampu meraih simpati rakyat yang banyak.
Apakah kehadiran keduanya yang
terkenal karena baju kotak-kotaknya ini
melulu memang karena kharisma mantan
Walikota Solo itu ataukah karena pengaruh
opini public yang dihembuskan oleh media
massa khususnya new media dan social me-
dia. Mengapa kemunculan keduanya ini me-
munculkan sentiment SARA ( suku,agama
dan ras) dan berujung pada gangguan terha-
dap multikulturalisme bangsa Indonesia?
Paper sederhana ini ingin menguak
bagaimana frame media baru khususnya me-
dia online dalam mengusung fgure Jokowi
Ahok sebagai cermin dari keberagaman
suku bangsa di Indonesia. Ada sejumlah
teks berita yang dijadikan pijakan saat
menganalisis peran dan fungsi social media
dalam mengusung multikulturalisme di In-
donesia khususnya Jakarta.
Makalah ini berawal dari sebuah per-
tanyaan besar. Apakah berita itu merupakan
cermin dari realitas? Apakah berita memang
benar-benar merefeksikan kenyataan yang
ada di tengah masyarakat di Indonesia?
1.2. Pokok Permasalahan
Saat Jokowi Ahok masuk arena pertaru
ngan kandidat Gubernur DKI Jakarta, se-
jumlah pentolan kelompok tertentu di Ja-
karta meragukan bahwa keduanya bisa
menang mengingat dalam sejarah gubernur
DKI Jakarta belum pernah ada Gubernur
atau Wagub DKI Jakarta yang beragama se-
lain agama Islam.
Kasus ini dipicu pada awalnya le-
wat perseteruan antara Rhoma Irama de
ngan Jokowi, hingga menjadi pembicaraan
16
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
hangat di sejumlah media khususnya media
online dan social media seperti twiter dan
facebook. Kasus tersebut semakin terasakan
ketika Jokowi Ahok menang dalam pemili-
han Gubernur DKI Jakarta. Kita lihat berita
di bawah ini:
Rhoma Irama: Kampanye SARA Dibena-
rkan

JAKARTA, KOMPAS.com Raja dan-
gdut Rhoma Irama yang juga merupakan tim
kampanye pasangan calon gubernur Fauzi
Bowo-Nachrowi Ramli menuturkan, kampa-
nye yang mengusung suku, agama, ras, dan
antargolongan (SARA) dibenarkan. Hal ini
disampaikannya saat memberikan ceramah
shalat tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Du-
ren, Jakarta Barat, Minggu, (29/7/2012).
"Di dalam mengampanyekan sesuatu,
SARA itu dibenarkan. Sekarang kita sudah
hidup di zaman keterbukaan dan demokrasi,
masyarakat harus mengetahui siapa calon
pemimpin mereka," kata Rhoma Irama. Rho-
ma pun menyebutkan nama Ketua Dewan
Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jimly As-
shidiqie atas dasar pembenaran penggunaan
isu SARA. "Saya dapat berbicara seperti ini
karena memang dibenarkan Ketua Dewan,
Jimly Asshidiqie," katanya.
Senada dengan ustaz dan pengurus
masjid sebelumnya yang mengajak para ja-
maah untuk memilih yang seiman, Rhoma
Irama juga mengimbau para jamaah untuk
memilih pemimpin yang seiman. "Islam itu
agama yang sempurna, memilih pemimpin
bukan hanya soal politik, melainkan juga iba-
dah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas
masyarakat Jakarta," ujarnya.
Dalam ceramahnya, Fauzi Bowo lebih
banyak mengingatkan tentang berkah di bu-
lan Ramadhan. "Di bulan Ramadhan mari sa-
ling mempererat hablun minannas dan me-
ningkatkan ketakwaan kepada Allah. Bulan
ini merupakan kesempatan emas melaku-
kan ibadah lebih tekun dan khusyuk agar
mendapat bonus Allah," ujar pria yang akrab
disapa Foke ini.
Dalam akhir paparannya, Foke meng-
klaim keberhasilannya dalam membuat sua-
sana kondusif selama memimpin Jakarta.
"Jakarta ini bukan kota yang sederhana. Saya
bersyukur, selama saya memimpin, tidak ada
satu pun masyarakat Jakarta yang memaksa
mereka berhenti melaksanakan aktivitas," tu-
turnya.
Dalam kesempatan tersebut, Foke
memberikan sumbangan kepada anak asuh
PKU yang dikelola Muhammadiyah Tanjung
Duren dan Masjid Al-Isra, bantuan masjid
sebesar Rp 28 juta, Al Quran, alat olahraga,
dan lampu hemat energi. Hadir pula Sekre-
taris Daerah DKI Jakarta, Fajar Pandjaitan,
Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin, dan
petinggi harian Poskota. (Kompas.com/Pen-
ulis : Kurnia Sari Aziza | Senin, 30 Juli 2012 |
09:14 WIB)
Kemudian setelah suasana mereda ,
muncul pula pemberitaan yang mengganggu
multikulturalisme bangsa Indonesia khusus-
17
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
nya yang mulai mempertanyakan keyakinan
seorang kandidat dan mengaitkan dengan
ajaran agama tertentu.
Sebagai contoh dalam pemberitaan Era-
muslim, Okezone.com dan sejumlah media
online yang peneliti lihat. Persoalan utama
yang diangkat dalam makalah singkat ini
adalah bagaimana konstruksi pemberitaan
media online seputar kasus desakan Front
Pembela Islam agar Basuki tidak menjabat
sebagai Wakil Gubernut DKI dan mendesak
lelaki yang lebih dikenal sebagai Ahok itu
masuk Islam.
Di dunia maya, persoalan ini menjadi
menarik karena isu tersebut mendapat per-
hatian dan perlakuan yang tidak sama di
media online. Kalau kita mengetikkan kata
Ahok masuk Islam dalam kotak pencari
www.google.com akan beragam fakta dan
data yang muncul khususnya dalam judul
pemberitaan di media online.
Ada beragam judul berita di media on-
line, mulai dari yang netral seperti Ahok
didoakan masuk Islam, hingga FPI desak
Ahok masuk Islam. Peristiwa yang sama
ternyata dilihat berbeda oleh sejumlah me-
dia Online. Bahkan yang menarik, tak lama
setelah pemberitaan tersebut muncul berita
bahwa FPI Bantah Nyuruh Ahok Masuk
Islam di laman www.okezone.com, pada-
hal sebelumnya di laman yang sama muncul
berita yang menggambarkan bagaimana FPI
mendesak Ahok agar masuk Islam.
Dalam pemberitaannya www.okezone.
com menulis :
Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih,
Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab
disapa Ahok akan menjabat 12 tugas ex of-
fcio atau jabatan yang dipegang oleh Wagub.
Dalam mengisi jabatan tersebut, Ahok akan
berhubungan langsung dengan agama Islam
dalam hal ini kaum muslimin di Jakarta.
Seperti Ketua Badan Pembina Lemba-
ga Bahasa dan Ilmu Alquran, Ketua Dewan
Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil
Quran, Ketua Dewan Perimbangan Badan
Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh, Ketua De-
wan Pembina Badan Pembina Perpustakaan
Masjid Indonesia, Ketua Badan Pembina
Koordinasi Dakwah Islam, Ketua Dewan
Penasehat Dewan Masjid Indonesia, Ketua
Dewan Pembina Jakarta Islamic Center, dan
Ketua Dewan Penasehat Forum Kerukunan
Umat Beragama.
FPI pun dengan lantangnya menye-
but Ahok di luar Islam dan tidak pantas
memimpin 12 tugas yang berkaitan lang-
sung dengan umat Islam. "Ahok tidak bo-
leh mendekati Masjid. Bukan najis secara
fsik, tetapi najis secara hati. Jadi bagaimana
mungkin Wagub DKI yang nonmuslim jadi
penasihat masjid," kata Ketua Dewan Syuro
DPD DKI FPI, Habib Shahab Anggawi, di
depan gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih
Jakarta Pusat, Selasa (9/10/2012).
Dia mengatakan, sangat tidak mung-
kin dan tidak pantas yang mengisi jabatan
tersebut adalah orang nonmuslim. FPI juga
memberikan solusi, yakni Ahok tidak men-
jabat Wagub DKI atau Ahok bersedia masuk
Islam. (Geruduk Kantor DPRD, FPI Desak
Ahok Masuk Islam -Fahmi Firdaus Oke-
zone Selasa, 9 Oktober 2012 12:03 wib)
Pemberitaan sekecil apapun di media
terkait Jokowi dan Ahok sebenarnya selalu
mendapat tanggapan yang menguntungkan
posisi Jokowi Ahok karena ada sekelompok
masyarakat membuat page khusus untuk
mendukung Jokowi Ahok. Bahkan uniknya
dukungan terus mengalir terbukti hingga
tanggal 2 september 2012 ( delapan belas
hari sebelum hari H pemilihan) menembus
jumlah 101.024 anggota.
Grup Facebook berlabel Dukung
JOKOWI-AHOK untuk Gubernur DKI
tersebut adalah media komunikasi paling
aktif yang memberikan informasi seputar
kegiatan Jokowi Ahok yang beredar an-
tar dan inter pendukung mereka sekaligus
diakui menjadi saring penyaring berita bias
yang menyerang Jokowi-Ahok. Dari pemua-
tan informasinya, grup ini merupakan alat
propaganda program dan bisa lebih efektif
mempengaruhi konstituen. Secara jelas Face-
book mereka gunakan untuk menangkal se-
gala bentuk kampanye hitam pihak lain yang
mendiskreditkan fgure Jokowi-Ahok. Yang
unik lagi tak selamanya anggota grup terse-
but adalah pendukung Jokowi, pendukung
Foke-Nara pun diijinkan untuk bergabung.
Ini dimaksudkan agar diskusi menjadi lebih
menarik dan siapapun dapat mengomen-
tarinya tanpa menjatuhkan pihak lawan.
Selain Grup tersebut secara resmi ada
situs resmi Jokowi Basuki untuk Jakarta
Baru yang menjadi sarana utama dan media
formal Tim Sukses demi terciptanya komuni-
kasi politik yang positif dan efektif dari berb-
agai arah.
Upaya pendukung Jokowi memanfaat-
kan social media sangatlah masuk akal kare-
na paling tidak di tahun 2011, ada 41,777,240
18
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
pengguna Facebook di Indonesia (kedua ter-
besar di dunia), 872,461 pengguna linkedin
Indonesia, 5,600,000 pengguna twiter Indo-
nesia, 3,725,258 member Kaskus.
Dari hasil survey terbaru MarkPlus di
tahun 2011 ternyata bahwa pengguna Inter-
net di Indonesia di tahun 2011 mencapai 55
juta orang. Dibanding sekitar 240 juta pen-
duduk Indonesia diperkirakan 23% sudah
tertepa koneksi Internet di kota-kota besar
hanya 4.1% yang berada di area pedesaan.
Dari survey tersebut ternyata 29 juta orang
Indonesia yang mengakses menggunakan
perangkat mobile mencapai 29 juta orang
atau sekitar 50% pengguna Internet di Indo-
nesia untuk berselancar di dunia maya. Un-
tuk memperoleh perkiraan tersebut, Mark-
Plus Insight mengadakan survei terhadap
2161 orang pengguna Internet di sebelas kota
besar. Orang yang disurvei memiliki rentang
usia 15-64 tahun dengan golongan sosial eko-
nomi ABC. Rata-rata dari mereka mengakses
Internet lebih dari 3 jam per hari.
Persoalannya, bagaimana frame dari
media online terhadap kasus Ahok diminta
masuk Islam Makna apa yang coba diang-
kat oleh media online terkait dengan fgure
Jokowi Ahok?
2. Kerangka Pemikiran
2.1 Konstruksi Realitas
Media online tentunya memiliki tujuan
dan kharakteristik tersendiri saat melihat
peristiwa yang mereka anggap penting.
Bahkan bisa dikatakan bahwa setiap media
massa termasuk juga media online seperti
www.kompas.com , www.okezone.com ,
tentunya memiliki perbedaan baik dalam
isi ,penampilan,dasar tujuan dan pengema-
san beritanya terkait peristiwa kemenangan
Jokowi Ahok.
Isu yang diangkat itu terkait bagia-
mana media tersebut mengemas peristiwa
dan melakukan konstruksi atas persitiwa
tersebut. Banyaknya kepentingan yang ber-
beda dari masing-masing media massa baik
ekonomi, politik dan sebagainya bisa juga
menyebabkan adanya perbedaan penekanan
dan framing masing-masing..
Menurut Burhan Bungin dalam sebuah
bukunya, pada dasarnya pekerjaan media
adalah mengkonstruksikan realitas. Realitas
media atau realitas yang ditampilkan dalam
berita dibangun dari sejumlah fakta sedan-
gkan fakta dari suatu realitas itupun tidak
statis, melainkan dinamis yang mungkin
berubah-ubah seiring dengan perubahan
peristiwa itu sendiri. Pada akhirnya menu-
rut Bungin, realitas merupakan konstruksi
sosial yang diciptakan oleh individu. Walau
ada kebenaran di sana namun kebenaran
suatu realitas bersifat nisbi, yang berlaku ses-
uai konteks spesifk yang dinilai relevan oleh
pelaku sosial.(Bungin,2008:11)
Konstruksi sosial dalam masyarakat tak
bisa terlepas dari kekuatan ekonomi dan pe-
rubahan sosial yang terjadi pada masyarakat
tersebut. Kekuatan yang dimaksud adalah
kekuatan media massa terhadap pembaca
atau audiensnya atau yang sering disebut se-
bagai hegemoni massa. Melalui penguasaan
intelektual dan massal hegemoni mencoba
mengatur massa dengan seamnagt kapitalis-
menya sedangkan media dimanfaatkan oleh
sekelompok elit dominan, sehingga penyaji-
annya tidak lagi merefeksikan realitas sosial
yang nyata.
Dengan masuknya unsur kapital,
menurut Alex Sobur, media massa mau ti-
dak mau harus memikirkan pasar, media
bertarung dalam menyajikan beritanya un-
tuk memperoleh keuntungan (revenue) baik
dari oplah penjualan medianya juga mencari
pemasukan sebesar-besarnya dari iklan. Pe-
kerjaan media massa menurut Sobur adalah
menceritakan peristiwa-peristiwa, maka se-
luruh isi media adalah realitas yang telah
dikonstruksikan (constructed reality). Jadi
bisa disimpulkan bahwa content atau isi me-
dia pada hakikatnya adalah hasil konstruksi
realitas dengan bahasa sebagai perangkat
dasarnya. (Sobur,2006:88)
Sobur mengutip Berger dan Luck-
mann saat penjelasan realitas sosial dengan
memisahkan pemahaman antara kenyata-
an dan pengetahuan. Berger melihat
realitas sebagai kualitas yang terdapat di
dalam realitas-realitas, yang diakui memiliki
keberadaan (being) yang tidak bergantung
kepada kehendak kita sendiri. Sementara,
pengetahuan didefnisikan sebagai kepastian
bahwa realitas-realitas itu nyata (real) dan
memiliki kharakteristik secara spesifk.(So-
bur, 2006:91).
2.2 Media dan Berita dilihat dari Paradig-
ma Konstruktivis
Mills sebagaimana dikutip Hard, men-
gajukan pandangan yang pesimistik tentang
media dalam bukunya The Power Elite .Dia
memandang media sebagai pemimpin du-
nia palsu (pseudo world), yang menyajikan
realitas eksternal dan pengalaman internal
19
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
serta penghancuran privasi. Caranya den-
gan menghancurkan peluang untuk pertu-
karan opini yang masuk akal dan tidak terb-
uru-buru serta manusiawi. Itu terjadi karena
media memainkan peran penting dalam
menjalankan kekuasaan, media membantu
menciptakan salah satu problem besar dalam
masyarakat kontemporer, yakni pembang-
kangan atas kekuasaan oleh masyarakat.(
Hard,2007:211-212).
Sedangkan konsep Berita dalam
sudut pandang konstruktivisme dipandang
bukan sebagai sesuatu yang netral dan men-
jadi ruang publik dari berbagai pandangan
yang berseberangan dalam masyarakat. Se-
baliknya menurut Eriyanto, media adalah
ruang dimana kelompok dominan menye-
barkan pengaruhnya dengan meminggirkan
kelompok lain yang tidak dominan.( Eriyan-
to,2002:23).
Menurut Eriyanto ada penilaian
bagaimana media, wartawan dan berita dili-
hat dalam paradigma kontruksionis dalam
bukunya yang berjudul Analisis Framing:
Konstruksi, Ideologi dan Politik Media yakni
: pertama Fakta atau Peristiwa adalah hasil
konstruksi. Fakta merupakan konstruksi atas
realitas. Dan realitas bukanlah sesuatu yang
terberi, seakan-akan ada, realitas sebaliknya
diproduksi. Fakta ada dalam konsepsi piki-
ran seseorang. Kedua, Media adalah agen
konstruksi. Media bukanlah sekedar saluran
yang bebas, ia juga subjek yang mengkon-
struksi realitas, lengkap dengan pandangan,
bias dan pemihakannya. media adalah agen
yang secara aktif menafsirkan realitas untuk
disajikan kepada khalayak.
Ketiga, Berita bukan refeksi dari re-
alitas. Ia hanyalah konstruksi realitas. Berita
adalah hasil dari konstruksi sosial dimana
selalu melibatkan pandangan, ideologi, dan
nilai-nilai dari wartawan atau media. Berita
pada dasarnya adalah hasil dari konstruksi
kerja jurnalistik, bukan kaidah buku jurnalis-
tik. Semua proses konstruksi (mulai dari me-
milih fakta, sumber, pemakaian kata, gam-
bar sampai penyuntingan) memberi andil
bagaimana realitas tersebut hadir di hadapan
khalayak. Keempat, Berita bersifat subjektif /
konstruksi atas realitas. Berita adalah produk
dari konstruksi dan pemaknaan ata realitas.
Pemaknaan atas realitas bisa jadi berbeda
dengan orang lain, yang tentunya menghasil-
kan realitas yang berbeda pula. Kelima
Wartawan bukan pelapor. Ia agen konstruksi
realitas. Wartawan bukan hanya melaporkan
fakta, melainkan juga turut mendefnisikan
peristiwa. Sebagai seorang agen, wartawan
menjalin transaksi dan hubungan dengan
objek yang diliput. Keenam. Etika, pilihan
moral, dan keberpihakan wartawan adalah
bagian yang integral dalam produksi berita.
Etika dan moral yang dalam banyak hal be-
rarti keberpihakan pada suatu kelompok
atau nilai tertentu umumnya dilandasi oleh
keyakinan tertentu adalah bagian integral
dan tidak terpisahkan dalam membentuk
dan mengkonstruksi realitas. Ketujuh, Nilai,
etika dan pilihan moral peneliti menjadi ba-
gian yang integral dalam penelitian. Peneliti
bukanlah robot yang netral dan menilai reali-
tas tersebut apa adanya. Sebaliknya, peneliti
adalah entitas dengan berbagai nilai dan ke-
berpihakan yang berbeda-beda. Karenanya,
bisa jadi objek penelitian yang sama akan
menghasilkan temuan yang berbeda ditan-
gan peneliti yang berbeda. Kedelapan, Kha-
layak mempunyai penafsiran tersendiri ter-
hadap berita. Khalayak menjadi subjek yang
aktif dalam menafsirkan apa yang dibaca..
(Eriyanto,2002:19-36).
Disini penulis akan menelaah isi media
dari paradigma konstruktivis dimana posisi
Media dimiliki oleh kelompok yang dominan
dan dapat memajukan kelompok lain. Posisi
nilai dan ideologi wartawan media yang ti-
dak terpisahkan dari mulai proses peliputan
hingga pelaporan. Lalu hasilnya itu mencer-
minkan ideologi wartawan dan kepentingan
sosial, ekonomi, dan politik tertentu.
2.3 Hakikat Teori Framing

Konsep lain yang digunakan dalam
makalah ini adalah konsep framing. Fram-
ing dipandang sebagai sebuah strategi pe-
nyusunan realitas sedemikian rupa sehingga
dihasilkan sebuah wacana. Pada mulanya
analisis framing dipakai untuk memahami
bagaimana anggota-anggota masyarakat
mengorganisasikan pengalamannya sewak-
tu melakukan interaksi sosial. Menurut Eri-
yanto, dalam sebuah wacana selalu ada fakta
yang ditonjolkan, disembunyikan, bahkan
dihilangkan sampai terbentuk satu urutan
cerita yang mempunyai makana sesuai frame
yang dipilih. Dalam konteks ini relevan dibi-
carakan proses-proses framing media massa.
Dimana dalam penyajian suatu berita atau
realitas dimana kebenaran tentang suatu re-
alitas tidak diingkari secara total, melainkan
dibelokkan secara halus, dengan memberi-
kan sorotan terhdap aspek-aspek tertentu
20
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
saja, dengan mengunakan istilah-istilah yang
punya konotasi tertentu, dan dengan bantu-
an foto, karikatur dan ilustrasi lainya.
Framing merupakan strategi pemben-
tukan dan operasionalisasi wacana media,
karena media massa pada dasarnya adalah
wahana diskusi atau koservasi tentang suatu
masalah yang melibatkan dan memperte-
mukan tiga pihak, yakni wartawan, sumber
berita dan khalayak. Konsep framing dalam
studi media banyak mendapat pengaruh dari
lapangan psikologi dan sosiologi.(Eriyanto,
2001:71)
Eriyanto selanjutnya menyatakan bah-
wa analisis framing adalah salah satu metode
analisis teks yang berada dalam katagori
penelitian konstruksionis. Pendekatan kon-
struksionis melihat proses framing sebagai
proses konstruksi sosial untuk memaknai re-
alitas.
3. Metodologi Penelitian
Secara sederhana, dalam makalah ini
mencoba menganalisis sejumlah berita ter-
kait dengan isu gangguan multikulturalisme
dimana menempatkan Ahok sebagai tokoh
sentral yang menjadi pemberitaan di media
Online. Penelitian ini menggunakan teknik
penelitian analisis framing dengan memin-
jam model kerangka framing Pan dan Kosicki.
Tetapi dari beragam unsur yang ditawarkan
pan Kosjiki, dalam makalah ini penulis han-
ya melihat unsur retoris, dan melakukan se-
dikit modifkasi saat melihat unsur tematik,
dan skrip .
Model ini berasumsi bahwa setiap ber-
ita mempunyai frame yang berfungsi seb-
agai pusat organisasi ide. Frame merupakan
suatu ide yang dihubungkan dengan elemen
yang berbeda dalam teks berita, kutipan
sumber, latar informasi, pemakaian kata atau
kalimat tertentu ke dalam teks secara keselu-
ruhan. Frame berhubungan dengan makna.
Bagaimana seseorang memaknai suatu peris-
tiwa, dapat dilihat dari perangkat tanda yang
dimunculkan dalam teks.
Dalam pendekatan ini perangkat fram-
ing (Eriyanto,2002,176) dibagi menjadi empat
struktur besar. Pertama, struktur sintaksis,
Kedua, struktur skrip, Ketiga, struktur tema-
tik; dan Keempat, struktur retoris.
Dalam pengertian umum; sintaksis
adalah susunan kata atau frase dalam kali-
mat. Dalam wacana berita, sintaksis menun-
juk pada pengertian susunan dari bagian
berita headline, lead, latar informasi, sum-
ber, penutup dalam satu kesatuan teks berita
secara keseluruhan.
Skrip. Bentuk umum dari struktur skrip
ini adalah pola 5 W+1 H (who, what, when,
where, dan how). Unsur kelengkapan beri-
ta ini dapat menjadi penanda framing yang
penting. Skrip adalah salah satu dari strate-
gi wartawan dalam mengkonstruksi berita:
bagaimana suatu peristiwa dipahami melalui
cara tertentu dengan menyusun bagian-ba-
gian dengan urutan tertentu. Tematik. Struk-
tur tematik dapat diamati dari bagaimana
peristiwa itu diungkapkan atau dibuat oleh
wartawan.
Di sini, berarti struktur tematik ber-
hubungan dengan bagaimana fakta itu di-
tulis oleh seorang wartawan. Ada beberapa
elemen yang dapat diamati dari perangkat
tematik, antara lain : Detail. Elemen wacana
detail berhubungan dengan control informasi
yang ditampilkan seseorang (komunikator).
Hal yang menguntungkan komunikator/
pembuat teks akan diuraikan secara detail
dan terperinci, sebaliknya fakta yang tidak
menguntungkan detail informasinya akan
dikurangi. Maksud. Elemen maksud melihat
informasi yang menguntungkan komunika-
tor akan diuraikan secara eksplisit dan jelas,
yakni menyajikan informasi dengan kata-ka-
ta yang tegas dan menunjuk langsung kepada
fakta. Sebaliknya informasi yang merugikan
akan diuraikan secara tersamar, implisit dan
tersembunyi dengan menyajikan informasi
yang memakai kata tersamar, eufemistik dan
berbelit-belit.
Nominalisasi. Elemen nominalisasi
berhubungan dengan pertanyaan apakah
komunikator memandang objek sebagai ses-
uatu yang tunggal (berdiri sendiri) ataukah
sebagai suatu kelompok (komunitas). Nomi-
nalisasi dapat memberi kepada khalayak ad-
anya generalisasi.
Koherensi: pertalian atau jalinan antar
kata, preposisi atau kalimat. Dua buah ka-
limat atau preposisi yang menggambarkan
fakta yang berbeda dapat dihubungkan den-
gan menggunakan koherensi, sehingga fakta
yang tidak berhubungan sekalipun dapat
menjadi berhubungan ketika seseorang men-
ghubungkannya. Bentuk Kalimat. Bentuk
kalimat menentukan makna yang dibentuk
oleh susunan kalimat. Dalam kalimat yang
berstruktur aktif, seseorang menjadi subjek
dari pernyataannya, sedangkan dalam kali-
mat pasif seseorang menjadi objek dari per-
nyataannya. Kata ganti. Elemen kata ganti
merupakan elemen untuk memanipulasi ba-
21
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
hasa dengan menciptakan suatu imajinasi.
Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh
komunikator untuk menunjukkan dimana
posisi seseorang dalam wacana.
Retoris. Struktur retoris dari wacana
berita menggambarkan pilihan gaya atau
kata yang dipilih oleh wartawan untuk
menekankan arti yang ingin ditonjolkan oleh
wartawan. Wartawan menggunakan perang-
kat retoris untuk membuat citra, meningkat-
kan kemenonjolan pada sisi tertentu dan me-
ningkatkan gambaran yang diinginkan dari
suatu berita. Struktur retoris dari wacana ber-
ita juga menunjukkan kecenderungan bahwa
apa yang disampaikan tersebut adalah suatu
kebenaran. (Eriyanto,2011).
3.1 ANALISIS BERITA DAN PEMBAHASAN
Unit Analisis yang diteliti
1. Rhoma Irama: Kampanye SARA Dibenar-
kan. Lead: Raja dangdut Rhoma Irama yang
juga merupakan tim kampanye pasangan
calon gubernur Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli
menuturkan, kampanye yang mengusung
suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)
dibenarkan. Hal ini disampaikannya saat
memberikan ceramah shalat tarawih di Mas-
jid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat,
Minggu, (29/7/2012).
Media : Kompas.com/Penulis Kurnia Sari
Aziza | Senin, 30 Juli 2012 | 09:14 WIB
2.Geruduk Kantor DPRD, FPI Desak Ahok Ma-
suk Islam
JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Ja-
karta terpilih, Basuki Tjahaja Purnama atau
yang akrab disapa Ahok akan menjabat 12
tugas ex ofcioatau jabatan yang dipegang
oleh Wagub. Dalam mengisi jabatan tersebut,
Ahok akan berhubungan langsung dengan
agama Islam dalam hal ini kaum muslimin di
Jakarta Fahmi Firdaus www.Oke-
zone.com, Selasa, 9 Oktober 2012 12:03 wib
2. FPI Minta Pelantikan Jokowi-Basuki Ditun-
da
Lead: JAKARTA, KOMPAS.com Dewan
Pimpinan Daerah Front Pembela Islam DKI
Jakarta mendesak Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta menunda pelantikan gubernur terpil-
ih Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama
(Jokowi-Ahok). Alasannya, FPI meminta pel-
antikan dilakukan setelah SK gubernur ten-
tang jabatan wakil gubernur direvisi terlebih
dahulu
(WWW.Kompas.com/9/10/2012/editor Hertan-
to Soebijoto)
3.2 ANALISIS BERITA 1
Rhoma Irama: Kampanye SARA Dibenarkan
JAKARTA, KOMPAS.com Raja dan-
gdut Rhoma Irama yang juga merupakan tim
kampanye pasangan calon gubernur Fauzi
Bowo-Nachrowi Ramli menuturkan, kampa-
nye yang mengusung suku, agama, ras, dan
antargolongan (SARA) dibenarkan. Hal ini
disampaikannya saat memberikan ceramah
shalat tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Du-
ren, Jakarta Barat, Minggu, (29/7/2012).
"Di dalam mengampanyekan sesuatu,
SARA itu dibenarkan. Sekarang kita sudah
hidup di zaman keterbukaan dan demokrasi,
masyarakat harus mengetahui siapa calon
pemimpin mereka," kata Rhoma Irama.
22
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
Rhoma pun menyebutkan nama Ketua
Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu
Jimly Asshidiqie atas dasar pembenaran
penggunaan isu SARA. "Saya dapat berbi-
cara seperti ini karena memang dibenarkan
Ketua Dewan, Jimly Asshidiqie," katanya.
Senada dengan ustad dan pengurus
masjid sebelumnya yang mengajak para ja-
maah untuk memilih yang seiman, Rhoma
Irama juga mengimbau para jamaah untuk
memilih pemimpin yang seiman. "Islam itu
agama yang sempurna, memilih pemimpin
bukan hanya soal politik, melainkan juga iba-
dah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas
masyarakat Jakarta," ujarnya.
Dalam ceramahnya, Fauzi Bowo lebih
banyak mengingatkan tentang berkah di bu-
lan Ramadhan. "Di bulan Ramadhan mari sa-
ling mempererat hablun minannas dan me-
ningkatkan ketakwaan kepada Allah. Bulan
ini merupakan kesempatan emas melaku-
kan ibadah lebih tekun dan khusyuk agar
mendapat bonus Allah," ujar pria yang akrab
disapa Foke ini.
Dalam akhir paparannya, Foke meng-
klaim keberhasilannya dalam membuat sua-
sana kondusif selama memimpin Jakarta.
"Jakarta ini bukan kota yang sederhana. Saya
bersyukur, selama saya memimpin, tidak ada
satu pun masyarakat Jakarta yang memaksa
mereka berhenti melaksanakan aktivitas," tu-
turnya.
Dalam kesempatan tersebut, Foke
memberikan sumbangan kepada anak asuh
PKU yang dikelola Muhammadiyah Tanjung
Duren dan Masjid Al-Isra, bantuan masjid
sebesar Rp 28 juta, Al Quran, alat olahraga,
dan lampu hemat energi. Hadir pula Sekre-
taris Daerah DKI Jakarta, Fajar Pandjaitan,
Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin, dan
petinggi harian Poskota.
Editor : Hertanto Soebijoto
UNSUR TEMATIK
Tema penting:
1.kampanye yang mengusung suku, agama,
ras, dan antargolongan (SARA) dibenarkan.
Raja dangdut Rhoma Irama yang juga
merupakan tim kampanye pasangan calon
gubernur Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli
menuturkan, kampanye yang mengusung
suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)
dibenarkan. Hal ini disampaikannya saat
memberikan ceramah shalat tarawih di Mas-
jid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat,
Minggu, (29/7/2012). (paragraph 1)
2. Rhoma Irama juga mengimbau para jamaah
untuk memilih pemimpin yang seiman.
Senada dengan ustad dan pengurus
masjid sebelumnya yang mengajak para ja-
maah untuk memilih yang seiman, Rhoma
Irama juga mengimbau para jamaah untuk
memilih pemimpin yang seiman. "Islam itu
agama yang sempurna, memilih pemimpin
bukan hanya soal politik, melainkan juga iba-
dah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas
masyarakat Jakarta," ujarnya.
3. Apa yang disampaikan Rhoma senada Ketua
Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu
Jimly Asshidiqie
Rhoma pun menyebutkan nama Ketua De-
wan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jim-
ly Asshidiqie atas dasar pembenaran peng-
gunaan isu SARA. "Saya dapat berbicara
seperti ini karena memang dibenarkan Ketua
Dewan, Jimly Asshidiqie," katanya.
UNSUR RETORIS.
1. Jargon atau leksikon pembenaran dari Rho-
ma Irama soal boleh kampanye mengangkat
unsur SARA:
"Di dalam mengampanyekan sesuatu, SARA
itu dibenarkan. .. (paragraph 2)
2.leksikon bahwa kita hidup di era keterbu-
kaan dan demokrasi
".Sekarang kita sudah hidup di zaman ket-
erbukaan dan demokrasi, masyarakat harus
mengetahui siapa calon pemimpin mereka,"
kata Rhoma Irama.(paragraph 2)
3.Jargon bahwa Islam itu agama yang sem-
purna maka pilihlah pemimpin yang seiman
dengan mayoritas warga Jakarta
"Islam itu agama yang sempurna, me-
milih pemimpin bukan hanya soal politik,
melainkan juga ibadah. Pilihlah yang sei-
man dengan mayoritas masyarakat Jakarta,"
ujarnya.(paragraph 4)
Analisis dan Pembahasan
Dari sisi tematik dan Retoris, berita ini
menggambarkan adanya upaya kampanye
hitam yang mencoba memecah belah para
calon pemilih berdasarkan isu SARA. Pen-
gangkatan topic soal imbauan Rhoma Irama
yang meminta agar warga muslim memilih
pemimpin yang seiman, merupakan bukti
23
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
nyata adanya upaya menghambat multikul-
turalisme, mengingat di Jakarta memang ter-
diri dari warga yang beragam, tidak hanya
warga muslim saja. Berita ini jelas menohok
dan mencoba melakukan pembenaran aksi
kampanye kelompok Fauzi Bowo dan Nara
untuk mengangkat isu SARA sebagai bagian
dari proses pemenangan mereka.
Rhoma Irama yang dianggap dekat
dengan warga muslim Jakarta bahkan den-
gan tegas mengatakan bahwa kampanye
SARA itu justru dibenarkan oleh Ketua De-
wan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jim-
ly Asshidiqie. Sebagai upaya memperkuat
tindakannya agar tidak dianggap melanggar
aturan kampanye. Paling tidak ada tiga tema
penting dari berita tersebut yaitu pertama
kampanye yang mengusung suku, agama,
ras, dan antargolongan (SARA) dibenarkan.
Kedua Rhoma Irama juga mengimbau para
jamaah untuk memilih pemimpin yang sei-
man dan ketiga apa yang disampaikan Rho-
ma senada Ketua Dewan Kehormatan Peny-
elenggara Pemilu Jimly Asshidiqie.

3.3 Analisis Berita kedua:
Geruduk Kantor DPRD, FPI Desak Ahok
Masuk Islam
Fahmi Firdaus Okezone Selasa, 9 Oktober
2012 12:03 wib Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)
JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Ja-
karta terpilih, Basuki Tjahaja Purnama atau
yang akrab disapa Ahok akan menjabat 12
tugas ex ofcio atau jabatan yang dipegang
oleh Wagub. Dalam mengisi jabatan tersebut,
Ahok akan berhubungan langsung dengan
agama Islam dalam hal ini kaum muslimin di
Jakarta.
Seperti Ketua Badan Pembina Lemba-
ga Bahasa dan Ilmu Alquran, Ketua Dewan
Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil
Quran, Ketua Dewan Perimbangan Badan
Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh, Ketua De-
wan Pembina Badan Pembina Perpustakaan
Masjid Indonesia, Ketua Badan Pembina
Koordinasi Dakwah Islam, Ketua Dewan
Penasehat Dewan Masjid Indonesia, Ketua
Dewan Pembina Jakarta Islamic Center, dan
Ketua Dewan Penasehat Forum Kerukunan
Umat Beragama.
FPI pun dengan lantangnya menyebut
Ahok di luar Islam dan tidak pantas me-
mimpin 12 tugas yang berkaitan langsung
dengan umat Islam.
"Ahok tidak boleh mendekati Masjid.
Bukan najis secara fsik, tetapi najis secara
hati. Jadi bagaimana mungkin Wagub DKI
yang nonmuslim jadi penasihat masjid," kata
Ketua Dewan Syuro DPD DKI FPI, Habib
Shahab Anggawi, di depan gedung DPRD
DKI, Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat, Selasa
(9/10/2012).
Dia mengatakan, sangat tidak mung-
kin dan tidak pantas yang mengisi jabatan
tersebut adalah orang nonmuslim. FPI juga
memberikan solusi, yakni Ahok tidak men-
jabat Wagub DKI atau Ahok bersedia masuk
Islam.
"Kami minta peraturannya diganti, atau
Ahok yang masuk Islam. Kami yakin DPRD
DKI mendengarkan kami, karena mereka
lebih berilmu dibanding kami," tegasnya.
"Dari sebelum Pemilukada, umat Islam
diberitahu untuk tidak memilih pemimpin
yang tak seiman. Ada ayat larangan jadikan
nonmuslim sebagai pemimpin. Bagaimana
orang nonmuslim memimpin masalah zakat?
Tidak mungkin mengurusi Dewan Masjid se-
mentara dia orang nonmuslim. Dekat saja tak
boleh, apalagi mengurusi Islam," cetusnya
lagi.
Dalam melakukan aksinya, massa FPI
juga melantunkan salawat dan berorasi un-
tuk meminta Ahok tidak menjabat sebagai
Wagub DKI.
(put)
Analisis Data
Dari berita diatas akan dianalisis makna dibal-
iknya lewat pencarian unsur tematik dan re-
torisnya
UNSUR TEMATIK
1. FPI pun dengan lantangnya menyebut Ahok
di luar Islam dan tidak pantas memimpin 12
tugas yang berkaitan langsung dengan umat
Islam
..12 tugas ex ofcioatau jabatan yang
dipegang oleh Wagub. Dalam mengisi ja-
batan tersebut, Ahok akan berhubungan
langsung dengan agama Islam dalam hal ini
kaum muslimin di Jakarta.
Seperti Ketua Badan Pembina Lemba-
ga Bahasa dan Ilmu Alquran, Ketua Dewan
Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil
Quran, Ketua Dewan Perimbangan Badan
Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh, Ketua De-
wan Pembina Badan Pembina Perpustakaan
Masjid Indonesia, Ketua Badan Pembina
Koordinasi Dakwah Islam, Ketua Dewan
Penasehat Dewan Masjid Indonesia, Ketua
24
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
Dewan Pembina Jakarta Islamic Center, dan
Ketua Dewan Penasehat Forum Kerukunan
Umat Beragama. (paragraph 1-2)
2..Ahok tidak boleh mendekati Masjid. Bu-
kan najis secara fsik, tetapi najis secara hati.
Jadi bagaimana mungkin Wagub DKI yang
nonmuslim jadi penasihat masjid
"Ahok tidak boleh mendekati Masjid.
Bukan najis secara fsik, tetapi najis secara
hati. Jadi bagaimana mungkin Wagub DKI
yang nonmuslim jadi penasihat masjid," kata
Ketua Dewan Syuro DPD DKI FPI, Habib
Shahab Anggawi, di depan gedung DPRD
DKI, Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat, Selasa
(9/10/2012). (paragraph 4)
3..FPI juga memberikan solusi, yakni per-
aturannya diganti, meminta Ahok tidak men-
jabat Wagub DKI atau Ahok bersedia masuk
Islam.
"Kami minta peraturannya diganti, atau
Ahok yang masuk Islam. Kami yakin DPRD
DKI mendengarkan kami, karena mereka
lebih berilmu dibanding kami," tegasnya.
(paragraph 5)
4..umat Islam diminta memilih pemimpin
seiman. Ada ayat larangan jadikan non mus-
lim sebagai pemimpin
"Dari sebelum Pemilukada, umat Islam di-
beritahu untuk tidak memilih pemimpin sei-
man. Ada ayat larangan jadikan nonmuslim
sebagai pemimpin. Bagaimana orang non-
muslim memimpin masalah zakat? Tidak
mungkin mengurusi Dewan Masjid semen-
tara dia orang nonmuslim. Dekat saja tak bo-
leh, apalagi mengurusi Islam," cetusnya lagi.
(paragraph 2 dari bawah)
1.leksikon/jargon Ahok di luar Islam dan ti-
dak pantas memimpin
FPI pun dengan lantangnya menyebut Ahok
di luar Islam dan tidak pantas memimpin 12
tugas yang berkaitan langsung dengan umat
Islam.
UNSUR RETORIS
1. Bukan najis secara fsik, tetapi najis secara
hati
"Ahok tidak boleh mendekati Masjid. Bukan
najis secara fsik, tetapi najis secara hati. Jadi
bagaimana mungkin Wagub DKI yang non-
muslim jadi penasihat masjid," kata Ketua
Dewan Syuro DPD DKI FPI, Habib Shahab
Anggawi, di depan gedung DPRD DKI, Jalan
Kebon Sirih Jakarta Pusat, Selasa (9/10/2012).
2. DPRD DKI lebih berilmu dibanding kami
"Kami minta peraturannya diganti, atau
Ahok yang masuk Islam. Kami yakin DPRD
DKI mendengarkan kami, karena mereka
lebih berilmu dibanding kami," tegasnya.
3.Ahok sangat tidak mungkin dan tidak pantas
mengisi jabatan tersebut karena dia adalah
orang nonmuslim
Dia mengatakan, sangat tidak mungkin dan
tidak pantas yang mengisi jabatan tersebut
adalah orang nonmuslim. FPI juga memberi-
kan solusi, yakni Ahok tidak menjabat Wagub
DKI atau Ahok bersedia masuk Islam
25
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
PEMBAHASAN
Dari wacana di atas, jelas sekali ada
tema yang sangat mendeskriditkan pasangan
Jokowi Ahok, meski secara formal mereka
berdua sudah memenangi Pilkada DKI dan
berhak atas jabatan tersebut, kelompok FPI
justru mengangkat isu SARA yakni agama
Wakil Gubernur Basuki yang memang non
muslim. Dari unsur tematik, ada sejumlah
tema yang diangkat dalam wacana tersebut
yakni pertama FPI menyebut Ahok di luar
Islam dan tidak pantas memimpin 12 tugas
yang berkaitan langsung dengan umat Islam,
Kedua Ahok tidak boleh mendekati Masjid.
Bukan najis secara fsik, tetapi najis secara
hati. Jadi bagaimana mungkin Wagub DKI
yang nonmuslim jadi penasihat masjid, FPI
juga memberikan solusi, yakni peraturan-
nya diganti, meminta Ahok tidak menjabat
Wagub DKI atau Ahok bersedia masuk Islam
dan tematik keempat umat Islam diminta
memilih pemimpin seiman. Ada ayat laran-
gan jadikan non muslim sebagai pemimpin.
Dari unsur retorisnya, kata-kata yang
menjadi penekanan adalah kata tidak pantas
memimpin, karena Ahok adalah orang di luar
Islam sehingga tidak layak untuk memimpin
sebagai wakil gubernur yang secara ex ofcio
memang mengurus 12 jabatan penting ter-
kait dengan kepentingan masyarakat Islam.
Jabatan-jabatan tersebut adalah di antaranya
Ketua Badan Pembina Lembaga Bahasa dan
Ilmu Alquran, Ketua Dewan Pembina Lem-
baga Pengembangan Tilawatil Quran, Ketua
Dewan Perimbangan Badan Amil Zakat Infaq
dan Shodaqoh, Ketua Dewan Pembina Badan
Pembina Perpustakaan Masjid Indonesia,
Ketua Badan Pembina Koordinasi Dakwah
Islam, Ketua Dewan Penasehat Dewan Mas-
jid Indonesia, Ketua Dewan Pembina Jakarta
Islamic Center, dan Ketua Dewan Penasehat
Forum Kerukunan Umat Beragama.Wacana
yang paling menohok adalah desakan kelom-
pok itu agar peraturan terkait soal jabatan
ex-ofcio itu dihapus atau alternative lain
adalah mendesak agar AHok masuk Islam.
Agak aneh sebenarnya permintaan mereka
mengingat beragama adalah hak pribadi dan
dijamin oleh undang-undang. Permintaan ini
sangatlah berlebihan dan sangat menying-
gung rasa hak asasi manusia dan merupakan
gangguan nyata dari multikulturalisme.
3.3 Analisis Berita ketiga
FPI Minta Pelantikan Jokowi-Basuki Ditunda
JAKARTA, KOMPAS.com Dewan
Pimpinan Daerah Front Pembela Islam DKI
Jakarta mendesak Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta menunda pelantikan gubernur terpil-
ih Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama
(Jokowi-Ahok). Alasannya, FPI meminta pel-
antikan dilakukan setelah SK gubernur ten-
tang jabatan wakil gubernur direvisi terlebih
dahulu.
"Ini bukan politik. Kami hanya me-
minta pelantikan ditunda sampai SK itu di-
revisi," kata juru bicara DPD FPI DKI Jakarta,
Jafar Shidiq, di depan Gedung DPRD DKI Ja-
karta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa
(9/10/2012).
Jafar mengatakan, sebelumnya dia be-
berapa kali telah meminta waktu berdialog
dengan anggota DPRD DKI Jakarta terkait
permasalahan ini. Akan tetapi, permintaan
dialog tak pernah direalisasi sampai berakh-
irnya masa pemilihan kepala daerah. Isi SK
Gubernur DKI Jakarta yang dipermasalah-
kan oleh DPD FPI DKI Jakarta adalah men-
genai aturan yang menyatakan bahwa Wakil
Gubernur DKI Jakarta akan membawahi be-
berapa lembaga keislaman. FPI menilai, tak
mungkin wakil gubernur terpilih saat ini,
Ahok, dapat menjalankan tugasnya dengan
maksimal. Mengingat yang bersangkutan
merupakan pemeluk agama di luar agama
Islam.
" Kami sudah minta waktu dialog, tetapi
tak pernah ditanggapi. Akhirnya sekarang
terpaksa berdemo. Ini bukan SARA, kami
hanya beranggapan sebaiknya SK tersebut
direvisi dahulu karena lembaga itu harus
dipimpin oleh orang yang beragama Islam,"
katanya.
Diberitakan sebelumnya, ratusan ang-
gota Front Pembela Islam menggeruduk Ge-
dung DPRD DKI Jakarta untuk mendesak
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merevisi SK
gubernur tentang jabatan wakil gubernur di
beberapa lembaga.
Untuk diketahui, sedikitnya ada 12
tugas yang secara ex ofcio dalam jabatan
wakil gubernur DKI Jakarta. Di antara tugas
dan jabatan ex ofcio wakil gubernur terse-
but terdapat beberapa jabatan yang langsung
terkait dengan urusan umat Islam. Jabatan
itu di antaranya adalah Ketua Badan Lemba-
ga Bahasa dan Ilmu Al Quran, Ketua Dewan
Pembina Lembaga Pengembangan Tilawa-
til Quran, Ketua Dewan Pertimbangan Amil
Zakat Infaq dan Shadaqoh (Bazis), Ketua
Dewan Pembina Badan Perpustakaan Masjid
26
Jurnal Ultima Com edisi Vol.5 No.1 /Mei-Juli 2014 Universitas Multimedia Nusantara
ISSN 1979-1232
Indonesia, Ketua Dewan Penasihat Dewan
Masjid Indonesia, dan Ketua Dewan Penasi-
hat Forum Kerukunan Umat Beragama.
Sampai berita ini diturunkan, bela-
san anggota DPD FPI DKI Jakarta tengah
melakukan mediasi dengan anggota Komisi
A DPRD DKI Jakarta. Suasana lalu lintas di
Jalan Kebon Sirih cukup padat karena aksi
demonstrasi ini menyita perhatian warga
masyarakat yang melintas di lokasi tersebut.
(editor Hertanto Soebijoto)
UNSUR TEMATIK
1.Dewan Pimpinan Daerah Front Pembela
Islam DKI Jakarta mendesak Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta menunda pelantikan
gubernur terpilih Joko Widodo dan Basuki
Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok).
Dewan Pimpinan Daerah Front Pem-
bela Islam DKI Jakarta mendesak
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunda
pelantikan gubernur terpilih Joko Widodo
dan Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok).
Alasannya, FPI meminta pelantikan dilaku-
kan setelah SK gubernur tentang jabatan
wakil gubernur direvisi terlebih dahulu.
(paragraph 1)
"Ini bukan politik. Kami hanya me-
minta pelantikan ditunda sampai SK itu di-
revisi," kata juru bicara DPD FPI DKI Jakarta,
Jafar Shidiq, di depan Gedung DPRD DKI Ja-
karta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa
(9/10/2012).(paragraph 2)
2.FPI minta berdialog tapi tak pernah ditang-
gapi DPRD DKI
Jafar mengatakan, sebelumnya dia be-
berapa kali telah meminta waktu berdialog
dengan anggota DPRD DKI Jakarta terkait
permasalahan ini. Akan tetapi, permintaan
dialog tak pernah direalisasi sampai bera-
khirnya masa pemilihan kepala daerahggapi
DPRD (paragraph 3)

3.FPI mendesak agar SK Gubernur ditinjau
ulang karena sangat tidak mungkin Ahok
menjalankannya sebagai Wakil Gubernur
Isi SK Gubernur DKI Jakarta yang di-
permasalahkan oleh DPD FPI DKI Jakarta
adalah mengenai aturan yang menyatakan
bahwa Wakil Gubernur DKI Jakarta akan
membawahi beberapa lembaga keislaman.
FPI menilai, tak mungkin wakil gubernur
terpilih saat ini, Ahok, dapat menjalankan
tugasnya dengan maksimal. Mengingat yang
bersangkutan merupakan pemeluk agama di
luar agama Islam.(paragraph 3)
UNSUR RETORIS
Dari wacana tersebut ada sejumlah jar-
gon dan leksikon yang digunakan sebagai
penjelas maksud dari kalimat tersebut
1."Ini bukan politik. Kami hanya meminta
pelantikan ditunda sampai SK itu direvisi
2.pemeluk agama di luar agama Islam
3.Ini bukan SARA, kami hanya beranggapan
sebaiknya SK tersebut direvisi dahulu karena
lembaga itu harus dipimpin oleh orang yang
beragama Islam
Analisis dan Pembahasan
Dari sisi tematik, ada sejumlah pokok
pikiran pertama Dewan Pimpinan Daerah
Front Pembela Islam DKI Jakarta mendesak
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunda
pelantikan gubernur terpilih Joko Widodo
dan Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok),
kedua FPI minta berdialog tapi tak pernah
ditanggapi DPRD DKI, FPI mendesak agar
SK Gubernur ditinjau ulang karena sangat
tidak mungkin Ahok menjalankannya se
bagai Wakil gubernur.Jelas sekali bahwa le-
wat wacana ini digambarkan bahwa kelom-
pok garis keras Islam, yakni Front Pembela
Islam mencoba mendesak agar pelantikan
Gubernur DKI ditunda, karena hanya alas an
yang sepele. Padahal. Sebagai gubernur dan
wakil gubernur yang dipilih rakyat Jakarta,
tentunya sudah secara sah untuk dilantik.
Soal Ahok yang memang non muslim sejak
awal diketahui oleh para calon pemilihnya di
Jakarta, sehingga tidak ada alasan yang kuat
untuk menolak acara pelantikan gubernur
yang memang sudah direncanakan sebelum-
nya.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari sejumlah berita online yang dia-
nalisis ternyata jelas sekali ada wacana anti
multikulturalisme di tengah pilkada DKI Ja-
karta. Upaya mengganggu kenyamanan be-
ragama ini mencuat karena Jokowi dan Ahok
justru menang setelah mengalahkan Fauzie
Bowo-Nara.
Lewat strategi Framing banyak ditemu-
kan wacana pemberitaan sebagai hasil dari
konstruksi realitas yang ada. Framing meru-
pakan strategi pembentukan dan operasion-
alisasi wacana media, karena media massa
27
Jurnal Ultimacomm Vol.5 No.1/ Mei -Juli 2014 ISSN : 1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
pada dasarnya adalah wahana diskusi atau
koservasi tentang suatu masalah yang meli-
batkan dan mempertemukan tiga pihak, yak-
ni wartawan, sumber berita dan khalayak.
Analisis framing adalah salah satu metode
analisis teks yang berada dalam katagori
penelitian konstruksionis. Pendekatan kon-
struksionis melihat proses framing sebagai
proses konstruksi sosial untuk memaknai re-
alitas
Lewat framing pan Kosjiki dapat dis-
impulkan bahwa media online yang diteliti
justru menampatkan persoalan anti multi-
kulturalisme yang peka untuk menunjuk-
kan adanya upaya menggoyang integritas
Jokowi-Ahok. Justru dengan cara seperti
itu, muncul dukungan terhadap keduanya
dan justru merupakan kampanye positif buat
Jokowi Ahok.
Dari sisi tematik memang ditemukan
isu anti multikulturalisme yang menempat-
kan posisi Ahok yang non muslim sebagai
fgure yang dianggap tidak layak dan tidak
pantas memimpin DKI Jakarta. Bahkan wa-
cana yang coba digulirkan lewat media terse-
but adalah isu agama masih menjadi syarat
mutlak dalam proses pemilihan gubernur,
bahkan bisa ditarik kedepannya menjadi isu
yang hangat nanti menjelang Pemilu 2014.
Media memang tidak pernah bisa ne-
tral, tetapi sebenarnya media bisa juga ber-
peran sebagai pemberi informasi yang bisa
memenuhi kebutuhan public untuk mem-
peroleh realitas yang sungguh mencermin
kan keadaan sesungguhnya.
DAFTAR BACAAN
Berger, Peter & Thomas,1967 The Social Con-
struction of Reality: A Treatise in the
Sociological of Knowledge.NY, A Double
Day Anchor Book
Bungin, Burhan,2008 Konstruksi Sosial Media
Massa Realitas Sosial Media, Iklan
Televisi & Keputusan Konsumen Serta
Kritik Terhadap Peter L. Berger &
Thomas Luckman , Prenada Media
Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln,
eds., 1994, Handbook of Qualitative Re-
search, Thousand Oaks, CA: Sage
Eriyanto, 2002, Analisis Wacana: Pengantar
Analisis Teks Media, LKiS, Jakarta
Hamad, Ibnu 2004,Konstruksi Realitas Politik
dalam Media Massa : Sebuah studi
Critical Discourse Analysis Terhadap
Berita-berita Politik, Jakarta:Granit
Hardt, Hanno, 2007, Myths for the Masses: An
Essay on Mass Communication,
Wiley-Blackwell
Sobur, Alex, 2003, Semiotika Komunikasi,
Bandung
Sobur, Alex, Analisis Teks Media
Sugiyono. 2005, Memahami Penelitian Kualita-
tif. Bandung ; CV Alfabeta
28
Jurnal UltimaComm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN: 1979-1232
JURNAL ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presiden-
tial-Vice Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
Universitas Multimedia Nusantara
Novita Damayanti
dosen Ilmu Komunikasi
Jl. Boulevard, Gading Serpong Tangerang-Banten
Telepon (021) 5422 0808
Abstract:
The background of this research is because during the 2009 elections, the presidential election in
particular, mass media were competing to broadcast a variety of shows associated with the presi-
dential election. Among others through a debate show broadcast by Metro TV entitled Indonesia
Bersatu. Metro TV as the elections Chanel always tries to be leading in providing informa-
tion about the elections.The Research, entitled Construction of Meaning in Indonesia Bersatu
Show on Presidential-Vice Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV is a
study that aims to determine the meaning construction of meaning in the Indonesia Bersatu
Show on Metro TV.
Keywords: : political communication, mass media, television, social construction of
reality
INTRODUCTION
The Indonesian presidential election
of 2009 has been regarded by the researcher
as still used conventional styles just like in
the 2004 elections, in order to boost votes.
Activities such as mass gathering, politi-
cal safaris into votes pockets (especially the
votes of the foating mass), the installation
of a series of campaign paraphernalia such
as billboards, posters, and so on were still
found. Politics industry in the 2009 elections
had become more sophisticated. Kompas
daily (24/10/2009) reported that advertising
spending of National Mandate Party (PAN),
Gerindra, Democrats, Golkar, the Prosper-
ous Justice Party (PKS), and the Indonesian
Democratic Party of Struggle (PDI-P) during
May-October 2008 alone has reached Rp. 184,
13 billion.
Some of the media, especially televi-
sion, had opened wide the doors of oppor-
tunity for all political parties and the presi-
dential and vice presidential campaign teams
to race in the big event of democracy, such as
the General Elections for Legislatives and Ex-
ecutives in April and July 2009. Various steps
and eforts related to the needs and political
interests ahead of the elections were waged
by political elites utilizing mass media as an
instrument.
The role of media as stated in the gen-
eral elections law has made the media dare
go further in contributing in the elections.
Metro TV and TV One are the two television
stations that actively participated in provid-
ing special space for dynamics of the election
to be released to the People. Metro TV with
its Election Channel program elegantly pre-
sented a series of special election program
covering news, highlights on politicians and
political parties and their programs, voter
surveys, political advertising, open debates
among political fgures.
Television can reach remote audiences
and directly hold the communicant emotions
29
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
because they contain multimedia elements
(audio, visual, and writen elements), and
becomes something sought by most Success
Teams. Holt Bacha and Kaid in Ahkmad
Danial examine how TV is used by political
parties to win elections. First, through free,
regular media reporting on political activi-
ties. In the free coverage, journalistic prin-
ciples and criteria of selection of production
which is often used by journalists and TV
managers are applied. Political actors will
fnd it difcult to infuence when, how long,
and how political events are broadcast.
Interestingly, in the 2009 Presidential
election, polling activities were held at the
same time as presidential and vice presiden-
tial pairs debates, organized by the General
Elections Commission (KPU) in a number of
television stations. Debate program was de-
liberately organized formally by the Election
Commission and was funded by the state. The
Commission itself designed the presidential
debates as the American presidential debates
between Obama and McCain. This decision
was taken by the Commission because the
old methods of holding open rallies during
campaigns were considered not educative for
the public.
The debate program was divided into
several days with diferent themes, and each
theme was guided by one moderator who
also acted as panelist while the broadcasting
time was also divided between presidential
candidates and vice presidential candidates.
Nonetheless, the debate format was limited
by the Commission. First, the one that has the
right to ask questions is just one single panel-
ist, who also acted as a moderator appointed
by the Commission. This format was set by
the Commission upon requests from all three
candidates campaign teams, to avoid atack-
ing each other. Second, each candidate was
given only about 2-3 minutes to answer that
question. In describing his vision-mission
and program, each candidate was given
about 15 minutes.
After watching the debates, there was
an impression that because it was limited in
such a way this debate far from the essence of
a debate. When the candidates met in person
in the show, they are still reluctant to criticize
and refute each other. In fact, they looked like
they were mutually supporting and reinforc-
ing each program presented by every candi-
date. At the very least, the statements of each
candidate seemed to be complimenting other
candidates. This debate gave the impression
of a reunion of political fgures who were
supposed to be fghting.
Because the mechanism was set up in
such a way, it looked like there was limited
room for each candidate to perform. While in
fact it was not. What was spoken by the can-
didates, whether it was a description of their
vision-mission and programs or answers to
questions posed by the moderator, all were
refected in the short messages (sms) polling
facilitated by the television station to fnd out
about public opinion after watching the de-
bate. Another thing is, the time lag during the
debate, was also flled with a number of com-
mercials placed by each candidate as a venue
for political campaigns.
The packaging of the presidential and
vice presidential debate aired by Metro TV
has typical individual characteristics such
as the commentary segment, opinion forma-
tion as well as polling. The packaging of each
broadcast will be very diferent even though
the same debate is aired at the same time.
The debate on the show will illustrate how
the strength of each candidate either rhetori-
cally, or verbal and non-verbal communica-
tion. It also showed how hard each Success
Team behind the candidate tried to prepare
for the best performance and response of its
candidate.
The television debate itself was pack-
aged in three segments, namely: a pre-debate
where the Success Team would provide a
representative as a speaker on a talk show;
followed by a live television debate; and the
last was a post-debate segment where a talk
show was opened to analyze the response
and performance of each candidate. There
were also some political communication ex-
perts and political scientists who became
commentators. The small mass gathering in
the studio made the debates show livelier.
This research is conducted with a con-
structivist approach to review and analyze
"Indonesia Bersatu" television show on presi-
dential and vice presidential debates in the
2009 Presidential Election on Metro TV.
1.2. Problem Formulation
Based on the background of the prob-
lem that has been described in the research
background, the problem is formulated as
follows: What is the Constructive Meaning
of "Indonesia Bersatu" TV Show on Presiden-
tial and Vice Presidential Candidates Debate
during Presidential Election 2009 on Metro
TV?
30
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
1.3. Research Objectives
1. Know how Metro TV packaged "Indonesia
Bersatu" show.
2. Know and analyze about the constructive
meaning of "Indonesia Bersatu" presidential
and vice presidential debates show on Metro
TV.
2. Framework

2.1. Social Construction of reality
Reality is defned as the quality con-
tained within the realities that are recognized
as having existence (being) which does not
depend on our own will. Knowledge is de-
fned as a certainty that the realities are real
and have a specifc character. Berger and
Luckman (Bungin, 2008:15) say that there are
dialectics among individuals which create a
society and a society which creates individu-
als. This occurs through a dialectical process
of externalization, objectifcation, and inter-
nalization. The dialectical process has three
stages:
First, externalization, the outpour-
ing of efort or human self-expression in the
world, both in mental and physical activities.
Second, objectifcation, the results that have
been achieved, both mentally and physically
from the externalization of human activity.
Third, internalization. Internalization pro-
cess is more of a re-absorption of the objec-
tive world into the subjective consciousness
of the individual in such a way that the world
is infuenced by the social structure. Various
elements of the world that has objectifed will
be captured as a symptom of reality outside
consciousness, as well as internal symptoms
for awareness. Through internalization, hu-
man beings become the results of society. For
Berger, the reality is not something estab-
lished scientifcally, not also something that
is handed down by God.
Metro TV constructed the show through
the process of externalization, objectifcation,
and internalization. When the media defne
what to be displayed and how it will become
externalization, to formulate what will be
broadcast by Metro TV, the broadcast will
become an objectifcation of the objective re-
ality of the mass media after various consid-
erations of associated subjective realities.
2.2. Framing.
Blach in Liliweri (2011: 218) explains
that framing is how someone builds a visual
communication using a language that is sent
to the listeners or observers to interpret; to let
the efect depends on the clarifcation of the
audience, so the framing can lead to mean-
ing. Framing is also related to the interests of
individuals who are dealing with each other
by blocking certain beliefs (convincing to
support a particular policy by linking the size
of the policy with a certain value).
Framing approach looks at how reality is
constructed by the media. . The end result of
the process of formation and construction of
reality in the form of a certain part of real-
ity which is more prevalent and more easily
recognizable. Framing is a way to present an
event by the media to the audience. Stressing
on particular sections, highlighting certain
aspects, and raising a certain reality are the
process of framing in the media.
2.2.1. Framing Analysis of Robert N. Entman.
Framing analysis is used for the con-
struction of meaning in the presidential- vice
presidential debate show on Metro TV. How
the TV station packaged it. The concept of
framing by Entman is used to describe the se-
lection process and highlight certain aspects
of reality by the media. Framing put more
stress on how the text of communication is
displayed and which part is highlighted or
considered important by the text maker. The
word highlighted itself can be defned: to
make information more visible, more mean-
ingful, or more easily remembered by the au-
dience. Highlighted information will be more
likely received by the audience, more felt
and stored in memory compared to the usual
presented.
In Entmans conception, framing ba-
sically refers to (Eriyanto, 2002:185): Deter-
mining the problem; diagnosing the cause;
making moral judgment; providing recom-
mendations. News frames arise in two lev-
els. First, mental conceptions that are used to
process information and as the characteristics
of the news text. Second, the specifc narra-
tive news used to develop an understanding
of the events. News frame is formed out of
certain keywords, metaphors, concepts, sym-
bols, imagery in the news narrative. Hence
the frame can be detected and investigated
from the words, image, and certain pictures
that give a particular meaning of a text mes-
sage.
Entman conception regarding framing de-
scribes and broadly interprets how the event
31
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
is signifed by journalists. Defning the prob-
lem is the frst element that can be seen on
the framing. This element is the master or the
most important frame. Entman emphasizes
how events are understood by journalists.
When there is a problem or issue, how
it is understood. The same issue can be inter-
preted in diferent ways and diferent frames
which would lead to the formation of a difer-
ent reality. Diagnosing causes (estimating the
cause of the problem), is an element to frame
something or somebody considered to be the
actor of an issue. Cause here means what, but
it could also mean anyone (who).
Making moral judgment is a framing
element used to justify or give arguments on
the defnition of the problem that has been
created. Another framing element is the treat-
ment recommendation (emphasizing on set-
tlement). This element is used to assess what
is desired by journalists (Eriyanto, 2002:191).
2.2.2. Visual Framing
The images or pictures are part of the
data that may not be separated and provide
deeper analysis in this study. Aside from the
analysis framing in general there is a visual
framing that explains how to analyze an im-
age be it a still photo or flm. So far, the analy-
sis framing has emphasized more on text as
the main part of the analysis. But now, with
the growing communication technology, the
use of image has become a normal and an
analysis is not limited to just the text but also
in the picture.
Television is one of the media types that
provide information with picture and sound.
Presidential-vice presidential debate
2009 is a television show that is audiovisual
in nature. Metro TV as a medium is also con-
structing Indonesia Bersatu show and is
also analyzed with the visual framing. There
is a diference between the words and pic-
tures in terms of impressions. Words and
pictures appear together in the media and
audiences receive it simultaneously. Oral
and writen elements sometimes unite with
pictures or visual elements to frame the topic
or theme.
As a medium of communication there
is a diferent meaning between pictures and
words. Visual defnition: a media content pro-
cessed by eye. Like still photos and moving
pictures, paintings and colors. Visual compo-
nent in television news is facial expression,
gesture, body posture (Coleman, 2010: 236).
"Schwalbe in Coleman (2010:237) defnes:
visual framing is a continuous winnowing
process. It begins with the choice of events to
cover, followed by the selection of what pic-
tures to take, how to take them (angle, per-
spective, assumptions and biases, cropping,
and so forth) and which ones to submit.
Entman (1993) says visual framing in the
media also chooses aspects that describe suit-
able reality in communication with the text,
to show the defning of the problem, causal
interpretation, moral evaluation, treatment
recommendation. In visual studies, framing
leads to points of view selection, scene, or
angle when making and cropping (cuting),
editing, or selection. Mass media visual fram-
ing uses elements of shooting selection dur-
ing Metros Indonesia Bersatu" production.
How the show is displayed with perspective
and emphasis on the scene and its atributes.
2.3. Political Communication

According to Lynda Lee Kaid, political
communication itself was inter-disciplinary
knowledge that includes the concept of com-
munication, political science, journalism, so-
ciology, psychology, history and others. But
today, as a discipline, political communica-
tion is not the same as these various felds of
study Political communication refects com-
munication theory which includes research
of human society approach to communica-
tion. Political communication in the form of
political rhetoric; political agitation; political
propaganda, and political lobbying (Arifn,
2003: 181).
Nevertheless, the importance of the me-
dia position being used as a political commu-
nication strategy is recorded in the three ele-
ments of political communication expressed
by Mc Nair, which include: political organi-
zations, the media, and citizens. Mc Nair then
provides a wider limitation in political com-
munication:

1.All forms of communication made by poli-
ticians and other political actors to achieve
specifc goals.
2. Communication addressed to political ac-
tors of (non-political) individuals as voters or
media columnist
3. Communication about political actors and
their activities, published in mass media as
well as in other media forms.
Referring to Dan Nimmo, as cited by
32
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
Harsono Suwardi, political communication in
the narrow sense, is categorized as a commu-
nications with political value, if the commu-
nication has political consequences or efects
that govern human behavior under confict.
Secondly, in a broad sense political com-
munication is any kind of messaging, espe-
cially those with political information from a
source to a number of receivers. Dan Nimmo
outlines that political communication covers
political communication, political messages,
political persuasion, political communication
media, public political communication, and
the efects of political communication. Com-
municators are the ones that initiate the de-
livery of the message to another party, or re-
fect the party that initiates and directs an act
of communication. On political communica-
tion, communicators can play two positions,
namely as individual speakers and collective
source persons (Nimmo, 1990 : 56).
2.4. Television as Mass Media and Politics
According to Hamad Harsono Suardi
in Hamad (2004: XV) mass media are a very
important part in political communication.
First, it has very broad coverage in dissemi-
nating political information; able to pass
boundaries, age group, gender and socio-
economic status as well as orientation. Sec-
ond, it has a remarkable ability to multiply
the message. Third, every media is capable
to discourse a political event in accordance
with its view. Fourth, it has the agenda set-
ting function. Fifth, the media is able to form
a chain of media information associated with
each other.
According to Comer and Pels (2003:72-
78) politicians generally work in two difer-
ent domains of political action. First, the do-
main of institutions and political processes
that collectively builds political identity as a
politician and accepts it as his duty. Second,
the public sphere and popular domain.
This is a media era where a complex sit-
uation is formed due to the media coverage.
At this realm the politician as a public fgure,
becomes a representation of other politicians
to develop a reputation and image.
Graber in Saeful (2008:46) indicates that
one of the functions of mass media in the po-
litical system is as a medium of political so-
cialization. The mass media can be viewed as
ideological instrument that provides learn-
ing and values orientation to the audience.
Through the medium a group will be able to
spread its infuence and dominance to other
groups.
Mass media as a political batlefeld is
also underscored by Charlote Ryan in Sae-
ful (2008:47); the media is a symbolic batle-
ground between the parties concerned. They
fle their own meaning of an issue in order to
be accepted by the audience. All parties in-
volved seek to highlight their interpretation,
claims, and arguments through rhetoric and
labeling to establish their position.
Television is diferent from print media
which can only display text or still photos
alone. Television can do a live broadcast of
what is happening at real time and simulta-
neously. Events in faraway places can be seen
directly by the audience. This ability makes
television become increasingly close and inti-
mate with its audience. It was this advantage
of television media that made the General
Elections Commission granting the right for
live broadcasts on television to show the 2009
presidential election political debate. The
ability to reach a wide audience and display
a real visual image in the sense that what oc-
curred at the scene and what is screened is
the same. The Debate show is broadcast live
so that audiences can watch it without hav-
ing to be present. Instead, the media bring it
to viewers home.
The 2009 presidential election political
debate that aired live has its value to the Suc-
cess Team of each candidate involved. The
role of mass media stated in the electoral law
has made the media dare go further to con-
tribute in the elections. Metro TV has actively
participated in providing special space for
dynamics of the elections to be released to the
People.
Metro TV with its Election Channel pro-
gram along with the print media with their
special elections column, elegantly present-
ed a series of special election program cover-
ing news, highlights on politicians and politi-
cal parties and their programs, voter surveys,
political advertising, open debates among
political fgures as well as political parties.

3. Methodology
3.1. Research Methods
Constructivism paradigm is considered
the most appropriate in this study with the
characteristics of looking into a reality to be
specially constructed, being subjective, based
on the fndings in the feld. Reality is relative
so the 2009 presidential candidates debate
will be constructed subjectively by Metro TV.
This study uses qualitative methods
33
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
considering that members of Campaign
Teams and the media are active individuals,
interpreting, creative, displaying behavior
that cannot be foreseen. To use a simple def-
nition, qualitative research is a research that
is interpretive (using interpretation) involv-
ing many methods, in reviewing the research
problem.
In accordance with the principles of
epistemology, qualitative researchers com-
monly examine the things that are in their
natural environment, trying to understand,
or interpret, phenomena based on the mean-
ings that people give to such maters. (Muly-
ana, 2007: 4) This research is qualitative in
nature with case study approach. According
to Pawito (2007:143) the research itself is de-
signed as a case study which has dynamic
characteristics in its use to gain an overview
of the various issues of interest in social life.
According to Deddy Mulyana (2006:201) a
case study is "a comprehensive description
and explanation of the various aspects of an
individual, a group, an organization (com-
munity), a program, or a social situation".
In short, a case study can be regarded as
a description of the aspects studied, whether
it is individuals, groups, organizations and
social circumstances, in detail based on the
actual situation occurred. The case study
aims to provide a detailed overview of the
background, characteristics and typical char-
acters of the case. This study uses a case
study method to explain that it focuses on
"Indonesia Bersatu" 2009 presidential elec-
tion debate show on Metro TV.
3.2. Informants and Data
2009 Presidential Candidate Debate:
1. Thursday, June 18, 2009, presidential de-
bate with the theme of realizing good and
clean governance, as well as upholding the
rule of law.
2. Thursday, June 25, 2009, presidential de-
bate with the theme of poverty and unem-
ployment.
3. Thursday, July 2, 2009, presidential debate
themed the Unitary State of the Republic of
Indonesia, democracy and regional autono-
my.
Vice Presidential Candidate Debate 2009:
1. Tuesday, June 23, 2009, vice presidential
debate with the topic: construction of nation-
al identity.
2. Tuesday, June 30, 2009, vice presidential
debate with the theme: improving the quality
of human life in Indonesia.
The Informant interviewed by the researcher
is the Deputy Chief Editor of Metro TV, Mak-
roen Sandjaya.
3.3. Data Collection Techniques
Data collection techniques used in this study is:
1.Interview, Interviews are used with open-
ended nature, in the sense of giving an op-
portunity to the informant to provide an-
swers according to their thinking.
2. Documentation Study, Observing and col-
lecting messages contained in the vice-pres-
idential debate shows on CD considered to
have a particular meaning in the context of
constructing a reality.
3. Library Studies, Search for and collect the
writings, books, and other information about
the construction of reality built by the tele-
vision media in the 2009 Presidential elec-
tion.
3.4. Data analysis techniques

In qualitative research, data analysis
are conducted during the study. This is done
through a description of the research data, a
review of the existing themes, and highlights
on certain themes (Creswell, 1998:65). There
is several common data analysis in qualita-
tive research, namely:

1. Data collection, in this section the research-
er collects various types of data from various
sources. The documentation debate show, as
well as interviews with informants. .

2. Presentation of data (data display). The
data collected and grouped are arranged in
a logical and systematic manner so that the
researcher can see and examine the critical
components of the presentation of data. At
this stage, data collection is still possible if the
data is still considered incomplete...

3. In this section data reduction and classif-
cation are also conducted. Here, the research-
ers gather important information related to
the research problem, and then classify the
data according to the subject mater. (Grade
I construct)
4. Data typication. Rearranging data accord-
ing to the type of information which then is
34
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
interpreted and discussed which will result
in the model. (Grade II constructs)
5. Conclusions and verifcation. At this stage,
the researcher conducts data interpretation
in the context of the research problem and
objectives. A conclusion will be derived from
the interpretation.
3.5. Framing analysis

Robert N. Entman is one of the experts
who laid the foundation for framing analysis
for the study of media content. The concept of
framing is writen in an article for the Journal
of Political Communication and other writ-
ings practicing the concept in a case study
of media coverage.In Entman Conception,
framing basically refers to defne Problems,
diagnose causes, make moral judgement
and treatment recommendation (Eriyanto,
2002:185).
3.6. Validity Examination Techniques

Triangulation is a validity examination
technique that utilizes something else. Be-
yond the data, for checking purposes or as
a comparison to the data. Denzin (2009:271)
distinguishes four types of triangulation
as examination techniques that exploit the
use of sources, methods, investigators, and
theories. Triangulation with sources means
to compare and recheck the degree of reli-
ability of the information through time and
diferent tools in qualitative research (Pat-
ton, 1987:331). Triangulation by method, ac-
cording to Paton (1987:329), consists of two
strategies, namely: (1) checking the degree of
reliability in the discovery of several research
techniques and data collection (2) check-
ing the degree of reliability of multiple data
sources with the same method.
So triangulation means the best way to
eliminate the facts construction diferences in
the context of a study while collecting data
about some events and relationships of vari-
ous views.
4. RESEARCH ANALYSIS RESULTS AND DIS-
CUSSION
4.1. Construction meaning of Indonesia Ber-
satu " presidential- vice presidential debate
show in the 2009 Presidential election on
Metro TV .

Metro TV considers that the debate
show should also have an entertainment side
that is not monotonous, to the point, but also
contains reviews and input from resource
persons in atendance. "Indonesia Bersatu
which is a formal and serious talk show has
become more relaxed and not too tense to
watch. So that people will be able to see with
a clear mind.
Construction of meaning on Indonesia
Bersatu show is a program of presidential-
vice presidential candidates debate which
will become a consideration for voters in
choosing the President and Vice President
in the 2009 Presidential election. The debate
organized by the Election Commission has
not reached the true essence of a debate; it
is still limited on mutual expression of each
presidential-vice presidential candidate In-
donesia Bersatu seeks to provide its viewers
with an understanding on good discussions
with the campaign team spokesman and
observers. So the outcome of the debate be-
tween Campaign teams or observers' com-
ments come into consideration for voters to
be rational voters .
Metro TV packaged the pre- and
post- debate shows with elements of peace,
the participants sat side by side and each
could express his support. The success team
spokesman also could explain more deeply
about the vision, mission, platform, or any
other statement in the presidential-vice presi-
dential candidates debate in quite limited
time.
Meaning Construction of "Indonesia
Bersatu" presidential-vice presidential de-
bate show in the 2009 Presidential election
on Metro TV tried to give an understanding
to the people of Indonesia, especially Metro
TV viewers to become rational voters instead
of emotional voters through a discussion on
presidential-vice presidential debate show in
the 2009 Presidential election. A balance for
all candidates or campaign (Success) teams
on this show indicates that Metro TV did not
take sides. Metro TV program which is also
audiovisual presented equal scene, angle,
zoom and displays time.
In addition to the formal presidential-
vice presidential candidates debate, Metro
TV also provided an element of entertain-
ment so that viewers were not bored and
did not feel that politics as a terrible thing
. Indonesia Bersatu show was packaged
with Metro TV style that gives equality to
presidential-vice presidential candidate pairs
Megawati - Prabowo, SBY - Boediono, and JK
35
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
- Wiranto. In line with its title. Indonesia
Bersatu " (Indonesia Unite) this show makes
Indonesia remains united despite diferences
in choosing presidential-vice presidential
candidates 2009.
1). Production of live event Indonesia Ber-
satu show on Metro TV
" Indonesia Bersatu" show is a Metro TV pro-
duction using (talk show) dialogue format
and was broadcast live (live event). There are
many elements involved in this show such as:
the show format, duration, performers, and
live broadcast.


Figure 1: Elements in "Indonesia Ber-
satu" show
Metro TV editorial team governed how
the show "Indonesia Bersatu" was packaged
and broadcast. The decision to choose Grand
studio, Najwa as the host, observers to be
present, duration, and format of the show are
the elements that make up "Indonesia Ber-
satu" show. Each element in this show is the
best option according to the editorial team
of Metro TV Metro TV production team pro-
duced "Indonesia Bersatu" show with careful
preparation and support of all sections. Start-
ing from the preparation of location in Grand
studio, watching-along locations in some
areas, and the location of the 2009 presiden-
tial-vice presidential "Indonesia Bersatu" de-
bate. Cameras and the crew were prepared in
each location. Grand studio is a studio that
was complete with lighting, the laying of the
camera, stage, and audio recording.
The broadcast from watching-along
locations and the location of the debate was
the result of Metro TV production team con-
sisting of reporters, cameramen, and broad-
casting crew. Commercials that appear were
based on the advertisers that paid and ob-
tained slots in "Indonesia Bersatu" show. The
General Elections Commission decided when
the debate would be held and which TV sta-
tions to have the turn as the host. Metro TV
as one of the national TV stations followed
the rules set by the Commission so that Metro
just relayed the debates aired live from dif-
ferent locations. Metro TV got the part as the
host on the second round of the presidential
candidates debate.
SMS polls
SMS polling conducted by Metro TV is
part of the opportunity for viewers to be able
to participate in Indonesia Bersatu show.
It was the only independent poll and was a
product of Metro TV itself without cooperat-
ing with any polling institutes in Indonesia.
It was independent with costs and methods
undertaken by Metro TV itself.
Polls are useful method for collecting
information about the publics opinion, ati-
tudes, and behavior in a variety of political
contexts. Campaigns rely upon polls for in-
telligence as well as an assessment of the ef-
fectiveness of their strategy. Polls from an in-
tegral element of the research function of the
campaign that also includes analyses of po-
tential opponents and their records, historical
voting paterns in the constituency, and as-
sessment of advertising content and its efec-
tiveness (Kaid and Bacha, 2006 : 621). Metro
TV included poll in Indonesia Bersatu show
to provide opportunities for people to par-
ticipate in the show. Polling is also a bench-
mark to see the response from the public and
the impact of "Indonesia Bersatu" show on
voters. .
2). Show Format
Show format is the authority of the edi-
torial team to set it up, so it would form an
atmosphere of peace in Indonesia Bersatu
show. Indonesia Bersatu is a talk show
with a formal, casual, entertaining, and peace
discussion. A talk show discussion program
consists of three or more people talking about
a problem. In this program each character
that is invited can talk about his opinions
with the presenter (host) acting as a mod-
erator (Wibowo, 2009: 82). Format is made
diferently on each show as details below:
a). First Show
It was a Format with 1 host and 3 campaign
(Success) teams spokespersons for each can-
didate. The Spokesman sat in the audience
36
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
seats in accordance with the candidates
number. On the stage there were only a mon-
itor and a presenter, Najwa Shihab. There
were also participants from each candidate
and 1 youth group representing the public.
The youth representatives became indepen-
dent participants who pass judgment on the
results of presidential debate of 2009. During
the presidential debate, Metro TV broadcast
it live from Trans 7 studio in Jakarta. Metro
TV put the crew to do a live broadcast. Its re-
porters also reported what happened at the
debate. Metro TV also broadcast watching
together programs held in some areas and
consisted of candidate participants.
b). Second Show
The format of the second show was slightly
diferent from the frst show though still with
Najwa Shihab as host. There were spokesper-
sons of each of the candidates and political
observers on the stage. The Spokesperson sat
in the order of the candidates number rep-
resented. On the other side 2 observers sat
on the stage. Audience seats were flled with
participants supporting the vice presiden-
tial candidates. Polls already started on this
show. At the time the vice presidential debate
was broadcast live from the studio SCTV stu-
dio Senayan City, Jakarta; Metro TV puts the
crew to do a live broadcast. Reporters were
also ready to report what happened on loca-
tion. Metro TV was also preparing watching
together in some areas. Reporter would reg-
ularly report to the Grand studio over what
happened in the area. Watching together in
some areas also continued to be held and re-
ported directly from the site. Sms polls were
opened for public to participate directly in
this event.
C). Third show
The format is diferent because Met-
ro TV hosted the second round of the 2009
presidential debate. Grand studio was used
for presidential debate 2009. Plaza Park at
Metro TV becomes the location of Indone-
sia Bersatu pre -and post- debates. Najwa
was the presenter of the pre and post- de-
bate along with 3 campaign (success) team
spokespersons and one observer .The debate
show was broadcast live from studio Grand
studio, Metro TV by deploying 3 presenters
in the lobby and grand studio to report on the
situation there . Participants of the candidates
flled the Park Plaza highlighted by Democra-
zy team. Watching together in some areas
were also reported directly from the site. Sms
polls opened for public to participate directly
in this event.
). Fourth Show
" Indonesia Bersatu " show was back to
the stage with a format that included three
campaign (success) teams spokespersons as
well as two observers (commentator) , broad-
cast live from the Grand Studio with Najwa
Shihab of Metro TV as presenter. Metro TV
also held Watching together in three areas,
namely: Pekanbaru, Surabaya, and Makassar.
Each of these areas was reported by a report-
er. Zakia Arfan in Pekanbaru, Intan Adiana in
Surabaya, and Rachel Marembuna in Makas-
sar.
Grand studio Metro TV was visited by
guests who participated in "Indonesia Bersa-
tu" debate. Present at the event as panelists:
Mrs. Siti Aminah a midwife and Mang Idin,
an environmental activist. Sms polls were
opened so the public can directly participate
in this event.

E). Fifth show
The format was changed for Metro TV
provided 2 separate studios. . In the Grand
studio it was guided by Najwa Shihab with
the candidates campaign team. There are 5
Academicians of the UI (University of Indo-
nesia) who were in Metro TV studio with pre-
senter Kania Sutisnawinata. Sms polls were
opened so the public can directly participate
in this event.
3). Duration
Indonesia Bersatu shows were
broadcast during prime time starting at 18:30
until 22:30 so that the duration of each show
ranges from 3-4 hours. The time was adjusted
to the time schedule set by the Commission
namely at 19:00 to 21:00 so Metro TV can
have pre and post debate shows in accor-
dance with the schedule. The show contains
a very important national issue, namely the
Indonesian Presidential Election 2009, so the
long duration is quite natural. The format of
"Indonesia Bersatu" show requires about 3-4
hours.
4). Show participants /performers
Many parties were involved in "Indonesia
Bersatu" show such as: presenters, campaign
teams spokespersons, observers, audience,
independent groups, and community repre-
sentatives.
The Presenter was also the Moderator who
kept the Indonesia Unite" show run smooth-
37
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
ly. Najwa Shihab was assigned to guide fve

"Indonesia Bersatu" shows as a single host at
Grand Metro TV studio. Her job covers open-
ing and guiding the show, asking questions,
and closing the show. At the second round of
the debate, there were three additional pre-
senters assigned on presidential debate of
2009 locations.
A reporter is a person who covers a sto-
ry then conveys it to others (Wibowo, 2009:
114). Metro TV reporters covered live reports
from the site of watching together in some
areas in accordance with the constituents re-
gions or assignment from Metro TV. Report-
ers from the location of the 2009 Presidential
election debate reported directly from the site
of what was happening. On the spot and on
the screen reporter is a reporter who is on
the scene and appears on television to report
what is happening there (Wibowo, 2009: 103)
Observers who were present were in-
vited by Metro TV and all with good track
record, high credibility and neutral. Metro
TV selected an observer after going through
various processes to create a list of observers
in accordance with their respected felds.
Participants are invited by Metro TV.
Those who took part in the 2009 presidential
election debate programs were independent
groups and a team of Metro TV has done
some research in advance on them The same
thing goes for public fgures who came to
represent the people or a particular profes-
sion or community in Indonesia, they were
all credible and independent.
Campaign Teams of candidates were in-
vited by Metro TV and those who were pres-
ent were the choice of the teams not Metro
TV. Metro TV gave full rights to campaign
teams. There is a relationship between Metro
TV and the teams but it was limited to pro-
fessional relationship and complements each
other in meeting the need for information.
5). Live Broadcast ( Live event )
"Indonesia Bersatu" is a live talk show,
so it is diferent from other television pro-
grams which have to undergo a production
process before being aired . A live broadcast
takes foresight and a higher concentration
because what is recorded at the moment is
directly it aired. So the selection of the scene,
angle, and zoom are the key to its success.
The process of editing / selection occurs on
the live broadcast that is to determine which
parts to shoot and then where the camera
Figure 2: Indonesia Bersatu shows Packaging
38
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
lead or move to other parts.
A live broadcast requires a presenter
who can master her audience like Najwa Shi-
hab. As a presenter she must be able to orga-
nize and run the show as expected by Metro
TV. She must also be able to control the course
of events from start to fnish according to the
duration of time; commercial break, breaking
news, and guide the discussion to keep it stay
in context.
Metro TV as mass media performs its
functions, namely: informing, entertaining,
being persuasive, and educating. The func-
tions of the mass media are to be a source of
information, a source of entertainment, and a
persuasion forum (Vivian, 2008: 5-6). Domi-
nick in Ardianto (2007: 14-17) states the func-
tions of mass communication are as surveil-
lance, interpretation, linkage, transmission of
values and entertainment. Communication
functions in general are expressed by Efendy
in Ardianto (2007: 18-19), namely: informa-
tion, education, and infuence functions.
Metro TV provided information for In-
donesian people on president-vice presiden-
tial candidates in 2009 through Indonesia
Bersatu show. It provided information that
is also entertaining with varying formats. The
message was conveyed in a very persuasive
and instructive way to make viewers become
rational voters instead of emotional ones.
6). Framing has been conducted by Metro
TV in packaging "Indonesia Bersatu" show
on 2009 election presidential-vice presiden-
tial candidates debate.
Metro TV is a television station which
declared itself as the elections channel or tele-
vision. Indonesia Bersatu show was very
important for Metro TV as it was the larg-
est party of democracy in Indonesia, that
is, the direct presidential election. Metro TV
called on Indonesian people to be rational
rather than emotional voters by airing "Indo-
nesia Bersatu" talk show. Experimental study
of Iyengar and Kinder (1983) in Liliweri
(2011:202), suggests that reintroduces media
can produce:

a. Persuasion efect on beliefs, atitudes, and
choices of the audience
b. Placing issues of signifcant value in the
public agenda, such issues which are prob
lematic or small but underestimated pub
lic.

Indonesia Bersatu show persuades
the audience by giving a discussion about
the president-vice presidential candidates
who would be elected by the people. Metro
TV placed the 2009 Presidential election as an
important issue that needs to be conveyed to
the public.
Presidential-Vice presidential debate in
2009 became an important agenda for Metro
TV to be aired to Indonesian people.
Media frames : media makes something
more prominent than the fact that makes the
audience more accepting , for example by
introducing the defnition of a problem, in-
terpret ting the cause of the problem, giving
moral evaluation , and / or providing treat-
ment recommendations ( Liliweri 2011:202
) . Metro TV highlighted presidential-vice
presidential debate in the 2009 election as the
media frames. Through "Indonesia Bersatu
" with long enough duration Metro TV pre-
sented presidential-vice presidential debate
in the 2009 Presidential election by explain-
ing the problem , the cause of the problem ,
moral evaluation , and treatment recommen-
dation In Conception Entman, framing basi-
cally refers to (Eriyanto, 2002:185): Determin-
ing problems, diagnosing causes, making
moral choices, and providing recommenda-
tions.
Tabel 1
Framing in Indonesia Bersatu on Metro TV

Defne Problems Presidential-vice pres-
idential debate on
Metro TV in the 2009
Presidential election
Diagnose causes Whether the
Presidential-vice
presidential de-
bate on Metro TV
in the 2009 Presi-
dential election is
a real debate that
can give reference
to the people who
want to choose their
president and vice
president.
Make moral judge-
ment
The Presidential-vice
presidential debate
has not presented
the real essence of a
real debate.
39
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
Treatment reco-
mendations
Metro TV gives the
opportunity to the
viewers to judge
who is the best ac-
cording to them and
it is the right of the
viewers to give the
Treatment Recom-
mendation.
Metro TV as the Election Chanel that
focused on the democratic process in Indone-
sia namely, the legislative as well as and the
presidential elections.
The source of the problem is not the
2009 presidential-vice presidential candi-
dates debate but how the candidate could
convince the voters or prospective voters on
July 8, 2009 Election. Metro TV stressed that
the real assessment came from the voters
who were still undecided. Metro TV on "In-
donesia Bersatu" show emphasized that the
problem was not only on the essence of the
presidential-vice presidential debate but also
on the debate format that should be changed
to avoid monotony.
The Presidential-Vice presidential de-
bate format afects how candidates present
their vision, mission and answer questions
related to the country's problems. Ma k i n g
moral decisions that the vice - presidential
debate still has not touched the surface of the
essence because in each answer during the
debate there was neither solution nor con-
crete step. This is due to the debate format
specifed by the Commission. Metro TV also
invited independent groups and observers to
comment on the presidential-vice presiden-
tial candidates answers and communication
style. .
Observers noticed that the vice presi-
dent candidates could not explore the answer
in terms of time and format of the Debate
set by the Commission. Independent groups
were given the opportunity to answer ques-
tions related to the presidential debate of
2009.
"Indonesia Bersatu" show is a moral deci-
sion made by Metro TV by presenting dia-
log (talk show) from a variety of sources that
provide input and information related to the
debate. Discussions on this show consist of
various parties such as: campaign team that
explained and exposed deeper answers given
by the candidates during the debate, observ-
ers/commentators who provided a neutral
assessment of the candidates, independent
groups or communities in society who pro-
vided input and assessment of the debate.
SMS poll was also a form of community
participation in order to convey their aspira-
tions or choice of presidential and vice presi-
dential candidates in 2009.
Metro TV gave the resolution empha-
size that it is the public or viewers themselves
who determine their own choice. "Indonesia
Bersatu" show is packaged to help people
obtain information that is clear, reliable and
impartial, and to help people determine who
is best to lead Indonesia. Recommendations
are given by Metro TV by conveying infor-
mation in the form of assessment by observ-
ers/commentators, the academics team from
UI that conducted analysis on the debate as a
whole.
Entman in Coleman (2010:237) states
that visual framing in the media also chooses
aspects that describes suitable reality in com-
munication with the text, to show the defn-
ing problem, causal interpretation, moral
evaluation, treatment recommendation.
In visual studies, framing leads to the
selection of points of view, scene, and the
angle during the making, cropping (cuting),
editing or selection.

Table .2.
Visual Framing of "Indonesia Bersatu" Show
on Metro TV
Element Frame impressions
Viewpoint The camera viewpoint
leads throughout the stu-
dio when the host opens
the show.
Scene n the Studio there are a
stage for the presenter
and a large monitor for
the live broadcast de-
bate. Audience seats are
flled with participants,
spokespersons for the
success/campaign teams,
undecided voters, and
observers
angle There are some cameras
that take pictures as a
whole, from the right
and from the left sides.
40
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
Zoom Whoever is speaking
will be directly shot or
zoomed by the camera so
viewers can see him. The
camera will also zoom
the presenter while
guiding the show, par-
ticipants during yells,
campaign team spokes-
persons when they an-
swering questions, un-
decided voters when
answering questions
and the observers.
Editing
& selection
The part which is consid-
ered important is when
the presenter begins to
ask a campaign team
spokesperson so that the
points can more deeply
answered with the cam-
era on the person who is
speaking and of course
also on the atmosphere
in the Grand Studio Met-
ro TV

"Indonesia Bersatu" is a television show
that is audiovisual in nature so the framing
is not only of text/sentences contained in the
show but also of images/visuals. Pictures be-
came an important component in this show
for pictures give emphasis, highlight, and the
afrmation of the problems that are being
discussed at the "Indonesia Bersatu discus-
sion. Components of visual framing are the
point of view, scene, angle, zoom, and edit-
ing
The camera becomes the eye of Metro
TV which directly provides information
to viewers which in parts of the interpreta-
tions reinforce a point of view , scene , angle
, zoom, and editing of the show " Indonesia
Bersatu " .
Point of view is a portion of the image
taken by the camera when the show opened,
during the discussion, and closing. The cam-
era at the beginning of the show would lead
throughout the studio that explains that this
is a show that was atended by many parties,
like the success teams, observers, partici-
pants, and presenters. The camera became an
important tool that will lead and direct image
recording for broadcast.
Each scene must ft with the overall part
of Indonesia Bersatu show.
The stage is the center or hub of activity
in Indonesia Bersatu shows it is dominat-
ing the scene. Discussions and debate were
carried out on the stage so that not only the
scene but also the angle from all sides as well
as zooming are on the host, spokespersons
for the camping/success teams, and observ-
ers. Cameramen will take the best angle ei-
ther from the right side, left side, top or bot-
tom of each scene in the show.
Zooming or enlarging the images is carried
out when there is somebody speaking and it
shows that this part of the show is important
and deserves the atention of viewers.
A live broadcast also goes through the
process of editing / selection that is, choos-
ing where the camera should point to cap-
ture precious moments. During discussions
between each candidates campaign team
spokesperson and an observer then the cam-
era will immediately lead to the one who is
speaking. Occasionally it will quickly move
to the person who is answering or to the ex-
pressions of the audience on an answer.
As in the pictures below:
Viewpoints and scene in Indonesia Bersatu
Show



41
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
Figure 3 : Framing of Indonesia Bersatu
show on Metro TV

Based on the above discussion, a model
of the construction of meaning l of Indonesia
Bersatu" show on Metro TV can be illustrat-
ed. The Construction of meaning of Indone-
sia Bersatu show originated from the formu-
lation and planning of the show production
by Metro TV Editorial Team. The Editorial
team made "Indonesia Bersatu" show format
starting from the type of the show which is
a talk, the show duration which is between
3-4 hours, performers (presenters, reporters,
success teams, observers, participants, com-
munity). Metro TV set all locations ranging
from Grand studio, watching together in
some areas, and the debate locations. Seting
up crew: presenters, reporters, cameramen,
the production section and others.
Metro TV gives prominence and em-
phasis on 2009 election presidential-vice
presidential debate program as a very impor-
tant activity. The debate held by the Com-
mission has not yet reached the essence of
a real debate so it is difcult for the public
to assess which candidate is electable. Metro
TV opened a discussion forum related to the
content of the debate more freely by invit-
ing success teams, analysts, and the public in
general. Sms polls were opened to give view-
ers the opportunity to participate directly in
this show. Metro TV recommendation is that
through this discussion people can choose
which candidate is the best. People have be-
come rational voters with the information
provided by Metro TV which is per-
suasive, entertaining, educating, and
neutral.
The construction pro-
cess of mass media through the fol-
lowing steps (Bungin, 2000:194-200):
First, the preparation of construction
materials. This stage is the task of the
mass media editors to be distributed
to the mass media workers. Metro TV
Editorial team interpreted presiden-
tial-vice presidential debate in 2009
as a national public event that is criti-
cal to the continuity of the political
system and democracy in Indonesia.
Second, the construction distribution
phase, this is done through mass me-
dia strategies in conveying informa-
tion which in principle is in real time.
Metro TV packaged the presidential-
vice presidential debate 2009 to be-
come Indonesia Bersatu show with various
atributes. Third, the establishment of con-
struction of reality. Metro TV established it-
self as a mass media which gives a reference
to the public in choosing presidential-vice
presidential candidate rationally.
Finally, the confrmation, is the stage
when the mass media and the audience give
arguments and accountability for the choice
to be involved in the formation stages of con-
struction. Mass media has the ability in the
construction of reality based on the subjectiv-
ity of the media, yet the presence of mass me-
dia in one's life is a source of knowledge to be
accessed indefnitely.
Social construction of Metro TV is con-
ducted through 3 stages namely, externaliza-
tion, the frst and second stages. Metro TV
packaged Indonesia Bersatu show. Objec-
tifcation that is Metro TV turned the presi-
dential-vice presidential debate 2009 into
Indonesia Bersatu show. The last is inter-
nalization, how Metro TV viewers receive the
show and infuence their behavior.
5.1. Conclusion
Based on the results of the research that has
been presented, it can be concluded as fol-
lows :
"Indonesia Bersatu" show which is a
formal and serious talk show has become a
show with more relaxed nuance so is not too
tense to watch. So the public can watch with
a clearer mind.
The meaning construction on Indo-
nesia Bersatu show on Metro TV seeks to
42
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
provide an understanding to the people of
Indonesia, especially Metro TV viewers to
become rational instead of emotional voters
through discussions on the presidential-vice
presidential candidates debate in 2009 Presi-
dential election.
Frame: presidential-vice presidential
debate 2009 iss a political event, an Indone-
sian party of democracy . The construction
process of mass media through the following
steps: First , the preparation of construction
materials. This stage is the task of the mass
media editors to be distributed to the mass
media workers. Metro TV Editorial team in-
terpreted presidential-vice presidential de-
bate in 2009 as a national public event that
is critical to the continuity of the political
system and democracy in Indonesia. Second
, the construction distribution phase , this is
done through mass media strategies in con-
veying information which in principle is in
real time.
Metro TV packaged the presidential-
vice presidential debate 2009 to become
Indonesia Bersatu show with various at-
tributes . Third , the establishment of con-
struction of reality. Metro TV established it-
self as a mass media which gives a reference
to the public in choosing presidential-vice
presidential candidate rationally. Finally, the
confrmation, is the stage when the mass me-
dia and the audience give arguments and ac-
countability for the choice to be involved in
the formation stages of construction
Mass media has the ability in the con-
struction of reality based on the subjectivity
of the media, yet the presence of mass me-
dia in one's life is a source of knowledge to
be accessed indefnitely . Social construction
of Metro TV is conducted through 3 stages
namely, externalization, the frst and second
stages. Metro TV packaged Indonesia Ber-
satu show . Objectifcation that is Metro TV
turned the presidential-vice presidential de-
bate 2009 into Indonesia Bersatu show. The
last is internalization, how Metro TV viewers
receive the show and infuence their behav-
ior .
REFERENCES
Alfan, Alfan. Political Communication and Po-
litical Systems Indonesia. Jakarta: PT. Scho-
lastic Press, 2009
Arifn, Anwar. Political communication: Para-
digm-Theory-Application-Communication
Strategy and Politics in Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka .2003.
Ardinal. Political Communication. Jakarta: PT.
Index 2009
Baran, Stanley J., Introduction to Mass Com-
munication, Media Literacy and Culture,
New York: McGraw-Hill, 2004.
Berger, Arthur Asa. Signs in Contemporary
Culture (translation). Yogyakarta: Tiara Dis-
course. In 2000.
____________. Media Analysis Techniques.
Beverly Hills: Sage Publication. 1982.
Berger, Peter L and Luckman, Thomas. The So-
cial Construction of Reality, A Treatise in the
Sociology of Knowledge. New York: Anchors
Book. , 1967.
Bungin, M. Burhan. Construction of Social Me-
dia: The Power of Infuence of Mass Media,
Television advertising, and consumer deci-
sions as well as criticism of Peter L Berger and
Thomas Luckman. Jakarta: Kencana. , 2008.
Cangara, Hafed. Political Communications:
Concepts, Theory, and Strategy. Jakarta: Ra-
jawali Press. , 2009.
Comer, John and Pels, Dick (ed). Media and re-
styling of Politics. London: Sage Publications.
, 2003.
Creswell, John w. Research Design (Transla-
tion) Chryshnanda, DL & Bambang Hasto-
broto. Jakarta: KIK press. , 2002.
Danial, Akhmad. Political TV Ad: Moderniza-
tion of Political Campaign Post-New Order.
Yogyakarta: LKiS.2009.
Denzin, Norman K and Yvonna S. Lincoln.
Handbook of Qualitative Research, First Edi-
tion. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
, 1994.
Eriyanto. Construction Framing Analysis, Ide-
ology, and Politics Media. Yogyakarta: LKIS.
, 2002.
Firmanza. Political Marketing. Jakarta: Indone-
sian Torch Foundation. 2007.
Hall, Stuart. Culture, Media and Languange.
London: Routledge. , 1992.
Louw, Eric P. The Media and Political Process.
London: Sage Publications. , 2005.
McNair, Brian. An Introduction to Political
Communication. London, Routledge. , 2003.
Mulyana, Deddy. Qualitative Research Meth-
odology New Paradigm of Communication
Sciences and Other Social Sciences. Bandung:
PT. Teens Rosdakarya. , 2003.
Pawito. Mass Media and Election Campaigns.
Yogyakarta: Jalasutra. , 2009.
Perlof, Richard M. Political Communication:
Politics, Press. and Public in America. New
Jersey: Lawrence Erlbaum associates, Inc.. ,
43
The Construction of Meaning in Indonesia Bersatu Show on Presidential-Vice
Presidential Candidates Debate in 2009 Election on Metro TV
NOVITA DAMAYANTI
1998. .
Sobur, Alex. Media Text Analysis An Introduc-
tion to Discourse Analysis, Semiotics Anal-
ysis and Framing Analysis. Bandung: PT.
Teens Rosdakarya. , 2001.
Suardi, Harsono, Sedjaja, Sasa Djuarsa and Se-
tio Budi. Political Democracy and Commu-
nication Management. Yogyakarta: Galang
Press. , 2002.
Vivian, John, Theory of Mass Communication,
New York: Kencana 2008
Wibowo, Fred. Television Program Production
Engineering. Yogyakarta: Pinus Book Pub-
lisher. , 2009.
44
Jurnal UltimaComm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN: 1979-1232
JURNAL ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA
Perspektif & Masalah Komunikasi
Partai NasDem sebagai Partai Politik Baru
di Indonesia
Inco Harry Perdana
dosen Ilmu Komunikasi
Universitas Multimedia Nusantara
Jl. Boulevard, Gading Serpong Tangerang-Banten
Telepon (021) 5422 0808/3703 9777
e-mail: inco@umn.ac.id
Abstrak
General Election 2014 which will come bring new parties competing to win votes. One of the new
political parties are Nasdem Party. As a political party, Nasdem Party can not be separated from
the process of communication, both internally and externally. Efective form of communication
that is needed by Nasdem Party to be able to realize their goal of winning legislative elections in
2014. Through this paper will discuss the perspective of communication made by Nasdem Party,
also about the communication problems, communication in organizations, public communication
and intercultural communication contained in Nasdem Party. The discussion will be based on
theories of communication that exist and in accordance with such problems
Keywords: partai politik, komunikasi, groupthink, informasi organisasi, retorika
face-negotiation
PENDAHULUAN
Geliat politik menuju Pemilu 2014 su-
dah mulai terasa. Majalah Tempo, edisi 9
15 Mei 2011 pada halaman 38 menyebutkan
bahwa telah terdaftar empat partai baru pada
Kemenkumham yaitu Partai Persatuan Nasi-
onal (PPN), Partai NasDem, Partai Nasional
Republik (Nasrep) dan Partai Kedaulatan
Bangsa Indonesia. Empat partai baru terse-
but akan menambah serunya persaingan
partai politik yang telah ada selama ini. Re-
formasi membawa tiga perubahan mendasar
dalam sistem pemilihan umum di Indone-
sia. Pertama; kembalinya sistem multi-partai
seperti tahun 1955 dari sebelumnya hanya
tripartai di masa Orde Baru. Kedua; mulai
tahun 2004 dilakukan dua kali yaitu untuk
memilih wakil-wakil rakyat melalui Pemilu
Legislatif dan selanjutnya Pemilu Presiden
secara langsung. Ketiga; sesuai dengan PP
No.6 tahun 2005 tentang pemilihan, penge-
sahan pengangkatan dan pemberhentian Ke-
pala Daerah dan Wakil Kepala Daerah) maka
dilangsungkanlah Pemilukada (Pemilihan
Umum Kepala Daerah) sesuai dengan yang
diamanatkan oleh UU No.32 tahun 2004.
Pada 1 Februari 2010 lalu, organisasi ma-
syarakat Nasional Demokrat telah dideklara-
sikan dan manifesto pun dikumandangkan.
Salah satu isi manifesto ialah menolak de-
mokrasi yang hanya menghasilkan rutinitas
sirkulasi kekuasaan tanpa kehadiran pe-
mimpin yang berkualitas dan layak ditelada-
ni. Didukung oleh 45 tokoh nasional yang
terdiri tokoh masyarakat, politisi, akademisi,
birokrat, budayawan, wartawan dan penga-
mat politik. Dalam satu tahun kelahirannya
ormas Nasional Demokrat telah berkembang
dan mengklaim telah mengeluarkan satu juta
kartu anggota. Mengusung tema Restorasi
Indonesia, Nasional Demokrat berusaha
mencapai restorasi negara bangsa, restorasi
kehidupan rakyat dan restorasi kebijakan in-
ternasional.
45
Jurnal UltimaComm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN: 1979-1232
JURNAL ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA
April 2011 Patrice Rio Capella yang
menjabat sebagai Wakil Sekjen Kaderisasi
Ormas Nasional Demokrat mendirikan Par-
tai NasDem bersama dengan Ahmad Rofq
Wakil Sekjen Pemberdayaan & Pelayanan
Masyarakat Ormas Nasional Demokrat. Par-
tai politik yang mengklaim diri sebagai sayap
politik Ormas Nasional Demokrat ini akan
berlaga pada Pemilu Legislatif 2014. Partai
ini berusaha membawa tema Restorasi In-
donesia menjadi menjadi sebuah kebijakan
politik yang ditawarkannya. Dengan aturan
yang lebih ketat pada revisi Undang-Undang
Partai Politik No.2 Tahun 2008, maka diperki-
rakan akan ssemakin sulit munculnya partai
politik baru pada Pemilu Legislatif 2014. Par-
tai NasDem dengan kemudahan jaringan or-
masnya menyebutkan bahwa pendirian par-
tai politik tersebut juga menjadi jawaban atas
tantangan partai-partai politik yang merevisi
Undang-Undang tersebut di parlemen. Partai
NasDem juga akan menjawab tantangan dan
keragu-raguan dari sebagian besar publik
dan pengamat akan eksistensi sebuah partai
politik baru.
Sebagai partai baru, untuk dapat
mewujudkan tujuannya tentulah Partai Nas-
Dem harus mempunya sebuah bentuk komu-
nikasi yang efektif baik internal maupun
eksternal. Secara internal, Partai NasDem ha-
rus bisa menggunakan bentuk-bentuk komu-
nikasi kelompok dan komunikasi organisasi
sedangkan untuk eksternal menggunakan
bentuk-bentuk komunikasi publik dan ko-
munikasi antarbudaya. Perspektif komuni-
kasi yang tepat dan efektif sangatlah dibu-
tuhkan untuk partai yang masih baru seperti
Partai NasDem ini. Jangan sampai, bentuk
komunikasi yang tidak tepat (baik internal
maupun eksternal) akan membuat partai ini
hanya berumur pendek dan partai penggem-
bira pada Pemilu Legislatif 2014 yang akan
datang.
Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan
dibahas seputar permasalahan komunikasi
kelompok, komunikasi dalam organisasi,
komunikasi publik dan komunikasi antarbu-
daya yang terdapat dalam Partai NasDem.
Pembahasan tersebut akan didasarkan atas
teori-teori komunikasi yang ada dan sesuai
dengan permasalah tersebut.
PERSPEKTIF KOMUNIKASI PARTAI NAS-
DEM
Menurut West dan Turner (2007:49)
yang dimaksud dengan teori (theory) adalah
sebuah sistem konsep abstrak yang mengin-
dikasikan adanya hubungan di antara kon-
sep-konsep tersebut yang membantu kita
memahami sebuah fenomena. Dalam tulisan
ini, teori-teori yang digunakan teori dalam
arti menengah (mid-range theory) di mana
teori menjelaskan perilaku dari sekelompok
orang dan bukannya semua orang.
Dalam tulisan ini akan digunakan em-
pat macam teori yang masing-masing akan
menjelaskan tentang komunikasi kelompok,
komunikasi organisasi, komunikasi publik
dan komunikasi antarbudaya. Adapun teori
yang dipakai dalam tulisan ini adalah:
1.Groupthink untuk komunikasi ke
lompok.
2.Teori Informasi Organisasi untuk ko
munikasi organisasi.
3.Retorika untuk komunikasi publik.
4.Teori Face-negotiation untuk. komu
nikasi antar budaya.

Sebagai organisasi baru, tentulah Partai
NasDem menemui berbagai macam aspek
komunikasi dalam organisasi. Teori-teori
tersebut akan membahas bagaimana aspek-
aspek komunikasi dan permasalahannya
dalam Partai NasDem sesuai dengan bentuk
komunikasi kelompok, komunikasi kelom-
pok, komunikasi publik dan komunikasi an-
tarbudaya.
KOMUNIKASI KELOMPOK PARTAI
NASDEM

Groupthink; Teori ini dicetuskan oleh
Irving Janis, di mana anggota-anggota ke-
lompok seringkali terlibat di dalam gaya
pertimbangan di mana pencarian konsensus
(kebutuhan akan semua orang untuk sepak-
at) lebih berat dibandingkan akal sehat (West
dan Turner, 2007:274). Keputusan kelompok
ini datang dari beberapa individu berpen-
garuh dalam kelompok yang irrasional tapi
berhasil mempengaruhi kelompok menjadi
keputusan kelompok. Groupthink mem-
pengaruhi kelompok dengan melakukan
aksi-aksi yang tidak masuk akal dan tidak
mempedulikan pendapat-pendapat yang
bertentangan di luar kelompok. Groupthink
terjadi manakala ada semacam konvergeni-
tas pikiran, rasa, visi dan nilai-nilai di dalam
sebuah kelompok menjadi sebuah entitas
kepentingan kelompok; dan orang-orang yg
berada dalam kelompok itu dilihat tidak se-
46
Jurnal UltimaComm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN: 1979-1232
JURNAL ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA
bagai individu, tetapi sebagai representasi
dari kelompoknya.
Apa yang dipikirkan, dirasa dan di-
lakukan adalah kesepakatan satu kelompok.
Tidak sedikit keputusan-keputusan yang
dibuat secara groupthink itu yang berlawan
an dengan hati nurani anggotanya maupun
orang lain di luarnya. Namun mengingat
itu kepentingan kelompok, maka mau tidak
mau semua anggota kelompok harus kom-
pak mengikuti arah yang sama agar tercapai
suatu kesepakatan bersama.
Kelahiran Partai NasDem tidak bisa
dipisahkan dari pembentukan Organisasi
Masyarakat Nasional Demokrat. Nama Par-
tai NasDem bukanlah kepanjangan dari kata
Nasional Demokrat. Partai NasDem digagas
oleh orang-orang muda yang ada di Ormas
Nasional Demokrat antara lain Rio Capella,
Ahmad Rofq dan Sugeng Suparwoto. Dalam
Ormas Nasional Demokrat, Rio Capella ter-
catat sebagai Wakil Sekjen Kaderisasi, Ahmad
Rofq sebagai Wakil Sekjen Pemberdayaan &
Pelayanan Masyarakat dan Sugeng Supar-
woto sebagai Wakil Sekjen Pemberdayaan &
Pelayanan Masyarakat.
Jadi perlu dicatat bahwa Partai NasDem
didirikan oleh para pengurus Ormas Nasi-
onal Demokrat. Namun demikian, partai ini
bukanlah bentukan dari ormas, melainkan
inisiatif dari para anggotanya saja.
Oleh karena itu, tidak semua orang di
ormas tahu bahwa akan didirikan partai.
Maka timbul pertentangan dan pro kontra
akan pendirian partai politik tersebut. Per-
tentangan terjadi tidak hanya di pusat namun
juga di tingkat provinsi. Bahkan di beberapa
media, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang
merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Or-
mas Nasional Demokrat mengatakan bahwa
beliau tidak diberitahu masalah pembentu-
kan Partai NasDem.
Alasan dari Rio Capella mendirikan
Partai NasDem adalah bahwa ia mengang-
gap harus membawa gagasan dari Ormas
Nasional Demokrat yaitu Restorasi Indo-
nesia ke dalam kancah politik praktis dan
level pembuat kebijakan. Hal itu tidak bisa
dilakukan oleh ormas karena gagasan yang
dibawakan oleh ormas masih sebatas konsep
ideal namun sulit untuk diimplementasikan.
Pendirian partai politik merupakan kesem-
patan untuk mendapatkan tiket mengikuti
Pemilu Legislatif 2014. Sebagai organisasi
masyarakat, Nasional Demokrat tidak dapat
masuk ke dalam kancah politik praktis.
Dalam sisi komunikasi kelompok,
penulis melihat bahwa keputusan membuat
partai politik dari sekelompok pengurus Or-
mas Nasional Demokrat merupakan sebuah
groupthink. Seperti telah dijelaskan sebelum-
nya, teori ini dicetuskan oleh Irving Janis, di
mana anggota-anggota kelompok seringkali
terlibat di dalam gaya pertimbangan di mana
pencarian konsensus (kebutuhan akan semua
orang untuk sepakat) lebih berat dibanding-
kan akal sehat. Dapat dilihat dari kelompok
kecil pengurus Ormas Nasional Demokrat ini
tidak menghiraukan pro-kontra yang terjadi
akan pendirian partai ini. Rio Capella dan
Ahmad Rofq kemudian malah mengajak
rekan-rekan ormas di provinsi untuk mendu-
kung gagasan mereka ini.
Penulis melihat bahwa sebenarnya ada pen-
gurus dari ormas ataupun pihak lain yang ti-
dak setuju dengan pendirian Partai NasDem.
Namun dikarenakan telah terjadi semacam
konvergenitas pikiran, rasa, visi dan nilai-
nilai di dalam sebuah kelompok menjadi
sebuah entitas kepentingan kelompok; dan
orang-orang yg berada dalam kelompok itu
dilihat tidak sebagai individu, tetapi sebagai
representasi dari kelompoknya. Ada nilai
dan kepercayaan bersama bahwa ormas ti-
dak akan mampu mengimplementasikan ga-
gasan Restorasi Indonesia yang mereka per-
juangkan bersama, dan partai politik adalah
jawabannya.
Kelompok pendiri Partai NasDem ini
sepertinya tidak melihat berbagai macam
permasalahan yang akan datang pada sebuah
partai politik baru. Begitu banyak partai poli-
tik muncul pada era reformasi, namun hanya
sedikit yang mampu bertahan dan menjadi
besar. Sebagian besar hanyalah menjadi par-
tai gurem dan menjadi penggembira pemili-
han umum. Gagasan dari Ormas Nasional
Demokrat tentang Restorasi Indonesia yang
telah diterima oleh banyak masyarakat di
Indonesia malah mungkin akan ditolak jika
kemudian masuk ke dalam unsur politik dan
kekuasaan. Masyarakat sudah banyak dibo-
hongi oleh partai-partai politik sebelumnya
dan timbul ketidakpercayaan terhadap niat
baik dari partai politik terhadap kepentingan
bangsa dan negara. Masyarakat melihat sela-
ma ini partai politik hanyalah memperjuang-
kan kepentingan sekelompok orang saja.
Janis (dalam West dan Turner, 2007)
mengatakan bahwa bagaimana sebuah ke-
lompok dapat belajar untuk menghindari
groupthink haruslah (1) melihat sasaran yang
ingin dicapai oleh kelompok, (2) menyusun
dan mengkaji ulang rencana-rencana tinda-
47
Jurnal UltimaComm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN: 1979-1232
JURNAL ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA
kan yang akan diambil serta alternatif-alter-
natif yang ada, (3) mempelajari konsekuensi
dari tiap alternatif, (4) menganalisa rencana
tindakan yang pernah ditolak ketika sebuah
informasi baru muncul, dan (5) memiliki ren-
cana kontigensi untuk saran-saran yang ga-
gal.
KOMUNIKASI ORGANISASI PARTAI NAS-
DEM

Teori Informasi Organisasi (Organiza-
tional Information Theory); Teori ini dikem-
bangkan oleh Karl Weick berdasarkan se-
buah penelitian yang kemudian menjelaskan
satu cara bagaimana organisasi membuat in-
formasi yang membingungkan atau ambigu
menjadi masuk akal. Teori ini berfokus pada
proses pengorganisasian anggota organisasi
untuk mengelola informasi daripada ber-
fokus pada struktur organisasi itu sendiri
(West dan Turner, 2007:339). Weick menye-
butkan bahwa sebuah organisasi menerima
informasi yang sangat besar jumlahnya se-
hingga menimbulkan banyak interpretasi.
Informasi pun bersifat ambigu.
Oleh karena hal itulah diperlukan pros-
es untuk mengurangi ketidakjelasan tersebut
yang terjadi dalam tahapan-tahapan berikut
ini: enactment, seleksi dan retensi. Pada taha-
pan enactment, informasi akan diterima dan
diinterpretasikan oleh organisasi. Setelah
informasi tersebut diinterpretasikan, maka
organisasi memilih metode terbaik untuk
mendapatkan informasi tambahan dalam
mengurangi ketidakjelasan. Tahapan ini
disebut dengan seleksi (selection). Terakhir
adalah organisasi menganalisa efektivitas
dari aturan dan siklus komunikasi serta ter-
libat dalam retensi (retention) di mana dalam
tahapan ini organisasi menyimpan informasi
untuk digunakan kemudian.
Komunikasi organisasi dapat didefnisi-
kan sebagai pertunjukan dan penafsiran
pesan diantara unit-unit komunikasi yang
merupakan bagian dari suatu organisasi ter-
tentu. Suatu organisasi seperti perusahaan,
terdiri dari unit-unit komunikasi dalam
hubunganhubungan hirarkis antara yang
satu dengan lainnya dan berfungsi dalam
suatu lingkungan.
Partai NasDem tidak bisa dipisahkan
dengan Ormas Nasional Demokrat, bahkan
Rio Capella sebagai Ketua Umum partai
mengatakan bahwa Partai NasDem meru-
pakan sayap politik dari Ormas Nasional
Demokrat. Dalam dunia politik sendiri unsur
kesimpangsiuran informasi sangatlah tinggi.
Informasi tersebut bisa berasal dari luar, bisa
juga berasal dari dalam organisasi itu sendiri.
Ketika sekelompok pengurus Ormas
Nasional Demokrat mendapatkan informasi
bahwa revisi Undang-Undang No.2 Tahun
2008 tentang Partai Politik telah disahkan
maka terjadilah ketidakpastian, apakah Or-
mas Nasional Demokrat akan berubah men-
jadi partai politik atau tidak. Konsekuensinya
adalah banyak pengurus di tingkat provinsi
bertanya-tanya karena sumber informasi ber-
kumpul di pusat. Media massa pun sering-
kali menambah keruhnya informasi dengan
isu-isu yang belum tentu benar dan tidak
akurat.
Rio Capella mengatakan bahwa awal-
nya tidak ada niatan untuk mendirikan
Partai Politik NasDem. Namun pada bulan
Desember 2010 keluarlah revisi dari Undang-
Undang No.2 tahun 2008 tentang partai poli-
tik yang menyebutkan bahwa pendaftaran
partai politik untuk dapat mengikuti Pe-
milu Legislatif 201 adalah 22 Agustus 2011.
Revisi Undang-Undang tersebut juga mem-
buat persyaratan partai politik untuk dapat
mengikuti Pemilu Legislatif 2014 menjadi se-
makin berat. Partai politik harus mempunyai
kepengurusan di semua provinsi, 75% di ka-
bupaten/kota dan 50% di tingkat kecamatan.
Padahal sebelumnya Undang-Undang hanya
mengharuskan di 75% provinsi, 50% kabu-
paten/kota dan 25% kecamatan.
Dalam Teori Informasi Organisasi yang
dikembangkan oleh Karl Weick berdasarkan
sebuah penelitian yang kemudian menjelas-
kan satu cara bagaimana organisasi mem-
buat informasi yang membingungkan atau
ambigu menjadi masuk akal. Teori ini ber-
fokus pada proses pengorganisasian ang-
gota organisasi untuk mengelola informasi
daripada berfokus pada struktur organisa-
si itu sendiri (West dan Turner, 2007:339).
Weick menyebutkan bahwa sebuah organ-
isasi menerima informasi yang sangat besar
jumlahnya sehingga menimbulkan banyak
interpretasi. Informasi pun bersifat ambigu.
Oleh karena hal itulah diperlukan proses un-
tuk mengurangi ketidakjelasan tersebut yang
terjadi dalam tahapan-tahapan: enactment,
seleksi dan retensi.
Dalam hal ini, Partai NasDem kemu-
dian didirikan untuk menghindari isu-isu
negatif berkembang. Dalam tahapan enact-
ment semua informasi diterima kemudian
48
Jurnal UltimaComm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN: 1979-1232
JURNAL ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA
diinterpretasikan bahwa Ormas Nasional
Demokrat sering disebutkan akan berubah
menjadi partai politik. Pada tahapan seleksi
(selection), organisasi mengambil metode
bahwa bentuk dan fungsi partai politik dan
organisasi masyarakat itu adalah dua hal
yang berbeda walaupun mempunyai tujuan
yang sama. Oleh karena itulah Partai Nas-
Dem didirikan sebagai sayap politik dari
Ormas Nasional Demokrat. Dengan pemisa-
han ini, tersaringlah informasi mana yang
ormas dan mana yang partai politik. Dengan
demikian di tahapan selanjutnya yaitu reten-
si (retention) maka segala bentuk informasi
di antara ormas dan parpol dipisahkan. Jika
memang sebuah informasi berisikan ten-
tang hal-hal politik maka Partai NasDem-lah
yang berfungsi untuk mengolah informasi
tersebut dan bukannya Ormas Nasional De-
mokrat. Dengan pemanfaatan teori informasi
organisasi ini maka diharapkan bahwa pen-
gurus-pengurus ormas di daerah menjadi
jelas dan tidak bingung lagi. Jika memang
mereka tertarik tentang politik praktis, maka
Partai NasDem-lah tempatnya dan jika tidak
mereka bisa tetap berada di Ormas Nasional
Demokrat tanpa harus dikait-kaitkan dengan
kegiatan Partai NasDem.
KOMUNIKASI PUBLIK PARTAI NASDEM
Retorika (rhetoric); Rethoric meru-
pakan salah satu karya besar Aristoteles, hal
tersebut didapati dari banyaknya studi yang
terkait dengan psikologi khalayak. Aristo-
teles kemudian membuat retorika menjadi
sebuah ilmu; dengan cara yang sistematis ia
meneliti tentang dampak dari seorang pem-
bicara, orasi, serta audiens. Sembari menu-
rutnya orator merupakan orang yang meng-
gunakan pengetahuannya sebagai seni jadi
orasi atau retorika adalah sebuah seni berora-
si. Aristoteles melihat fungsi retorika sebagai
bentuk komunikasi persuasif, meskipun se-
benarnya ia tak menyebutkan hal ini secara
tegas, namun ia menekankan bahwa reto-
rika adalah bentuk komunikasi yang sangat
menghindari metode kohersif. Kualitas per-
suasi dari sebuah retorika bergantung pada
tiga aspek pembuktian, yaitu logika (logos),
etika (ethos), dan emosional (pathos).
Pembuktian logika berangkat dari ar-
gumentasi pembicara atau orator itu send-
iri, pembuktian etis dilihat dari bagaimana
karakter dari orator dapat terungkap melalui
pesan-pesan yang disampaikannya dalam
orasi, dan pembuktian emosional dapat di-
rasakan dari bagaimana transmisi perasaan
dari orator mampu tersampaikan dan diteri-
ma oleh khalayaknya (Grifn, 2009:280).
Sebagai partai politik baru, Partai Nas-
Dem haruslah memperkenalkan gagasan-
gagasan politiknya kepada publik. Gagasan
tersebut tidak hanya diperkenalkan kepada
pihak luar namun juga kepada para anggota
Ormas Nasional Demokrat. Dalam sebuah
wawancara, Rio Capella mengatakan bahwa
target Partai NasDem di Pemilu Legislatif
2014 adalah memenangkan pemilu. Target
yang menurut penulis sangatlah berat untuk
sebuah partai politik baru. Dari contoh, Par-
tai Demokrat pada keikutsertaan pertamanya
pada Pemilu Legislatif 2004 hanya mencapai
posisi ke-5.
Menurut penulis, salah satu cara yang
harus digunakan Partai NasDem untuk me-
nyampaikan pesan-pesan politiknya kepada
publik adalah melalui retorika. Retorika
sendiri diperkenalkan oleh Aristoteles yang
adalah murid Plato, flsuf terkenal dari za-
man Yunani Kuno. Aristoteles melihat fungsi
retorika sebagai bentuk komunikasi persua-
sif dan menekankan bahwa retorika adalah
bentuk komunikasi yang sangat menghindari
metode kohersif. Aristoteles kemudian me-
nyebutkan tentang klasifkasi tiga kondisi
audiens dalam studi retorika. Yang pertama
adalah courtroom speaking yang dicon-
tohkan dengan situasi ketika hakim sedang
menimbang untuk memutuskan tersangka
bersalah atau tidak bersalah dalam suatu si-
dang peradilan. Ketika seorang Penuntut dan
Pembela beradu argumentasi di persidangan
tersebut, maka keduanya telah melakukan
judicial rethoric. Yang kedua adalah political
speaking, yang bertujuan untuk mempenga-
ruhi legislator dan para pemilih untuk ikut
serta dalam pilihan politik tertentu, debat di
dalam kampanye termasuk dalam kategori
ini.
Yang ketiga adalah ceremonial speak-
ing, kegiatan retorika ini berupaya untuk
mendapatkan sanjungan dan (atau) me-
nyalahkan pihak lain sehingga pembicara
akan mendapatkan perhatian dari khalayak.
Menurut Aristoteles, kualitas persuasi dari
sebuah retorika bergantung pada tiga as-
pek pembuktian, yaitu logika (logos), etika
(ethos), dan emosional (pathos). Pembuktian
logika berangkat dari argumentasi pembi-
cara atau orator itu sendiri, pembuktian etis
dilihat dari bagaimana karakter dari orator
dapat terungkap melalui pesan-pesan yang
disampaikannya dalam orasi, dan pem-
49
Jurnal UltimaComm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN: 1979-1232
JURNAL ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA
buktian emosional dapat dirasakan dari
bagaimana transmisi perasaan dari orator
mampu tersampaikan dan diterima oleh kha-
layaknya.
Partai NasDem haruslah menggunakan
retorika dalam penyampaian pesan-pesan
politiknya agar publik tahu bahwa pesan
politik tersebut sesuai dengan kebutuhan
mereka yaitu perubahan Indonesia melalui
Restorasi Indonesia. Dalam hal ini yang per-
lu diperhatikan oleh Partai NasDem adalah
orang yang menyampaikan retorika tersebut.
Orang ini juga harus dikenal publik dengan
akuntabilitas etikanya serta kemampuan
emosional yang baik.
Retorika dapat dilakukan pada masa-
masa perkenalan internal anggota Ormas
Nasional Demokrat dan kemudian diting-
katkan pada saat masuk masa kampanye pe-
milu. Jangan sampai, pesan politik yang me-
narik akan diabaikan atau ditolak oleh publik
karena yang menyampaikannya salah orang.
Pembuktian etis (ethical proof) berpulang ke-
pada kredibilitas dari seorang orator. Retori-
ka yang baik tidak hanya berfokus dan men-
gandalkan kata-kata yang baik, lebih dari itu
bahwa seorang orator juga harus nampak
memiliki kredibilitas. Sebab kerap kali kha-
layak sudah cukup terpesona kepada pribadi
seseorang, bahkan sebelum orang tersebut
berpidato atau berorasi; sebelum kata-kata
keluar dari mulut orang tersebut. Dalam Re-
thoric, Aristoteles menyebutkan perihal yang
terkait dengan tiga sumber kredibilitas yang
baik, yaitu intelligence, character, dan good-
will.
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PARTAI
NASDEM
Face-Negotiation Theory; Teori ini
membantu menjelaskan perbedaan-perbe-
daan budaya dalam merespons konfik. Stella
Ting-Toomey (dalam Grifn, 2009:400) bera-
sumsi bahwa setiap orang dalam setiap bu-
daya sebenarnya selalu menegosiasikan face.
Face adalah istilah kiasan untuk public self-
image, yaitu bagaimana kita ingin diperlaku-
kan oleh orang lain. Sedangkan facework ber-
hubungan dengan pesan-pesan verbal dan
nonverbal spesifk yang membantu memeli-
hara dan memulihkan face loss (kehilangan
muka) dan untuk menegakkan dan serta
menghormati face gain. Teori ini menyatakan
bahwa facework dari budaya individualis-
tik sangat berbeda dengan facework budaya
kolektivistik. Artinya, jika facework-nya ber-
beda, maka cara menangani konfiknya juga
berbeda.
Digagas sebagai organisasi masyara-
kat yang majemuk Indonesia dengan meng-
galang seluruh warga negara dari berbagai
macam lapisan dan golongan, maka tentu-
lah terjadi bentuk komunikasi antarbudaya
dalam Ormas Nasional Demokrat yang juga
terjadi dalam Partai NasDem. Tidak seperti
PAN atau PKB yang menjadi sayap politik
dari Ormas Muhammadiyah dan NU, maka
Partai NasDem juga didasari oleh Ormas
Nasional Demokrat yang merupakan kapal
induk atau melting point dari segala bentuk
lapisan masyarakat di Indonesia. Sedangkan
PAN & PKB harus diakui sebagai sayap poli-
tik dari ormas yang sekterian dan tidak ter-
diri dari berbagai macam golongan.
Samovar, Porter dan McDaniel (2010:24)
menyebutkan bahwa elemen dari budaya
adalah sejarah, agama, nilai, organisasi sos-
ial dan bahasa. Dalam aspek komunikasi an-
tarbudaya yang terjadi pada Partai NasDem
maka akan dipakai Face-Negotiation Theory;
yang membantu menjelaskan perbedaan-
perbedaan budaya dalam merespons konfik.
Teori ini menyatakan bahwa facework
dari budaya individualistik sangat berbeda
dengan facework budaya kolektivistik. Arti-
nya, jika facework-nya berbeda, maka cara
menangani konfiknya juga berbeda. Teori ini
berdasar pada pembedaan antara collectiv-
ism dan individualism. Menurut Harry Tri-
andis (dalam Samovar, dkk, 2010:27), perbe-
daan antara keduanya dapat dilihat dari cara
mendefnisikan tiga istilah, yaitu self (diri),
goals (tujuan) dan duty (tugas).
Menurut Triandis, orang yang kolek-
tivis mendefnisikan self-nya sebagai ang-
gota dari kelompok-kelompok tertentu, dia
tidak akan melawan tujuan kelompok, serta
melaksanakan tugas yang berorientasi pada
lebih mementingkan kepentingan kelompok
daripada kepentingan pribadi. Orang-orang
kolektivis biasanya menilai orang baru ber-
dasarkan asal kelompoknya.
Bukan berarti mereka tidak peduli pada tamu
mereka, tetapi hal ini semata-mata karena
mereka menganggap keunikan individual
tidak lebih penting daripada group-based in-
formation. Sedangkan orang yang individu-
alis akan mendefnisikan self-nya sebagai
seseorang yang independent dari segala ke-
lompok afliasi, tujuannya adalah memenuhi
kepentingan pribadinya, dan melakukan se-
gala tugas yang menurutnya menyenangkan
dan menguntungkan diri sendiri. Selain itu,
50
Jurnal UltimaComm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN: 1979-1232
JURNAL ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA
orang yang individualistis tertarik mengenal
seseorang karena keunikannya dan kepriba-
diannya.
Teori dan pendekatan di atas dapat di-
gunakan pada Partai NasDem yang meru-
pakan partai majemuk yang sangat rawan
dengan konfik. Misalkan untuk melihat ka-
sus orang-orang dari Ormas Nasional De-
mokrat yang tidak setuju dengan berdirinya
partai maka dapat digunakan pendekatan
kolektivis atau individualis tergantung ka-
susnya. Jika orang yang tidak setuju terse-
but berasal dari kalangan partai politik lain,
maka pendekatan kolektivis-lah yang dapat
digunakan.
Dalam pendekatan ini, maka Partai
NasDem harus mampu mengkomunikasikan
dan membuktikan bahwa Partai NasDem
lebih baik dari partai politik lain. Harus diko-
munikasikan dengan jelas bahwa nilai-nilai
dan gagasan dari Partai NasDem adalah juga
merupakan perpanjangan dari Ormas Nasi-
onal Demokrat yang telah mereka setujui.
Namun jika orang yang tidak setuju dari Par-
tai NasDem misalkan berasal dari golongan
non-partisan atau akademisi maka digunak-
anlah pendekatan individualis di mana Par-
tai NasDem harus mampu mengkomunika-
sikan bahwa gagasan politik partai bertujuan
untuk pencapaian kebutuhan pribadi orang
tersebut.
PENUTUP
Proses komunikasi dapat berlangsung
dalam berbagai macam tingkatan dan model.
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa Partai
NasDem sebagai partai politik baru mem-
punyai banyak masalah komunikasi. Untuk
dapat mencapai tujuan dari Partai NasDem
pada Pemilu Legislatif 2014 yaitu memenang-
kan pemilu, maka segala hambatan dan ma-
salah komunikasi tersebut haruslah disele-
saikan. Tantangan bukan hanya terjadi dari
pihak luar, namun juga terjadi dari dalam or-
ganisasi. Sebagai suatu organisasi yang baru,
tentulah Partai NasDem masih terus mencari
bentuk-bentuk yang ideal untuk organisasin-
ya.
Dalam hal itulah sesungguhnya perlu
diujicobakan teori-teori komunikasi yang
telah berlaku guna menyelesaikan atau me-
minimalkan masalah-masalah tersebut.
Ilmu praktis tidaklah harus selalu har-
us sejalan dengan kajian-kajian teori, namun
alangkah baiknya jika sebuah ilmu praktis
dilandaskan pada teori-teori sehingga mem-
punyai format-format yang baku. Tentulah
dalam prakteknya akan berkembang di sana-
sini sesuai dengan kebutuhan. Semoga maka-
lah ini dapat memberikan gambaran tentang
hubungan antara permasalah-permasalahan
praktis dalam komunikasi organisasi Partai
NasDem dengan teori-teori komunikasi yang
telah ada selama ini.
DAFTAR PUSTAKA
Grifn, Em. (2007). A First Look at Communi-
cation Theory, 7th Edition. New York: Mc-
Graw-Hill.
Robbins, Stephen P. (2003). Organizational
Behavior, 10th Edition. New Jersey: Pearson
Education, Inc.
Ruben, Brent D., and Lea P. Stewart. (2006).
Communication and Human Behavior, 5th
Edition. Boston: Pearson Education, Inc.
Samovar, Larry A., Richard E. Porter., and Ed-
win R. McDaniel. (2010). Communication Be-
tween Cultures. Boston: Wadsworth.
West, Richard., and Lynn H. Turner. (2008).
Introducing Communication Theory: Analy-
sis and Application, 3rd Edition. New York:
McGraw-Hill.
Wawancara dengan Rio Capella, Ketua Umum
Partai NasDem. 23 Mei 2011. Pastis Kitchen,
Aston Hotel. Jakarta.
51
Jurnal UltimaComm Vol.5 No.1/Mei-Juli 2014 ISSN :1979-1232
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Penjahat Proletar Ala Bajuri
(Realisme dalam komedi situasi Bajaj Bajuri
edisi jalani lebaran dalam tahanan)
Djati Prasetyani Hadi
dosen Akindo YPK tinggal di Yogjakarta
djatiprasetyani@yahoo.co.id
Abstract:
Kemahadasyatan media massa, salah satunya terletak pada kemampuannya mengkonstruk-
si wacana mengenai realitas atau lebih tepatnya kebenaran umum. Dalam kajian kritis, kemam-
puan media massa dalam mewacanakan realitas atau kebenaran umum tersebut justru sering-
kali dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk melakukan suatu bentuk penjajahan baru yang
relatif terselubung: imperialisme budaya melalui media, yang tidak lagi dikaitkan dengan penguasaan
fsik melainkan pada konstruksi mental framed. Suatu strategi imperialisme yang dilakukan pararel
dengan alih-alih pendidikan akan spirit pembebasan dan kesederajatan dalam kemasan citra modern.
PENDAHULUAN

Social codes atau disebut sebagai Re-
alitas terdiri dari appearance, dress, make-
up, environment, Representasi kita menge-
nai realitas atau world selalu bergantung
dalam arti dikonstruksi oleh kelompok sosial
tertentu yang berhasil memenangkan kom-
petisi wacana dalam suatu perjuangan klas.
Kemenangan kelompok sosial terse-
but atas kelompok-kelompok sosial lainnya,
dari suatu geopolitik tertentu, dikarenakan
kelompok sosial pemenang mampu mengor-
ganisasikan persetujuan kolektif yang sangat
mungkin dicapai dengan memaksimalkan
penggunaan elemen-elemen diskursif untuk
difungsikan sebagai pembatas pemahaman
mengenai realitas atau world, sehingga
pemahaman tersebut hadir tanpa memberi
kesempatan pada kita untuk mempertan-
yakannya.
Realitas diterima sebagai sesuatu yang
taken-for-granted atau commonsense. Reali-
tas yang demikian tentu saja bersifat ideolo-
gis, dengan salah satu ciri utamanya adalah
bahwa teks menjadi terpisah dari historisnya.
Realitas atau world menjadi sesuatu yang
fuid dan dinamis, sangat tergantung pada
perubahan relasi kuasa antar kelompok-
kelompok sosial yang ada; kebenaran bisa
dengan mudah berubah menjadi hujatan ber-
samaan dengan perubahan kepentingan dan
atau perubahan relasi kelas.
Kasus suap Wisma Atlit yang melibat-
kan nama Nazaruddin dan partai Demokrat,
cukup representatif untuk menjelaskan
kondisi fuid dari suatu realitas ideologis.
Bagaimana Nazar yang tertuduh pada
awal penangkapannya menjadi terbela pada
proses pengadilan selanjutnya; sementara se-
baliknya Demokrat yang menjadi partai yang
di puji-puji pra pilpres 2014 salah satunya
dengan slogan katakan tidak untuk korup-
si, terkait dengan kasus suap Wisma Atlet
tersebut berbalik menjadi partai yang paling
dihujat karena banyak anggotanya terlibat
kasus tersebut.
Atau kasus Lumpur Lapindo, bagaima-
na media mengalihkan realitas tragedi men-
jadi suatu pleasure; dari bencana alam men-
jadi fenomena wisata baru. Dua kasus diatas
untuk kemudian tidak hanya representatif
untuk menjelaskan fuiditas realitas, namun
juga menunjukkan bahwa media merupakan
elemen yang krusial dalam produksi penge-
tahuan yang commonsense atau taken for grant-
ed.
Ada dua syarat utama yang harus di-
penuhi oleh suatu kelas atau kelompok sos-
ial kemudian untuk memenangkan wacana
atau persetujuan masif tersebut; (1) pertama,
suatu kelas harus mempunyai kemampuan
dan energi untuk tanpa henti-hentinya mem-
produksi dan mereproduksi wacana klasnya
sehingga capable dalam mempengaruhi pan-
dangan kolektif mengenai realitas dan atau
world. Level ini bisa juga disebut sebagai
perjuangan kelas untuk meraih, meminjam
52
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
istilah Gramsci, konsensus. (2) Kedua, un-
tuk meraih syarat yang disebutkan pertama
ini, suatu kelas yang bermaksud untuk men-
egakkan konsensusnya harus mempertim-
bangkan kepemilikannya atas media seb-
agai salah satu dari elemen diskursif yang
paling esensial. Media dalam konteks ini
beralih fungsi sebagai instrumen ideolo-
gis kelas, yang menyuarakan kepentingan-
kepentingan kelas yang diabdinya. Media
merupakan wadah klas sosial untuk melaku-
kan hegemonic closures menurut Laclau
dan Moufe atau struggle of class menurut
Barthes; bagaimana realitas klas diproduksi
dan direproduksi termasuk identitas klas
(baik identitas klas yang diabdinya maupun
identitas kelas lainnya yang terlibat dalam
struggle tersebut). Realitas media tetaplah se-
buah realitas, sehingga poin kritik disini bu-
kan pada judgement mengenai realitas atau
bukan realitas, melainkan pada realitas yang
holistik atau parsial; dimana realitas media
harus dipahami sebagai realitas yang par-
sial karena sifat reduktif dan ideologisnya.
Apa yang kemudian menjadi masalah adalah
ketika keberadaan realitas media tersebut
untuk kemudian justru menggantikan ke-
nyataan sosial yang sebenarnya (holistik),
dan bahkan diterima sebagai realitas yang
taken-for-granted atau commonsense. Inilah
yang dipahami dalam Kritik Ideologi yang
berakar pada Marx dan sekolah Frankfurt
sebagai relasi kuasa yang berjalan beriringan
dengan hegemoni bahasa dan secara sistema-
tis menjadi topeng dari realitas.
Hegemonic closure untuk kemudian
terwujud ketika realitas dinaturalisasikan
melalui kode-kode televisual yang dikon-
struksi dalam sebuah model narasi tertentu,
dan ditampakkan seolah-olah bukan sebagai
hasil konstruksi yang dengan cara-cara ter-
tentu menetapkan sebuah makna yang fx
dan sekaligus menutup kemungkinan bagi
makna-makna potensial lain untuk muncul
dan menjadi alternatif bagi pemaknaan yang
berbeda dan mungkin berlawanan. Dalam
pemahaman yang demikian , maka realitas
media yang ideologis dapat didefnisikan
sebagai realitas yang terdistorsi, karena ke-
munculannya sekaligus menyembunyikan
relasi-relasi kelasnya, sehingga kita melihat
makna-makna tersebut tidak sebagai mema-
hami dunia melainkan (melihat) dunia itu
sendiri.
Teori yang digunakan disini adalah
teori Realisme John Fiske yang masuk dalam
cultural study dan Political Economy Grams-
ci (dengan mempertimbangkan kritik Laclau
dan Moufe). Pemilihan teori ini memang
bersifat ekstrem, dimana menurut Babe ked-
uanya mempunyai genealogi yang berbeda
dan bahkan berlawanan; critical cultural
study yang idealis dan bersifat imaterial dan
critical political economy yang reduksionis
dan bersifat material yang masing-masing
bersifat parsial dan karenanya potensial un-
tuk terjatuh dalam kepentingan-kepentingan
politis tertentu. Dengan meng-combine po-
litical economy dan cultural study diharap-
kan mampu mereduksi kesalahan-kesalahan
yang tidak perlu dan menghindarkan kita
dari keterjebakan kepentingan ideologis
dari masing-masing teori, sehingga validitas
penelitian untuk kemudian potensial untuk
semakin mendekati kebenaran. Sebagaimana
menurut Innis (Innis dalam Babe, 2007: 169)
meng-combine political economy dan cultur-
al study dalam artikel ini akan focus pada di-
alektika medium dan pesan atau mater dan
form, sehingga dapat memberi kecenderun-
gan untuk mengirimkan atau meneruskan
pesan-pesan baik yang terikat waktu maupun
ruang yang digunakan untuk menyokong
monopoli pengetahuan dari elit-elit berkuasa
dengan menggunakan medium yang ada dan
berlaku umum. Rasionalisasi dua teori yang
digunakan adalah, bahwa dengan Realisme
John Fiske diandaikan konstruksi kode-kode
televisual memproduksi atau mereproduksi
sebuah realitas media yang bersifat naratif.
Hal ini menjadikan realitas media tidak ne-
tral dan mengabdi semata untuk kepentin-
gan suatu klas.
Semiotik sebagai metode (dimana Re-
alisme Fiske masuk didalamnya), menurut
Saukko, memberi keuntungan pada terbu-
kanya kesempatan bagi suara-suara yang
berbeda untuk berkontestasi dan berdialog.
Namun demikian salah satu kelemahan yang
mesti dipertimbangkan dan dicari solusinya
adalah pada kenyataannya kebersuaraan
dari beragam kepentingan tersebut terjebak
pada arogansi kebenaran masing-masing
klas dan kemudian menjadikan kondisi ini
endless; dalam arti keberbedaan tersebut
yang ditonjolkan dan menjadi tujuan utama
bahkan jauh diatas tujuan semula dari suatu
analisis yaitu mencari kebenaran. Bisa juga di-
katakan dengan alih-alih membangun suatu
unity of consciousness mengenai suatu ke-
beragaman realitas melalui pemberian ruang
untuk bersuara, namun pada praktiknya ini
justru sebuah strategi klas dominan untuk
mempertahankan fragmentasi dari klas-klas
53
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
yang powerless tersebut; dan ironisnya suk-
ses terwujud dengan membangun arogansi
klas, sebuah kondisi yang semakin menjauh-
kan untuk terciptanya unity of conscious-
ness tadi. Pada titik inilah hegemoni Grams-
ci dengan memasukkan nuansa politik dari
Laclau dan Moufe bisa masuk. Perpaduan
semiotik dan political economy di sisi lain
juga meminimalisir kelemahan dari politi-
cal economy yang kurang detail melakukan
analisis terhadap fenomena budaya tertentu.
Dialog antara dua teori tersebut ki-
ranya mampu mengembalikan kebenaran
pada singgasananya. Melalui konsep hege-
moni Gramsci, dialog dari keberbedaan su-
ara dalam liberalism semiotik memperoleh
background-nya dalam membongkar historis
yang tercerabut dari teks yang menjadikan
teks tersebut potensial menyembunyikan
relasi dominatif atau tindakan-tindakan sub-
ordinasi suatu klas.
Bagaimana pengetahuan keberagaman
tersebut sebagai realisasi dari tuntutan liber-
alisasi dan demokratisasi realitas dan poli-
tis pada akhirnya justru memproduksi dan
mereproduksi pengetahuan dan kebenaran
atau realitas dari klas mapan sebelumnya
dalam upayanya yang semata demi meng-
konservasi kuasa dominan mereka atas do-
main ideologis politis. Konservasi ideologi
klas terwujud dan bahkan sah kemudian
karena narasi relasi kode-kode televisual
membangun sebuah konsensus melalui apa
yang disebut Gramsci sebagai produksi com-
mon-sense.
Menurut Gramsci hegemoni bersifat
dinamis karena sebagai hasil dari struggle of
class sehingga dapat dipahami pula bahwa
hegemoni dapat dilakukan oleh semua klas
(baik yang powerfull maupun yang power-
less), maka penyebarluasan commonsense
inilah yang menjadi strategi dari klas borjuis
(dalam konsep Gramsci) untuk memenang-
kan hegemoni tersebut.
Tujuan dari analisis dalam artikel ini
adalah untuk melemahkan kekuasaan den-
gan mengungkapkan kenyataan ideologis,
atau secara spekulatif berupaya membuka
topeng kekuasaan dengan kebenaran (to un-
mask power with truth).
Sepakat dengan Saukko, maka metode
yang digunakan untuk menganalisis dalam
artikel ini adalah dengan mengkolaborasi-
kan dua teori dengan perspektif yang relatif
berbeda, yaitu: political economy Gramsci
dan realisme Fiske yang fokus pada bahasa
sebagai suatu bentuk moda informasi. Se-
bagaimana karakteristik dari metode cul-
tural study yang ditawarkan oleh Saukko,
maka asumsi dasar dari pemilihan teori dan
bahkan metodologi yang digunakan dalam
analisis artikel ini tidak menutup kenyataan
bersifat subjektif.
Ada beberapa strategi yang ditawarkan
Saukko dalam metodenya, yaitu: Collabora-
tion, self-refexivity dan polivocality (Sauk-
ko, 2003: 55).
Strategi self-refexivity menjadi pili-
han utama dalam pengembangan analisis
artikel ini, tentu saja dengan beberapa per-
timbangan; (1) keterjebakan pada wacana
mainstream menjadikan subjektiftas peneliti
yang komprehensif mendesak untuk diper-
timbangkan. (2) self-refexivity mengatasi
keterbatasan etnograf yang mestinya secara
ideal dilakukan dalam analisis artikel ini, di-
mana eksplorasi dan komparasi mengenai
wacana dominasi ideologis penguasa melalui
program komedi situasi Bajaj Bajuri pada
masyarakat Betawi dan non-Betawi yang me-
nyaksikan komedi situasi tersebut seharus-
nya dilakukan.
Strategi self-refexivity penulis untuk
kemudian berbasis pada kondisi ketidak-
seimbangan informasi yang terjadi dalam
wacana nasional dimana penguasa mem-
punyai otoritas dalam pembembentukan
common-sense atau pandangan umum yang
membenarkan tindakan-tindakan koersifnya
terhadap masyarakat lokal dan kelompok-
kelompok sosial terpinggirkan seperti dicon-
tohkan disini.
Masyarakat Betawi sebagai represen-
tasi dari lokal dan sekaligus juga represen-
tasi dari proletar sebagai implikasi dari ket-
erpinggiran mereka dari akses ekonomi.
Realisme Fiske dan Imperialisme Media

Realitas dalam televisi menurut John
Fiske merupakan produk atau konstruksi
dari kode-kode budaya dan oleh karenanya
tidak pernah bersifat netral ataupun univer-
sal, sebagaimana dikutip dibawah ini;
What passes for reality in any culture
is that cultures codes, so reality
is always al ready encoded, it is nev-
er raw. (Fiske, 2001: 5)
Dari pengertian inilah untuk kemudian
realitas televisi dipahami Fiske sebagai ha-
sil konstruksi realitas yang melibatkan par-
tisipasi code-code televisual. Sebagai hasil
54
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
konstruksi budaya, maka realitas televisi ti-
dak bisa dipahami sebagai realitas yang apa
adanya karena sebagaimana watak dari tin-
dakan konstruksi yang dilakukan, tentu saja
ditujukan untuk memenuhi kepentingan-ke-
pentingan politis dan ideologis kelas tertentu
yang dominan. Inilah realisme, sebuah kon-
sep kritis untuk memahami konstruksi real-
ity televisi yang ideologis dan politis.
Bagi Fiske realistik atau tidaknya suatu
program televisi, bukan ditentukan oleh ke-
mampuannya untuk mereproduksi suatu
reality secara jitu, sebagaimana penjelasan
Fiske lebih lanjut berikut ini;
not because it reproduces reality, which
it clearly does not, but because it reproduces
the dominant sense of reality. We can thus
call television essentially realistic medium
because of its ability to carry a socially con-
vincing sense of the real. Realisme is not a
mater of any fdelity to an empirical reality,
but of the discursive conventions by which &
for which a sense of reality is constructed.
(Fiske, 2001: 21)
Kerealistikkan media justru dikare-
nakan kemampuan televisi mereproduksi
reality dalam pemahaman dominan serta
memperluas pemahaman reality (televisi)
tersebut secara sosial. Realitas televisi un-
tuk kemudian menjadi seolah-olah objektif
atau common-sense serta bersifat natural dan
universal, sementara bagi fske justru keyaki-
nan tersebut yang menyelubungi kebenaran
reality sebagai hasil dari konstruksi sosio-
kultural dari suatu kelas dominan. Realisme
untuk kemudian justru membangun sebuah
false consciousness mengenai reality, kare-
na seolah-olah menyajikan gambar-gambar
yang unmediated mengenai external reality
melalui kode-kode televisual.
Sebagai hasil dari discursive conven-
tions maka defnisi realisme diatas menga-
rahkan kita pada syarat berikutnya dari re-
alitas televisi yaitu bahwa realitas ada, untuk
kemudian, karena dibawa oleh wacana, di-
mana wacana-wacana diskursif direlasikan
dalam tujuannya untuk membangun sebuah
realitas tertentu yang dikonstruksi oleh relasi
technical codes sebagai meta-discoursenya.

The simple access to truth which is
guaranteed by the meta-discourse depands
on a repression of its own operations & this
repression confers an imaginary unity of
position on the reader from which the other
discourse in the flm can be read. (MacCabe
dalam Fiske, 2001: 35)
Selanjutnya, menurut MacCabe, relasi
technical codes tersebut membangun sebuah
kesatuan imajiner dari wacana-wacana yang
beragam dan ditujukan untuk memperkuat
konstruksi realitas media tersebut; namun
demikan penyatuan tersebut dilakukan se-
cara pararel dengan penindasan wacana-wa-
cana lain yang dianggap tidak mempunyai
daya dukung terhadap konstruksi realitas
yang dituju. Realisme menjadi sebuah strate-
gi aktif dari suatu klas untuk menegakkan
atau memapankan kuasanya dengan cara
membangun sebuah konsensus pemahaman
mengenai reality sosial.
Secara umum Fiske membagi the codes
of television menjadi tiga (3) level, yaitu so-
cial codes, technical codes dan ideological
codes, berikut ini kategori masing-masing
level tersebut (Fiske, 2001: 5): behavior,
speech, gesture, expression, sound dan lain
sebagainya.
Pada level berikutnya, Technical codes
atau disebut sebagai Representation, terdiri
dari: camera, lighting, music dan sound yang
berfungsi untuk mentransmisikan conven-
tional representational codes dalam upay-
anya untuk membentuk representasi tertentu
seperti misalnya naratif, konfik, karakter,
aksi, dialog, seting dan casting serta lain se-
bagainya.
Level 3: Ideological code atau
disebut sebagai Ideology adalah level di-
mana realitas dan representation diorgan-
isasikan secara koheren dalam kode-kode
ideologis agar dapat diterima secara sosial.
Kode-kode ideologis tersebut seperti misal-
nya; individualisme, patriarki, ras, klas, ma-
terialisme, kapitalisme dan lain sebagainya.
Pada konteks inilah realisme Fiske
memposisikan dirinya untuk membongkar
ideologi dalam kemasan reality media terse-
but dan kemudian memberinya arti dalam
hubungannya dengan class struggle. Bagi
Fiske, realisme bukan menggambarkan reali-
tas yang sebenarnya melainkan dibatasi pada
what youre looking for sehingga berdimen-
si subyektif, politis dan ideologis.
Bagi Fiske, media adalah alat atau in-
strumen ideologis kelas mapan, sehingga
tentu saja realitas yang dibawa media penuh
dengan muatan kepentingan ideologis kelas
mapan tersebut; yang tidak sekedar pada pe-
nyebarluasan nilai ideologis melainkan juga
55
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
kepentingannya dalam mengkonservasi nilai
ideologis tersebut pada kelas-kelas lain yang
powerless dan bahkan terpinggirkan.
Realisme untuk kemudian menjadikan
praktik-praktik penindasan terjadi secara
halus karena seakan-akan juga mengako-
modasi kesenangan dan kepentingan kelas
yang powerless sehingga potensial untuk
tak tertolakkan dan diterima secara suka cita
oleh si oppresed.
Sebagaimana Barthes, menurut Fiske
realisme selalu bersifat naratif; ditambah
dengan dimensi politis dan ideologis, maka
realisme dipahami sebagai caranya making-
sense dari the real dan bukan pada muatan-
nya yang real. The factual truth is unspo-
ken, is stolen; depolitisasi pun terjadi sebagai
akibat dari persebaran common-sense yang
merupakan hasil dari naturalisasi reality
(eksternal) oleh kode-kode televisual; dalam
potensi menyebarluaskan kesesatan kesada-
ran tersebut, dan karenanya harus diperangi
menurut Fiske.
Naturalisasi untuk kemudian menjadi
konsep yang sangat terkait dengan realisme
Fiske tersebut dan, meminjam konsep Hart-
ley, dipahami sebagai the process of repre-
senting the cultural and historical as natural
dan oleh karenanya are experienced as natu-
ral. Naturalness, menurut Fiske, diperoleh
dari relasi antara technical codes dan ideol-
ogy sehingga membuat reality yang disaji-
kan oleh (dalam) televisi diterima sebagai
common-sense dalam society.

The process of making sense involves
a constant movement up and down through
the levels of the diagram, for sense can only
be produced when reality, representations,
& ideology merge into a coherent, seemingly
natural unity. (Fiske, 2001: 6)
Sementara bagi Barthes; realisme dipa-
hami sebagai ideological defense mechanism
yang memberi kontribusi yang besar dalam
konstruksi Mitos di dunia Modern.
Jika Barthes menyatakan bahwa
produksi Mitos bisa saja dilakukan oleh op-
pressor maupun oppressed, namun Televi-
sion Culture Fiske khusus mengembangkan
dan mengeksplorasi realisme sebagai Mitos
yang dilakukan oleh oppressor.
Disinilah Realisme bertransformasi
demi fungsinya sebagai model representasi
yang menawarkan pilihan tanpa alternatif,
melalui the naturalness, nilai-nilai dari ide-
ologi dominan, dan memposisikan reader
sebagai, dalam istilah Althusser: subject in
ideology, yang tanpa sadar secara aktif dan
justru bangga ikut serta dalam konservasi
nilai-nilai dominan tersebut.
Radicals voice memang diberi ruang
dan disajikan dalam realitas televisi namun
demikian digunakan dalam fungsinya men-
enangkan tuntutan-tuntutan dari pihak-pi-
hak yang beragam (yang merupakan kum-
pulan dari kelas-kelas terpinggirkan dan
unspoken) dan pada akhirnya diabdikan jus-
tru demi eternality of dominant values: kapi-
talisme atau otoritarianisme misalnya. Dan
kemudian dominant ideology strengthens
its resistence to anything radical by injecting
itself with controlled doses of the desease.
Dan the truth is stolen.
Gramsci; Media sebagai Instrumen produk-
si Knowledge dan Konsensus
Ketika relasi kode-kode televisual yang
membangun sebuah narasi ideologis tertentu
tersebar luas dan ditambah dengan intensi-
tas kemunculan kode-kode televisual terse-
but; maka disinilah common sense terbangun
dan membentuk konsensus antara si pen-
guasa media dan politis dengan (atau lebih
tepatnya atas) masyarakat sipil. Imperialisme
budaya melalui media pun terbangun berkat
peran aktif media sebagai instrumen ideolo-
gis kelas berkuasa. Subordinasi menjadi bias
oleh justifkasi keumuman realisme media
tersebut yang dibangun bersamaan dengan
proses identifkasi kelas. Keabadian identi-
tas pun terwujud melalui label-label politis
dan membentuk realitas baru sembari secara
pararel meniadakan realitas lain yang mung-
kin tidak kalah pentingnya.
Untuk menguraikan fenomena sosial
dalam artikel ini, untuk kemudian merasa
perlu menggunakan teori Gramsci tentang
Hegemoni untuk menjelaskan aksi sosial
yang terjadi dan teori Creating of meaning
dan dekonstruksi objektif dari Laclau dan
Moufe untuk menguraikan bagaimana aksi
sosial yang disebut sebagai proses hegemoni
tadi distabilisasikan oleh kelompok ideologi
tertentu untuk menaturalisasi ideologinya
sehingga diterima sebagai common-sense,
sebagaimana dinyatakan oleh Laclau dan
Moufe dibawah ini:
Trough the production of meaning, power
relation can become naturalized and so much
part of common-sense. (Laclau & Moufe
dalam Jorgensen & Phillips, 2002: 32)
56
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
Meskipun Gamsci dalam tulisannya
membedakan secara tegas antara dominasi
dan hegemoni, namun hegemoni bisa diarti-
kan sebagai dominasi mental, sebagai akibat
dari konsensus kebenaran yang diperoleh
dengan memanipulasi kesadaran kelas.
Berikut ini pembacaan Barret mengenai
pengertian hegemoni Gramsci;
Hegemony is best understood as
the organization of consent, the processes
through which subordinated forms of con-
sciousness are constructed without recourse
to violence or coercion. (Barret dalam Jor-
gensen & Phillips, 2002: 32)
Hegemoni haruslah dipahami sebagai
organisasi persetujuan, sebuah proses me-
lalui bentuk-bentuk kesadaran yang menin-
das yang dikonstruksi tanpa kekerasan atau
paksaan, selanjutnya;

Hegemony is a social consensus,
which masks people real interest. The hege-
monic processes take place in the superstruc-
ture and are part of a political feld. Their
outcome is not directly determined by the
economy, and so superstructural processes
assume a degree of autonomy and the possi-
bility for working back on the structure of the
base. It also means that through the creation
of meaning in the superstructure people can
be mobilized to rebel against existing condi-
tions. (Gramsci dalam Jorgensen & Phillips,
2002: 32)
Bagi Gramsci hegemoni adalah se-
buah konsensus sosial yang menyamarkan
kepentingan-kepentingan riil dari kelas yang
melakukannya. Kutipan diatas menjelaskan
kelebihan analisis Gramsci terhadap Marxis
klasik yang economic determinism, dimana
tidak hanya relasi produksi atau sistem eko-
nomi saja yang mampu memotivasi trans-
formasi sosial, melainkan menurut Gramsci
sistem ekonomi ini hanya merupakan salah
satu wacana diskursif yang tidak hanya me-
nentukan tapi juga ditentukan atau dipenga-
ruhi oleh sistem lain seperti politik, budaya
dan lain sebagainya pada proses transformasi
sosial. Teori hegemoni Gramsci juga membu-
ka celah bagi terjadinya hegemoni dalam dua
arah; yaitu dari klas mapan (yang ditandai
dengan kepemilikan pada sumber-sumber
ekonomi) dan oleh klas terpinggirkan den-
gan kekuatan counter culture-nya, namun
paper ini sekaligus membutuhkan Laclau
dan Moufe untuk melengkapi keterbatasan
Gramsci yang kembali pada pengelompokan
kelas berdasarkan kepemilikan ekonomi.
Melalui Laclau & Moufe, hegemoni
bisa diaplikasikan dalam ruang politik, seb-
agaimana dikutip dibawah ini;
There are no objective laws that divide
society into particular groups, the groups
that exist are always created in political, dis-
cursive processes. (Laclau & Moufe dalam
Jorgensen & Phillips, 2002: 33)
Menurut Laclau dan Moufe, tidak ada
hukum yang pasti, tepat atau stagnan dalam
pengelompokan sosial (masyarakat), hal ini
dikarenakan kelompok-kelompok sosial ter-
bentuk berdasarkan proses diskursif politis-
nya (berdasarkan kepentingan politisnya).
Sementara politik dipahami secara luas oleh
Laclau & Moufe sebagai;
Politics articulations determine how
act and think and thereby how we create so-
ciety. The more or less determining role of
the economy is, then, completely abolished.
(Laclau & Moufe dalam Jorgensen & Phil-
lips, 2002: 34)
Politik menentukan bagaimana ses-
eorang atau suatu kelas bertindak, berpikir
dan kemudian bagaimana menciptakan
suatu bentuk masyarakat. Base (economic di-
mension) dan superstructure (agama, pendi-
dikan dan lain sebagainya), menurut Laclau
& Moufe diproduksi dalam ruang yang
sama dengan proses-proses diskursif. Dalam
pengertian ini maka realitas sosial termasuk
bahasa didalamnya merupakan entitas yang
tidak pernah fxed dan changeable, sehingga
membutuhkan usaha untuk mencari relasi-
relasi yang tepat untuk menaturalisasikan-
nya. Permasalahan objektifkasi untuk kemu-
dian dicapai melalui apa yang disebut Laclau
& Moufe: discursive of production of mean-
ing. Discursive struggle, dan karena;
that no discourse can be fully estab-
lished, it is always in confict with other dis-
courses that defne reality diferently and set
other guidelines for social action. (Laclau &
Moufe dalam Jorgensen & Phillips, 2002: 34)
Konfik menjadi hal yang penting
dalam discursive struggle dari Laclau dan
Moufe ini, realitas untuk kemudian mun-
cul sebagai hasil dari konfik wacana dimana
melalui konfik tersebut akan muncul wacana
pemenang yang nantinya tidak hanya diakui
57
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
sebagai realitas yang benar atau objektif me-
lainkan juga mewujud sebagai satu-satunya
pedoman dari suatu masyarakat untuk ber-
tindak sosial.
Media power dalam mengkon-
struksi dan memapankan hegemoni justru
menggenerasi disfungsi media dalam bentuk
kekerasan media yang bekerja pararel den-
gan kekerasan ideologis. Meskipun menu-
rut Gramsci hegemoni bisa dilakukan oleh
kelas borjuis dan kelas proletar, namun ke-
mampuan modal fnansial dan otoritas yang
bersifat historis menjadikan hegemoni lebih
banyak dilakukan oleh kelas borjuis berkua-
sa. Penambahan dimensi politis Laclau &
Moufe dalam konsep hegemoni Gramsci,
untuk kemudian sangat membantu men-
guraikan praxis hegemoni pusat atas lokal
sebagai kelompok terpinggirkan, yang ber-
jalan sedemikian kompleksnya; sehingga
meskipun kepentingan ekonomi mendo-
minasi dalam hubungan hegemonis antara
pusat dan lokal, namun juga melibatkan
banyak tindakan-tindakan politis ideologis
dan secara signifkan disokong pula oleh
kekuatan media. Intensitas dan proporsion-
alitas analogi image terhadap realitas, yang
disampaikan dan disebarluaskan melalui
media menjadikan hegemoni pun terjadi
dalam bentuk-bentuknya yang paling halus
sehingga dianggap sebagai tindakan yang
umum, natural dan tak terelakkan. Peran me-
dia dalam pengertian yang demikian adalah
sebagai instrumen kelas dalam menjalankan
hegemoni kelas berkuasa dan bahkan meng-
konservasinya melalui wacana-wacana dis-
kursif sehingga tidak tersedia sedikit pun
celah untuk berpikir, bersikap bahkan bertin-
dak dengan cara lain selain yang ditawarkan
oleh kelas berkuasa tersebut.
Meskipun persoalan utama konfik
pusat dan lokal terjadi dalam tataran sum-
ber daya ekonomi, namun meluasnya konfik
tersebut hingga mencapai persoalan sosial
dan budaya menjadikan konfik yang terjadi
semakin kompleks dan bias pemahaman dan
kepentingan. Namun demikian terdapat satu
pola yang hampir sama terjadi dalam praksis
hegemoni manapun yaitu produksi pengeta-
huan demi mencapai suatu kondisi konsen-
sus, dimana konsensus sangat dibutuhkan
untuk membenarkan tindakan hegemonis
yang mereka lakukan dan dengan segera
melakukan intervensi politis. Ini semacam
ploting peran antara pusat yang memerin-
tah dan media yang mempunyai relasi yang
relatif dekat baik dengan klas ideologis yang
memilikinya sekaligus juga dengan rakyat
sebagai tempat dan target informasi (penge-
tahuan). Pusat tidak lagi harus secara terang-
terangan menyatakan kepentingannya atau
turun tangan langsung sejak awal, namun
melalui media secara edukatif dibuka den-
gan mengkonstruksi realitas atau wacana.
Dengan cara yang demikian, ada ban-
yak keuntungan yang diperoleh pusat se-
bagai kelas berkuasa, yaitu; pertama, seb-
agaimana disebutkan karena disokong oleh
media massa, praxis hegemoni relatif efsien
dalam penggunaan energi dan materi. Ked-
ua, dengan melakukan secara terselubung,
karena bermain dalam ranah produksi pen-
getahuan dan tidak secara terang-terangan
menyatakan kepentingan politisnya sendiri,
maka praktik hegemoni melalui media ini
justru akan memberi nilai tambah politis
bagi kelas berkuasa; yaitu pencitraan posi-
tif, dalam konteks ini konfik tidak terjadi
dengan memperlawankan pemerintah pusat
vis--vis dengan lokal, namun secara indah
justru memposisikan pusat sebagai dewa pe-
nolong dari krisis yang dihadapi dan tidak
dapat terselesaikan oleh lokal atau secara
ironis kembali membalikkan tanggungjawab
krisis pada lokal itu sendiri.
Pada level membalikkan tanggung-
jawab krisis pada lokal inilah, tersirat suatu
struggle of hegemony dari pusat untuk tidak
lagi memperoleh sekedar konsensus lokal
melainkan juga mempertahankan kondisi
yang memungkinkan untuk mengabadikan
konsensus tersebut selama mungkin.
Hegemoni Laclau dan Moufe un-
tuk kemudian dianggap mampu menyem-
purnakan keterbatasan defnisi hegemoni
Gramsci yang kembali terjebak dalam di-
terminisme ekonomi dan karenanya mem-
persempit potensi analisis terhadap praxis
hegemoni di luar relasi produksi tersebut.
Sementara pada kenyataannya praxis hege-
moni telah membangun dan memperbaiki
diri agar dapat terus dipraktikkan disatu sisi,
serta sekaligus dalam praxis tersebut tidak
dibuka celah sedikitpun untuk dapat dike-
nali sebagai sebuah praxis hegemoni.
Dengan kata lain semakin halus praxis
hegemoni ditampilkan, semakin kondisi keti-
daksadaran dalam proses konsensus terjadi;
maka disinilah efektiftas hegemoni menca-
pai puncaknya dan kokoh tak tergoyahkan.
Ke-ordinary-an serta kenaturalan objek dan
peristiwa yang disajikan media, dalam artikel
ini diduga mempunyai kontribusi yang tidak
58
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
bisa diabaikan dalam fungsinya memperha-
lus praxis hegemonis sehingga retorika ide-
ologi kelas menjadi bias dalam keobjektifan/
kenaturalan/ke-ordinary-an reality yang dis-
ajikan oleh media.
Penjahat Proletar dan Otoritas Negara dalam
kemasan Bajaj Bajuri
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka
kiranya tayangan televisi dalam berbagai
genrenya tentunya juga potensial untuk
membiaskan pesan-pesan ideologis poli-
tisnya, tidak terkecuali tayangan komedi
sekalipun. Komedi, dan hampir semua pro-
gram televisi, dalam konteks ideologis tidak
ubahnya seperti produk yang harus dikemas
sesuai dengan target pasar dengan tujuan
untuk memberi kesan familiaritas sehingga
mudah masuk dalam sense of experience
dari si target pasar.
Produk dengan kemasan yang demiki-
an ini ditujukan untuk memberi efek tak ter-
tolakkan untuk dikonsumsi. Sebagaimana
juga komedi Bajaj Bajuri dalam artikel ini;
dengan tampilan kostum, logat dalam dia-
log-dialognya, karakter pemain utamanya,
seting dan bahkan pada pilihan musik pem-
bukanya semuanya secara umum dianggap
merepresentasikan kehidupan masyarakat
Betawi.
Wacana diskursif lainnya mengenai ke
terpinggiran Betawi di pusat pemerintahan
menyatakan bahwa mayoritas dari kelom-
pok ini minim pengetahuan dan keahlian
yang diperlukan sebagai syarat untuk aktif
memperebutkan hak-hak ekonomi menjadi
salah satu alasan utama bagi kelompok ma-
syarakat ini untuk menjual tanah-tanah wari-
san mereka kepada pengusaha-pengusaha
industrial sebagai bentuk pilihan me reka
mempertahankan hidup keseharian mereka.
Sebagai akibatnya, kelompok masyarakat ini
pun kehilangan haknya atas wilayah teritori
sosial mereka dan digantikan degan perkam-
pungan-perkampungan miskin dan padat
penduduk se bagai seting utama dari tayan-
gan ini.
Sekilas tayangan ini terlihat sebagai
kritik terhadap kuasa pemerintah melalui
pembangunan nasional yang tidak mampu
menyentuh kelompok-kelompok adat atau
lokal terutama dalam bidang pemerataan
kesejahteraan dan keterpinggiran masyara-
kat Betawi dianggap representative poten-
sial dipandang sebagai bagian dari wacana
diskursif lainnya yang difungsikan untuk
memperkokoh bangunan konsensus real-
isme televisi. Inilah mengapa Fiske mengajak
untuk selalu mencurigai berbagai content
tayangan televisi, bahkan termasuk dalam
program yang secara radikal seolah-olah
memberi ruang bagi suara-suara yang un-
spoken untuk berkontestasi.
Bagi Fiske televisi tetaplah instrumen ideolo-
gis yang dengan mekanisme tertentu difung-
sikan utamanya menyokong status quo suatu
kelas dominan.
Tayangan Bajaj Bajuri edisi Jalani Leba-
ran dalam Tahanan pun secara kritis juga po-
tensial untuk difungsikan sebagai instrumen
ideologis. Counter discourse yang dibangun
melalui wacana-wacana diskursif menjadi
sesuatu yang krusial untuk dikonstruksi dan
didiseminasikan sebagai upaya untuk mem-
bongkar logika realisme televisi; berikut ini
wacana diskursif yang potensial difungsikan
untuk membongkar realisme televisi;
(1)Sementara dalam kamus hukum
penjahat dipahami sebagai orang yang
melakukan pelanggaran atau tindak pidana
ringan maupun berat karena dengan sen-
gaja merusakkan dan atau merugikan prop-
erty pihak lain, dimana ringan atau beratnya
pelanggaran sangat tergantung pada sifat
kepemilikan atau nilai-nilai yang berlaku
(hal: 399). Pada sifat kepemilikan dan nilai-
nilai yang berlaku inilah, konsep penjahat
mengalami pergeseran interpretasi, berubah
sebagai hasil dari suatu relasi kuasa ekonomi
dan ideologis yang dominatif.
(2)diskriminasi perlakuan terhadap
penjahat (setelah mengalami pergeseran
interpretasi) menyebabkan ambiguitas relasi
antara tingkat kejahatan dengan punishment
yang seharusnya potensial untuk diterima.
(3)sebagai akibat dari poin 1 dan 2 maka
label penjahat sangat potensial merupakan
hasil dari suatu praksis hegemonis negara
melalui institusi peradilan dan bukan lagi se-
cara esensial melakukan pelanggaran murni
hak milik dan nilai-nilai hukum.
(4)Kode-kode televisual mempunyai
kemampuan dalam mengkonstruksi cerita
mengenai reality secara naratif. Sifat naratif
tersebut ditandai dengan subjektiftas pan-
dangan dalam penyampaian suatu reality,
yang sangat ditentukan oleh kepentingan
dan ideologi suatu klas yang berkuasa.
Realisme Bajaj Bajuri, khususnya dalam
artikel ini episode Jalani Lebaran dalam Tah-
anan menjadi mungkin untuk dibaca ulang,
tidak lagi bisa dipahami sekedar tayangan
59
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
yang menghibur melainkan justru menjadi
agen transformasi sosial yang dalam prak-
sisnya potensial untuk memotivasi kesesatan
pemahaman mengenai suatu reality pada pe-
nontonnya.
Kejahatan dan penjahat untuk kemu-
dian mengalami redefnisi; tidak lagi dibatasi
pada dampak sosial yang berada dalam ru-
ang lingkup nilai-nilai keadilan hukum dan
justru ditentukan atas dasar relasi ekonomi
politisnya. Kebenaran yang tersaji untuk ke-
mudian justru mensahkan posisi proletar
atau kelas miskin perkotaan sebagaimana di-
ilustrasikan dalam Bajaj Bajuri, sebagai Pen-
jahat sebenarnya dari masyarakat sekaligus
sebagai satu-satunya klas yang harus diper-
angi karena potensinya tersebut.
Punishment terhadap penjahat pro-
letar untuk kemudian tidak hanya terjadi
dalam rumah tahanan saja melainkan juga
diperolehnya secara sosial sebagai seseorang
yang harus dijauhi, diabaikan dan bahkan
tidak diakui sebagai kerabat dan walhasil
sebutan penjahat menjadi suatu label yang
lestari disematkan.
Dalam praksisnya, judgement terhadap
proletar tersebut sekaligus menutup celah
bagi massa untuk berpikir apalagi menuduh-
kan penjahat pada klas borjuis. Ditambah
kedekatannya dengan kuasa ekonomi poli-
tis, maka ketika terjadi hal yang luar biasa
dalam frame klas borjuis yang dominan;
yaitu ketika ada anggotanya yang kemudian
terpaksa terlihat melakukan suatu tindak
pelanggaran, dan harus masuk dalam rumah
tahanan, maka tentu saja ada perlakuan is-
timewa sebagai implikasi dari posisi isteme-
wanya tersebut.
Mulai dari desain interior sel, fasili-
tas jasa kecantikan dan kebugaran hingga
dengan bargaining tertentu mereka sangat
mudah untuk keluar sel sekedar mencari re-
freshing atau bahkan melakukan deal-deal
bisnis mereka. Ironisnya secara sosial mereka
juga dijamin oleh negara sebagai bagian dari
kelas borjuis itu sendiri; berbeda dari label
penjahat proletar yang relatif abadi, label
penjahat bagi kelas borjuis hanya bersifat
sementara dan bahkan dengan produksi of
knowledge tertentu secara magis bisa di-
hilangkan begitu saja.
Salah satu faktor utama yang menye-
babkan hal tersebut, adalah karena hak is-
temewa dari borjuis tersebut yang menye-
babkan (jika mereka melaluinya) penahanan
secara fsik tidak segera dilanjutkan dengan
pembekuan asset mereka. Dampak fnalnya
maka eksistensi mereka pun tetap terjaga se-
cara sosial.
Secara singkat Bajaj Bajuri dalam epi-
sode Jalani Lebaran dalam Tahanan ini
bercerita tentang nasib apes Bajuri, seb-
agai tokoh utama, yang harus masuk tah-
anan karena terjaring Operasi Ketupat polisi
dalam rangka pengamanan menjelang Leba-
ran. Diceritakan kemudian melalui dialog
dan shoot-shotnya dengan narapidana lain
satu sel dengannya dan juga oleh Oneng, is-
teri Bajuri ketika menjelaskan kronologis ma-
suknya Bajuri ke tahanan pada Mpok Minah.
Kisah berlanjut dengan nasib Bajuri sebagai
akibat dari singgahnya ke rumah tahanan,
menjadikannya juga mengalami penolakan
sosial, khususnya dari Emak, mertua Bajuri,
yang karena kemiskinannya dan statusnya
yang tidak bergengsi sebagai supir bajaj, Ba-
juri tidak begitu diharapkan menjadi menan-
tu Emak dari awal. Bagaimana Bajuri yang
dianggap penjahat kehilangan haknya untuk
dianggap saudara oleh Emak, sebagaimana
dialog antara Emak dan Oneng terkait den-
gan keinginan Oneng untuk menengok Ba-
juri di tahanan dibawah ini:
Oneng: Makkite ke penjara sekarang yok
Mak.
Emak :Nengsekarang ini hari Lebaran, waktu-
nya kia pergi ke tetangga-tetangga, ke saudara-
saudara, minta map-maapan. Bukannya ke pen-
jara! (nada tinggi)
Oneng: Yee..tapi kan Oneng mau nengokin bang
Juri Mak. Kasihan..
Emak: Heh! Biarin aja dia di penjara. Supaya ke
tupat ame sayur opornye awet!
Oneng:IhEmaaakgitu banget. Bang Juri kan
laki Oneng, kasihan Mak, masak orang lain pada
Lebaran, dia sendirian ngringkuk di penjara
Emak:Gue tau dia laki elubiarin aja dia di pen-
jara. Kagak usah dikasihanin emang dia penja-
hat!!!
Oneng:Bang Juri bukan penjahat!!! (sambil
menghentak-hentakkan lembar kerudung di tan-
gannya)
Emak:Kalo bukan penjahat ngapain dia ditangkep
ama Polisi (dan Oneng pun diam tak tahu harus
menjawab apa)

Bagaimana narasi dialog di atas ki-
ranya potensial untuk merepresentasikan
keterbuangan Bajuri secara sosial, bahkan di
lingkup keluarga kecilnya sekalipun sebagai
akibat singgahnya dia di rumah tahanan
meskipun akibat salah tangkap.
60
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
Teriakan Oneng sebagai istri Bajuri
yang merasa lebih kenal dan tahu sifat dan
perilaku suaminya, untuk membela Bajuri
pun tidak mampu melawan justifkasi sos-
ial yang direpresentasikan oleh Emak yang
dalam struktur keluarga inti merupakan
orang luar.
Penjahat adalah konstruksi sosial;
karena merupakan predikat atau label oto-
ritatif yang disematkan oleh sebuah institusi
negara. Sehingga demi kepentingan dan ket-
eraturan secara sosial tetap menjadi harus
dicurigai sampai akhir hayat mereka dan
karenanya harus selalu diawasi dan dikon-
trol oleh sosial pula.
Realitas yang diobyektifan yang
menurut Fiske justru membiaskan nilai-nilai
ideologis tertentu. Ketika ketidakberdayaan
Oneng secara diskursif diperkuat oleh vi-
sualitas tindakannya yang secara emosional
menghentak-hentakkan kerudungnya dan
direlasikan dengan teknik middle-shoot, po-
tensial untuk dimaknai sebagai statement
borjuis atas proletar yang dianggap sebagai
si powerless yang emosional.
Scene ini sekaligus memberi justifkasi
mengenai sifat yang harus dimiliki oleh pro-
letar, yaitu: menekan emosi sebagai hal yang
diperlawankan dengan sifat dan sikap anar-
kis, yang bagi borjuis dikonstruksi sebagai
tindakan yang tidak cukup benar dilakukan
oleh proletar ketika berhadapan dengan oto-
ritas-otoritas di luar dirinya.
Secara ideologis untuk kemudian adegan
dan dialog dalam scene tersebut menatural-
isasikan suatu nilai yang memapankan keha-
rusan proletar untuk tunduk dan patuh pada
aturan-aturan sosial yang dalam hal ini justru
tidak didasarkan pada norma-norma sosial
melainkan pada pendapat objektif atau pan-
dangan umum.
Mengingat fungsi media sebagai instru-
men ideologis suatu klas dan peran aktifnya
dalam meyabarluaskan nilai-nilai dominan,
maka apa yang disebut sebagai pandangan
umum secara kritis harus dicurigai sebagai
pandangan yang mewakili dan mengabdi
pada kepentingan klas dominan dan oleh
karenanya kebenaran yang diproduksinya
potensial bersifat parsial dan bias.
Berat ringannya kasus kejahatan yang
dianggap potensial membuka jalan seseorang
untuk meringkuk di tahanan bukan lagi stan-
dar utama seseorang dianugerahi label pen-
jahat. Sebagaimana Bajuri memahami tah-
anan sebagai tempat penjahat dikumpulkan
dalam dialog dan scene Bajuri dengan teman
satu selnya (sebut saja N) dibawah ini yang
bermaksud menanyakan alasan orang terse-
but masuk tahanan:

Bajuri:Maslu mas nyolong ayam ya?!..he..
he..pasti lu nyopet di bis ye(sambil berkacak
pinggang)
N:Nggak.
Bajuri: Lu pasti nyolong sandal di Masjid lu
(sambil nunjuk N)
N:Gue ditangkep gara-gara abis bunuh orang
(tanpa ekspresi) semalem sih apes ajah. Dulu gue
bunuh 4 orang nggak ditangkep
Bajuri:(berubah ekspresinya menjadi ciut karena
mendengar tingkat kejahatan N)

Pemahaman massa mengenai alasan
orang masuk penjara, sangat mudah ditang-
kap dalam dialog di atas, sebut saja misalnya:
nyolong ayam, nyopet di bis, nyolong sandal
yang semuanya dilakukan seseorang karena
kepepet dihadapkan pada diri dan keluarga
yang lapar.
Kejahatan paling berat, yang membuat
Bajuri untuk kemudian berubah sikap dan
ekspresinya terhadap N adalah membunuh
orang. Bentuk-bentuk kejahatan yang san-
gat mudah dibuktikan karena bukti-bukti
fsiknya untuk kemudian secara (relatif)
sederhana langsung mengarah pada pelaku-
nya. Deskripsi mengenai penjahat dan tindak
kejahatan dalam dialog tersebut untuk ke-
mudian menjadi ambigu ketika dihadapkan
dengan kasusnya dengan Nyolong Duit Neg-
ara yang dilakukan beramai-ramai oleh pe-
jabat Negara, atau pembunuhan berencana
terhadap tokoh-tokoh oposisi secara siluman
karena bukti kejahatan tidak dengan cara
mudah dapat dilihat dan juga karena resiko
penyebutan nama dalangnya menjadi hantu
tersendiri. Penjahat pun oleh karenanya me-
mang predikat istemewa yang hanya boleh
disematkan pada dada se seorang yang beri-
dentitas proletar.
Visual Bajuri yang menunjuk pun un-
tuk kemudian potensi dimaknai sebagai ke-
beranian sosial proletar untuk memahami
kejahatan dan penjahat, yang untuk kemudi-
an tingkat paling berat adalah pembunuhan.
Statement tersebut tampak pada ekspresi
bajuri ketika mendengar pengalaman mem-
bunuh N yang diikuti dengan acting Bajuri
yang dengan segera menyenderkan pung-
gungnya di dinding sel dan dalam shoot
berikutnya divisualkan dengan ndepis atau
jongkok di pojok sel sebagai representasi dari
keterkejutan dan ketakutan Bajuri.
61
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
Kekagetan yang ditunjukkan dalam
ekspresi dan gesture Bajuri merepresentasi-
kan reaksinya terhadap tindakan membunuh
sebagai bentuk kejahatan yang hanya bisa
dilakukan oleh orang berdarah dingin dan
karenanya menempati hierarki tingkat keja-
hatan terberat dalam pandangan awam Ba-
juri sebagai representasi proletar. Na-
mun tidak sesederhana itu Fiske memahami
makna dalam realisme televise, menurutnya
ada dimensi ideologis dan politis yang selalu
membonceng dalam perumpamaan-perum-
pamaan visual tersebut. Sehingga produksi
pengetahuan mengenai kategorisasi berat
dan ringannya kejahatan dalam scene yang
diilustrasikan dalam gambar 1 dan 2 poten-
sial untuk dipahami sebagai upaya penyunti-
kan kesesatan yang kemudian diobjektifka-
si melalui relasi kode-kode televisual sebagai
suatu kebenaran yang asasi. Kesesatan pema-
haman ini secara logis dapat kita temukan
dengan menambahkan didalamnya pertan-
yaan mengenai dimana kemudian posisi ko-
rupsi (serta tindakan-tindakan merusak dan
merugikan negara lainnya ketika kita mem-
bicarakan imperialisme atau kolonialisme)
dalam hirarki tingkat kejahatan tersebut.
Statement jahat dan sesat yang uta-
manya hendak disuntikkan adalah; bahwa
jika membunuh merupakan tindak kejahatan
terberat dilihat dari penghilangan nyawa se-
seorang yang buktinya mengarah langsung
pada si pelaku, tidak demikian dengan tindak
kejahatan korupsi dimana buktinya sangat
rumit dan complicated karena dilakukan se-
cara sistematis maka tentu saja harus dipan-
dang berada dibawah posisi pembunuhan.
Statement atau produksi pengeta-
huan diatas pada akirnya berjalan dengan
meniadakan realitas atau kebenaran lain
yang tidak menyokong kebenaran statement
dominan tersebut; seperti misalnya; berapa
kerugian negara akibat korupsi tersebut,
berapa jiwa yang kehilangan kesempatan
untuk mendapat hidup yang layak akibat da-
na-dana subsidi pendidikan atau kesehatan
tidak sampai pada sasaran yang tepat, atau
berapa nyawa yang hilang atau potensial
hilang ketika bangunan-bangunan publik
dibangun dengan menurunkan standar ke-
layakan.
Kesesatan kedua yang disuntikkan
adalah pada penempatan konfik massa dam
proses penangkapan pelakunya yang dio-
posisikan dengan tindak kejahatan korupsi
yang tentu saja dilakukan dalam diam se-
hingga tidak mengganggu ketenangan massa
(tentu saja kalau tidak ketahuan).
Bagaimana berdasarkan ketergang-
guan ketentraman dan ketenangan ma-
syarakat maka tentu saja menjadi logis jika
kemudian korupsi juga diposisikan di bawah
hierarki kejahatan nyolong ayam, nyopet dan
nyolong sandal tersebut. Dapat disimpulkan
demikian, bagaimana relasi kode-kode tele-
visual dinarasikan demi menyokong suatu
statement utama dan penting dari klas borjuis
yang dominan, yaitu justifkasi privilledge
borjuis yang ditentukan secara sepihak ber-
dasarkan kategorisari berat-ringannya ke-
jahatan yang disebutkan diatas menjadikan
kejahatan yang dilakukan borjuis tidak lebih
berbahaya dari tindakan nyolong ayam dan
bahkan pembunuhan sekalipun yang dilaku-
kan oleh proletar.
Secara diskursif kemudian konstruksi
klaim kebenaran kelas dominan (baca pen-
guasa) ditunjukkan dengan middle-shoot
Bajuri menunjuk teman satu selnya. Dengan
maksud memberi fokus pada ekspresi bajuri
yang merepresentasikan keberanian dan ke-
percayaan diri menuduh, memberi predikat
atau label penjahat kepada seseorang.
Efek middle-shoot yang mengkon-
struksi untuk sementara kuasa Bajuri atas
teman satu selnya tersebut untuk kemudian
potensial untuk direlasikan dengan konsep
kuasa dan hubungan kuasa yang dilaku-
kan oleh pihak yang powerfull atas yang
powerless. Dalam pemahaman ini maka vi-
sualisasi Bajuri dengan teknik middle-shoot
dan diambil dari angle yang sedikit di bawah
dengan tujuan memberi efek powerfull ke-
pada Bajuri, ditambah dengan wacana bah-
wa kuasa secara umum ditunjukkan dengan
kuasa politik dan ekonomi; maka scene ini
untuk kemudian dapat dipahami sebagai
upaya konstruksi media untuk membangun
sebuah keumuman atau keobjektifan hubun-
gan kuasa dimana posisi ditunjuk hanya di-
peroleh untuk orang atau pihak yang lemah
powernya secara ekonomi politis, siapa lagi
kalau bukan proletar. Kelemahan powernya
dan ditambah dengan kelabilan emosi yang
direpresentasikan dalam dialog Bajuri dan N
mengenai alasan membunuh sebagai bentuk
dari kekesalan emosi saja, sebagaimana diku-
tip dibawah ini ketika N menjawab keingin-
tahuan Bajuri tentang alasan masuknya N ke
penjara yang dikisahkan dilakukan N karena
alasan simple bahwa dia sedang kesal saja
dengan korban;
Bajuri :Boleh nanya nggak?! Ngo-
62
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
mong-ngomong kenapa sih abang bunuh
orang?
N:Gue lagi sebel aja.
Bajuri :Cuman gara-gara sebel doang.
N:Iyah.
Ini digambarkan ntuk kemudian meng-
arahkan penonton untuk kembali pada nilai-
nilai ketundukan dan kepatuhan yang ha-
rus dimiliki oleh proletar serta klaim-klaim
kebenaran penguasa untuk melakukan kon-
trol dan penekanan terhadap proletar kare-
na potensi kelabilan emosinya yang mempu-
nyai potensi besar untuk menjadi anarkis.
Ujung dari upaya kontrol dan penekan-
an ini adalah demi tercapainya kondisi
tentram dan aman, yang secara diskursif
dijelaskan dengan kembali pada objektif-
kasi hierarki kejahatan yang sebagaimana
diuraikan diatas yang salah satunya didasar-
kan pada mengganggu ketentraman dan ke-
tenangan masyarakat.
Melalui dialog antara Bajuri dan N dia-
tas, penonton diarahkan untuk menilai kara-
kter dasar proletar yang dicitrakan dalam
kisahnya tersebut, sekaligus mengajak pe-
nonton untuk mempertanyakan kelayakan
dan keabsahan pemerintah dalam member-
lakukan kebijakan-kebijakan dan tindakan-
tindakan represif untuk mengatur ketidak-
labilan proletar dalam menghadapi tekanan
hidupnya.
Pernyataan potensial yang muncul
setelah kondisi proletar diamini oleh penon-
ton adalah, bahwa untuk itulah dibutuhkan
pemerintah yang, dalam kosakata kelas dom-
inan: tegas dan keras demi terciptanya ketert-
iban sosial.
Tingkat pengetahuan proletar menjadi
ide yang dikembangkan dalam visualisasi
Bajaj Bajuri edisi ini, yang tentu saja difung-
sikan dalam tujuannya memperkuat klaim
kebenaran dan kesahihan penguasa dalam
melakukan kontrol dan tindakan-tindakan
represif terhadap proletar. S e b a g a i ma n a
dijelaskan dalam dua scene diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa dalam realisme
Bajaj bajuri kejahatan dan penjahat pun un-
tuk kemudian menjadi sesuatu yang dekat
dengan proletar dan tentu saja dialami serta
menempatkan proletar sebagai partisipator
aktif dari kejahatan itu sendiri. Bagaimana N
sebagai penjahat yang dicitrakan sesungguh-
nya dalam Bajaj Bajuri, menjadi sangat me-
narik; sebagai orang yang emosional dalam
menghadapi hal atau orang yang dianggap
tidak sesuai dengan keinginannya dan seka-
ligus bersikap dingin, tanpa rasa bersalah
setelah melakukan hal-hal yang dianggap ja-
hat.
Karakter dan kostum N sangat repre-
sentatif untuk mendukung citra kekejaman
penjahat proletar ala Bajaj Bajuri; dimana
N, seorang lelaki berotot dan berkulit hitam
dengan wajah keras dan dinginnya, meng-
gunakan celana jeans belel dan kaos tanpa
lengan yang tentu saja tidak mungkin digu-
nakan oleh orang-orang dari kelas mapan
borjuis.
Pengambilan gambar yang mayoritas
menggunakan teknik medium-shot dan long-
shot, setidaknya untuk kemudian menjadi ra-
sional dengan upaya penguatan citra penja-
hat proletar tersebut; yang disajikan dengan
seluruh identitas emosi dan penampilannya
tersebut.
Penghilangan tatoo atau gambar tubuh
dalam representasi proletar yang melekat
pada N, justru dapat dianggap memperkuat
kesan proletar, dimana tatoo tidak lagi men-
jadi satu-satunya identitas proletar yang
agresif (baca: preman) sebagaimana dite-
mukan pada preman-preman tahun 80-an
era Kusni Kadut, namun justru saat ini telah
menjadi sebuah hobi dan ekspresi diri yang
dilakukan justru oleh kalangan menengah
atas seperti selebritis dan olahragawan yang
mempunyai aset trilyunan dan juga mempu-
nyai modal sosial karena pesonanya secara
fsik.
Sebagaimana Ong menyatakan bahwa
dalam masyarakat oral dasar, pengetahuan
dibentuk dalam keterlibatan pengalaman,
maka televisi sebagai bentuk sisa oral dasar
berupaya membangun common-sense men-
genai proses konstruksi pengetahuan pro-
letar (sebagai kelas yang belum terindus-
trialisasikan) yang diperoleh dari sekedar
pengalaman pribadi dan bukan hasil analisis
mendalam. Bagaimana Oneng yang biasanya
dikesankan sebagai perempuan oon ber-
transformasi menjadi lebih tahu mengenai
Operasi Ketupat yang melibatkan dirinya
sebagai istri Bajuri yang ditahan karena Op-
erasi Ketupat tersebut, kiranya bisa merep-
resentasikan bagaimana pengetahuan akan
sesuatu hal seperti kejahatan dan penjahat
bisa (dan harus) diperoleh dalam masyarakat
Proletar. Berikut ini dialog antara Minah (tet-
angga Bajuri), Emak dan Oneng mengenai
alasan Bajuri masuk Penjara;
Minah :Saya cuman penasaran doangkena-
pa Bang Juri masuk penjara..
63
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
Emak :Semalam dia ketangkep. Nyolong ket-
upat.
Minah :Maap pok Oneng...masak iya Bang Juri
nyolong ketupat?
Oneng :Bukannya nyolong ketupat!..hik..hik..
kena O..pe..rasi.. Ketupat. Karena polisi
mau ngamanin Lebaranhikhik..
Minah :Maap pok Oneng bukannya saya ng-
gak ngerti, bukannya saya nggak paham. Cu-
man saya nggak tahu kenapa polisi nangkap
Bang Juri?!
Oneng :Waktu polisi meriksa Bajajnya Bang
Jurihikdidalam Bajajnya ada shabu
shabuuuu.hik..hik.
Minah :Maap pok Onengemangnya kalok
Lebaran kita nggak boleh beli masakan Je-
pang ya? (dengan ekspresi yang masih tidak
tahu)
Oneng :Hiee.(memeluk Emak)
Praksis ideologi juga diperkuat dalam
scene dimana Emak, Oneng dan Pok Minah
terlibat pembicaraan mengenai alasan Bajuri
masuk penjara. Dalam scene tersebut mem-
perkuat praksis ideologi mengenai bagaima-
na pengetahuan proletar tentang suatu hal
atau peristiwa sangat potensial dicitrakan
dalam dialog diatas; bagaimana Oneng yang
dalam setiap episode secara umum dici-
trakan sebagai perempuan yang oon dan se-
bagai akibatnya sering salah memahami es-
ensi suatu hal dan atau peristiwa, meskipun
dikonstruksi menjadi orang yang paling tahu
mengenai masuknya bajuri di penjara, tetap
dikondisikan tidak tahu dalam keadaan pal-
ing tahu jika dibandingkan dengan dua kara-
kter lainnya (yaitu Emak dan Minah).
Hal ini disebabkan karena kondisi
tahu yang dimiliki Oneng, dicitrakan seb-
agai sekedar tahu dari proses ditangkapnya
Bajuri dalam Operasi Ketupat , yaitu pada
masalah teknis, dan bukan pada esensi mak-
na mendasar dari Operasi Ketupat itu, sep-
erti misalnya; apa defnisinya, apa fungsinya
dan kenapa diadakan menjelang Lebaran.
Pemahaman Oneng mengenai Operasi Ketu-
pat, dibatasi pada pengetahuan mengenai ke-
giatan momentum polisi yang pada akhirnya
menjerumuskan suaminya ke Penjara.
Konfik yang terjadi dalam dialog yang
melibatkan Emak, Oneng dan Mpok Minah
yang dengan middle-shoot secara berganti-
ganti mengambil gambar ketiga tokoh diatas,
bisa dipahami sebagai technical code yang
bekerja dalam tujuannya untuk memfokus-
kan penonton pada ekspresi ketiga tokoh
tersebut.
Poin penting dalam technical code yang
digunakan untuk men-shoot adegan ini
adalah tidak lagi sekedar pada konfik seder-
hana mengenai masuknya Bajuri ke penjara
melainkan lebih dari itu, konfik ini dengan
dukungan middle-shoot potensial untuk
mengarahkan penilaian penonton mengenai
pemahaman ketiga
tokoh tersebut ter-
kait dengan hu-
kum dan me-
kanisme atau
prosedur pen-
egakan hukum,
yang dalam tayan-
gan ini ketiganya
merepresentasikan
proletar.
Dengan middle-shoot yang secara din-
amis berganti-ganti, penonton diajak untuk
melihat wajah dan ekspresi ketiga tokoh den-
gan dialog yang terjadi, bagaimana kemudi-
an ketiga ekspresi tersebut secara visual ter-
polarisasi dalam tiga jenis ekspresi; bingung
yang ditampakkan oleh Pok Minah, sedih
dan tak berdaya oleh Oneng serta sok-tahu
pada Emak.
Jika polarisasi ekspresi ketiga tokoh
tersebut direlasikan dengan materi dialog
yang sedang dikonfikkan dan wacana hu-
kum nasional, maka scene ini sangat potensi-
al untuk dimaknai sebagai strategi labelisasi
dari pengetahuan dan sikap proletar terkait
dengan permasalahan hukum, dimana may-
oritas pengetahuan dan pemahaman proletar
tentang hukum memang terpolarisasi dalam
ketiga ekspresi dan sikap yang direpresen-
tasikan ketiga tokoh dalam dialog tersebut:
bingung karena ambigu antara pengetahuan
dan praktis, takut dan tak berdaya karena
tahu namun tidak bisa berbuat apa-apa serta
sok tahu yang biasanya mengarahkan pada
tindakan-tindakan nekat dan agresif kalau ti-
dak anarkis.
Labelisasi ini menjadi terselubung
dalam naturalisasi social codes yang disaji-
kan secara visual, sehingga meminjam isti-
lah Barthes, dimana Fiske juga terinspirasi
olehnya, maka labelisasi ini untuk kemudian
menjadi objektif dan common-sense.
Dalam arti bahwa label proletar yang
mbingungi, takut tak berdaya dan sok tahu
menjadi umum disematkan pada pengeta-
huan proletar tentang hukum dalam kasus
tematik episode tayangan ini, dan kemu-
dian menjadi semacam justifkasi bagi kelas
64
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
berkuasa yang mempunyai otoritas menge-
nai kebenaran untuk mengatur dan men-
dikte proletar mengenai mana yang salah
atau benar, mana penjahat dan bukan penja-
hat.
Sederhananya, dengan relasi dialog
dan adegan serta technical-codes yang digu-
nakan, maka diumumkan atau dinaturalkan
atau dicommon-sensekan konvensi baru
mengenai benar-salah, jahat-tidak yang tidak
lagi didasarkan pada hakikat aturan yang
berlaku, melainkan disempitkan pada seke-
dar tingkat pengetahuan dan emosional ses-
eorang; dan kemudian menjadi semacam la-
bel ideologis politis yang tidak sedang dalam
fungsinya menerangi pengetahuan masyara-
kat umum, namun justru menyesatkan dan
difungsikan utamanya untuk mempertah-
ankan kondisi hierarkhi tersebut dan sekal-
igus diyakini akan melanggengkan kuasa ke-
las dominan berkuasa yang minoritas dalam
jumlah atas proletar.
Keterbatasan pengetahuan dan pema-
haman Oneng sebagai representasi proletar
(khususnya perempuan) diperkuat dengan
ditunjukkan pada ketidakmarahan Oneng
terhadap polisi dan justru dialihkan kepada
Emak.
Bagaimana secara literal dan visual, ke-
marahan Oneng justru ditunjukkan dalam
konfik Oneng dengan Emak, dimana Emak
dianggap tidak adil dan jahat terhadap Ba-
juri yang masuk penjara sebagai akibat salah
tangkap. Kesalahan institusi sebagai repre-
sentasi penguasa dialihkan menjadi kesala-
han proletar, pengalihan kesalahan ini ke-
mudian lebih sempit lagi ditempatkan pada
keluarga yang mempunyai peran penting
dalam memotivasi ketidakteraturan dan keti-
daktentraman sosial.
Pengalihan kesalahan institusional
kepada proletar juga tampak dalam keselu-
ruhan shoot yang hampir seluruh konfik
yang tersaji dalam episode ini adalah konfik
Oneng dan Emak, dan sekaligus menghilan-
gkan konfik yang melibatkan polisi (repre-
sentasi dari negara/pemerintah yang borjuis)
sebagai pelaku salah tangkap yang seharus-
nya dilawan oleh Oneng, Bajuri dan bahkan
Emak.
Ide salah tangkap dengan demikian
secara ideologis dicitrakan dalam visual Ba-
jaj bajuri menjadi suatu yang harus diang-
gap lazim dan prosedural dan oleh kare-
nanya harus diterima sebagai cobaan untuk
lebih bersikap hati-hati, dan kemudian ha-
rus menyikapinya dengan sabar dan kuat
karena peristiwa salah tangkap ini sekedar
cobaan atas ketidakhati-hatian proletar, dan
karenanya bukan kesalahan polisi sebagai
representasi dari pemerintah yang hanya
menjalankan tugasnya, sebagaimana dialog
Minah dan Oneng untuk memberi motivasi
Oneng:
Minah :Maap Pok Onengsaya
bukannya sok nasehatin, bukannya sok
ngajarin, saya cuman mo ngasih saran. Pok
Oneng yang sabar ya
Oneng :Pok, saya tuh, udeh nikahnye 5
tahun ame Bang Bajuri. Tiap Lebaran selalu
bareng-bareng, maap-maapan. Sekarang
Bang Bajurinye, dipenjaraaa.a (nangis)
saya kasihan ame die pok.
Minah :Maap Pok Oneng, saya bukan-
nya sok tahu, bukannya sok pinter. Saya cu-
man mo bilang saya yakin Bang Bajuri juga
bisak sabarbisak tegar
Oneng :Iye iye..pok saya juga yakin pok. Kalo
Bang Juri bisa sabar bisa tegar! (tersendat-
sendat)
Dialog diatas menggunakan realisme
Fiske bukan difungsikan dalam tujuannya
merepresentasikan Oneng dan Bajuri seb-
agai representasi proletar yang sabar dan
tegar atau kuat, namun secara kontradiktif
justru ditujukan untuk semata-mata meng-
konstruksi kondisi keterbelakangan pengeta-
huan proletar yang disamarkan dalam kondi-
si musibah dan oleh karenanya harus disikapi
dengan pasif. Kepasifan proletar justru dici-
trakan dalam fungsinya secara ideologis yai-
tu membekukan kondisi proletar untuk tetap
dalam kondisi ketertindasan mereka, karena
mereka adalah kumpulan orang-orang yang
tetap tidak tahu dan oleh karenanya lemah
baik secara individual maupun secara sosial.
Kepasifan dalam kaca mata penguasa
mampu mengeliminasi kesatuan proletar
sehingga mengantisipasi tindakan-tindakan
anarkis selanjutnya dan karenanya patut
dan sah untuk dipertahankan. Realisme
yang terkonstruksi bukan dalam tujuannya
merepresentasikan Oneng dan Bajuri seb-
agai proletar yang sabar dan tegar atau kuat,
namun secara kontradiktif justru ditujukan
untuk semata-mata mengkonstruksi kondisi
keterbelakangan pengetahuan proletar yang
disamarkan dalam kondisi musibah dan oleh
karenanya harus disikapi dengan pasif.
Kepasifan proletar justru secara ideolo-
gis ditujukan dalam upayanya membekukan
kondisi proletar untuk tetap dalam kondisi
65
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
ketertindasan mereka; dipertahankan untuk
tetap tidak tahu dan karenanya tetap lemah
secara individual maupun secara sosial. Dis-
eminasi keyakinan mengenai keharusan
pasif tersebut, secara bertahap potensial
mengantisipasi dan bahkan mengeliminasi
kesatuan proletar sehingga tindakan-tinda-
kan anarkis dan kontra-produktif dari sudut
pandang penguasa borjuis mampu dimini-
malisir.
Kontradiktifnya jawaban Oneng dalam dia-
log diatas dengan scene yang diilustrasikan
dalam adegan dimana Bajuri divisualisasi-
kan meratap di balik terali penjara kiranya
memperjelas kondisi kelemahan proletar
yang dengan segera membutuhkan pemerin-
tah Borjuis dengan kematangan pengetahuan
dan emosionalnya untuk membimbingnya:
Fokus pada Bajuri dengan tetap mem-
biarkan terali besi untuk tampak jelas dalam
layar, memvisualkan Bajuri di balik penjara
yang meratap sedih karena nasibnya masuk
penjara dan teralienasinya dirinya dari sos-
ial: keluarga (Oneng dan Emak) dan tetang-
ga, serta alienasi dari dirinya sendiri sebagai
akibat dari ambiguitas antara keyakinannya
dan kebenaran umum yang dicitrakan dalam
bentuk otoritas institusi.
Visualisasi Bajuri di balik jeruji penjara ini
untuk kemudian mengkonstruk sebuah reali-
tas dimana proletar yang terkungkung atau
terpenjara dalam ketidaktahuannya serta
kondisi keterasingan yang diakibatkan oleh
ketidakberdayaannya tersebut. Realitas hasil
konstruksi ini untuk kemudian memperkuat
statement utama dari pesan tayangan Bajuri
yaitu melazimkan kondisi keterbatasan pen-
getahuan proletar mengenai hukum dan me-
kanismenya (dalam kasus episode ini) yang
mengharuskan uluran tangan sang terdi-
dik dan terpelajar yaitu pemerintah atau
negara, sang borjuasi, untuk membiarkan
membimbing si proletar agar tidak salah ja-
lan.
Posisi N yang minoritas dalam space,
namun tetap tampak jelas dalam shoot secara
potensial dapat dipahami sebagai bentuk
konstruksi penguasa mengenai prioritas ala-
san proletar untuk dikontrol. Dua objek yaitu
Bajuri dan N yang dimunculkan secara bersa-
ma dengan teknik Depth Of Field (DOF) luas
menunjukkan kedua objek ini sama penting
namun mempunyai hubungan yang hierar-
kis. Jika Bajuri dengan ekspresi emosionalnya
mengambil mayoritas space, maka hal ini ha-
rus dipahami sebagai upaya untuk mempri-
oritaskan bukan pada bajurinya melainkan
pada ekspresi emosionalnya yang dimiliki
oleh bajuri sebagai representasi proletar.
Sementara N yang mengambil space yang mi-
nor, juga sedang difokuskan ada ekspresi pa-
sif, dingin dan tak pedulinya dari siapa yang
diwakili oleh N tadi, yaitu proletar yang lain.
Jeruji besi yang juga tampak secara jelas ke-
tika dikaitkan dengan kedua objek; ekspresi
Bajuri dan N, maka akan memperjelas makna
yang coba dibangun dalam shoot ini dan ke-
tika direlasikan dengan ide mengenai jahat-
pengetahuan-kontrol, maka shoot ini dapat
dipahami sedang dalam tujuannya meng-
konstruksi realitas mengenai relasi power
antara proletar dan penguasa borjuis.
Jeruji besi tidak hanya bisa menggam-
barkan keterkungkungan seseorang atau ke-
las, melainkan juga keterbatasan yang dalam
konteks ini adalah keterbatasan pengetahuan;
dimana keterkungkungan justru disebabkan
karena keterbatasan pengetahuan proletar
akan konsep jahat dan kejahatan serta hu-
kum dan mekanisme hukum menjadi justif-
kasi penguasa akan kelemahan proletar dan
sekaligus mengibarkan klaim-klaim kebena-
rannya untuk terlibat dan campur tangan
terhadap proletar bahkan sampai di tingkat
keluarga dan keseharian mereka. Kelema-
han yang membawa mereka pada sifatutama
yang kontradiktif namun sama-sama berba-
haya dalam kaca mata pengusa borjuis; aktif
agresif dan pasif, dianggap sebagai halangan
bagi keberlangsungan keteraturan dan keten-
traman sosial dan karenanya harus dikontrol
dan dibimbing oleh penguasa yang lebih sta-
bil karena keberlimpahruahan mereka akan
pengetahuan.
Maka sebagaimana scenes yang lain,
sekali lagi image proletar sedang dikonstruk-
si diatas klaim-klaim kebenaran penguasa.
Inilah realisme menurut Fiske, dan
dalam konteks yang demikian Bajaj Bajuri
untuk kemudian harus dipahami sedang
menyuntikan pengetahuannya mengenai
penjahat proletar diatas klaim-klaim ke-
benaran dan kebijaksanaan penguasa, yang
muncul setidaknya karena tiga (3) hal, yaitu:
kekurangpengetahuannya, himpitan eko-
nominya dan juga karena kalabilan emosion-
alnya.
Dan sekali lagi inilah penjahat yang
harus dipahami oleh awam sebagai kriminal
masyarakat dan harus diperangi tidak saja
dengan hukum-hukum negara melainkan
juga norma sosial.
Dan karena potensinya lahir dalam ma-
syarakat proletar yang serba terbatas akses
66
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
ekonomi politiknya, maka Bajaj Bajuri sangat
berperan serta dalam melegalkan kepemimp-
inan dan dominasi pemerintah kelas proletar
yang labil tersebut. Tentu saja dengan aktor
yang mempunyai status yang kompleks, se-
lain duduk dalam pemerintahan juga men-
jadi bisnisman, tindakan opresif negara atas
proletar untuk kemudian tidak berhenti seba-
tas hukum yang salah tangkap ini, melainkan
sebaliknya dengan justifkasi kurangnya pen-
getahuan, tidak berdaya dan sok tahu yang
dinarasikan akan membawa proletar pada
pilihan jalan yang salah, maka negara den-
gan justifkasinya tersebut bisa melebarkan
tindakan represifnya hingga pada kebijakan
pasar, pendidikan, kepemilikan aset, modal
dan lain sebagainya. Penindasan negara atas
proletar pada perkembangannya menga-
rah pada bentuk totalnya, yang merupakan
strategi ideologis politis untuk menutup se-
gala kemungkinan atau celah untuk pilihan
lain bagi proletar.
Dan sebagaimana Barthes menyebut-
kan bahwa suntikan pengetahuan meru-
pakan tahap awal yang krusial dari proses
mitologi, maka Bajaj Bajuri melakukan per-
annya sebagai alat kepentingan penguasa
yang mengabdi demi mengkekalkan nilai-ni-
lai dominasi kelas berkuasa tersebut dengan
menciptakan Mitos Penjahat Proletar misal-
nya.
Dan sebagaimana peran mitos dalam
masyarakat pre-industri yang dikritik dalam
fungsinya menciptakan kondisi fatalisme,
maka Bajaj Bajuri juga mentransformasikan
peran mitos pre-industrial dalam masyara-
kat modern saat ini dengan memberi satu-
satunya guideline mengenai suatu hal (misal
pengetahuan tentang penjahat) bagi penon-
tonnya dan tidak menyisakan ruang bertan-
ya sedikitpun untuk meragukan kebenaran
realitas yang disampaikan.
Dan akhirnya oppressor is everything,
his language is rich, multiform, supple, with
all the possible degrees of dignity at its dis-
posal; he has an exclusive right to meta-lan-
guage sementara the oprresed is nothing.

Realisme Penjahat Proletar sebagai Sebuah
Praxis Hegemoni

Ideologi dalam pandangan Marxisme
dan media study dimaknai secara negatif
dan mendapat kritik. Ideologi dikritik seb-
agai sebuah fxing of meaning atau neutral-
ization yang sangat erat kaitannya dengan
relasi-relasi sosial yang dominatif, dimana
ideologi bekerja dalam praksis-praksis pen-
indasan yang justru secara sistematif dan dis-
kursif melestarikan relasi-relasi kekuasaan
tertentu. Inilah mengapa ideologi disebut se-
bagai instrumen kekuasaan klas dan meng-
abdi pada klas tersebut. Dalam konteks yang
demikian ideologi dapat diartikan kemudian
sebagai alat produksi dan diseminasi keya-
kinan-keyakinan yang salah dan keliru. Me-
dia menjadi instrument yang penting dalam
konsep hegemoni Gramsci, dimana melalui
media ideologi disebarluaskan dan mem-
peroleh efeknya secara dramatis dan efektif.
Media menjadi instrumen produksi dan re-
produksi wacana, dimana melalui realisme ,
sebagaimana dipahami dalam Fiske, relaitas
yang selektif dan parsial, diterima dan dipa-
hami sebagai realitas sebenarnya salah satu-
nya karena kemasan naratifnya.
Pararel dengan produksi realisme
tersebut, maka media, televisi dalam artikel
ini, melakukan pula upaya pemiskinan pen-
getahuan dan atau kebenaran mengenai du-
nia atau realitas; dimana melalui realisme
yang diproduksi, perumpamaan-perumpaan
dari suatu grand-naratif tentang fear, felling
dan desire pada tingkat yang paling dasar.
Dan tujuan utama dari beroperasinya me-
kanisme produksi dan eksklusi pengetahuan
dan realitas tersebut adalah menegakkan
dan atau mengkonservasi relasi dominatif,
dimana bentuknya mengalami transformasi
yang signifkan dari tindakan-tindakan yang
mengutamakan koersif menuju suatu pola
konsensus. Gramsci tidak secara mentah
meninggalkan tindakan koersif dari konsep
hegemoninya, hanya saja konsensus sebagai
syarat utama terwujugnya kondisi hege-
monic, menjadikan tindakan-tindakan koer-
sif menjadi sah, benar dan legal dilakukan.
Demikian juga realisme Bajaj Bajuri difungsi-
kan, bagaimana relasi naratif dari kode-kode
televisual membangun suatu pemahaman
baru mengenai penjahat negara. Penjahat
negara ala Bajuri sebagaimana telah dianali-
sis sebelumnya, didefnisikan sebagai orang
bawah, miskin secara materi maupun pen-
getahuan dan medhok untuk memperlihat-
kan konektiftas lokal mereka. Identitas yang
dalam artikel ini disebut sebagai proletar.
Distorsi realitas dalam realisme Penja-
hat proletar ala Bajuri ini dikonstruksi para-
rel dengan upaya negara sebagai masyarakat
politik untuk membiaskan realitas yang kom-
pleks mengenai praktik hukum dan peradi-
lan nasional. Bagaimana pemahaman men-
genai jahat dan adil dipangkas sedemikian
67
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
rupa dengan mengeksklusi kemungkinan-
kemungkinan lain identifkasi tentang jahat
dan tindakan kejahatan seperti misalnya
tindakan korupsi, genocide era 65 misalnya
atau penculikan dan pembunuhan politis.
Pengetahuan tentang jahat dan kejahatan di-
batasi pada wilayah relasi yang paling seder-
hana dan meniadakan faktor-faktor lain yang
sangat mungkin bercampur dan menjadikan
jahat dan tindakan kejahatan dapat diopera-
sikan dan kemudian dipahami secara kom-
pleks.
Konsep negara yang diperluas, men-
jadi salah satu fokus yang menarik dalam
pemaparan Gramsci mengenai hegemoni,
dimana Gramsci menyadari betul perubahan
tren adanya negara-negara global yang mem-
bawa serta perspektif globalnya. Robbie Rob-
ertson (Robertson, 2003: 12-13) menyebutkan
era tersebut sebagai gelombang ketiga glo-
balisasi, yang menempatkan isu-isu Ameri-
kanisasi yang membawa serta demokrati-
sasi dan pesebarluasan perspektif-perspektif
global atau yang disebut Marjorie Ferguson
(Ferguson dalam McQuail,2005 : 23-32) se-
bagai mythology of globalization. Masalah
Demokrasi global menjadi menarik untuk di-
ulas dalam artikel ini terkait dengan isu loka-
litas dan keberagaman identitas. Demokrati-
sasi, menurut Robbie Robertson (Robertson,
2003: 12), dipahami sebagai the process of
social empowerment that makes modernity
atainable.
Defnisi ini dapat dipahami kemudian,
bahwa Robertson memahami demokratisasi
sebagai prasyarat dari modernitas, dan kare-
nanya harus diwujudkan tidak hanya oleh
negara asal demokrasi tersebut, yaitu Ameri-
ka, melainkan juga membutuhkan inter-
konektiftas di seluruh penjuru dunia dalam
upayanya membangun sebuah blok historis
tertentu. Lebih lanjut Robertson (Robertson,
2003: 12-13) menyebutkan ada tiga tantan-
gan demokratisasi yang potensial melemah-
kan dinamika modernitas dunia, yaitu: (1)
Tantangan perluasan dan memperdalam de-
mokratisasi secara global dan meningkatkan
sentralitas masyarakat sipil, (2) tantangan
lingkungan mengenai isu-isu sustainabilitas
global, (3) permasalahan multikultural.
Dalam konteks tiga tantangan tersebut,
artikel ini menempatkan poin ketiga sebagai
pilihan untuk memperkaya pembahasan Ba-
jaj Bajuri sebagai instrumen hegemoni pen-
jahat negara yang dilakukan oleh negara se-
bagai pemegang kuasa politik. Pemapanan
hegemoni sebagai upaya melakukan trans-
formasi sosial dari kelas berkuasa, menurut
Gramsci, dilakukan dengan membangun
sebuah commonsense, hanya saja common-
sense ini bersifat ideologis dan karenanya
memuat suatu kepentingan politis klas ter-
tentu.
Sebagaimana realisme penjahat prole-
tar ala Bajuri sebagaimana diuraikan diatas,
mampu membangun suatu mental map ten-
tang defnisi penjahat negara yang diseder-
hanakan menjadi khas proletar dan menutup
kemungkinan untuk masuknya actor-aktor
lain atau tipe-tipe lain yang mempunyai kon-
sekuensi sosial yang relative sama atau bah-
kan melebihi tipe proletar tersebut. Inilah
yang disebut Gramsci sebagai hegemonic
closure.
Hegemonic clossure ini menjadikan ke-
sadaran akan kondisi ketertindasan dari klas
proletar, dalam hal ini lokal yang dicontoh-
kan dengan Betawi) tidak terbentuk, sehing-
ga unity of consciousness dari lokal yang
proletar tersebut menjadi jauh dari jangkau-
an. Dan transformasipun tidak terjadi den-
gan perubahan struktur dominasi, dominasi
tetap milik dari negara yang borjuis. Berikut
ini skema proses hegemoni melalui kode-
kode televisual terjadi dalam realisme Bajaj
Bajuri;

Hegemonic closure dalam artikel ini
terjadi melalui realisme media yang meski-
pun menyajikan keberagaman bersuara dari
lokal dan kelompok sosial lain terpinggirkan,
namun toh hanya berada pada tataran bentuk
saja dan bukan secara esensial. Sebagaimana
disebutkan oleh Robertson, dimana isu mul-
tikulturalisme yang muncul sebagai implika-
si historis dari tuntutan kesederajatan dari
klas-klas minoritas di Amerika, menjadikan
isu ini signifkan dan mendesak untuk dicari
solusinya agar sebagaimana tujuan awalnya
untuk menjamin modernitas dapat dilak-
sanakan secara efektif.
Menjadi berbeda kemudian dengan apa
yang dikemukakan Gramsci, bahwa kondisi
hegemonic hanya bisa efektif dengan mem-
pertahankan kondisi ketidakseimbangan
termasuk didalamnya ketidakseimbangan
informasi. Rasionalisasi dari hal ini adalah,
bahwa dalam kondisi ketidakseimbangan
informasi tersebut, keberagaman etnis, in-
formasi atau perspektif dijamin semata-mata
demi mempertahankan ketidakpastian yang
berjalan pararel dengan arogansi klas atau
perspektif. Kondisi ini sangat potensial un-
tuk membuka celah terjadinya chaos, dimana
68
Penjahat Proletar Ala Bajuri
Djatiprasetyani Hadi
hanya dalam kondisi tidak pasti seperti ini
intervensi pemerintah dalam wacana nasion-
al dan negara global dalam wacana interna-
sional dapat dilakukan, dan koersif menjadi
hal yang wajar dan legal ketika keyakinan
dominan mengalami krisis.
Dalam konteks sebagaimana disebut-
kan diatas, maka Betawi sebagai proletar
yang diberi ruang, harus dipahami secara
kritis. Alih-alih menegakkan demokrasi se-
bagaimana yang didesakkan oleh negara-
negara global demi menjaminkan efektiftas
modernitas yang tentu saja ideologis, pada
praksisnya justru memproduksi suatu pen-
getahuan mengenai demokrasi yang bias.
Alasan yang paling mungkin disertakan
untuk menjelaskan kondisi ini adalah, bah-
wa desakan-desakan internasional yang tak
terelakkan, salah satunya sebagai konsekue-
nsi dari tindakan bantuan asing, menjadikan
negara sebagai agen dari kepentingan inter-
nasional. Kasuistik di Indonesia dimana kua-
sa politik bertumpang tindih dengan kuasa
ekonomi menjadikan media sebagai saluran
informasi yang tidak netral dan bahkan poli-
tis. Baik negara nasional maupun internasi-
onal, berjuang untuk membangun sebuah
konsensus yang menjamin dominasinya atas
kelas terpinggirkan lain diatas kemungkinan-
kemungkinan perpecahan keyakinan dan
politis yang tetap dipertahankannya dalam
tujuannya membangun celah intervensi ke-
tika penguasa mengalami krisis hegemoni.
DAFTAR PUSTAKA
Adam David Morton, 2007 Unravelling Grams-
ci; Hegemony and Passive Revolution in The
Global economy, London, Pluto Press.
Denis McQuail, Peter Golding and Els de Bens,
2005 Communication Theory & Research;
An EJC Anthology, London, Sage Publication.
Howard Davis & Paul Walton ed, 1984 Lan-
guage, Image, Media, England, Basil Black-
well Publisher Limited.
James T. Siegel, 2000 Penjahat Gaya
(Orde) Baru: Eksplorasi Politik dan
Kriminalitas,Yogyakarta, LKiS
John Fiske, 2001 Television Culture, London,
Routledge
Marianne Jorgensen & Louise Phillips, 2002
Discourse Analysis as Theory and Method,
London, SAGE Publications Ltd
Meenaksi G. Durham & Dauglas M. Kellner ed,
2006 Media & Cultural Studies Keyworks,
Australia, Blackwall Publishing.
Mike Wayne, 2003 Marxism & Media Stud-
ies: Key Concepts & Contemporary Trends
(Marxism & Culture), London, Pluto Press.
Paula Saukko, 2003 Doing Research in Cultural
Studies An Introduction to Classical & New
Methodological Approach, London, Sage
Publication.
Robbie Robertson, 2003 The Three Waves of
Globalization; A History of a Developing
Global Consciousness, London, Fernwood
Publishing
Robert E. Babe, 2009 Cultural Studies and Po-
litical Economy; Toward a New Integration,
New York, Lexington Books
Roger Simon, 1999 Gagasan-gagasan Politik
Gramsci, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Roland Barthes, 1983 Mythologies, New York,
Granada Publishing
Walter J. Ong, 1988 Orality and Literacy: The
Technologizing of the Word, New York,
Routledge
69
Jurnal Ultima Comm Vol. 5, Nomor 1/ Mei-Juli 2014
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK
( ANALISIS PEMBERITAAN KISRUH WISMA ATLIT DI MEDIA INDONESIA)
Yoyoh Hereyah
dosen komunikasi Universitas Mercubuana Jakarta
Jl.Meruya Selatan No.01 Kembangan Jakarta Barat
Telepon (021) 5840816
e-mail: yoyohwibowo@yahoo.com
Abstract:
Antonio Gramsci melihat media sebagai ruang dimana berbagai ideologi direpresentasikan. Ini
berarti, di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, alat legitimasi dan
kontrol atas wacana publik. Namun disisi lain media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap
kekuasan. Dalam penelitian ini, yang hendak diangkat adalah seputar kisruh di balik skandal wis-
ma Atlit yang mencemari nama baik partai democrat meski sejumlah pihak mengkaitkan dengan
scenario pemilu 2014. Realitas media yang ditampilkan dalam kasus yang menjerat sejumlah pet-
inggi partai Demokrat sangat menarik untuk dikupas, khususnya menggunakan analisis framing.
Keywords: Framing, Komunikasi politik, media massa, Partai Demokrat
PENDAHULUAN

Saat ini, salah satu ciri masyarakat
modern ditandai dengan ketergantungan mem-
peroleh dan menggunakan media komunikasi.
Selain dapat memberikan informasi yang dibu-
tuhkan masyarakat, keberadaan media massa
dapat menyembuhkan hati yang terluka dan
melupakan kesulitan-
Media sesungguhnya berada di tengah
realitas sosial yang sarat dengan kepentingan,
konfik, dan fakta yang kompleks dan beragam.
Realitas adalah hasil dari ciptaan manusia kre-
atif melalui kekuatan konstruksi sosial terhadap
dunia sekelilingnya.
Dunia sosial itu dimaksud sebagaimana
yang disebut oleh George Simmel, bahwa reali
as dunia sosial itu berdiri sendiri di luar indi-
vidu, yang menurut kesannya bahwa realitas
itu ada dalam diri sendiri dan hukum yang
menguasainya (Bungin,2008:12)
Realitas atau kenyataan sosial (social
reality) adalah realitas sosial suatu masyara-
kat yang sedang melaksanakan berbagai penye-
suaian modernitas sebagai konsekuensi keputu-
san untuk menjadi suatu negara kebangsaan.
Dalam penyiapan materi konstruksi, media
massa memposisikan diri pada tiga hal antara
lain
Pertama, keberpihakan media massa ke-
pada kapitalisme. Dalam arti media massa di-
gunakan oleh kekuatan-kekuatan kapital untuk
menjadikan media massa sebagai mesin pencip-
taan uang dan pelipatgandaan modal.
Kedua, keberpihakan semu kepada ma-
syarakat. Dalam bentuk simpati, empati dan
berbagai partisipasi kepada masyarakat, namun
ujung-ujungnya adalah juga untuk menjual
berita dan menaikkan rating untuk kepentin-
70
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
gan kapitalis.
Ketiga, Keberpihakan kepada kepent-
ingan umum. Bentuk ini merupakan arti ses-
ungguhnya yaitu visi setiap media massa, na-
mun akhir-akhir ini visi tersebut tidak pernah
menunjukkan jati dirinya, namun slogan-slo-
gan tentang visi ini tetap terdengar. (Ibid.196-
197)
Antonio Gramsci melihat media sebagai
ruang dimana berbagai ideologi direpresentasi-
kan. Ini berarti, di satu sisi media bisa menjadi
sarana penyebaran ideologi penguasa, alat le-
gitimasi dan kontrol atas wacana publik.

Namun disisi lain media juga bisa men-
jadi alat resistensi terhadap kekuasan. (So-
bur,2006:30) .Dalam penelitian ini, yang hen-
dak diangkat adalah seputar kisruh di balik
skandal wisma Atlit yang mencemari nama baik
partai democrat meski sejumlah pihak meng-
kaitkan dengan scenario pemilu 2014. Reali-
tas media yang ditampilkan dalam kasus yang
menjerat sejumlah petinggi partai Demokrat
sangat menarik untuk dikupas, khususnya
menggunakan analisis framing.
1,1 Fokus Masalah
Dalam penelitian deskriptif kualita-
tif ini masalah dibatasi dengan mengetahui
bagaimana pemberitaan seputar penangkapan
eks bendahara Partai Demokrat dan kisruh di
balik pembangunan wisma Atlit yang melibat-
kan sejumlah petinggi partai Demokrat. pada
Surat Kabar Media Indonesia. Penulis akan
menganalisis wacana pada berita yang dimuat
pada Surat Kabar Media Indonesia dengan
analisis framing Pan Kosjiki.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan kronologi pemberitaan yang
telah diuraikan, maka dapat dirumuskan ma-
salah dari penelitian ini adalah :
a.Bagaimana Surat Kabar Media Indonesia
mengkonstruksikan berita-berita seputar kasus
wisma Atlit yang melibatkan petinggi-petinggi
Partai Demokrat?
b.Bagaimana framing media dibalik pemberi-
taan kasus tersebut dikaitkan dengan citra par-
tai demokrat , karena Media Indonesia sebagai
media yang dimiliki Suryo Palloh yang memi-
liki ideology sendiri.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin penulis capai dari penelitian
ini adalah untuk :
a. Mengetahui bagaimana Surat Kabar Me-
dia Indonesia mengkonstruksikan pemberi-
taan bagaimana Surat Kabar Media Indonesia
mengkonstruksikan berita-berita seputar kasus
wisma Atlit yang melibatkan petinggi-petinggi
Partai Demokrat?
1.4 Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Adapun manfaat teoritis dari penelitian deskrip-
tif kualitatif ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi terhadap pengaplikasian teori jur-
nalistik mengenai framing dan pembingkaian
serta kosntruksi realitas sosial secara umum
diintergrasikan pada perubahan sosial..
b. Manfaat Praktis
Sedangkan manfaat praktis dari penelitian
ini diharapkan dapat memberikan masukkan,
umumnya bagi Surat Kabar Media Indonesia
dalam setiap pemberitaannya.
KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Konstruksi Realitas
Setiap media massa memiliki karakter dan latar
belakang tersendiri, baik dalam isi dan penge-
masan beritanya, maupun tampilan serta tu-
juan dasarnya. Perbedaan ini dilatarbelakangi
oleh kepentingan yang berbeda dari masing-
masing media massa. Baik yang bermotif poli-
tik, ekonomi, agama dan sebagainya.
Pekerjaan media pada hakikatnya adalah
mengkonstruksikan realitas. Realitas dalam
71
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
berita dibangun oleh adanya sejumlah fakta.
Fakta dari suatu realitas itupun tidak selalu
statis, melainkan memiliki dinamika yang
mungkin berubah seiring dengan perubahan
peristiwa itu sendiri. Dalam penjelasan ontolo-
gi paradigma konstruktivis, realitas merupakan
konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu.
Namun kebenaran suatu realitas bersifat nisbi,
yang berlaku sesuai konteks spesifk yang dini-
lai relevan oleh pelaku sosial.(Bungin,2008:11)
Istilah konstruksi realitas menjadi terke-
nal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan
Thomas Luckmann (1966) melalui bukunya
The Social Construction of Reality: A Treatise
in the Sociological of Knowledge. Dimana buku
tersebut mereka menggambarkan proses sosial
melalui tindakan dan interaksinya, dimana in-
dividu secara intens menciptakan suatu realitas
yang dimiliki dan dialami bersama secara sub-
jektif.(Ibid.13)
Konstruksi sosial dalam masyarakat tak
bisa terlepas dari kekuatan ekonomi dan peruba-
han sosial yang terjadi pada masyarakat terse-
but. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan
media terhadap pemirsa atau hegemoni massa.
Kekuatan hegemoni adalah kekuatan
kapitalis yang menguasai individu melalui pen-
guasaan intelektual dan massal. Media diman-
faatkan kelompok elit dominan, sehingga pe-
nyajian berita tidak lagi mencerminkan refeksi
dari realitas sosial.
Kedudukan media ataupun peneliti ti-
dak independen, namun dikuasai oleh banyak
kepentingan kelompok elit dominan sebagai ha-
sil penelitian.
Media menampilkan cara-cara dalam
memandang suatu realitas, karena media dikua-
sai oleh unsur kepentingan ideologi kelompok
dominan yang berkuasa, yang pada akhirnya
hasil pemberitaan atas kenyataan atau realitas
sosial bisa dimanipulasi. Dimana media men-
guasai individu melalui penciptaan kesadaran
palsu, yaitu kesadaran yang diciptakan oleh
media karena masyarakat mengkonsumsi berita
atau informasi yang ditampilkan.
Dengan masuknya unsur kapital, media
massa mau tidak mau harus memikirkan pasar
demi memperoleh keuntungan (revenue) baik
dari penjualan maupun iklan. Pekerjaan media
massa adalah menceritakan peristiwa-peristi-
wa, maka seluruh isi media adalah realitas yang
telah dikonstruksikan (constructed reality). Isi
media pada hakikatnya adalah hasil konstruk-
si realitas dengan bahasa sebagai perangkat
dasarnya. (Sobur,2006:88)
Berger dan Luckmann memulai penjela-
san realitas sosial dengan memisahkan pemaha-
man kenyataan dan pengetahuan. Men-
gartikan realitas sebagai kualitas yang terdapat
di dalam realitas-realitas, yang diakui memiliki
keberadaan (being) yang tidak bergantung ke-
pada kehendak kita sendiri. Sementara, penge-
tahuan didefnisikan sebagai kepastian bahwa
realitas-realitas itu nyata (real) dan memiliki
kharakteristik secara spesifk.(Sobur, 2006:91).
Dalam proses konstruksi realitas, baha-
sa adalah unsur utama. Ia merupakan instru-
men pokok untuk menceritakan realitas. Bahasa
adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Ke-
beradaan bahasa ini tidak lagi sebagai alat se-
mata untuk menggambarkan realitas, melain-
kan bisa menentukan gambaran (makna citra)
mengenai suatu realitas realitas media yang
akan muncul dibenak khalayak.
Lewat konteks pemberitaan, pembaca
dapat menyadari bahwa wartawan kadang
menghidangkan madu dalam menu beritan-
ya, kadang pula dalam berita yang lain menu-
angkan racun. Oleh karena itu media massa
harus memahami dan memaknai realitas yang
ditonjolkan dalam pemberitaan. Dengan pe-
nonjolan atau penekanan realitas tersebut ma-
syarakat dapat dengan mudah mengingat dan
mengerti.
2.2 Media dan Berita dilihat dari Paradig-
ma Konstruktivis

Mills mengajukan pandangan yang
pesimistik tentang media dalam bukunya The
72
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Power Elite dan memandang media sebagai
pemimpin dunia palsu (pseudo world),
yang menyajikan realitas eksternal dan pen-
galaman internal serta penghancuran privasi
dengan cara menghancurkan peluang untuk
pertukaran opini yang masuk akal dan tidak
terburu-buru serta manusiawi. Karena media
memainkan peran penting dalam menjalankan
kekuasaan, media membantu menciptakan salah
satu problem besar dalam masyarakat kontem-
porer, yakni pembangkangan atas kekuasaan
oleh masyarakat.(Hard,2007:211-212).
Berita dipandang bukanlah sesuatu
yang netral dan menjadi ruang publik dari ber-
bagai pandangan yang berseberangan dalam
masyarakat. Sebaliknya media adalah ruang
dimana kelompok dominan menyebarkan pen-
garuhnya dengan meminggirkan kelompok lain
yang tidak dominan.(Eriyanto,2002:23).
realitas.
Wartawan bukanlah robot yang meli-
put apa adanya, apa yang dia lihat. Etika dan
moral yang dalam banyak hal berarti keberpi-
hakan pada suatu kelompok atau nilai tertentu
umumnya dilandasi oleh keyakinan tertentu
adalah bagian integral dan tidak terpisahkan
dalam membentuk dan mengkonstruksi reali-
tas.Khalayak menjadi subjek yang aktif dalam
menafsirkan apa yang dibaca. Dalam bahasa
Stuart Hall, makna dari suatu teks bukan ter-
dapat dalam pesan atau berita yang dibaca oleh
pembaca. Karenanya, setiap orang bisa mempu-
nyai pemaknaan yang berbeda atas teks yang
sama.(Eriyanto,2002:19-36).
Di sini penulis akan meneliti media dan
berita dari paradigma konstruktivis dimana
posisi Media Indonesia dimiliki oleh kelompok
yang dominan dan dapat memajukan kelompok
lain. Posisi nilai dan ideologi wartawan me-
dia yang tidak terpisahkan dari mulai proses
peliputan hingga pelaporan. Lalu hasilnya itu
mencerminkan ideologi wartawan dan kepent-
ingan sosial, ekonomi, dan politik tertentu.
2.3 Wacana dan Ideologi media massa
Indonesia, sebagai salah satu bangsa di
dunia, tentu tak lepas dari terpaan globalisasi
yang berhembus dari dan ke seluruh penjuru
dunia. Terpaan tersebut mencakup dalam pem-
bentukan wacana dalam media massa. Pemben-
tukan wacana merupakan media perjumpaan
sekaligus konsentrasi antara pihak yang domi-
nan dan pihak yang resisten. Pihak dominan
membangun wacana dan hegemonik.
Michael Faucoult (2000) mengemuka-
kan bahwa setiap pembentukan wacana pada
dasarnya merupakan sebentuk pemberlakuan
kekuasaan. Tanpa disadari gagasan dan konsep
yang digulirkan mengandung kuasa.
Maksudnya, gagasan tersebut menjadi
kekuatan yang dapat menaklukkan kesadaran
orang untuk mengikuti gagasan dan konsep
tersebut. Sehingga wacana mampu mengontrol,
mengarahkan dan meminta seseorang untuk
melaksanakan sesuatu yang diinginkan.
Wacana secara ideologi dapat menggusur
gagasan orang atau kelompok tertentu. Karena
yang dihadapi adalah teks sebagai sarana seka-
ligus media melalui mana satu kelompok men-
gunggulkan diri sendiri dan memarjinalkan
kelompok lain.
Eriyanto menempatkan ideologi seb-
agai konsep sentral dalam analisis wacana yang
bersifat kritis. Hal ini menurutnya karena teks
percakapan dan lainnya adalah bentuk dari
praktik ideologi atau pencerminan dari ideologi
tertentu. Ideologi adalah sebuah rekayasa men-
tal.
Ideologi itu terjadi disebabkan kekuatan
yang membentuk ideologi itu memerlukannya
untuk dapat mempertahankan posisi dan kekua-
tannya. Menurut Magnis Suseno, ideologi
adalah ajaran yang menjelaskan suatu keadaan,
terutama struktur kekuasaan, sedemikian rupa
sehingga orang menganggapnya sah. Ideologi
melayani kepentingan kelas berkuasa karena
memberikan legitimasi kepada suatu keadaan
yang sebenarnya tidak memiliki legitimasi. (So-
bur,2004:243).
Media berperan mendefnisikan
73
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
bagaimana realitas itu dijelaskan dengan cara
tertentu kepada khalayak. Dimana fungsi per-
tama dalam ideologi di media adalah media
sebagai mekanisme integrasi sosial. Media ber-
fungsi menjaga nilai-nilai kelompok dan men-
gontrol bagaimana nilai-nilai kelompok itu di-
jalankan.
Alex sobur mengatakan istilah ideologi
memang mempunyai dua pengertian yang ber-
tolak belakang. Secara positif, ideologi dipersep-
si sebagai suatu pandangan dunia yang men-
gatakan yang menyatakan nilai-nilai kelompok
sosial tertentu untuk membela dan memajukan
kepentingan-kepentingan mereka. Sedangkan
secara negatif, ideologi dilihat sebagai kesadaran
palsu yaitu suatu kebutuhan untuk melakukan
penipuan untuk memutarbalikkan pemahaman
orang mengenai realitas sosial.
2.4 Hakikat Framing
Framing dipandang sebagai sebuah
strategi penyusunan realitas sedemikian rupa
sehingga dihasilkan sebuah wacana. Pada mu-
lanya analisis framing dipakai untuk mema-
hami bagaimana anggota-anggota masyarakat
mengorganisasikan pengalamannya sewaktu
melakukan interaksi sosial. (Poloma, dalam Er-
ving Gofman, 1974,247-248)
Dalam sebuah wacana selalu ada fakta
yang ditonjolkan, disembunyikan, bahkan di-
hilangkan sampai terbentuk satu urutan cerita
yang mempunyai makana sesuai frame yang
dipilih. Dalam konteks ini relevan dibicarakan
proses-proses framing media massa. Dimana
dalam penyajian suatu berita atau realitas di-
mana kebenaran tentang suatu realitas tidak
diingkari secara total, melainkan dibelokkan
secara halus, dengan memberikan sorotan ter-
hdap aspek-aspek tertentu saja, dengan mengu-
nakan istilah-istilah yang punya konotasi ter-
tentu, dan dengan bantuan foto, karikatur dan
ilustrasi lainya.
Konsep framing atau frame sendiri
bukan berasal dari ilmu Komunikasi, melain-
kan konsep yang dipinjam dari ilmu Kognitif.
Alex Sobur dalam bukunya Analisis Teks Me-
dia, menjelaskan dalam perspektif komunikasi,
analisis framing dipakai untuk membedah cara-
cara atau ideologi media saat mengkonstruksi
fakta.(Sobur, 2001, 162).
Frame pada awalnya dimaknai sebagai
struktur konseptual atau perangkat kepercay-
aan yang mengorganisir pandangan politik, ke-
bijakan dan wacana, dan menyediakan kategori-
kategori standar untuk mengapresiasi realitas.
(Sudibyo,2002,219).
Framing merupakan strategi pembentu-
kan dan operasionalisasi wacana media, karena
media massa pada dasarnya adalah wahana dis-
kusi atau koservasi tentang suatu masalah yang
melibatkan dan mempertemukan tiga pihak,
yakni wartawan, sumber berita dan khalayak.
Konsep framing dalam studi media ban-
yak mendapat pengaruh dari lapangan psikolo-
gi dan sosiologi.(Eriyanto, 2001,71). Eriyanto
selanjutnya menjabarkan mengenai kedua hal
yang mempengaruhi tersebut:
Pertama soal Dimensi Psikologis.
Framing sangat berhubungan dengan dimensi
psikologi. Framing adalah upaya atau strategi
yang dilakukan wartawan untuk menekankan
dan membuat pesan menjadi bermakna, lebih
mencolok, dan diperhatikan oleh publik. Upaya
membuat pesan (dalam hal ini teks berita) lebih
menonjol dan mencolok ini, pada taraf paling
awal tidak dapat dilepaskan dari aspek psikolo-
gis.
Secara psikologis, orang cenderung
menyederhanakan realitas dan dunia yang
kompleks itu bukan hanya agar lebih sederha-
na dan dapat dipahami, tetapi juga agar lebih
mempunyai perspektif/dimensi tertentu. Orang
cenderung melihat dunia ini dalam perspektif
tertentu, pesan atau realitas juga cenderung
dilihat dalam kerangka berpikir tertentu. Kare-
nanya, realitas yang sama bisa digambarkan se-
cara berbeda oleh orang yang berbeda, karena
orang mempunyai pandangan atau perspektif
yang berbeda pula (Eriyanto,2001,79-80).
Kedua soal Dimensi Sosiologis. Se-
74
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
lain psikologi, konsep framing juga banyak
mendapat pengaruh dari lapangan sosiologi.
Garis sosiologi ini terutama dapat ditarik dari
Alfred Schut, Erving Gofman hingga Peter L.
Berger.
Pada level sosiologis, frame dilihat teru-
tama untuk menjelaskan bagaimana organisasi
dari ruang berita dan pembuat nerita memben-
tuk secara bersama-sama. Ini menempatkan
media sebagai organisasi yang kompleks yang
menyertakan di dalamnya praktik professional.
Pendekatan semacam ini membedakan pekerja
media sebagai individu sebagai mana dalam
pendekatan psikologis. Melihat berita dan me-
dia seperti ini, berarti menempatkan berita seb-
agai institusi sosial. Berita ditempatkan, dicari,
dan disebarkan lewat praktik professional dalam
organisasi.
Karenanya, hasil dari suatu proses
berita adalah produk dari proses institusional.
Praktik ini menyertakan hubungan dengan
institusi dimana berita itu dilaporkan. Berita
adalah produk dari institusi social, dan melekat
dalam hubungannya dengan institusi lainnya.
Berita adalah produk dari profesionalisme yang
menentukan bagaimana peristiwa setiap hari
dibentuk dan dikonstruksi.
Penelitian ini menggunakan teknik
penelitian analisis framing dengan meminjam
model kerangka framing Pan dan Kosicki. Mod-
el ini berasumsi bahwa setiap berita mempunyai
frame yang berfungsi sebagai pusat organisasi
ide.
Frame merupakan suatu ide yang di-
hubungkan dengan elemen yang berbeda dalam
teks berita, kutipan sumber, latar informasi, pe-
makaian kata atau kalimat tertentu ke dalam
teks secara keseluruhan.
Frame berhubungan dengan makna.
Bagaimana seseorang memaknai suatu peris-
tiwa, dapat dilihat dari perangkat tanda yang
dimunculkan dalam teks.
2.5 Framing Pan dan Kosicki
Dalam pendekatan ini perangkat fram-
ing dibagi menjadi empat struktur besar. Per-
tama, struktur sintaksis, Kedua, struktur skrip,
Ketiga, struktur tematik; dan Keempat, struk-
tur retoris. (Sobur, 2001,176)
Struktur sintaksis bisa diamati dari
bagan berita. Sintaksis berhubungan dengan
bagaimana wartawan menyusun peristiwa
dan pernyataan. Opini, kutipan, pengamatan
atas peristiwa ke dalam bentuk susunan kisah
berita. Dengan demikian, struktur sintaksis ini
bisa diamati dari bagan berita (headline yang
dipilih, lead yang dipakai, latar informasi yang
dijadikan sandaran, sumber yang dikutip; dan
sebagainya).
Struktur skrip melihat bagaimana
strategi bercerita atau bertutur yang dipakai
wartawan dalam mengemas peristiwa. Struktur
tematik berhubungan dengan cara wartawan
mengungkapkan pandangannya atas peristiwa
ke dalam preposisi, kalimat, atau hubungan
antar kalimat yang membentuk teks secara kes-
eluruhan. Struktur ini akan melihat bagaimana
pemahaman itu diwujudkan ke dalam bentuk
yang lebih kecil.
Struktur retoris berhubungan den-
gan cara wartawan menekankan arti tertentu.
Dengan kata lain, struktur retoris melihat pe-
makaian pilihan kata, idiom, grafk, gambar,
yang juga dipakai guna memberi penekanan
pada arti tertentu.
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan pada
skripsi ini adalah metode penelitian kualitaif.
Menurut Sugiyono (2005 : 1) metode kualitatif
adalah metode penelitian yang digunakan un-
tuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah
(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana
peneliti adalah sebagai instrument kunci, tehnik
pengumpulan data dilakukan secara tringgulasi
(gabungan), analisis bersifat induktif dan hasil
penelitian kualitatif lebih menekankan makna
daripada generalisasi.
75
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
3.2. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data dilakukan oleh
peneliti sendiri peneliti pada penelitian kuali-
tatif bekerja sebagai perencana, pelaksana pen-
gumpulan data, analisis, penafsir dan pada
akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian
(Moleong, 2000 :121)
3.3 Paradigma Penelitian
Paradigma didefnisikan Guba sebagai ..........a
set of basic beliefs (or metaphysics) that deals
with ultimates or frst principles ......a world
view that defnes, for its holder, the nature of
the world ....., (dalam Denzin dan Lincoln,
1994:107).
Penelitian ini menggunakan paradigma
kritis dalam melihat bagaimana media meng-
konstruksi dan menggambarkan kisruh dibalik
wisma Atlit yang melibatkan petinggi Partai
Demokrat.
3.4. Jenis Penelitian
Dalam melihat konstruksi media menge-
nai citra partai democrat terkait kisruh wisna
Atlit peneliti menggunakan pendekatan pene-
litian kualitatif, yaitu suatu penelitian yang
dimaksudkan untuk memahami realitas yang
diteliti dengan pendekatan menyeluruh, tidak
melakukan pengukuran pada realitas.
Secara umum, makna pendekatan pene-
litian adalah cara pandang peneliti dalam
melihat permasalahan penelitian . Menurut
Denzin dan Lincoln (1994:4), istilah kualitatif
menunjuk pada suatu penekanan pada proses-
proses dan makna-makna yang tidak diuji atau
diukur secara ketat dari segi kuantitas, jumlah,
intensitas ataupun frekuensi.
Penelitian kualitatif memberi penekan-
an pada sifat bentukan sosial realitas, hubungan
akrab antara peneliti dan objek yang diteliti, dan
kendala-kendala situasional yang menyertai
penelitian. Penelitian kualitatif mencari jawa-
ban atas pertanyaan yang menekankan pada
bagaimana pengalaman sosial dibentuk. Suatu
penelitian kualitatif dilandasi oleh beberapa
asumsi dasar tentang realitas sosial, hubungan
peneliti dengan realitas sosial dan cara peneliti
mengungkap realitas sosial tersebut.Peneliti
kualitatif dapat mengungkap kebenaran ten-
tang realitas sosial yaitu dengan menangkap
pandangan subjektif dari orang yang diteliti.
Oleh karenanya, dalam penelitian
kualitatif hubungan antara peneliti dengan ob-
jek yang diteliti adalah hubungan yang setara
(Subjek-Subjek).
3.5. Pemilihan Media
Media yang dipilih dalam penelitian ini
adalah Media Indonesia online. Pemilihan me-
dia ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa
media tersebut memiliki latar belakang visi dan
misi serta ideologi yang berbeda dengan partai
demokrat sehingga menarik untuk diteliti.
3.6. Teknik Analisis Data
Dalam pendekatan ini, perangkat fram-
ing (Eriyanto,2002,176) dibagi menjadi empat
struktur besar. Pertama, struktur sintaksis,
Kedua, struktur skrip, Ketiga, struktur tema-
tik; dan Keempat, struktur retoris.
Struktur sintaksis bisa diamati dari
bagan berita. Sintaksis berhubungan dengan
bagaimana wartawan menyusun peristiwa
dan pernyataan. Opini, kutipan, pengamatan
atas peristiwa ke dalam bentuk susunan kisah
berita. Dengan demikian, struktur sintaksis ini
bisa diamati dari bagan berita (headline yang
dipilih, lead yang dipakai, latar informasi yang
dijadikan sandaran, sumber yang dikutip; dan
sebagainya).
Struktur skrip melihat bagaimana
strategi bercerita atau bertutur yang dipakai
wartawan dalam mengemas peristiwa.
Struktur tematik berhubungan dengan cara
wartawan mengungkapkan pandangannya
atas peristiwa ke dalam preposisi, kalimat, atau
hubungan antar kalimat yang membentuk teks
secara keseluruhan. Struktur ini akan meli-
hat bagaimana pemahaman itu diwujudkan ke
dalam bentuk yang lebih kecil.
76
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Struktur retoris berhubungan den-
gan cara wartawan menekankan arti tertentu.
Dengan kata lain, struktur retoris melihat pe-
makaian pilihan kata, idiom, grafk, gambar,
yang juga dipakai guna memberi penekanan
pada arti tertentu. Sintaksis. Dalam pengertian
umum; sintaksis adalah susunan kata atau frase
dalam kalimat. Dalam wacana berita, sintaksis
menunjuk pada pengertian susunan dari bagian
berita headline, lead, latar informasi, sumber,
penutup dalam satu kesatuan teks berita secara
keseluruhan. Bagian itu tersusun dalam bentuk
yang tetap dan teratur sehingga membentuk
skema yang menjadi pedoman bagaimana fakta
hendak disusun. Bentuk sintaksis yang paling
popular adalah struktur piramida terbalik yang
dimulai dengan judul headline, lead, episode,
latar, dan penutup. Dalam bentuk piramida
terbalik ini, bagian yang atas ditampilkan lebih
penting dibandingkan dengan bagian bawahn-
ya.
Elemen sintaksis memberi petunjuk
yang berguna tentang bagaimana wartawan
memaknai peristiwa dan hendak kemana berita
tersebut akan dibawa.
Headline merupakan aspek sintaksis
dari wacana berita dengan tingkat kemenonjo-
lan yang tinggi yang menunjukkan kecender-
ungan berita.
Skrip. Bentuk umum dari struktur skrip
ini adalah pola 5 W+1 H (who, what, when,
where, dan how). Meskipun pola ini tidak sela-
lu dapat dijumpai dalam setiap berita yang dit-
ampilkan, kategori informasi ini yang diharap-
kan diambil oleh wartawan untuk dilaporkan.
Unsur kelengkapan berita ini dapat menjadi
penanda framing yang penting.
Skrip adalah salah satu dari strate-
gi wartawan dalam mengkonstruksi berita:
bagaimana suatu peristiwa dipahami melalui
cara tertentu dengan menyusun bagian-bagian
dengan urutan tertentu.
Tematik. Struktur tematik dapat diamati
dari bagaimana peristiwa itu diungkapkan atau
dibuat oleh wartawan. Di sini, berarti struktur
tematik berhubungan dengan bagaimana fakta
itu ditulis oleh seorang wartawan. Ada beber-
apa elemen yang dapat diamati dari perangkat
tematik, antara lain :
Detail. Elemen wacana detail berhubun-
gan dengan control informasi yang ditampilkan
seseorang (komunikator). Hal yang mengun-
tungkan komunikator/pembuat teks akan diu-
raikan secara detail dan terperinci, sebaliknya
fakta yang tidak menguntungkan detail infor-
masinya akan dikurangi.
Maksud. Elemen maksud melihat infor-
masi yang menguntungkan komunikator akan
diuraikan secara eksplisit dan jelas, yakni me-
nyajikan informasi dengan kata-kata yang tegas
dan menunjuk langsung kepada fakta. Seba-
liknya informasi yang merugikan akan diurai-
kan secara tersamar, implisit dan tersembunyi
dengan menyajikan informasi yang memakai
kata tersamar, eufemistik dan berbelit-belit.
Nominalisasi. Elemen nominalisasi ber-
hubungan dengan pertanyaan apakah komuni-
kator memandang objek sebagai sesuatu yang
tunggal (berdiri sendiri) ataukah sebagai suatu
kelompok (komunitas). Nominalisasi dapat
memberi kepada khalayak adanya generalisasi.
Koherensi: pertalian atau jalinan antar
kata, preposisi atau kalimat. Dua buah kalimat
atau preposisi yang menggambarkan fakta yang
berbeda dapat dihubungkan dengan menggu-
nakan koherensi, sehingga fakta yang tidak ber-
hubungan sekalipun dapat menjadi berhubun-
gan ketika seseorang menghubungkannya.
Bentuk Kalimat. Bentuk kalimat me-
nentukan makna yang dibentuk oleh susunan
kalimat. Dalam kalimat yang berstruktur ak-
tif, seseorang menjadi subjek dari pernyataan-
nya, sedangkan dalam kalimat pasif seseorang
menjadi objek dari pernyataannya. Termasuk ke
dalam bagian bentuk kalimat ini adalah apakah
berita itu memakai bentuk deduktif atau in-
duktif. Dalam bentuk kalimat deduktif, aspek
kemenonjolan lebih kentara, sementara dalam
bentuk induktif inti dari kalimat ditempatkan
tersamar atau tersembunyi.
77
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Kata ganti. Elemen kata ganti meru-
pakan elemen untuk memanipulasi bahasa den-
gan menciptakan suatu imajinasi. Kata ganti
merupakan alat yang dipakai oleh komunikator
untuk menunjukkan dimana posisi seseorang
dalam wacana.
Retoris. Struktur retoris dari wacana
berita menggambarkan pilihan gaya atau kata
yang dipilih oleh wartawan untuk menekank-
an arti yang ingin ditonjolkan oleh wartawan.
Wartawan menggunakan perangkat retoris un-
tuk membuat citra, meningkatkan kemenonjo-
lan pada sisi tertentu dan meningkatkan gam-
baran yang diinginkan dari suatu berita.
Struktur retoris dari wacana berita
juga menunjukkan kecenderungan bahwa apa
yang disampaikan tersebut adalah suatu ke-
benaran. Ada beberapa elemen struktur retoris
yang dipakai oleh wartawan. Yang paling pent-
ing adalah leksikon, pemilihan dan pemakaian
kata-kata tertentu untuk menandai atau meng-
gambarkan peristiwa. Leksikon, pemilihan dan
pemakaian kata yang dipakai tersebut tidak
dipakai semata-mata hanya karena kebetu-
lan, tetapi juga secara ideologis menunjukkan
bagaimana pemaknaan seseorang terhadap fak-
ta/realitas.
Selain lewat kata, penekanan pesan
dalam berita juga dapat dilakukan dengan
menggunakan unsur grafs. Dalam wacana
berita, grafs ini biasanya muncul lewat bagian
tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan
lain. Elemen grafk memberikan efek kognitif, ia
mengontrol perhatian dan ketertarikan secara
intensif dan menunjukkan apakah suatu infor-
masi itu dianggap penting dan menarik sehing-
ga harus dipusatkan/difokuskan.
Elemen struktur retoris lainnya adalah
pengandaian. Elemen wacana pengandaian
merupakan pernyataan yang digunakan untuk
mendukung makna suatu teks. Pengandaian
adalah upaya mendukung pendapat dengan
memberikan premis yang dipercaya kebenara-
nnya. Pengandaian hadir dengan pernyataan
yang dipandang terpercaya dan karenanya ti-
dak perlu dipertanyakan.
Dalam menyampaikan wacana,
wartawan tidak hanya menyampaikan pesan
pokok lewat teks, tetapi juga kiasan, ungkapan
dan metafora yang dimaksudkan sebagai orna-
ment atau bumbu dari suatu berita. Pemakaian
metafora tertentu juga bisa menjadi petun-
juk utama untuk mengerti makna suatu teks.
Metafora itu menjadi landasan berpikir, alasan
pembenar atau bahkan bahan yang ditekankan
kepada publik, karenanya metafora merupakan
salah satu elemen dalam struktur retoris.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1. Deskripsi Objek Penelitian :Media Indo-
nesia
Media Indonesia pertama kali diterbit-
kan pada tanggal 19 January 1970. Sebagai
surat kabar umum pada masa itu, Media Indo-
nesia baru bisa terbit 4 halaman dengan tiras
yang amat terbatas. Berkantor di Jl. MT. Hary-
ono, Jakarta, disitulah sejarah panjang Media
Indonesia berawal. Lembaga yang menerbitkan
Media Indonesia adalah Yayasan Warta Indone-
sia.
Tahun 1976, surat kabar ini kemudian
berkembang menjadi 8 halaman. Sementara
itu perkembangan regulasi di bidang pers dan
penerbitan terjadi. Salah satunya adalah pe-
rubahan SIT (Surat Izin Terbit) menjadi SI-
UPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Kare-
na perubahan ini penerbitan dihadapkan pada
realitas bahwa pers tidak semata menanggung
beban idealnya tapi juga harus tumbuh sebagai
badan usaha.
Dengan kesadaran untuk terus maju,
pada tahun 1988 Teuku Yousli Syah selaku
pendiri Media Indonesia bergandeng tangan
dengan Surya Paloh, mantan pimpinan surat
kabar Prioritas. Dengan kerjasama ini, dua
kekuatan bersatu : kekuatan pengalaman ber-
gandeng dengan kekuatan modal dan sema
ngat. Maka pada tahun tersebut lahirlah Me-
dia Indonesia dengan manajemen baru dibawah
78
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
PT. Citra Media Nusa Purnama.
Surya Paloh sebagai Direktur Utama se-
dangkan Teuku Yousli Syah sebagai Pemimpin
Umum, danPemimpin Perusahaan dipegang
oleh Lestary Luhur. Sementara itu, markas u
saha dan redaksi dipindahkan ke Jl. Gondandia
Lama No. 46 Jakarta.
Awal tahun 1995, bertepatan dengan
usianya ke 25 Media Indonesia menempati kan-
tor barunya di Komplek Delta Kedoya, Jl. Pilar
Mas Raya Kav.A-D, Kedoya Selatan, Jakarta
Barat. Di gedung baru ini semua kegiatan di
bawah satu atap, Redaksi, Usaha, Percetakan,
Pusat Dokumentasi, Perpustakaan, Iklan,
Sirkulasi dan Distribusi serta fasilitas penun-
jang karyawan.
Tahun 1997, Djafar H. Assegaf yang
baru menyelesaikan tugasnya sebagai Duta Be-
sar di Vietnam dan sebagai wartawan yang per-
nah memimpin beberapa harian dan majalah,
serta menjabat sebagai Wakil Pemimpin Umum
LKBN Antara, oleh Surya Paloh dipercayai un-
tuk memimpin harian Media Indonesia sebagai
Pemimpin Redaksi. Saat ini Djafar H. Assegaf
dipercaya sebagai Corporate Advisor.
Para pimpinan Media Indonesia saat
ini adalah : Direktur Utama dijabat oleh Les-
tari Moerdijat, Direktur Pemberitaan dijabat
olehUsman Kansong dan di bidang usaha dip-
impin oleh Alexander Stefanus selaku Direktur
Pengembangan Bisnis.
4.2. Hasil Penelitian
Dari sejumlah berita yang dianalisis peneliti
mendapatkan temuan sebagai berikut:
Kamis, 10 2011 16:45 WIB
Kasus Proyek Wisma Atlit
Nazaruddin: Anas Koruptornya
Penulis : Amahl S Azwar
(MI/M Irfan/rj) JAKARTA--MICOM:
Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat
Muhammad Nazaruddin kembali menyerang
bekas koleganya, Ketua Umum Partai De-
mokrat Anas Urbaningrum. Ia menyebut Anas
sebagai koruptor sekaligus otak dalam kasus
suap wisma Atlit.
Memang Anas (Urbaningrum) korup-
tornya, ujar Nazaruddin yang didampingi
kuasa hukumnya, Elza Syarief, usai penyera-
han fsik dirinya sebagai tersangka kasus wisma
Atlit ke penuntutan oleh penyidik Komisi Pem-
berantasan Korupsi, Kamis (10/11).
Nazaruddin sebelumnya mendatangi
KPK sekitar pukul 13:15 WIB untuk menan-
datangani dokumen pelimpahan berkas ke
penuntutan. Menurut mantan anggota DPR
itu, Anas merupakan pihak yang layak menjadi
tersangka baru di kasus suap wisma Atlit.
Saat ditanya mengenai dugaan aliran
dana dari proyek wisma Atlit ke partai-partai
politik, Nazaruddin kembali melempar bola
panas ke Anas Urbaningrum. Menurut dia,
Anas merupakan pihak yang mengomandoi se-
luruh pergerakan di kasus wisma Atlit.
Tanyakan saja ke Pak Anas. Pak Anas
yang tahu. Karena, itu semua dia yang memer-
intahkan, sambung dia.
Meskipun demikian, Nazaruddin me-
milih bungkam saat ditanya mengenai nama-
nama politikus lain yang layak menjadi ter-
sangka.
Seperti diketahui, beberapa nama yang
pernah dipanggil KPK sebagai saksi untuk ka-
sus wisma Atlit adalah anggota DPR I Wayan
Koster (Fraksi PDI-Perjuangan) dan Angelina
Sondakh (Partai Demokrat). Nazaruddin tidak
berkomentar mengenai bekas rekannya di parle-
men itu.
Tanyakan saja ke KPK, tukasnya se-
belum memasuki mobil tahanan. (SZ/OL-10)
79
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Analisis Berita 1.
Judul: NAZARUDDIN :
ANAS KORUPTORNYA
struktur perangkat
framing
unit yang dia-
mati
bukti dalam teks
sintak-
sis
Skemaberita Headline Nazaruddin: Anas Koruptornya
Lead Mantan bendahara Umum Partai Demokrat Muhamad
Nazaruddin kembali menyerang bekas koleganya, Ketua
Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Ia menyebut
Anas sebagai koruptor sekaligus otak dalam kasus suap
wisma Alet
Latar Informasi Ada keterkaitan erat Anas dalam kasus korupsi wisma Atlit
Pengutipan nara-
sumber
Yang dikutip oleh media ini adalah Mantan bendahara Partai
Demokrat, Nazaruddin
Penutup Penutup yang dipakai adalah penutup yang menggantung: Tan-
yakan saja ke KPK, tukasnya sebelum memasuki mobil tahanan
Skrip Kelengkapan
berita
who
What
Where
why
How
Nazaruddin
Menyebut Anas Urbaningrum Koruptor dalam kasusWis-
ma Atlit
di gedung KPK Jakarta
karena Anas merupakan pihak yang mengomandoi seluruh
pergerakan dari kasus wisma Atlit
Media menyebut Nazaruddin seolah hanya melempar bola panas,
yang coba dikaitkan dengan petingi Partai Demokrat
Tematik Detail Elemen wacana
detail berhubun-
gan dengan
kontrol informasi
yang ditampilkan
seseorang (komu-
nikator)
meski melempar bola panas, Media mengambarkan
Nazaruddin tak mau menyebutkan informasi terkait
dengan dugaan pelaku suap di tubuh Partai Demokrat
secara langsung. Bahkan dia meminta pers agar langsung
menanyakan hal tersebut kepada Anas
(paragraf kelima dari atas)
maksud
kalimat
Maksud dari kalimat itu adalah ada keterkaitan kasus
wisma Atlit dengan petinggi Partai Demokrat khususnya
Anas Urbaningrum mengingat posisi Anas sebagai ketua,
adalah menjadi komandan
Nominalisasi Elemen nomina
lisasi berhubungan
dengan pertanyaan
apakah komunikator
memandang objek
sebagai sesuatu yang
tunggal (berdiri
sendiri) ataukah se
bagai suatu kelom-
pok (komunitas).
Ketua Umum Partai Demokrat
koherensi saat ditanya......(paragraf 4 dari atas)
meskipun demikian...(paragraf 6 dari atas)
seperti diketahui....(paragraf 7 )
Bentuk
kalimat
kalimat aktif
....menyerang..(paragraf 1)
....mendatangi KPK (paragraf 3)
....kembali melempar (paragraf 4 )
....memilih bungkam (paragraf 6)
Kalimat Pasif
....saat ditanya (paragraf 4)
....seperti diketahui (paragraf 7)
80
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Retoris Grafs gambar/foto diperkuat dengan foto Nazaruddin yang tengah berbicara
dengan mata serta raut wajah bersemangat
Metafor kata-kata ungkapan sebagai otak...(paragraf 1)
melempar bola panas...
Framing berita 2:
Kamis, 10 2011 17:00 WIB
Kasus Proyek Wisma Atlit
Nazaruddin Serang Anas, Ketua KPK No
Comment
Penulis : Amahl S Azwar

JAKARTA--MICOM: Ketua Komisi Pember-
antasan Korupsi Busyro Muqoddas memilih
untuk tidak berkomentar alias no comment saat
dimintai tanggapan tentang tuduhan terakhir
tersangka kasus wisma Atlit Muhammad Naza-
ruddin.
Sebelumnya diberitakan, mantan ben-
dahara umum Partai Demokrat itu menyebut
Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urban-
ingrum patut menjadi tersangka sebelumnya
pada kasus suap tersebut.
Saya no comment saja, ujar Busyro,
dalam pesan singkat yang diterima Media In-
donesia, Kamis (10/11).
Nazaruddin sebelumnya menuding
Anas sebagai sebagai koruptor sekaligus otak
dalam kasus suap terhadap Sekretaris Kement-
erian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora). Hal
ini diutarakan Nazaruddin setelah penyerahan
fsik dirinya sebagai tersangka kasus wisma
Atlit ke penuntutan oleh penyidik KPK, Kamis
(10/11) hari ini.
Di sela-sela peluncuran bukunya di ge-
dung Komisi Yudisial, Selasa (8/11), Busyro
mengatakan lembaga pemburu koruptor itu
membuka kemungkinan adanya tersangka baru
di dalam kasus suap wisma Atlit.
Saat didesak, mantan ketua Komisi Yudisial
itu mengatakan tersangka berikutnya berasal
dari kalangan kader partai politik.
Seperti diketahui, beberapa nama yang
pernah dipanggil KPK sebagai saksi untuk ka-
sus wisma Atlit adalah anggota DPR I Wayan
Koster (fraksi PDI-Perjuangan) dan Angelina
Sondakh (Partai Demokrat). KPK juga pernah
memanggil politikus Demokrat, Andi Malla-
rangeng yang juga Menteri Pemuda dan Olah-
raga.
Meskipun demikian, Busyro pada Selasa (8/11)
mengatakan belum tentu nama-nama yang per-
nah dipanggil KPK bakal menjadi tersangka
baru kasus wisma Atlit. (SZ/OL-10)
81
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
Struktur Perangkat
Framing
Unit yang diamati Bukti dalam teks
SINTAKSIS SKEMA
BERITA
headline KASUS PROYEK WISMA ATLET
NAZARUDDIN SERANG ANAS,KETUA KPK
NO COMMENT
Lead Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro
Muqoddas memilih untuk tidak berkomentar alias no
Comment saat dimintai tanggapan tentang tuduhan
terakhir tersangka kasus Wisma Atlit Muhammad
Nazaruddin.
Latar Informasi Sebelumnya Nazaruddin mengatakan bahwa Anas
adalah koruptor dalam kasus wisma Atlit karena dia
adalah sebagai ketua partai yang mengomandani
semuanya
pengutipan
narasumber
Mengutip Ketua KPK Busyro Muqoddas meski yang
bersangkutan tidak berkomentar alias no comment
Penutup Meskipun demikian, Busyro padaSelasa (8/11)
mengatakan belum tentu nama-nama yang pernah
dipanggil KPK bakal menjadi tersangka baru kasus
Wisma Atlit
SKRIP Kelengkapan
berita
who
what
where
When
why
How
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Busyro
Muqoddas
Tidak berkomentar atas tudingan Nazaruddin soal
keterlibatan Anas dalam kasus korupsi Wisma Atlit
Di gedung Komisi Yudisial Jakarta
Kamis 10/11
tak ada tanggapan
Dia memilih no comment, dalam pesan singkat yang
diterima Media Indonesia, Kamis 10/11
Tematik Detail Tidak ada detail mengingat isu utama dari Media soal
keterlibatan Anas tidak ditanggapi oleh ketua KPK
RETORIS Leksikon Idiom No comment
Tuduhan terakhir
Koruptor sekaligus otak (paragraf 4)
Tersangka baru (paragraf 8)
Metafor Sekaligus otak dalam kasus suap (paragraf 4)
Pemburu koruptor (paragraf 5)


Framing berita :
Media Indonesia membingkai pemberitaan meski Nazaruddin bernyanyi dan menyerang Anas
Urbaningrum Ketua KPK tidak berkomentar.
82
CITRA PARTAI DEMOKRAT DI MEDIA CETAK Yoyoh Hereyah
Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara
4.3. Pembahasan
Dari dua berita yang dianalisis menggunakan
framing Pan Kosciki, jelas terlihat ada upaya
menggiring opini bahwa seharusnya KPK juga
menyentuh Anas Urbaningrum, karena secara
logis sebagai ketua umum Partai Demokrat,
tidak mungkin dia tidak mengetahui apa pun
yang terjadi di partainya.
Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Dari sisi sintaksis dan Skrip, terlihat
jelas pemilihan narasumber, lead dan headline
media Indonesia mengarah pada pencitraan
negative terhadap Anas Urbaningrum sebagai
ketua Umum Partai Demokrat
Framing pertama, Media Indonesia
membingkai persoalan tudingan Nazaruddin
bahwa Anas terlibat dalam kasus korupsi Wis-
ma Atlit, bahkan Anas adalah koruptor karena
dialah pihak yang mengomandoi semua yang
terlibat dalam proyek tersebut.
Framing: Media Indonesia membingkai
pemberitaan meski Nazaruddin bernyanyi dan
menyerang Anas Urbaningrum Ketua KPK ti-
dak berkomentar.
5.2 Saran
Penelitian ini bisa dikembangkan men-
jadi lebih mendalam dengan menggunakan par-
adigm kritis atau menggunakan Teknik Anali-
sis Wacana Kritis, mengingat persoalan ada apa
dibalik pemberitaan macam itu agak suit bila
hanya dilihat dari analisis teks semata.
DAFTAR PUSTAKA
Berger, Peter & Thomas,1967 The Social Con-
struction of Reality: A Treatise in the
Sociological of Knowledge.NY, A Double
Day Anchor Book
Bungin, Burhan,2008 Konstruksi Sosial Media
Massa Realitas Sosial Media, Iklan
Televisi & Keputusan Konsumen Serta
Kritik Terhadap Peter L. Berger &
Thomas Luckman , Prenada Media
Chesney,Robert, (1998) Konglomerasi Media
Massa dan ancaman terhadap
Demokrasi:Aliansi Jurnalis Independen.
Curran, James. (1997). Mass Media and De-
mocracy: A Reappraisal. James Curran
And Michael Gurevitch (ed), Mass
Media and Society. Third Edition.
London: Arnold
Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln,
eds., 1994, Handbook of Qualitative Research,
Thousand Oaks, CA: Sage
Eriyanto, 2002, Analisis Wacana: Pengantar
Analisis Teks Media, LKiS, Jakarta

Hamad, Ibnu 2004,Konstruksi Realitas Politik
dalam Media Massa : Sebuah studi
Critical Discourse Analysis Terhadap
Berita-berita Politik, Jakarta:Granit
Hardt, Hanno, 2007, Myths for the Masses: An
Essay on Mass Communication,
Wiley-Blackwell
Hartley,John (1982) Understanding News,
London & New York:
Lexy J Moleong, 2000, Metodelogi Penelitian
Kualitatif, Rosda Karya.
Bandung
Sobur, Alex, 2003, Semiotika Komunikasi,
Bandung
Sobur, Alex, Analisis Teks Media
Sugiyono. 2005, Memahami Penelitian Kuali-
tatif. Bandung ; CV
Alfabeta
83
Jurnal Ilmu Komunikasi
JURNAL ULTIMACOMJURNAL ULTIMACOMM
ISSN 1979-1232

Anda mungkin juga menyukai