Anda di halaman 1dari 21

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan dibahas beberapa teori yang mendasari penelitian yang dilakukan.
Berdasarkan tema yang diangakat pada penelitian ini, maka digunakan beberapa teori
yang berhubungan fenomena-fenomena yang akan diteliti, antara lain:
Penerimaan Diri
A.1. Definisi Penerimaan Diri
A.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Diri
A.3. Dampak Penerimaan Diri Bagi Individu
A.4. Penerimaan Diri pada Pasien Penyakit Kronis

Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
B.1. Sejarah dan Penjelasan Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
B.2. Dampak SLE bagi Pasien

Dewasa Muda
C.1. Perkembangan Dewasa Muda
C.2. Perkembangan Fisik Dewasa Muda
C.3. Perkembangan Sosial Dewasa Muda

Gambaran Penerimaan Diri pada Penderita SLE Dewasa Muda

2.A. Penerimaan Diri
2.A.1. Definisi Penerimaan Diri
Corsini (2002) mendefinisikan penerimaan diri sebagai pengenalan terhadap
kemampuan pribadinya dan prestasinya, bersamaan dengan penerimaan terhadap
keterbatasan dirinya. Rendahnya penerimaan terhadap diri dapat menimbulkan gangguan
emosional (Corsiri, 2002). Sedangkan Jersild (dalam Hurlock, 1974) menjelaskan bahwa
penerimaan diri adalah derajat dimana individu memiliki kesadaran terhadap
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

karakteristiknya, kemudian ia mampu dan bersedia untuk hidup dengan karakteristik
tersebut.
Menurut Hurlock (1974), penerimaan diri menjadi salah satu faktor yang berperan
terhadap kebahagiaan (happiness) agar seseorang yang memiliki penyesuaian diri yang
baik (well-adjusted person). Sedangkan menurut Bain (Hurlock, 1974) salah satu
karakteristik dari orang yang sehat secara mental adalah kebahagiaan. Selanjutnya
Hurlock (1974) menjelaskan bahwa tidak seorang pun dilahirkan dengan kesehatan
mental yang baik ataupun buruk, karena berbagai macam pola kepribadian dibentuk oleh
pengalaman hidupnya. Apabila pengalaman hidupnya baik (tidak menimbulkan penilaian
negatif terhadap pengalamannya tersebut), maka akan membentuk pribadi yang sehat,
dan sebaliknya apabila pengalaman hidupnya tidak baik (menimbulkan penilaian negatif
terhadap pengalamannya tersebut), maka seseorang akan membentuk pribadi yang tidak
sehat (Hurlock, 1974).
Lebih lanjut Rubin (1975) mengemukakan bahwa penerimaan diri merupakan
esensi dari saya. Seseorang tidak dikatakan menerima dirinya, bila ia tidak dapat
menerima seluruh aspek dari dirinya, termasuk di dalamnya pikiran-pikiran, ide-ide,
perasaan-perasaan, keputusan-keputusan dan tindakan.
Penerimaan diri ada pada urutan kedua dari 15 karakteristik pribadi yang
memiliki aktualisasi diri (self-actualizing person) dari Maslow (dalam Hejelle dan
Ziegler, 1992). Menurut Maslow individu yang sehat mentalnya menampilkan rasa
hormat terhadap dirinya dan orang lain, menerima dirinya dengan keterbatasan,
kelemahan, kerapuhannya, terbebas dari rasa bersalah, malu, rendah diri dan kecemasan
akan penilaian orang lain terhadap dirinya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
individu yang memiliki kesehatan mental yang baik akan menampilkan perasaan
menghargai diri sendiri.
Ryff (1996) menjelaskan bahwa penerimaan diri penting bagi terwujudnya
kondisi sehat secara mental. Salah satu dari enam konsep kesejahteraan psikologis yang
dijelaskan oleh Ryff adalah penerimaan diri. Lebih lanjut Ryff (1996) menjelaskan,
individu memiliki penerimaan diri yang rendah, apabila ia merasa tidak puas dengan
dirinya, merasa kecewa dengan kehidupan yang telah dijalaninya, mengalami kesulitan
dengan sejumlah kualitas pribadinya dan ingin menjadi individu yang berbeda dengan
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

dirinya saat ini. Oleh karena itu wujud dari penerimaan diri dalam kehidupan sehari-hari
adalah dengan bersikap positif terhadap dirinya sendiri. Matthews (1993) menjelaskan
bahwa sebelum seseorang dapat menerima orang lain, ia harus mampu menerima dirinya
sendiri terlebih dahulu.
Jersild (dalam Hurlock, 1974) memberikan batasan-batasan dalam penerimaan
diri, batasan-batasan yang dikemukakan oleh Jersil adalah sebagai berikut:
The self-accepting person has a realistic appraisal of his resources combined with
appreciation of his own worth; assurance about standards an conviction of his own
without being a slave to the opinions of others; and realistic assessment of limitations
without irrational self-reproach. Self accepting people recognize their assets and are
free to draw upon them even if they are not all that could be desired. They also recognize
their shortcomings without needlessly blaming themselves. (Jersild dalam Hurlock,
1974:434).

Berdasarkan penjelasan tersebut Jersild menjelaskan bahwa seseorang yang
menerima dirinya adalah seseorang yang memiliki penilaian yang realistis terhadap
kemampuannya yang berkesinambungan dengan penghargaan terhadap keberhargaan
dirinya, jaminan dari dirinya tentang kestandaraan pendiriannya tanpa merasa
terendahkan oleh opini orang lain dan penilaian realistis dari keterbatasan dirinya tanpa
menyalahkan dirinya secara tidak rasional. Orang yang menerima dirinya mengenali
kemampuan dirinya dan dengan bebas mereka dapat menggunakan kemampuan dirinya
walaupun tidak semua dari kemampuannya tersebut diinginkan. Mereka juga mengenali
kelemahan dirinya tanpa perlu menyalahkan dirinya.
Sedangkan Matthews (1993) menjelaskan bahwa individu yang menerima dirinya
merasa aman akan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianutnya tanpa terpengaruh oleh
kelompok, dapat mengekspresikan pendapat pribadinya tanpa ada rasa bersalah dan dapat
menerima perbedaan pendapat, tidak merasa cemas akan hari kemarin ataupun esok.
Kemudian individu tersebut percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk
mengatasi semua masalah dan dirinya setara dengan orang lain terlepas dari latar
belakangnya, sehingga ia tidak dapat didominasi oleh orang lain. Lebih lanjut Matthews
(1993) menjelaskan bahwa individu yang memiliki penerimaan diri yang baik akan
merasa dirinya berharga bagi orang lain sehingga dapat menerima pujian, menikmati
berbagai kegiatan dan peka terhadap orang lain juga nilai-nilai lingkungan.
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

Berdasarkan berbagai definisi yang dikemukakan oleh berbagai sumber di atas,
maka peneliti mendefinisikan penerimaan diri adalah penilaian positif terhadap kondisi
dan keadaan yang menimpa dirinya, mengenali kelebihan ataupun kekurangan diri
sendiri, kemudian individu tersebut mampu dan bersedia untuk hidup dengan segala
karakteristik yang ada dalam dirinya, tanpa merasakan tidak nyaman, tidak puas terhadap
dirinya, dan yakin akan kualitas yang dimilikinya dan memahami keterbatasan dirinya.

2.A.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Diri
Tidak semua individu dapat menerima dirinya karena setiap orang memiliki ideal
self atau diri yang diinginkan daripada diri yang sesungguhnya (Hurlock, 1974). Apabila
ideal self tersebut tidak realistis dan sulit untuk dicapai dalam kehidupan yang nyata,
maka hal ini akan menyebabkan frustrasi dan kecewa (Hurlock, 1974). Lebih lanjut
Hurlock (1974) menjelaskan beberapa kondisi yang menentukan seseorang dapat
menyukai dan menerima dirinya sendiri. Faktor-faktor ini sangat berperan bagi
terwujudnya penerimaan diri dalam diri individu (Hurlock,1974). Faktor-faktor tersebut
adalah:
1. Pemahaman Diri (Self Understanding)
Pemahaman diri adalah persepsi tentang diri yang dibuat secara jujur, tidak
bepura-pura dan realistis. Pemahaman terhadap diri sendiri timbul jika seseorang
mengenali kemampuan, dan ketidakmampuannya, serta bersedia untuk mencoba
kemampuannya tersebut. Individu memahami dirinya sendiri tidak hanya tergantung
dari kemampuan intelektualnya, tetapi juga pada kesempatannya untuk mengenali diri
sendiri. Individu tersebut harus memiliki kesempatan untuk mencoba kemampuannya.
Individu yang memahami dirinya akan mampu menyebutkan siapa dirinya dan
menerima keadaan dirinya sendiri. Pemahaman diri dan penerimaan diri berjalan
dengan berdampingan. Hal ini berarti semakin orang dapat memahami dirinya, maka
semakin ia dapat menerima dirinya.

2. Harapan yang Realistis (Realistic expectations)
Harapan yang realistis timbul jika individu menentukan sendiri harapannya yang
disesuaikan dengan pemahaman mengenai kemampuannya, bukan harapan yang
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

diarahkan oleh orang lain dalam mencapai tujuannya. Dikatakan realistis bila individu
tersebut memahami keterbatasan dan kekuatan dirinya dalam mencapai tujuannya.
Maka ketika individu memiliki harapan dan tujuan, seharusnya ia telah
mempertimbangkan kemampuan dirinya untuk mencapai harapan dan tujuan tersebut.
Semakin realistis seseorang terhadap harapan dan tujuannya, maka akan semakin besar
kesempatan tercapainya harapan dan tujuannya. Kondisi ini dapat memberikan
kepuasan diri yang merupakan hal penting dalam penerimaan diri.
3. Tidak adanya hambatan lingkungan (Absence of environmental obstacles)
Ketidakmampuan untuk meraih tujuan dan harapan yang realistis mungkin
disebabkan oleh hambatan dari lingkungan. Bila lingkungan sekitar tidak memberikan
kesempatan atau bahkan malah menghambat individu untuk mengekspresikan diri,
maka penerimaan dirinya akan sulit untuk dicapai. Sebaliknya, jika lingkungan, seperti
orangtua, saudara-saudara, dan teman-teman memberikan dukungan, maka kondisi ini
dapat mempermudah penerimaan diri dan menerima apa yang terjadi pada dirinya.
Berkaitan dengan faktor sebelumnya, bila lingkungan semakin mendukung apa yang
diharapkan oleh individu, maka akan kondisi ini akan lebih mendorong individu untuk
mencapai harapannya.
4. Tingkah laku sosial yang sesuai (Favorable social attitudes)
Individu yang memiliki favorable social attitudes diharapkan mampu menerima
dirinya. Ketika seseorang menampilkan tingkah laku yang diterima oleh masyarakat,
kondisi tersebut akan membantu dirinya untuk dapat menerima diri. Yang dimaksud
favorable social attitudes adalah tidak adanya prasangka terhadap lingkungan dalam
diri individu, adanya pengakuan individu terhadap kemampuan sosial orang lain, tidak
memandang buruk terhadap orang lain, dan kesediaan individu mengikuti kebiasaan
atau norma lingkungan.
5. Tidak adanya stres emosional (Absence of severe emotional stress)
Stres menunjukan adanya kondisi yang tidak seimbang dalam diri individu,
menyebabkan individu bertingkah laku yang dipandang tidak sesuai oleh
lingkungannya, menimbulkan kritik dan penolakan dari lingkungan. Kondisi ini dapat
menyebabkan pandangan negatif terhadap dirinya dan pandangannya pun berubah ke
arah negatif, sehingga berpengaruh terhadap penerimaan dirinya. Tidak adanya
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

gangguan stres berat yang dialami individu akan membuat individu dapat bekerja
sebaik mungkin, merasa bahagia, rileks, dan tidak bersikap negatif terhadap dirinya.
6. Kenangan akan Keberhasilan (Preponderance of successes)
Ketika individu berhasil ataupun gagal, ia akan memperoleh penilaian sosial
(social judgements) dari lingkungannya. Penilaian sosial yang diberikan oleh
lingkungan, akan diingat individu karena dapat menjadi suatu tambahan dalam
penilaian diri. Kenangan terhadap keberhasilan ini dapat dikenang dalam bentuk jumlah
keberhasilan yang dicapai oleh seseorang (kuantitatif). Maupun dikengan dalam
kulalitas keberhasilannya (kualitatif). Ketika seseorang gagal, maka mengingat
keberhasilan adalah hal yang dapat membantu memunculkan penerimaan diri pada
seseorang. Sebaliknya, kegagalan yang dialami dapat mengakibatkan penolakan pada
dirinya.
7. Identifikasi dengan orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik
(Identification with well-adjusted people)
Ketika individu mengidentifikasikan diri dengan orang yang memiliki
penyesuaian diri yang baik (well-adjusted), maka hal ini dapat membantu individu
untuk membangun sikap-sikap yang positif terhadap diri sendiri, serta bertingkah laku
baik yang bisa menimbulkan penilaian diri yang baik. Lingkungan rumah dengan
model identifikasi yang baik akan membentuk kepribadian yang sehat pada seseorang.
Dengan demikian, pada akhirnya individu dapat memiliki penerimaan diri yang baik
pula.
8. Perspektif diri (Self perspective)
Individu yang mampu melihat dirinya, sama dengan bagaimana orang lain melihat
dirinya, membuat individu tersebut menerima dirinya dengan baik. Perspektif diri yang
luas diperoleh melalui pengalaman dan belajar. Dalam hal ini, usia dan tingkat
pendidikan memegang peranan penting bagi seseorang untuk dapat mengembangkan
perspektif dirinya.
9. Pola asuh masa kecil yang baik (Good childhood training)
Konsep diri mulai terbentuk pada masa kanak-kanak di mana pola asuh
diterapkan, sehingga pengaruhnya terhadap penerimaan diri tetap ada meskipun usia
individu terus bertambah. Anak yang diasuh dengan pola asuh demokratis cenderung
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

berkembang menjadi orang yang dapat menghargai dirinya sendiri, karena ia diajarkan
bagaimana ia menerima dirinya sendiri sebagai individu. Anak menganggap bahwa ia
bertanggung jawab untuk mengontrol tingkah lakunya yang dilandasi oleh peraturan
dan regulasi.
10. Konsep diri yang stabil (Stable self concept)
Individu dikatakan memiliki konsep diri yang stabil, apabila setiap saat individu
tersebut dapat melihat dirinya dalam kondisi yang sama. Individu yang tidak memiliki
konsep diri stabil, bisa saja pada satu waktu ia menyukai dirinya, pada waktu yang lain
ia membenci dirinya sendiri. Kondisi ini akan membuat dirinya kesulitan untuk
menunjukkan siapa dirinya sebenarnya kepada orang lain karena ia sendiri memiliki
konsep diri yang saling bertentangan pada dirinya, suatu saat ia menerima dirinya dan
di saat lain membenci dirinya.

2.A.3. Penerimaan Diri pada Pasien Penderita Penyakit Kronis
Menurut Burish & Bradley, Maes et al., Taylor & Aspinwall (dalam Taylor, 1999)
pada umumnya penyakit kronis akan mempengaruhi semua aspek kehidupan pasien.
Bahkan penyakit kronis akan mengakibatkan perubahan sementara ataupun permanen
pada kondisi fisik, pekerjaan, aktivitas sosial (Taylor, 1999). Moos (dalam Taylor, 1999)
menjelaskan bahwa seketika setelah penyakit kronis terdiagnosis, biasanya pasien
mengalami krisis yang disebabkan oleh ketidak seimbangan (disequilibrium) kondisi
fisik, sosial, dan psikologis. Coping yang tidak berhasil dilakukan oleh pasien pada
kondisi ketidakseimbangan, dapat menimbulkan perasaan tidak terorganisasi, kecemasan,
ketakutan dan emosi lainnya (S.E. Taylor & Aspinwall, dalam Taylor, 1999).
Setelah masa krisis dari penyakit kronik berlalu, mereka mulai mengembangkan
bagaimana caranya hidup dengan kondisi penyakit krisis, kondisi ini merupakan masa
dimana pasien melakukan rehabilitasi terhadapa kehidupanya, seperti kondisi fisik,
pekerjaan, pekerjaan, sosial dan kondisi psikologis (Taylor, 1999). Shontz (dalam
Sarafino, 1998) mengemukakan bahwa setelah seseorang terdiagnosis menderita penyakit
kronis, mereka menunjukkan reaksi-reaksi awal yang bertahap. Reaksi tersebut adalah
syok, menghadapi penyakit, dan mundur atau menghindar. Sedangkan Kubler-Ross
(dalam Taylor, 1999) menjelaskan, ada lima tahap reaksi emosi, ketika seseorang
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

beradaptasi dengan penyakit yang akan menyebabkan kematian, yaitu penyangkalan
(denial), kemarahan (anger), tawar menawar (barganing for extra), depresi (depression)
dan penerimaan diri (acceptance).
1. Penyangkalan (denial)
Terdiagnosisnya suatu penyakit kronis, sering kali menimbulkan kondisi syok
pada seseorang, karena hanya dalam beberapa menit semuanya rencana kehidupannya
harus berubah dan biasanya pasien langsung mengira bahwa telah terjadi kesalahan
pada diagnosisnya. Kondisi tersebut merupakan bentuk penyangkalan terhadap
realitas (Taylor, 1999). Menurut Taylor (1999) penyangkalan adalah sistem
pertahanan (defense mechanism), dimana seseorang berusaha menghindari implikasi
yang ditimbulkan oleh penyakit dan biasanya berlangsung dalam beberapa hari
(Taylor, 1999). Pada kondisi ini sebagian dari kesadaran (subconscious) menghalangi
keluarnya kesadaran tentang realitas, dan pada akhirnya menimbulkan gangguan
(Taylor, 1999). Lebih lanjut Taylor (1999) menjelaskan bahwa penyangkalan
merupakan bentuk pertahanan diri yang primitif dan biasanya tidak pernah berhasil,
karena hanya berfungsi sesaat dan menimbulkan kecemasan (anxiety).
2. Kemarahan (anger)
Pada tahap kedua proses adaptasi Kubler-Ross menjelaskan bahwa pasien
mengalami kemarahan. Pasien berusaha mempertanyakan, Mengapa harus saya
yang menderita penyakit kronis?, karena setiap orang pasti memiliki peluang untuk
menderita penyakit kronis (Taylor, 1999). Pada kondisi ini menunjukkan kebencian
terhadap setiap orang yang sehat, seperti staf rumah sakit, anggota keluarga, atau
teman-temannya. Pasien tidak dapat menunjukkan kemarahannya secara langsung
dengan menangis atau pasien menjadi tidak peduli dan mudah menjadi sangat marah
(Taylor, 1999). Menurut Taylor (1999) kondisi emosi marah yang dirasakan oleh
pasien adalah salah satu kondisi sulit untuk dihadapi oleh keluarga dan teman-teman
pasien, karena keluarga dan teman-teman pasien merasa bersalah terhadap pasien
akan kesembuhan mereka. Keluarga dan teman-teman pasien harus memahami
bahwa pasien tidak betul-betul marah pada mereka, tetapi marah pada kondisi
kesehatannya (Taylor, 1999). Menurut Taylor (1999), kemarahan tersebut akan
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

ditunjukkan langsung pada orang yang cukup dekat, terutama pada orang yang pasien
anggap, tidak memperhatikan aturan atau perilaku yang tidak baik.
3. Tawar menawar untuk mendapat sesuatu yang lebih (barganing for extra)
Pada tahap ini pasien mengalihkan kemarahan dengan lebih baik dan strategi
yang berbeda, misalnya mencoba hidup sehat agar mendapat hidup sehat (Taylor,
1999). Menurut Taylor (1999) penawar untuk mendapat sesuatu yang lebih sering kali
berbentuk kesepakatan dengan Tuhan, dimana pasien menyetujui atau sepakat untuk
terikat dalam suatu aktivitas religi atau setidaknya meninggalkan keegoisannya demi
kesehatan atau umur panjang. Tingkah laku menyenangkan yang muncul secara tiba-
tiba bisa menjadi pertanda bahwa pasien sedang berusaha untuk melakukan tawar
menawar ini (Taylor, 1999).
4. Depresi (depression)
Kubler-Ross menggunakan istilah depresi untuk menjelaskan kurangnya kontrol,
ini merupakan realisasi dari kondisi memburuknya simtom-simtom sebagai indikasi
bahwa penyakitnya tidak membaik (Taylor, 1999). Taylor (1999) menjelaskan pada
tahap ini pasien merasakan muak, sesak, dan letih. Selainya itu mereka sulit untuk
makan, mengontrol diri, sulit untuk memfokuskan perhatian, dan menghindar dari
sakit atau ketidak nyamanan (Taylor, 1999).
Kubler-Ross (Taylor, 1999) menjelaskan bahwa pertama-tama pasien merasa
kehilangan nilai dari aktifitas di masa lalu dan teman-teman. Pada kondisi ini pasein
murung berkelanjutan, tidak berespon terhadap stimulus sosial, tidak dapat makan
dan pada dasarnya tidak berdaya untuk melakukan aktifitas (Taylor, 1999). Dalam
kondisi depresi, sebaiknya ditemani oleh seseorang yang memanjakannya, seseorang
untuk menemaninya dari waktu ke waktu (Taylor, 1999).
5. Penerimaan Diri (acceptance)
Pada tahap ini pasien mulai tidak marah lagi dan mulai membiasakan diri dengan
ide kematian yang membuat dirinya tertekan. Pasien mencoba untuk menghadapi
pikiran-pikiran tidak menyenangkan tentang penyakitnya. Dimana sebelumnya
pikiran-pikiran tersebut ditekan oleh pasien.


Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

2.B. Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
2.B.1. Sejarah dan Penjelasan Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
Systemic Lupus Erythematosus (SLE), adalah prototipe dari kelainan kekebalan
tubuh (autoimmune), yang dapat menyebabkan bermacam-macam diagnosis-diagnosis
klinis yang berbeda pada penderita dan kelainan immunologi (Ramirez,et.al, 2006).
Nama Lupus itu sendiri, berasal dari bahasa Latin yang berarti serigala. Pada abad ke-10,
istilah ini pertama kali digunakan untuk menggambarkan kondisi peradangan kulit yang
menyerupai gigitan srigala. Pada tahun 1972, seorang dokter yaitu Moriz Kaposi
menyatakan bahwa Lupus Erythematosus adalah suatu kondisi peradangan kulit yang
kadang-kadang disertai dengan gejala sistematik, seperti: demam, nyeri sendi, mudah
lelah, anemia, penurunan berat badan, rambut rontok, luka di mulut dan sensitif terhadap
sinar matahari. Sistem kekebalan tubuh pada penderita SLE, kehilangan kemampuan
untuk membedakan antigen dari sel dan jaringan tubuh sendiri, sehingga kekebalan tubuh
tidak hanya menyerang kuman yang merusak tubuh, tapi juga merusak organ tubuhnya
sendiri (autoimmune) (Wallace, 2005). Jaringan tubuh dianggap sebagai benda asing
sehingga timbul reaksi sistem imun yang dapat mengenai berbagai sistem organ tubuh
seperti jaringan kulit, tulang, ginjal, sistem syaraf, sistem kardiovaskuler, paru-paru dan
lapisan pada paru-paru, hati, sistem pencernaan, mata, otak, maupun pembuluh darah dan
sel-sel darah (Wallace, 2005). SLE memiliki gejala yang unik yang hilang dan timbul,
sangat beragam, pada berbagai organ tubuh manusia. Hal ini terkadang sering
membingungkan penderita SLE (Hidayat, 2005) Penyakit ini pada umumnya diderita
oleh wanita berusia 15-40 tahun, dengan perbandingan jumlah wanita dan pria adalah 7-
8:1 (Philips, 2001). Tes ANA (Antinuclear Antibody) biasanya digunakan sebagai
screening test SLE. Apabila Tes ANA positif ini menjelaskan bahwa seseorang memiliki
setidaknya satu atau lebih autoantibodi dalam tubuh yang sifatnya bertolak belakang
dengan sifat sel antibodi tubuh (Wallace, 2005). Hasil observasi pada tahun 1985 ini
bahwa 90% penderita SLE mempunyai hasil positif tes ANA dan 10% dari semua pasien
SLE memiliki hasil ANA yang negatif (Wallace, 2005). Menurut Wallace (2005) SLE
adalah penyakit yang sulit di diagnosis, karena tidak berkembang sekaligus, namun
perlahan-lahan menyerang organ vital. Gejalanya timbul dan hilang silih berganti dalam
waktu lama, hingga akhirnya diidentifikasi sebagai SLE. Banyak pasien SLE yang
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

terlihat sangat sehat, tapi menurut survey menjelaskan pasien yang terdiagnosis SLE,
memiliki simptom, rata-rata 3 tahun, dengan gejala seperti : mengeluh tentang kelelahan,
prestasi, stres, dan lain-lain (Wallace, 2005).
Hingga saat ini penyebab sebenarnya belum sepenuhnya dimengerti, belum
ditemukan obatnya dan belum diketahui cara penyembuhannya, kecuali metode
perawatan yang efektif agar mencegah akibat yang lebih buruk. Menurut Wallace (2005)
terdapat faktor risiko yang dapat mempengaruhi timbulnya Lupus yaitu genetik dan
lingkungan. Diduga ada beberapa faktor lingkungan yang menyebabkan bangkitnya atau
kambuhnya Lupus, antara lain: sinar ultraviolet, obat-obatan tertentu, infeksi, beberapa
antibiotik tertentu, hormon (Wallace, 2005). Gejala SLE sangat bervariasi dan tidak khas
mulai dari ringan hingga yang berat dan mengancam kehidupan, tergantung pada organ
mana yang terkena. Gejala yang ringan dapat berupa nyeri sendi, rasa berat dan lemas,
berat badan menurun, kelainan kulit, sariawan, sensitif terhadap sinar matahari atau
cahaya lampu hingga gejala yang berat seperti panas badan tinggi, bercak seperti kupu-
kupu di pipi, rambut rontok, anemia, serta gangguan ginjal dan jantung (Wallace, 2005).
Gangguan neuropsikiatrik dari ringan seperti lelah, sulit konsentrasi, gangguan ingatan,
nyeri kepala, depresi hingga ganguan neuropsikiatrik yang berat seperti kejang-kejang,
meningitis dan psikosis (Ramirez,et. al, 2006). Tidak ada pengaturan asupan makanan
atau diet khusus untuk penderita SLE, hanya disarankan untuk mengkonsumsi makan
berkadar lemak rendah, garam rendah, sedikit gula dan menghindari makan yang
menyebabkan kambuhnya gejala SLE dan menambah asupan vitamin, mineral dan
suplemen (Phillips, 2001).
Menurut Kalunian (dalam Wallace & Hanhn, 1997) dalam perjalanan
penyakitnya, penderita SLE sering mengalami remisi dan eksaserbasi. Remisi adalah
periode bebas tanpa ada gejala, sedangkan eksaserbasi adalah timbulnya kembali gejala
setelah beberapa waktu gejala minimal atau hilang dengan atau tanpa obat. Fase
eksaserbasi ditandai dengan munculnya gejala-gejala seperti : demam, rasa lelah yang
berkepanjangan, nyeri sendi dan otot, bercak pada kulit, ganguan kulit, nyeri dada, nafsu
makan menurun, berat badan menurun, secara emosional, lebih mudah tertekan, sariawan
dan rambut rontok (Kalunian, dalam Wallace & Hanhn, 1997).
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

Ada tiga jenis bentuk gangguan pada penderita SLE, yaitu (Kalunian, dalam
Wallace & Hanhn, 1997) :
1. Cutaneus Lupus (sering disebut Discoid) yang mempengaruhi kulit, 10% dari kasus
Cutaneus Lupus berkembang menjadi systemic lupus, tetapi hal ini dapat diperkirakan
atau dicegah sebelumnya.
2. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyerang organ tubuh seperti : kulit,
persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak dan syaraf.
3. Drug Induced Lupus (DIL), timbul karena menggungunakan obat-obatan tertentu.
Setelah pemakaiannya dihentikan, umumnya gejala akan hilang. Tetapi ANA tetap
positif untuk bertahun-tahun.
Sedangkan kriteria untuk mengklasifikasikan seseorang menderita SLE berdasarkan
SLICC (The Systemic Lupus International Collaborating Clinics) dan ACR (American
College of Rheumatology) tahun 1997 adalah (dalam Gladman & Urowitz, dalam
Hochberg, et al., 2003):
Item Definisi
Malar Rash Ruam pada wajah (butterfly rash)
Discoid Rash Ruam berbentuk bulatan menimbul di atas permukaan kulit
Photosensitivity Ruam kulit timbul sebagai reaksi hipersensitifitas terhadap sinar
matahari
Oral Ulcers Luka di mulut atau langit-langit mulut
Non-erosive
arthritis
Bengkak dan terasa nyeri atau terdapat kumpulan cairan di ruang-
ruang sendi
Pleuritis or
Pericarditis
a. Pleuritis (radang pada selaput pembungkus paru-paru)
b. Pericarditis (radang pada selaput pembungkus jantung)
Renal disorder Kandungan protein dalam urin (Proteinuria) yang melebihi normal
Seizures or
Psychosis
a. Kejang spontan bukan karena obat-obatan atau ganguan
metabolisme
b. Psikosis spontan bukan karena obat-obatan atau kelainan
metabolisme
Hematologic
disorder
a. Anemia yang diakibatkan oleh pecahnya atau sel darah merah
b. Jumlah sel darah putih sedikit (Leukopenia)
c. Jumlah sel Limposit sedikit (Lymphopenia)
d. Jumlah sel Thrombosit sedikit (Thrombocytopenia)
Immunologic
disorder
a. Anti-DNA: Kadar abnormal (titer abnormal) antibodi terhadap
negative DNA
b. Anti-Sm: adanya antibodi terhadap antigen inti otot polos, atau
c. Antiphospholipid positif
Positive ANA Abnormal pada tes ANA
Tabel 2.1.Tabel Kriteria Penderita SLE
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

Selain mengalami gangguan fisik, penderita SLE mengalami gangguan psikologis.
Berdasarkan penelitian Noelle, et.al (dalam Wallace & Hanhn, 1997) pada 35 penderita
SLE, ditemukan bahwa 54% subjek mengalami gangguan psikologis. Gangguan
psikologis dan psikiatri pada penderita SLE, dikelompokkan pada neuropsychiatric lupus
(NPSLE). American College of Rheumatology (ACR) (dalam Ramirez, et.al, 2006)
menjelaskan bahwa yang termasuk neuropsychological abnormalities dengan
neuropsychiatric abnormalities dari SLE, adalah simptom yang ditandai dengan
keterlibatan satu atau lebih system saraf. Sedangkan menurut Saphiro, (dalam Wallace &
Hanhn, 1997) yang termasuk NPSLE adalah gangguan pada sistem syaraf dan simptom
psikiatrik seperti vertigo, sakit kepala, gangguan organis pada otak, psikosis, dan depresi.
Menurut Saphiro (dalam Wallace & Hanhn, 1997) menjelaskan bahwa NPSLE
(neuropsychiatric lupus) pada pasien SLE berkisar 12%-71% dan gangguan psikologi
yang paling umum dialami adalah depresi.
Gangguan psikologis dan kesulitan neurobehavioral yang umum terjadi pada
penderita SLE diklasifikasikan pada psikosis, gangguan emosi, sindrom organik otak,
kemunduran kognitif, reaksi obat (umum bagi pengunaan obat corticosteroids), gangguan
fungsi, terganggunya sistem siklus ritme biologis kerja tubuh (bioritmik), dan berbagai
gangguan pada saraf otonom (Shapiro, dalam Wallace & Hanhn, 1997). Berdasarkan
penelitian Shapiro (dalam Wallace & Hanhn, 1997) pada 995 pasien SLE dilaporkan
bahwa 18 % mengalami gangguan fungsi mental dan data ini didukung oleh hasil
penelitian Dubois pada 520 pasien SLE, 12% dari pasien tersebut mengalami psikosis.
Sedangkan menurut penelitian Paulo (dalam Gladman & Urowitz, dalam Hochberg, et
al., 2003) 63% dari pasien SLE aktif, didiagnosis mengalami gangguan psikiatrik
(seperti: delirium, demensia, halusinasi, sindrom delusi, depresi mayor) dengan ketidak
normalan pada syarafnya. Hal ini terjadi, di perkirakan karena antibodi tubuh
memproduksi imun yang merusak sirkulasi saraf otak (Gladman & Urowitz, dalam
Hochberg, et al., 2003).
Kombinasi dari keadaan fisik penderita SLE, lingkungan, biososial, dan penggunaan
obat-obat Chostiscosteroid, memperbesar resiko berkembangnya gangguan psikologis
(Shapiro, dalam Wallace & Hanhn, 1997). Dampak psikologis akan lebih mudah diatasi
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

bila sudah ada kesiapan mental sejak awal atau sejak pertama kali didiagnosa dan
mengantisipasi dampak psikologis yang mungkin terjadi (Hidayat, 2005).

2.B.2. Dampak SLE bagi Pasien
Menurut Kasjmir (2006) dampak besar SLE bagi penderita adalah tingkat
kesakitan tinggi, tingkat gangguan aktifitas keseharian tinggi, kehilangan pekerjaan,
ketergantungan tinggi (keluarga, pelayanan kesehatan), dampak psikologis seperti
depresi, beban ekonomi tinggi (biaya pembelian obat, biaya pembeliaan obat penyerta
atau untuk mengatasi efek samping obat, biaya kehilangan produksi) dan dampak
psikologis keluarga.
Pasien SLE harus menjalani masalah dengan kondisi fisik, psikologis, dan stres
emosional yang berkelanjutan (Shapiro dalam Wallace & Hanhn, 1997). Selain itu
pasien SLE yang bertahan hidup harus menerima konsekuensi akumulasi kerusakan
organ dari imun tubuh yang merusak organ-organ tubuhnya dan obat-obatan yang
dikonsumsinya (Gladman & Urowitz, dalam Hochberg et al., 2003). Menurut Shapiro
(dalam Wallace & Hanhn, 1997), umumnya pasien penderita SLE harus beradaptasi
dengan penyakit kronis yang tidak ada obatnya, dengan pola durasi dari remisi (hilangnya
gejala SLE pada penderita) dan eksaserbasi (timbulnya kembali gejala setelah beberapa
waktu gejala hilang dengan ataupun tanpa obat) yang tidak menentu dan terkadang hilang
tanpa dapat terdiagnosis lagi.
Stres yang disebabkan oleh terganggunya pola kehidupan sebelumnya sering
terjadi pada pasien SLE dan keluarganya, seperti kelelahan dan ketidakstabilan emosi.
Perasaan yang umumnya timbul pada penderita SLE adalah perasaan takut mati,
ketidakmampuan, menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga, tidak bisa merawat
diri sendiri dan ketergantungan terhadap orang lain (Shapiro dalam Wallace & Hanhn,
1997). Lebih lanjut Shapiro (dalam Wallace & Hanhn, 1997), menjelaskan bahwa
perasaan tersebut menjadi faktor terjadinya depresi, kecemasan dan insomnia.
Pasien SLE memerlukan coping terhadap semua aspek kehidupannya,
memodifikasi tujuan dan gaya hidupnya yang berhubungan langsung dengan penyakitnya
(Shapiro dalam Wallace & Hanhn, 1997). Stres dalam menerima penyakit SLE,
merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh penderita SLE, misalnya penggunaan
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

obat steroid sering kali menyakibatkan perubahan fisik dan menyebabkan ketidak
berdayaan karena menyebabkan kelelahan pada pasien, kelelahan fisik terhadap penyakit
dan ketegangan otot-otot badan dapat mengarah pada depresi dan menghindari aktivitas,
sosial dan integrasi diri dengan hilangnya harapan (Shapiro dalam Wallace & Hanhn,
1997). Pasien merasa mereka kehilangan ingatan, tidak dapat mengontrol emosinya, dan
mengkibatkan tidak bisa melakukan pekerjaan (Shapiro dalam Wallace & Hanhn, 1997).
Menurut Gladman & Urowitz (dalam Hochberg et al., 2003) bahwa penderita SLE sulit
mendapatkan pekerjaan dan akibatnya mereka mengalami depresi. Menurut Shapiro
(dalam Wallace & Hanhn, 1997) sebaiknya pasien SLE harus memodifikasi semua
tujuan, harapan dan impiannya, memulai untuk menerima tanggung jawab besar dalam
keterbatasan hidupnya.
Penyakit SLE sulit diterima bagi pasien SLE remaja, karena kondisi ini sulit bagi
kebutuhan-kebutuhan pada masa perkembangannya. Nashel dan Ulmer (dalam Shapiro,
dalam Wallace & Hanhn, 1997) menjelaskan bahwa biasanya remaja penderita SLE tidak
meminum obat Chosticosteroids karena obat Chosticosteroid membuat berat badan
bertambah, rambut rontok, dan dapat menimbulkan jerawat. Selain itu adanya
keterbatasan dalam hubungan sosial dengan teman yang disebabkan oleh penghindaran
terhadap matahari, kerontokan rambut dan ruam kulit (Nashel dan Ulmer dalam Shapiro,
dalam Wallace & Hanhn, 1997). Beberapa pasien berusaha untuk menyangkal bahwa
mereka menderita penyakit SLE dari pada mereka berusaha memahami segala sesuatu
tentang SLE (Shapiro dalam Wallace & Hanhn, 1997). Menurut Shapiro (dalam Wallace
& Hanhn, 1997) masalah ini berkembang menjadi permasalahan dalam hubungan intim,
pernikahan dan memiliki keturunan. Kehidupan dalam seksualitas pun terganggu, hal ini
merupakan efek dari pengobatan dan depresi pada penderita SLE. Keadaan ini pada
akhirnya dapat mengakibatkan perceraian, berdasarkan data statistik 50% dari penderita
SLE mengalami perceraian (Shapiro dalam Wallace & Hanhn, 1997). Menurut Gladman
& Urowitz (dalam Hochberg et al., 2003) bahwa penderita SLE sulit mendapatkan
pekerjaan dan pada akibatnya mereka mengalami depresi. Bagi sebagian besar pasien
SLE, penyakitnya tersebut sangat mempengaruhi gaya hidup yang sudah terbentuk
sebelum mereka menderita SLE (Gladman & Urowitz, dalam Hochberg et al., 2003).
Namun Stein et. al,(dalam Wallace & Hanhn, 1997) menjelaskan bahwa penderita SLE
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

dapat berfungsi baik secara sosial, tanpa terhalangi oleh kekurangan-kekurangan dalam
dirinya dan melakukan penyesuaian dengan memahami penyakitnya, menerima
kondisinya dan memperoleh dukungan sosial.

2.C. Dewasa Muda
2.C1. Perkembangan Dewasa Muda
Kenneth (dalam Shantrock, 2002) menjelaskan dewasa muda adalah istilah untuk
periode antara remaja dan dewasa, dimana pada masa ini adalah waktunya untuk
kemandirian ekonomi dan kepribadian yang menetap. Menurut Papalia et., al, (2003)
rantang usia dewasa muda adalah antara 20 tahun hingga 40 tahun. Berdasarkan teori
tahap perkembangan psikologis dari Erikson, dewasa muda berada pada tahap VI dari
tahap live development, yaitu intimacy and solidarity versus isolasi. Menurut Erikson
(dalam Wrightsman, 1994) bahwa intimacy harus meliputi perasaan keterkaitan dan
hubungan saling menguntungkan antar pasangan yang dicintai, mampu dan bersedia
saling berbagi kepercayaan, dan dengan siapa orang tersebut mampu dan bersedia
meregulasi putaran pekerjaan dan rekreasi. Lebih lanjut Erikson (dalam Wrightsman,
1994) menjelaskan bahwa intimacy merupakan kemampuan untuk menyatukan
kepribadian dengan orang lain tanpa ada rasa takut bahwa dirinya akan hilang. Individu
yang berhasil melakukan intimacy akan memperoleh keuntungan dari cinta, seperti dapat
berkomitmen dalam hubungan dan memiliki kekuatan etik untuk menerimanya walaupun
diperlukan pengorbanan dan kompromi. Sedangkan permasalahan yang terjadi pada
dewasa muda adalah distantiation. Distantiation adalah kemampuan individu untuk
mengisolasi dirinya dari individu lain, ketika perilakunya diarahkan oleh individu lain.

2.C.2. Perkembangan Fisik
Berdasarkan penelitian (Shantrock, 2002) kondisi fisik dewasa muda bukan saja
berada pada kualitas yang baik, namun kemunduran dari kondisi fisiknya pun dimulai
sejak periode ini, oleh karena itu biasanya ketika sudah memasuki masa dewasa muda
mereka mulai memperhatikan tentang diet, berat badan, olah raga dan ketergantungan.
Menurut Shantrock (2002) puncak kualitas fisik berkisar diantara usia 19-26 tahun. Dan
menurut Papalia et. al, (2003) kesehatan dalam kondisi yang baik, apabila terjadi suatu
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

kondisi sakit, biasanya disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan.
Selain itu kesehatan dipengaruhi juga oleh beberapa faktor seperti gen, perilaku
(misalnya: merokok, mengkonsumsi alkohol, tidur dan makan teratur, olah raga dan lain-
lain), dimana perilaku saat ini sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan yang akan
datang (Papalia et. al, 2003). Masih berdasarkan penjelasan Papalia et. al, (2003), ada
beberapa faktor yang secara tidak langsung berhubungan dengan kondisi kesehatan yaitu
: pendapatan, pendidikan, ras atau etnik, dan gender. Semakin baik pendapatan dan
pendidikan seseorang, maka kondisi kesehatannya akan lebih baik. Kondisi genetik,
biologis dan kebiasaan akan berbeda pada setiap ras dan etnik, misalnya wanita Afrika-
Amerika lebih memiliki kecenderungan gendut daripada ras atau etnik lainnya. Dalam
perbedaan gender sudah tentu telihat perbedaanya, dijelaskan bahwa wanita lebih mudah
sakit dibandingkan dengan pria, wanita lebih banyak mengetahui tentang kesehatan dan
berusaha untuk menjaganya di bandingakan dengan pria.

2.C.3. Perkembangan Sosial
Menurut Lambeth et, al., & Mitchell et, al., (dalam Papalia et, al., 2003) dewasa
muda adalah awal untuk mulai bertanggung jawab terhadap diri sendiri dalam hal
mengambil keputusan dan mulai memiliki otonomi terhadap diri sendiri dan
memperbaharui bentuk hubungan dengan orang tua. Dewasa muda mulai hidup dalam
lingkungan sosial yang lebih beragam, misalnya terlibat dengan orang dari etnik lain,
berlainan intelektual dan lain-lain. Mereka mulai menjadi diri mereka yang
sesungguhnya dan mulai tertarik secara emosional dan keintiman fisik dalam
hubungannya dengan kelompok maupun dengan pasanganya (Papalia et, al., 2003).
Menurut Papalia et, al., (2003) dalam hubungan tersebut diperlukan kemampuan self-
awareness, empati kemampuan untuk mengkomunikasikan emosi, keputusan untuk
melakukan hubungan sek, pemecahan masalah dan kemampuan untuk berkomitmen.
Menurut Erikson (dalam Papalia et, al., 2003) tugas pada tahap perkembangan dewasa
muda adalah intimacy and solidarity versus isolation. Intimacy bukan sekedar kedekatan
secara seksual, namun adanya perasaan memiliki, adanya emosi positif dan negatif dalam
attachment (Papalia et, al., 2003). Baumeister et, al., & Myers et, al., (dalam Papaplia
et,al., 2003) orang yang sehat secara fisik dan mental dan akan lebih hidup lebih lama,
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

apabila kondisi hubungan dengan orang terdekatnya terpuaskan. Menurut Papalia et al.,
(2003), dewasa muda memerlukan teman untuk saling berbagi pengalaman tentang karir,
pekerjaan dan menjadi orang tua. Selain itu fungsi dari pertemanan adalah agar memiliki
perasaan well-being, karena dengan berteman seseorang akan miliki perasaan positif
tentang dirinya (Papalia et, al., 2003).

2. D. Gambaran Penerimaan Diri pada Penderita SLE Dewasa Muda
Systemic Lupus Erythematosus (SLE), adalah penyakit kelainan kekebalan tubuh
(autoimmune), yang dapat menyebabkan bermacam-macam gangguan fungsi tubuh pada
penderitanya. Gejala SLE sangat unik, beragam, hilang dan timbul tanpa sebab,
menyerang berbagai organ tubuh manusia, dan hal ini terkadang sering membingungkan
penderita SLE. Gejala yang unik dan beragam inipun, terkadang membuat diagnosis SLE
terasa tidak tepat bagi pasiennya, hingga akhirnya terkadang pasein-pasien SLE berganti-
ganti dokter untuk memastikan diagnosis penyakitnya. Sulitnya diagnosis pada penyakti
SLE, disebabkan karena SLE tidak berkembang sekaligus, namun perlahan-lahan
menyerang organ vital, gejalanya timbul, berganti dalam waktu lama, hingga akhirnya
diidentifikasi sebagai SLE. Penyakit ini pada umumnya diderita pada usia dewasa muda
antara usia 15-40 tahun, dengan perbandingan wanita dengan pria adalah 7-8: 1. Menurut
Papalia et., al, (2003) rantang usia 20 tahun hingga 40 tahun berada pada tahap
perkembangan dewasa muda.
Adapun dampak dideritanya SLE bagi pasien adalah tingkat kesakitan tinggi,
tingkat gangguan aktifitas keseharian yang tinggi karena penderita sensitif terhadap sinar
matahari sehingga akhirnya dapat menyebabkan kehilangan pekerjaan dan sulit mendapat
pekerjaan. Apabila ada fungsi tubuh yang terganggu, misalnya pada mata akan
menyebabkan ketergantungan tinggi terhadap keluarga, pelayanan kesehatan, dan
akhirnya menyebabkan dampak psikologis seperti depresi. Biaya terapi yang tinggi
seperti biaya untuk pembelian obat, pembelian obat penyerta atau untuk mengatasi efek
samping obat yang dapat menyebabkan beban ekonomi semakin tinggi yang akhirnya
akan berdampak pada psikologis keluarga. Selain itu pasien SLE yang bertahan hidup
harus menerima konsekuensi akumulasi kerusakan organ dari imun tubuh yang merusak
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

organ-organ tubuhnya dan obat-obatan yang dikonsumsinya (Gladman & Urowitz, dalam
Hochberg et al., 2003).
Terdiagnosisnya penyakit SLE akan menganggu aspek fisik dan sosial pada masa
perkembangan dewasa muda. Misalnya gangguan pada aspek fisik seperti adanya tingkat
kesakitan yang tinggi pada penderita SLE karena bengkak dan nyeri pada sendi ataupun
mudah lelah mengakibatkan ganggu aktifitas ketika mereka bekerja. Sensitif terhadap
sinar matahari sering kali mengakibatkan Odapus (Orang penderita Lupus/SLE) tidak
dapat melakukan aktifitas di luar ruangan ataupun bekerja di luar rumah. Gangguan
aspek fisik lainya adalah low vision, sering demam tinggi, sering mimisan, sulit
berkonsentrasi dan lain-lain. Apabila gangguan-gangguan tersebut terus terjadi dan
akhirnya terjadi penurunan fungsi fisik yang menyebabkan adanya hambatan dalam
bekerja, tidak jarang penderita SLE dewasa muda kehilangan kesempatan untuk bekerja.
Akibatnya para Odapus dewasa muda harus bergantung secara finansial pada orang tua
mereka untuk membiayai dan pengobatan mereka dan mahalnya biaya terapi dapat
berdampak pada masalah psikologis keluarga.
Hambatan-hambatan yang ditimbulkan oleh SLE akan menghambat tugas
perkembangan di masa dewasa muda, karena menurut Lambeth et, al., & Mitchell et, al.,
(dalam Papalia et, al., 2003) dewasa muda adalah awal untuk mulai bertanggung jawab
terhadap diri sendiri dalam hal mengambil keputusan terhadap diri sendiri dan mulai
memiliki otonomi dan memperbaharui bentuk hubungan dengan orang tua. Selain itu
dewasa muda dituntut untuk mandiri secara ekonomi (Erikson dalam Papalia et. al.,
2003). Gangguan pada aspek fisik pada Odapus seperti penurunan fungsi tubuh dapat
menyebabkan para Odapus ketergantungan tinggi pada orang lain. Hal ini menyebabkan
timbulnya masalah psikologis pada Odapus, seperti merasa tidak berdaya, merasa tidak
berharga dan lain-lain.
Sedangkan gangguan pada aspek sosial misalnya adanya perubahan body image
sebagai efek samping dari penyakitnya maupun obat Chostiscosteroid maupun
penyakitnya, misalnya menyebakan moon face atau bertambahnya berat badan akibat
obat Chositiscosterid dapat mengganggu hubungan sosial. Terkadang mereka merasa
rendah diri karena merasa dirinya berbeda dengan teman-temnaya yang bisa bekerja dan
menunjukkan unjuk kerja yang baik. Terkadang aspek intimacy pada Odapus pun
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

terganggu, mereka terkadang merasa ragu untuk melakukan komitmen dengan lawan
jenis. Ragu untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan karena konsekuensi
dirinya sebagai Odapus bisa mempengaruhi kehidupan pasangan mereka kelak. Mereka
takut akan menjadi beban bagi pasangannya, jika kelak panyakitnya bertambah parah
atau takut tidak bisa memberi keturunan pada pasangannya karena bila Odapus hamil,
akan mengaktifkan penyakitnya. Sedangkan bagi Odapus pria, meraka takut tidak bisa
melindungi pasanganya bila kelak fungsi tubuhnya terganggu oleh penyakitnya.
Sedangkan Erikson (dalam Papalia et. al., 2003) menjelaskan bahwa dewasa
muda berada pada tahap VI dari delapan tahap life development, yaitu intimacy and
solidarity versus isolasi. Tugas perkembangan pada masa dewasa muda adalah dewasa
muda harus menjadi diri mereka yang sesungguhnya, mulai tertarik secara emosional
maupun keintiman fisik dalam hubunganya dengan pasanganya dan membuat komitmen
dalam hubungan antar lawan jenis, membentuk keluarga, dituntut untuk mandirian secara
ekonomi dan perkembangan kepribadian yang menetap. Gangguan-gangguan pada aspek
intimacy, fisik dan sosial dapat menimbulkan gangguan psikologis dan stres emosional
yang berkelanjutan. Oleh karena itu stres dalam menerima penyakit SLE, merupakan
tantangan yang harus dihadapi oleh penderita SLE (Shapiro dalam Wallace & Hanhn,
1997).
Seberat apapun dampak yang ditimbulkan oleh penyakit SLE pada penderitanya,
penderita SLE harus bisa menerima kondisi mereka. Mereka harus melakukan
penyesuaian, memahami penyakit dan menerima kondisi bahwa dirinya menderita SLE,
agar dapat berfungsi baik secara sosial, tanpa terhalangi oleh kekurangan-kekurangan
dalam dirinya dan siap menghadapi dampak yang lebih buruk dari penyakitnya. Selain
itu dampak psikologis akan lebih mudah diatasi bila sudah ada kesiapan mental sejak
awal atau sejak pertama kali didiagnosis dan akhirnya dapat mengantisipasi dampak
psikologis yang mungkin terjadi.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, sangatlah penting aspek penerimaan diri bagi
para penderita SLE agar mereka dapat berfungsi baik dalam berbagai aspek tanpa
terhalagi oleh gangguan-gangguan yang disebabkan oleh penyakitnya. Walaupun
penderita SLE terhalang oleh kekurangan-kekurangan dalam dirinya yang diakibatkan
oleh penyakitnya, diharapkan mereka menilai positif terhadap kondisi dan keadaan yang
Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007

menimpa dirinya, mengenali kelebihan ataupun kekurangan dirinya, yakin akan kualitas
yang dimilikinya dan memahami keterbatasan dirinya, mampu dan bersedia untuk hidup
dengan segala karakteristik yang ada dalam dirinya.
Jersild (dalam Hurlock, 1974) menjelaskan bahwa penerimaan diri adalah derajat
dimana individu memiliki kesadaran terhadap karakteristiknya, kemudian ia mampu dan
bersedia untuk hidup dengan karakteristik tersebut. Sedangkan menurut Hurlock (1974)
salah satu faktor psikologis yang memberi kontribusi pada kesehatan mental individu
adalah penerimaan diri. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan diri
individu adalah pemahaman diri, harapan yang realistis, tidak ada hambatan lingkungan,
tingkah laku sosial yang sesuai, tidak adanya sters yang berat, kenangan akan
keberhasilan, identifikasi dengan orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik,
persfektif diri yang diri yang sama dengan persfektif orang lain, pola asuh yang baik,
konsep diri yang stabil (Hurlock, 1974). Menurut Matthews (1993) pentingnya
penerimaan diri sebagai modal individu untuk dapat menerima orang lain dan
membangun hubungan interpersonal yang bermakna dalam kehidupannya, tanpa
penerimaan diri, seseorang akan kesulitan untuk membangun suatu hubungan yang
efektif.
Kondisi setelah seseorang didiagnosis menderita SLE, dapat menjadi suatu
hambatan bagi Odapus dewasa muda untuk dapat memiliki penerimaan diri yang baik.
Dalam penelitian kali ini akan diteliti tentang gambaran penerimaan diri dewasa muda
penderita SLE. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa hambatan-hambatan yang
disebabkan penyakit SLE dapat menghambat tugas-tugas perkembangan di masa dewasa
muda. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui bagaimana proses penerimaan diri
dewasa muda penderita SLE, hal-hal apa yang terjadi dengan penerimaan diri penderita
SLE, dan kondidi emosional penderita SLE, setelah ia didiagnosis sebagai penderita SLE.






Penerimaan Diri..., Citra Hati, F.Psi UI, 2007