Anda di halaman 1dari 20

0

Diagnosa Kedokteran Keluarga


TUBERKULOSA PARU






Oleh:




Oleh:
Anggia Prameswari Wardhana
04.45406.00196.09

Pembimbing:
dr.Kusuma Wijaya, M.Si


LABORATORIUM/ SMF ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM
UNIVERSITAS MULAWARMAN
PUSKESMAS PALARAN
SAMARINDA
2011






1

PENDAHULUAN

Penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah
kesehatan Masyarakat. Di Indonesia maupun diberbagai belahan dunia, Penyakit tuberkulosis
merupakan penyakit menular yang kejadiannya paling tinggi dijumpai di India sebanyak 1.5
juta orang, urutan kedua dijumpai di Cina yang mencapai 2 juta orang dan Indonesia
menduduki urutan ketiga dengan penderita 583.000 orang.
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk batang
(basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberkulosis. Penularan penyakit ini
melalui perantaraan ludah atau dahak penderita yang mengandung basil berkulosis paru. Pada
waktu penderita batuk butir-butir air ludah beterbangan diudara dan terhisap oleh orang yang
sehat dan masuk kedalam paru-parunya yang kemudian menyebabkan penyakit tuberkulosis
paru.
Menurut WHO (1999), di Indonenia setiap tahun terjadi 583 kasus baru dengan
kematian 130 penderita dengan tuberkulosis positif pada dahaknya. Sedangkan menurut hasil
penelitian kusnindar 1990, jumlah kematian yang disebabkan karena tuberkulosis
diperkirakan 105,952 orang pertahun. Kejadian kasus tuberkulosa paru yang tinggi ini paling
banyak terjadi pada kelompok masyarakat dengan sosio ekonomi lemah.
Terjadinya peningkatan kasus ini disebabkan dipengaruhi oleh daya tahan tubuh,
status gizi dan kebersihan diri individu dan kepadatan hunian lingkungan tempat tinggal.
Pada tahun 1995 pemerintah telah memberikan anggaran obat bagi penderita
tuberkulosis secara gratis ditingkat Puskesmas, dengan sasaran utama adalah penderita
tuberkulosis dengan ekonomi lemah. Obat tuberkulosis harus diminum oleh penderita secara
rutin selama enam bulan berturut-turut tanpa henti.
2
Untuk kedisiplinan pasien dalam menjalankan pengobatan juga perlu diawasi oleh
anggota keluarga terdekat yang tinggal serumah, yang setiap saat dapat mengingatkan
penderita untuk minum obat. Apabila pengobatan terputus tidak sampai enam bulan,
penderita sewaktu-waktu akan kambuh kembali penyakitnya dan kuman tuberkulosis menjadi
resisten sehingga membutuhkan biaya besar untuk pengobatannya.
Usaha pengendalian dan pengobatan terhadap komunitas harus ditujukan pada usaha
menemukan dan mendiagnosis penyakit sedini mungkin pada seseorang, keluarganya atau
masyarakat sekitarnya, dilanjutkan dengan pengobatan individual dari kelompok yang
terkena serta komunitas disekitarnya.
















3
ILUSTRASI KASUS

Pasien Ny.R, 56 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan batuk berdahak. Pasien
mengalami batuk berdahak sejak 6 bulan yang lalu, dan semakin parah sejak 2 minggu
terakhir. Dahak berwarna kuning, kental dan terkadang disertai darah segar. Bersamaan
dengan batuk ini, pasien sering merasakan badannya panas, tetapi tidak mengalami panas
tinggi, dan sering berkeringat pada malam hari. Sejak sakit, pasien mengalami penurunan
berat badan cukup drastis, yaitu dari 45 kg menjadi 36 kg selama 6 bulan. Sesak napas juga
tidak ada. Di keluarga dan lingkungan sekitar tidak ada yang memiliki sakit yang sama
seperti pasien.
Sebelum berobat ke puskesmas pasien sudah berobat ke berbagai tempat karena selalu
merasa tidak mengalami perbaikan. Satu bulan setelah keluhan pasien berobat ke dokter
spesialis namun pasien merasa tidak kunjung sembuh sehingga psien mencoba berobat ke
dokter umum dari Korea dan juga tidak kunjung sembuh, Empat bulan yang lalu pasien
berobat ke rumah sakit umum kemudian pasien diperiksa dahak dan foto dada. Hasilnya
pasien didiagnosa TB paru dengan hasil BTA positif. Kemudian pasien menjalani pengobatan
TB tetapi hanya mengonsumsi selama dua bulan setengah karena tidak dapat minum obat lagi
dan merasa tidak mengalami perbaikan. Selama dua minggu terakhir ini pasien merasa
keluhan bertambah berat hingga pasien benar-benar tidak dapat melakukan aktivitas sehari-
hari kemudian setelah dipaksa oleh keluarga dan tetangganya akhirnya pasien memeriksakan
diri ke puskesmas dan diperiksa dahak dan hasilnya positif.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umumnya kompos mentis dan sadar
penuh. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, nadi
80x/menit, laju pernapasan 20x/menit. Berat badan 36 kg, tinggi badan 153 cm, sehingga
didapatkan indeks massa tubuh 16 pasien yang berarti kurang. Pada pemeriksaan status
4
generalis didapatkan dalam batas normal. Pasien adalah janda dari empat orang anak yang
tinggal di rumah sendiri berukuran 7 m x 12 m dengan luas tanah 10 x 15 m. Rumah tersebut
hanya didiami oleh pasien dan ke-4. Didalam rumah terdapat 2 kamar tidur masing-masing
dengan ukuran 3 x 2 m, 1 ruang tamu dengan jendela yang lebar namun tidak dapat dibuka, 1
ruang keluarga, 1 ruang dapur dan 1 kamar mandi sekaligus toilet. Ventilasi di dalam rumah
kurang terutama dibagian dapur. Kamar yang ditempati pasien terdapat 1 tempat tidur.
Ventilasi cukup, tetapi jendela jarang dibuka sehingga kamar terasa lembab. Kebersihan dan
kerapian rumah kurang. Kamar mandi menjadi satu dengan jamban menggunakan air sumur.
Air minum menggunakan air galon.
Pasien bekerja di kebun dan berjualan di warung di sekolah tepat di depan rumahnya.
Pasien berjualan di warung dari pagi hingga siang dan berkebun setelahnya hingga sore,
penghasilan pasien kira-kira 300.000-400.000 per bulan. Tetapi selama dua minggu ini pasien
tidak dapat melakukan aktivitas sama sekali.
Keluarga pasien tidak mempunyai sumber dana kesehatan khusus, seperti tabungan
kesehatan. Selama ini keluarga berobat ke layanan kesehatan jika keluhan sudah benar-benar
mengganggu.
Penatalaksanaan Tuberkulosa paru pada pasien ini dengan pendekatan kedokteran
keluarga yang bersifat holistik, komprehensif, terpadu, dan berkesinambungan. Dilaksanakan
pula pemutusan rantai penyebaran dengan perbaikan perilaku kesehatan pasien, keluarga, dan
komunitas sekitar, serta perbaikan lingkungan
Dalam menetapkan masalah serta faktor-faktor yang mempengaruhi, digunakan
konsep Mandala of Health. Diagnosis holistik yang ditegakkan pada pasien adalah sebagai
berikut. Alasan kedatangan adalah batuk berdahak kental dan kadang disertai darah segar
sejak 6 bulan yang lalu dan berobat kemanapun tidak kunjung sembuh. Diagnosis kerja yang
ditegakkan adalah Tuberkulosa Paru dengan BTA positif. Didapatkan masalah perilaku
5
berupa higiene pasien dan keluarga kurang serta perilaku berobat yang salah. Didapatkan
masalah pengetahuan keluarga yang kurang dan tidak adanya tabungan kesehatan.
Tindakan yang dilakukan meliputi tindakan terhadap pasien, keluarga, dan
lingkungannya. Pada pasien diberikan pengobatan OAT kategori 2. Dilakukan edukasi
terhadap keluarga mengenai tuberkulosa paru (penyebab, gejala, cara penularan, terapi), dan
mengenai higiene pribadi serta lingkungan.

GENOGRAM








Keterangan :
Laki-laki
Perempuan

Pasien




6


PEMBAHASAN

Studi kasus dilakukan pada pasien Ny. R, usia 56 tahun, dengan keluhan batuk
berdahak berwarna kuning, kental dan terkadang disertai darah segar. Bersamaan dengan
batuk ini, pasien sering merasakan badannya panas, tetapi tidak mengalami panas tinggi, dan
sering berkeringat pada malam hari. Sejak sakit, pasien mengalami penurunan berat badan
cukup drastis, yaitu dari 45 kg menjadi 36 kg selama 6 bulan. Pasien merupakan janda dari 4
orang anak tetapi hanya tinggal bersama dengan anak keempat, tetapi anak pasien yang kedua
dan cucunya yang tinggal terpisah tetapi jarak rumah mereka berdekatan setiap hari
menemani pasien di rumah. Faktor risiko dari pasien ini adalah aktivitas pasien yang berat
tetapi tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup dan asupan makan yang bergizi, dan
lingkungan rumah dengan ventilasi cukup tetapi pencahayaan yang kurang dari sinar
matahari.
Diagnosa tuberculosis paru ditegakkan atas dasar keluhan batuk berdahak selama 6
bulan, dahak berwarna kuning, kental dan terkadang disertai darah segar. Bersamaan dengan
batuk ini, pasien sering merasakan badannya panas, tetapi tidak mengalami panas tinggi, dan
sering berkeringat jika malam. Sejak sakit, pasien mengalami penurunan berat badan cukup
drastis, yaitu dari 45 kg menjadi 36 kg selama 6 bulan. Diagnosis pasti ditetapkan
pemeriksaan sputum SPS dan hasilnya positif. Empat bulan yang lalu pasien pernah
mendapatka terapi TB tetapi hanya bertahan selama 2 bulan lebih.
Pengobatan pada pasien ini digunakan paket OAT kategori 2. Tujuan pemberian obat anti
TB adalah:
7
Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negative secepat mungkin melalui
kegiatan bakterisid (obat anti TB yang bersifat membunuh kuman yang sedang
tumbuh)
Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan
sterilisasi (obat anti TB yang bersifat membunuh kuman yang pertumbuhannya
lambat)
Menghilangkan atau mengurangi gejala melalui perbaikan daya tahan imunologis.

Tabel 1. Panduan OAT pada TB paru (WHO, 1993)
Panduan OAT
Klasifikasi & tipe
penderita
Fase awal Fase lanjutan
Kategori 1 BTA (+) baru
Sakit berat
2HRZS (E)
2RHZS (E)
4RH
4R3H3
Kategori 2 Pengobatan ulang :
kambuh BTA (+)
gagal
default

2RHZES/ 1RHZE
2RHZES/ 1RHZE

5RHE
5R3H3E3
Kategori 3 TB paru BTA (-)

TB luar paru
2RHZ
2RHZ/
2R3H3Z3
4RH

4R3H3

Pada pasien diberikan OAT kategori 2, oleh karena itu edukasi yang diberikan pada
pasien adalah mengenai masalah pengobatan baik oral maupun injeksi sangatlah penting.
Karena diperlukan ketaatan dalam berobat. Sehingga motivasi dari keluarga sangatlah
penting mengingat putus pengobatan pertama, baik dalam hal ketaatan minum obat hingga
memberikan sarana kepada pasien untuk setiap hari berobat ke puskesmas karena harus
diinjeksi pada masa intensif 2 bulan pertama.
8
Edukasi penyakit pasien yang bersifat menular sehingga anggota keluarga lain yang
sering berinteraksi dengan pasien juga perlu memeriksakan dahaknya, karena memiliki
kemungkinan tertular.Pasien juga harus diedukasi mengenai pentingnya membuang dahak di
tempat khusus, meutup mulut saat batuk sehingga kemungkinan untuk menularkan kepada
anggota keluarga lain dapat dihindari. Seorang dengan dahak positif seringkali akan
menularkan anggota keluarganya sendiri karena keluarga merupakan kontak yang dekat.
Walaupun kepadatan rumah dari tiap anggota keluarga masih baik, tetapi faktor ventilasi
cukup tetapi pasien jarang membuka jendela dapat menjadi penyebab penyebaran TB. Kuman
TB yang terdapat di udara bebas akan terus berada di dalam rumah, terakumulasi sehingga
konsentrasi kuman lama kelamaan semakin meningkat.
Kondisi sosial ekonomi juga memiliki peran dalam terjadinya penyakit TB pada
pasien. Penyakit yang diderita oleh pasien menuntut pasien untuk beristirahat di rumah,
sehingga berhenti bekerja, sehingga dukungan dari keluarga baik masalah motivasi maupun
kebutuhan sehari-hari pasien sangat diperlukan.
Tingkat ekonomi keluarga yang cukup rendah akan menyebabkan daya beli keluarga
terhadap bahan-bahan pokok makanan rendah, sehingga kualitas makanan yang dikonsumsi
juga rendah yang pada akhirnya akan menyebabkan defisiensi makro dan mikronutrien secara
kronis. Status gizi keluarga tidak akan membaik jika masalah status ekonomi keluarga tidak
teratasi. Selain itu, karena pendapatan yang kecil tersebut menyebabkan tidak adanya dana
alokasi khusus untuk kesehatan. Hal ini menyebabkan lambatnya penanganan terhadap
anggota keluarga apabila menderita suatu penyakit.
Tingkat pendidikan berpengaruh karena sering kali akan sebanding dengan tingkat
pengetahuan yang terwujud dalam pola pikir dan perilaku seseorang. Rendahnya tingkat
pengetahuan mengenai kesehatan maupun mengenai fasilitas kesehatan menyebabkan pasien
dan keluarga memutuskan untuk langsung berobat ke spesialis dengan harapan mendapatkan
9
obat yang paten. Tetapi karena tidak mempercayakan sepenuhnya pada kemampuan dokter
maupun pelayanan kesehatan lainnya akibatnya pasien berganti-ganti tempat pengobatan dan
mengkonsumsi obat-obatan tetapi tidak tuntas.
Situasi krisis berkepanjangan yang melanda negara kita dalam tahun-tahun terakhir ini
makin memperburuk keadaan karena menurunnya status gizi sebagai akibat krisis ekonomi
menyebabkan status kekebalan tubuh manusia, sehingga menyebabkan makin meluasnya
penyebaran penyakit itu.
Penjelasan secara singkat bahwa kuman TBC dapat menyebar melalui udara waktu
penderita bersin atau batuk. Orang disekeliling penderita dapat tertular karena menghirup
udara yang mengandung kuman TBC. Oleh karena itu penderita harus menutup mulut bila
batuk atau bersin dan jangan membuang dahak disembarang tempat. Pasien juga dianjurkan
untuk meningkatkan gizi, menjaga kebersihan rumah, meningkatkan daya tahan tubuh. Selain
itu pasien juga dijelaskan tata cara minum obat, mengenai kepatuhan minum obat, efek
samping ringan dan berat dari pengobatan, serta jadwal pemeriksaan sputum sehingga
penting sekali motivasi dari keluarga baik dalam pengawasan minum obat hingga
memfasilitasi pasien untuk pergi ke puskesmas setiap hari untuk mendapat injeksi
streptomisin.
Anggota keluarga mempunyai resiko untuk tertular oleh karena itu dianjurkan untuk
survey kontak. Untuk melakukan pengawasan kepatuhan minum obat bagi penderita
diharapkan anggota keluarga dapat menjadi pengawas minum obat. Dianjurkan kepada
anggota keluarga untuk meningkatkan gizi, menjaga kebersihan rumah, meningkatkan daya
tahan tubuh.



10
DOKUMENTASI










11
Denah Rumah Pasien























5 m

R. Keluarga
R. Tidur
R. Dapur

KM. Mandi
WC
U
10
m
R. Tamu

12
Komunitas:
- Pemukiman cukup baik dengan sanitasi kurang
- Warga sekitar tidak didapatkan yang memiliki
sakit seperti pasien


GAYA HIDUP
- Pasien tidur dikamar
tetapi jarangmembuka
jendela
- Sangat jarang rekreasi
PASIEN
- Batuk berdahak selama 6 bulan
- Keringat saat malam
- Penurunan berat badan yang drastis
- Status generalis dalam batas
normal


TB Paru BTA (+)
LINGK. PSIKO-SOSIO-
EKONOMI
- Pendapatan keluarga rendah
- Pengetahuan tentang kesehatan dan
gizi rendah
- Interaksi dengan tetangga baik
PELAYANAN KES.
Jarak rumah-pusat
pelayanan kes : cukup
jauh tetapi dapat
ditempuh
LINGK. FISIK
- Ventilasi cukup tetapi pencahayaan di
dalam rumah kurang.
- Sirkulasi udara tidak bagus
- Kebiasaan membuang sampang di
samping rumah
LINGK. KERJA
Pasien menjalani dua pekerjaan
Waktu bekerja pasien dari pagi hingga
menjelang malam

FAMILY
FAKTOR BIOLOGI
Anggota keluarga yang serumah dengan
pasien tidak ada yang memiliki keluhan
yang sama

PERILAKU KESEHATAN
- Higiene pribadi dan lingkungan kurang
- Berobat hanya saat sakit & ada keluhan
- Pengetahuan tentang kesehatan kurang

Mandala of Health

13

Skoring Kemampuan Penyelesaian Masalah Dalam Keluarga

Masalah
Skor
Awal
Upaya
Penyelesaian
Fungsi biologis
Pasien menderita TB paru
Tidak ada anggota keluarga yang
menderita TB

3
Edukasi mengenai penyakit ini, penyebab dan faktor
predisposisinya
Motivasi kepatuhan berobat

Fungsi ekonomi & pemenuhan kebutuhan
Pengetahuan tentang kesehatan rendah
Pendapatan kurang selama asakit


3
Motivasi mengenai perlunya tabungan
Keluarga memberi dukungan finansial selama pasien
sakit
Faktor perilaku kesehatan keluarga
Higiene pribadi & lingkungan kurang

Berobat jika hanya ada keluhan


3

3


Edukasi tentang pentingnya lingkungan yang bersih

Edukasi dan motivasi untuk beerobat teratur dan
memeriksakan kesehatan agar tidak terjadi putus obat
dan kekambuhan
Lingkungan rumah
Ventilasi terutama kamar tidur masih
kurang
Kebersihan dan kerapian di dalam rumah
kurang, masih banyak pakaian yang di
gantung di sembarang tempat

3



Memperbaiki ventilasi dan penerangan dengan
membuka pintu rumah pada siang hari.




14
FUNGSI FISIOLOGIS (A.P.G.A.R SCORE)
A.P.G.A.R Ny.R Terhadap keluarga Sering/selalu Kadang-
kadang
Jarang/tidak
A Saya puas bahwa saya dapat kembali
ke keluarga saya bila saya
menghadapai masalah


P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan mebagi masalah dengan
saya


G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru


A Daya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian, dll


R Saya puas dengan cara keluarga saya
membagi waktu bersama-sama


Total poin = 10
Ny.R mempunyai hubungan yang harmonis dengan keluarganya walaupun tidak disediakan waktu khusus untuk berkumpul
bersama anak-anak dan cucu dan juga berusaha berbagi kebahagiaan dan kesulitan dengan anak yang tinggal bersamanya.





15
A.P.G.A.R An.M Terhadap keluarga Sering/selalu Kadang-
kadang
Jarang/tidak
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapai
masalah


P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan mebagi masalah dengan
saya


G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
saya untuk melakukan kegiatan baru atau
arah hidup yang baru


A Daya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian, dll


R Saya puas dengan cara keluarga saya
membagi waktu bersama-sama


Total poin = 10
An.M sebagai anak juga beperan dalam penyembuhan penyakit pasien kususnya dalam kepatuhan berobat. Kesimpulan:
keluarga dinilai baik. Fungsi fisiologis dalam keluarga sehat.






16
FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M)
Sumber Patologis
Social Membina hubungan yang baik dengan tetangga sekitarnya. Ny. R aktif
dalam kegiatan kemasyarakatan seperti pengajian, arisan, dll.
-
Culture Kadang-kadang keluarga ini menggunakan bahasa daerah dalam
percakapan sehari-hari. Kepuasaan atau kebangaan terhadap budaya baik.
Serung mengikuti acara-acara yang bersifat hajatan, hadrah.
-
Religion Pemahaman agama baik. Keluarga cukup taat menjalankan kewajiban
beribadah, seperti sholat 5 waktu. Rajin mengikuti pengajian di lingkungan
rumahnya
-
Economic Untuk Ny.R, status ekonomi mereka kurang. Penghasilan perbulan tidak
tetap, tetapi kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder tercukupi oleh anak
dan cucu mereka.
-
Educational Latar belakang pendidikan tergolong kurang. Pasirn berobat setelah ada
keluhan dan tidak mengerti harus berobat kemana.
-
Medical Tidak memiliki asuransi kesehatan. +
Keluarga Ny.R memiliki fungsi patologis dari segi educational karena tidak mengerti mengenai penyakit dan cara berobat
yang benar.
17
FORMAT PENGKAJIAN KELUARGA
PUSKESMAS LEMPAKE

Puskesmas Lempake No. register : 10034-14 Tanggal : 21/3/1011 Jarak untuk mencapai pelayanan kesehatan terdekat
Nama Keluarga : Ny.R Puskesmas : Lempake 3 km, dengan
menggunakan
kendaraan roda 2
(1)meter
(2)kilometer
Alamat : Tanah Merah rt.14 no.02 Puskesmas Pembantu - (1) jalan kaki
(2) sepeda
(3) roda 2
(4) roda 4
(5) perahu
Peserta : ( - ) JPKM ( - ) ASMARA ( - ) ASKES Posyandu Lansia : Andhika 1km, dengan
berjalan kaki
Daftar Anggota Keluarga Termasuk KK :
An.M








No Nama anggota keluarga L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Imunisasi KB Keterangan
1. Ny.R P 56 tahun SD
Jualan,
berkebun
Islam - - -
2. An. M L 12 tahun SD pelajar Islam - - -








18


A. BIOLOGIS KELUARGA
2. Kebiasaan buruk
Tidak ada
D. SPIRITUAL KELUARGA
5. Sumber pencemaran
Polusi udara
1. Keadaan kesehatan
Cukup baik
3. Pengambila keputusan
Kepala keluarga
1. Ketaatan beribadah
Taat
6. Penerangan
Kurang
2. Kebersihan perorangan
Cukup
4. Ketergantungan obat/bahan
Tidak ada
2. Keyakinan tentang kesehatan
Cukup
7. Kebersihan dan kerapian
Kurang
3. Penyakit yang sering diderita
batuk
5. Menacari pelayanan kesehatan
Dokter spesialis, Puskesmas
E. KULTURAL KELUARGA 8. Ventilasi
Cukup
4. Penyakit keturunan
Tidak tahu
6. Rekreasi
Tidak pernah
1. Adat yang memengaruhi kes
Tidak ada
9. Dapur
Kurang rapi dan kurang bersih
5. Penyakit kronis/menular
Tidak ada
C. SOSIAL KELUARGA
2. Tabu-tabu
Tidak ada
10. Jamban
Model leher angsa
6. Kecacatan anggota keluarga
Tidak ada
1. Tingka pendidikan
Rendah
F. KEADAAN LINGKUNGAN
11. Sumber air minum
Air galon
7. Pola makan
Dua kali sehari
2. Hubungan antar anggota kel
Baik
1. Pemanfaatan halaman
Pohon dan tanaman
CATATAN TAMBAHAN
8. Pola istirahat
Cukup
3. Hubungan dengan orang lain
Baik
2. Pembuangan air kotor
Ada

B. PSIKOLOGIS KELUARGA
4. Kegiatan social
Baik
3. Pembuangan sampah
Dibelakang rumah, terkadang
ditumpuk dan dibuang di TPS
1. Keadaan emosi
Stabil
5. Keadaan ekonomi
Cukup
4. Sanitasi
Kurang
19
NO
NAMA ANGG. KEL
(TERMASUK KK)
STATUS
UMUM
KEPALA LEHER THORAX ABDOMEN EKSTRIMITAS LAIN-LAIN
1. Ny.R Baik dbn dbn dbn dbn dbn -
2. An.M Baik dbn dbn dbn dbn dbn -


RENCANA TERAPI
Non Farmakologi:
o Meludah pada tempat yang disediakan
o Istirahat dan makan makanan bergizi yang cukup
o Minum obat dengan teratur dan kontrol ke Puskesmas.

Farmakologi:
o OAT regimen 2

Usulan Penatalaksanaan/Pemeriksaan :
Foto thoraks, Laboratorium darah lengkap, kimia darah lengkap