Anda di halaman 1dari 24

6

B A B II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pelecehan Seksual
2.1.1 Pengertian
a. Pelecehan/Kekerasan
Pelecehan atau kekerasan dalam arti Kamus Bahasa Indonesia adalah suatu
perihal yang bersifat, berciri keras, perbuatan seseorang yang menyebabkan cedera
atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain,
atau ada paksaan. Dari penjelasan di atas, pelecehan merupakan wujud perbuatan
yang lebih bersifat fisik yang mengakibatkan luka, cacat, sakit atau penderitaan orang
lain. Salah satu unsur yang perlu diperhatikan adalah berupa paksaan atau
ketidakrelaan atau tidak adanya persetujuan pihak lain yang dilukai (Usman dan
Nachrowi, 2004).
b. Seksualitas
Defenisi seksualitas yang dihasilkan dari Konferensi APNET (Asia Pasific
Network For Social Health) di Cebu, Filipina 1996 mengatakan seksualitas adalah
sekpresi seksual seseorang yang secara sosial dianggap dapat diterima serta
mengandung aspek-aspek kepribadian yang luas dan mendalam. Seksualitas
merupakan gabungan dari perasaan dan perilaku seseorang yang tidak hanya
didasarkan pada ciri seks secara biologis, tetapi juga merupakan suatu aspek
kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan dari aspek kehidupan yang lain
(Semaoen, 2000).
6
7

Menurut Depkes RI pengertian seksualitas adalah suatu kekuatan dan
dorongan hidup yang ada diantara laki-laki dan perempuan, dimana kedua makhluk
ini merupakan suatu sistem yang memungkinkan terjadinya keturunan yang sambung
menyambung sehingga eksistensi manusia tidak punah (Abineno, 1999).
Di dalam pengertian tersebut diatas terdapat 2 aspek dari seksualitas yaitu :
1. Seksualitas dalam arti sempit
Dalam arti sempit seks berarti kelamin. Yang termasuk dalam kelamin adalah
sebagai berikut :
a) Alat kelamin itu sendiri.
b) Kelenjar dan hormon-hormon dalam tubuh yang mempengaruhi bekerjanya
alat-alat kelamin.
c) Anggota-anggota tubuh dari ciri-ciri badaniah lainnya yang membedakan laki-
laki dan wanita ( misalnya perbedaan suaru, pertumbuhan kumis dan payudara
dari sebagainya ).
d) Hubungan kelamin (senggama/percumbuan).
e) Proses pembuahan, kehamilan dan kelahiran (termasuk pencegahan kehamilan
atau yang lebih dikenal dengan istilah KB).
2. Seksualitas dalam arti luas
Yaitu segala hal yang terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan jenis kelamin,
antara lain :
a) Perbedaan tingkah laku : lembut, kasar, genit dan lain-lain.
b) Perbedaan atribut : pakaian, nama dan lian-lain.
c) Perbedaan peran dan lain-lain.
8

c. Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi
atau mengarah kepada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak
diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan reaksi negatif
seperti malu, marah, benci, tersinggung, dan sebagainya pada diri individu yang
menjadi korban pelecehan tersebut. Rentang pelecehan seksual ini sangat luas, yakni
meliputi: main mata, siulan nakal, komentar berkonotasi seks atau gender, humor
porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan
tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan iming-iming atau
ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual hingga perkosaan. Pelecehan seksual
bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Meskipun pada umumnya para korban
pelecehan seksual adalah kaum wanita, namun hal ini tidak berarti bahwa kaum pria
kebal (tidak pernah mengalami) terhadap pelecehan seksual (Irfan, 2001).
Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, seperti di bus,
pabrik, supermarket, bioskop, kantor, hotel, trotoar, baik siang maupun malam.
Pelecehan seksual di tempat kerja seringkali disertai dengan janji imbalan pekerjaan
atau kenaikan jabatan. Bahkan bisa disertai ancaman, baik secara terang-terangan
ataupun tidak. Kalau janji atau ajakan tidak diterima bisa kehilangan pekerjaan, tidak
dipromosikan, atau dimutasi. Pelecehan seksual bisa juga terjadi tanpa ada janji atau
ancaman, namun dapat membuat tempat kerja menjadi tidak tenang, ada permusuhan,
penuh tekanan (Anonim, 2008).


9

2.1.2 Tipe-Tipe Pelecehan Seksual.
Meski berbagai kalangan berbeda pendapat dan pandangan mengenai
pelecehan seksual, namun secara umum kriteria pelecehan seksual yang dapat
diterima akal sehat, antara lain memiliki 10 tipe-tipe pelecehan seksual seperti ini :
1. Main mata atau pandangan yang menyapu tubuh, biasanya dari atas kebawah bak
mata keranjang penuh nafsu.
2. Siulan nakal dari orang yang dikenal atau tidak dikenal.
3. Bahasa tubuh yang dirasakan melecehkan, merendahkan dan menghina.
4. Komentar yang berkonotasi seks. Atau kata-kata yang melecehkan harga diri,
nama baik, reputasi atau pencemaran nama baik.
5. Mengungkapkan gurauan-gurauan bernada porno (humor porno) atau lelucon-
lelucon cabul.
6. Bisikan bernada seksual.
7. Menggoda dengan ungkapan-ungkapan bernada penuh hasrat.
8. Komentar/perlakuan negatif yang berdasar pada gender.
9. Perilaku meraba-raba tubuh korban dengan tujuan seksual.
a) Cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu.
b) Meraba tubuh atau bagian tubuh sensitif.
c) Menyentuh tangan ke paha.
d) Menyentuh tangan dengan nafsu seksual pada wanita
e) Memegang lutut tanpa alasan yang jelas
f) Menyenderkan tubuh ke wanita
10

g) Memegang tubuh, atau bagian tubuh lain dan dirasakan sangat tidak nyaman
bagi korban.
h) Menepuk-nepuk bokong perempuan
i) Berusaha mencium atau mengajak berhubungan seksual.
j) Mencuri cium dan kabur
k) Gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual
l) Ajakan berkencan dengan iming-iming
m) Ajakan melakukan hubungan seksual
10. Pemaksaan berhubungan seksual dengan iming-iming atau ancaman kekerasan
atau ancaman lainnya agar korban bersedia melakukan hubungan seksual, dan
sebagainya. Perkosaan adalah pelecehan paling ekstrem (Anonim, 2008).
2.1.3 Bentuk Pelecehan Seksual.
Adapun bentuk-bentuk yang terjadi pelecehan seksual terhadap pekerja anak
wanita di Kecamatan Kota Kisaran Timur adalah seorang pekerja anak wanita
berusaha mencium, memukul patat, meraba paha, mengajak berkencan dengan
memberikan imbalan, memaksa melakukan hubungan seksual dengan ancaman
(Survei Pendahuluan, 2009).
2.1.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelecehan Seksual Terhadap
Pekerja Anak.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pelecehan seksual terhadap pekerja
anak wanita (Usman dan Nachrowi, 2004) yaitu : umur, pendidikan, pekerjaan,
hubungan sosial dengan lingkungan, waktu kerja, fasilitan pekerja, pengetahuan,
pendapatan, dan berdasarkan pada saat survei pendahuluan sebagai berkut : pakaian,
11

teknologi, keluarga, kejiwaan, sikap, postur tubuh, imbalan, ancaman, perlindungan
keluarga, kebudayaan, agama, dan kebiasaan pimpinan.
a. Umur Anak
Menurut ILO, memberi batasan pekerja anak yaitu pekerja yang berumur
dibawah 18 tahun. Berdasarkan data dari BPS jumlah pekerja anak pada usia <18
tahun (61,79%) lebih tinggi dari pekerja anak >18 tahun (38,21%) tahun 2008 ( BPS,
2008).
b. Pendidikan
Pendidikan adalah proses menuju keperubahan perilaku masyarakat dan akan
memberi kesempatan pada individu untuk menemukan ide/nilai baru. Pendidikan
mempengaruhi sikap dan tingkah laku manusia (Notoatmodjo, 2005).
Berdasarkan data dari BPS 2008 menunjukan bahwa penduduk Asahan
umunya mempunyai pendidikan masih rendah. Bila dilihat dari persentase tertinggi
adalah tidak pernah sekolah/tidak tamat SD (32,77%), Tamat SD (29,24%), Tamat
SLTP ( 20,42 %), Tamat SLTA (15,46%), Sarjana (1,66%) dan Diploma (0,45%).
c. Pekerjaan
Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh anak secara rutin dan terus
menerus di luar rumah dan menghasilkan uang. Berdasarkan data pekerjaan dari BPS
2008, ternyata sebagian besar anak-anak bekerja sebagai pekerja keluarga/ PRT
(pembantu rumah tangga) sebesar 20,4 %, anak jalanan sebesar 16,6%, pekerja
pabrik roti sebesar 14,71%, karyawan toko sebesar 12,44%, asongan kreta api sebesar
10,56%, pemulung sebesar 8,71% dan 16,59% (asongan terminal dan berlayar).

12

d. Hubungan Sosial dengan Lingkungannya
Adapun hubungan sosial pekerja anak wanita dengan lingkungannya
ditunjukkan berdasarkan hubungan dengan atasan, dan hubungan teman.
e. Waktu Kerja
Dalam bidang ketenagakerjaan waktu kerja normal seorang pekerja dewasa
adalah 35 jam per minggu. Sedangkan untuk anak-anak, dengan mengacu pada
Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 1 tahun 1987, yang membatasi anak untuk
bekerja 3 jam sehari, maka batasan jam kerja anak yang ditoleri adalah 20 jam per
minggu. (Usman dan Nachrowi, 2004)
f. Fasilitas Pekerjaan
Dalam hal fasilitas pekerjaan, mereka mendapatkan apa yang didapatkan oleh
pekerja pada tingkatan yang sama. J ika merasakan sakit di tempat kerja, mereka akan
dibawa berobat dan pekerja anak juga mendapatkan tunjungan, baik secara terbuka
dan tertutup, salah satu contoh tunjuangan hari raya. (Usman dan Nachrowi, 2004).
g. Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu pemahaman anak atau hasil dari tahu dan ini terjadi
setelah penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengar, penciuman, rasa dan raba
(Ellisman, 2002).
h. Pendapatan
Pendapatan adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk
uang sebagai imbalan dari pengusaha kepada pekerja atas suatu pekerjaan atau jasa
yang telah atau akan dilakukan, ditetapkan, dan dibayarkan menurut suatu perjanjian
13

kerja kesepakatan, atau peraturan perundang-undang, termasuk tunjangan bagi
pekerja dan keluarganya (Anonim, 2008).
i. Pakaian
Pakaian adalah suatu alat penutup tubuh manusia atau seorang pekerja.
Pakaian juga merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya pelecehan seksual.
Adapun pakaian yang dipakai oleh pekerja seperti baju ketat, celana/rok pendek
bahkan cuma memakai tank top.
j. Teknologi
Berdasarkan hasil wawancara, bahwa Teknologi merupakan pengembangan
dan aplikasi dari alat, mesin, material, dan proses yang menolong manusia
menyampaikan masalahnya. Teknologi juga dapat merusak manusia, contohnya,
penyalagunaan teknologi dengan mengakses informasi yang dapat membuat
masyarakat menjadi jahat. Contohnya mengakses adegan pornografi dan pornoaksi.
k. Keluarga
Berdasarkan hasil wawancara, bahwa keluarga merupakan suatu motivasi atau
arahan kepada si pekerja anak dalam menjalani kehidupan.
l. Kejiwaan
Berdasarkan hasil wawancara, bahwa kejiwaan adalah sebuah gejala normal
dimana seseorang yang mendapatkan preasure atau tekanan yang memungkinkan
orang tersebut tidak mampu menahannya, hingga timbulnya amarah.



14

m. Sikap
Berdasarkan hasil wawancara, bahwa sikap adalah perasaan seseorang tentang
obyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang
merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang
pada sesuatu.
n. Postur Tubuh
Berdasarkan hasil wawancara, bahwa Postur tubuh adalah bentuk lekukan
tubuh mulai dari atas kepala sampai ujung kaki. Postur tubuh merupakan salah satu
faktornya, sebab postur tubuh yang ideal akan lebih mudah terjadinya pelecehan
seksual terhadap pekerja anak wanita. Contohnya postur tubuh yang seksi.
o. Imbalan
Berdasarkan hasil wawancara, imbalan merupakan upah yang wajib terima
atau berhak memperoleh bayaran karena telah melakukan pekerjaan yang sesuai.
Adapun imbalan yang diperoleh pekerja anak tersebut tidak sesuai. Adapun cara
untuk memperoleh imbalan tinggi dengan melakukan permintaan, baik permintaan
dengan cara paksaan atau kemauan sendiri.
p. Ancaman
Berdasarkan hasil wawancara, bahwa ancaman merupakan suatu faktor
terjadinya pelecehan seksual. Apabila si pekerja anak tidak melakukan permintaan,
akan diancam dengan dikeluarkan dari pekerjaan.



15

q. Perlindungan Keluarga
Berdasarkan hasil wawancara, bahwa perlindungan keluarga sangat
dibutuhkan, dimana si pekerja anak tidak merasa takut atau bimbangan, apabila si
pekrja melakukan hal yang tidak wajar.
r. Kebudayaan
Berdasarkan hasil wawancara, bahwa kebudayaan merupakn awal bentuk
yang berkaitan dengan budi dan akal penelitian.
s. Agama
Agama adalah pedoman hidup atau penuntun hidup. Berdasarkan hasil
wawancara, pekerja anak wanita yang banyak terkena pada agama muslim.
t. Kebiasaan Pimpinan
Berdasarkan hasil wawancara, bahwa kebiasaan pimpinan merupakan salah
satu faktor terjadiya pelecehan seksual. Dimana kebiasaan pimpinan harus
dilakukan, apabila tidak si pekerja anak wanita tersebut akan mendapat saksi.
Salah satu kebiasaan pimpinan adalah egois atau mau menang sendiri
2.2. Pekerja Anak
2.2.1. Defenisi Pekerja Anak
Secara umum pekerja anak atau buruh anak adalah anak-anak yang
melakukan pekerjaan secara rutin untuk orang tuanya, untuk orang lain atau untuk
dirinya sendiri yang membutuhkan sejumlah besar waktu, dengan menerima imbalan
atau tidak. Sementara itu, batasan usia anak ternyata cukup variatif. UU Nomor
25/1997 tentang Ketenagakerjaan ayat 20 menyebutkan bahwa yang dimaksud anak
adalah orang laki-laki atau perempuan yang berumur kurang dari 15 tahun. BPS
16

dalam penyajian data statistik membatasi pekerja anak sebagai penduduk yang
berumur 10-14 tahun. Menurut ILO memberi batasan pekerja anak lebih luas, yaitu
pekerja yang berumur di bawah 18 tahun.
Dengan definisi anak sebagai penduduk usia 10-14 tahun, pada tahun 2003
Indonesia memiliki 566,5 ribu pekerja anak atau 2,8 persen terhadap total anak pada
usia tersebut. Angka ini lebih rendah dibanding tahun 2001, yaitu sebanyak 948,7
jiwa (4,6 persen). J ika dipisahkan antara daerah perdesaan dan perkotaan, terlihat
bahwa proporsi pekerjaan anak lebih tinggi di perdesaan. Namun di keduanya, terjadi
penurunan proporsi pekerja anak secara konsisten. Penurunan jumlah pekerja anak
juga terjadi di Kutai Kartanegara. Pada tahun 2000 jumlah pekerja anak adalah
sebesar 11.632 anak. Angka ini turun menjadi 3.012 anak pada tahun 2005. Namun
perlu dicatat bahwa angka pekerja anak yang terdata dalam survai BPS tidak
mencerminkan seluruh pekerja anak. Seperti yang dikatakan demograf Terence H.
Hull (Ellisman, 2002).
2.2.2. Bentuk-bentuk Pekerja Anak Wanita
Bentul-bentuk pekerja anak wanita yang di Kecamatan Kota Kisaran Timur
Kabupaten Asahan yang diteliti adalah pekerja wanita yang berkerja sebagai
pembantu rumah tangga, bekerja di arena kereta api dan terminal, karyawan pabrik
roti, karyawan toko serta berkerja yang bergabung dengan kaum laki-laki (pemulung
dan anak jalanan).



17

2.3. Analisis Faktor
2.3.1. Pengertian
Analisis faktor merupakan nama umum yang menunjukan suatu prosedur,
utamanya dipergunakan untuk mereduksi data atau meringkas dari variabel yang
banyak diubah menjadi sedikit variabel, misalnya dari 15 variabel yang lama diubah
menjadi 4 atau 5 variabel baru yang disebut faktor dan masih memuat sebagian besar
informasi yang terkandung dalam variabel asli (original variabel ) (Supranto, 2004).
Selain itu analisis faktor dapat juga berfungsi sebagai alat uji validasi internal dari
alat ukur yang dipergunakan (Ridwan, 2002).
Analisis faktor merupakan salah satu teknik analisis statistik multivariat,
dengan titik berat yang diminati adalah hubungan secara seksama bersama pada
semua variabel tanpa membedakan variabel tergantung dan variabel bebas atau
disebut sebagai metode antar ketergantungan (interdependence methods). Proses
analisis faktor mencoba menemukan hubungan antar variabel yang saling
independent tersebut, sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel
yang lebih sedikit jumlah variabel awal sehingga memudahkan analisis statistik
selanjutnya (Wibowo,2006).
Tujuan yang penting dari analisis faktor adalah menyederhanakan hubungan
yang beragam dan kompleks pada beberapa variabel yang diamati dengan
menyatukan faktor atau dimensi yang saling berhubungan pada suatu struktur data
yang baru yang mempunyai beberapa faktor yang lebih kecil (Wibisono,2003).


18

Analisis faktor dipergunakan di dalam situasi sebagai berikut (Supranto, 2004) :
1. Mengenali atau mengidentifikasi dimensi yang mendasari (Underling dimensions)
atau faktor, yang menjelaskan korelasi antara suatu set variabel.
2. Mengenali atau mengidentifikasi suatu set variabel baru yang tidak berkorelasi
(independent) yang lebih sedikit jumlahnya untuk menggantikan suatu set
variabel asli yang saling berkorelasi di dalam analsis multivariat selanjutnya.
3. Mengenali atau mengidentifikasi suatu set variabel yang penting dari suatu set
variabel yang lebih banyak jumlahnya untuk dipergunakan di dalam analisis
multivariat selanjutnya.
2.3.2. Model Analisis Faktor Dan Statistik Yang Relevan
Secara matematis, analisis faktor agak mirip dengan regresi linier berganda
yaitu bahwa setiap variabel dinyatakan sebagai suatu kombinasi linier dari faktor
yang mendasari. Dimana analisis regresi linier berganda dapat mengetahui besarnya
pengaruh dari setiap variabel bebas terhadap variabel tak bebas serta meramalkan
nilai variabel yang tak bebas tersebut (Supranto, 2004).
J umlah varian yang disumbangkan oleh suatu variabel dengan variabel
lainnya yang tercakup dalam analisis disebut communality. Hubungan antara variabel
yang diuraikan dinyatakan dalam suatu common factors yang sedikit jumlahnya
ditambah dengan faktor yang unik untuk setiap variabel. Faktor yang unik tidak
berkorelasi dengan sesama faktor yang unik dan juga tidak berkorelasi dengan
common factor.
Common factor sendiri bisa dinyatakan sebagai kombinasi linier dari variabel-
variabel yang terlihat/terobservasi (the observed variables) hasil penelitian lapangan.
19

Common faktor adalah hubungan yang tidak berkorelasi dengan faktor unik. Faktor
unik biasanya juga dianggap saling tidak berkorelasi, akan tetapi mungkin atau tidak
mungkin berkorelasi saru sama lain. Masing-masing faktor dapat diekspresikan
dengan persamaan sebagai berikut:
F
1
=W
i1
X
1
+W
i2
X
2
+W
i3
X
3
+.....+W
ik
X
k
Dimana :
F
1
adalah faktor
W
i
adalah bobot variabel terhadap faktor

K
adalah jumlah variabel
X adalah variabel
Semakin besar bobot (Wi) suatu variabel terhadap faktor, maka pengaruh
variabel terhadap faktor tersebut semakin erat, yang berarti perubahan variabel
memberikan kontribusi yang semakin besar pada nilai faktor. Hal ini berlaku untuk
keadaan sebaliknya (Supranto, 2004).
Statistik kunci yang relevan dengan analisis faktor adalah : Bartllets tes of
sphericty yaitu suatu uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis bahwa
variabel tidak saling berkorelasi (uncorrelated) dalam populasi.
2.3.3. Model Matematik Dalam Analisis Faktor
Di dalam model analisis faktor, komponen hipotesis diturunkan dari hubungan
antara variabel teramati. Model analisis faktor mensyaratkan bahwa hubungan antar
variabel teramati harus linier dan nilai koefisien korelasi tak boleh nol, artinya benar-
benar harus ada hubungan. Komponen hipotesis yang diturunkan harus memiliki sifat
sebagai berikut:
20

1. Komponen hipotesis tersebut diberi nama faktor.
2. Variabel komponen hipotesis yang disebut faktor bisa dikelompokkan menjadi
dua yaitu: common factor and unique factor. Dua komponen ini bisa dibedakan
kalau dinyatakan dalam timbangan di dalam persamaan linier, yang menurunkan
variabel terobservasi dari variabel komponen hipotesis. Common factor
mempunyai lebih dari satu variabel dengan timbangan yang bukan nol nilainya.
Suatu faktor unik hanya mempunyai satu variabel dengan timbangan yang tidak
nol terikat dengan faktor. J adi hanya satu variabel yang tergantung pada satu
faktor unik.
3. Common factor selalu dianggap tidak berkorelasi dengan faktor unik.
Faktor unik biasanya juga dianggap saling tidak berkorelasi, akan tetapi common
factor mungkin atau tidak mungkin berkorelasi satu sama lainnya.
4. Umumnya dianggap bahwa jumlah common factor lebih sedikit dari jumlah
variabel asli. Akan tetapi banyaknya faktor unik biasanya dianggap sama dengan
banyaknya variabel asli.
2.3.4. Langkah-Langkah Analisis Faktor
1. Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah meliputi beberapa hal :
1. Tujuan analisis faktor harus diidentifikasi.
2. Variabel yang akan dipergunakan didalam analisis faktor dispesifikasi
berdasarkan penelitian sebelumnya, teori dan pertimbangan dari peneliti.
3. Pengukuran variabel berdasarkan skala interval dan rasio.

21

4. Banyaknya elemen sampel (n) harus cukup/memadai, sebagai petunjuk N=85
dan d=90%.
n= 2
) ( 1 d N
N
+
n =jumlah sampel
= 2
) 1 , 0 ( 85 1
85
+
N =jumlah populasi
=45 d =tingkat kepercayaan
2. Bentuk Matriks Korelasi.
Proses analisis didasarkan pada suatu matriks korelasi agar variabel
pendalaman yang berguna bisa diperoleh dari penelitian matriks ini. Agar analisis
faktor bisa tepat dipergunakan, variabel-variabel yang akan dianalisis harus
berkorelasi. Apabila koefisien korelasi antar variabel terlalu kecil, hubungannya
lemah, analisis faktor menjadi tidak tepat.
Prinsip utama Analisis faktor adalah korelasi, maka asumsi-asumsi akan
terkait dengan metode statistik korelasi yaitu:
1. Besar korelasi atau korelasi independen variabel yang cukup kuat, misalnya
diatas 0,5 atau bila dilihat tingkat signifikansinya adalah kurang dari 0,5.
2. Besar korelasi parsial, korelasi antar dua variabel dengan menganggap
variabel lain adalah tetap (konstan) harus kecil. Pada SPSS deteksi korelasi
parsial diberikan pada Anti Image Correlation.
Statistik formal tersedia untuk menguji ketepatan model faktor yaitu Barletts
Test of Sphericity bisa digunakan untuk menguji hipotesis bahwa variabel tak
berkorelasi di dalam populasi. Nilai yang besar untuk uji statistik, berati hipotesis nol
22

harus ditolak (berarti ada korelasi yang signifikan diantara beberapa variabel). Kalau
hipotesis nol diterima, ketepatan analisis faktor harus dipertanyakan.
Statistik lainnya yang berguna adalah KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) mengukur
kecukupan sampling (sampling adequancy). Indeks ini membandingkan besarnya
koefisien korelasi terobservasi dengan besarnya koefisien korelasi parsial. Nilai KMO
yang kecil menunjukkan korelasi antar pasangan variabel tidak bisa diterangkan oleh
variabel lain dan analisis faktor mungkin tidak tepat.
a. Harga KMO sebesar 0,9 adalah sangat memuaskan
b. Harga KMO sebesar 0,8 adalah memuaskan
c. Harga KMO sebesar 0,7 adalah harga menengah
d. Harga KMO sebesar 0,6 adalah cukup
e. Harga KMO sebesar 0,5 adalah kurang memuaskan
f. Harga KMO sebesar 0,4 adalah tidak dapat diterima.
Measure of Sampling Adequacy (MSA) ukuran dihitung untuk seluruh matriks
korelasi dan setiap variabel yang layak untuk diaplikasikan pada analisis faktor. Nilai
MSA yang rendah merupakan pertimbangan untuk membuang variabel tersebut pada
tahap analisis selanjutnya. (Wibisono, 2003). Angka MSA berkisar 0-1 menunjukan
apakah sampel bisa dianalisis lebih lanjut (Wibowo A, 2006).
a. MSA =1, variabel tersebut dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel
lain.
b. MSA >0,5 variabel masih dapat diprediksi dan dapat dianalisis lebih lanjut.
c. MSA <0,5 variabel tidak dapat diprekdiksi dan tidak dapat dianalisis lebih
lanjut.
23

3. Menentukan Metode Analisis Faktor
Setelah ditetapkan bahwa analisis faktor merupakan teknik yang tepat untuk
menganalisis data yang sudah dikumpulkan, kemudian ditentukan atau dipilih metode
yang tepat untuk analisis faktor. Ada dua cara atau metode yang bisa dipergunakan
dalam analisis faktor, khususnya untuk menghitung koefisien skor faktor, yaitu
analisis komponen utama (Principal Component Analysis) dan analisis faktor umum
(Common Factor Analysis)
Di dalam principal component analysis, jumlah varian dalam data
dipertimbangkan. Principal Component Analysis direkomendasikan kalau hal yang
pokok ialah menentukan bahwa banyaknya faktor harus minimun dengan
memperhitungkan varian maksimum dalam data untuk dipergunakan di dalam
analisis multivariat lebih lanjut. Faktor-faktor tersebut dinamakan principal
components.
Di dalam common factor analysis, faktor diestimasi didasarkan pada common
variance, communalities dimasukkan di dalam matriks korelasi. Metode ini dianggap
tidak tepat kalau tujuan utamanya ialah mengenali/mengidentifikasi dimensi yang
mendasari dan common variance yang menarik perhatian. Metode ini juga dikenal
sebagai principal axis factoring (Supranto, 2004).
Communalities ialah jumlah varian yang sumbangkan oleh suatu variabel
dengan seluruh variabel lainnya dalam analisis. Bisa juga disebut proporsi atau
bagian varian yang dijelaskan common factor, atau besarnya sumbangan suatu faktor
terhadap varian seluruh variabel. Semakin besar communalities sebuah variabel,
berarti semakin kuat hubungannya dengan faktor yang dibentuknya.
24

Eigenvalue merupakan jumlah varian yang dijelaskan oleh setiap faktor.
Eigenvalue akan menunjukkan kepentingan relatif masing-masing faktor dalam
menghitung varian yang dianalisis. (Wibowo, 2006).
4. Rotasi Faktor-Faktor
Suatu hasil atau output yang penting dari analisis faktor ialah apa yang disebut
matriks faktor pola (factor pattern matrix). Matriks faktor berisi koefisien yang
dipergunakan untuk mengekspresikan variabel yang dibakukan dinyatakan dalam
faktor. Koefisien-koefisien ini yang disebut muatan faktor, mewakili korelasi antar-
faktor dan variabel. Suatu koefisien dengan nilai absolut/mutlak yang besar
menunjukkan bahwa faktor dan variabel berkorelasi sangat kuat. Koefisien dari
matriks faktor bisa dipergunakan untuk menginterpretasikan faktor.
Meskipun matriks faktor awal yang belum dirotasi menunjukkan hubungan
antar faktor masing-masing variabel, jarang menghasilkan faktor yang bisa
diinterpretasikan (diambil kesimpulannya), oleh karena faktor-faktor tersebut
berkorelasi atau terkait dengan banyak variabel (lebih dari satu).
Di dalam melakukan rotasi faktor, kita menginginkan agar setiap faktor
mempunyai muatan atau koefisien yang tidak nol atau yang signifikan untuk beberapa
variabel saja. Dimana gunanya rotasi adalah untuk mengontrol/memeriksa variabel
yang belum layak dimasukkan menjadi layak dimasukkan dalam buat penamaan.
Demikian halnya kita juga menginginkan agar setiap variabel mempunyai muatan
yang tidak nol atau signifikan dengan beberapa faktor saja, kalau mungkin dengan
25

satu faktor saja. Kalau terjadi bahwa beberapa faktor mempunyai muatan tinggi
dengan variabel yang sama, sangat sulit untuk membuat interpretasi tentang terhadap
seluruh varian (dari seluruh variabel asli) mengalami perubahan.
Ada dua metode rotasi yang berbeda yaitu :
1. Orthogonal ratation, kalau sumbu dipertahankan tegak lurus sesamanya
(bersudut 90
0
). Metode rotasi yang banyak dipergunakan yaitu varimax,
prosedur. Karena varimax adalah solusi awal yang terbaik dimana gamma=1
yang menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi. Prosedur ini merupakan
metode orthogonal yang berusaha meminimumkan (membuat sedikit
mungkin) banyaknya variabel dengan muatan tinggi (high loading) pada satu
faktor, dengan demikian memudahkan pembuatan interpretasi mengenai
faktor. Rotasi orthogonal menghasilkan faktor-faktor yang tidak berkorelasi
satu sama lain (uncorreclated each other) antara lain none, equimax, varimax,
quartimax, orthomax.
- None adalah pilih tidak untuk memutar solusi awal.
- Equimax adalah pilih untuk melakukan rotasi equimax solusi awal
(gamma=jumlah faktor /2).
- Variamx adalah pilih untuk melakukan rotasi varimax solusi awal
(gamma=1).
- Quartimax adalah pilih untuk melakukan rotasi quatimax solasi awal
(gamma=0).
- Orthomax adalah pilih untuk melakukan rotasi orthomax solusi awal,
kemudian masukkan gamma nilai antara 0 dan 1.
26

2. Oblique ratation, kalau sumbu tidak dipertahankan harus tegak lurus
sesamanya (bersudut 90
0
) dan faktor-faktor tidak berkorelasi. Kadang-kadang
dengan membolehkan korelasi antar-faktor bisa menyederhanakan matriks
faktor pola (factor pattern matrix). Oblique ratation harus dipergunakan kalau
faktor dalam populasi berkorelasi sangat kuat (Supranto, 2004).
5. Interpretasi Faktor
Interpretasi dipermudah dengan mengindentifikasi variabel yang muatannya
besar pada faktor yang sama. Faktor tersebut kemudian bisa diinterpretasikan,
dinyatakan dalam variabel yang mempunyai muatan tinggi padanya. Manfaat lainnya
di dalam membantu untuk membuat interpretasi ialah menge-plot variabel, dengan
menggunakan factor loading sebagai sumbu koordinat (sumbu F1 dan F2).
Variabel pada ujung atau akhir suatu sumbu ialah variabel yang mempunyai
high loading hanya pada faktor tertentu (faktor F1 dan F2) oleh karena itu bisa
menyimpulkan bahwa faktor tersebut terdiri dari variabel-variabel tersebut.
Sedangkan variabel yang dekat dengan titik asal (perpotongan sumbu F1 dan F2)
mempunyai muatan rendah (low loading) pada kedua faktor.
Variabel yang tidak dengan sumbu salah satu faktor berarti berkorelasi dengan
kedua faktor tersebut. Kalau suatu faktor tidak bisa diberi label sebagai faktor tidak
terdefinisikan atau faktor umum. Variabel-variabel yang berkorelasi kuat (nilai factor
loading yang besar) dengan faktor tertentu dan memberikan inspirasi nama faktor
yang bersangkutan (Supranto, 2004)
6. Menghitung Skor dan Nilai Faktor
27

Nilai faktor adalah ukuran yang mengatakan representasi suatu variabel oleh
masing-masing faktor. Nilai faktor menunjukkan bahwa suatu data mewakili
karakteristik khusus yang direpresentasikan oleh faktor. Nilai faktor ini selanjutnya
digunakan untuk analisis lanjutan.
Sebenarnya analisis faktor tidak harus dilanjutkan dengan menghitung skor
atau nilai faktor, sebab tanpa menghitung pun hasil analisis faktor sudah bermanfaat
yaitu mereduksi variabel yang banyak menjadi variabel baru yang lebih sedikit dari
variabel aslinya.
7. Memilih Surrogate Variables
Surrogate variable adalah suatu bagian dari variabel asli yang dipilih untuk
digunakan di dalam analisis selanjutnya. Pemilihan surrogate variable meliputi
sebagian dari beberapa variabel asli untuk dipergunakan di dalam analisis
selanjutnya. Hal ini memungkinkan peneliti untuk melakukan analisis lanjutan dan
menginterpretasikan hasilnya dinyatakan dalam variabel asli bukan dalam skor faktor.
Dengan meneliti matriks faktor, kita bisa memilih untuk setiap faktor variabel dengan
muatan tinggi pada faktor yang bersangkutan.
Variabel tersebut kemudian bisa dipergunakan sebagai variabel pengganti atau
surrogate variable untuk faktor yang bersangkutan. Proses untuk mencari variabel
pengganti akan berjalan lancar kalau muatan faktor (factor loading) untuk suatu
variabel jelas-jelas lebih tinggi daripada muatan faktor lainnya. Akan tetapi pilihan
menjadi susah, kalau ada dua variabel atau lebih mempunyai muatan yang sama
tingginya. Di dalam hal seperti ini, pemilihan antara variabel-variabel ini harus
didasarkan pada pertimbangan teori dan pengukuran sebagai contoh, mungkin teori
28

menyarankan bahwa suatu variabel dengan muatan sedikit lebih kecil mungkin lebih
penting daripada dengan sedikit lebih tinggi.
Demikian juga halnya, kalau suatu variabel mempunyai muatan sedikit lebih
rendah akan tetapi telah diukur lebih teliti/akurat, seharusnya dipilih sebagai
surrogate variable.
8. Proses Analisis Faktor
Secara garis besar tahapan pada analisis faktor adalah sebagai berikut:
1. Memilih variabel yang layak dimasukkan dalam analisis faktor. Oleh karena
analisis faktor berupaya mengelompokkan sejumlah variabel, maka
seharusnya ada korelasi yang cukup kuat diantara variabel, sehingga akan
terjadi pengelompokkan. J ika sebuah variabel atau lebih berkorelasi lemah
dengan variabel lainnya, maka variabel tersebut akan dikeluarkan dari analisis
faktor. Alat seperti MSA atau Bartletts Test dapat digunakan untuk keperluan
ini.
2. Setelah sejumlah variabel terpilih, maka dilakukan ekstraksi
variabel tersebut hingga menjadi satu atau beberapa faktor.
3. Faktor yang terbentuk dapat menggambarkan perbedaan diantara
faktor-faktor yang ada. Hal tersebut akan mengganggu analisis,
karena justru sebuah faktor harus berbeda secara nyata dengan faktor
lain.
4. Kemudian mengartikan hasil penemuan (artinya faktor-faktor tersebut
mewakili variabel yang mana saja)

29


2.4. Alur Penelitian














Faktor yang
mempengaruhi pelecehan
seksual terhadap pekerja
anak :
Pekerjaan
Hubungan Sosial dengan
Lingkungan
Waktu Kerja
Fasilitas pekerja
Pengetahuan
Pendapatan
Pakaian
Teknologi
Keluarga
Kejiwaan
Sikap
Postur Tubuh
Imbalan
Ancaman
Perlindungan Keluarga
Kebudayaan
Agama
Kebiasaan Pimpinan

Analisis
Faktor
Hasil :
Faktor1
Faktor 2
Faktor
Faktor n