Anda di halaman 1dari 10

TUGAS INSTRUMENTASI INDUSTRI

CONTROL PROSES PADA REAKTOR FIX BED MULTITUBE PADA


PEMBUATAN FORMALDEHIDE












Dikerjakan oleh:
Nama : Rizal Agustian Thamrin
NPM : 3335101322





FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2014



1.REAKTOR

1.1 Definisi Reaktor

Reaktor kimia dapat di definisikan sebagai sebuah alat industri kimia , dimana tempat terjadi
reaksi bahan mentah menjadi bahan separuh jadi atau bahan jadi yang dapat memberikan nilai
tambah. Untuk dapat menghasilkan produk secara ekonomis, reaksi kimia yang berlangsung harus
dioperasikan pada keadaan yang tepat agar memperoleh produk yang berkualitas dengan nilai
konversi tinggi
Di dalam teknik kimia, reaktor kimia adalah alat dirancang untuk berisi reaksi kimia.
Perancangan suatu bahan kimia reaktor berhadapan dengan berbagai aspek teknik kimia. Insinyur
kimia mendisain reaktor untuk memaksimalkan net present value untuk suatu reaksi Para perancang
memastikan bahwa reaksi menghasilkan efisiensi yang paling tinggi ke arah produk keluaran yang
diinginkan, memproduksi hasil produk yang banyak sementara membutuhkan sedikit uang untuk
membeli bahan dan beroperasi. Biaya operasi normal meliputi masukan energi, perpindahan energi,
bahan baku, tenaga kerja, dan lain lain. Perubahan energi berbentuk dalam wujud pemanasan atau
pendinginan, memompa untuk meningkatkan tekanan, frictional pressure loss ( seperti pressure drop
pada suatu pipa siku 90
o
atau suatu lempeng orifis dan lain lain.


Adapun beberapa tujuan dari pemilihan reactor adalah sebagai berikut :
Mendapat keuntungan yang besar
Biaya produksi rendah
Modal kecil/volume reaktor minimum
Operasinya sederhana dan murah
Keselamatan kerja terjamin
Polusi terhadap sekelilingnya (lingkungan) dijaga sekecil-kecilnya

Sedangkan Pemilihan jenis reaktor dipengaruhi oleh :
Fase zat pereaksi dan hasil reaksi
Tipe reaksi dan persamaan kecepatan reaksi, serta ada tidaknya reaksi samping
Kapasitas produksi
Harga alat (reactor) dan biaya instalasinya
Kemampuan reactor untuk menyediakan luas permukaan yang cukup untuk perpindahan
panas

Keadaan Operasi yang dipilih berdasarkan :
Dapat menghasilkan produk yang sebanyak-banyaknya
Mudah dan sederhana cara kerjanya
Hemat energi, misalnya dengan mengoperasikan reaktor secara adiabatis
Reaktor bekerja dengan volum minimum, konversi yang optimum, atau waktu reaksi yang
optimum (pada reaktor batch)
1.2 Jenis-Jenis Reaktor
Berdasarkan bentuknya
1. Reaktor tangki
Dikatakan reaktor tangki ideal bila pengadukannya sempurna, sehingga komposisi dan suhu didalam
reaktor setiap saat selalu uniform. Dapat dipakai untuk proses batch, semi batch, dan proses alir.
2. Reaktor pipa
Biasanya digunakan tanpa pengaduk sehingga disebut Reaktor Alir Pipa. Dikatakan ideal bila zat
pereaksi yang berupa gas atau cairan, mengalir didalam pipa dengan arah sejajar sumbu pipa (tidak
ada diffusi-axial maupun pencampuran balik).
1.3 Jenis-Jenis Reaktor Berdasarkan Prosesnya
Klasifikasi reaktor berdasarkan prosesnya dibagi menjadi :
1. Reaktor Batch
Reaktor batch adalah reaktor dimana tidak terjadinya aliran masuk atau aliran keluar selama proses
biasanya digunakan untuk mereaksikan fase cair dan berkapasitas kecil.
Keuntungan operasi BATCH
Untuk produk dalam jumlah kecil
Untuk pembuatan produk yang berbeda-beda
Resiko penyumbatan pipa penyalur dapat dihindari
Lebih Ekonomis untuk reaksi yang lambat
Pemasangan dan pembuatan reaktor lebih murah
Pengendalian proses lebih mudah
Lebih mudah untuk memulai dan mengendalikan reaksi
Kekurangan operasi BATCH
Memakan banyak waktu untuk persipan dan penyesuaian operasi
Biaya energi lebih tinggi
Pemakaian Operator lebih banyak


2. Reaktor Alir Semi-Batch
Reactor semibatch atau semi alir biasanya berbentuk tangki yang berpengaduk. Cara operasinya
dengan jalan memasukan sebagian zat pereaksi atau salah satu zat pereaksi kedalam reaktor
sedangkan zat pereaksi yang lain atau sisanya dimasukan secara kontinyu kedalam reactor
Reaktor Semi Batch baik dipakai untuk :
Reaksi yang sangat eksotermis
Untuk mengurangi terjadinya reaksi samping yang tidak diinginkan
Untuk reaksi reversibel yang jika salah satu hasil atau lebih dapat dikeluarkan sehingga
menyebabkan reaksi bergeser ke kanan.

3. Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (CSTR)
Reaktor alir tangki berpengaduk hampir sama dengan reaktor batch tetapi umpan dan produk
mengalir secara kontinyu dan pada reaktor CSTR dilengkapi dengan alat penambahan zat pereaksi
dan pengambilan produk secara kontinyu
Kelebihan operasi Kontinyu
Kebutuhan Personil lebih sedikit
Kualitas produk yang stabil
Keamanan operasi yang tinggi
Biaya Energi dapat dihemat
Biaya investasi lebih kecil
Kelemahan operasi Kontinyu
Biaya yang besar untuk perlengkapan penunjang
Fleksibilitas rendah
1.4 Jenis-Jenis Reaktor Berdasarkan Operasinya
1. Reaktor Isotermal
Reactor yang disebut beroperasi secara isotermal jika umpan yang masuk ke reactor,
campuran dalam reactor dan lairan yang keluar dari reactor selalu uniform dan suhunya sama
dan keadaan awal secara oprasionil sulit dilaksanakan sebab perpindahan panas yang terjadi
harus selalu dapat mengimbangi panas reaksi yang terjadi (untuk reaksi exsoterm) arau panas
diperlukan untuk reaksi endoterm.
2. Reaktor Adiabatis
Reactor yang disebut beroperasi secara adiabatic, jika tidak ada perpindahan panas antara
reactor dengan sekelilingnya. Ditinjau dari segi operasionalnya, reactor adiabatic yang paling
sederhana, cukup dengan menyekat reactor, sehingga tidak ada panas yang hilang ke
sekelilingnya.


2. Proses control pada reactor
Untuk mendukung agar reaktor dapat berfungsi maksimal dan aman terkendali, maka diperlukan
sistem pengendalian proses yang menggunakan beberapa alat tambahan.
Beberapa contoh dari aksesoris tersebut umumnya adalah :
1. Level Controller (LC), suatu alat yang menjaga agar volum (isi) reaktor tetap terjaga, tidak
kehabisan reaktan ataupun kelebihan yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan. Cara kerja
dari alat ini adalah dengan terus mendeteksi ketinggian permukaan bahan dalam reaktor, jika
kurang dari toleransi yang diberikan (set point) maka kran keluaran (output) akan mengecil
sampai ketinggian mencapai tinggi yang telah di set. Sebaliknya jika melebihi kran keluaran
akan dibuka lebih lebar untuk mengurangi bahan dalam reaktor.
2. Pressure Controller (PC), Suatu alat yang bertugas untuk menjaga agar tekanan dalam reaktor
masih berada pada kisaran yang ditetapkan. Biasanya diterapkan pada reaktor yang memakai
reaktan berfase gas. Cara kerjanya mirip dengan LC yaitu dengan membuka dan menutup
kran.
3. Temperature Controller (TC), suatu alat yang bertugas agar suhu di dalam reaktor masih
berada dalam kisaran suhu operasinya. TC juga bekerja dengan membuka dan menutup kran,
namun kran yang diintervensi adalah kran utilitas. Misalnya CSTR berpemanas, jika suhu
drop maka kran koil uap panas (steam) akan diperbesar sehingga steam yang masuk akan
lebih banyak yang akhirnya suplai panas pun bertambah dan akhirnya suhu reaktor akan
bertambah dan suhu reaktor pun dapat kembali ke suhu yang normal. Sebaliknya jika suhu
reaktor bertambah

2.1 Proses control pada reactor semibatch pada reaksi yang eksotermis
reaksi eksotermis pada reactor semibatch terjadi pada pembuatan formaldehyde ,pada
pembuatan formal dehide proses reaksi dilakukan menggunakan proses metal oxide catalyst atau
dengan kata lain reaksi berlangsung dengan penambahan katalis oksida metal selama reaksi
berlangsung











2.1.1 Proses Metal Oxide Catalyst

Proses pembuatan formaldehid menggunakan methanol dan katalis Iron Molybdenum
Oxide. Katalis ini mempunyai umur sekitar 12 sampai 18 bulan. Proses ini beroperasi pada suhu
300 - 400
o
C, dan tekanan 1 - 1,5 atm. Reaksi yang terjadi :

CH
3
OH + O
2
CH
2
O + H
2
O H = - 37,28 kkal/mol (Othmer, Vol 11, hal 494)

Methanol uap dicampur dengan udara dan gas recycle kemudian direaksikan dengan katalis
iron-molybdenum oxide dalam sebuah reaktor fixed bed multitube. Konversi yang
diperoleh bisa mencapai 98% dengan yield formaldehid 94,4 % ( Ketta, vol 23, hal 364).
Reaksi tersebut berlangsung secara eksotermis dan suhu reaktor dipertahankan pada suhu
dimana katalis masih aktif bereaksi agar tidak terjadi reaksi samping
(www.casale.com).Pada prarancangan pabrik formaldehid ini reaksi samping
diabaikan mengingat suhu dalam reaktor akan dipertahankan pada temperatur dibawah
400
o
C. Produk hasil reaktor kemudian dimurnikan di dalam alat absorber dari sisa metanol
dan gas-gas hasil reaksi, sebelum masuk kedalam tangki penampungan.


Kondisi Operasi

Kondisi operasi sangat menentukan proses dan produk reaksi. Operasi komersial pada
pembentukan formaldehid berlangsung pada suhu 300-400
o
C dan tekanan 1-1,5 atm
(Othmer, Vol 11, hal 494).

Pada prarancangan ini dipilih kondisi operasi pada suhu 300
o
C dan tekanan 1,3 atm. Hal
yang menjadi pertimbangan bahwa pada persamaan kecepatan reaksi pembentukan
formaldehid, jika suhu reaksi tinggi maka kecepatan reaksi akan semakin besar
sehingga konversi reaksi akan semakin besar pula, namun reaksi oksidasi metanol
menjadi formaldehid merupakan reaksi katalitik sehingga kondisi operasi harus pada
rentang suhu dimana katalis dalam keadaan aktif. Oleh karena itu dipilih suhu
dimana kecepatan reaksi tinggi dan katalis masih dalam keadaan aktif.

Katalis

Katalis merupakan suatu zat yang berpengaruh terhadap kecepatan reaksi kimia dan
tidak berubah pada akhir reaksi. Suatu katalis dapat mempercepat reaksi kimia yaitu
dengan menurunkan barrier energi/energi pengaktifan dari suatu reaksi. Katalis
hanya merubah kecepatan reaksi tapi tidak berpengaruh terhadap kesetimbangan
termodinamika suatu reaksi. Dalam reaksi katalitik heterogen biasanya katalis berupa
padatan, sedangkan reaktan dan produknya berupa gas atau liquid (Fogler, 1999).
Katalis yang biasa digunakan dalam proses pembentukan formaldehid adalah
kristal perak dan metal oksida. Pada proses ini digunakan katalis oksida besi
molybdenum karena tidak mudah terkontaminasi dan umur katalis lama (18 bulan)
(Othmer, hal 494).


Gambar skematik P&ID proses pembentukan produk formaldehyde pada reactor fixed
bed multitube (ada di lembar gambar P&ID)

2.1.2 Berikut penjelasan Tahap pembentukan produk formaldehyde berdasarkan
gambar pada skematik proses

Campuran metanol, udara dan off gas absorber pada suhu 300
o
C dan tekanan 1,3
atm diumpankan pada reaktor fixed bed multi tube melalui bagian atas reactor
dengan kondisi non isothermal dan non adiabatis. Di dalam reaktor akan terjadi reaksi
oksidasi (reaksi bersifat eksotermis dan irreversible) sebagai

berikut :

CH
3
OH
(g)
+ O
2 (g)
HCHO
(g)
+ H
2
O
(g)

Reaksi terjadi pada fase gas dengan katalis padat Fe dan Mo. Pada temperatur
300-400
o
C dan tekanan + 1,3 atm metanol teroksidasi membentuk formaldehid,
dan besarnya konversi metanol dapat mencapai 98 % mol. Temperatur sangat
mempengaruhi konversi yang terbentuk.
Apabila suhu reaktor mencapai > 400
o
C atau diluar kisaran suhu yang diijinkan (300-
400
o
C) maka akan terbentuk reaksi samping.

CH
2
O
(g)
+ O
2(g) CO
(g)
+ H
2
O
(g)
H = -51 kkal/mol

(Mc. Ketta, vol. 23, hal. 361)

Oleh karena itu dipergunakan medium pendingin karena hal itu sangat berperan
penting untuk mencegah terbentuknya reaksi samping yang tidak diinginkan.Di
dalam reaktor akan terjadi kenaikan temperatur akibat dari reaksi yang bersifat
eksotermis, sehingga untuk mempertahankan suhu reaksi keluar dari reaktor
kurang dari 400
o
C diperlukan pendingin yang mengalir di shell reaktor.
Pendingin yang digunakan adalah berasal dari cooler. Setelah digunakan sebagai
media pendingin, aliran keluaran dari proses pendinginan sebagian ada yg
ditreatment kembali dan sebagian ada digunakan kembali dengan terlebih dahulu
melewati cooling water system selanjutnya diumpankan kembali ke dalam shell
reaktor.
Adapun variable yg dijaga pada proses formaldehyde ini selain temperature
adalah proses pemasukan umpa methanol degan udara dengen perbandingan 1:2,pada
proses ini system control menggunakan sitem cascade hal itu terlihat pada control
temperature pada reactor dan jaket pendingin yang saling sinergis ,kondisi pada
reactor (TT1) akan mengirimkan sinyal atau data pada system pendingin reactor yg
bekerja secara feedback (TT2),data lalu ditrannsmisikan melalui tranducer yg
memberikan aliran sinyal pada valve system pedingin untuk mengalirkan air dinginya
(cooling water),selain control temperature ,kondisi umpan juga diatur umpan yg
masuk dibuat set point dengan system cascade yang mana apabila umpan methanol
dalam hal ini sudah megalirkan umpan sebesar 100 kg/mol maka udara akan
































Mengalirkan umpan sebesar 2 kalinya yakni 200 kg/mol hal ini karena pada data
control unit sudah diatur set pointnya